skripsi pendidikan PERANAN MOTIVASI GURU DALAM MENINGKATKAN KERAJINAN BELAJAR ANAK DI MTs. NURUL HIDAYAH SUMBERREJO PAITON PROBOLINGGO

Document Sample
skripsi pendidikan PERANAN MOTIVASI GURU DALAM MENINGKATKAN KERAJINAN BELAJAR ANAK DI MTs. NURUL HIDAYAH SUMBERREJO PAITON PROBOLINGGO Powered By Docstoc
					PERANAN MOTIVASI GURU DALAM MENINGKATKAN
          KERAJINAN BELAJAR ANAK
     DI MTs. NURUL HIDAYAH SUMBERREJO
             PAITON PROBOLINGGO



                  SKRIPSI




                     OLEH :

            MOH. HASAN EFENDI

                 NIM : 00331297


        INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
     PAITON PROBOLINGGO
  FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
            2004
PERANAN MOTIVASI GURU DALAM MENINGKATKAN
          KERAJINAN BELAJAR ANAK
     DI MTs. NURUL HIDAYAH SUMBERREJO
             PAITON PROBOLINGGO




                     SKRIPSI


    DIAJUKAN KEPADA INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
        PAITON PROBOLINGGO UNTUK MENYELESAIKAN
     SALAH SATU PERSYARATAN DALAM MENYELESAIKAN
        PROGRAM SARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM




                        OLEH :

              MOH. HASAN EFENDI

                    NIM : 00331297




         INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
                PAITON PROBOLINGGO
            FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
            2004
                              MOTTO :




“Barang siapa yang tidak pernah merasakan pahit getirnya mencari ilmu,

niscaya akan meneguk hinanya kebodohan selama hidupnya”

(As Syafi’i)
                         PERSEMBAHAN




Skripsi ini kami persambahkan kepada :

 Kedua orang tuaku

 Saudara-saudaraku

 Semua Dosen IAI Nurul Jadid

 Semua teman seperjuangan
                                    KATA PENGANTAR




       Segala puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah karena dengan rahmat dan

hidayah-Nya, perencaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi, sebagai salah satu syarat

menyelesaikan Program Sarjana di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton

Probolinggo dapat terselesaikan dengan lancar. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan

kepada Junjungan nabi kita Muhammad SAW yang telah diutus menjadi menjadi suri tauladan

yang baik.

       Keberhasilan ini dapat penulis raih karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu,

penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak

yang telah ikut andil dalam menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada :

1. Bapak Drs. KH. Nur Chotim Zaini, selaku Rektor Institut Agama Islam Nurul Jadid (IAINJ)

   Paiton Probolinggo

2. Bapak KH. Abd. Hamid Wahid, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAI Nurul Jadid

   Paiton Probolinggo.

3. Bapak KH. Abdul Haq Zaini, SH. selaku Dosen Pembimbing I yang telah dengan sabar

   memberikan saran dan kritik konstruktif sehingga penulis mampu merampungkan penulisan

   skripsi ini.

4. A. Hambali, S.Ag. selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan dan

   bimbingan kepada penulis.

5. Bapak Drs. KH. M. Fadholi Bash selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah

   Sumberrejo Paiton yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan

   penelitian di pesantren ini.
6. Semua pihak yang telah turut membantu mensukseskan selesainya penulisan skripsi ini.

          Akhirnya, semoga segala amal yang telah bapak berikan kepada penulis mendapat

   balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Amin.




                                                                         Penyusun
NOTA PEMBIMBING :

Hal : Persetujuan Munaqasyah

Kepada Yth. :
Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah
Institut Agama Islam Nurul Jadid
di-
          Tempat

Assalamu’alaikum War. Wab.
  Setelah dikoreksi dan diadakan perbaikan dan penyempurnaan seperlunya, maka kami
                              berpendapat bahwa skripsi :

          Nama           : MOH. HASAN EFENDI
          NIM            : 00331297
          Fak Jurusan    : Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam
          Judul          : PERANAN MOTIVASI GURU DALAM
                            MENINGKATKAN KERAJINAN BELAJAR ANAK DI
                            MTs. NURUL HIDAYAH SUMBERREJO PAITON
                            PROBOLINGGO

      Telah memenuhi syarat untuk diajukan untuk dalam Sidang Munaqasyah Skripsi
       Fakultas Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo. untuk itu kami
                         mengharap agar segera dimunaqasyahkan.
Demikian, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.
Assalamu’alaikum War. Wab.

Paiton,      Juli 2004
Pembimbing I,                                     Pembimbing II




KH. ABDUL HAQ ZAINI, SH                    A. HAMBALI, S.Ag
                           PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI



Skripsi oleh MOH. HASAN EFENDI yang berjudul : PERANAN MOTIVASI GURU DALAM
MENINGKATKAN KERAJINAN BELAJAR ANAK DI MTs. NURUL HIDAYAH
SUMBERREJO PAITON PROBOLINGGO, telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, telah dinyatakan lulus
dan telah direvisi sesuai saran-saran penguji, pada :



Hari            :
Tanggal         :




                                                             Mengesahkan :
                                                                Dekan,




KH. ABD. HAMID WAHID, M.Ag



                                          Tim Penguji :

1. Ketua               :                                  (_________________)

2. Sekretaris          :                                  (_________________)

3. Penguji             :                                  (_________________)
                                                          DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ......................................................................................               i

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ..................................................                                  ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ....................................................                               iii

KATA PENGANTAR ....................................................................................               vi

ABSTRAK .......................................................................................................   viii

DAFTAR ISI ..................................................................................................     ix

DAFTAR TABEL ..........................................................................................           xii

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................                xiii


BAB I             PENDAHULUAN

               A. Latar Belakang Masalah ..........................................................                1
               B. Rumusan Masalah ....................................................................             4
               C. Tujuan Penelitian .....................................................................          5
               D. Kegunaan Penelitian ................................................................             5
               E. Hipotesis Penelitian .................................................................           6
               F. Ruang Lingkup Penelitian .......................................................                 7
               G. Definisi Operasional ................................................................            7



BAB II          KAJIAN PUSTAKA

               A. Kajian tentang Guru .................................................................           10
                    1. Pengertian tentang Guru ......................................................             10
                    2. Sistem Hubungan antara Murid dengan Guru ...................                               12
                    3. Fungsi-fungsi Guru ............................................................            16
                    4. Syarat-syarat Guru .............................................................           19
                    5. Tugas-tugas Guru ...............................................................           25
          B. Tinjauan tentang Anak ..............................................................        30
               1. Kebutuhan Anak ..................................................................      31
               2. Kebutuhan Jiwa ...................................................................     33
               3. Kebutuhan Sosial ...............................................................       37
               4. Potensi Dasar yang Terdapat pada Anak ...........................                      38

          C. Motivasi Guru dalam Meningkatkan Kerajinan Belajar Anak ..                                  41
               1. Belajar dan Motivasi ..........................................................        41
               2. Kewajiban Belajar ...............................................................      47
               3. Peranan Motivasi dalam Meningkatkan Kerajinan Belajar                                       49



BAB III     METODE PENELITIAN

          A. Rancangan Penelitian ...............................................................        57
          B. Populasi dan Sampel Penelitian ...............................................              60
          C. Instrumen Penelitian ................................................................       61
          D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................              62
          E. Metode Analisis Data ..............................................................         66

BAB IV     SAJIAN DAN ANALISA DATA

          A. Sajian Data Data ......................................................................     68
               1. Sejarah Berdirinya MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo
                    Paiton Probolinggo ............................................................      68

               2. Struktur Organisasi MTs. Nurul Hidayah ...........................                     70
               3. Keadaan Tenaga Pengajar dan Karwayan ...........................                       71
               4. Keadaan Siswa MTs. Nurul Hidayah ..................................                    73
               5. Penyajian Data ...................................................................     73
               6. Distribusi Nilai ...................................................................   74
               7. Inventarisasi Data ..............................................................      75
         B. Analisa Data .............................................................................   80
              A. Tabulasi Data .....................................................................     81
              B. Klasifikasi Data .................................................................      85
              C. Pembuktian Hipotesis ........................................................           86



BAB V     PENUTUP

         A. Kesimpulan ..............................................................................    92
         B. Saran-saran ..............................................................................   92

Daftar Pustaka
                                                         DAFTAR TABEL


Tabel                                                                                                          Halaman


                Tabel I ......................................................................................Daftar               Tenaga
                Pengajar dan Karyawan MTs. Nurul Hidayah .........................                                72

                Tabel II .......................................................................................Daftar Jumlah Siswa
                MTs. Nurul Hidayah ................................................................                 73

                Tabel III .....................................................................................Distribusi           Nilai
                Pemberian Motivasi Guru ........................................................                    75

                Tabel IV .....................................................................................Distribusi            Nilai
                Peningkatan Kerajinan Belajar Anak .......................................                         77

                Tabel V.......................................................................................Inventarisasi          Data
                Masing-Masing Variabel ..........................................................                 78


Tabel VI Kategori Nilai Variabel X dan Variabel Y ...................                                              83

Tabel VII .......................................................................................................... Klasifikasi    Data
Masing-Masing Variabel .........................................................................                        85
Tabel VIII Tabel Kerja untuk Didistribusikan Fo dan Perhitungan Peranan

                 Variabel Bebas dan Terikat .....................................................                   87

Tabel IX         Distribusi Fh tentang Peranan Motivasi Guru terhadap

                 Peningkatan Kerajinan Belajar Anak Didik ............................                              89

Tabel X Menghitung Chi Kwadrat Berdasarkan Tabel ..........................                                         90
                                          BAB I

                                    PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

          Dalam usaha meningkatkan kerajinan belajar anak dan usaha mendorong

   kemajuannya, maka selain dari adanya perubahan sistem/metode yang erat hubungannya

   dengan proses belajar mengajar (PMB) juga diperlukan adanya motivasi/dorongan dari guru

   terhadap anak yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

          Pemberian motivasi dari guru dapat dijadikan alat untuk membangkitkan kerajinan

   dan kegiatan belajar seperti dikemukakan oleh Prof. Dr. Omar Muhammad At Thomy

   Asyaibani : bahwa motivasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam peningkatan

   kerajinan belajar.

          Pentingnya menjaga motivasi pelajar, minat dan keinginan pada proses belajar. Sebab
          menggerakkan motivasi yang terpendam ini dan menjaganya dalam
          pengamalan-pengalaman yang diajukan kepada pelajar dan berbagai aktivitas yang
          diminta pelajar melakukannya dan juga metode serta cara-cara yang menemaninya
          dalam menjadikan pelajar ingin belajar lebih aktif. Barang siapa yang bekerja
          berdasarkan motivasi dalam yang kuat tidak akan lelah dan tidak akan cepat bosan.
          Oleh karena itu perlulah guru memelihara motivasi pelajar juga segala yang termasuk
          motivasi seperti kebutuhan, keinginan, minta dan lain-lainnya serta metode dan cara
          pengajaran supaya dapat menjamin sikap positif pelajar dan kekuasaannya kepada
          pelajaran. (1989:595).

          Di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

   Bab I Pasal I ayat (2) disebutkan bahwa “Pendidikan Nasional adalah pendidikan Pancasila

   dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berakar pada

   nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan

   zaman”. Pernyataan ini mengandung arti bahwa semua aspek yang terdapat dalam Sistem

   Pendidikan Nasional akan mencerminkanm aktifitas yang dijiwai oleh Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945 dan berakar pada nilai-nilai agama serta kebudayaan nasional

Indonesia.

       Tujuan Pendidikan Nasional yang dimaksud di sini adalah tujuan akhir yang akan

dicapai oleh semua lembaga pendidikan, baik formal, non formal, informal yang berada

dalam masyarakat dan negara Indonesia.

       Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia,

sehingga di manapun terdapat masyarakat di situ pula terdapat pendidikan. Dan pendidikan

itu sendiri merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat, pemerintah dan keluarga.

       Guru mempunyai peran yang cukup besar terhadap pelaksanaan pendidikan bagi anak

didiknya, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak selalu dididik oleh guru di sekolah.

Dengan demikian orang tua diharapkan berperan serta aktif dalam pendidikan anak didiknya

dengan mendidik dan memberi motivasi belajar agar mereka memperoleh prestasi yang

optimal dan berupaya untuk memenuhi kebutuhan serta bimbingan terhadap anak-anaknya

sehingga anak tersebut memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik. Hal ini

sesuai dengan pendapat W. Sardiman dalam buku Ilmu Pendidikan yang menyatakan bahwa,

       “Pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang lain

       agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi

       dalam arti mental” (1992:4).


       Dengan adanya motivasi dari guru, maka akan timbul semangat dan keaktifan anak

didik dalam belajar. Apabila guru tidak mau memberikan dorongan atau motivasi kepada

anaknya, maka anak akan mengalami banyak kesulitan dalam belajar. Bagi anak yang

memiliki motivasi akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan-kegiatan

belajar. Tetapi bagi seorang yang memiliki intelegensi, boleh jadi gagal karena kekurangan
  motivasi yang tepat. Jadi jelaslah bahwa hasil belajar itu akan optimal apabila ada motivasi

  yang tepat. Banyak hambatan dan rintangan, baik yang berasal dari luar diri anak didik

  maupun dari dalam diri anak didik itu sendiri. Oleh sebab itu, dorongan atau motivasi guru

  sangat diperlukan karena dapat menunjang keberhasilan anak dalam mencapai prestasi di

  sekolah.

         Dalam rangka memperoleh prestasi belajar yang baik, maka diperlukan adanya

  kebiasaan-kebiasaan belajar yang baik. Misalnya anak terbiasa belajar dengan teratur, tekun,

  rajin, dan juga perlu ditanamkan kedisiplian. Semua ini dapat diperoleh dari

  dorongan-dorongan dan pengawasan-pengawasan guru bekerja sama dengan             orang tua,

  sehingga dapat menemukan keberhasilan dalam belajar dan mencapai prestasi yang tinggi.

  Dan prestasi belajar dapat diperoleh melalui proses belajar yang dilakukan dengan penuh

  kesadaran dan berlangsung dalam waktu tertentu, misalnya dapat berwujud perubahan

  tingkah laku maupun intelegensinya, jadi tidak benar bila ada anggapan bahwa belajar hanya

  dapat dilakukan di sekolah saja, melainkan dapat dilakukan pada setiap waktu. Berdasarkan

  inilah orang tua dapat menilai seberapa jauh mereka memberikan dorongan belajar bagi

  anak-anaknya agar mencapai hasil yang baik.

         Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penulis mengadakan penelitian dengan

  tujuan ingin mengetahui ada tidaknya peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan

  belajar anak didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.



B. Rumusan Masalah

         Rumusan masalah merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian,

  sebab masalah merupakan obyek yang akan diteliti dan dicari jalan keluarnya melalui
   penelitian. Pernyataan ini relevan dengan yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto dalam

   bukunya Prosedur Penelitian suatu Pendekatan mengatakan bahwa : “Masalah mesti

   merupakan bagian kebutuhan seseorang untuk dipecahkan, orang ingin mengadakan

   penelitian karena ia ingin mendapatkan pemecahan dari masalah yang dihadapi.” (Surahmad,

   1989:22)

          Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah sudah menjadi

   suatu “kebutuhan” dalam sebuah penelitian, karena tanpa rumusan masalah alur dan

   sistematika penelitian tidak akan menemukan jawaban dari masalah yang sedang diteliti.

          Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan

   oleh penulis adalah sebagai berikut :

   1. Apakah ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak didik di

      MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

   2. Sejauh manakah peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak didik

      di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

C. Tujuan Penelitian

          Menurut Sutrisno Hadi dalam buku Statistik II, menyatakan bahwa “Suatu penelitian

   khususnya dalam ilmu pengetahuan pada umumnya bertujuan untuk menemukan,

   mengembangkan dan menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan (1983:51). Sedangkan

   Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa “Tujuan penelitian sama dengan jawaban yang

   dikehendaki dalam problematika” (1983:42).

          Jadi jelaslah bahwa tujuan penelitian adalah untuk menemukan suatu bukti kebenaran

   ilmu pengetahuan sesuai dengan problematika penelitian.
          Berdasarkan uraian tersebut di atas, dan sesuai dengan masalah yang diajukan, maka

   penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

   1. Ada atau tidak ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak

      didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

   2. Sejauh mana tingkat peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak

      didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.



D. Kegunaan Penelitian

          Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait

   utamanya bagi pihak-pihak berikut ini :

   1. Bagi Guru

              Sebagai sarana untuk mengambil inisiatif dalam rangka penyempurnaan program

      proses belajar mengajar sehingga antara guru sebagai pendidik di sekolah dan orang tua

      sebagai pendidik di rumah bisa saling melengkapi dan bekerja sama, sehingga prestasi

      belajar siswa akan selalu meningkat.

   2. Bagi Orang Tua

              Diharapkan semua orang tua murid selalu memberikan dorongan atau motivasi

      belajar kepada anak-anaknya, agar prestasi belajar mereka selalu meningkat.

