Docstoc

Peran Keluarga dalam Masyarakat

Document Sample
Peran Keluarga dalam Masyarakat Powered By Docstoc
					Peran Keluarga dalam Masyarakat


Heman Elia

Keluarga telah kehilangan fungsinya di tengah hingar-bingar kehidupan modern saat ini. Apa tanda-
tandanya?
 Orang tua semakin tidak punya waktu bergaul dan berkumpul bersama anak-anaknya
    Bila kita percaya bahwa keluarga adalah bentuk organisasi masyarakat yang terkecil dan paling
    solid, kita bisa bayangkan masyarakat apa yang sedang kita bentuk di masa mendatang. Bila
    kekurangan waktu kebersamaan dalam keluarga ini terus berlangsung, masyarakat mendatang
    merupakan masyarakat yang terpecah-pecah, individualis, serta tidak peduli akan orang lain. Anak-
    anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang kehilangan arah. Mereka tidak belajar bagaimana
    berelasi dan memperhatikan orang lain.
 Perceraian semakin banyak dan semakin mudah dilakukan
    Selalu, perceraian menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan, dan kebencian. Perceraian yang
    sedemikian mudah, kadang-kadang tanpa alasan kuat, akan menghasilkan masyarakat yang semakin
    pemarah di masa mendatang. Belum lagi anak-anak yang dibesarkan tanpa mengenal ayah dan
    ibunya, mereka bakal menjadi pribadi-pribadi yang kosong jiwanya.
 Angka bunuh diri yang terus membengkak
    Dari 30 November hingga 15 Desember lalu (selama 16 hari) ada lima kasus bunuh diri di gedung
    bertingkat. Setelah itu juga masih ada kejadian bunuh diri, baik yang diliput media maupun yang
    tidak. Yang jelas, banyak sekali analisa maupun liputan media yang memperlihatkan bahwa
    persoalan yang terbesar kasus bunuh diri adalah faktor keluarga. Jelas bahwa angka bunuh diri yang
    terungkap ini hanya merupakan fenomena gunung es. Artinya, ada begitu banyak usaha bunuh diri
    yang tidak terungkap.
 Hubungan seks yang tidak wajar dan video mesum kian marak
    Pelakunya mulai dari anak sekolah, pegawai negeri, pejabat tinggi negara, selebriti, dan sebagainya.
    Seks telah kehilangan unsur sakralnya dan menjadi barang mainan yang murah harganya, menjadi
    tontonan umum, mulai dari mereka yang berusia anak-anak hingga orang dewasa. Hubungan seks
    yang mewakili kesatuan antara suami dan istri sedemikian mudah dilakukan hanya untuk
    kesenangan. Padahal seks di luar pernikahan di dalam Alkitab diasosiasikan dengan kebinasaan
    (Amsal 5:5).
 Di sana-sini terdengar kabar tentang pembunuhan, penganiayaan, dan penelantaran, baik antar
    pasangan, antara ayah dan ibu terhadap anak-anak mereka, atau juga yang dilakukan oleh anak
    terhadap orang tuanya
    Berbagai peristiwa ini memperlihatkan bahwa keluarga bukan lagi merupakan tempat yang aman
    bagi anggota keluarga. Sebaliknya, bisa jadi rumah adalah tempat yang paling berbahaya buat anak-
    anak dan anggota keluarga.
 Angka gangguan jiwa, kecanduan narkoba, disorientasi seksual, dan penyakit menular seksual terus
    berakumulasi dalam jumlah yang sangat luar biasa menandakan ada yang salah yang sedang terjadi
    dalam keluarga



                                                   1
Peran apakah yang sebetulnya diharapkan dari sebuah keluarga? Mari kita melihat kutipan dari kitab
Maleakhi 2:15 berikut,
       “Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki
       kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap istri
       dari masa mudanya.”

Bukan main-main bagian Firman Tuhan ini. Sebuah perintah yang mengandung janji, yakni bahwa
pasangan suami-istri harus menjaga kesetiaan. Juga bahwa kesatuan antara suami dan istri ini
dimaksudkan Allah untuk menghasilkan keturunan bagi-Nya. Keturunan itu disebut sebagai keturunan
ilahi. Bila memang keturunan ilahi yang dihasilkan, tentu hal ini akan dahsyat pengaruhnya terhadap
masyarakat.

