Docstoc

skripsi pendidikan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah

Document Sample
skripsi pendidikan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah Powered By Docstoc
					                                       BAB I

                                PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

         Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam

manajemen berbasis sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala

sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara

efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif. Prilaku kepala sekolah

harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat,

dekat dan penuh pertimbangan terhadap guru baik secara individu maupun

sebagai kelompok (Mulyasa, 2003: 107).

         Kepala sekolah sebagai pimpinan di lingkungan sekolah tidak hanya wajib

melaksanakan tugas administratif. Namun juga menyangkut tugas bagaimana

mengatur seluruh program sekolah. Dia harus mampu memimpin dan

mengarahkan aspek-aspek baik administratif maupun proses kependidikan di

sekolahnya. Sehingga kepemimpinan di sekolah harus digerakkan sedemikian

rupa sehingga pengaruh prilakunya sebagai orang yang memegang kunci dalam

perbaikan administratif dan pengajaran harus mampu menggerakkan kegiatan-

kegiatan dalam rangka inovasi di bidang pengajaran.

         Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat

mendorong sekolah dapat mewujudkan misi dan visi, tujuan dan sasaran sekolah

melalui program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Maka dari itu

kepala    sekolah   dituntut   untuk   memiliki   kemampuan    manajemen    dan




                                         1
                                                                               2




kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan prakarsa

untuk meningkatkan mutu sekolah.

       Untuk kepentingan itu kepala sekolah harus mampu memobilisasikan

sumber daya sekolah dalam kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program

sekolah. Pengembangan kurikulum pembelajaran, sarana dan sumber belajar,

hubungan sekolah dan masyarakat dan pencipta iklim sekolah.

       Pidarta (1985) mengemukakan ada tiga macam ketrampilan yang harus

dimiliki kepala sekolah untuk menyukseskan kepemimpinannya. Ketiga

ketrampilan tersebut adalah ketrampilan konseptual yaitu ketrampilan untuk

memahami dan mengoprasikan organisasi, ketrampilan manusia yaitu ketrampilan

untuk bekerja sama, memotivasi dan memimpin serta ketrampilan teknik yaitu

ketrampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik serta untuk

menyelesaikan tugas tentang masalah tersebut. Untuk itu kepala sekolah memiliki

kemampuan terutama ketrampilan konsep, kepala sekolah diharapkan melakukan

kegiatan-kegiatan:

   1. Senantiasa belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari kerja para guru

       dan pegawai

   2. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana.

   3. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang

       sudah dilaksanakan.

   4. Berfikir untuk masa yang akan datang.

   5. Merumuskan ide-ide yang dapat diuji coba. Selain itu kepala sekolah harus

       dapat menerapakan gaya kepemimpinan yang efektif sesuai dengan situasi
                                                                              3




       dan kebutuhan serta motivasi para guru dan pekerja lainnya (Mulyasa,

       2003: 127)

       Melalui kerja sama orang tua, guru dan masyarakat sekitar sekolah, kepala

sekolah mengatur keuangan untuk program pengembangan sekolah. Dia membuat

sistem manajemen       sekolah setransparan mungkin agar dapat memperoleh

kepercayaan dari orang tua. Kemudian kepala sekolah giat meningkatkan

hubungan antara orang tua, guru dan siswa. Di dalam program pengembangan,

kepala sekolah melaksanakan ekstrakurikuler sebanyak mungkin dapat memenuhi

kebutuhan siswa dan masyarakat.

       Kepala sekolah memperkenalkan gaya baru manajemen sosial pada orang

tua dan guru. Ia membentuk panitia yang melibatkan semua pemegang peranan

dalam proses pengembangan sekolah. Kepala sekolah juga menerapkan

manajemen top down pada tingkat sekolah. Ia mendelegasikan tanggung jawab

pada empat wakil kepala sekolah dan juga pada para guru. Para guru dan staf

mempunyai hak dan tanggung jawab untuk menyampaikan berbagai pendapat

yang membawa hasil yang baik pada peningkatan lingkungan sekolah.

       Dari semua itu sekolah telah mengalami perkembangan dalam beberapa

hal. Siswa menjadi lebih aktif di kelas, kehadiran guru lebih meningkat,

kesejahteraan guru dan staf dan kondisi kerja mereka juga lebih meningkat.

Kepala sekolah menambahkan rumusannya untuk seluruh peningkatan sekolah

yang didapatkan dari hasil pelatihan kepala sekolah yang pernah ia ikuti.

       Kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan MBS

adalah segala upaya yang dilakukan dan hasil yang dapat dicapai oleh kepala
                                                                                 4




sekolah dalam mengimplementasikan MBS di sekolah untuk mewujudkan tujuan

pendidikan secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu, kepemimpinan

kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria sebagai

berikut:1. mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses

pembelajaran dengan baik, lancar dan produktif, 2. dapat menyelesaikan tugas dan

pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, 3. berhasil mewujudkan

tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

       Berdasarkan latar belakang di atas penulis mengambil judul tentang :

Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Manajemen Berbasis

Sekolah (MBS) Di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Malang I.


B. Rumusan Masalah

       Berpijak pada latar belakang di atas maka rumusan masalah yang akan

penulis bahas dalam penulisan ini adalah sebagai berikut :

 1. Bagaimana Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Manajemen

     Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I.

 2. Bagaimana      Usaha-usaha     Kepala    Sekolah   Dalam    Mengembangkan

     Manajemen Berbasis sekolah (MBS) di MTsN Malang I.



C. Tujuan Pembahasan

       Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini

dirumuskan sebagai berikut :

    1. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah dalam menerapkan

        Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I.
                                                                           5




     2. Untuk mengetahui usaha-usaha kepala sekolah dalam mengembangkan

        Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I.


D. Manfaat Penelitian

       Adapun manfaat penelitian yang peneliti adakan di MTsN Malang I adalah

sebagai berikut:

  1. Sebagai bahan pertimbangan kepala sekolah dalam mengembangkan

      Manajamen Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I.

  2. Sebagai wahana baru untuk pendidikan dalam mengembangkan Manajemen

      Berbasis Sekolah MBS di lembaga pendidikan formal.

  3. Sebagai wahana pengembangan pola pikir dan pemahaman peneliti di

      bidang penelitian.


E. Metode Pembahasan dan Strategi Penelitian

  1. Metode Pembahasan

          Yang dimaksud dengan metode pembahasan dalam penulisan skripsi ini

  adalah pendekatan yang dipilih dalam memecahkan masalah penelitian sesuai

  dengan sentral penelitian. Adapun metode pembahasan yang digunakan dalam

  penulisan skripsi ini adalah :

      a. Metode Induksi

             Metode induksi adalah suatu cara pembahasan masalah yang

      mengumpulkan dan menguraikan fakta-fakta khusus atau peristiwa konkrit

      yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas. Selanjutnya ditarik

      kesimpulan yang bersifat umum (Hadi, 1999:42)
                                                                             6




       Metode ini digunakan untuk mengetahui fenomena-fenomena secara

individual     yaitu   tentang    kepemimpinan        kepala   sekolah   dalam

mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I.

b. Metode Deduksi

       Menurut Sutrisno Hadi metode deduksi adalah cara berfikir analisis

yang berangkat dari dasar-dasar pengetahuan umum dari proses yang

berlaku secara umum dan bertitik tolak dari pengetahuan umum itu hendak

dinilai suatu kejadian yang khusus (Hadi, 1994:42)

       Berdasarkan pendapat diatas maka yang dimaksud dengan metode

deduksi adalah suatu cara berfikir yang didasarkan pada rancangan teori

yang bersifat umum, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.

Metode ini       digunakan untuk     menguraiakan suatu pendapat          atau

pengetahuan yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan agar lebih

jelas dan mudah difahami.

c. Metode Komparasi

         Menurut Winarno Surahmad “metode komparatif adalah meneliti

faktor-faktor tertentu yang ada hubungannya dengan situasi yang diselidiki

dan dibandingkan dengan faktor yang lain (Surahmad, 1994: 135-136).

Metode       komparatif   dalam    penelitian   ini    akan    berguna   dalam

mengkomparasikan dua ide yang berbeda guna mengambil jalan tengah

yang lebih baik.
                                                                          7




2. Strategi Penelitian

       Dalam penelitian ini akan dikemukakan beberapa strategi untuk

memperoleh data atau mengumpulkan data serta pengelolannya.adapun

langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

   a. Penentuan Objek Penelitian

       Mengingat dalam penelitian ini yang menjadi pokok pembahasan adalah

       kepemimpinan kepala sekolah dalam mengembangkan manajemen

       berbasis sekolah (MBS) di MTsN Malang I, maka secara tidak langsung

       yang menjadi fokus penelitian adalah seorang yang berada pada posisi

       puncak pimpinan dalam lembaga.

       Untuk mendapatkan data yang valid tentang hal ini, tidak cukup dengan

       mewancarai satu orang yang menjadi fokus penelitian, akan tetapi

       diperkuat dengan responden tambahan. Sehingga untuk mendapatkan

       data yang valid, secara spesifik penulis mengambil responden sebagai

       berikut:

       1. Kepala Sekolah

       2. Wakil Kepala Sekolah

       3. Semua Wakaur yang ada di madrasah yaitu Waka Kurikulum, Waka

         Kesiswaan, Waka Humas, Waka Sarana Prasarana.


   b. Teknik Pengumpulan Data

       Dalam hal pengumpulan data ini, penulis terjun secara langsung pada

       obyek penelitian untuk mendapatkan data-data yang diperlukan. Maka
                                                                     8




dari itu untuk mendapatkan data yang valid, peneliti menggunakan

metode pengumpulan data sebagai berikut:

a. Metode observasi

   Metode observasi adalah suatu metode yang digunakan peneliti

   untuk mengumpulkan data dengan pengamatan secara sistematis

   kenyataan-kenyataan yang telah diselidiki, dan observasi tidak

   terbatas pada pengamatan yang dilakukan secara langsung maupun

   tidak langsung. Misal melalui quistioner (Sutrisno Hadi, 1994:136).

   Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui dari dekat dan

   menggali data yang sehingga bisa mencatat secara langsung apa

   yang ada, bagaimana kepemimpinan kepala sekolah dalam

   mengembangkan manajemen berbasis sekolah dan usaha yang

   dilakukan kepala sekolah sebagai pimpinan dalam mengembangkan

   Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam dunia pendidikan, serta

   keadaan lokasi penelitian.

b. Metode interview

   Metode interview adalah metode pengumpulan data dengan jalan

   mengadakan tanya jawab antara penulis dengan subyek penulisan

   tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah yang

   diteliti. Tanya jawab (wawancara) yang dikerjakan secara sistematis

   dan berlandaskan pada tujuan penulisan (Marzuki, 1997:62).

   Dengan metode ini penulis mengadakan wawancara langsung

   dengan responden. Metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan
                                                                               9




           informasi dan data-data yang diperlukan yang berkaitan dengan

           tema pembahasan.

       c. Metode dokumentasi

           Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan cara

           meneliti atau menyelidiki terhadap buku-buku catatan, dokumen,

           arsip-arsip tentang suatu masalah yang akan diteliti. Suharsimi

           Arikunto dalam bukunya “prosedur penelitian” metode dokumentasi

           adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa

           catatan transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

           agenda dan lain sebagainya (Arikunto,1998:235).

           Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data-data tentang

           sejarah dan latar belakang berdirinya MTsN Malang I, serta keadaan

           sarana dan prasarana dan strukutur organisasi yang ada di MTsN

           Malang I, setelah data terkumpul baru dicatat dan disusun secara

           sistematis.

