ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI ENDOMETRIOSIS

Document Sample
ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI ENDOMETRIOSIS Powered By Docstoc
					       ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS
       PADA NY. D UMUR 25 TAHUN G0P0A0
DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI ENDOMETRIOSIS
              DI BPS SEJAHTERA




                DISUSUN OLEH :


          Basmiyati            : B0900316
          Satrina Yulistini    : B1201010
          Wismayanti           : B1201011
          Sari Aida Fitri      : B1201012




        PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
                    GOMBONG
                        2012
                                     TINJAUAN TEORI
                                     ENDOMETRIOSIS




A. Definisi
         Endometriosis yaitu      suatu keadaan dimana jaringan endometrium yang masih
   berfungsi berada di luar kavum uteri. Jaringan ini terdiri atas kelenjar dan stroma, terdapat di
   dalam endometriumnataupun di luar uterus. Bila jaringan endometrium terdapat di dalam
   miometrium disebut adenomiosis, bila brada di luar uterus disebut endometriosis.
   Pembagian ini sudah tidak dianut lagi, karena secara patologik, klinik, ataupun etiologic
   adenomiosis berbeda dengan endometriosis. Adenomiosis secara klinis lebih banyak
   persamaan dengan mioma uteri. Adenomiosis sering ditemukan pada multipara dalam masa
   premenopause, sedangkan endometriosis terdapat pada wanita yang lebih muda dan yang
   infertile (Sarwono.2007). Terdapat kurang lebih 15% wanita reproduksi dan pada 30% dari
   wanita yang mengalami infertilitas. Implantasi endometriosis bisa terdapat pada ovarium,
   ligamentum sakrouterina, kavum dauglasi, ligamentum latum dan ligamentum rotundum,
   tuba fallopi, dan pada tempat-tempat ekstra peritoneal ( serviks, vagina, vulva, dan kelenjar-
   kelenjar limfe).
         Penampakan kasarnya bisa dalam bentuk luka berupa sebuah peninggian atau kista
   yang berisi darah baru, merah atau biru-hitam. Karena termakan waktu, luka tersebut
   berubah menjadi lebih rata dan berwarna coklat tua. Ukuran luka dapat berkisar dari luka
   kecil dari 10 cm. (Rayburn, F. William.2001)


B. Gejala- Gejala
         Penderita endometriosis bisa datang dengan keluhan nyeri panggul, terutama bila
   datang haid, infertilitas, disparenia, perdarahan uterus abnormal, rasa nyeri atau berdarah
   ketika kencing atau pada rectum dalam masa haid. Gejala-gejala endometriosisi datangnya
   berkala    dan bervariasi sesuai datangnya haid tetapi bias menetap. Banyak penderita
   endometriosis yang tidak bergejala, dan terdapat sedikit korelasi antara hebatnya gejala
   dengan beratnya penyakit.
Adapun gambaran klinis endometriosis menurut Sarwono yaitu :
a) Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama haid
   (dismenore)Dismenorea pada endometriosis biasanya merupakan rasa nyeri waktu haid
   yang semakin lama semakin hebat. Sebab dari dismenorea ini tidak diketahui secara pasti
   tetapi mungkin ada hubungannya dengan vaskularisasi dan perdarahan dalam sarang
   endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid. Jika kista endometriumnya besar
   dan terdapat perlengketan ataupun jika lesinya melibatkan peritoneum usus, keluhan
   dapat berupa nyeri abdomen bawah atau pelvis yang konstan dengan intensitas yang
   berbeda-beda. (Derek Llewellyn-Jones.2002)
1. Dispareunia
   Merupakan keadaan yang sering dijumpai disebabkan oleh karena adanya endometriosis
   di kavum douglasi.
2. Nyeri pada saat defekasi
   Defekasi yang sukar dan sakit terutama pada waktu haid disebabkan oleh karena adanya
   endometriosis pada dinding rektosigmoid.
3. Gangguan Haid (Polimenorea dan hipermenorea)
   Gangguan haid dan siklusnya terjadi apabila kelainan pada ovarium demikian luasnya
   sehingga fungsi ovarium terganggu.Menstruasi tidak teratur terdapat pada 60% wanita
   penderita. Pasien mungkin mengeluhkan bercak merah premenstruasi, perdarahan
   menstruasi dalam jumlah banyak (menoragia), atau frekuensi menstruasi yang lebih
   sering dan banyak mengeluarkan darah. (Jones. Derek Llewellyn.2001)
4. Infertilitas
   Ada korelasi yang nyata antara endometriosis dan infertilitas. 30%-40% wanita dengann
   endometriosis menderita infertilitas. Factor penting yang menyebabkan infertilitas pada
   endometriosis adalah apabila mobilitas tuba terganggu karena fibrosis dan perlekatan
   jaringan di sekitarnya. Pada pemeriksaaan ginekologik khususnya pemeriksaan vagina-
   rekto-abdominal, ditemukan pada endometriosis ringan benda-benda padat seperti butir
   beras sampai butir jagung di kavum douglas dan pada ligamentum sakrouterinum dengan
   uterus dalam posisi retrofleksi dan terfiksasi. (Wiknjosastro, hanifa.2007.)
C. Tanda
         Tanda-tanda fisik dari endometriosis yaitu rahim yang terfiksasi ke belakang, terdapat
   benjolan pada ligamentum sakrouterina dan dalam kavum douglasi, massa adneksa yang
   asimetris, dan nyeri pada pemeriksaan bimanual. Luka yang terlihat pada pemeriksaan
   speculum adalah sangat menunjukan endometriosis, dan jika ada               harus dilakukan
   pemeriksaan biopsy. (Rayburn, F. William.2001)


