KEDATANGAN KRISTUS MEMBAWA PEMBAHARUAN HIDUP by elipldoc

VIEWS: 0 PAGES: 9

									      KEDATANGAN KRISTUS MEMBAWA PEMBAHARUAN HIDUP
         Yer. 33:14-16; Mzm. 25:1-10; I Tes. 3:9-13; Luk. 21:25-36


Pengantar
Jemaat Kristen mengawali kalender gerejawinya dengan merayakan melalui
masa Adven. Arti Adven, dari kata “adventus” berarti menantikan kedatangan
Kristus. Dengan demikian kehidupan anggota jemaat dan umat manusia pada
hakikatnya berada di antara 2 kedatangan Kristus, yaitu kedatangan Kristus
yang pertama melalui diri Yesus dari Nazaret dan kedatangan Kristus yang
kedua melalui diri Kristus yang telah wafat dan dimuliakan. Kedatangan
Kristus yang pertama merupakan peristiwa inkarnasi Firman Allah yang telah
menjelma menjadi diri Yesus dari Nazaret. Dan kedatangan Kristus yang
kedua merupakan wujud kedatangan Kristus yang adalah Firman Allah untuk
menghakimi umat manusia di hadapan takhtaNya. Melalui kedatangan Kristus
yang pertama, Kristus datang untuk membawa keselamatan dan penebusan
dosa melalui kurban pendamaian di atas kayu salib. Sehingga melalui
kedatangan Kristus yang pertama umat manusia dipanggil untuk hidup kudus
sebagai anak-anak Allah. Yang mana tujuan kedatangan Kristus yang pertama
pada hakikatnya membawa transformasi hidup sehingga umat manusia
dipanggil untuk menerapkan pola dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah
dinyatakan dalam karya keselamatan Kristus. Jika demikian, melalui
kedatangan       Kristus       yang     kedua      umat     manusia     akan
mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan tindakannya di hadapan
takhta Allah. Jadi inti dari kedatangan Kristus yang pertama dan kedua adalah
bagaimana melalui karya keselamatan Kristus, Allah menghadirkan kualitas
hidup dan keselamatan yang wajib dipertanggungjawabkan umat manusia
dalam kehidupan riel masa kini dan kehidupan di masa mendatang. Dengan
kedatanganNya yang pertama, Tuhan Yesus telah menghadirkan realitas
Kerajaan Allah di masa kini yang kemudian akan diwujudkan secara paripurna
dengan kedatangan Kerajaan Allah di masa mendatang.

Masa Adven mengingatkan setiap umat manusia, apakah kita telah hidup
dalam sistem dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah dinyatakan dalam
kehidupan Kristus. Dan apakah sistem dan nilai-nilai Kerajaan Allah tersebut
tetap bertahan sampai pada akhirnya sehingga umat manusia mampu
mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya pada saat kedatangan
Kristus yang kedua dalam kemuliaanNya. Melalui masa Adven umat manusia
khususnya umat percaya dipanggil untuk hidup menurut sistem nilai yang
telah ditentukan oleh Allah. Sebab bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita
lebih cenderung untuk hidup menurut pola dan sistem nilai manusiawi yang
bersifat daging? Karena itu dengan sikap “duniawi” tersebut kita sering
menempatkan posisi diri kita sebagai para musuh Kristus. Walaupun kita telah
percaya dan melayani Kristus, namun kehidupan kita ternyata lebih didominasi
oleh sistem dan nilai-nilai yang bertentangan dengan realitas Kerajaan Allah.
Makna iman dan kesediaan untuk melayani Tuhan sering hanya diberlakukan
dalam kehidupan beribadah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita lebih
terampil menerapkan pola dan nilai-nilai yang duniawi. Itu sebabnya
kehidupan rohani kita sering bias dan kontradiktif, yaitu beragama tetapi jauh
dari sikap spiritualitas. Di satu sisi kita antusias beribadah tetapi kita
cenderung bersikap fasik dalam kehidupan sehari-hari. Percaya kepada
kedatangan Kristus yang pertama, tetapi kita tidak peduli dengan
tanggungjawab untuk menyambut kedatangan Kristus yang kedua. Bersikap
menerima dan percaya akan karya penebusan Kristus dalam kedatanganNya
yang pertama, tetapi kita tidak mampu mempertanggungjawabkan setiap
perbuatannya dalam menyambut kedatangan Kristus yang kedua. Problem
utama kita dalam menghayati makna kedatangan Kristus yang pertama dan
kedua sebenarnya bersangkut-paut dengan masalah sikap integritas. Padahal
tanpa integritas diri yang ditampakkan dalam pembaharuan hidup tidaklah
mungkin bagi kita untuk menghayati makna kedatangan Kristus yang pertama
dan yang kedua. Tanpa integritas diri dalam sikap pembaharuan hidup,
makna kedatangan Kristus hanyalah menjadi suatu pengharapan utopia yang
tidak bermakna apa-apa.

