jurnal by zuperbayu

VIEWS: 0 PAGES: 4

									           A EUROPEAN SURVEY OF ENTERAL NUTRITION PRACTICES AND
                   PROCEDURES IN ADULT INTENSIVE CARE UNITS


Introduction
       Dukungan nutrisi (NS) merupakan hal penting untuk manajemen pasien yang
komprehensif di Intensive Care Units (ICU), terutama bagi resiko tinggi malnutrisi. Pemasangan
dini nutrisi enteral (EN) akan memperbaiki motilitas usus, memelihara integritas dan fungsi
gastrointestinal, meminimalkan translokasi organisme, membantu penyembuhan luka, penurunan
insiden infeksi dan membantu proses homeostatis, menurunkan angka kejadian komplikasi,
mempersingkat waktu dirawat di ICU, menurunkan resiko kematian.
       Beberapa international studies mengungkapkan bahwa di beberapa ICU, nutrisi enteral
(EN) digunakan pada pasien yang tidak memenuhi syarat, oleh karena itu waktu pemberian there
is delayed timing in administration and there are several features having an impact on delivery
that may lead to failure in individual feeding target.


Objectives
Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan praktek dan prosedur nutrisi enteral (EN) di
ruang ICU di Eropa dan menggambarkan trend sekarang.


Metodologi
       Penelitian ini menggunakan teknik survey. Pengumpulan data menggunakan kuesioner
yang berjumlah 51 pertanyaan dan observasi. Kuesioner terdiri dari 11 pertanyaan berkisar
tentang resiko dalam tindakan pemberian nutrisi, status nutrisi, syarat-syarat nutrisi, 26
pertanyaan mengenai perbedaan aspek dari makanan enteral, sisanya mengenai ukuran luas ICU,
gambaran pasien di ICU dan pendidikan serta skill dari para petugas di ICU. Item pertanyaan
dalam kuesioner diambil dari literature. Bahasa dalam kuesioner menggunakan 14 bahasa yang
berbeda.




       Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive dengan kriteria :
1. ICU anak : umur anak ≤16 tahun.
2. Makanan enteral : memasukkan makanan dengan menggunkan selang atau sejenisnya yang
   diindikasikan dapat masuk ke dalam traktus gastrointestinal.
Sampel yang diambil yaitu critical care nurses di 20 negara European federation of Critical Care
Nursing associations (EfCCNa) sebanyak 383 ICU.


Analisa Hasil
       Data dianalisa dengan menggunakan deskriptif dan statistik parametric dan non
parametric dengan bantuan komputer dengan program statistik untuk ilmu sosial versi SPSS,
SPSS Inc., Chicago, IL, USA. Variable penelitian dibuat kategori atau ordinal. Rumus statistic
yang digunakan yaitu X2, Spearman Rank (rho) untuk mencari koefisien korelasi dan signifikasi
variable, ANOVA untuk menguji perbedaan antara beberapa faktor variabel. Batas signifikasi
adalah p<0,05. Sampel yang dapat digunakan 383 tapi sampel yang memenuhi 380. Paling
banyak ICU (86.5%, n=320/370) tidak menggunakn skor resiko nutrisi dan 35.8% (n = 133/371)
memberikan tindakan mengenai status nutrisi yaitu pengukuran berat badan dan mengecek serum
albumin. Menengecek posisi NGT dengan diauskultasi menggunakan udara (72,6%, n=
275/373). Sebagian besar ICU menggunakan panduan klinik yang ada dalam pemberian nutrisi,
sebagian kecil mendapat anjuran dari tim nutrisi.


Kesimpulan
       Terdapat beberapa persamaan dan perabedaan dalam prosedur pemberian nutrisi di tiap
ruang ICU di Eropa, contohnya dalam hal penggunaan NGT. Persamaannya adalah dalam
prosedur pemberian nutrisinya. Perbedaannya yaitu berhubungan dengan keterampilan yang
dimiliki tiap perawat, sarana dan prasarana yang terdapat di masing-masing ICU.




