LAPORAN GEOLOGI DAERAH AMSIRA, KABUPATEN SARMI, PAPUA by dnoor

VIEWS: 2 PAGES: 9

									Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                         2012


              LAPORAN GEOLOGI DAERAH AMSIRA DSK
                           KABUPATEN SARMI, PROPINSI PAPUA
                                            (Lembar Peta : 3314-21)




1.    GEOMORFOLOGI
            Berdasarkan fotomorfik citra SRTM 90m (rona warna, bentuk, ukuran, tekstur,
      pola dan asosiasi) lembar 3314-21 dan Peta Rupa Bumi skala 1 : 50.000 dari
      Bakosurtanal Wilayah Amsira, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua dapat dikelompokkan
      2 satuan geomorfologi, yaitu:

      1.1. Satuan Geomorfologi Dataran Aluvium

           Satuan geomorfologi dataran aluvium diidentifikasi pada citra landsat oleh rona
      warna hijau kekuningan yang seragam dengan bentuk topografinya dataran dan
      bertekstur halus, dibeberapa tempat tampak adanya bentuk bentuk “circular feature”
      yang diperkirakan sebagai mud volcano. Penyebaran satuan ini meliputi kurang lebih
      60 % dari luas lembar peta dengan ketinggian berkisar antara 0 – 18 meter.

            Satuan ini terletak di utara lembar peta dan penyebar mulai dari barat ke arah
      timur dan tenggara. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah ini adalah sungai Rarow,
      Nurirawar, Salawar, Mamapeni, Martewar, Ferkame, Wainatun, Devarowoii, Tafarefa,
      Orel dan Sirim. Sungai Ferkame merupakan sungai yang terbesar yang mengalir di
      daerah ini dan bermuara di dekat desa Amsira. Pola aliran sungainya berpola dendritik
      dengan bentuk sungai umumnya bermeander.

           Satuan morfologi dataran aluvium tersusun dari material lepas berukuran
      lempung, kerikil hingga bongkah yang merupakan hasil pengendapan sungai serta
      endapan pantai berukuran lempung hingga pasir tersebar disepanjang garis pantai.

      1.2. Satuan Geomorfologi Perbukitan Landai

             Satuan geomorfologi perbukitan landai menempati 40 % dari luas peta, terdapat
      di selatan peta bagian barat dengan persebaran kearah timur dengan ketinggian
      berkisar antara 20 – 200 meter diatas permukaan laut. Pada citra satelit, satuan ini
      dicirikan oleh rona warna hijau terang dengan tekstur sedang sampai kasar.

           Pola aliran sungai yang berkembang pada satuan ini berpola dendritik dan
      beberapa berpola trellis. Sungai yang terdapat pada satuan ini beberapa diantaranya
      ada yang dikontrol oleh struktur perlapisan dan sesar. Sungai yang mengalir pada
      satuan ini adalah sungai-sungai Kuasa, Ansir, Er, Teok, Tabri, dan Rekof yang
      merupakan anak-anak sungai Ferkame, sedangkan sungai-sungai Eutim dan
          Copyright@2012 by Djauhari Noor
      1
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                                    2012


      Wopowara merupakan anak sungai Sirim. Genetika sungainya terdiri dari sungai
      subsekuen, konsekuen dan obsekuen. Batuan yang menempati satuan ini adalah
      batuan-batuan dari Formasi Unk Kelompok Mamberamo.

2.    TATANAN STRATIGRAFI
            Berdasarkan penafsiran pada citra yang didasarkan atas karakteristik fotomorfik
      citra dan kenampakan geomorfologi, batuan di daerah Amsira dan sekitarnya dapat
      dikelompokan menjadi 3 (tiga) satuan batuan, yang semuanya merupakan batuan
      yang terbentuk sejak Kala Pliosen Akhir sampai sekarang, yaitu:

                          Tabel 2-1. Tatanan Stratigrafi Daerah Amsira DSK
                                  Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua.


            UMUR                SIMBOL                         SATUAN BATUAN

                                             Satuan aluvial sungai tersusun dari material lepas dari
                                             material ukuran lempung, pasir dan kerikil, hingga
                              Qa       Qmd   bongkah sebagai material hasil pengendapan sungai
            Holosen
                                             dan pantai.
                                             Satuan Batuan Leleran lumpur dan lempung dengan
                                             kepingan/bongkahan batuan yang keluar dari poton.


