Docstoc

PENYELESAIAN SOAL KINEMATIKA SMA

Document Sample
PENYELESAIAN SOAL KINEMATIKA SMA Powered By Docstoc
					MODEL PEMBELAJARAN GASING EFEKTIF MENINGKATKAN
 KEMAMPUAN DALAM PENYELESAIAN SOAL KINEMATIKA

              Oleh : Drs. Munarso, SMA Negeri 4 Surakarta



                                 Abstrak

       Masalah yang sering muncul dalam pembelajaran Fisika adalah
pemahaman dan kecepatan siswa dalam menyelesaiakan soal-soal masih
kurang, selain itu juga siswa menganggap bahwa pelajaran fisika sulit dan
tidak menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa
besar efektifitas pembelajaran dengan metoda gasing dalam meningkatkan
keberhasilan belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metoda
gasing untuk pokok bahasan Kinematika. Dengan metoda ini diharapkan
siswa lebih senang dan merasa mudah belajar fisika. Penelitian tindakan
kelas ini terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus menggunakan empat
tahap yakni persiapan, pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi. Pada
pembelajaran dengan metoda gasing ini siswa dapat memahami konsep
secara detail, menyampaikan pemahaman tersebut untuk menyelesaiakan
suatu problem dengan sangat cepat tanpa menggunakan rumus-rumus yang
sulit dihafalkan siswa.. Dengan metoda ini siswa dapat menyelesaiakan soal-
soal gerak lurus (GLB dan GLBB) dengan sangat cepat dan mudah hanya
menggunakan logika, tanpa perlu menghafal rumus-rumus. Data hasil
penelitian menunjukkan bahaw terjadi peningkatan hasil belajar dari kondisi
awal, siklus I dan siklus II yaitu nilai rerata semula 47,3 menjadi 60,3 dan
akhir siklus II menjadi 67,1. Ketuntasan belajar juga meningkat yang semula
39,5 % meningkaat menjadi 47,4 % pada siklus I dan menjadi 65,8 % pada
akhir siklus II. Data hasil pengamatan tentang aktivitas siswa meningkat dari
45,4 % menjadi 46,1 % dan pada siklus II menjadi 72,9 %. Metoda ini
sangat bermanfaat karena siswa mendapatkan kemudahan, kecepatan dan
ketepatan dalam menyelesaikan soal tentang gerak, hal ini akan membuat
pelajaran lebih menarik, menyenangkan dan lebih berhasil.

 Kata Kunci         : gasing, hasil belajar, pemahaman konsep, kinematika,
                    GLB dan GLBB.



A. Pendahuluan
          Fisika merupakan sebuah mata pelajaran yang bagi kebanyakan
siswa sebagai pelajaran yang sulit. Keluhan siswa tentang sulitnya
memahami fisika banyak sekali alasannya antara lain fisika banyak
menghafal rumus, konsepnya sulit untuk dipahami, sulit dalam
perhitungannya dan sulit memahami soal fisika. Dalam belajar fisika siswa

