skripsi pendidikan Efektifitas Pondok Ramadhan Terhadap Pengembangan Materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum

Document Sample
skripsi pendidikan Efektifitas Pondok Ramadhan Terhadap Pengembangan Materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum Powered By Docstoc
					                                        ABSTRAK
Mi’roj, Fifin Amiroh. 2005, Efektifitas Pondok Ramadhan Terhadap Pengembangan Materi
           Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum (Studi Kasus di SLTP Negeri 6 Malang).
           Skripsi, Program studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Universitas Islam
           Negeri Malang. Dosen Pembimbing: Drs. H. Muchlis Usman, M. Ag
Kata Kunci: Efektifitas, Pondok Ramadhan, Pendidikan Agama Islam

         Pembinaan Bulan suci Ramadhan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kita umat
beragama Islam. Pengaruh yang terasa adalah berubahnya siklus hidup kita selama sebulan
penuh (Dony.2004). Dalam menyikapi momen penting semacam ini, beberapa pihak sekolah
terutama sekolah-sekolah umum menjadikannya sebagai ajang meningkatkan kreativitas dan
pendalaman spiritual kaum remaja yang senantiasa berambisi untuk mengaktualisasikan diri
mereka dalam berbagai dimensi kehidupan manusia.
      Pondok Ramadhan sebagai alternatif pengembangan materi pendidikan agama Islam di
lembaga formal mendapatkan respon positf dari pemerintah pusat selaku pemegang kendali
stabilitas nasional suatu negara. Hal ini terlihat dari adanya undang-undang yang mengatur tata
pelaksanaan pondok Ramadhan. Oleh karena itu pembinaan moral yang dilakukan melalui
kegiatan pondok Ramadhan perlu ditinjau lebih cermat tingkat efektifitas dan efisiensinya.
         Adapun yang menjadi fokus dari studi ini adalah mencari keterangan sedetail-detailnya
tentang efektifitas pelaksanaan pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang, yang penulis
jabarkan dalam rumusan masalah berikut ini: (1) Konsep pondok Ramadhan yang efektif dan
efisien di sekolah umum, (2) Aplikasi kegiatan pondok Ramadhan yang efektif dan efisien dalam
mengembangkan materi pendidikan agama Islam di sekolah umum
      Dan tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui konsep pondok Ramadhan di
sekolah umum; (2) Untuk memperoleh informasi tentang aplikasi kegiatan pondok Ramadhan
yang efektif dan efisien dalam mengembangkan materi pendidikan agama Islam di sekolah
umum
         Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif rancangan studi kasus. Teknik
Pengumpulan data dilakukan melalui: (1) interview (wawancara); (2) observasi (pengamatan);
(3) dokumentasi. Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik purposive
sampling. Sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Adapun analisis datanya
dilakukan dengan (1)pengambilan keputusan; (2) pembatasan kajian yang diperoleh; (3)
pengembangan pertanyaan-pertanyaan; (4) perencanaan tahapan-tahapan pengumpulan data dan
(5) penulisan catatan bagi diri sendiri mengenai hal yang dikaji.
         Dari hasil analisis data di lapangan telah diperoleh informasi bahwa konsep pondok
Ramadhan yang efektif dan efisien di sekolah umum adalah konsep yang mengacu pada tujuan
pendidikan agama Islam, yaitu agar siswa memahami, menghayati, meyakini dan mengamalkan
ajaran Islam sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan
berakhlaq mulia (GBPP PAI, Kurikulum 1999). Dan berdasarkan pada tujuan pendidikan agama
secara umum yaitu untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan
tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan (UUSPN No.2/ 1989). Dengan kata lain,
pendidikan agama Islam tersebut ditujukan untuk merubah perilaku peserta didik dengan
pembentukan pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berperilaku
Islami. Adapun konsep tersebut meliputi aspek keimanan, ibadah (fiqih), al-Qur’an, Tarikh
(sejarah), akhlak (budi pekerti) dan narkoba.

        Dan dalam mengaplikasikan konsep pondok Ramadhan tersebut dilakukan dengan
menjalin kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat (masyarakat akademik maupun umum)
sesuai dengan materi yang sudah ditentukan sebelumnya.
        Dari pengoptimalisasian kegiatan pondok Ramadhan ini setidaknya berimplikasi pada
perkembangan spiritual siswa-siswis di sekolah umum dengan adanya internalisasi nilai-nilai
agama dalam jiwa mereka. Dan juga dapat meminimalisir adanya beberapa bentuk
penyimpangan norma yang ada di tengah masyarakat, khususnya masyarakat sekolah di mana
mereka menghabiskan sebagian waktunya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

           Kompleksitas problematika kehidupan di era globalisasi telah menawarkan banyak

tantangan dan keuntungan bagi kelangsungan hidup manusia. Dan tantangan yang paling berat

dalam hal ini adalah persoalan pilihan nilai moral, budaya, dan keagamaan, terutama bagi

kalangan remaja. Hal ini disebabkan oleh faktor psikologis mereka yang mengalami masa

pubertas (masa pencarian nilai-nilai/ norma yang dirasa sesuai dengan dunianya). Tantangan

tersebut nampaknya menjadi problematika tersendiri bagi para guru agama untuk segera diatasi

atau bahkan diantisipasi sedini mungkin.1

           Abu Ahmadi juga menjelaskan bahwa penanaman nilai-nilai agama Islam sejak dini

sangatlah diperlukan guna mendukung dan mewujudkan tujuan dari pendidikan agama Islam.

Terutama pada masa seperti saat ini, di mana multi krisis telah sangat akrab dengan kehidupan

kita, khususnya masalah krisis moral. Selain itu, agama Islam memuat ajaran tentang tata hidup

yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Atau, dengan kata lain bahwa ajaran Islam

berisi pedoman–pedoman pokok yang harus digunakan untuk menyiapkan kehidupan yang

sejahtera di dunia sekarang dan di akhirat nanti. 2

           Dengan demikian, peran guru agama Islam di sekolah sangat berpengaruh dalam

pembinaan karakter/ kepribadian siswa yang dididiknya. Sebab materi pendidikan agama yang

diajarkan lebih sering menyentuh masalah moral dan perilaku manusia baik sebagai makhluk

individu maupun makhluk sosial. Dalam hal ini, guru agama diharapkaan dapat mengembangkan

potensi positif yang dimiliki oleh setiap siswanya. Karena pada dasarnya setiap insan itu

membawa potensi kebaikan sebagaimana telah disabdakan Rasulullah saw:

1
    Qomar, Mujamil. 2003. Meniti Jalan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. h. 246-247
2
    Ahmadi, A. dan Uhbiyatti, N. 2001. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 110
                                     :



                                .(       ‫ح‬    ‫خ ي‬        ‫ب‬        ‫ئ‬        ,   : 1270, ‫ذ‬   )




     Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Tiada seorang anak pun yang dilahirkan kecuali dalam

               keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani,

               ataupun Majusi sebagaimana binatang ternak yang dicocok hidungnya dan apakah

               kamu menganggap hal itu sebagai suatu paksaan"(H.R. Bukhori, Kitab Jenazah, no

               1270, Bab ketika seorang anak masuk Islam).3

           Masruhi Sudiro4 dalam bukunya “Islam Melawan Narkoba” menyatakan bahwa kurang

lebih 30% penduduk Indonesia adalah remaja yang berusia 10-24. tahun. Selain merupakan

potensi yang luar biasa bagi usaha-usaha pembangunan, maka usia tersebut merupakan sasaran

utama penyalahgunaan narkotika. Hal tersebut akan menjadi semakin runyam manakala kita

ketahui bahwa kegiatan kejahatan narkotika adalah kejahatan yang terorganisasi dengan rapi dan

bersifat internasional yang beroperasi dengan sistem jaringan yang tertutup dan rahasia.

           Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi para guru agama untuk mengabaikan masalah

kontekstualisasi pengajaran agama agar para siswanya dapat menyerap esensi dari ajaran agama

tersebut dengan baik dan benar. Dengan demikian, penafsiran al-Qur'an secara kontekstual


3
    Bukhori.1992. Shohih Bukhori. Beirut-Libanon: Darul Kutub Al-Ilmiyah
4
    Sudiro, Masruhi. 2000. Islam Melawan Narkoba. Cet. I. Yogyakarta: CV. Adipura. h. 10
sangat diperlukan, mengingat bahwa al-Qur'an diturunkan bukan saja untuk berdialog dengan

orang-orang yang hidup di masa sekarang, maupun untuk orang-orang yang hidup di masa yang

akan datang.5

        Proses pemwahyuan al-Qur'an meski secara bertahap, tetapi cakupan maknanya

menjangkau ke seluruh ruang dan waktu manusia. Karena autentitas al-Qur'an selalu

diperhadapkan kepada dua hal pokok. Pertama, bagaimana al-Qur'an selalu aktual dan koheren

dengan kebutuhan masyarakatnya. Kedua, bagaimana orisinalitas keberadaan al-Qur'an tetap

terjaga meski penafsiran atasnya tetap berubah-ubah.6

        Dan seorang guru agama, hendaknya sebelum menanamkan nilai-nilai agama harus

mencermati berbagai pendekatan dan metode yang tepat untuk diterapkan. Sebab, tujuan yang

baik belum tentu mendapat respon positif, jika metode penyampaiannya tidak sesuai dengan

karakter yang dimiliki siswa, begitu juga dengan karakteristik materi yang akan disampaikan.

Sebaiknya para guru agama melakukan pedekatan yang bersifat dialogis dan sosiologis,

bukannya pendekatan yang bersifat normatif dogmatis sebagaimana yang telah terjadi di

beberapa sekolah selama ini.

