LAPORAN GEOLOGI DAERAH WEWENIJA, KABUPATEN SARMI, PAPUA

Document Sample
LAPORAN GEOLOGI DAERAH WEWENIJA, KABUPATEN SARMI, PAPUA Powered By Docstoc
					          LAPORAN GEOLOGI DAERAH WEWENIJA DSK
                KABUPATEN SARMI, PROPINSI PAPUA
                     (Lembar Peta : 3313-44)



1.    GEOMORFOLOGI

      Berdasarkan Peta Rupa Bumi skala 1 : 50.000 dari Bakosurtanal dan ekspresi Citra
Satelit SRTM 90m (rona warna, bentuk, ukuran, tekstur, pola dan asosiasinya) lembar 3313-
44 Daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua dapat dikelompokkan 3 satuan
geomorfologi, yaitu:

1.1. Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial

     Satuan geomorfologi dataran aluvial terletak di sepanjang sungai Apauwar, tersebar
     mulai dari baratlaut kearah tenggara berada pada ketinggian 59 meter hingga 80 meter
     diatas permukaan laut (dpl) dengan luas penyebaran kurang lebih 10 % dari luas peta.

     Satuan geomorfologi dataran aluvial sungai diindentifikasi pada citra landsat oleh rona
     warna hijau kekuningan dan bertekstur halus dengan topografi mendatar. Sungai
     Apauar adalah sungai terbesar yang mengalir dari tenggara kearah baratlaut dan pada
     citra sungai ini dikenali dengan bentuk alirannya yang berkelok-kelok membentuk
     sungai bermeander.

     Satuan geomorfologi dataran aluvial tersusun oleh material lepas berukuran lempung,
     pasir hingga bongkah.

1.2. Satuan Geomorfologi Perbukitan Landai

     Satuan geomorfologi perbukitan landai menempati 30 % dari luas peta, dengan
     persebaran mulai dari baratlaut hingga ke arah tenggara lembar peta. Pada citra
     SRTM, satuan ini dicirikan oleh rona warna hijau dengan tekstur halus sampai sedang.
     Satuan ini berada pada ketinggian antara 67 – 200 meter.

     Pola aliran sungai yang berkembang pada satuan ini berpola dendritik dan merupakan
     anak-anak cabang dari sungai utama yang mengalir di daerah ini, yaitu sungai Apauar.
     Sungai yang terdapat pada satuan ini beberapa diantaranya ada yang dikontrol oleh
     struktur perlapisan dan sesar. Genetika sungainya terdiri dari sungai subsekuen,
     konsekuen dan obsekuen.



      1
    Batuan yang menempati satuan geomorfologi ini adalah grewake, batulanau,
    batulempung, konglomerat sisipan lignit (Formasi Unk dari Kelompok Mamberamo) dan
    batunapal, kalkarenit, batupasir, batulanau, dan batulempung (Formasi Aurimi).

1.3. Satuan Geomorfologi Perbukitan Terjal

    Satuan geomorfologi perbukitan terjal menempati 60% dari luas peta, tersebar di dua
    lokasi, yaitu di bagian baratdaya dan timurlaut. Satuan ini berada pada ketinggian 200
    m hingga 600 m. Satuan geomorfologi perbukitan terjal pada citra satelit dicirikan oleh
    tekstur sedang sampai kasar dan rona warna hijau – hijau tosca. Pola aliran sungai yang
    terdapat pada satuan ini berpola dendritik dan beberapa diantara aliran sungainya
    dilalui oleh lineament-lineament yang mengindikasikan kontrol struktur. Genetika
    sungainya terdiri dari sungai-sungai subsekuen, konsekuen, dan obsekuen.