   3. Bagi Masyarakat

              Diharapkan bagi masyarakat lebih berperan aktif mendukung segala usaha

      sekolah/guru agar tercipta situasi lingkungan pendidikan yang mampu mendorong siswa

      dalam meningkatkan semangat belajarnya yang tentunya juga bisa meningkatkan prestasi

      belajar mereka.
   4. Bagi Instansi

                Sebagai bahan masukan dalam mengambil kebijaksanaan yang tepat dan

      memberikan/menambah sarana dan prasarana dalam rangka memberikan gairah dalam

      proses belajar mengajar guna meningkatkan mutu dan prestasi belajar siswa, sekaligus

      meningkatkan mutu pendidikan.



E. Hipotesis Penelitian

          Menurut Suharsimi Arikunto dalam buku Prosedur Penelitian suatu Pendekatan

   Praktek, menyatakan bahwa “Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat

   sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”

   (1997:67).

          Adapun Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

   1. Hipotesis Kerja (H1)

      Ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak didik di MTs.

      Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

   2. Hipotesis Nihil (H0)

      Tidak ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak didik di

      MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.



F. Ruang Lingkup Penelitian

          Penelitian tentang peranan motivasi oleh guru dalam meningkatkan kerajinan belajar

   anak didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton ini mempunyai jangkauan yang sangat

   luas. Namun karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dana, dan kemampuan yang dimiliki

   penulis, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada masalah sebagai berikut ini :
   1. Karakteristik lokasi penelitian, yakni mengenai gambaran umum tentang lokasi tersebut

      yang meliputi letak sekolah, jumlah guru, jumlah siswa, dan struktur organisasi sekolah.

   2. Keadaan Kepala Sekolah, guru, dan karyawan di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton

      Probolinggo.

   3. Bentuk-bentuk motivasi yang diberikan oleh guru baik di sekolah maupun di luar sekolah



G. Definisi Operasional

          Untuk menghindari terjadinya penafsiran yang berbeda-beda di antara pembaca, maka

   perlu diberikan batasan-batasan pengertian pada beberapa istilah yang digunakan dalam judul

   penelitian ini. Beberapa istilah yang perlu dijelaskan pengertiannya antara lain: (1) peranan,

   (2) motivasi guru, dan (3) kerajinan belajar.

   1. Peranan

              Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberikan arti peranan, “Tindakan

      yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa” (Depdikbud, 1991:751).

              Sedangkan menurut WJS. Poerwadarminto dalam Kamus Umum Bahasa

      Indonesia mengartikan peranan adalah, “Sesuau yang menjadi bagian atau yang

      memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya suatu hal atau peristiwa)”

      (Poerwadarminto, 1997:735).

              Berdasakan pendapat para ahli di atas, dapat penulis simpulkan bahwa peranan

      adalah segala sesuatu yang bisa mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa yang lain baik

      secara langsung maupun tidak langsung.

   2. Motivasi Guru
          Menurut Amir Daien Indrakusuma dalam Pengantar Ilmu Pendidikan,

   menyatakan bahwa “Motivasi adalah suatu pembentukan ganjaran atau hukuman yang

   merupakan alat pendidikan untuk memperlancar jalannya proses belajar” (1977:167).

          Menurut Imam Al Ghazali guru ialah :

          Bahwa guru itu berusaha mendayagunakan hati dan jiwa manusia. Manusia
          adalah makhuk yang paling mulia di muka bumi ini dan komponen manusia yang
          paling mulia adalah hati, mensucikannya dan mengiring dekat kepada Allah maka
          di manalah tempat yang paling tinggi dibanding dengan seorang hamba yang
          menjadi perantara antara hamba yang lain dengan Tuhannya.(tt.:14)

          Dengan demikian, maka jabatan guru merupakan jabatan terpuji dan juga guru itu

   sendiri dapat mengantarkan manusia kekesempurnaan dan dapat pula mengantarkannya

   menjadi manusia hakiki dalam arti manusia yang dapat mengemban dan bertanggung

   jawab atas amanah Allah.

          Berdasarkan dua pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

   motivasi guru adalah suatu dorongan atau pemberian semangat yang berupa ganjaran atau

   hukuman serta perhatian guru terhadap anak didik sehingga akan lebih giat belajar untuk

   memperoleh prestasi yang lebih tinggi.

1. Kerajinan Belajar

          Menurut Bilgari belajar adalah suatu proses di mana suatu aktivitas ditimbulkan

   atau dirubah melalui prosedur latihan, apakah itu di laboratorium atau di lingkungan

   alam, sebagaimana juga terutama dari perubahan-perubahan oleh beberapa faktor yang

   tidak dianggap berasal dari latihan. (1993:58)

          Jadi yang dimaksud kerajinan belajar adalah tingkat frekuensi dan kesungguhan

   belajar anak untuk menguasai pelajarannya baik di rumah maupun di sekolah dengan

   sepengetahuan guru ataupun tidak.
                                             BAB II

                                    TINJAUAN TEORITIS



Tinjauan tentang Guru

          Setiap orang dapat menjadi guru dalam arti luas, guru bagi keluarganya (anak

   istrinya) dan guru bagi orang banyak. Namun tidak semua orang dapat menjadi guru atau

   mengajar di kelas. Guru amat penting dalam rangka pembinaan pengajaran, agama dan moral

   untuk itulah menjadi guru tidak semudah apa yang dibayangkan oleh banyak orang.

          Kedudukan guru dalam suatu profesi yang memerlukan bakat dan keterampilan di

   samping ia dapat menopang kehidupannya menuju keberhasilan seperti yang dibayangkan

   oleh kebanyakan orang, ia harus mampu dan pandai memilih tempat dan saat yang baik.

   Karena guru itu merupakan kaca rasa bagi anak didiknya.

          Dengan profesi yang dimiliki dan kreativitas yang dapat diciptakan, menangkap

   segala fenomena tingkah laku. Penciptaan kondisi semacam ini harus melibatkan semua

   sistim pendidikan, agar ide-ide tujuannya berjalan secara etis dan religius.

   1. Pengertian tentang Guru

          Sebelum penulis mengartikan apa itu guru terlebih dahulu akan penulis kemukakan
          pendapat seorang ahli bahasa yang mengartikan kata guru “Pengajar”. (Yulius S.,
          1989 : 23)
             Sedang A. Mursal H.M Tahir mengemukakan macam-macam guru yaitu :

      -   Guru Kelas yaitu yang dikuasakan mempertanggung jawabkan sekelas murid,

          memberikan hampir seluruh mata pelajaran di kelas tersebut secara tetap (yang

          biasanya) selama satu tahun.

      -   Guru Kula adalah sistim pendidikan yang dilaksanakan Rabinranat Tagore yaitu :

          a. Guru memberikan pelajaran duduk di tempat yang agak tinggi.
       b. Murid duduk mengelilingi bagian depan dan samping tempat duduk guru.

       c. Guru membacakan pelajaran beberapa kali.

       d. Murid yang terpandai mengulangi bacaan guru dari teman-temannya.

   -   Guru Vak yaitu guru yang mengasuh dan memberikan mata pelajaran khusus yang

       dikuasainya. Disekolah-sekolah menengah, pelajaran yang diberikan oleh guru vak.

       Diutamakan sistim vak ini, ialah agar murid dapat menerima pelajaran ini secara

       mendalam dari guru yang ahli keburukannya ialah sistim ini menyebabkan

       penghargaan murid terhadap guru agak berkurang karena          murid diasuh    oleh

       beberapa orang guru. (A. Mursal H.M., 1989 : 59)

       Di dalam bahasa kirata juga dikatakan bahwa dikira-kira tapi nyata, bahasa Sunda

guru berarti orang yang harus bisa “digugu dan ditiru”. (Mimbar Pendidikan, 1989 : 8). Jadi

mestinya ia adalah orang yang berbobot. Ia harus memiliki penguasaan pengetahuan dan

keterampilan yang memadai, kemampuan propesional yang baik, idialisme dan pengabdiyan

yang tinggi dan keteladanan untuk digugu dan ditiru. Saya kira itulah hakekat guru

dimanapun, khususnya dalam budaya Indonesia.

       Sedangkan Imam Al-Ghozali mengartikan guru ialah :

       Bahwa guru itu berusaha menuayagunakan hati dan jiwa manusia, manusia adalah

makhluk yang paling mulia dimuka bumi ini dan komponen manusia yang paling mulia

adalah hati, mensucikannya dan menggiring dekat kepada Allah maka dimanalah tempat

yang paling tinggi dibanding dengan seorang hamba yang menjadi perantara antara hamba

yang lain dengan Tuhannya. (Al-Ghazali, 1989 : 14)

       Dengan demikian, maka jabatan guru merupakan jabatan terpuji dan guru itu sendiri

dapat mengantarkan manusia kekesempurnaan dan dapat pula mengantarkannya menjadi
manusia hakiki dalam arti manusia yang dapat mengemban dan bertanggung jawab atas

amanah Allah.


2. Sistem Hubungan antara Murid dengan Guru

      Seperti kita ketahui bahwa lapangan pendidikan dimana pekerjaan mendidik
      berlangsung dalam masyarakat ini tidak hanya keluarga, tetapi di sekolahpun
      pendidikan anak dapat dilaksanakan oleh guru-guru. Sekolah merupakan kelanjutan
      dari pendidikan keluarga dan bahkan merupakan sistim pendidikan formal yakni
      dilaksanakan atas dasar peraturan, syarat tujuan dan alat-alat tertentu.
          Dalam kelas terjadilah komonikasi antara guru dengan murid, dengan komunikasi

   ini terwujudlah proses belajar mengajar (PBM) yang diarahkan pada tujuan tertentu. Oleh

   karena itu tujuan pendidikan kepribadian yang dimulai dari keluarga oleh orang tua,

   hendaklah dapat dilanjutkan di sekolah.

          Di dalam pelaksanaannya banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak, maka

   seorang guru tidak boleh lepas hubungannya dengan anak, yakni guru hendaknya tidak

   hanya mengadakan hubungan dengan murid sesaat tatap muka di ruang belajar (kelas)

   bahkan saat-saat berada diluar sekolah harus ada semacam jalinan yang menghubungkan

   antara guru dengan anak didik tersebut.

          Hubungan guru dan murid dapat dilakukan dengan cara langsung dan tidak

   langsung.

   a. Hubungan langsung

                Adalah hubungan langsung antara guru dengan murid tanpa ada perantara

      seorang atau badan. Murid/anak mempunyai kecenderungan untuk tahu mereka

      berusaha dan bahkan memaksa untuk mengetahui sesuatu terurama kepada hal yang

      disembunyikan. Selain mereka mempunyai kecenderungan untuk tahu juga

      mempunyai kecenderungan untuk meniru.
       Dalam hubungan ini guru dituntut untuk berhati-hati baik dalam sikap maupun

berbicara,   karena   guru   disekolah   hanya    menuangkan   pengetahuan    yang

sebanyak-banyaknya kepada murid, akan tetapi juga sambil menanmkan moral,

agama, estetis dan sebagainya.

       Di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, Bab I Pasal I ayat (2) disebutkan bahwa “Pendidikan Nasional adalah

pendidikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945, yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan

tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”

       Benyamin S. Bloon Cs mengemukakan pendapatnya tentang tujuan-tujuan

pendidikan mereka membagi dalam tiga :

1) Ranah cognitif

2) Ranah efektif

3) Ranah psikomotor

       Interaksi langsung antara guru dan murid erat sekali hubungannya dengan

bimbingan dan penyuluhan. Bimbingan diartikan :

       Pengertian ini dikemukakan oleh stoops ialah suatu proses yang terus menerus

dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara

maksimal dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-bersarnya baik bagi dirinya

maupun masyarakat. (I. Djumhur, 1989 : 25)

       Sedang menurut Groon dapat diartikan sebagai “bantuan yang diberikan oleh

seseorang baik bagi pria maupun wanita yang memiliki pribadi yang baik dan

pendidikan yang memadai pada seorang individu dari setiap usia untuk menolongnya
      mengemudikan kegiatan-kegiatan sehari-harinya hidup sendiri mengembangkan arah

      pandangannya sendiri membuat pilihannya sendiri dan memikul bebannya sendiri. (I.

      Djunhur, 1989 : 62)

             Selanjutnya penyuluhan diartikan : salah satu teknik pelayanan dalam

      bimbingan secara keseluruhan, yaitu dengan memberikan bantuan secara individual

      (face to face relationship). (Ibid, 1989 : 29)

             Maka dari dua pengertian di atas kita dapat mengetahui dan tanpaklah

      hubungan guru sebagai seorang yang patut dicontoh segala tingkah lakunya serta guru

      itulah yang dapat memasukkan ide-idenya karena telah mengetahui sifat dan

      kebutuhan anak lewat interaksi itu sendiri.

   b. Hubungan tidak langsung

             Hubungan tidak langsung antara guru dan murid bisa dilakukan lewat orang

      tua/wali murid yang bersangkutan dengan cara kunjungan guru secara langsung

      kerumah yang bersangkutan atau melalui badan-badan organisasi resmi seperti BP3

      (Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan) yang diatur pemerintah lewat

      keputusan Menteri P dan K Mendagri, dan Menku tertanggal 30 November 1974 No.

      221/1974 dan Kep No 1606/MK/I/II/1974


3. Fungsi-fungsi Guru

      Guru mempunyai fungsi antara lain :
   a. Sebagai suri tauladan

             Pendidik baik orang tua atau guru perlu menyadari bahwa anak banyak belajar

      dengan meniru. Anak belajar bertingkah dengan jalan meniru orang-orang di

      sekelilingnya. Anak biasa meniru seseorang, kadang kala meniru tindakan
   pahlawan/patriot yang berhasil dalam membebaskan tanah airnya dari suatu penjajah.

   Bertindak sebagai dokter yang dapat menolong paseennya, bertindak sebagai juara

   yang meraih medali dalam suatu kompetisi dan sebagainya.

          Disinilah guru sekaligus sebagai pendidik harus dapat menampakkan sikap

   dan upaya yang baik. sIkap dan ucapan itu akan menumbuhkan perasaan senang dan

   simpati. Perasaan ini dapat menjadikan guru yang bersangkutan sebagai cermin dari

   anak yang dididik.

b. Sebagai pendidik

          Guru adalah pendidik di samping orang tua. Namun ada sedikit perbedaan,

   dimana seorang guru tanggung jawabnya ditekankan pada segi rohaniyah dan

   intelektual, sedang orang tua selain dua hal ini, juga dalam segi jasmaniah. Guru

   menjadi pendidik, pembimbing anak-anak dan nilai-nilai kepemimpinannya itu tidak

   hanya bergantung pada tingkat kesuksesannya, sebagai person yang cukup matang

   menduduki tempat orang dewasa, dalam masyarakat dewasa dimana kematangan fisik

   dan intelek dibutuhkan, guru yang dianggap telah dewasa, selain harus memiliki

   pengetahuan khususnya pengetahuan yang sesuai dengan vaknya juga harus memiliki

   skill atau keterampilan mengajar.

          Agar supaya fungsi guru sebagai pendidik tidak sia-sia harus dapat

   merealisasikan beberapa hal, sebagai berikut :

   -   Memahami dan menghormati murid

   -   Menguasai bahan yang diberikan

   -   Menyesuaikan bahan pelajaran dengan kemampuan individu yang bersangkutan

   -   Mengaktifkan murid dalam belajar
   -   Memberikan pengertian bukan hanya kata-kata

   -   Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan anak

   -   Harus mempunyai tujuan tertentu dari tiap pelajaran yang diberikan

   -   Tidak terikat dengan tek book

   -   Guru tidak hanya menyiapkan materi juga senantiasa membentuk pribadi anak

          Selain dari hal-hal di atas seorang guru harus menetapkan sejumlah kegiatan

   sesuai dengan situasi dan perkembangan. Oleh karena itu mendidik adalah suatu

   aktivitas yang serba nisbi dan kompleks, seperti halnya memberikan sejumlah

   pertanyaan, menjawab pertanyaan, terbuka, obyektif dan sebagainya. Maka

   keberhasilan program pengajaran dan tujuan instruksional dari suatu pembahasan

   amat tergantung pada keadaan pendidikan dalam proses belajar mengajar.

c. Sebagai pengganti orang tua

          Guru berfungsi sebagai pengganti orang tua. Dia menerima anak dikelas

   sebagai anak sendiri, hubungan antara keduanya berjalan sebagaimana hubungan

   antara orang tua dengan anaknya. Misalnya dalam hal intimetet keharmonisan bergaul

   dan sebagainya.

          Crow dan Crow menyatakan bahwa : Orang tua adalah guru pertama bagi

   anaknya, sedang hubungan guru dengan muridnya sama dengan hubungan orang tua

   dengan anaknya. (H.M. Arifin, 1999 : 112)

          Guru disisni menjadi penting kalau keduduannya sebagai pendidik yang sudah

   selayaknya memiliki perasaan, sikap dan cita-cita yang sesuai dengan orang tua anak

   yang dididik. Orang tua tetunya mempunyai cita-cita yang suci dalam mendidik
      anaknya, sebab pendidikan orang tua buat anak-anaknya adalah “pendidikan murni”.

      Karenanya maka cita-cita orang tua itu harus dapat dilanjutkan oleh guru.




