Docstoc

MATERI_PENGEMBANGAN PTK GURU

Document Sample
MATERI_PENGEMBANGAN PTK GURU Powered By Docstoc
					                            H AND
                        URI      A
                    W




                                 YA
                T
              TU




                                   NI
        MATERI DIKLAT
CALON PENGAWAS SEKOLAH




          PENELITIAN
     TINDAKAN KELAS


 KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
 PROVINSI DAERAH ISTIMEWA JOGJAKARTA
                         2013
                              KATA PENGANTAR

   Materi pelatihan yang telah disusun merupakan bagian dari program diklat Calon
pengawas sekolah, Program diklat calon pengawas sekolah sangat penting mengingat
peran strategis pengawas sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan.
   Pengawas sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong
guru dan kepala sekolah untuk melakukan proses pembelajaran yang mampu
menumbuhkan berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan
bernaluri kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi
pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi calon
pengawas sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 12 Tahun 2007 tentang
Standar Pengawas Sekolah/Madrasah.
    Materi diklat calon pengawas sekolah ini merupakan materi standar dan dapat
diperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu
meningkatkan kompetensi pengawas sekolah sesuai dengan Permendiknas nomor 12
Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah.
    Semoga materi pelatihan ini bermanfaat bagi usaha mempersiapkan pengawas
sekolah di Indonesia.

                                   Jogjakarta, ................... 2013
                                   Kepala Seksi FPMP


                                    Drs. Taufan Hanafi, M.Pd.
                                   NIP. 196008211985031003.
                                              BAB I
                              PENELITIAN TINDAKAN KELAS


         Diharapkan setelah pembaca membaca bagian ini akan dapat memahami tentang
pengertian penelitian, konsep dasar penelitian tindakan kelas. Untuk mengantarkan pada
pemahaman konsep dasar PTK tersebut maka pada bagian ini secara berturut akan diuraikan
tentang pengertian, tujuan dan manfaat, karakteristik, perbedaan antara Penelitian Tindakan
Kelas dan Penelitian Kelas Non PTK dan prinsip –prinsip dalam melakukan penelitian tindakan
kelas.


 A.      Pengertian Penelitian (Research)
         Penelitian dapat didefinisikan sebagai upaya mencari jawaban yang benar atas suatu
masalah berdasarkan logika dan didukung oleh fakta empirik. Dapat pula dikatakan bahwa
penelitian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis melalui proses pengumpulan data,
pengolah data, serta menarik kesimpulan berdasarkan data menggunakan metode dan teknik
tertentu.
         Pengertian tersebut di atas menyiratkan bahwa penelitian adalah langkah sistematis dalam
upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan terkendali yang mengandung dua
hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau informasi yang dikumpulkan secara empiris.
Logika berpikir tampak dalam langkah-langkah sistematis mulai dari pengumpulan, pengolahan,
analisis, penafsiran dan pengujian data sampai diperolehnya suatau kesimpulan. Informasi
dikatakan empiris jika sumber data mengambarkan fakta yang terjadi bukan sekedar pemikiran
atau rekayasa peneliti. Penelitian menggabungkan cara berpikir rasional yang didasari oleh
logika/penalaran dan cara berpikir empiris yang didasari oleh fakta/ realita.




