; LP GASTROENTRITIS
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

LP GASTROENTRITIS

VIEWS: 0 PAGES: 16

  • pg 1
									                             PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
          Berdasarkan hasil penelitian para gastroenterolog di Jepang yang
   dimuat dalam majalah Look Japan sekitar 70% penduduk berusia di atas 40
   tahun di Jepang yang menderita ulcer lambung serta ulcer usus dua belas jari
   sebagian besar terinfeksi kuman Helicobacter pylori (H. pylori). Hasil
   penelitian tersebut didukung oleh dr. Oei Kim Ie, M.D., Ph.D., ahli bedah
   gastroenterologi Rumah Sakit Pertamina Jakarta yang menyatakan bahwa
   banyak pekerja kantor di Jepang yang memburu kenaikan posisi jabatan
   menderita ulcer usus. Diduga mereka juga mengalami terlalu banyak stres
   serta pola makan dan hidup yang tidak teratur. Sedangkan di Indonesia
   sindrom dispepsia yang sering kambuh dicurigai disebabkan oleh kuman H.
   pylori. Manan (1997) juga mendukung hasil penelitian tersebut, ia
   menyatakan bahwa di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta banyak
   ditemui pasien dengan kasus dispepsia yang disebabkan oleh kuman H. Pylori
          Berdasarkan hal-hal di atas maka diperlukan adanya pemeriksaan
   diagnostik yang tepat agar pengobatan dapat berhasil dengan optimal. Selain
   itu juga diperlukan pencegahan melalui pola makan yang normal dan teratur
   agar tidak timbul komplikasi seperti perdarahan gastrointestinal, stenosis
   pylorus dan perforasi.


B. Tujuan Penulisan
   1. Tujuan Umum
      Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan
      asuhan keperawatan dengan gastroenteritis secara komprehensif di ruang
      Soka RSUD Margono Soekarjo.
   2. Tujuan khusus
      a. Mampu       melaksanakan    pengkajian   menyeluruh     pada   pasien
          gastroenteritis
      b. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada
          pasien gastroenteritis
c. Mampu melakukan interfensi dan implementasi untuk mengatasi
   masalah keperawatan yang timbul pada pasien gastroenteritis
d. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
   pada pasien dengan gastroenteritis
                            TINJAUAN TEORI


A. DEFINISI
   Gastroentiritis adalah peradangan pada mukosa lambung dan usus dengan
   gejala : panas, muntah, diare, dan kram pada perut.


B. ETIOLOGI
   1. Virus : Adenovirus, Rotavirus, Astovirus, dll.
   2. Bakteri: Staphylococcus aureus, Salmonella, Shigella, dll.
   3. Parasit : Entamoeba Histolitica, Balantidium Coli, dll.


C. Faktor resiko terjadinya Gastroenteritis
   1. Jumlah penduduk yang padat/ramai.
   2. Makanan yang terkontaminasi /makanan dengan temperatur yang tidak
      cukup tinggi sehingga tidak dapat membunuh organisme penyebab
      Gastroenteritis.
   3. Sanitasi lingkungan yang jelek.


D. PATHOFISIOLOGI
   Virus/bakteri    masuk   saluran     pencernaan   bersama       makanan   yang
   terkontaminasi sehingga menimbulkan respon dengan gejala Gastroenteritis
   melalui cara :
   1. Organisme melepaskan toksin (enterotoksin) pada usus halus maka
      terjadilah peradangan yang ditandai diare (Shigela dan E. Coli).
   2. Organisme masuk ke intestinal sehingga menimbulkan distruksi 
      nekrosis  ulcerasi  diare terus-menerus (Shigella dan Compylobacter).
   3. Organisme yang masuk saluran pencernaan merusak mukosa/epitelium 
      villi saluran pencernaan hancur  malabsorbsi dan hancurnya villi ini
      menyebabkan motilitas gastro-intestinal meningkat  sehingga cairan dan
      elektrolit (dalam lumen usus) meningkat.
E. TANDA DAN GEJALA
  1. Mual, muntah, diare, peningkatan suhu tubuh dan nyeri abdomen.
  2. BAB ada darah/mucus (5x/> sehari) mungkin oleh Shigella.
  3. BAB bau dan bercampur darah  Compylobacter.
  4. BAB kadang-kadang bercampur darah dan mucus  E. Coli.
  5. Elastisitas kulit menurun
  6. Mukosa mulut kering
  7. Hipotensi, dll.