                                   1
dituntut dapat berfikir logis, aktif, teliti utuk itu perlu latihan secara tekun.
Fisika sebagai ilmu yang mendasari ilmu pengetahuan sains dan teknologi
yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Untuk itu ilmu fisika harus
dikembangkan dalam pendidikan dasar hingga pendidikan tingkat atas seiring
perkembangan jaman. Oleh karena itu perlu adanya jalan keluar agar fisika
tidak lagi membosankan tetapi mejadi mata pelajaran yang mudah dan
menyenangkan bagi siswa.
       Paradigma pembelajarn fisika yang digunakan dalam literatur selama
ini berfokus pada rumus-rumus yang harus dihafalkan. Rumus-rumus fisika
dicari      melalui generalisasi gejala-gejala fisika. sehingga untuk
menyelesaikan soal-soal fisika siswa diperlukan hafalan rumus. Untuk itu
diperlukan daya hafal yang cukup, padahal sering kita jumpai pada
kebanyakan siswa yang mempunyai logika yang tinggi tidak menyukai dan
merasa sulit hafalan.
        Kesulitan yang dirasakan siswa pada mata pelajaran fisika dapat
diketahui bahwa hasil prestasi belajar ulangan harian siswa masih sangat
rendah. Dari sebanyak 38 siswa kelas X.C SMA Negeri 4 Surakarta tahun
pelajaran 2008-2009 yang belum mencapai KKM sebanyak 60,5 % dan yang
sudah tuntas hanya 39,5 %, nilai tertinggi 9,5, nilai terendah 2,0 dengan nilai
rata-rata 4,73. Hasil wawancara siswa juga menunjukkan bahwa materi fisika
sulit karena banyaknya variasi rumus yang harus digunakan dan berbeda
rumusnya untuk soal yang berbeda lagi.
        Dari kenyataan tersebut diatas perlunya perhatian khusus bagi para
pengajar. Hal ini juga karena siswa kurang memahami konsep dan kurang
memaknai sebuah rumus fisika, sehingga mereka masih bingung rumus mana
yang lebih tepat digunakan dalam menyelesaikan sebuah soal. Rendahnya
hasil belajar ini jika tidak mendapatkan perhatian dan solusi akan berakibat
siswa tidak akan tertarik dengan fisika dan mereka akan lebih memilih untuk
masuk pada jurusan Sosial di kelas XI. Pokok bahasan Kinematika sangat
strategis dalam membangun pemahaman siswa kelas X terhadap fisika
sekaligus     dapat menentukan minat siswa kelas X sebelum mereka
menentukan jurusan di kelas XI.
        Berangkat dari kenyataan tersebut peneliti ingin merubah metoda
yang biasa digunakan siswa dengan bermodalkan rumus menjadi
menggunakan logika, sehingga siswa akan mudah memahami, merasa
tertarik dan menyenangkan dan akhirnya menghasilkan prestasi yang lebih
baik. Salah satu metoda yang peneliti gunakan untuk merubah kondisi
tersebut diatas adalah menggunakan metoda gasing
       Berdasarkan latar belakang diatas, penulis dapat merumuskan rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah : “Apakah metoda gasing efektif untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan kinematika?
       Manfaat penelitian ini secara teoritis dapat memberikan masukan bagi
 para pengambil kebijakan dan pemerhati pendidikan tentang berbagai
 metoda dalam pembelajaran fisika. Secara teoritis bermanfaat bagi rekan
 guru sebagai tambahan masukan dalam memilih metode yang digunakan
 dalam pembelajaran, dan bagi siswa dapat memperoleh cara yang mudah
 dan menyenangkan dalam menyelesaikan soal-soal kinematika khususnya

                                     2
 GLB dan GLBB. Kinematika adalah salah satu cabang ilmu fisika yang
 mempelajari gerak dan perubahan gerak tanpa memandang penyebabnya.
        Metoda gasing dari dua kata yakni metoda dan gasing. Metoda berarti
 cara atau sistim untuk menyampaikan atau menyelesaikan suatu masalah
 atau pekerjaan. Gasing adalah singkatan dari gampang, asyik dan
 menyenangkan. Metoda gasing adalah sebuah metoda pembelajaran yang
 digunakan oleh Prof. Yohannes Surya, MA., Ph.D dalam membina anak-
 anak Indonesia dalam mengikuti lomba Fisika Internasional IPHO (
 International Physics Olympiad) yang tergabung dalam TOFI ( Team
 Olimpiade Fisika Indonesia) maupun dalam Sekolah Yohannes Institute.
 Metoda ini pada penerapannya adalah untuk menyelesaikan soal-soal fisika
 tidak diperlukan hafalan rumus melainkan lebih pada pemahaman konsep
 sebuah besaran dalam fisika dengan cara logika matematis. Dengan metoda
 ini siswa dengan logika yang mereka miliki akan               sangat mudah
 menyelesaiakn sebuah soal. Untuk memudahkaan memahaami metoda ini
 akan penulis uraikan perbandingan solusi soal dengan metode gasing dan
 cara biasa (rumus).
       Metoda gasing menuntut siswa memiliki pemahaman terhadap konsep-
konsep besaran yang dikenal dalam kinematika seperti kecepatan dan
percepatan. Dalam matoda ini dituntuk siswa memiliki pemahaman yang
benar tentang besaran dalam gerak terutama kecepatan dan percepatan.
Pemahaman adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa maampu
memahami arti dari konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal
ini siswa tidak hanya menghafal secara verbal tetapi lebih dari makna konsep
atau permasalahannya.
       Pada kinematika gerak khususnya pada GLB dan GLBB dikenal
rumus-rumus sebagai berikut :
                     s
GLB          :v=            dimana, v = kecepatan, s = jarak yang di tempuh
                     t
             .                      t = waktu.
GLBB : 1). vt  v0  at
                             1
             2). S t  v0 t  at 2
                             2
             3). vt  v0  2aS
                  2      2