D. Patologi
         Dimanapun lokasinya, endometrium ektopik, yang dikelilingi stroma , mengadakan
   implantasi dan membentuk kista kecil, yang berespon terhadap sekresi estrogen dan
   progesterone secara siklik, sama seperti yang terjadi di dalam endometrium uteri. Selama
   menstruasi, terjadi perdarahan di dalam kista. Darah, jaringan endometrium dan cairan
   jaringan terperangkap di dalam kista tersebut. Pada siklus berikutnya , cairan jaringan dan
   plasma darah diabsorpsi, sehingga meninggalkan darah kental berwarna coklat. Ukuran
   maksimal kista tergantung lokasinya. Kista kecil mungkin tetap kecil atau diserang
   makrofag dan menjadi luka fibrotic kecil. Kista ovarium cenderung lebih besar daripadakista
   lainnya, tetapi biasanya tidak lebih besar daripada jeruk berukuran sedang. Ketika kista
   tumbuh, tekanan internal mungkin merusak dinding endometrium yang aktif, sehingga kista
   tida berfungsi lagi.
         Tidak jarang terjadi rupture dari kista yang kecil. Darah kental yang keluar sangat
   iritatif dan mengakibatkan perlengketan multiple disekeliling kista. Jika ada kista ovarium
   menyerupai endometrioma tetapi tidak ada perlengketan, diagnosisnya tidak mungkin
   endometriosis.( Jones. Derek Llewellyn.2001)
  1. Penyebab
      Beberapa ahli mencoba menerangkan kejadian endometriosis yaitu berupa beberapa
      teori,antara lain:
      a. Teori Implantasi dan Regurgitasi.
           Teori ini menerangkan adanya darah haid yang dapat menjalar dari kavum uteri
           melalui tuba Falopii, tetapi teori ini tidak dapat menerangkan kasus endometriosis di
           luar pelvis.
       b. Teori Metaplasia.
           Teori ini menerangkan terjadinya metaplasia pada sel-sel coelom yang berubah
           menjadi endometrium.Perubahan ini dikatakan sebagai akibat dari iritasi dan infeksi
           atau hormonal pada epitel coelom. Secara endokrinologis hal ini benar karena epitel
           germinativum dari ovarium, endometrium dan peritoneum berasal dari epitel coelom
           yang sama.
       c. Teori Hormonal.
           Telah lama diketahui bahwa kehamilan dapat menyembuhkan endometriosis.
           Rendahnya kadar FSH, LH, dan E2 dapat menghilangkan endometriosis. Pemberian
           steroid seks dapat menekan sekresi FSH, LH, dan E2. Pendapat yang sudah lama
           dianut mengemukakan bahwa pertumbuhan endometriosis sangat tergantung dari
           kadar estrogen di dalam tubuh.
       d. Teori Imunologik.
           Secara embriologis, sel epitel yang membungkus peritoneum parietal dan permukaan
           ovarium sama asalnya, oleh karena itu sel endometriosis sejenis dengan mesotel.
           Banyak peneliti berpendapat bahwa endometriosisn adalah suatu penyakit autoimun
           karena memiliki criteria cenderung lebih banyak pada wanita, bersifat familiar,
           menimbulkan gejala klinik, melibatkan multiorgan, menunjukkan aktivitas sel B-
           poliklonal.( Baziad,Ali dkk.1993)