F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Pemeriksaan auskultasi : peningkatan peristaltic usus
  2. Palpasi  teraba lunak pada abdominal, nyeri abdomen.
  3. Pemeriksaan laboratorium
     BAR : WBCs  Shigella
             WBCs dan RBCs  Compylobacter.
G. PATHWAY


             Organisme


             masuk ke intestinal   melepasakan enterotoksin


             distruksi             Peradangan usus halus




             nekrosis                       hypertermi                  nyeri


             ulcerasi                             absorpsi zat makanan kurang


                           diare                  ketidakseimbangan nutrisi :
                                                  kurang dari kebutuhan tubuh


                    defisit volume cairan




H. PENATALAKSANAAN
  Pengobatan medikamentosa :
   Antibiotik diberikan secara klinis :
     o Tetrasiklin untukcholera
     o Klrammphenikol untuk Shigella
     o Neomycin untuk Campylobacter
   Anti diare
   Absorben
I. PENGKAJIAN
  1. Kaji keluhan pasien seperti : Mual, muntah, diare, dan nyeri abdomen,
     BAB ada darah/mucus (5x/> sehari) (mungkin oleh Shigella), BAB bau
     dan bercampur darah  Compylobacter, BAB kadang-kadang bercampur
     darah dan mucus  E. Coli.
  2. Kaji tanda dan gejala yang mungkin muncul seperti : peningkatan suhu
     tubuh, diare, elastisitas kulit menurun, mukosa mulut kering, hipotensi, dll.


J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
  1. Nyeri (akut) b.d agen injuri biologi
  2. Defisit volume cairan b.d. kehilangan volume cairan secara aktif
  3. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d. Ketidakmampuan
     dan mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat yang berhubungan
     dengan factor biologis
  4. Hipertermi b. d. Proses infeksi
             BASIC PROMOTING PHYSIOLOGY OF HEALTH
                 “ Fluid, Electrolyte, and Acid-Base Balance “


1. DEFINISI
             Cairan dan elektrolit sangat dibutuhkan oleh tubuh dan jumlahnya
  harus dipertahankan demi kesehatan tubuh manusia.          Keseimbangan cairan
  dan elektrolit ini untuk menjaga hoemeostasis tubuh. Keseimbangan cairan
  ini untuk memelihara kesehatan tubuh dalam proses fisiologi tubuh. Banyak
  penyakit yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan cairan tubuh ini. Dalam
  keadaan normal suhu atau aktivitas yang berlebihan dapat menggaggu
  keseimbangan cairan jika tidak diimbangi pemasukan air dan garam yang
  adekuat.    Pada proses penyembuhan bagi pasien, pemberian diuretic juga
  dapat mengganggu homeostasis cairan dan elektrolit tubuh jika tidak diganti.
             Cairan dsalam tubuh dibagi dalam 2 jalur, intravascular dan
  ekstravaskular. Cairan intravascular (ICF) yang biasa disebut juga cairan
  seluler, ditemukan dalam sel-sel dalam tubuh.      Terdapat 2/3 atau sampai ¾
  dari total cairan dalam tubuh. Cairan ekstraveskuler (ECF) terdapat di luar
  sel, yang terbagi dalam 3 bagian: Cairan intravascular (plasma), Cairan
  interstisial, dan cairan antar sel (trancellular fluid).     Plasma ditemukan
  diantara system vaskuler, cairan Interstisial mengelilingi sel dan termasuk
  dalam cairan getah beling (lymph). Cairan transeluler dikeluarkan oleh sel-sel
  epitel. Komposisi ionic dari cairan ini berbeda dengan plasma dan cairan
  interstisial. Contoh dari cairan transelular adalah cairan cerebrospinal, cairan
  sekat paru-paru, peritoneal, dan cairan synovial
2. NILAI - NILAI NORMAL
  Persentase cairan dalam tubuh manusia:
                         Umur                           Persentase
       Bayi cukup umur, bayi baru lahir                  70 - 80 %
       1 tahun                                               64 %
       Usia puber – 39 tahun                            52 – 60 %
       40 – 60 tahun                                    47 – 55 %
       Lebih dari 60 tahun                              46 – 52 %
Komposisi cairan tubuh :
Komposisi cairan masing-masing orang berbeda, Ion yang ada pada cairan
ekstravascular adalah Sodium da Klorida.               Pada intravaskuler ionnya adalah
Potasium da Pospate. Cairan elektrolit diukur dengan miliequivalent / liter (
mEq/L) atau milligram/100 mili liler (mg/100mL ).
Rata-rata cairan tubuh yang diperlukan per hari
              Umur                     Estimasi berat badan                mL/24 jam
     3 hari                                      3,0                        250 – 300
     1 tahun                                     9,5                       1150 – 3300
     2 tahun                                     11,8                      1350 – 1500
     6 tahun                                     20                        1800 – 2000
     10 tahun                                    28,7                      2000 – 2500
     14 tahun                                    45                        2200 – 2700
    18 tahun ( dewasa )                          54                        2200 – 2700