            dimana , vt = kecepatan benda pada saat t
                       v0 = kecepatan benda mula-mula
                        a = percepatan
                        t = selang waktu
                        S = jarak yang ditempuh

     Berikut ini disampaikan contoh penyelesaian soal dengan cara yang
biasa digunakan ( cara rumus ) maupun dengan cara gasing.
Soal 1 : (GLB)

         Sebuah mobil meluncur dengan kecepatan tetap 2,5 m/s. Tentukan
         jarak yang ditempuh mobil selama 1 menit !
                                   3
  a. Penyelesaian cara rumus
           Diketahui : v = 2,5 m/s
                       t = 1 menit = 60 detik
           Ditanyakan: S = ..?
           Jawab      :
                                s
                   rumus : v =        maka S = v t
                                t
                                              S = 2,5 m/s x 60 s = 150 m

  b. Penyelesaian cara Gasing :
      Kecepatan 2,5 m/s artinya dalam waktu 1 sekon benda menempuh
        jarak 2,5 m.
      Maka waktu 60 sekon menempuh jarak 60 x 2,5 m = 150 m

Soal 2 : (GLB)
            Dua buah benda berada pada jarak 25 m saling berhadapan
            bergerak menyongsong satu sama lain. Benda A dari kiri dengan
            kecepatan 3m/s dan benda B dari kanan dengan kecepatan 2 m/s.
            Kapan keduanya bertemu?
  a.Penyelesaian cara rumus
            Diketahui :
                      3 m/s                       2m/s



            A                                              B



                                    25 m
           Ditanyakan :   a. t bertemu = ?

           Jawab         :
           Keduanya akan bertemu untuk A menempuh SA dan benda B
           menempuh SB , maka ;
           SA + SB = 25
           vA . t +vB .t = 25
           3t+2t          = 25
           5t             = 25
             t           = 5 sekon
           jadi keduanya bertemu setelah masing-masing bergerak selama 5
           sekon


  b. Penyelesaian cara gasing

      dalam waktu 1 sekon keduanya dapat saling          mendekat 5 meter
          (dari3+2 ).
                              4
      Untuk menempuh 25 m diperlukan waktu 25 /5 = 5 sekon



Soal 3 : (GLBB)

           Sebuah benda mula- mula kecepatanya 10 m/s. Kemudian benda
           dipercepat dengan percepatan 2m/s2. Hitunglah kecepatan benda
           tersebut selama 5 sekon ?
a.Penyelesaian cara rumus

            Diketahui : v0 = 8 m/s
                         a = 2 m/s2
                          t = 5 sekon
            Ditanyakan : v setelah 5 sekon = ?
            jawab        :
                       Rumus GLBB , ). vt  v0  at
                                               vt = 8 + 2. 5
                                                  = 18 m/s
 b. Penyelesaian cara gasing
      Percepatan 2 m/s2 artinya tiap 1 sekon kecepatannya bertambah 2 m/s,
       maka untuk 5 sekon bertambah 10 m/s
      kecepatan setelah 5 sekon = 8 m/s + 10 m/s = 18 m/s

Soal 4 : (GLBB)

           Sebuah benda mula- mula kecepatanya 2m/s. Kemudian benda
           dipercepat selama 4 detik hingga kecepatannya menjadi 4 m/s.
           Hitunglah jarak yang ditempuh benda tersebut selama 4 sekon ?
a.Penyelesaian cara rumus

            Diketahui : v0 = 2 m/s
                        vt = 4 m/s
                          t = 4 sekon
            Ditanyakan : S setelah 4 sekon = ?
            jawab        :
                                                     v   42
                        Rumus GLBB , ). a =             =     = 0,5 m/s2
                                                     t    4