E. Faktor-Faktor Resiko
   Factor-faktor resiko untuk endometriosis :
   1. Nuliparitas
   2. Infertilitas
   3. Usia 25-40 tahun (Rayburn, F. William.2001)


F. Diagnosis
       Secara klinis endometriosis sering sulit dibedakan dari penyakit radang pelvis atau kista
   ovarium lainnya. Visualisasi endometriosis diperlukan untuk memastikan diagnosis. Cara
   yang biasa dilakukan untuk menegakan diagnose yaitu dengan melakukan pemeriksan
   laparoskopi untuk melihat luka dan mengambil specimen biopsy. Pemeriksaan
   ultrasonografi pelvis bias membantu untuk menilai massa dan bisa menduga adanya
   endometriosis.    Kadar     antigen    kanker       125   (CA-125)   tinggi   pada   penderita
   endometriosis.(Rayburn, F. William.2001)
   Adapun Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan yaitu :
    1. Laparoskopi
            Bila ada kecurigaan endometriosis panggul , maka untuk menegakan diagnosis
       yang akurat diperlukan pemeriksaan secara langsung ke rongga abdomen per
       laparoskopi. Pada lapang pandang laparoskopi tampak pulau-pulau endometriosis yang
       berwarna kebiruan yang biasanya berkapsul. Pemeriksaan laparoskopi sangat diperlukan
       untuk mendiagnosis pasti endometriosis, guna menyingkirkan diagnosis banding antara
       radang panggul dan keganasan di daerah pelviks. Moeloek mendiagnosis pasien dengan
       adneksitis pada pemeriksaam dalam, ternyata dengan laparoskopi kekeliruan
       diagnosisnya 54%, sedangkan terhadap pasien yang dicurigai endometriosis, kesesuaian
       dengan pemeriksaan laparoskopi adalah 70,8%.
    2. Pemeriksaan Ultrasonografi
            Secar pemeriksaan, USG tidak dapat membantu menentukan adanya endometriosis,
       kecuali ditemukan massa kistik di daerah parametrium, maka pada pemeriksaan USG
       didapatkan gambaran sonolusen dengan echo dasar kuat tanpa gambaran yang spesifik
       untuk endometriosis.


G. Jenis- Jenis Endometriosis
   Berdasarkan lokasi tempat endometriosis dibagi menjadi :
  1. Endometriosis Interna (adenomiosi uteri)
      Fokus Endometriosis berada multilokuler di dalam otot uterus. Akan terjadi penebalan
      atau pembesaran uterus. Gejala yang timbul hampir tidak ada. Ada dua gejala yang khas
      buat adenomiosis uterus, yaitu:
      a. Nyeri saat haid.
      b. Perdarahan haid yang banyak atau haid yang memanjang.
  2. Endometriosis Tuba.
      Yang paling sering terkena adalah bagian proksimal tuba.Akibatnya adalah:
      a. Saluran tuba tertutup,terjadi infertilitas.
        b. Resiko terjadinya kehamilan ektopik.
        c. Hematosalping
     3. Edometriosis Ovarium
        Akibat adanya endometriosis pada ovarium akan terbentuk kista coklat. Kista coklat ini
        sering mengadakan perlekatan dengan organ-organ di sekitarnya dan membentuk suatu
        konglomerasi.
     4. Endometriosis Retroservikalis.
        Pada rectal toucher sering teraba benjolan yang nyeri pada cavum Douglas. Benjolan-
        benjolan ini akan melekat dengan uterus dan rectum, akibatnya adalah:
        a. Nyeri pada saat haid.
        b. Nyeri pada saat senggama.
        Diagnosa banding yang perlu diperhatikan adalah:
        a. Karsinoma ovarium.
        b. Metastasis di kavum Douglas.
        c. Mioma multiple
        d. Karsinoma rectum.
     5. Endometriosis Ekstragenital.
        Setiap nyeri yang timbul pada organ tubuh tertentu pada organ tbuh tertentu bersamaan
        dengan datangnya haid harus dipikirkan adanya endometriosis. ( Baziad,Ali dkk.1993)