          Pliosen Akhir
                                             Formasi Unk Kelompok Mamberamo terdiri dari
                 -                           batupasir grewake dan batulanau, batulempung dan
                                   QTu
            Plistosen                        sisipan lignit. berlapis, lunak, agak kompak mengandung
                                             kuarsa, mika, feldspar, kepingan batuan dan karbonan.



      2.1. Formasi Unk Kelompok Mamberamo (QTu)

           Formasi ini terdapat di bagian barat lembar peta, tersebar mulai dari bagian
      tengah peta ke arah selatan dan tenggara. Pada citra Formasi Unk Kelompok
      Mamberamo dicirikan oleh rona warna hijau muda sampai hijau tosca dan tekstur
      sedang sampai kasar.

            Jejak-jejak perlapisan satuan ini dapat ditelusuri dan dideliniasi dengan mudah
      berdasarkan bentuk bentuk segitiga yang berpola ke arah baratlaut – tenggara.
      Berdasarkan hasil identifikasi arah kemiringan lapisannya Formasi Unk
      memperlihatkan adanya pembalikan arah kemiringan lapisan membentuk struktur
      perlipatan sinklin – antiklin dengan arah sumbu lipatannya berarah baratlaut –
      tenggara. Hubungan stratigrafi Formasi Unk dengan batuan yang lebih muda, yaitu
      Satuan Batuan Leleran Lumpur (Qmd) adalah tidak selaras didasarkan atas pola

          Copyright@2012 by Djauhari Noor
      2
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                            2012


      sebaran batuannya yang tidak simetri, dimana Satuan Batuan Leleran Lumpur tersebar
      secara acak dan bersentuhan langsung dengan Formasi Unk maupun dengan satuan
      aluvium.

            Formasi ini tersusun dari batupasir greywacke, batulanau, batulempung dan
      sisipan lignit. Formasi ini berumur diperkirakan Pliosen Akhir - Plistosen (Banner &
      Blow), (Takayanagi & Saito), dan (Kadar, 1978). Lingkungan pengendapan satuan
      batuan Formasi Unk Kelompok Mamberamo adalah laut dangkal sampai laut dalam.

      2.2. Satuan Batuan Leleran Lumpur dan lempung dengan kepingan/bongkahan
           batuan yang keluar dari poton (Qmd).

            Satuan batuan ini dijumpai di beberapa lokasi, yaitu di selatan lembar peta
      bagian barat dan di timur peta bagian utara. Pada citra satelit dikenali oleh tona warna
      hijau kekuningan dengan tekstur halus serta adanya bentuk-bentuk lingkaran (circular
      feature) yang mengindikasikan jejak-jejak poton.

            Litologi yang menyusun satuan ini adalah leleran lumpur dan lempung dengan
      kepingan dan bongkahan batuan yang keluar dari poton. Satuan ini terbentuk pada
      kala Holosen.

      2.3. Satuan Aluvium (Qa)

            Satuan aluvial sungai terdapat di bagian utara lembar peta tersebar di dari barat
      hingga kearah timur dan selatan peta. Pada citra satuan ini dicirikan oleh rona warna
      hijau kekuningan dengan tekstur halus.

           Satuan aluvial sungai tersusun dari material lepas yang terdiri dari material
      ukuran    lempung, pasir dan kerikil, hingga bongkah sebagai material hasil
      pengendapan sungai dan sebagian tersusun dari material endapan pantai.

3.    GEOLOGI STRUKTUR

            Struktur geologi yang berkembang di wilayah Amsira, Kabupaten Sarmi, Propinsi
      Papua berdasarkan interpretasi citra Landsat adalah perlipatan berupa sinklin –
      antiklin dan sesar sesar geser jurus.

            Struktur perlipatan sinklin dan antiklin yang berarah Baratlaut – Tenggara.
      Struktur perlipatan sinklin – antiklin diketahui berdasarkan adanya pembalikan arah
      kemiringan lapisan dari arah kemiringan timur laut ke arah baratdaya. Beberapa
      sumbu lipatan telah mengalami pergeseraan oleh sesar sesar geser jurus yang berarah
      baratlaut – tenggara dan timurlaut – baratdaya.

          Copyright@2012 by Djauhari Noor
      3
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                         2012


            Struktur sesar dapat dikenal dengan baik pada citra yang diperlihatkan oleh
      beberapa kenampakan di antaranya adanya pergeseran bidang perlapisan, kelurusan
      topografi (lineament feature), gawir topografi, kelurusan segmen sungai, pergeseran
      aliran sungai, orientasi bukit dan gejala geologi lainnya.