                                                 vt2  v0  2aS
                                                        2


                                                 42 = 22 + 2.0,5. S
                                                  S = 12 m
 b. Penyelesaian cara gasing
      benda bergerak dengan kecepatan 2 m/s selama 4 sekon menempuh 8 m.
      benda bergerak dengan kecepatan 4m/s selama 4 sekon menempuh 16 m
      jarak benda selama 4 sekon = ( 8 + 16) /2 = 12 m

                                         5
Soal 5 : (GLBB vertical keatas)

            Sebuah peluru ditembakkan keatas dengan kecepatan mula- mula
            kecepatanya 50 m/s. Hitunglah tinggi maksimum yang dicapai
            peluru dan lama peluru diudara !

 a.Penyelesaian cara rumus

            Diketahui : v0 = 50 m/s
                        vt = 0

            Ditanyakan : h maksimum = ?, dan t peluru diudara = ?
            jawab       :
                     Rumus GLBB , ). a = - g = - 10 m/s2

                                           vt2  v0  2 gh
                                                  2


                                           0 = 502 - 2.10. h
                                            h = 125 m
            vt  v0  at
             0 = 50 – 10 t ------- t sampai titik teratas = 5 sekon
                                   t peluru diudara = 2 . 5 = 10 sekon
 b. Penyelesaian cara gasing
      peluru bergerak dengan kecepatan 50 m/s akan mengalami pengurangan
       kecepatan 10 m/s tiap sekon, maka kecepatan akan menjadi 0 selama 5
       sekon. Jadi t peluru diudara = 2 . 5 = 10 sekon
      peluru bergerak dengan kecepatan 50m/s selama 5 sekon menempuh 250
       m , sampai dititik teratas kecepatan nol, jadi ketinggian h = ( 250 +0)/ 2
       = 125 m

      Dari lima contoh soal diatas sangat jelas bahwa metode gasing tidak
memerlukan hafalan rumus-rumus, akan tetapi dengan sedikit logika saja siswa
dapat dengan mudah dan cepat menghitung tanpa banyak coretan. Siswa tidak
terbebani harus menghafal rumus-rumus fisika. Bahkan bagi siswa yang belum
pernah sama sekali belajar rumus akan mudah memahami dan bisa
melakukannya dalam menyelesaikan soal kinematika hanya memerlukan sedikit
penjelasan saja. Metode yang dirintis oleh Prof. Yohanes Surya ini belum
banyak digunakan oleh guru. Selain guru belum mengenal cara ini juga guru
masih ragu-ragu dalam implementasi didalam kelas. Dengan metode ini pula
siswa dapat mengembangkan daya logika dan melatih mengemukakan pendapat
sehingga juga dapat lebih percaya diri.

 B. Metode Penelitian
       Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dimana guru
melakukan tindakan dengan menggunakan pendekatan diskusi, dan informasi
serta tanya jawab. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X.C SMA Negeri 4
Surakarta tahun pelajaran 2008-2009 yang terdiri dari 38 siswa. Penelitian
                                      6
 dilakukan selama 4 bulan yakni mulai bulan Agustus 2008 hingga Nopember
 2008 yang meliputi menyusun proposal, perangkat penelitian, data awal,
 tindakan, analisa, pembahasan dan penulisan laporan. Teknik pengumpulan data
 adalah teknik tes tertulis pilihan ganda dan tes lisan. Sedangkan untuk data
 pengamatan menggunakan data observasi.
        Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan melalui proses
 pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (Planning),
 tindakan (Acting), mangamati (Observasing), dan refleksi (Reflecting). Tahapan
 yang dilalui dalam PTK digambarkan sebagai berikut:


                Rencana
                   I                            Rencana                Siklus ke-
                                                   I                       n




    Reflek     Siklus     Tindakan Refleksi
     sisi                                      Siklus
                  I                                         Tindaka
                                                 II            n

                                                                      Rekomenda
                                                                          si

              Observa
                si                             Observa
                                                 si