H.      PENANGANAN
        Penanganan endometriosis terdiri atas pencegahan, observasi, terapi hormonal,
        pembedahan dan radiasi.
         1. Pencegahan
                Bila disminorea yang berat terjadi pada seorang pasien muda, kemungkinana
            bermacam-macam         tingkat     sumbatan      pada     aliran     haid     harus
            dipertimbangkan.kemungkinan munculnya suatu tanduk rahim yang tumpul pada
            rahimbikornuata atau sebuah sumbatan septum rahim atau vaginal harus
            diingat.dilatasi serviks untuk memungkinkan pengeluaran darah haid yang lebih
            mudah pada pasien dengan tingkat disminorea yang hebat.( Moore, Hacker.2001)
       Kemudian, adapula pendapat dari Meigs. Meigs berpendapat bahwa kehamilan
   adalah pencegahan yang paling baik untuk endometriosis. Gejala- gejala
   endometriosis memang berkurang pada waktu dan sesudah kehamilan karena regresi
   endometrium dalam sarang-sarang endometriosis. Maka dari itu perkawinan
   hendaknya jangan ditunda terlalu lama dan diusahakan secepatnya memiliki anak
   yang diinginkan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sikap demikian tidak hanya
   merupaka profilaksis yang baik untuk endometriosis, melainkan juga mrnghindari
   terjadinya infertilitas sesudah endometrium timbul.selain itu juga jangan melakukan
   pemeriksaan yang kasar atau kerokan saat haid, karena dapat mengalirkan darah haid
   dari uterus ke tuba fallopi dan rongga panggul.(Wiknjosastro, hanifa.2007.)
2. Observasi
       pengobatab ini akan berguna bagi wanita dengan gejala dan kelainan fisik yang
   ringan. Pada wanita yang agak berumur, pengawasan ini bisa dilanjutkan sampai
   menopause, karena sesudah itu gejala-gejala endometriosis hilang sendiri. Dalam
   masa observasi ini dapat diberi pengobatan paliatif berupa pemberian analgetik untuk
   mengurangi rasa nyeri. (Wiknjosastro, hanifa.2007.)
3. Pengobatan Hormonal
       Prinsip pertama pengobatan hormonal ini adalah menciptakan lingkungan
   hormone rendah estrogen dan asiklik. Kadar estrogen yang rendah menyebabkan
   atrofi jaringan endometriosis. Keadaan yang asiklik mencegah terjadinya haid, yang
   berarti tidak terjadi pelepasan jaringan endometrium yang normal ataupun jaringan
   endometriosis. Dengan demikian dapat dihindari timbulnya sarang endometriosis
   yang baru karena transport retrograde jaringan endometrium yang lepas serta
   mencegah pelepasan dan perdarahan jaringan endometriosis yang menimbulkan rasa
   nyeri karena rangsangan peritoneum.
       Prinsip kedua yaitu menciptakan lingkungan tinggi androgen atau tinggi
   progesterone   yang    secara   langsung    dapat     menyebabkan   atrofi    jaringan
   endomeetriosis.(Wiknjosastro, hanifa.2007.)
4. Pembedahan
       adanya jaringan endometrium yang berfungsi merupakan syarat mutlak
   tumbuhnya endometriosis. Oleh krarena itu pada waktu pembedahan,harus dapat
   menentukan apakah ovarium dipertahankan atau tidak. Pada andometriosis dini ,
   pada wanita yang ingin mempunyai anak fungsi ovarium harus dipertahankan.
   Sebaliknya pada endometriosis yang sudah menyebar luas pada pelvis, khususnya
   pada wanita usia lanjut. Umumnya pada terapi pembedahan yang konservatif sarang
   endometriosis diangkat dengan meninggalkan uterus dan jaringan ovarium yang
   sehat, dan perlekatan sedapatnya dilepaskan. Pada operasi konservatif, perlu pula
   dilakukan suspensi uterus, dan pengangkatan kelainan patologik pelvis. Hasil
   pembedahan untuk infertile sangat tergantung pada tingkat endometriosis, maka pada
   penderita dengan penyakit berat, operasi untuk keperluan infertile tidak dianjurkan.
   (Wiknjosastro, hanifa.2007)
5. Radiasi
       pengobatan ini bertujuan menghentikan fungsi ovarium, tapi sudah tidak
   dilakukan lagi, kecuali jika ada kontraindikasi terhadap pembedahan. (Wiknjosastro,
   hanifa.2007.)
                                     TINJAUAN KASUS
                           ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS
                           PADA NY. D Umur 25 tahun G0 P0 A0
               DENGAN GANGGUAN REPRODUKSI ENDOMETRIOSIS
                                      Di BPS Sejahtera