Rata-rata cairan yang keluar per hari
                           Rute                            Jumlah (mL)
               Urin                                         1400 – 1500
               Cairan yang tidak terasa
                  Paru-paru                                  350 – 400
                  Kulit                                      350 – 400
               Keringat                                        100
               Feces                                         100 – 200
                          Total                             2300 - 2600


Devisit volume cairan
    Faktor Resiko                 Tanda klinis                  Interevensi
1   Cairan      yang      tidak Weight loss                     Kaji perubahan tanda
    terasa                        2% lost  ringan                klinis
    Vomit                         5% lost  sedang              Tambahkan cairan oral
    Diarea                        8% lost  berat                 jika perlu
    Suction (gastric)             kerusakan tugor kulit         Provide psr medication
    Pembuangan sekresi        lemah dan peningkatan           for nausea as required
2   Keringat berlebih           nadi                        Monitor tanda vital dan
    Kurangnya        cairan turunnya tekanan darah            berat badan
    yang masuk, akibat:       postural hypotensi            Kaji tugor
    Anoreksia                 menurunnya           volume Kaji suara nafas
    Nausea, vomit               cairan                      Monitor intake dan
    Sukar menelan             tidak ada suara nafas           output cairan tubuh
    Depresi/ confution        Intake      cairan     lebih Lakukan pengkajian
3   Unavailability of fluid     sedikit     dari     yang     terhadap inmtergitas
    Data labolatorium :         keluar                        kulit
    Naiknya hematokrit        Menurunnya volume urin Lakukan tes
    Naiknya Hb                Keringnya       membrane        labolatorium dan
    Naiknya BUN                 mukosa                        monitor
    Turunnya CVP              Urat leher mendatar
                              Waktu pengisian kapiler
                                lambat ( 5 detik )
                              Adanya kelemahan dan
                                haus




3. PENGKAJIAN
    A. Identitas
       Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak, frekuensi diare
       untuk neonatus > 4 kali/hari sedangkan untuk anak > 3 kali/hari dalam
       sehari. Status ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang
       dapat mempengaruhi terjadinya diare pada nak ditinjau dari pola makan,
       kebersihan dan perawatan. Tingkat pengetahuan perlu dikaji untuk
       mengetahui tingkat perlaku kesehatan dan komunikasi dalam
       pengumpulan data melalui wawancara atau interview. Alamat
       berhubungan dengan epidemiologi (tempat, waktu dan orang) ( Lab.
       FKUI, 1988).
    B. Keluhan utama
       Keluhan yang membuat klien dibawa ke rumah sakit. Manifestasi klnis
       berupa BAB yang tidaknomral/cair lebih banyak dari biasanya (LAN IKA,
       FKUA, 1984)
C. Riwayat Penyakit Sekarang
   Paliatif, apakah yang menyebabkan gejala diare dan apa yang telah
   dilakukan. Diare dapat disebabkan oleh karena infeksi, malabsorbsi, faktor
   makanan dan faktor psikologis.
   Kuatitatif, gejala yang dirasakan akibat diare bisanya berak lebih dari 3
   kali dalam sehari dengan atau tanpa darah atau lendir, mules, muntak.
   Kualitas, Bab konsistensi, awitan, badan terasa lemah, sehingga
   mengganggu aktivitas sehari-hari .
   Regonal,perut teras mules, anus terasa basah.
   Skala/keparahan, kondisi lemah dapat menurunkan daya tahan tubuh dan
   aktivitas sehari-hari.
   Timing, gejala diare ini dapat terjadi secara mendadak yang terjadi karena
   infeksi atau faktor lain, lamanya untuk diare akut 3-5 hari, diare
   berkepanjangan > 7 hari dan Diare kronis > 14 hari (Lab IKA FKUA,
   1984)

