Docstoc

skripsi pendidikan URGENSI KEMAMPUAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN

Document Sample
skripsi pendidikan URGENSI KEMAMPUAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN Powered By Docstoc
					                                            1




URGENSI KEMAMPUAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN
   DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
          PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
          DI SMP NEGERI 13 MALANG




                  SKRIPSI




                    Oleh:
                  WINARNI
                  02110267




     JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
            FAKULTAS TARBIYAH
   UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
                 Januari, 2006
                                                                          2




     URGENSI KEMAMPUAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN
        DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
               PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
               DI SMP NEGERI 13 MALANG



                              SKRIPSI

    Diajukan kepada Fakultas TarbiyahUniversitas Islam Negeri Malang
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu
                    Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)




                               Oleh:
                             WINARNI
                             02110267




        JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
               FAKULTAS TARBIYAH
      UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
                    Januari, 2006
                                               3




URGENSI KEMAMPUAN SISWA MEMBACA AL-QUR’AN
   DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR
          PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
          DI SMP NEGERI 13 MALANG




                     SKRIPSI



                        Oleh

                   WINARNI
                     02110267




                  Telah disetujui
          Pada Tanggal: 21 Desember 2006
                       Oleh:
                Dosen Pembimbing




           Mohammad. Asrori Alfa, M.Ag
                NIP: 150 302 235


                     Mengetahui,
        Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




               Drs. Moh. Padil, M.Pd.I
                  NIP: 150 267 235
                                                                                    4




                                       BAB I

                                PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

       Sekolah merupakan salah satu wadah bagi anak untuk belajar memperoleh

pengetahuan dan mengembangkan berbagai kemampuan dan keterampilan. Oleh

karena itu, pengajaran di sekolah adalah salah satu usaha yang bersifat sadar,

bertujuan, sistematis dan terarah pada perubahan tingkah laku atau sikap.

Perubahan tingkah laku itu dapat terjadi, manakala melalui proses pengajaran.

       Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003

pasal 37 ayat (1) ditegaskan bahwa:

       Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: pendidikan
       agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu
       pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan
       jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal.1

       Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan agama Islam adalah salah

satu usaha yang bersifat sadar, bertujuan, sistematis dan terarah pada perubahan

tingkah laku atau sikap yang sejalan dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam

Islam. Sejalan dengan ini, Zakiyah Daradjat mengatakan bahwa pendidikan agama

Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak

setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama

Islam serta menjadikannya sebagai way of life.2




1
  Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra
Umbara, 2003), hlm. 25-26.
2
  Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 86.
                                                                                      5




       Abdul Madjid dan Dian Andayani, dalam kesimpulannya mengatakan

bahwa pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik

dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan

mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan

yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.3

       Jadi, pada dasarnya, pendidikan agama Islam menginginkan peserta didik

yang memiliki fondasi keimanan dan ketakwaan yang kuat terhadap Allah, Tuhan

Yang Maha Esa. Iman merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan

dalam bentuk amal saleh, sehingga menghasilkan prestasi yang disebut takwa.

       Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam, sebagaimana dikutip oleh

Abdul Majid, dijelaskan bahwa,

       Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk
       menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan
       pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengalaman peserta didik
       tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus
       berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan
       bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang
       lebih tinggi.4

       Zuhairini dan Abdul Ghafir         menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan

agama Islam adalah meningkatkan taraf           kehidupan manusia melalui seluruh

aspek yang ada sehingga sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan

proses tahap demi tahap.5

       Tahapan pendidikan Islam yang dilalui dan dialami oleh siswa di sekolah

dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap

3
  Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan
Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 132.
4
  Ibid., hlm. 135.
5
  Zuhairini dan Abdul Ghafir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang: UM
Press, 2004), hlm. 8-9.
                                                                                        6




ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya

menuju pada tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai-

nilai ajaran agama Islam, dalam arti menghayati dan meyakininya. Tahapan afeksi

ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti bahwa penghayatan dan keyakinan

siswa akan kokoh manakala didasari oleh seperangkat pengetahun dan

pemahamannya terhadap ajaran dan nilai-nilai ajaran Islam. Melalui tahapan

afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak

untuk mengamalkan dan menaati ajaran Islam yang telah diinternalisasikan dalam

dirinya (tahap psikomotorik). Dengan demikian akan terbentuk manusia muslim

yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

        Begitu hebatnya pendidikan agama Islam dalam rangka menyiapkan

peserta didiknya yang memiliki kecakapan seperti yang disebutkan di atas, maka,

mata pelajaran pendidikan agama di sekolah sejak dulu hingga sekarang tetap

memperoleh tempat dan perhatian dari pemerintah.

        Untuk itu, dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka ruang lingkup

materi pendidikan agama Islam untuk jenjang SMP sebagaimana tercantum dalam

Standar Nasional mencakup lima unsur pokok yaitu: al-Qur’an, keimanan, akhlak,

fiqih/ibadah, dan tarikh.6

        Al-Qur’an sebagai salah satu unsur ruang lingkup atau materi pendidikan

agama Islam sangat urgen dalam kehidupan sehari-hari. Artinya bahwa, keimanan

yang dianut oleh seseorang yang kemudian akan melahirkan sebuah tata nilai

(seperti dalam hal ibadah, muamalah, dan akhlak) adalah bersumber dari al-
6
  Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan
Kurikulum, hingga Redifinisi Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Nuansa Cendikia, 2003), hlm.
78.
                                                                                                       7




Qur’an dan al-Hadits. Tata nilai itu kemudian melembaga dalam suatu masyarakat

dan pada gilirannya akan membentuk sebuah kebudayaan dan peradaban (tarikh).

Oleh karena itu, kemampuan membaca, memahami, mengerti, dan sekaligus

menghayati isi bacaan al-Qur’an, khususnya di sekolah umum (SMP), adalah

sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam.

Sebab materi al-Qur’an berkaitan dengan materi PAI yang lain.

          Untuk mempelajari al-Qur’an itu sebenarnya bukan hal yang terlalu sulit,

asal ada kemauan dan usaha mempelajarinya pasti akan mampu membaca dan

memahami al-Qur’an dengan baik, Allah sudah menjamin kemudahannya bagi

umat yang mau mempelajari al-Qur’an, firman Allah dalam Q.S. al-Qomar:

                                                      َّ ‫م‬            ْ ِّ       ُ َّ
                                                  ٍ‫وََلقَدْ يَسرْنَا القرْآنَ لِلذكرِ فَهَل مِن ُّدكِر‬
          Artinya:
          ”Dan sesungguhnya telah kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran
          maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.” (Q.S. al-Qomar:
          17).7

          Dari ayat tersebut di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa mempelajari

al-Qur’an itu tidaklah terlalu sulit asal ada kemauan yang keras untuk mempelajari

dan memahaminya sedikit demi sedikit, maka akhirnya nanti akan memperoleh

kemampuan membaca al-Qur’an dengan baik, karena Allah menurunkan al-

Qur’an sedikit demi sedikit dengan tujuan, agar mudah dipelajari, difahami dan

diamalkan, bukan untuk mempersukar hidup manusia. Hal ini dipertegas dalam

Q.S. At-Thaha: 2.

                                                                    ْ          ُ
                                                                 ‫مَا أَنزَلنَا عَلَيْكَ القرْآنَ لِتَشقَى‬

7
    Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV. Penerbit J-ART, 2004), hlm. 530.
                                                                                   8




           Artinya:
           “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi
           susah” (Q.S. Thahaa: 2).8

           Dari ayat tersebut di atas, jelaslah bahwa mempelajari al-Qur’an itu tidak

sulit asal ada kemauan dan usaha belajar, akan mampu membaca dan memahami

al-Qur’an dengan baik, sehingga akan berpengaruh pada pelaksanaan ajaran Islam

yang lain. Contohnya seorang siswa yang mampu membaca al-Qur’an atau

menghafal surat-surat pendek, tentunya ia akan dapat mempelajari dan

melaksanakan shalat lima waktu, demikian juga ia akan dapat mengikuti kegiatan

belajar mengajar pendidikan agama Islam di sekolah, sehingga ia dapat meraih

prestasi yang lebih baik.

           Dalam hal ini, tentunya diperlukan kerjasama para guru untuk memberikan

pengajaran materi yang disesuaikan dengan kurikulumnya, yang selanjutnya

diterapkan di sekolah-sekolah negeri dari tingkat Sekolah Dasar sampai

menengah, oleh karena pelajaran al-Qur’an dimasukkan dalam kurikulum yang

merupakan bagian mata pelajaran pendidikan agama Islam. Karena itu, maka

keberhasilan dalam pembelajaran al-Qur’an merupakan salah satu aspek

keberhasilan pendidikan agama Islam.

           Mengingat begitu pentingnya kemampuan membaca al-Qur’an pada siswa

dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan agama Islam, maka diperlukan

adanya kesadaran siswa belajar memahami ayat al-Qur’an dengan bimbingan guru

di dalam kelas atau sekolah maupun di luar sekolah (di rumah dan masyarakat).

Karena dengan kemampuan membaca al-Qur’an tersebut, akan berpengaruh


8
    Ibid., hlm. 313.
                                                                             9




dalam pelaksanaan ajaran Islam dan berpengaruh pula dalam menentukan

keberhasilan kegiatan belajar pendidikan agama Islam di sekolah.

       Berdasarkan alasan-alasan di atas penulis terdorong untuk mengambil

judul skripsi tentang: Urgensi Kemampuan Siswa dalam Membaca Al-Qur’an

dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP

Negeri 13 Malang”.



B. Rumusan Masalah

       Bertolak dari masalah tersebut di atas, penulis akan merumuskan masalah-

masalah yang menjadi dasar pokok pembahasan skripsi ini, adapun rumusan

masalah tersebut adalah:

1. Bagaimanakah kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP Negeri 13

  Malang?

2. Apakah urgensi kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an dapat

  meningkatkan prestasi balajar pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13

  Malang?



C. Tujuan Penelitian

       Dalam pembahasan skripsi ini, tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai

berikut:

1. Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP

  Negeri 13 Malang.
                                                                          10




2. Untuk mengetahui urgensi kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an dapat

  meningkatkan prestasi balajar pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13

  Malang.



D. Manfaat Penelitian

       Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi Guru

  Sebagai bahan masukan bagi guru agama tentang kondisi siswa, sehingga dapat

  mengambil langkah untuk meningkatkan kualitas dalam pembinaan dan

  pengajaran pendidikan agama Islam khususnya mata pelajaran al-Qur’an.

2. Bagi Siswa

  Sebagai masukan bagi siswa tentang pentingnya mempelajari dan memahami

  al-Qur’an khususnya dalam meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran

  pendidikan agama Islam.

3. Bagi Masyarakat

  Hasil penelitian ini juga berguna bagi masyarakat atau siapa saja yang akan

  melaksanakan penelitian pada variabel lanjutan.

4. Bagi Penulis

  Bagi penulis tentunya sangat berguna untuk memperluas pengetahuan baik

  secara teori maupun praktek dalam mengatasi siswa di kelas khususnya dalam

  memberikan materi membaca al-Qur’an dalam pembelajaran pendidikan agama

  Islam sesuai dengan disiplin ilmu yang penulis tekuni.
                                                                             11




5. Bagi Universitas

  Bagi Universitas Islam Negeri Malang khususnya Fakultas Tarbiyah Jurusan

  Pendidikan Agama Islam. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat

  memperkaya khazanah kepustakaan, juga dapat dijadikan dasar pengembangan

  oleh peneliti lain yang mempunyai minat pada kajian yang sama dan sekaligus

  sebagai penyelesaian tugas akhir bagi mahasiswa.



E. Ruang Lingkup Penelitian

       Untuk membatasi agar pembahasan dalam skripsi ini tidak terlalu luas,

serta untuk memperoleh gambaran yang cukup jelas, maka ruang lingkup

pembahasan dalam penulisan skripsi ini adalah:

1. Tentang kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP Negeri 13

  Malang.

2. Tentang urgensi kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an dalam

  meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13

  Malang.



F. Sistematika Pembahasan

         Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai isi penelitian ini,

maka pembahasan dibagi menjadi enam bab. Uraian masing-masing bab disusun

sebagai berikut:

       Bab pertama, merupakan bab pendahuluan yang berfungsi sebagai

pengantar informasi penelitian yang tediri dari: latar belakang masalah, rumusan
                                                                                  12




masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan

sistematika pembahasan.

       Bab kedua, berisikan tentang kajian pustaka yang terdiri dari: Pembahasan

al-Qur’an dan ruang lingkupnya yang terdiri dari: Pengertian al-Qur’an,

keutamaan al-Quran, al-Qur’an dalam kurikulum Pendidikan Dasar (SMP).

Pembahasan prestasi belajar yang terdiri dari: pengertian prestasi, definisi belajar,

ciri-ciri perubahan hasil belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

Pembahasan pendidikan agama Islam yang terdiri dari: pengertian pendidikan

agama Islam, fungsi pendidikan agama Islam, tujuan pendidikan agama Islam,

ruang lingkup pendidikan agama Islam, dasar-dasar pelaksanaan pendidikan

agama Islam. Urgensi kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an dalam

meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam yang terdiri dari

pendekatan dalam pembelajaran baca tulis al-Qur’an, metode pembelajaran al-

Qur’an.

       Bab ketiga, berisikan tentang metode yang digunakan dalam penelitian

yang terdiri dari: lokasi penelitian, pendekatan dan jenis penelitian, sumber data,

populasi dan sampel, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik

analisa data, pengecekan keabsahan data.

       Bab keempat, merupakan pembahasan tentang laporan hasil penelitian

yang terdiri dari: latar belakang obyek penelitian yang berisi sejarah singkat

berdirinya SMP Negeri 13 Malang, identitas sekolah, visi, misi, target dan tujuan

SMP Negeri 13 Malang, organisasi SPM Negeri 13 Malang, kondisi obyektif

SMP Negeri 13 Malang yang terdiri dari: data siswa, data guru dan tenaga
                                                                              13




administrasi tahun pelajaran 2006/2007, sarana dan prasarana, dan data kegiatan

sekolah tahun pelajaran 2006/2007; urgensi kemampuan siswa dalam membaca

al-Qur’an dalam meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam.

       Bab Kelima, berisi tentang pembahasan hasil penelitian yang terdiri dari:

analisa urgensi kemampuan siswa membaca al-Qur’an dalam meningkatkan

prestasi belajar bidang pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Malang.

       Bab Keenam merupakan bab penutup pembahasan dan penelitian dalam

penulisan skripsi ini yang berfungsi untuk menyimpulkan hasil penelitian ini

secara keseluruhan, dan kemudian dilanjutkan dengan memberi saran-saran

sebagai perbaikan dari segala kekurangan, dan disertai dengan lampiran-lampiran.
                                                                                   14




                                       BAB II

                                KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan al-Qur’an dan Ruang Lingkupnya

    1. Pengertian al-Qur’an


           Secara etemologis, al-Qur’an adalah bacaan atau yang dibaca.9 Al-Qur’an

adalah mashdar dari kata qa-ra-a (‫ ,)قرأ‬setimbangan dengan kata fu’lan (‫ .)فعالن‬Ada

dua pengertian al-Qur’an dalam bahasa Arab, yaitu qur’an (‫ )قرآن‬berarti “bacaan,”

dan “apa yang dibaca tertulis padanya,” (‫ ,)مقروء‬ismu al-fa’il (subjek) dari qara’a

(‫01.)قرأ‬
           Sedangkan pengertian al-Qur’an secara terminologisnya, para ulama dari

berbagai golongan mengemukakan bermacam-macam definisi. Definisi-definisi

tersebut berbeda-beda bunyinya dan sekaligus mempunyai arti yang berbeda pula.

Ulama dari kalangan ushul fiqh mengemukakan definisi yang berbeda dari apa

yang diungkapkan oleh ulama ilmu kalam. Begitu juga ulama dari golongan tafsir

berbeda dengan ulama hadits serta ahli bahasa dalam mendefinisikan al-Qur’an.

           Perbedaan-perbedaaan itu muncul karena antara lain disebabkan oleh

perbedaan pandangan mereka dalam memerlukan unsur-unsur apakah yang harus

dimasukkan ke dalam definisi al-Qur’an itu sehingga definisi tersebut benar-benar

dapat memberikan gambaran tentang sifat-sifat yang esensial dari al-Qur’an itu.

Dan tentu saja masing-masing mereka (baca: golongan) itu memandang al-Qur’an

dari segi keahlian mereka dan kemudian melahirkan definisi yang dititik beratkan

kepada sifat-sifat yang menurut mereka adalah sangat penting untuk diungkapkan.

9
 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir
(Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2003), hlm. 3.
10
   H. Nasrun Haroen, Ushul Fiqh 1 (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997) hlm. 19.
                                                                              15




        Menurut ulama ushul fiqh, al-Qur’an adalah kalamullah, mengandung

mu’jizat dan diturunkan kepada nabi Muhammad, dalam bahasa Arab yang

dinukilkan kepada generasi sesudahnya secara mutawatir, membacanya

merupakan ibadah, terdapat dalam mushaf, dimulai dari dari surat al-Fatihah dan

ditutup dengan surat an-Nas.11

        Menurut Syeh Muhammad Abduh (ulama ilmu kalam), al-Kitab ialah al-

Qur’an yang dituliskan dalam mushaf-mushaf dan telah dihafal oleh umat Islam

sejak masa hidupnya Rasulullah sampai pada masa kita sekarang ini. 12 Hasbi Ash

Shiddieqy menambahkan, menurut ahli kalam, al-Qur’an adalah yang ditunjuk

oleh yang dibaca itu, yakni: kalam azali yang berdiri pada dzat Allah yang

senantiasa bergerak (tak pernah diam) dan tak pernah ditimpa sesuatu bencana.13

        Menurut Imam Jalaluddin As-Sayuthy (ulama hadits), al-Qur’an adalah

firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad untuk melemahkan pihak-

pihak yang menentangnya walaupun satu surat saja dari padanya.14

        Harun Nasution mendefinisikan al-Qur’an sebagai kitab suci, mengandung

sabda Tuhan (Kalam Allah), yang melalui wahyu disampaikan kepada Nabi

Muhammad.15

        Dari beberapa definisi yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas,

dapat disimpulkan. Pertama, bahwa al-Qur’an merupakan kalam Allah yang

diturunkan kepada Muhammad. Artinya, apabila kalamullah dan tidak diturunkan

kepada Muhammad maka tidak dinamakan al-Qur’an, seperti Zabur, dan lain-lain.