         Kadang-kadang ada perlunya siswa kita ajak mengalami proses inter-disiplinaritas dalam

menghadapi kasus-kasus yang kompleks, agar pengetahuan siswa berkembang menjadi lebih

luas, terintegrasi, dan tersusun logis, untuk menghindari berpikir yang sempit dan kerdil.7

        Dalam hal ini, sekolah seringkali memanfaatkan momen yang sangat berharga bagi umat

Islam yaitu bulan suci Ramadhan, karena bulan ini merupakan kesempatan yang sangat berarti

sekali bagi para guru agama untuk lebih memperdalam pemahaman siswa terhadap ajaran

5
   Shihab, Umar. 2003. Kontekstualitas Al- Qur'an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur'an. Jakarta:
   Penamadani. h. 25
6
  Ibid, h. 179
7
  Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Cet. Ke VI. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 158
agamanya. Beraneka model kegiatan yang dilakukan dalam menyemarakkan bulan suci ini.

Kegiatan–kegiatan semacam ini lebih dikenal dengan kegiatan pondok Ramadhan.

       Pondok    Ramadhan     merupakan    suatu    kegiatan   pendidikan   keagamaan    yang

diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal baik yang berbasis umum maupun agama. Di

samping itu kegiatan semacam ini merupakan aset nasional dalam pembinaan moral remaja

sebagai langkah preventif dan kuratif yang cukup efektif dan efisien. Sebab tindakan semacam

ini dapat digolongkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menunjang keberhasilan siswa

dalam mengikuti bidang studi agama, walaupun sifatnya insidental.

       Pendekatan yang dilakukan oleh para pembina pondok Ramadhan diharapkan dapat

menyentuh rohani mereka untuk melihat lebih jauh peran mereka di dunia ini. Setidaknya

fenomena seperti ini menjadi suatu tradisi yang perlu dipertahankan dan dilestarikan serta

dikembangkan sedemikian rupa, sehingga bisa mencapai target dengan efektif dan efisien. Dan

tentunya selama masa-masa perkembangannya, pondok Ramadhan memiliki dinamika tersendiri

yang seharusnya mendapat perhatian serius dari para pihak sekolah atau para pemerhati

pendidikan, terutama untuk mengatasi dan mengantisipasi berbagai bentuk dekadensi moral

remaja, seperti free sex yang semakin membudaya sebagai akibat dari pergaulan bebas yang

selama ini telah berubah menjadi trend anak muda.

       Pada dasarnya kegiatan pondok Ramadhan ini menjadi sarana tafaqquh fi al-din

(pendalaman agama) yang mengemban misi kerasulan Nabi Muhammad saw, sekaligus

melestarikan ajaran Islam yang selama ini mulai dikesampingkan oleh anak-anak dan kaum

remaja sekolah yang notabene mereka tergolong masyarakat terpelajar dan terdidik. Di samping

itu, melalui kegiatan pondok Ramadhan diharapkan internalisasi nilai-nilai dan pesan moral

agama dapat tercapai dengan baik.
          Dan maksud Tuhan untuk menurunkan firman-firman-Nya sebagai hudan (petunjuk), nur

(cahaya), tibyan (penjelas), dan syifa' (obat) menjadi tidak bisa ditangkap oleh manusia lantaran

mayoritas umat Islam masih terpaku pada makna teks. Akhirnya, bagaimana sebuah pemahaman

wacana qur'anik mesti dihidupkan adalah dengan menciptakan ide-ide yang bisa diterima oleh

semua umat manusia dan berbagai fungsi penurunan al-Qur'an itu bisa dipenuhi. Cita cita al-

Qur'an bukan eksklusif, tapi humanis dan universal sebagai rahmatan li al-'alamiin.8

          Salah satu unsur utama dalam kegiatan pondok Ramadhan agar berjalan optimal adalah

pengembangan variasi metode pengajarannya. Karena suatu materi yang berkualitas tinggi, jika

tidak disampaikan dengan menggunakan strategi yang jitu, maka mustahil dapat mencapai target

ataupun tujuan yang telah ditentukan dengan rapi dalam perencanaan sebelumnya secara efektif

dan efisien.

          Meskipun kegiatan semacam ini sangat membantu meringankan para guru agama sebagai

pengemban misi moral di sekolah, namun tidak akan berhasil dengan baik, jika tidak didukung

dengan lingkungan belajar yang kondusif. Dengan kata lain, metode, materi, media dan unsur

pendidikan lainnya harus benar-benar dijadikan sebagai konsentrasi awal dalam proses

pembinaan moral siswa-siswinya, terutama yang seringkali bermasalah dengan guru bimbingan

konseling.

            Namun realita menyatakan adanya bentuk-bentuk pengajaran yang hanya mencapai

proses transfomasi ilmu pengetahuan tanpa ada penanaman nilai-nilai yang seharusnya tertancap

dalam diri setiap siswanya. Di samping itu, saat ini sangat minim sekali pihak sekolah yang

mengadakan program-program kegiatan pondok Ramadhan yang didesain khusus bagi kalangan




8
    Burhan, A. Najib. 2001. Islam Dinamis Menggugat Peran Agama, Membongkar Doktrin yang Membatu. Jakarta:
    Penerbit Buku Kompas. h. 102
remaja yang lebih menantang dan merangsang mereka untuk berpartisipasi secara utuh dalam

mengikuti kegiatan ini.

     Berdasarkan fenomena yang telah dipaparkan di atas, penulis sengaja memilih judul dalam

     penelitian dan skripsi ini, yaitu: “EFEKTIFITAS PONDOK RAMADHAN TERHADAP

     PENGEMBANGAN MATERI PENDIDIDKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH

     UMUM" (Studi Kasus di SLTP Negeri 6 Malang).

B.    RUMUSAN MASALAH

          Berdasarkan pada latar belakang tersebut di atas, penulis dapat memaparkan rumusan

masalahnya sebagai berikut:

     1. Bagaimana konsep pondok Ramadhan yang efektif dan efisien di sekolah umum?.

     2. Bagaimana aplikasi konsep pondok Ramadhan yang efektif dan efisien dalam

           mengembangkan materi pendidikan agama Islam di sekolah umum?.

C. TUJUAN PENELITIAN

          Penulisan skripsi ini didasarkan pada suatu metode peneltian yang memiliki tujuan

sebagai berikut:

     1.    Untuk mengetahui konsep pondok Ramadhan di sekolah khususnya sekolah umum.

     2. Untuk mengetahui aplikasi kegiatan pondok Ramadhan yang efektif dan efisien dalam

           mengembangkan materi pendidikan agama Islam di sekolah umum.

D. MANFAAT PENELITIAN

          Penelitian ini diharapkan bemanfaat, di antaranya sebagai berikut:

           1. Sebagai media pengembangan ilmu bagi peneliti atas ilmu pengetahuan yang telah

                diperoleh selama menempuh masa studi.
           2. Sebagai sumber informasi bagi para pemerhati pendidikan agama Islam terutama

              para praktisi pendidikan yang ada di sekolah umum.

           3. Sebagai informasi bagi peneliti yang ingin mengkaji lebih lanjut tentang kegiatan

              pondok Ramadhan di sekolah umum.

E. RUANG LINGKUP PENELITIAN

       Pada dasarnya pola pengembangan materi pendidikan agama Islam yang berkembang di

sekolah umum cukup beragam, oleh karena itu penulis memfokuskan pembahasan dalam

penelitian ini pada:

1. Konsep pondok Ramadhan yang diterapkan di SLTP Negeri 6 Malang pada tahun 2004.

2. Aplikasi konsep pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang pada tahun 2004.

F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

       Untuk lebih memudahkan pemahaman dalam penulisan skripsi ini, maka penulis membagi

menjadi lima bab yang susunan operasionalnya berdasarkan sistematika pembahasan sebagai

berikut:

       Bab pertama, memaparkan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika pembahasan.

       Bab kedua, menjelaskan tentang kajian teoretis yang meliputi pondok Ramadhan, materi

Pendidikan agama Islam dan efektifitas pendidikan agama Islam. Bab ketiga, berupa desain

penelitian yang meliputi obyek penelitian, instrumen penelitian, sumber data, prosedur

pengumpulan data, teknik analisis data.

      Bab keempat, menjelaskan tentang kajian empiris yang berupa laporan hasil penelitian

yaitu penyajian data dan analisis data yang berkaitan dengan konsep pondok Ramadhan, serta

aplikasi konsep pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang.
      Selanjutnya pada bab kelima merupakan kesimpulan dan saran-saran dari peneliti guna

mengembangkan model kegiatan pondok Ramadhan di sekolah umum.
                                                 BAB II

                                       KAJIAN TEORETIS

A. PONDOK RAMADHAN

     1. Pengertian Pondok Ramadhan

        Karel A. Steenbrink berpendapat bahwa asal usul istilah pondok berasal dari bahasa Arab

“Funduq” yang berarti pesanggrahan atau penginapan bagi orang yang bepergian. Dalam kamus

besar bahasa Indonesia, kata pondok memiliki arti madrasah dan asrama (tempat mengaji; belajar

agama), seperti pondok Gontor.9

        Abdurrahman Wachid juga sering menggunakan istilah yang semakna dengan kata

pondok yaitu pesantren, di mana secara teknis pesantren adalah tempat tinggal santri. Pengertian

tersebut menunjukkan ciri pesantren yang paling penting, yaitu sebuah lingkungan pendidikan

yang sepenuhnya total, tiap pesantren mengembangkan kurikulumnya sendiri dan menetapkan

institusi-institusi pendidikannya sendiri dalam rangka merespon tantangan dari luar.10

