Pembelajaran Kooperatif

Document Sample
Pembelajaran Kooperatif Powered By Docstoc
					                        PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Karakteristik Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan secara intensif melalui berbagai
penelitian, tujuannya untuk meningkatkan kerjasama akademik antar mahasiswa, membentuk
hubungan positif, mengembangkan rasa percaya diri,serta meningkatkan kemampuan
akademik melalui aktivitas kelompok. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat saling
ketergantungan positif di antara mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap
mahasiswa mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Aktivitas belajar berpusat
pada mahasiswa dalam bentuk diskusi, mengerjakan tugas bersama, saling membantu dan
saling mendukung dalam memecahkan masalah. Melalui interaksi belajar yang efektif
mahasiswa lebih termotivasi, percaya diri, mampu menggunakan strategi berpikir tingkat
tinggi, serta mampu membangun hubungan interpersonal. Model pembelajaran kooperatif
memungkinkan semua mahasiswa dapat menguasai materi pada tingkat penguasaan yang
relatif sama atau sejajar.
Ada 4 macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001),
yaitu; (1) Student Teams Achievement Division (STAD), (2) Group Investigation, (3)
Jigsaw, dan (4) Structural Approach. Sedangkan dua pendekatan lain yang dirancang
untuk kelas-kelas rendah adalah; (1) Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8
(setingkat TK sampai SD), dan Team Accelerated Instruction (TAI) digunakan pada
pembelajaran         matematika     untuk       tingkat      3-6      (setingkat    TK).
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah; (1) belajar bersama dengan teman, (2)
selama proses belajar terjadi tatap muka antar teman, (3) saling mendengarkan pendapat
di antara anggota kelompok, (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok, (5) belajar
dalam kelompok kecil, (6) produktif berbicara atau saling mengemukakan pendapat, (7)
keputusan tergantung pada mahasiswa sendiri, (8) mahasiswa aktif (Stahl, 1994). Senada
dengan ciri-ciri tersebut, Johnson dan Johnson (1984) serta Hilke (1990) mengemukakan
ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah; (1) terdapat saling ketergantungan yang positif
di antar anggota kelompok, (2) dapat dipertanggungjawabkan secara individu, (3)
heterogen, (4) berbagi kepemimpinan, (5) berbagi tanggung jawab, (6) menekankan pada
tugas dan kebersamaan, (7) membentuk keterampilan sosial, (8) peran guru/dosen
mengamati proses belajar mahasiswa, (9) efektivitas belajar tergantung pada kelompok.
Proses belajar terjadi dalam kelompok-kelompok kecil (3-4 orang anggota), bersifat
heterogen tanpa memperhatikan perbedaan kemampuan akademik, jender, suku, maupun
lainnya.