    Satuan ini ditempati oleh Formasi Makat dan Melange Sedimenter (Batuan Campur
    Aduk)

2. TATANAN STRATIGRAFI

      Tatanan stratigrafi daerah Wewenija dari yang tertua hingga termuda adalah sebagai
berikut (Tabel 2-1):

2.1. Formasi Makat (Tmm)

     Formasi Makat pada citra SRTM berada di 2 lokasi, yaitu di selatan bagian barat peta
     dan di utara bagian barat peta. Persebaran formasi ini berarah baratlaut – tenggara.
     Pada citra SRTM, satuan ini dicirikan oleh rona warna hijau hingga hijau tosca,
     bertekstur sedang sampai kasar. Pada citra SRTM, jejak-jejak perlapisan batuan
     Formasi Makat terlihat dengan jelas, terutama yang terdapat di bagian selatan,
     dimana jurus atau bidang perlapisan diekspresikan oleh bentuk perulangan dari
     penjajaran antara punggungan bukit dan lembahnya yang berarah baratlaut –
     tenggara. Kemiringan lapisan batuan yang terdapat di bagian selatan peta berarah
     timurlaut sedangkan yang terdapat di bagian utara berarah baratdaya. Dengan
     demikian Formasi ini mengalami perlipatan membentuk struktur sinklin.

     Hubungan stratigrafi antara satuan ini dengan batuan yang lebih tua (Formasi
     Darante) tidak dijumpai, sedangkan hubungan dengan batuan diatasnya yaitu Formasi
     Unk dari Kelompok Mamberamo) selaras. Keselarasan ini didasarkan atas kesamaan
     pola sebaran yang simetri dimana jejak-jejak bidang perlapisan kedua Formasi juga
     memperlihatkan pola yang simetri.




      2
     Litologi yang menyusun satuan ini adalah Perselingan Grewake, Batulanau,
     Batulempung, Serpih, dan Napal sisipan Konglomerat dan Batugamping. Umur Formasi
     Makat adalah Miosen Tengah hingga awal dari Miosen Akhir. Formasi ini diendapkan
     pada lingkungan Neritik.

         Tabel 2-1 Tatanan Stratigrafi Daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua


      UMUR             SIMBOL                              SATUAN BATUAN

                                       Satuan Endapan Aluvium terdiri dari material lepas ukuran
     Holosen
                                       lempung, pasir dan kerikil.
                       Qa        Qmd
                                       Satuan Batuan Leleran lumpur dan lempung dengan
                                       kepingan/bongkahan batuan yang keluar dari poton.
                                       Satuan Batuan Campur Aduk (Melange Sedimenter) terdiri
     Plistosen
                            Qc         dari batulempung dengan bongkah-bongkah batuan yang
          -
                                       berasal dari formasi-formasi yang lebih tua (Unk, Aurimi,
     Holosen
                                       Makats. Darante, Auwewa, Biri, dan Batuan Ultra Mafik)
                                       Formasi Unk dari Kelompok Mamberamo terdiri dari
   Pliosen Akhir -          QTu        batupasir greywacke, batulanau, batulempung, konglomerat
      Plistosen                        sisipan lignit. Diendapkan pada lingkungan neritik tengah –
                                       neritik luar.
   Pliosen Akhir -
                                       Formasi Aurimi dari Kelompok Mamberamo terdiri dari
                        Tmpa
      Plistosen                        napal, kalkarenit, batupasir, batulanau dan batulempung.
                                       Diendapkan pada lingkungan laut dangkal dan paralis.
                                       Formasi Makat tersusun dari perselingan batupasir
  Miosen Tengah –       Tmm            greywacke, batulanau, batulempung, serpih, dan napal
   Miosen Akhir                        sisipan konglomerat dan batugamping. Diendapkan pada
                                       lingkungan neritik.


2.2. Formasi Aurimi Kelompok Mamberamo (Tmpa)

     Formasi ini terdapat di bagian tengah lembar peta dengan persebaran berarah
     baratlaut - tenggara. Pada citra SRTM formasi ini dicirikan oleh rona warna hijau dan
     tekstur halus sampai sedang. Penyebaran satuan ini masih dibedakan dengan Formasi
     Unk dari rona warna, tekstur dan reliefnya. Formasi Aurimi dapat dikenali dengan rona
     warna yang lebih terang dan tekstur agak kasar serta relief topografi yang relatif lebih
     kasar. Jejak-jejak perlapisan batuannya dapat ditelusuri dengan jelas oleh kenampakan
     rona warna, tekstur, dan polanya.