        Adapun yang berkenaan dengan Ramadhan, Ahmad Syarifuddin menyatakan bahwa

Ramadhan berasal dari asal kata bahasa Arab “ramadha-yarmudhu-ramadhan” yang artinya

panas membakar. Orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama

ke bahasa Arab, mereka menamakan bulan itu menurut masa yang dilaluinya. Kebetulan bulan

Ramadhan pada masa itu melalui masa panas akibat sengatan terik matahari. Panas

membakarnya bulan Ramadhan bisa juga berarti bulan Ramadhan memberikan energi untuk

membakar dosa-dosa yang dilakukan manusia.11Adapun menurut kamus bahasa Indonesia, kata


9
   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. h. 695
10
   Wahid, A dalam Burhani, Ahmad Najib. 2001. dalam Islam Dinamis Menggugat Peran Agama, Membongkar
   Doktrin Yang Membatu. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. h.
11
   Mukhtarussihah: 265 dan Tartib Qamus Muhith: 390 dalam Syarifuddin, A. 2003. Puasa menuju Sehat Fisik dan
   Psikis. Jakarta: Gema Insani Press. Cet I. h. 16
Ramadhan mempunyai arti bulan ke sembilan (bulan puasa) menurut perhitungan tahun

hijriyah.12

           Dengan demikian istilah pondok Ramadhan mengandung arti suatu rangkaian kegiatan

pembelajaran agama secara totalitas (adanya penginapan/pemondokan selama satu hari atau

lebih) yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dalam rangka mempersiapkan anak

didiknya untuk menjadi generasi yang memiliki kedalaman spiritual dan berkepribadian Islami

yang dilakukan di bulan Ramadhan.

2. Sejarah Pondok Ramadhan di Sekolah Umum

           Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak akan terwujud secara sempurna tanpa

adanya iklim keagamaan dalam kehidupan sekolah. Adapun salah satu usaha untuk

meningkatkan ketaqwaan tersebut adalah dengan pengisian bulan Ramadhan dengan kegiatan-

kegiatan murid/ siswa yang beragama Islam agar dapat meningkatkan penghayatan dan

pengamalan ajaran agama Islam.13

           Keterbatasan alokasi waktu pembelajaran agama di kelas-kelas reguler juga berimplikasi

pada pemahaman siswa yang masih dangkal terhadap ajaran agamanya. Padahal di sisi lain

seorang guru agama dituntut untuk mengembangkan materi pendidikan agama sedemikian rupa,

agar tujuan pendidikan agama tersebut dapat tercapai.

           Berdasarkan fenomena tersebut, tanggal 30 Januari 1984, Direktur Jenderal Pendidikan

Dasar dan Menengah (Prof. Darji Darmodiharjo, S. H) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

dan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (Drs. N. Zaini Dahlan, M. A)

Departemen Agama Pusat menginstruksikan kepada seluruh sekolah/ kursus tingkat dasar dan

menengah untuk menyelenggarakan kegiatan pondok Ramadhan seoptimal mungkin.

12
     Departemen Pendidikan dan Kebudyaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. h. 723
13
     Departemen Agama. 1998. Himpunan Perundang-undangan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum. h.
     545-546
           Hal ini tertuang dalam Keputusan Bersama Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan

Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Direktur Jenderal Pembinaan

Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama No 015/ C/ Kep/ I/ 84 dan No.E/ HK. 005/ 14/

84 tentang pedoman pelaksanaan kegiatan peningkatan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha

Esa selama bulan Ramadhan bagi sekolah/ kursus dalam lingkungan pembinaan Direktorat

Jenderal pendidikan dasar dan menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

       Adapun yang berkenaan dengan permasalahan teknis akan diatur dalam undang-undang

sistem pendidikaan nasional dan peraturan pemerintah setempat dalam ketentuan tersendiri.

3. Azas Pondok Ramadhan di Sekolah Umum

           Kegiatan pondok Ramadhan yang dilakukan oleh sekolah tentunya tidak berjalan begitu

saja, tanpa adanya pertimbangan manfaat dan dampak positif bagi para siswa di sekolah tersebut.

Maka dari itu, kegiatan ini secara konstitusional berazaskan Pancasila dan UUD 1945

sebagaimana kedua hal tersebut merupakan ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia

sebagai bangsa yang beragama.

           Dan posisi pendidikan agama telah diperjelas dalam UUSPN No. 20 tahun 2003, yang

dapat dilacak dari rumusan tujuan pendidikan nasional. Dalam UUSPN tersebut dijelaskan

bahwa:

       "Tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah untuk mencerdaskan dan mengembangkan manusia Indonesia

       seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,

       memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri

       serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan".14

           Adapun rumusan tujuan pendidikan nasional, tercantum dalam Tap MPR Tahun 1978

tentang GBHN adalah sebagai berikut:

14
     UU RI No. Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasonal Beserta Penjelasannya. Bandung: Citra Umbara. Bab
     II Psl. IV
     "Pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan

     terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertiggi budi pekerti, memperkuat kepribadian

     dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia pembangun yang dapat membangun

     dirinya sendiri dan bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa".

         Mungkin karena kesadaran akan hal inilah, maka dalam UU No. 2/1989, ditetapkan

bahwa pendidikan agama wajib diberikan dalam kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang

pendidikan.15 Dengan ketetapan ini, maka kini secara hukum, pendidikan agama menjadi wajib

diberikan, bukan saja di sekolah negeri tetapi juga di sekolah swasta, bukan saja di jalur

pendidikan sekolah (termasuk pendidikan kedinasan, luar biasa, dan profesional), tapi juga di

jalur pendidikan luar sekolah (seperti kursus-kursus keterampilan).16

         Pada dasarnya pondok Ramadhan merupakan pengembangan dari pendidikan agama

Islam di sekolah. Dan pelaksanaan kegiatan pondok Ramadhan juga didasarkan pada dua

pedoman pokok umat Islam yaitu al-Qur'an dan al-Hadits sebagaimana yang tertuang dalam

Firman Allah Q. S. Adz-Dzariyaat (51): 56 Juz 27

                       (‫)65 : ذ ري ت‬

     Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

                 menyembah-KU".17

         Memang pada dasarnya tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepada

Allah SWT seiring dengan peran penting yang telah diembannya sejak manusia dilahirkan yaitu

sebagai khalifah fi al-ardhi. Sedangkan reinterpretasi ayat tersebut di atas telah diejawantahkan

dalam pola perilaku kehidupan Rasulullah saw. Karena akhlaq beliau adalah al-Qur'an seperti


15
   UU RI No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya, Bandung: Citra Umbara.
   Psl. 39, ayat (2), UU no. 2/1989
16
   Furqan, Arif. Pergeseran Sifat Konfensionalitas Pendidikan Nasional. Dalam 2004. Ulul Albab (Jurnal Studi
   Islam, Sains Dan Teknologi), Vol. 5 No. Malang:UIN Malang. h. 77
17
   Departemen Agama RI. 2000. Al-Qur'an Dan Terjemahnya Juz 1-30. Surabaya: CV. Karya Utama. h. 852
yang telah digambarkan oleh istrinya yang bernama Siti 'Aisyah. Beliau juga menegaskan peran

atas eksistensinya di dunia ini tidak terlepas dari penyempurnaan moral manusia yang seringkali

terjerumus ke dalam nafsu binatang. Sabda Rasulullah saw:

                     ‫ر‬                           ‫ي‬

                                        ‫ي‬        :            ‫ر‬

                         . (‫ذ‬   ‫يث‬          )

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik".18

           Dengan demikian pelaksanaan kegiatan pondok Ramadhan hendaknya mengacu pada

keempat pedoman yang telah disebutkan di atas. Tanpa memperhatikan pokok-pokok kehidupan

bernegara dan berbangsa tersebut, kemungkinan terbesar adalah ketidak singkronan antara dunia

pendidikan dan realitas sosial kehidupan para siswa yang notabene mereka adalah obyek dari

pelaksanaan kegiatan pondok Ramadhan ini.

4. Tujuan Pondok Ramadhan di Sekolah Umum

           Tujuan pendidikan seharusnya bukanlah pengajaran pengetahuan agama dan praktek-

praktek ibadah semata, tetapi yang terpenting ialah pendidikan moral yang hal tersebut

terkandung dalam nilai-nilai pendidikan agama.19

           Pada dasarnya kegiatan pondok Ramadhan yang selama ini terlaksana di berbagai

sekolah umum dan agama bertujuan untuk merealisasikan keimanan dan ketaqwaan manusia

terhadap Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari khususnya di lingkungan sekolah.

           Al-'Aynayni membagi tujuan pendidikan Islam menjadi tujuan umum dan khusus. Tujuan

umum ialah beribadah kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada


18
     Imam Ahamad bin Hanbal. 1993. Musnad Ahmad bin Hanbal. Beirut-Libanon: Darul Kutub al- Ilmiyah
19
     Nasution, H. 1996. Islam Rasional. Badung: Mizan. h. 386
Allah. Selanjutnya ia mengatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya tetap, berlaku di segala

tempat, waktu dan keadaan. Tujuan khusus pendidikan Islam ditetapkan berdasarkan keadaan

tempat dengan mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi, dan lain-lain yang ada di tempat

itu. Tujuan khusus ini dapat dirumuskan berdasarkan ijtihad para ahli di tempat itu. Selanjutnya

ia membagi aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan Islam, jadi bukan pembagian tujuan

pendidikan menjadi tujuan-tujuan khusus. Aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan Islam

menurutnya ialah sebagai berikut:20

       a. Aspek jasmani,

       b. Aspek akal,

       c. Aspek akidah,

       d. Aspek akhlak,

       e. Aspek kejiwaan,

       f. Aspek keindahan,

       g. Aspek kebudayaan.