D. Riwayat Penyakit sebelumnya
   Infeksi parenteral seperti ISPA, Infeksi Saluran kemih, OMA (Otitis
   Media Acut) merupakan faktor predisposisi terjadinya diare (Lab IKA
   FKUA, 1984)
E. Riwayat Prenatal, Natal dan Postnatal
   1. Prenatal
      Pengaruh konsumsi jamu-jamuan terutamma pada kehamilan semester
      pertama, penyakti selama kehamilan yang menyertai seperti TORCH,
      DM, Hipertiroid yang dapat mempengaruhi pertunbuhan dan
      perkembangan janin di dalam rahim.
   2. Natal
      Umur kehamilan, persalinan dengan bantuan alat yang dapat
      mempengaruhi fungsi dan maturitas organ vital .
   3. Post Natal
      Apgar skor < 6 berhubungan dengan asfiksia, resusitasi atau
      hiperbilirubinemia. BErat badan dan panjang badan untuk mengikuti
      pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia sekelompoknya.
      Pemberian ASI dan PASI terhadap perkembangan daya tahan tubuh
      alami dan imunisasi buatan yang dapat mengurangi pengaruh infeksi
      pada tubuh.

   F. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
       Pertumbuhan dan perkembangan menjadi bahan pertimbangan yang
       penting karena setiap individu mempunyai ciri-ciri struktur dan fungsi
       yang berbeda, sehingga pendekatan pengkajian fisik dan tindakan
       haruys disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan (Robert
       Priharjo, 1995)
   G . Riwayat Kesehatan Keluarga
       1. Penyakit
      Apakah ada anggota keluarga yangmenderita diare atau tetangga
      yang berhubungan dengan distribusi penularan.
   2. Lingkungan rumah dan komunitas
      Lingkungan yang kotor dan kumuh serta personal hygiene yang
      kurang mudah terkena kuma penyebab diare.
   3. Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
      BAB yang tidak pada tempat (sembarang)/ di sungai dan cara
      bermain anak yangkurang higienis dapat mempermudah masuknya
      kuman lewat Fecal-oral.
   4. Persepsi keluarga
      Kondisi lemah dan mencret yang berlebihan perlu suatu keputusan
      untuk penangan awal atau lanjutan ini bergantung pada tingkat
      pengetahuan dan penglaman yang dimiliki oleh anggota keluarga
      (orang tua).
H. Pola Fungsi kesehatan
   1. Pola Nutrisi
      Makanan yang terinfeksi, pengelolaan yang kurang hygiene
      berpengaruh terjadinya diare, sehingga status gizi dapat berubah
      ringan samapai jelek dan dapat terjadi hipoglikemia. Kehilangan
      Berat Badan dapat dimanifestasikan tahap-tahap dehidrasi. Dietik
      pada anak < 1tahun/> 1tahun dengan Berat badan < 7 kg dapat
      diberikan ASI/ susu formula dengan rendahlaktosa, umur > 1 tahun
      dengan BB > 7 kg dapat diberikan makananpadat atau makanan
      cair.
   2. Pola eliminasi
      BAB (frekuensi, banyak, warna dan bau) atau tanpa lendir, darah
      dapat mendukung secara makroskopis terhadap kuman penyebab
      dan cara penangana lebih lanjut. BAK perlu dikaji untuk output
      terhadap kehilangan cairan lewat urine.
   3. Pola istirahat
      Pada bayi, anak dengan diare kebutuhan istirahat dapat terganggu
      karena frekuensi diare yang berlebihan, sehingga menjadi rewel.
   4. Pola aktivitas
       Klien nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder
       untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
I. Pemeriksaan Fisik (Robert Priharjo, 1995).
    1. Sistem Neurologi,
      Subyektif, klien tidak sadar, kadang-kadang disertai kejang.
      Inspeksi, Keadaan umum klien yang diamati mulai pertama kali
      bertemu dengan klien. Keadaan sakit diamati apakah berat, sedang,
      ringan atau tidak tampak sakit. Keadaran diamati komposmentis,
      apatis, samnolen, delirium, stupor dan koma.
      Palpasi, adakah parese, anestesia,
      Perkusi, refleks fisiologis dan refleks patologis.
   2. Sistem Penginderaan
      Subyektif, klien merasa haus, mata berkunang-kunang,
      Inspeksi :
      Kepala, kesemitiras muka, cephal hematoma (-), caput sucedum (-
      ), warna dan distibusi rambut serta kondisi kulit kepala kering,
      pada neonatus dan bayi ubun-ubun besar tampak cekung.
      Mata, Amati mata conjunctiva adakah anemis, sklera adakah
      icterus. Reflek mata dan pupil terhadap cahaya, isokor, miosis atau
      midriasis. Pada keadaan diare yang lebih lanjut atau syok
      hipovolumia reflek pupil (-), mata cowong.
      Hidung, pada klien dengan dehidrasi berat dapat menimbulkan
      asidosis metabolik sehingga kompensasinya adalah alkalosis
      respiratorik untuk mengeluarkan CO2 dan mengambil O2,nampak
      adanya pernafasan cuping hidung.
      Telinga, adakah infeksi telinga (OMA, OMP) berpengaruh pada
      kemungkinaninfeksi parenteal yang pada akhirnya menyebabkan
      terjadinya diare (Lab. IKA FKUA, 1984)
      Palpasi,
      Kepala, Ubun-ubun besar cekung, kulit kepala kering, sedangkan
      untuk anak-anak ubun-ubun besar sudah menutup maximal umur 2
      tahun. Mata, tekanan bola mata dapat menurun,
      Telinga, nyeri tekan, mastoiditis.

