Docstoc

LP OSTEOMYELITIS Neti

Document Sample
LP OSTEOMYELITIS Neti Powered By Docstoc
					                                OSTEOMYELITIS



A. PENDAHULUAN
   1. Latar Belakang
         Osteomyelitis merupakan inflamasi pada tulang yang disebabkan infeksi piogenik
      atau non-piogenik seperti Micobacterium tuberkulosa atau Staphylococcus aureus.
      Infeksi dapat terbatas pada sebagian kecil tempat pada tulang atau melibatkan
      beberapa daerah seperti sum-sum, perioesteum, dan jaringan lunak disekitar tulang.
         Awal tahun 1900 sekitar 20% pasien dengan osteomyelitis meninggal dan mereka
      yang selamat mengalami morbiditas yang bermakna. Sekarang ini, mortalitas dan
      morbiditas akibat osteomyelitis relatif rendah karena metode penanganan yang
      modern, termasuk penggunaan antibiotik dan intervensi invasif. Kunci keberhasilan
      penatalaksanaan osteomyelitis adalah diagnosis dini dan operasi yang tepat serta
      pemilihan jenis antibiotik yang tepat. Secara umum, dibutuhkan pendekatan
      multidisipliner yang melibatkan ahli orthopaedi, spesialis penyakit infeksi, dan ahli
      bedah plastik pada kasus berat dengan hilangnya jaringan lunak.
   2. Tujuan
         Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Osteomyelitis diharapkan
      mahasiswa mampu :
      a. Mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai Osteomyelitis.
      b. Mengetahui tata laksana dan asuhan keperawatan yang diberikan.
      c. Memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan paripurna kepada pasien
         osteomyelitis.


B. TINJAUAN TEORI
   1. Pengertian
         Osteomielitis disebut sebagai Infeksi jaringan tulang, dan dapat timbul akut atau
     kronik. Bentuk akut dicirikan dengan adanya awitan demam sistemik maupun
     manifestasi local yang berjalan dengan cepat. Infeksi tulang seringkali timbul sebagai
     komplikasi dari infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring (faringitis),
     telinga (otitis media) dan kulit (impetigo). Bakterinya (Staphylococcus aureus,
     Streptococcus, Haemophylus influenzae) berpindah melalui aliran darah menuju
     metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam
sinusoid. Akibat perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat
peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan.
    Klasifikasi osteomyelitis berdasar dari beberapa kriteria seperti durasi dan
mekanisme infeksi dan jenis respon host terhadap infeksi. Osteomyelitis berdasarkan
durasi penyakit dapat diklasifikasi menjadi akut, subakut, dan kronik. Akan tetapi batas
waktu untuk tiap klasifikasi masih belum tegas. Mekanisme infeksi dapat exogenous
dan hematogenous. Osteomyelitis exogenous disebabkan oleh fraktur terbuka, operasi
(iatrogenik), atau penyebaran infeksi dari jaringan lunak lokal. Jenis hematogenous
terjadi akibat bakteremia.
    Osteomyelitis berdasarkan durasi penyakit dapat diklasifikasi menjadi akut,
subakut, dan kronik:
a. Osteomyelits Hematogenous Akut
        Osteomyelitis hematogenous akut merupakan tipe infeksi tulang yang paling
  sering terjadi dan seringkali ditemukan pada anak. Infeksi ini lebih sering
  ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita di segala kelompok usia.
  Penyebab terjadinya Osteomyelitis hematogenous akut ini adalah bakteremia,
  dimana keadaan ini umum ditemukan pada anak. Pertumbuhan bakteriologis dalam
  tulang pada umumnya terkait dengan beberapa keadaan yaitu trauma, penyakit
  kronik, malnutrisi, dan sistem imun yang inadekuat. Pada beberapa kasus, penyebab
  pasti dari penyakit ini tidak dapat ditentukan.
b. Osteomyelitis Hematogenous Subakut
        Dibandingkan dengan oseomyelitis hematogenous akut, osteomyelitis subakut
  memiliki onset yang lebih mendadak dan kurang memiliki gejala yang jelas,
  sehingga membuat diagnosis menjadi sulit. Osteomyelitis subakut ini cukup sering
  ditemukan. Jones et al melaporkan bahwa 35% pasien mereka dengan infeksi tulang
  memiliki osteomyelitis subakut.
c. Osteomyelitis Kronik
        Osteomyelitis kronik sulit ditangani dengan sempurna. Gejala sistemik
  mungkin dapat meringan, akan tetapi satu atau lebih fokus infeksi pada tulang
  memiliki material purulenta, jaringan granulasi yang telah terinfeksi, atau
  sequestrum. Eksaserbasi akut intermitten dapat terjadi dalam beberapa tahun dan
  seringkali membaik setelah beristirahat dan pemberian antibiotik. Tanda penting
  adanya osteomyelitis kronik adalah adanya tulang yang mati akibat infeksi di dalam
  pembungkus jaringan lunak. Fokus infeksi didalam tulang dikelilingi oleh tulang
        yang relatif avaskuler dan sklerotik, yang dibungkus oleh periosteum yang menebal
        dan jaringan parut otot dan subkutan. Pembungkus avaskuler jaringan parut ini
        dapat menyebabkan pemberian antibiotik menjadi tidak efektif.
              Pada osteomyelitis kronik, infeksi sekunder sering terjadi dan kultur sinus
        biasanya tidak berkorelasi secara langsung dengan biopsi tulang. Beragam jenis
        bakteri dapat tumbuh dari kultur yang diambil dari sinus-sinus dan dari biopsi
        terbuka pada jaringan lunak sekitar dan tulang.