Kedatangan Mahluk Alien?
Konsep kehidupan manusia modern pada masa kini dipenuhi oleh kisah fiktif
kedatangan mahluk alien. Kisah-kisah fiktif tersebut juga mengungkapkan
“keyakinan” manusia modern akan serangan dan intervensi mahluk angkasa
luar yang disebut dengan alen. Kedatangan mahluk asing tersebut tentunya
sama sekali tidak diharapkan. Sebab mahluk asing dari luar angkasa tersebut
digambarkan sebagai mahluk yang berbahaya dan menyerang untuk
menghancurkan kehidupan dan peradaban umat manusia. Para mahluk alien
tersebut memiliki pengetahuan dan teknologi yang lebih canggih. Sehingga
kedatangan       mereka      dapat     membawa         kehancuran       dan
malapeta. Sebenarnya kisah fiktif kedatangan mahluk alien merupakan
simbol kehidupan manusia modern yang sedang merasa terancam. Manusia
modern mengalami multi-krisis dan ketidakpastian hidup. Sebab para mahluk
angkasa luar tersebut dilukiskan akan datang bukan dengan misi untuk
membawa perdamaian, keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia.
Karena itu makna menantikan kedatangan Kristus sama sekali berbeda
secara esensial dengan kedatangan mahluk alien. Kedatangan Kristus justru
bertujuan untuk membawa misi keselamatan (syaloom) yang utuh dan
menyeluruh dalam kehidupan umat manusia. Sehingga pengajaran tentang
kedatangan Kristus pada masa kini seharusnya justru diharapkan oleh
orang-orang yang hidup benar di hadapan Allah. Namun pada sisi yang lain,
kedatangan Kristus sebenarnya memiliki kemiripan dengan kedatangan
mahluk alien. Sebab kedatangan Kristus yang kedua juga seperti kedatangan
para mahluk alien akan membawa malapetaka berupa hukuman yang
menghancurkan dan membinasakan. Bedanya kedatangan mahluk alien
dalam kisah fiktif manusia modern semata-mata akan membawa malapetaka
bukan bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, tetapi
melakukan suatu invasi untuk menguasai kehidupan umat manusia dengan
cara menghancurkan dan membinasakan. Tetapi tidaklah demikian misi dari
kedatangan Kristus yang kedua. Kristus datang bukan semata-mata untuk
menghancurkan kehidupan umat manusia, tetapi Dia akan mengadili seluruh
umat manusia untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya.

