sop jiwa gabungan edt

Document Sample
sop jiwa gabungan edt Powered By Docstoc
					STANDAR OPERASIONAL (SOP)
RENCANA KEPERAWATAN JIWA




          Disusun Oleh :

    PSYCHIATRIC NURSING TEAM




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
           (STIKES)
   MUHAMMADIYAH GOMBONG
         (EDISI REVISI )


                                1
                                    DAFTAR ISI


1.   Kata Pengantar
2. Pedoman Pokok Masalah Keperawatan Jiwa
3. SOP Rencana Tindakan Keperawatan :
     A. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Harga Diri Rendah
     B. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Isolasi Sosial
     C. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Halusinasi
     D. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan
4. Stategi Pelaksanaan Tindakan keperawatan Pada Klien Dengan :
     A. Harga Diri Rendah
     B. Isolasi Sosial
     C. Halusinasi
     D. Resiko Perilaku Kekerasan




                                                                         2
                            KATA PENGANTAR


     Buku panduan keperawatan jiwa ini memuat berbagai macam Standar
Operasional Prosedur (SOP) dari berbagai diagnosa keperawatan jiwa yang
akan dilakukan oleh mahasiswa D III / S 1 Keperawatan. SOP yang ada
meliputi kegiatan pengkajian (pengumpulan data), menyusun perencanaan,
Strategi Pelaksanaan dan dokumentasi.
     Buku ini juga memuat laporan pendahuluan dari berbagai gangguan
keperawatan jiwa dan materi singkat Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) yang
diharapkan   mempermudah       mahasiswa    dalam      praktek    klinik   dan
laboratorium keperawatan jiwa.
     Buku ini adalah edisi revisi dari buku sebelumnya dengan penyusunan
dan tambahan materi baru. Meski demikian kami menyadari masih ada
banyak kekurangan dan untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari
berbagai pihak untuk perbaikan buku ini selanjutnya.




                                            PSYCHIATRIC NURSING TEAM
                                                       Sarwono, SKM
                                                       Sawiji, S.Kep Ns
                                              Arnika Dwi Asti, S.Kep Ns
                                              Ike Mardiati Agustin, AMK




                                                                             3
                     PEDOMAN POHON MASALAH KEPERAWATAN

                             RESIKO MENCEDERAI
                             DIRI, ORANG LAIN &                 KERUSAKAN
                                LINGKUNGAN                   KOMUNIKASI VERBAL




                                 PERUBAHAN
                              PERSEPSI-SENSORI :
                                 HALUSINASI          DEFISIT PERAWATAN
                                                            DIRI




    PERILAKU                    ISOLSI SOSIAL :      MENURUNNYA MOTIVASI
   KEKERASAN                     MENARIK DIRI          PERAWATAN DIRI




 TIDAK EFEKTIFNYA
 PENATALAKSANAAN            GANGGUAN KONSEP DIRI :            GANGGUAN PROSES
REGIMEN TERAPEUTIK            HARGA DIRI RENDAH                PIKIR : WAHAM




 TIDAK EFEKTIFNYA                                         BERDUKA
                                  TIDAK EFEKTIFNYA
 KOPING KELUARGA                                       DISFUNGSIONAL
                                  KOPING INDIVIDU
 KETIDAKMAMPUAN
KELUARGA MERAWAT
ANGGOTA KELUARGA
    YANG SAKIT


                                                                                 4
                                             PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK KLIEN
                                          DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI RENDAH

                                                    RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien   : ____________________                                                                        Diagnosa Medis : __________________
Ruang        : ____________________                                                                        No. CM         : __________________

TGL.   NO.        DIAGNOSA                                   PERENCANAAN                                       INTERVENSI                          RASIONAL
       DX       KEPERAWATAN                   TUJUAN                KRITERIA EVALUASI
 1      2                3                       4                          5                                        6                                  7
             Gangguan Konsep Diri :   TUM :
             Harga Diri Rendah        Klien memiliki harga diri

                                      TUK I :                     1.1. Ekspresi wajah bersahabat   1.1.1     Bina hubungan saling             Hubungan saling percaya
                                      Klien dapat membina              menunjukkan rasa senang,              mengungkapkan prinsip             merupakan dasar untuk
                                      hubungan saling percaya          ada kontak mata, atau                 komunikasi terapeutik.            kelancaran hubungan
                                                                       berjabat tangan mau                 a.        Sapa klien dengan         interaksi selanjutnya.
                                                                       menyebutkan nama, mau                   ramah baik verbal
                                                                       menjawab salam, klien mau               maupun non verbal.
                                                                       duduk bersampingan                  b.        Perkenalkan diri
                                                                       dengan perawat, mau                     dengan sopan.
                                                                       mengeluarkan masalah                c.        Tanyakan nama
                                                                       dihadapi                                lengkap klien dan nama
                                                                                                               panggilan yang disukai
                                                                                                               klien
                                                                                                           d.        Jelaskan tujuan
                                                                                                               pertemuan
                                                                                                           e.        Jujur dan menepati
                                                                                                               janji
                                                                                                           f. Tunjukkan sikap empat
                                                                                                               dan menerima klien apa
                                                                                                               adanya
                                                                                                           g.        Beri perhatian pada
                                                                                                               klien dan perhatikan
                                                                                                               kebutuhan dasar klien.




                                                                                                                                                                   5
TUK 2 :                    2.1. Klien mengidentifikasi        2.1.1    Diskusi kemampuan dan             Diskusikan tingkat
Klien dapat                     kemampuan dan aspek                    aspek positif yang dimiliki        kemampuan klien seperti
mengidentifikasi                positif yang dimiliki :                klien.                             menilai realitas, kontrol
kemampuan dan aspek             -          Kemampuan                                                      diri atau integritas ego
positif yang dimiliki              yang dimiliki klien.                                                   diperlukan sebagai dasar
                                -          Aspek positif                                                  asuhan keperawatannya
                                   keluarga.                  2.1.2    Setiap bertemu klien              Reinforcemen positif akan
                                -          Aspek positif               hindarkan dari memberi             meningkatkan harga diri.
                                   lingkungan yang dimiliki            nilai negatif.
                                   klien.                     2.1.3    Utamakan memberikan               Pujian yang realistik tidak
                                                                       pujian yang realistik.             menyebabkan klien
                                                                                                          melakukan kegiatan
                                                                                                          hanya karena ingin
                                                                                                          mendapat pujian.

TUK 3 :                    3.1. Klien menilai kemampuan       3.1.1.         Diskusikan dengan           Keterbatasan dan
Klien dapat menilai             yang dapat digunakan                   klien kemampuan yang               pengertian tentang
kemampuan yang                                                         masih bisa digunakan               kemampuan yang dimiliki
digunakan                                                              selama sakit                       adalah prasyarat untuk
                                                                                                          berubah.
                                                              3.1.2.       Diskusikan kemampuan          Pengertian tentang
                                                                       yang dapat dilanjutkan             kemampuan yang dimiliki
                                                                       penggunaan                         diri memotivasi untuk
                                                                                                          tetap mempertahankan
                                                                                                          penggunaannya.
                                                                                                         Klien adalah individu yang
                                                                                                          bertanggung jawab
                                                                                                          tehadap dirinya sendiri.

TUK 4 :                    4.1. Klien membuat rencana         4.1.1.         Rencanakan bersama          Klien perlu bertindak
Klien dapat (menetapkan)        kegiatan harian.                       klien aktifitas yang dapat         secara realitas dalam
merencanakan kegiatan                                                  dilakukan setiap hari sesuai       kehidupannya
sesuai dengan                                                          kemampuan
kemampuan yang dimiliki                                                          Kegiatan mandiri
                                                                                 Kegiatan dengan
                                                                            bantuan sebagian
                                                                                 Kegiatan yang
                                                                            membutuhkan bantuan
                                                                            total.




                                                                                                                                  6
                                                           4.1.2.      Tingkatkan kegiatan
                                                                  yang sesuai dengan
                                                                  toleransi kondisi klien.
                                                           4.1.3.      Beri contoh cara             Contoh peran yang dilihat
                                                                  pelaksanaan kegiatan yang          klien akan memotivasi
                                                                  boleh klien lakukan.               klien untuk melaksanakan
                                                                                                     kegiatan.

TUK 5 :                   5.1. Klien melakukan kegiatan    5.1.1.       Beri kesempatan pada        Memberikan kesempatan
Klien dapat melakukan          sesuai kondisi sakit dan           klien untuk mencoba                kepada klien mandiri di
kegiatan sesuai kondisi        kemampuannya.                      kegiatan yang lebih                rumah.
sakit dan kemampuannya                                            rencanakan.
                                                           5.1.2.       Beri pujian                 Reinforcemen positif akan
                                                                  keberhasilan klien.                meningkatkan harga diri.

                                                           5.1.3.       Diskusikan                  Memberikan kesempatan
                                                                    kemungkinan pelaksanaan di       untuk tetap melakukan
                                                                    rumah.                           kegiatan yang biasa
                                                                                                     dilakukan
                                                                                                    Mendorong keluarga
                                                                                                     untuk mampu merawat
                                                                                                     klien mandiri di rumah

TUK 6 :                   6.1. Klien memanfaatkan sistem   6.1.1.        Beri pendidikan            Support sistem keluarga
Klien dapat                    pendukung yang ada                   kesehatan pada keluarga          akan sangat berpengaruh
memanfaatkan sistem            dikeluarga.                          tentang cara merawat klien       dalam mempercepat
pendukung yang ada                                                  dengan harga diri rendah.        proses penyembuhan
                                                                                                     klien
                                                           6.1.2.      Bantu keluarga               Meningkatkan peran serta
                                                                  memberikan dukungan                keluarga dalam merawat
                                                                  selama klien dirawat.              klien di rumah.
                                                           6.1.3.      Bantu keluarga
                                                                  menyiapkan lingkungan di
                                                                  rumah.




                                                                                                                          7
                                          PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK KLIEN
                                                   DENGAN ISOLASI SOSIAL

                                             RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien   : ____________________                                                                  Diagnosa Medis : __________________
Ruang        : ____________________                                                                  No. CM         : __________________

TGL.   NO.         DIAGNOSA                               PERENCANAAN                                      INTERVENSI                   RASIONAL
       DX       KEPERAWATAN             TUJUAN                    KRITERIA EVALUASI
 1      2                 3                 4                             5                                      6                           7
             Isolasi sosial    Tujuan Umum (TUM) :
                               Klien dapat berinteraksi
                               dengan orang lain

                               TUK 1 :                        1.1. Ekspresi wajah bersahabat      1.1.1. Bina hubungan saling               Hubungan
                               Klien dapat membina                 menunjukkan rasa senang, ada          percaya dengan              saling percaya
                               hubungan saling percaya             kontak mata, atau berjabat            mengungkapkan prinsip       merupakan dasar
                                                                   tangan, mau menyebutkan               komunikasi terapeutik.      untuk kelancaran
                                                                   nama, mau menjawab salam,             a. Sapa klien dengan        hubungan interaksi
                                                                   klien mau duduk berdampingan             ramah baik verbal        selanjutnya
                                                                   dengan perawat mau                       maupun non verbal
                                                                   mengutarakan masalah yang             b. Perkenalkan diri
                                                                   dihadapi                                 dengan sopan
                                                                                                         c. Tanyakan nama
                                                                                                            lengkap klien dan nama
                                                                                                            panggilan yang disukai
                                                                                                            klien
                                                                                                         d. Jelaskan tujuan
                                                                                                            pertemuan
                                                                                                         e. Jujur dan menepati
                                                                                                            janji
                                                                                                         f. Tunjukan sifat empati
                                                                                                            dan menerima klien
                                                                                                            apa adanya
                                                                                                         g. Beri perhatian pada
                                                                                                            klien dan perhatikan
                                                                                                            kebutuhan dasar klien


                                                                                                                                                          8
                                                               2.1.1. Kaji pengetahuan klien
                                                                      tentang perilaku menarik
                                                                      diri dan tanda-tandanya
                                                               2.1.2. Beri kesempatan kepada
                                                                      klien untuk
                                                                      mengungjkapkan perasaan
                                                                      penyebab menarik diri
                                                                      atau tidak mau bergaul
TUK 2 :                   1.2. Kien dapat menyebutkan          2.1.3. Diskusikan bersama klien             Menggali
Klien dapat menyebutkan        penyebab menarik diri yang             tentang perilaku menarik     faktor presipitasi
penyebab menarik diri          berasal dari :                         diri tanda-tanda serta       penyebab menarik diri
                                       a. Diri sendiri                penyebab yang muncul         untuk mengatasi
                                       b. Orang lain           2.1.4. Berikan pujian terhadap      masalah
                                       c. Lingkungan                  kemampuan klien dalam
                                                                      menggunakan
                                                                      perasaannya

                                                               3.1.1. Kaji pengetahuan klien
                                                                      tentang manfaat dan
                                                                      keuntungan berhubungan
                                                                      dengan orang lain


                                                               3.1.2. Beri kesempatan kepada
                                                                      klien untuk
                                                                      mengungkapkan perasaan
                                                                      tentang keuntungan
                                                                      berhubungan dengan
                                                                      orang lain
                                                               3.1.3. Diskusikan bersama klien
                                                                      tentang ketentuan
                                                                      berhubungan dengan
TUK 3 :                   3.1.       Klien dapat menyebutkan          orang lain                           Mengevaluasi
Klien dapat menyebutkan          keuntungan berhubungan        3.1.4. Beri reinforcement positif   manfaat yang
keuntungan berhubungan           dengan orang lain                    terhadap kemampuan           dirasakan klien
dengan orang lain dan                                                 pengungkapan perasaan        sehingga timbul
kerugian tidak                                                        tentang keuntungan           motivasi untuk
berhubungan dengan                                                    berhubungan dengan           berinteraksi
orang lain                                                            orang lain



                                                                                                                           9
                                     3.2.1. Kaji pengetahuan klien
                                            tentang manfaat dan
                                            kerugian tidak
                                            berhubungan dengan
                                            orang lain
                                     3.2.2. Beri kesempatan kepada
                                            klien untuk
                                            mengungkapkan perasaan
                                            tentang kerugian tidak
                                            berhubungan dengan
                                            orang lain
                                     3.2.3. Diskusikan bersama klien
                                            tentang kerugian tidak
                                            berhubungan dengan
                                            orang lain
                                     3.2.4. Beri reinforcement positif
                                            terhadap kemampuan
                                            pengungkapan perasaan
                                            tentang kerugian tidak
                                            berhubungan dengan
                                            orang lain
3.2.       Klien dapat menyebutkan
       kerugian tidak berhubungan    4.1.1. Kaji kemampuan klien
       dengan orang lain                    membina hubungan
                                            dengan orang lain
                                     4.1.2. Dorong dan bantu klien
                                            untuk berhubungan
                                            dengan orang lain melalui
                                            tahap :
                                            K-P
                                            K-P-P Lain
                                            K-P-P Lain K Lain
                                            K-P-Kel/Klg/Masy
                                     4.1.3. Beri reinforcement
                                            terhadap keberhasilan
                                            yang telah dicapai
                                     4.1.4. Bantu klien untuk
                                            mengevaluasi manfaat
                                            berhubungan
                                     4.1.5. Diskusikan jadwal harian
                                            yang dapat dilakukan

                                                                         10
                                                                 bersama klien dalam
                                                                 mengisi waktu
                                                          4.1.6. Motivasi klien untuk
                                                                 mengikuti kegiatan
                                                                 ruangan
                                                          4.1.7. Motivasi reinforcement
                                                                 atas kegiatan klien dalam
                           4..1. Klien dapat                     ruangan                              Klien harus
TUK 4 :                          mendemonstrasikan                                            dicoba berinteraksi
Klien dapat melaksanakan         hubungan sosial secara   5.1.1. Dorong klien untuk           secara bertahap agar
hubungan sosial secara           bertahap antara lain :          mengungkapkan                terbiasa membina
bertahap                         K-P                             perasaannya bila             hubungan yang sehat
                                 K-P-K                           berhubungan dengan           dengan orang lain
                                 K-P-Kel                         orang lain
                                 K-P-Klp                  5.1.2. Diskusikan dengan klien
                                                                 tentang perasaan manfaat
                                                                 berhubungan dengan
                                                                 orang lain
                                                          5.1.3. Beri reinforcement positif
                                                                 atas kemampuan klien
                                                                 mengungkapkan klien
                                                                 manfaat berhubungan
                                                                 dengan orang lain

                                                          6.1.1. Bisa berhubungan saling
                                                                 percaya dengan keluarga :
                                                                 a.        Salam,
                                                                    perkenalan diri
                                                                 b.        Sampaikan tujuan
                                                                 c.        Buat kontrak
                                                                 d.        Eksplorasi
                                                                    perasaan keluarga
                                                          6.1.2. Diskusikan dengan
                                                                 anggota keluarga tentang
                                                                 :
                                                                 a.        Perilaku menarik
                                                                    diri
                                                                 b.        Penyebab
                                                                    perilaku menarik diri
                                                                 c.        Akibat yang akan
                                                                    terjadi jika perilaku

                                                                                                                     11
                          5.1. Klien dapat mengungkapkan               menarik diri tidak
TUK 5 :                        perasannya setelah                      ditanggapi
Klien dapat                    berhubungan dengan orang             d.        Cara keluarga
mengungkapkan                  lain untuk :                            menghadapi klien
perasaannya setelah            a.          Diri sendiri                menarik diri
berhubungan dengan             b.          Orang lain        6.1.3. Dorong anggota, keluarga
orang lain                                                          untuk memberikan
                                                                    dukungan kepada klien
                                                                    untuk berkomunikasi
                                                                    dengan orang lain
                                                             6.1.4. Anjurkan anggota keluarga
                                                                    secara rutin dan
                                                                    bergantian menjenguk
                                                                    klien minimal satu minggu
                                                                    sekali
                                                             6.1.5. Beri reinforcement etos
                                                                    hal-hal yang telah dicapai
                                                                    oleh keluarga.
                          6.1. Keluarga dapat                                                          Keterlibatan
                                a. Menjelaskan perasaannya                                       keluarga sangat
TUK 6 :                         b. Menjelaskan cara                                              mendukung
Klien dapat                        merawat klien menarik                                         terhadap proses
memberdayakan sistem               diri                                                          perubahan perilaku
pendukung atau keluarga         c. Mendemonstrasikan cara                                        klien
mampu mengembangakan               perawatan kilen menarik
kemampuan klien untuk              diri
berhubungan dengan              d. Berpartisipasi dalam
orang lain                         perawatan klien menarik
                                   diri




                                                                                                                       12
                                             PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK KLIEN
                                           DENGAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

                                                 RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien   : ____________________                                                                    Diagnosa Medis : __________________
Ruang        : ____________________                                                                    No. CM         : __________________

TGL.   NO.        DIAGNOSA                              PERENCANAAN                                        INTERVENSI                         RASIONAL
       DX       KEPERAWATAN                 TUJUAN             KRITERIA EVALUASI
 1      2                3                       4                     5                                         6                                 7
             Gangguan persepsi      Tujuan Umum (TUM) :
             sensori : halusinasi   Halusinasi teratasi

                                    TUK 1 :                    1.1. Ekspresi wajah            1.1.1   Bina hubungan saling percaya           Hubungan saling
                                    Klien dapat membina             bersahabat menunjukkan            dengan mengungkapkan prinsip            percaya
                                    hubungan saling percaya.        rasa senang, ada kontak           komunikasi terapeutik                   merupakan
                                                                    mata, mau berjabat                a.       Sapa klien dengan              dasar
                                                                    tangan, mau                           ramah baik                          kelancaran
                                                                    menyebutkan nama, mau             b.       Perkenalkan diri dengan        hubungan
                                                                    menjawab salam, klien                 sopan                               interaksi
                                                                    mau duduk                         c.       Tanyakan nama lengkap          selanjutnya
                                                                    berdampingan dengan                   klien nama panggilan yang
                                                                    perawat, mau                          disukai klien
                                                                    mengutarakan masalah              d.       Jelaskan tujuan
                                                                    yang dihadapi.                        pertemuan
                                                                                                      e.       Jujur dan menepati janji
                                                                                                      f.       Tunjukkan sikap,
                                                                                                          empati, dan menerima klien
                                                                                                          apa adanya
                                                                                                      g.       Beri perhatian pada
                                                                                                          klien dan perhatikan
                                                                                                          kebutuhan dasar klien




                                    TUK 2 :                    2.1. Klien dapat menyebutkan


                                                                                                                                                                13
Klien dapat mengenali   waktu, isi, frekuensi     2.1.1   Adakan kontak sering dan           Kontak sering
halusinasinya           timbulnya halusinasinya           singkat secara bertahap               tapi singkat
                                                                                                selain upaya
                                                                                                membina
                                                                                                hubungan saling
                                                                                                percaya, juga
                                                                                                dapat
                                                                                                memutuskan
                                                                                                halusinasi
                                                  2.1.2   Observasi tingkah laku klien               Mengenal
                                                          terkait dengan halisinasinya          perilaku pada
                                                          bicara dan tertawa tanpa              saat halusinasi
                                                          stimulasi, memandang ke kiri/ke       timbul
                                                          kanan/ke depan seolah-olah ada        memudahkan
                                                          teman bicara.                         perawat dalam
                                                                                                melakukan
                                                                                                intervensi
                                                  2.1.3   Bantu klien mengenai               Mengenal
                                                          halusinasinya :                        halusinasi
                                                          2.2 Jika menemukan klien yang          memungkinkan
                                                              sedang halusinasi, tanyakan        klien untuk
                                                              apakah ada suara yang              menghindarkan
                                                              didengar                           faktor pencetus
                                                          2.3 Jika klien menjawab ada            timbulnya
                                                              lanjutan apa yang dikatakan        halusinasi
                                                          2.4 Katakan bahwa perawat          Dengan
                                                              percaya klien mendengar         mengetahui
                                                              suara itu, namun perawat        waktu, isi dan
                                                              sendiri tidak mendengarnya      frekuensi
                                                              (dengan nada bersahabat         munculnya
                                                              tanpa menuduh/                  halusinasi
                                                              menghakimi)                     mempermudah
                                                          2.5 Katakan bahwa klien lain juga   tindakan
                                                              ada yang seperti klien          keperawatan yang
                                                          2.6 Katakan bahwa perawat akan      akan dilakukan
                                                              membantunya                     perawat
                                                  5.1.1   Diskusikan dengan klien
                                                          5.2 Sugesti yang menimbulkan
                                                              dan tidak menimbulkan
                                                              halusinasi
                                                          5.3 Waktu dan frekuensi

                                                                                                                   14
                         2.2. Klien dapat                 2.2.1    Diskusikan dengan klien apa             Untuk
                              mengungkapkan                        yang dirasakan jika terjadi              mengidentifikasi
                              perasaan terhadap                    halusinasi (marah/takut, senang,         pengaruh
                              halusinasinya                        sedih) beri kesempatan                   halusinasi pasien
                                                                   mengungkapkan perasaannya.