Prinsip Dasar
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang
diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar mahasiswa. Pendekatan yang
dimaksud adalah belajar aktif, konstruktivistik, dan kooperatif. Beberapa pendekatan
tersebut diintegrasikan dimaksudkan untuk menghasilkan suatu model pembelajaran yang
memungkinkan mahasiswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Belajar
aktif, ditunjukkan dengan adanya keterlibatan intelektual dan emosional yang tinggi
dalam proses belajar, tidak sekedar aktifitas fisik semata. Mahasiswa diberi kesempatan
untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat dan idenya, melakukan eksplorasi terhadap
materi yang sedang dipelajari serta menafsirkan hasilnya secara bersama-sama di dalam
kelompok. Mahasiswa dibebaskan untuk mencari berbagai sumber belajar yang relevan.
Kegiatan demikian memungkinkan mahasiswa berinteraksi aktif dengan lingkungan dan
kelompoknya,        sebagai      media      untuk     mengembangkan         pengetahuannya.
Pendekatan konstruktivistik dalam model pembelajaran kooperatif dapat mendorong
mahasiswa untuk mampu membangun pengetahuannya secara bersama-sama di dalam
kelompok. Mereka didorong untuk menemukan dan mengkonstruksi materi yang sedang
dipelajari melalui diskusi, observasi atau percobaan. Mahasiswa menafsirkan bersamasama
apa yang mereka temukan atau mereka bahas. Dengan cara demikian, materi
pelajaran dapat dibangun bersama dan bukan sebagai transfer dari dosen. Pengetahuan
dibentuk bersama berdasarkan pengalaman serta interaksinya dengan lingkungan di
dalam kelompok belajar, sehingga terjadi saling memperkaya diantara anggota kelompok.
Ini berarti, mahasiswa didorong untuk membangun makna dari pengalamannya, sehingga
pemahaman terhadap fenomena yang sedang dipelajari meningkat. Mereka didorong
untuk memunculkan berbagai sudut pandang terhadap materi atau masalah yang sama,
untuk kemudian membangun sudut pandang atau mengkonstruksi pengetahuannya secara
bersama pula. Hal ini merupakan realisasi dari hakikat konstruktivisme dalam
pembelajaran.
Pendekatan kooperatif mendorong dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
trampil berkomunikasi. Artinya, mahasiswa didorong untuk mampu menyatakan
pendapat atau idenya dengan jelas, mendengarkan orang lain dan menanggapinya dengan
tepat, meminta feedback serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan baik.
Mahasiswa juga mampu membangun dan menjaga kepercayaan, terbuka untuk menerima
dan memberi pendapat serta ide-idenya, mau berbagi informasi dan sumber, mau
memberi dukungan pada orang lain dengan tulus. Mahasiswa juga mampu memimpin dan
trampil mengelola kontroversi (managing controvercy) menjadi situasi problem solving,
mengkritisi ide bukan persona orangnya.
Model pembelajaran kooperatif ini akan dapat terlaksana dengan baik jika dapat
ditumbuhkan suasana belajar yang memungkinkan diantara mahasiswa serta antara
mahasiswa dan dosen merasa bebas mengeluarkan pendapat dan idenya, serta bebas
dalam mengkaji serta mengeksplorasi topik-topik penting dalam kurikulum. Dosen dapat
mengajukan berbagai pertanyaan atau permasalahan yang harus dipecahkan di dalam
kelompok. Mahasiswa berupaya untuk berpikir keras dan saling mendiskusikan di dalam
kelompok. Kemudian dosen serta mahasiswa lain dapat mengejar pendapat mereka
tentang ide-idenya dari berbagai perspektif. Dosen juga mendorong mahasiswa untuk
mampu mendemonstrasikan pemahamannya tentang pokok-pokok permasalahan yang
dikaji menurut cara kelompok.
Berpijak pada karakteristik pembelajaran di atas, diasumsikan model pembelajaran
kooperatif mampu memotivasi mahasiswa dalam melaksanakan berbagai kegiatan,
sehingga mereka merasa tertantang untuk menyelesaikan tugas-tugas bersama secara
kreatif. Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran di berbagai bidang studi
atau matakuliah, baik untuk topik-topik yang bersifat abstrak maupun yang bersifat
konkrit.