Di kitab Yer 33:14-16, Allah menyampaikan firman yang menubuatkan
kedatangan MesiasNya dari keturunan Daud. Kedatangan Mesias selalu
direncanakan dan diharapkan, sehingga makna kedatangan sang Mesias
ditempatkan dalam sistem iman dan spiritualitas umat percaya yang
transformatif. Sebaliknya kedatangan mahluk alien lebih tepat sebagai
proyeksi ketakutan umat manusia yang sedang kehilangan pijakan
spiritualitasnya. Ketakutan manusia modern terhadap mahluk alien
sebenarnya merupakan ekspresi krisis yang menggoyahkan nilai-nilai iman
dan eksistensi hidupnya yang telah menjauh dari relasi personal dengan Allah
yang hidup. Mereka terjebak dalam sekulerisme yang atheistis, sehingga
manusia modern kehilangan sikap iman yang percaya akan pemeliharaan dan
pertolongan Allah dalam kehidupan riel. Keberlangsungan kehidupan
dipandang oleh manusia modern sebagai hasil dan prestasi manusia dalam
membangun peradaban dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Yang mana
pada masa kini seluruh bangunan peradaban dan fasilitas-fasilitas pendukung
tersebut semakin goyah karena terus-menerus diterpa oleh berbagai krisis
moral, rasa tidak aman dan konflik. Karena itu pergumulan umat manusia
pada masa kini adalah ke mana kita harus pergi menyelamatkan diri jikalau di
planet bumi ini tidak ada lagi memiliki tempat yang aman untuk berteduh dan
tempat untuk menghayati makna kehidupan. Dalam konteks pergumulan yang
demikian, yang dipikirkan oleh manusia modern bukan berlindung dalam nama
Allah, tetapi mereka berusaha mencari tempat yang aman di planet lain.
Keberadaan Allah disingkirkan dalam kehidupan manusia modern. Karena itu
pola pemikiran manusia modern adalah bagaimana memperoleh keselamatan
tanpa pertolongan Allah. Makna keselamatan dan keberlangsungan
kehidupan dipahami secara sempit yaitu sebagai suatu tindakan “migrasi”
tempat tinggal ke tempat yang aman. Sebaliknya iman Kristen menghayati
bahwa makna keselamatan dan keberlangsungan kehidupan yang kekal akan
terwujud apabila manusia mampu menghayati kehadiran dan pertolongan
Allah di tempat tinggal atau lokus hidupnya. Keselamatan Allah yang kekal
tidak pernah mendorong manusia untuk melarikan diri dari realitas hidupnya,
tetapi umat dimampukan oleh Allah untuk mengubah realitas hidupnya
menjadi tempat tinggal yang lebih bermakna dan sejahtera.

Melaksanakan Keadilan Dan Kebenaran Di Negeri
Janji keselamatan Allah dalam kedatangan Kristus yang pertama dan kedua
tidak pernah bermaksud memindahkan eksistensi manusia dari kehidupan riel
di muka bumi ini. Juga janji keselamatan Allah tidak pernah mendorong
manusia untuk melarikan diri ke dunia akhirat yang eskatologis dengan
mengabaikan kehidupan riel di masa kini. Kehidupan masa kini memiliki arti
yang sangat penting dan menentukan makna kehidupan kekal di masa
mendatang. Untuk itu dalam kehidupan di masa kini yang berada di antara
kedatangan Kristus yang pertama dan kedua, umat percaya dipanggil untuk
menghayati iman kepada Kristus secara otentik dan bertanggungjawab. Umat
percaya dipanggil untuk memberlakukan keadilan dan kebenaran di negeri di
mana mereka tinggal. Di Yer. 33:15, Allah berfirman: “Pada waktu itu dan pada
masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan
melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri”. Kedatangan Kristus
sebagai wujud Tunas Daud dinubuatkan akan hadir untuk memberlakukan
keadilan dan kebenaran di negeri orang-orang hidup. Dengan demikian,
kedatangan Kristus selalu terkait erat dengan konteks dan sejarah hidup umat.
Kedatangan Kristus tidak pernah bermaksud untuk menjauhkan manusia dari
realita hidup, tetapi sebaliknya Dia terus menerus memperdalam spiritualitas
manusia untuk menghayati kehadiran dan karya Allah di masa kini. Dalam hal
ini betapa sering kita selaku gereja berbicara mengenai kebenaran dan
keadilan yang terlepas dengan konteks hidup yang riel. Sikap tersebut
mengesankan seakan-akan kebenaran dan keadilan sangat muskil
untuk diwujudkan pada masa kini. Makna kebenaran dan keadilan sering
dihayati di luar kehidupan riel yaitu berada dalam dunia masa mendatang yang
serba abstrak. Akibatnya kita selaku gereja tidak pernah memperjuangkan
makna kebenaran dan keadilan secara serius, sepenuh hati dan konsisten di
masa kini. Kalau kita kemudian berbicara dengan antusias mengenai
kebenaran dan keadilan secara serius umumnya ketika menyangkut
kepentingan diri atau kelompok kita. Tetapi ketika kita berhadapan dengan
ketidakadilan dan ketidakbenaran yang menimpa sesama, kita lebih memilih
untuk bersikap diam. Dengan sikap yang demikian, kita selaku gereja tidak
mampu menghadirkan diri sebagai media yang membawa perubahan yang
kualitatif dalam kehidupan umat manusia. Kita sering gagal untuk menjadi
garam dan terang dunia yang efektif dan transformatif di masa kini.