                  Gambar 1. Scema Penelitian Tindakan Kelas

       Adapun rincian alur kegiatan untuk masing-masing siklus dijabarkan
sebagai berikut :
      Siklus I:
             a.Perencanaan
                  1) Koordinasi dengan Kepala Sekolah;
                  2) Koordinasi dengan guru-guru pendukung;
                  3) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);
                  4) Membuat soal tes ;
                  5) Membuat lembar observasi ;
                  6) menentukan Skor tingkat keberhasilan, sebagai berikut:
                     a)      0 – 40        = Sangat Kurang
                     b)      41 – 55       = Kurang
                     c)      56 – 70       = Cukup
                     d)      71 – 85       = Baik
                     e)      86 – 100      = Sangat Baik
             b.Tindakan
                                       7
                  Tindakan yang dimaksud dalam penelitian siklus I adalah
             tindakan yang dilaksanakan selama proses pembelajaran di kelas.

           c.Observasi
                     Observasi ini dilaksanakan sejak awal selama proses
             pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Aspek yang diamati
             dalam siklus I adalah sikap dan aktifitas siswa dalam pembelajaran
             serta hambatan-hambatan pelaksanaan pembelajaran.
           d.Refleksi
                     Dari hasil pengamatan dan hasil tes formatif siklus I
             dilakukan koreksi dan perenungan atas tindakan yang kurang
             sesuai dan kurang memenuhi sasaran seperti cara guru
             menyampaikan materi pelajaran, aktifitas siswa di kelas cara guru
             memotivasi siswa.
                     Berdasarkan hasil refleksi ini, dapat diketahui kelemahan
             dan kekurangan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru
             sehingga dapat digunakan untuk menentukan tindakan kelas pada
             siklus berikutnya.

     2. Siklus II
             Berdasarkan refleksi proses tindakan siklus I dapat diketahui
     bahwa rancangan penelitian yang telah dipersiapkan telah terbukti berhasil
     tetapi masih belum maksimal. Untuk itu dilakukan penyempurnaan dalam
     proses pembelajaran dalam siklus berikutnya. Langkah-langkah siklus II
     pada prinsipnya sama dengan siklus I dengan perubahan kearah
     penyempurnaan disesuaikan dengan hasil refleksi siklus I.
             Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif,
     yaitu membandingkan antara nilai pretes atau kondisi awal, nilai tes
     setelah siklus I dan nilai tes setelah siklus II berdasarkan refleksi tindak
     lanjut. Demikian juga keberanian berpendapat dan berfikir siswa
     dibandingkan antara hasil tes kondisi awal, tes siklus I,dan hasil tes siklus
     II untuk menentukan tindak lanjut.
             Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah siswa
     mengalami perbaikan hasil belajar sebelum dan sesudah belajar dengan
     menggunakan metoda gasing.


C. Hasil Penelitian
      Pembahasan hasil penelitian dimaksudkan untuk menemukan jawaban
atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Dalam penelitian PTK ini
dilakukan 2 siklus, yaitu siklus I dan siklus II pada siswa kelas X.C C SMA
Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2008-2009. Keadaan atau kondisi awal
siswa berdasarkan hasil ulangan pokok bahasan sebelumnya yaitu vector.
Hasilnya ditampilkan seperti pada table berikut :




                                       8
                 Table 1. Kondisi Awal Siswa berdasrkan UH Vektor

  Nilai            Jml siswa           Prosentase        ketuntasan       Prosentase
                                       Jml Siswa                          ketuntasan
       < 4,0              7               18,4 %             Belum            60,5 %
     4,1 – 6,0           16               42,1 %             Belum
     6,1 – 8,0            9               23,7 %             Tuntas            39,5 %
       > 8,1              6               15,8 %             tuntas
      Jumlah             38                100 %                               100 %

Nilai tertinggi = 9,5 ; nilai terendah = 2,0 dan rerata = 4,73

       Hasil observasi terhadap aktifitas siswa pada kondisi awal saat mengikuti
pembelajaran sebelum pada pokok bahasan vector didapatkan data yang dapat
ditunjukan dalam table sebagai berikut :




          Table 2. Kondisi Awal Aktivitas Siswa Sebelum Tindakan Siklus

            Kegiatan                         Jml siswa            Prosentase
                                                                  Jml Siswa
            pasif                                   10               15,7 %
            Mendengarkan penjelasan                 28               23,7 %
            Mencatat                                37               97,4 %
            Bertanya guru                            4               15,8 %
            Diskusi dg teman                        11               44,7 %
            Rata-rata skor aktivitas                                 45,4 %