B. Penelitian Tindakan Kelas
         Penelitian tindakan kelas termasuk dalam kegiatan ilmiah, karena dalam penelitian
tindakan kelas selain peneliti melakukan aksi secara sistematis juga mengumpulkan data,
menganalisis data, dan akhirnya menarik kesimpulan sehingga dalam penelitian tindakan kelas
kebenaran yang ditemukan merupakan kebenaran yang bersifat ilmiah.
       Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom action Research merupakan suatu
model penelitian yang dikembangkan di kelas. Ide tentang penelitian tindakan pertama kali
dikembangkan oleh Kurt dan Lewin pada tahun 1946. Menurut Stephen Kemmis (1983), PTK
atau action research adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang
dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan)
untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan
yang mereka lakukan sendiri; (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c)
situasi di tempat praktik itu dilaksanakan
       Sedangkan tim pelatih proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan
Kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan
untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas,
memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki
kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan (M. Nur, 2001). Sejalan dengan
pengertian diatas, Prabowo (2001) mendefinisikan makna dari penelitian tindakan yaitu suatu
penelitian yang dilakukan kolektif oleh suatu kelompok sosial (termasuk juga pendidikan) yang
bertujuan untuk memperbaiki kualitas kerja mereka serta mengatasi berbagai permasalahan
dalam kelompok tersebut.
       Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku
tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tinakan mereka dalam
melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan,
serta memperbaiki dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan.
       Pada awalnya, penelitian tindakan (action research) dikembangkan dengan tujuan untuk
mencari penyelesaian terhadap problema sosial (termasuk pendidikan). Penelitian tindakan
diawali oleh suatu kajian terhadap suatu masalah secara sistematis (Kemmis dan Taggart, 1988).
Hasil kajian ini dijadikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja (tindakan) sebagai upaya
untuk mengatasi masalah tersebut. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan tindakan dilanjutkan
dengan observasi dan evaluasi. Hasil observasi dan evaluasi digunakan sebagai masukkan
melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi kemudian
dijadikan landasan untuk menentukan perbaikan serta penyempurnaan tindakan selanjutnya.
         Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, penelitian tindakan
berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Reserach (CAR).
PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran
berlangsung. PTK dilaku kan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas
pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam
kelas.
         Berdasarkan cakupan permasalannya, seorang guru akan dapat menemukan penyelesaian
masalah yang terjadi di kelasnya melalui PTK. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan
berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan. Selain itu, PTK dilaksanakan secara
bersamaan dangan pelaksanaan tugas utama guru yaitu mengajar di dalam kelas, tidak perlu
harus meninggalkan siswa. Dengan demikian, PTK merupakan suatu bentuk penelitian yang
melekat pada guru, yaitu mengangkat masalah-masalah aktual yang dialami oleh guru di
lapangan. Dengan melaksanakan PTK, diharapkan guru memiliki peran ganda yaitu sebagai
praktisi dan sekaligus peneliti.


C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kalas
1. Tujuan PTK
         Secara lebih rinci tujuan PTK antara lain:
a. Meningkatkan mutu proses pembelajaranan di sekolah.
b. Membantu guru mengatasi masalah pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
c. Meningkatkan sikap profesional penndidik
d. Menumbuh-kembangkan budaya akademik dan budaya mutu di lingkungan sekolah sehingga
   tercipta sika proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan/pembelajaran secara
   berkelanjutan.
         Output atau hasil yang diharapkan melalui PTK adalah peningkatan atau perbaikan
kualitas proses dan hasil pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Peningkatan atau perbaikan prestasi siswa di sekolah.
b. Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas.
c. Peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber
   belajar lainya.
d. Peningkatan atau perbaikan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk
     mengukur proses dan hasil belajar siswa.
e. Peningkatan atau perbaikan dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
f. Peningkatan dan perbaikan kualitas dalam penerapan kurikulum dan pengembangan
     kompetensi siswa di sekolah.


2. Manfaat, keterbatasan dan persyaratan Penelitian Tindakan kelas
a. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas bagi :
1) guru
a)    Membantu guru memperbaiki pembelajaran.
b)    Membantu guru berkembang secara profesional.
c)    Meningkatkan rasa percaya diri guru.
d)    Meningkatkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan.
2) pembelajaran/ siswa.
     Untuk meningkatkan proses atau hasil belajar siswa, disamping guru yang melaksanakan
     penelitian tindakan kelas dapat menjadi modal bagi para siswa dalam bersikap kritis terhadap
     hasil belajar.
3) sekolah.
     Penelitian tindakan kelas membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan
     atau kemajuan pada diri guru dan pendidikan disekolah.
b. Keterbatasan Penelitian Tindakan Kelas.
     Keterbatasan penelitian tindakan kelas ditandai sejak awal ketika mulai mengkaji
karakteristik penelitian kelas dan membandingkan dengan penelitian formal. Ada 2 keterbatasan
penelitian tindakan kelas :
1) Validitas Penelitian Tindakan Kelas.
     Validitas penelitian tindakan kelas sebagai penelitian ilmiah masih dipertanyakan.
2) Generalisasi.
     Hasil penelitian tindakan kelas tidak dapat digeneralisasikan karena sampelnya hanya kelas
     dari guru yang berperan sebagai pengajar dan sekaligus sebagai peneliti.


3. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
   Ciri-ciri Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang membedakan dengan penelitian lain
1. Adanya kesadaran pada diri guru bahwa praktik yang dilakukannya selama ini di kelas
   mempunyai masalah yang perlu diselesaikan.
2. Self-refleksitive inquiry atau penelitian melalui refleksi diri.
3. Penelitian tindakan kelas dilakukan di dalam kelas, sehingga proses penelitian ini adalah
   kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi.
4. Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran( adanya tindakan yang
   berulang-ulang).
       PTK merupakan bentuk penelitian tindakan yang diterapkan dalam aktivitas
pembelajaran di kelas. Ciri khusus PTK adalah adanya tindakan nyata yang dilakukan sebagai
bagian dari kegiatan penelitian dalam rangka memecahkan masalah. Tindakan tersebut dilakukan
pada situasi alami serta ditujukan untuk memecahkan masalah praktis. Tindakan yang diambil
merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan atas dasar tujuan tertentu. Tindakan dalam PTK
dilakukan dalam suatu siklus kegiatan.
       Terdapat sejumlah karakteristik yang merupakan keunikan PTK dibandingkan dengan
penelitian pada umumnya, antara lain sebagai berikut.
(1) PTK merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi secara
   ilmiah.
(2) PTK merupakan bagian penting upaya pengembangan profesi guru..
(3) Persoalahan yang dipermasalahkan dalam PTK berasal dari adanya permasalahan nyata dan
   aktual (yang terjadi saat ini) dalam pembelajaran di kelas bukan masalah teoritis
(4) PTK dimulai dari permasalahan yang sederhana, nyata, jelas, dan tajam mengenai hal-hal
   yang terjadi di dalam kelas.
(5) Perlu adanya kolaborasi (kerjasama) antara guru sebagai peneliti dengan teman sejawat atau
   pakar ( dosen/widyaiswara) dalam hal pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan,
   pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tentang tindakan (action).
       Kolaborasi (kerjasama) antara praktisi (guru) dan peneliti (dosen atau widyaiswara)
merupakan salah satu ciri khas PTK. Melalui kolaborasi ini mereka bersama menggali dengan
mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru dan atau siswa. Sebagai penelitian yang
bersifat kolaboratif, harus secara jelas diketahui peranan dan tugas guru dengan peneliti. Dalam
PTK kolaboratif, kedudukan peneliti setara dengan guru, dalam arti masing-masing mempunyai
peran serta tanggung jawab yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Peran kolaborasi
turut menentukan keberhasilan PTK terutama pada kegiatan mendiagnosis masalah,
merencanakan tindakan, melaksanakan penelitian (tindakan, observasi, merekam data, evaluasi,
dan refleksi), menganalisis data, menyeminarkan hasil, dan menyusun laporan hasil.
       Sering terjadi PTK dilaksanakan sendiri oleh guru. Guru melakukan PTK tanpa kerjasama
dengan peneliti. Dalam hal ini guru berperan sebagai peneliti sekaigus sebagai praktisi
pembelajaran. Guru profesional seharusnya mampu mengajar sekaligus meneliti. Dalam keadaan
seperti ini, maka guru melakukan pengamatan terhadap diri sendiri ketika sedang melakukan
tindakan (Suharsimi, 2002). Untuk itu guru harus mampu melakukan pengamatan diri secara
obyektif agar kelemahan yang terjadi dapat terlihat dengan wajar.


4. Perbedaan antara Penelitian Tindakan Kelas dan Penelitian Kelas Non PTK
     Tabel 1. Perbandingan PTK dan Penelitian Kelas Non PTK


No    Aspek                  Penelitian Tindakan Kelas              Penelitian Kelas Non
                                                                    PTK
1     Rencana Penelitian     Guru                                   Orang luar
2     Munculnya masalah      Oleh guru (mungkin dibantu             Oleh Peneliti
      Ciri Utama             orang luar).
                             Dirasakan oleh guru                    Dirasakan oleh orang luar
                             (mungkin dengan dorongan orang         Belum tentu ada
                             luar ), Ada tindakan untuk
                             perbaikan yang berulang


3     Peran guru             Sebagai guru dan peneliti              Tindakan perbaikan
                                                                    sebagai guru
4     Tempat peneliti        Kelas                                  Kelas
5     Proses pengumpulan     Oleh guru sendiri atau bantuan         Oleh peneliti
      data                   orang lain
6     Hasil penelitian       Langsung dimanfatkan oleh kelas        Menjadi milik peneliti,
                                                                    belum tentu
                                                                 dimanfaatkan oleh guru