2. Etiologi
   a.    Staphylococcus aureus hemolitukus (koagulasi positif) sebanyak 90% dan jarang
         oleh streptococcus hemolitikus.
   b.    Haemophylus influenzae (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun.
         Organisme yang lain seperti : Bakteri colli, Salmonella thyposa dan sebagainya.


3. Faktor predisposisi / pencetus
         Faktor pencetus osteomyelitis beragam tergantung dari berbagai macam faktor
   seperti virulensi bakteri, imunitas host, dan penatalaksanaan yang diberikan kepada
   pasien.


4. Patofisiologi
         Infeksi yang berhubungan dengan osteomyelitis dapat terlokalisir dan menyebar di
  periosteum, korteks, sum-sum tulang, dan jaringan kansellosa. Bakteri patogen yang
  menginfeksi        bergantung     pada    usia    pasien   dan    mekanisme      infeksi.
  Infeksi pada tulang dapat terjadi dengan dua mekanisme yaitu melalui aliran darah
  tulang dan melalui inokulasi langsung dari jaringan sekitar.
         Osteomyelitis yang terjadi akibat infeksi melalui penyebaran darah terjadi
 disebabkan adanya bibit bakteri pada aliran darah, keadaan ini ditandai dengan infeksi
 akut pada tulang yang berasal dari bakteri yang berasal dari fokus infeks primer yang
 letaknya jauh dari tulang yang mengalami peradangan. Keadaan ini paling sering terjadi
 pada anak dan disebut dengan osteomyelitis hematogenous akut. Lokasi yang paling
 sering terkena adalah metaphyse yang bervaskularisasi tinggi dan dalam masa
 perkembangan yang cepat.
         Perlambatan aliran darah yang terjadi pada pada metaphyse distal menyebabkan
 mudahnya terjadi thrombosis dan dapat menjadi tempat bertumbuhnya bakteri. Infeksi
 yang terjadi akibat inokulasi langsung dari jaringan sekitar terjadi akibat kontak
 langsung dari jaringan tulang dan bakteri akibat trauma atau post operasi. Mekanisme
 ini dapat terjadi oleh karena inokulasi bakteri langsung akibat cedera tulang terbuka,
 bakteri yang berasal dari jaringan sekitar tulang yang mengalami infeksi, atau sepsis
 setelah prosedur operasi.


5. Tanda dan gejala
        Gambaran klinis osteomielitis tergantung dari stadium patogenesis dari penyakit,
 dapat berkembang secara progresif atau cepat. Pada keadaan ini mungkin ditemukan
 adanya infeksi bacterial pada kulit dan saluran napas bagian atas. Gejala lain dapat
 berupa:
 a. Nyeri yang konstan pada daerah infeksi dan terdapat gangguan fungsi anggota gerak
       yang bersangkutan.
 b. Demam tanpa disertai pilek dan batuk.
 c. Nanah keluar dari tulang yang bengkak.


6. Komplikasi
       Osteomyelitis dapat mencakup infeksi yang semakin memberat pada daerah tulang
 yang terkena infeksi atau meluasnya infeksi dari fokus infeksi ke jaringan sekitar
 bahkan ke aliran darah sistemik. Secara umum komplikasi osteomyelitis adalah sebagai
 berikut:
 a. Abses Tulang
 b. Bakteremia
 c. Fraktur Patologis
 d. Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
 e. Sellulitis pada jaringan lunak sekitar.
 f. Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium.