11
   Ibid., hlm. 20.
12
   H.A. Mustofa, Sejarah al-Qur’an (Surabaya: al-Ikhlas, 1994), hlm. 11.
13
   Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, op.cit., hlm. 4.
14
   Ibid., hlm. 10.
15
   Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 17.
                                                                              16




      Kedua, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab Quraisy. Dengan adanya

ketentuan ini berarti bahwa terjemahan al-Qur’an dalam bahasa-bahasa asing

selain bahasa Arab, bukanlah al-Qur’an. Oleh sebab itu terjemahan-terjemahan al-

Qur’an itu tidak mempunyai sifat-sifat khas seperti yang dimiliki oleh al-Qur’an.

Ia tidak dinamakan kitab suci sehingga kita tidak berdosa bila menyentuhnya

tanpa berwudlu terlebih dahulu. Dan ia tidak berfungsi sebagai mu’jizat, karena

terjemahan adalah buatan manusia.

      Ketiga, al-Qur’an itu dinukilkan kepada generasi berikutnya secara

mutawatir yaitu diriwayatkan oleh orang banyak, dari orang banyak, kepada

orang banyak, tanpa perubahan dan penggantian satu katapun sehingga

mustahillah mereka itu akan bersepakat untuk berdusta.

      Keempat, membaca setiap kata dalam al-Qur’an itu mendapat pahala dari

Allah, baik bacaan itu berasal dari hafalan sendiri maupun langsung dari mushaf

al-Qur’an.

      Kelima, al-Qur’an adalah mu’jizat yang terbesar yang diberikan allah

kepada nabi Muhammad. Namun demikian, walaupun nabi-nabi terdahulu

sebelum nabi Muhammad itu diberikan semacam mu’jizat, namun kitab suci

mereka tidaklah berfungsi sebagai mu’jizat.

      Keenam, membaca al-Qur’an itu dapat dijadikan sebagai suatu ibadah. Dan

ketujuh, ciri terakhir dari al-Qur’an yang dianggap sebagai suatu kehati-hatian

bagi para ulama untuk membedakan al-Qur’an dengan kitab-kitab lainnya adalah

bahwa al-Qur’an itu dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-
                                                                                                       17




Nas. Artinya, segala sesuatu yang ada (baca: bacaan) sebelum surat al-Fatihah

atau sesudah surat an-Nas bukan dinamakan al-Qur’an.

       Kemudian, dinyatakan pula bahwa kalam Allah yang diwahyukan kepada

Muhammad SAW tidak hanya dinamai al-Qur’an tetapi juga dinamai dengan al-

Kitab, al-Furqan, adz-Dzikr, dan at-Tanzil. Nama-nama itu menunjukkan atas

ketinggian derajat dan kedudukan dari al-Qur’an atas kitab-kitab samawi yang

lain.16 Dinamakan al-Kitab karena ia dibaca, sesuai dengan firman Allah dalam

surat al-Baqarah ayat 2:

                                                          َّ‫ه ل م‬                      ‫ب‬
                                                     َ‫ذَلِكَ الكِتَا ُ الَ رَْيبَ فِيهِ ُدًى ِّل ُتقِني‬
       Artinya:
       “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
       yang bertaqwa.” (Q.S. al-Baqarah: 2).17

       Dinamakan al-Furqan karena ia memisahkan perkara antara yang benar

dan yang salah, yang haq dan yang bathil. Sesuai dengan firman Allah dalam

surat al-Furqan ayat 1:

                                          ِ            ‫ك‬                          ْ ُ َّ ‫ال ن‬
                              ً‫تَبَارَكَ َّذِي َزلَ الفرقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَ ُونَ لِلعَالَمنيَ نَذِيرا‬
       Artinya:
       “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada
       hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”
       (Q.S. al-Furqan: 1). 18

       Dinamakan adz-Dzikr karena ia merupakan peringatan dari Allah. Firman

Allah dalam surat al-Hijr ayat 9:

                                                           ‫ِن ْن َز ِّ ْ ِن ه ِظ‬
                                                        َ‫إَّا َنح ُ ن َّلنَا الذكرَ وَإَّا لَ ُ َلحَاف ُون‬

16
   Muhammad Ali ash-Shabuny, at-Tibyan fi Ulumi al-Qur’an (Jakarta: Dinamika Berkah Utama,
1985), hlm. 11.
17
   Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: CV. Penerbit J-ART, 2004), hlm. 3.
18
   Ibid., hlm. 360.
                                                                                                        18




            Artinya:
           “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya
           Kami benar-benar akan memeliharanya”.(Q.S. al-Hajar: 9).19

           Dinamakan at-Tanzil karena al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah kepada

nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Hal ini sesuai dengan firman Allah

dalam surat asy-Syu’ara’ ayat 192-193:

                                           ُ ‫وإَّ ُ لَتَن ِي ُ رَ ِّ العَالَمنيَ. َنزلَ بِهِ ُّو ُ األم‬
                                           ‫َِنه ز ل ب ِ َ الر ح َ ِني‬
           Artinya:
           “Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan
           semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)” (Q.S. asy-
           Syu’ara: 192-193).20

           Berdasarkan dari pengertian tersebut di atas, maka bagi umat Nabi

Muhammad saw hendaknya mau membaca dan mempelajari al-Qur’an, walaupun

dengan cara sedikit demi sedikit dengan demikian nantinya akan dapat membaca

al-Qur’an dengan baik sebagaimana yang dikehendaki Allah.

           Oleh karena al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad SAW tidak

sekaligus turun berupa satu kitab, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur ayat

demi ayat menurut kepentingan dan kejadian pada saat itu sebagaimana yang

dikehendaki oleh Allah. Diturunkanya al-Qur’an secara berangsur-angsur itu

dengan maksud agar mudah dibaca, dipahami dan diamalkan bagi Nabi

Muhammad SAW beserta umatnya dan umumnya bagi semua manusia, firman

Allah dalam Q.S. al-Isra’: 106.

                                         ‫م ْ َز ه‬                   ‫ن‬          ‫َُ َ َ ه ْ َ ه‬
                               ً‫وقرْآناً فرقْنَا ُ لَِتقرأَ ُ عَلَى الَّاسِ عَلَى ُكثٍ وَن َّلنَا ُ تَنزِيال‬


19
     Ibid., hlm. 263.
20
     Ibid., hlm. 376.
                                                                              19




           Artinya:
           “Dan al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar
           kamu membacakanya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami
           menurunkanya bagian demi bagian.” (Q.S. al-Isra’: 106).21

           Dari arti ayat dan keterangan di atas, jelaslah bahwa diturunkanya al-

Qur’an sedikit demi sedikit sangat berguna dan mengandung kepentingan yang

tidak sedikit bagi umat manusia yang mau mempelajarinya, orang yang mau

menerima pengajaran al-Qur’an akan dapat membaca, memahami dan

mengamalkan sedikit demi sedikit ajaran yang terdapat di dalamnya.

           Demikian juga perlu diingat bagi pendidik/guru yang memberikan

pendidikan dan pengajaran kepada siswanya, tidak mungkin dapat menanamkan

pendidikan dengan sekali jadi, akan tetapi dapat melakukanya sedikit demi sedikit

sampai akhirnya tertanam dalam hati terdidik secara sempurna. Apalagi untuk

menanamkan kemampuan membaca al-Qur’an kepada anak hendaknya dilakukan

sejak anak masih kecil ketika anak masih dalam pendidikan keluarga/orang tua

sebagai pendidik yang pertama dan utama, karena kemungkinan keberhasilan

pendidikan dirumah akan sangat menunjang pendidikan/prestasi anak di

sekolahnya.

      2. Keutamaan Al-Qur’an

            Sebagaimana penjelasan terdahulu bahwa al-Qur’an adalah firman Allah

yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan al-Qur’an juga mengandung ibadah

bagi orang yang membacanya. Di samping al-Qur’an merupakan ibadah, juga

mempunyai keutamaan antara lain sebagai berikut:



21
     Ibid., hlm. 294.
                                                                                              20




        a. al-Qur’an merupakan salah satu rahmat dan petunjuk bagi manusia.

            Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada nabi

Muhammad SAW, sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam

semesta. Di dalamnya terkumpul wahyu yang menjadi petunjuk, pedoman, dan

pelajaran bagi siapapun yang mempercayainya. Firman Allah Q.S. Yunus: 57,

ٌ َ‫يَا أُّهَا َّا ُ قَدْ جَاءتْ ُم َّوعظَ ٌ ِّن رِّ ُمْ وَشفَاء ِّمَا فِي ُّ ُورِ و ُدًى وَرَحْم‬
‫ة‬             ‫الصد َه‬            ‫ك م ْ ِ ة م َّبك ِ ل‬                           ‫َي الن س‬
                                                                                            ْ‫لم‬
                                                                                     َ‫ِّل ُؤمِِنني‬
            Artinya:
            “Hai Manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
            Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
            dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S.
            Yunus: 57).22

            Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga

disebut syari’at. Dari syari’at ditemukan sekian banyak dari rambu-rambu jalan:

ada yang berwarna merah yang berarti larangan; ada yang berwarna kuning, yang

memerlukan kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan

kebolehan melanjutkan perjalanan. Ini semua persis sama dengan lampu-lampu

lalu lintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan.

Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara perjalanan dari

mara bahaya. Demikian juga dengan larangan-larangan agama.

            Bukan itu saja, al-Qur’an adalah kitab suci yang paling penghabisan

diturunkan oleh Allah yang paling sempurna dibandingkan dengan kitab-kitab

suci sebelumnya.




22
     Ibid., hlm. 216.
                                                                                                                     21




          Karena itu setiap orang yang mempercayai al-Qur’an akan bertambah cinta

kepadanya, cinta untuk membaca, mempelajari, memahami serta mengamalkan

sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta.

       b. Membaca al-Qur’an termasuk amal kebaikan yang mendapat pahala

          dengan berlipat ganda.

          Setiap mukmin yakin bahwa membaca al-Qur’an saja sudah termasuk

amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebab

yang dibaca itu adalah kitab suci ilahi. Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi

orang mukmin, baik dikala ia senang atau susah, dikala gembira ataupun dikala

sedih.

          Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan tentang pahala orang yang

membaca al-Qur’an:

             َ        ‫ع‬                  ُ ‫ْ َأ‬        ‫َال‬                  ‫ر‬             َّ            ُ ‫م ِر‬
ِ‫اَلْ َاه ُ بِاْلقرْآنِ مَعَ السفَرَةِ ألْكِ َامِ الَْبرَرَةِ. و َّذِى َيقرُ اْلقرْآنَ وَيَتتَعْتَ ُ فِيْهِ وهُوَ عَلَيْه‬
                                                                                                        ْ ‫َاق ه‬
                                                                                   )‫ش ٌّّّ لَ ُ أَجرَانِ (رواه مسلم‬
          Artinya:
          “Orang yang membaca al-Qur’an, lagi pula ia mahir, kelak mendapat
          tempat di dalam surga bersama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik,
          dan orang yang membaca al-Qur’an, tetapi tidak mahir. Membacanya
          tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan
          mendapatkan dua kali lipat pahala.” (H.R. Muslim).23


       c. Membaca al-Qur’an menjadikan obat dan penawar bagi orang yang

          jiwanya gelisah.

          Membaca al-Qur’an bukan saja merupakan ibadah, tetapi juga menjadi

obat penawar bagi orang yang gelisah hatinya. Maka dari itu tidak mengherankan

23
  Imam Abi Husain Muslim bin Hujjaj, Shahih Muslim (Beyrut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1979),
Jus 1, hlm. 549-550.
                                                                                                                      22




lagi membaca al-Qur’an bagi setiap muslim di manapun ia berada telah menjadi

tradisi. Keutamaannya telah dikenal luas, dapat mendatangkan ketenangan dan

kedamaian jiwa. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-Fusshilat: 44

  ‫ن‬          ‫ِل‬          ‫ته ْ ِي َ َ ِي ق‬                َ‫ل ْ ف ص‬                  ْ         ُ ‫َع ه‬
‫وَلَوْ ج َلنَا ُ قرْآناً َأعجَمِياً َّلقَاُوا لَوالَ ُ ِّلتْ آيَاُ ُ َأعجَم ٌّ وعرَب ٌّ ُل هُوَ لَّذِينَ آمَُوا‬
             ‫ي‬                               ‫َ ْر َه‬                    ‫يْ ن‬          ‫ِ َالذ‬
‫ُدًى وَشفَاء و َّ ِينَ الَ ُؤمُِونَ فِي آذَانِهِمْ وق ٌ و ُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ ُنَادَوْنَ مِن‬      ‫ه‬
                                                                                                              ‫م‬
                                                                                                ٍ‫َّكَانٍ َبعِيد‬
           Artinya:
           “Dan Jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa
           selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan
           ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang
           (Rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk
           dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak
           beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu
           kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari
           tempat yang jauh". (Q.S. al-Fusshilat: 44).24

           Dalam sebuah hadits Rasulullah menjelaskan bahwa Allah akan

memberikan rahmatnya bagi orang-orang yang membaca al-Qur’an, termasuk di

dalamnya tempat yang digunakan untuk membaca al-Qur’an, baik masjid,

mushalla, surau, dan lain sebagainya.

             َ        ‫ع‬                 ُ ‫ْ َأ‬        ‫َال‬                     ‫َر‬          َ َّ           ُ ‫م ِر‬
ِ‫اَلْ َاه ُ بِاْلقرْآنِ مَعَ السفرَةِ أَلْك َامَةِ اَلَْبرَارَةِ و َّذِى َيقرُ اْلقرْآنِ وَيََتعْتَ ُ فِيْهِ وهُوَ عَلَيْه‬
                                                                                                         ْ ‫َاق ه‬
                                                                                     )‫ش ٌّّّ لَ ُ أَجرَانِ (رواه مسلم‬
           Artinya:
          “Orang yang membaca al-Qur’an, lagi pula ia mahir, kelak mendapat
          tempat di dalam surga bersama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik,
          dan orang yang membaca al-Qur’an, tetapi tidak mahir. Membacanya
          tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), dia akan
          mendapatkan dua kali lipat pahala.” (HR. Bukhari Muslim).25




24
     Ibid..
25
     Muhammad Ali ash-Shabuny, Op. Cit., hlm. 10.
                                                                                               23




       Dari beberapa pemaparan dia atas, maka al-Qur’an harus disosialisasikan,

diajarkan pada seluruh manusia, baik untuk peserta didik maupun masyarakat

umum. Mengajarkanya al-Qur’an kepada orang lain itu merupakan pekerjaan

yang mulia menurut ajaran Islam, maka dari itu banyak orang yang sudah mahir

membaca al-Qur’an mengajarkanya kepada orang yang buta al-Qur’an, sehingga

banyak metode yang digunakan para ustadz/guru mengaji untuk mengajarkan al-

Qur’an kepada murid atau santrinya.

       Demikian pula belajar melagukan al-Qur’an, di Indonesia bukan lagi

merupakan hal yang asing. Melagukan ayat-ayat suci al-Qur’an sudah

dibudayakan melalui Musabaqah Tilawat al-Qur’an. Kegiatan ini diselenggarakan

oleh pemerintah mulai tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional/Negara.

Sehingga muncullah qari’/qari’ah handal yang mampu menjuarai bukan saja

tingkat nasional, tetapi juga tingkat internasional. Kegiatan melagukan al-Qur’an

tersebut dimulai dari anak-anak usia TK, SD, SMP, SMU, sampai perguruan

tinggi. Bahkan pada orang cacatpun acara semacam ini juga tidak asing lagi,

seperti tuna netra dan lain sebagainya.

     d. Al-Qur’an terjaga keasliannya sepanjang masa

       Al-Qur’an al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan

sifat. Salah satunya adalah bahwa ia merupaan kitab Allah yang keotentikannya

dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Firman Allah

dalam al-Qur’an surat al-Hijr ayat 9 berbunyi:

                                                    ‫ِن ْن َز ِّ ْ ِن ه ِظ‬
                                                 َ‫إَّا َنح ُ ن َّلنَا الذكرَ وَإَّا لَ ُ َلحَاف ُون‬
                                                                               24




       Artinya:
      “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya
      Kami benar-benar akan memeliharanya”.(Q. S. al-Hijr: 9).26

       Demikianlah Allah menjamin keotentikan al-Qur’an, jaminan yang

diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan KemahatahuanNya, serta berkat upaya-

upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhlukNya, terutama oleh manusia.