3. Teknik Analisis Data

       Setelah semua data yang diperlukan terkumpul, maka untuk

menganalisisnya digunakan teknik analisis deskriptif. Teknik analisis deskriptif

yaitu cara menentukan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi

yang dialami, satu hubungan kegiatan pandangan dan sikap yang nampak

tentang suatu proses yang sedang berlangsung, kelainan yang sedang muncul,

kecenderungan yang nampak, pertentangan yang meruncing (Winarno

Surahmad, 1994, hal 139). Teknik analisis deskriptif kualitatif penulis gunakan
                                                                         10




untuk menuturkan, menafsirkan data yang telah penulis peroleh dari observasi

dan interview, dengan demikian data yang diperoleh atau terkumpul kemudian

ditafsirkan, didefenisikan dan dituturkan sehingga berbagai masalah yang

timbul dapat diuraikan dengan tepat dan jelas.

Adapun tahapan-tahapan analisis data adalah sebagai berikut:

a. Analisis selama pengumpulan data

   1. Pengambilan keputusan membatasi data

   2. Pembatasan kajian yang diperoleh

   3. Mengembangkan pertanyaan

   4. Merencanakan tahap-tahapan pengumpulan data dengan memperhatikan

       hasil pengamatan sebelumnya.

   5. Menulis catatan bagi diri sendiri mengenai hal yang dikaji.

b. Analisis sesudah pengumpulan data

   Setelah data terkumpul maka yang dilakukan adalah:

   1. Mengecek kembali semua data yang telah terkumpul

   2. Menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan

       documenter

   3. Mendiskripsikan dan menguraikan dari semua data yaitu tentang

       Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Manajemen

       Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I

   Untuk mengumpulkan data yang lebih akurat dan urgen terhadap data yang

   telah terkumpul maka penulis menggunakan teknik:
                                                                              11




        1. Participant Observation atau pengamatan berperan serta, bisa juga

            dinamakan pengamatan terlibat yaitu mengadakan pengamatan dan

            mendengarkan secermat mungkin sampai pada yang sekecil-kecilnya

            sekalipun (Moleong, 2000: 8).

        2. Triangulation yaitu keabsahan data dengan yang memanfaatkan

            sesuatu yang lain di luar data itu sebagai perbandingan. Adapun

            triangulation yang digunakan adalah Triangulation sumber data, yaitu

            cara membandingkan pengamatan terhadap Kepemimpinan Kepala

            Sekolah Dalam Mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah

            (MBS) dengan hasil wawancara, kemudian membandingkan dengan

            dokumen yang ada.


F. Sistematika Pembahasan

       Pembuatan skripsi ini dikemukakan dengan sistematika pembahasan. Hal

ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami gambaran

secara global dari seluruh skripsi ini. Adapun sistematika pembahasan ini terdiri

dari empat bab dan tiap bab terdiri dari beberapa sub yang satu dengan yang

lainnya saling berkaitan dan berhubungan.

       Dalam bab I Pendahuluan: Menjelaskan sekitar masalah yang dibahas

dalam penulisan ini yang bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap

masalah-masalah    yang dibahas     dan berfungsi     sebagai   landasan   dalam

melaksanakan penelitian di lapangan. Permasalahannya meliputi latar belakang

masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan, kegunaan penelitian, metode
                                                                              12




pembahasan dan strategi penelitian dan yang terakhir adalah sistematika

pembahasan.

       Kemudian bab II Kajian Teori: Pada bab ini akan dibahas kajian teori

sesuai dengan tema atau judul. Dengan sub bahasan kepemimpinan kepala sekolah

yang mencakup pengertian kepemimpinan kepala sekolah, gaya kepemimpinan

kepala sekolah, tipe-tipe kepemimpinan kepala sekolah, kepemimpinan kepala

sekolah yang efektif. Kemudian konsep dasar Manajemen Berbasis Sekolah

(MBS) yang meliputi pengertian MBS, karakteristik MBS, komponen-komponen

MBS serta efektifitas dan efisiensi MBS. Kepemimpinan kepala sekolah dalam

mengembangkan MBS mencakup tentang profesionalisme kepemimpinan kepala

sekolah dalam mengembangkan MBS, dan implementasi kepala sekolah dalam

mengembangkan MBS.

       Sedangkan bab III Laporan Hasil Penelitian : Pada bab ini merupakan hasil

laporan penelitian yang di dalamnya dibahas tentang deskripsi obyek penelitian

terdiri dari sejarah singkat berdirinya MTsN Malang I, kepemimpinan kepala

sekolah dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah di MTsN Malang I,

usaha usaha kepala sekolah dalam mengembangkan Manajamen Berbasis Sekolah

(MBS) di MTsN Malang I.

       Kemudian yang terakhir bab IV : Kesimpulan dan Saran, kesimpulan

menguraikan secara singkat hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Saran berisi

tentang masukan kepada obyek penelitian.
                                                                         13




                                 BAB II

                            KAJIAN TEORI



Kepemimpinan Kepala Sekolah

  Pengertian Kepemimpinan Kepala Sekolah

                    Kata kepemimpinan mempunyai dua pengertian, yaitu kata
     kepemimpinan menerangkan sifat atau ciri-ciri bagaiamana mengatur,
     mempengaruhi seseorang.
                    Pengertiaan kepemimpinan mempunyai sifat yang universal
     artinya berlaku Dan terdapat diberbagia temapt Dan kegiatan hidup
     manusia, baik dalam bidang social kemasyarakatan, pendidikan politik
     Dan lain-lain. Dengan demikian maka sebelum penulis membahas lebih
     lanjut tentang pengertian kepemimpinan kepala sekolah, terlebih dahulu
     penulis kemukakan pengertian kepemimpinan secara umum.
                    Secara etimologi kepemimpinan atau yang disebut dengan
     leadership adalah kekuatan untuk memimpin. Sedangkan menurut
     terminology kata kepemimpinan ini telah banyak dikemukakan oleh
     beberapa ahli pendidikan antara lain:
    a. Soekarno Indrafachrudi memberikan definisi kepemimpinan adalah:

       “Kepemimpinan berarti kemampuan, Dan kesiapan yang dimiliki oleh
       seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong mengajak,
       menuntun, menggerakkan Dan aklau perlu memaksa orang lain untuk
       menerima pengaruh itu selanjutnya, serta berbuat sesuatu maksud
       dengan tujuan tujuan tertentu”.
       Dari defenisi diatas dapat dipahami bahwa dalam pengertian
       kepemimpinan mengandung unsur-unsur:
           1. orang-orang yang dapat mempengaruhi disatu pihak

          2. orang-orang yang dapat pengaruh dipihak lain

          3. Adanya maksud Dan tujuan

    b. Sedangkan menurut soerjono soekamto yang dimaksud kepemimpinan

       (leadership) adalah kemampuan dari seseorang untuk mempengaruhi

       orang lain itu yang dipimpin, sehingga orang lain tersebut bertingkah

       laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin.(Soekamto,1999:32)
                                                                    14




      Dari defenisi diatas dapat dipahaami bahwa dalam kepemimpinan
mengandung unsur:
   1. Pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi orang lain

   2. Terpemimpin adalah yang dipengaruhi

   3. Adanya tujuan yang hendak dicapai bersama.

        Jadi dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa ynag dimaksud
dengan kepemimpinan adalah: kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi, mengkoordinir Dan menggerakkan orang lain untuk
bertingkah laku mencapai tujuan bersama.
        Kepemimpinan juga dapat diartikan sebagai kegiatan untuk
mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan
organisasi. Sutisno (1993) merumuskan kepemimpinan sebagai “ proses
mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah
pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi (1988)
mendefenisikan kepemimpinan sebagai “ kemmapuan untuk
menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan,
menasehati, membimbing, menyuruh ,memerintah, melarang Dan bahkan
menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia
sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan
administrasi secara efektif Dan efesien”. Hal teresebut mneunjukkan
bahwa kepemimpinan sedikitnya mencaakup tiga hala ynag asaling
berhubungan, yaitu adanya pemimpin Dan karakteristiknya: adanya
pengikut, serta adanya sutuasi kelompok tempat pemimpin Dan pengikut
berinteraksi.
        Dalam lingkungan organisasi, kepemimpinan terjadi melalui dua
bentuk, yaitu kepemimpinan formal (formal leardership) Dan
kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal
tejadi apabila di lingkungan organisasi jabatan otoritas formal dalam
organisasi tersebut diisi oleh orang-orang ynag ditunjuk atau dipilih
melalui proses seleksi. Sedang kepemimpinan informal terjadi dimana
kedudukan pemimpin dalam suatu organisasi diisi oleh orang-orang yang
muncul Dan berpengaruh terhadap orang lain karena kecakapan khusus
atau berbagai sumber yang dimilikinya dirasakan mampu memecahkan
persolan organisasi serta memenuhi kebutuhan dari anggota organisasi
yang bersangkutan.(Schermerhorn, John)
        Berdasarkan rumusan Schermerhorn tersebut, pengertian orang-
orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses berarti bahwa untuk
mengisi jabatan kepemimpinan formal harus dilaksanakan melalui proses
yang didasarkan atas criteria-kriteria tertentu yang menjadi bahan
pertimbangan, seperti: latar belakang pengalaman atau pendidikan,
pangkat, usia Dan integritas atau harga diri. Dalam kepemimpinan formal
dengan jelas dapat pula dilihat tugas Dan tanggung jawab, masa jabatan,
pembinaan karier Dan sebagainya.
                                                                           15




          Kepala sekolah adalahjabatan pemimpin yang tidak bias diisi oleh
   orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan. Siapapun
   yang akan diangkat menjadi kepala sekolah harus ditentukan melalui
   prosedur serta persyaratan-persyaratan tertentu seperti: latar belakang
   pendidikan, pengalaman, usia, pangkat Dan integritas.

Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

          Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan pemimpin dalam

   mempengaruhi      para   pengikutnya.   Menurut     Thoha   (1995)    gaya

   kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan seseorang pada

   saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti

   yang ia lihat. Dalam hal ini usaha menselaraskan persepsi diantara orang

   yang akan mempengaruhi perilaku dengan yang akan dipenagrahi menjadi

   amat penting kedudukannya. Untuk memahami gaya kepemimpinan,

   sedikitnya dapat dikaji dari tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan sifat,

   perilaku, Dan situasional.



Tipe-tipe Kepemimpinan Kepala Sekolah

   Berdasarkan konsep, sifat, sikap Dan cara-cara pemimpin dalam

   melaksanakan Dan mengembangankan kepemimpinan dalam lingkungan

   kerja yang dipimpinnya, maka dapatlah dikalsifikasikan kepemimimpian

   kepala sekolah ada tiga pokok kepemimpinan, yaitu: tipe otoriter, tipe

   laissez faire Dan tipe demokratis. (Purwanto, 48)




Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Efektif
                                                                   16




       Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah

kebijakan yang akan menentukan bagaiamana tujuan-tujuan sekolah Dan

pendidikan pada umumnya direalisasikan. Sehubungan dengan manajemen

berbasis sekolah (MBS), kepala sekolah dituntut untuk senantiasa

menungkatkan efektifitas kenerja. Dengan begitu, MBS sebagai paradigma

baru pendidikan dapat memberikan hasil yang memuaskan.

       Kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan

MBS adalah segala upaya yang dilakukan Dan hasil yang dapat dicapai

oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis

Sekolah (MBS) di sekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan

secara efektif Dan efisien. Sehubungan dengan itu, kepemimpinan kepala

sekolah yang efektif dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat

dilihat berdasarkan kriteria berikut:

   1. Mampu memberdayakan guru-guru ubtuk melaksanakan proses

       pembelajaran dengan baik, lancar Dan produktif

   2. Dapat menyelesaikan tugas Dan pekerjaan sesuai dengan waktu

       yang telah ditetapkan.

   3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat

       sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka

       mewujudkan tujuan sekolah Dan pendidikan.

   4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan

       kedewasaan guru Dan pegawai lain di sekolah.

   5. Bekerja dengan tim manajemen, serta
                                                                           17




          6. Berhasil mewujudkan tujuan sekolaah secara produktif sesuai

              dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

   a. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah

        Sebelum penulis memaparkan pengertian manajemen berbasis sekolah,

  pembahasan dimulai dengan pengertian manajemen sekolah, hal ini untuk

  memudahkan pembaca dalam memahami konsep Manajamen Berbasis Sekolah

  (MBS) secara utuh.

          Gaffar   (1989)   mengemukakan      bahwa     manajamen   pendidikan

   mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik

   Dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional.

   Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang

   berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang

   telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka

   panjang.

          Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari

   “School-based management”. Istilah ini pertama kali muncul di Aamerika

   serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan

   tuntutan Dan perkembangan masyarakat setempat. MBS merupakan

   paradigma baru pendidikan, ynag memberikan otonomi luas pada tingkat

   sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan Pendidikan

   Nasional. Otonomi diberikan agar sekolah leluasa mengelola sumber daya

   Dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas
                                                                          18




kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Pelibtab

masyarakat dimaksudkan agar mereka lebih memahami, membantu, Dan

mengontrol pengelolaan pendidikan. Dalam pada itu kebijakan pendidikan

nasional yang menjadi prioritas pemerintah harus pula dilakukan oleh sekolah.

Pada system MBS, sekolah dituntut secara mandiri menggali,mengalokasikan,

menentukan     prioritas,   mengendalikan    Dan   mempertanggungjawabkan

pemberdayaan sumber sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.

       MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan ynag

menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik

dan memadai bagi para peserta didik. Otonomi dalam manajamen merupakan

potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staf, menawarkan

partisipasi langsung kelompok-kelompok ynag terkait dan meningkatkan

pemahaman mayarakat terhadap pendidikan. Sejalan dengan jiwa dan

semangat sekolah juga berperan dalam menampung consensus umum ynag

meyakini bahwa sedapat mungkin keputusan seharusnya dibuat oleh mereka

yang memiliki akses paling baik terhadap pelaksanaan kebijakan, dan yang

terkena akibat-akibat dari kebijakna tersebut.

       Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS

yang dipandang memiliki tingkat efektifitas tinggi serta memberikan beberapa

keuntungan berikut:

       1. kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung

           kepada peserta didik, oranag tua, dan guru.

       2. bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya local
                                                                            19




       3. efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti

           kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus

           sekolah,moral guru dan iklim sekolah

       4. adanya       perhatian   bersama   untuk     mengambil     keputusan,

           memberdayakan guru, manajamen sekolah, rancang ulang sekolah,

           dan perubahan perencanaan (Fattah, 2000)

b. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah

   MBS          yang        ditawarkan       sebagai       bentuk        opera

sional desentralisasi pendidikan akan memberikan wawasan baru terhadap

system yang sedang berjalan selama ini. Hal ini diharapakan dapat membawa

dampak tehadap peningkatan efisiensi dan efektifitas kinerja sekolah, dengan

menyedikan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap

kebutuhan masyarakat sekolah sestempat.

   Karakteristik MBS bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dapat

mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, proses belajar mengajar,

pengelolaan sumber daya manusia, dan pengelolaan sumber daya dan

administrasi. Sejalan dengan itu, Saud (2002) berdasrakan pelaksanaan di

Negara maju mengemukakan bahwa karakteristik dasra                 MBS adalah

pemberian otonomi ynag luas kepada sekolah, partisipasi masyarakat dan

orang tua peserta didik yang tinggi. Kepemimpinan kepala sekolah yang

demokratis dan professional, serta adanya team work yang tinggi dan

professional.

1. Pemberian otonomi luas kepada sekolah
                                                                         20




       MBS memberikan otonomi luas kepada sekolah, diserati sepewrangkat

   tanggung jawab. Dengan adanya otonomi yang memberikan tanggung

   jawab pengelolaan sumber daya dan pengembangan strategi sesuia dengan

   kondisi   setempat,   sekolah   dapat   lebih   memberdayakan     tenaga

   kependidikan    guru agar lebih berkonsentrasi pada tugas utamanya

   mengajar. Dealam apada itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan diberi

   kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan program-

   program kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan

   kebutuhan peserta didik serta runtutan masyarakat. Untuk mendukung

   keberhasilan program     tersebut, sekolah memiliki kekuasaan dan

   kewenangan mengelola dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang

   tersedia di masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain itu, sekolah juga

   diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber dana sesuai

   dengan prioritas kebutuhan. Melalui otonomi ynag luas, sekolah dapat

   meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dengan menawarkan pertisipasi

   aktif mereka dalam pengambilan keputusan dan tanggung jawab bersama

   dalam pelaksanaan keputusan ynag diambil secara proporsional dan

   professional.

2. Partisipasi masyarakat dan orang tua

   Dalam MBS pelaksanaan program-program sekolah didukung oleh

   partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik yang tinggi. Orang tua

   peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui

   bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan
                                                                        21




   merumuskan serta mengembangkan program-program             ynag dapat

   meningkatkan kualitas sekolah. Masyarakat dan orang tua menjalin klerja

   asama untuk membantu sekolah sebagai nara sumber berbagai kegiatan

   sekolah untuk meningkatkan kulaitas pembelajaran.

3. Kepemimpinan yang demokratis dan professional

   Dalam MBS, pelaksanaan program-progaram sekolah didukung oleh

   adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan professional. Kepala

   sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana inti prpgram sekolah

   merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas

   professional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan professional yang

   direkrut komite sekolah     untuk mengelola segala kegiatan sekolah

   berdasrakan kebijakan yang ditetapkan. Guru-guru ynag direkrut oleh

   sekolah adalah pendidik yang profesionala dalam bidangnya masing-

   masing, sehingga mereka bekerja berdasarkan pola kinerja professional

   yang disepakati bersama untuk memberi kemudahan dan mendukung

   keberhasilan pembelajaran peserta didik. Dalam proses pengambilan

   keputusan, kepala sekolah mnegimplementasikan proses Bottom up secara

   demokratis, sehingga semua pihak memiliki tanggung jawab terhadap

   keputusan ynag diambil beserta pelaksanaannya.

4. Team work yang kompak dan transparan

   Dalam MBS, keberhasilan program-program sekolah didukung oleh

   kinerja team work yang kompak dan transparan dari berbagai pihak ynag

   terlibat dalam pendidikan di sekolah. Dalam dewan pendidikan dan komite
                                                                        22




   sekolah misalnya, pihak-pihka yang terlibat bekerja sama secara harmonis

   sesuia dengan posisinya masing-masing untuk mewujudkan suatu “sekolah

   sekolah yang dapat dibanggakan” oleh semua pihak. Mereka tidak saling

   menunjukkan kuasa atau paling bnerjasa, tetapi masing-masing mmeberi

   kontribusi terhadap upaya peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara

   kaffah. Dalam pelaksanann program misalnya, pihak-pihak terkait bekerja

   sama secara professional untuk mencapai tujuan-tujuan atau target yang

   disepakati bersama. Dengan demikian, keberhasilan MBS merupakan hasil

   sinergi (synergistic effect) dari kolaborasi team yang kompak dan

   transparan.

          Dalam konsep MBS kekuasaan yang dimiliki sekolah mencakup

   pengambilan keputusan tentang manajmen kurikulum dan pembelajaran;

   rektutmen dan manajamen tenaga kependidikan serta manajemen keungan

   sekolah. (Mulyasa, 2004: 38)

c. Komponen-komponen Manajemen Berbasis Sekolah

   Hal yang paling penting dalam implementasi Manajamen Berbasis

   Sekolah adalah manajamen tehadap komponen-komponen sekolah ynag

   harus dikelola dengan baik dalam rangka MBS, yaitu kurikulum dan

   program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, saran dan

   prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat,

   serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan.

1. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran
                                                                      23




       Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran merupakan bagian

dari MBS. Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaranmencakup

kegiatan perencanan, pelaksanaan, dan penilaian kurikulum perencanaan

dan pemgembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan

oleh Departemen Pendidikan Nasional pad atingkat pusat. Karena itu level

sekolah yang paling penting adala bagiamana merealissaikan dan

menyesuikan kurikulum tersebut dengan kegiatn pembelajran. Disamping

itu, sekolah juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan

kurikulum muatan local sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan

lingkungan setempat.

   Kurikulum muatan local pad ahakekatnya merupakan perwujudan

pasal 38 ayat 1 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)

ynag berbunyi “pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam satuan pendidikan

didasrakan atas kurikulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum

yang disesuaikan dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan dan cirri

khas satuan pendidikan”. Sebagai tindak lanjut hal tersebut, muatan local

telah dijadikan strategi pokok untuk meningkatkan kemampuan dan

ketrampilan ynag relevan dengan kebutuhan local dan sejauh mungkin

melibatkan    peran    serta   masyarakat   dalam     perencanaan    dan

pelaksanaannya. Dengan kurikulum muatan local setiap sekolah

diharapkan mampu mnegembnagkan program pendidikan tertentu ynag

sesuai denagn keadaan dan tuntutan lingkungannya.
                                                                        24




       Sekolah merupakan ujung tombak pelaksanaan kurikulum, baik

kurikulum nasionla maupun muatan local, yang diwujudkan melalui

proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,

institusional, kurikuler dan intruksional. Agar proses belajar mengjara

dapat dilkasanakan secra efektif dan efisien, serta mencapai hasil yang

diharapkan,   diperlukan     kegiatan   manajmen     program    pengajaran.

Manajamen atau administrasi pengajaran adalah keseluiruhan proses

peyelenggaraan kegiatan di bidang pengajaran ynag bertujuan agar seluruh

kegiatan pengajaran terlaksaan secara efisien dan efektif.

       Manajer     sekolah     diharapkan    dapat    mmebimbiung      dan

mengarahkan pengembnagan kurikulum dan program pengajaran serta

melakukan     poengawasan       dalam    pelksanannya.       Dalam   proses

pengembangan program sekolah, manajer hendaknya tidak membatasi diri

pada pendidikan dalam arti sempit, ia harus menghubungkan program-

program sekolah dengan seluruh kehidupan peserta didik dan kebutuhan

lingkunagn.

       Kepala sekolah merupakan seorang manajer di sekolah. Ia harus

bertanggung jawab terhadapa perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian

perubahan atau perbaikan program pengajaran di sekolah. Untuk

kpentingan tersebut, sedikitny ada empat langkah yang harus dilakukan

yaitu menilai kesesuian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan

dan kebutuhan murid, mneingkatkan perencanaan program, memilih dan

lekasanakan program, serta menilai perubahan program.
                                                                          25




          Untuk menjamin efektifitas pengembangan kurikulum Dan

   program pengajaran dalam MBS, kepala sekolah sebagai pengelola

   program pengajaran bersama denagan guru-guru harus menjabarkan isi

   kurikulum secraa lebih rinci Dan operasional ke cdalam program tahunan,

   catur wulan Dan bulanan. Adapun program mingguan atau program satuan

   pelajaran, wajib dikembangkan guru sebelum melakukan kegiatan belajar

   mengajar.

