jurnal vffhg by zuperbayu

VIEWS: 1 PAGES: 10

									                     SEMINAR JURNAL
A European survey of enteral nutrition practices and procedures
                  in adult intensive care units




                             Oleh :

                  GIRI KARYONO, S. Kep
        CAHYO ISMAWATI SULISTYORINI, S.Kep
                      ANI LATIN, S.Kep
               JOKO TRISUHARSONO, S.Kep
                ARI SULISTYOWATI, S.Kep
                 GINA MEIRAWATI, S.Kep
                YUSEP ABDUL LATIF, S.Kep




         DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

         UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

                PROGRAM PROFESI NERS

                       PURWOKERTO

                              2009
                                             BAB I

                                      PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

           Dukungan nutrisi (NS) merupakan hal penting untuk manajemen pasien yang
komprehensif di        Intensive Care Units (ICUs), terutama bagi resiko tinggi malnutrisi.
Pemasangan dini nutrisi enteral (EN) akan memperbaiki motilitas usus, memelihara integritas
dan fungsi gastrointestinal, meminimalkan translokasi organism, membantu penyembuhan
luka, penurunan insiden infeksi dan membantu proses homeostatis, menurunkan angka
kejadian komplikasi, mempersingkat waktu dirawat di ICU, menurunkan resiko kematian.
Beberapa international studies mengungkapkan bahwa di beberapa ICU, nutrisi enteral (EN)
digunakan pada pasien yang tidak memenuhi syarat. Pemberian makanan pada penderita
penyakit tertentu atau penderita paska bedah sering tidak dimungkinkan melalui mulut, sedangkan
pada keadaan-keadaan seperti itu nutrisi pasien justru harus dipertahankan atau ditingkatkan
karena akan mengalami perubahan metabolisme dasar tubuh. Dalam keadaan demikian, sisa
glukosa dan makanan akan habis dalam 2 sampai 4 jam. Setelah itu tubuh akan menguraikan
glikogen yang ada dihati dan otot. Cadangan glikogen ini hanya cukup untuk beberapa jam saja.jika
masukan karbohidrat atau protein terhenti lebih dari 24 jam/masukan karbohirat dan protein tidak
cukup, tubuh melakukan glukoneogesis yaitu pembentukan glukosa dengan memecah protein
(proteolisis). Untuk memenuhi kebutuhan energi basal 20-25 kKal/hari diperlukan pemecahan
protein.

           Sehubungan dengan kondisi kritisnya pasien, seringkali pasien tidak dapat mengkonsumsi
makanan yang diberikan kepadanya melalui oral atau makanan yang diberikan kepadanya tidak
mencukupi kebutuhan. Tanpa masukan nutrisi dari luar tubuh, dalam beberapa waktu akan terjadi
balance nutrisi negatif dan malnutrisi protein kalori yang akan menurunkan kadar albumin dan
immunoglobulin sehingga akan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, mempermudah infeksi
edema anasarka, gangguan motilitas usus, gangguan enzim dan metabolisme, serta kelemahan otot.

B. TUJUAN

           Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan praktek dan prosedur nutrisi enteral
(EN) di ruang ICU di Eropa dan menggambarkan trend pemberian nutrisi sekarang.
                                            BAB II
                                     RESUME JURNAL


Metodologi
       Penelitian ini menggunakan teknik survey. Pengumpulan data menggunakan kuesioner
yang berjumlah 51 pertanyaan dan observasi. Kuesioner terdiri dari 11 pertanyaan berkisar
tentang resiko dalam tindakan pemberian nutrisi, status nutrisi, syarat-syarat nutrisi, 26
pertanyaan mengenai perbedaan aspek dari makanan enteral, sisanya mengenai ukuran luas
ruang ICU, gambaran pasien di ICU dan pendidikan serta skill dari para petugas di ICU. Item
pertanyaan dalam kuesioner diambil dari literature. Bahasa dalam kuesioner menggunakan 14
bahasa yang berbeda.
       Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive dengan kriteria :
1. ICU anak : umur anak ≤16 tahun.
2. Makanan enteral : memasukkan makanan dengan menggunkan selang atau sejenisnya yang
   diindikasikan dapat masuk ke dalam traktus gastrointestinal.
Sampel yang diambil yaitu critical care nurses di 20 negara European federation of Critical Care
Nursing associations (EfCCNa) sebanyak 383 ICU.
Analisa Hasil
       Data dianalisa dengan menggunakan deskriptif dan statistik parametrik dan non
parametrik dengan bantuan komputer dengan program statistik untuk ilmu sosial versi SPSS,
SPSS Inc., Chicago, IL, USA. Variabel penelitian dibuat kategori atau ordinal. Rumus statistik
yang digunakan yaitu X2, Spearman Rank (rho) untuk mencari koefisien korelasi dan signifikasi
variabel, ANOVA untuk menguji perbedaan antara beberapa faktor variabel. Batas signifikasi
adalah p<0,05. Sampel yang dapat digunakan 383 tapi sampel yang memenuhi 380.
       Gambaran umum rumah sakit di Eropa yaitu hanya 1-3 rumah sakit mempunyai 600 buah
tempat tidur ( 36.8%, n=140). Secara geografis, terdapat signifikasi dengan ukuran luas ruang
ICU (p=0.003, df=3). Rumah sakit di Eropa Timur lebih besar (892 tempat tidur, SD=792)
dibanding dengan rumah sakit di Eropa Barat (648 tempat tidur, SD=439). Dari penelitian ini
didapatkan data bahwa ICU menggunakan NRS sebesar 63,6%, ICU yang menggunakan NRS
dan didukung dengan NST sebesar 27.6%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat signifikasi
yang kontras bahwa sebesar 5.6% ICU menggunakan NRS tanpa didukung NST (p≤0.001, df=1).
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara RS pendidikan yang menggunakan NRS
(17.8%, n=27/152) dengan RS non pendidikan yang menggunakan NRS (14.8%, n=22/149).
           ICU yang memberikan tindakan mengenai status nutrisi yaitu pengukuran berat badan
dan mengecek serum albumin 35.8% (n = 133/371). ICU yang mengecek posisi NGT dengan
diauskultasi menggunakan udara (72,6%, n= 275/373), abdominal/dada X-ray (34.9%)Tipe NGT
yang biasa digunakan adalah polyurethane (49.1%), silicon (29.0%), dan polyvinyl chloride
(20.4%).
                                              BAB III
                                         PEMBAHASAN