       Di samping itu, ada beberapa faktor (baca: bukti kesejarahan) pendukung

atas keaslian al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh Quraish Shihab:

       Pertama, masyarakat Arab yang hidup pada masa turunnya al-Qur’an,
       adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-
       satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab -
       bahkan sampai kini- dikenal sangat kuat. Kedua, masyarakat Arab
       khususnya pada masa turunnya al-Qur’an- dikenal sebagai masyarakat
       sederhana dan bersahaja. Kesederhanaan ini menjadikan mereka memiliki
       waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan
       hafalan. Ketiga, masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan
       kesusastraan; mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam
       bidang ini pada waktu tertentu. Keempat, al-Qur’an mencapai tingkat
       tertinggi dari segi keindahan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan
       saja bagi kaum mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat
       menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara
       sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an yang
       dibaca oleh kaum muslim. Kaum muslim, di samping mengagumi
       keindahan bahasa al-Qur’an, juga mengagumi kandungannya serta
       meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur’an adalah petunjuk kebahagiaan dunia
       akhirat. Kelima, al-Qur’an, demikian pula Rasulullah SAW, menganjurkan
       kepada kaum muslim untuk memperbanyak membaca dan mempelajari al-
       Qur’an dan anjuran tersebut mendapat sambutan yang hangat. Keenam,
       ayat-ayat al-Qur’an yang turun berdialog dengan mereka, mengomentari
       keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab
       pertanyaan-pertanyaan mereka. Di samping itu, ayat al-Qur’an turun
       sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya
       dan proses penghafalannya. Ketujuh, dalam al-Qur’an, demikian pula
       dalam hadis-hadis nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang mendorong
       para sahabatnya untuk selalu bersikap teliti dan hati-hati dalam
       menyampaikan berita lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan Firman-
       firman Allah atau sabda RasulNya.27
26
 Depag RI, Op. cit., hlm. 263.
27
 M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 23-24.
                                                                                    25




        Dengan bukti-bukti di atas, setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca

dan didengarnya sebagai al-Qur’an tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang

pernah dibaca oleh Rasulullah, dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat

nabi.

     3. al-Qur’an dalam Kurikulum Pendidikan Dasar (SMP)

        Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003

pasal 37 ayat (1) ditegaskan bahwa:

        Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: pendidikan
        agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu
        pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan
        jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal.28

        Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan agama Islam adalah salah

satu usaha yang bersifat sadar, bertujuan, sistematis dan terarah pada perubahan

tingkah laku atau sikap yang sejalan dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam

Islam. Sejalan dengan ini, Zakiyah Daradjat mengatakan bahwa pendidikan agama

Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak

setelah selesai pendidikannya dapat memahami dam mengamalkan ajaran agama

Islam serta menjadikannya sebagai way of life.29

        Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam, sebagaimana dikutip oleh

Abdul Majid, dijelaskan bahwa,

        Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk
        menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan
        pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengalaman peserta didik
        tentang agma Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus
        berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan


28
   Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra
Umbara, 2003), hlm. 25-26.
29
   Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 86.
                                                                                      26




        bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang
        lebih tinggi.30

        Maka dalam rangka mencapai tujuan pendidikan agama Islam itu,

kemudian dirumuskan tentang kompetensi dasar yang berisi sekumpulan

kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa selama menempuh pendidikan

dasar (SMP). Majid menjabarkan kompetensi dasar yang harus dimiliki atau

dicapai di SMP antara lain:

     a. Beriman kepada Allah SWT dan lima rukun iman yang lain dengan
        mengatahui fungsi serta terefleksi dalam sikap, perilaku, dan akhlak
        peserta didik dalam dimensi vertikal maupun horizontal;
     b. Dapat membaca al-Qur’an surat-surat pilihan sesuai dengan tajwidnya,
        menyalin dan mengartikannya;
     c. Mempu beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan syari’at
        Islam baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah;
     d. Dapat meneladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah serta Khulafaur
        Rasyidin;
     e. Mampu mengamalkan sistem mu’amalah Islam dalam tata kehidupan
        bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.31

        Dari beberapa gambaran mengenai kompetensi dasar pendidikan agama

Islam untuk SMP di atas, kemudian dijabarkan lagi dalam bentuk unsur atau

ruang lingkup pendidikan agama Islam, yaitu: materi al-Qur’an, keimanan,

akhlak, ibadah/fiqih, dan tarikh.

        Al-Qur’an sebagai salah satu unsur ruang lingkup atau materi pendidikan

agama Islam sangat urgen dalam kehidupan sehari-hari. Artinya bahwa, keimanan

yang dianut oleh seseorang yang kemudian akan melahirkan sebuah tata nilai

(seperti dalam hal ibadah, muamalah, dan akhlak) adalah bersumber dari al-

Qur’an dan al-Hadits. Tata nilai itu kemudian melembaga dalam suatu masyarakat


30
   Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan
Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 135.
31
   Ibid., hlm. 150.
                                                                                       27




dan pada gilirannya akan membentuk sebuah kebudayaan dan peradaban (tarikh).

Keimanan seseorang yang tidak dilandasi dengan nilai-nilai yang sesuai dengan

ajaran Islam akan menghambat laju peradaban dan bahkan berbahaya. Dan

karenanya, mempelajari dan memahami isi dan kandungan yang terdapat dalam

al-Qur’an adalah niscaya.



B. Pembahasan Prestasi Belajar

     1. Pengertian Prestasi

         Menurut bahasa, prestasi belajar itu adalah hasil yang telah dicapai32 (dari

yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya) demikian juga dikatakan oleh

ahli bahasa W. J. S Poerwaradminto, yaitu: prestasi adalah hasil yang telah dicapai

(dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).33

         Jadi pengertian prestasi adalah suatu hasil yang telah dicapai dari suatu

yang dilakukan atau dikerjakan dan di dalam mencapai hasil itu ditempuh melalui

usaha yang sungguh-sungguh sehingga memperoleh suatu keberhasilan yang

menyenangkan.

     2. Definisi Belajar

         Banyak orang yang beranggapan bahwa yang dimaksud belajar adalah

mencari ilmu atau menuntut ilmu. Ada lagi yang secara khusus mengartikan

belajar adalah menyerap pengetahuan. Ini berarti bahwa belajar mesti

mengumpulkan fakta-fakta sebanyak-banyaknya. Jika konsep ini dipakai orang,


32
   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai
Pustaka, 1995), hlm. 787.
33
   W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm.
768.
                                                                                       28




maka orang tersebut perlu dipertanyakan, apakah dengan belajar semacam itu

orang menjadi tumbuh dan berkembang?

        Terkadang belajar dimaknai dengan latihan semata seperti yang tampak

pada latihan menulis dan membaca. Biasanya, orang yang memiliki paradigma

semacam ini, akan merasa puas manakala anak-anak mereka telah mampu menulis

dan membaca walaupun prestasi yang dicapai itu kosong dari arti, hakikat dan

tujuan dari belajar.

        Tidak sedikit para pakar yang memformulasikan definisi belajar dengan

perspektif yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat tentang arti belajar itu

disebabkan karena adanya kenyataan bahwa perbuatan belajar itu sendiri

bermacam-macam. Banyak jenis kegiatan yang oleh mereka dapat disepakati

sebagai perbuatan belajar misalnya, menirukan ucapan kalimat, mengumpulkan

pembendaharan kata, fakta, menghafal, menghitung, dan seterusnya. Namun

demikian, jenis tadi adalah pengertian belajar perspektif tradisional.34

        Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati mendefinisikan belajar sebagai

suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan (kognitif, afektif,

psikomotor) manusia yang bukan disebabkan oleh pertumbuhan fisiologis atau

proses kematangan.35 Perubahan tingkah laku atau pengalaman itu berkat adanya

pengalaman dan latihan.36

        James O. Wittaker, sebagaimana dikutip oleh Wasty Soemanto

mengatakan bahwa learning may be defined as the process by which behavior

34
   Abu Ahmadi, Cara Belajar yang Mandiri dan Sukses (Solo: C.V. Aneka, 1993), hlm. 20.
35
   Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993), hlm. 5.
36
   Oemar Hamalik, Metoda Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar (Bandung: Tarsito, 1983),
hlm. 21.
                                                                                           29




originates or is altered through training or experience. Belajar adalah proses di

mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman.37

        Definisi yang tidak jauh berbeda dengan definisi di atas, dikemukakan

oleh Chaplin. Chaplin dalam Dictionary of Psichology membatasi belajar dengan

dua rumusan. Pertama, … acquisition of any relatively permanent change in

behavior as result of practice and axperience. Kedua, process of acquiring

responses as a result of special practice.38 Belajar adalah perolehan perubahan

tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman.

Belajar juga merupakan proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya

latihan khusus.

        Muhaimin dkk., mendefinisikan learning can be defined as a change in

behavior as a result of axperience. The behavior can be physical and overt, or it

can be intellectual or attitudinal, not easily seen.39 Belajar dapat didefinisikan

dengan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, tingkah laku itu

bisa berujud fisik, atau bisa juga intelektual, atau merupakan sikap yang tidak bisa

kelihatan.

        Gronbach, sebagaimana dikutip oleh Sumadi Suryabrata, mengatakan

learning is shown by a change in behavior as a result of experience. Sesuai

dengan ini adalah pendapatnya Harold Spears bahwa learning is to be observe, to

read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction.40


37
    Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan) (Jakarta:
Rineka Cipta, 1990), hlm. 104.
38
   Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm.60-61.
39
   Muhaimin, dkk., Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama) (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), hlm. 44.
40
   Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002) hlm. 231.
                                                                                          30




        Tabrani Rusyan dkk., mengatakan belajar adalah memodifikasi atau

memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Belajar adalah suatu proses

perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Hal ini

berbeda dengan pengertian lama tentang belajar.41

        Perubahan yang terjadi pada individu bisa berupa penambahan informasi,

pengembangan atau peningkatan pengertian, penerimaan sikap-sikap baru,

perolehan penghargaan baru, pengerjaan sesuatu dengan mempergunakan apa

yang telah dipelajari.42

        Selanjutnya, definisi yang agak eksplisit lagi adalah yang dikemukakan

oleh Hilgard: Learning is the process by which an activity originates or is

changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural

environment) as distinguished from change by factors not attributable to

training.43 Belajar adalah suatu proses timbulnya atau berubahnya tingkah laku

melalui latihan dan dibedakan dari perubahan yang diakibatkan oleh faktor-faktor

yang bukan digolongkan latihan.

        Nana Sudjana mengatakan bahwa belajar adalah proses yang ditandai

dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses

belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan,

pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, serta perubahan lainnya.44



41
   Tabrani Rusyan, dkk., Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Rosdakarya,
1994), hlm. 7.
42
   A. Surjadi, Membuat Siswa Aktif Belajar (Bandung: Mandar Maju, 1989), hlm. 4.
43
   Agus Soejanto, Bimbingan ke Arah Belajar yang Sukses (Bandung: Aksara Baru, 1990), hlm.
21..
44
   Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru,
1989), hlm. 5.
                                                                              31




         Bertolak dari beberapa definisi di atas, secara umum belajar dapat

dipahami sebagai tahapan perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang

terjadi sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang

melibatkan proses kognitif. Itu artinya bahwa dalam belajar terdapat tingkah laku

yang mengalami perubahan sebagai akibat dari interaksi dan pengalaman serta

latihan, dan karena itu, perubahan tingkah laku yang disebabkan bukan oleh

latihan dan pengalaman tidak digolongkan sebagai belajar. Pun, belajar

menyangkut perubahan dalam suatu organisme sebagai hasil pengalaman.

         Keberhasilan yang dicapai peserta didik dalam belajar hendaknya dapat

dibuktikan di sekolah yang dilakukan melalui penilaian. Penilaian bertujuan untuk

memberikan umpan balik bagi perencanaan, pelaksanaan dan pengajaran sehingga

mereka mengetahui kemajuan belajarnya.

         Dan, mengenai prestasi belajar yang dicapai siswa di sekolah pada

umumnya dilukiskan pada buku raport atau leger yang berupa nilai-nilai atau

angka.

  3. Ciri-ciri Perubahan Hasil Belajar

         Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa seseorang itu bisa

disebut belajar manakala orang tersebut mengalami perubahan tertentu, seperti

pada awalnya ia tidak bisa mengendarai mobil kemudian menjadi mahir dalam

mengendari mobil dan dapat menggunakannya dengan baik.

         Namun demikian, tidak semua perubahan yang terjadi dalam diri

seseorang bisa disebut belajar. Sebagai contoh adalah proses kematangan yang

terjadi pada diri manusia dari yang semula tidak bisa merangkak kemudian
                                                                                     32




menjadi bisa merangkak. Begitu juga dengan perubahan yang terjadi dalam diri

seseorang karena proses kebetulan, tidak bisa dikategorikan sebagai belajar.

Contohnya ketika seseorang yang secara kebetulan bisa memperbaiki motornya

yang rusak, namun ketika ia harus mengerjakan sekali lagi ia tidak dapat

melakukannya. Jadi, usaha yang harus dikerjakan dan kecakapan yang merupakan

hasil dari belajar tidak ada dalam diri orang tersebut.

           Jadi, ciri-ciri suatu kegiatan bisa disebut belajar apabila kegiatan tersebut

menghasilkan perubahan pada diri seseorang berupa perubahan terjadi secara

sadar, bersifat fungsional, bersifat positif aktif, bukan bersifat sementara,

mencakup seluruh tingkah laku, dan bertujuan atau terarah. Muhibbin Syah

mengatakan bahwa ciri-ciri kegiatan bisa disebut belajar apabila kegiatan tersebut

menuju perubahan Intensional, positif, dan perubahan efektif.45

           Perubahan intensional berarti pengalaman atau praktik, atau latihan itu

disengaja dan disadari dilakukannya dan bukan secara kebetulan; dalam arti

perubahan yang disebabkan karena kematangan sebagaimana yang disebut di atas,

tidak dapat dipandang sebagai perubahan belajar.

           Perubahan positif berarti sesuai dengan apa yang diharapkan atau sesuai

dengan kriteria keberhasilan, baik dari segi peserta didik maupun guru. Perubahan

efektif dalam arti mempunyai pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar yang

bersangkutan serta fungsional dalam arti perubahan hasil belajar itu relatif tetap

dan setiap saat diperlukan dapat diproduksikan seperti dalam pemecahan masalah,




45
     Muhibbin Syah, op. cit., hlm. 106.
                                                                                           33




maupun dalam penyesuaian diri dengan kehidupan sehari-hari dalam rangka

mempertahankan kelangsungan hidup.

           Adapun perubahan intensional, positif, dan perubahan efektif itu terjadi

pada kawasan atau ranah kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Yaitu mencakup

segenap ranah psikologis siswa. Menurut Muhibbin Syah, bahwa kunci pokok

untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar adalah mengetahui garis-garis

besar indikator yang terkait dengan jenis prestasi yang diinginkan seperti tabel

berikut ini:46

                                              Tabel 2.1
                            Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi
   Ranah/Jenis Prestasi                       Indikator                    Cara Evaluasi
 A. Ranah Kognitif

      1. Pengamatan                 1. Dapat menunjukkan;           1. Tes lisan;
                                    2. Dapat membandingkan;         2. Tes tertulis;
                                    3. Dapat menghubungkan.         3. Observasi.

      2. Ingatan                    1. Dapat menyebutkan;           1. Tes lisan;
                                    2. Dapat menunjukkan            2. Tes tertulis;
                                       kembali.                     3. Observasi.


      3. Pemahaman                  1. Dapat menjelaskan;           1. Tes lisan;
                                    2. Dapat mendefinisikan         2. Tes tertulis.
                                       dengan lisan sendiri.

      4. Aplikasi/Penerapan         1. Dapat memberikan contoh;     1. Tes tertulis;
                                    2. Dapat menggunakan secara     2. Pemberian tugas;
                                       tepat.                       3. Observasi.

      5. Analisis                   1. Dapat menguraikan;           1. Tes tertulis;
         (Pemeriksaan dan           2. Dapat mengklasifikasikan/    2. Pemberian tugas.
         pemilihan secara              memilah-milah.
         teliti)

      6. Sintesis                   1. Dapat menghubungkan;         1. Tes tertulis;
         (Membuat paduan            2. Dapat menyimpulkan;          2. Pemberian tugas.
         baru dan utuh)             3. Dapat menggeneralisasikan.


46
     Ibid., hlm. 193-195.
                                                                                     34




                                Tabel 2.2 Lanjutan
 B. Ranah Afektif

   1. Penerimaan             1. Menunjukkan sikap           1. Tes tertulis;
                                menerima;                   2. Tes skala sikap;
                             2. Menunjukkan sikap           3. Observasi.
                                menolak.

   2. Sambutan               1. Kesediaan                   1. Tes skala sikap;
                                berpartisipasi/terlibat;    2. Pemberian tugas;
                             2. Kesediaan                   3. Observasi.
                                memanfaatkan.

   3. Apresiasi              1. Menganggap penting dan      1. Tes skala penilaian
     (Sikap menghargai)         bermanfaat;                    sikap;
                             2. Menganggap indah dan        2. Pemberian tugas;
                                harmonis;                   3. Observasi.
                             3. Mengagumi.

   4. Internalisasi          1. Mengakui dan meyakini;
     (Pendalaman)            2. Mengingkari.                1. Tes skala sikap;
                                                            2. Pemberian
                                                               tugasekspresif (yang
                                                               menyatakan sikap) dan
   5. Karakterisasi          1. Melembagakan atau              tugas proyektif (yang
     (Penghayatan)              meniadakan;                    menyatakan perkiraan
                             2. Menjelmakan dalam              atau ramalan).
                                pribadi dan perilaku
                                sehari-hari.                1. Pemberian tugas
                                                               ekspresif dan proyektif;
                                                            2. Observasi.
 C. Ranah Karsa
   (Psikomotor)

 1. Keterampilan bergerak    1. Kecakapan                   1. Observasi;
    dan bertindak               mengkoordinasikan           2. Tes tindakan.
                                gerak mata, tangan, kaki,
                                dan anggota tubuh
                                lainnya

 2. Kecakapan ekspresi       1. Kefasihan melafalkan;       1. Tes lisan;
    verbal dan non-verbal    2. Kecakapan membuat           2. Observasi;
                                mimik dan gerakan           3. Tes tindakan
                                jasmani.
                   Sumber: Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, 1999

       Ketiga hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik ini dalam

pengajaran merupakan tiga hal yang secara perencanaan dan progmatik terpisah,
                                                                                                            35




tapi pada kenyataanya pada diri siswa akan merupakan satu mata rantai kesatuan

yang utuh dan bulat. Ketiganya di dalam kegiatan belajar-mengajar masing-

masing direncanakan sesuai dengan butir-butir bahan pelajaran. Dan karena

semua itu bermuara kepada siswa, maka setelah terjadi proses internalisasi akan

terbentuk suatu kepribadian yang utuh.

