Docstoc

LP MITRAL STENOSIS

Document Sample
LP MITRAL STENOSIS Powered By Docstoc
					                         LAPORAN PENDAHULUAN
                               MITRAL STENOSIS


A. KONSEP DASAR
   Sebelum membahas mitral stenosis kita perlu membahas pengertian demam
rheumatik karena terjadinya mitral stenosis biasanya disebabkan penyakit demam
rheuma.
Demam rheuma adalah penyakit sistemik yang bersifat sub akut atau kronik yang dalam
perjalanan penyakit selanjutnya dapat sembuh dengan sendirinya (self limited) atau
menjurus pada deformitas katub jantung.

1. PENGERTIAN
   Mitral stenosis adalah blok aliran darah pada tingkat katup mitral, akibat dari adanya
perubahan struktur mitral leaflet, yang menyebabkan tidak membukanya katup mitral
secara sempurna pada saat diastolik.
2. ETIOLOGI
   Secara etiologis mitral stenosis dapat dibagi atas rheumatik ( 90 ) dan non
rheumatik. Mitral stenosis berawal dari demam rheuma.

3. PATOFISIOLOGI
                          Streptokokus  Hemolyticus group A

                                       Masuk ke tubuh

                                       Demam rheuma



                    Demam                Atralghia       Miokarditis
                                         Arthritis       Perikarditis


       Fibrosis  fusi komisura katup mitral waktu penyembuhan demam rheuma


                          Sekat jaringan ikat tanpa pengapuran


                                       Mitral stenosis

                           Peningkatan tekanan di atrium kiri


                            Bendungan vena dan kapiler paru
                         Pelebaran ventrikel kanan dan insufisiensi
                           Vena sistemik mengalami bendungan
                         Bendungan hati        Gangguan fungsi hati


                            Tekanan arteri pulmonal meningkat

                                 Penurunan cardiac out put


 Paru                     Ekstremitas                  Kardiovaskuler                GIT


Penurunan O2              Metabolisme an aerob        Gg. Irama jantung     Pe peristaltik


Sesak                     Asam laktat meningkat        Kontraksi          Distesi abdomen


Resiko terjadi ke-        Kelemahan otot               Suplai O2          Mual, muntah


rusakan pertukaran gas     Intoleransi aktivitas       Gg. Perfusi ja-    Nafsu makan


                                                      ringan               Gg. Peme-
                                                                           nuhan nutrisi




IV. MANIFESTASI KLINIS
        Timbulnya keluhan pada pasien mitral stenosis adalah sebagai akibat peninggian
tahanan di vena pulmonal yang diteruskan ke paru. Di dalam paru akan terjadi perubahan
lapisan intima kapiler dan edema interstisial dan hal ini menimbulkan kapasitas vital paru
berkurang. Keluhan tersebut dapat berupa sesak napas, yang merupakan keluhan yang
paling menonjol pada mitral stenosis.
        Stres atau aktivitas yang tiba- tiba dapat menimbulkan kongesti paru walaupun
mitral masih ringan. Hemoptisis dapat juga terjadi pada mitral stenosis, yang timbul
akibat refleksi hipertensi vena pulmonal ke dalam vena bronkial. Selain itu juga bisa
dijumpai palpitasi yang biasanya disebabkan karena mitral stenosis tersebut sudah
disertai adanya fibrasi atrial. Nyeri dada juga sering dikeluhkan oleh pasien mitral
stenosis. Mungkin dikaitkan dengan adanya iskemia miokard ventrikel kanan yang timbul
sebagai akibat dari hipertensi pulmonal yang berat.
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto polos dada
a. Proyeksi P-A (Posterior- Anterior): Kanus pulmonalis menonjol, pinggang jantung
   hilang, cefalisasi arteria pulmonalis.
b. Proyeksi RAO (Right Anterior Oblique): Tampak adanya tanda- tanda pembesaran
   atrium kiri, serta pembesaran ventrikel kanan.
2. EKG
   Irama sinus atau atrium fibrilasi disertai tanda- tanda LAE (Left Atrial Alergement), P
   mitral yaitu gelombang P yang melebar serta berpuncak 2, serta tanda- tanda RVH
   (Right Ventrikel Hypertrophy), dan bila sudah lanjut irama jantung berubah jadi
   atrium fibrilasi.
3. Ekokardiografi
   Didapatkan          dilatasi    ventrikel    kiri    tampak       pergerakan        dinding
   hiperkinetik.Pemeriksaan ekokardiografi doppler maupun color akan tampak
   gambaran aliran turbulensi dari aorta ke ventrikel kiri pada saat diastol.
4. Katerisasi dan Sine Angiografi
   Dari aortografi didapatkan zat kontras dari aorta yang kembali ke dalam ventrikel
   pada saat diastol.


