Docstoc

Pendidikan Islam Ikhwan Al Safa

Document Sample
Pendidikan Islam Ikhwan Al Safa Powered By Docstoc
					                PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT
                                   IKHWAN AL SAFA


A. Ikhwan Al Safa
             Ikhwan Al Safa adalah sebuah perkumpulan para mujtahidin yang
    bergerak dalam lapangan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan namanya, Ikhwan
    Al Safa berarti persaudaraan yang suci dan bersih. Maka asas utama
    perkumpulan ini adalah persaudaraan yang dilakukan secara tulus dan ikhlas,
    kesekawanan yang suci, dalam menuju ridlo Ilahi. Perkumpulan ini dibentuk
    di kota Bashrah Irak sekitar tahun 340/941 olah Zayd Ibn Rifa'ah dan
    berkembang pada abad ke dua Hijriah.1
             Informasi lain menyebutkan bahwa perkumpulan ini lahir pada abad ke
    10 M. di kota Bashrah, pada masa pemerintahan Al Mansur, khalifah kedua
    pemerintahan Bani Abbas. Dari Bashrah, Ikhwan Al Safa terus berkembang ke
    berbagai daerah seperti Iran dan Quwait. Organisasi ini mengajarkan tentang
    dasar-dasar agama Islam yang didasarkan atas persaudaraan Islamiyah
    (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap saling mencintai sesama saudara muslim
    dan kepedulian yang tinggi terhadap orang muslim.2 Semua anggota
    perkumpulan ini wajib menjadi guru dan muballigh bagi masyarakatnya.
             Kemunculan Ikhwan Al Safa dilatarbelakangi oleh keprihatinan
    terhadap pelaksanaan ajaran Islam yang telah tercemar oleh ajaran-ajaran luar
    Islam, serta untuk membangkitkan kembali rasa cinta pada ilmu pengetahuan.
    Organisasi ini sangat merahasiakan anggotanya. Mereka bekerja dan bergerak
    secara rahasia, disebabkan kekhawatiran akan tindak penguasa waktu itu yang
    cenderung menindas gerakan-gerakan yang timbul.3
             Dalam perkembangannya, perkumpulan ini menggunakan cara yang
    halus dan bercorak kebatinan. Mereka sangat mengutamakan pribadi, jiwa dan
    akidah manusia.


1
  Ansiklopedia
2
  Ahmad Fuad Al Ahwani, Al Tarbiyah fi Al Islam. Mesir, Dar Al Maarif Hl. 227
3
  Dr. H. Samsul Hizah, MA. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta. Ciputat Pers, 2002 Hal. 96
           Dalam aktifitas Ikhwan Al Safa, banyak juga memfokus untuk
    mempelajari bidang kefilsafatan. Karena di antara pendiri perkumpulan ini
    terdiri dari para filosof sehingga pemikirannya banyak dipengaruhi oleh
    filsafat yang berkembang saat itu seperti filsafat Yunani dan Persia. Dan
    kemudian dipadukan dengan ajaran Islam. Sehingga menjadi satu ikhtisar dan
    madzhab filsafat tersendiri. Dari sinilah akhirnya Ikhwan al Safa menyusun
    sebuah buku yang terdiri dari sejumlah risalah yang berjudul "Rasail Ikhwan
    al Safa wa al Kullah al Wafa yang membahas tentang pengetahuan dan
    mencakup semua objek studi manusia, seperti salah satunya tentang masalah
    pendidikan.
           Di samping itu juga, kelompok Ikhwan Al Safa mengklaim dirinya
    sebagai kelompok non partisan, objektif, ahli pencita kebenaran, elit
    intelektual dan solid kooperatif. Mereka mengajak masyarakat untuk menjadi
    kelompok orang-orang mu'min yang militant untuk beramar ma'ruf nahi
    mungkar. Dan sebagian sejarawan komtemporer menganggap bahwa
    perkumpulan ini merupakan kelompok terorganisir terdiri dari para filosof
    moralis yang menganggap bahwa pangkal perseteruan sosial politik dan
    keagamaan terdapat para keragaman agama dan aliran dan eknik kesukuan,
    sehingga mereka berusaha untuk mengilangkan dan mewadahi dalam satu
    madzhab yang inklusif dan berpijak pada ajaran yang disarikan dari semua
    agama dan aliran ada.4
           Dalam konteks demikian, dapat kami kemukakan bahwa kelompok
    Ikhwan al Safa pada realitanya adalah organisasi yang juga mempunyai
    tujuan-tujuan politis untuk melakukan transformasi sosial namun tidak melalui
    cara radikal, revolusioner, melainkan melalui cara transformasi pola pikir
    masyarakat luas. Namun dalam hal hal ini kami tidak membahas banyak, yang
    kami fokuskan adalah pembahasan pemikiran Ikhwan al Safa dalam
    pendidikan.
1. Konsep Pendidikan Ikhwan al Safa