Kompetensi
Kompetensi yang dapat dicapai melalui model pembelajaran kooperatif disamping; (1)
pemahaman terhadap nilai, konsep atau masalah-masalah yang berhubungan dengan
disiplin ilmu tertentu, serta (2) kemampuan menerapkan konsep/memecahkan masalah,
dan (3) kemampuan menghasilkan sesuatu secara bersama-sama berdasarkan
pemahaman terhadap materi yang menjadi obyek kajiannya, juga dapat dikembangkan
(4) softskills kemampuan berfikir kritis, berkomunikasi, bertanggung jawab, serta bekerja
sama. Tentu saja kemampuan-kemampuan tersebut hanya mungkin terbentuk jika
kesempatan untuk menghayati berbagai kemampuan tersebut disediakan secara memadai,
dalam arti, model pembelajaran kooperatif diterapkan secara benar dan memadai.
Materi
Materi yang sesuai disajikan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
adalah materi-materi yang menuntut pemahaman tinggi terhadap nilai, konsep, atau
prinsip, serta masalah-masalah aktual yang terjadi di masyarakat. Materi ketrampilan
untuk menerapkan suatu konsep atau prinsip dalam kehidupan nyata juga dapat diberikan.
Materi dapat berasal dari berbagai bidang studi, seperti bahasa, masalah-masalah sosial ekonomi,
masalah kehidupan bermasyarakat, peristiwa-peristiwa alam, serta ketrampilan dan masalah-
masalah lainnya.
Prosedur Pembelajaran Pada dasarnya, kegiatan pembelajaran dipilahkan menjadi empat
langkah, yaitu; orientasi, bekerja kelompok, kuis, dan pemberian penghargaan. Setiap langkah
dapat dikembangkan lebih lanjut oleh para dosen dengan berpegang pada hakekat setiap langkah
sebagai berikut:
1. Orientasi
Sebagaimana halnya dalam setiap pembelajaran, kegiatan diawali dengan orientasi untuk
memahami dan menyepakati bersama tentang apa yang akan dipelajari serta bagaimana
strategi pembelajarannya. Dosen mengkomunikasikan tujuan, materi, waktu, langkahlangkah
serta hasil akhir yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa, serta sistem
penilaiannya. Pada langkah ini mahasiswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan
pendapatnya tentang apa saja, termasuk cara kerja dan hasil akhir yang diharapkan atau sistem
penilaiannya. Negosiasi dapat terjadi antara dosen dan mahasiswa, namun pada akhir orientasi
diharapkan sudah terjadi kesepakatan bersama.
2. Kerja kelompok
Pada tahap ini mahasiswa melakukan kerja kelompok sebagai inti kegiatan pembelajaran.
Kerja kelompok dapat dalam bentuk kegiatan memecahkan masalah, atau memahami
dan menerapkan suatu konsep yang dipelajari. Kerja kelompok dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti berdiskusi, melakukan ekslporasi, observasi, percobaan, browsing
lewat internet, dan sebagainya. Waktu untuk bekerja kelompok disesuaikan dengan
luasdan dalamnya materi yang harus dikerjakan. Kegiatan yang memerlukan waktu lama
dapat dilakukan di luar jam pelajaran, sedangkan kegiatan yang memerlukan sedikit
waktu dapat dilakukan pada jam pelajaran.
Agar kegiatan kelompok terarah, perlu diberikan panduan singkat sebagai pedoman
kegiatan. Sebaiknya panduan ini disiapkan oleh dosen. Panduan harus memuat tujuan,
materi, waktu, cara kerja kelompok dan tanggung jawab masing-masing anggota
kelompok, serta hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai. Misalnya, mahasiswa
diharapkan dapat mengembangkan media tepatguna dalam pembelajaran. Untuk itu,
mahasiswa secara bersama-sama perlu berdiskusi, melakukan analisis terhadap
komponen-komponen pembelajaran seperti; kompetensi apa yang diharapkan dicapai
oleh peserta didik, materi apa yang dipelajari, strategi pembelajaran yang digunakan,
serta bentuk evaluasinya. Mahasiswa juga melakukan eksplorasi untuk mengembangkan
media tepatguna. Eksplorasi dapat dilakukan secara individual atau kelompok sesuai
kesepakatan. Hasil eksplorasi dibahas dalam kelompok untuk menghasilkan media-media
pembelajaran tepatguna yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dosen
berperan sebagai fasilitator dan dinamisator bagi masing-masing kelompok, dengan cara
melakukan pemantauan terhadap kegiatan belajar mahasiswa, mengarahkan ketrampilan
kerjasama, dan memberikan bantuan pada saat diperlukan.
3. Tes/Kuis
Pada akhir kegiatan kelompok diharapkan semua mahasiswa telah mampu memahami
konsep/topik/masalah yang sudah dikaji bersama. Kemudian masing-masing mahasiswa
menjawab tes atau kuis untuk mengetahui pemahaman mereka terhadap konsep/topik/
masalah yang dikaji. Penilaian individu ini mencakup penguasaan ranah kognitif, afektif dan
ketrampilan. Misalnya, bagaimana melakukan analisis pembelajaran? Mengapa perlu
melakukan analisis pembelajaran sebelum mengembangkan media? Mahasiswa dapat
juga diminta membuat prototype media tepatguna yang memiliki tingkat interaktif tinggi dalam
pembelajaran, dsb.
4. Penghargaan kelompok
Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada kelompok yang
berhasil memperoleh kenaikan skor dalam tes individu. Kenaikan skor dihitung dari
selisih antara skor dasar dengan sekor tes individual. Menghitung skor yang didapat
masing-masing kelompok dengan cara menjumlahkan skor yang didapat mahasiswa di
dalam kelompok tersebut kemudian dihitung rata-ratanya. Selanjutnya berdasarkan skor
rata-rata tersebut ditentukan penghargaan masing-masing kelompok. Misalnya, bagi
kelompok yang mendapat rata-rata kenaikan skor sampai dengan 15 mendapat
penghargaan sebagai “Good Team”. Kenaikan skor lebih dari 15 hingga 20 mendapat
penghargaan “Great Team”. Sedangkan kenaikan skor lebih dari 20 sampai 30 mendapat
penghargaan sebagai “Super Team”.
Anggota kelompok pada periode tertentu dapat diputar, sehingga dalam satu satuan waktu
pembelajaran anggota kelompok dapat diputar 2-3 kali putaran. Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan dinamika kelompok di antara anggota kelompok dalam kelompok tersebut. Di
akhir tatap muka dosen memberikan kesimpulan terhadap materi yang telah dibahas pada
pertemuan itu, sehingga terdapat kesamaan pemahaman pada semua mahasiswa.