Lalu mengapa justru kerusakan sedemikian masif yang sedang kita saksikan dalam masyarakat kita? Di
manakah sumber persoalannya? Kita bisa melihat kaitan antara kehancuran dalam pernikahan dengan
runtuhnya sebuah masyarakat. Coba kita simak kutipan berikut ini dari buku yang ditulis oleh Carle
Zimmerman (1947) yang menyebutkan delapan pola perilaku domestik yang khas yang berpotensi
menghancurkan masyarakat :

1.   Pudarnya kesakralannya pernikahan …sering diakhiri dengan perceraian
2.   Hilangnya makna tradisional dari upacara pernikahan
3.   Menggebunya gerakan feminis
4.   Menurunnya penghargaan publik terhadap orang tua dan otoritas pada umumnya
5.   Meningkat pesatnya kriminalitas remaja, seks bebas, dan pemberontakan remaja
6.   Penolakan akan peran dan tanggung jawab dalam keluarga
7.   Berkembangnya nafsu untuk melakukan perzinahan
8.   Meningkatnya minat terhadap dan menyebarnya penyimpangan seksual serta kejahatan seksual

Bila kita perhatikan, indikasi kehancuran keluarga yang didaftarkan oleh Zimmerman sejak lebih dari
setengah abad yang lampau ini tidak berbeda dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat dan
keluarga kita. Boleh dikatakan hampir setiap kita mempunyai anggota keluarga dekat yang
pernikahannya tidak harmonis atau bercerai. Juga kita menyaksikan saudara-saudara kita yang
mengalami berbagai hal yang disebutkan oleh Zimmerman.

Ada baiknya kita juga melihat data mengenai kesuksesan dalam keluarga dan pengaruhnya dalam
masyarakat. Zig Ziglar mengutip laporan penelitian oleh US News dan World Report yang mengaitkan
relasi di rumah dengan karier seseorang pada sejumlah milyarder di Amerika memberikan gambaran
sebagai berikut: mereka adalah orang yang bekerja delapan hingga sepuluh jam sehari selama tiga
puluh tahun dan tetap dalam pernikahan dengan kekasih mereka selama SMA atau di perguruan tinggi.
Sebuah perusahaan New York yang meneliti 1365 pimpinan perusahaan menemukan bahwa 87%
mereka tetap menikah dengan satu-satunya pasangan hidup mereka dan 92% dibesarkan dalam
keluarga yang memiliki dua orang tua lengkap. Hasil penelitian ini lebih dari cukup untuk
memperlihatkan bahwa keluarga merupakan kekuatan dan dasar dari masyarakat. Tentu saja yang kita
kejar bukan menjadi miliunernya, melainkan lebih dalam pengertian keluarga kita dapat memiliki
reputasi dan kehormatan yang baik di tengah masyarakat.