           Maka dari itu, hendaklah untuk merumuskan tujuan khusus kegiatan pondok Ramadhan

pihak sekolah memperhatikan aspek–aspek tersebut di atas, kaitannya dengan kondisi siswa-

siswinya serta sarana prasarana yang dimiliki oleh sekolah itu sendiri. Hal ini perlu dilakukan,

karena setiap sekolah memilki perbedaan dalam situasi dan kondisi belajar siswanya, sehingga

kebutuhan pendidikan yang ada pada diri siswa tentunya berbeda pula meskipun tidak terlalu

mendasar. Seperti problematika yang dihadapi oleh siswa di perkotaan tentu berbeda dengan

problematika yang ada di pedesaan. Realitas seperti ini tampak pada keberadaan media informasi

yang tersedia jauh berbeda, yang mana                      hal itu sangat berpengaruh pada pola perilaku


20
     'Aynayni, 'Ali Khalil. 1980. Falsafat al-Tarbiyat al- Islamiyyat fi al-Qur'an al-Karim. Qahirah: Dar al-Fikri al-
     Arabi. h. 153-217
penyimpangan yang seringkali dilakukan oleh beberapa siswa. Misalnya kuantitas media internet

dan media informasi lainnya masih terbatas, begitu juga kontrol sosial masyarakatnya masih

dipertahankan secara ketat.

           Mengingat kekhawatiran akan pengaruh jangka panjang dari kemajuan iptek yang

mungkin melampaui batas, pendidikan agama Islam harus bertindak untuk mencegah bahaya-

bahaya yang menyertai kemajuan tersebut. Pendidikan Islam dituntut untuk mampu menciptakan

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bermuara pada nilai-nilai Islam.21

           Dengan meningkatkan penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam bagi umat Islam

melalui kegiatan pondok Ramadhan di sekolah, diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan

spiritual siswa dan meminimalisir berbagai bentuk dekadensi moral para remaja (siswa) yang

merupakan dampak negatif dari berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak

diiringi dengan penanaman nilai-nilai agama.



5. Kriteria Pembina Pondok Ramadhan Di Sekolah Umum

           Ada tiga unsur dalam kualitas pengajaran yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa,

yakni: 1) kompetensi guru, 2) karakteristik kelas (besarnya kelas/ class size, suasana belajar dan

fasilitas serta sumber belajar yang tersedia) dan 3)               karakteristik sekolah (disiplin sekolah,

perpustakaan, letak geografis sekolah, lingkungan sekolah, estetika [sekolah memberikan

perasaan nyaman dan kepuasan belajar, bersih, rapi dan teratur]).22

           Pembina pondok Ramadhan tak ubahnya dengan guru agama, karena keduanya memiliki

peran yang sama. Secara konstitusional, guru hendaknya berkepribadian Pancasila dan UUD

1945 yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, disamping ia harus memiliki kualifikasi


21
     Hasbullah. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 21
22
     Sudjana, N. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo. h. 43
(keahlian yang diperlukan) sebagai tenaga pengajar (Pasal 28 ayat 2 UUSPN/ 1989/ Bab VII

Pasal 28 ayat 2).23

        Seorang pembina pondok Ramadhan yang proaktif akan berusaha melakukan hal-hal

berikut ini:

     1. Mendudukkan GBPP (panduan pondok Ramadhan) sebagai ancer-ancer, bukan sebagai

        pedoman yang baku.

        Sehingga berimplikasi pada keberaniannya untuk melakukan analiasis materi, tugas dan

        jenjang belajar secara kontekstual. Sikap luwes seorang guru tampak pada keluwesannya

        dalam melaksanakan rencana dan selalu berusaha mencari pengajaran yang efektif.24

     2. Melakukan seleksi materi mana yang perlu diberikan dalam kelas di luar kelas. Guru

        yang luwes, menyampaikan materi sesuai dengan kebutuhan siswanya.25

     3. Mampu menggerakkan guru-guru lain untuk berperan serta dalam membina pendidikan

        agama di sekolah sesuai dengan keahlian yang mereka miliki.

        Pada prinsipnya guru hanya wajib bertanggung jawab atas terselenggarakannya proses

        belajar-mengajar bidang studinya saja, namun di samping itu, ia pun diharapkan ikut

        memikul tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan yang lebih jauh seperti tujuan

        institusional.26

     4. Selalu mencari model-model pembelajaran pendidikan agama atau mengembangkan

        metodologi pendidikan agama Islam secara kontekstual yang dapat menyentuh aspek

        kognitif, afektif, psikomotor.



23
   UU RI No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional Beserta Penjelasannya, Bandung: Citra Umbara.
   h.
24
   Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Rosdakarya. h. 228
25
   Ibid. h. 228
26
   Ibid. h. 239
        Pendekatan pengajaran yang digunakan oleh guru yang luwes lebih problematik,

        sehingga siswa terdorong untuk berpikir.27

     5. Siap untuk mengembangkan profesi secara berkesinambungan agar ilmu dan

        keahliannya tidak cepat tua (out of date).

        Guru yang memiliki konsep diri yang tinggi umumnya memiliki harga diri yang tinggi

        pula. Ia mempunyai keberanian untuk mengajak dan mendorong serta membantu dengan

        sekuat tenaga kepada para siswanya agar lebih maju, itu didasari oleh keyakinan guru

        tersebut terhadap kualitas prestasi akademik yang telah ia miliki. Oleh karena itu, untuk

        memilih konsep diri yang positif, para guru perlu berusaha mencapai prestasi akademik

        setinggi-tingginya dengan cara belajar dan terus mengikuti perkembangan zaman.28

     6. Berupaya melakukan rekayasa fisik, psikis, sosial dan spiritual dalam rangka mencapai

        tujuan pembelajaran pendidikan agama di sekolah.                   Seperti yang dicontohkan oleh

        Muhibbin, hendaknya seorang guru yang luwes dapat menggunakan humor secara

        proporsional dalam menciptakan situasi proses belajar mengajar yang menarik. 29

        Al- Ghazali dalam kitab Ihya' Ulum al-Din menggambarkan kewajiban guru yang adil

dan bijak sebagai berikut:30

     1. Mencintai siswanya dan menentukan tingkat pengetahuan yang cocok untuknya. Guru

        hendaknya mencintai muridnya seperti ia mencintai dirinya sendiri.31

     2. Menghindari kritik kasar karena akan mempertipis rasa malu dan kebencian serta

        perlawanan (pendidikan afektif/ sikap dan moral) dengan kata lain memberikan saran



27
   Ibid. h. 228
28
   Ibid. h. 233
29
   Ibid. h. 227
30
   Al-Ghazali. Ihya' 'Ulum Al-Diin
31
   Al-Kannani dalam Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. h. 94
           kebaikan yang akan mendorong siswa memikirkan tingkah lakunya serta merenungkan

           nasehat gurunya.

     3. Mengembangkan rasa hormat terhadap ilmu-ilmu selain ilmu yang ditekuninya

           (diajarkan) karena pada hakekatnya semua ilmu itu dari Tuhan.

     4. Mempertimbangkan daya tangkap siswa dan mengajarkan berdasarkan kemampuan

           tersebut (menguasai perkembangan psikologi).

     5. Memperhatikan secara khusus terhadap siswa yang tertinggal, berbeda dengan siswa

           lainnya yang rata-rata.

           Prof. Dr. Zakiah Darajat (1982) menegaskan pentingnya kepribadian seorang guru karena

"Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik/ pembina ataukah akan

menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan anak didik terutama bagi anak didik yang

masih kecil (tingkat menengah)". 32

           Dr. Nana Sudjana menjelaskan tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru,

yaitu:33

     1. Kompetensi Bidang Kognitif.

           Artinya seorang guru (pembina pondok Ramadhan) hendaknya memiliki kemampuan

           intelektual yang meliputi: penguasaan mata pelajaran (agama), pengetahuan mengenai

           cara mengajar, belajar dan tingkah laku individu, bimbingan belajar, administrasi kelas,

           cara menilai siswa, kemasyarakatan dan pengetahuan lainnya.

     2. Kompetensi Bidang Sikap.

           Artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas

           dan profesinya, misalnya: sikap menghargai pekerjaaannya, sikap mencintai dan

32
   Daradjat, Z. dalam Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung. PT. Remaja
   Rosdakarya. h. 225-226
33
   Sudjana, N. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. h. 18
        memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran (agama) yang dibinanya, sikap

        toleransi terhadap sesama teman profesinya, dan memiliki kemamauan untuk

        meningkatkan hasil pekerjaannya.

     2. Kompetensi Perilaku/ Performance.

                Artinya kemampuan seorang guru dalam berbagai keterampilan/ berperilaku,

        seperti: keterampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu (media)

        pengajaran, keterampilan bergaul/ berkomunikasi dengan siswa, menumbuhkan semangat

        belajar para siswa, dan keterampilan melaksanakan administrasi kelas. Adapun perbedaan

        antara kompetensi kognitif dengan kompetensi perilaku terletak pada sifatnya, yaitu

        antara teori dengan praktek/ keterampilan melaksnakannya.

                Dalam hal ini peran guru terhadap proses belajar-mengajar sangatlah penting.

        Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape

        recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak

        unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan lain-

        lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran tidak dapat dicapai melalui

        alat-alat tersebut.

                Dan patut dipahami bahwa dalam rangka pendewasaan siswa, seorang guru tidak

        semata-mata sebagai pengajar yang transfer of knowledge, tetapi juga "pendidik" yang

        tranfer of values dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan

        menuntun siswa dalam belajar.