Evaluasi
Evaluasi belajar dilakukan pada awal pelajaran sebagai prates, selama pembelajaran, serta hasil
akhir belajar mahasiswa baik individu maupun kelompok. Selama proses
pembelajaran, evaluasi dilakukan dengan mengamati sikap, ketrampilan dan kemampuan
berpikir serta berkomunikasi mahasiswa. Kesungguhan mengerjakan tugas, hasil
eksplorasi, kemampuan berpikir kritis dan logis dalam memberikan pandangan atau
argumentasi, kemauan untuk bekerja sama dan memikul tanggung jawab bersama,
merupakan contoh aspek-aspek yang dapat dinilai selama proses pembelajaran
berlangsung. Sedangkan prosedur evaluasi:
1. Penilaian individu adalah evaluasi terhadap tingkat pemahaman mahasiswa
     terhadap materi yang dikaji, meliputi ranah kognitif, afektif, dan ketrampilan.
2. Penilaian kelompok meliputi berbagai indikator keberhasilan kelompok seperti,
     kekohesifan, pengambilan keputusan, kerjasama, dsb.
3.   Kriteria penilaian dapat disepakati bersama pada waktu orientasi. Kriteria ini diperlukan
     sebagai pedoman dosen dan mahasiswa dalam upaya mencapai keberhasilam belajar,apakah
     sudah sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan.