I.   PENGKAJIAN
     Tanggal         : 07 November 2012
     Jam             : 08.00 WIB
     No.Registrasi   :-
     A. SUBYEKTIF
        IDENTITAS
        Nama Ibu      : Ny. D                   Nama Suami: Tn. S
        Umur          : 25 tahun                Umur         : 30 tahun
        Agama         : Islam                   Agama        : Islam
        Suku/bangsa : Jawa/ Indonesia           Suku/bangsa : Jawa / Indonesia
        Pendidikan    : SMA                     Pendidikan : SMA
        Pekerjaan     : Ibu Rumah tangga        Pekerjaan    : Tani
        Alamat        : Sempor                  Alamat       : Sempor


        1. Alasan datang    : Ibu mengatakan ingin memeriksakan keluhanya
        2. Keluhan Umum : Ibu mengatakan nyeri panggul dan mengeluh sakit pada saat
                                berhubungan.
        3. Riwayat Kesehatan
            a. Dahulu : Ibu mengatakan dahulu tidak pernah mempunyai riwayat penyakit
                           menular (TBC, HIV/AIDS, Hepatitis), penyakit menurun (Asma,
                           DM), serta penyakit menahun (jantung, ginjal)
            b. Sekarang: ibu mengatakan saat ini merasa perut bagian bawah merasa nyeri dan
                           ibu hanya mengkonsumsi obat anti nyeri namun belum sembuh.
   c. Keluarga: ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang mempunyai
                   penyakit menular, penyakit menurun, dan penyakit menahun serta
                   penyakit menurun.
4. Riwayat menstruasi
   Menarche umur           : 15 tahun
   Siklus                  : teratur 28 hari
   Volume                  : 2-3 kali ganti pembalut hari 1-3, selanjutnya 2 kali
   Warna                   : merah pekat hari 1-3, merah darah hari 4-5,    selanjutnya
   Lama                    : 7-10 hari
5. Riwayat Kehamilan sekarang
   Ibu mengatakan sudah 2 tahun tidak mempunyai anak dan susah ingin mempunyai
   anak dari semenjak menikah
6. Riwayat kontrasepsi yang digunakan
   Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun
7. Riwayat pernikahan
   Menikah pertama kali           : ibu mengatakan pertama kali menikah umur 23
                                  tahun dan suami umur 27 tahun
   Lama pernikahan                : ibu mengatakan lama pernikahan sudah 2 tahun
                                  dan hubungan mereka harmonis..
8. Pola pemenuhan kebutuhan sehari – hari
   a. Diet/makan
      Makan     : ibu mengatakan makan hanya 3x sehari dan porsinya setengah piring
      Minum     : ibu mengatakan minum air putih 7 gelas per hari dan kadang minum
                teh.
      Keluhan : ibu mengatakan nafsu makan berkurang akibat rasa sakit di daerah
              perut
         b. Pola eliminasi
            BAB           : ibu mengatakan BAB satu kali sehari dengan volume sedang,
                          konsistensi agak keras, warnanya kuning kehitaman dan baunya
                          khas.
            BAK           : ibu mengatakan BAK 5-7 kali sehari dengan volume sedang,
                          konsistensi cair, warna jernih kekuningan dan bau yang khas.
            Keluhan       : tidak ada
      9. Aktivitas sehari-hari
         a. Seksualitas
            Ibu mengatakan berhubungan seksual dengan suaminya 2-3 x dalam seminggu.
            Keluhan               : ibu mengatakan saat melakukan hubungan terasa sakit
         b. Pekerjaan
            Ibu mengatakan melakukan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga melakukan
            pekerjaannya sendiri tanpa bantuan seperti (menyapu, mengepel, mencuci dan
            masak).
      10.Riwayat psikososial dan budaya
         Ibu mengatakan hubungan ibu dengan suami, keluarga dan masyarakat baik. Selain
         itu, ibu juga taat menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan yang di anutnya.
      11.Riwayat hewan peliharaan
         Ibu mengatakan tidak mempunyai hewan peliharaan.