A. IMPLIKASI KEPERAWATAN
     Setelah kelompok membaca dan menganalisa hasil penelitian Sjostrand diswedia yang
  dikemukakan oleh dr.Isra Firmansyah dan Dr. Munar Lubis, dapat dihubungkan dengan
  tindakan keperawatan:
  1. Perawat harus memonitor secara intensif pada bayi asfeksia berat dengan melihat tanda-
     tanda:
     a. Cuping hidung
     b. Retraksi dinding dada
     c. Respirasi tidak stabil
     d. Sianosis
     Set / atur keperluan O2 bayi sehingga tepat/sesuai dengan kebutuhan.
  2. Perawat menggunakan pulse oksimeter untuk mengukur saturasi O2 bayi sehingga
     pemberian O2 bayi bisa tepat.
  3. Dalam penggunaan fentilator, perawat hendaknya memonitor selang-selang ventilator
     apakah ada kebocoran/ terdapat kondensasi dan suhu pada selang.
  4. Perawat dapat berkolaborasi dengan tim kesehatan lain terutama dalam penggunaan
     ventilator frekuensi tinggi pada bayi asfiksia berat.
  5. Perawat mampu menguasai dan menggunakan alat ventilator dengan bauk dan benar
     melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan khusus.


B. PENUTUP
     Kelompok kami sengaja menyajikan jurnal yang berjudul Pemakaian Ventilator
  Frekvensi Tinggi Pada Bayi Asfiksia Berat dengan harapan:
  1. Menambah wawasan/pengetahuan perawat dalam menangani bayi asfeksia berat sehingga
     nantinya bisa menekan angka kematian bayi.
  2. Mengharap kepada semua perawat untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam
     mengoprasikan peralatan baru dengan mengikuti pelatihan-pelatihan sehingga nantinya
     bisa menjadi perawat yang profesional dan handal.
  3. Mengharap kepada pihak Rumah Sakit untuk menyediakan peralatan yang memadahi
     khususnya ventilator dan mengadakan pelatihan bagi perawat, khusus penggunaan
     alatnya.
   4. Kekompakan, kerjasama yang baik antar tim kesehatan akan meningkatkan pelayanan
       kesehatan pada masyarakat yang optimal.
   Demikian penyajian jurnal dari kelompok kami, semoga bermanfaat bagi kita semua.




Implikasi Keperawatan
Praktik dan pendidikan keperawatan
1. Kemampuan personal perawat dibutuhkan untuk menangani penyakit yang biasa dialami
   neonatus.
2. Protokol dapat digunakan untuk mempelajari bagaimana mengkaji bayi baru lahir,
   menentukan tingkat bilirubin dengan metode non invasive
3. Perawat juga perlu memberi lebih banyak perhatian pada dan juga menganjurkan ibu untuk
   tetap menyusui banyinya selama mendapat fototerapi, karena hal ini dapat meningkatkan
   kedekatan dan menurunkan efek perpisahan bayi dan ibu.
4. Hal-hal yang perlu dilaksanakan saat fototerapi:
   a. Monitor suhu bati setiap 4 jam
   b. Menimbang bayi setiap hari dan mengawasi penurunan BB yang bermakna dan siap untuk
     menaikkan asupan cairan samapi 25% dari biasa.
   c. Melindungi mata dan gonad dari sumber cahaya.
   d. mengubah posisi bayi setiap 6 jam.
   e. Memeriksa konsentrasi bilirubin serum secara teratur.
   f. Menghentikan fototerapi saat orang tua mengunjungi bayinya dan membuka perlindungan
     mata untuk memudahkan interaksi alami antara orang tua dan bayi.
   g. Monitor konsentrasi bilirubin sehari sesudah fototerapi dihentikan untuk mendeteksi
     adanya kenaikan kembali konsentrasi bilirubin serum.
Penelitian
Penelitian ini dapat dilaksanakan dengan memandang berbagai faktor lain dan jika ditemukan,
fototerapi dibutuhkan sebagai terapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia.

								
To top