Tabel 2. Perbedaan Karakteristik PTK dengan Penelitian Formal
No   Diminsi                  PTK                                 Penelitian Formal
1    Motivasi                 Tindakan                            Kebenaran
2    Sumber masalah           Diagnosis status                    Induktif – Deduktif
3    Tujuan                   Memperbaiki pratik, sekarang dan Verifikasi & menemukan
                              disini                             pengetahuan yang dapat
                                                                 digeneralisasikan
4    Peneliti yang terlibat   Pelaku dari dalam ( guru )          Orang luar yang berminat
5    Sampel                   Kasus khusus                        Sampel yang berminat
6    Metodologi               Longgal tetapi berusaha objektif – Baku dengan objektivitas
                              jujur–tidak memihak                 dan ketidak memihakan
                              ( impartiality )                    yang             terintergasi
                                                                  (buil–inobjectivity&
                                                                  impertiality )
7    Penefsiran        hasil Untuk memahami praktik melalui Mendeskripsikan,
     penelitian               refleksi   oleh    praktisi   yang mengabstraksi,            serta
                              membangun                           menyimpulkan              dan
                                                                  membentuk        teori   oleh
                                                                  ilmuwan
8    Hasil akhir              Siswa belajar lebih baik         ( Pengetahuan,        prosedur,
                              proses dan produk )                atau materi yang teruji




5. Prinsip Penelitian Tindakan Kelas
      Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru (peneliti) dalam pelaksanaan
PTK yaitu sebagai berikut.
a. Tindakan dan pengamatan dalam proses penelitian yang dilakukan tidak boleh mengganggu
   atau menghambat kegiatan utama, misalnya bagi guru tidak boleh sampai mengorbankan
   kegiatan pembelajaran.
b. Masalah penelitian yang dikaji merupakan masalah yang cukup merisaukannya dan berpijak
   dari tanggung jawab profesional guru.
c. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang lama, sehingga
   berpeluang menggangu proses pembelajaran.
d. Metodologi yang digunakan harus terencana secara cermat, sehingga tindakan dapat
   dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji di lapangan.
e. Permasalahan atau topik yang dipilih harus benar–benar nyata, menarik, mampu ditangani,
   dan berada dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. Peneliti harus
   merasa terpanggil untuk meningkatkan diri.
f. Peneliti harus tetap memperhatikan etika dan tata krama penelitian serta rambu–rambu
   pelaksanaan yang berlaku umum.
g. Kegiatan PTK pada dasarnya merupakan kegiatan yang berkelanjutan, karena tuntutan
   terhadap peningkatan dan pengembangan akan menjadi tantangan sepanjang waktu.
h. Meskipun kelas atau mata pelajaran merupakan tanggung jawab guru, namun tinjauan
   terhadap PTK tidak terbatas dalam konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu melainkan
   dalam perspektif misi sekolah




                                           BAB II
            PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS


       Prosedur penelitian tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur
dari berbagai kegiatan pembelajaran, menurut Raka Joni (1988) terdapat empat tahapan yaitu:
Pengembangan fokus masalah penelitian; Perencanaan tindakan perbaikan; Pelaksanaan tindakan
perbaikan; observasi dan interpretasi; Analisis dan refleksi (lihat gambar 1 ). Secara lebih rinci,
prosedur pelaksanaan PTK dapat digambarkan sebagai berikut:
    Untuk lebih jelasnya, rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada gambar
berikut.

                                  Perencanaan             Pelaksanaan
      Permasalahan
                                  Tindakan - I            Tindakan - I




     SIKLUS - I                                          Pengamatan/
                                   Refleksi - I          Pengumpulan
                                                            Data - I




      Permasalahan               Perencanaan             Pelaksanaan
       baru, hasil               Tindakan - II           Tindakan - II
         Refleksi




     SIKLUS - II                                         Pengamatan/
                                  Refleksi I
                                  Refleksi -- II         Pengumpulan
                                                           Data - II




    Bila Permasalahan
           Belum                      Dilanjutkan ke
       Terselesaikan                Siklus Berikutnya