B.   OBYEKTIF
      1. Pemeriksaan Umum
         a. Keadaan Umum             : Baik
             Kesadaran               : Composmentis
            Status emosional         : Tidak stabil
         b. Tanda-tanda Vital
            Tekanan Darah            : 110/70 mmHg
            Denyut Nadi              : 86 kali/menit
            Pernafasan               : 17 x/menit.
            Suhu                     : 37°C
  c. Pemeriksaan Fisik
     Kepala dan Leher
     Kepala             : mesochepal, rambut bersih, tidak rontodan,tidakadaketombe
     Muka               : Tidak ada oedema dan tidak pucat
     Alis mata          : Simetris,tidak mudah di cabut dan tebal
     Konjungtiva        : Tidak anemis dan warna merah muda
     Sklera             : Tidak ikterik dan putih
     Telinga            : Simetris,bersih,tidak ada serumen dan tidak perdarahan
     Hidung             : Simetris dan tidak ada polip


     Mulut dan Gigi
     Mulut              : Bersih,tidak bau dan tidak ada pembesaran tonsil
     Gigi               : Bersih tidak ada caries dan tidak berlubang
     Bibir              : Tidak cianosis, tidak ada stomatitis
     Gusi               : Tidak ada perdarahan (stomatis)


     Leher
      Kelenjar limfe       :Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
      Kelenjar tyroid      : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
      Vena jugularis       : Tidak ada pembesaran vena jugularis
d. Dada
   Bentuk                  : simetris dan tidak ada retraksi dinding dada
   Jantung                 : Tidak dilakukan pemeriksaan
   Paru-paru               : Tidak dilakukan pemeriksaan
e. Payudara
   Puting susu             : Menonjol
   Bentuk                  : Simetris
   Benjolan                : Tidak ada benjolan abnormal
   Rasa nyeri              : Tidak ada rasa nyeri saat di tekan.
   Luka bekas operasi      : Tidak ada bekas luka operasi
   f. Ketiak
      Kelenjar limfe          : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
   g. Punggung dan pinggang
      Punggung             : Lordosis
      Pinggang             : Tidak ada nyeri tekan ginjal.
   h. Abdomen
      Bekas luka operasi   : Tidak ada luka bekas operasi
      Hepatomegali         : Tidak ada pembesaran hati
      Splenomegali         : Tidak ada pembesaran limfe
   i. Genetalia            : tidak ada pengeluaran warna kekuningan dan berbau
   j. Anus                 : tidak ada hemoroid
   k. Ekstremitas
      Ekstremitas atas
      Telapak tangan       : Tidak pucat dan tidak basah karena keringat
      Kuku                 : Pendek,bersih dan tidak cianosis
      Kapiler refil        : Bisa kembali selama 2 detik saat di tekan
      Oedema               : Tidak ada oedema


      Ekstremitas bawah
      Telapak kaki         : Tidak pucat,tidak pecah-pecah dan tidak basah karena
                            keringat
      Kuku                 : Pendek,bersih dan tidak cianosis
      Kapiler refil        : Bisa kembali selama 2 detik saat di tekan
      Oedema               : Tidak ada oedema
      Varises              : Tidak ada varises
      Reflek patella       : Kanan positif (+),Kiri positif(+)
2. PemeriksaanObstetrik
    a. Inspeksi            : simetris dan tidak ada luka bekas operasi
      Abdomen              : Tidak ada bekas luka operasi
      Genitalia            : tidakada varises dan tidak ada oedem
           b. Palpasi
                Payudara                 : tidak ada benjolan dan tidak ada nyeri tekan
                Abdomen                  : terdapat benjolan diperut bagian bawah dan adanya nyeri
                                         pangul
                Genetalia                : tidak ada push saat ditekan


   3. Pemeriksaan dalam
       Teraba benjolan dan nyeri tekan dan bentuknya tidak jelas.
   4. Pemeriksaan penunjang
       -
II. INTERPRETASI DATA
  a. Diagnosa
     Ny.D Umur 25 tahun, G0 P0 A0dengan Endometriosis
     Data dasar
     Data Subyektif         :
     a. Ibu mengatakan bernama Ny. D umur 25 tahun
     b. Ibu mengatakan panggulnya merasa nyeri
     c. Ibu mengatakan sakit saat berhubungan seksual
     d. Ibu mengatakan nyeri pada bagian bawah rahim
     Data objektif          :
     a. Ku                      : baik
            Status emosional : tidak stabil
     b. Vital sign
            Tekanan darah       : 110/70 mmhg
            Nadi                : 84 x/mnt
            R                   : 24 x/mnt
            S                   : 37 C
     c. Pemeriksaan Abdomen
            Pemeriksaan inspeksi : tidak ada bekas luka operasi
            Pemeriksaan palpasi : terdapat benjolan di bagian perut bawah dan adanya nyeri
                                     panggul.
      d. Pemeriksaan dalam
          Teraba massa dan nyeri tekan.bentuk tidak jelas dan terdapat benjolan-benjolan kecil
          pada ligament secro uterinum