                                                          3.1.1    Identifikasi bersama klien cara       Upaya untuk
TUK 3 :                  3.1. Klien dapat menyebutkan              tindakan yang dilakukan jika            memutuskan
Klien dapat mengontrol        tindakan yang biasanya               terjadi halusinasi (tidur, marah,       siklus halusinasi
halusinasinya                 dilakukan untuk                      menyibukkan diri dan lain-lain)         sehingga
                              mengendalikan                                                                halusinasi tidak
                              halusinasinya                                                                berlanjut

                                                          3.1.2.                          Diskusikan       Reinforcement
                                                                   manfaat cara yang dilakukan              positif dapat
                                                                   klien jika bermanfaat beri pujian        meningkatkan
                                                                                                            harga diri klien
                         3.2. Klien dapat menyebutkan
                              cara baru                   3.2.1    Diskusikan cara baru                  Memberikan
                                                                   memutuskan/ mengontrol                 alternatif pilihan
                                                                   timbulnya halusinasi                   bagi klien untuk
                                                          3.2.2     Katakan “saya tidak mau dengar        mengontrol
                                                                    kamu” (pada saat halusinasi           halusinasi
                                                                    terjadi
                                                          3.2.3     Menemui orang lain (perawat/
                                                                    teman/anggota keluarga) untuk
                                                                    bercakap-cakap untuk
                                                                    mengatakan halusinasi yang
                                                                    terdengar.
                                                          3.2.4     Membuat jadwal kegiatan
                                                                    sehari-hari agar halusinasi tidak
                                                                    sampai muncul
                                                          3.2.5     Meminta keluarga/teman/
                                                                    perawat menyapa jika tampak
                                                                    bicara sendiri
                         3.3. Klien dapat memilih cara
                              mengatasi halusinasi        3.3.1    Bantu klien memilih dan melatih       Memotivasi dapat
                              seperti yang telah                   cara memutuskan halusinasi              meningkatn
                              didiskusikan dengan klien            secara bertahap                         kegiatan klien
                                                                                                           untuk mencoba
                                                                                                           memilih salah

                                                                                                                                15
                                                                                                            satu cara
                                                                                                            mengendalikan
                                                                                                            halusinasi dan
                                                                                                            dapat
                                                                                                            meningkatkan
                                                                                                            harga diri klien
                                                           3.3.2    Beri kesempatan untuk                        Memberi
                                                                    melakukan cara yang telah               kesempatan
                                                                    dilatih. Evaluasi hasilnya dan          kepada klien
                                                                    beri pujian jika berhasil               untuk mencoba
                                                                                                            cara yang sudah
                                                                                                            dipilih
                                                           3.3.3    Anjurkan klien mengikuti terapi              Stimulasi
                                                                    aktifitas kelompok, orientasi           persepsi dapat
                                                                    realitas, stimulasi persepsi            mengurangi
                                                                                                            perubahan
                                                                                                            interpretasi
                                                                                                            realitas klien
                                                                                                            akibat halusinasi
TUK 4 :                     4.1 Keluarga dapat membina
Klien dapat dukungan dari       hubungan saling percaya    4.1.2.   Anjurkan klien untuk                 Untuk
keluarga dalam                  dengan perawat                      memberitahu keluarga jika              mendapatkan
mengontrol halusinasinya                                            mengalami halusinasi                   bantuan
                                                                                                           keluarga
                                                                                                           mengontrol
                            4.2. Keluarga dapat                                                            halusinasi
                                 menyebutkan pengertian,   4.1.3.    Diskusikan dengan keluarga          Untuk
                                 tanda dan tindakan                 (pada saat keluarga berkunjung/        mengetahui
                                 untuk mengendalikan                pada saat kunjungan rumah) :           pengetahuan
                                 halusinasi                         a. Gejala halusinasi yang dialami      keluarga dan
                                                                       klien                               meningkatkan
                                                                    b. Cara yang dapat dilakukan           kemampuan
                                                                       klien dan keluarga untuk            pengetahuan
                                                                       memutuskan halusinasi               tentang
                                                                    c. Cara merawat anggota                halusinasi.
                                                                       keluarga yang halusinasi di
                                                                       rumah, beri kegiatan, jangan
                                                                       biarkan sendiri, makan
                                                                       bersama bepergian bersama
                                                                    d. Beri informasi waktu follow
                                                                       up atau kapan perlu

                                                                                                                                16
                                                                   mendapat bantuan halusinasi
                                                                   tidak terkontrol, dan resiko
                                                                   mencederai orang lain
TUK 5 :                   5.1 Klien dan keluarga dapat
Klien memanfaatkan obat       menyebutkan manfaat,       5.1.1. Diskusikan dengan klien dan            Dengan
dengan baik                   dosis dan efek samping            keluarga tentang dosis, frekuensi       menyebutkan
                              obat                              dan manfaat obat                        dosis, frekuensi
                                                                                                        dan manfaat
                                                                                                        obat,
                                                                                                        diharapkan klien
                                                                                                        melaksanakan
                                                                                                        program
                          5.2. Klien dapat                                                              pengobatan
                               mendemonstrasikan         5.1.2. Anjurkan klien minta sendiri obat      Menilai
                               penggunaan obat dengan           pada perawat dan merasakan              kemampuan
                               benar.                           manfaatnya                              klien dalam
                                                                                                        pengobatannya
                          5.3. Klien dapat informasi                                                    sendiri
                               tentang efek dan efek     5.1.3. Anjurkan klien bicara dengan           Dengan
                               samping obat                     dokter tentang manfaat dan efek         mengetahui
                                                                samping obat yang dirasakan             efek samping
                                                                                                        obat klien akan
                                                                                                        tahu apa yang
                                                                                                        harus dilakukan
                                                                                                        setelah minum
                          5.4. Klien dapat memahami                                                     obat
                               akibat berhentinya obat   5.1.4. Diskusikan akibat berhenti obat-       Program
                               tanpa konsultasi                 obat tanpa konsultasi                   pengobatan
                                                                                                        dapat berjalan
                          5.5. Klien dapat menyebutkan                                                  sesuai rencana
                               prinsip 5 benar           5.1.5. Bantu klien menggunakan obat            Dengan
                               penggunaan obat                  dengan prinsip benar                    mengetahui
                                                                                                        prinsip
                                                                                                        penggunaan
                                                                                                        obat, maka
                                                                                                        kemandirian
                                                                                                        klien untuk
                                                                                                        pengobatan
                                                                                                        dapat
                                                                                                        ditingkatkan
                                                                                                        secara

                                                                                                                           17
bertahap.




            18
                      PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK KLIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN

                                                     RENCANA KEPERAWATAN
Nama Klien    : ____________________                                                                     Diagnosa Medis : __________________
Ruang         : ____________________                                                                     No. CM         : __________________

TGL.   NO.      DIAGNOSA                         PERENCANAAN                                      INTERVENSI                         RASIONAL
       DX    KEPERAWATAN             TUJUAN            KRITERIA EVALUASI
 1      2            3                   4                     5                                        6                                7
             Resiko perilaku   TUM :
             kekerasan.        Klien dapat
                               melanjutkan
                               hubungan peran
                               sesuai dengan
                               tanggung jawab.

                               TUK 1 :               1.1. Klien mau membalas        1.1.1.   Beri salam/ panggil nama klien.       Hubungan saling
                               Klien dapat membina        salam                     1.1.2.   Sebutkan nama perawat sambil           percaya merupakan
                               hubungan saling       1.2. Klien mau menjabat                 jabat tangan.                          landasan utama untuk
                               percaya.                   tangan                    1.1.3.   Jelaskan maksud hubungan               hubungan selanjutnya
                                                     1.3. Klien mau menyebutkan              interaksi.
                                                          nama                      1.1.4.   Jelaskan tentang kontrak yang
                                                     1.4. Klien mau tersenyum                akan dibuat.
                                                     1.5. Klien mau kontak mata     1.1.5.   Beri rasa aman dan sikap empati.
                                                     1.6. Klien mau mengetahui      1.1.6.   Lakukan kontak singkat tapi
                                                          nama perawat                       sering.
                                                     1.7. Menyediakan waktu untuk
                                                          kontrak




                                                     2.1. Klien dapat


                                                                                                                                                           19
TUK 2 :                     mengungkapkan               2.1.1.   Beri kesempatan untuk                 Beri kesempatan
Klien dapat                 perasaannya.                         mengungkapkan perasaannya.             untuk
mengidentifikasi       2.2. Klien dapat                 2.1.2.   Bantu klien untuk                      mengungkapkan
penyebab perilaku           mengungkapkan                        mengungkapkan penyebab                 perasannya dapat
kekerasan.                  penyebab perasaan                    jengkel/kesal.                         membantu
                            jengkel/kesal (dari diri                                                    mengurangi stres dan
                            sendiri, dari                                                               penyebab perasaan
                            lingkungan/orang lain).                                                     jengkel/kesal dapat
                                                                                                        diketahui
                       3.1. Klien dapat
                            mengungkapkan perasaan
TUK 3 :                     saat marah/jengkel.
Klien dapat            3.2. Klien dapat menyimpulkan    3.1.1.   Anjurkan klien mengungkapkan
mengidentifikasi            tanda-tanda jengkel/kesal            yang dialami saat marah/jengkel.
tanda-tanda perilaku        yang dialami.
kekerasan.                                              3.1.2.   Observasi tanda perilaku              Untuk mengetahui hal
                                                                 kekerasan pada klien.                  yang dialami dan
                                                                                                        dirasakan saat jengkel
                                                        3.2.1.   Simpulkan bersama klien tanda-
                                                                 tanda jengkel/kesal yang dialami
                                                                 klien.
                                                                                                       Untuk mengetahui
                                                                                                        tanda-tanda klien
                                                                                                        jengkel/kesal
                                                                                                       Menarik kesimpulan
                                                                                                        bersama klien supaya
                                                                                                        klien mengetahui
                                                                                                        secara garis besar
                                                                                                        tanda-tanda
                                                                                                        marah/kesal
                       4.1. Klien dapat dapat                                                          Mengeksplorasi
                            mengungkapkan perilaku                                                      perasaan klien
                            kekerasan yang biasa                                                        terhadap perilaku
                            dilakukan.                                                                  kekerasan yang biasa
TUK 4 :                4.2. Klien dapat bermain peran   4.1.1. Anjurkan klien untuk                     dilakukan
Klien dapat                 dengan perilaku                     mengungkapkan perilaku
mengidentifikasi            kekerasan yang biasa                kekerasan yang biasa dilakukan         Untuk mengetahui
perilaku kekerasan          dilakukan.                          klien.                                  perilaku kekerasan
yang biasa             4.3. Klien dapat mengetahui      4.1.2. Bantu Klien bermain peran sesuai         yang biasa dilakukan
dilakukan.                  cara yang biasa dapat               dengan perilaku konsumen yang           dan dengan bantuan
                            menyesuaikan atau tidak.            biasa dilakukan                         perawat bisa

                                                                                                                                 20
                                                                                                        membedakan perilaku
                                                                                                        konstruktif dan
                                                                                                        deskruktif dapat
                                                                                                        membantu klien
                        5.1. Klien dapat menjelaskan                                                    menemukan cara
                             akibat dari cara yang     4.1.3.   Bicarakan dengan klien apakah           yang dapat
                             digunakan klien.                   dengan cara yang klien lakukan          menyelesaikan
                                                                masalahnya selesai ?                    masalah.
                                                                                                       Membantu klien untuk
                                                                                                        menilai perilaku
                                                       5.1.1.   Bicarakan akibat/ kerugian dari         kekerasan yang
TUK 5 :                                                         cara yang dilakukan klien.              dilakukannya.
Klien dapat
mengidentifikasi                                       5.1.2.   Bersama klien menyimpulkan             Dengan mengetahui
akibat perilaku                                                 akibat cara yang digunakan oleh         akibat perilaku
kekerasan               6.1. Klien dapat melakukan              klien.                                  kekerasan diharapkan
                             cara berespon terhadap                                                     klien dapat merubah
                             kemarahan secara                                                           perilaku deskruktif
                             konstruktif.              5.1.3.    Tanyakan pada klien apakah             yang dilakukannya
                                                                ingin mempelajari cara baru yang        menjadi perilaku yang
                                                                sehat ?                                 konstruktif.
                                                                                                       Agar klien dapat
                                                       6.1.1. Tanyakan pada klien “apakah ia            mempelajari cara
TUK 6 :                                                        ingin mempelajari cara baru yang         yang lain yang
Klien dapat                                                    sehat ?”                                 konstruktif.
mengidentifikasi cara
konstruktif dalam                                                                                      Dengan
merespon terhadap                                                                                       mengidentifikasi cara
kemarahan.                                                                                              yang konstruktif
                                                                                                        dalam berespon
                                                                                                        terhadap kemarahan
                                                                                                        dapat membantu klien
                                                                                                        menemukan cara
                                                       6.1.2. Berikan pujian jika klien                 yang baik untuk
                                                               mengetahui cara lain yang sehat.         mengurangi
                                                                                                        kejengkelannya
                                                                                                        sehingga klien tidak
                                                       6.1.3.   Diskusikan dengan klien cara lain       stres lagi.
                                                                yang sehat.                            Reinforcement positif
                                                                a.      Secara fisik, tarik nafas       dapat memotivasi
                                                                    dalam jika sedang kesal/            klien dan

                                                                                                                                21
                                                                  memukul bantal/kasur atau             meningkatkan harga
                                                                  olah raga atau pekerjaan              dirinya.
                                                                  yang memerlukan tenaga
                                                               b.      Secara verbal, katakan
                                                                  bahwa anda sedang kesal/
                                                                  tersinggung/ jengkel (saya
                                                                  kesal anda berkata seperti
                                                                  itu, saya marah karena mama
                                                                  tidak memenuhi keinginan
                                                                  saya).
                                                               c.      Secara sosial, lakukan
                                                                  dalam kelompok cara-cara
                                                                  marah yang sehat, latihan
                                                                  asertif, latihan manajemen
                                                                  perilaku kekerasan.
                                                               d.      Secara spiritual, anjurkan
                      7.1. Klien dapat                            klien sembahyang,
                           mendemonstrasikan cara                 berdoa/ibadah lain, meminta
                           mengontrol perilaku                    pada Tuhan untuk diberikan
                           kekerasan                              kesabaran, mengadu pada
                                     Fisik : tarik               Tuhan kekerasan/
                               nafas dalam, olah                  kejengkelan.
                               raga menyiram
                               tanaman                7.1.1.   Bantu klien memilih cara yang           Berdiskusi dengan
                                     Verbal :                 paling tepat untuk klien.                klien untuk memilih
TUK 7 :                        mengatakannya                                                            cara yang lain sesuai
Klien dapat                    secara langsung                                                          dengan kemampuan
mendemonstrasikan              dengan tidak                                                             klien.
cara mengontrol                menyakiti              7.1.2.   Bantu klien mengidentifikasi            Membantu klien dalam
perilaku kekerasan.                  Spiritual :              manfaat cara yang dipilih.               membuat keputusan
                               sembahyang, berdoa                                                       untuk terhadap cara
                               atau ibadah klien.                                                       yang telah dipilihnya
                                                                                                        dengan melihat
                                                                                                        manfaatnya.
                                                      7.1.3.   Bantu klien untuk mensimulasi           Memberikan simulasi
                                                               cara tersebut (role play).               menilai respon
                                                                                                        perilaku kekerasan
                                                      7.1.4.   Beri reinforcement positif atau          secara tepat
                                                               keberhasilan klien menstimulasi         Pujian dapat
                                                               cara tersebut.                           meningkatkan
                      8.1. Keluarga klien dapat :     7.1.5.   Anjurkan klien untuk                     motivasi dan harga

                                                                                                                                22
                              Menyebutkan cara               menggunakan cara yang telah            diri klien.
                               merawat klien yang             dipelajari saat jengkel/marah.        Agar klien dapat
                               berperilaku                                                           melaksanakan cara
                               kekerasan.                                                            yang telah dipilihnya.
                              Mengungkapkan rasa                                                    Jika ia sedagn kesal
                               puas dalam merawat                                                    atau jengkel.
                               klien.
                                                     8.1.1. Identifikasi kemampuan keluarga         Kemampuan keluarga
                                                             merawat klien dari sikap apa            dalam
TUK 8 :                                                      yang telah dilakukan keluarga           mengidentifikasi akan
Klien mendapat                                               terhadap klien selama ini.              memungkinkan
dukungan keluarga                                                                                    keluarga untuk
dalam mengontrol                                                                                     melakukan penilaian
perilaku kekerasan.                                                                                  terhadap perilaku
                                                                                                     kekerasan.
                                                     8.1.2. Jelaskan peran serta keluarga           Meningkatkan
                                                             dalam merawat klien.                    pengetahuan keluarga
                                                                                                     tentang cara merawat
                                                                                                     klien sehingga
                                                                                                     keluarga terlibat
                                                                                                     dalam perawatan
                                                                                                     klien.
                                                     8.1.3. Jelaskan cara-cara merawat klien :      Agar keluarga dapat
                                                              Terkait dengan cara                   merawat klien dengan
                                                                 mengontrol perilaku marah           perilaku kekerasan.
                                                                 secara konstruktif.
                                                              Sikap tenang bicara tenang
                                                                 dan jelas.
                                                              Membantu klien mengenal
                                                                 penyebab ia marah.
                                                     8.1.4. Bantu keluarga mendemontrasi-           Agar keluarga
                                                             kan cara merawat klien                  mengetahui cara
                                                                                                     merawat klien melalui
                      9.1. Klien dapat menyebutkan                                                   demonstrasi yang
                           obat-obat yang diminum                                                    dilihat keluarga secara
                           dan kegunannya (jenis                                                     langsung.
                           dosis dan efek).          8.1.5.                             Bantu       Mengeksplorasii
                      9.2. Klien dapat minum obat             keluarga mengungkapkan                 perasaan keluarga
                           sesuai program                     perasannya setelah melakukan           setelah melakukan
                           pengobatan.                        demonstrasi.                           demonstrasi.



                                                                                                                               23
                      9.1.1.                          Jelaskan                     Klien dan
                               jenis-jenis obat yang diminum           keluarga dapat
TUK 9 :                        klien pada klien dan keluarga.          mengetahui nama-nama
Klien dapat                                                            obat yang diminum oleh
menggunakan obat-                                                      klien.
obatan yang           9.1.2.                        Diskusikan                     Klien dan
diminum dan                    manfaat minum obat dan                  keluarga dapat
kegunaannya (jenis,            berhenti minum obat.                    mengetahui kegunaan
waktu, dosis dan                                                       obat yang dikonsumsi
efek).                                                                 klien.
                      9.2.1.                         Jelaskan                      Klien dan
                               prinsip benar minum obat (baca          keluarga mengetahui
                               nama yang tertera pada botol            prinsip benar agar tidak
                               obat, dosis obat, waktu dan cara        terjadi kesalahan dalam
                               minum).                                 mengkonsumsi obat.

                      9.2.2.                         Ajarkan                       Klien dapat
                               klien minta obat dan minum tepat        memiliki kesadaran
                               waktu.                                  pentingnya minum obat
                                                                       dan bersedia minum obat
                                                                       dengan kesadaran sendiri.
                      9.2.3.                        Anjurkan                       Mengetahui
                               klien melaporkan pada                   efek samping sedini
                               perawat/dokter jika merasakan           mungkin sehingga
                               efek yang tidak menyenangkan.           tindakan dapat dilakukan
                                                                       sesegera mungkin untuk
                                                                       menghindari komplikasi.
                      9.2.4.                         Beri pujian                   Reinforcement
                               jika klien minum obat dengan            positif dapat memotivasi
                               benar.                                  keluarga dan klien serta
                                                                       dapat meningkatkan
                                                                       harga diri.




                                                                                                    24
25
           LAPORAN PENDAHULUAN
  GANGGUAN KONSEP DIRI : HARGA DIRI RENDAH


A. MASALAH UTAMA
   Gangguan konsep diri : harga diri rendah

B. PROSES TERJADINYA MASALAH
  1. Pengertian
         Harga diri rendah adalah penilaian pribadi
  terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa
  seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart
  dan    Sundeen,    1998:227).    Menurut    Townsend
  (1998:189) harga diri rendah merupakan evaluasi diri
  dari perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang
  negatif baik langsung maupun tidak langsung.
  Pendapat senada diungkapkan oleh Carpenito, L.J
  (1998:352) bahwa harga diri rendah merupakan
  keadaan dimana individu megalami avaluasi diri yang
  nagatif mengenai diri atau kemampuan diri. Dari
  pendapat-pendapat diatas dapat dibuat kesimpulan,
  harga diri rendah adalah suatu perasaan negatif
  terhadap diri sendiri, hilangnya kepercayaan diri, dan
  gagal mencapai tujuan yang diekspresikan secara
  langsung maupun tidak langsung, penurunan diri ini
  dapat bersifat situasional maupun kronis atau
  manahun.