7. Pemeriksaan penunjang
  a.     Pemeriksaan darah
         Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju
         endapan darah.
b.   Pemeriksaan titer antibodi – anti staphylococcus
     Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti
     dengan uji sensitivitas.
c.   Pemeriksaan feses
     Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh
     bakteri Salmonella.
d.   Pemeriksaan Biopsi tulang.
e.   Pemeriksaan ultra sound
     Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi.
f.   Pemeriksaan radiologis
     Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan
     radiologik, setelah dua minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat
     difus.
8. Pathway


                                      Bakteri




                     Periosteum, korteks, sum-sum tulang,
                               dan jaringan konselosa




                                       Infeksi




       Aliran darah tulang                 Inokulasi langsung jaringan sellular




                             Infeksi tulang (peradangan)


                    Tanda-tanda infeksi :rubor, dolor, kalor


                                     Nyeri akut


                      Gangguan mobilitas fisik              Bed rets


                                                  Risiko kerusakan integritas kulit
9. Pengkajian
  a. Riwayat keperawatan
     Dalam hal ini perawat menanyakan faktor-faktor resiko sehubungan dengan
     osteomielitis. Hal-hal yang dikaji meliputi umur, pernah tidaknya trauma, luka
     terbuka, tindakan operasi khususnya operasi tulang, dan terapi radiasi. Faktor-faktor
     tersebut adalah sumber potensial terjadinya infeksi.
  b. Pemeriksaan fisik
     Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa lembek bila
     dipalpasi. Bisa juga terdapat eritema atau kemerahan dan panas. Efek sistemik
     menunjukkan adanya demam biasanya diatas 380, takhikardi, irritable, lemah
     bengkak, nyeri, maupun eritema.
  c. Riwayat psikososial
     Pasien seringkali merasa ketakutan, khawatir infeksinya tidak dapat sembuh, takut
     diamputasi. Biasanya pasien dirawat lama di rumah sakit sehingga perawat perlu
     mengfkaji perubahan-perubahan kehidupan khususnya hubungannya dengan
     keluarga, pekerjaan atau sekolah.
  d. Pemeriksaan diagnostik
     Hasil laboratorium menunjukan adanya leukositosis dan laju endap darah
     meningkat. 50% pasien yang mengalami infeksi hematogen secara dini adanya
     osteomielitis maka dilakukan scanning tulang. Selain itu dapat pula dengan biopsi
     tulang atau MRI.


10. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul .
   a. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan.
   b. Resiko terhadap perluasan infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang
   c. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat imobilisasi dan
      keterbatasan menahan beban berat badan.
   d. Resiko kerusakan intergritas kulit b.d imobilitas fisik (kelemahan.
   e. Kurang pengetahuan tentang regimen pengobatan.
                 STASE KMB


           LAPORAN PENDAHULUAN
              OSTEOMYELITIS




                 Disusun Oleh:
              Neti Yuniarti, S.Kep




      DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
      UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
            JURUSAN KEPERAWATAN
            PROGRAM PROFESI NERS
                PURWOKERTO
                     2009
                                 DAFTAR PUSTAKA




Baughman C Diane. 2000. Keperawatan medikal bedah, Jakrta: EGC

Kozier, ERB, Oliveri, Fundamental of Nursing: Consepts Process and Practice,

McCloskey, Joanne & Gloria M Bulechek, 2000, Nursing Outcome Classificatian (NOC),
     Second Ed, New York, Mosby.

_________, 2005, Nursing Intervention Classificatian (NIC), Second Ed, New York,
     Mosby.

NANDA, 2002. Nursing Diagnosis : Definition and Classification (2001-2002).
    Philadelphia.

Price, Sylvia A and Willson, Lorraine M, 1996, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
       penyakit, Edisi empat, EGC, Jakarta.