Gambar 1. Siklus Kegiatan PTK


       Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan yang
dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan sehingga
ditengarai telah berdampak kurang baik terhadap proses dan atau hasil belajar pserta didik, dan
atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai adanya
permasalahan tersebut, kemudian guru menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam kalau
perlu dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan atau
melakukan kajian pustaka yang relevan.
       Pada gilirannya, dengan perumusan permasalahan yang lebih tajam itu dapat dilakukan
diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab permasalahan secara lebih cermat, sehingga
terbuka peluang untuk memilih       alternatif-alternatif tindakan perbaikan yang diperlukan.
Alternatif mengatasi permasalahan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi
program tindakan perbaikan yang akan dicobakan. Hasil percobaan tindakan perbaikan yang
dinilai dan direfleksikan dengan mengacu kepada kreteria-kreteria perbaikan yang dikehendaki,
yang telah ditetapkan sebelumnya.
       Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang
terdiri atas empat langkah kegiatan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Apabila sudah diketahui keberhasilan atau hambatan dalam tindakan yang dilaksanakan pada
siklus pertama, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahan baru untuk menentukan
rancangan siklus berikutnya. Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama
dengan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan, atau
untuk menguatkan hasil. Tetapi pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua
mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan untuk
mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus sebelumnya.
       Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, peneliti dapat melanjutkan dengan
tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama. Jika sudah selesai dengan
siklus kedua dan peneliti belum merasa puas, dapat dilanjutkan pada siklus ketiga, yang
tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa siklus harus
dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran,
sebaiknya tidak kurang dari dua siklus. Rincian kegiatan pada setiap tahapan adalah sebagai
berikut:


A. Penetapan Fokus Permasalahan
       Secara umum karaktersitik suatu masalah yang layak diangkat untuk PTK adalah sebagai
berikut.
1. Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang dirasakan
   dalam proses pembelajaran. Apabila hal ini terjadi, guru merasa prihatin atas terjadinya
   kesenjangan, timbul kepedulian dan niat untuk mengurangi tersebut dan berkolaborasi
   dengan dosen/widyaiswara/pengawas untuk melaksanakan PTK.
2. Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan diidentifikasi faktor-faktor penyebabnya.
   Faktor-faktor tersebut menjadi dasar atau landasan untuk menentukan alternatif solusi.
3. Adanya kemungkinan untuk dicarikan alternatif solusi bagi masalah tersebut melalui
   tindakan nyata yang dapat dilakukan guru/peneliti.
       Dianjurkan agar masalah yang dipilih untuk diangkat sebagai masalah PTK adalah yang
memiliki nilai yang bukan sesaat, tetapi memiliki nilai strategis bagi keberhasilan pembelajaran
lebih lanjut dan memungkinkan diperolehnya model tindakan efektif yang dapat dipergunakan
untuk memecahkan masalah serumpun.
       Pada tahap selanjutnya dilakukan identifikasi masalah yang sangat menarik perhatian.
Aspek penting pada tahap ini adalah menghasilkan gagasan-gagasan awal mengenai
permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut identifikasi
permasalahan. Cara melakukan identifikasi masalah antara lain sebagai berikut.
(1) Menuliskan semua hal (permasalahan) yang perlu diperhatikan karena akan mempunyai
   dampak yang tidak diharapkan terutama yang berkaitan dengan pembelajaran.
(2) Memilah dan mengklasisfikasikan permasalahan menurut jenis/ bidangnya, jumlah siswa
   yang mengalaminya, serta tingkat frekuensi timbulnya masalah tersebut.
(3) Mengurutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa yang mengalami untuk setiap
   permasalahan yang teridentifikasi.
(4) Dari setiap urutan diambil beberapa masalah yang dianggap paling penting untuk dipecahkan
   sehingga layak diangkat menjadi masalah PTK. Kemudian dikaji kelayakannya dan
   manfaatnya untuk kepentingan praktis, metodologis maupun teoretis.
       Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui identifikasi, Menurut (Hopkins 1993),
guru tidak harus memulai dengan masalah karena tidak semua guru mampu merasakan adanya
masalah, tetapi dapat mulai dengan suatu gagasan untuk melakukan perbaikan kemudian
mencoba memfokuskan gagasan tersebut. Jika guru tidak tanggap dan membiarkan adanya
masalah di dalam prektik belajar mengajarnya, akan berakibat menurunnya kualitas
pembelajaran. Agar mampu merasakan dan mengungkapkan adanya masalah, guru harus jujur
pada diri sendiri dan melihat pembelajaran yang dikelolanya sebagai bagian penting dari
dunianya.
        Dilanjutkan dengan analisis untuk menentukan kepentingan. Sebelum menganalisis
masalah kita harus mengumpulkan data terlebih dulu. Analisis dapat dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri (refleksi), mengkaji ulang berbagai dokumen
(pekerjaan siswa, daftar hadir, daftar nilai, bahan pelajaran,dll) tergantung jenis masalah yang
diidentifikasi.
        Masalah yang dihadapi guru mungkin sangat luas, maka harus memfokuskan perhatian
yang dapat ditanggulangi dan memerlukan prioritas untuk ditangani. Masalah perlu dirinci secara
operasional agar rencana perbaikannya dapat lebih terarah. Analisis terhadap masalah juga
dimaksud untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau pemecahan yang dibutuhkan.
Adapun yang dimaksud dengan analisis masalah di sini ialah kajian terhadap permasalahan
dilihat dari segi kelayakannya.
    Analisis masalah dipergunakan untuk merancang tindakan baik dalam bentuk spesifikasi
tindakan, keterlibatan peneliti, waktu dalam satu siklus, indikator keberhasilan, peningkatan
sebagai dampak tindakan, dan hal-hal yang terkait lainya dengan pemecahan yang diajukan.
    Pada tahap selanjutnya, masalah-masalah yang telah diidentifikasi dan ditetapkan
dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas
memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang
mengandung tindakan alternatif yang ditempuh antara lain sebagai berikut.
(1) Apakah metode diskusi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?
(2) Bagaimana pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam
    kegiatan pembelajaran?
(3) Bagaiamana metode karyawisata dapat meningkatkan           partisipasi siswa dalam kegiatan
    pembelajaran?
(4) Apakah penggunaan       metode roleplay dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap
    materi pelajaran IPS?