2. Management Tenaga Kependidikan

          Keberhasilan    MBS     sangat   ditentukan    oleh   keberhasilan

   pimpinannya dalam mengelola tenaga kependidikan ynag tersedia di

   sekolah. Dalam hal ini, peningkatan produktivitas dan prestasi kerja dapat

   dilakukan dengan mneingkatkan prilaku manusia di tempat kerja melalui

   aplikasi konsep dan teknik manajmen personalia modern.

          Manajamen tenaga kependidikan atau manajemen personalia

   pendidikan bertujuan untuk mandayagunakn tenaga kependidikan secvara

   efektif dan efisien untuk mencapai hasil ynag optimal, namun tetapa dalam

   kondisi ynag menyenangkan. Sehubungan dengan itu, fungsi personalia

   yang jharus dilaksankana pimpinan adalah menarik, mengembangkan,

   menggaji, dan memotivasi personalia guna menapai tujuan system,

   membantu anggota mencapai posisi dan standar prilaku, memaksimalkan

   perkembangan karier tenaga kependidikan, serta menyelaraskan tujuan

   individu dan organisasi.
                                                                        26




       Manajamen tenaga kependidikan (guru dan personil) mnecakup;

(1) perencanaan pegawai, (2) pengadan pegawai, (3) pembinaan dan

pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian

pegawai, (6) kompensasi, dan (7) penilaian pegawai. Semua itu perlu

dilakukan denagn benar agra apa yang diharapkan tercapai, yakni

tersedianya tenaga kependidikan yang diperlukan dengan kualifikasi dan

kemampuan yang sesuai serta dapat elaksanakan pekerjaan dengan baik

dan berkualitas.

       Pengadaan    pegawai    merupakan     kegiatan   untuk   memenuhi

kebutuhan pegawai pada suatu lembaga, baik jumlah maupun kulaitasnya.

Untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebuthan, dilakukan

kegiatan recruitment yaitu usaha untuk mencari dan mendapatkan calon-

calon pegawai yang memenuhi syarat sebanyak mungkin, untuk kemudian

dipilih calon terbaik dan tercakap. Untuk kepentingan tersebut perlu

dilakukan seleksi, melalui ujian lesan, tulisan, dan praktek. Namun

adakalnya, pada csuatu organisasi, pengadaan pegawai dapat didatangkan

secara intern atau dari dalam organisasi saja, apakah melalaui promosi atua

mutasi. Hal tersebut dilakukan apabila formasi yang kosong sedikit,

sementara pada bagian lain ada kelebihan pegawai atau memang sudah

dipersiapkan.

       Setelah diperoleh dan ditentukan calon pegawai yang akan

diterima, selanjutnya adalah mengusahakan supaya calon            pegawai

tersebut menjadi naggota organisasi ynag sah sehingga mmepunyai hak
                                                                     27




dan kewajiban sebagai anggota organisasi atau lembaga. Di Indonesia,

untuk pegawai negeri sipil, promosi atau pengangkatan pertama biasanya

diangkt sebagai calon PNS denagan masa percobaan satu atau dua tahun,

kemudian ia menghikuti latihan penjabatan dan setelah lulus diangkat

menjadi pegawai negeri sipil penuh. Setelah pengangkatan pegawai,

kegiatan berikutnya dalah penempatan atau penugasan. Dalam penempatan

atau penugasan ini diusahakan adanya kongruensi yang tinggi anatara

tugas ayang menjadi tanggung jawab pegawai denagan karaklteristik

pegawai. Untuk mencapai tngjat kongruensi ynag tinggi dan mmebnatu

personil supaya benar-benar siap nsecara fisik dan mental untuk

melkasanakan tugas-tugasnya, perlu dilakukan fungsi orientasi, baik

sebelum atau sesudah penempatan.

       Pemeberhatian pegawai merupakan fungsi personlaia yang

menyebabkan terlepasnya pihak organisasi dan personil dari hak dan

kewajiban sebagai lembaga tempat bekerja dan sebagai pegawai. Untuk

selanjutnya masing-masing pihak terikat dalam perjanjian dan ketentuan

sebagai bekas pegawai dan bekas lembaga tempat kerja. Dalam kaitannnya

dengan tenaga kependiodikan di sekolah, khususnya pegawai negeri sipil,

sebab-sebaba pemberhentian pegawai ini dapat dikelompokkan kedalam

tiga jenis (1) pemberhentian atas permihonann sendiri, (2) pemberhnetian

oleh dinas atau pemerintah, (3) pemberhentian sebaab-sebab lain.

       Untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang dikemukakan, diperlukan

system penilaian pegawai secara objelktif dan akurat. Penilaian tenaga
                                                                         28




   kpendidikan ini difokuskan pada prestasi individu dan peran sertanya

   dalam kegiatan sekolah. Penilaian ini tidak hanya penting bagi sekolah,

   tetapi juag bagi para pegawai itu sendiri. Bagi oara pegawai, penilaian

   berguna sebagai umpan balik berbagai hal, seperti kemampuan, keletihan,

   kekurangan, potensi yang ada pada gilirannya bermanfaat untuk

   menentukan tujuan, jalur, rencana dan pengembangan karier. Bagi

   sekolah, hasil penilaian prestasi kerja tenaga kpendidikan sangat penting

   dalam pengambilan keputusan berbagai hal, seperti identifiksai kebutuhan

   program sekolah, penerimaan, pemilihan, pengenalan, penenpatan, dan

   aspek lain dari keseluruhan prosese efektif sumber daya manusia.

          Tugas kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajamen tenaga

   kependidikan bukanlah pekerjaan ynag mudah Karena tidak hanya

   mengusahakan tercapainya tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga

   kependidikan (guru dan pegawai) secara       pribadi. Karena itu, kepala

   sekolah dituntut untuk mengerjakan instrument penelolaan tenaga

   kependidikan seperti daftar absensi, daftar urur kepangkatan, daftar

   riwayat hidup, daftar riwayat pekerjaan dan kondite pegawai untuk

   mmebnatu kelancaran MBS di sekolah yang dipimpinnya.

3. Manajemen Kesiswaan

          Manajemen kesiswanaan atau manajemen kenuridan (peserta
          didik) merupakan salah astu bidang opersaional MBS. Manajemen
          kesiswaan adalah penataan dan pengaturan terhadap kegiatan yang
          berkaitan denagan peserta didik mulai masuk sampai dengan
          keluarnya peserta didik dari sekolah. Manajemen kesiswaan bukan
          hnayan berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan
                                                                            29




         meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat
         membantu upaya p[ertumbuhn dan pekembangan peserta didik
         melalui proses pendidikan si sekolah.
         Manajemen kesiswaan bertujuan untuk mengfatur berbagai
         kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di
         sekolah dapat     berjalan lancer, tertib     dan    teratur.   Untuk
         mewujudkan tujuan tersebut bidang manajemen kesiswaanb
         sedikitnya memiliki tiga tugas utama ynag harus diperhatikan,
         yaitu peneriman murid barukegiatan kemajuan belajar serta
         bimbingan dan pembinaan disiplin.
         Keberhasilan,    kemajuan    dan   prestasi   belajar    para   siswa
         memerlukan data yang otentik, dapat dipercaya dan memiliki
         keabsahan data. Data ini diperlukan untuk mnegetahui dan
         mengontrol keberhasilan atau prestasi kepala sekolah sebagai
         manajer pendidikan di sekolahnya. Tujuan pendidikan tidak hanya
         untuk mengembangkan pengetahuan anak, tetapi juga sikap
         kepribadian, serta aspek social emosional, disamping ketrampilan-
         ketrampilan lain. Sekolah tidak hanya bertanggung jawab
         mmeberikan      berbagai    ilmu   pengetahuan,     tetapi   memberi
         bimbingan dan bantuan terhadap anak-anak yang bermasalah baiak
         dalam belajar, emosional maupun social sehingga dapat tumbuh
         dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensimasing-
         masing. Untuk kepetingan tersebut, diperlukan data yang lengkap
         tentang peserta didik. Untuk itu di sekolah perlu dilakukan
         pencatatan dan ketatalaksanaan kesiswaan, dalambentuk buku
         induk, buku klapper, buku laporan keadaan siswa, buku presensi
         siswa, buku rapor, daftar kenaikan kelas, bukumutasi dan
         sebagainya.
4. Manajemen Keuangan Dan Pembiayaan
                                                                      30




       Keuangan dan pembiyaan merupakan salah satu sumber daya yang

secara langsung menunjang efektifitas dan efisiensi pengelolaan

pendidikan. Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi MBS, yang

menuntut kemampuan sekolah untuk merencanakan, melaksanakan dan

mengevaluasi serta mmepertanggung jawabkan pengelolaan dana secara

transparan kepada masyarakat dan pemerintah.

       Dalam penyelengaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan

merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang

tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen

keeuangan dan pembiayaan pada suatu sekolaah merupakan komponen

produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan-kegiatan proses belajar

mengajar di sekolah bersama komponen-komponen lain. Dengan kata lain

setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya, baikitu disadari

maupun tidak disadrai. Komponen keuangan dan pembiayann ini perlu

dikelola sebaik-baiknya, agar dana-dana yang ada dapatdimanfaatkan

secara optimal unutk menunjang tercaoainya tujuan pendixdikan. Hal ini

penting terutama dalamrangka MBS, yang memberikan kewenangan

padasekolah untuk mencari dan memanfaatkan berbagai sumber dana

sesuai dengan kepreluan masing-masing sekolah karena pada umumnya

dunia pendidikan selalu dihadapkan pada masalah keterbatasan dana, apa

lagi dalam kondisi krisis seperti sekarang ini.

       Sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah secara garis

besar dapat dikleompokkan atastiga sumber, yaitu (1) pemerintah, baik
                                                                       31




pemerintah pusat, daerah maupun kedua-duanya, yang bersifat umum atau

khusus dan diperuntukkan bagi kepentinagn pendidikan; (2) orang tua atau

peserta didik; (3) masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat.

Berkaitan dengan penerimaan keuangan darai orang tua dan masyarakat

ditegasskan dalamundang-undang system Pendidikan Nasional 1989

bahwa karena keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan

kebutuhan dana pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara

pemerintah,masyarakat, dan orang tua. Adapun dimnesi pengeluaran

meliputi biaya rutin dan biaya pembangunan.

        Biaya rutin adalah biaya ynag ahrusdikeluarkan dari tahun ketahun,

seperti gaji pegawai (guru dan non guru), serta biaya operasional, biaya

pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat-alat pengajaran (barang-barang

habis pakai). Sementara biaya pembangunan misalnya biaya pembelian

atau penegembangan tanah pembangunan gedung, perbaikan gedung,

penambahan furniture serta biaya atau pengeluaran lain. Dalam rangka

implementasi MBS manjaemen komponen keuangan harusdilaksanakan

dengan baik dan teliti mulai tahap penyusunan angaran ,penggunaan

sampai pengawasan dan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan

yang berlaku agar semua dana sekolah benar-benar dimanfaatkan secara

efektif dan efisien.