Kegagalan kita untuk menjadi pelaku pembaharuan yang efektif bukan saja
menyangkut masalah kesungguhan hati. Mungkin hampir sebagian besar
umat Kristen ingin menjadi garam dan terang dunia untuk memberlakukan
kebenaran dan keadilan Allah. Tetapi kesungguhan hati saja tidaklah cukup
jikalau secara substansial tidak didukung oleh pembaharuan diri secara
internal. Sebab tidaklah mungkin bagi kita untuk membaharui realitas negeri
yang lebih luas, jika tidak didasari oleh pembaharuan domestik. Segala upaya
untuk membaharui realitas kehidupan yang eksternal akan gagal, jikalau kita
mengabaikan pembaharuan internal diri. Stephen Covey dalam “7 habits”
menegaskan bahwa kemenangan publik akan terwujud jikalau kita berhasil
terlebih dahulu memperoleh kemenangan pribadi. Dengan demikian betapa
penting setiap umat percaya terlebih dahulu mencapai kemenangan pribadi
dengan mampu menghayati bagaimana kuasa penebusan Kristus yang
mendamaikan secara menyeluruh dimensi kehidupan pribadi bersama dengan
Allah dan sesama. Setelah umat mencapai kemenangan pribadi, barulah umat
percaya akan mampu berperan secara efektif untuk memberlakukan
kebenaran dan keadilan dalam lingkup yang lebih luas. Sebab bagaimana
mungkin jika kita masih hidup dalam konflik-konflik batin, jauh dari sikap benar
dan adil terhadap diri sendiri mampu menjadi pembela bagi sesama yang
lemah dan tertindas. Demikian juga bagaimana kita dapat menyambut
kedatangan Kristus yang kedua jika kita gagal memberi respon yang tepat dan
utuh terhadap kedatangan Kristus yang pertama. Itu sebabnya pemazmur
menegaskan kebutuhannya untuk memperoleh rahmat Tuhan agar dia dapat
mengenal jalan kebenaran. Mzm. 25:4-5 berkata: “Beritahukanlah
jalan-jalanMu kepadaKu, ya Tuhan; tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku
berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang
menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari”.