2. Sistem Integumen
   Subyektif, kulit kering
   Inspeksi , kulit kering, sekresi sedikit, selaput mokosa kering
   Palpasi, tidak berkeringat, turgor kulit (kekenyalan kulit kembali
   dalam 1 detik = dehidrasi ringan, 1-2 detik = dehidrasi sedang dan > 2
   detik = dehidrasi berat (Lab IKA FKUI, 1988).


3. Sistem Kardiovaskuler
   Subyektif, badan terasa panas tetapi bagian tangan dan kaki terasa
   dingin
   Inspeksi, pucat, tekanan vena jugularis menurun, pulasisi ictus cordis
   (-), adakah pembesaran jantung, suhu tubuh meningkat.
   Palpasi, suhu akral dingin karena perfusi jaringan menurun, heart rate
   meningkat karena casodilatasi pemuluh darah, tahanan perifer
   menurun sehingga cardiac output meningkat. Kaji frekuensi, irama dan
   kekuatan nadi.
   Perkusi, normal redup, ukuran dan bentuk jantung secara kasar pada
   kausus diare akut masih dalam batas normal (batas kiri umumnya tidak
   lebih dari 4-7 dan 10 cm ke arah kiri dari garis midsternal pada ruang
   interkostalis ke 4,5 dan 8.
      Auskultasi, pada dehidrasiberat dapat terjadi gangguansirkulasi,
      auskulatasi bunyi jantung S1, S2, murmur atau bunyi tambahan
      lainnya. Kaji tekanan darah.

   4. Sistem Pernafasan
      Subyektif, sesak atau tidak
      Inspeksi, bentuk simetris, ekspansi , retraksi interkostal atau subcostal.
      Kaji frekuensi, irama dan tingkat kedalaman pernafasan, adakah
      penumpukan sekresi, stridor pernafas inspirasi atau ekspirasi.
      Palpasi, kajik adanya massa, nyeri tekan , kesemitrisan ekspansi, tacti
      vremitus (-).
      Auskultasi, dengan menggunakan stetoskop kaji suara nafas vesikuler,
      intensitas, nada dan durasi. Adakah ronchi, wheezing untuk
      mendeteksi adanya penyakit penyerta seperti broncho pnemonia atau
      infeksi lainnya.

   5. Sistem Pencernaan
      Subyektif, Kelaparan, haus
      Inspeksi, BAB, konsistensi (cair, padat, lembek), frekuensilebih dari 3
      kali dalam sehari, adakah bau, disertai lendi atau darah. Kontur
      permukaan kulit menurun, retraksi (-) dankesemitrisan abdomen.
      Auskultasi, Bising usus (dengan menggunakan diafragma stetoskope),
      peristaltik usus meningkat (gurgling) > 5-20 detik dengan durasi 1
      detik.
      Perkusi, mendengar aanya gas, cairan atau massa (-), hepar dan lien
      tidak membesar suara tymphani.
      Palpasi, adakahnyueri tekan, superfisial pemuluh darah, massa (-).
      Hepar dan lien tidak teraba.

   6. Sistem Perkemihan
      Subyektif, kencing sedikit lain dari biasanya
      Inspeksi, testis positif pada jenis kelamin laki-laki, apak labio mayor
      menutupi labio minor, pemebsaran scrotum (-), rambut(-). BAK
      frekuensi, warna dan bau serta cara pengeluaran kencing spontan atau
      mengunakan alat. Observasi output tiap 24 jam atau sesuai ketentuan.
      Palpasi, adakah pemebsaran scrotum,infeksi testis atau femosis.