            Struktur sesar geser jurus di daerah Amsira diketahui pada citra SRTM oleh
      kelurusan-kelurusan (lineaments dan linear features) yang berarah Baratlaut –
      Tenggara dan Baratdaya – Timurlaut, dimana kelurusan-kelurusan pada citra
      menunjukan adanya pergeseran arah dari punggungan punggungan bukit yang ada
      pada formasi ini. Disamping itu juga dapat diamati pada citra ketidak menerusnya
      punggungan punggungan bukit dan adanya pembelokan arah dari punggungan-
      punggungan bukit.

            Struktur geologi yang terdapat di daerah Amsira merupakan hasil dari
      tumbukan Kerak Samudra Pasifik dengan Kerak Kontinen Australia yang terjadi sejak
      Oligosen yang menghasilkan orogenesa Melanesia. Aktivitas tektonik tersebut terus
      berlangsung hingga Miosen dan Plistosen yang membentuk gerakan-gerakan tegak
      dan mendatar sebagai akibat orogenesa.

4.    SEJARAH GEOLOGI
            Sejarah geologi wilayah Amsira dimulai pada kala Pliosen Akhir yaitu dengan
      diendapkan batuan dari Formasi Unk Kelompok Mamberamo pada lingkungan laut
      dalam hingga laut dangkal. Pada kala Plistosen Awal wilayah ini mengalami orogenesa
      (tektonik) yang mengakibatkan batuan Formasi Unk Kelompok Mamberamo
      mengalami perlipatan, pensesaran dan pengangkatan. Pada kala Plistosen Akhir
      daerah Amsira sudah berada dalam kondisi darat dan aktivitas tektonik masih tetap
      berlangsung hingga saat ini yaitu dengan dijumpainya intrusi lumpur (mud diapir) yang
      merupakan endapan leleran lumpur (Qmd). Proses-proses yang bekerja saat ini adalah
      proses erosi dan sedimentasi yang menghasilkan endapan aluvial sungai sedangkan di
      bagian utara (pantai) diendapkan material hasil endapan pantai.


5.    POTENSI SUMBERDAYA MINERAL

             Dari hasil inventarisasi yang dilakukan baik yang dilakukan secara langsung di
      lapangan ataupun didasarkan atas jenis-jenis batuan yang terdapat di daerah Amsira
      serta didukung oleh hasil analisa laboratorium petrologi batuan (petrografi batuan),
      maka potensi sumberdaya geologi yang dapat diinventarisasi dan dilakukan penelitian
      lebih lanjut adalah:




          Copyright@2012 by Djauhari Noor
      4
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                          2012


      a.     Sumberdaya Batubara.

            Indikasi keterdapatan sumberdaya batubara dijumpai pada satuan batuan
      batupasir grewake dan batulanau, batulempung dan sisipan lignit dari Formasi Unk
      kelompok Mamberamo (Qtu). Batuan ini dijumpai terutama di bagian tengah sebelah
      barat lembar peta. Batubara yang tersingkap umumnya berupa batubara muda (lignit)
      dengan persebaran yang cukup luas.

      b.     Bahan Galian Pasir dan Batu (Sirtu).

            Lokasi keterdapatannya bahan galian pasir dan batu terutama terdapat
      disepanjang sungai sungai yang mengalir di wilayah ini yaitu sungai Rarow, Nurirawar,
      Salawar, Mamapeni, Martewar, Ferkame, Wainatun, Devarowoii, Tafarefa, Orel dan
      Sirim. Sungai Ferkame merupakan sungai yang terbesar yang mengalir di daerah ini
      dan bermuara di dekat desa Amsira
            Pasir kerakal dijumpai di sepanjang aliran sungai dibagian hulu. Endapan pasir
      dan kerakal dijumpai merupakan endapan aluvial sungai. Komponen pasir bersifat
      lepas, berwarna abu-abu gelap sampai kecoklatan dengan besar butir pasir sedang.
      Fraksi kasar terdiri dari kerikil-kerakal, namun di lokasi ini komponen kerakal nampak
      dominan, terdiri dari bermacam batuan beku dan sedikit batuan sedimen, komponen
      berbentuk membundar hingga membundar baik.