6.   Materi Pondok Ramadhan di Sekolah Umum

        Materi yang diajarkan dalam pondok Ramadhan tidak terlepas dari materi pendidikan

agama Islam yaitu: materi keimanan, Ibadah, al-Qur'an, akhlaq, mu'amalah, syari'ah dan tarikh.
Karena pada dasarnya materi pondok Ramadhan merupakan penjabaran dari materi pendidikan

agama Islam sesuai dengan kurikulum yang sudah ditetapkan dari pemerintah pusat.

        Dr. E. Mulyasa mengatakan bahwa materi standar merupakan materi pokok untuk

mencapai suatu kompetensi sebagai bagian dari struktur keilmuwan suatu bahan kajian.34

         Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan materi pondok Ramadhan

adalah sebagai berikut:

     1. Materi harus aktual (masih hangat untuk diperbincangkan) seperti: trend pergaulan anak

        muda, mode dan sikap sufi Islami, sikap sufi di era post modern dan lain sebagainya.

        Menurut E. Mulyasa, materi standar harus Interest, berkaitan dengan tingkat kemenarikan

        materi, sehingga dapat mendorong peserta didik untuk belajar lebih lanjut.35

     2. Materi hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis anak remaja,

        meskipun kemampuan berpikir abstrak pada usia ini sudah mulai tampak namun belum

        optimal. Hal ini sesuai dengan kriteria significance, berkaitan dengan tingkat

        kepentingan, kebermaknaan, dan sumbangan materi tersebut terhadap pencapaian suatu

        kompetensi, sehingga materi tersebut penting untuk dipelajari.36

     3. Materi sebaiknya mencerminkan kenyataan sosial (sesuai dengan ketentuan hidup nyata

        dalam masyarakat). Sebagaimana dijelaskan oleh E. Mulyasa bahwa penjabaran materi

        hendaknya learnability, yakni berkaitan dengan kemungkinan materi tersebut untuk

        dipelajari, baik itu berkaitan dengan ketersediaan maupun kelayakan materi untuk

        dipelajari. 37




34
   Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cet. VI. h. 172
35
   Ibid. h. 172.
36
   Ibid. h. 172
37
   Ibid. h. 172
       4. Materi hendaknya mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep, yang

           terdapat didalamnya bukan sekedar informasi faktual.

       5. Materi harus mengandung pengetahuan yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk hanya

           karena perubahan tuntutan hidup. Penjabaran materi perlu memperhatikan kriteria

           validity, berkaitan dengan tingkat kesesuaian dan keterujian materi/ dapat dipertanggung

           jawabkan secara ilmiah).38

       6. Materi harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan Islam. E. Mulyasa

           mengungkapkan bahwa dalam penjabaran materi perlu memperhatikan kriteria Utility,

           yaitu berkaitan dengan tingkat manfaat atau kegunaan materi bagi siswa, baik secara

           akademis maupun non akademis.



7. Metodologi Pembinaan Pondok Ramadhan Di Sekolah Umum

         Di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar

secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk

memiliki strategi yang itu ialah harus menguasai teknik- teknik penyajian, atau biasanya disebut

metode mengajar.39

         Komaruddin Hidayat (1999) memberikan solusi perlunya menonjolkan dua pendekatan

sekaligus dalam mempelajari Islam yaitu: (1) mempelajari Islam untuk kepentingan dalam

mengetahui bagaimana cara beragama yang benar; (2) mempelajari Islam sebagai salah satu ilmu

pengetahuan. Dengan kata lain, belajar agama adalah untuk membentuk pribadi (aktor) beragama

yang memiliki komitmen, loyal dan penuh dedikasi dan sekaligus mampu memposisikan diri




38
     Ibid. h. 172
39
     Roestiyah, Op. Cit. h. 1
sebagai pembelajar, peneliti, dan pengamat yang kritis untuk peningkatan dan pengembangan

keilmuan Islam40

      Dalam menerapkan metode pembinaan pondok Ramadhan seorang guru dituntut untuk

lebih kreatif dan inovatif untuk mengatasi kejenuhan, siswa yang sering tidak tertarik agar

tertantang untuk berpartisipasi dalam kegiatan pondok Ramadhan. Di samping itu seorang guru

harus peka (selektif) terhadap penggunaan atau penerapannya baik yang berkenaan dengan

efektifitas maupun efisiensi waktunya dan ketersediaan dananya.

      Bila guru memerlukan beberapa tujuan untuk dicapainya, maka ia perlu mengenal dan

menguasai dengan baik sifat-sifat dari setiap penyajian sehingga ia mampu pula

mengkombinasikan penggunaan beberapa teknik penyajian tersebut sekaligus, untuk mencapai

beberapa tujuan yang telah dirumuskannya itu, dan tidak terasa kaku antara perubahan dari

teknik yang satu pada teknik yang lain.41

      Maka dari itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan variasi metode

pembinaan pondok Ramadhan, antara lain:

     1. Metode tersebut harus sesuai dengan karakter siswanya.

     2. Metode tersebut mengikuti tahap perkembangan psikologis siswa.

     3. Metode tersebut dapat meningkatkan daya kritis siswa.

     4. Metode tersebut dapat memotivasi siswa dalam mempelajari agama.

     5. Metode tersebut mampu menumbuhkan kreatifitas siswa.

        Menurut Roestiyah hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai standar pemahaman setiap

teknik penyajian (metode) antara lain:42


40
   Hidayat, K. (1999) dalam Muhaimin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. h.
   91
41
   Roestiyah, Op. Cit. h. 3
42
   Roestiyah. Op. Cit. h. 3-4
       1. Adanya pengertian apa yang dimaksud dengan teknik penyajian.

       2. Harus merumuskan tujuan-tujuan apa yang dapat dicapai dengan teknik penyajian yang

           digunakan itu.

       3. Bila teknik penyajian itu dapat digunakan secara efektif dan efisien atau tidak.

       4. Apakah teknik penyajian itu memiliki keunggulan dan kelemahan.

       5. Dalam penggunaan teknik penyajian itu, apa dan bagaimana peranan guru/ instruktur.

           Pelaksanaan tenik penyajian itu apa dan bagaimana peranan siswa.

       6. Harus menempuh langkah-langkah yang bagaimana, sehingga penggunaan teknik

           penyajian itu dapat berhasil guna dan mendaya guna.

       6. Metode tersebut harus sesuai dengan karakter siswanya.

       7. Metode tersebut mengikuti tahap perkembangan psikologis siswa.

       8. Metode tersebut dapat meningkatkan daya kritis siswa.

       9. Metode tersebut dapat memotivasi siswa dalam mempelajari agama.

           Ada beberapa metode yang dapat digunakan oleh para guru agama dalam

mengembangkan daya cipta dan kreatifitas siswa, seperti: metode diskusi, metode demonstrasi,

metode inquiri, metode resitasi/ pemberian tugas (individu maupun kelompok), metode

discovery (penemuan), metode brain storming (sumbang saran), metode simulasi, metode karya

wisata, metode sosiodrama, metode latihan (drill), metode dialog/ tanya jawab, metode ceramah,

metode non-directive (dengan cara melakukan observasi langsung maupun tidak langsung) dan

lain sebagainya.

           Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam rangka

penerapan metode yang tepat dan cocok sesuai dengan kebutuhan siswa adalah sebagai berikut: 43

       a) Mempermudah
43
     Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Cet III. Jakarta: Kalam Mulia. h. 162-164
        Metode pendidikan yang digunakan oleh pendidik pada dasarnya adalah menggunakan

        suatu cara yang memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk menghayati dan

        mengamalkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan sekaligus mengidentifikasi

        dirinya dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan

        tesebut.44

     b) Berkesinambungan

        Metode pendidikan yang digunakan pendidik pada waktu yang lalu merupakan landasan

        dan pijakan metode sekarang yang sedang digunakan, sementara metode yang sekarang

        dipakai menjadi dasar perencanaan bagi metode berikutnya, demikian seterusnya.

        Sehingga dengan beraneka macam metode yang saling berkesinambungan tersebut materi

        pendidikan dan pengajaran dapat berjalan dengan sistematis dan gamblang.45

     c) Fleksibel dan Dinamis

        Seorang pendidik mampu memilih salah satu dari berbagai alternatif yang ditawarkan

        oleh para pakar yang dianggapnya cocok dan pas dengan materi, multi kondisi peserta

        didik, sarana dan prasarana, situasi dan kondisi lingkungan, serta suasana pada waktu

        itu. 46 Dan prinsip kedinamisan ini, berkaitan erat dengan prinsip berkesinambungan,

        karena dalam kesinambungan tersebut metode pendidikan Islam akan selalu dinamis bila

        disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.47

        Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pendidikan Islam:

          a. Pendekatan Pengalaman



44
   Ibid. h. 162
45
   Ibid. h. 163
46
   Muhaimin dan Mudjib, A. (1993: 241) dalam Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. III. Jakarta: Kalam
   Mulia. h. 163
47
   Shalih dan Aziz, A. h. 193. dalam Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. h. 164
            Metode mengajar yang dapat diterapkan dalam pendekatan pengalaman, di

       antaranya: metode eksperimen, metode drill, metode sosiodrama dan bermain peranan,

       dan metode pemberian tugas belajar dan resitasi dan lain sebagainya.

       b. Pendekatan Pembiasaan

            Metode mengajar yang yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih dan digunakan

       dalam pendekatan pembiasaan antara lain: metode latihan (drill), metode pemberian

       tugas, metode demonstrasi dan metode eksperimen.

       c. Pendekatan Emosional

            Metode mengajar yang digunakan dalam pendekatan perasaan (emosional),

       adalah: metode ceramah, metode sosiodrama, dan metode bercerita (kisah).

       d. Pendekatan Rasional

            Metode mengajar yang digunakan dalam pendekatan rasional adalah: metode

       tanya jawab, metode kerja kelompok, metode latihan (drill), metode diskusi dan metode

       pemberian tugas.

       e. Pendekatan Fungsional

            Dalam hal ini ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain: metode

       latihan, metode ceramah, metode tanya-jawab, metode pemberian tugas, dan metode

       demonstrasi.

       f. Pendekatan Keteladanan

            Dalam pendekatan keteladanan ini ada beberapa metode yang dapat digunakan, di

       antaranya melalui performance, kepribadian, cerita, dan ilustrasi yang mengandung

       unsur keteladanan.