4. Syarat-syarat Guru

      Guru harus memebuhi syarat-syarat tertentu guna memebuhi tugasnya. Syarat-syarat
      guru secara pokok sebagaimana disebutkan di dalam Undang-undang No. 4 Tahun
      1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran Bab X tentang guru :
         Syarat utama untuk menjadi guru, selain ijazah dan syarat-syarat yang mengenai
         kesehatan jasmani dan rohani ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan
         pendidikan dan pengajaran seperti yang dimaksud di dalam pasal 13 dan 4 dan
         pasal 5 Undang-undang ini. (H. Zuhairini, 1999 : 182)

      Syarat-syarat guru baik yang bersifat jasmani maupun rohani akan penulis
      kemukakan dari berbagai tinjauan.
   a. Syarat jasmaniyah

             Seorang guru (pendidik) adalah merupakan petugas lapangan dalam

      pendidikan. Faktor kesehatan jasmani adalah faktor yang menentukan terhadap lancar

      dan tidaknya proses pendidikan yang ada, dan di samping itu kesehatan jasmani dari

      seorang guru banyak memberikan pengaruh terhadap anak didik terutama yang

      menyangkut kebanggaan mereka apabila memiliki guru yang berbadan sehat.

             Persyaratan jasmaniyah meliputi hal-hal sebagai berikut :

      1. Keadaan kesehatan tubuh secara umum. Biasanya hal ini melalui pemeriksaan

         dokter pemerintah.

      2. Keadaan tubuh bagian dalam khususnya paru-paru yang pemeriksaannya melalui

         foto sinar X atau rotgen.
   3. Keadaan tubuh mengenai cacat atau tidak. Pemeriksaan biasanya dilakukan oleh

       team termasuk di dalamnya tinggi badan.

           Dengan persyaratan itu pula dimaksudkan agar supaya tidak terjadi pengaruh

   yang tidak baik terhadap kesehatan anak kalau pendidik mengidap penyakit menular.


b. Syarat kepribadian

           Persyaratan kepribadian ini menyangkut masalah keseluruhan bentuk rohaniah

   manusiawi hubungannya dengan masalah moral yang baik, moral yang luhur, moral

   tinggi, dimana bagi seorang guru harus memiliki moral itu dan terjauh dari moral

   yang tidak baik dan hina. Sehingga dengan demikian dapat di imanifestasikan ke

   dalam bentuk sikap perbuatan dan tingkah laku yang dapat dijadikan suri tauladan

   kepada anak didiknya. Apa yang hendak disampaikan kepada murid untuk menuju

   tingkat martabat kemanusiaan yang luhur hendaklah lebih dahulu guru itu sendiri

   memiliki martabat tersebut, sebab nantinya menyangkut masalah kewibawaan bagi

   seorang guru. Apa yang disampaikan kepada anak didik hendaklah sama dengan apa

   yang dimiliki oleh guru. Apabila seorang guru menyampaikan pendidikan yang baik

   terhadap anak didiknya, sedangkan guru itu sendiri moralnya tidak baik dan

   kelakuannya jelek, maka kemungkinan besar tidak akan membawa pengaruh apa-apa

   kepada anak-anak dan sebaliknya.

           Adapun sifat-sifat yang dapat digolongkan ke dalam moral atau budi yang

   luhur antara lain :

   1. Berlaku jujur

   2. Berlaku adil terhadap siapapun, lebih-lebih terhadap dirinya

   3. Cinta kepada kebenaran
4. Bertindak bijaksana

5. Suka memaafkan

6. Tidak pembenci

7. Mau mengakui kesalahan sendiri

8. Ikhlas berkorban

9. Tidak mementingkan diri sendiri

10. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela

11. Dan lain-lain

       Di antara sikap-sikap yang baik seorang guru ialah antara lain :

1. Bersikap tangkas dan antusias

2. Bersikap gembira mempunyai rasa humor

3. Optimis

4. Mempunyai pandangan ke muka dan luas

5. Mempunyai perhatian penuh kepada murid

6. Mempunyai perhatian terhadap kegiatan-kegiatan kelas

7. Bertabiat jujur dan sabar

8. Berlaku ramah terhadap murid

9. Suka membantu persoalan-persoalan murid

10. Bersikap disiplin

11. Selalu rapi

12. Kerjanya teliti

13. Dan sebagainya
       Dan banyak kiranya pendapat yang berkenan dengan syarat-syarat kepribadian

menurut para ahli pendidikan/psikologi. Tetapi disisni penulis hanya akan mengutip

bagian-bagian yang penting dari pendapat dari tokoh pendidikan.

       C.M. Pleming mengatakan, bahwa guru harus memiliki syarat-syarat

kedewasaan atau kematangan jasmaniah dan rohaniah serta pengetahuannya. (H.M.

Arifin, 1989 : 133)

       Sedang Gilbert Highet mempertegas lagi, bahwa :

       “Guru harus menpunyai pengetahuan yang dalam tentang mata pelajarannya,

       guru harus cinta kepada mata pelajaran yang ia berikan, guru harus cinta

       kepada murid-muridnya”. (Ibid, 1989 : 133)

Selanjutnya Prof. Casmir mengatakan bahwa hasil pendidikan/pengajaran bergantung
kepada pribadi guru dengan seluruh pembawaannya. Disamping itu seorang harus
tidak mempunyai sifat yang menjemukan. (H.M. Arifin, 1989 : 133)

Jean Jagues Reussean mengatakan, bahwa :
       Segala yang datang dari Tuhan baik, akan tetapi menjadi rusak ditangan
       manusia. Anak-anak yang juga datang dari Tuhan, harus pula dihormati dan
       diperlakukan dengan ramah serta harus dikenal. (S. Nasution, 1999 : 8)

Pendapat sarjana barat di atas dapat penulis jabarkan bahwa guru harus dewasa dan
matang dalam arti semua aspeknya, aspek jasmani maupun rohaniyah. Kedewasaan
jasmaniah     ialah   mencapai     kesempurnaan      moral   etik dan estesis.
Kedewasaan/kematangan rohaniyah bisa berwujud penguasaan bahan/materi yang
disajikan guru kepada murid.
Guru tidak sekedar mendekte atau membaca bahan, yakni lepas dari keterangan atau
penjelasan yang diperlukan murid, sehingga pengajarannya tak obahnya seperti
parade atau pawai pengetahuan yang cuma memperkenalkan luarnya saja. Hal ini
yang mengakibatkan verbalisme dan acuh terhadap pelajaran atau kepada guru yang
bersangkutan.
Al-Qalqasyandi memberikan rumusan tentang syarat-syarat rohaniyah guru yang
baik :
- Sehat akalnya

-   Tajam akalnya

-   Bersifat perwira
      -   Bila berbicara artinya lebih dulu terbayang dalam hatinya

      -   Perkataan jelas, mudah difahami dan berhubungan Satu

      -   Sama lain

      -   Beradap

      -   Adil

      -   Luas dada

      -   Memilih kata-kata yang mulia dan baik

      -   Menjauhi segala sesuatu yang membawa kepada perkataan yang tak jelas

             Pendapat yang dikemukakan di muka sangat ditekankan pada prinsip-prinsip

      moral atau akhlak yang luhur. Dan memang kenyataannya akhlak yang luhur mutlak

      mempengaruhi anak. Akhlak guru yang tercela, tidak hanya mempengaruhi murid,

      tapi juga mempengaruhi seluruh masyarakat.

             Syarat-syarat guru di muka erat sekali hubungannya dengan motivasi dalam

      rangka meningkatkan kerajinan belajar anak. Karena motivasi itu sendiri harus

      timbul dari orang yang disenangi dan dipercaya anak, sedang kesenangan dan

      kepercayaan murid kepada gurunya dapat diciptakan oleh guru yang bersangkutan,

      sebab sikap dan sifat yang ada padanya.




5. Tugas-tugas Guru

      Disamping seorang guru mempunyai fungsi dan syarat-syarat tertentu, guru juga
      mempunyai tugas dan tanggung jawab, baik tugas-tugas itu berhubungan dengan
      kelas atau di luar kelas.
      Tugas-tugas guru yang penulis maksud ialah :

1. Memiliki keterampilan mengajar

            Tugas guru sehari-hari disekokah adalah mengajar dan mendidik melalui

   kegiatan-kegiatan bimbingan dan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar,

   ternyata banyak guru yang mengalami kegagalan. Dimana guru gagal dalam

   menempatkan diri sebagai perantara dalam mewujudkan proses belajar dikalangan

   anak-anak di kelas anak-anak tudak berusaha sendiri untuk mendapatkan sesuatu

   pengertian/insight, sehingga timbul perubahan dalam pengetahuan, tingkah laku dan

   sikap.

            Sehubungan dengan itu, guru harus terampil dalam memilih dan menyusun

   materi pelajaran yang akan diajarkan dalam bentuk-bentuk tujuan-tujuan. Guru harus

   terampil dalam memilih dan menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan

   materi pelajaran. Guru harus terampil dalam menyiapkan dan menggunakan alat-alat

   pengajaran dan penilaian.




2. Mengenal anak

            Mengenal anak secara keseluruhan baik nama-namanya, sifat-sifatnya,

   kebutuhan-kebutuhannya dan latar belakngnya adalah sebagai perantara bagi guru

   melaksanakan kegiatan dalam kelas. Dan sebagai pangkal berhasilnya program

   pengajaran, terutama dalam sistim pengajaran modul atau pengajaran-pengajaran

   yang besifat individual atau kelompok.
   Abad ini pernah disebut sebagai abad anak-anak, sekitar permulaan abad ini

   anak-anak mendapat perhatian dijadikan obyek penyelidikan dan diakui sebagai

   manusia penuh dalam setiap masa perkembangan dan dihormati penuh sebagaimana

   menghormati orang lain.

   Seorang ahli didik Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa :

          Perubahan yang terbesar yang terjadi dalam seperempat abad akhir-akhir ialah

   perubahan dalam hubungan antara guru dengan murid, yakni dari hubungan sebagai

   antara atasan dengan bawahan menjadi hubungan persahabatan, dimana guru

   menghormati pribadi anak. Mengajar menurut pendapat modern tidak mungki, tanpa

   mengenal anak. (S. Nasution, 1999 : 19)

   Oleh karena itu, maka mengenal anak adalah salah satu syarat yang menunjang

   tercapainya tujuan pendidikan. Dari pengenalan guru kepada anak, ia dapat mencari

   tempat-tempat peka anak, selanjutnya ia mengatakan peluang sebaik-baiknya dalam

   rangka tercapainya tujuan pendidikan yang dimaksud.

3. Membangkitkan semangat

          Belajar, terutama dalam kelas adalah suatu pekerjaan menjemukan bagi anak.

   Karena mereka merasa terikat dengan norma-norma kelas, belum merasakan

   manisnya belajar dan sebagainya.

          Banyak kita jumpai, pada jam-jam terakhir mereka terlihat lemas, ruyup,

   ngantuk, tidak ada gairah dan sebagainya.

          Pada saat demikian guru hendaklah berusaha membangkitkan semangat

   mereka, entah dengan memberikan pertanyaan menyelipkan pertanyaan dan cerita

   dalam materi yang disampaikan atau juga semangat guru ditampakan.
          Anak tidak merasa ngantuk atau lapar manakala guru pandai memancing

   minat mereka dengan hal-hal yang menarik. Disini diatur penempatan bidang studi

   sejarah matematika dan sebagainya dalam roster.

          Apakah pelajaran sejarah ditempatkan pada jam pertama sedang matematika,

   fisika dan sebagainya diletakkan pada jam terakhir atau sebaliknya.

          Dan disini pula pentingnya guru pandai memilih metode belajar dan alat

   pelajaran.




4. Memberikan norma

   Anak biasanya berbicara semuanya, bergerak menurut seleranya atau berjalan sesuai

   dengan kehendak hatinya tanpa ambil pusing apakah mereka di kelas atau dihadapan

   gurunya.

   Atas dasar ini pulalah diberi norma kelas, agar kegiatan belajar mengajar dalam kelas

   dapat berjalan dengan baik dan lancar.

   Pembentukan norma ini tidak berarti seorang guru harus menurunkan undang-undang

   secara biroratis, tapi harus memulai dari kedisiplinan pribadi. Bila hal ini dapat

   dijalankan oleh guru, mustahil kegiatan kelas tidak berhasil.

5. Menghapus kelemahan anak

   Anak dalam arti luas adalah makhluk yang lemah. Mereka bisa sendiri-sendiri dan

   tidak bisa mencapai kematangan atau kedewasaan tanpa ada tangan yang hendak

   membimbing untuk mencapai itu. Untuk mencapai kematangan, memerlukan waktu

   yang tidak pendek.
   Keadaan anak yang lemah ini secara jasmaniah sepenuhnya ditangan keluarga.

   Akan tetapi bila bertolak dari kelemahan rohaniyan, bukan saja keluarga yang

   mempunyai tanggung jawab, gurupun mempunyai tanggung jawab yang besar,

   bahkan lebih besar lagi dari orang tua, terutama bagi anak yang lahir dari keluarga

   yang tidak berpendidikan.

   Melihat uraian tersebut di atas, maka kiranya tidak ada jabatan lain dalam masyarakat

   yang memikul tanggung jawab moral yang begitu besar dan berat selain guru dan

   para pendidik pada umumnya. Sebab baik-buruknya moral atau mental masyarakat

   yang akan datang terletak dipundak guru dan pendidik-pendidik lainnya.

6. Menjelaskan tujuan belajar

   Bagi anak yang masih muda, dimana kemauan masih lemah gambaran tentang tujuan

   belajar dan cita-cita hidupnya kabur, maka disinilah tanggung jawab guru sebagai

   pendiidik harus diwujudkan, wujud dari tanggung jawab tersebut adalah

   memperkenalkan tujuan-tujuan pendidikan. Dengan memberikan bukti                 dan

   contoh-contoh orang-orang terkemuka, para sarjana yang telah berhasil lewat

   pendidikan yang ditempuhnya sejak kecil.

   Kaburnya tujuan ini pada pada hakekatnya adalah suatu peluang besar bagi guru.

   Guru hanya menunjukkan jalan dan memperlihatkan bentuk dan jenis hasil yang akan

   dicapai yang berada diujung dijalan itu.

   Tanggung jawab guru disini sebagai pemandu tangan anak-anak, agar tidak

   membelok dan juga sebagai pemegang pemegang lampu dimuka anak disaat yang

   gelap mencari jalan terang untuk sampain pada tujuan yang diharapkan.

   Selain itu guru mempunyai beberapa tugas yang juga dirasa penting, yaitu meliputi :
         -    Pembinaan pendidikan olah raga

         -    Pembinaan organisasi pemuda (OSIS, Pramuka, dll)

         -    Pembinaan kesenian, kursus, dll

         -    Pengawasan

         -    Pemberian tugas

         Semua ini sangat menunjang berhasilnya pendidikan yang dilakukan dilingkungan

         sekolah, terutama pemberian tugas berupa pekerjaan rumah (PR) adalah sebagai salah

         satu realita dari bentuk pengawasan, sedang lainnya berguna untuk membentuk

         kesadaran sosial yang tinggi. Dengan demikian, maka guru sebagai pelaksana

         kurikulum bertanggung jawab atas berhasilnya atau tidaknya pengajaran dan

         bertanggung jawab pula atas segala kemungkinan yang terjadi berdasarkan tugas yang

         diembannya.



Tinjauan tentang Anak

         Pembahasan ini dimaksudkan untuk mengenal anak dari dekat sebagai gambaran

  untuk mengenal anak, terutama bagi seorang pendidik/pengajar adalah amat penting.

  Pentingnya seorang guru mengenal anak erat sekali hubungannya dengan motivasi, dimana

  motivasi sendiri sebagai salah satu alat untuk meningkatkan kerajinan belajar anak.

         Oleh karena itu dalam pendidikan modern, anak diutamakan sebagai faktor yang

  penting dalam proses belajar disekolah dan ia harus berusaha mengenal anak sebaik-baiknya

  agar dapat memberikan bimbingan atau motivasi yang serasi baik individual maupun

  kelompok.