        Tugas manajemen keuangan dapat dibagi tiga fase, yaitu financial

planing; implementation; and evaluation. Komponen utama manajemen

keuangan meliputi (1) prosedur anggaran, (prosedur akuntansi keuangan),
                                                                           32




   (3) ppembelajaran, pergudangan dan prosedur pemerikksaan (4) prosedur

   inventasi, (5) prosedur pemeriksaan. Dalam pelaksanaannya, manajamen

   keuangan menganut asas pemisaha tugas antara fungsi, otorisator,

   ordonator dan bendaharawan.

          Kepala sekolah sebagai manajer berfungsi sebagai otirisator, dan

   dilimpahi fungsi ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun,

   tidak dibenarkan melkasanakan fungsi bendaharawan karena kewajiban

   mealkukan pengawasan ke dalam. Bendaharawan disamping mmepunyai

   fungsi-fungsi bendaaharawan,juga dilimpahi fungsi ordonator untuk

   menguji hak atas pembayaran.



5. Manajemen Sarana Dan Prasarana Pendidikan

   Saran pedidikan adalah peralatan dan perlengakpana yang secara langsung

   diperguinakan dan menunjang proses pendidikan,khususnya proses

   bwelajar mengajar,seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi, serta alat-alat

   dan media pembelajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasaran

   pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung mneunjang jalannya

   proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun,          taman

   sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung

   untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran

   biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olahraga, komponen

   tersebut merupakan sarana pendidikan.manajemen saran dan prasaran

   pendidikan bertugas mengatur dan menjaga saran dan prasaran pendidikan
                                                                            33




     agara dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada

     jalannya preoses pendidikan. Kegiatan pengelolaan ini meliputi kegiatan

     perencanaan,pengawasan, pengadaan, penyimpanan inventarisasi dan

     penghapusan serta penataan.

            Manajmen sarana dan prasaran ynag baik diharapkan dapat

     mencitakan sekolah ynag bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi

     yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berdadi sekolah.

     Disamping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar

     yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relevan dengan kebutuhan

     serta adapat dimnfaatkan secara optimal untukkepentingan proses

     pendidikan dan pengajaran, baik oleh guru sebagai pengajar maupun

     murid-murid sebagai pelajar.



  6. Manajemen Keuangan Dan Pembiayaan

  7. Manajemen Sarana Dan Prasaran Pendidikan

  8. Manajemen Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

  9. Manajemen Layanan Khusus

  d. Efektifitas Dan efisiensi manajamen berbasis sekolah

Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Manajemen

  Berbasis Sekolah

  a. Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam mengembangkan

            MBS

  b. Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
34
35
36
37
38
39
40
                                                                           41




                                    BAB III

        PAPARAN DATA DAN PEMBASAN HASIL PENELITIAN



A. Deskripsi Obyek Penelitian

1. Sejarah Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

   Di Kota Malang ada 2 MTsN yaitu: MTs Negeri Malang I yang berlokasi di

jalan Bandung No 07 Malang dan MTs Negeri II Malang yang ada di daerah

cemoro kandang.

         Adapun di jalan Bandung No 07 merupakan lokasi strategis dihuni oleh

  3 jenjang madrasah yaitu : MIN, MTsN Malang I dan MAN 3 Malang yang

  kini menjadi madrasah terpadu. Awal terbentuknya 3 jenjang madrasah tersebut

  dengan adanya SK Menteri No 15/tahun 1978, 16/tahun 1978 dan 17/tahun

  1978 yang menetapkan SD latihan PGAN 6 tahun menjadi MIN Malang I dan

  kelas I, II, III PGAN 6 tahun menjadi MTs Negeri Malang I. Dan kelas IV, V,

  VI PGAN 6 tahun masih disebut sebagai PGA, tetapi setelah seluruh kelas

  dapat selesei (tamat) di rubah fungsinya menjadi MAN 3 Malang.

   Madrasah Tsanawiyah Malang I merupakan Madrasah terpadu yaitu madrasah

yang memiliki keterpaduan antara tingkat jenjang yang memiliki keunggulan

kualitas baik input-outputnya, madrasah terpadu ini diharapkan:

   a. Melahirkan keterpaduan kualitas merata antara ke 3 jenjang madrasah

       tersebut, sehingga memiliki daya tarik yang sama kuatnya dari peminat

       madrasah.
                                                                              42




  b. Memilih konsep kurikulum yang terpadu antara ke 3 jenjang yaitu MIN,

     MTs, MAN merupakan kelanjutan secara terpadu dan utuh.



2. Periode Perkembangan Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I Dari

  Tahun Ke Tahun

  1. Periode Pertama 1979-1991 Drs. H. Muh. Muhdi (Kepala sekolah)

        Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I memulai kiprahnya dengan

     menempati kelas-kelas yang berukuran 7 x 7 meter ; setiap kelas

     menampung rata-rata 42 siswa dengan 4 kelas pararel untuk kelas I dan II,

     sedangkan kelas III ada tiga kelas pararel.

  2. Periode Kedua 1991-1992 Drs. H. Untung Saleh (Kepala sekolah)

        Pada periode kedua ini situasi masih tetap, namun sudah diusahakan

     adanya kejelasan lokasi yang pada saat perubahan struktur belum jelas.

  3. Periode Ketiga 1992-1994 Drs. Ridwan Adnan (Kepala sekolah )

        Pada periode ini MTs Negeri Malang I mulai menambah ruangan

     kelas, ada perpindahan lokasi sehingga berdampingan dengan MIN

     Malang I, kelas I ada 6 kelas pararel sehingga ruang kelas yang ada masih

     kurang.. diadakan kelas sore, kendalanya siswa tak bergairah belajar,

     akhirnya tidak maksimal.

  4. Peride Ke Empat 1994-September 2004 Drs.H.Abdul Djalil, M.Ag yang

     dipindah tugaskan dari MIN Malang I ke MTsN Malang I(Kepala sekolah)

        Pada periode ini gebrakan pertama dilakukan untuk memperkenalkan

     MTs Negeri Malang I pada masyarakat dengan mengadakan kiprah sepeda
                                                                        43




   santai.    Upaya    selanjutnya   adalah   dengan   memperbaiki   sistem

   pembelajaran, disiplin dan keadaan fisik bangunan. Pada tahun 1996, agar

   siswa SD,MI yang memperoleh NEM 38 ke atas mau masuk MTs Negeri

   Malang I disediakan hadiah pakaian seragam. Pelaksanaan bimbingan dan

   pemberian hadiah pada siswa yang berprestasi diupayakan untuk

   memberikan motivasi kemajuan belajar siswa. Pada tahun 1997 pemberian

   hadiah seragam hanya diberikan pada siswa dengan Nem 40 ke atas. Pada

   tahun 1998 tidak mengeluarkan hadiah lagi, karena Animo sudah banyak.

       Sejak tahun 1996 upaya peningktan mutu tidak hanya dilakukan lewat

   sekolah, tetapi juga di luar sekolah yaitu pondok pesantren modern surya

   buana, disana siswa dibina secara intensif, berupa binaan IMTAQ dan

   IPTEKnya, sehingga pada tahun 1997 MTs Negeri Malang I mampu

   mengirim siswa ke SMU unggulan baik di kota Malang sendiri maupun di

   luar kota Malang.

5. Periode ke lima (20 September 2000) sampai sekarang Dra. Hj. Sri Istuti

   Mamik, M. Ag (Kepala sekolah)

       Pada tahun 2000 MTs Negeri Malang I mulai mendapat perhatian dari

   masyarakat, nama Madrasah mulai diperhitungkan. Upaya yang dilakukan

   untuk meningkatkan kemajuan MTs Negeri Malang I adalah sebagai

   berikut:

   1) Menetapkan visi dan misi serta tujuan MTs Negeri Malang I yang

       mengacu pada visi misi madrasah terpadu.
                                                                              44




       2) Untuk menjalankan misi serta tujuan sesuai dengan visi perlu

          ditegakkan disiplin di MTs Negeri Malang I.

       3) Disiplin dalam segala bidang yang terkait dengan pelaksanaan

          pendidikan.

       Adapun struktur kepemimpinan MTs Negeri Malang I periode 2005-2006:

          1) Kepala Madrasah              : Dra. Hj. Istuti Mamik, M.Ag

          2) Wakaur Kurikulum             : Drs. Mujtahid

          3) Wakaur Kesiswaan             : Drs. Supandri

          4) Wakaur Humas                 : Mas’udi, M.Ed

          5) Wakaur Sarana Prasarana      : Drs. H. Sutrisno

          6) Ketua Tata Usaha             : Dra.Hj.Uswatun Hasanah, SH

          7) Waka Bidang Umum             : Drs. H. Sutrisno



3. Sarana Prasarana Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

   Dalam rangka mencapai target kualitas sekolah yang bermutu, tentunya tidak

terlepas dari beberapa faktor pendukung yang berupa sarana prasarana yang

memadai. Untuk upaya pencapaian target tersebut, baik sarana dan sprasarana

secara fisik, lingkungan sekolah maupun personil yang terkait dengan sarana

prasarana, tentunya tidak bisa dilupakan pula perekrutan personil-personil yang

ahli dalam bidang penggunaan sarana prasarana.

       1) Masjid Alfajr                          15) Stasiun radio fajar FM

       2) Ruang kepala sekolah dan TU            16) Kebun percobaan

       3) Ruang guru                             17) Lapangan basket
                                                                          45




     4) Ruang Majelis Madrasah                18) Lapangan lompat jauh

     5) Ruang BK                              19) Taman bunga

     6) Ruang kelas                           20) Gazebo

     7) Ruang perpustakaan                    21) Pos satpam

     8) Ruang UKS                             22) Koperasi/ Toserba

     9) Ruang internet                        23) Kopsis

     10) Ruang kesenian dan ketrampilan       24) Kantin

     11) Ruang percetakan                     25) Dapur

     12) Ruang penjaga                        26) Gedung

     13) Ruang Tatibsi                        27) Toilet

     14) Laboratorium: bahasa, computer,

         fisika, biologi




4. Keadaan Sumber Daya Manusia (SDM) MTsN Malang I

  a. Keadaan Guru dan Staf MTsN Malang I

         Secara kuantitas, MTsN Malang I mempunyai tenaga edukatif yang

  sangat berpotensi dibidangnya, dan sebagai tenaga yang ikut menangani tugas

  yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Untuk menuju lembaga

  yang berkualitas, seluruh sumber daya manusia (SDM) harus berkualitas pula.

  Untuk itu harus diantisipasi sejak dini (sejak menerima calon tenaga

  kependidikan baik guru maupun karyawan) dengan menentukan cara
                                                                              46




   perekrutan yang professional. Dalam hal ini peneliti akan memaparkan nama-

   nama guru dan karyawan MTsN Malang I (sebagaimana terlampir).

   b. Keadaan Siswa MTsN Malang I

           Pada tahun ajran 2004-2005 kelas I terdiri dari 284 siswa, untuk kelas

   II 318, sedangkan kelas III 274, jadi jumlah keseluruhan siswa siswi MTsN

   Malang I adalah 876 siswa. Selanjutnya peneliti akan memaparkan mengenai

   keadaan yang berhubungan dengan siswa, serta hal-hal yang dianggap

   berkaitan dengan siswa (sebagaimana terlampir).



5. Struktur Organisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

   Organisasi dalam suatu lembaga sangat diperlukan supaya masing-masing

petugas dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan ketenagaan dan untuk

menghindari tumpang tindih tugas, maka dibentuklah struktur organisasi sekolah.

Adapun struktur organisasi sebagaimana terlampir.