       Pemberian makanan pada penderita penyakit tertentu atau penderita paska bedah sering
tidak dimungkinkan melalui mulut, sedangkan pada keadaan-keadaan seperti itu nutrisi pasien
justru harus dipertahankan atau ditingkatkan karena akan mengalami perubahan metabolisme dasar
tubuh. Dalam keadaan demikian, sisa glukosa dan makanan akan habis dalam 2 sampai 4 jam.
Setelah itu tubuh akan menguraikan glikogen yang ada dihati dan otot. Cadangan glikogen ini hanya
cukup untuk beberapa jam saja.jika masukan karbohidrat atau protein terhenti lebih dari 24
jam/masukan karbohirat dan protein tidak cukup, tubuh melakukan glukoneogesis yaitu
pembentukan glukosa dengan memecah protein (proteolisis). Untuk memenuhi kebutuhan energi
basal 20-25 kKal/hari diperlukan pemecahan protein.

       Sehubungan dengan kondisi kritisnya pasien, seringkali pasien tidak dapat mengkonsumsi
makanan yang diberikan kepadanya melalui oral atau makanan yang diberikan kepadanya tidak
mencukupi kebutuhan. Tanpa masukan nutrisi dari luar tubuh, dalam beberapa waktu akan terjadi
balance nutrisi negatif dan malnutrisi protein kalori yang akan menurunkan kadar albumin dan
immunoglobulin sehingga akan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, mempermudah infeksi
edema anasarka, gangguan motilitas usus, gangguan enzim dan metabolisme, serta kelemahan otot.

       Nutrisi adalah asupan subtrat (zat) gizi yang ada dalam bahan makanan dan minuman yang
dibutuhkan oleh setiap manusia (normal/sakit). Bila kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi maka dapat
menyebabkan lambung dalam keadaan kosong lama, sehingga dapat meningkatkan sekresi asam
lambung, pepsin, dan dapat menyebabkan refluknya cairan asam lambung serta menyebabkan mukosa
gaster lebih sensitif terhadap asam lambung. Dengan adanya keadaan tersebut maka pasien harus
diberikan nutrisi enteral. Pemberian nutrisi enteral dilakukan dengan memakai feeding tube seperti
NGT, naso jejenal tube, naso duodenal tube, gastrotomy, yeyunustomy, dan duodenustomy.

       Nutrisi enteral merupakan terapi pemberian nutrisi melalui saluran cerna dengan
menggunakan selang atau kateter khusus. Cara pemberiannya bisa melalui jalur hidung lambung
atau hidung usus. Pemberian nutrien juga bisa dilakukan dengan cara bolus atau infus lewat pompa
infus enteral. Pemberian nutrisi enteral yang dini akan memberikan manfaat antara lain
memperkecil respon katabolik, mengurangi komplikasi infeksi, memperbaiki toleransi pasien,
mempertahankan integritas usus, mempertahankan integritas imunologis, lebih fisiologis, dan
memberikan sumber energi yang tepat bagi usus pada waktu sakit. Dirumah sakit terdapat berbagai
jenis formula enteral yang digunakan untuk memenuhi berbagai ragam kebutuhan nutrisi klien.
Pemberian nutrisi yang tepat akan memberikan nutrien kepada klien dalam bentuk yang bisa
digunakan oleh metabolisme tubuhnya tanpa menimbulkan gangguan saluran cerna seperti kram
usus, diare sementara.