B. Perencanaan Tindakan
        Setelah masalah dirumuskan secara operasional, perlu dirumuskan alternatif tindakan
yang akan diambil. Alternatif tindakan yang dapat diambil dapat dirumuskan ke dalam bentuk
hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan
dilakukan. Perencanaan tindakan memanfaatkan secara optimal teori-teori yang relevan dan
pengalaman yang diperoleh di masa lalu dalam kegiatan pembelajaran/penelitian sebidang.
Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal.
      Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil
akan dapat memperbaiki sistem, proses, atau hasil. Hipotesis tindakan sesuai dengan
permasalahan yang akan dipecahkan dapat dicontohkan seperti di bawah ini.
(1)     Metode diskusi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran IPS
(2)     Pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan
        pembelajaran
(3)     Metode     karyawisata    dapat meningkatkan      partisipasi siswa dalam kegiatan
        pembelajaran
(4)     Penggunaan metode roleplay dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi
        pelajaran IPS
      Secara rinci, tahapan perencanaan tindakan terdiri atas kegiatan- kegiatan sebagai
berikut.
(1)     Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan
        hipotesis tindakan. Umumnya dimulai dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan
        pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik
        dan yang dapat dilakukan guru.
(2)     Mentukan cara yang tepat untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan
        indikator-indikator keberhasilan serta instrumen pengumpul data yang dapat dipakai
        untuk menganalisis indikator keberhasilan itu.
(3)     Membuat secara rinci rancangan tindakan yang akan dilaksanakan mencakup; (a) Bagian
        isi mata pelajaran dan bahan belajarnya; (b) Merancang strategi dan skenario
        pembelajaran sesuai dengan tindakan yang dipilih; serta (c) Menetapkan indikator
        ketercapaian dan menyusun instrumen pengumpul data.


C.      Pelaksanaan Tindakan
        Pada tahapan ini, rancangan strategi dan skenario pembelajaran diterapkan. Skenario
tindakan harus dilaksanakan secara benar tampak berlaku wajar. Pada PTK yang dilakukan guru,
pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan. Waktu tersebut
dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan sajian beberapa pokok bahasan dan mata pelajaran
tertentu. Berikut disajikan contoh aspek-aspek rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan
pada satu PTK.
1. Dirancang penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS untuk pokok bahasan : A, B,
     C, dan D.
2. Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, pilih ketua,
     sekretaris, dll oleh dan dari anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan
     cara random, dengan cara yang menyenangkan.
3. Kegiatan kelompok; mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok bekerja/
     belajar memahami materi, menuliskan hasil diskusi dalam power poin/ OHP untuk persiapan
     presentasi.
4. Presentasi dan diskusi pleno; masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam
     pleno kelas, guru sebagai moderator, lakukan diskusi, ambil kesimpulan sebagai hasil
     pembelajaran.
5. Jenis data yang dikumpulkan; berupa makalah kelompok, power poin/ OHP hasil kerja
     kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, serta hasil belajar yang dilaksanakan sebelum
     (pretes) dan setelah (postes) tindakan dilaksanakan.