6. Visi Dan Misi Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

   Upaya dalam merealisasikan kepercayaaan masyarakat luar, MTsN Malang I

menetapkan visi, misi dan tujuan Madrasah Tsanawiyan Negeri Malang I sebagai

berikut:

   a. Visi Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

           Sebagai bagian Madrasah terpadu Malang, maka MTsN Malang I

   mewujudkan sebuah lembaga pendidikan lanjutan tingkat pertama yang berciri

   khas agama Islam dengan kondisi dan situasi lingkungan yang kondisinya
                                                                        47




untuk menyiapkan dan mengembangkan segenap sumber daya insani yang ada

sehingga dapat mencapai kualitas unggul di bidang IPTEK dan IMTAQ.

b. Misi Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

       Menyelenggarakan pendidikan yang berkulitas baik di bidang IPTEK

maupun IMTAQ dengan mewujudkan: lingkungan yang bersih, asri, nyaman,

serta agamis: Proses belajar mengajar (PBM) yang berorientasi pada Student

Active Learning ; Full Day Learning dan bimbingan belajar serta efektifitas

pembinaan ekstarkurikuler. Pemberdayaan Masjid sebagai laboratorium

keagamaan, pembiasaan sholat berjama’ah serta sholat sunnah, tartil Al-

Qur’an, ucapan kalimat thayyibah dan prilaku sopan.

       Kerja sama dengan Majelis Madrasah, menjalin hubungan baik dengan

masyarakat, kerjasama dengan dunia usaha sebagai perwujudan Management

Berbasis Sekolah (MBS).

c. Tujuan Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I

   Setelah para siswa di didik selama 3 tahun diharapkan:

   1. Mampu secara aktif melaksanakan ibadah yaumiah dengan benar dan

       tertib

   2. Khataman AlQur’an dengan tartil

   3. Berakhlaq mulia (akhlaqul karimah)

   4. Hafal juz 30 (juz ‘amma)

   5. Mampu berbicara dengan bahasa arab dan bahasa inggris

   6. Dapat bersaing dan tidak kalah dengan para siswa dari sekolah favorit

       yang lain dalam bidang ilmu pengetahuan.
                                                                               48




B. Penyajian Dan Analisis Data

1. Kepemimpinan       Kepala      Sekolah   Dalam       Menerapkan    Manajemen

   Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I

   Keberhasilan suatu lembaga sangat bergantung pada kepemimpinan kepala

madrasah, karena kepala madrasah merupakan pemimpin dalam lembaga

pendidikan maka kepala madrasah harus mampu membawa lembaganya ke arah

tercapainya tujuan yang telah ditetapkan oleh madrasah.

   Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah suatu konsep yang memberikan

kewenangan pada sekolah untuk mengembangkan madrasah sesuai dengan

kebutuhan sekolah dalam mengelola pendidikan.

    Kepemimpinan kepala madrasah kaitannnya dengan manajemen berbasis

sekolah   adalah   upaya   yang    dapat    dilakukan    kepala   madrasah   dalam

mengimplementasikan MBS di MTsN Malang I.

   Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I merupakan madrasah yang sudah

menerapkan konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) tepatnya bulan

September tahun 2000 dimana yang menjabat sebagai kepala madrasah adalah

Dra. Istuti Mamik, M. Ag. Dalam menerapkan MBS di MTsN Malang I telah

mengalami berbagai perkembangan dan penyempurnaan menuju madrasah yang

berkualitas.

   Dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) MTsN Malang I

menggunakan pertimbangan-pertimbangan dalam pelaksanaannya sebagaimana

yang dikatakan kepala sekolah Dra. Istuti Mamik, M.Ag yang peneliti wawancarai

di sela-sela kesibukannya sebagai kepala madrasah adalah sebagai berikut:
                                                                            49




   “Pertimbangan dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
   adalah karena kita berada di tengah-tengah masyarakat dan dipercaya oleh
   masyarakat dan juga kita mengelola manusia dan secara proaktif
   mengikutsertakan masyarakat istilahnya adalah peran serta masyarakat (PSM).
   Dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) kita harus memberdayakan peran
   serta masyarakat, buktinya adalah dengan adanya komite madrasah yang
   dulunya adalah Majelis Madrasah, fungsi dari Komite Madrasah adalah
   sebagai patner, pendamping kepala madrasah dalam mengelola madrasah,
   disamping itu juga sebagai supporter dan sebagai fasilitator”(Kepala
   Madrasah, 08/08/2005).


   Dengan adanya pertimbangan-pertimbangan madrasah dalam menerapkan

MBS maka sekolah memiliki kebijakan dalam mengembangkan MBS, hal ini

sebagaimana yang dikatakan oleh kepala madrasah yang peneliti wawancarai di

ruang kerjanya:

   Manajemen Berbasis Sekolah adalah manajemen berbasis masyarakat artinya
   kita tidak selalu menunggu pedoman dari atas tapi kita sesuaikan dengan
   kebutuhan sekolah dengan apa yang dimiliki sekolah, program yang kita buat
   selalu mengacu pada apa yang diperlukan sekolah tidak mengacu pada apa
   yang diinformasikan atau diintruksikan oleh pusat jadi yang kita lakukan
   bukan atas dasar instruksi tetapi atas dasar kebutuhan sekolah itu sendiri,
   sekolah otomatis membutuhkan patner kerja untuk mengelola madrasah.
   Patner kerja disini adalah masyarakat karena itu pemberdayaan masyarakat
   atau peran serta masyarakat sangat diperlukan, untuk pemberdayaan
   masyarakat melalui komite madrasah yaitu suatu organisasi pendamping
   kepala sekolah dalam mengelola madrasah yang terdiri dari pemerhati
   masyarakat pendidikan yaitu orang tua siswa dan unsur guru 15% sehingga
   nanti apa yang dikehendaki sekolah dengan apa yang difasilitasi oleh komite
   madrasah bisa sinkron karena dalam komite madrasah ada unsur guru, orang
   tua siswa, masyarakat pemerhati pendidikan, tokoh masyarakat yang
   semuanya sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan kualitas madrasah.
   Jadi kita tidak selalu menunggu dari pusat, kemudian apakah kalau ada
   instruksi langsung ditolak, tidak selama instruksi itu tidak mengganggu
   jalannya lembaga dalam pengelolaan madrasah kita segera melaksanakan akan
   tetapi kalau instruksi itu menghambat keberadaan kemajuan madrasah perlu
   kita pertimbangkan dan pertanyakan, tapi selama ini tidak ada instruksi yang
   sifatnya menghambat (Kepala Sekolah, 22/08/2005).
                                                                           50




   Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Madrasah Tsanawiyah Negeri

Malang I dalam membuat program tidak selalu menunggu instruksi dari pusat

akan tetapi disesuaikan dengan kebutuhan madrasah dan apa yang dimiliki

madrasah. Dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), kepala

sekolah selalu mengikutsertakan peran serta masyarakat (PSM) melalui komite

madrasah dalam mengembangkan meningkatkan kualitas pendidikan.

   Komite Madrasah adalah lembaga yang membantu kepala sekolah dalam

menjalankan dan mengelola madrasah. Susunan pengurus di Komite Madrasah

menggunakan model tersendiri yaitu ada 4 fungsi sebagaimana yang telah

dikatakan oleh kepala sekolah MTsN Malang I Dra. Istuti Mamik, M.Ag sebagai

berikut:

   “Komisi satu adalah komisi keuangan, komisi dua adalah komisi pendidikan
   dan sumber daya manusia, komisi tiga adalah komisi evaluasi dan monitoring,
   komisi empat adalah komisi kerjasama. 4 komisi tadi mencerminkan
   bagaimana madrasah mengelola madrasah yang tidak meninggalkan peran
   serta masyarakat”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).

   Dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) MTsN Malang I
   tidak meninggalkan peran serta masyarakat, peran serta masyarakat selalu
   diutamakan contohnya dalam pembuatan rencana anggaran pendapatan
   belanja madrasah (RAPBM). Dalam pembuatan RAPBM kepala sekolah tidak
   sendirian tapi kepala sekolah bersama staf, guru, serta bersama komite
   madrasah, jadi kalau madrasah memberikan program dimana yang membuat
   program adalah pihak madrasah maka pembuatan program dilakukan secara
   bersama-sama, kemudian program tersebut diberitahukan pada masyarakat
   melalui komite madrasah. Setelah program diberikan pada masyarakat baru
   madrasah membuat planningnya, kemudian planning tersebut dibahas dan
   diseleseikan bersama komite madrasah tentang bagaimana cara pelaksanaan
   program ke depan baru kemudian dibuat RAPBM. Dalam pembuatan RAPBM
   tidak hanya unsur madrasah saja tapi antara unsur madrasah bersama komite
   madrasah.

   Dari uraian di atas jelas sekali bahwa dalam implementasi Manajemen

Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I dalam membuat program harus ada
                                                                            51




planning dan kepala sekolah selalu mengikutsertakan masyarakat dalam

pembuatan program ke depan melalui komite madrasah.

   Apabila dicermati dari uraian di atas menunjukkan pada kita tentang berbagai

cara kerja yang perlu di lakukan untuk mencapai kualitas pendidikan yang

diinginkan, yang pada intinya memerlukan komitmen, kesungguhan dan kesedian

untuk bekerja sama dengan semua pihak yang berkepentingan dengan dunia

pendidikan. Karena itu penerapan Manajemen Berbasis Sekolah pada suatu

sekolah sangat tergantung pada kesiapan dari semua pihak kependidikan, kesiapan

ini tidak semata-mata hanya sekedar bersifat legal-formal yang lebih banyak

bersifat politis, tetapi yang lebih penting adalah kesiapan teknis untuk

menjalankan model pengelolaan tersebut.

   Berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam

aspek penggalian dana dari komisi satu. Dalam hal ini kepala sekolah Dra Istuti

Mamik, M. Ag memberikan tanggapan sebagai berikut:

   “Dalam penggalian dana selalu bermusyawarah dengan wali murid dan ada
   unsur kerjasama dengan pihak luar, misalnya kerjasama dengan perusahaan,
   dengan pihak lain yang membantu kita jadi kerjasama ini bukan berarti kita
   fokuskan pada penggalian dana saja tapi dalam pembinaan Sumber Daya
   Manusia (SDM) yang ada di MTsN Malang I. Kerjasama ini harus selalu
   dijalin terus sehingga nanti kita tidak ketinggalan dan kita berupaya agar
   madrasah ini terus terinovasi. Oleh karena itu dalam pembuatan struktur
   organisasi di MTsN Malang I mengutamakan adanya bagian-bagian yang
   betul-betul bisa mengakses informasi”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).


   Selanjutnya mengenai masalah kurikulum kepala sekolah memberikan

komentar sebagai berikut:

   “Waka Kurikulum harus mencari informasi tentang kurikulum dan
   mensosialisasikan kurikulum tersebut pada semua warga masyarakat MTsN
   Malang I”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).
                                                                           52




      Masih mengenai penerapan MBS dalam bidang kesiswaan kepala sekolah
memberikan pendapat sebagai berikut:
   “Siswa adalah subyek dalam pendidikan karena itu Waka Kesiswaan harus
   mampu memberikan dorongan pada siswa agar siswa bisa di posisikan sebagai
   subyek dalam pendidikan kemudian Waka Kesiswaan juga harus mampu
   bekerjasama dengan guru-guru mata pelajaran lain sehingga program
   kesiswaan bisa dilewatkan dengan mata pelajaran yang lain dalam
   kesehariannya, dimana siswa berada dalam pembinaan itu harus dilewatkan
   dengan mata pelajaran apapun, maka waka kesiswaan harus bisa bekerjasama
   dengan para guru mata pelajaran yang lain”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).