     Hubungan stratigrafi antara Formasi Aurimi dengan Formasi Makats yang ada
     dibawahnya adalah selaras sedangkan hubungan dengan Formasi Unk yang ada
     diatasnya juga selaras. Hal ini didasarkan atas kesamaan pola sebaran dari ketiga
     satuan batuan tersebut yang simetri berarah baratlaut – tenggara.


     3
     Formasi Aurimi Kelompok Mamberamo tersusun dari napal, kalkarenit, batupasir,
     batulanau, dan batulempung. Formasi ini terbentuk pada kala Miosen Tengah – Miosen Akhir
     dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal dan paralis.


2.3. Formasi Unk Kelompok Mamberamo (Qtu)

     Satuan ini terletak di bagian tengah lembar peta dengan pengyebaran baratlaut -
     tenggara. Pada citra SRTM, Formasi Unk dapat ditelusuri berdasarkan rona warna
     hijau hijau daun, bertekstur halus sampai sedang. Jejak-jejak perlapisan batuan dapat
     dikenali secara baik, yaitu kenampakan bentuk-bentuk segitiga yang mewakili
     perlapisan batuannya dan umumnya berarah baratlaut – tenggara.

     Hubungan stratigrafi satuan ini dengan satuan batuan yang lebih muda yaitu batuan
     campur aduk adalah tak selaras. Adapun secara fisik sentuhan antara Formasi Unk
     dengan Batuan Campur Aduk tidak bersentuhan. Ketidak selarasan antara Formasi
     Aurimi dan Batuan Campur Aduk didasarkan kepada Formasi Makat yang bersentuhan
     secara tidak selaras dengan Batuan Campu Aduk.

     Litologi Formasi Unk tersusun dari Batupasir Greywacke, Batulanau, Batulempung,
     Konglomerat sisipan Lignit. Umur satuan batuan ini adalah Pliosen Akhir sampai
     Plistosen (N21-N23) dan diendapkan pada lingkungan Neritik Tengah - Neritik Luar.

2.4. Satuan Batuan Campur Aduk /Melange Sedimenter (Qc)

     Satuan ini tersingkap dibagian utara sebelah barat lembar peta, menempati 40% dari
     luas peta. Pada citra SRTM, Batuan Campur Aduk dicirikan oleh rona warna hijau –
     hijau tosca dengan tekstur kasar – sangat kasar dan bentuk topografi yang tidak
     teratur, dimana punggungan-punggungan bukit dan lembahnya telah banyak
     mengalami pergeseran yang disebabkan patahan-patahan akibat tektonik.
     Jejak-jejak perlapisan di beberapa tempat masih sangat jelas dideliniasi terutama yang
     dibagian timurlaut lembar peta. Kemiringan bidang perlapisan dapat dikenal dari
     bentuk-bentuk segitiga (flat iron).

     Hubungan stratigrafi Batuan Campur Aduk dengan batuan yang dibawah (Formasi
     Unk) dan diatasnya (Aluvial Sungai) adalah tidak selaras. Litologi yang menyusun
     satuan ini adalah batuan sedimen tektonik (melange sedimenter) yang terdiri dari
     batulempung dengan bongkah-bongkah dan kepingan batuan yang berasal dari
     formasi-formasi yang lebih tua. Satuan batuan ini terbentuk secara tektonik (melange
     sedimenter) pada kala Plistosen – Holosen.




     4
2.5. Satuan Batuan Leleran Lumpur dan lempung dengan kepingan/bongkahan batuan
     yang keluar dari poton (Qmd).

     Satuan batuan ini dijumpai di beberapa lokasi, yaitu di bagian tengah lembar tengah
     disekitar sungai utama. Pada citra satelit dikenali oleh tona warna hijau kekuningan
     dengan tekstur halus serta adanya bentuk-bentuk lingkaran (circular feature) yang
     mengindikasikan jejak-jejak poton.