  1. Kebutuhan anak
   Dalam memperlakukan anak harus memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dalam
   hidup pada umumnya, mulai dari kebutuhan primer hingga kebutuhan rohaniyah.
   Kebutuhan primer misalnya : Kebutuhan makan, minum, pakaian dan cara
   mengaturnya.
   Sedang kebutuhan rohani mencakup : Rasa aman, rasa kasih sayang, pergaulan dan
   sebagainya. Bilamana seseorang berlebih-lebihan dalam menjalankan peraturan yang
   tidak sesuai dengan kebutuhannya atau mengabaikannya, misalnya ketidak teraturan
   dalam pemberian makanan, air susu atua ketidak disiplinan dalam hubungan keluarga
   ataupun mengikat erat pergaulan mereka dengan lingkungan yang lebih luas, maka
   hal ini akan menelurkan akibat yang kurang sehat, otomatis akan mempengaruhi
   sikap jasmaniyah dan rohaniyahnya dalam jajaran kehidupannya baik hidup dalam
   lapangan sempit atau dalam lingkaran luas.
       Dr. Zakiyah Darajat, mengelompokkan kebutuhan-kebutuhan itu menjadi :

1) Kebutuhan primer

2) Kebutuhan jiwa

3) Kebutuhan sosial

   Begitu juga Prof. Dr. S. Nasution, menelompokkannya menjadi :
1) Kebutuhan jasmaniyah

2) Kebutuhan intelektual

3) Kebutuhan sosial

   Pembagian diatas nampak terdapat perbedaan, yaitu pada diktum 2. Yang pertama
   menyebutkan “jiwa” sedang yang kedua menyebutkan “intelektual”. Namun
   perbedaan pengelompokan itu bertolak dari disiplin ilmu yang dimiliki.
   Sakiyah Darajat adalah seorang psikolog, sehingga pendekatannya dari arah
   kejiwaan, sedangkan S. Nasution seorang edukator sudah barang tentu
   memandangnya dari segi pendidikan.
   Untuk pembahasan berikutnya agar terdapat kesatuan arah, maka penulis akan
   menggabungkan kedua pengelompokkan tersebut dan akan memasukkan pendapat S.
   Nasution kedalam pembagian Zakiyah Darajat karena pembagian Zakiyah Daradjat
   lebih umum, khususnya pada diktum 2 yakni “Jiwa” yang mencakup seluruh
   kehidupan bathin manusia (keseluruhan yang terjadi dari perasaan bathin pikiran,
   angan-angan dan sebagainya) termasuk intelektual.
       Uraian kebutuhan anak itu adalah sebagai berikut :

1) Kebutuhan primer atau kebutuhan jasmaniyah anak pada umumnya selalu bergerak

   dinamis. (S. Nasution, 1989 : 19)
             Misalnya : Bergurau, lari-lari olah raga sekalipun dalam yang amat sederhana

      dan tidak terarah, menirukan para pemeran film silat dan lain-lain menurut

      wawasannya sendiri. Hal ini tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja tetapi

      hendaklah disuruh dengan cara yang bijaksana dan diarahkan kepada gerak yang

      sehat dan produktif.

             Begitu halnya anak membutuhkan makanan, minuman dan pemeliharaan

      kesehatan. Seperti ini haris diperhatikan dan dijaga apakah si ibu membedakan antara

      sisulung dan sibungsu dan pakah juga ia dijaga kesehatannya.

             Jika si ibu menuruti kehendak anaknya tidak mengindahkan aturan makanan

      atau kesehatan, maka akan dampak negatif yang segera akan menimpa anak, misalnya

      terlalu gemuk atau terlalu kurus, sehingga tidak ada keseimbangan antara berat badan

      dan usianya. Akibatnya bukan hanya jasmaniyah yang terkena tapi bisa juga

      rohaniyahnya terganggu.


2. Kebutuhan jiwa

   a. Kebutuhan rasa kasih sayang

      Kasih sayang tidak akan dirasakan oleh si anak apabila dalam hidupnya mengalami
      hal-hal sebagai berikut :
      1) Kehilangan pemeliharaan ibu

                 Ibu seharusnya tidak sekedar memiliki anak, tapi harus pandai

         memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Sekalipun menjadi keharusan sedemikian

         rupa, namun banyak para ibu yang tidak sempat memeliharanya sesuai dengan

         tuntutan si anak.

                 Misalnya : disebabkan suasana rumah tangga yang tidak tentram, ayah dan

         ibu sering cekcok atau tengkar dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan jiwa ibu
   merasa terganggu, sekaligus tugas-tugas rumah tangga tidak akan berjalan

   sebagaimana mestinya. Hal ini mengakibatkan si anak, mungkin pula disebabkan

   persoalan ekonomi, si ibu mencari nafkah, waktunya lebih banyak disita untuk

   kepentingan diluar rumah dan sebagainya.

            Kesibukan-kesibukan semacam itu menurut penelitian Dr. Zakiyah

   Daradjat akan mengakibatkan penderitaan gangguan jiwa seperti : “Tidak dapat

   konsentrasi, sedih, merasa rendah diri, sering menyendiri, cepat tersinggung dan

   sebagainya”. (Zakiyah Daradjat, 1989 : 78)

2) Kurang disayang

            Kadang kala beberapa orang tua bertindak tidak bijaksana dan

   memperlakukan anaknya sebagai anak yang jauh dari rasa kasih sayangnya,

   misalnya kurang mengurusi makanannya, sering pisah dengan ibu, memukul

   dengan cara yang kurang wajar dan sebagainya.

            Akibat yang kurang jelas dan mungkin akan dialaminya dalam kaitannya

   dengan     gangguan       mental.   Diantara   gejalanya   “suka   memperhatikan

   gerak-geriknya orang tua, selalu berbuat sesuatu yang mengundang perhatian

   orang dan sebagainya”. (Ibid, 1989 : 80)



3) Orang tua terlalu keras

            Banyak orang tau menduga bahwa kekerasan adalah sebagai alat

   pendidikan yang paling efektif, karena dapat membawa anak kepada yang

   menjadi keinginan orang tua, tapi nyatanya anak tidak semudah yang diduga,
      tidak seperti adonan kue yang mudah dicetak dan dapat dibentuk sesuai dengan

      cetakannya.

              Kekerasan orang tua kepada anaknya dimaksudkan agar anaknya selalu

      belajar, tidak suka bermain dan sebagainya. Memang menurut tinjauan sepintas

      hal itu dapat diterima oleh akal, namun dibalik itu terdapat akibat fatal terhadap

      pertumbuhan jiwa anak, antara lain : “Ia tidak sanggup mengungkap pendapatnya,

      terlalu sopan pada orang yang berkuasa, kurang mempunyai inisiatif, jiwanya

      menjadi kering”. (Ibid, 1999 : 84 – 85)

              Semua ini adalah akibat perlakuan orang tua yang mengakibatkan

      kebutuhan anak, yaitu kebutuhan kasih sayang.


b. Kebutuhan akan rasa aman

   Semua manusia dijagat raya ini mesti membutuhkan rasa aman dan tentram,
   lebih-lebih anak yang belum baligh dia merasa aman jika ayah dan ibunya
   berhubungan secara harmonis. Bila mereka cekcok, si anak merasa kehilangan tempat
   berlindung.
   Demikian pula kealpaan saling pengertian antara ibu dengan bapak. Akan
   melenyapkan rasa aman dari jiwa anak sekalipun mereka hidup dalam keberadaan.
   Akibat dari hal itu dewasa ia akan gelisah, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

c. Kebutuhan akan harga diri

   Setiap anak ingin mendapat tempat dalam keluarganya, ingin diperhatikan, berguling
   dilantai, mengganggu ibu di dapur dan sebagainya. Namun orang tua tidak tahu apa
   maksud anaknya itu, tanpa fikir mereka menggertak atau mencubit anaknya.
   Akibat dari kehilangan harga diri ini, antara lain : “Rendah diri, lekas tersinggung dan
   cepat marah”. (Ibid, 1999 : 94 – 95)

d. Kebutuhan intelektual

   Pada dasarnya anak tidak menghendaki paksaan misalnya : Pemaksaan untuk
   menganut pendapat guru. Pemaksaan yang begitu rupa akan menimbulkkan rasa
   bosan, rasa tidak puas dan rasa benci pada guru yang bersangkutan. Disamping itu
   juga bahan pelajaran yang dipaksakan oleh rencana pelajaran yang ditetapkan oleh
      atasan sering kurang sesuai dengan minat anak dan sebagainya. Diketahui bahwa
      anak itu erat sekali hubungannya dengan intelek.
      Oleh karenanya, maka di sekolah-sekolah modern memberi kesempatan memilih
      pelajaran yang dikuasainya.
      Selain dari itu juga lebih banyak diperhatikan kegemaran atau hobinya. Penyajian
      yang tidak sesuai dengan kebutuhan intelek neraca kemampuan anak mempunyai
      akibat besar, antara lain : matinya bakat, daya pikir yang terhenti, kreativitas yang
      tersumbat dan sebagainya.
      Dari hal tersebut di atas, baik orang tua atau guru dari anak seyogyanya lebih
      memperhatikan kebutuhan-kebutuhan intelektualnya ini, agar dapat tumbuh dan
      berkembang dengan wajar.

3. Kebutuhan Sosial

          Sejak kecil anak telah berusaha mengenal sekelilingnya, memegang dan

   melihat-lihat mainan, membuang dan mengambilnya kembali, tindakan serupa ini pada

   hakekatnya adalah suatu usaha untuk mengenal lingkungannya. Setelah itu anak mulai

   luas pandangannya dan mengadakan hubungan dengan kawan-kawannya. Mereka mulai

   bergaul dan menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang lain, baik teman yang sama

   jenis, agama, status sosial dan pendapat atau yang berbeda.

          Kebutuhan si anak mengenal lingkungannya seperti ini, adalah : suatu faktor

   dalam menumbuhkan kesanggupan padanya. “Dalam suasana demikian guru harus

   menciptakan suasana kerja sama antara murid-murid, membentuk kerja kelompok

   permainan, membuat suatu aktivitas. (S. Nasution, 1989 : 19).

          Dari keadaan yang demikian guru dapat menilai murid-murid yang mengalami

   kelainan, misalnya murid yang selalu diam, tak mau berbicara, selalu menyendiri dan

   sebagainya, juga anak yang selalu ribut dikelas membuat onar dengan kawannya dan

   sebagainya. Dari penilaian ini diambil suatu tindakan guna menyiapkan kelainan-kelainan

   yang ada pada mereka.
           Mengenal anak sebagai individu dari anggota kelompok memungkinkan guru

   menyesuaikan pelajaran dengan kebutuhan setiap anak dan mengatur langkah apa yang

   harus dijalankan. Apakah dengan memberikan test pertanyaan atau memberikan

   dorongan/motivasi.



4. Potensi Dasar yang Terdapat pada Anak

       Di dalam diri manusia terdapat potensi/kemampuan dasar atau kemampuan fitri
       (prapoten reflexes) yang tidak dapat berkembang baik dengan sendirinya, tanpa ada
       orang kedua yang hendak mengembangkannya. Upaya pengembangan potensi itu
       harus diwujudkan terutama oleh pendidik dengan cara memberikan respon yang
       sebaik-baiknya dan menempuh jalan yang paling efektif.
           Sebagai contoh beberapa perkembangan, anak yang memasuki suatu sekolah pada

   umumnya lebih cepat perkembangannya dibandingkan dengan memasuki sekolah lain

   yang mereka sama-sama memiliki kemampuan dasar. Namun pembinaannya dan faktor

   orang kedua yang berlainan.

       Murid-murid di sekolah yang satu telah dapat mengungkapkan isi hatinya dengan

bahasa yang baik, dapat menyebutkan beberapa tokoh sejarah. Sedang murid sekolah yang

lain terlihat seperti ketinggalan dalam jangka waktu satu tahun lamanya.

      Potensi dasar yang terdapat pada anak yaitu :
   1. Potensi untuk berhubungan

       Sebagaimana diterangkan di muka bahwa anak tidak bisa hidup seperti dan mesti

       mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Anak kecil telah dapat memilih teman

       sepermainan dan kadang-kadang berjalan ketempat-tempat yang disukai. Hal ini

       merupakan penjelmaan dari “Potensi berhubungan” yang terdapat pada anak.

       Adanya potensi dan kemampuan si anak untuk berhubungan amat menentukan baik

       tidaknya si anak itu. Dan hal ini pula tergantung pada pendidik atau lingkungannya.
   Misalnya kebiasaan makan diwarung, makan di jalan, cara berpakaian, semua ini

   bukan pembawaan melainkan diperoleh dan dipelajari dari lingkungan sosialnya.

   Begitu juga hasil belajar murid, kemajuannya atau kemundurannya, ditentukan oleh

   faktor lingkungan, baik kondisi keluarga dalam rumah tangga atau tuntutan guru

   disekolah.

   Dengan kata lain bahgwa “minat, sikap dan karateristik si anak ditentukan oleh

   lingkungannya”, hal ini pula yang menimbulkan motivasi belajar, sehingga dapat

   ditentukan tinggi rendahnya hasil belajar mereka. (H.M. Arifin, 1999 : 21 – 22)



2. Potensi untuk berkembang

   Seorang anak didik sebagai organisme berkembang, terciptanya telah membawa

   kemampuan-kemampuan yang diperolehnya dari kedua orang tuanya.

   Misalnya penguasaan bahasa, jelas semua anak mulai belajar dan mengenal

   vokabulari bahasanya dari lingkungan dimana dia hidup. Yang dimiliki anak bukan

   banyaknya perbendaharaan kata atau kehalusan pengungkapan kata-kata melainkan

   hanyalah kemungkinan untuk menyatakan atau mengeluarkan suara.

   Kalau dikatakan bahwa bahasa sunda atau bahasa jawa ialah bahasa aslinya. Anak

   yang lebih tepat disebut sebagai bahasa aslinya adalah kesanggupan dan potensi

   untuk berusaha secara yang lebih dapat dipahami oleh lingkungannya.

   Pengetahuan tentang bahasa sunda atau jawa yang baik adalah hasil perkembangan

   yang dikembangkan oleh lingkungannya, baik dalam keluarga atau sekolah.

   Disinilah peranan lingkungan, guru dan orang tua dalam proses pengembangan anak.

   Bagaimanapun pentingnya faktor guru atau orang tua dalam usaha pengembangan
        anak, toh masih terdapat guru atau orang tua yang kurang bijaksana, sebagai misal

        dengan kemampuan yang ada pada anak, dia bersama kawan-kawannya

        beramai-ramai membunyikan tempurung kelapa yang ditata sebagai instrumen musik.

        Namun guru/orang tua yang tidak bijaksana berusaha menghentikan perbuatan itu

        sama sekali. Tindakan yang lebih tepat bukan menghentikan, tapi mengarahkan

        mereka atau mengganti instrumen yang mereka gunakan dengan yang lebih sehat.

        Karena sikap dan perbuatan mereka itu terjadi dalam rangkaian perkembangan

        bakatnya.

     3. Potensi untuk menerima kesan

        “Biasanya anak tertarik dan terkesan pada hal-hal yang menarik”. (H. Ma’some

        Oemar 1982 : 52)

        Hal yang menarik, anak cepat terekam, cepat diterima tanpa reserve dan cepat pula

        diterjemahkan menjadi suatu sikap dan tingkah laku, karena anak masih belum dapat

        memilih mana yang baik dan mana pula yang jelek. Dalam keadaan yang demikian

        seorang guru/orang tua perlu berhati-hati dalam bertingkah laku, sehingga anak hanya

        dapat melihat dan mendengar yang baik dan sekaligus dapat merekam yang baik pula.

        Manakala kebutuhan dan potensi yang ada pada anak diketahui akan mudahlah arah

        dan mode motivasi yang akan digunakan oleh guru.



C. Motivasi Guru dalam Meningkatkan Kerajinan Belajar Anak

  1. Belajar dan Motivasi

           Sudah seharusnya manusia hidup tumbuh dan berkembang. Dengan pertumbuhan

     dan perkembangan itu dapat mengadakan penyesuaian dengan lingkungannya dan dapat
menjawab segala permasalahan yang datang. Sudah sepatutnya manusia mengalami

perubahan tingkah laku.

       Dengan perubahan-perubahan tingkah laku atau manusia akan mampu mencari

dan menemukan kesejahteraan hidupnya. Suatu usaha agar kita senantiasa tumbuh,

berkembang dan berubah adalah belajar.

       Namun demikian kita masih sulit menentukan apakah belajar itu dan bagaimana

proses guna menciptakan kondisi belajar, sehingga membawa hasil sesuai dengan yang

diharapkan. Banyak orang beranggapan, bahwa belajar adalah menuntut ilmu, menyerap

pengetahuan, merubah tingkah laku dan sebagainya. Tapi apakah dengan belajar

semacam ini orang menjadi tumbuh dan berkembang. Jika demikian bahwa orang yang

belajar itu tak obahnya seperti sebuah benjana kosong yang perlu diisi, apabila bejana itu

diisi sebanyak-banyaknya berapa yang dapat masuk dari sebanyak yang masuk tentunya

sesuai dengan daya tampung bejana itu.

       Memang pengertian tentang belajar banyak sekali, banyak tokoh yang

mengemikakannya dan masing-masing mereka mengemukakan pengertian yang

berbeda-berbeda, sesuai dengan pemahaman mereka. Perbedaan ini sebenarnya bertolak

dari kenyataan, bahwa perbuatan belajar itu sendiri berbeda-beda, misalnya menirukan

ucapan, menirukan perbuatan, menghayal mengerjakan soal dan sebagainya.

       Dengan kenyataan di atas terdapatlah banyak definisi yang dikemukakan oleh

beberapa ahli :

       Menurut James G. whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai “Proses dimana

tingkah laku ditimbulkan atau dirubah melalui latihan atau pengalaman. (Wasty

Soemanto, 1989 : 130).
       Namun demikian, maka tingkah laku yang tidak ditimbulkan atau tidak dirubah

melalui pengalaman atau latihan seperti pertumbuhan fisik, kematangan dan sebagainya

tidak termasuk belajar.