Penutup
Model pembelajaran kooperatif tidak terlepas dari kelemahan di samping kekuatan yang
ada padanya. Kelemahan tersebut antara lain terkait dengan kesiapan dosen dan
mahasiswa untuk terlibat dalam suatu strategi pembelajaran yang memang berbeda
dengan pembelajaran yang selama ini diterapkan. Dosen yang terbiasa memberikan
semua materi kepada para mahasiswanya, mungkin memerlukan waktu untuk dapat
secara berangsur-angsur mengubah kebiasaan tersebut. Ketidaksiapan dosen untuk
mengelola pembelajaran demikian dapat diatasi dengan cara pemberian pelatihan yang
kemudian disertai dengan kemauan yang kuat untuk mencobakannya. Sementara itu,
ketidaksiapan mahasiswa dapat diatasi dengan cara menyediakan panduan yang antara
lain memuat cara kerja yang jelas, petunjuk tentang sumber yang dapat dieksplorasi, serta
deskripsi tentang hasil akhir yang diharapkan, system evaluasi, dsb. Kendala lain adalah waktu.
Strategi pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang cukup panjang dan fleksibel,
meskipun untuk topik-topik tertentu waktu yang diperlukan mungkin cukup dua kali tatap muka
ditambah dengan kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran. Terlepas dari kelemahannya, model
pembelajaran kooperatif mempunyai kekuatan dalam mengembangkan softskills mahasiswa
seperti, kemampuan berkomunikasi, berfikir kritis, bertanggung jawab, serta bekerja sama. Jika
kelemahan dapat diminimalkan, maka kekuatan model ini akan membuahkan proses dan hasil
belajar yang dapat memacu peningkatan potensi mahasiswa secara optimal. Oleh sebab itu,
sangat diharapkan dosen mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif. Dosen dapat
mengembangkan model ini sesuai dengan bidang studinya, bahkan mungkin dari model ini para
dosen dapat mengembangkan model lain yang lebih meyakinkan.


Aktivitas Belajar Pada Model Pembelajaran Kooperatif

Proses pembelajaran yang menempatkan guru sebagai satu satunya sumber ilmu pengetahuan
masih banyak kita jumpai. Dengan cara ini seolah olah siswa sebagai botol kosong pasif yang siap
diisi ilmu pengetahuan oleh sang guru apapun atau bagaimanapun kondisinya. Hasil yang dicapai
melalui proses ini menjadlikan siswa kurang kreatif dan kurang bisa mengembangkan diri serta
sukar untuk mengaplikasikan apa yang telah diperolehnya dalam kehidupan sehari hari. Belajar juga
menjadi kurang bermakna karena jauh dari apa yang dihadapi siswa setiap hari.

Proses pembelajaran yang baik hendaknva menempatkan siswa sebagai pencari ilmu sehingga
perlu dibiasakan memecahkan dan merumuskan sendiri hasilnya (Johar, 2002:2). Intervensi dari
orang lain diberikan dalam rangka memotivasi mereka. Perumusan atau konseptualisasi juga
dilakukan oleh siswa sendiri. Posisi guru dalam proses pembelajaran bukan sebagai informator dan
penyuap akan tetapi sebagai organisator program pembelajaran, sebagai fasilitator bagi
pembelajaran siswa dan sebagai evaluator keberhasilan pembelajaran mereka. Hubungan guru
dengan siswa tidak lagi vertikal tetapi cenderung ke arah horizontal.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menempatkan siswa dalam kelompok kecil
yang saling membantu dalam belajar (Muhammad Nur: 1998 hal 16). Tiap tiap kelompok terdiri dari
anak yang berbeda beda kemampuan berfikirnya. Dalam kelompok mereka dapat melatih, dan
mengembangkan keterampilan keterampilan yang spesifik yang diperlukan dalam pembelajaran.
Ada tiga tujuan pembelajaran kooperatif yang akan dicapai yaitu : (1) hasil belajar akademik; (2)
penerimaan terhadap keberagaman; dan (3) pengembangan keterampilan sosial (Muslimin Ibrahim,
dkk 2001 : 7 ).