     Litologi yang menyusun satuan ini adalah leleran lumpur dan lempung dengan
     kepingan dan bongkahan batuan yang keluar dari poton. Satuan ini terbentuk pada
     kala Holosen.

2.6. Satuan Endapan Aluvium

     Satuan ini berada disepanjang sungai utama tersebar dari mulai baratlaut menerus
     hingga kearah tenggara menempati 8% dari luas peta. Pada citra satelit satuan ini
     mudah dikenali dari rona warnanya yang hijau kekuningan dengan bentuk ekspresi
     topografi yang datar dan teksturnya yang halus.

     Satuan ini terdiri dari material lepas ukuran lempung, pasir dan kerikil yang
     merupakan endapan sungai. Satuan endapan aluvium menutupi secara tidak selaras
     semua satuan yang ada di wilayah ini.

3.   STRUKTUR GEOLOGI

           Pada umumnya batuan yang terdapat di daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi,
     Propinsi Papua terlipat kuat dan tersesarkan, termasuk batuan sedimen berumur
     Tersier Muda yaitu Batuan Campur Aduk (Qc).

            Struktur geologi yang dijumpai di daerah ini berdasarkan penafsiran citra SRTM
     adalah struktur perlipatan berupa sinklin yang berarah Baratlaut – Tenggara dan sesar
     sesar geser jurus. Bukti-bukti adanya sesar didasarkan atas adanya kelurusan-kelurusan
     (lineament), pergeseran pungungan bukit, pola jejak perlapisan yang berubah arah secara
     tiba-tiba, pola jejak perlapisan yang tidak menerus dan pola jejak perlapisan yang berubah
     arah.

           Struktur perlipatan yang dapat diidentifikasi di daerah ini adalah struktur sinklin.
     Struktur sinklin diperoleh dari adanya pembalikan arah kemiringan lapisan pada
     Formasi Makat, Formasi Aurimi, dan Formasi Unk.

           Struktur sesar yang dapat diidentifikasi adalah sesar geser jurus. Struktur sesar
     geser jurus dikenali dengan adanya bentuk-bentuk kelurusan punggungan bukit, kelurusan

     5
   lembah, pergeseran (offset) punggungan bukit dan adanya ketidak menerusan jejak-jejak
   perlapisan batuan serta perubahan arah jejak perlapisan batuan, dan tidak menerusnya
   jejak-jak perlapisan. Pada citra SRTM, struktur sesar geser jurus umumnya berarah
   baratlaut – tenggara, baratdaya – timurlaut hingga utara-selatan.

         Struktur geologi yang terdapat di daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi apabila
   dikaitkan dengan tektonik regional wilayah Papua maka dapat ditafsirkan bahwa
   struktur yang ada di daerah ini merupakan produk tumbukan Kerak Samudra Pasifik
   dengan Kerak Kontinen Australia yang terjadi sejak Oligosen yang menghasilkan
   orogenesa Melanesia. Aktivitas tektonik tersebut terus berlangsung hingga Miosen
   dan Plistosen yang membentuk gerakan-gerakan tegak dan mendatar sebagai akibat
   orogenesa.

4. SEJARAH GEOLOGI

        Sejarah geologi daerah Wewenija dimulai pada kala Miosen Tengah dengan
  diendapkankan batuan-batuan Formasi Makat pada lingkungan laut dangkal. Genang
  laut terjadi dan berlangsung hingga Bagian bawah Miosen Akhir. Mulai dari Miosen
  Akhir - Pliosen terjadi susut laut dan mengendapkan batuan batuan dari Formasi Aurimi
  dan Formasi Unk Kelompok Mamberamo.

        Tektonik yang terjadi pada Plistosen (setelah pengendapan Kelompok
  Mamberamo), menyebabkan perlipatan, pensesaran dan pengangkatan. Diduga
  tektonik pada saat itu berpengaruh pada pembentukan Batuan Campuraduk di daerah
  ini. Adanya gejala poton sangat mungkin merupakan petunjuk tentang masih kegiatan
  tektonik di daerah ini. Satuan paling muda adalah aluvium yang merupakan endapan
  sungai.