           Ketiga aspek itu berlaku juga pada penilaian pada pendidikan agama

Islam, namun khusus untuk sub pokok bahasan al-Qur’an walaupun juga

mempunyai aspek kognitif tapi karena tujuanya adalah kemampuan dan

kegemaran membaca dan memahami al-Qur’an maka untuk mengetahui hasil

belajar siswa tidak digunakan tes kognitif, malainkan lebih ditekankan pada tes

psikomotorik (ranah karsa).

           Sejalan dengan tujuan belajar untuk memperoleh hasil belajar yang pada

prinsipnya ada perubahan antara keadaan sebelum dan sesudah belajar, yang

semula tidak tahu menjadi tahu, yang semula tidak bisa menjadi bisa, menurut

ajaran Islam secara tegas telah dinyatakan oleh Allah swt dalam Surat Az-Zumar

ayat: 9:

     ‫َب ق‬                            ِ ‫ر‬                     َ                               ‫أ َّ ه ت‬
‫َمنْ ُوَ قَاِن ٌ آنَاء اللَّْيلِ سَاجِداً وقَائِماً َيحْذَ ُ اآلخرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رِّهِ ُل هَل‬
                                       ‫م ِن ذ َّر أ‬                          ‫م َ َالذ‬             ‫الذ‬
                      ِ‫يَسْتَوِي َّ ِينَ َيعْلَ ُون و َّ ِينَ الَ َيعْلَ ُونَ إَّمَا يَتَ َك ُ ُوْلُوا األَلبَاب‬
             Artinya:
             “(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah
             orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri,
             sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat
             Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui
             dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang
             yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Q. S. Az-Zumar: 9).47

47
     Depag RI, Op. cit., hlm. 460.
                                                                                   36




         Apabila orang yang belajar itu tidak berubah, dalam arti keadaanya sama

saja antara saat belum belajar dengan saat sesudah belajarnya. Dan hasil belajar

ini akan diperoleh dengan baik apabila dilakukan proses belajar-mengajar pula.

     4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

         Belajar sebagai proses atau aktifitas banyak dipengaruhi oleh beberapa

faktor. Secara global, menurut Muhibbin Syah, faktor-faktor yang mempengaruhi

belajar siswa dapat kita bedakan menjadi tiga macam bagian, yakni: faktor

internal siswa (jasmani dan rohani siswa), eksternal siswa (lingkungan sekitar

siswa), dan faktor pendekatan (strategi dan metode yang digunakan siswa).48

         Selanjutnya, menurut Wasty, faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar

banyak sekali. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar, dapat

digolongkan menjadi tiga macam, yaitu: faktor stimuli belajar, faktor metode

belajar, dan faktor-faktor individual.49

         Sumadi Suryabrata mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

belajar ada dua macam, yaitu: faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar

seperti faktor sosial dan non sosial, faktor-faktor yang berasal dari dalam si pelajar

seperti faktor fisiologis dan psikologis.50

         Senada dengan pendapat Sumadi, M. Alisuf Sabri mengatakan bahwa

secara garis besar faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar ada dua




48
   Muhibbin Syah, op. cit., hlm. 130.
49
   Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 113.
50
   Sumadi Suryabrata, op. cit., hlm. 233.
                                                                                          37




macam: internal dan eksternal. Faktor eksternal             terdiri dari lingkungan dan

instrumental, sedangkan faktor internal terdiri dari fisiologis dan psikologis.51

         Dari beberapa pemikiran di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi aktifitas belajar siswa ada dua jenis faktor, yaitu faktor

internal siswa, faktor eksternal siswa. Adapun faktor internal terdiri dari faktor

jasmaniah (fisiologis) dan psikologis (rohaniah) serta faktor kematangan fisik atau

psikis. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari faktor lingkungan dan faktor

instrumental.

     1. Faktor Internal

         Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor-faktor yang

yang mempengaruhi dalam belajar yang berasal dari dalam diri siswa berupa

kondidi fisiologis, psikologis, dan faktor kematangan fisik maupun psikis siswa.

       a. Aspek Fisiologis

         Kondisi fisiologis pada umunya dapat melatar belakangi kegiatan siswa

dalam belajar. Keadaan jasmani yang segar akan berbeda pengaruhnya dengan

keadaan jasmani yang kurang segar. Begitu juga dengan kondisi tubuh yang

lemah akan berpengaruh terhadap proses belajar siswa.

         Muhibbin Syah mengatakan bahwa kondisi umum jasmani dan tonus

(tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-

sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti

pelajaran . Kondisi tubuh yang lemah berpengaruh pada kualitas ranah cipta.52

Jadi, orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Orang yang
51
   M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasinal (Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 1996), hlm. 83.
52
   Muhibbin Syah, op. cit. hlm. 132.
                                                                                        38




badannya sakit akibat penyakit-penyakit tertentu serta kelelahan tidak akan dapat

belajar dengan efektif.53

         Karena itu, untuk mempertahankan kondisi tubuh agar tetap segar bugar,

siswa dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman dengan nilai gizi

yang cukup. Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan

menyebabkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan,

lekas mengantuk, lekas lelah, dan sebagainya. Lebih-lebih bagi anak-anak yang

masih sangat muda, pengaruh itu besar sekali.54

         Di samping masalah kesehatan tubuh, yang melatar belakangi siswa dalam

belajar, fungsi-fungsi jasmani tertentu khususnya panca indera siswa juga sangat

mempengaruhi terhadap kemampuan siswa dalam belajar. Panca indera yang

dimaksud di sini adalah terutama penglihatan dan pendengaran.

         Menurut Suryabrata, sebagian besar yang dipelajari oleh manusia

dipelajarinya dengan menggunakan penglihatan dan pendengaran. Orang belajar

dengan     membaca,      melihat    contoh    atau    model,    melakukan      observasi,

mendengarkan keterangan guru, mendengarkan diskusi, dan lain-lain.55

         Untuk mengantisipasi terjadinya masalah mata dan telinga di atas, maka

menjadi kewajiban bagi setiap pendidik untuk menjaga agar fungsi panca indera

anak didiknya tetap berfungsi dengan baik.




53
   Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 121.
54
   Sumadi Suryabrat, op. cit., hlm. 235.
55
   Sumadi Suryabrata, Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: Andi Offset,
1989), hlm. 10.
                                                                                           39




      b. Aspek Psikologis

        Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi

kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. Namun, di antara faktor-faktor

rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai

berikut: inteligensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi.56

         1) Inteligensi Siswa

        Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan

untuk menghadapi dan menyesusikan diri dalam situasi yang baru dengan cepat

dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep yang abstrak secara efektif,

mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.57 Jadi, intelegensi

sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-

organ tubuh lainnya.58

        Nah, tingkat kecerdasan atau inteligensi siswa itu, sangat berpengaruh

dalam belajar. Ini artinya, semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa

maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin

rendah kemampuan inteligensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya

untuk memperoleh sukses.

        Ngalim      Purwanto     mengatakan       bahwa     dapat     tidaknya    seseorang

mempelajari sesuatu dengan berhasil baik ditentukan/dipengaruhi oleh taraf

kecerdasannya.59 Namun demikian, faktor inteligensi bukan secara mutlak

mempengaruhi proses seseorang dalam belajar menuju sebuah keberhasilan. Hal

56
   Muhibbin Syah, op. cit., hlm 132.
57
   Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm.
56.
58
   Muhibbin Syah, op. cit., hlm. 134.
59
   M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: CV. Remadja Karya, 1988), hlm, 107.
                                                                                40




ini mengingat bahwa belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan banyak

faktor yang mempengaruhinya. Jika faktor lain itu menghambat terhadap belajar

siswa, akhirnya siswa akan gagal dalam belajarnya.

            Untuk itu, seorang guru yang professional hendaknya menempatkan siswa

dalam tingkatan yang sesuai dengan taraf intelegensi yang dimiliki. Hal ini

dimaksudkan untuk menghindari kesulitan dalam proses belajar mengajar. Di satu

sisi siswa yang memiliki taraf intelegensi tinggi akan merasa tidak mendapatkan

perhatian yang memadai dari sekolah karena pelajaran yang ia terima terlampau

mudah baginya. Akibatnya, ia menjadi bosan dan frustasi karena tuntutan

kebutuhan keingintahuannya (curiosity) merasa dibendung secara tidak adil.

            Di sisi lain, siswa yang memiliki taraf kecerdasan yang rendah akan

merasa sangat payah mengikuti sajian pelajaran karena terlalu sukar baginya.

Karenanya siswa itu sangat tertekan, dan akhirnya merasa bosan dan frustasi

seperti yang dialami rekannya yang luar biasa positif tadi.

            2) Sikap

            Pespektif Slameto, sikap adalah perhatian. Perhatian, lanjutnya, adalah

keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu

objek atau sekumpulan objek.60 Muhibbin Syah menegaskan bahwa sikap adalah

gejala yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau

merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan

sebagainya baik secara positif maupun negatif.61




60
     Slameto, op. cit., hlm. 58.
61
     Muhibbin Syah, loc. Cit.
                                                                                           41




        Bagaimanapun sikap siswa sangat berpengaruh dalam proses belajar.

Sikap siswa yang baik terhadap guru dan mata pelajaran yang disajikan

merupakan pertanda awal yang baik bagi berlangsungnya proses belajar.

Sebaliknya, sikap negatif yang ditampakkan siswa terhadap guru dan pelajaran

yang ditawarkan merupakan pertanda awal yang buruk dalam proses belajar

mengajar.

        Mustaqim dan Abdul Wahid mengatakan bahwa murid yang benci

terhadap gurunya tak akan lancar belajarnya. Sebaliknya apabila murid suka pada

gurunya tentu akan membantu belajarnya. Begitu juga dengan mata pelajaran

yang disukai akan lancar dipelajari dibanding pelajaran yang kurang disenangi. 62

        Namun demikian, sikap kurang senangnya siswa terhadap pelajaran bisa

disiasati dengan performance guru terhadap siswa. Sebab pengetahuan,

penampilan dan sikap guru yang baik akan berakibat baik pada sikap siswa

terhadap pelajaran yang disajikan. Dan begitu juga sebaliknya, mata pelajaran

yang yang disenangi oleh siswa akan berubah menjadi mata pelajaran yang

membosankan manakala pengetahuan, penampilan, dan sikap guru tidak baik.

         3) Bakat

        Menurut Chaplin dan Reber (dalam Muhibbin Syah), secara umum, bakat

(aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai

keberhasilan pada masa yang akan datang.63 Kemampuan itu baru akan terealisasi

menjadi kecakapan yang nyata sesudah ia belajar.64 Dengan demikian setiap



62
   Mustaqim dan Abdul Wahid, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 64-65.
63
   Muhibbin Syah, op. cit., hlm. 135.
64
   Slameto, op. cit., hlm. 59.
                                                                               42




individu pasti memiliki kemampuan potensial sesuai kapasitasnya dalam

mencapai prestasi.

           Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian

dimaknai dengan potensi seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa banyak

tergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Banyak orang yang menyebut

bakat, dalam terminology ini, dengan sebutan bakat khusus yang dibawa

seseorang sejak ia lahir.

           Oleh karena itu, manakala mata pelajaran yang dipelajari siswa sesuai

dengan bakat yang dimiliki maka hasil belajar yang diperolehnya akan lebih baik

dari pada mempelajari mata pelajaran yang tidak sesuai dengan bakat yang

dimilikinya. Seorang siswa yang memiliki bakat di bidang seni, misalnya, akan

jauh lebih mudah menyerap pengetahuan yang berhubungan dengan seni. Jadi,

bakat sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar siswa.

            4) Minat

           Dalam pengertian yang sederhana, minat adalah gairah yang tinggi

terhadap sesuatu. Hilgard, sebagaimana dikutip oleh Slameto, memberikan

pengertian bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan

dan mengenang terus menerus terhadap beberapa kegiatan yang disertai rasa

senang.65

           Keberadaan minat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa tidak bisa

disangkal lagi. Siswa yang tidak berminat mempelajari mata pelajaran tertentu

jangan diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari mata


65
     Slameto, op. cit., hlm. 58-59.
                                                                                   43




pelajaran tersebut. Sebab, sebagaimana disebut di atas, siswa yang dalam kondisi

seperti itu tidak memiliki gairah dan rasa senang yang sangat membantu siswa

untuk lebih giat dalam belajar.

            Sebaliknya, siswa yang mempunyai minat (interest) tinggi dalam

mempelajari mata pelajaran tertentu, maka dapat dipastikan bahwa hasilnya akan

lebih baik. Kemudian, karena kecenderungannya dan rasa senang yang intensif

terhadap materi yang dipelajari itulah yang menjadikan siswa tadi belajar dengan

rajin dan tekun yang pada gilirannya akan memperoleh hasil yang cukup

memuaskan.

            5) Motivasi

           Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk

melakukan sesuatu.66 Motovasi merupakan pendorong bagi suatu organisme

dalam melakukan segala kegiatan, termasuk belajar. Dalam perspektif Slameto,

motivasi sangat erat sekali hubungannya dengan tujuan yang ingin dicapai. 67

           Jadi, dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa motivasi belajar adalah

pendorong seseorang untuk melakukan kegiatan proses belajar. Pendorong

seseorang dalam proses belajar itu bermacam-macam: bisa berbentuk tujuan,

karena hukuman, hadiah, dan lain-lain. Sebuah kegiatan dalam proses belajar yang

dilakukan oleh siswa akan kurang bergairah manakala tidak dibarengi dengan

adanya motivasi. Begitu juga sebaliknya, siswa akan semangat dalam belajar

apabila memiliki motivasi yang jelas.




66
     Sumadi Suryabrata, op. cit., hlm. 12.
67
     Slameto, op. cit., hlm. 60.
                                                                             44




         c. Aspek Kematangan Fisiologis dan Psikologis

           Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang

di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.68

Wasty menegaskan bahwa kematangan itu dicapai oleh individu dari proses

fisiologinya. Kematangan terjadi akibat perubahan kuantitatif yang dibarengi

dengan perubahan kualitatif terhadap struktur tersebut.69

           Dari sini, dapat dipahami bahwa pertumbuhan dan perkembangan

seseorang dalam aspek fisiologis maupun psikologis sangat menentukan terhadap

keberhasilan dalam proses belajar. Artinya, seseorang tidak akan mungkin

mengajari anak bayi yang baru lahir untuk berjalan. Seorang guru juga tidak akan

mungkin memberikan pelajaaran ilmu filsafat terhadap anak didik yang masih

berada pada taraf atau jenjang pendidikan dasar. Hal itu semua disebabkan karena

tidak sesuai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan (baca: kematangan)

yang ada pada anak didik tersebut.

           Jadi, proses belajar akan lebih mudah dan akan lebih bermakna apabila

tingkat atau fase fisik atau psikis anak didik berada dalam pertumbuhan dan

perkembangan yang memungkinkan menerima kecakapan baru tersebut.

      2. Faktor Eksternal

           Sedangkan yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor-faktor

yang datang dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi proses belajar, baik

faktor lingkungan dan/atau faktor instrumental.




68
     Ibid.
69
     Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 119.
                                                                                        45




      a. Faktor Lingkungan

        Faktor lingkungan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu

lingkungan sosial dan lingkungan non sisial.

        1) Lingkungan Sosial

        Yang dimaksud dengan lingkungan sosial di sini adalah kondisi keluarga

dan masyarakat yang melingkupi siswa tersebut dalam proses belajar. Faktor-

faktor fisik dan sosial psikologis yang ada dalam keluarga sangat berpengaruh

terhadap prestasi belajar anak.

        Keluarga, merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses

pendidikan. Orang tualah yang menjadi pendidik pertama dan utama. 70 Sebab

lingkungan yang paling banyak bersentuhan dengan anak adalah keluarga itu

sendiri. Dan dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan secara alami

dan kodrati berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi

secara timbal balik antara orang tua dan anak.71

        Orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya,

tidak memperhatikan akan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar,

tidak memperhatikan bagaimana kemajuan anaknya dalam belajar dapat

menyebabkan anak kurang (dan bahkan tidak) berhasil dalam belajarnya. Hal ini

bisa terjadi dalam sebuah keluarga yang kedua orang tuanya disibukkan dengan

pekerjaan mereka, atau memang orang tua tidak mencintai anaknya.

        Keutuhan keluarga secara structural maupun fungsional juga merupakan

unsur yang ikut menentukan keberhasilan belajar anak dalam lingkungan
70
   Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001),
hlm. 155.
71
   Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 35.
                                                                                 46




keluarga. Keluarga yang tidak utuh kurang memberikan dukungan yang positif

terhadap perkembangan belajar anak. Karena ketidak utuhan keluarga baik secara

structural maupun fungsional akan menimbulkan kekurangseimbangan baik dalam

pelaksanaan tugas-tugas keluarga maupun dalam memikul beban-beban keluarga

lainnya.

       Begitu juga dengan iklim psikologis yang ada dalam keluarga dapat

mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar. Iklim psikologis di sini

berkenaan dengan perasaan yang meliputi keluarga. Iklim psikologis yang sehat

diwarnai oleh rasa sayang, saling percaya, terbuka, rasa saling meiliki, akrab, dan

sebagainya antar keluarga. Apabila ciri-ciri di atas tidak ada dalam suatu keluarga,

menunjukkan iklim psikologis yang ada dalam keluarga tersebut kurang sehat.

Iklim psikologis yang sehat akan mendukung kelancaran dan keberhasilan belajar,

sebab suasana yang demikian dapat memberikan ketenangan, kegembiraan, rasa

percaya diri, dan gairah untuk menambah ilmu pengetahuan dalam keluarga.

       Yang tak kalah pentingnya juga adalah iklim belajar dalam keluarga.