       Devinisi yang tidak jauh berbeda dengan devinisi diatas juga dikemukakan oleh

L. Kungsky, sebagai berikut : “Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti

luas) ditimbulkan atau dirubah melalui praktek atau latihan. (Ibid, 1999 : 131)

       Definisi ini memberikan penjelasan bahwa belajar membawa suatu perubahan

pada individu yang bersangkutan. Perubahan ini tidak hanya mengenai jumlah

pengetahuan sebagaimana teori yang menyatakan bahwa belajar itu bukan hanya

penambahan pengetahuan melainkan juga membentuk kecakapan keterampilan, sikap,

penghargaan, minat, penyesuaian diri, pendeknya mengenai segala aspek organisme atau

pribadi seseorang.

       Karena seorang belajar tidak sama lagi dari pada saat sebelumnya, karena ia lebih

sanggup menghadapi kesulitan atau penyesuaian diri dengan keadaan, tetapi dapat pula

mengusahakannya secara fungsional dan dalam situasi-situasi hidup.

       Dengan demikian jelaslah tujuan belajar, yaitu sebagai sasaran yang hendak

dicapai, meliputi :

       “Pengumpulan pengetahuan, penanaman konsep dan kecekatan pembentukan

sikap dan perbuatan. (Winarno Surachman, 1979 : 50) Dengan pengertian yang serupa,

Prof. Bloom mengemukakan bahwa pengajaran itu harus mencakup tiga domains

(bidang) tingkah laku manusia, yakni : “Memperoleh pengetahuan, memiliki suatu

keterampilan, mempunyai sikap tertentu. (Team Didaktik Metodik IKIP Surabaya, 1981 :

29).
   Suatu definisi yang serupa dikemukakan oleh Bilgard, ia mengatakan :

   Belajar adalah suatu proses dimana suatu aktivitas ditimbulkan atau Dirubah
   melalui prosedur latihan, apakah itu di laboratorium atau lingkungan alam,
   sebagaimana juga terutama dari perubahan-perubahan oleh beberapa faktor yang
   tidak dianggap berasal dari latihan. (S. Nasution, 1989 : 58).


Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar
manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu, sehingga tingkah
lakunya berkembang. Semua aktivitas dan proses hidup manusia tidak lain adalah
hasil dari belajar.
Manusia hidup dan bekerja menurut apa yang telah dipelajari. Belajar bukan sekedar
pengalaman, tetapi juga merupakan suatu proses dan bukan suatu hasil. Oleh karena
itu belajar berlangsung secara aktif dan integral dengan menggunakna berbagai
bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan, .meskipun tidak seorangpun yang
mengajar seseorang, namun orang itu dapat belajar.
Namun demikian guru atau orang lain dapat mengarahkan belajar dan dapat pula
mendorong (memberi motivasi) untuk belajar. Motivasi seseorang itu akan nampak
menjadi tujuannya dalam belajar. Dengan demikian belajar itu beroriatasi kepada
tujuan murid. Sedangkan tujuan itu sendiri dapat dibuat oleh pihak lain, termasuk
guru untuk merangsang murid belajar, misalnya dengan memberikan ulangan pada
hari-hari yang ditentukan, maka dengan demikian amat eratlah hubungan antara
belajar dengan motivasi.
Perlu diketahui bahwa belajar tergantung pada kebutuhan dan dorongan (motivasi).
Orang dalam keadaan butuh, merasakan kondisi tidak seimbang. Sebagai gambaran,
orang lapar merasakan kondisi tidak seimbang, sudah tentu dia menolak keadaannya
itu, maka timbul untu mengatasi hal lapar yang dirasakannya. Kebutuhan itu sendiri
melahirkan keinginan untuk makan sebagai motivasinya guna memenuhi kebutuhan
mengatasi lapar. Ia pun mempunyai tujuan yang hendak dicapai, yaitu makan. Untuk
dapat makan ia tidak sembarang bertindak melainkan harus menemukan kerangka
yang tepat untuk mendapatkan dan menikmati makanan yang diinginkan. Ia mesti
memikirkan jenis makanan yang sesuai dengan selera dan cara memperoleh makanan
tersebut.
Setelah kerangka itu ditemukan, maka dipilih untuk mewujudkan usaha mencapai
tujuan, misalnya berkata “lapar”. Illustrasi di atas dapat dipakai untuk
menggambarkan tentang bagaimana belajar itu diciptakan dan dilaksanakan serta
kemana diarahkan.
Bahwa belajar terarah kepada tujuan untuk mencapai tujuan, harus menentukan
kerangka belajar. Dengan kerangka belajar yang ditemukan orang (anak) dapat
memilih berbagai alternatif tindakan, barulah orang melaksanakan berbagai aktivitas
untuk mencapai tujuannya, misalnya mendengarkan, membaca, mencatat, menghafal
dan sebagainya.
“Dengan demikian seorang guru menjadi belajar atau tidak dalam situasi ini
tergantung ada atau tidaknya kebutuhan dan motivasi.” (Wasty Soemarto, 1987 :
135).
      Dengan kondisi yang demikian sipelajar tidak hanya mendengar, melihat dan
      sebagainya, melainkan lebih aktif giat dan bertujuan. Sebagaimana penulis uraikan di
      atas, bahwa belajar sebagai proses perubahan tingkah laku. Situasi belajar ini ditandai
      dengan adanya motif-motif yang ditetapkan atau diterima oleh murid. Kadang-kadang
      satu proses belajar tidak dapat mencapai hasil maksimal, disebabkan ketiadaan
      kecermatan yang mendorong (tujuan, motivasi).
      “Dalam hal ini guru memasukkan motivasi dalam cara-cara mengajarnya. Oleh
      karenanya, motivasi yang sehat perlu ditumbuhkan oleh guru secara integral dalam
      dunia belajar, yakni diambil dari sistim nilai lingkungan hidup murid itu sendiri
      setelah guru itu mengetahui/mengenal murid dari dekat. Dan ditujukan pada
      penjelasan tugas-tugas perkembangan murid, terutama perkembangan murid,
      terutama perkembangan yang menyangkut kegiatan belajarnya.
2.   Kewajiban Belajar

     a. Menurut perundang-undangan

        Pada jaman kolonial Belanda, pendidikan di Indonesia tidak bisa berjalan dengan
        baik dan terdapat dikriminasi. Mereka yang mengenyam pendidikan hanya terbatas
        pada orang-orang tertentu belaka, dari kalangan ningrat, anak bupati dan
        sebagainya.
        Namun pada jaman kemerdekaan dengan lahirnya Undang-Undang Dasar 1945,
        khususnya pasal 31, maka pendidikan mendapat tempat untuk dilaksanakan di
        Indonesia.
        Masalah pendidikan bukan hanya pemerintah yang turut mendarma baktikan bagi
        kemajuan pendidikan. Maka pada tanggal 4 – 7 Maret 1947 di Solo diadakan
        kongres pendidikan, dibawah pimpinan Prof. Sumaryo kalapaking, yang tujuannya
        adalah meninjau kembali berbagai masalah pendidikan/pengajaran. (I. Djumhur,
        1999 : 202).
               Semakin tahun masalah pendidikan di Indonesia semakin bertambah. Di

        dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

        Bab I Pasal I ayat (2) disebutkan bahwa “Pendidikan Nasional adalah pendidikan

        Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang

        berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap

        tuntutan perubahan zaman”.

                Pernyataan ini mengandung arti bahwa semua aspek yang terdapat dalam

        Sistem Pendidikan Nasional akan mencerminkanm aktifitas yang dijiwai oleh
  Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dan berakar pada nilai-nilai agama serta

  kebudayaan nasional Indonesia.

   Tujuan Pendidikan Nasional yang dimaksud disini adalah tujuan akhir yang akan
   dicapai oleh semua lembaga pendidikan, baik formal, non formal, informal yang
   berada dalam masyarakat dan negara Indonesia.
b. Menurut Islam

             Islam    tidak     membagi      ilmu      pengetahuan     dan      tidak

   menganjurkan/memerintahkan menurut ilmu saja, bahkan semua ilmu yang

   bermanfaat harus dimiliki oleh semua individu, baik ilmu agama maupun ilmu

   umum. Hanya agama Islam membaginya menjadi ilmu yang baik dan yang buruk.

             Ilmu yang baik yaitu, ilmu yang bermanfaat bagi manusia dan tidak

   merugikan, seperti ilmu-ilmu fiqih, kedokteran, pertanian dan sebagainya. Sedang

   ilmu yang jelek, yaitu ilmu yang tidak berguna bagi bagi kehidupam manusia dan

   merugikan, seperti ilmu sihir, ilmu tenung dan sebagainya.




   Artinya     : “Mengapa tidak pergi dari tiap - tiap golongan diantara mereka
                 beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
                 agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, apabila mereka
                 telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya (Q.S.
                 At- Taubah : 122).




   Artinya     “Mencari ilmu wajib bagi orang Islam laki-laki dan Islam wanita” (H.R.

                Baihaqi)
                Ayat dan Hadits ini secara emplisit memberikan pengertian bahwa orang

        Islam diwajibkan menuntut ilmu pengetahuan.



3. Peranan Motivasi dalam Meningkatkan Kerajinan Belajar

          Dengan motivasi, dimaksud, “Usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi

   sehingga anak itu mau/ingin melakukannya, bila ia tidak suka, ia akan berusaha untuk

   melakukannya. Anak-anak akan giat mengambil air untuk menyirami bunga dihalaman

   sekolah, tetapi mereka tidak suka memegang sapu kalau pekerjaan itu tidak menarik,

   kecuali dengan paksaan dan pengawasan.

          Anak yang memiliki IQ tinggi bisa juga gagal karena kekurangan motivasi

   “Kerajinan Belajar” yang diharapkan, akan tetapi akan dicapai dengan motivasi yang

   tepat “Oleh karena itu guru harus menggunakan bermacam-macam motivasi agar

   anak/murid giat belajar. (Amir Daien Iskandar, 1980 : 169).

   1. Macam-macam Motivasi

      a. Motivasi Instrinsik

          Yang dimaksud dengan motivasi Instransik ialah :

          Motivasi yang berasal dari dalam diri anak sendiri hal ini timbul karena adanya :

          1) Kebutuhan

          2) Pengetahuan tentang kemajuannya sendiri

          3) Aspirasi atau cita-cita

      b. Motivasi Ekstransik

          Yaitu : “Motivasi atau tenaga-tenaga pendorong yang berasal dari luar diri anak.

          (Ibid, 1980 : 70).
       Termasuk juga motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar muridnya.

       Motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar, yaitu :



       1) Pekerjaan Rumah

          Memberi pekerjaan rumah kepada murid akan memberikan dorongan untuk

          belajar lebih giat, akan tetapi bila terlalu sering mungkin rasa bosan atau

          payah yang segera muncul, sehingga dalam keadaan yang demikian motivasi

          tidak ada artinya.

       2) Ganjaran

          Ganjaran dapat menjadikan pendorong bagi anak untuk belajar lebih giat dan

          lebih baik lagi.

          Dengan ini guru dapat memilih macam-macam ganjaran yang sesuai dengan

          kondisi dan situasi murid masing-masing. Misalnya memberikan hadiah,

          pujian, penghargaan dan sebagainya kepada murid tertentu.

       3) Hukuman

          Hukuman dapat diberikan dengan bermacam-macam, misalnya ganti rugi,

          celaan dan sebagainya. “Hukuman yang baik hendaklah dilakukan dalam

          rangka penilaian terhadap belajar murid yang bersifat negatif. Dan hendaklah

          bersifat paidagogis, hukum balas dan sebagainya. Bila hukuman dilakukan

          tanpa alasan-alasan pendidikan yang sehat, maka akan merasa pada

          perkembangan anak dan lengkaplah nilai-nilai motivasi yang diharapkan.



2. Fungsi Motivasi dalam meningkatkan kerajinan belajar anak
Para nelayan rela mendayung sampannya ketengah lautan, tak perduli badai dan
gelombang, para petani berjam-jam mengayun cangkulnya di bawah teri matahari,
para atlit setiap hari berlatih sekian lamanya untuk menghadapi turnament kejuaraan
sebuah cabang olah raga, para mahasiswa menekuni buku-bukunya semalam suntuk
karena menghadapi ujian. Dibalik setiap perbuatan terdapat suatu motivasi yang
mendorong untuk melakukan sesuatu.
        Begitu juga belajar diperlukan motivasi. Hasil belajar banyak ditentukan oleh

motivasi, makin tepat motivasi yang diberikan, semakin berhasil pelajaran itu.

       Motivasi intensitas usaha anak belajar, sebaba “Motivasi adalah sebuah

kondisi belajar yang sesungguhnya/amat penting.” (Ibid, 1987 : 60).

       Untuk memperoleh gambaran yang jalan mengenai motivasi ini, maka penulis

akan menguraikan dengan meninjau dari dua segi, yaitu :

1) Kebutuhan anak terhadap motivasi

   Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa guru harus menjadikan anak sebagai
   salah satu faktor pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian jelaslah fungsi
   motivasi bagi anak yang akan menyelesaikan studinya dengan menghendaki
   prestasi yang tinggi melalui frekuwensi belajar yang maksimal.
   Selanjutnya bagaimana anak bisa giat belajar, dimana motivasi sebagai salah satu
   alat yang sangat penting sehubungan dengan ini Al-Ghozali mengemukakan
   teorinya, yaitu :
   a. Sifat-sifat manusia tidak terlepas dari sejumlah penggerak (motivation) dan

       minat.

   b. Pikiran tidak bekerja tanpa dorongan (motivation) penggerak dan minat.

   c. Kemauan tidak berbuat tanpa minat atau penggerak, semakin kuat minat itu

       semakin pasti pula kemauan bergerak.

   d. Walaupun bagaimana sifat tingkah laku tak dapat tidak, harus ada penggerak

       (motivation) nya.

   e. Penggerak itu merupakan sejumlah kebutuhan fisiologi dan spiritual, seperti

       kebutuhan kepada makanan dan ketentraman. Ini merupakan penggerak dalam
     batin yang pangkalnya berkaitan dengan pangkal keadaan dan psikologis serta

     pengalaman-pengalaman benda hidup.

  Dari itu, jelaslah bahwa motivasi merupakan suatu kebutuhan. Seorang anak
  terdorong untuk melakukan sesuatu bila merasa suatu kebutuhan. Kebutuhan ini
  menimbulkan kondisi ketidakseimbangan perasaan yang meminta pemuasan agar
  kembali kepada keseimbangan semula itu.
  Dikatakan bahwa, “Ketidak puasan adalah bagian yang amat penting dalam
  motivasi. (S. Nasution, 1980 : 122). Bila kebutuhan itu telah terpenuhi, telah
  dipuaskan aktivitas berkurang atau lenyap (misalnya) kalau telah kenyang atau
  diploma telah diperoleh sampai timbul lagi kebutuhan-kebutuhan baru, misalnya
  ijazah atau kedudukan yang lebih tinggi.
  Kebutuhan seseorang senantiasa berubah selama hidupnya. Sesuatu yang menarik
  dan yang diinginkan pada suatu saat, tidak lagi diacukan pada saat lain. Itulah
  sebabnya maka motif-motif harus dipandang sebagai sesuatu yang dinamis dan
  diterapkan, disesuaikan dengan kebutuhan anak.
  Uraian di atas menunjukkan betapa besarnya nilai motivasi dalam meningkatkan
  kegiatan belajar anak di samping motivasi merupakan suatu hal mutlak yang
  harus diberikan kepada anak, harus merupakan suatu kebutuhan yang harus
  dipenuhi, disamping merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan.
2) Fungsi Motivasi

         Fungsi motivasi adalah sebagai berikut :

  a. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang

     melepaskan energi

  b. Menunjukkan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.

  c. Menyeleksi, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang hendak

     dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu dengan mengenyampingkan

     perbuatan-perbuatan yang kurang bermanfaat bagi tujuan itu.

  Dari ini dapat disadari pentingnya motivasi dan fungsinya dalam membimbing
  belajar murid-murid. Sebagai teknik, misalnya pemberian ganjaran, hukuman,
  pekerjaan rumah, dan sebagainya telah dipergunakan untuk mendorong atau
  memotivasi agar anak mau belajar.
  Bukan hanya sekolah-sekolah yang berusaha memberi motivasi tingkah laku
  manusia (anak) kearah perbuatan/tingkah laku yang diharapkan, orang tua atau
  keluargapun adalah berusaha memotivasi perubahan-perubahan dalam tingkah
  laku.
Dari uraian di atas ternyata kesadaran tentang fungsi motivasi bagi perubahan
tingkah laku manusia telah dimiliki, baik oleh guru orang tua atau keluarga.
Sehubungan dengan ini Wasty Soemanto dalam bukunya “Psikologi dalam
Pendidikan” mengemukakan dua penting dalam motivasi.
a) Motivasi adalah suatu proses didalam individu, pengetahuan tentang proses ini

   membantu untuk menerangkan tingkah laku lanjutan dari orang tua.

b) Kita menentukan diri dari pada proses ini dengan menyimpulkan dari tingkah

   laku yang dapat diamati.