Hasil belajar akademik yang dimaksudkan dalam pembelajaran kooperatif meliputi pemahaman
konsep konsep yang sulit serta peningkatan kinerja ilmiah dalam tugas tugas akademik.
Heterogenitas kelas yang menyebabkan adanya kelompok atas dan kelompok bawah dimanfaatkan
sehingga rnereka saling menguntungkan dalam belajar. Kerja sama dan kolaborasi ditumbuhkan
sehingga dapat terhindar dari rasa permusuhan ataupun pertikaian kecil yang mengakibatkan
kekerasan. Situasi belajar semacam ini memberi dampak nyata kepada siswa ketika berada dalam
masyarakat

Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif

Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif

Kelebihan model pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Meningkatkan harga diri tiap individu
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu yang lebih besar.
c. Konflik antar pribadi berkurang
d. Sikap apatis berkurang
e. Pemahaman yang lebih mendalam
f. Retensi atau penyimpanan lebih lama
g. Meningkatkan kebaikan budi,kepekaan dan toleransi.
h. Model pembelajaran kooperatif dapat mencegah keagresivan dalam sistem kompetisi dan
keterasingan dalam sistem individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
i. Meningkatkan kemajuan belajar(pencapaian akademik)
j. Meningkatkan kehadiran siswa dan sikap yang lebih positif
k. Menambah motivasi dan percaya diri
l. Menambah rasa senang berada di sekolah serta menyenangi temanteman sekelasnya
m. Mudah diterapkan dan tidak mahal

Kelemahan model pembelajaran kooperatif

Kelemahan model pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Guru khawatir bahwa akan terjadi kekacauan dikelas. Kondisi seperti ini dapat diatasi dengan
guru mengkondisikan kelas atau pembelajaran dilakuakan di luar kelas seperti di laboratorium
matematika, aula atau di tempat yang terbuka.
b. Banyak siswa tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lain. Siswa yang tekun
merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mereka, sedangkan siswa yang kurang
mampu merasa minder ditempatkan dalam satu grup dengan siswa yang lebih pandai. Siswa
yang tekun merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang pada hasil jerih payahnya.
Hal ini tidak perlu dikhawatirkan sebab dalam model pembelajaran kooperatif bukan kognitifnya
saja yang dinilai tetapi dari segi afektif dan psikomotoriknya juga dinilai seperti kerjasama
diantara anggota kelompok, keaktifan dalam kelompok serta sumbangan nilai yang diberikan
kepada kelompok.
c. Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik atau keunikan pribadi
mereka karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok. Karakteristik pribadi tidak luntur
hanya karena bekerjasama dengan orang lain, justru keunikan itu semakin kuat bila disandingkan
dengan orang lain.
d. Banyak siswa takut bahwa pekerjaan tidak akan terbagi rata atau secara adil, bahwa satu orang
harus mengerjakan seluruh pekerjaan tersebut. Dalam model pembelajaran kooperatif pembagian
tugas rata, setiap anggota kelompok harus dapat mempresentasikan apa yang telah didapatnya
dalam kelompok sehingga ada pertanggungjawaban secara individu.

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dapat memotivasi belajar
siswa dimana kekurangan yang mungkin terjadi dapat diminimalisirkan

Pembelajaran Kooperatif - Tujuan

Tujuan pembelajaran kooperatif yaitu:
Hasil akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas
akademik. Pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok
bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Siswa kelompok atas akan menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah, jadi memperoleh bantuan
khusus dari teman sebaya, yang mempunyai orientasi dan bahasa yang sama. Dalam proses
tutorial ini , siswa kelompok atas akan meningkatkan kemampuan akademiknya karena memberi
pelayanan sebagai tutor membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang
terdapat di dalam materi tertentu.

Penerimaan terhadap perbedaan individu
Efek penting yang kedua dari model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan yang luas
terhadap orang berbeda ras, budaya, kelas sosial, kemampuan maupun ketidakmampuan.

Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting Ketiga dari pembelajaran kooperatif ialah mengajarkan kepada siswa
keterampilan kerja sama dan kolaborasi.

Unsur-unsur Model pembelajaran kooperatif

Unsur-unsur dasar yang perlu ditanamkan pada diri siswa agar model pembelajaran kooperatif
lebih efektif adalah sebagai berikut :

a. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”
b. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping
tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
d. Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota
kelompok.
e. Para siswa akan diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh
terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f. Para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama
selama belajar.
g. Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani
dalam kelompok kooperatif.