         Hubungan sekolah dengan masyarakat mencakup hubungan sekolah

  dengan sekolah lain, sekolah dengan pemerintah setempat sekolah dengan

  instansi dan sekolah dengan masyarakat pada umumnya. Hendaknya semua

  hubungan itu merupakan hubungan kerjasama yang bersifat produktif yang

  dapat mendatangkan keuntungan dan perbaikan serta kemajuan bagi ke dua

  pihak. Untuk itu kepala sekolah memegang peranan penting dalam

  menggerakkan sumber daya manusia dalam kerjasama dengan masyrakat

  pendidikan. Sebagaimana yang dijelaskan kepala sekolah mengenai manajemen

  Humas adalah sebagai berikut:

   “Waka Humas tidak kala pentingnya untuk kerjasama dengan pihak lain, kalau
   dalam komite ada komite kerjasama sedangkan dalam madrasah ada Waka
   Humas, maka Waka Humas harus menginformasikan tentang keberadaan
   MTsN Malang I misalnya melalui web. Set MTsN Malang I atau radio dan
   sebagainya. MTsN Malang I mempunyai studio radio, televisi, meskipun
   jangkauannya masih sangat dekat belum luas akan tetapi sudah merupakan
   alat sarana prasarana berlatih anak sehingga nantinya anak tidak kuper, dan
   para siswa bisa berlatih menjadi presenter, pembawa acara dan sebagainya
   supaya minat bakat anak dapat tersalurkan”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).


   Jadi Manajemen Humas melaksanakan kegiatan dalam bentuk pengenalan
berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan madrasah kepada masyarakat
                                                                         53




luas melalui berbagai media, baik media cetak, surat kabar, bulletin dan
sebagainya.
       Selanjutnya mengenai Litbang, kepala madrasah memberikan pendapat
tentang pelaksanaan Litbang sebagai berikut:
   “Bahwa Waka Litbang harus selalu mengakses atau mencari informasi terkini
   tentang pengembangan pendidikan yang ada, disamping itu Waka Litbang
   juga harus membina siswa agar siswa bisa melaksanakan program penelitian
   sederhana yang nanti dilanjutkan dengan pembuatan laporan kemudian dari
   pihak guru juga diadakan pelatihan penulisan karya ilmiah” (Kepala
   Madrasah, 08/08/2005).


dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa

   Dalam manajemen berbasis sekolah ada unsur-unsur manajemen yaitu

manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen Humas, manajemen

sarana prasarana Dimana setiap Wakaur memberikan pendapat tentang

pelaksanaan manajemen dalam manajemen berbasis sekolah di MTsN Malang.

       Mengenai masalah kurikulum Wakaur Kurikulum Drs. Mujtahid dalam
pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah dalam bidang kurikulum memberikan
pendapat sebagai berikut:
   “Pelaksanaan manajamen kurikulumdi MTsN Malang I ini sesuai dengan
   perkembangan sekolah dan masih ada standar dari pusat dalam mengelola
   pendidikan yang berhubungan dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
   Pelaksanaan manajemen kurikulum dalam MBS yaitu dengan penambahan
   mata pelajaran, penambahan jam pelajaran, untuk kurikulum seperti fiqh,
   qur’an hadits di MTsN Malang I disebut dengan Al-Islam yang mencakup
   seluruh mata pelajaran pendidikan agama Islam”(Wakaur Kurikulum,
   25/07/2005).


   Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa MTsN Malang I walaupun sudah

menerapkan manajemen berbasis sekolah dimana konsep manajemen berbasis

sekolah adalah memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengembangkan

madrasah sesuai dengan kebutuhan madrasah meskipun demikian dalam
                                                                              54




pelaksanaannya masih ada standar atau kebijakan dari pusat dalam pengelolaan

pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan madrasah.


   Dalam hal ini Peneliti juga melakukan wawancara dengan Waka Kesiswaan

yang peneliti temui di ruang tamu, Drs. Supandri memberikan komentar tentang

pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai berikut:

   “Di MTsN Malang I pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah dalam bidang
   kesiswaan berdasarkan pada visi dan misi sekolah contoh kegiatan eks school,
   dalam hal ini MTsN Malang I tidak seperti sekolah-sekolah lain dalam hal
   perekrutan Pembina menggunakan tata cara kerjasama, kemitraan misalnya:
   para siswa ingin eks renang maka MTsN Malang I kerjasama dengan KONNI
   pusat cabang Malang. Dalam bidang penertiban siswa ada Tatibsi, dimana
   Tatibsi punya team work tersendiri, dalam bidang keagamaan punya team
   pembinaan agama”(Wakaur Kesiswaan, 03/08/2005).


   Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa MTsN Malang I walaupun

belum punya fasilitas yang memadai tapi mereka berusaha kerjasama dengan

pihak lain supaya eks school yang diprogramkan dan diinginkan para siswa dapat

terlaksana. Masih menurut Drs. Supandri:

   “Bahwa dalam kegiatan pembelajaran MTsN Malang I menerapkan dua sistem
   pembalajaran yaitu Full day school dan Moving adalah sistem pembelajaran
   dengan berpindah-pindah kelas berdasarkan bidang keilmuan masing-masing.
   Contoh: jam pertama adalah pelajaran fisika di kelas A kemudian jam ke dua
   pelajaran biologi, kelasnya bukan di A tapi di kelas B. jadi sistem belajar
   siswa siswi berpindah-pindah supaya anak tidak bosan, sistem belajar seperti
   ini seperti dibangku kuliah. Harapan yang ingin dicapai MTsN Malang I
   menurut Drs. Supandri adalah : para siswa bisa menghargai ilmu, siswa
   diharapkan bisa mrnghargai kepentingan ilmu, visi dan misi sekolah dapat
   tercapai dan tujuan sekolah dapat tercapai”(Wakaur Kesiswaan, 03/08/2005).


   Sistem pembelajaran yang mendukung pelaksanaan manajemen berbasis

sekolah salah satunya adalah dengan sistem pembelajaran Parent’s Day yaitu

orang tua murid yang memiliki profesi tertentu atau memiliki life skill diberikan
                                                                              55




kesempatan untuk bertukar pengalaman, diskusi, dialog secara langsung dengan

siswa. Murid mendapatkan pengetahuan dan pengalaman nyata bukan sekedar

teori saja.

    Mengenai masalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam bidang Humas

Pak Mas’udi yang peneliti wawancarai di ruang tamu, beliau memberikan

pendapat tentang pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam bidang

humas adalah sebagai berikut:

    “Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam bidang Humas di
    MTsN Malang I sudah bagus walaupun belum 100% seperti harapan, namun
    sudah melangkah jauh karena kaitannya dengan Manajemen Berbasis Sekolah
    adalah dengan pemberdayaan masyarakat dan melibatkan masyarakat serta
    perlu menata tentang peningkatan sumber daya manusia (SDM) di MTsN
    Malang I terutama guru. Karena guru disini selalu dimonitor terus oleh komite
    madrasah, bahkan tiap tahun MTsN Malang I dilaksanakan uji kompetensi
    untuk semua guru, tentang manajemen yang ada di MTsN Malang I sangat
    disesuaikan dengan kebutuhan yang ada dan kita tidak ikut ketentuan dari
    pemerintah”(Wakaur Humas, 09/08/2005).


    Masih menurut Pak Mas’udi sebagai Waka Humas memberikan komentar

sebagai berikut:

    “Langkah-langkah yang dilakukan oleh Humas masih terfokus pada
    pemberdayaan masyarakat saja baik di bidang kegiatan pelakasanaan atau
    proses belajar mengajar”.
    Waka Humas juga melaksanakna kegiatan Paren’st Day yaitu orang tua ikut
    serta melaksanakan kegiatan pembelajaran regular yaitu dengan cara orang tua
    memberikan materi pada siswa sesuai dengan keahlian atau profesi. Misalnya
    dokter maka siswa diberikan pengeahuan tentang ilmu kedokteran untuk
    pelaksanaannya di jadwal setiap hari sabtu untuk semester ini, sedangkan
    semester lalu pelaksanaannya 2 minggu sekali berkaitan dengan jumlah tenaga
    yang bersedia yang menjadi nara sumber. Disamping parent’s day MTsN
    Malang I juga melaksanakna Mother Class fungsinya adalah membantu atau
    mendampingi siswa ketika istirahat, mungkin anak ada masalah dengan
    temannya atau masalah belajar kita berikan solusi pada anak tersebut terhadap
    masalah yang dihadapinya”(Wakaur Humas, 09/08/2005).
                                                                                56




   Kemudian Waka Sarana prasarana Drs. Sutrisno yang peneliti wawancarai di

ruang kerjanya memberikan tanggapan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah

sebagai berikut:

   “Prinsip dari manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah sekolah berhak
   menentukan dan mengatur dirinya sendiri dan warga masyarakat sekolah.
   MTsN Malang I juga harus mengetahui kebutuhannya sendiri dalam arti
   semua komponen yang ada di madrsah mulai dari sumber daya manusia
   (SDM) dan keperluannya harus mengerti”(Wakaur Sarana Prasarana,
   13/08/2005).



2. Usaha Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Manajemen Berbasis

   Sekolah di MTsN Malang I

   Kunci keberhasilan suatu sekolah pada hakekatnya terletak pada efisien dan

efektifitas pimpinan seorang kepala sekolah. Keberhasilan sekolah keberhasilan

kepala sekolah dan keberhasilan kepala sekolah adalah keberhasilan sekolah.

Masalah kepala sekolah merupakan suatu peran yang menuntut persyaratan

kualitas kepemimpinan yang kuat. Bahkan telah menjadi tuntutan yang luas dari

masyarakat    sebagai    kriteria   keberhasilan    sekolah     diperlukan   adanya

kepemimpinan kepala sekolah yang berkualitas.

   Betapa perlunya kualitas kepemimpiann kepala sekolah, maka selalu

ditekankan pentingnya tiga kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh kepala

sekolah yaitu: conceptual skills, human skills dan technical skills.

   1. Usaha-usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam mengembangkan

       Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I

       Adapun usaha yang dilakukan kepala sekolah dalam mengembangkan

   Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I menurut Dra. Istuti
                                                                            57




   Mamik, M. Ag yang berhasil peneliti wawancarai di ruang kepala madrasah

   memberikan pendapat tentang uasah-usaha yang dilakukan kepala madrasah

   dalam mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah sebagai

   berikut:

   “Usaha dalam mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah di MTsN
   Malang I banyak sekali, dari segi kurikulum, litbang, kesiswaan, sarana
   prasarana semuanya sudah mempunyai program unutk mengembangkan
   Manajemen Berbasis Sekolah, dari segi litbang mengembangkannya tidak
   sendirian tapi harus kerjasama dengan komite madrasah karena itu untuk
   pengembangan agar sumber daya manusia (SDM) di MTsN Malang I baik
   dan handal, karena terus terang saja dalam lembaga kalau sumber daya
   manusia (SDM) tidak baik sulit untuk berkembang ke depan. Sumber Daya
   Manusia (SDM) harus ditingkatkan terus karena perkembangan teknologi juga
   maju pesat”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).


   Dari uraian di atas menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) yang

dimiliki suatu lembaga harus berkualitas karena ini sangat menentukan

keberhasilan sekolah dalam mengembangkan program-program yang telah

direncanakan.