       Dengan demikian maka motivasi mempunyai fungsi penting, yakni

sebagai suatu alat untuk merubah tingkah laku sekitar suasana belajar dan sebagai

suatu metode dalam rangka peningkatan mutu pendidikan anak di sekolah,

menyusul usaha guru dalam meningkatkan kerajinan belajar muridnya.
                                            BAB III

                                   METODE PENELITIAN



A. Rancangan Penelitian

          Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya peranan motivasi

   guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton

   Probolinggo. Sesuai dengan judul penelitian, yakni Peranan Motivasi Guru dalam

   Meningakatkan Kerajinan Belajar Anak di MTs. Nurul Hidayah Paiton Probolinggo, maka

   dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel motivasi guru (variabel X) sebagai

   variabel bebas dan variabel kerajinan belajar anak (variabel Y) sebagai variabel terikat.

          Selanjutnya untuk memperoleh gambaran tentang adanya hubungan atau tidak antara

   ke dua variabel tersebut, maka masing-masing variabel yang telah diperiksa itu perlu

   dikorekasikan. Dari hasil pengkorelasian itu kemudian ditarik kesimpulan sesuai dengan

   tujuan penelitian. Atas dasar inilah maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian

   ini adalah metode deskriptif korelasional. Namun sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan

   diadakan langkah-langkah sebagai berikut.

   1) Persiapan

              Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting.

      Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu

      diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

              Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab

      terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

      a) Menyusun rencana
                Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut

      ini.

      1) Judul penelitian

      2) Alasan penelitian

      3) Problema penelitian

      4) Tujuan penelitian

      5) Obyek penelitian

      6) Metode yang dipergunakan

   b) Ijin melaksanakan penelitian

      Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam

      (IAIN) Nurul Jadid Jurusan Pendidikan Agama Islam dengan alamat PO. BOX I

      Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke kepada Kepala MTs. Nurul Hidayah

      Sumberrejo Paiton Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin

      untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut di atas.

   c) Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan motivasi orang tua,

      yakni menyusun instrumen untuk angket dan wawancara dan dokumentasi.

2) Pelaksanaan

             Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan

   penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang

   diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

   a) Observasi

   b) Wawancara

   c) Angket
   3) Penyelesaian

             Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah

      berikutnya, yaitu :

      a. Menyusun      kerangka   laporan   hasil   penelitian   dengan   mentabulasikan   dan

         menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada

         Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan

         segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.

      b. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji,

         kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang

         terkait.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

   1. Populasi

         Populasi merupakan obyek informasi atau kelompok yang menjadi sasaran penelitian.
         Dalam hal ini T. Raka Jono menyatakan bahwa “populasi adalah keseluruhan
         individu yang ada, yang pernah dan mungkin ada yang merupakan sasaran yang
         sesungguhnya dari pada suatu penyelidikan” (t.th.1).
         Mengingat populasi subyeknya 98, maka responden yang diambil dalam penelitian ini
         adalah 40% yang merupakan sebagai wakil dari jumlah populasi.
   2. Sampel

         Pengertian mengenai sampel, Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa, “Sampel
         adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (1997:177). Selanjutnya Suharsimi
         menyatakan bahwa :
            “Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik
            diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi,
            selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau
            lebih tergantung setidaknya dari :
            1. Kemampuan peneliti melihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
            2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini
                menyangkut banyak sedikitnya data.
            3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti, untuk peneliti yang
                beresiko besar, hasilnya akan lebih besar” (1992:107)
          Berdasarkan pengertian di atas, pengambilan sampel ini diambilkan dari
          masing-masing kelas sebagai berikut :


          Kelas I     sebanyak 13 orang
          Kelas II sebanyak 12 orang
          Kelas III sebanyak 15 orang
          Jadi jumlah keseluruhan yang dijadikan sampel adalah sebanyak 40 orang.

C. Instrumen Penelitian

          Guna memperoleh data yang diperlukan maka perlu adanya alat-alat pengumpul data

   atau instrumen, sebab instrumen sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Instrumen

   yang baik akan menghasilkan data-data yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena

   itu data harus cocok dan mampu bagi pemecahan masalah. Dalam hal ini Winarno

   Surachmad menyatakan bahwa :

          “Setiap alat pengukur yang baik akan memiliki sifat-sifat tertentu yang sama untuk
          setiap jenis tujuan dan situasi penyelidikan. Semua sedikitnya memiliki dua sifat,
          reliabilitas dan validitas pengukuran. Tidak adanya suatu dari sifat ini menjadikan alat
          itu tidak dapat memenuhi kriteria sebagai alat yang baik”. (t.th.:145)

          Sifat-sifat yang lain yang harus dipenuhi adalah obyektifitas dan adanya petunjuk

   penggunaan. Adapun instrumen yang dibuat penulis guna menjaring data adalah angket

   untuk siswa. Jenis angket yang dipilih adalah angket tertutup, dengan jumlah pertanyaan 12

   butir dengan tiga alternatif jawaban (a, b, dan c).

          Skor untuk masing-masing alternatif adalah sebagai berikut :

   1. Untuk jawaban a, maka diberi nilai 3

   2. Untuk jawaban b, maka diberi nilai 2

   3. Untuk jawaban c, maka diberi nilai 1
D. Teknik Pengumpulan Data

         Dalam suatu penelitian tidak lepas dari data, karena dengan adanya data atau keadaan

  tertentu dapat membangkitkan niat untuk mengadakan penelitian. Dengan adanya data

  tersebut orang akan dapat menyesuaikan penelitiannya. Penelitian terhadap suatu obyek itu

  tidak dapat dilaksanakan dengan baik apabila dari obyek itu tidak dapat dibuat datanya. Data

  mempunyai pengertian khusus, seperti yang dinyatakan oleh Masud Kasan Kohar bahwa,

  “data adalah himpunan kenyataan-kenyataan yang mengandung suatu keterangan atau

  menyusun kesimpulan” (t.th.:61).

         Dari definisi di atas maka jelaslah bahwa dalam suatu penelitian diperlukan banyak

  sekali data agar keputusan yang diambil dapat dipercaya. Oleh karena itu data yang

  dikumpulkan haruslah menggambarkan tentang variabel-variabel yang ada pada judul,

  memilih metode yang tepat, karena kesalahan dalam memilih metode akan berakibat data

  yang terkumpul kurang memenuhi syarat baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh

  karenanya dalam penelitian ini penulis memilih beberapa metode pengumpulan data yang

  sekiranya tepat untuk penelitian ini, yaitu metode observasi, angket, wawancara, dan

  dokumentasi.

  1. Metode Observasi

           Metode observasi adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan menggunkan

     pengamatan (gejala-gejala) yang diselidiki (Hadi, 1991:36).

           Berdasarkan pendapat-pendapat dapat dikemukakan bahwa Observasi adalah

     merupakan teknik atau metode untuk mengadakan penelitian dengan cara mengamati

     langsung terhadap kejadian, baik di sekolah maupun di luar sekolah dan hasilnya dicatat

     secara sempurna.
         Dengan metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap

   obyek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau letak penelitian serta

   sarana prasarana dan pelaksanaan pembinaan akhlaq di dalam masyarakat sekitar

   pesantren.


2. Wawancara atau Intewiew

          Menurut Bakrum dan Nasrudin (1990:47) menyatakan bahwa, wawancara

   merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan

   sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan,

   baik secara langsugn maupun secara tidak langsung.

          Menurut Bakrum dan Nasrudin wawancara bersifat langsung apabila data yang

   akan dikumpulkan langsung diperoleh dari individu yang bersangkutan, sedangkan tidak

   langsung apabila wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh

   keterangan mengenai orang lain (1990:47).

          Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan

   wawancara yang bersifat tidak langsung, yaitu wawancara yang dilakukan dengan

   pengasuh Pondok Pesantren Arriyadlah Alastengah Paiton Probolinggo, untuk

   memperoleh keterangan dan data mengenai pesantren yang diasuhnya.

          Beberapa keuntungan wawancara seperti yang dikatakan Bakrum dan Nasrudin

   antara lain sebagai berikut :

   a. Wawancara merupakan teknik yang tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi
   b. Dapat dilaksanakan kepada setiap individu tanpa pandang umur
   c. Tidak dibatasi oleh kemampuan membaca dan menulis, artinya orang yang buta
      hurufpun dapat diajak wawancara
   d. Dapat dijalankan serempak sambil mengadakan observasi dan memberikan
      penyuluhan
   e. Mempunyai kemungkinan masuknya data lebih banyak dan lebih cepat
   f. Dapat menimbulkan hubungan pribadi yang lebih baik
   g. Kerahasiaan pribadi lebih terjamin (1990:47).

           Di samping keuntungan, wawancara juga memiliki kelemahan-kelemahan yaitu ;

   a.   Wawancara terlalu banyak memakan waktu, tenaga dan biaya
   b.   Sangat tergantung pada individu yang akan diwawancarai
   c.   Situasi wawancara mudah terpengaruh oleh situasi alam sekitar
   d.   Adanya pengaruh-pengaruh subyektif pewawancara (Bakrum dan Nasrudin, 1990:48)


3. Metode Angket

           Angket atau kuesioner menurut Suharsimi Arikunto adalah, “sejumlah pertanyaan

   tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang pribadinya,

   atau hal-hal yang ia ketahui” (1997:140). Sedangkang menurut Bakrun dan Nasrudin

   menyatakan bahwa, “angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

   mengadakan komunikasi dengan sumber daya. (1990:52).

           Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka     yang disebut angket adalah

   seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh responden untuk memperoleh data yang

   diperlukan. Data yang dimaksud adalah data kuantitatif. Menurut Suharsimi Arikunto,

   kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis tergantung kepada sudut pandangan.

   a. Dipandang dari cara menjawab, maka ada,
      1) Kuesioner terbuka, yang memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab
         dengan kalimatnya sendiri.
      2) Kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden
         tinggal memilih.

   b. Dipandang dari jawaban yang diberikan ada,
      1) Kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya.
      2) Kuesioner tidak langsung, yaitu jika respoden menjawab tentang orang lain.
   c. Dipandang dari bentuknya, maka ada,
      1) Kuesioner pilihan ganda, sama dengan kuesioner tertutup.
      2) Kuesioner isian, sama dnegan kuesioner terbuka.
      3) Checklist, sebuah daftar, dimana responden tinggal membubuhka tanda (  ) pada
         kolom yang sesuai.
             4) Rating scale (skala bertingkat, yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom
                yang menunjukkan tingkatan-tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai
                ke sangat tidak setuju (1997:141).

                 Berdasarkan   pembedaan    tersebut,   maka   dalam   penelitian   ini   penulis

        menggunakan angket tertutup dengan alasan sebagai berikut :

        a. Mudah dalam memberikan jawaban bagi responden dan tidak memerlukan waktu

        b. Mudah dalam menganalisa data

        c. Dalam waktu relatif singkat dapat diperoleh data yang diperlukan.

                 Sebagai metode pengumpul data, angket memiliki keuntungan dan kelemahan.

        Beberapa keuntungan angket menurut Bakrum dan Nasrudin antara lain :

        a. Angket dapat dipergunakan untuk mengumpulkan data kepada sejumlah responden
           dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang singkat
        b. Setiap responden menerima sejumlah pertanyaan yang sama
        c. Dengan angket responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawabannya
        d. Responden mempunyai waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan
        e. Dalam angket pengaruh subyektif dapat dihindarkan (1997:53).

                 Beberapa kelemahan angket :

        a.   Angket belum bisa menjamin tentang ketetapan jawaban-jawaban responden
        b.   Angket hanya terbatas pada responden yang dapat membaca dan menulis saja
        c.   Kadang-kadang ada responden yang tidak bersedia mengisi angket
        d.   Pertanyaan yang diajukan dalam angket lebih terbatas, sehingga ada hal-hal yang
             tidak terungkap (Bakrum dan Nasrudin, 1990:53).



E. Metode Analisis Data

             Setelah mengadakan serangkaian kegiatan (penelitian) dengan menggunakan

   beberapa metode di atas, maka data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan

   analias data Chi Kwadrat.



    X   2
            
               Fo  Fh 2
                   Fh
Keterangan :

X2 = Chi kwadrat

Fo = Frekwensi hasil observasi

Fh = Frekwensi yang diharapkan

       Untuk mengetahui H1 diterima dan Ho ditolak maka ditetapkan bila (X20) lebih besar

dari (X2t) berati ada peranan yang signifikan. Sebaliknya bila (X20) lebih kecil dari (X2t) pada

taraf tertentu, berarti H1 ditolak dan Ho diterima, yang dengan kata lain tidak ada peranan

yang signifikan.

       Sedangkan untuk mengetahui sejahmana peranannya, maka digunakan rumus

Koefisien Kotigensi (KK) yakni :


               X2
   KK 
              X2  N


       Untuk menafsirkan hasil rumus KK tersebut, maka dilihat tabel KK sebagai berikut :

Sampai – 0,20      korelasi rendah sekali

0,20 – 0,40        korelasi yang rendah tetapi ada

0,40 – 0,70        korelasi yang sedang

0,70 – 0,90        korelasi yang tinggi

0,90 – 1,00        korelasi yang tinggi sekali

(Surahmad, 1989:302)
                                          BAB IV

                                 SAJIAN DAN ANALISIS



A. Sajian Data

          Pada bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang obyek penelitian dengan

   maksud untuk menggambarkan obyek penelitian secara global, yaitu keadaan-keadaan

   sekolah di wilayah sample sebagaimana dijelaskan dalam bab pertama bahwa sekolah yang

   menjadi obyek penelitian ini adalah MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

          Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai sekolah tersebut akan

   dikemukakan secara kronologis sebagai berikut ini :

   1. Sejarah Berdirinya MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo

              MTs. Nurul Hidayah adalah sebuah lembaga pendidikan tingkat dasar yang

      dikelola dan bernaung di bawah Yayasan Pendidikan dan Sosial Nurul Hidayah.

      Madrasah ini berlokasi di Desa Sumberrejo Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.

              Adapun batas-batas madrasah ini adalah sebagai berikut :

      -   Di sebelah timur berbatasan dengan sawah masyarakat

      -   Di sebelah utara berbatasan dengan rumah masyarakat

      -   Di sebelah barat berbatasan dengan SDN Sumberrejo II

      -   Di sebelah selatan berbatasan dengan sawah masyarakat

              Rencana pendirian madrasah ini diprakarsai oleh Pengasuh sekaligus pendiri

      Yayasan Pendidikan dan Sosial Pondok Pesantren Nurul Hidayah yakni, Drs. KH. Moh.

      Fadlali Bash. Ide untuk mendirikan MTs. Nurul Hidayah ini timbul setelah melihat realita

      kebutuhan santri yang ada di Pondok Pesantren Nurul Hidayah.
       Pada awal mulanya berdiri Yayasan ini hanya terfokus pada kegiatan-kegiatan

sosial seperti memberikan santunan, khitanan masal. Serta kegiatan latihan kerja seperti

jahit menjahit, pertukangan dan elektronik.

       Kegiatan-kegiatan ini rupanya mendapatkan tempat di hati masyarakat luas

terutama masyarakat desa Sumberrejo Kecamatan Paiton. Sehingga lama kelamaan

banyak murid yang mukim di pondok. Pada tahun 1998 berdirilah MTs. Nurul Hidayah

yang didirikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah sendiri yakni Drs. KH.

M. Fadholi Bash.

       Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai latar belakang berdirinya madrasah ini

adalah sebagai berikut :

1. Banyak siswa lulusan SD/MI di sekitarnya tidak dapat melanjutkan sekolah,

   alasannya jauh dari kota.

2. Untuk menampung anak-anak yang keberadaan ekonomi orang tuanya kurang

   mampu.

3. Karena tidak adanya pendidikan tingkat lanjutan pertama yang berciri khas Islam.

   Walau ada jaraknya cukup dekat.

4. Ingin membantu pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta menunjang

   program pendidikan dasar 9 tahun.

       Dalam perkembangannya MTs. Nurul Hidayah ini senantiasa mengalami

kemajuan yang cukup berarti dilihat dari peran serta masyarakat untuk memasukkan

putra-putrinya untuk dididik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah

SWT. Berkat pertolongan Allah SWT, dan diikuti dengan semangat yang tinggi dari
   semua pihak, maka perkembangan MTs. Nurul Hidayah ini meningkat dengan

   kelengkapan tenaga pengajarnya.

2. Struktur Organisasi MTs. Nurul Hidayah

          Demi tertibnya serta tercapainya tujuan dan pengajaran di MTs. Nurul Hidayah

   maka disusunlah struktur organisasi sebagai langkah dan arah instruktif kepemimpinan

   serta arah konsultatif dari semua komponen yang berada di bawahnya.
                  STRUKTUR ORGANISASI MTS. NURUL HIDAYAH


                           Kepala Madrasah


YAYASAN                    Dra. Nur Azizah                      BP3


                         Wk. Kepala Madrasah

                         Lenny Windarti, S.Pd

                                                      Kaur Tata Usaha

                                                      Tauhid


Wk. Kesiswaan          Wk. Kurikulum              Wk. Humas              Wk. Sarana/Pra

Rosyati P. S.Pd        W. Kumala D. S.Pd          Subki, S.Ag            Marsuki, S.Pd


          Wali Kelas 1              Wali Kelas 2                 Wali Kelas 3

          Lenny W. S.pD             Muthi’ah, S.Ag               A. Sudja’i, S.S



                                    SISWA

 3. Keadaan Tenaga Pengajar dan Karwayan

           Adapun tenaga pengajar di MTs. Nurul Hidayah banyak diambilkan dari lulusan

    yang sudah berkelayakan. Disamping mereka sudah berpengalaman di dalam

    menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik, secara akademis mereka adalah terdiri

    dari tenaga-tenaga yang sudah berkelayakan.
        Dalam tahun pelajaran 2002/2003 tenaga pengajar dan karyawan MTs. Nurul

Hidayah dapat dijelaskan sebagai berikut :

                                        Tabel I

            Daftar Tenaga Pengajar dan Karyawan MTs. Nurul Hidayah

    N                 Nama                   Jabatan   Pendidik   K
    o                                                     an      et.
    .