Keluarga yang memilki banyak sumber bacaan dan anggota-anggotanya gemar

belajar dan membaca akan memberikan dukungan positif terhadap perkembangan

belajar dari anak. Sebaliknya, keluarga yang miskin dengan sumber bacaan dan

tidak senang membaca tidak akan mendorong anak-anaknya untuk senang belajar.

       Di samping itu, lingkungan fisik juga perlu diperhatikan. Suasana rumah

di sekitar pasar atau terminal, suasana yang gaduh, semrawut tidak akan

memberikan ketenangan anak dalam belajar. Untuk itu, agar anak dapat belajar

dengan baik, perlu dibikin rumah dalam suasana yang tenang dan tentram. Dalam
                                                                                47




suasana yang demikian, anak akan betah tinggal di rumah dan dapat belajar

dengan baik.

           Selanjutnya, adalah kondisi masyarakat. Kondisi sosial menyangkut

hubungan siswa dengan masyarakat juga menentukan akan keberhasilan siswa

dalam belajar. Masyarakat dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti

organisasi kemasyarakatan, bentuk kehidupan, serta teman yang diajak bergaul

oleh siswa sangat mendukung akan keberhasilan siswa proses belajar.

           Kegiatan siswa dalam masyarakat baik sosial, organisasi, keagamaan, dan

lain-lain, dapat mendukung kesuksesan dalam belajarnya jika kegiatan yang

diikuti oleh siswa itu tidak terlalu banyak sehingga dapat mengganggu

konsentrasinya dalam belajar. Di samping itu, siswa juga harus bisa mengatur

waktu, kapan ia harus belajar dan kapan pula ia harus andil dalam masyarakat.

           Kehidupan masyarakat di sekitar siswa juga berpengaruh terhadap

perkembangan belajar siswa. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak

terpelajar akan berpengaruh buruk pada siswa yang berada di lingkungannya.

Paling tidak, menurut Muhibbin Syah, siswa tersebut akan menemukan kesulitan

ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau meminjam alat-alat belajar

tertentu yang kebetulan belum dimilikinya.72

           Begitu juga dengan teman bergaul yang ada dalam masyarakat tersebut

akan banyak berpengaruh pada keberhasilan siswa dalam belajar. Teman bergaul

yang baik akan berakibat baik terhadap diri siswa, begitu juga sebaliknya, teman

bergaul yang jelek pasti berpengaruh buruk pada siswa tersebut. Oleh karena itu,


72
     Muhibbin Syah, op. cit., hlm. 137.
                                                                                          48




Imam az-Zarnuji mengingatkan kepada orang yang belajar hendaknya memilih

teman yang rajin, wara’ (memelihara dari barang yang haram), memiliki tabi’at

yang benar, dan saling pengertian.73

         2) Lingkungan non-Sosial

        Yang dimaksud dengan lingkungan non sosial di sini adalah lingkungan

alami. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembapan udara berpengaruh

pada proses dan hasil belajar siswa. Belajar pada keadaan udara yang segar akan

lebih baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap.

Banyak yang mengatakan bahwa belajar pada waktu pagi dan sore hari lebih

efektif daripada belajar pada waktu-waktu yang lain. Namun demikian, menurut

Muhibbin Syah, persoalan kapan waktu yang dipercaya efektif dipergunakan

untuk belajar, tidak perlu diperhatikan. Yang paling penting adalah kesiapan

sistem memori siswa dalam menyerap, mengelola, dan menyimpan pengetahuan

yang dipelajari.74

      b. Faktor Instrumental

        Sedangkan faktor instrumental terdiri dari hard ware instrumental (seperti

gedung sekolah, dan alat-alat praktikum) dan soft ware instrumental (seperti

kurikulum, tenaga pendidik, dan pedoman belajar).

         1) Hard Ware Instrumental

        Perangkat keras seperti gedung sekolah dan alat-alat praktikum yang

dipergunakan oleh siswa akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.

Kondisi fisik yang tidak memungkinkan dalam menampung siswa akan berakibat
73
   Syaikh Imam Burhanuddin al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim Thuruq al-Ta’allum (Surabaya: al-
Hidayah, t.t), hlm. 14.
74
   Muhibbin Syah, op. cit., hlm. 140
                                                                                49




buruk pada siswa. Para siswa tidak akan bisa belajar dengan enak dan nyaman.

Begitu juga dengan fasilitas berupa alat-alat praktikum ikut mendukung terhadap

belajar siswa.

        2) Soft Ware Instrumental

       Adapun perangkat lunak yang dapat mempengaruhi siswa dalam proses

belajarnya adalah kurikulum, tenaga pendidik, dan pedoman belajar. Kurikulum

yang kurang baik akan berpengaruh jelek pada perkembagaanÿÿiswa dalam

belajar. Sedangkan kurikulum yang baik, seperti kurikulum yang berpusat dan

mampu mengembangkan potensi kemanusiaan siswa, akan berpengaruh baik pula

terhadap perkembangan siswa dalam belajar.

       Guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dan

profesional      dalam   menjalankan   tugasnya   akan   berdampak     baik    bagi

perkembangan siswa dalam belajar. Di samping itu, yang tak kalah pentingnya

juga, adalah pedoman sekolah. Pedoman sekolah yang bagus akan menentukan

keberhasilan siswa dalam belajar. Demikian juga apabila pedoman sekolah itu

tidak baik akan menyebabkan terhambatnya siswa dalam proses belajar.



C. Pembahasan Pendidikan Agama Islam

  1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

       Para ahli pendidikan Islam mencoba memformulasikan pengertian

pendidikan Islam. Di antara batasan yang sangat bervariatif tersebut adalah:

- Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan

 atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan
                                                                                               50




     rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan

     kamil).75

- Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang

     diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan

     ajaran Islam.76

- Hery Noer Aly mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha berproses

     yang dilakukan menusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju

     kesempurnaan berdasarkan Islam.77

- H. Samsul Nizar mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang

     memungkinkan       seseorang      (baca:    peserta     didik)     dapat    mengarahkan

     kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam.78

          Muhaimin mengatakan bahwa:

          Pendidikan agama Islam adalah upaya mendidik agama Islam atau ajaran
          Islam dan nilai-nilainya agar menjadi way of life (pandangan dan sikap
          hidup) seseorang. Dalam pengertian ini, lanjutnya, pendidikan Islam dapat
          berwujud: (1) segenap kesiapan yang dilakukan seseorang atau suatu
          lembaga untuk membantu seseorang atau sekelompok peserta didik dalam
          menanamkan dan/atau menumbuh kembangkan ajaran Islam dan nilai-
          nilainya; (2) segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan antara dua
          orang atau lebih yang dampaknya ialah tertanamnya dan/atau tumbuh
          kembangnya ajaran Islam dan nilai-nilainya pada salah satu atau beberapa
          pihak.79

          Dari beberapa formulasi terminologi pendidikan Islam yang telah

dipaparkan oleh beberapa tokoh di atas, dapat dimengerti bahwa pendidikan Islam


75
   Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Alma’arif, 1980), hlm. 19.
76
   Ahmad Tafsir, Op. cit., hlm. 32.
77
   Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 13.
78
   H. Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta:
Ciputat Pers, 2002), hlm. 32.
79
   Muhaimin dkk., Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam
di Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 30.
                                                                          51




sangat luas, kompleks, dan multidimensional. Pendidikan Islam bertugas

melakukan universalisme manusia secara utuh; menggarap dimensi individual,

sosial, moral dan kepribadian, mengingat budaya agama yang imperatif;

menggarap individu yang terkait dengan tradisi di mana ia melangsungkan

hidupnya; menggarap kegiatan yang bersifat universal yang berangkat secara

individual dan menimbulkan seseorang yang unik; membangkitkan seseorang

yang beriman dan bertaqwa, beramal shaleh.

  2. Fungsi Pendidikan Agama Islam

       Fungsi kurikulum pendidikan agama Islam di Sekolah/madrasah menurut

Abdul Majid dan Dian Andayani adalah sebagai berikut:

       1) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta
          didik kepada Allah swt yang telah ditanamkan dalam lingkungan
          keluarga. Pada dasarnya kewajiban menanamkan keimanan dan
          ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah
          berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak
          melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan
          ketaqwaan peserta didik berkembang secara optimal sesuai dengan
          tingkat perkembanganya.
       2) Penanaman nilai, yaitu sebagai pedoman hidup untuk mencari
          kebahagiaan di dunia dan akhirat.
       3) Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
          fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya
          sesuai dengan ajaran agama Islam. Penyesuaian mental yaitu, untuk
          menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik
          maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai
          dengan ajaran agama Islam.
       4) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kekurangan-
          kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam hal
          keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan
          sehari-hari.
       5) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkunganya
          atau dari budaya asing yang dapat membahayakan peserta didik dan
          mengganggu perkembangan dirinya menuju manusia Indonesia
          seutuhnya.
       6) Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang
          fungsional.
                                                                                      52




        7) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki
           bakat khusus yang ingin mendalami bidang agama, agar bakat tersebut
           dapat berkembang secara optimal sehingga dapat bermanfaat untuk
           dirinya sendiri dan bagi orang lain.80

     3. Tujuan Pendidikan Agama Islam

        Pada dasarnya, pendidikan agama Islam menginginkan peserta didik yang

memiliki fondasi keimanan dan ketakwaan yang kuat terhadap Allah, Tuhan Yang

Maha Esa. Iman merupakan potensi rohani yang harus diaktualisasikan dalam

bentuk amal saleh, sehingga menghasilkan prestasi yang disebut takwa.

        Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam, sebagaimana dikutip oleh

Abdul Majid, dijelaskan bahwa

        Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk
        menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan
        pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman
        peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang
        terus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan
        bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang
        lebih tinggi.81

        Zuhairini dan Abdul Ghafir        menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan

agama Islam adalah menigkatkan taraf kehidupan manusia melalui seluruh aspek

yang ada sehingga sampai kepada tujuan yang telah ditetapkan dengan proses

tahap demi tahap.82

        Tahapan pendidikan Islam yang dilalui dan dialami oleh siswa di sekolah

dimulai dari tahapan kognisi, yakni pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap

ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, untuk selanjutnya


80
   Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan
Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 134-135.
81
   Ibid., hlm. 135
82
   Zuhairini dan Abdul Ghafir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang: UM
Press, 2004), hlm. 8-9.
                                                                                   53




menuju pada tahapan afeksi, yakni terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai-

nilai ajaran agama Islam, dalam arti menghayati dan meyakininya. Tahapan afeksi

ini terkait erat dengan kognisi, dalam arti bahwa penghayatan dan keyakinan

siswa akan kokoh manakala didasari oleh seperangkat pengetahuan dan

pemahamannya terhadap ajaran dan nilai-nilai ajaran Islam. Melalui tahapan

afeksi tersebut diharapkan dapat tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak

untuk mengamalkan dan menaati ajaran Islam yang telah diinternalisasikan dalam

dirinya (tahap psikomotorik). Dengan demikian akan terbentuk manusia muslim

yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

       Begitu hebatnya pendidikan agama Islam dalam rangka menyiapkan

peserta didiknya yang memiliki kecakapan seperti yang disebutkan di atas, maka,

mata pelajaran pendidikan agama di sekolah sejak dulu hingga sekarang tetap

memperoleh tempat dan perhatian dari pemerintah.

       Tujuan pendidikan agama Islam ini merupakan penjabaran dari fungsi dan

Tujuan Pendidikan Nasional dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 2

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab 2 pasal 3 sebagai berikut:

       Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
       mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan
       bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki
       pengetahuan, keterampilan, kesehatan, jasmani dan rohani, kepribadian
       yang mantap dan mandiri serta rasa tangggung jawab kemasyarakatan dan
       kebangsaan.83

       Adanya kata-kata beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa

dalam rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut, menunjukkan bahwa



83
 Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Bandung: Citra
Umbara, 2003), hlm. 7.
                                                                                       54




pendidikan agama Islam diharapkan berperan langsung dalam usaha pencapaian

tujuan pendidikan nasioanl, karena keimanan dan ketaqwaan hanya bisa dicapai

melalui ajaran agama yang dianut. Pendidikan agama termasuk pendidikan agama

Islam mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting dalam sistem

pendidikan nasional.

        Pendidikan agama Islam pada pendidikan dasar bertujuan memberikan

kemampuan       dasar   kepada     peserta   didik    tentang    agama    Islam    untuk

mengembangkan kehidupan beragama sehingga menjadi manusia muslim yang

beriman dan bertaqwa kepada Allah swt serta berakhlak mulia sebagai pribadi,

anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia, serta untuk

mengikuti pendidikan menengah.

     4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

        Untuk itu, dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka ruang lingkup

materi pendidikan agama Islam untuk jenjang SMP sebagaimana tercantum dalam

Standar Nasional mencakup lima unsur pokok yaitu: al-Qur’an, keimanan, akhlak,

fiqih/ibadah, dan tarikh.84

        Dari kelima ruang lingkup pendidikan agama Islam SMP di atas,

kemampuan minimal atau dasar yang harus dimiliki oleh siswa dalam belajar

pendidikan agama Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Muhaimin, adalah

sebagai berikut:

        1) Al-Qur’an
           a) Membaca, mengartikan, dan menyalin surat-surat pilihan.


84
   Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan
Kurikulum, hingga Redifinisi Islamisasi Pengetahuan (Bandung: Nuansa Cendikia, 2003), hlm.
78.
                                                                              55




              b) Menerapkan hukum bacaan alif lam syamsiyah dan alif lam
                 qamariyah, nun mati/tanwin dan mim mati.
              c) Menerapkan bacaan qalqalah, tafkhim dan tarqiq huruf lam dan ra’
                 serta mad.
              d) Menerapkan hukum bacaan waqaf dan idgham.
           2) Keimanan
              a) Beriman kepada Allah Swt, dan memahami sifat-sifat-Nya.
              b) Beriman kepada Malaikat-malaikat Allah dan memahami tugas-
                 tugasny.
              c) Beriman kepada kitab-kitab Allah Swt dan memahami arti beriman
                 kepadanya.
              d) Beriman kepada rasul-rasul Allah Swt dan memahami arti beriman
                 kepadanya.
              e) Beriman kepada hari akhir dan memahami arti beriman kepadanya.
              f) Beriman kepada qadha dan qadar Allah Swt dan memahami arti
                 beriman kepadanya.
           3) Akhlak
              a) Berperilaku dengan sifat-sifat terpuji.
              b) Menghindari sifat-sifat tercela.
              c) Bertata krama
           4) Fiqih/ibadah
              a) Melakukan thaharah/bersuci
              b) Melakukan shalat wajib
              c) Melakukan macam-macam sujud
              d) Melakukan shalat jum’at
              e) Melakukan shalat jama’ dan qasar
              f) Melakukan macam-macam shalat sunnah
              g) Melakukan puasa
              h) Melakukan zakat
              i) Memahami hukum Islam tentang makanan, minuman, dan binatang
              j) Memahami ketentuan aqiqah dan qurban
              k) Memahami tentang ibadah haji dan umrah
              l) Melakukan shalat janazah
            m) Memahami tata cara pernikahan.
           5) Tarikh
              a) Memahami keadaan masyarakat Makkah sebelum dan sesudah datang
                 Islam
              b) Memahami keadaan masyarakat Makkah periode Rasulullah Saw
              c) Memahami keadaan masyarakat Madinah sebelum dan sesudah
                 datang Islam
              d) Memahami perkembangan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.85




85
     Ibid. hlm. 78-79.
                                                                                   56




           Ruang lingkup pendidikan agama Islam, pada dasarnya, meliputi

keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan antara manusia dengan

Allah, hubungan antara manusia dengan sesama manusia, dan hubungan antara

manusia dengan alam sekitarnya.

      5. Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

           Adapun pelaksanaan pendidikan Agama Islam di Indonesia mempunyai

dasar atau landasan yang sangat kuat. Menurut Zuhairini dan Abdul Ghafir, dasar

tersebut dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu: yuridis/hukum, religius, dan dasar

psikologis.86

         a. Dasar Yuridis/hukum

           Dasar yuridis adalah dasar hukum yang dijadikan pegangan dalam rangka

pelaksanaan pendidikan agama Islam yang berasal dari peraturan perundang-

undangan. Secara langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan pegangan

dalam melaksanakan pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah ataupun di

lembaga-lembaga pendidikan formal lainnya.

           Adapun dasar dari segi yuridis formal tersebut ada tiga macam, yaitu:

           1) Dasar ideal

           Dasr ideal adalah dasar falsafah Negara yaitu Pancasila sila pertama:

Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini mengandung arti bahwa bangsa Indonesia

harus percaya kepada Tuhan atau bergama.




86
     Zuhairini dan Abdul Ghafir, Op. Cit.,, hlm. 9.
                                                                            57




       2) Dasar Struktural/konstitusional

       Dasar struktural atau konstitusional, yaitu UUD 1945 dalam bab XI pasal

29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi: 1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang

Maha Esa; 2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk

agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaan itu.

       3) Dasar Operasional

       Dasar operasional terdapat dalam Tap MPR No. IV/MPR/1973 yang

kemudian dikokohkan dalam Tap MPR No. IV/MPR 1978 jo. Ketetapan MPR

Np. II/MPR/1983, diperkuat oleh Tap. MPR No. II/MPR1988 dan Tap. MPR No.

II/MPR 1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara yang pada pokonya

menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimaksudkan

dalam kurikulum sekolah-sekolah formal, mulai dari sekolah dasar hingga

perguruan tinggi.