        Setelah dilakukan tindakan ( acting ) siklus I yakni guru memberikan
sedikit informasi tentang metoda gasing dan memberi contoh penyelesaian soal
pada pokok bahasan Gerak Lurus, dan melakukan tes hasil siklus I didapatkan
data sebagai berikut :

          Table 3. Kondisi Akhir Siklus 1 dengan Ulangan Harian GLB

Nilai              Jml siswa           Prosentase        ketuntasan       Prosentase
                                       Jml Siswa                          ketuntasan
< 4,0              8                   21,0 %            Belum
                                                                               52,6 %
4,1 – 6,0          12                  31,6 %            Belum
6,1 – 8,0          14                  36,9 %            Tuntas
                                                                               47,4 %
> 8,1              4                    10,5 %           tuntas
                                            9
Jumlah            38                  100 %                              100 %

Nilai tertinggi = 10 ; nilai terendah = 3,0 dan rerata = 6,30

       Data aktifitas siswa pada saat dilakukan tindakan siklus I pada poko
bahasan GLB ditunjukan pada table sebagai berikut :

              Table 4 . Kondisi Akhir setelah Setelah Tindakan Siklus I

            Kegiatan                          Jml siswa          Prosentase
                                                                 Jml Siswa
            pasif                                   6               15,7 %
            Mendengarkan penjelasan                31               23,7 %
            Mencatat                               38                100 %
            Bertanya guru                           6               15,8 %
            Diskusi dg teman                       17               44,7 %
            Rata-rata Aktivitas                                      46,1%

         Setelah dilakukan serangkaian kegiatan siklus I menunjukkana bahwa
  hasil belajar dan aktivitas siswa meningkat berarti penggunaan metode gasing
  menunjukkan perbaikan. Berdasarkan refleksi siklus I perlu diadakan perbaikan
  dan pemantapan melalui siklus II dengan melakukan penyempurnaan.
  Penyempurnaan pada siklus II ini dilakukan dengan membentuk kelompok
  siswa.
         Pembentukan kelompok pada siklus II bertujuan agar terjadi tanggung
  jawab dan kerjasama masing-masing anggota dalam kelompoknya sehingga
  lebih memacu aktivitas setiap siswa. Tiap kelompok beranggotakan 6-7 siswa
  dan setiap kelompok terdapat 1 atau 2 siswa yang menguasai materi sebagai
  ahli. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan aktivitas siswaa. Pada siklus II ini
  pokok bahasan yang dipelajarai adalah GLBB            ( Gerak Lurus Berubah
  Beraturan ). Setelah akhir siklus II dilakukan tes dan didapatkan data sebagai
  berikut:

         Table 5. Kondisi Akhir Siklus II dengan Ulangan Harian GLBB

Nilai             Jml siswa           Prosentase        ketuntasan       Prosentase
                                      Jml Siswa                          ketuntasan
< 4,0             7                   18,4,0 %          Belum
                                                                              34,2 %
4,1 – 6,0         6                   15,8 %            Belum
6,1 – 8,0         16                  42,1 %            Tuntas
                                                                              65,8 %
> 8,1             9                   23,7 %            Tuntas
Jumlah            38                  100 %                                   100 %

Nilai tertinggi = 10 ; nilai terendah = 3,0 dan rerata = 6,30

       Data aktifitas siswa pada saat dilakukan tindakan siklus II pada pokok
bahasan GLBB ditunjukan pada table sebagai berikut :
                                              10
         Table 6 . Kondisi Akhir setelah Setelah Tindakan Siklus II

       Kegiatan                          Jml siswa            Prosentase
                                                              Jml Siswa
                   pasif                          2              15,7 %
          Mendengarkan penjelasan                38               100 %
                 Mencatat                        33              86,7 %
              Bertanya guru                      11              28,9 %
             Diskusi dg teman                    29              76,3 %
             Rata-rata Aktivitas                                 72,9 %

      Dari data awal, siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan hasil prestasi. Rata-rata hasil tes dan ketercapaian ketuntasan KKM
secara grafik dapat ditunjukkan pada gambar berikut :


                          RERATA NILAI HASIL BELAJAR

                                                                67,1
                                          60,3
                      47,3




                Rerata kondisi   Rerata Akhir siklus   Rerata Akhir siklus
                    awal                 I                     II