    1       Dra. Nur Azizah            Kep.              S1
                                       Madrasah
    2       Lenny Windarti, S.Pd                         S1
                                       Wkl/Wl Kls
    3       Drs. H.M. Fadholi          I                 S1
            Bash
    4                                  Guru              S1
            Muthi’ah, S.Ag
    5                                  Guru/Wl Kls       S1
            Asna Mutmainnah            2
    6                                                    S1
            Subki, S.Ag                Guru
    7                                                    S1
            Wahyu       Kamiasih,      Guru/Humas
    8       S.Pd                                         S1
                                       Guru
    9       Agus Sudja’i.S.S                             S1
                                       Guru/Wl Kls
    1       Rosyati    Puspitasari,                      S1
                                       3
    0       S.Pd
                                                         S1
                                       Guru/Kesisw
    1       Tuti’ul Farida, S.Ag       .                 S1
    1
            Wiwik Kumala D,            Guru
    1                                                    S1
            S.Pd
    2                                  Guru/Kuriku      SMEA
            Hambali, S.Pd              l.
    1
                                                        MAN
    3       Marsuki, S.Ag              Guru
                                                        MAN
    1       Tauhid                     Guru/Sarana
    4
            Moh. Kholil MS             Kaur TU
    1
    5       Iswati Yulaika             TU
    1                                  TU
    6
4. Keadaan Siswa MTs. Nurul Hidayah

             Adapun rincian jumlah siswa yang ada di MTs. Nurul Hidayah tahun pelajaran

    2002/2003 adalah sebagai berikut :

                                                 Tabel II

                             Daftar Jumlah Siswa MTs. Nurul Hidayah

                                                 Jenis Kelamin
         N
                       Kelas                                          Jumlah
         o
                                             L               P

         1               1                   19             14          33

         2               2                   21              8          29

         3               3                   25             11          36

                                 JUMLAH                                 98




        Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa siswa di MTs. Nurul Hidayah tahun

pelajaran 2002/2003 sebanyak 98 orang.

        Dari siswa sebanyak 98 orang telah diambil 98 orang sebagai sample, berdasarkan

perimbangan dari masing-masing kelas. Perimbangan sample yang diambil dalam penelitian

itu dapat dilihat pada penelitian berikut ini.

Dalam penelitian ini mengambil sampel siswa mulai kelas I sampai dengan kelas III. Adapun
jumlah siswa yang penulis jadikan sampel adalah sebagai berikut :

Kelas I berjumlah 13 siswa
Kelas II berjumlah 12 siswa
Kelas III berjumlah 15 siswa
Dengan demikian jumlah siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah 40
siswa.
1. Distribusi Nilai
              Yang dimaksud distribusi nilai adalah data yang dapat dari hasil angket yang
              disebarkan kepada responden, angket tersebut terdiri dari satu angket yaitu angket
              untuk masyarakat Desa Alastengah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, yang
              terdiri dari dua variabel, yaitu variabel X yang menyangkut pemberian motivasi guru
              yang jumlah itemnya sebanyak 12, sedangkan untuk variabel Y peningkatan kerajinan
              belajar anak yang jumlah aitemnya sebanyak 12 item.
                  Masing-masing pertanyaan dalam angket yang tersedia mengandung 3 alternatif

      jawaban. Jumlah alternatif tersebut sulit ditafsirkan, jika semua responden tidak sama

      dalam pemilihannya. Oleh karena itu perlu diberi bobot tiap-tiap alternatif jawaban

      tersebut. Adapun masing-masing pertanyaan dalam angket penelitian ini ada 3 (tiga)

      jenjang pilihan, yang penulis berikan bobot dari tiap-tiap pilihan sebagai berikut :

      -       Untuk jawaban a diberi score 3

      -       Untuk jawaban b diberi score 2

      -       Untuk jawaban c diberi score 1

              Dari uraian ketentuan bobot nilai di atas, dapat diperoleh data responden sebagaimana
              disebutkan dalam paparan di bawah ini.

   2. Inventarisasi Data

              Data hasil yang diinventarisasikan adalah data yang telah dijumlah hasilnya dari
              tiap-tiap responden dalam bentuk 2 (dua) variabel yang terpisah. Jadi apabila dari
              semua hasil yang diperoleh dari tiap-tiap responden dari masing-masing variabel akan
              dijumlah hasil rata-ratanya. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel di bawah ini :

Tabel III

Distribusi Nilai Pemberian Motivasi Guru

       No.                    Jumlah Item Pertanyaan                         Rata-rat
                                                                      Jml.
      Resp. 1         2   3    4   5   6   7   8   9 10 11 12                   a

          1      3    2   3    3   3   3   3   3   3    3   3   3      35       2.92
          2      3    2   3    3   3   3   3   3   3    3   3   3      35       2.92
          3      3    1   3    3   3   3   3   3   3    3   3   3      34       2.83
          4      2    3   3    3   2   3   2   3   3    2   3   1      30       2.50
 5    2   3   3    2   2   2   2   2   2   2   2   1   25       2.08
 6    3   3   2    3   3   3   3   2   1   3   2   2   30       2.50
 7    3   1   2    3   2   3   2   3   3   2   3   3   30       2.50
 8    3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   3   3   36       3.00
 9    3   3   3    3   3   3   2   3   2   2   3   3   33       2.75
 10   3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   3   3   36       3.00
 11   3   2   3    3   2   3   3   3   3   3   3   3   34       2.83
 12   2   2   2    2   2   3   3   3   3   3   3   2   30       2.50
 13   3   3   2    3   3   3   2   3   2   3   3   3   33       2.75

 No.              Jumlah Item Pertanyaan                      Rata-rat
                                                       Jml.
Resp. 1   2   3    4   5   6   7   8   9 10 11 12                a
 14   3   2   3    3   2   2   2   2   2   3   3   3   30       2.50
 15   3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   3   3   36       3.00
 16   2   2   3    3   3   3   3   3   3   3   2   3   33       2.75
 17   3   3   3    3   3   3   3   3   3   2   2   2   33       2.75
 18   3   3   2    3   3   3   3   2   3   3   3   2   33       2.75
 19   2   3   3    3   2   3   2   2   2   3   2   3   30       2.50
 20   3   1   3    2   2   2   3   3   2   3   3   3   30       2.50
 21   3   2   3    3   3   2   3   2   3   3   3   3   33       2.75
 22   2   3   3    3   2   3   3   3   3   3   3   3   34       2.83
 23   2   3   3    3   3   3   3   3   3   3   2   3   34       2.83
 24   3   3   3    3   3   3   3   3   3   2   2   2   33       2.75
 25   3   2   3    3   3   3   3   3   3   3   3   2   34       2.83
 26   3   3   3    3   3   3   3   3   2   3   3   3   35       2.92
 27   3   3   3    2   2   3   2   2   2   2   3   3   30       2.50
 28   2   2   2    2   3   2   2   3   3   3   3   3   30       2.50
 29   3   2   3    3   3   3   3   3   2   3   2   3   33       2.75
 30   3   1   3    2   3   3   2   3   3   2   2   2   29       2.42
 31   2   3   3    3   3   3   3   3   3   3   3   2   34       2.83
 32   3   3   2    3   3   3   3   3   3   3   2   3   34       2.83
 33   3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   3   3   36       3.00
      34   3   2   3    3   3   2   3   2   3   3   3   3   33       2.75
      35   3   3   3    2   2   2   2   1   3   2   2   3   28       2.33
      36   3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   2   3   35       2.92
      37   2   2   3    3   3   2   3   2   2   2   2   2   28       2.33
      38   2   2   2    3   3   3   3   3   3   3   3   2   32       2.67
      39   2   2   2    2   2   2   2   2   3   3   2   3   27       2.25
      40   2   3   2    2   2   2   3   3   3   3   3   3   31       2.58

Tabel IV

     Distribusi Nilai Peningkatan Kerajinan Belajar Anak

      No.              Jumlah Item Pertanyaan                      Rata-rat
                                                            Jml.
     Resp. 1   2   3    4   5   6   7   8   9 10 11 12                a
       1   3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   2   3   35       2.92
       2   3   3   3    3   3   3   3   3   3   3   2   2   34       2.83
       3   3   3   3    3   3   3   3   3   2   3   2   2   33       2.75
       4   3   2   3    2   3   2   2   3   2   2   3   3   30       2.50
       5   2   2   2    2   2   2   2   2   3   2   2   3   26       2.17
       6   3   3   3    3   3   3   3   2   2   3   3   3   34       2.83
       7   3   2   3    2   3   2   2   3   3   2   2   2   29       2.42
       8   3   3   3    3   3   3   3   3   2   3   3   3   35       2.92
       9   3   3   3    3   3   3   2   3   3   2   3   3   34       2.83
      10   3   3   3    3   3   3   3   2   3   3   3   3   35       2.92
      11   3   2   3    2   3   3   3   2   3   3   1   1   29       2.42
      12   2   2   2    2   2   2   3   3   1   3   2   2   26       2.17
      13   3   3   2    3   3   3   2   2   2   3   3   3   32       2.67
      14   3   2   3    3   2   2   2   3   3   3   3   3   32       2.67
      15   3   3   3    3   3   3   3   2   3   3   3   3   35       2.92
      16   2   2   3    3   3   3   3   3   3   3   2   3   33       2.75
      17   3   3   3    3   3   3   3   3   3   2   2   2   33       2.75
      18   3   3   2    3   3   3   3   3   3   3   3   2   34       2.83
       19   2     3    3    3   2   3   2   1    2   3    2    3   29        2.42
       20   3     1    3    2   2   2   3   2    2   3    3    3   29        2.42
       21   3     2    3    3   3   2   3   3    3   3    3    3   34        2.83
       22   2     3    3    3   2   3   3   3    3   3    3    3   34        2.83
       23   2     3    3    3   3   3   3   3    3   3    2    3   34        2.83
       24   3     3    3    3   2   2   3   3    3   2    2    2   31        2.58

      No.                  Jumlah Item Pertanyaan                         Rata-rat
                                                                   Jml.
     Resp. 1      2    3    4   5   6   7   8    9 10 11 12                  a
       25   3     2    2    2   2   3   3   3    3   3    3    2   31        2.58
       26   3     3    2    3   3   3   3   3    2   3    3    3   34        2.83
       27   3     3    1    3   2   3   2   2    3   3    3    3   31        2.58
       28   2     2    3    3   3   3   2   3    3   3    3    3   33        2.75
       29   3     2    3    2   3   3   3   3    2   3    2    3   32        2.67
       30   3     1    3    3   3   3   2   3    3   2    2    3   31        2.58
       31   2     3    2    3   3   3   3   3    3   3    3    2   33        2.75
       32   3     3    3    3   2   2   3   3    3   3    2    3   33        2.75
       33   3     3    3    3   3   3   3   3    3   3    3    2   35        2.92
       34   3     2    2    3   3   3   3   2    3   3    3    3   33        2.75
       35   3     3    2    2   3   3   2   2    3   3    3    3   32        2.67
       36   3     3    2    2   2   2   3   3    3   3    2    3   31        2.58
       37   2     2    3    2   2   2   3   2    2   2    2    2   26        2.17
       38   2     2    2    3   3   3   3   3    3   3    3    2   32        2.67
       39   2     2    2    2   2   2   2   2    3   3    2    3   27        2.25
       40   2     3    2    2   2   2   3   3    3   3    3    3   31        2.58


                                                Tabel V


Inventarisasi Data Masing-Masing Variabel

                      PEMBERIAN MOTIVASI PENINGKATAN KERAJINAN
      No. Resp.             GURU              BELAJAR ANAK
                           (VARIABEL X)                       (VARIABEL Y)
   1               2.92                 2.92
   2               2.92                 2.83
   3               2.83                 2.75
   4               2.50                  2.50
            PEMBERIAN MOTIVASI PENINGKATAN KERAJINAN
No. Resp.         GURU              BELAJAR ANAK
               (VARIABEL X)          (VARIABEL Y)
   5               2.08                  2.17
   6               2.50                 2.83
   7               2.50                 2.42
   8               3.00                 2.92
   9               2.75                 2.83
   10              3.00                 2.92
   11              2.83                 2.42
   12              2.50                 2.17
   13              2.75                 2.67
   14              2.50                 2.67
   15              3.00                 2.92
   16              2.75                 2.75
   17              2.75                 2.75
   18              2.75                 2.83
   19              2.50                 2.42
   20              2.50                 2.42
   21              2.75                 2.83
   22              2.83                 2.83
   23              2.83                 2.83
   24              2.75                 2.58
   25              2.83                 2.58
   26              2.92                 2.83
   27              2.50                 2.58
   28              2.50                 2.75
   29              2.75                 2.67
         30                2.42                  2.58
                    PEMBERIAN MOTIVASI PENINGKATAN KERAJINAN
      No. Resp.           GURU              BELAJAR ANAK
                       (VARIABEL X)          (VARIABEL Y)
         31                2.83                  2.75
         32                     2.83                              2.75
         33                     3.00                              2.92
         34                     2.75                              2.75
         35                     2.33                              2.67
         36                     2.92                              2.58
         37                     2.33                              2.17
         38                     2.67                              2.67
         39                     2.25                              2.25
         40                     2.58                              2.58
       Jumlah                  107.4                             106.3


              Dari tabel di atas jelaslah bahwa ada perbedaan nilai dari tiap-tiap responden baik

     dari variabel bebas (X) maupun dari variabel terikat (Y). Dan hasil jumlah akhir atau total

     score dari variabel bebas (X) adalah berjumlah 107,4. Jumlah sementara untuk variabel

     terikat (Y) adalah berjumlah 106,3.



B. Analisa Data

  Seperti yang telah diungkapkan pada penjelasan terdahulu bahwa dalam analisa data
  kwantitatif ini akan dibahas tentang permasalahan yang ada, khususnya data dari teknik
  pengumpulan data (angket). Adapun prosedur atau langkah-langkah dalam analisa yang
  pertama ini dengan tabulasi data yang ada diklasifikasikan dan selanjutnya diadakan
  pembuktian pengujian hipotesis untuk menemukan hasil akhirnya.
  A. Tabulasi Data

        Untuk mengklasifikasikan dengan muda mana data-data itu yang tinggi dan mana
        yang rendah, maka perlu ditabulasi terlebih dahulu. Hal ini untuk mengetahui tingkat
        dari tiap-tiap responden pada tiap-tiap variabel. Akan tetapi dalam menentukan
        kategori dari tiap-tiap responden diatas, maka sebelumnya akan dicari dahulu nilai
rata-ratanya pada masing-masing variabel tersebut dan selanjutnya akan dijadikan
standar untuk menentukan rata-ratanya (mean) yang akan dipergunakan rumus
sebagai berikut :
M= X
          N

Keterangan :

M = Mean atau nilai rata-rata

X = Jumlah nilai

N = Jumlah responden

       Dari rumus di atas akan dicari nilai rata-rata dari masing-masing variabel,

mana yang tinggi dan mana yang rendah. Apabila score nilai berada di atas nilai hasil

mean (nilai rata-rata), maka berarti masuk dalam kategori tinggi. Dan begitu juga

sebaliknya, apabila score nilai tersebut berada di bawah standart nilai, berarti masuk

kategori rendah.