                                                   2
Baiklah kita coba rumuskan beberapa peran keluarga yang memiliki kaitan dengan masyarakat.

1. Keluarga haruslah merupakan cermin dari masyarakat yang sehat
   Banyak ayat Alkitab yang menggambarkan tentang betapa kudusnya pernikahan. Efesus 5:31-32
   menyatakannya demikian, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu
   dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku
   maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Bila pernikahan dapat membuat kita belajar
   mengasihi dan saling melayani, kita pun akan siap menerapkan kasih di dalam jemaat Tuhan, dan
   juga masyarakat yang lebih luas.
   Keluarga juga harus menjadi tempat yang aman di mana setiap anggotanya bisa belajar untuk saling
   menghormati. Dengan demikian, ketika kita keluar dari keluarga ke dalam masyarakat yang lebih
   luas, kita tidak canggung untuk berlaku benar dan sehat.
2. Keluarga menjadi tempat yang terbaik buat persemaian iman dan pembentukan karakter
   Kita akan terkagum-kagum bila menyaksikan bagaimana teguhnya iman Musa sekalipun selama 40
   tahun ia dididik dalam budaya Mesir yang sangat terhormat ketika itu. Kita juga terheran-heran
   bagaimana seorang muda seperti Jusuf dalam kedudukannya sebagai budak tetap bertahan dan
   menang terhadap pencobaan seksual yang maha berat. Masih ada tokoh lain yang mengagumkan,
   seperti Daud dan Daniel. Mereka semua hidup dalam penderitaan dan ketakutan, namun mereka
   memiliki pandangan iman yang melampaui dunia fisik. Mereka menjadi contoh bagaimana orang
   tua seharusnya mendidik anak di dalam iman sejak dini. Itu sebabnya Allah sangat meninggikan
   mereka dan membuat anak-anak dan keturunan mereka berbahagia.
3. Keluarga merupakan tempat pembibitan kepemimpinan dalam masyarakat
   Keluarga Kristen diharapkan tidak menjadi keluarga kebanyakan, yang sama dengan keluarga-
   keluarga lainnya. Keluarga Kristen seharusnya mempunyai keunikan dan keistimewaan yang mampu
   memberikan pengaruh pada dunia sekelilingnya. Hal itu tercermin dari 1 Timotius 3:2-5 “Karena itu
   penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri,
   bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan
   pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik,
   disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya
   sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” Anak-anak yang mendapat contoh
   kepemimpinan yang baik dari orang tuanya niscaya akan mampu belajar memimpin dengan lebih
   cepat dibanding rekan-rekannya. Dengan demikian, mereka menjadi pemimpin yang handal di masa
   mendatang.

Ada beberapa tindakan praktis dan strategis sehubungan dengan peran yang dituntut dari keluarga.

1. Setiap kita hendaknya tidak jemu berbuat baik terhadap pasangan hidup kita
   Kebanyakan pernikahan yang tidak harmonis dapat ditelusuri kepada dua penyebab utama, yakni
   karakter masing-masing pasangan, dan sikap tidak mau kalah atau tidak mau direndahkan.
   Pertengkaran mungkin dipicu oleh hal kecil, dan menjadi semakin berkobar karena kedua penyebab
   tersebut. Firman Tuhan mengajak kita untuk belajar dan melatih diri dengan meneladani Yesus
   Kristus.
2. Setiap pasangan orang tua harus menyediakan waktu yang cukup buat keluarga


                                                 3
   Tanpa waktu yang memadai, kekosongan hati akan lebih sering dialami, terutama oleh anak-anak.
   Waktu pertemuan yang kurang akan memicu lebih banyak kesalahpahaman. Begitu pula, hal-hal
   yang esensial, seperti misalnya, menanamkan iman dan membentuk karakter yang baik lewat
   kebiasaan yang baik menjadi musykil di tengah sempitnya waktu. Merumuskan visi dan pandangan
   hidup juga tidak mungkin terjadi dalam keluarga. Untuk menyediakan waktu yang cukup, mau tidak
   mau harus ada prioritas yang ditetapkan serta juga pengorbanan akan kesenangan dan kepentingan
   pribadi.
3. Setiap orang tua hendaknya mengambil peran dan tanggung jawab dalam mendidik anak
   Ada bagian Alkitab yang sangat indah untuk kita renungkan, “Sesungguhnya, anak-anak lelaki
   adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak
   panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang
   telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu,
   apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.” (Mazmur 127:3-5) Anak-anak tidak
   akan memalukan bila kita menyiapkan mereka, agar mereka kelak memiliki arah dan makna hidup.
   Untuk itu, kita perlu mendisiplin mereka, menyatakan kasih Kristus kepada mereka, dan membekali
   mereka lewat perbincangan kita bersama mereka.

Bila kita setia dan tekun melaksanakan Firman Tuhan dalam keluarga kita, sinar pengaruh keluarga kita
niscaya akan memancar terang dalam masyarakat. Kita pun boleh berharap bahwa masyarakat sekitar
kita akan semakin sehat dan baik pula.



Dibawakan di Retret Keluarga Lahai Roi, Sabtu, 2 Januari 2010, Villa Dharmaningsih, Pacet.




                                                   4

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:6/4/2013
language:Malay
pages:4
About tagged-basistik.blogspot.com,free-pdf-doc-xls-ppt.blogspot.com,fisika-basistik.blogspot.com,soccers-basistik.blogspot.com,pharaswork.blogspot.com