8. Alat/ Sarana Pembelajaran Dalam Pondok Ramadhan di Sekolah Umum
           Zakiah Daradjat menyebutkan pengertian alat pendidikan sama dengan media

pendidikan, sarana pendidikan. 48 Vernous, sebagaimana dipopulerkan oleh Zakiah Daradjat

menyebutkan bahwa media pendidikan adalah sumber belajar dan dapat juga diartikan dengan

manusia dan benda atau peristiwa yang membuat kondisi siswa mungkin memperoleh

pengetahuan, keterampilan atau sikap.49

           Pengelolaan sarana dan sumber belajar sudah sewajarnya dilakukan oleh sekolah, mulai

dari pengadaan, pemeliharaan, perbaikan sampai pada pengembangan. Hal ini didasari oleh

kenyataan bahwa sekolahlah yang paling mengetahui kebutuhan sarana dan sumber belajar, baik

kecukupan, kesesuaian maupun kemutakhirannya terutama sumber-sumber belajar yang

dirancang secara khusus untuk kepentingan pembelajaran.50

           Alat/ sarana merupakan salah satu unsur penunjang keberhasilan dalam proses

pembelajaran terutama dalam pondok Ramadhan. Dan sarana atau media pembelajaran

memegang peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembinaan moral.

           Dengan adanya media tugas seorang guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan akan

sedikit terselesaikan dengan mudah, hal ini dikarenakan media memiliki beberapa kelebihan,

seperti:

        1. Media mampu menjelaskan suatu (obyek) fakta yang yang terlalu lama dalam waktu

             yang singkat.

        2. Media dapat memotivasi siswa dalam proses belajar dan meningkatkan daya tarik

             mereka terhadap materi yang sedang diterangkan oleh gurunya.




48
     Daradjat, Z.1984. h. 80. dalam Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. h. 180
49
     Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. h. 181
50
     Mulyasa, E. Op. Cit. h. 184
          Media mampu mempermudah pemahaman dan menjadikan pelajaran lebih hidup dan

          menarik.51 Media dapat mempersempit obyek pembicaraan yang terlalu luas ke dalam

          suatu fakta yang simpel (sederhana).

     3. Media mampu meningkatkan daya kosentrasi siswa dalam proses belajar mengajar.

          Media menimbulkan kekuatan perhatian (ingatan) mempertajam indera, melatihnya,

          memperhalus perasaan dan cepat belajar. 52

         Penciptaaan dan pengkondisian iklim sekolah merupakan kewenangan sekolah, dan

kepala sekolah bertanggung jawab untuk melakukan berbagai upaya yang lebih intensif dan
             53
ekstensif.        Dan yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesesuaian dengan materi dan

karakteristik siswa, keefektifan serta efisiensi dalam penerapannya, baik di kelas maupun di luar

kelas.

         Sedangkan berikut ini adalah contoh dari beberapa media yang dapat digunakan oleh para

guru guna membantu kegiatan pembelajaran pendidikan agama, yaitu:

         1. Visual

                   Yang termasuk alat pendidikan material menurut versi Arif S. Sadiman adalah

          media grafis, dengan cara menuangkan pesan pengajaran ke dalam simbol-simbol

          komunikasi visual.54 Adapun contoh dari media grafis antara lain: gambar, foto, sketsa,

          bagan, chart, diagram, papan, poster, dan karton.

         2. Audio

                   Sementara itu, Ronald H. Anderson menuturkan, yang termasuk media dalam

          bentuk materiil adalah media auditif, di mana pesan-pesan pengajaran dituangkan


51
   Muhammad, A. Bakar. Op. Cit. h. 97
52
   Ibid, h. 97
53
   Mulyasa, E. Op. Cit: 184
54
   Sadiman, A. S. Op. Cit. h. 6
             dalam lambang-lambang auditif, yang termasuk media auditif, adalah tape recorder dan

             radio.55

                   Dalam kegiatan pondok Ramadhan, media tape recorder dapat difungsikan pada

             saat penyampaian materi al-Qur’an, maupun di waktu siswa tidak mendapatkan materi.

             Misalnya pemutaran kaset murattal Juz ‘Amma atau do’a beserta artinya dapat diputar

             ketika awal mereka memasuki halaman sekolah atau sebaliknya, karena hal ini akan

             mempermudah hafalan dan cukup efektif dalam penerapan metode drill. Lebih baik

             lagi, jika ada beberapa siswa yang memiliki kelebihan dalam hal seni baca al-Qur’an

             dan direkam kemudian diptar ulang dengan menggunakan pengeras suara, maka hal itu

             mampu meningkatkan semangat belajar mereka terhadap kajian baca al-Qur’an.

                   Ada tiga macam kode simbol yang biasa dipergunakan dalam kegiatan

             instruksional: simbol ikonik, simbol digital dan simbol analog. Kegiatan instruksional

             siaran radio mampu menyajikan simbol-simbol informasi dan simbol-simbol digital

             serta simbol analog, bahkan radio vission mampu menyajikan ketiga bentuk simbol

             tersebut.56

                   Namun siaran radio hanya bisa mengirimkan pesan dalam bentuk auditif dan

             sasaran       tidak   dapat   berkomunikasi     secara     langsung.    Sedangkan       dalam

             operasionalisasinya perlu memperhatikan organisasi siaran radio pendidikan yang

             meliputi:

             1) Pembuatan Program (menentukan isi siaran, mengolah isi menjadi naskah siaran

                 dengan massage design/ desain pesan, menyusun support materials [bahan penyerta

                 seperti: penentuan jadwal siaran, buku pedoman guru dan murid), perencanaan

55
     Anderson R. H. Op. Cit. h. 125
56
     Wijaya, C. dkk. 1988. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran. Bandung: CV. Remadja Karya .
     h. 167
               pedoman pelaksanaan, mengatur produksi bahan siaran ke dalam rekaman pita reel

               atau kaset, pengaturan distribusi program siaran yang mencakup perencanaan

               sistem dan jaringan kerja dalam penyebaran siaran maupun bahan penyerta dan

               bahan penunjang yang telah ditentukan]).

           2) Pemancaran Program Siaran (dengan pertimbangan luas daerah sasaran pendengar

               serta daya pancar yang diperlukan, perlu dipertimbangkan sistem jaringan

               pemancaran siaran)

           3) Pengaturan Penerimaan Siaran (penerimaan siaran diatur supaya jelas dan merata

               sehingga sasaran pendengar menerima siaran itu secara efektif).57

           3. Audio Visual:

                 Di samping media visual dan media auditif, media audio visual merupakan media

             yang berhubungan dengan indera pendengaran dan indera penglihatan sekaligus. 58

             Dengan menggunakan media ini pesan-pesan pengajaran dapat disaksikan dan

             didengarkan langsung pada saat yang bersamaan, yang termasuk pada jenis ini adalah

             TV dan Video.59

                 Penggunaan media TV bisa digunakan dalam bentuk pemutaran sirah nabawi atau

             VCD tentang teori penciptaan manusia milik Harun Yahya (bisa juga film-film Islami

             lainnya). Sehingga para siswa dapat terugah hatinya dengan adanya perjuangan para

             tokoh Islam maupun perkembangan ilmu pengetahuan yang selama ini belum

             terekspos secara luas di kalangan khalayak umum.

                Keefektifan TV sekarang telah didemonstrasikan dengan baik dalam lebih dari 100

             eksperimen dan beberapa ratus perbandingan lainnya, yang dilakukan di berbagai

57
   Ibid, h. 169
58
   Anderson, R. H. Op. Cit. h. 104
59
   Ramayulis. Op. cit, h. 183
             tempat di dunia, baik di negara berkembang maupun di negara industri, pada setiap

             tingkatan dari taman kanak-kanak sampai pendidikan orang dewasa, dan untuk aneka

             ragam mata pelajaran serta metode.60

                 Sebelum      siaran    guru     harus    memberikan        aktifitas-aktifitas   yang   akan

             meningkatkan minat siswa. Para siswa akan bertanya-tanya, membahas program dan

             ingin mengetahui tujuan menyaksikan siaran tesebut. Mereka akan segera

             mempersiapkan diri untuk mengikuti program TV.61



B. MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

      1. Materi Pokok Pendidikan Agama Islam

          Di dalam kurikulum pendidikan agama Islam termuat juga materi pendidikan agama

Islam yang diajarkan kepada siswa yang mencakup beberapa materi pokok sebagai berikut:62

     1) Aqidah: bersifat I’tiqad bathin, mengajarkan keesaan Allah, Esa sebagai Tuhan yang

        mencipta, mengatur dan meniadakan alam ini.

     2) Syari’ah: berhubungan dengan amal lahir dalam rangka mentaati semua peraturan dan

        hukum Allah, guna mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, dan mengatur

        pergaulan hidup dan kehidupan manusia.

     3) Akhlaq: suatu amalan yang bersifat pelengkap bagi kedua amalan di atas dan yang

        mengajarkan tentang tata cara pegaulan shidup manusia.