  2. Tanda dan Gejala
          Menurut Carpenito, L.J (1998:352); Keliat, B.A
  (1994:20); perilaku yang berhubungan dengan harga
  diri rendah antara lain :
  a. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
  b. Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-
      lebihan
  c. Perasaan tidak mampu
  d. Rasa bersalah
  e. Sikap negatif pada diri sendiri


                                                     26
f. Sikap pesimis pada kehidupan
g. Keluhan sakit fisik
h. Pandangan hidup yang terpolarisasi
i. Menolak kemampuan diri sendiri
j. Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
k. Perasaan cemas dan takut
l. Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan
   balik postif
m. Mengungkapkan kegagalan pribadi
n. Ketidak mapuan menetukan tujuan

Data obyektif:
a. Produktifitas menutun
b. Perilaku distruktif pada diri sendiri
c. Perilakuk distruktif pada orang lain
d. Penyalahgunaan Zat
e. Menarik diri dari hubungan social
f. Ekspresi waja malu dan rasa bersalah
g. Menunjukan tanda depresi (sukar tidur dan sukar
   makan)
h. Tampak mudah tersinggung/mudah marah

3.   Penyebab
       Harga diri rendah sering disebabkan karena
adanya koping induvidu yang tidak efektif akibat
adanya kurang umpan balik positif, kurangnya system
pendukung       kemunduran      perkembangan      ego,
pengulangan umpan balik yang negatif, disfungsi
system keluarga serta terfiksasi pada tahap
perkembangan awal (Townsend, M.C: 1998: 366).
Menurut Carpenito, L.J (1998: 82) koping individu
tidak efektif adalah keadaan dimana seorang individu
mengalami atau beresiko mengalami suatu ketidak
mampuan dalam mengalami stessor internal atau
lingkungan dengan adekuat karena ketidakedkuatan
sumber-sumber (fisik, psikologi, perilaku atau
kogmotif). Sefdangkan menurut Towsend, M.C (1998:
312) koping individu tidak efektif merupakan kelainan
perilaku adaptif dan kemampuan memecahkan

                                                   27
masalah seseorang dalam memenuhi tuntunan
kehidupan dan peran.
       Dari pendapat-pendapat diatas dapat dibuat
kesimpulan, individu yang mempunyai koping
individu tidak efektif akan menunujukan ketidak
mampuan dalam menyesuaikan diri atau tidak dapat
memecahkan masalah tuntuan hidup serta peran
yang dihadapi. Adanya koping individu tidak efektif
sering ditujukan dengan peilaku (Carpenito, L.J, 1998:
83); Townsend, M.C, 1998: 313) sebagai berikut :

a. Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengatasi
   masalah atau menerima bantuan.
b. Mengungkapkan perasaan khawatir dan cemas
   yang berkepanjangan
c. Mengungapkan     ketidakmampuan menjalankan
   peran

Data obyektif :
a. Perubahan partisipasi dalam masyarakat
b. Peningkatan ketergantungan
c. Memanipulasi orang lain disekitarnya untuk
   tujuan-tujuan memnuhi keinginan sendiri
d. Menolak mengikuti aturan-aturan yang berlaku
e. Perilaku distruktif yang diarahkan pada diri sendiri
   dan orang lain.
f. Memanipulasi      verbal/perubahan   dalam     pola
   komunikasi
g. Ketidakmampuan untuk memnuhi kebutuhan-
   kebutuhan dasar
h. Penyalahgunaan obat terlarang

4. Akibat
        Harga diri rendah dapat beresiko terjadinya
isilasi social : menarik diri, isolasi social menarik diri
adalah gangguan kepribadian yag tidak fleksibel pada
tingkah laku yang maladaptif, mengganggu fungsi
seseorang dalam hubungan social ( DepKes RI, 1998:



                                                       28
 336). Isolasi social menrik diri sering ditujukan
 dengan perilaku antara lain:

 Data Subyektif
 a. Mengungkapkan     enggan      untukl  memulai
    hubungan/pembicaraan
 b. Pmegungkapkan      perasaan      malu   untuk
    berhubungan dengan orang lain
 c. Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan
    oleh orang lain

 Data Obyektif
 a. Kurang spontan ketika diajak bicara
 b. Apatis
 c. Ekspresi wajah kosong
 d. Menurun/tidak adany komunikasi verbal
 e. Bicara dengan suaru pelan dan tidak ada kontak
    mata saat bicara

C. MASALAH DAN DATA YANG PERLU DIKAJI




                                               29
No Masalah            Data subyektif      Data
   keperawatan                            obyektif
1. Masalah utama:     Mengungkapkan       Merusak
   gangguan           ingin diakui jati   diri sendiri
   konsep     diri:   dirinya             Merusak
   harga       diri   Mengungkapkan       orang lain
   rendah             tidak ada lagi      Ekspresi
                      yang peduli         malu
                      Mengungkapkan       Menrik diri
                      tidak bisa apa-     dari
                      apa                 hubungan
                      Mengungkapkan       social
                      dirinya     tidak   Tampak
                      berguna             mudah
                      Mengkritik diri     tersinggung
                      sendiri             Tidak mau
                      Perasaan tidak      makan dan
                      mampu               tidak tidur




                                                    30
  D.POHON MASALAH

                Isolasi sosial menarik diri



              Gangguan konsep diri : Harga diri rendah




            Tidak efektifnya koping individu

       Gambar Pohon masalah harga diri rendah
                  (Keliat, B.A: 18)


E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
   1. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

F. FOKUS INTERVENSI

  1. Tujuan umum
     Klien memiliki harga diri
  2. Tujuan khusus dan intervensi
     a. TUK I: Klien dapat membina hubungan saling
        percaya
        1). Kriteria evaluasi:
            a) Ekspresi wajah klien bersahabat
            b) Menunjukan rasa tenang dan ada kontak
                mata
            c) Mau       berjabat  tangan    dan  mau
                menyebutkan mana
            d) Mau menjawab salam dan mau duduk
                berdampingan dengan perawat
            e) Mau mengutarakan asalah yang dihadapi




                                                         31
   2). Bina hubungan saling percaya dengan
       mengungkapkan            prinsip       komunikasi
       therapeutic:
        a) Sapa klien dengan ramah dan baik secara
           verbal dan non verbal
        b) Perkenalkan diri dengan sopan
        c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama
           panggilan yang disukai klien
        d) Jelaskan tujuan pertemuan
        e) Jujur dan menepati janji
        f) Tunjukan sikap empati dan menerima klien
           apa adanya
        g) Beri perhatian pada klien dan perhatikan
           kebutuhan dasar klien
        Rasional:
        Hubungan saling percaya merupakan dasar
        untuk      kelancaran     hubungan       interaksi
        selanjutnya.
b. TUK II : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan
   dan aspek positif yang dimiliki
   1) Krieria evaluasi:
      Klien mampu mengidentifikasi kemampuan dan
      aspek positif yang dimiliki klien:
      a) Kemampuan yang dimiliki klien
      b) Aspek positif keluarga
      c) Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien
   2) Intervensi
      a) Diskusikan kemampuan dan aspek positif
         yang dimiliki klien
         Rasional :
         Mendiskusikan tingkat kemampuan klien
         seperti menilai realitas, control diri atau
         integritas ego diperlukan sebagai dasar
         asuahn keperawatanya.
      b) Setip bertemu hindarkan dari memberi nilai
         negative
         Rasional :
         Reinforcement positif akaneningkatkan harga
         diri klien

                                                       32
      c) Usahakan memberika pujian yag realistic
         Rasional :
         Pujian yang realistic tidak menyebabakan
         klien melakukan kegiatan hanya karena
         ingin mendapatkan pujian
c. TUK III: Klien dapat menilai kemampuan yang
   digunakan
   1) Kriteria evaluasi
      Klien menilai criteria yang dapat digunakan
   2) Intervensi
     a) Diskusikan dengan klien kemampuan yang
         masih dapat dilakukan dalam sakit
         Rasional:
         Keterbukaan      dan     pengertian   tentang
         kemampuan yang dimiliki adalah prasarat
         untuk berubah
     b) Diskusikan kemampuan yang masih dapat
         dilanjutkan penggunaanya
         Rasional:
         Pengrtian tentang kemampuan yang masih
         dimiliki klien memotivasi untuk tetap
         mempertahankan penggunaanya
d. TUK IV : Klien dapat merencanakan kegiatan
   dengan kemampuan yag dimiliki
   1) Kriteria evaluasi
       Klien membuat rencana kegiatan harian
   2) Intervensi
       a) Rencanakan besma klien aktifitas yang
           dapat dilakukan setiap hari sesuai dengan
           kemampuan: kegiatan mandiri, kegiatan
           dengan bantuan sebagian, kegiatan yang
           membutuhkan bantuan total
           Rasional :
           Membentuk individu yang bertanggung
           jawab terhdap dirinya sendiri
       b) Tingktkan kegiatan sesuai dengan toleransi
           kondisi klien
           Rasional:



                                                   33
           Klien perlu bertindak secara realistic dalam
           kehidupannya
       c) Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang
           boleh dilakukan klien
           Rasional:
           Contoh perilaku yang dilihat klien akan
           memotivasi klien untuk melaksnakan
           kegiatan
e. TUK V: Klien dapat melaksanakan kegiatan yang
   boleh dilakukan
   1) Kriteria evaluasi
      Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi skit
      dan kemampuannya
   2) Intervensi
      a) Beri kesempatan pada klien untuk mencoba
         kegiatan yang telah direncanakan
         Rasional:
         Memebrikan       kesempatan    kepada     klien
         mandiri dapat meningkatkan motivasi dan
         harga diri klien
      b) Beri pujian atas keberhasilan klein
         Rasional:
         Reinforcement positiif dapat meningkatkan
         harga diri klien
      c) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di
         rumah
         Rasional :
         Memberiakn kesempatan kepda klien untuk
         tetap   melakukan     kegiatan    yang     bisa
         dilakukan
f. TUK VI : KLien dapat memanfaatkan system
   pendukung yang ada di keluarga
   1) Kiterian evluasi
      Klien memanfaatkan system pendukung yang
      ada di keluarga
   2) Intrvensi
      a) Beri pendidikan keshatan pada keluarga
         tentang cara merawat klirn dengan harga diri
         rendah

                                                     34
           Rasional :
           Mendorong keluarga untuk mampu merawat
           klien mandiri di rumah
        b) Bantu keluarga memberikan dukungan
           selama klien dirawat
           Rasional:
           Support system keluarga akan sangat
           mempengaruhi dalam mempercepat proses
           penyembuhan klien
        c) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan
           rumah
           Rasional:
           Meningkatkan peran serta keluarga dalam
           merawat klien di rumah

G.DAFTAR PUSTAKA
1. Capenito,    L.J   (1998).  Buku   Saku     Diagnosa
   Keperawatam (terjemahan). Edisi 8, Penerbit Buku
   kEdokteran EGC, Jakarta
2. Depkes RI, (1989). Petunjuk Tehnik Asuhan
   Keperawatan Pasien Gangguan Skizofrenia, Direktorat
   Kesehatan Jiwa, Jakarta
3. Keliat, B.A, (1994). Seri Keperawatan Gangguan
   Konsep Diri, Cetakan II, Penrbit Buku Kedokteran
   EGC, Jakarta
4. Stuart, G.W & Sundeen, S.J, (1998). Buku Saku
   Keperawatan JIwa (Terjemahan). Edisi 3, EGC,
   Jakarta
5. Town , M.C, (1998). Buku Saku Diagnosa
   Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri (terjemahan),
   Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.




                                                    35
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
                   (SP)


Masalah : Gangguan Konsep Diri : harga Diri Rendah
              Pertemuan ke I (satu)

A. PROSES KEPERAWATAN
   1. Kondisi
      a. Klien mengatakan malu dan tidak berguna
      b. Klien Menunjukan ekspresi wajah malu
      c. Klien Mengatakan “tidak bisa” ketika diminta
         melakukan sesuatu
      d. Klien Tampa kurang bergairah
      e. Klien Selalu mengungkapkan kekuranganya dari
         pada kelehbihannya
   2. Diagnosa Keperawatan
      Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah
   3. Tujuan khusus
      a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
      b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan
         aspek positif yang dimiliki

B. STERTEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)
  1. Orientasi
     a. Salam Terapeutik
        “ Selamt pagi. Bu, saya Indah Suryani, saya
        mahasiswa Akper Dep Kes Magelang yang sedang
        praktik di Rumah Sakit ini”, Ibu bisa panggil saya
        Suster Indah atau Suster Ani”. “Nama ibu
        siapa?’………..o o       o begitu,”Ibu lebih senang
        dipanggil siapa?”. “o o o ibu Siti”. “saya akan
        menemani ibu kurang lebih 2 minggu, jadi kalau
        ada yang mengganggu pikran ibu, bisa bilang
        saya, siapa tahu sya bisa Bantu”.
     b. Evaluasi/Validasi



                                                       36
      “Bagaimana perasaan Ibu saat ini?..........o o o
      begitu”. “ Coba ceritakan pada saya, apa yang
      dirasakan dirumah, hingga dibawa ke RSJ ?”
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Maukan ibu siti bercakap-cakap dengan
         kemampuan yang dimiliki serta hoby yang
         sering dilakukan dirumah ?”.
      2) Tempat
         “ibu Siti lebih suka bercakap-cakap dimana ?, o
         o o…. diteras, baiklah”.
      3) Waktu
         “ Kita mau bercakap-cakap berapa lama ?”,
         Bagiman kalu 10 manit saja”.
2. Kerja
   “Kegaitan apa saja yang sering ibu Siti lakukan di
   rumah ?”…………memasak, mencuci pakaian, bagus
   itu”. Terus kegiatan apalagi yang bisa ibu lakukan
   ?”. “Kalau tidak salah ibu juga senagn menyulam ya
   ?”, wah bagus sekali !.
   “Bagaimana kalau ibu Siti menceritakn kelebihan
   lain/kemamapuan lain yang dimiliki ?”,
   terus…………. Palagi
   “Bagaimana dengan keluarga ibu Siti, apakah
   mereka menyenangi apa yang ibu lakukan selama
   ini, aau apakah merka seing mengejek hasil kerja
   ibu ?”.
3. Terminsi
   a. Evaluasi Subyektif
      “ Bagamana prasaan ibu Siti selama kita
      bercakap-cakap ?”, “ Senang Terimakasih !”.
   b. Evaluasi Obyektif
      “Tolong ibu Siti ceritkan lagi kemampuan dan
      kegiatan yang sering ibu lakukan ?........Bagus”,
      “ terus bagaiamana tanggapan keluarga terhadap
      kemampua dan kagiatan yang ibu lakukan ?”.
   c. Rencana Tindak Lanjut
      “Baiklah Bu Siti, nanti ibu ingat-ingat lagi ya,
      kemampua ibu yag lain dan belum sempat ibu

                                                     37
      seritakn kepada saya ?”, besok bisa kita bicara
      lagi”.
   d. Kontrak
      1) Topik
         “ Bagaimana kalau kita bicarakn kembali
         kegiatan/kemampuan yang dapat ibu Sti
         lakukan d Rumah sakit dan rumah ?”.
      2) Tempat
         “Tempatnya mau dimana Bu ?”.
      3) Waktu
         “Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?.
         bagaiaman kalau 15menit ?”
         “Setuju !”.
         “Sampai bartemu lagi besok pagi ya, Bu Siti”.

               Pertemuan ke II (dua)

A. PROSES KEPERAWATAN
 1. Kondisi
    a. Klien telah terbina hubungan saling percaya
       dengan perawat
    b. Klien telah mengetahui/dapat mengeal bebrapa
       kemapuan dan aspek positif yang dimiliki
 2. Tujuan khusus
    a. klien dapat menilai kemapuan yang dapat
       digunakan
    b. Klien dapat merencanakan kegiatn di rumah sakti
       sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
 1. Orientasi
    a. Salam terapeutik
       “Selamat pagi, Bu Siti !”, “ Masih ingat saya
       ?”………… bagus !”
    b. Evaluasi/Validasi
       “Bagaiamana perasaan ibu Siti sekarang ?”.
       “…..O…..ya bagaimana, apakah ada kemampuan
       lain yang belum ibu Siti ceritkan kemarin ?”
    c. Kontrak
       1) Topik


                                                         38
        “Apakah bu Siti masih ingat apap yang akan
        kita bicarakan sekarang ?”. “ya….. bagus”.
     2) Tempat
        “Kalau tidak salah, kemarin kita sudah sepakat
        akan bercapakp-cakap di ruang makan benar
        kan ?”.
     3) Waktu
        “Kita akan bercakap-cakap selama 15 menit,
        atau mungin bu Siti ingin kita bercakap-cakap
        lebih lama lagi ?”
  2.Kerja
  “Kemarin kita sudah kemampaun yang dimiliki
  serta kebiasaan yang biasa ibu lakukan di rumah,
  bagaiamna ?, masih ada yang lain ?”.
  “ Mari kita coba lihat satu persatu kegiatan yang
  mana yang dapat ibu lakukan dirumah sakti, tolong
  sebutkan ya Bu!.............bagus mana lagi ?”
  “Ya, kita sudah memilih kegiatan-kegiatan yang
  dapat ibu lakukan di rumah sakti”
  “ Maukan ibu melakukanya di rumah sakit
  ?...........ya………..klu begitu kita buat besama-sama
  jadwal kegiatan yang dapat ibu lakukan di rumah
  sakti”.
  “Ayo kita mulai, ini kertas dan bolpointnya, ibu
  yang nulis ya !!”.
  “Pagi       hari ibu     bisa   lakukan     apa  saja
  ?.........Ya……..membantu mencuci piring, menyapu
  mengepel, dll………terus apalagi “. “Nah kalau siang
  dan sore hari apap yang dapa ibu lakukan, bagus “.
  “kita sudah selesai membuat jadwal kegiatan untuk
  nanti siang dan selanjutnya”. “dilaksanakan sesuai
  jadwal ya Bu!”.
3.Terminasi
  a. Evluasi Subyektif
     “Bagaimana perasaan ibu Siti setelah
     berhasilmembuat jadwal kegiatan yang dapat
     dilakukan di rumah sakit ?”
  b. Evaluasi Obyektif



                                                    39
       “Coba ibu bacakan kembali jadul kegiatan yang
       telah dibuat tadi !”. “Bagus”.
    c. Rencanakan Tindak Lanjut
       “ Ibu Siti mau kan melaksanakan jadual kegiatan
       yang telah diabuat tadi !”
       “……nah nanti kegiatan –kegiatan yang telah
       dilakukan bersama-sama dengan teman-tean
       yang lain, ya !”. “bagaimana kalau nanti siang ?”
    d. Kontrak
       1) Topik
          “Baiklah besok kit bertemu lagi, bagaimana
          kalau kita bercakap-cakap tentang kegiatan
          yang dapat ibu lakukan di rumah”. “bagaiaan
          menurut ibu Siti ?”. “Setuju”.
       2) Tempat
          “ Ibu ingin kita bercakap-cakap dimana besk
          ?”, “……..ooooo di taman, baiklah”.
       3) Waktu
          “Bagaimana kalau kita bercakap-cakap selama
          10 menit ?”.

               Pertemuan ke III (Tiga)

A. PROSES KEPERAWATAN
   1. Kondisi
      a. Klien telah mampu mengenal dan menyusun
         jadual kegiatan yang dapat dilakukan di rumah
         sakit
      b. Klien telah berhasil melaksanakan kegiatan
         sesuai denga jadual yang telah dibuat
      c. Klien merasa puas dan senang dengan kegiatan
         yang dilakukan di rumah sakit

  2. Tujuan khusus
     c. klien dapat megenal kegiatan yang dapat
        dilakukan dirumah
     d. Klien dapat menyusun jadual kegiatan yang dapa
        dilakukan sesuai dengan kemampuan di rumah



                                                     40
1. Orientasi
   a. Salam Terapeutik
      “Selamat pagi, bu Siti sedang apa”.
   b. Evaluasi/Validasi
      “Bagaimana perasaan ibu Siti saat ini ?”
      “ Apakah Ibu sudah melaksanakan kegiatan
      sesuai dengan jadual yang telah dibuat kemarin
      ?”.    “Bagus    ibu    telah  dapat   membantu
      membersihkan lingkungan”.
      “Coba saya lihat jadual kegiatannya, wah hebat
      sekali, sudah diberi tanda semua!”, “ nanti
      dikerjakan lagi ta, bu !”.
   d. Kontrak
      1) Topik
         “Nah, bagaiman kalu kita bercakap-cakap
         tentang kegiatan yang dapat ibu lakukan
         dirumah ?”.
      2) Tempat
         “Kita mau bercakap-cakap di mana ?”,
         Bagaimana kalu ditempat yang kemarin, di
         taman, kan enak !”.
      3) Waktu
         “Mau berapa lama ?, Bagaimana kalau 15
         menit lagi”
2. Kerja
   “Kemarin Ibu telah membuat jadual kegiatan di
   rumah sakit, sekarang kita buat jadual kegiata
   dirumah ya !”. “ Ini kertas da bolpointnya, jangan
   khawatir nanti saya Bantu, akalu kesulitan”. “
   bagaimana, kita muali?”
   “ Ibu mulai dari jam 05.00 WIB ?.........ya. idk apa-
   apa”. “bangun tidur …...terus. ya Sholat Subuh,
   terus masak (sampai jam 20.00 WOB), bagus tapi
   jangan lupa minum obanya, ya bu !”.
3. Terminasi
   a. Evluasi Subyektif
      “Bagaimana perasaan ibu Siti setelah dapat
      membuat jadwal kegiatan di rumah ?”
   b. Evaluasi Obyektif

                                                     41
       “Coba ibu sebutkan lagi susunan kegiatan dala
       sehari yang dapat dilakukan di rumah ?”
    c. Rencanakan Tindak Lanjut
       “ Besok kalau sudah dijemput oleh keluarga
       dalam sehari yang dapat dilakukan di rumah?”.
    d. Kontrak
       1) Topik
          “Nah, bagaimana besok kita bercakap-cakap
          tentang perlunya dukungan keluarga terhadap
          kesembuhan Bu Siti”.
       2) Tempat
          “ Bagaiman kalau kita bercakap-cakap di teras,
          setuju !”, “atau mugkin Bu Siti mau kita di
          tempat yang lain ?”.
       3) Waktu
          “Kita mau bercakap-cakap berapa, Bagaimana
          kalau 10 menit ?”.