Smeltzer, Suzanne. C and Brenda G Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
      EGC.
11. Nursing Care Plan
           Diagnosa
 No                               Tujuan                           Intervensi                         Rasional
         Keperawatan
 1.   Nyeri akut b.d    Setelah dilakukan TP selama     Manajemen nyeri :
      inflamasi dan     3 x 24 jam tingkat              1. Lakukan pegkajian nyeri          Respon     nyeri   sangat
      pembengkakan      kenyamanan              klien      secara komprehensif termasuk     individual       sehingga
                        meningkat,         dibuktikan      lokasi, karakteristik, durasi,   penangananyapun berbeda
                        dengan level nyeri pada skala      frekuensi, kualitas dan faktor   untuk       masing-masing
                        2-3, klien dapat melaporkan        presipitasi.                     individu.
                        nyeri pada petugas dan          2. Observasi reaksi nonverbal
                        menyatakan       kenyamanan        dari ketidaknyamanan.
                        fisik dan psikologis            3. Gunakan teknik komunikasi        Komunikasi yang terapetik
                                                           terapeutik untuk mengetahui      mampu meningkatkan rasa
                                                           pengalaman      nyeri    klien   percaya     klien     terhadap
                                                           sebelumnya.                      perawat sehingga dapat lebih
                                                                                            kooperatif dalam program
                                                                                            manajemen nyeri.
                                                        4. Kontrol faktor lingkungan Lingkungan yang nyaman
                                                           yang mempengaruhi nyeri dapat membantu klien untuk
                                                           seperti      suhu      ruangan, mereduksi nyeri.
                                                           pencahayaan, kebisingan.
                                                        5. Kurangi faktor presipitasi
                                                           nyeri.
                                                        6. Pilih dan lakukan penanganan
                                                           nyeri        (farmakologis/non
                                                           farmakologis).
                                                        7. Ajarkan        teknik       non Pengalihan nyeri dengan
                                                           farmakologis         (relaksasi, relaksasi dan distraksi dapat
                                                           distraksi dll) untuk mengetasi mengurangi        nyeri     yang
                                                           nyeri.                           sedang timbul.
8. Berikan   analgetik    untuk Pemberian analgetik yang
   mengurangi nyeri.            tepat dapat membantu klien
                                untuk    beradaptasi    dan
                                mengatasi nyeri.
9. Evaluasi tindakan pengurang Tindakan evaluatif terhadap
   nyeri/kontrol nyeri.         penanganan nyeri dapat
10. Kolaborasi dengan dokter dijadikan rujukan untuk
     bila ada komplain tentang penanganan      nyeri   yang
     pemberian analgetik tidak mungkin muncul berikutnya
     berhasil.                  atau      yang       sedang
11. Monitor penerimaan klien berlangsung.
     tentang manajemen nyeri.

Administrasi analgetik :.
1. Cek program pemberian
   analogetik; jenis, dosis, dan
   frekuensi.
2. Cek riwayat alergi..
3. Tentukan analgetik pilihan,
   rute pemberian dan dosis
   optimal.
4. Monitor TTV sebelum dan
   sesudah            pemberian
   analgetik.
5. Berikan analgetik tepat
   waktu terutama saat nyeri
   muncul.
6. Evaluasi           efektifitas
   analgetik, tanda dan gejala
   efek samping.
          Diagnosa
No                                  Tujuan                       Intervensi             Rasional
        Keperawatan
2    Resiko infeksi b.d Selama 4x24 jam perawatan      V.     Infection control
      pembentukan       di RS akan tercapai :          1. Gunakan teknik
      abses tulang.     Infection Status :                aseptik/antiseptik
                        1. Tanda vital, dbn            2. Cuci tangan sebelum dan
     Definisi :         2. Tanda-tanda infeksi tidak      sesudah melakukan tindakan
     Peningkatan resiko     ada                        3. Berikan higiene yang baik
     masuknya           3. Klien tenang                4. Berikan diit yang dekuat
     organisme patogen 4. Keadaan luka baik            5. Bersihkan luka dengan NaCl
                        5. Klien melaksanakan             atau dengan antiseptik
                            program terapi             6. Dressing luka setiap hari
                        Keterangan :                   7. Observasi perkembangan luka
                        1 : Severe (sangat berat)      8. Informasikan tanda-tanda
                        2 : Substantial (berat)           peningkatan proses infeksi
                        3 : Moderate (sedang)
                        4 : Slight (ringan)            VI.    Infection Protection
                        5 : None (tidak)               1. Monitor perkembangan
                                                          penanda infeksi
                                                       2. Monitor VS