6.    POTENSI BAHAYA DAN BENCANA GEOLOGI
           Berdasarkan kondisi geologinya, baik bentuk bentangalam (morfologi), tatanan
      batuan (stratigrafi) dan struktur geologi (tektonik) serta Hidrometeorologinya maka
      daerah Amsira, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua memiliki potensi bahaya geologi
      sebagai berikut:

      a. Potensi Bahaya Gempabumi

            Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari
      terlepasnya energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami
      deformasi. Gempabumi dapat didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa
      batuan/tanah yang berasal dari hasil pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam
      bumi.

            Tektonika daerah Sawar, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua berada pada zona
      tumbukan lempeng dari Kerak Samudra Pasifik dan Kerak Benua Australia yang terjadi
      sejak Oligosen dan menghasilkan Orogenesa Melanesia. Aktivitas tektonik tersebut
      terus berlangsung hingga saat ini dan hal ini ditandai dengan frekuensi kegempaan
      yang sering terjadi diwilayah ini.

           Copyright@2012 by Djauhari Noor
      5
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                          2012




           Berdasarkan posisi tektoniknya maka daerah Amsira, Kabupaten Sarmi, Propinsi
      Papua berada pada posisi tektonik aktif dengan tingkat kegempaan yang cukup tinggi.
      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa daerah Sawar rawan terhadap bencana
      gempabumi.

      b. Potensi Bahaya Longsoran Tanah

            Longsoran Tanah atau gerakan tanah adalah proses perpindahan masa batuan /
      tanah akibat gaya berat (gravitasi). Faktor internal yang menjadi penyebab terjadinya
      longsoran tanah adalah daya ikat (kohesi) tanah/batuan yang lemah sehingga butiran-
      butiran tanah/batuan dapat terlepas dari ikatannya dan bergerak ke bawah dengan
      menyeret butiran lainnya yang ada disekitarnya membentuk massa yang lebih besar.
      Lemahnya daya ikat tanah/batuan dapat disebabkan oleh sifat kesarangan (porositas)
      dan kelolosan air (permeabilitas) tanah/batuan maupun rekahan yang intensif dari
      masa tanah/batuan tersebut.

           Faktor eksternal yang dapat mempercepat dan menjadi pemicu longsoran tanah
      dapat terdiri dari berbagai faktor yang kompleks seperti kemiringan lereng, perubahan
      kelembaban tanah/batuan karena masuknya air hujan, tutupan lahan serta pola
      pengolahan lahan, pengikisan oleh air yang mengalir (air permukaan), ulah manusia
      seperti penggalian dan lain sebagainya.

            Berdasarkan kondisi morfologi dan geologinya, daerah Amsira, Kabupaten Sarmi,
      Propinsi Papua memiliki potensi bahaya geologi longsoran tanah, terutama di wilayah
      wilayah dengan relief yang sedang hingga terjal, yaitu pada satuan morfologi landai
      hingga terjal.

      c. Potensi Bahaya Banjir

            Banjir adalah suatu peristiwa alamiah yang disebabkan oleh meluapnya air ke
      luar alur sungai karena volume air yang melebihi kapasitas saluran sungai yang
      tersedia. Wilayah luapan air sungai disebut sebagai daerah dataran banjir (flood-plain
      area). Disamping itu banjir juga dapat disebabkan oleh akumulasi air hujan di suatu
      daratan yang berbentuk cekungan dimana lapisan tanahnya bersifat impermeabel
      atau lapisan tanahnya jenuh air. Berdasarkan sudut pandang morfologi, banjir terjadi
      di wilayah wilayah yang bentuk bentangalamnya sangat bervariasi dengan sungainya
      yang banyak.

            Berdasarkan bentuk bentang alamnya, daerah Amsira, Kabupaten Sarmi,
      Propinsi Papua yang memiliki bentuk bentangalam yang bervariasi, dimana di bagian
      selatan wilayah ini merupakan bentuk bentangalam perbukitan terjal sedangkan ke

          Copyright@2012 by Djauhari Noor
      6
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                          2012


      arah bagian utara didominasi oleh bentuk bentang alam dataran dengan morfologi
      dataran aluvial dengan jumlah sungai yang banyak. Berdasarkan data tersebut maka
      Daerah Amsira, Kabupaten Sarmi memiliki potensi terhadap bahaya banjir,terutama di
      daerah sepanjang aliran sungai hingga wilayah pesisir.