Bertambah Dan Berkelimpahan Dalam Kasih
Pemaknaan hidup bagi umat percaya bukanlah sekedar karena mereka
memiliki kesadaran lingkup kelahiran sampai kematian. Lingkup tersebut
terlalu umum sebab pembahaman tersebut juga dihayati pula oleh umat yang
tidak percaya. Karena itu penghayatan kita selaku umat percaya terhadap
“nilai waktu” perlu ditempatkan dalam lingkup yang lebih luas namun bersifat
khusus, yaitu menghayati iman di antara 2 kedatangan Kristus. Dengan
demikian, selaku umat percaya kita diajak untuk menghayati kehidupan masa
kini dengan merefleksikan karya Kristus dalam kedatanganNya yang kedua
dan juga panggilan untuk menantikan kedatangan Kristus yang kedua di akhir
zaman. Penghayatan iman yang demikian akan lebih memampukan kita
untuk menghayati karya keselamatan Allah secara lebih utuh. Makna
kehidupan kita selaku umat prcaya tidak hanya menghayati batas kefanaan
antara kelahiran sampai kematian. Tetapi juga kita telah diberi karunia untuk
menghayati kekayaan rahmat atau kasih-karunia Allah yang terentang dalam
kedatangan Kristus yang pertama sampai kedatangan Kristus yang kedua.
Pada satu pihak kita perlu memahami kefanaan diri yang berada di antara
waktu kelahiran dan waktu kematian. Kesadaran kefanaan diri tersebut dapat
mengajar kita untuk selalu rendah-hati karena kita hidup dalam waktu yang
sangat terbatas. Tetapi pada pihak lain kita diajak untuk memahami
keagungan kasih Allah yang dinyatakan dalam kedatangan Kristus yang
pertama dan tetap kontinyu sampai kedatanganNya yang kedua. Dengan 2
pola penghayatan yang demikian, yaitu kesadaran akan kefanaan hidup di
antara waktu kelahiran-kematian dan keagungan kasih Allah di antara waktu
kedatangan Kristus yang pertama-kedua, selaku umat percaya kita
dimampukan memaknai peran khusus agar mampu terus bertambah dan
berkelimpahan dalam kasih. Kesadaran akan kefanaan hidup mengingatkan
kita akan kedudukan kita sebagai seorang ciptaan yang berasal dari debu
belaka. Dan keagungan kasih Allah mengingatkan bahwa di dalam karya
penebusan Tuhan Yesus, kita telah dijadikan sebagai anak-anak Allah. Selaku
ciptaan kita diingatkan bahwa tidak ada yang dapat dibanggakan sebab kita
hanyalah terbuat dari debu tanah, namun selaku umat yang telah ditebus oleh
Kristus kita dilimpahi oleh rahmat kasihNya. Pemahaman teologis ini akan
memampukan kita untuk menghayati makna hidup ini secara seimbang dan
utuh. Kefanaan hidup tidak akan membuat kita bersikap pesimistis dan
menganggap hidup ini sebagai suatu kesia-siaan sebab hidup kita ditopang
oleh rahmat dan penebusan Kristus. Sebaliknya pula rahmat Allah yang begitu
besar dengan pengorbanan Kristus tidak boleh sampai membuat kita merasa
begitu istimewa sampai kita melupakan hakikat keberadaan kita yang fana.

Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan kasih akan melemah saat kita
menyikapi hidup ini secara pesimistis. Saat kita bersikap pesimistis dan
menganggap hidup ini sia-sia belaka sebab segala sesuatu akan berakhir
dengan kematian, maka kita juga akan menganggap kesia-siaan untuk
melakukan kasih kepada sesama. Demikian pula saat kita merasa diri begitu
istimewa menjadi anak-anak Allah sampai kita melupakan kodrat kefanaan
kita sebagai seorang mahluk, maka kita juga akan gagal untuk
memberlakukan kasih. Sebab melupakan kodrat kefanaan diri dengan sikap
yang bermegah atas pemilihan dan penebusan Kristus akan menyebabkan
kita menjadi sombong. Yang mana dengan sikap sombong tidaklah mungkin
bagi kita untuk memberlakukan kasih Allah. Sebaliknya rahmat
kasih Allah akan dapat kita alami apabila kita selalu mampu bersikap
rendah-hati dan tidak menganggap realitas hidup kita sebagai kesia-siaan.
Kasih Allah akan dapat kita alami semakin penuh apabila kita mampu
menghayati kepenuhan penebusan Kristus. Di surat I Tesalonika 3:12 rasul
Paulus menaikkan doa agar jemaat Tesalonika memperoleh rahmat Allah
sehingga mereka dimampukan untuk semakin bertambah dan berlimpah
dalam kasih, yaitu: “Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah
dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap
semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu”. Jadi menghayati
makna kedatangan Kristus pada hakikatnya bertujuan mendorong setiap umat
Tuhan untuk memiliki perspektif hidup yang seimbang, yaitu menyadari
kefanaan sekaligus rahmat Allah. Dengan sikap spiritualitas yang demikian,
kehidupan umat percaya akan dipenuhi oleh kuasaNya untuk terus dipenuhi
dan dilimpahi oleh kasih Kristus. Sehingga dalam masa menantikan
kedatangan Kristus yang kedua, umat percaya semakin dipanggil
memberlakukan kasih Kristus yang tanpa syarat.