        Pemberian nutrisi enteral diperlukan pada pederita yang memerlukan asupan nutrien
dengan saluran cerna yang masih berfungsi, seperti pada AIDS/HIV, cacheksia, pada penyakit
jantung atau kanker, penurunan kesadaran, disfagia, anoreksia, infeksi berat, kondisi malnutrisi,
pembedahan, keadaan hipermetabolisme pada luka bakar, trauma, infeksi, asupan oral yang tidak
mencukupi, inflamasi usus atau penyakit Chron, intubasi atau ventilasi, upaya mempertahankan
keutuhan usus.

        Pemberian nutrisi enteral tidak boleh diberikan pada keadaan seperti perdarahan
gastrointestinal yang berat, vomitus yang persisten, ileus obstruktif, diare yang profus, dan
enterokolitis yang berat. Kadang-kadang nutrisi enteral dilakukan dengan nutrisi parenteral jika
diperlukan terapi nutrisi yang intensif untuk mendapatkan asupan kalori dan protein yang tinggi.

        Secara garis besar ada dua macam sediaan nutrisi enteral yaitu:

1. Home made tube feeding yaitu diet buatan bagian gizi rumah sakit, dapat berupa diet cair, diet
    susu. Namun dalam produk ini terdapat kelemahan, komponen-komponennya tidak dapat
    ditentukan secara pasti, mudah terkontaminasi, serta komposisi tidak stabil.
2. Elemental Diet (chemically Defined Diet), yaitu kemasan yang dibuat secara kimiawi dan
    komponen-komponen sudah ditentukan dalam bentuk asam amino sintesis, glukosa atau
    sukrosa, asam lemak esensial, trace elements, vitamin dan mineral. Kelebihan kemasan ini
    adalah mudah disiapkan, rendah viskositasnya, komposisi seimbang, rendah osmolaritas,
    diobsorbsi usus bagian proximal, tidak memerlukan enzim pankreas untuk mencerna serta
    efisien waktu.
        Formula makanan enteral yang akan diberikan pada pasien yang memerlukan penyimpanan
dalam lemari es harus dibiarkan dalam suhu ruangan dahulu sebelum diberikan pada pasien. Suhu
makanan hanya sedikit pengaruhnya terhadap motilitas lambung dan tidak mempengaruhi waktu
ransit. Pemanasan formula enteral hingga mencapai suhu tubuh dapat mempermudah
pertumbuhan bakteri mengingat formula enteral merupakan media kultur yang baik
       Implikasi keperawatan
       Perawat memegang peranan penting dalam manajemen nutrisi pada pasien dengan
penyakit yang kritis. Khususnya karena perawat mmempunyai tanggung jawab




Nurses play a key role in the nutritional management of critically ill patients, particularly
because they are most usually responsible for ensuring the patient receives their prescribed
nutrition. In this survey, physicians were primarily responsible for nutritional assessment.
However, following initial assessment, continuous monitoring of nutritional status is required
with regular revision according to changes in the patient’s status. In this context, continuous
assessment of the patient’s nutritional status (and their response to treatments and interventions)
is a highly relevant element of the ICU nurse’s ongoing responsibility. Assessment of a critically
ill patient’s nutritional status and requirements can be very complex and the role of the dietician
is also crucial. As experts in this area, they are a valuable resource to the ICU team and ideally
will be involved actively in the care of all patients. As with many other dimensions of intensive
care, nutritional management is a multi-professional responsibility, which requires a co-ordinated
team approach. Therefore, safe and effective practice requires the collaborative efforts of all
members of the team. As such, we recommend that the development of policies, procedures and
clinical-practice guidelines and educational programmes in this area should be inter-professional,
where professionals learn with, from and about each other to facilitate collaboration and service
improvement.
                                         BAB IV
                                         PENUTUP


A. Kesimpulan
  Terdapat beberapa persamaan dan perabedaan dalam prosedur pemberian nutrisi di tiap
  ruang ICU di Eropa, contohnya dalam hal penggunaan NGT. Persamaannya adalah dalam
  prosedur pemberian nutrisinya. Perbedaannya yaitu berhubungan dengan keterampilan
  yang dimiliki tiap perawat, sarana dan prasarana yang terdapat di masing-masing ICU.
B. Saran
  Pada penelitian ini menggunakan metode survey dengan alat ukur kuesioner,untuk
  penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan metode eksperimental atau meta
  analiisis agar hasilnya lebih valid.
                                        DAFTAR PUSTAKA


Guyton & Hall. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Hudak & Gallo. (1997). Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Volume 1. Jakarta :EGC.

Ho KY and Kang JY. (2000). Esophageal mucosal acid sensitivity-Normal or abnormal?, Journal of
    Gastroenterol,35,310-311.



Kozier , B. (2004). Fundamentals of nursing concepts, process and practice, 7th Ed. New Jersey: Pearson
         Education Line.



Mansjoer, A, et al. (2007). Kapita selekta kedokteran jilid 1 edisi ketiga. Jakarta: EGC



Price, S & Wilson, L. M. (1995). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.

Reeves, C. J., Roux, G & Lockhart, R. (1999). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.

								
To top