              Pertemuan ke IV (Empat)

A. PROSES KEPERAWATAN
   1. Kondisi
      Klien telah mampu menyusun kegiatan yang sesuai
      kemampuan yang dapat dilakukan di rumah

  2. Tujuan khusus
     Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang
     dimilik di rumah

  1. Orientasi
     a. Salam Terapeutik
        “Selamat pagi, bu!”.
     b. Evaluasi/Validasi
        “Bagaimana perasaan ibu Siti hari ini, baik-baik
        saja ?”. Syukurlah”.
        “ Masih ibu simpan jadual kegiatan yang telah
        dibuat kemarin?”.
     c. Kontrak
        1) Topik

                                                     42
         “Hari ini akan kita bercakap-cakap tentang
         system pendukung yang dapat membantu ibu
         Siti dirumah ?”.
      2) Tempat
         “Sesuai kesepakatan kemarin kita bercakap-
         cakap di teras, Ya ?”.
      3) Waktu
         “Kita bercakap –cakap Mau berapa lama ?”. “10
         menit saja ya boleh !”.
2. Kerja
   “Apakah ibu tahu artinya system pendukung ?”,
   “Bailah akan saya jelaskan system pendukung
   adalah hal-hal yang dapat mebantu dirumah dalam
   mencapai kesembuhan nantinya, Misalnya : dana,
   keluarga, teman/tetangga yang mau menerima,
   kegiatan bersama, dan tempat yang dapat ibu
   kunjungi saat obat habis”.
   “Ibu       dirumah     tinggal    dengan  siapa   saja
   ?...........terus siapa lagi ?. “Apakah mereka sayang
   dan mmperhatikan kesehatan Bu Siti ?”.
   “Siapa selama ini yang mengingatkan ibu selama ini
   minum obat dan mengantarkan control/periks
   dokter ?’. wah bagus !”. Terus selama ini yang
   mencari nafkah dan mencari biaya pengobatan
   untuk ibu, siapa?”.
   “Apakah punya teman atu tetangga yang dekat
   dengan ibu Siti ?”. “ Kegiatan apa saja yang ada
   dilingkungan Bu Siti ?”. “Ooooo pengajian….. Bagus
   itu, kalau kelopo ibu-ibu arisan ada tidak bu, oo
   begitu !”. “Selama ini Bu Siti sudah berobat kemana
   saja, apakah ada RS/RS yang paling dekat dengan
   rumah ibu ?”.
3. Terminasi
   a. Evaluasi Subjektif
      “Bagaimana perasaannya setelah bercakap-cakap
      tentang system pendukung yang bu Siti mliki ?”
   b. Evaluasi Objektif
      “ Coba sebutkan kembali system pendukung yang
      ibu miliki di rumah, satu per satu ya!”

                                                      43
c.  Rencana Tindak Lanjut
  “B esok kalu sudah pulang , harus mendengarkan
  nasehat keluarga ya Bu !jangan lupa kalau obat
  hamper habis cepat datangu rumah sakit!”
  “Tidak kalah pentingnya, ikutlah kegiatan
  bersama yang ada di kampong misalnya :kegiatan
  yasinan ibu-ibu “
d. Kontrak
  1. Topik
   “Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap
     lagi, trentang obat-obatan yang ibi Siti minum
     setiap hari”
  2. Tempat
     “Sebaiknya kita bercakap-cakap dimana Bu
     ?”di warung makan, o…..bisa!”
  3.Waktu
     “Mau berapa lama Bu?””lima belas menit, boleh
     sampai ketimu lagi Bu!”




                                                44
              LAPORAN PENDAHULUAN
                   HALUSINASI


A. MASALAH UTAMA
   Gangguan persepsi sensori : halusinasi

B. PROSES TEJADINYA MASALAH

  1. Pengertian
       Halusinasi adalah persepsi yang salah (misalnya
  tanpa stimulus eksternal)atau persepsi sensori yang
  tidak sesuai denga realita/kenyataan seperti melihat
  bayangan atau suara-suara yang sebenarnya tidak
  ada (Johnson, B.S.      1995:421). Menurut Maramis
  (1998:119) halusinasi adalah pencerapan tanpa ada
  rangsang apapun dari panca indera, dimana orang
  tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang
  dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional,
  organic atau histerik. Sedangkan menurut pendapat
  lain halusinasi adalah suatu keadaan dimana seorang
  mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari
  stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara
  internal atau ekstrnal) disertai dengan suatu
  pengurangan, berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan
  berespon     terhadap     stimulus    (Townsend,M.C,
  1998:156)
       Halusinasi merupakan pengalaman mempersepsi
  yang terjadi tanpa adanya stimulus sensori eksternal
  yang          meliputi         lima         perasaan
  (penglihatan,pendengaran, pengecapan, penciuman,
  perabaan ), akan tetapi yang paling umum adalah
  halusinasi pendengaran (Boyd, M.A & Nirhath, M.A,
  1998:303 ;Rawlins, R.P, Heacock, P.E, 1998:198).
  Menurut Carpentino, L.J (1998:363) Perubahan
  persepsi sensori halusinasi merupakan keadaan
  dimana individu atau kelompok mengalami atau
  berisiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah,
  pola atau interpretasi stimulus yang datang.

                                                    45
Sedangkan menurut pendapat lain halusinasi
merupakan persepsi sensori yang palsu yang terjadi
tanpa adanya stumulus eksternal, yang dibedakan
dari distorsi atau ilusu yang merupakan kekeliruan
persepsi terhadap stimulus yang nyata dan pasien
menganggap halusinasi sebagai suatu yang nyata
(Kusuma,W,1997:284)

2. Tanda dan gejala
      Klien dengan halusinasi sring nenunjukan
adanya (Carpentino, L.J.     1998:363;Townsend,M.C,
1998:156;Stuart, G.W & Sundeen, S.J          1998:328-
329):
Data subjektif:
   a. Tidak mampu mengenal, orang, dan tempat
   b. Tidak mampu memecahkan masalah.
   c. Mengungkapkan adanya halusinasi ( misalnya
      mendengar suara-suara atau melihat bayangan )
   d. Mengeluh cemas dan khuatir
Data objektif:
   a. Mudah tersinggung.
   b. Apatis dan cenderung menarik diri (controlling).
   c. Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola
      komunikasi, kadang berhenti bicara seolah-olah
      mendengar sesuatu.
   d. Menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan
      suara.
   e. Menyeringai dan tertawa tidak sesuai.
   f. Gerakan mata yang cepat.
   g. Pikiran yang berubah-ubah dan konseterasi
      rendah
   h. Kadang tampak ketakutan
   i. Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu
      berespon terhadap petunjuk yang kompleks)

3. Penyebab
     Gangguan perspsi sensori halusinasi sering
disebabkan karena panik, stress berat yang
mengancam, ego yang lemah, dan isolasi sosial

                                                   46
menarik diri (Townsend, M.C, 1998:156). Menurut
Carpentino, L.J, (1998:381) isolasi sosial merupakan
keadaan dimana individu atau kelompok mengalami
atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk
meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi
tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangkan
menurut Rowlins, R.P & Heacock, P.E (1998:423)
Isolasi sosial menarik diri merupakan usaha
menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan
orang lain, individu merasa kehilangan hubungan
akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berfikir,
berperasaan.     Berprestasi,  atau    selalu  dalam
kegagalan.
     Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukan
dengan adanya perilaku ( Carpentino, L.J 1998:382 ):
Data subjektif:
a. Mengungkapkan perasaan kesepian atau penolakan
b. Melaporkan dengan ketidaknyamanan konyak
dengan situasi social
c. Mengungkapkan perasaan tak berguna
Data objektif:
a. Tidak tahan terhadap kontak yang lama
b. Tidak komunikatif
c. Kontak mata buruk
d. Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri
e. Kurang aktivutas
f. Wajah tampak murung dan sedih
g. Kegaglan berinteraksi dengan orang lain

4. Akibat
      Adanya gangguan persepsi sensori halusinasi
dapat beresiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan (Keliat, B.A, 1998:27). Menurut Townsend,
M.C suatu keadaan dimana seseorang melakukan
sesuatu tindakan yang dapat membahayakan secara
fisik baik pada diri sendiri maupun orang lain.
      Seseorang yang dapat beresiko melakukan
tindakan kekerasan pada diri sendiri dan orang lain
dapat menunjukan perilaku:

                                                    47
 Data subjektif:
 a. Mengungkapkan mendengar atau melihat objek
    yang mengancam
 b. Mengungkapkan perasaan takut, cenas, dan
    khawatir
 Data objetif:
 a. Wajah tegang, nerah
 b. Mondar-mandir
 c. Mata melotot rahang mengatup
 d. Tangan mengepal
 e. Keluar keringat banyak
 f. Mata merah

C. MASALAH DAN DATA YANG HARUS DIKAJI

No Masalah       Data             Data objektif
   keperawatan   subjektif
1. Gangguan      klien            Tampak bicara
   persepsi      mengatakan       dan ketawa
   sensori :     melihat atau     sendiri
   halusinasi    mendengar        Mulut seperti
                 sesuatu. Klien   bicara tapi tidak
                 tidak mampu      keluar suara
                 mengenal         Berhenti bicara
                 tempat,          seolah ,endengar
                 waktu, orang     atau melihat
                                  sesuatu
                                  Gerakan mata
                                  yang cepat




                                                      48
D. POHON MASALAH
          Risiko mencederai diri sendiri,
            Orang lain, & lingkungan




                    Perubahan persepsi sensori
                     Halusinasi pendengaran




               Isolasi sosial menarik diri

     Gambar Pohon Masalah (Keliat, B.A, 1998: 6)


E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
   Perubahan persepsi sensori : halusinasi

F. FOKUS INTERVENSI
      Menurut Rasmun (2001:43-48) tujuan utama,
tujuan khusus, dan rencana tindakan dari diagnosa
utama : risiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan berhubungan dengan halusinasi adalah
sebagi berikut :
   1. Tujuan umum
      Halusinasi terkontrol
   2. Tujuan Khusus
      a. TUK I: Klien dapat membina hubungan saling
         percaya
         1) Kriteria evaluasi
            Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa
            tenang, ada kontak mata, mau berjabat tangan,
            mau menyebutkan mana, mau menjawab
            salam, mau duduk berdampingan dengan
            perawat, mau mengulurkan masalah yang
            dihadapi.

                                                      49
   2) Intervensi
      Bina hubungan saling percaya dengan:
      a) Sapa klien dengan ramah baik secara verbal
         maupun non verbal
      b) Perkenalkan diri dengan sopan
      c) Tanyaan nama lengkap klien dan nama
         panggilan yang disukai klien
      d) Jelaskan tujuan pertemuan
      e) Jujur dan menepati janji
      f) Tunjukan sikap empati dan menerima klien
         apa adanya
      g) Beri perhatian kepada kilien dan perhatikan
         kebutuhan dasar klien
      Rasional :
      Hubungan salaing percaya merupkan dasar
      untuk     mempelancar     hubungan     interaksi
      selanjutnya
b. TUK II: Klien dapat mengenal halusinasi
   1) Kriteria evaluasi
      a) Klien dapat menyebutkan waktu, isi, dan
         frekuensi timbulnya halusinasi
      b) Lien    dapat    mengungapkan       perasaan
         terhadap halusinasinya
   2) Intervensi
      a) Adakan sering dan singkat secara bertahap
         Rasional :
         Kontak sering dan sigkat selain upaya
         membina hubungan saling percaya juga
         dapat memutuskan halusinasinya
      b) Observasi tingkah lau klie terkait dengan
         halusinasinya. Bicara dn tertawa tanpa
         stimulus, memandang ke kiri dan ke kanan
         seolah-olah ada teman bicara
         Rasional :
         Mengenal perilaku pada saat halusinasi
         timbul    mewmudahkan       perawat    dalam
         melakukan intervensi
      c) Bantu klien mengenal halusinasinya dengan
         cara:

                                                   50
   - Jika menemukan klien yang sedang
      halusinasi tanyakan apakah ada suara
      yang didengar
   - Jika klien menjawab ada lanjutkan apa
      yang dikatakan
   - Katakan bahwa perawat percaya klien
      mendenganr suara itu, namun perawat
      sendiri tidak mendengarnya (dengan nada
      sahabat tanpa menuduh/menghakimi)
   - Katakan pada klien bahwa ada juga klien
      lain yang sama seperti dia
   - Katakan bahwa perawat akan membantu
      klien
      Rasional :
      Mengenal halusinasi menungkinkan klien
      untuk menghindari factor timbulnya
      halusinasi
d) Diskusikan dengan klien tenang:
   - Situasi       yang        menimbulkan/tidak
      menimbilkan halusinasi
   - Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi
      (pagi, siang, sore dan malam atau jika
      sendiri, jengkel, sedih)
      Rasional:
      Dengan mengetahui waktu, isi dan
      frekuensi        munculnya       halusinasi
      mempermudah         tindakan   keperawatan
      yang akan dilakuka perawat
e) Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan
   jika terjadi halusinasi (marah, takut,sedir,
   tenang) beri kesempatan mengungkapkan
   perasaan
   Rasional:
   Untuk mengidentifikasi pengaruh halusinasi
   pada klien




                                              51
c. TUK III: Klein dapat mengontrol halusinasinya
   1) Kriteria evaluasi
      a) Klien dapat menyebutkan tindakan yang
         biasanya dilakukan untuk mengendalikan
         halusinasinya
      b) Klien dapat meyebutkan cara baru
      c) Klien     dapat    memilih    cara    mengatasi
         halusinasi seperti yang telah didiskusikan
         dengan klien
      d) Klien dapat melakukan cara yang telah
         dipilih untuk mengendalikan halusinasi
      e) Klien dapat mengetahui aktivitas kelompok
   2) Intervensi
      a) Indentifiasi bersama klien tindakan yang
         dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur,
         marah, menyibukan diri sendiri dan lain-lain)
         Rasional:
         Upaya untuk memutus siklus halusinasi
         sehingga halusinasi tidak berlanjut
      b) Diskusian manfaat cara yang digunakan
         klien, jika bermafaat beri pujian
         Rasional:
         Reinforcement dapat meningkatkan harga
         diri klien
      c) Diskusikan cara baru untuk
         memutus/mengontrol timbulnya halusinasi:
         - Katakan : “Saya tidak mau dengar kau”
            pada saat halusinasi muncul
         - Menemui orang lain atau perawat, teman
            atau anggota keluarga yang lain untuk
            bercakap-cakap         atu       mengatakan
            halusinasi yang didengar
         - Membuat        jadual     sehari-hari    agar
            halusinasi tidak sempat muncul
         - Meninta keluarga/teman/perawat, jika
            tampak bicara sendiri
         Rasional:
         Memberikan        alternate    pilihan    untuk
         mengontrol halusinasi

                                                     52
      d) Bantu klien memilih cara dan melatih cara
         untu memutus halusinasi secara bertahap,
         misalnya dengan:
         - mengambil air wudlu dan sholat atau
            membaca Al-Qur’an
         - Membersihakan rumah atau alat-alat
            ruamh tanggga
         - Mengikuti kegiatan sosial di masyarakat
            (pengajian, gotong royong)
         - Mengikuti kegiatan olah raga di kampung
            (jika masih muda)
         - Mencari teman untuk ngobrol
         Rasional:
         Memotivasi dapat meningkatkan keinginan
         klien untuk mencoba memilih salah satu
         cara untuk memilih salah satu cara untuk
         mengendalikan       halusinasi    dan     dapat
         meningkatkan harga diri klien
      e) Beri kesempatan untuk melakukan cara yang
         telah dilatih. Evaluasi hasilnya dan beri
         pujian jika berhasil
         Rasional:
         Memberi kesempatan kepada klien untuk
         mencoba cara yang telah dipilih
      f) Anjurkan klien untuk mengikuti terapi
         aktivitas kelompok, orientasi realita dan
         stimulasi persepsi
         Rasional:
         Stimulasi persepsi dapat mengurangi
         perubahan interprertasi realitas akibat
         halusinasi
d. TUK IV: Klien dapat dukungan dari keluarga
   dalam mengontrol halusinasinya
   1) Kriteria evalusi
      a) Keluarga dapat salaing percay dengan
         perawat
      b) Keluarga dapat menyebutkan pengertian,
         tanda dan tindakan untuk mengendalikan
         halusinasi

                                                     53
   2) Intervensi
      a) Membina hubungan salaing percaya denga
         menyebutkan nama, tujuan pertemua
         dengan sopan dan ramah
         Rasional:
         Hubungan salaing percaya merupkan dasar
         untuk mempelancar hubungan interaksi
         selanjutnya
      b) Anjurkan klien menceritakan halusinasinya
         kepada keluarga
         Untuk mendapatkan bantuan keluarga
         dalam mengontrol halusinasinya
      c) Diskusikan halusinasinya pada saat
         berkunjung tenang:
         - Pengertian halusinasi
         - Gejala halusinasi yang dialami klien
         - Cara yang dapat dilakukan klien dan
           keluarga untuk memutus halusinasi
         - Cara merawat anggota keluarga yang
           berhalusinasi dirumah, misalnya: beri
           kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan
           bersama, bepergian bersama
         - Beri informsi waktu follow up atau kapan
           perlu mendapat bantuan: halusinasi tidak
           terkontrol, dan resiko mencederai diri,
           orang lain dan lingkungan.
         Rasional:
         Untuk mengetahui pengetahuan keluarga
         tentang        halusinasidan      menambah
         pengetahuan keluarga cara merawat anggota
         keluarga     yang     mempunayi      masalah
         halusinasi.
e. TUK V: Klein dapat memanfaatkan obat dengan
   baik
   1) Kriteria evaluasi
      a) Klien dan keluarga dapat menyebutkan
         manfaat, dosis dan efek samping obat
      b) Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan
         obat dengan benar

                                                  54
   c) Klien mendapat informasi tentang efek dan
      efek samping obat
   d) Klien dapat memahami akibat berhenti
      minum obat tanpa konsultasi
   e) Klien dapatmenyebutkan prinsip 5 benar
      penggunaan obat
2) Intervensi
   a) Diskusikan dengan klien dan keluargan
      tentang dosis dan ferkuensi serta manfaat
      minum obat
      Rasional :
      Dengan menyebutkan dosis, frekuensi dan
      manfaat      obat     diharapkan       klien
      melaksanakan program pengobatan
   b) Anjurkan klien minta sendiri obat pada
      perawat dam merasakan manfaatnya
      Rasional:
      Menilai     kemampuan       klien     dalam
      pengeobatanya sendiri
   c) Anjurkan klien untuk bicara dengan dokter
      tentang manfaat dan efek samping obat yang
      dirasakan
      Rasional:
      Dengan mengetahui efek samping klien akan
      tahu apa yang harus dilakukan setelah
      minum obat
   d) Diskusikan akibat berhenti minum obat
      tanpa konsultasi dengan dokter
      Rasional:
      Program pengobatan dapat berjalan dengan
      lancer
   e) Bantu klien menggunakan obat dengan
      prinsip 5 benar (benar dosis, benar obat,
      benar waktunya, benar caranya, benar
      pasiennya)
      Rasional:
      Dengan mengetahui prinsip penggunaan
      obat, maka kemandirian klien untuk



                                               55
           pengobatan    dapat    ditingkatkan   secara
           bertahap

G. DAFTAR PUSTAKA
  Boyd, M.A & Nihart, M.A, (1998). Psychiatric Nuesing
         contemporary Practice, Edisi 9th, Lippincott-
         Raven Publisrs, Philadelphia
  Carpenito, L.J, (1998). Buku Saku Diagnosa
         Keperawatan(terjemahan), Edisi 8, Penerbit
         Buku Kedoteran EGC, Jakarta
  Johnson, B.S, (1995). Psiciatric-Mental Health Nursing
         Adaptation and Growt, Edisi 2th, Lippincott-
         Raven Publisrs, Philadelphia
  Kusuma, W, (1997). Dari A sampai Z Kedaruratan
         Psiciatric Dalam Praktek, Ed I, Profeional
         Books, Jakarta
  Keliat, B.A, Dkk, (1997). Proses Keperawatan
         Kesehatan Jiwa, Ed I, EGC Jakarta
  Maramis, W.F, (1998) Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa,
         Airlangga University Press, Surabaya
  Rasmun, (2001), Keperawatan Kesehatan Mental
         Psikiatrik Terintegrasi Dengan Keluarga, Ed I,
         CV Sagung Seto, Jakarta.
  Rawilns, R.P & Heacock, PE, (1988). Clinical Manual of
         Pdyshiatruc Nursing, Edisi 1, the C.V Mosby
         Company, Toronto
  Stuart. G.W & Sundeen, S.J, (1998). Buku Saku
         Keperawatan Jiwa (terjemahan). Edisi 3, EGC,
         Jakarta.
  Townsend, M.C, (1998). Buku Saku Diagnosa
         Keperawatan Psikiatri (terjemahan), Edisi 3,
         Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.