       Hal tersebut diperkuat lagi dengan Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003

tentang SISDIKNAS bab X pasal 37 ayat 1 yang berbunyi berikut; kurikulum

pendidikan dasar wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan,

bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni dan

budaya, pendidikan jasmani, keterampilan/kejuruan dan muatan lokal.

     b. Dasar Religius

       Dasar religius adalah dasar yang bersumber dari agama Islam yang tertera

dalam al-Qur’an maupun Hadits Nabi. Menurut ajaran Islam, pendidikan agama

adalah perintah Tuhan dan merupakan perwujudan ibadah kepadanya. Dalam al-

Qur’an banyak yang menunjukkan adanya perintah tersebut, antara lain:
                                                                                                              58




  ‫َن ِن َب ه‬                   ‫هل ل‬                               ِْ                         ‫ب َب‬         ‫ع‬
َ‫ادْ ُ إِلِى سَِيلِ رِّكَ بِاحلِكْمَةِ وَاملَوعظَةِ احلَسَنَةِ وَجَادِ ُم بِاَّتِي هِيَ أَحْس ُ إ َّ رَّكَ ُو‬
                                                             ‫َه م مل‬                          ‫م م َل ع‬
                                                    َ‫َأعْلَ ُ بِ َن ض َّ َن سَبِيلِهِ و ُوَ َأعْلَ ُ بِا ُهْتَدِين‬
           Artinya:
           “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
           pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
           Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
           yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
           orang yang mendapat petunjuk.[845] Hikmah: ialah perkataan yang
           tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan
           yang bathil.” (Q.S. an-Nahl: 125).87

           Selain itu, juga terdapat Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam

Bukhari sebagai berikut:

                                                                   )‫بلغوا عىن ولو آية (رواه البخارى‬
           Artinya:
           “Sampaikanlah ajaranku kepada orang lain walaupun hanya sedikit”
           (HR. Bukhori).

         c. Dasar dari Segi Sosial Psikologis

           Semua manusia dalam hidupnya di dunia ini selalu membutuhkan adanya

suatu pegangan hidup yang disebut agama. Mereka merasakan dalam jiwanya ada

suatu perasaan yang mengakui adanya dzat yang Maha Kuasa, tempat meraka

berlindung dan meminta pertolongan.



D. Urgensi         Kemampuan              Siswa       dalam        Membaca           al-Qur’an          dalam

      Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam

           Salah satu potensi dasar (baca: fitrah) yang dimiliki oleh siswa (baca:

manusia) adalah fitrah tauhid (kepercayaan kepada Allah). Dalam pada ini, tugas

yang harus dilaksanakan oleh guru agama adalah mengembangkan dan/atau

87
     Depag RI, Op. cit., hlm. 282.
                                                                                59




menumbuhsuburkan fitrah dasar yang ada dalam diri anak tersebut. Artinya

bahwa, tugas guru agama adalah membelajarkan anak agar mampu meningkatkan

dan mengaktualisasikan nilai-nilai keimanannya melalui kerja-kerja sosial dalam

rangka memperoleh predikat sebagai orang yang bertakwa.

       Upaya guru dalam mengembangkan keimanan dalam arti mambimbing

dan mengarahkan fitrah iman yang ada dalam diri anak tersebut agar selaras

dengan nilai-nilai, tuntunan, dan ajaran Islam. Sebab, menganut keimanan yang

salah, dalam arti tidak dilandasi dengan nilai-nilai ajaran Islam, bukan saja tidak

dikehendaki, tetapi bahkan berbahaya. Sebab keimanan merupakan dasar yang

melandasi seseorang dalam bersikap dan berbuat dalam kehidupan sehari-hari.

       Untuk itu, diperlukan landasan yang benar yang mendasari keimanan itu.

Landasan itu tidak lain adalah al-Qura’an dan Hadits Nabi. Al-Qur’an adalah

sumber dari ajaran Islam yang mengatur segala betuk kehidupan manusia baik

yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia

dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam.

       Selain itu, al-Qur’an juga merupakan salah satu unsur penting dalam

materi atau ruang lingkup pendidikan agama Islam. Dikatakan unsur penting

karena al-Qur’an merupakan sumber utama dari ruang lingkup pendidikan Islam

lainnya, seperti unsur keimanan, akhlak, ibadah, fiqih, dan tarikh.

       Karena al-Qur’an merupakan sumber utama dari ruang lingkup pendidikan

agama Islam yang lain, maka kemampuan seorang siswa dalam membaca,

memahami makna yang terkandung dalam al-Qur’an sangat penting guna

memiliki pola sikap dan tingkah laku yang baik serta prestasi belajar pendidikan
                                                                            60




agama Islam yang memuaskan. Iman yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai ajaran

Islam yang terdapat dalam al-Qur’an akan melahirkan tata-nilai yang tidak

diinginkan dan bahkan berbahaya.

       Begitu juga dengan akhlak, ibadah, dan mu’amalah seseorang tidak akan

sempurna apabila tidak mengerti tentang nilai-nilai ajaran Islam yang ada dalam

al-Qur’an. Lebih dari itu (semoga tidak), akan berbahaya dan menghambat dan

merugikan peradaban.

       Di samping itu, kemampuan seseorang dalam membaca dan memahami al-

Qura’an juga akan membawa dampak positif terhadap prestasi belajar pendidikan

agama Islam. Siswa yang memiliki kemampuan membaca al-Qur’an akan antusias

dalam mengikuti proses belajar mengajar pendidikan agama Islam. Karena siswa

tadi antusias dalam mengikuti pembelajaran, tentu ia akan memperoleh prestasi

yang tinggi.

       Begitu juga sebaliknya, bagi siswa yang tidak memiliki kemampuan dalam

membaca al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap sikap dalam mengikuti proses

belajar mengajar pendidikan agama Islam. Akibatnya, terkadang di dalam kelas

acuh tak acuh dan tidak menghiraukan materi yang disampaikan oleh gurunya.

Sehingga pada gilirannya akan berakibat buruk terhadap prestasi yang

diperolehnya.

   1. Pendekatan dalam pembelajaran al-Qur’an

       Karena kemampuan yang dimiliki siswa dalam membaca al-Qur’an sangat

urgen dalam meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam, maka

pendidikan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar (SMP) diperlukan
                                                                                      61




pendekatan-pendekatan tertentu. Pendekatan yang dimaksud, sebagaimana

dikatakan     oleh    Muhaimin        adalah      pendekatan   keagamaan.88   Pendekatan

keagamaan yang dimaksdud, lanjut Muhaimin, adalah,

        Cara pendidik memproses anak didik atau siswa melalui kegiatan
        bimbingan, latihan dan/atau pengajaran keagamaan, termasuk di dalamnya
        mengarahkan, mendorong dan memberi semangat kepada mereka agar
        mau mempelajari ajaran agamanya melalui baca tulis al-Qur’an, serta taat
        dan mempunyai cita rasa beragama Islam.89

        Adapun       hal-hal       yang   perlu    diperhatikan   oleh   pendidik   dalam

pengembangan pendekatan tersebut adalah: perkembangan agama anak usia

pendidikan dasar, pengaruh pergeseran nilai sosial keagamaan terhadap

pendidikan anak, strategi pembelajaran nilai keagamaan kepada anak jenjang

pendidikan dasar.

        Perkembangan keagamaan anak pada usia pendidikan dasar, menurut

Zakiah Daradjad, sebagaimana dikutip oleh Muhaimin, sangat ditentukan oleh

pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya pada masa pertumbuhan pertama

sekitar umur 0-12 tahun.90 Di samping itu, pada masa ini anak masih relatif kecil

baik dari segi fisik maupun kecerdasannya. Karena itu, pendidikan agama

terhadap anak jangan terlalu muluk-muluk dalam arti harus realistis dengan

mempertimbangkan jasmani dan rohani anak didik. Pembelajaran al-Qur’an yang

harus ditonjolkan adalah membaca dan menghafal surat-surat pendek.

        Pergeseran nilai sosial keagamaan merupakan faktor penghambat dari

keberhasilan pendidikan keagamaan anak didik. Pergeseran nilai ini terjadi bagi

Negara-negara yang memasuki era industri, modernisasi, dan globalisasi di mana
88
   Muhaimin, Op. Cit., hlm. 113.
89
   Ibid.
90
   Ibid., hlm. 115.
                                                                             62




rasionalitas sangat diagung-agungkan dan pada gilirannya hal-hal yang berbau

suci nyaris tercerabut dari akarnya. Kondisi semacam ini menuntut upaya-upaya

alternatif dalam pembelajaran pendidikan keagamaan pada anak didik, termasuk

juga strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran.

            Bertolak dari pemahaman karakteristik keagamaan anak serta kendala

yang dihadapi, maka strategi pembelajaran keagamaan dalam pendidikan baca

tulis al-Qur’an di SD/SLTP sebaiknya menggunakan strategi keteladanan dan

transinternalisasi.91 Dalam pemberian keteladanan, misalnya pendidik memberi

contoh bagaimana sikap membaca al-Qur’an yang baik dan tampilan fisik dan

pribadi yang anggun pula. Sedangkan transinternalisasi adalah terjadinya

komunikasi dua kepribadian (guru-murid) yang masing-masing terlibat secara

nyata.

      2. Metode dalam pembelajaran al-Qur’an

            Di samping pendekatan yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam

proses belajar mengajar pendidikan al-Qur’an, penggunaan metode yang tepat

juga sangat menentukan terhadap kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an.

         a. Metode Tradisional

            Metode tradisional yang dimaksud di sini adalah metode yang bersifat

hafalan, ejaan, sistem modul, dan monoton. Dikatakan hafalan karena siswa,

dalam metode ini, harus menghafal terlebih dahulu huruf-huruf hijaiyah sebelum

materi diberikan. Setelah itu, siswa belajar huruf hijaiyah dengan cara mengeja

dalam arti tidak membaca langsung.


91
     Ibid., hlm. 122.
                                                                                     63




       Kemudian, siswa yang memiliki kemampuan lebih di antara teman-

temannya dalam menguasai materi, ia dapat melanjutkan materi berikutnya tanpa

menunggu siswa yang lain. Selain itu, bimbingannya bersifat monoton dalam arti

seorang guru terlebih dahulu membaca kemudian siswa mengikutinya sehingga

siswa tidak mempunyai kesempatan untuk belajar yang kreatif.

     b. Metode Drill

       Metode drill adalah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran

dengan jalan melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.

Metode ini biasanya digunakan dalam pelajaran menulis, pelajaran bahasa,

pelajaran keterampilan, kecakapan mental.92

       Metode ini masih banyak digunakan oleh guru agama dalam proses belajar

mengajar al-Qur’an dan praktik ibadah. Tujuan dari metode ini adalah untuk

memperkuat tanggapan pelajaran pada siswa.

     c. Metode Iqra’

       Metode pengajaran ini pertama kali disusun oleh As’ad Human dengan

tujuan menyiapkan anak didik agar menjadi generasi qur’ani yaitu generasi yang

mencintai al-Qur’an, komitmen dengan al-Qur’an dan menjadikannya sebagai

bacaan dan pandangan hidup sehari-hari.

       Cara mengajar Iqra’ menggunakan metode CBSA di mana guru hanya

menunjukkan pokok-pokok pelajaran saja dan tidak perlu mengenalkan istilah-

istilah. Guru juga tidak boleh ikut membaca dan santri harus membaca sendiri.

Namun demikian, apabila siswa salah dalam membaca huruf, guru berusaha

92
  Zuhairini, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya:Usaha Nasional, 1983), hlm.
106.
                                                                              64




membetulkannya tetapi hanya dengan menggunakan isyarat. Apabila siswa lupa

dan keliru juga dalam membaca huruf, baru guru menunjukkan bacaan yang

sebenarnya.

       Di samping itu, pengajarannya bersifat privat dan hasil belajarnya dicatat

pada kartu prestasi siswa . Dalam sistem ini, idealnya, guru hanya mengajar tiga

sampai enam orang siswa.
                                                                                                 65




                                           BAB III

                                METODE PENELITIAN



A. Lokasi Penelitian

        Adapun lokasi penelitian ini adalah SMP Negeri 13 Malang yang

beralamat di Jl Sunan Ampel II Dinoyo Malang 65144 (150 m dari lokasi UIN

Malang).



B. Pendekatan dan Jenis Penelitian

        Pendekatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kuantitatif. Dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif, analisisnya

menekankan pada data-data nomerikal yang diolah dengan metode statistika.93

Pendekatan ini digunakan oleh peneliti dalam rangka memperoleh hubungan antar

variabel yang diteliti.

        Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

deskriptif. Penelitian deskriptif menganalisis dan menyajikan fakta secara

sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan.94

Penelitian deskriptif adalah bertujuan menggambarkan secara sistematik dan

akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau daerah tertentu mengenai

berbagai sifat dan faktor tertentu.95 Jenis ini digunakan oleh peneliti karena

pengolahan datanya didasarkan pada analisis persentase.96


93
   Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 5.
94
   Ibid., hlm. 6.
95
   Gempur Santoso, Metodologi Penelitian (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2005), hlm. 29.
96
   Saifuddin Azwar, Loc. cit., hlm. 6.
                                                                                               66




C. Sumber Data

         Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana

data dapat diperoleh.97 Kumpulan data yang ada dalam penelitian biasanya

bersumber dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari sumber

pertama melalui prosedur dan teknik pengambilan data yang dapat berupa

interviu, observasi, maupun penggunaan yang lainnya. Data sekunder diperoleh

dari sumber tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-

arsip resmi.98

         Dalam penelitian ini sumber datanya adalah siswa siswi SMP Negeri 13

Malang sebagai data primer, dan guru PAI sebagai data sekunder.



D. Populasi dan Sampel

     1. Populasi

         Di dalam penelitian ilmiah, penetapan dan pengambilan populasi sangat

diperlukan, oleh karena itu penatapan populasi dalam skripsi ini juga sangat

diperlukan. Menurut Arikunto, “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”.99

         Dari penjelasan di atas, maka pengambilan populasi hendaknya dilakukan

secara tepat dan jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif, sehingga data yang

diambil dapat dipertanggung jawabkan dan diuji ulang oleh peneliti lain asal

situasi dan kondisinya sama.




97
   Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
1998), hlm. 114.
98
   Saifuddin Azwar, Op. cit., hlm. 36.
99
   Suharsimi Arikunto, Op. cit., hlm. 115.
                                                                                   67




            Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMP Negeri 13

Malang. Dengan demikian, maka pengambilan populasi ini sudah memenuhi

persyaratan, karena semua siswa dianggap mempunyai sifat dan karakteristik yang

hampir sama baik dari tingkat usia maupun kecerdasan.

       2. Sampel

            Oleh karena penelitian ini tidak bersifat sensus dalam arti tidak meneliti

seluruh siswa siswi di SMP Negeri 13 Malang, maka digunakan penelitian sampel

yang         berarti     meneliti   sebagian   populasi   dengan     maksud     untuk

menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Menurut Suharsimi Arikunto,

“sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dikatakan penelitian

sampel, karena dalam penelitian ini bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil

penelitian sampel.100

            Dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel dengan menggunakan

random sampling di mana setiap subjek diberi kesempatan untuk menjadi sampel.

            Suharsimi Arikunto mengatakan,

            Untuk sekedar ancer-ancer, maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih
            baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.
            Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15%
            atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari:
            a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana.
            b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini
               menyangkut banyak sedikitnya data.
            c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.101




100
      Ibid., hlm. 117.
101
      Ibid., hlm. 120.
                                                                              68




       Karena terbatasnya waktu dan tenaga yang dimiliki oleh peneliti, maka

besarnya sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari keseluruhan

jumlah siswa SMP Negeri 13 Malang. Adapun jumlah siswa SMPN 13 adalah

berjumlah 968 anak. Jadi, 10% dari jumlah siswa 968 adalah 97 siswa dengan

perincian 32 anak kelas VII, kelas VIII 33 anak, dan 32 anak kelas IX.



E. Instrumen Penelitian

       Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam metode

pengumpulan data. Salah satu contoh metode pengumpulan data adalah dengan

cara   wawancara.    Di   dalam   melakukan     pekerjaan   wawancara,   peneliti

menggunakan alat bantu yang berupa ancer-ancer pertanyaan. Karena ancer-ancer

itu dinamakan alat bantu dalam wawancara, maka pedoman wawancara tersebut

merupakan instrumen dari metode wawancara.

       Adapun instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini

adalah: kuesioner, intervieu, observasi, dan dokumentasi.



F. Teknik Pengumpulan Data

       Untuk memperoleh data yang diperlukan dan sesuai dengan pembahasan

dalam penelitian, maka beberapa metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah:

  1. Observasi

       Metode observasi adalah suatu cara penelitian yang dilakukan dengan

mengadakan pengamatan terhadap objek, baik secara langsung maupun tidak

langsung, Sutrisno Hadi mengatakan “ observasi adalah metode pengumpulan
                                                                               69




data dengan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena

yang diteliti”.102 Metode ini dilakukan untuk mengetahui secara langsung situasi

lingkungan dan tempat penelitian.

      2. Angket

          Angket atau kuesioner merupakan suatu bentuk instrumen pengumpulan

data yang sangat fleksibel dan relatif mudah digunakan. Data yang diperoleh

lewat penggunaan angket adalah data yang kita kategorikan sebagai data faktual.

Oleh karena itu, reliabilitas hasilnya sangat banyak tergantung pada subyek

penelitian sebagai responden, sedangkan fihak peneliti dapat mengupayakan

peningkatan reliabilitas itu dengan cara penyajian kalimat-kalimat yang jelas dan

disampaikan dengan strategi yang tepat.103

          Metode ini peneliti gunakan untuk mengumpulkan data kemampuan siswa

SMP Negeri 13 Malang dalam membaca al-Qur’an.

      3. Interview (Wawancara)

          Interview yang sering juga disebut dengan wawancara atau kuesioner

lisan, adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh

informasi dari terwawancara.104

          Arikunto, mengatakan bahwa, secara garis besar ada dua macam pedoman

dalam melakukan penelitian yang menggunakan metode interview, yaitu :

a) Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya
   memuat garis besar yang akan ditanyakan. Di sini kreatifitas seorang
   pewawancara sangat diperlukan karena pewawancara menjadi seorang
   pengemudi jawaban responden.