   Mengenai usaha dalam mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Drs. Istuti Mamik memberikan tanggapan lagi sebagai berikut:

   “Masing-masing Waka harus selalu mengakses informasi sehingga nanti tidak
   ketinggalan karena itu kalau ditanya apa usaha-usaha untuk pengembangan
   dari masing-masing bagian harus mencari informasi terkini, menangkap
   informasi kemudian mmebuat perencanaan kalau perencanaan sudah dibuat
   perencanan harus disosialisasikan pada semua pihak yaitu Steak Holder
   sehingga steak hoplder bisa mendukung apa yang sudah direncanakan
   kemudian kalau perencanaan sudah dibuat dan disosialisasikan dan betul-betul
   diterapkan dan punya komitmen yang tinggi terhadap penerapan perencanaan.
   Dalam proses itu juga ada evaluasi. Kita membuat catatan-catatan khusus
   mana perencanaan yang belum bisa dilaksanakan atau perencanaan yang ada
   kendalanya, kemudian di analisa dan pada tahun-tahun berikutnya diadakan
   perbaikan-perbaikan”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).
                                                                              58




   Masih menurut Drs. Istuti Mamik dalam mengembangkan Manajemen

Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I adalah sebagai berikut:

   “Di MTsN Malang I selalu membuat perencanaan sehingga nantinya tidak
   gagal di tengah jalan, kalaupun ada masalah itu biasa namun masalah itu harus
   di upayakan bagaimana mengatasinya, untuk menghadapi problem dilihat dari
   segi apa, kalau dari segi SDMnya kita adakan uji kompetensi untuk SDM. Jadi
   semua guru di MTsN Malang I setiap tahun diuji, kalau kompetensinya kurang
   tepat dialihkan tugasnya, misalnya guru mata pelajaran bahasa arab
   kompetensinya kurang tidak boleh mengajar dulu walaupun dia punya ijazah
   jurusan bahas arab, kompetensinya harus diperbaiki dulu yang memperbaiki
   kompetensi dia sendiri atau pada lembaga, kalau pada lembaga nanti dicarikan
   dosen pendamping. Jadi di MTsN Malang I ada dosen pendamping yang
   mendampingi guru-guru mata pelajaran. Itu merupakan upaya madrasah dalam
   mengatasi problem secara preventif, refresifnya kalau sudah terjadi, preventif
   sebelum terjadi, kita usahakan agar tidak terlalu banyak problem”(Kepala
   Madrasah, 08/08/2005).


   Selanjutnya usaha yang dilakukan kepala sekolah untuk pembinaan siswa

unggulan sebagaimana yang dikatakan oleh kepala madrasah Dra. Istuti Mamik,

M. Ag adalah sebagai berikut:

   “Untuk pembinaan siswa unggulan semua komponen yang ada di madrasah
   dilibatkan, dalam pembinaan siswa unggulan Litbang harus mengembangkan
   program itu, kemudian Waka Kurikulum harus bisa memberikan informasi
   tentang pembinaan siswa unggulan seperti ini kemudian anak-anak yang perlu
   dibina, waka kesiswaan harus menginformasikan pada orang tua siswa dan
   waka humas harus memberikan informasi tersebut. Jadi program masing-
   masing Waka awal tahun pelajaran sudah ada dan mereka sudah membuat
   program kemudian program itu di cek oleh kepala sekolah dan di
   musyawarahkan bersama karena harus ada kesinambungan antara program
   waka      satu   dengan    waka     yang      lainnya    baru    kemudian
   diimplementasikan”(Kepala Madrasah, 22/08/2005).


         Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masing-masing Wakaur

  harus selalu mencari dan mengakses informasi terkini tentang pendidikan dan

  setiap awal tahun pelajaran masing-masing Wakaur membuat perencanaan

  program dan dimusyawarahkan dengan semua guru karena harus ada
                                                                          59




keterkaitan atau kesinambungan program antar masing-masing Wakaur baru

diimpelementasikan dalam pengelolaan madrasah.



 2. Faktor keberhasilan dan kesulitan dalam mengembangkan Manajemen

     Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I

     a. Faktor keberhasilan

         Dengan berbagai prestasi yang di peroleh oleh MTsN Malang I, baik

 prestasi di bidang akademik maupun sarana fisik, yang sekarang ini MTsN

 Malang I memperoleh status sebagai Madrasah Terpadu tidak lain karena

 adanya faktor yang mendukung        keberadaan MTsN Malang I tersebut,

 sehingga dalam perjalanannya mencapai kemajuan yang cukup pesat dan

 dianggap oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan Islam favorit.

     Adapun kemudahan dalam mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah

 (MBS) di MTsN Malang I sebagaimana yang dikatakan oleh kepala sekolah

 antara lain:

 “Bahwa kita punya UUD, dengan adanya otonomi daerah kita terdukung
 sekali dan bebas melaksanakan kegiatan inovasi di lembaga sendiri yang tidak
 harus selalu dituntun dari pusat, Warga masyarakat yang mempunyai
 komitmen tinggi terhadap perkembangan pembaharuan pendidikan”(Kepala
 Madrasah, 08/08/2005).

     Menurut Pak Mas’udi kemudahan dalam mengembangkan manajemen

 berbasis sekolah di MTsN Malang I adalah sebagai berikut:


 “Adanya kesamaan visi antara unsur pimpinan dan bawahan yang ada di
 lembaga ini dan juga adanya kesamaan misi antara pihak lembaga dan
 pendukung yaitu steak holder”(Wakaur Humas, 13/08/2005).
                                                                        60




   Masih mengenai kemudahan dalam mengembangkan manajmen berbasis
sekolah di MTsN Malang I menurut Drs. Mujtahid selaku Waka Kurikulum
memberikan tanggapan sebagai berikut:
"Tidak adanya campur tangan dari pihak lain, sekolah bebas mengembangkan
dan mengelola pendidikan sesuai dengan kemampuan sekolah”(Wakaur
Kurikulum, 25/07/2005).


   Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemudahan

dalam mengembangkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah adanya

kesamaan visi dan misi antar semua komponen madrasah, tidak ada campur

tangan dari pihak manapun dalam mengembangkan madrasah dan madrasah

bebas mengembangkan pendidikan sesuai dengan kebutuhan madrasah.



   b. Faktor kesulitan

   Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi dan

budaya mendorong perubahan kebutuhan dan kondisi serta menimbulkan

berbagai tantangan yang semakin kompleks dalam mewujudkan visi dan misi

dan melakukan inovasi di sekolah, kepala sekolah akan dihadapkan pada

beberapa masalah. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh kepala sekolah

sebagai berikut:

“Kesulitan dalam mengembangkan manajemen berbasis sekolah pertama
adalah masalah dana walaupun sekolah negeri tapi kebanyakan guru disini
belum PNS sehingga membutuhkan dana yang besar. Tapi masalah itu bisa
dicarikan solusinya yaitu kerjasama yang baik dengan masyarakat melalui
komite madrasah sehingga masyarakat bisa mendukung kegiatan yang ada di
MTsN Malang I. Yang ke dua adalah sumber daya manusia yang
komitmennya masih rendah terhadap madrasah, tapi ada jalan keluarnya yaitu
diadakan musyawarah, diadakan pendekatan, disamping itu kepala sekolah
juga harus tahu sifat-sifat dari masing-masing sumber daya manusia yang ada
di MTsN Malang I sehingga kepala sekolah dapat mengatasi permasalahan
secara bersama-sama”(Kepala Madrasah, 08/08/2005).
                                                                      61




   Menurut Drs. Mujtahid kesulitan dalam mengembangkan Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) di MTsN Malang I adalah sebagai berikut:
"Sosialisasi program Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) belum maksimal
serta sumber daya manusia (SDM) yang kurang komitmen terhadap
madrasah”(Wakaur Kurikulum, 25/07/2005).


   Sedangkan menurut Drs. Supandri kesulitan dalam mengembangkan
Manajemen Berbasis Sekolah di MTsN Malang I adalah sebagai berikut:
"Pertama kurangnya komitmen dari tiap personal guru terhadap madrasah,
yang kedua adalah terbatasnya waktu serta kurang maksimalnya dukungan
dari orang tua"(Wakaur Kesiswaan, 03/08/2005).


   Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kesulitan dalam
mengembangkan manajemen berbasis sekolah (MBS) di MTsN Malang I
pertama adalah sumber daya manusia (SDM) yang kurang komitmen terhadap
madrasah, terbatasnya waktu serta sosialisasi program Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) kurang maksimal.
                                                                        62




                                BAB IV

                 KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN



Kesimpulan

  MTsN Malang dalam menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

     Kepala Madrasah tidak selalu menunggu kebijakan atau instruksi dari

     pusat dalam melaksakan program sekolah akan tetapi di sesuaikan dengan

     kebutuhan madrasah dan yang dimiliki madrasah. Kepemimpinan kepala

     madrasah dalam penerapan Manajemen berbasis sekolah bersifat

     demokratis, dimana dalam membuat dan merencanakan program sekolah

     selalu mengikutsertakan masyarakat yang dikenal dengan peran serta

     masyarakat misalnya dalam pembuatan rencana anggaran pendapatan

     belanja madrasah (RAPBM)

  Usaha Kepala Madrasah dalam mengembangkan manajemen berbasis sekolah

     di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang I adalah sebagai berikut:

     Dalam Manajemen Berbasis Sekolah terdapat komponen-komponen

        manajemen yaitu Manajemen Kurikulum dalam pengembanganya

        dengan adanya penambahan jam pelajaran, Manajemen Kesiswaan

        pengembangannya dengan unsur kemitraan, Manajemen Humas

        dengan diadakannya kegiatan parent's day, dan Manajemen Sarana

        Prasarana. Disamping itu setiap Wakaur harus selalu mencari dan

        mengakses informasi terkini yang berkaitan dengan peningkatan

        kualitas pendidikan madrasah dan setiap program yang di buat antar
                                                                              63




           wakaur dimusyawarahkan terlebih dahulu agar program yang

           direncanakan tidak berbenturan.

       Usaha kepala sekolah dalam mengembangkan Manajemen Berbasis

           Sekolah (MBS) di MTsN Malang I dari segi Sumber Daya Manusia

           (SDM) perlu ditingkatkan kualitasnya yaitu setiap tahun diadakan uji

           kompetensi untuk semua guru dalam bidang pengajaran apakah guru

           sudah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan sekolah apa

           belum,     karena peningkatan kualitas pendidikan merupakan proses

           yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya

           manusia (SDM).

Saran-saran

   Berdasarkan kesimpulan di atas penulis akan memberikan saran yang akan
menjadi masukan dan pertimbangan untuk perbaikan madrasah di masa yang akan
datang antara lain:
   Kepala madrasah sebagai pimpinan merupakan orang yang mempunyai

       kekuasaan untuk mengadakan perbaikan dan inovasi di madrasahnya. Oleh

       Karena itu hendaknya dalam meningkatkan mutu madrasah dan

       kemampuan siswa melalui peningkatan profesionalisme guru terlebih

       dahulu, sebab guru merupakan orang yang bersentuhan langsung dengan

       siswa, baik prilaku, kualitas guru akan selalu dicermati dan direspon oleh

       siswa.

   Sebagai seorang pimpinan dalam lembaga pendidikan perlu memberdayakan

       sumber-sumber yang ada secara efektif dan efisien terutama peran BP3

       sebagai mitra kerja, hal ini terkait dengan otonomi pendidikan menuju
                                                           64




Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan bagaimana kepala sekolah

memaksimalkan peran madrasah serta memaksimalkan partisipasi

masyarakat. Misalnya dalam hal penggalian dana dan pengawasan

terhadap para siswa.
65

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/26/2013
language:Unknown
pages:65
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com