   8. Sistem Muskuloskletal
      Subyektif, lemah
      Inspeksi, klien tampak lemah, aktivitas menurun
      Palpasi, hipotoni, kulit kering , elastisitas menurun. Kemudian
      dilanjutkan dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan ,
      kekuatan otot.

J. Pemeriksaan Penunjang
    1. Laboratorium (Lab IKA FKUI, 1988)
    a. Faeces lengkap
         Makroskopis dan mikroskopis (bakteri (+) mis. E. Coli)
         PH dan kadar gula
         Biakan dan uji resistensi
    b. Pemeriksaan Asam Basa
       Analisa Baood Gas Darah dapat menimbulkan Asidosis metabolik
       dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
    c. Pemeriksaan kadar ureum kreatinin
       Untuk mengetahui faali ginjal
    d. Serum elektrolit (Na, K, Ca dan Fosfor)
       Pada diare dapat terjadi hiponatremia, hipokalsemia             yang
       memungkinkan terjadi penuruna kesadaran dan kejang.
    e. Pemeriksaan intubasi duedenum
        Terutama untuk diare kronik dapat dideteksi jasad renik atau parasit
        secara kualitatif dan kuantitatif.

   2. Pemeriksaan Radiologi
      Pemeriksaan radiologi diperlukan kalau ada penyulit atau penyakit
      penyerta seperti bronchopnemonia dll seperti foto thorax AP/PA
      Lateral.

K. Penatalaksanaan (Lab IKA FKUI, 1988 dan FKUA, 1984)
    1. Rehidrasi
    a. Jenis cairan
         cara rehidrasi oral :
            Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti
               oralit,pedyalit setiap kali diare.
            Formula sederhana (NaCl dan Sukrosa/KH lain) seperti LGG,
               tajin
         cairan parenteral :
            usia 0-2 hari dengan BB < 2500 D5%, BB > 2500 (aterm)
               D10%.
            Usia 2 hari-3 bulan d100,18 NS
            Usia 3 bulan- 3 tahun D51/4 NS
            Usia > 3 tahun D51/2NS
            HSD (Half Strength Darrow) D1/2 2,5 NS cairan khusus
               untuk diare > usia 3 bulan.
 b. Jalan pemberian
      Oral (dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi, anak mau
        minum serta kesadaran baik)
      Intragastrik (dehidrasi ringan, sedang, tanpa dehidrasi, anak tidak
        mau makan dan kesadaran menurun).
      IV line bila dehidrasi berat

 c. Jumlah cairan
     Jumlah cairan yang diberikan tergantung pada :
      Defisit (derajat dehidrasi)
      Kehilangan sesaat (concurent loss)
      Rumatan (maintenance)

 d. Jadual/kecepatan
     Jadual atau kecepatan pemeberian cairan tergantung pada tingkat
     dehidrasi dan umur. Untuk defisit diberikan 3 jampertama dan
     dilanjutkan maintenance.

2. Obat-obatan
   a. Obat anti sekresi
      Asetosal, 25 mg/hr dengan dosisminimal 30 mg
      Klorpromasin, 0,5-1 mg/ kg BB/hr
   b. Obat antispasmotilitik
      Papaverin, opium. loperamid
   c. Antibiotik
      Penyebab jelas
      Ada penyakit penyerta

3. Dietetik
  a. Anak < 1 tahun atau > 1 tahun denga BB < 7 kg
      Susu ASI/ susu formula dengan laktosa rendah
      Makanan setengah padat (bubur susu), makana padat
 b. Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg
    Makanan padat/ maknan cair/susu
 c. Dalam keadaan malabsorbsi berat serta allergi protein susu sapi dapat
    diberikan elemental/semi elemental formula.
     4. Supportif
        a. Vitamin A 200.000 iu IMusia < 1 tahun
        b. Vitamin A 100.000 iu IM        usia 1-5 tahun
        c. Vitamin A 5000 iu              usia > 5 tahun
        d. Vitamin A 2.500 iu po          usia < 1 tahun
        e. Vitamin A 5.000 iu po          usia > 1 tahun
        f. Vitamin B kompleks, vit C



DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Lekurangan volume cairan b.d. kehilangan volume cairan secara aktif
2. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d. Ketidakmampuan dan
   mencerna makanan atau mengabsorpsi zat-zat yang berhubungan dengan
   factor biologis

								
To top