             Gambar 2. Grafik Perbandingan Rerata Nilai Hasil Belajar




                                       11
                           PROSENTASE KETUNTASAN

                                                              65,80%

                                         47,40%
                    39,50%




              ketercapaian awal   ketercapaian KKM     ketercapaian KKM
                                    setelah siklus I    setelah siklus II


          Gambar 3 . Grafik Perbandingan Ketuntasan Nilai Hasil Belajar


      Sedangkan berdasarkan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran
juga mengalami peningkatan seperti digambarkan pada grafik berikut :



                              PROSENTASE AKTIVITAS

                                                              72,95%


                     45,40%              46,10%




              aktivitas sebelum      aktivitas saat      aktivitas saat
                   Tindakan        tindakan siklus I   tindakan siklus II



                 Gambar 4 . Grafik Perbandingan aktivitas Siswa

       Peningkatan hasil belajar siswa maupun aktivitas siswa dalam mengikuti
pembelajaran dirangkum dalam tabel rekapitulasi dapat disajikan seperti data
tabel berikut :



                       Tabel 7. Rekapitulasi Data Peningkatan
                                     12
  ASPEK        KONDISI AWAL            SIKLUS I          SIKLUS II
               Materi   skor         Materi  skor          Materi        skor
Rerata Hasil              47,3                60,3                    67,1
Belajar
             Vektor                 GLB                  GLBB
Aktifitas                 45,4 %              46,1 %                  72,9 %
Siswa

      Dari data tersebut diatas menunjukkan bahawa penelitian tindakan kelas
dengan pembelajaran menggunakan metoda Gasing dalam pokok bahasan
Kinematika Gerak khususnya GLB dan GLBB dapat meningkatkan hasil belajar
dan aktivitas siswa. Pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah
ditetapkan juga meningkat, siswa merasa mudah dan senang dalam mengikuti
proses pembelajaran serta menumbuhkan rasa percaya diri siswa.

D. Simpulan
      Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa penggunaan metoda gasing dalam pembelajaran pokok
bahasan kinematika dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti
dengan meningkatnya skor rerata serta peningkatan tercapainya Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM). Skor rerata hasil belajar mengalami peningkatan
yang ditunjukkan melalui tes akhir tiap siklus. yaitu sebelum dilakukan
tindakan skor rerata sebesar 47,3, dan pada akhir siklus I menjadi 60,3 dan pada
akhir siklus II reratanya menjadi 67,1. Ketercapaian ketuntasan juga mengalami
peningkatan dari 39,5 % pada kondisi awal menjadi 47,4 % pada akhir siklus I
dan pada akhir siklus II menjadi 65,8 %.
      Aktivitas siswa dari 4 aspek yang diamati yakni mendengarkan informasi
guru, mencatat, diskusi dan bertanya juga mengalami peningkatan. Aktivitas
siswa pada kondisi awal sebelum dilakukan tindakan sebesar 45,4 % dan
menjadi 46,1 % pada tindakan siklus I dan pada tindakan siklus II aktivitas
siswa menjadi 72,9 %. Secara umum respon siswa terhadap metoda ini merasa
lebih mudah dan merasa senang. Penggunaan metoda gasing perlu
dikembangkan lagi pada pokok bahasan yang lebih luas, sehingga para siswa
dapat belajar fisika lebih mudah tidak terbebani dengan hafalan rumus-rumus
yang cukup banyak.




                            DAFTAR PUSTAKA
                                  13
Colin Rose, 2007,” Super Accelerated Learning”, Penerbit Jabal, Bandung.

Lexy Moleong,2006,” Metodologi Penelitian Kualitatif”, PT Remaja Rosdakarya,
         Bandung.

Martheen kanginan, 2004,” Fisika Untuk SMA Kelas X Semester 1”, Penerbit
         Erlangga, Jakarta.

Nyoman Kertiasa dkk, 1984,” Energi Gelombang dan Medan 1”, Depdikbud RI,
        Jakarta.

Suharsimi Arikunto,2007,” Penelitian Tindakan Kelas”, Bumi Aksara, Jakarta

Yohannes Surya,2008. ” Belajar Fisika dengan Gasing”. Surya Institute, Jakarta




                                      14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3
posted:6/11/2013
language:
pages:14