                                                     56
   STARTEGI PELAKSANAAN KEPERAWATAN (SP)

  Masalah : Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
               Pertemuan ke I (Satu)

A. PROSES KEPERAWATAN
   1. Kondisi
      a. Klien tamapk bicara dan tertawa sendiri
      b. Klien mondar-mandir
      c. Klien merasa mendengarkan suara laki-kali yang
         menyeruh memukul
   2. Diagnosa Keperawatan
      Perubahan persepsi sensori: halusinasi
  3. Tujuan khusus
      a. klien dapat membina hubungan saling percaya
         dengan perawat
      b. Klien dapat mengenal halusinasi yang dialaminya

B. STERTEGI            PELAKSANAAN            TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)
   1. Orientasi
      a. Salam Terapeutik
         “ Selamat pagi. Mas, sedang apa ?”. “Kenalkan
         nama saya Bapak Budi Sisiwoyo”, mas bisa
         panggil saya Bapak atau mas Budi saja”. “Mas
         namanya siapa ?’………..o o       o Joko Prisanto,
         senang dipanggil siapa?”. Mas Joko atau mas
         Yanto”. Ooo bagitu baiklah mas yanto “saya akan
         menemani ibu kurang lebih 2 minggu kedepan,
         nanti bisa cerita masalah yang dialami mas
         Joko”.
      b. Evluasi/Validasi
         “Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini?....o o o
         kalau saya lihat mas Joko tampak bicara,
         berbiara sama siapa ?”
      c. Kontrak
         1) Topik




                                                     57
         “Bagaimana kalau kita bercakap-cakap suara
         yang mas Joko dengar dan orang yang
         mengajak bicara ?”.
      2) Tempat
         “Dimana kita akan berbincang-bincang Mas ?,
         o o o…. diruang makan, baiklah”.
      3) Waktu
         “ Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?”, 15
         manit !”, ya baiklah”.
2. Kerja
   “yeach sekarang kita sudah duduk santai, tolong
   ceritakan suara-suara yang Mas Joko dengar tadi,
   oooooooo bagitu, lalu !”. “Jadi Mas mendengar suara
   orang yang mengajak berbicara dan menyusuh
   memukul orang”. “menurut Mas suara tersebut
   suara siapa, apakah mengenalnya?’, ooooooo seperti
   suara laki-laki”.
   “Kapan suara tersebut sering muncul ?”. “Situasi
   bagaiamana yang dapat menyebabakan suara
   tersebut sering muncul ?”. o…..o…….. saat sendiri
   dan saat suasana sepi, terus apalagi ?”.
   “Berapa sering suara tersebut muncul dalam sehari,
   apakah suara tersebut mengganggu mas Joko?”,
   oooo bagitu”. “ Bagaiamana perasaan Mas Joko
   ketika suara tersebut muncul apa yang dilakukan
   untuk menghindari suara tersebut ?”.
3. Terminsi
   a. Evaluasi Subyektif
      “ Bagamana prasaan mas Joko setelah
      berbincang-bincang tentang suara yang mas
      dengar ?”.
   b. Evaluasi Obyektif
      “Jadi suara yang mas dengar adalah ………..,
      muncul saat……….., dan yang maslakukan saat
      suara-suara tersebut muncul………. ”
   c. Rencana Tindak Lanjut
      “Baiklah mas, nanti diingat-inagat lagi yang
      suara-suara lain yang didengar, jangan lupa



                                                    58
        kalau suara-suara itu muncul lagi beritahu
        perawat biar dibantu ya !”.
     d. Kontrak
        1) Topik
           “ Bagaimana kalau kita bercakap-cakap
           tentang cara mengendalikan suara-suara
           tersebut ?”, Setuju !”.
        2) Tempat
           “Baiklah kalau bagitu, dimana kita akan
           bercakap-cakap, mungkin Mas Joko punya
           tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol
           ?”.
        3) Waktu
           “Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?”.”10
           menit atau 15menit ” “Sampai jumpa besok ya,
           Mas!”.

                 Pertemuan ke II (dua)

A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
     a. Klien sudah dapat membina hubungan saling
        percaya dengan perawat
     b. Klien dapat mengenal halusinasinya
 2. Diagnosa Keperawatan
   Perubahan persepsi sensori halusinasi pendengar.
 3. Tujuan Khusus
   Klien dapat mengontrol halusinasinya

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
    a. Salam terapeutik
       “Selamat pagi, Mas Joko?”, “Masih ingat nama
       saya? Bagus !”
    b. Evaluasi/ Validassi



                                                      59
     “Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ?”,
     apakah ada suara-suara lain yang didengar dan
     belum diceritakan kemarin ?”
   c. Kontrak
     1) Topik
        “Seperti kesempakatan kemarin, pagi ini kita
        akan bercakap-cakap tentang cara
        mengendalikan halusinasi yang Mas Joko alami
        ?”, “Bagaimana setuju ?”.
     2) Tempat
        “Kita bercakap-cakap di ruang makan saja ya !”
     3) Waktu
      “Mas Joko mau berapa lama kita bercakap-
      cakap ?”, “15 menit baiklah “

2. Kerja
  “Kemarin Mas Joko sudah menceritakan tindakan
  yang dilakukan ketika suara-suara tersebut muncul,
  masih ingat?. “Bagaimana apakah dapat mengurangi
  / menghilangkan suara-suara yang Mas Joko dengar
  ?” “ooooo…….begitu !”.
  “Kalau Mas Joko mau saya akan memberi tahu cara-
  cara lain yang dapat dilakukan ketuka suara-suara
  tersebut muncul ?”. “Bagaimana !” “Oke yang
  pertama dengan menghardik suara-suara tersebut,
  caranya dengan mengatakan saya benci kamu,
  pergi…….pergi !”, lalu tarik nafas dalam-dalam tahan
  sebentar dan keluarkan pelan -pelan melalui mulut,
  maka Mas Joko akan rilex dan santai kembali”
  “Maru saya ajari, tirukan saya ya !”, “Pertama
  katakanan”saya benci kamu pergi…..pergi
  !”,kemidian tarik nafas dan keluarkan, begitu “,
  “Bagus mudah kan ?”
  “Cara yang kedua dengan melakukan kegiatan yang
  dapat memutus / menghilangkan suara-suara itu,
  misalnya dengan mengambil air wudhu, sholat atau
  membaca Al-Qur’an, membersihkan rumah atau
  alat-alat rumah tangga, apabila sura-suara tersebut
  muncul siang atau sore hari”

                                                   60
  “Cara ketiga adalah mencari teman untuk diajak
  ngobrol sehingga suara-suara tersebut dapat
  dialihkan, tetapi cara ini tidak dapat dilakukan
  apabila suara-suara itu muncul malam hari “.
  “Jika suara sering muncul malam hari, yang dapat
  Mas Joko lakukan adalah minum obat tepat waktu,
  tepat obat,dan tepat dosis, misalnya jam 17. 30 WIB
  sehingga Mas Jojo akan terbangun pada jam 05.00
  pagi.”
  “Kalau Mas Joko suka olahraga, untuk menghindari
  suara muncul kembali Mas Joko dapat mengikuti
  olahrag dengan teman-temannya, tentunya kalau
  sore hari “
  “Bagaimana, mudahkan ?”, Mas Joko dapat pilih
  sesuai dengan kondisi dan keadaan !”

3. Terminasi
   a. Evaluasi Subjektif
      “Bagaimana rasanya setelah bercakap-cakap
      tentang cara mengendalikan sura-suara yang
      muncul ?”
   b. Evaluasi Objektif
      “Caba sebutkan kembali cara yang dapat Mas
      Joko lakukan untuk menghindari/ memutus
      suara-suara yang muncul suara-suara tersebut
      !”. : Bagus…..lagi”.
   c. Rencana Tindak Lanjut
      “Kalau suara-suara itu muncul lagi coba
      dipraktekan yang Mas Joko, siapa tahu dapat
      membantu !”.
   d. Kontrak
       1)Topik
         “ Bagaimana kalau besok keluarga Mas Joko
         menjenguk, kita bercakap-cakap lagi bersama-
         sama keluarga tentang halusinasi yang Mas
         Joko alami?”.
       2)Tempat
         “Bagaiman kalau kita bercakap-cakap diruang
         tamu saja biar lebih leluasa?”.

                                                   61
       3)Waktu
         “Mas Joko ingin berapa lama kita akan
         bercakap-cakap besok ?”. o…….15 menit
         baiklah !”.

               Pertemuan ke III (Tiga)

A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
   Klien sudah mengetahui cara-cara yang dapat
   digunakan untuk memutus atau menghilangkn
   halusinasi.
 2. Diagnosa Keperawatan
   Perubahan persepsi sensori halusinasi pendengar.
 3. Tujuan Khusus
   Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam
mengatasi halusinasinya

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
      “Selamat pagi, Pak !”. Kenalkan saya Bapak Budi
      yang merawat Mas Joko di sini, saya bisa panggil
      Bapak siapa ?”…..”. o…….ya Pak Mahmud”.
   b. Evaluasi/ Validassi
      “Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ?”,
      apakah Mas Joko masih ingat cara-cara yang
      kemarin saya ajarkan ?”. “Apakah Bapak/Ibu
      mengetahui pengertian halusinasi, gejala
      Halusinasi dan cara mengatsi halusinasi ?”.
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Pagi hari ini kebetulan Bapak Mahmud
         menengok Mas Joko, kita akan bercakap-cakap
         tetang penegertan halusinasi dan cara-cara



                                                      62
        yang harus dilakukan agar Mas Joko terhindar
        dari halusinasi ?”.
     2) Tempat
        “Kita bercakap-cakap di ruang perawatan saja
        biar lebih santai ?”.
     3) Waktu
        “Berapa lama kita bercakap-cakap, bagaimana
        kalau 30 menit ?“

2. Kerja
  “Tolong Mas Joko ceritakan tentang suara-suara di
  dengar pada Pak Mahmud, agar beliau tahu dan
  dapat membantu kalau dirumah nanti muncul lagi”.
  “ Jadi bagini, ya Pak, mas Joko ini kalau dalam
  kedokteran mengalami halusinasi”.
  “Nah apa halusinasi itu?”, Halusinasi adalah
  kesalahan dalam mengartikan rangsangan dari luar
  yang sebenarnya tidak ada, misalnya mendengar
  suara yang mengajak bicara atau menyuruh
  melakukan sesuatu padahal tidak ada yang
  mengajak bicara, seperti yang dalami mas Joko ini “.
  “Bagaiaman cara megenali orang yang mengalami
  halusinasi?”. “Bapak Mahmud akan menjumpai
  orang tesebut tampak termenung, kemudian bicara
  sendiri atau tertawa sendiri, tidak jarang orang
  tersebut menjadi gelisah, mondar mandir bingung
  dan ketakutan karena suara yang mengancam, atau
  memukul orang lain jika suara tersebut menyurus
  untuk memukul”. Bagaimana sudah jelas?”.
  “Apa akibatnya jika halusinasi tidak diatasi ?”, orang
  tersebut dapat beresiko orang tersebut akan
  melakukan kekerasan yang arahnya diri sendiri,
  orang lain atau lingkungan
  “Maka jangan heran kalau Bapak pernah melihat
  orang gila tiba-tiba melempar pakai batu atau tiba-
  tiba merusak tanaman yang ada didekatnya”.
  “Nah untuk mengindari hal terebut, ada cara agar
  halsuinasi tidak mucul, yaitu tidak membairkan
  Joko sendirian melamun, beri Mas Joko kegiatan

                                                     63
  untuk mengisi waktu luangnya, ajak mas Joko
  nonton televisi bersama, jalan-jalan atau kegiatan
  pengajian dan gotong royong” Bgaimna ?”, Bapak
  sudah paham.
  “Bila belum jelas pak Mahmud dapat bertanya ?”.
  “…….. ya jangan lupa minum obat secara tepat dan
  teratur serta antar mas Joko control atau pergi ke
  RSJsangat membantu agar mas Joko terhindar dari
  halusinasi”

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana rasanya setelah bercakap-cakap
     tentang pengertian dan cara mengendalikan sura-
     suara yang didengar Mas Joko ?”
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba sebutkan kembali pengertaian halusinasi
     dan cara-cara yang dapat keluarga lakukan agar
     Mas Jok dapat menghindari/ memutus suara-
     suara yang muncul suara-suara tersebut !”. :
     Bagus…..lagi”.
  c. Rencana Tindak Lanjut
      “Tolong ya Pak Mas Joko dibantu untuk
      menghindari suara-suara itu muncul lagi,
      caranya dengan yang sudah saya jelaskan tadi !”.
  d. Kontrak
       1)Topik
         “ Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap
         tentang manfaat dan efek samping obat yang
         Mas Joko minum?”.
       2)Tempat
         “Bagaiman kalau kita bercakap-cakap ditaman
         saja?”, Setuju !”.
       3)Waktu
         “Mau berapa lama?”. “Bagaimana kalau 10
         menit saja?”.




                                                   64
              Pertemuan ke IV (Empat)

A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
   a.    Klien dan keluarga sudah mengenal
      penegertian gejala halusinasi
   b.    Klien dan keluarga sudah mengetahui cara
      mengindri munculnya kembali suara-suara
 2. Diagnosa Keperawatan
   Perubahan persepsi sensori halusinasi pendengar.
 3. Tujuan Khusus
   Klien dapat memanfaakan obat dengan baik

B.   STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
     KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
      “Selamat pagi, Mas Joko?”, “Masih ingat nama
      saya? Bagus !”
   b. Evaluasi/ Validassi
      “Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini ?”, baik-
      baik saja kan, ada yang ingin disampaikan ?”
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Kita akan berbicara tetang jenis obat, mafaat
         obat, efek samping obat serta cara pemakaianya
         “, “Bagaiman mas Joko bersedia ?”.
      2) Tempat
           Bagaiman kalau kita bercakap-cakap di taman
         saja, biar lebih santai ?”
      3) Waktu
         “Berapa lama kita akanbercakap-cakap ?”,
         “Bagaiman kalau 15 menit ?”

 2. Kerja
   “Berapa jenis obat yang diminum Mas Joko tadi pagi
   ?”. “ ya …. Bagus”.

                                                      65
  “Jadi bagini yang Mas Joko, obat yang diminum tadi
  ada tiga macam, ini obatnya saya bawakan “.
  “ Saya jelaskan satu persatu ya ?”. “yang warnanya
  oranye ini namanya CPZ atau chlorponazin, gunanay
  untuk mempermudah mas Joko tidur sehingga dapat
  istirahat, minumnya 2x sehari pagi hari dan sore
  hari, pagi jam 07.00 dan sore jam 17.30 WIB”. “Efek
  sampingnya badan menjadi lemas, kelur ludh terus
  menerus”.
  “Nah, yang ini, namanya HPD atau haloperidole,
  karena Mas Joko dapat yang 5 mg, maka warnanya
  jambon atau pink, cara dan waktunya minum sama
  dengan CPZ, 2x sehari”. “Gunaya obat ini untuk
  menghilangkan suara-suara yang mas Joko dengar,
  selain dapat juga membaut Mas Joko lebih rileks,
  santai dan dapat mengontrol emosi, efek sampingnya
  badan menjadi kaku, terutama tangan dan kaki,
  mulut kering dan dada berdebar-debar dan
  tremor/ndredek dalam isltilah jawa”.
  “Tapi Mas Joko jangan kuatir, ada penangkalnya,
  makanya diberikan obat yang putih agak besar ini.
  Ini namany Triheksipenidile atau THP, fugsinya obat
  ini menetralakan atau menghilangkan efek samping
  yang tidak mengenakan tadi, makanya obat ini haru
  diminum bersamaan dengan obat CPZ dan HPD
  tadi”.
  “Bagaimana masih ada yang belum jelas ?”. “jangan
  lupa kalau obat ini hampir habis segera control
  kembali ya !”.

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya setelah bercakap-cakap
     tentang jensi dan manfaat obat yang mas Joko
     minum setiap hari ?”.
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba sebutkan kembali jeisn obat yang Mas Joko,
     dan ambilkan yang namanya HPD………. Dab



                                                   66
   seterusnya, sebutkan manfaatnya sekalian !”. “
   Bagus……diingat-ingat ya!”.
c. Rencana Tindak Lanjut
    “Jangan lupa obatnya diminum dengan dosis dan
    waktu yang tepat ya !”. O. ya kalau ada yang
    belum jelas bisa Mas Joko tanyakan kambali
    pada waktu lain”.
d. Kontrak
    1)Topik
       “ Bagaimana kalau kapan-kapan kita bercakap-
       cakap lagi dengan topiuk yang lain ?”.
    2)Tempat
       “Bagaiman kalau kita bercakap-cakap diteras
       saja ?”. “ Setuju !”.
    3)Waktu
       “Mu berapa lama ?”, “Bagaimana kalau 10
       menit saja?”.




                                                67
              LAPORAN PENDAHULUAN
           ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI

A. MASALAH UTAMA
   Isolasi Sosial : Menarik diri
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
   1. Pengertian
            Menurut Townsend, M.C (1998: 152). Isolasi
      social merupakan keadaan kesepian yang dialami
      oleh seseorang karena orang lain dinaggap
      meyetakan sikap negativedan mengancam bagi
      dirinya. Sedangkan menurut DEPKS RI (1989 : 117)
      penarikan diri atau withdrawal merupakan suatu
      tindakan melepaskan diri, naik perhatian maupun
      niatnya terhadap lingkungan social yang secara
      langsung dapat berifat sementara atau menetap.
            Isoalasi social merupakan keadaan dimana
      individu atau keompok mengalami atau merasakan
      kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan
      keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mapun
      untuk membuat kontak (Carpenito, L.J, 1998): 38).
      Menurut Rawlins, R.P & Heacock, (1998: 423).
      Isolasi social menarik diri merupakan usaha untuk
      menghindar dari interaksi dan hubungan dengan
      orang lain, individu merasa kehilangan hubungan
      akrab, tidak mempunayi kesempatan dalam
      berpikir, berperasaan, berprestasi atau selalu dalam
      kegagalan.
   2. Tanda dan gejala
            Menurut Townsend, M.C, (1998: 152-153) &
      Carpenito, L.J (1998:382) Isolasi menaik diri sering
      ditemukan adanaya tanda dan gejala sebagai
      berikut:
      Data subjektif:
      a Mengungkapkan perasaan tidak berguna,
         penolakan oleh lingkungan
      b Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan
         yang dimiliki.



                                                       68
   Data objektif:
   a Tampak menyendiri dalam ruangan
   b Tidak berkomunikasi,menarik diri
   c Tidak melakukan kontak mata.
   d Tampak sedih afek datar.
   e Posisi meringkuk ditempay tidur dengan
      punggung menghadap ke pintu
   f Adanya perhatian dan tindkan yang tidak sesuai
      atau imatur dengan perkembangan usianya
   g Kegagalan untuk berinteraksi dengan orang lain
   h Kurang aktivitas fisik dan verbal
   i Tidak mampu membuat keputusandan
      berkonsentrasi
   j Mengekpresikan perasaan kesepian dan
      penolakan diwajahnya
3. Penyebab
         Isolasi social menarik diri sering disebabkan
   oleh kurangnya rasa percaya kepeada orang lain,
   perasaan panic regresi ke tahap perkembangan
   sebalumnya, waham, sukar berinteraksi dimasa
   lampau, perkembangan ego yang lemah serta
   represi rasa takut (Townsend, M.C, 1998:
   152).Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S.J (1998:
   345) Isolasi sosial disebabkan oleh konsep diri
   rendah.
         Gangguan konsep diri: harga diri rendah
   adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai
   dengan menganalisa seberapa jauh perilaku
   memnuhi ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1998 :
   227). Townsend (1998: 189) harga diri endah
   merupakan evaluasi diri dari perasaan tentang diri
   atau kemampuan diri yang negatif baik langsung
   maupun      tidak    langsung.   Pendapat    senada
   diungkapkan oleh Carpenito, L.J (1998:352) bahwa
   harga diri rendah merupakan keadaan dimana
   individu megalami avaluasi diri yang nagatif
   mengenai diri atau kemampuan diri.




                                                    69
      Menurut Carpenito, L.J (1998:352); Keliat, B.A
  (1994:20); perilaku yang berhubungan dengan
  harga diri rendah antara lain :
  Data Subyektif:
  a Mengkritik diri sendiri atau orang lain
  b Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-
    lebihan
  c Perasaan tidak mampu
  d Rasa bersalah
  e Sikap negative pada diri sendiri
  f Sikap pasimis pada kehidupan
  g Keluhan sakit fisik
  h Pandangan hidup yang terpolarisasi
  i Menolak kemampuan diri sendiri
  j Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
  k Perasaan cemas dan takut
  l Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan
    balik postif
  m Mengungkapkan kegagalan pribadi
  n Ketidak mapuan menetukan tujuan

  Data obyektif:
  a. Produktifitas menutun
  b. Perilaku distruktif pada diri sendiri
  c. Perilakuk distruktif pada orang lain
  d. Penyalahgunaan Zat
  e. Menarik diri dari hubungan social
  f. Ekspresi waja malu dan rasa bersalah
  g. Menunjukan tanda depresi (sukar tidur dan
     sukar makan)

4. Akibat
         Perilaku social menarik diri beresiko terjainya
   perubahan persepsi sensori haluinasi (Townsend,
   M.C, : 1998: 156). Perubahan persepsi sensori
   halusinasi adalah pesepsi sensori yang salah
   (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau pesepsi
   sensori yang tidak sesuai dengan realita, kenyataan
   seperti melihat bayangan, atau mendengarkan

                                                     70
  suara-sura yang sebenarnya tidak ada (Johnson,
  S.B, 1995: 119) halusinasi adalah pencerarapan
  tanpa adanya rangsangan apaun dari panca indra,
  dimana orang tersebut sadar dalam keadaan
  terbangun yang dapat disebabkan oleh psiotik ,
  gangguan fungsional, organic atau histerik.
        Halusinasi        merupakan       pengalaman
  mempersepsikan yang terjadi tanpa adanya
  stimulus sensori eksternal yang maliputi line
  perasaan (pengelihatan, pedengaran, pengecapan
  penciuman, perabaan), akan tetapi yang paling
  umum adala halusinasi pendengaran (Boyd, M.A, &
  Nihart, M.A, 1998: 303: Rawlins, R.P & Heacock,
  P.E, 1998: 198). Menurut Carpenito, L.J (1998: 363)
  Perubahan persepsi sensori halusinasi merupakan
  keadaan dimana individu atau kelompok mengalami
  atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam
  jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang dating.
  Sedangkan menurut pendapat lain halusinasi
  merupakan persepsi sensori yang palsu yang terjadi
  tanpa adanya stumulus eksternal, yang dibedakan
  dari distorsi atau ilusu yang merupakan kekeliruan
  persepsi terhadap stimulus yang nyata dan pasien
  menganggap halusinasi sebagai suatu yang nyata
  (Kusuma,W,1997:284)
     Menurut        Carpentino, L.J.       (1998:363)
;Townsend,M.C,       (1998:156) dan Stuart, G.W &
Sundeen, S.J      (1998: 328-329) perubahan persepsi
sensori sering ditandai dengan adanya:
Data subjektif:
  a. Tidak mampu mengenal waktu, orang, dan
     tempat
  b. Tidak mampu memecahkan masalah.
  c. Mengungkapkan adanya halusinasi ( misalnya
     mendengar suara-suara atau melihat bayangan )
  d. Mengeluh cemas dan khawatir
Data objektif:
  a. Apatis dan cenderung menarik diri (controlling).