5. POTENSI SUMBERDAYA MINERAL

         Dari hasil inventarisasi yang dilakukan baik yang dilakukan secara langsung di
  lapangan ataupun didasarkan atas jenis-jenis batuan yang terdapat di daerah Wewenija
  serta didukung oleh hasil analisa laboratorium petrologi batuan (petrografi batuan),
  maka potensi sumberdaya geologi yang dapat diinventarisasi dan dilakukan penelitian
  lebih lanjut adalah:

  a.       Sumberdaya Batubara.

  Indikasi keterdapatan sumberdaya batubara dijumpai pada satuan batuan batupasir
  grewake dan batulanau, batulempung dan sisipan lignit dari Formasi Unk kelompok
  Mamberamo (Qtu). Batuan ini dijumpai terutama di utara bagian barat lebar peta.



       6
  Batubara yang tersingkap umumnya berupa batubara muda (lignit) dengan persebaran
  yang sangat luas.

  b. Sumberdaya Bahan Galian Pasir dan Batu (Sirtu)

  Sumberdaya bahan galian pasir dan batu (sirtu) tersebar di sepanjang sungai utama
  yang mengalir di daerah Wewenija, yaitu S. Apauwar berserta cabang-cabang
  sungainya. Adapun bahan galian berupa pasir, kerakal lepas hingga bongkah batu.

  c.       Sumberdaya Bahan Galian Batugamping

  Lokasi keterdapatan dan Penyebarannya Batugamping terutama pada batuan batuan di
  Formasi Makat dan Formasi Aurimi berupa batugamping berlapis.


6. POTENSI BAHAYA DAN BENCANA GEOLOGI
       Berdasarkan kondisi geologinya, baik bentuk bentangalam (morfologi), tatanan
  batuan (stratigrafi) dan struktur geologi (tektonik) serta Hidrometeorologinya maka
  daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua memiliki potensi bahaya geologi
  sebagai berikut:

  a.       Potensi Bahaya Gempabumi

  Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya
  energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi.
  Gempabumi dapat didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa batuan/tanah
  yang berasal dari hasil pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam bumi.

  Berdasarkan posisi tektoniknya maka daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi, Propinsi
  Papua berada pada posisi tektonik aktif dari orogenesa Melanesia yang berlansung
  hingga saat ini dengan tingkat kegempaan yang cukup tinggi. Dengan demikian dapat
  disimpulkan bahwa daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua memiliki
  potensi terjadinya bencana gempabumi.

  b. Potensi Bahaya Longsoran Tanah

  Longsoran Tanah atau gerakan tanah adalah proses perpindahan masa batuan / tanah
  akibat gaya berat (gravitasi). Faktor internal yang menjadi penyebab terjadinya
  longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi) tanah/batuan yang lemah sehingga butiran-
  butiran tanah/batuan dapat terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan
  menyeret butiran lainnya yang ada disekitarnya membentuk massa yang lebih besar.
  Lemahnya daya ikat tanah/batuan dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas)


       7
  dan kelolosan air (permeabilitas) tanah/batuan maupun rekahan yang intensif dari
  masa tanah/batuan tersebut.

  Faktor eksternal yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu longsoran tanah dapat
  terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng, perubahan
  kelembaban tanah/batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola
  pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), ulah manusia
  seperti penggalian dan lain sebagainya.

  Berdasarkan kondisi morfologi dan geologinya, daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi,
  Propinsi Papua memiliki potensi bahaya geologi longsoran tanah, terutama di wilayah
  wilayah dengan relief yang sedang hingga terjal, yaitu pada satuan morfologi landai
  hingga terjal.