102
    Sutrisno Hadi, Metodologi Research 2 (Yogyakarta: Andi, 2000), hlm, 136.
103
    Saifuddin Azwar, Op. cit., hlm. 101.
104
    Suharsimi Arikunto, Op. cit., hlm. 231.
                                                                                 70




b) Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun
   secara terperinci sehingga menyerupai chek list, di sini pewawancara tinggal
   membubuhkan tanda √ (chek) pada nomor yang sesuai.105
       Dalam pada ini, peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur

terhadap guru PAI dengan membawa sederetan pertanyaan untuk memperoleh

data yang berkenaan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan

agama Islam dan kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP Negeri 13

Malang.

      4. Metode Dokumentasi

            Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

lengger, agenda, tentang kemampuan murid, dan sebagainya.106

            Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang kriteria

kemampuan murid dalam membaca al-Qur’an yang dibuat oleh guru PAI di SMP

Negeri 13 Malang.

G. Teknik Analisis Data

            Untuk menganalisa data yang diperoleh, peneliti menggunakan teknik

analisa deskriptif kualitatif terhadap data hasil wawancara, observasi, dan

dokumentasi.          Sedangkan data   yang diperoleh melalui     angket,   peneliti

menggunakan teknik analisa deskriptif kuantitatif. Adapun analisa statistik yang

dipakai adalah prosentase:

                  F
            P=       100 0 0
                  N

Keterangan: P = Prosentase

105
      Ibid., hal 202
106
      Ibid., hlm. 206..
                                                                                          71




               N = Jumlah Responden

               F = Frekwensi Jawaban.107

H. Pengecekan Keabsahan Data

          Menurut Lexy J. Moleong untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness)

data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan

atas sejumlah kriteria tertentu seperti:108

      1. Triangulasi

          Triangulasi   adalah    “Teknik      pemeriksaan      keabsahan      data    yang

memanfaatkan data sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan

atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik Triangulasi yang paling

banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.”

      2. Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi

          Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil

akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.

Teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan

keabsahan data. Pertama untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan

sikap terbuka dan kejujuran. Kedua, diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu

kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis yang

muncul dari pemikiran peneliti.

      3. Perpanjangan keikutsertaan

          Perpanjangan keikutsertaan, adalah usaha peneliti dalam melibatkan diri

dalam komunitas sekolah. Setelah peneliti banyak memperoleh informasi tentang
107
  Anas Sujdino Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta:Rajawali Pers. Jakarta. 1994) hlm. 40.
108
  Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm.
173-186.
                                                                              72




data yang diperlukan peneliti dalam kurun waktu penelitian maka peneliti akan

menambah waktu keterlibatan penelitian dalam proses kehidupan keseharian

sampai dinyatakan bahwa data yang telah diperoleh dirasa dapat dipertanggung

jawabkan keabsahanya.

      4. Ketekunan pengamatan

            Keikutsertaan ialah untuk memungkinkan peneliti terbuka terhadap

pengaruh ganda, yaitu faktor-faktor kontekstual dan pengaruh bersama pada

peneliti dan subjek yang akhirnya mempengaruhi fenomena yang diteliti.109

Berbeda dengan hal itu, ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri

dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang

sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.

Dengan kata lain, jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka

ketentuan pengamatan menyediakan kedalaman.

            Hal itu berarti bahwa peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan

teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol.

Kemudian ditelaah secara rinci sampai pada suatu titik sehingga pada

pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau seluruh faktor yang ditelaah sudah

dipahami dengan cara yang biasa. Khususnya dilakukan pada saat guru agama

melakukan pengetesan baca al-Qur’an pada murid di SMP Negeri 13 Malang.




109
      Ibid. hlm. 177.
                                                                              73




                                    BAB IV

                      PAPARAN HASIL PENELITIAN


A. Latar Belakang Obyek Penelitian

  1. Sejarah Singkat Berdirinya SMP Negeri 13 Malang

       Perkembangan ilmu pengetahuan semakin hari semakin berkembang,

terbukti banyak terjadi problem-problem sosial yang beraneka ragam. Di antara

problem sosial tersebut adalah masalah daya tampung. Hal ini dapat kita lihat

setiap tahun ajaran baru dengan berebutnya siswa yang ingin melanjutkan di

tingkat/pendidikan lanjutan, khususnya makin besar jumlah lulusan sekolah dasar

yang tidak tertampung di SMP.

       Melihat kenyataan yang ada, terdapat ide untuk memperbanyak sekolah

guna menampung lulusan agar tidak terjadi pengangguran intelektual terlalu

banyak. Sementara itu, sudah menjadi kenyataan, bahwa masyarakat kita lebih

cenderung untuk memasukkan anaknya ke sekolah negeri sebagai alternatif

pertama. Hal ini bisa dimaklumi, karena kebanyakan di sekolah negeri lebih baik

mutunya dan lebih sedikit biayanya bila dibanding dengan sekolah swasta.

Anggapan masyarakat terhadap sekolah swasta bermacam-macam, mulai dari

biaya, administrasi yang kurang bagus, dan lain-lain. Oleh karena itu, keberadaan

sekolah negeri lebih banyak mendapat perhatian masyarakat.

       Sebenarnya, sekolah negeri sudah banyak yang didirikan, namun

demikian, perkembangan masyarakat semakin cepat dari jumlah lembaga yang

disediakan. Di samping itu, jarak tempuh antara rumah dan lembaga-lembaga

tersebut relatif sangat jauh. Hal-hal inilah yang mendasari berdirinya SMP Negeri
                                                                         74




13 Malang. SMP Negeri 13 Malang berdiri pada tahun 1983/1984, akan tetapi

permulaannya menempati lokasi SDN Sumbersari VII selama satu tahun yang

pada saat itu masih tersisa tiga lokal. Kemudian pada tahun ajaran 1984/1985

pindah kelokasi SMPS jalan V Veteran juga selama 1 tahun. Dan terakhir pada

tahun 1985/1986 pindah kelokasi gedung baru jalan Sunan Ampel II Malang

sampai saat ini. Selama dua tahun ajaran yakni pada tahun 1984/1985 dan

1985/1986 SMP Negeri 13 Malang masih di bawah pengelolaan SMP Negeri 13

Malang dan mulai tahun 1986/1987 sudah mampu berdiri sendiri lepas dari SMP

Negeri 1 Malang berdasarkan SK MENDIKBUD No. 0472/01/1983 tanggal 25

September 1983.

  2. Identitas Sekolah

    a. Nama Sekolah               : SMP Negeri 13 Malang

    b. Alamat/Desa                : Dinoyo, Jl. Sunan Ampel II Kota Malang

      Kecamatan                   : Lowokwaru

      Kota                        : Malang

      Provinsi                    : Jawa Timur

      Nomor Telepon               : (0341) 552864, 577018

    c. Status Sekolah             : Negeri

    d. SK Kelembagaan             : 0447/0/1983

    e. NSS                        : 201056104087

    f. Tipe Sekolah               :B

    g. Tahun didirikan/Beroperasi : 1983

    h. Status Tanah               : Hak Milik
                                                                                      75




        i. Luas Tanah                  : 9.925 m2.110

      3. Visi, Misi, Target, dan Tujuan SMP Negeri 13 Malang

          Visi adalah gambaran sekolah yang digunakan dimasa depan secara utuh,

sedangkan misi adalah tindakan untuk mewujudkan visi, antara visi dan misi

merupakan dua hal yang saling berkaitan, adapun visi dan misi SMP Negeri 13

Malang yaitu:

        a. Visi Sekolah

          Adapun visi dari SMP Negeri 13 Malang adalah: “Unggul Dalam Ilmu

Pengetahuan Dan Teknologi Berdasarkan Budaya Bangsa.”

        b. Misi Sekolah

          1) Menumbuhkan penghayatan pengamalan terhadap ajaran agama dan

            budi pekerti

          2) Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif agar mencapai

            prestasi yang optimal

          3) Menerapkan disiplin kedalam kegiatan sehari-hari sehingga tercipta

            suasana kondusif

          4) Menyediakan wadah penyaluran bakat dan minat siswa dalam bidang

            seni dan olah raga

          5) Menyediakan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan belajar

            mengajar dan kegiatan ekstra kurikuler.111




110
    Pemerintah Kota Malang SMP Negeri 13 Malang, Data dan Program Kerja Kepegawaian
Tahun Pelajaran 2006-2007 (t.k.: t.p., t.t), hlm. t.h.
111
    Ibid.
                                                                     76




c. Tujuan

  1) Unggul dalam beragama dan budi pekerti

  2) Unggul dalam berprestasi

  3) Unggul dalam disiplin

  4) Unggul dalam kesenian

  5) Unggul dalam seni olah ragaan, dan

  6) Unggul dalam kepedulian terhadap lingkungan.

d. Strategi Sekolah

 1) Menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran yang dianut

 2) Menumbuhkan penghayatan dan menunjang tinggi budaya bangsa

 3) Bersikap santun terhadap orang yang lebih tua

 4) Melaksanakan bimbingan belajar intensif agar unggul dalam memperolah

   NUN (Nilai Ujian Nasional)

 5) Menumbuhkan semangat keunggulan terhadap warga sekolah

 6) Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi

   (dirinya) sehingga dapat berkembang secara optimal

 7) Mengadakan kegiatan dan melatih kegiatan ekstra kurikuler kelompok

   ilmiah remaja

 8) Menambah jumlah jam pada pelajaran tertentu

 9) Tata tertib dalam memenuhi kewajiban dan menerima haknya

10) Bersedia menerima sanksi jika melanggar tata tertib, dan berhak

   mendapat pujian (penghargaan) jika berprestasi

11) Menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler pramuka
                                                                                77




         12) Menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler PMR

         13) Pembinaan dan pelatihan bina vokalia

         14) Pembinaan dan pelatihan drum band/marching band

         15) Pembinaan dan pelatihan seni tari

         16) Pembinaan dan pelatihan bola volley

         17) Pembinaan dan pelatihan seni modeling

         18) Pembinaan dan pelatihan bola basket

         19) Pembinaan dan pelatihan bela diri

         20) Pembinaan dan pelatihan bela diri dan tapak suci

         21) Pembinaan dan pelatihan sepak bola

         22) Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekolah

         23) Menumbuhkan rasa kekeluargaan warga sekolah

         24) Menerapkan manajemen partisipasi semua komponen dengan melibatkan

               warga sekolah dan stake holder, dan dengan memberdayakan mayarakat

               untuk melengkapi sarana dan prasarana sekolah.112

      4. Organisasi SMP Negeri 13 Malang

              SMP Negeri 13 Malang dipimpin oleh seorang kepala sekolah dan dibantu

empat orang wakil kepala sekolah yang membidangi empat urusan yang

memerlukan penanganan secara terarah dan terpadu di sekolah.

              Kepala sekolah dijabat oleh Drs. Muhammad Nurfakih, M.Ag. selanjutnya

empat orang wakil kepala sekolah yang membidangi empat urusan, masing-

masing wakil kepala bagian sarana prasarana dijabat oleh H. nursalim, S.Pd. wakil


112
      Ibid.
                                                                             78




kepala bagian kurikulum dijabat oleh Tjatur Yuliastutik S.Pd wakil kepala bagian

kesiswaan dijabat oleh Siti Fatimah S.PdI. wakil kepala bagian humas di jabat

oleh Dra. Mufidah.

     a. Kepala sekolah

       Adapun tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam mengembangkan

dan memajukan SMP Negeri 13 Malang, antara lain:

       1) Kepala sekolah sebagai edukator

       2) Kepala sekolah sebagai manajer

       3) Kepala sekolah sebagai administrator

       4) Kepala sekolah sebagai supervisor.

     b. Kurikulum

       Wakil kepala sekolah urusan kurikulum dijabat oleh Indrawati S.Pd yang

bertugas dan bertanggung jawab membantu kepala sekolah yaitu:

       1) Menyusun program pengajaran

       2) Menyusun pembagian tugas guru

       3) Menyusun jadwal pelajaran

       4) Menyusun jadwal evaluasi pelajaran

       5) Menyusun pelaksanaan ujian sekolah/ ujian nasional

       6) Menerapkan kriteria persyaratan naik kelas/ tidak naik kelas

       7) menerapkan jadwal penerimaan buku raport, SKHU dan STTB

       8) mengkoordinasikan dan mengarahkan penyusunan satuan pelajaran

       9) menyediakan buku kemajuan kelas.
                                                                               79




     c. Kesiswaan

         Wakil kepala sekolah urusan kesiswaan dijabat oleh Siti Fatimah S.PdI

yang bertugas dan bertanggung jawab membantu kepala sekolah yaitu:

         1) Menyusun program pembinaan kesiswaan/ OSIS

         2) Melaksanakan bimbingan, pengarahan dan pengendalian kegiatan OSIS

           untuk menegakkan disiplin dan tata tertib sekolah

         3) Membina dan melaksanakan koordinasi pelaksanaan 7K

         4) Memberikan pengarahan dala pemilihan pengurus OSIS

         5) Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan siswa secara berkala

         6) Mengatur mutasi siswa.

     d. Sarana dan Prasarana

         Wakil kepala sekolah urusan sarana dan prasarana dijabat oleh H.

Nursalim S.Pd yang bertugas dan bertanggung jawa membantu kepala sekolah

yaitu:

         1) Menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana sekolah

         2) Mengadministrasikan pendayagunaan sarana dan prasarana

         3) Pengolaan pembiayaan alat-alat pengajaran.

  5. Kondisi Obyektif SMP Negeri 13 Malang

         Kondisi obyek ini sangat perlu diketahui oleh semua pihak utamanya

instansi atau dinas yang terkait dalam mengevaluasi pelaksanaan pendidikan

sekolah tertentu, dengan cara mengaitkan kondisi fasilitas yang tersedia seperti

data siswa, data guru, dan pegawai tetap, sarana dan prasarana, perangkat sekolah,

keadaan sosial ekonomi orang tua siswa, taraf kesadaran orang tua dalam
                                                                                80




pendidikan, geografis, fasilitas, kondisi lingkungan sekolah dan dewan sekolah.

Kondisi obyektif tersebut juga akan besar pengaruhnya dalam melaksanakan

program kerja sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Adapun kondisi obyektif yang dimaksud adalah:

       a. Data Siswa Tahun pelajaran 2006/2007

         Anak didik merupakan salah satu faktor yang penting dalam pendidikan,

karena tanpa anak didik suatu proses pendidikan tidak akan dapat berjalan. Oleh

karena itu faktor anak didik sangat penting dalam proses pendidikan. Adapun

jumlah siswa SMP Negeri 13 Malang pada tahun pelajaran 2006/2007 968 siswa,

yang terbagi dalam kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel berikut:

                                       Tabel 4.1
                                      Data Siswa

                                               JUMLAH SISWA

 NO        KELAS              BANYAKNYA            L          P       JUMLAH

   1         VII                  8                174       145          319

   2        VIII                  8                151       178          329

   3         III                  8                158       162          320

        JUMLAH                   24                483       485          968

       Sumber: Data dan Program Kerja Kepegawaian SMP Negeri 13 Malang

         Berdasarkan data tabel di atas, menunjukkan bahwa jumlah siswa laki-laki

sebanyak 483 orang dan perempuan sebanyak 485 orang. Secara kuantitas, siswa-

siswi SMP Negeri 13 Malang sudah bagus.
                                                                          81




     b. Data Guru dan Tenaga Administrasi Tahun Pelajaran 2006/2007

       Setiap membicarakan pendidikan, maka guru merupakan salah satu

komponen yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan dapat dikatakan tanpa keberadaan

guru, maka proses belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan, akan sulit

berjalan dengan lancar. Dan karena itu, keberadaan guru sangat penting dalam

proses belajar mengajar.