                                                   71
b. Tampak gelisah, perubahan perilaku dan pola
   komunikasi, kadang berhenti bicara seolah-olah
   mendengar sesuatu.
c. Menggerakan bibirnya tanpa mengeluarkan
   suara.
d. Menyeringai dan tertawa tidak sesuai.
e. Gerakan mata yang cepat.
f. Pikiran yang berubah-ubah dan konseterasi
   rendah
g. Respon-respon yang tidak sesuai (tidak mampu
   berespon terhadap petunjuk yang kompleks)




                                              72
C. MASALAH DAN DATA YANG HARUS DIKAJI
  No Masalah              Data subyektif   Data
     keperawatan                           obyektif
  1. Masalah utama        Klien            Tidak tahan
     : Isolasi social :   mengatakan       terhadap
     manarik diri         merasa           kontak yang
                          kesepian         lama
                          Klien            Tidak
                          megatakan        konsentrasi
                          tidak      dapat dan pikiran
                          berhubungan      mudah
                          social           beralih saat
                          Klien            bicara
                          megatakan        Tidak ada
                          tidak berguna    kontak mata
                                           Ekspresi
                                           wajah
                                           murung,
                                           sedih
                                           Tampak
                                           larut dalam
                                           pikiran dan
                                           ingatanya
                                           sendiri
                                           Kurang
                                           aktivitas
                                           Tidak
                                           konmunikatif

  2.   Mk: Penyebab       Mengungkapkan       Merusak diri
       gangguan           ingin diakui jati   sendiri
       konsep diri :      dirinya             Merusak
       hagrga    diri     Mengungkapkan       orang lain
       rendah             tidak ada lagi      Ekspresi
                          yang peduli         malu
                          Mengungkapkan       Menarik diri
                          tidak bisa apa-     dari
                          apa                 hubungan


                                                        73
                       Mengungkapkan     social
                       dirinya   tidak   Tidak    mau
                       berguna           makan dan
                       Mengkritik diri   tidak tidur
                       sendiri
                       Perasaan tidak
                       mampu

3.   Mk:      Akibat   Klien             Tampak
     Perubahan         mengatakan        bicara dan
     prsepsi sendiri   melihat atau      ketawa
     halusinasi        mendengar         sendiri
                       sesuatu. Klien    Mulut seperti
                       tidak mampu       bicara tapi
                       mengenal          tidak keluar
                       tempat, waktu,    suara
                       orang             Berhenti
                                         bicara seolah
                                         ,endengar
                                         atau melihat
                                         sesuatu
                                         Gerakan
                                         mata yang
                                         cepat




                                                    74
D. POHON MASALAH
              Resiko perunbahan persepsi
                  Sensori: halusinasi


                    Isolasi diri : Manarik diri
Masalah utama


                Gangguan konsep diri :
                  Harga diri rendah

     Gambar Pohon Masalah (Keliat, B.A, 1998: 6)

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
   1. Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
      berhubungan dengan isolasi social manarik diri
   2. Isolasi social manarik diri berhubugan dengan
      gangguan konsep diri : harga diri rendah

F. FOKUS INTERVENSI
   Diagnosa keperawatan : resiko perubahan persepsi
   sensori halusinasi barhubungan dengan isolasi social
   manrik diri
   1. Tujuan umum
      Klien tidak mencederai diri sendiri dan orang lain
   2. Tujuan Khusus
      a. TUK I: Klien dapat membina hubungan saling
         percaya
         1) Kriteria evaluasi
            Ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa
            tenang, ada kontak mata, mau berjabat tangan,
            mau menyebutkan mana, mau menjawab
            salam, mau duduk berdampingan dengan
            perawat, mau mengulurkan masalah yang
            dihadapi.



                                                      75
   2) Intervensi
      Bina hubungan saling percaya dengan
      mengungkapkan prinsip komunikasi
      terapeutik:
      a) Sapa klien dengan ramah baik secara verbal
         maupun non verbal
      b) Perkenalkan diri dengan sopan
      c) Tanyaan nama lengkap klien dan nama
         panggilan yang disukai klien
      d) Jelaskan tujuan pertemuan
      e) Jujur dan menepati janji
      f) Tunjukan sikap empati dan menerima klien
         apa adanya
      g) Beri perhatian kepada kilien dan perhatikan
         kebutuhan dasar klien
      Rasional :
      Hubungan salaing percaya merupkan dasar
      untuk      mempelancar      hubungan     interaksi
      selanjutnya
b. TUK II: Klien dapat menyebutkan penyebab
   manarik diri
   1) Kriteria evalusi
      Klien dapat menyebutkan penyebab menarik
      diri yang berasal dari diri sendiri orang lain dan
      lingkungan
   2) Intervensi
      a) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku
         menarik diri dan tanda- tandanya
      b) Beri kesempatan kepada klien untuk
         mengngkapkan perasaan peyebab menarik
         diri atau tidak mau bergaul
      c) Diskusikan bersama dengan klien tetang
         perilaku manrik diri, tanda-tanda serta
         penyebab yang muncul
      d) Berikan pujian terhadap kemapuan klien
         dalam mengungkapkan penyebab menarik
         diri




                                                     76
     Rasional :
     Dengan diketahui penyebab menarik diri dapat
     dihubungkan dengan factor prisipitasi yang di
     alami oleh klien
c. TUK III: Klien dapat menyebutkan keuntungan
  berhubungan dengan orang lain dan kerugian
  tidak berhubungan dengan orang lain
  1) Kriteria evaluasi
     a) Klien dapat menyebutkan keutungan
        berhubungan dengan orang lain
     b) Klien dapat menyebutkan kerigian tidak
        berhubungan dengan orang lain
  2) Intervensi
     a) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan
        keutungan berhubungan dengan orang lain
     b) Berip pengetahuan pada klien untuk
        mengungkapkan          perasan         tentang
        keuntungan berhubungan dengan orang lain
     c) Dikusikan       bersama     dengan        klien
        keuntungan berhubungan dengan orang lain
     d) Beri     reinforcement    positif    terhadap
        kemapuan        mengungkapkan        perasaan
        tentang keuntungan berhubungan dengan
        orang lain
     Rasional:
     Klien harus dicoba berinteraksi secara bertahap
     agar terbiasa membina hubungan sehat dengan
     orang lain
     a) Kaji pengetahuan klien tentang kerugian
        tidak berhubungan dengan orang lain
     b) Beri    kesempatan     pada    klein     untuk
        mengungkapkan perasaan tetang kerugian
        bila tidak berhubungan dengan orang lain
     c) Dikusikan dengan klien tentang kerugian
        tidak berhubungan dengan orang lain
     d) Beri     reinforcement    positif    terhadap
        kemapuan        mengungkapkan        perasaan
        tentang kerugian bila tidak berhubungan
        dengan orang lain

                                                    77
      Rasional:
      Mengevaluasi manfaat yang dirasakan klein
      sehigga timbul motivasi untuk beriteraksi
d. TUK IV: Klien dapat melaksanakan hubungan
   secara bertahap
   1) Krieteria evaluasi
      Klien dapat mendemintrsikan hubungan social
      secara bertahap: K P, K – P – K, K – P –
      Keluarga, K – P – P – Kelompok
   2) Intervensi
      a) Kaji kemampuan klien dalam membina
         hubungan dengan orang lain
      b) Dorong dan Bantu klien untuk berhubungan
         dengan orang lain melalui tahap: K P, K – P –
         P lain, K – P – P lain – K lain, K – P –
         Keluarga/ Kelompok/masyarakat
      c) Beri reinforcement terhadap kemampuan
         yang dicapai
      d) Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat
         berhubungan
      e) Diskusikan jadual harian yang dapat
         dilakukan bersama klien dalam mengisi
         waktu
      f) Motivasiklien untuk mengikuti kegiatan
         diruangan
      g) Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam
         ruangan
e. TUK V: Klien dapat mengungkapkan persaanya
   setelah berhubungan dengan orang lain
   1) Kriteria evalusi
      Klien dapat mengungkapkan persaanya setelah
      berhubungan dengan orang lain untuk diri
      sendiri dan orang lain
   2) Intervensi
      a) Dorong     klien   untuk    mengungkapkan
         perasaanya bila berhubungan dengan orang
         lain
      b) Diskusikan dengan klien tetang perasaan
         manfaat berhubungan dengan orang lain

                                                   78
      c) Beri reinforcement positif atas kemampuan
         klien dalam mengungkapkan perasaan
         bermanfaat berhungan dengan orang lain
f. TUK VI: klien dapat memperdayakan system
   pendukung            atau      keluarga      mempu
   mengembangkan           kemampun      klien   untuk
   berhubungan dengan orang lain
   1) Kriteria evaluasi
      Keluarga dapat :
      a) Menjelaskan perasaanya
      b) Menjelaskan cara merawat klien menarik diri
      c) Mendemontrasikan cara perawatan klien
         menarik diri
      d) Berpartisipasi     dalam    perawatan     klien
         menarik diri
   2) Intervensi
      a) Bina hubungan salaing percaya dengan
         keluarga:
         - Ucapkan salam dan perkenalkan diri
         - Samapaikan tujuan pertemuan
         - Buat kontrak waktu
         - Eksplorasi perasaan keluarga
      b) Diskusikan       dengan   anggoata    keluarga
         tentang:
         - Perilaku manarik diri
         - Penyebab perilaku menarik diri
         - Akibat yang terjadi jika perilaku manrik
            diri tidak diatasi
         - Cara keluarga mengatasi perilaku manarik
            diri
      c) Dorong anggoata keluarga untuk memberi
         dukungan          kepada      klien     untuk
         berkomunikasi dengan orang lain
      d) Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan
         bergantian menjenguk klien minimal satu
         kali seminggu
      e) Beri reinforcement atas hal-hal yang telah
         dicapai oleh keluarga



                                                     79
        Rasional :
        Keterlibatan  kelurga    sangat    mendukung
        terhadap proses perbaikan perilaku klien

G.DAFTAR PUSTAKA.
  Boyd, M.A & Nihart, MA (1998) Psychiatric Nursing
         Contemporary Pratice. Edisi 9, Lippincott-
         Raven Publisher, Philadelphia.
  Carpenito.L.J.(1998).     Buku      Saku     Diagnosa
         Keperawatan (terjemahan), Edisi 8,Penerbit
         Buku Kedokteran 1GC Jakarta
  DEPKES RI,(1989) Pedoman Perawatan Psikiatrik, Ed
         1, DEPKES RI,Jakarta
  Johnson.B.S. (1995) Psichiatric-Mental Health Nursing
         Adaptation and Growth, Edisi 2 J.B. Lippincott
         Company, Philadelphia
  Kusuma, W, (1997). Dari A sampai Z Kedaruratan
         Psiciatric Dalam Praktek, Ed I, Profeional
         Books, Jakarta
  Keliat, B.A, Dkk, (1997). Proses Keperawatan
         Kesehatan Jiwa, Ed I, EGC Jakarta
  Maramis, W.F, (1998) Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa,
         Airlangga University Press, Surabaya
  Rawilns, R.P & Heacock, PE, (1988). Clinical Manual of
         Psychiatric Nursing, Edisi 1, the C.V Mosby
         Company, Toronto
  Stuart. G.W & Sundeen, S.J, (1998). Buku Saku
         Keperawatan Jiwa (terjemahan). Edisi 3, EGC,
         Jakarta.
  Townsend, M.C, (1998). Buku Saku Diagnosa
         Keperawatan Psikiatri (terjemahan), Edisi 3,
         Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.




                                                     80
Contoh SP (Strategi Pelaksaan Isolasi Sosial : Menarik
           diri)

       STRARTEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
              KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Gangguan Konsep Diri : harga Diri Rendah
              Pertemuan ke I (satu)

A. PROSES KEPERAWATAN
   1. Kondisi
      a. Klien menyendiri
      b. Klien menghindar dari kontak mata
      c. Klien tidak dapat mempertahankan komunikasi
         lama
      d. Klien Tampak merenung di pojok ruangan
   2. Diagnosa Keperawtan
      Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
      berhubungan dengan isalasi social manarik diri
   3. Tujuan khusus
      a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
         dengan perawat
      b. Klien dapat menyebutkan penyebab manrik diri

B. STERTEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)
   1. Orientasi
      a. Salam Terapeutik
          “ Selamat pagi. Mas, sedang apa ?”. “Kenalkan
         nama saya Iwan Setiawan”, mas bisa panggil saya
         Bapak atau mas Iwan saja”. “Mas namanya siapa
         ?’………..o o        o Sigit Eko Widiyanto, senang
         dipanggil siapa?”. Mas Sigit atau mas Eko”. Ooo
         bagitu baiklah mas Widi “saya akan menemani
         Mas Wid selama 2 minggu kedepan, nanti bisa
         cerita masalah yang dialami mas Widi




                                                     81
   b. Evaluasi/Validasi
      “Bagaimana perasaan Mas Joko saat ini?....o o o
      kalau saya lihat mas Widi tampak duduk sendiri
      ada apa sebenarnya?”.
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Maukan ibu siti bercakap-cakap tentang
         kejadian dirumah dan yang meyebabkan Mas
         Widi hanya diam menyendiri, mau kan ?”.
      2) Tempat
         “Dimana kita akan berbicang-bincang Mas ?,
         Bagaimana kalau di taman ?”. mau!”.
      3) Waktu
         “ Kita akan bercakap-cakap berapa menit ?”, 5
         manit saja, ya !”.
2. Kerja
   “yeach sekarang coba Mas Widi ceritakan di rumah
   tinggal siapa ?”. “ terus siapa lagi ……bagus “.
   “Diantara mereka siapa yang paling dekat dengan
   Mas Widi ?”.
   Mas Widi tadi mengatakan lebih dekat dengan ibu
   dan kakak, mengapa. Apa ada sesuatu yang
   membuat Mas Wid senang ?”.
   “ Nah sekarang diantara mereka, apakah ada yang
   Mas Widi tidak suka, yang sering membuat jengkel
   misalnya ?”, o……….begitu”, mengapa Mas Widi
   sangat tidak menyukainya ?”…………. sering
   memarahi Mas Widi”.
   “Apa yang dilakukan mas Widi supaya dekat dengan
   orang lain?”. “Bagus!”. “sekarang apa yang
   menyebabkan mas Widi senang menyendiri dan
   tidak mau ngobrol dengan orang lain ?”, Apakah
   ada orang yang mengejek atau menghina ?”. “Atau
   mungkin tidak ada teman yang sebaya dengan Mas
   Widi ?”. sehingga enggan keluar rumah ?’.




                                                   82
     3. Terminsi
        a. Evaluasi Subyektif
           “ Bagamana prasaan mas Joko setelah kita
           berbincang-bincang          tentang     pneybab
           menyendiri/tidak mau bergaul ?’.
        b. Evaluasi Obyektif
           “Jadi yang membuat mas Widi menyendiri tadi
           apa saja ? tolong ceritakan kembali !”……..yach
           bagus”.
        c. Rencana Tindak Lanjut
           “Baiklah mas, nanti diingat-inagat lagi yang
           menyebabkkan enggan bargaul dengan orang lain
           yang lain dan esok ceritakan kepada saya ya !”
        d. Kontrak
           1) Topik
              “ Bagaimana kalau kita bercakap-cakap
              tentang cara mengendalikan suara-suara
              tersebut ?”, Setuju !”.
           2) Tempat
              “Baiklah kalau bagitu, dimana kita akan
              bercakap-cakap, mungkin Mas Widi punya
              tempat yang teduh dan santai untuk ngobrol?”.
           3) Waktu
              “Berapa lama kita akan bercakap-cakap ?”.”10
              menit !, ya baiklah”. “Sampai jumpa besok ya,
              Mas!”.



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Gangguan Konsep Diri : harga Diri Rendah
              Pertemuan ke II (dua)

A.    PROSES KEPERAWATAN

     1. Kondisi
       a. Klien sudah dapat membina hubungan saling
          percaya dengan perawat

                                                        83
       b. Klien dapat mengenal penyebab menarik diri
     2. Diagnosa Keperawatan
       Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
       berhubungan dengan isalasi social manarik diri
     3. Tujuan Khusus
       Klien dapat menyebutkan keuntungan
       berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
       berhubungan dengan orang lain

B.    STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
      KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
       “Selamat pagi, Mas Widi?”, “Masih ingat nama
       saya? Bagus !”
   b. Evaluasi/ Validassi
      “Bagaimana perasaan Mas Widi saat ini ?”, apakah
      ada penyebab menyendiri yang lain dan belum
      diceritakan kemarin ?”
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Seperti kesempakatan kemarin, pagi ini kita
         akan bercakap-cakap tentang keuntungan
         berhubungan dengan orang lain serta kerugian
         tidak berhubungan dengan orang lain ?”.
      2) Tempat
         “Seperti kesepkatan kemarinkita bercakap-cakap
         di taman ya !”
      3) Waktu
         “Mas Widi mau berapa lama kita bercakap-
         cakap?”, “10 menit, baiklah “

 2. Kerja
   “Kemarin Mas Joko sudah menceritakan penyebab
   menyendiri, sekarang   menurut Mas Widi apa
   keuntungan berhubungn dengan orang lain ?”, “ya…
   bagus, Terus apa lagi?”. “Kalau kerugian tidak



                                                     84
  berhubungan dengan orang lain ?”. “……..tidak tahu
  ya tidak apa-apa”.
  “Jadi begin, banyak manfaat yang dapat diambil jika
  kita mau bergaul atau berhubungan dengan orang
  lain, misalnya jadi banyak teman, dapat mengisi
  waktu dan terhindar dari kesepian”. Dengan bergaul
  kita juga jadi tambah ilmu dan wawasan”.
  “Nah, jika kita tidak mau bergaul atau hanya
  menyendiri dikamar, kita jadi banyak melamun dan
  akhirnya tidk punya teman untuk dimintai bantuan
  jika punya masalah”.
  “Bagaimana sudah mengerti keutungan dan kerugian
  bergaul ?”

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya setelah bercakap-cakap
     tentang keuntungan bergaul dengan orang lain
     dan kerugian tidak bergaul ?”
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba sebutkan kembali keuntungan bergaul !”. :
     Bagus…..lagi”, “kalau kerugianya…….?”.
  c. Rencana Tindak Lanjut
     “Nah karena Mas Widi sudah tahu keuntungan
     bergaul maka harus dipraktikan ya !”. nanti pak
     Iwan Bantu, bagaimana, bersedia ?”.
  d. Kontrak
       1)Topik
         “ Bagaimana kalau besok kita mulai belajar
         berkenalan dengan teman lain ?”.
       2)Tempat
         “Dimana kita akan belajar berkenalan ?”.
         O……. diruang tamu baiklah”.
       3)Waktu
         “Mas Joko ingin berapa lama kita belajar
         berkenalan ?”. o…….15 menit baiklah !”.




                                                  85
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : Gangguan Konsep Diri : harga Diri Rendah
              Pertemuan ke III (Tiga)

A.    PROSES KEPERAWATAN

      1. Kondisi
        Klien sudah mengetahui keuntungan berhubungan
        dengan orang lain dan kerugian tidak
        berhubungan dengan orang lain
      2. Diagnosa Keperawatan
       Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
       berhubungan dengan isalasi social manarik diri
      3. Tujuan Khusus
        Klien dapat melaksanakan hubungan social secara
        bertahap dengan antara klien dengan perawat

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)

     1. Orientasi
       a. Salam terapeutik
          “Selamat pagi, Mas Widi !”.
       b. Evaluasi/ Validassi
          “Bagaimana perasaan Mas Widi saat ini ?”.
       c. Kontrak
          1) Topik
             “Pagi hari ini kita akan berlatih cara
             berkenalan yang baik, kan Mas ?”.
          2) Tempat
             “Sesuai kesepakatan kemarin kita akan berlatih
             di ruang tamu kan, Mas?”.
          3) Waktu
             “Berapa lama kita bercakap-cakap, bagaimana
             kalau 15 menit ?“




                                                        86
2. Kerja
  “Menurut Mas Widi, bagaiman cara kita berkenalan
  dengan orang lain ?”
  “Yach bagus, apakah perlu kita berdiri dan berjabat
  tangan ?” terus apa yang kita sampaikan saat
  berkenalan ?”.
  “Bagus !”. “jadi kita sedang berkenalan, untuk
  menambah kehangatan dan keakraban kita perlu
  berjabat tangan dan berdiri, sedangkan seperti yang
  Mas Widi sebutkan, kita bisa menyampaikan nama,
  alamat, hoby dan lain-lain !”.
  “Nah kita sekarang telah tahu cara berkenalan yang
  baik, bagaimana kalu kita coba ?”. “angggap Mas
  Widi belum kenal saya, dan saya belum kenal Mas
  Widi oke!”. “kita mulai, ayo kita berdiri !”.
  “Aku ajari dulu, ya!”. “kenalkan nama saya iwan
  setiawan. Saya biasa dipanggil Iwan, rumah saya
  Kalinergoro, Magelang” dan hobby saya memancing
  dan membaca !’. “Kalau anda siapa, saya bisa
  penggil……..”rumahnay dimana ?” siapa tahu saya
  bisa mampir suatu saat ?, apa hoby anda ?”……..wah
  bagus sekali”.
  “Nah sekarang gentian mas berkenalan dengan saya
  ?”………..terus!”. Bagus sekali, nanti dicoba pada
  temannya, ya !”