4
 Muhamad Jawad Ridlo, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Jogjakarta. PT. Tiara
Wacana 2002 hal. 146
               Dalam sejarah Islam, kelompok ini tampil eksklusif dalam gerakan
      reformatif pendidikannya, karena itu mereka adalah ta'limiyyun (pengajaran)
      dalam melangsungkan kegiatan keilmuannya organisasi ini memandang
      pendidikan dengan pandangan yang bersifat rasional dan empiric, atau
      perpaduan antara pandangan yang bersifat intelektual dan factual. Mereka
      memandang ilmu sebagai gambaran dari sesuatu yang diketahui dari ala mini.
      Dengan kata lain yang dihasilan dari pemikiran manusia itu terjadi karena
      mendapat bahan informasi yang dikirim oleh panca indra.5
               Teori Ikhwan al Safa tentang pendidikan didasarkan atas gagasan
      filsafat Yunani. Menurut Ikhwan al Safa bahwa setiap anak lahir dengan
      membawa sejumlah bakat (potensi) yang perlu diaktualisasikan. Oleh karena
      itu seorang pendidik tidak boleh menjejali otak peserta didik dengan ide-ide
      dan keinginannya sendiri, pendidik hendaknya mengangkat potensi laten yang
      terdapt dalam peserta didik.
               Menurut Ikhwan al Safa, hakekat manusia adalah terletak pada
      jiwanya, sementara jasad merupakan penjara bagi jiwa, oleh karena itu
      kelompok ini membuat perumpamaan bagi orang yang beluk dididik dengan
      ilmu aqidah, ibarat kertas putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila
      kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak
      akan dihilangkan.
               Ketika lahiri jiwa tidak memiliki pengetahuan sedikitpun, proses
      perolehan pengetahuan manusia digambarkan Ikhwan al Safa secara dramatis
      dilakukan melalui perlimpahan. Proses perlimpahan itu bermula dari jiwa
      universal kepada jiwa manusia setelah terlebih dahulu melalui proses imanasi,
      secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya,
      sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan itu dapat dicari melalui
      dua cara, pertama dengan cara mempergunakan panca indra terhadap objek
      alam semesta yang bersifat empirik, dan kedua dengan cara menyampaikan
      informasi yang disampaikan oleh orang lain.6

5
    Dr. H. Abuddin Nata, MA. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta, Logos Wacana Ilmu. hal. 182
6
    Dr. Syamsur Nizar, MA. Op Cit. hal. 98-99
          Pada bagian lain Ikhwan berpendapat bahwa pada dasarnya semua
   ilmu itu harus diusahakan (muktasabah) bukan dari pemberian tanpa usaha.
   Ilmu yang demikian dapat didengan dengan menggunakan panca indra.
   Sesuatu yang terlukis dalam pemikiran itu bukanlah sesuatu yang hekekatnya
   telah ada dalam pemikiran, melainkan lukisan tersebut merupakan pantulan
   yang terjadi karena adanya kiriman dari panca indra. Jadi bukan karena ide
   dari alam pikiran. Dengan panca indra itulah manusia dapat mengetahui
   sesuatu pandangan seperti dihasilkan melalui penafsiran terhadap ayat An
   Nahl 16:78
        ‫وهللا اخرجكم من بطون امهاتكم التعلمون شيأ وجعل ككلم اكعلما واالب لاال واال ل‬
                                                                     .‫كعلكم تشكرون‬
          Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses
   pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya panca indra dan akal memiliki
   keterbatasan dan tidak mungkin sesuai sampai pada pengetahuan tentang
   esensi Tuhan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan inisiasi yaitu
   bimbingan/otoritas ajaran agama.
          Oleh karena itu Ikhwan al Safa menolak pendapat yang mengatakan
   bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana
   pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato mengatakan bahwa jiwa
   manusia hidup bersama alam ide yang dapat mengetahui segala sesuatu yang
   ada. Karena itu untuk dapat mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus
   berhubungan dengan alam ide. Aliran idealisme inilah yang ditentang oleh
   Ikhwan al Safa.
          Aliran Ikhwan al Safa lebih dekat dengan aliran John Locke yang
   bersifat empirisme. Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena
   panca indra berinteraksi dengan alam nyata. Begitu juga dengan cara
   mendapatkan ilmu itu harus diusahakan dengan cara membiasakan berpegang
   pada pembiasaan dan perenungan. Hal inilah yang dapat memperkuat daya
   ingatan dan kedalaman ilmu seseorang.