7.    SIMPULAN DAN SARAN

      7.1. SIMPULAN

      a. Berdasarkan hasil penafsiran Citra Satelit SRTM 90m Lembar 3314-21 daerah
         Amsira, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua, geomorfologi daerah ini dapat
         dikelompokan menjadi 2 satuan morfologi, yaitu satuan-satuan geomorfologi
         dataran aluvial sungai dan satuan geomorfologi perbukitan landai. Pola aliran
         sungai yang mengalir di wilayah ini berpola dendritik dengan genetika sungai
         subsekuen, obsekuen dan konsekuen.

      b. Tatanan stratigrafi dari batuan yang tertua hingga termuda adalah Satuan
         Batupasir Greywacke, Batulanau, Batulempung, Konglomerat dan sisipan Lignit
         (Formasi Unk kelompok Mamberamo); dan Satuan endapan aluvial sungai dan
         pantai.

      c. Struktur geologi yang berkembang di wilayah Amsira adalah struktur perlipatan
         berupa Sinklin dan Antiklin serta struktur sesar anjak dan sesar geser jurus. Sesar
         geser jurus berkembang dengan arah Baratlaut – Tenggara dan Timurlaut –
         Baratdaya, sedangkan sesar anjak berarah BaratBaratlaut – TimurTenggara.
         Seluruh struktur yang terdapat di wilayah ini terjadi pada kala Plistosen Akhir.

      d. Potensi sumberdaya mineral bahan galian yang terdapat di wilayah ini adalah
         bahan galian pasir dan batu (sirtu) serta endapan batubara yang terdapat pada
         Formasi Unk Kelompok Mamberamo.

      e.   Potensi bahaya dan bencana geologi yang ada di daerah ini adalah gempabumi,
           longsoran tanah, dan banjir.

      7.2. SARAN

      a. Peta Geologi Daerah Amsira, Kabupaten Sarmi, Propinsi Papua yang skala 1 : 50.000
         merupakan hasil penafsiran citra SRTM sebagai “Peta Geologi Pendahuluan” yang
         masih perlu divalidasi dengan melakukan pemetaan geologi permukaan (surface
         mapping).




           Copyright@2012 by Djauhari Noor
      7
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                          2012


      b. Potensi sumberdaya mineral, baik yang bersifat spekulatif ataupun terindikasi perlu
         ditindak lanjuti dengan penelitian geologi lebih lanjut, yaitu dengan melakukan
         pemetaan geologi permukaan skala yang lebih rinci sehingga diketahui potensi
         sumberdaya alam yang lebih pasti.

      c. Dengan adanya potensi bahaya dan bencana geologi gempabumi, longsoran tanah
         dan banjir maka dapat menjadi masukan bagi dinas terkait yaitu Badan Penggulangan
         Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sarmi mulai melakukan inventarisasi dan
         pemetaan rawan bencana, khususnya rawan bencana gempabumi, longsoran tanah
         dan banjir.




          Copyright@2012 by Djauhari Noor
      8
Pemetaan Geologi Berbasis Citra SRTM 90M                                                                                                                                             2012




                                               PETA GEOLOGI DAERAH AMSIRA
                                                         KABUPATEN SARMI – PROPINSI PAPUA
                                                                (BERBASIS PENAFSIRAN CITRA SRTM 90M)



                                                   Qa

                                                                                                                                                                                 AMSIRA
                                                                                              Qa

                                                                            Qmd




                                                                                                                                AMSIRA

                                                                                                                                              A
                                                                                                                    Qa

                                                                                  Qmd
                                  QTu

             QTu                                                                                                                              SIARATESA




                                                                                               Qmd


                                                                                                           Qa
                                                          QTu                                                                  Qmd                             Qmd


                                 QTu


                                                                 Qa


                                                                                        QTu
                                                   Qa
        QTu                      Qmd
                                                                                                                                                   Qmd
                                                                                                      QTu


                                               Qmd



                                                                                                     Qmd
                   QTu
                                                                      QTu                                                                  Qmd


                                        Qa                                                                       Qmd




                                                                      QTu
                                                                                                                                          Qmd
      Qmd
                                             Qmd
                           QTu


                   B



                                                                                         PENAMPANG GEOLOGI A               -   B




            500                                                                                                 Antiklin                                             Qmd                      500
                                                                                                                                         Sinklin
                                 Qa
              0                                                                                                                                                                               0
                                                                                                                QTu
                                                   QTu                                    QTu                                                            QTu               QTu
            -500                                                                                                                                                                              -500
                       A                                                                                                                                                                  B




                   Copyright@2012 by Djauhari Noor
       9

								
To top