  b. Masalah
     a. Nyeri panggul
     b. Sakit saat melakukan hubungan seksual
     c. Susah punya anak
     d. Benjolan di perut bagian bawah
  c. Kebutuhan
     Perawatan dan tindakan menurunkan nyeri


III. DIAGNOSA POTENSIAL
    Terjadi endometriosis


IV. TINDAKAN SEGERA
    Kolaborasi dengan dr.SpOG


V. PERENCANAAN
   Hari/tanggal   : Selasa / 6 November 2012
   Jam            : 09.45 WIB
  1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan yg telah dilakukan
  2. Beritahu ibu tentang rasa nyeri yang di rasakannya
  3. Beritahu ibu cara mengurangi rasa nyeri pada perut bagian bawah
  4. Anjurkan ibu untuk minum yang banyak
  5. Berikan ibu obat peroral
  6. Anjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan USG
  7. Lakukan dokumentasi
VI. PELAKSANAAN
   Hari/tanggal      : Selasa / 6 November 2012
   Jam               : 10.00 WIB
  1. Memberitahu ibu hasil yang telah dilakukan yaitu :
     a. Vital sign
         Tekanan darah     : 110/70 mmhg
         Nadi              : 84x/mnt
         R                 : 24x/mnt
         Suhu              : 36.5 C
     b. Pemeriksaan abdomen
         Ditemukan benjolan diperut bagian bawah dan adanya nyeri panggul
     c. Pemeriksaan dalam
         Teraba benjolan dan bentuknya tidak jelas serta teraba benjolan-benjolan kecil pada
         ligamament secro uterium.
  2. Memberitahu ibu bahwa nyeri yang dirasakan ibu pada perut bagian bawah karena
     terdapat benjolan yang terpengaruh oleh hormon dalam tubuh ibu
  3. Memberitahu ibu untuk mengurangi rasa nyeri yaitu dengan melakukan bedrest dan
     melakukan kompres hangat pada perut bagian bawah untuk menghilangkan rasa nyeri
  4. Menganjurkan ibu untuk memperbanyak minum air putih yaitu minimal 1 liter atau lebih
     dalam sehari.
  5. Memberikan terapi obat peroral yaitu asam mefenamet 500mg diminum 3x1/hari
  6. Menganjurkan ibu melakukan pemeriksaan USG untuk memastikan diagnosa.
  7. Melakukan pendokumentasian yang telah dilakukan


VII.EVALUASI.
   Hari/tanggal      : Selasa / 6 N0vember 2012
   Jam               : 10.15 WIB
  1. ibu mengatakan sudah mengetahui hasil pemerikasaan yang dilakukan
  2. ibu mengatakan sudah mengetahui bahawa nyeri perut yang di derita ibu tersebut di
     karenakan hormon dalam tubuh ibu.
3. Ibu mengatakan sudah mengetahui cara mengurangi rasa nyeri pada perut bagian bawah
   yaitu dengan melakukan bedrest dan melakukan kompres hangat.
4. Ibu mengatakan bersedia untuk minum air putih minimal 1 liter sesuai yang dianjurkan
   bidan.
5. Ibu mengatakan sudah mnerima obatnya dan bersedia untuk minum obat 3x1/hari
6. Ibu mengatakan bersedia untuk melakukan pemeriksaan USG.
7. Pendokumentasian telah dilakukan
                              DAFTAR PUSTAKA
Prof.dr.Ida    Bagus   Gde   Manuaba.SpOG.Memahami          Kesehatan   Reproduksi
Wanita.1999.Jakarta:Arcan
Prawiroharjo.Sarwono.Ilmu Kandungan.2005.Jakarta:yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo
Manuaba.ida Ayu CandranitaSpOG.Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi
2.2009.Jakarta:EGC
Duenhoelter.Johann H.Ginekologi Grenhill.1988.Jakarta:EGC

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:0
posted:6/20/2013
language:Unknown
pages:19