2. Tujuan Pendidikan menurut Ikhwan al Safa
             Sesuai dengan karakteristik dasar pemikiran Ikhwan al Safa
   terefleksikan     dalam   pandangan     pendidikannya,   mereka      mengawali
   pengkajiannya dengan merumuskan tujuan-tujuan individual dan sosial yang
   ingin direalisasikan melalui aktivitas pendidikan. Secara nyata mereka
   memberi porsi lebih terhadap tujuan sosial dibanding tujuan individual.
   Mereka mengkritisi merebaknya pemikiran-pemikiran merusak yang banyak
   dianut oleh mayoritas masyarakat.
             Berangkat dari pemikiran tersebut Ikhwan al Safa mengkonsepsikan
   ilmu bukan sebagai sesuatu yang mengandung tujuan dalam dirinya sendiri,
   sebagaimana konsep dari beberapa kalangan. Menurut Ikhwan ilmu harus
   difungsikan untuk pelayanan tujuan luhur kependidikan yakni pengenalan diri.
   Akan tetapi keharusan mengenali dirinya sendiri bukanlah suatu tujuan akhir,
   melainkan sebagai sarana menuju kesamaan dan keluhuran manusia secara
   umum. Sebab tujuan akhir pendidikan adalah peningkatan harkat manusia
   kepada tingkatan malaikat yang suci agar dapat meraih ridlo Allah.
             Menurut Ikhwan al Safa, pendidikan merupakan suatu aktivitas yang
   berhubungan dengan kebijaksanaan. Hal itu terjadi karena proses pendidikan
   akan memberikan pendidikan yang terbaik untuk dapat melatih keterampilan
   juga membekali dengan akhlak yang mulia, dan akhirnya dapat mendekatkan
   diri pada Tuhan.


3. Pendidik menurut Ikhwan al Safa
             Ikhwan al Safa menempatkan pendidik (guru) pada posisi strategis dan
   inti dalam kegiatan pendidikan, mereka mempersyaratkan kecerdasan,
   kedewasaan, keluhuran moral, ketulusan hati, kejernihan pikir, etos keilmuan
   dan tidak fanatic buta pada diri pendidik. Mereka menganggap bahwa
   mendidik sama dengan menjalan fungsi Bapak kedua kerena orang tua adalah
   pembentuk rupa fisik biologis, sedang guru adalah pembentuk rupa mental
   rohani.
             Oleh karena itu nilai seorang guru menurutnya tergantung kepada
   caranya menyampaikan ilmu pengetahuan, untuk itu mereka mensyaratkan
   agar guru memiliki syarat-syarat yang sesuai dengan sikap dan pandangan
   politik Ikhwan al Safa serta sesuai dengan tujuan penyiaran dakwahnya
   sebagaimana syarat yang telah diuraikan di atas.
          Syarat-syarat yang demikian hanya muncul dari orang-orang yang
   berada di organisasinya. Oleh karena itu mereka memiliki aturan tentang
   seorang guru yang mereka istilahkan dengan nama Ashlab al Numus. Mereka
   itu adalah muallim, ustadz dan muaddib. Guru Ashalab al Numus adalah
   malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa
   universal adalah akal aktual dan akhirnya Allah lah sebagai guru dari segala
   sesuatu.