VI. PENATALAKSANAAN
         Prisip dasar pengelolaan adalah melebarkan lubang katup mitral yang menyepit,
tetapi indikasi intervensi ini hanya untuk penderita kelas fungsional II ke atas.
Intervensi   dapat     bersifat   bedah   (valvulotomi,rekontruksi   aparat     sub   valvuler,
komisurotomi atau penggantian katup) dan non bedah (valvulotomi dengan dilatasi
balon)
         Pengobatan farmakologis hanya diberikan apabila ada tanda- tanda gagal jantung,
aritmia ataupun reaktivasi rheuma.
         Profilaksis rheuma pada mitral stenosis harus diberikan sampai umur 25 tahun,
walaupun sudah dilakukan intervensi. Bila sudah umur 25 tahun masih terdapat tana-
tanda reaktivasi maka profilaksis diteruskan lagi selama 5 tahun.
Pencegahan terhadap endokarditis infektif diberikanpada setiap tindakan operatif,
misalnya, pencabutan gigi, luka, dsb.


B. PENGKAJIAN
Pengkajian meliputi: nama, umur, jenis kelamin, alamat, suku, agama, pendidikan,
pekerjaan,tanggal MRS.
 Keluhan Utama
Biasanya pasien mital stenosis akan mengeluh sesak saat melakukan aktivitas, meskipun
itu aktivitas ringan.
 Riwayat Penyakit Sekarang
Tanyakan mulai kapan keluhan muncul dan penanganannya, sampai dibawa ke rumah
sakit dan sampai saat pengkajian.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan apakah pasien pernah mengalami keluhan seperti ini, apakah dia mempunyai
penyakit kronik atau penyakit menular seperti hipertensi,jantung,dan paru.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, hipertensi, TBC
atau penyakit menular dan menurun lainnya.
 Pola Aktivitas
Gejala: kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda: Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung.
 Eliminasi
 Makanan/ cairan.


Diagnosa Keperawatan yang muncul:
1. Resiko tinggi terjadi gangguan pertukaran gas b/d dispnea.
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d iskemia miokard.
3. Cemas b/d kurangnya informasi yang adekuat.
4. Resiko tinggi terjadi gangguan pemenuhan nutrisi.
5. Keterbatasan aktivitas.
6. Gangguan perfusi jaringan.


Rencana Perawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d iskemia miokard.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1X 24 jam nyeri dapat berkurang
atau hilang.
Kriteria hasi: Pasien dapat mengatakan rasa nyerinya berkurang atau hilang, pasien tidak
menyeringai kesakitan, pasien tampak tenang.
Intervensi:
1. Lakukan pendekatan secara terapeutik kepada pasien.
R/ Memudahkan kerja sama antara perawat dan pasien.
2. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien
R/ Mengetahui nilai ambang nyeri.
3. Jelaskan pada pasien tentang penyebab terjadinya nyeri.
R/ Meningkatkan koping pasien dalam mengatasi rasa nyeri.
4. Anjurkan pasien untuk membatasi aktivitas.
R/ menurunkan kebutuhan O2 dan kerja jantung dan dapat menghentikan angina.
5. Kolaburasi dengan tim medis dalam memberikan terapi (vasodilator).
R/ Meningkatkan sirkulasi miokardia, (vasodilator) menurunkan angina sehubungan
dengan iskemia miokard.
2. Resiko tinggi gangguan pertukaran gas b/d dispnea
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1X24 jam tidak terjadi gangguan
pertukaran gas.
Kriteria hasil: Pasien tidak sesak, pasien tampak tenang, TTV dalam batas normal.
Intervensi:
1. Kaji frekwensi, kedalaman serta irama pernafasan pasien.
R/ mengetahui derajat distres pernafasan dan / atau kronisnya proses penyakit.
2. Berikan posisi yang nyaman (semi fowler)
R/ Mengurangi rasa sesak.
3. Anjurkan pasien untuk nafas dalam.
R/ Memudahkan aliran O2.
4. Kolaburasi dengan tim medis dalam pemberian O2.
R/ Kebutuhan O2 pasien dapat terpenuhi.
                               DAFTAR PUSTAKA


Lily Ismudiati Rilantono dkk, 1996, Buku Ajar Kardiologi, Jakarta.
Marilyn E. Doenges, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta.
Prof. Dr. H. M. Syaifoellah Noer, 1996. Ilmu Penyakit Dalam, jilid I. Jakarta.
Arief Mansjoer dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta.
Budi Soesetyo Joewono, 2003. Ilmu Penyakit Jantung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:0
posted:6/4/2013
language:Malay
pages:6