       Adapun jumlah mean dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut :

a) Variabel pertama (X) variabel bebas

   “Pemberian Motivasi Guru"”

   M= X
            N

   M = 107,4
                40

   M = 2.69


b) Variabel kedua (Y) variabel terikat

   “Peningkatan Kerajinan Belajar Anak”

   M= X
            N
      M = 106,3
                   40

      M = 2.66


          Berdasarkan hasil di atas, dapat ditetapkan standart untuk menentukan jumlah

masing-masing kategori (tinggi rendah) yaitu :

1) Untuk variabel X yaitu pemberian motivasi guru terhadap siswa di MTs. Nurul

      Hidayah :

      -   Nilai 2,69 ke atas, dikategorikan tinggi (positif)

      -   Nilai 2,69 ke bawah, dikategorikan rendah (negatif)

2) Untuk variabel Y yaitu peningkatan kerajinan belajar anak di MTs. Nurul

      Hidayah:

      -   Nilai 2,66 ke atas, dikategorikan tinggi (positif)

      -   Nilai 2,66 ke bawah, dikategorikan rendah (negatif)



          Berikut ini akan disajikan hasil tabulasi sebagaimana tabel di bawah ini :


                                         Tabel VI

                        Kategori Nilai Variabel X dan Variabel Y
            PEMBERIAN MOTIVASI                PENINGKATAN KERAJINAN
 No.              GURU                             BELAJAR ANAK
Resp.          (VARIABEL X)                         (VARIABEL Y)
             R          MEAN KATEGORI             R       MEAN KATEGORI
  1         2.92         2,69        +           2.92          2.66     +
  2         2.92         2.94        +           2.83                   +
  3         2.83         2.94        +           2.75          2.82     +
  4         2.50         2.94        -           2.50          2.82     -
 5      2.08   2.94      -       2.17   2.82     -
 6      2.50   2.94      -       2.83   2.82     +
 7      2.50   2.94      -       2.42   2.82     -
 8      3.00   2.94      +       2.92   2.82     +
 9      2.75   2.94      +       2.83   2.82     +
 10     3.00   2.94      +       2.92   2.82     +
 11     2.83   2.94      +       2.42   2.82     -
 12     2.50   2.94      -       2.17   2.82     -
 13     2.75   2.94      +       2.67   2.82     +
 14     2.50              -       2.67     2.82      +
        PEMBERIAN MOTIVASI      PENINGKATAN KERAJINAN
                GURU                   BELAJAR ANAK
 No.         (VARIABEL X)               (VARIABEL Y)
Resp.
                      KATEGOR
         R     MEAN               R     MEAN KATEGORI
                      I
 15     3.00   2.94      +       2.92   2.82     +
 16     2.75   2.94      +       2.75   2.82     +
 17     2.75   2.94      +       2.75   2.82     +
 18     2.75   2.94      +       2.83   2.82     +
 19     2.50             -       2.42            -
 20     2.50   2.94      -       2.42   2.82     -
 21     2.75   2.94      +       2.83   2.82     +
 22     2.83   2.94      +       2.83   2.82     +
 23     2.83   2.94      +       2.83   2.82     +
 24     2.75   2.94      +       2.58   2.82     -
 25     2.83   2.94      +       2.58   2.82     -
 26     2.92   2.94      +       2.83   2.82     +
 27     2.50   2.94      -       2.58   2.82     -
 28     2.50   2.94      -       2.75   2.82     +
 29     2.75   2.94      +       2.67   2.82     +
 30     2.42   2.94      -       2.58   2.82     -
 31     2.83   2.94      +       2.75   2.82     +
 32     2.83   2.94      +       2.75   2.82     +
    33      3.00       2.94          +          2.92     2.82         +
    34      2.75       2.94          +          2.75     2.82         +
    35      2.33       2.94          -          2.67     2.82         +
    36      2.92       2.94          +          2.58     2.82         -
    37      2.33       2.94          -          2.17     2.82         -
    38      2.67       2.94          -          2.67     2.82         +
    39      2.25       2.94          -          2.25     2.82         -
    40      2.58       2.94          -         2.58     2.82            -
           Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil dari tiap-tiap variabel bahwa

   variabel X pemberian motivasi guru terhadap siswa MTs. Nurul Hidayah mendapat

   nilai di atas rata-rata atau positif ada 24 responden dengan prosentase 60%,

   sedangkan yang mendapat nilai di bawah standart atau negatif ada 16 responden

   dengan prosentase 40%. Sementara pada variabel kedua (Y) bahwa yang mendapat

   nilai di atas standart atau positif ada 25 responden dengan prosentase 62,5%,

   sedangkan yang mendapat nilai di bawah standart atau negatif ada 15 responden

   dengan prosentase 37,5%.


B. Klasifikasi Data

          Berdasarkan hasil perhitungan kategori masing-masing variabel, maka

   selanjutnya akan diklasifikasikan sebagai berikut :


                                         Tabel VII

                      Klasifikasi Data Masing-Masing Variabel
                                              KATEGORI
    NO.     VARIABEL                                                      N
                                               TINGGI     RENDAH
      1     Pemberian Motivasi Guru               24            16        40

      2     Peningkatan Kerajinan Belajar         25            15        40
           anak di MTs. Nurul Hidayah
           Sumberrejo




C. Pembuktian Hipotesis

          Hipotesis dilakukan dalam rangka pembuktian atau pengujian atas suatu

   anggapan terhadap permasalahan yang ada. Dalam hal ini sebagaimana disebutkan

   terdahulu bahwa hipotesis yang akan diuji sebenarnya adalah :

   1) Hipotesa kerja (Ha) yang berbunyi :

      Ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak didik di

      MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

   2) Hipotesa nihil (Ho) yang berbunyi :

      Tidak ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak

      didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

         Untuk pembuktian kebenaran hipotesis di atas, maka akan ditempuh dengan

  jalan membandingkan frekuensi dari masing-masing variabel dalam obyek penelitian

  dengan memakai perhitungan Chi Kwadrat (X2).

         Berikut ini segera dihitung besarnya nilai Chi Kwadrat. Untuk itu data-data

  yang telah diklasifikasikan di atas akan disusun dalam bentuk tabel kontingensi 2 x 2.

  Tabel bentuk itu pada umumnya untuk menghitung frekuensi yang diperoleh (Fo).

         Di bawah ini akan disajikan tabel untuk dicari hasil Fo.
                                         Tabel VIII

Tabel Kerja untuk Didistribusikan Fo dan Perhitungan Peranan Variabel Bebas

                                         dan Terikat

                                   PENINGKATAN KERAJINAN
    PEMBERIAN                           BELAJAR ANAK                  
   MOTIVASI GURU
                                    TINGGI             RENDAH

          TINGGI              A)             21   B)          3      24


         RENDAH               C)              4   D)      12         16


                                       25               15          40


         Pada tabel di atas dihitung frekuensi yang diperoleh (Fo) dari masing-masing

variabel yang diisi dalam empat (4) sel dalam bentuk kontigensi 2 x 2. Keempat sel itu

dapat dihitung dengan kategori antara variabel X dan Y dari jumlah nilai tiap-tiap

responden yaitu dapat dihitung antara lain :

Sel A     = memuat score nilai X tinggi dan Y rendah

     B    = memuat score nilai X tinggi dan Y rendah

     C    = memuat score nilai X rendah dan Y tinggi

     D    = memuat score nilai X rendah dan Y tinggi

         Setelah itu akan dihitung nilai frekuensi yang dihasilkan (Fh) dengan

menggunakan rumus :

Jumlah baris
-----------------   x    Jumlah kolom
Jumlah semua


Untuk sel     A=        Fh = 24 x 25
                             40

                   Fh = 15

Untuk sel   B=     Fh = 26 x 25
                          40

                   Fh = 10

Untuk sel   C=     Fh = 24 x 15
                          40

                   Fh = 9

Untuk sel   D=     Fh = 24 x 15
                          40

                   Fh = 6


       Berdasarkan hasil di atas, berarti nilai Fh telah diperoleh hasilnya. Namun

untuk lebih jelasnya, maka berikut ini akan disajikan dalam bentuk tabel di bawah ini :
                                          Tabel IX
 Distribusi Fh tentang Peranan Motivasi Guru terhadap Peningkatan Kerajinan
                                     Belajar Anak

                               PENINGKATAN KERAJINAN
    PEMBERIAN                       BELAJAR ANAK                                  
   MOTIVASI GURU
                                TINGGI                       RENDAH

        TINGGI            A)              15            B)       10               25


       RENDAH             C)              6             D)           9            16


                                    21                        19                 40



       Dari kedua tabel di atas (tabel Fo dan Fh), maka dapat diketahui besar

masing-masing variabel dengan diperolehnya besar kedua frekwensi itu, maka berikut

ini akan dicari nilai Chi Kwadrat (X2) dengan memakai rumus :

X2 = (Fo – Fh)2
            Fh

Keterangan :

X2 = Chi Kwadrat

Fo = Frekwensi yang diperoleh

Fh = Frekwensi yang dihasilkan

                                          Tabel X

                  Menghitung Chi Kwadrat Berdasarkan Tabel

                                                             (Fo -       (Fo - Fh)2
  X        Y         Fo         Fh             Fo - Fh
                                                             Fh)2           Fh
           T         21         15              6.00         36.00         2.40
  T
           R         3          10              -7.00        49.00         4.90
                T          4         9        -5.00     25.00        2.78
     R
               R           12        6        6.00      36.00        6.00
     JUMLAH                                                          16.08



Diketahui bahwa :

X2       = 16,08

d.b =(b–1)(k–1)

         =(3–1)(3–1)

         =2x2=4

Untuk d . b = 4 pada taraf signifikansi 1% harga kritiknya adalah 13,277.

          Dari hasil perhitungan di atas, X2 empiris lebih besar (>) X2 harga kritik, yakni

16,08 lebih besar dari 13,277. Berarti hipotesis nihil ditolak dan hipotesis kerja diterima

atau dengan kata lain dapat dikatakan ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan

kerajinan belajar anak didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo.

          Selanjutnya digunakan rumus KK (Koefisien Kontingensi) untuk mengetahui

sejauh mana korelasinya. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut :


KK =           X2
               2
             X +N

KK =            16,08
              16,08 + 40

KK =               16,08
                   56,08

KK =            0,287
KK = 0.535

       Angka 0,535 pada tabel KK ternyata bergerak antara 0,40 – 0,70 yang berarti

korelasi sedang. Dengan demikian korelasi antara pemberian motivasi guru terhadap

peningkatan kerajinan belajar anak di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton

Probolinggo berkorelasi sedang, dengan standart ukuran sebagai berikut :

       0 – 0,20     korelasi yang rendah sekali

       0,20 – 0,40 korelasi yang rendah tetapi ada

       0,40 – 0,70 korelasi yang sedang

       0,70 – 0,90 korelasi yang tinggi

       0,90 – 1,00 korelasi yang tinggi sekali.
                                             BAB V

                                  KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan

           Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan sebagai

   berikut :

   1. Ada peranan motivasi guru dalam meningkatkan kerajinan belajar anak didik di MTs.

       Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil

       perhitungan X2 yang menunjukkan X2 empiris lebih besar (>) X2 harga kritik, yakni

       16,08 lebih besar dari 13,277. Berarti hipotesis nihil ditolak dan hipotesis kerja diterima.

   2. Korelasi antara pemberian motivasi guru terhadap peningkatan kerajinan belajar anak

       didik di MTs. Nurul Hidayah Sumberrejo Paiton Probolinggo termasuk kategori sedang.

       Berdasarkan pada hasil perhitungan rumus Koefisien Korelasi yang akhirnya

       mendapatkan angka 0,535 pada tabel KK ternyata bergerak antara 0,40 – 0,70 yang

       berarti korelasi sedang.



B. Saran-saran

           Dari hasil kesimpulan tersebut di atas, maka penulis dapat memberikan saran sebagai

   berikut :

   1. Guru guru hendaklah selalu memberikan motivasi agar siswanya sewaktu-waktu dapat

       belajar dengan motivasi yang tinggi. Dan hendaklah dalam memberikan motivasi tersebut

       guru dapat menyesuaikan dengan keadaan diri anak sehingga bentuk-bentuk motivasi

       yang diberikan dapat diterima oleh anak didiknya.
2. Anak didik hendaknya selalu mengindahkan apa yang diberikan oleh guru-gurunya

   sehingga kalian menjadi anak yang rajin dan menjadi anak yang berguna bagi agama,

   nusa dan bangsa.
                                       ANGKET SISWA



Petunjuk :

A. Bacalah dengan telit sebelum menjawab pertanyaan di bawah ini

B. Pilihlah salah satu jawaban yang paling kamu anggap benar dari jawaban a, b, dan c
   yang telah disediakan



Pemberian Motivasi Guru
8.           Pernahkah kamu diberi motivasi oleh gurumu ?

                                                a. pernah

                                         b. sewaktu-waktu

                                          c. tidak pernah

9.           Berbentuk apakah gurumu memberi motivasi ?

                                         a. pemberian PR

                                            b. ganjaran

                                            c. hukuman

10.          Berapi kali seminggu diberi PR ?

                                       a. 1 – 2 kali seminggu

                                       b. 2 – 3 kali seminggu

                                       c. 3 – 4 kali seminggu

11.          Di waktu apakah kamu diberi PR ?

                                       a. jika pelajaran sulit

                                      b. jika hampir ulangan

                             c. jika tidak bisa diselesaikan di sekolah
12.   Pernahkah gurumu memberi PR jika kamu dapat menyelesaikan PR dengan baik?

                                      a. pernah

                                  b. kadang-kadang

                                    c. tidak pernah

13.   Berbentuk apakah gurumu memberi ganjaran ?

                                       a. pujian

                                       b. hadiah

                                        c. nilai

14.   Berbentuk apakah gurumu memberi pujian ?

                                     a. kata-kata

                                       b. isyarat

                               c. ajungan tanda ibu jari

15.   Berapa frekwensi nilai yang diberikan ?

                                       a. 9 - 10

                                        b. 7 - 8

                                    c. 5 - kebawah

16.   Apakah gurumu pernah memberi ulangan ?

                                      a. pernah

                                  b. kadang-kadang

                                    c. tidak pernah

17.   Berupa apakah hukuman yang diberikan ?

                                       a. celaan

                                      b. dipukul

                                    c. jewer telinga
18.        Apakah juga dikaitkan dengan nilai hukuman yang diberikan ?

                                              a. ya

                                       b. kadang-kadang

                                             c. tidak

19.        Berapa frekwensi nilai yang diberikan ?

                                            a. 7 baik

                                           b. 6 cukup

                                           c. 5 kurang



Peningkatan Kerajinan Belajar Anak
1. Bagaimana pendapat anda jika diberi motivasi ?

                                            a. setuju

                                         b. tidak setuju

                                     c. sangat tidak setuju

2. Bagaimana sikap anda jika diberi motvasi melalui PR ?

                                            a. senang

                                           b. bingung

                                            c. malas

3. Bagaimana pendapat anda jika diberi PR sewaktu pelajaran sulit ?

                                            a. senang

                                       b. kurang senang

                                     c. sangat tidak senang
4. Apakah yang anda kerjakan setelah anda mendapat pekerjaan rumah yang sulit ?

                                      a. dikerjakan sendiri

                                     b. bertanya pada teman

                                    c. bertanya pada saudara

5. Apakah setiap PR kamu kerjakan dengan baik ?

                                                  a. ya

                                        b. kadang-kadang

                                                c. tidak

6. Bagaimana pendapat anda jika diberi ganjaran ?

                                         a. senang sekali

                                               b. senang

                                    c. malas mengerjakannya

7. Apakah kamu senang terhadap motivasi/ganjaran yang berupa kata-kata ?

                                                  a. ya

                                        b. kadang-kadang

                                                c. tidak

8. Mengapa anda diberi nilai antara 7 – 8 ?

                                      a. tidak selesai semua

                                              b. salah dua

                                              c. salah 3 - 4

9. Apakah benar gurumu pernah memberi hukuman ?

                                               a. pernah

                                        b. kadang-kadang

                                         c. tidak pernah
10. Apakah anda bertambah rajin setelah mendapat pujian ?

                                             a. ya

                                       b. kadang-kadang

                                            c. tidak

11. Apakah anda senang terhadap hukuman yang diberikan ?

                                             a. ya

                                       b. kadang-kadang

                                            c. tidak

12. Apakah anda bertambah rajin setelah mendapat hukuman ?

                                             a. ya

                                       b. kadang-kadang

                                            c. tidak
                                    DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Abu, 1999, Psikologi Sosial, Semarang Renika Cipta

Ananda Santoso dan Prayitno, 1995, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya, Kartika

Arikunto, Suharsimi, 1996, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Yogyakarta, Renika
         Cipta

Badudu, 1994, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka

Bagan, Robert, 1993, Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif, Surabaya, Usaha Nasional

Daradjat, Zakiah, 2000, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara

Depag RI, 1997, Al-Qur’an dan Terjemah, jakarta, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Kitab
       Suci Al-Qur’an

_________, 2000, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Tentang Pendidikan Nasional
       (Perguruan Agama Islam) Jakarta, Pembinaan Kelembagaan Agama Islam

Faisah, Sanapiah, 1981, Pendidikan Luar Sekolah di Dalam Sistem Pendidikan dan
        Pembangunan Nasional, Surabaya, Usaha Nasional

H.A.R. Tilaat, 2000, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta Rineka Cipta

Hadi, Sutrisno, 1993, Metodologi Rearch I, Yogyakarta, Andi Offset

_________, 1991, Metodologi Researc II, Yogyakarta, Andi Offset

Hasbullah, 1996, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada

Imam Jamaluddin Abdurrahman As Suyuti, 1990, Terjemah Al Jamius Shoghir, Surabaya Bina
       Ilmu

Joesoef, Soelaiman, 1999, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah, Bumi Aksara

Kartasapoetra, 1994, Teknologi Penyuluhan Pertanian, Jakarta Bumi Aksara

Moleong, Lexy, J., 1994, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya

Surakhmad, Winarno, 1990, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung, Tarsito

Tim Penyusun, 2000, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Makalah, Proposal dan Skripsi),
       STAIN Jember

W.J.S. Poerwadarminta, 1999, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
Zuhairini, 1995, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/26/2013
language:Unknown
pages:97
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com