4. Keistemewaan Pemikiran Ikhwan al Safa dalam Etos Keilmuan
          Bahwa Ikhwan al Safa di dalam etos keilmuannya tidak membatasi diri
   hanya pada satu sumber, melainkan dari berbagai pandangan yang luas dan
   menyeluruh tentang sumber-sumber pengetahuan. Selain itu keistimewaan
   yang paling menonjol, bahwa mereka menolak fanatisme dan berpegang pada
   kebebasan berfikir kritis untuk mencari kebenaran, sehingga mereka mampu
   untuk mempengaruhi generasinya untuk memahami keragaman dan perbedaan
   pemikiran, serta pluraritas aliran pemikiran dalam pengembangan dinameka
   keilmuan dan akselerasi derap langkah kemajuan intelektual sosialnya melalui
   sistem pendidikan yang efektif.
          Kelompok ini mampu memerankan fungsi strategis dalam sejarah
   gerakan pemikiran Islam, dan memberikan pengaruh yang positif serta
   kontribusi yang besar dalam memacu perkembangan pemikiran Islam, yaitu
   berupa :
   1) Totalitas kelompok Ikhwan dalam mengabdi untuk kehidupan intelektual
      di abad ke 4 H. sehingga merekalah yang paling lantang dan fasih
      berbicara tentang masalah ini.
   2) Perintisan program penyusunan karya eksiklopedis pemikiran keislaman,
      yaitu dengan risalah-risalah mereka yang populer.
   3) Pencerdasan dan pencerahan masyarakat luas melalui program pengajaran
          aneka ragam ilmu dan filsafat.


Analisis
          Dari uraian di atas, nampak pandangan Ikhwan al Safa mengenai
pendidikan sangat dipengaruhi oleh pandangan kelompoknya dan terkesan
eksklusif dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan spiritual belaka, kurang
banyak membicarakan mengenai proyeksi kehidupan di dunia. Namun demikian
sebagai sebuah organisasi ini nampak militant dan solid dalam menggalang misi
dakwah yang dianutnya. Sikap solid ini sebagai sebuah organisasi perlu dipejalari
secara seksama untuk dicarikan cara-cara yang perlu ditempuh dalam mencapai
tujuan.
          Demikian juga tentang pendidikan dan tujuan-tujuannya yang bersifat
social dan intelektual, mungkin hal ini merupakan teori terpadu sistematik dan
berdasarkan analisa rasional. Mereka membingkai teori-teori tersebut dengan
kerangka moral utama berupa keharusan menguasai ilmu pengetahuan untuk
sarana peningkatan kualitas/kemuliaan diri, sehinga akhirnya dapat menjadikan
tanggung jawab individu terhadap diri sendiri, masyarakat dan Tuhannya.
          Di dalam pemikiran Ikhwan al Safa, secara signifikan tercetus
“Rekonsiliasi antara definisi rasional, psikologis, moral, etik dan sosiologis bagi
keilmuan pendidikan. Namun demikian kelompok ini lebih mengedepankan
rasionalisasi religius yaitu berpikiran idealistis, sehingga memasukkan semua
disiplin keilmuan yang nyata dan terkait dengan kebutuhan langsung manusia baik
kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmani, yang tidak menjadi pemikiran Ibn
Khaldun.
          Dari pemikiran-pemikiran Islam para tokoh baik al Ghazali, Ibn Khaldun
maupun Ikhwan al Safa terdapat kelebihan dan kekurangan, yang satu sama lain
saling melengkapi, maka kewajiban bagi kita adalah melihat pemikiran
pendidikan mereka dengan perspektif masa mereka hidup dan mengeksplorasi
intelektualnya hingga menghasilkan buah pemikiran sebaik mungkin dengan
demikian kita akan mampu memetik serangkaian prinsip utama pendidikan dalam
beberapa karya tulis mereka, lalu menatanya dalam konstruksi yang utuh sehingga
membentuk teori pendidikan yang betul-betul komprehensif.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/26/2013
language:Indonesian
pages:8
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com