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana         perasaanya   setelah    berlath
     berkenalan?”
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba ulangi lagi cara berkenalan yang sudah kita
     pelajari tadi !”. Bagus !”.
  c. Rencana Tindak Lanjut
     “Tolong Mas Joko dibantu untuk menghindari
     suara-suara itu muncul lagi, caranya dengan yang
     sudah saya jelaskan tadi !”.




                                                    87
     d. Kontrak
         1)Topik
           “ Bagaimana kalau besok kita bercakap-cakap
           tentang manfaat dan efek samping obat yang
           Mas Joko minum?”.
         2)Tempat
           “Bagaiman kalau kita bercakap-cakap ditaman
           saja?”, Setuju !”.
         3)Waktu
           “Mau berapa lama?”. “Bagaimana kalau 10
           menit saja?”.



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

          Masalah : Isolasi sosial menarik diri
               Pertemuan ke IV (Empat)

A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
   a. Klien mengetahui cara bekenalan yang baik
   b. Klien dapat mempraktekan perkenalan diri dengan
      perawat
 2. Diagnosa Keperawatan
    Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
    berhubungan dengan isalasi social manarik diri
 3. Tujuan Khusus
   Klien dapat mengembangkan hubungan secara
   bertahap dengan klien lain dan perawat lain dengan
   benar

B.   STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
     KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
      “Selamat pagi, Mas Joko?”.

                                                    88
  b. Evaluasi/ Validassi
     “Bagaimana perasaan Mas Widi saat ini ?”, baik-
     baik saja kan, ada yang ingin disampaikan ?”
  c. Kontrak
     1) Topik
        “Kita akan memperaktikan cara berkenalan yang
        sudah kita pelajari kemarin“, “Bagaiman mas
        Joko bersedia ?”.
     2) Tempat
        Bagaiman kalau kita bercakap-cakap di ruang
        makan saja, biar lebih santai ?”
     3) Waktu
        “Berapa lama kita akanbercakap-cakap ?”,
        “Bagaiman kalau 15 menit ?”

2. Kerja
  “Nah, Mas Widi ingat apa yang akan kita lakukan
  sekarang ?”......”ya berkenalan. Sekarang Mas Widi
  berkenalan dengan teman yang lain”, silahkan !”.
  ”..........ya bagus!”.
  ”Berkenalan dengan teman sudah, Bagaimana kalau
  sekarang Mas Widi berkenalan dengan Pak Mantri
  yang sedang duduk di ruang perawatan itu ?”, nggak
  apa-apa,saya temani”.
  ” Ya bagus, Bagaimana perasaanya sekarang, masih
  takut berkenalan dengan orang lain ?”.

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya setelah berkenaln dengan
     teman dn perawat lain ?”.
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba sebutkan kembali siapa nama teman Mas
     Widi tadi ?”seterus Pak mantra tadi siapa namanya
     ? …… Bagus.
  c. Rencana Tindak Lanjut
     “Jangan lupa nanti berkenalan dengan teman-
     teman lain !”. Dan ngobrol dengan yang lain biar
     tidak jenuh dan banyakmelamun”.

                                                   89
     e. Kontrak
         1)Topik
           “ Bagaimana kalau keluarga menengok, kita
           bercakap-cakap lagi tentang perlunya bergaul
           dengan yang lain ?”.
         2)Tempat
           “Bagaiman kalau besok kita bercakap-cakap
           diteras saja ?”. “ Setuju !”.
         3)Waktu
           “Mu berapa lama ?”, “Bagaimana kalau 10
           menit saja?”. ”Sampai jumpa !”.



STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

          Masalah : Isolasi sosial menarik diri
                Pertemuan ke V (Lima)

A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
   c. Klien sudah dapat berkenalan dengan klien lain
      dan perawat lain
   d. Klien mau berkomuisi secara verbal dan non verbal
      selama kurang lebih 5 menit
 2. Diagnosa Keperawatan
   Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
   berhubungan dengan isalasi social manarik diri
 3. Tujuan Khusus
   Klien dapat mengungkapkany setelah berkenalan
   dan ngobrol dengan orang lain

B. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
     “Selamat pagi, Mas Widi ?”. Baik-baik saja kan ?”.

                                                     90
  b. Evaluasi/ Validassi
     “Bagaimana perasaannya Mas Widi saat ini ?”,
     apakah sudah berhubungan dengan teman yang
     lain ?”
  c. Kontrak
      1) Topik
        “Seperti kesempakatan kemarin, pagi ini kita
        akan bercakap-cakap tentang perasaan Mas
        Widi setelah berhubungan dengan teman yang
        lain ?”.
      2) Tempat
        “Kita bercakap-cakap di ruang makan saja !”
      3) Waktu
        “Mas Widi mau berapa lama kita bercakap-
        cakap?”, “5 menit, baiklah “

2. Kerja
  “Kemarin Mas Widi sudah berkenalan dengan teman
  lain, perawat lain, sekarang bagiamana perasaanya
  ?”. ” Tolong ceritakan pada saya !”.
  ”Senang, terus apa lagi ?”.
  ”Nah      kalau    begitu,  ada      manfaatnya kan
  berhubungan dengan orang lain ”> makanya jangan
  diam saja, cari teman yang banyak, dan jangan lupa
  rutin minum obat, agar rasa malu yang Mas Widi
  alami dapat hilang (tidak muncul lagi)”.

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya setelah mengungkapkan
     prasaan berkenalan dengan yang lain ?”.
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba kembali utarakan perasaanya setelah
     berkenalan dengan orang lain !” Bagus …….apa
     lagi”.
  c. Rencana Tindak Lanjut
     “Jangan lupa nanti berkenalan dengan teman-
     teman lain !”. Dan ngobrol dengan yang lain biar
     tidak jenuh dan banyak melamun”.

                                                  91
   d. Kontrak
       1)Topik
         “ Bagaimana kalau keluarga menengok, kita
         bercakap-cakap lagi bersama keluarga Mas
         Widi yang dulu suka menyendiri di kamar ?”.
       2)Tempat
         “Bagaiman kalau besok keluarga datang, kita
         bercakap-cakap di ruang tamu saja biar lebih
         lelusa ?”.
       3)Waktu
         “Mas Widi ingin berapa lama kita bercakap-
         cakap besok ?”, “ o.........20 menit, baiklah !“.



       STRARTEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
              KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Gangguan Konsep Diri : harga Diri Rendah
             Pertemuan ke VI (Emam)

A. PROSES KEPERAWATAN
   4. Kondisi
      Klien sudah mengetahui cara berkenalan dan
      manfaat bergaul dengan orang lain
   5. Diagnosa Keperawatan
      Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
      berhubungan dengan isalasi social manarik diri
   6. Tujuan khusus
      a. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam
         mengatasi manarik diri

B. STERTEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)
   1. Orientasi
      d. Salam Terapeutik
         “ Selamat pagi Pak!”. “Kenalkan Bapak yang
         merawat Mas Widi di sini, saya bisa panggil
         Bapak siapa ?’………..o o ya Pak Jaya”.

                                                       92
  e. Evaluasi/Validasi
     “Bagaimana       perasaan    Mas     Joko    saat
     ini?....apakah Mas Widi mengenal bapak ini siapa
     ?”. ”Apakah Bapak sudah tahu mangapa Mas
     Widi senang menyendiri di kamar ?”.
  f. Kontrak
     1) Topik
        “Pagi ini kebetulan Pak Jaya menengok Mas
        Widi, kita akan bercakap-cakap tentang
        pengertian, penyebab menarik diri, akibat
        menarik diri dan cara mengatasinya,
        bagaimana pak, bersedia ?”.
     2) Tempat
        “Bagaiman kalau kita berbicang-bincang di
        ruang tamu biar lebih santai ?”.
     3) Waktu
        “ Berapa lama kita akan bercakap-cakapnya ?”,
        30 menit !”.

2. Kerja
   “Tolong Bapak ceritakan apa yang dilakukan Mas
   Widi di rumah ?”. “ terus apalagi ?”……bagus “. “Apa
   yang dilakukan keluarga agar Mas Widi mau keluar
   dari kamar dan bergaul dengan teman-temanya ?”.
   “Jadi, begini, ya Pak Mas Widi ini kalu dalam istilah
   kedokteran mempunyai perilau manrik diri, artinya
   Mas Widi mempunyai kebiasaan menyendiri di
   kamar, malas melakukan aktivitas (mandi), tidak
   mau bicara dan bayak melamun”. “Apa banar Mas
   Widi mempunyai perilaku seperti itu Pak ?’.
   “Orang yang mempunyai perilaku demikian
   baisanya disebabkan, karena perasaan malu atau
   takut diejek atau dihina orang lain”. “Kemudian bila
   perilaku ini tidak diatasi, maka dapat menimbulkan
   perilaku yang lain tampak ketakutan, tertawa atau
   bicara sendiri dan akdang-kdang justru menyerang
   orang lain”.
   “Bagaimana agar Mas Widi ini tidak menyendiri lagi
   dan terjadi seperti hal tadi “. “Maka keluarga harus

                                                     93
  menemani Mas Widi, mengajak Mas Widi bergaul
  dengan tetangga, mengajak nonoton televisi, makan
  bersama, bnerjalan-jalan”. “jangan lupa awasi
  ketika Mas Widi minum obat dan libatkan Mas Widi
  dalam pekerjaan rumah, seperti membersihkan
  rumah atau alat-alat rumah tangga”.
  “Bagaimana pak sudah paham atau mungkin ada
  yang mau ditanyakan ?”.

3. Terminsi
   a. Evaluasi Subyektif
      “ Bagaimana prasaannya Pak setelah kita
      berbincang-bincang        tentang      pengertian,
      penyebab, akibat dan cara mengatasi erpilaku
      menarik diri ?’.
   b. Evaluasi Obyektif
      “ Coba sebutka kembali !” pengertian, penyebab,
      akibat dan cara yang dapa dilakukan agar Mas
      Widi tidak mengalamiu menarik diri ?”.
   c. Rencana Tindak Lanjut
      “Tolong ya Pak Mas Widi dibantu untuk
      mengembangkan hubungan dengan orang lain
      (teman dan tetangga)”
   d. Kontrak
      1) Topik
         “ Bagaimana kalau besok Pak Jaya menengok
         lagi kita bercakap-cakap tentang menfaat dan
         efek samping obat yang Mas Widi minum ?”.
      2) Tempat
         “Bagaimana kalau kita bercakap-cakap, di
         ruang perawatan saja ?”. Setuju !”.
      3) Waktu
         “Mau berapa lama?”.”Bagaimana kalau 15
         menit saja ?”.




                                                     94
               LAPORAN PENDAHULUAN
                PERILAKU KEKERASAN


A. MASALAH UTAMA
   Masalah utama : Resiko mencederai diri sendiri, orang
   lain dan lingkugan

B. PROSES TERJADINYA
  1. Pengertian
            Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan
     dimana seseorang melakukan tindakan yang
     membahayakan secara fisik baik terhadap diri
     sendiri, orang laindn lingkungan yang merupakan
     respon dari kecemasan dan kebutuhan yang tidak
     terpenuhi yang dirasakan segai ancaman (Stuart &
     Sundeen, 1995). Menurut Harper, et al. (1992)
     dalam Boyd & Nihart (1998) perilaku kekerasan
     adalah tindakan fisik karen dorongan yag kuat
     dapat enyebabkan orang lain atau obeyk lain
     (barang-barang rumah tangga) dalam rangka untuk
     menyampaikan         pesan,     dimana        perilaku
     menganggap      perilakunya    benar     dan     tidak
     menimbulkan korban.
            Individu    melakukan     kekerasan      akibat
     frustasi yang dirasakan sebagai pemicu dan
     individu     tidak      mampu       berfikir     serta
     mengungkapkan         secara    verbal,      sehingga
     mendemontrasikan pemecahan maslah dengan cara
     yang tidak adekuat (Rawlins & Heacock, 1998).
     Menurut Schulz & Videbeck (1994) dan Sives (1998)
     dikatakan sebagai setiap pasien mempunyai
     kemampuan untuk melakukan tindakan merusak
     orang lain sebagai akibat proses internal pasien dan
     perasaan marah.




                                                        95
2. Tanda dan Gejala
   Klien     dengan    perilaku    kekerasan     sering
   menunjukan adanya (Boyd & Nihart, 1998) antara
   lain :
   Data Subyektif :
   a. Klien menegeluh perasaan terancam, marah dan
      dendam
   b. Lien mengungkapkan perasaan tidak berguna
   c. Klien mengungkapkan perasaan jengkel
   d. Klein mengungkapkan adanya keluhan fisik
      seperti dada berdebar-debar, rasa tercekik, dada
      terasa sesak dan bingung
   e. Klien mengetakan mendengar suara-suara yang
      menyusuh melukai dii sendiri, orang lain dan
      lingkungan
   f. Klien    mengatakan     semua     orang     ingin
      menyerangnya
   Data Subyektif:
   a. Muka merah
   b. Meta melotot
   c. Rahang dan bibir mengatup
   d. Tangan da kaki tegang, tangan mengepal
   e. Tampak mondar mandir
   f. Tampak berbicara senidiri dan ketakutan
   g. Tampak berbicara dengan suara tinggi
   h. Tekanan darah meningkat
   i. Frekuensi denyut jantung meningkat
   j. Nafas pendek

3. Penyebab
        Perilaku kekerasan sering sebabkan oleh
   karena kurangnya percaya pada orang lain,
   perasaan panik reaksi kemarahan, waham sukar
   berinteraksi dimasa lampau, perkembangan ego
   yang lemah serta represi rasa takut (Townsend,
   M.C, 1998 : 150). Menurut Stuart, G.W & Sundeen,
   S.J (1998: 315) perilaku kekerasan disebabkan oleh
   gangguan konsep diri harga diri rendah.



                                                    96
     Gangguan konsep diri harga diri rendah adalah
pinilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi
ideal diri (Stuart dan Sundeen, 1998:227). Menurut
Townsend (1998:189) harga diri rendah merupakan
evaluasi diri dari perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negatif baik langsung
maupun       tidak   langsung.     Pendapat   senada
diungkapkan oleh Carpenito, L.J (1998:352) bahwa
harga diri rendah merupakan keadaan dimana
individu megalami avaluasi diri yang nagatif
mengenai diri atau kemampuan diri.
     Menurut Carpenito, L.J (1998:352); Keliat, B.A
(1994:20); perilaku yang berhubungan dengan
harga diri rendah antara lain :
     Data Subyektif:
a. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
b. Perasaan tidak mampu
c. Rasa bersalah
d. Sikap negative pada diri sendiri
e. Sikap pasimis pada kehidupan
f. Keluhan sakit fisik
g. Menolak kemampuan diri sendiri
h. Pengurangan diri/mengejek diri sendiri
i. Perasaan cemas dan takut
j. Merasionalisasi penolakan/menjauh dari umpan
   balik postif
k. Mengungkapkan kegagalan pribadi
l. Ketidak mapuan menetukan tujuan
   Data obyektif:
a. Produktifitas menutun
b. Perilaku distruktif pada diri sendiri
c. Menarik diri dari hubungan social
d. Ekspresi wajah malu dan rasa bersalah
e. Menunjukan tanda depresi (sukar tidur dan
   sukar makan)




                                                 97
 4. Akibat
          Menurut Townsend, M.C 1998 : 156) perilaku
    kekerasan dimana seseorang melakukan tindakan
    yang dapat membahayakan, baik diri sendiri
    maupun orang lain
          Seseorang dapat beresiko mengalami perilaku
    kekerasan pada dan orang lain dapat menunjukan
    perilaku :
    a. Mengungkapkan mendengar atau melihat obyek
       yang mengancam
    b. Mengungkapkan perasaan takut, cemas khawatir
    Data obyektif :
    a. Wajah tegang merah
    b. Mondar mandir
    c. Meta melotot, Rahang mengatup
    d. Tangan mengepal
    e. Keluar keringat banyak
    f. Mata merah
    g. Tatapan mata tajam
    h. Muka merah

C. MASALAH DAN DATA     YANG PERLU DIKAJI
   No Masalah           Data subyektif Data
      keperawatan                        obyektif
   1. Masalah utama:    Klien            Tampa
      perilaku          mengatakan       cemas dan
      kekerasan         telah merusak khawatir
                        alat-alat rumah Wajah
                        tangga       dan tampak
                        emukul     orang tegang
                        lain             Mondar-
                                         mandir
                                         Merasa
                                         diremahkan
                                         orang lain

  2.   Mk:   Penyebab Mengungkapkan Merusak
       gangguan       ingin diakui jati diri sendiri
       konsep diri : dirinya            Merusak

                                                       98
     harga        diri Mengungkapkan        orang lain
     rendah            tidak ada lagi       Eksprsi
                       yang peduli          malu
                       Mengungkapkan        Menarik diri
                       tidak bisa apa-      dari
                       apa                  hubugan
                       Mengungkapkan        sosial
                       dirinya     tidak    Tampak
                       berguna              mudah
                       Mengkritik diri      tersiggung
                       sendiri              Tidak mau
                       Perasaan tidak       makan dan
                       mampu                tidak mau
                                            tidur

3.   Mk:        Akibat   Klien              Wajahklien
     Reisko              mengungkapkan      tampak
     mencederai diri     cemas dan          tegang
     sendiri      dan    khawatir           Meta merah
     orang lain          Klien              dan melotot
                         mengungkapkan      Rahang
                         apa yang dilihat   mengatup
                         dan didengar       Tangan
                         mengancam dan      mengepal
                         membuatnya         Mondar
                         takut              mandir




                                                      99
POHON MASALAH

             Risiko mencederai diri sendiri,
               Orang lain, & lingkungan



                     Perilaku kekerasan
Masalah utama



                Gangguan konsep diri :
                  Harga diri rendah

     Gambar Pohon Masalah (Keliat, B.A, 1998: 6)


D.DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
     lingkungan     berhubungan   dengan    perilaku
     kekerasan
  2. Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri
     rendah

E. FOKUS INTERVENSI
            Diagnosa keperawatan : Resiko mencederai diri
   sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan
   dengan perilaku kekerasan
   1. Tujuan umum
      Klien dapat melanjutkan hubungan peran sesui
      dengan tanggung jawab
   2. Tujuan khusus
      a. TUK I : Klien dapat membina hubungan saling
         percaya
         1) Kreteria evalusi
            a) Klien mau membalas salam
            b) Klien mau berjabat tangan
            c) Klien mau Menyebutkan mana

                                                     100
     d) Klien mau Kontak mata
     e) Klien mau Mengetahui nama perawat
     f) Klien mau Menyediakan waktu untuk kontak
  2) Intervensi
     a) Beri salam dan penggil nama klien
     b) Sebutkan nama perawat sambil berjabat
        tangan
     c) Jelaskan maksud hubungan interaksi
     d) Jelasakan tetang kontrak yang akan dibuat
     e) Beri rasa aman dan sikap empati
     f) Lakukan kontak singkat tapi sering
     Rasional:
     Hubungan      salamng     percaya   merupakan
     landasan utama untuk hubungan selanjutnya

b. TUK II: Klien dapat engidentifikasi pernyebab
   perilaku kekerasan
   1) Kreteria evalusi
      a) Klien dapat mengungkapkan perasaannya
      b) Klein dapat mengungkapkan penyebab
         perasaan jengkel/kesal (dari diri sendiri,
         ligkungan dan orang lain)
   2) Intervensi
      a) Beri kesempatan untuk mengungkapkan
         perasaannya
      b) Bantu klien untuk mengungkap perasaanya
      Rasional :
      Dengan       memberi     kesempatan   untuk
      mengungkapkan        perasaanya    membantu
      mengurangi stres dan penyebab perasaan
      jengkel dapat diketahui

c. TUK III: Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda
   perilaku kekrasan
   1) Kreteria evalusi
      a) Klien dapat mengungkapkan perasaan saat
         marah atau jengkel
      b) Klein dapat menyimpulkan tanda-tanda
         jengkel/kesal yang dialami.

