Docstoc

Work _ Technology Culture - fitrianapd

Document Sample
Work _ Technology Culture - fitrianapd Powered By Docstoc
					JAPAN WORK &
 TECHNOLOGY CULTURE
      Fitriana Puspita Dewi
Evolusi Tradisi Budaya Kerja Jepang
Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Nurkse & Rostow ; Adalah kebangkitan
 secara besar-besaran suatu surplus yang bisa
 direinvestasi pada modal psikis, modal manusia
 (lewat edukasi, training & indoktrinasi), upgrade &
 maintenance sistem manajemen

   Analisis Definisi tsb di atas untuk kondisi
             Jepang & Indonesia
Sejarah budaya Kerja Orang Jepang
Ekonomi Jepang pasca perang
Pembubaran Zaibatsu & kekuatan militer,
 pembebasan aktivis sayap kiri&pemimpin buruh 
 menyatukan 50% dari kekuatan pekerja
December 1958 – merencanakan “10 years income
 doubling” – terwujud di tahun 1960-1975
Sistem kerja Jepang ; perundingan
 perusahaan, Quality Control, budaya
 korporasi & management SDM, sistem
 produksi “Just-in-time”
Pola konsumsi & budaya kerja
Masa awal; pola hidup pekerja seperti di daerah
 rural. Permintaan upah jarang sementara
 produktivitas tinggi  memicu pertumbuhan
 ekonomi tinggi.
1960 ; karena sudah mencapai titik puncak 
 budaya konsumtif.
Perubahan gaya hidup pekerja ; dari tinggal di
 kawasan industri  pindah ke rumah sendiri di sub-
 urban area
Pola konsumtif Circa
New Materialism in Japan
Dengan pola konsumtif seperti itu, pd pertengahan
 tahun 1960, setiap pekerja Jepang memiliki tujuan
 hidup dengan standar material yang lebih baik,
 oleh karena itu semuanya berkerja keras untuk
 pencapaian tujuan tersebut.
Sementara tahun 1980-an, yang muncul adalah
 gerakan untuk lebih mempertimbangkan keahlian
 personal drpd senioritas, gaji drpd kerja,
 sementara pola hidup uppermiddle class. Hal ini
 menimbulkan new materialism di Jepang saat ini.
New Materialism in Japan
Awalnya tujuan new materialism adalah untuk
 memancing produktivitas kerja, dimana aturannya
 selama ini sistem nenkoujouretsu (sistem
 pengupahan sesuai senioritas)
Namun hal ini justru menggiring pemuda Jepang
 menghindari kerja di 3K (kitsui, kiken, kitanai)/3D
 (Dirty, Dangerous & demand).
Akibatnya di tahun 1990an, kebutuhan tenaga
 kerja Jepang justru dipenuhi dari luar negeri
Perkembangan ekonomi & Lost
Generation
Adanya resesi di zaman Heisei, mulai pensiunnya
 pekerja yang semula membangun Jepang, dan pola
 konsumtif baru ini membuat tahun 1990 disebut lost
 decade, dan anak muda di zaman tsb disebut lost
 generation (ロスジェネ)
Rosu-Jene ini menimbulkan berbagai macam masalah
 sosial seperti munculnya Furiita- (freelance employment),
 Niito(NEET = Not employment education training), otaku,
 parashitto shinguru (parasite single) dsbnya. Sementara
 di sisi lain, Jepang sedang menghadapi masalah lain
 yakni aging society, bankonka & soushika.
Work Term in Japan
就職(shushoku) ; mendapatkan pekerjaan setelah
 lulus (regular/ full time employment). Tapi untuk
 pekerja casual dengan 40 jam kerja perminggu
 masih belum bisa dikategorikan sebagai pegawai
 tetap.
正規社員(seikishain) –pegawai tetap; kalau sudah
 menjadi pegawai tetap, dianggap sudah dewasa
 dan masuk ke fase salaryman, terikat kepaad 1
 perusahaan dan mulai bisa menikah.
Technology Culture in Japan
Berawal dari Wakon Yosai (Japanese spirit,
 western technology)
Pasca PD II, setelah kekalahan Jepang atas Amerika,
 “Wakon” sempat menurun dan tergantikan dengan
 budaya konsumerisme
Tahun 1960- ketika kepercayaan diri Jepang
 muncul dengan teknologinya, orang-orang mulai
 tertarik dengan kata “wakon” lagi
Product of Japan
Orang-orang menghubungkan bonsai dengan
 bakat orang Jepang terhadap miniaturiasi. Bukti
 lainnya adalah Keitai shousetsu . Juga ada
 hubungan antara karakuri ningyou di zaman Edo
 dengan robot masa kini
Debat & Kontroversi Wakon Yosai

Ide untuk memisahkan budaya Jepang dari pengaruh
asing terlhat dari ide : Wakon Kansai (Japanese spirit,
Chinese skills). Tahun 1854, Sakuma Shozan
memunculkan frase Touyou no doutoku, Seiyou no
Geijutsu (Eastern morality, Western techniques),
karena orang Jepang lebih tertarik dengan barat.
Sakuma lalu mencoba menggabungkan IPTEK barat
dan kerangka kerja Confucian. Ini yang menghasilkan
hibriditas di Jepang yang tercermin dari pola-pola
produknya.
Kampanye Cinta Produk Lokal
Tahun 1960, mulai banyak iklan bermunculan yang
 menyaran agar Jepang lebih bangga dengan
 produk dalam negeri seperti brand Sony,
 Matsushita & Sanyo, karena produk2 ini memiliki
 nilai estetik Jepang.
Selama ini produk teknologi kerap dianggap
 sebagai Amerikanisasi. Oleh karena itu untuk
 mendongkrak kembali kepercayaan diri bangsa
 Jepang(paling tidak dalam negeri) adalah dengan
 mensupport produk lokal.
Robot ; Amerika VS Jepang
Menurut Robert Geraci, peneliti Amerika lebih
 memfokuskan pada kepercayaan Kristen yakni
 pemerolehan informasi dari ruh yang terpisah dari
 tubuh pada saat pembersihan/penyelamatan
 seseorang dari ruh jahat
Sesuai kepercayaan Shinto , orang Jepang
 percaya bahwa Dewa (Kami) itu termanifestasi ke
 wujud alam, sehingga memungkinkan bahwa robot
 pun memiliki ruh dan bisa berintegrasi di
 masyarakat

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1
posted:7/3/2013
language:
pages:16