7. SIMPULAN DAN SARAN

  7.1. SIMPULAN

  a.       Berdasarkan hasil penafsiran citra daerah Wewejina, Kabupaten Sarmi, Propinsi
           Papua dapat dikelompokan menjadi 3 satuan morfologi, yaitu satuan-satuan
           geomorfologi dataran aluvial sungai, perbukitan landai dan perbukitan terjal. Pola
           aliran sungai yang mengalir di wilayah ini berpola dendritik dengan genetika sungai
           subsekuen, obsekuen dan konsekuen.

  b. Tatanan stratigrafi dari batuan yang tertua hingga termuda adalah Formasi Makat,
     Formasi Aurimi, Formasi Unk, Batuan Campur Aduk, Formasi Kukunduri, dan Aluvial
     Sungai.

  c.       Struktur geologi yang berkembang di daerah Abumaneh adalah struktur perlipatan
           sinklin dan sesar geser jurus. Pola struktur geologi umumnya berarah Baratlaut –
           Tenggara, Timurlaut – Baratdaya, dan Barat – Timur. Seluruh struktur yang terdapat
           di wilayah ini terjadi pada periode tektonik Tersier hingga Kuarter.

  d. Potensi sumberdaya mineral yang terdapat di daerah Wewenija adalah
     sumberdaya batubara yang terdapat pada Formasi Unk, sumberdaya bahan galian
     pasir dan batu (sirtu) yang terdapat umumnya pada satuan aluvial sungai,
     sumberdaya batugamping terdapat di Formasi Formasi Makat dan Formasi Aurimi.

  e.       Potensi bahaya dan bencana geologi yang mungkin terjadi adalah gempabumi dan
           longsoran tanah.




       8
7.2. SARAN


a.       Peta Geologi Daerah Wewenija, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua yang skala 1 :
         50.000 merupakan hasil penafsiran citra SRTM sebagai “Peta Geologi Pendahuluan”
         yang masih perlu divalidasi lagi dengan melakukan pemetaan geologi permukaan
         (surface geological mapping).

b. Potensi sumberdaya mineral, baik yang bersifat spekulatif ataupun terindikasi perlu
   ditindak lanjuti dengan penelitian geologi lebih lanjut, yaitu dengan melakukan
   pemetaan geologi permukaan skala yang lebih rinci sehingga diketahui potensi
   sumberdaya alam yang lebih pasti.

c.       Dengan adanya potensi bahaya dan bencana geologi gempabumi dan longsoran
         tanah maka disarankan kepada dinas terkait yaitu Badan Penggulangan Bencana
         Daerah (BPBD) Kabupaten Sarmi mulai melakukan inventarisasi dan pemetaan
         rawan bencana, terutama rawan gempabumi dan longsoran tanah.




     9
                                  PETA GEOLOGI DAERAH WEWENIJA
                                                        KABUPATEN SARMI – PROPINSI PAPUA
                                                              (BERBASIS PENAFSIRAN CITRA SRTM 90M)

                                                                                                                    A

                  Qa                                                                                                                                   Qc
                                               Tmm

                           Tmpa
                                                                                     Qc

                                                              Tmm
           Qa                                                                                                                             Qc
                                                                               Qc
                   QTu




                             QTu                                                                               Qc
                                                              Tmpa
                                                                                    Tmm                                                               Qc

                                                                      Qa
                                    Qa


        QTu                                                                  Tmpa

                                                 Qa
                                                                                                                                                       Qc

                                                                       QTu
                                  Qmd
           Tmpa



                                                                                                          Tmpa




                             Tmpa                     QTu             Qa


       Tmm
                                                                                                    QTu
                                                                                                                                               Tmpa
                                  Tmm
                                                            Tmpa              Qa

                                                                                                                                    QTu
                                                                                                          Qa

                                                                                             Qmd


                                                                                                                            Qa
                                                Tmm
       Tmm                                                                   Tmpa
                                                                                                                                                       Qmd
                                                                                            Qa

                                                                                                                                                 Qa
                                                                                                                                    Qmd

                                         Tmm
                                                                                                                      QTu
                                                                     Tmpa
                                                                                             QTu


                       B




                                                                           PENAMPANG GEOLOGI                                A -           B

1000


500


  0
           Qc                            Qc
                                                                     Tmm
                                                                                     Tmpa          QTu              QTu          Tmpa                  Tmm   Tmm

       A                                                                                                                                                           B




10

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4
posted:7/7/2013
language:
pages:10