                                                101
  2) Intervensi
     a) Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami
        saat marah/jengkel
        Rasional : untuk mengetahui hal-hal yang
        dialami dan dirasakan saat jengkel
     b) Obsevasi tanda –tanda perilaku kekerasan
        pada klien
        Rasional :
        Untuk mengetahui tanda-tanda klien saat
        jengkel/marah
     c) Simpulkan bersama klien tanda-tanda klien
        saat jengkel/marah yang dialami
        Rasional:
        Menarik kesimpulan bersama klin supaya
        mengetahui secara garis besar tanda-tanda
        marah/jengkel

d. TUK IV: Klien dapat mengidentifikasi perilaku
   kekerasan yang biasa dilakukan
   1) Kreteria evalusi
      a) Klien   dapat    mengungkapkan      perilaku
         kekerasan yang dilakukan
      b) Klein dapat bermain peran dengan perilaku
         kekerasa yang biasa dilakukan
      c) Klien dapat mengetahui cara yang biasa
         dapat menyelesaikan masalah atau tidak
   2) Intervensi
      a) Anjurkan klien mengungkapkan perilaku
         kekerasa yang biasa dilakukan klien
         Rasional :
         Mengekplorasi perasaan klein terhadap
         perilaku kekerasa yang biasa dilakukan
      b) Bantu klien dapat bermain peran dengan
         perilaku kekerasa yang biasa dilakukan
         Rasional :
         Untuk mengetahui perilaku kekerasa yang
         biasa dilakukan dan dengan bantuan
         perawat     bisa    membedakan      perilaku
         konstruktif dan destruktif

                                                102
    c) Bicaraka dengan klien apakah dengan cara
       yang klien lakukan masalahnya selesai?
       Rasional:
       Dapat membantu klien dalam menemukan
       cara yang dapat menyelesaikan masalah

e. TUK V: Klien dapat mengidentifikasi akibat
   perilaku kekrasan
   1) Kreteria evalusi
      a) Klien dapat mengungkapkan akibat dari cara
         yang dilakukan klien
   2) Intervensi
      a) Bicarakan akibat kerugian dari cara yang
         dilakukan klien
         Rasional :
         Membantu klein menilai perilaku kekerasa
         yang biasa dilakukannya
      b) Bersama klien meyimpulkan akibat        cara
         yang dilakukan oleh klien
         Rasional :
         Dengan      mengetahui    akibat    perilaku
         kekerasan       dihrapkan klien merubah
         perilaku distruktif yang dilakukan menjadi
         perilaku konstruktif
      c) Tanyakan pada klien apakah ia ingin
         memperlajari cara baru yang sehat ?
         Rasional:
         Agar klien mengetahui cara lain yang lebih
         konstruktif

f. TUK VI: Klien dapat mengidentifikasi cara
   konstruktif dalam berespons terhadap kemarahan
   1) Kreteria evalusi
      Klien dapat melakukan cara berespons
      terhadap kemarahan secara konstruktif
   2) Intervensi
      a) Tanyakan pada klien apakah ia ingin
         memperlajari cara baru yang sehat ?
         Rasional :

                                                103
       Dengan mengidentifikasi cara konstruktif
       dalam berespons terhadap kemarahan dapat
       membantu lien menemukan cara yang baik
       untuk mengurangi kejengkelanya sehingga
       klien tidak stres lagi
    b) Beri pujian jika klien menemukan cara yang
       sehat
       Rasional :
       Reinforcement positif        dapat memotivasi
       danmeningkatkan harga dirinya
    c) Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat
       - Secara fisik : tarik nafas jika sedang
          marah/jengkel, memukul benda/kasur
          atau olah raga atau pekerjaan yang
          menguras tenaga
       - Secara verbal : bahwa anda sedang kesal,
          tersinggung/jengkel (saya kesal anda
          berkataseperti itu; saya marah karena
          mama tidak memnuhi keinginan saya)
       - Secara sosial : Lakukan dalam kelompok
          cara-cara marah yang sehat, latihan
          asertif,  latihan     manajeman    perilaku
          kerasan
       - Secara      spiritual    :   anjurkan    lien
          sembahyang,         berdo’a/ibadah     lain:
          meminta kepada Tuhan untuk diberi
          kesabaran     mengadu       kepada   Tuhan
          kekerasam/kejengkelan
       Rasional:
       Berdiskusi dengan klien untuk memilih cara
       yang lain sesuai dengan kemampuan klien

g. TUK VII: Klien dapat mengontrol perilaku
   kekerasan
   1) Kreteria evalusi
      Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan
        - Fisik : tarik, olah raga dan menyiram
           tanaman



                                                 104
        - Verbal : mengatakan secara langsung
           dengan tidak menyakiti
        - Spiritual : sembahyang, berdo’a/ibadah
           yang lain
  2) Intervensi
     a) Bantu klien memilih cara yag tepat untuk
        klien
        Rasional :
        Memberikan stimulasi kepada klien untuk
        menilai respons perilaku kekerasan secara
        tepat
     b) Bantu klien mengidentifikasi manfaat cara
        yang dipilih
        Rasional :
        Membantu klien membuat keputusan untuk
        memilih cara yang akan digunakan dengan
        melihat manfaatnya
     c) Bantu klien menstimulasi cara tersebut (role
        play)
        Rasional:
        Agar klien mengetahui cara marah yang
        kontrutif
     d) Berikan       reinforcement     postif    atas
        keberhasilan lien menstimulasi cara tersebut
        Rasional :
        Pujian dapat meningkatkan motivasi dan
        harga diri klien
     e) Anjurkan klien menggunakan cara yang telah
        dipilihnya jika ia sedang kesal atau jengkel
        Rasional :
        Agar klien menggunakan cara yang telah
        dipilihnya jika ia sedang kesal atau jengkel

h. TUK VIII: Kien mendapat dukungan keluarga
   dalam mengontrol perilaku kekerasan
   1) Kreteria evalusi
      a) Kelurga klin dapat menyebutkan cara
         merawat klien yang berperilaku kekerasan



                                                 105
    b) Keluarga klien merasa puas dalam merawat
       klien
 2) Intervensi
    a) Indentifikasi kemampuan keluarga merawat
       kien dari sikap apa yang telah dilakukan
       keluarga terhadap klien selama ini
       Rasional :
       Kemampuan keluarga dalam mengdentifikasi
       akan     memugkinkan       keluarga    untuk
       melakukan penilaian terhadap perilaku
       kekerasan
    b) Jelaskan peran serta keluarga dalam
       perawatan klien
       Rasional :
       Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang
       cara merawat klien sehingga keluarga terlibat
       dalam perawatan klien
    c) Jelaskan cara-cara merawat klien
       - Terkait dengan cara mengontrol perilaku
          marah secara konstruktif
       - Sikap tenang bicara tenang dan jelas
       - Membantu klien megenal penyebab marah
       Rasional:
       Agar dapat merawat klien dengan perilaku
       kekerasan klien
    d) Bantu keluarga mendenontrsikan cara
       merawat klien
       Rasional :
       Agar keluarga mengetahui cara merawat
       klien melalui demontrasi yang dilihat oleh
       keluarga secara langsung
    e) Bantu keluarga memgungkapkan perasaanya
       setelah melakukan demontrasi
       Rasional :
       Mengeksplorawsi perasaan keluarga setelah
       melakukan demontrasi

i. TUK IX : Klien dapat menggunaka obat dengan
   benar (sesuai program pengobatan)

                                               106
      1) Kreteria evalusi
         a) Klien dapat menyebutkan obat-obatan yang
            diminum dan kegunaannya (jenis, waktu,
            dosis dan efek)
         b) Klien dapat minum obat sesuai dengan
            program pengobatan
      2) Intervensi
         a) Jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien
            dan kleuarga
            Rasional :
            Klien dapat mengetahui nama-nama obat
            yang diminum oleh klien
         b) Diskusikan manfaat minum obat dan
            kerugian berhenti minum obat tanpa izin
            dokter
            Rasional :
            Klien dan keluarga dapat mengetahui obat
            yang dikosumsi oleh klien



       STRARTEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
              KEPERAWATAN (SP)

Masalah : Gangguan Konsep Diri : harga Diri Rendah
              Pertemuan ke II (dua)

A. PROSES KEPERAWATAN
   1. Kondisi
      a. Klien sudah dapat membina hubungan salaing
         percaya dengan perawat
      b. Klien dapat mengenal peneybab marah
   2. Diagnosa Keperawatan
      Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
      lingkungan dengan perilaku kekerasan
   3. Tujuan khusus
      b. Klien mampu mengidentifikasi      tanda gejala
         perilaku kekerasan



                                                   107
    c. Klien mampu mengidentifikasi    yang biasa
       dilakukan
    d. Klien mampu mengidentifikasi akibat perilaku
       kekerasan klien

C. STERTEGI              PELAKSANAAN           TINDAKAN
   KEPERAWATAN (SP)
   1. Orientasi
      a. Salam Terapeutik
          “ Selamat pagi. Mas Airf, Masih ingat mana saya
         ?”.
      b. Evaluasi/Validasi
         “Bagaimana perasaan Mas Arif saat ini?”, apakah
         ada penyebab marah yang lain          dan belum
         diceritakan kemarin ?”
      c. Kontrak
         1) Topik
           “Seperti kesempakatan kemarin, pagi ini kita
           akan bercakap-cakap tentang perasaan Mas Arif
           rasakan saat marah, yang bisa dilakukan saat
           marah dan akibat dari tindakan yang telah
           dilakukan ?”.
         2) Tempat
           “Seperti kesepakatan kemarin kita bercakap-
           cakap di taman ya !”, atau mungkin Mas Arif
           ingin tempat lain ?”.
         3) Waktu
           “Mas Arif mau berapa lama kita bercakap-cakap
           ?”, “15 menit, baiklah “

 2. Kerja
   “Kemarin Mas Joko sudah menceritakan penyebab
   marah, Nah ceritakan apa yang dirasakan Mas Arif
   saat marah/saat mamukul ibu !”, Saat Mas Arif
   marah apakah ada perasan tegang, kesal, tagang,
   mengepalkan tangan, mondar-mandir ?”. “ atau
   mungkin ada hal lain yang dirasakan ?’.
   “Apakah Mas Arif pernah melakukan tindakan lain
   lain selain memukul ibu saat marah ?”, misalnya

                                                    108
  membanting piring memecahkan kaca, atau mugki
  merusak tanaman !”…… memcahkan kaca !”. “terus
  apakh setelah melakukan tindakan tadi (memukul
  ibu & memecahkan ka ca) masalah yang dialami
  selesai”, apakah dibelikan motor oleh orang tua Mas
  Arif ?”.
  “Apakah mas Arif akibat dari tindakan yangtelah
  dilakukan di rumah ?”…….ya tangan jadi sakit,
  jendela rusak…….terus apalagi?”……..dan akhirnya
  dibawa ke rumah sakit jiwa !”.

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya setelah bercakap-cakap
     tentang perasaan saat marah dan yang bisa
     dilakukan saat marah dan akibatnya ?”
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba sebutkan kembali tindakan yang bisa
     dilakukan saat marah !”. : Bagus…..lagi”, “kalau
     akibatnya apa…….?”.
  c. Rencana Tindak Lanjut
     “Nah karena Mas Arif sudah tahu tindakan yang
     telh dilakukan maukah Mas Arif belajar
     mengungkapkan rasa marah yang sehat !”. nanti
     suster ajari, bagaimana, bersedia ?”.
  d. Kontrak
       1)Topik
         “ Bagaimana kalau besok kita mulai belajar
         mengungkapkan rasa marah yang sehat ?”.
       2)Tempat
         “Dimana kita akan belajar berkenalan ?”.
         O……. diruang tamu baiklah”.
       3)Waktu
         “Mas Arif ingin berapa lama kita belajar mrah
         yang sehat ?”. o…….15 menit baiklah !”.




                                                  109
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

               Masalah : Perilaku kekerasan
                 Pertemuan ke III (Tiga)


A.    PROSES KEPERAWATAN

      1. Kondisi
        Klien sudah mengetahui perasaan saat marah dan
        akibat tindkan yang dilakukan saat marah, klien
        tenang dan kooperatif
      2. Diagnosa Keperawatan
        Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
        berhubungan dengan isalasi social manarik diri
      3. Tujuan Khusus
        a. Memilih cara marah yang konstruktif
        b. Mendemontrasikan satu cara marah yang
           konstruktif

B.    STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
      KEPERAWATAN (SP)

     1. Orientasi
       a. Salam terapeutik
          “Selamat pagi, Mas Arif !”.
       b. Evaluasi/ Validassi
          “Bagaimana perasaan Mas Arif saat ini ?”.
       c. Kontrak
          1) Topik
             “Pagi hari ini kita akan berlatih cara
             mengungkapkan marah yang sehat, banar kan
             Mas ?”.
          2) Tempat
             “Sesuai kesepakatan kemarin kita akan berlatih
             di ruang tamu kan, Mas?”.
          3) Waktu
             “Berapa lama kita bercakap-cakap, bagaimana
             kalau 15 menit ?“

                                                       110
2. Kerja
  “Menurut Mas Widi, bagaiman cara mengungkapkan
  marah yang benar, tentunya tidak merugikan
  /membahayakan orang lain ?”.....ya terus, bagus !”,
  Nah searang akan suster ajarkan satu persatu cara
  marah yang sehat, langsung suster jelaskan !”.
  “?”.
  “Yang pertama kita bisa ceritakan kepada orang lain
  yang membuat kita kesal atau marah, misalnya
  dengan mengatakan : saya marah degan kamu !’,
  maka hati kita akan sedikit lega”.
  “Yang kedua dengan menarik nafas dalam saat
  marah / jengkel sehingga menjadi rileks”.
  “Yang ketiga denga engambil air           wudlu lalu
  sholatatau berdo’a agar dibri kesabaran, tujuannya
  agar kita menjadi lebih tenang”.
  ”Ynag keempat dengan mengalihkan rsa marah /
  jengkel kita dengan aktivitras, isalnya dengan olah
  raga, membersihkan rumah, membersihkan alat-alat
  rumah tangga seperti mencuci piring”. ”sehiungga
  energi kita menjadi berkurang dan dapat mengurangi
  ketegangan”.
  ”Susuter sudah jelaslkan empat cara merah yang
  sehat, ada yang belumjelas ?”, nanti Mas Arif bisa
  coba memilih salah satu cara untuk dipraktekan”.
  ”o.........mau yang menarik nafas dalam !”, baiklah
  ayo ita mulai, coba ikuti suster, tarik nafas melalui
  hidung, ya bagus, tahan sebentar dan keluarkan
  /tiup melalui mulut, ualngi samapi 5 kali”. ”Nah
  kalau sudah merasa lega bisa Mas arif kanjutkan
  dengan olah raga, membersihkan rumah atau
  kegiatan lain”.

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya     setelah   berlatih   cara
     marah yag sehat ?”




                                                    111
     b. Evaluasi Objektif
        “Caba ulangi lagi cara menarik nafas yang dalam
        yang sudah kita pelajari tadi !”. Bagus !”.
     c. Rencana Tindak Lanjut
         “Tolong Mas, nanti dicoba lagi cara yang sudah
         suster ajarkan, dan jngan lupa ikuti kegiatan di
         ruangan ya !”.
     d. Kontrak
         1)Topik
           “ Bagaimana kalau keluarga dating kita
           bercakap-cakap cara marah yang sehat?”.
         2)Tempat
           “Bagaiman kalau kita bercakap-cakap diruang
           tamu saja?”, Setuju !”.
         3)Waktu
           “Mau berapa lama?”. “Bagaimana kalau 30
           menit saja?”.




STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

               Masalah : Perilau kekerasan
                Pertemuan ke IV (Empat)

A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
   a. Klien mengetahui cara mengungkapkan marah
      yang sehat
   b. Klien dapat mempraktekan cara marah yang sehat
 2. Diagnosa Keperawatan
   Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
   berhubungan dengan isalasi social manarik diri
 3. Tujuan Khusus
   Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol
   perilaku kekerasan



                                                      112
B.   STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
     KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
      “Selamat pagi, Mas Arif?”, ini keluarganya ya ?”
   b. Evaluasi/ Validassi
      “Bagaimana perasaan Mas Arif saat ini ?”, baik-
      baik saja kan, ada yang ingin disampaikan ?”.
      o....y saya adalah suster Dani yang merawat Mas
      Arif, Bapak namanya siapa ?”, Pak Eko”. ”Ada
      hubungan apa dengan Mas Arif ?”, oooo ayah,
      naiklah , kebetulan !”.
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Pada kesempatan ini kita akan berbincang-
         bincang tentang cara merawat Mas Arif di
         rumah”, Bagaimana Pak Eko bersedia ?”.
      4) Tempat
         Bagaiman kalau kita bercakap-cakap di ruang
         tamu saja, biar lebih santai ?”
      5) Waktu
         “Berapa lama kita akanbercakap-cakap ?”,
         “Bagaiman kalau 30 menit ?”

 2. Kerja
   “Nah, Tolong ceritakan apa yang membuat Mas Arif
   dibawa ke RSJ ?”, ”Terus, apa yang dilakukan
   keluarga saat Mas Arif mondar-mandirdan maranh-
   marah?.................terus apa lagi Pak?’.
   ”Apa yang diceritakan tadi tidak salah,akan tetapi
   ada cara lain yang lebih menolong agar Mas Arif
   tidak melakukan tindakan mencederai orang lain dan
   merusak kaca lagi”.
   ”Bagini pak, ada bebrapa cara yang dapat diasrankan
   agar dilakukan Mas Arif, misalnya dengan olah raga,
   mambaca Al-qur’an, sholat, membersihkan kaar
   mandi,       membersihkan           rumah,   memukul
   bantal/kasur, membantu orang tua bekerja”.

                                                   113
  ”Masih ada cara lain yang lebih mudah, misalnya
  dengan melatih klienbersikap terbuka, juga penting
  untuk kien yang sedang marah, melakukan relaksasi
  dengan menarik nafas dalam dapat mengurangi rasa
  marah dan dapat menenangkan perasaan klien,
  Bagaimana Pak sudah jelas, atau masih ada yang
  akan ditanyakan ?"

3. Terminasi
  a. Evaluasi Subjektif
     “Bagaimana perasaanya setelah cara merawat
     merawat Mas Arif?”.
  b. Evaluasi Objektif
     “Caba sebutkan kembali berapa cara yang dapat
     dilakukan saat marah ?”seterus apa lagi ? ……
     Bagus.
  c. Rencana Tindak Lanjut
     “Jangan lupa besok kalau Mas Arif sudah pulang
     dan seperti akan marang-marah tolong ingatkan
     cara-cara yang sduadh diajarkan tadi ya !”.
  d. Kontrak
       1)Topik
         “ Bagaimana kalau besok keluarga menengok
         lagi, kita bercakap-cakap lagi tentang cara
         minum obat dan menfaatnya bagi Mas Arif ?”.
       2)Tempat
         “Kita bercakap-cakap di tempa ini lagi ya ?”.
       3)Waktu
          “Mu berapa lama ?”, “Bagaimana kalau 030
          menit saja?”. ”Sampai jumpa !”.




                                                  114
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

            Masalah : Perilaku kekerasan
              Pertemuan ke V (Lima)


A.   PROSES KEPERAWATAN

 1. Kondisi
   a. Klien mengetahui cara mengungkapkan marah
      yang sehat
   b. Keluarga sudah tahu car erawat pasien yang
      sedang marah-marah
 2. Diagnosa Keperawatan
   Resiko perubahan persepsi sensori halusinasi
   berhubungan dengan isalasi social manarik diri
 3. Tujuan Khusus
   Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai
   program pengobatan)

B.   STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
     KEPERAWATAN (SP)

 1. Orientasi
   a. Salam terapeutik
      “Selamat pagi, Mas Arif & Pak Eko ?”. Baik-baik
      saja kan ?”.
   b. Evaluasi/ Validassi
      “Bagaimana perasaannya Mas Arif saat ini ?”,
      apakah sudah lebih rileks ?”
   c. Kontrak
      1) Topik
         “Seperti kesempakatan kemarin, pagi ini kita
         akan bercakap-cakap tentang cara peggunaan
         obat yang dan manfaatnya bagi Mas Arif ?”.
      2) Tempat
         “Kita bercakap-cakap di ruang tamu saja !”




                                                 115
    3) Waktu
       “Mas Arif mau berapa lama kita bercakap-cakap
       ?”, “30 menit, baiklah “

2. Kerja
  “Berapa jenis obat yang diminum Mas Arif tadi
  pagi?”. “ ya …. Bagus”.
  “Jadi bagini yang Mas Arif, obat yang diminum tadi
  ada tiga macam, ini obatnya saya bawakan “.
  “ Saya jelaskan satu persatu ya ?”. “yang warnanya
  oranye ini namanya CPZ atau chlorponazin, gunanay
  untuk mempermudah mas Arif tidur sehingga dapat
  istirahat, minumnya 2x sehari pagi hari dan sore
  hari, pagi jam 07.00 dan sore jam 17.30 WIB”. “Efek
  sampingnya badan menjadi lemas, kelur ludh terus
  menerus”.
  “Nah, yang ini, namanya HPD atau haloperidole,
  karena Mas Joko dapat yang 5 mg, maka warnanya
  jambon atau pink, cara dan waktunya minum sama
  dengan CPZ, 2x sehari”. “Gunaya obat ini untuk
  menenangkan Mas Arif sehingga dapat mengontrol
  perilakuknya saat marah, sehingga lebih      rileks,
  santai dan dapat mengontrol emosi, efek sampingnya
  badan menjadi kaku, terutama tangan dan kaki,
  mulut kering dan dada berdebar-debar dan
  tremor/ndredek dalam isltilah jawa”.
  “Tapi Mas Arif jangan kuatir, ada penangkalnya,
  makanya diberikan obat yang putih agak besar ini.
  Ini namany Triheksipenidile atau THP, fugsinya obat
  ini menetralakan atau menghilangkan efek samping
  yang tidak mengenakan tadi, makanya obat ini haru
  diminum bersamaan dengan obat CPZ dan HPD
  tadi”.
  “Bagaimana masih ada yang belum jelas ?”. “jangan
  lupa kalau obat ini hampir habis segera control
  kembali ya !”.




                                                  116
3. Terminasi
   a. Evaluasi Subjektif
      “Bagaimana perasaanya setelah bercakap-cakap
      tentang jenis dan manfaat obat yang mas Arif
      minum setiap hari ?”.
   b. Evaluasi Objektif
      “Caba sebutkan kembali jenis obat yang Mas Arif,
      dan ambilkan yang namanya HPD………. Dab
      seterusnya, sebutkan manfaatnya sekalian !”. “
      Bagus……diingat-ingat ya!”.
   c. Rencana Tindak Lanjut
       “Jangan lupa obatnya diminum dengan dosis dan
       waktu yang tepat ya !”. O. ya kalau ada yang
       belum jelas bisa Mas Arif tanyakan kambali pada
       waktu lain”. “Dan tolong ya Pak nanti kalau
       sudanh pulang diingatkan saat minum obat dan
       saat kontrol kmbali, janga lupa diawasi Mas Arif
       minum obat”.
   d. Kontrak
        1)Topik
          “ Bagaimana kalau kapan-kapan kita bercakap-
          cakap lagi tentang masalah Mas Arif yang lain
          ?”.
        2)Tempat
          “Di teras saja ?”.
        3)Waktu
          “Mas Arif ingin berapa lama kita bercakap-
          cakap ?”, “o.....20 menit, Baiklah !”.




                                                   117

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: jiwa, gabungan
Stats:
views:0
posted:6/15/2013
language:Unknown
pages:117