Prinsip Dasar Dan Ciri-Ciri Dalam Pembelajaran Kooperatif
Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam
kelompoknya.
Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai
tujuan yang sama.
Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara
anggota kelompoknya.
Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk
belajar bersama selama proses belajarnya.
Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi
yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar
yang akan dicapai.
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat
kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya,
suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu

Pembelajaran Kooperatif – Tahapan-Tahapan Persiapan

Pembelajaran Kooperatif – Tahapan-Tahapan Persiapan

Untuk kelancaran model pembelajaran kooperatif dalam pelaksanaannya, guru perlu sebelumnya
melakukan tahapan-tahapan persiapan sebagai berikut:
Persiapan materi
Materi yang akan disajikan dalam model pembelajaran kooperatif dirancang sedemikian hingga
sesuai dengan bentuk pembelajaran yang diselenggarakan secara kelompok. Sebelum
menyajikan materi pembelajaran terlebih dahulu dibuat lembar kegiatan yang akan dipelajari
siswa dalam kelompok-kelompok kooperatif.

Pembentukan kelompok kooperatif
Jumlah anggota dalam setiap kelompok kooperatif adalah 4-5 orang. Kelompok yang dibentuk
ini bersifat heterogen secara akademik, yaitu terdiri dari siswa pandai, sedang dan kurang. Selain
mempertimbangkan kemampuan akademik, perlu juga mempertimbangkan kriteria heterogenitas
lainnya, misalnya jenis kelamin dan latar belakang sosial.

Penentuan skor dasar
Selanjutnya diinformasikan skor dasar tiap anggota. Skor dasar berasal dari skor tes individu
pada evaluasi sebelumnya

Tinjauan Umum tentang Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan
interaksi yang saling mencerdaskan, menyayangi, dan tenggang rasa antar sesama siswa sebagai
latihan hidup di dalam masyarakat nyata. Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah
sebagai berikut; (1) Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang
bersama.”; (2) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya,
di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, dalam mempelajari materi yang
dihadapi; (3) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang
sama; (4) Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya di antara
para anggota kelompok; (5) Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan
ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok; (6) Para siswa berbagi
kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar; (7)
Para siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani
dalam kelompok kooperatif.
Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran
aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru
menerapkan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan
semua prosedur, namun siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di
dalam kelompoknya.

Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit, model pembelajaran
kooperatif sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan kemampuan bekerjasama,
berfikir kritis, dan kemampuan untuk membantu teman.

Landasan Teori dan Empirik Model Pembelajaran Kooperatif
Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah konsep pendidikan yang menyatakan bahwa
kelas seharusnya cermin masyarakat yang lebih besar dan berfungsi sebagai laboratorium untuk
belajar tentang kehidupan nyata. Pedagoginya mengharuskan guru menciptakan di dalam
lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang dicirikan dengan prosedur demokrasi dan proses
ilmiah. Pada tahun 1954 dan 1969, Herbert Thelan, berargumentasinya bahwa kelas haruslah
merupakan laboratorium yang bertujuan mengkaji masalah-masalah sosial dan antar pribadi.
Pada tahun 1994, Johnson dan Johnson, belajar berdasarkan pengalaman didasarkan pada tiga
asumsi bahwa Anda akan belajar paling baik jika Anda secara pribadi terlibat dalam pengalaman
belajar itu, pengetahuan harus ditemukan sendiri dan menetapkan tujuan pembelajaran Anda
sendiri.