Pembaharuan Kosmis
Namun sebagaimana dipahami, begitu banyak orang yang saat ini masih
terbelenggu oleh kuasa dosa. Mereka tidak mau menyadari makna kefanaan
hidup mereka dan lebih memilih untuk mengeraskan diri terhadap rahmat
keselamatan Kristus. Sehingga mereka hidup dalam berbagai kejahatan dan
dosa. Hidup mereka jauh dari sikap kasih. Sebaliknya mereka menyebarkan
penderitaan dan kesusahan bagi sesamanya. Saat ini kita berada dalam dunia
yang penuh dengan berbagai kekerasan, kebencian, keserakahan dan
dendam. Lingkaran dosa tersebut sangat sulit diputuskan, sebab para pelaku
kejahatan dan dosa tersebut menganggap bahwa apa yang dilakukannya
“benar”. Anehnya mereka yang melakukan berbagai kejahatan tersebut
umumnya juga sangat khidmat saat beribadah. Tampaknya perubahan atau
pembaharuan dalam kehidupan ini tidak akan terjadi hanya karena
umat bersikap khidmat dan didorong antusiasme religius untuk
melaksanakan ibadah dalam agama mereka. Agama-agama dengan sistem
dan ajarannya pada masa kini semakin terlihat tidak memiliki kekuatan untuk
mengubah kehidupan umat manusia yang terbelenggu oleh kuasa. Hanya
kuasa Kristus saja yang mampu membawa pembaharuan hidup dalam
kehidupan umat manusia. Untuk itu pada akhir zaman, Kristus akan datang
untuk melakukan pembaharuan total dalam kehidupan kosmis ini. Apabila
dalam kedatanganNya yang pertama, Kristus datang dengan berinkarnasi dan
perendahan diri sebagai seorang manusia; maka dalam kedatanganNya yang
kedua, Kristus akan datang dengan kemuliaanNya sebagai seorang Raja dan
Hakim. Sehingga dengan kedatanganNya yang kedua, Kristus akan datang
dengan kuasaNya untuk membaharui seluruh kosmis. Dia akan datang
dengan menghancurkan tatanan dan kuasa-kuasa alam. Di Luk. 21:25, Tuhan
Yesus berkata: “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan
bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung
menghadapi deru dan gelora laut”. Saat terjadi kehancuran kosmis yang
begitu mengerikan, maka pada saat itu juga Kristus selaku Hakim akan datang
dengan kemuliaanNya untuk mengadili umat manusia (Luk. 21:27).

