Docstoc

Tugas Humas Era Internet (Digital PR)

Document Sample
Tugas Humas Era Internet (Digital PR) Powered By Docstoc
					Digital PR: Tugas Humas Era Digital
Oleh ASM. Romli, www.romeltea.com

Digital PR (Digital Public Relations) –disebut juga e-PR, Humas Online, Internet PR, atau Humas
Era Digital-- bisa diartikan sebagai kegiatan humas secara online dengan memanfaatkan
media internet --website, blog, media sosial, email, marketplace.

Digital PR merupakan “konsep baru” kehumasan, seiring perkembangan teknologi komunikasi
dan informasi yang membentuk “masyarakat digital”. Hanya dengan sentuhan jari, warga
dunia kini mampu mencari dan menemukan yang mereka inginkan dan butuhkan. Hanya
dengan sentuhan jari pula, praktisi humas bisa menjalankan tugasnya –membangun citra
positif lembaga dengan menjangkau seluruh dunia selama 24 jam!

Era digital saat ini menuntut praktisi humas (PR Officer) yang bukan saja memiliki wawasan
dan keterampilan dasar kehumasan, tapi juga yang bisa mengikuti ritme perkembangan
teknologi informasi, termasuk menguasai tip dan trik blogging, media sosial, dan menulis
online (online writing).

Digitalisasi media telah mengubah bagaimana konsumen dan klien di seluruh dunia kini
menghabiskan waktu mereka. Berdasarkan survei Global Web Index yang dirilis Maret 2013,
rata-rata masyarakat dunia menghabiskan 57 persen waktu konsumsi medianya setiap hari
untuk “berselancar” di dunia maya, unggul jauh di atas televisi (23 persen), radio (11 persen),
dan media cetak (5 persen). Dari jumlah itu, hampir separuhnya (27 persen) bahkan
dihabiskan di social media (fortunepr.com).

Website atau blog resmi lembaga/perusahaan/instansi/organisasi kini menjadi kantor yang
buka 24 jam setiap hari, tanpa libur! Setiap orang, kapan dan di mana pun, selama memiliki
akses internet, bisa berkunjung ke “kantor maya” lembaga mana pun. Mereka pun bisa masuk
ke “berbagai ruang divisi/bagian”, “ruang foto”, galeri produk, galeri jasa, bahkan –jika ada—
profil dan contact person masing-masing bagian.

“Kantor Maya” itu kian “powerful” jika dilengkapi dengan “kantor cabang/perwakilan” di media
sosial, terutama facebook, twitter, google plus, serta flicker (galeri foto) dan youtube (galeri
video).

Media sosial penting bagi setiap perusahaan untuk membangun dan menjaga hubungan baik
dengan pelanggannya, juga membangun hubungan dengan kalangan media (media
relations/press relations).

Menurut sejumlah pakar, cara menarik perhatian pasar yang efektif saat ini adalah dengan
“hubungan personal”, seperti pertemanan, karena pasar lebih percaya pada apa yang
direkomendasikan oleh orang yang mereka kenal. Inilah yang membuat media sosial menjadi
alat yang digunakan pada era saat ini.
Guna memaksimalkan kinerja, praktisi humas Digital PR “wajib” menguasai Blogging (ngeblog),
Online Writing (menulis khas media online), Media Social Strategy (strategi mengelola media
sosial), Search Engine Optimization (SEO), dan Social Media Monitoring (pengawasan media
sosial).

Sangat disayangkan, tampaknya masih banyak praktisi humas –terutama humas “plat mera”
alias instansi pemerintah-- yang belum bisa menulis, belum akrab dengan blogging, kurang
menguasai strategi media sosial, dan “males” meng-update berita di websitenya tentang
dinamika lembaga dan informasi publik.

Mangga… silakan cek saja website-website instansi pemerintah! Padahal, setiap lembaga
pemerintah wajib menyediakan informasi berkala dan update. Menurut UU No. 14 Thn. 208
tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), “Badan Publik berkewajiban menyebarluaskan
informasi publik disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam
bahasa yang mudah dipahami.” Wasalam. (www.romeltea.com).*

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:3
posted:6/17/2013
language:Unknown
pages:2
Description: Tugas humas (public relations) pada era digital (internet) mengharuskan praktisi humas menguasa IT dan akrab dengan media online dan media sosial.