D.    Pengamatan/Observasi dan Pengumpulan Data
        Tahapan ini sebenarnya berjalan secara bersamaan pada saat pelaksanaan tindakan.
Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, keduanya berlangsung dalam waktu
yang sama. Pada tahapan ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan
pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan
berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian
yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari
waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan
dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain), tetapi juga
data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, mutu diskusi yang
dilakukan, dan lain-lain. Observasi yang baik mempunyai karakteristik yang harus diperhatikan
oleh pengamat atau pun yang diamati. Menurut Hopkins (1993, ada lima prinsip dasar ;
1. Diawali perencanaan bersama (guru & teman sejawat), untuk membangun rasa saling
   percaya dan menyepakati beberapa hal
2. Fokus, pada saat melakukan pengamatan harus focus, focus yang sempit /spesifik akan
   menghasilkan data yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan profesional guru.
3. Membangun kriteria, kriteria keberhasilan atau sasaran yang ingin dicapai sudah disepakati
   sebelumnya.
4. Ketrampilan observasi, dalam melaksanakan observasi :
       a. Tidak terlalu cepat memutuskan dalam menginterpretasi satu peristiwa
       b. Menciptakan suasana yang memberi dukungan dan menghindari terjadinya suasana
           yang menakutkan guru atau siswa.
       c. Menguasai berbagai teknik untuk menemukan peristiwa yang tepat untuk direkam
5. Melakukan balikan(feedback)
   Ada beberapa jenis observasi antara lain :
a. Observasi terbuka, pada obsevasi terbuka ini pengamat hanya menggunakan kertas kosong
   sebagai perekam data, tidak ada lembar observasi
b. Observasi terfokus, pada observasi terfokus ini digunakan untuk mengamati aspek-aspek
   tertentu dari pembelajaran.
c. Observasi terstruktur, pada     observasi terstruktur pengamat     menggunakan instrument
   observasi yang terstruktur dan siap pakai.
d. Observasi sistematik, pada observasi ini lebih rinci dari observasi terstruktur dalam kategori
   data yang diamati.
   Observasi dilakukan bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk menjawab
masalah tertentu. Dalam penelitian formal, tujuan observasi untuk mengumpulkan data yang
valid dan relibel, data tersebut diolah untuk menguji hipotesis. Dalam PTK      tujuan observasi
adalah memantau proses dan dampak perbaikan yang direncanakan. Sasaran observasi dalam
PTK adalah proses dan hasil pembelajaran yang direncanakan sebagai tindakan perbaikan.
       Instrumen yang umum dipakai dalam PTK adalah (a) soal tes, kuis; (b) rubrik; (c) lembar
observasi; dan (d) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang
tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti aktivitas siswa selama pemberian tindakan
berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan
dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.


E. Refleksi
       Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah
dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna
menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Analisis Data dilakukan setelah satu paket
perbaikan selesai diimplementasikan secara keseluruhan. Analisis data dapat dilakukan secara
bertahap :
   1. Menyeleksi dan mengelompokkan ( reduksi data)
   2. Memaparkan atau mendeskripsikan data ( narasi, grafik atau tabel)
   3. Menyimpulkan atau memberi makna
Dengan analisis data ,guru dapat memperkirakan dampak perbaikan yang dilakukannya dan
membantu guru dalam melakukan refleksi.
    Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan
atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, maka dilakukan proses
pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan
ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.




                                     Daftar Pustaka
Arends, Richard. 19997. Classroom Instruction and Management. Toronto. McGrew-Hill

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Dikti, Proyek Pengembangan Guru Sekolah
      Menengah. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action research). IBRD OAN No 3979 –
      IND

Hopkins, David. 1992. A Teacher’s Guide to Classroom Research. 2

Kemmis, S. and McTaggart, R.1988. The Action Researh Reader. Victoria, Deakin University Press.

Suhardjono, Azis Hoesein, dkk. 1996. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan
      dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Widya-iswara. Jakarta: Depdikbud, Dikdasmen.

Suhardjono. 200. Penelitian Tindakan Kelas. Makalah pada “Diklat Pengembangan Profesi bagi Jabatan
      Fungsional Guru”, Direktorat Tenaga Kependidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal
      Pendidikan Dasar dan Menengah, Depdiknas.

dst

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:6/16/2013
language:Unknown
pages:19