Kehancuran kosmis yang sering disebut dengan “kiamat” dalam iman Kristen
bukanlah suatu peristiwa yang sekedar destruktif. Sebab istilah “kiamat” dalam
pengertian iman Kristen juga dapat berarti sesuatu peristiwa yang konstruktif.
Kehancuran kosmis dalam peristiwa “kiamat” dalam pemahaman Alkitab
merupakan peristiwa yang mengawali kedatangan Kristus dalam
kemuliaanNya. Dengan demikian makna “kiamat” dalam iman Kristen lebih
tepat dipahami sebagai awal dari karya pembaharuan Allah yang menyeluruh.
Yang mana karya pembaharuan Allah tersebut bertujuan untuk memulihkan
kehidupan umat manusia yang telah dirusak oleh kuasa dosa. Sehingga
seluruh mahluk dan umat manusia melalui kedatangan Kristus dengan
kemuliaanNya mampu memberlakukan nilai-nilai dan prinsip Kerajaan Allah
secara penuh. Jadi tujuan utama dari kedatangan Kristus yang kedua adalah
untuk menciptakan langit dan bumi yang baru (Why. 21:1), sehingga umat
manusia dapat mengecap syaloom Allah. Dengan hadirnya langit dan bumi
yang baru, Allah di dalam Kristus berkarya memulihkan seluruh aspek
kehidupan. Yang mana seluruh umat dan mahluk “diciptakan ulang”
(recreation) oleh Allah untuk mengalami pembaharuan hidup yang menyeluruh.

Sikap umat dalam menghadapi kedatangan Kristus yang akan diawali dengan
kehancuran kosmis tidak boleh ditempuh dengan cara melarikan diri dari
kenyataan hidup dan tugas panggilannya. Umat juga tidak diperbolehkan
hanya menanti kedatangan Kristus dengan sikap pasif atau dirongrong oleh
perasaan takut atau ngeri. Sikap tersebut tidak akan dapat membawa
perubahan atau pembaharuan hidup yang signifikan. Sikap yang tepat dalam
menantikan kedatangan Kristus dengan kemuliaanNya apabila umat
sungguh-sungguh bersikap pro-aktif dalam menghadirkan tanda-tanda “langit
dan bumi yang baru”. Tepatnya karya kasih Allah tidak mungkin diwujudkan
dengan sikap yang reaktif, yaitu sikap kasih yang dipengaruhi oleh
faktor-faktor eksternal atau dorongan emosi “religius” yang sesaat. Tindakan
kasih yang reaktif umumnya bersifat insidentil, tanpa perencanaan dan
pertimbangan yang masak sehingga tidak pernah mencapai suatu
pembaharuan hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Padahal
suatu tindakan kasih yang didasarkan kepada karya penebusan Kristus pada
hakikatnya bertujuan untuk menghadirkan perubahan budi dalam kehidupan
umat manusia.

Panggilan
Nilai kehidupan kita bukan hanya dibatasi oleh waktu kelahiran sampai
kematian, tetapi juga berada dalam perspektif yang lebih luas yaitu berada di
antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua. Dengan perspektif
yang lebih luas tersebut kita diajak untuk memahami makna kefanaan dan
rahmat Allah dalam karya penebusan Kristus. Sehingga seharusnya selaku
umat percaya kita memiliki ruang yang lebih luas untuk memberlakukan kasih
Allah. Panggilan kita untuk memberlakukan kasih bukan karena hidup kita
akan berakhir dengan kematian, tetapi juga kita wajib memberlakukan kasih
karena kehidupan kita ditopang oleh rahmat penebusan Kristus. Kasih Kristus
itulah yang akan memampukan kita untuk mengalami pembaharuan hidup
sehingga kita dimampukan untuk memberlakukan kebenaran dan keadilan
dalam kehidupan sehari-hari. Dari pada kita berupaya untuk
“mempertobatkan” sesama, lebih baik kita mengalami proses pertobatan diri
yang menyeluruh sehingga kehidupan kita menjadi kehidupan yang menjadi
berkat. Setelah itu barulah kita dapat dipakai Allah untuk membawa
perubahan, pertobatan dan pembaharuan hidup dalam skala yang lebih luas.
Bagaimanakah kehidupan saudara? Apakah kehidupan saudara kini terarah
kepada makna penantian akan kedatangan Kristus secara positif dan pro-aktif,
sehingga kita mampu memaknai kehidupan ini dengan kuasa kasihNya? Amin.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

								
To top