Pendekatan yang Digunakan pada Model Pembelajaran Kooperatif
(a) Student Teams Achievement Division (STAD) adalah pembelajaran kooperatif dimana tim-
tim heterogen saling membantu satu sama lain, belajar dengan menggunakan berbagai metode
pembelajaran kooperatif dan prosedur kuis, (b) Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif
dimana setiap anggota tim bertanggung jawab untuk menentukan materi pembelajaran yang
ditugaskan kepadanya, kemudian mengajarkan materi tersebut kepada teman sekelompoknya
yang lain, (c) Investigasi Kelompok adalah model pembelajaran kooperatif dimana kelompok
siswa tidak hanya bekerja sama namun terlibat merencanakan baik topik untuk dipelajari dan
prosedur penyelidikan yang digunakan, (d) Pendekatan Struktural adalah model pembelajaran
kooperatif dimana dalam pendekatan ini tim mungkin bervariasi dari 2-6 anggota dan struktur
tugas mungkin ditekankan pada tujuan-tujuan sosial atau akademik.
Keterampilan-ketrampilan yang Perlu Terlebih Dulu Disosialisasikan kepada Siswa dalam
Model Pembelajaran Kooperatif: (1) Keterampilan kooperatif tingkat awal meliputi berada dalam
kelompok, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam tugas, mendorong partisipasi, dan
mengundang orang lain untuk berbicara; (2) Keterampilan kooperatif tingkat menengah meliputi
mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat ringkasan, dan menerima tanggung jawab; (3)
Keterampilan kooperatif tingkat mahir meliputi mengelaborasi, memeriksa ketetapan dan
menetapkan tujuan (Lundgren dalam Saragih, 2000: 18).

Sekilas Meninjau Model Pembelajaran Koperatif

Muhammad Faiq Dzaki

Model pembelajaran kooperatif adalah sekelompok strategi mengajar di mana di dalamnya
melibatkan siswa untuk bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif tercipta saat para pakar pendidikan berusaha meningkatkan
partisipasi siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal kepemimpinan dalam
kelompok, dan pengalaman membuat keputusan secara bersama, serta memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berinteraksi dan saling belajar dalam perbedaan latar belakang baik sosial,
ekonomi, kultural, gender, maupun kemampuan.

Di dalam sebuah pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, siswa belajar
untuk bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang mana hal ini akan
membuat mereka bisa mengembangkan keterampilan sosial sebagaimana yang terjadi di dunia
nyata.

Ada banyak sekali jenis atau tipe pembelajaran kooperatif, misalnya tipe STAD (Student Teams
Achievement Development), TPS (Think-Pairs-Share), Jigsaw, TGT (Teams Games
Tournaments), Group Investigation, dll.

Semua tipe pembelajaran kooperatif di atas mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama mempunyai
tiga (3) komponen esensial berikut: (1) tujuan-tujuan kelompok; (2) akuntabilitas individual; dan
(3) kesempatan untuk sukses yang sama.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think pair and Share (TPS) – Langkah-Langkah Pembelajaran
Langkah-langkah:
1) Guru menyampaikan inti materi
2) Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan
guru
3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/permasalahan yang belum
diungkap siswa
5) kesimpulan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD – Langkah-Langkah Pembelajaran
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student teams achievement division (STAD)
Langkah-langkah:
1) Membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang.
2) Guru menyajikan materi pelajaran.
3) Guru memberi tugas untuk dikerjakan, anggota kelompok yang mengetahui jawabannya
memberikan penjelasan kepada anggota kelompok.
4) Guru memberikan pertanyaan/kuis dan siswa menjawab pertanyaan/kuis dengan tidak saling
membantu.
5) Pembahasan kuis
6) Kesimpulan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw (model tim ahli) – Langkah-Langkah Pembelajaran
Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru
(kelompok ahli)
4) Setelah kelomppok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan
kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make a Match (membuat pasangan) – Langkah-Langkah
Pembelajaran
Langkah-langkah:
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi
review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)
2) Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
3) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu
jawaban)
4) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
5) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari
sebelumnya, demikian seterusnya
6) Kesimpulan

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group investivigation Go A Round – Langkah-Langkah
Pembelajaran
Langkah-langkah:
1) 5 siswaMembagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari
2) Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
3) Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara
bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu yang disepakati

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2
posted:6/7/2013
language:Malay
pages:12