                                                       VII.   Manajemen Lingkungan
                                                       1. Batasi pengunjung yang
                                                          tidak/kurang sehat
          Diagnosa
No                                     Tujuan                         Intervensi              Rasional
        Keperawatan
3.   Resiko kerusakan        Setelah dilakukan tindakan     Perawatan Luka
     intergritas kulit b.d   keperawatan selama 3x24         Catat karakteristik luka
     imobilitas fisik        jam diharapkan akan tercapai    Catat karakteristik drainase
     (kelemahan)             :                               Bersihkan dengan sabun anti
     Definisi :              Wound Healing                     bakterial jika perlu
     Perubahan pada          1. Kulit membaik, tidak         Lakukan incisi pada sisi luka
     epidermis dan               kering                        bila diperlukan
     dermis                  2. Tidak ada pus pada           Pijat area sekitar luka untuk
                                 luka/ulkus                    merangsang sirkulasi
                             3. Perbaikan kulit sekitar      Gunakan salep yang sesuai
                                 luka                          dengan kulit atau lesi, jika
                             4. Perbaikan edema                perlu
                             5. Perbaikan warna luka
                                                             Balut luka sepantasnya
                             6. Perbaikan suhu
                                                             Gunakan teknik yang steril
                             7. Tidak ada bau pada
                                                               dalam merawat luka
                                 luka/ulkus
                                                             Bandingkan dan catat secara
                             Keterangan :
                                                               teratur perubahan pada luka
                             1 : None
                             2 : Slight                      Posisikan klien sedemikian
                             3 : Moderate                      rupa untuk menghindari
                             4 : Substantial                   penekanan pada luka
                             5 : Complete                    Ajari klien atau anggota
                                                               keluarga cara perawatan luka
          Diagnosa
No                               Tujuan                            Intervensi                         Rasional
       Keperawatan
4.   Kerusakan         Setelah dilakukan tindakan       Terapi Exercise : Pergerakan sendi
     mobilitas fisik   keperawatan selama 3x 24         a) Pastikan keterbatasan gerak       ROM exercise membantu
     berhubungan       jam dapat teridentifikasi           sendi yang dialami                mempertahankan mobilitas
     dengan tidak      Mobility level                   b) Kolaborasi dengan fisioterapi     sendi, meningkatkan
     nyaman nyeri,     Joint movement: aktif.           c) Pastikan motivasi klien untuk     sirkulasi, mencegah
     intoleransi       Self care:ADLs                      mempertahankan pergerakan         kontraktur, meningkatkan
     aktivitas,        Dengan criteria hasil:              sendi                             kenyamanan.
     penurunan          a) aktivitas fisik meningkat    d) Pastikan      klien      untuk
     kekuatan otot.     b) ROM normal                      mempertahankan pergerakan
                        c) Melaporkan        perasaan      sendi
                            peningkatan     kekuatan    e) Pastikan klien bebas dari nyeri
                            kemampuan          dalam       sebelum diberikan latihan
                            bergerak                    f) Anjurkan ROM Exercise
                        d) klien bisa melakukan            aktif: jadual; keteraturan,
                            aktivitas                      Latih ROM pasif.
                        e) kebersihan diri klien        Exercise promotion
                            terpenuhi       walaupun    a) Bantu identifikasi program
                            dibantu oleh perawat           latihan yang sesuai         Pengetahuan yang cukup
                            atau keluarga               b) Diskusikan dan instruksikan akan memotivasi klien untuk
                                                           pada klien mengenai latihan melakukan latihan.
                                                           yang tepat
                                                        Exercise terapi ambulasi
                                                        a) Anjurkan dan Bantu klien
                                                           duduk di tempat tidur sesuai      Meningkatkan              dan
                                                           toleransi                         membantu berjalan/ ambulasi
                                                        b) Atur posisi setiap 2 jam atau     atau memperbaiki otonomi
                                                           sesuai toleransi                  dan fungsi tubuh dari injuri
                                                        c) Fasilitasi penggunaan alat
                                                           bantu
Self care assistance:
Bathing/hygiene
a) Dorong        keluarga     untuk    Memfasilitasi pasien dalam
   berpartisipasi untuk kegiatan       memenuhi          kebutuhan
   mandi dan kebersihan diri           perawatan diri untuk dapat
   klien                               membantu klien hingga klien
b) Berikan bantuan sampai klien        dapat               mandiri
   dapat merawat secara mandiri        melakukannya.
c) Monitor kebersihan kuku,
   kulit
d) Monitor             kemampuan
   perawatan diri klien
e) Dorong klien melakukan
   aktivitas normal keseharian
   sesuai kemampuan
f) Promosi aktivitas sesuai usia
Self                           care
assistance:dressing/groming
a) Berikan baju sesuai ukuran
b) Fasilitasi klien menyisir
c) Pelihara       privasi     ketika
   berpakaian
Self care assistance:feeding
a) Identifikasi preskripsi diet
b) Set tray makanan dan meja
   secara aktraktif
c) Kreasikan             lingkungan
   menarik
d) Monitor dan catat intake
Self care assistance:toileting
a) Dorong        keluarga     untuk
   berpartisipasi untuk kegiatan
   toileting
b) Berikan bantuan sampai klien
   dapat melakukan eliminasi
   secara mandiri
c) Fasilitasi kebersihan /hygiene
   toiletsetelah dipakai
d) Anjurkan klien membiasakan
   jadwal rutin ketoilet, sesuai
   kebutuhan dan kemampuan
e) Berikan privasi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:0
posted:6/29/2013
language:Malay
pages:16