        Ketiga ajaran tersebut di atas dapat dijabarkan dalam bentuk rukun Iman, rukun Islam dan

akhlak yang dari ketiganya lahir beberapa ilmu, yaitu: ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu akhlaq



60
   Widjaya, C. dkk. Op. Cit, h. 172
61
   Ibid, h. 177
62
   Abudin Nata. 1997. Ilmu Pendidikan Islam 2. Bandung: Pustaka Setia. h. 127
yang kemudian dilengkapi dengan dasar hukum Islam yaitu al-Qur’an dan al- Hadits yang

ditambah dengan sejarah Islam (Tarikh Islam).

   Adapun ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan

keseimbangan antara:

   a) Hubungan manusia dengan Allah,

   b) Hubungan manusia dengan sesama manusia,

   c) Hubungan manusia dengna dirinya sendiri,

   d) Hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.

     Sedangkan ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam meliputi tujuh unsur

pokok, yaitu:

1) Keimanan

2) Ibadah

3) Al-Qur’an

4) Akhlak

5) Mu’amalah

6) Syari’ah

7) Tarikh

   2.Metode Pendidikan Agama Islam

    Menurut Abdul Majid sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, strategi pembelajaran

harus lebih variatif sehingga mampu menyentuh dasar lubuk hatinya sehingga dengan

kesadarannya sendiri menghayati norma-norma dan nilai-nilai agamanya, sehingga secara tidak

langsung membentuk kepribadiannya untuk menjadi siswa yang beriman dan bertaqwa bagi

dirinya, masyarakat maupun negaranya.
      Dalam proses belajar di kelas guru menggunakan metode-metode dan pendekatan-

pendekatan belajar agama yang lebih tepat guna dan berhasil guna, tepat pada sasaran

pembentukan nilai-nilai dan moral agama para peserta. Metode yang digunakan dalam

pembelajaran pendidikan agama Islam misalnya:63

      1) Metode Antisipatif

          Guru mengetahui semua permasalahan anak yang sering timbul dan mempersiapkan

          solusinya sedini mungkin sehingga di saat muncul permasalahan itu, maka ia akan

          segera menghadapi dan memecahkannya dengan cepat dan bijaksana.

      2) Metode Dialog Kreatif

          Siswa secara langsung berdialog dengan guru tentang suatu permasalahan yang sedang

          dihadapi. Anak didik mengungkapkan pendapatnya langsung dari hati nuraninya dan

          guru siap mendengar serta melayni semua permasalahan anak didik dan berupaya

          membantu mencarikan solusinya.

      3) Metode Studi Kasus

          Metode ini dilakukan dengan cara mengangkat suatu contoh permasalahan yang pernah

          terjadi pada diri seseorang atau kelompok orang untuk dijadikan rujukan atau contoh

          maupun teladan sebagai alternatif yangb bisa diambil.

      4) Metode Pelatihan

          Metode ini berupa pelatihan-pelatihan yaitu cara pelibatan fisik dan mental mereka

          untuk melakukan suatu perbuatan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya

          sehingga anak didik dapat mengembangkan intelektualnya secara baik dan benar.

      5) Metode Merenung


63
  Madjid, Abdul dan Dian Andayani. 2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Bandung:   PT.
Remaja Rosdakarya. h. 101-102
         Metode ini melatih anak didik untuk memikirkan permasalahan yang mereka miliki.

         Sehingga semuanya dapat dikembalikan kepada Allah SWT.

     6) Metode Lawatan

         Metode ini merupakan cara lawatan ke daerah-daerah dalam rangka meningkatkan rasa

         ukhuwah, persaudaraan sesama muslim, memupuk rasa persatuan dan kesatuan di

         antara sesama pelajar.

     7) Metode Kontemplasi

         Metode ini melatih siswa merenungkan kembali peristiwa-peristiwa di masa lalu

         sehingga membuahkan sifat sabar pada diri anak didik.

     8) Metode Taubat

         Metode ini merupakan sebuah cara agar siswa menyesali diri atas perbuatan-perbuatan

         yang mereka lakukan dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

     9) Metode-Metode Lain yang dapat digunakan dalam proses belajar agama di antaranya

         metode analisis, metode problem solving, metode ceramah, metode tanya jawab,

         metode pemberian tugas, metode analogi, metode sinektik, dan sebagainya.

 3. Evaluasi Pendidikan Agama Islam

       Evaluasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui sampai di mana penguasaan siswa

terhadap bahan yang telah diajarkan. Dalam evaluasi ini tidak hanya meliputi hasil belajar saja

melainkan juga meliputi tentang keterampilan maupun sikap atau yang mencakup aspek kognitif,

afektif dan psikomotorik.

       Menurut Suharsimi Arikunto tujuan dan fungsi evaluasi itu adalah:
       1) Evaluasi Berfungsi Selektif: yaitu evaluasi yang dilakukan guru kepada muridnya dengan

           tujuan siswa dapat diterima di sekolah tertentu, siswa dapat naik kelas dan lain

           sebagainya.

       2) Evaluasi Berfungsi Diagnostik: yaitu evaluasi yang digunakan untuk mengenal latar

           belakang siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan belajar yang kemudian dicari jalan

           keluarnya.

       3) Evaluasi Berfungsi Sebagai Penempatan: yaitu evaluasi yang digunakan untuk

           menempatkan murid pada situasi tertentu sesuai dengan kemampuannya.

       4) Evaluasi Berfungsi Sebagai Pengukur Keberhasilan: yaitu evaluasi yang digunakan

           untuk mengetahui keberhasilan suatu program.

           Adapun salah satu bentuk penilaian yang komprehensif terhadap ranah-ranah pendidikan

adalah penilaian hasil belajar dengan menggunakan portofolio. Dalam berbagai kegiatan belajar

mengajar di kelas misalnya, portofolio dilakukan dari kumpulan hasil belajar siswa yang

menunjukkan pemikiran, hasil usaha dan tujuan serta cita-cita mereka dalam berbagai aspek

yang terkait.

         Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, aspek yang dinilainya harus menyeluruh

dengan memperhatikan tingkat pekembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap

kompetensi dan materi. Misalnya aspek kognitif meliputi seluruh materi pembelajaran (al-

Qur’an, akhlalq dan ibadah), afektif sangat dominan pada materi pelajaran akhlaq dan aspek

psikomotor dan pengalaman sangat dominan pada materi pelajaran ibadah dan membaca al-

Qur’an.64




64
     Ibid. h. 189-190
C. EFEKTIFITAS PONDOK RAMADHAN TERHADAP                                     PENGEMBANGAN

   MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

   Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama Islam dalam mewujudkan harapan setiap

orang tua, masyarakat, stakeholder dan membantu terwujudnya tujuan pendidikan nasional,

maka pendidikan agama Islam harus diberikan dan dilaksanakan di sekolah dengan sebaik-

baiknya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa adanya pelaksanaan kegiatan pondok

Ramadhan di sekolah-sekolah sangat menunjang terhadap pengembangan materi pendidikan

agama Islam itu sendiri.

 1) Kelebihan Pondok Ramadhan Terhadap Pengembangan Materi Pendidikan Agama

     Islam

     Program pondok Ramadhan di sekolah-sekolah diselenggarakan berdasarkan beberapa

tinjauan tentang berbagai kelebihan, di antaranya adalah sebagai berikut:

     a) Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mulia di antara bulan mulia lainya, di mana

         umat Islam sangat mengharapkan kedatangannya. Dengan demikian pelaksanaan

         kegiatan keislaman yang dilakukan pada bulan ini akan mendapatkan pehatian khusus

         dari orang tua para siswa.

     b) Lingkungan di bulan Ramadhan sangat kondusif guna penyelenggaraan kegiatan

         pondok Ramadhan. Pada bulan ini seluruh umat Islam secara serempak berlomba-

         lomba dalam kebaikan guna meningkatkan ketaqwaan mereka terhadap Allah SWT.

     c) Pondok Ramadhan menjadi laboratoriom mikro terhadap pengembangan materi

         pendidikan agama Islam

 2) Karakteristik Pondok Ramadhan yang Efektif
     Suatu program akan berhasil dengan baik jika kita memahami dengnan baik bagaimana

manajemennya dalam mencapai tujuan akhirnya. Demikian juga dengan program-program

kgiatan pondok Ramadhan yang seringkali diselenggarakan di sekolah-sekolah umum maupun

madrasah yang ada di negara kita. Adapun pondok Ramadhan tersebut dapat berjalan secaa

efektif dan efisien, apabila dilakukan dengan memperhatikan beberapa karaktristik berikut:

   1) Pondok Ramadhan tersebut memiliki arah tujuan pendidikan yang jelas dan konkrit,

       misalnya teciptanya kedisiplinan siswa di lingkungan sekolah.

   2) Materi pondok Ramadhan lebih mengarah pada penyelesaian berbagai permasalahan

       yang aktual dan sedang dihadapi para siswa, seperti gaya hidup (pergaulan bebas) anak

       remaja masa kini dan bebagai problematika yang harus dihadapi akibat derasnya arus

       globalisasi.

   3) Figur seorang pembina pondok Ramadhan yang mampu berinteraksi dengan baik

       bersama para siswa yang akan dibinanya, hal ini dapat dilakukan dengan penyeleksian

       calon pembina pondok Ramadhan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan baik yang

       berhubungan dengan penguasaan materi maupun metodologinya. Misalnya pada saat

       ingin memberikan pengalaman belajar kepada siswa tentang narkoba dan pergaulan

       remaja, pihak sekolah dapat menghadirkan mantan bandar narkoba yang sudah insyaf dan

       seorang dari pihak kepolisian.

   4) Pengggunaan variasi metodologi penyampaian materi yang tepat guna dan sesuai dengan

       perkembangan psikologis para siswa yang dibimbing, hal ini dapat berfungsi untuk

       mengatasi berbagai bentuk kejenuhan siswa yang diakibatkan oleh penggunaan metode

       yang cenderung monoton dan kurang merangsang keaktifan siswa dalam poses belajar-

       mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
   5) Tersedianya sarana pasarana penunjang yang kondusif dalam meningkatkan pengalaman

       belajar siswa selama pelaksanaan pondok Ramadhan dan sesudahnya, seperti sarana

       wudlu yang memadai serta meiliki kelayakan dalam penggunaannya.

   6) Kerjasama yang sinergis setiap elemen yang bersangkutan dalam pelaksanaan kegiatan

       pondok Ramadhan, misalnya adanya kerjasama antara guru agama dengan guru bidang

       studi lainnya agar integritas ilmu yang diajarkan dapat tercapai dengan baik dan lebih

       komprehensif, atau dapat juga dilakukan dengan masyarakat di luar sekolah yang

       berkompeten.

   7) Pendanaan yang cukup selama terlaksananya program-program kegiatan pondok

       Ramadhan.

       Oleh karena itu setiap elemen dari unsur-unsur pendidikan, harus mendapatkan perhatian

yang serius. Kesemua unsur tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri karena satu sama lain

saling melengkapi dan menunjang keberhasilan dari proses pendidikan itu secara mutlak. Dan

merupakan suatu konsekuensi, kurang optimalnya pelaksanaan kegiatan pondok Ramadhan serta

tidak terbentuknya kepribadian yang mandiri serta beraklak mulia akan terjadi, ketika salah satu

elemen yang ada di sekolah tidak berpartisipasi dengan baik.
                                                      BAB III

                                            DESAIN PENELITIAN

            A. OBYEK PENELITIAN

             Berdasar pada rumusan masalah yang telah diajukan maka kegiatan pondok Ramadhan

yang diselenggarakan oleh SLTP Negeri 6 Malang Jl. Kawi No 15 A Malang 65116 Telp. (0341)

364710 merupakan obyek dari penelitian ini. Di mana aktifitas tersebut menjadi rutinitas setiap

tahunnya dalam rangka mengembangkan materi pendidikan agama Islam di sekolah umum.

            B. INSTRUMEN PENELITIAN

             Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih

cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah untuk diolah.65

             Berdasarkan prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, maka instrumen

penelitiannya berupa: pedoman observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan pedoman

dokumentasi.

            C. SUMBER DATA

       Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan, maka peneliti menggunakan

beberapa langkah sebagai berikut:

       a.              Penentuan Populasi

                       Menurut Suharsimi Arikunto, adalah keseluruhan subyek penelitian. 66 Populasi

             dibatasi sejumlah penduduk, atau individu yang paling sedikit mempunyai sifat yang

             sama.67


65
     Suharsimi, A. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 136
66
     Ibid, h. 115
                 Sedangkan menurut Arif Furqon bahwa: "Kelompok lebih besar yang menjadi

        sasaran generalisasi tersebut disebut populasi. Populasi dirumuskan sebagai semua

        kelompok orang, kejadian, suatu obyek yang dirumuskan secara jelas.68

                 Adapun populasi dari penelitian ini adalah seluruh personalia yang berkenaan

        dengan pelaksanaan kegiatan pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang yang meliputi

        Kepala Sekolah, guru agama, ketua pelaksana penyelenggaraan kegiatan pondok

        Ramadhan, para pembina pondok Ramadhan, guru bimbingan koonseling (jika

        diperlukan) serta siswa-siswi yang mengikuti program pondok Ramadhan.

        b.        Penentuan Sampel
                                                                                            69
                 Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti.                  Sampel

        merupakan bagian dari populasi serta dipandang sebagai. wakil dari populasi. Sampel

        merupakan gambaran dari keseluruhan populasi. Dalam pengambilan sampel ini, peneliti

        menggunakan teknik purposive sampling atau sampel bertujuan, yakni dilakukan dengan

        cara mengambil subyek berdasarkan atas adanya tujuan tertentu. 70 Teknik ini penulis

        gunakan karena sesuai dengan pertimbangan peneliti sendiri sehingga dapat mewakili

        populasi, serta peneliti dapat meneliti dapat memilih sumber data sesuai dengan variabel

        yang diteliti.

                 Yang menjadi sampel dari penelitian ini adalah siswa-siswi kelas III sedangkan

        yang menjadi informannya antara lain Kepala Sekolah, guru agama, pembina pondok

        Ramadhan, guru bimbingan konseling (jika diperlukan).

      D. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA


67
   Hadi, S. 1984. Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Ofset. h. 220
68
   Furqon. Arif. 1982. Pengantar Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 189
69
   Arikunto, S. Op. Cit, h. 177
70
   Arikunto, S. Op. Cit, h. 127
         Untuk memperoleh data empiris yang sebaik-baiknya, maka diperlukan pengumpulan

data yang tepat yaitu yang sesuai dengan masalah dan obyek yang diteliti. Dalam pengumpulan

data ini peneliti menggunakan beberapa metode, antara lain:

                 1. Metode Observasi

                   Menurut Sutrisno Hadi "Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara

         sistematik terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki".71 Metode ini peneliti gunakan

         untuk mengumpulkan semua data yang berkaitan dengan optimalisasi penanaman nilai-

         nilai agama Islam melalui kegiatan pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang.

                 2. Metode Interview (Wawancara)

                   Salah satu yang menjadi keharusn dalam penelitian kualitatif adalah penggunaan

         metode dalam bentuk interview (wawancara). Sebagaimana pendapat Surtrisno Hadi"

         Metode interview adalah metode pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak yang

         dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan pada tujuan penelitian".72

                   Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang upaya pihak sekolah

         dalam mengembangkan materi pendidikan agama Islam melalui kegiatan pondok

         Ramadhan dan problematikanya yang dihadapi oleh SLTP Negeri 6 Malang.

                 3. Metode Dokumentasi.

                   Metode Dokumentasi adalah suatu cara untuk mencari data terhadap hal-hal atau

         seluk beluk penelitian, baik berupa catatan, transkrip, agenda, dan lain sebagainya. 73

         Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data yang berupa catatan dan dan data

         tentang:

                             1. Sejarah berdirinya SLTP Negeri 6 Malang

71
    Hadi, S. Op. cit. h. 136
72
   Ibid, h. 193
73
    Arikunto, S. Op. cit, h. 236
                            2. Sejarah diselenggarakannya kegiatan pondok Ramadhan di SLTP

                                Negeri 6 Malang

                            3. Struktur Organisasi SLTP Negeri 6 Malang

                            4. Struktur kepanitiaan pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang

                                2004

                            5. Sarana dan prasarana yang menunjang dalam mengoptimalkan

                                penanaman nilai-nilai agama Islam melalui pondok Ramadhan di

                                SLTP Negeri 6 Malang.

E. TEKNIK ANALISA DATA

           Teknik analisa data yang peneliti gunakan dalam penulisan skripsi ini adalah teknik

analisa deskriptif. Lexy J. Moleong menyatakan bahwa pengumpulan data deskriptif berupa

kata-kata, bukan angka-angka.74 Hal ini karena adanya penerapan metode kualitatif.

           Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa laporan penelitian deskriptif                 berisi kutipan-

kutipan data, baik berasal dari naskah waawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi maupu

resmi lainnya.75

           Dalam menganalisa data ini peneliti mendeskripsikan dan menguraikan tentang

efektifitas kegiatan pondok Ramadhan di SLTP Negeri 6 Malang dalam rangka mengembangkan

materi pendidikan agama Islam, upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam meningkatkan

optimalisasi pondok Ramadhan dan problematikanya yang dihadapi oleh SLTP Negeri 6 Malang.

           Setelah data terkumpul maka untuk menganalisanya peneliti menggunakan teknik analisa

deskriptif, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Adapun tahapan dalam analisis data tersebut

adalah sebagai berikut:


74
     Moleong, Lexy J. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. h. 6
75
     Ibid, h. 6
a.    Analisa selama pengumpulan data

     Dalam analisa data ini peneliti menggunakan teknik antara lain: (a) pengambilan

keputusan; (b) pembatasan kajian yang diperoleh; (c) pengembangan pertanyaan-

pertanyaan;    (d)   perencanan     tahaapan-tahapan    pengumpulan     data   dengan

memperhatikan hasil pengamatan sebelumnya dan (e) penulisan catatan bagi diri

sendiri mengenai hal yang dikaji.

b. Analisa setelah pengumpulan data

     Untuk mendapatkan data yang relevan dan urgen terhadap data yang telah

terkumpul, maka peneliti menggunakan teknik antara lain:

          c) Persistent Observation, yaitu mengadakan observasi terus menerus

              terhadap subyek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam

              mengenai efektifitas pondok Ramadhan terhadap pengembangan materi

              pendidikan agama Islam di SLTP Negeri 6 Malang.

          d) Triangilasi   sumber     data,   yaitu    dengan   cara   membandingkan

              pengamatan terhadap aplikasi konsep pondok Ramadhan di SLTP

              Negeri 6 Malang dengan hasil wawancara dan dokumen SLTP Negeri 6

              Malan, seperti: jurnal, buletin atau majalah-majalah terbitan SLTP 6

              Malang.

          e) Peer Deriefing, yaitu dengan mendiskusikan data yang telah terkumpul
              dengan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang

              relevan khususnya dengan dosen pembimbing

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/26/2013
language:Unknown
pages:44
Sita Trijata Sita Trijata
About