       Adapun data guru SMP Negeri 13 Malang adalah berjumlah 57 tenaga

pendidik. Untuk lebih jelasnya, lihat tabel di bawah ini:

                                    Tabel 4.2
                                    Data Guru
             N              NA              PE              MA                  K
             O             MA                ND.            TA                  E
                                              TE            PEL                 T
                                              RA            AJA                 .
                                              KH            RAN
                                              IR
             1             Drs.               S2            PAI                 G
                           H.                                                   T
                           Nurf
                           akih,
                           M.A
                           g
             2             Dra.               S1            BK                  G
                           Nini                                                 T
                           k
                           Sury
                           ati
             3             Dra.               S1            BK                  G
                         82




    Try                       T
    Yuni
    Lest
    ari
4   Hera    Sar   B.          G
    maw     mu    Ingg        T
    anti    d     ris
5   Baid    S1    BK          G
    hawi                      T
    ,
    S.Pd
6   Nini    S1    PPK         G
    k Sri         n,          T
    Supo          IPS
    mo,
    S.Pd
7   Dra.    S1    PAI         G
    Mufi                      T
    dah
8   Dra.    S1    B.          G
    Dian          Ingg        T
    a             ris
    Pur
    want
    i
9   Hj.     Sar   Pem         G
    Sugi    mu    buku        T
    arti,   d     an
    B.A.
1   Kus     S1    Mate        G
                          83




0   diart         mati         T
    i,            ka
    S.Pd
1   Drs.    S1    Biolo        G
1   Sury          gi           T
    adi
1   M.      S1    B.           G
2   Mutt          Indo         T
    aqin,         nesia
    S.Pd
1   Sugi    S1    PA           G
3   ono,          Krist        T
    S.Pd          en
1   Y.      S1    B.           G
4   K.            Indo         T
    Meg           nesia
    anta
    ri,
    S.Pd
1   Kahi    S1    IPS,         G
5   Atad          PPK          T
    jawa          n
    ,
    S.Pd
1   Hiro    S1    Fisik        G
6   nym           a            T
    us
    S.,
    S.Pd
1   Hj.     Sar   IPS          G
                          84




7   Lilik   mu                 T
    E.M.    d
    , B.A
1   Hj.     Sar   PPK          G
8   Sri     mu    n,           T
    Riw     d     Kese
    ayati         nian
1   Rini    S1    IPS,         G
9   Ach           PPK          T
    maw           n
    ati,
    S.Pd
2   Dah     S1    Fisik        G
0   rudi          a,           T
    n             Elekt
    Ahm           ro
    at,
    S.Pd
2   Rini    S1    Biolo        G
1   Dwi           gi           T
    Susi
    wi,
    S.Pd
2   Indr    S1    BK           G
2   awat                       T
    i,
    S.Pd
2   Mari    S1    Penj         G
3   atul          as           T
    Qibt
                                          85




    iyah,
    S.Pd
2   H.                    S1      Penj         G
4   Nurs                          as           T
    alim,
    S.Pd
2   Bena                  S1      B.           G
5   din                           Indo         T
    Nila                          nesia
    K.,
    S.Pd
             Tabel 4.3 lanjutan

2   Siti                  Sa      B.       G
6   Roca                   r      Ingg     T
    hani                  m       ris
                           u
                           d
2   Siti                  S1      B.       G
7   Mask                          Daer     T
    anah                          ah
    S.Pd
2   Dra.                  S1      Kese     G
8   Ruth                          nian,    T
    Dyah                          PPK
    I.,                           n
    S.Pd
2   Marti                 Sa      IPS      G
9   ningsi                 r               T
    h                     m
                           u
                          86




             d
3   Nurbi    Sa   Fisik    G
0   ngah     r    a,       T
    Setija   m    Bade
    rukm     u    r
    i        d
3   Yuni     Sa   Mate     G
1   Hera     r    mati     T
    wati     m    ka
             u
             d
3   Sri      Sa   Bade     G
2   Esthi    r    r,       T
    Rahaj    m    Biolo
    u        u    gi
             d
3   Siti     S1   PAI      G
3   Fatim                  T
    ah,
    S.Pd
3   Y.       S1   B.       G
4   Asfia         Indo     T
    ningsi        nesia
    h,
    S.Pd
3   Satin    S1   B.       G
5   a             Ingg     T
    Puluh         ris
    ulawa
    , S.Pd
                          87




3   Wiwo     S1   PPK      G
6   ro            n        T
    Muly
    ati,
    S.Pd
3   Dra.     S1   Mate     G
7   Srijat        mati     T
    un,           ka
    S.Pd
3   Tjatu    S1   Mate     G
8   r             mati     T
    Yulia         ka
    stutik
    , S.Pd
4   Sri      S1   PPK      G
0   Karm          n        T
    ini,
    S.Pd
4   Erlin    S1   B.       G
1   a             Indo     T
    Murti         nesia
    arsari
    , S.Pd
4   Munt     S1   Biolo    G
2   iani,         gi       T
    S.Pd
4   Umi      S1   Fisik    G
3   Kulsu         a        T
    m,
    S.Pd
                          88




4   Surah    S1   Fisik    G
4   ma,           a        T
    S.Pd
4   Suwai    S1   Mate     G
5   ba,           mati     T
    S.Pd          ka
4   Mifta    S1   B.       G
6   hul           Ingg     T
    Muaz          ris
    iyah,
    S.Pd
4   Sri      S1   Mate     G
7   Farid         mati     T
    a             ka
    Utam
    i,
    S.Pd
4   Moh.     S1   Penj     G
8   Sukri,        as       T
    S.Pd                   T
4   Drs.     S1   PA       G
9   Yoha          Kato     T
    nes           lik      T
    T.H.,
    S.Pd
5   Dluha    S1   B.       G
0   yati,         Ingg     T
    S.Pd          ris      T
5   Misw     S1   Mate     G
1   anto,         mati     T
                                                                  89




                 S.Pd                            ka                T
      5          Haris             S1            Mate              G
      2          Yuli                            mati              T
                 P.,                             ka                T
                 S.Pd
      5          Drs.              S1            TIK               G
      3          Muji                                              T
                 b                                                 T
                 Santo
                 so
      5          Fredy             S1            TIK               G
      4          Priha                                             T
                 ntini,                                            T
                 ST
      5          Enda              S1            PKK               G
      5          h                                                 T
                 Budia                                             T
                 ti,
                 S.Pd
      5          Imam              S1            Kese              G
      6          Fatw                            nian              T
                 achin,                                            T
                 S.Pd
      5          Azha              S1            TIK               G
      7          r                                                 T
                 Arra                                              T
                 nirie,
                 S.Pd
Sumber: Data dan Program Kerja Kepegawaian SMP Negeri 13 Malang
                                                                                  90




        Dari tabel di atas mengindikasikan bahwa tenaga pendidik yang ada di

SMP Negeri 13 malang sudah representatif dalam rangka meningkatkan kualitas

proses belajar mengajar dalam pendidikan. Rata-rata dari lima puluh tujuh tenaga

guru adalah terdiri dari lulusan sarjana strata satu (S1).

        Adapun tenaga administrasi di SMP Negeri 13 Malang berjumlah sebelas

orang   yang     terdiri   dari   administrasi   kepegawaian,   bendahara,    petugas

laboratorium, kebersihan, perlengkapan, peningkatan mutu, teknisi komputer,

koordinator TU, petugas perpustakaan, pengisi buku induk siswa, dan satpam.

Untuk lebih jelasnya, lihat tabel berikut ini:

                                       Tabel 4.4
                                  Tenaga Administrasi

             N                NAM                  TUGAS                 KETERA

             O                    A                                          NGAN

             1                Achsi                Kepega

                              n                    waian

                              Yusuf

                              , B.A                                     Jam

             2                Dwi                  Bendah               dinas:

                              Arsi                 ara                  06:30-

                              Aisiya                                    13:50

                              h                                         kecuali

             3                Nurh                 Petugas              hari

                              ayati                Lab.                 Jum’at
                               91




4   Suha    Kebersi   pukul:

    kim     han       06:30-

5   Budi    Perleng   11:00 WIB

    Santo   kapan

    so

6   Sukar   Peningk

    ni      atan

            Mutu

7   Azhar   Teknisi

    Arran   Komput

    nirie   er

8   Edy     Petugas

    Santo   Perpus

    so

9   Chair   Koordin

    ul      ator TU

    Saleh

1   Agus    Mengisi

0   Guna    Buku

    wan     Induk

1   Akhm    Satpam

1   ad

    Kusyi
                                                                            92




                            ni

       Sumber: Data dan Program Kerja Kepegawaian SMP Negeri 13 Malang

       c. Sarana dan prasarana

         Untuk menunjang pelaksanaan dari proses belajar mengajar, dibutuhkan

adanya fasilitas-fasilitas yang mendukung akan keberhasilan dari proses belajar

mengajar. Adapun fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh SMP Negeri 13 Malang

yaitu sebagai berikut:

                                   Tabel 4.5
                           Data Sarana dan Prasarana

 NO                        NAMA                             JUMLAH

   1      Luas tanah seluruhnya                              9.300m
   2      Jumlah ruang belajar                              24 ruang
   3      Ruang kantor                                       1 ruang
   4      Ruang kepala sekolah                               1 ruang
   5      Ruang guru                                         1 ruang
   6      Ruang komputer                                     1 ruang
   7      Ruang tamu                                         1 ruang
   8      Ruang koperasi                                     1 ruang
   9      Dapur guru                                         1 ruang
  10      Kamar mandi/wc kepala sekolah                      1 ruang
  11      Kamar mandi/wc guru                                2 ruang
  12      Ruang laboraturium IPA                             2 ruang
  13      Ruang laboraturium komputer                        1 ruang
  14      Ruang laboraturium bahasa                          1 ruang
  15      Ruang Audio Visual                                 1 ruang
  16      Ruang keterampilan                                 1 ruang
  17      Ruang keterampilan otomotif                        1 ruang
  18      Jumlah rombongan belajar                          24 ruang
  19      Ruang OSIS                                         1 ruang
  20      Ruang koperasi siswa                               1 ruang
  21      Musholla                                           1ruang
  22      Ruang UKS                                          1 ruang
  23      Gedung perpustakaan                                1ruang
  24      WC siswa                                           3 ruang
  25      Tempat parkir guru                                 1 ruang
  26      Tempat parkir siswa                                1ruang
  27      Gudang olah raga                                   1ruang
                                                                            93




  28     Ruang dewan sekolah                                 1 ruang
  29     Ruang BK                                            1 ruang
  30     Gudang                                              3 ruang

 J u m l a h                                                81 ruang

       Sumber: Data dan Program Kerja Kepegawaian SMP Negeri 13 Malang

        Tabel di atas menunjukkan bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki oleh

SMP Negeri 13 Malang sudah cukup mendukung bagi terlaksananya proses

belajar megajar dalam pendidikan.

  6. Data Kegiatan Sekolah Tahun Pelajaran 2006/2007

    a. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan jadwal yang telah

        ditetapkan, mengirim guru untuk mengikuti penataran MGMP sesuai

        dengan mata pelajaran masing-masing. Kegiatan kurikuler disesuaikan

        dengan kurikuler. Melaksanakan MGMP (Musyawarah Guru Mata

        Pelajaran)

    b. Kegiatan Perpustakaan

       Melayani siswa dalam waktu istirahat untuk menumbuhkan minat baca

       siswa, berusaha menambah koleksi dari siswa yang lulus tahun lalu dan

       dana dewan sekolah.

    c. Kegiatan Osis

        1) Reformasi pengurus Osis bulan Oktober 2006

        2) Mengadakan pembinaan secara rutin, penataran, piket, PKS, koperasi

          siswa

        3) Mendampingi kegiatan lomba tingkat kecamatan dan kota Malang.

    d. Kegiatan Pramuka
                                                                         94




 1) Kegiatan keparamukaan diadakan secara rutin (sabtu siang)

 2) Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas VII (wajib) dan VIII (boleh

    ikut/tidak) serta pengurus OSIS

 3) Mengikuti kegiatan tingkat Kwarran dan Kwarcab maupun Kwarda

 4) Mengadakan perkemahan sabtu minggu (Persami) untuk pelantikan

    penggalang ramu, rakit, dan terap

 5) Biaya dari dewan sekolah

e. Kegiatan Seni dan Olah raga

  1) Seni tari diadakan tiap sabtu

  2) Basket dan sepak bola diadakan pada tiap minggu pagi

  3) Bela diri (Karate/KKI, Tapak Suci/Silat) diadakan tiap Sabtu sore

  4) Marching Band tiap hari Sabtu siang

  5) Bola Volly tiap hari Sabtu sore

  6) Modelling setiap Sabtu siang

f. Kegiatan Dewan Sekolah

  1) Mengadakan rapat pengurus anggaran tahunan 2006/2007

  2) Pertemuan semua anggota dewan sekolah pada waktu pembagian raport

  3) Pertemuan rutin pengurus dewan sekolah

g. PMR (Palang Merah Remaja)

 1) PMR diadakan setiap Sabtu siang

 2) Membuat apotek hidup

 3) Melaksanakan kegiatan dan kegiatan upara bendera

 4) Mengikuti lomba tingkat kota
                                                                                95




    h. Karya Ilmiah Remaja

      1) Diikuti siswa kelas VII, VIII, dan IX

      2) Menjalin kerjasama dengan pihak lain

      3) Mengikuti lomba tingkat kota.


B. Urgensi Kemampuan Siswa dalam Membaca Al-Qur’an dalam

  Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di

  SMP Negeri 13 Malang

       Pelaksanaan pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Malang adalah

mengikuti ketentuan yang telah digariskan oleh Dinas Pendidikan Nasional.

Sedangkan metode yang digunakan dalam proses pembelajarannya adalah sangat

bermacam-macam dan disesuaikan dengan materi yang akan dibahas. Untuk

materi yang berkenaan dengan akhlak, misalnya, digunakanlah metode bermain

peran atau drama.

       Sedangkan pembahasan pendidikan agama Islam yang berkenaan dengan

materi-materi al-Qur’an, dilaksanakan dengan menggunakan metode Drill. Yaitu

melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Hal ini sesuai

dengan pernyataan Siti Fatimah, selaku guru PAI di SMP Negeri 13 Malang,

ketika ditanya tentang metode yang dipakai dalam proses belajar mengajar PAI:

       Metode yang saya gunakan dalam pelaksanaan pengajaran pendidikan
       Islam bermacam-macam sesuai dengan materinya. Kalau materi akhlak
       memakai metode bermain peran, bisa dengan drama dan bisa dengan yang
       lain. Jadi, disesuaikan dengan materi masing-masing. Adapun
       pendekatannya itu bermacam-macam, misalnya CTL, ada yang metode
       Jigsaw itu.
       Sedangkan materi al-Qur’an jelas berbeda dengan materi pendidikan
       agama Islam yang lain. Jelas lain ya, kalau al-qur’an biasanya saya pakek
                                                                                    96




       drill, langsung praktek juga. Anak-anak membaca setelah membaca, secara
       klasikal gitu, lalu saya tunjukkan yang salah-salah yang mana dan
       tajwidnya bagaimana? Setelah itu baru Drill satu-persatu, lalu secara
       kelompok. Anak yang pandai saya suruh meneliti temannya yang tidak
       lancar dengan mendapatkan penilaian satu-persatu.113

       Sedangkan kendala yang dihadapi guru dalam mengajar pendidikan agama

Islam di SMP Negeri 13 Malang, terutama yang berkaitan dengan materi-materi

al-Qur’an, adalah ketika menghadapi anak-anak yang tidak bisa membaca al-

Qur’an. Hal ini diakui oleh Siti Fatimah dalam wawancaraanya,

       Yang jelas kendalanya karena anak-anak di sini masih ada yang belum
       bisa membaca al-Qur’an. Dan itu dikarenakan lingkungan keluarga atau
       lingkungan masyarakat juga. Lingkungan masyarakat, artinya, dia dulu
       pernah ngaji, setelah itu, karena di langgar-langgar tidak ada yang ngaji,
       lalu dia berhenti sementara keluarganya tidak bisa ngaji. Itu yang membuat
       mereka tidak bisa ngaji akhirnya kendalanya kepada pendidikan agama
       Islam.

       Hal yang sama dirasakan oleh Siti Fatimah, bahwa faktor keluarga juga

ikut memberikan ekses negatif terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam di

sekolah, terutama materi-materi yang berkenaan dengan al-Qur’an. Berikut ini

hasil wawancaranya,

       … Di sini itu kan banyak latar belakang sosialnya yang tergolong kelas
       menengah ke bawah, keluarganya juga banyak yang broken home. Broken
       home itu ya keluarganya kurang harmonis, banyak yang ditinggal cerai,
       dan kebetulan anak yang gak bisa ngaji itu terdiri dari kelompok keluarga
       yang pas-pasan. Anak-anak kalau diberi tambahan pelajaran banyak yang
       mengeluh karena lapar.114

       Untuk memperkecil kendala yang dihadapi dalam proses belajar mengajar

pendidikan agama Islam, terutama materi-materi tentang al-Qur’an, upaya yang

dilakukan oleh guru PAI SMP Negeri 13 Malang adalah (setelah dilakukan cek

113
    Wawancara dengan Siti Fatimah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 09
Desember 2006.
114
    Wawancara dengan Siti Fatimah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 09
Desember 2006.
                                                                                   97




ulang tentang kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an) dengan menyarankan

agar para siswa belajar mengaji di rumah masing-masing, dan memberi tahu

kepada orang tuanya kalau anaknya masih belum bisa membaca al-Qur’an dengan

saran agar orang tuanya memberikan les di rumah, terutama untuk kelas VII.

       Sementara untuk kelas VIII, adalah dengan memberi tambahan ekstra

kurikuler berupa IMTAQ. IMTAQ adalah ekstra kurikuler wajib bagi anak kelas

VIII yang di dalamnya berisi kegiatan seperti membaca tartil al-Qur’an yang

dilaksanakan setiap hari Jum’at, shalat jum’at, dzuhur dan ashar berjama’ah setiap

hari dengan bergiliran tiap kelas, kegiatan thaharah, dan akhlak. Hal ini seperti

diakui oleh Siti Fatimah dalam hasil wawancaranya sebagai berikut:

       Untuk sementara ini, kalau dulu kan sip-sipan ya, jamnya ada siang ada
       pagi. Itu dulu memang enak mengadakanya, karena yang anak masuk
       siang saya adakan les al-Qur’an khusus tartil al-Qur’an itu pagi, jadi
       sebelum pelajaran itu misalnya jam-jam 10 - 11, sedangkan yang masuk
       jam pagi saya adakan waktu siang. Di sekolah yang sekarang ini terbentur
       oleh waktu, kendalanya terutama waktu yang gak bisa. Untuk itu saya
       sarankan anak-anak ngaji di rumah. Kemudian ada tambahan IMTAQ itu
       bagi kelas dua khususnya, kalau yang kelas satu ya saya berupa saran saja
       sementara ini, cuman saya cek, saya mengadakan cek ulang, Jadi kalau
       misalnya anak-anak saya suruh belum bisa, terus saya suruh mereka
       belajar di rumah, saya beritahu orang tuanya bahwa anak ini belum bisa
       baca al-Qur’an, jadi orang tua saya suruh mengadakan les di rumah.115

       Namun demikian, menurut Mufidah, tambahan IMTAQ itu tidak

menjamin siswa-siswa mampu membaca al-Qur’an. Hal ini disebabkan rentang

waktu yang disediakan oleh sekolah dalam kegiatan IMTAQ, hanya satu minggu

satu kali pertemuan. Kecuali itu, tenaga pengajar yang ditugaskan pada kegiatan

IMTAQ juga jauh dari kategori ideal. Wawancara sebagai berikut ini:



115
   Wawancara dengan Siti Fatimah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 09
Desember 2006.
                                                                                    98




       … Kalau hanya mengandalkan di sekolah yang hanya masuk satu minggu
       sekali itu kurang. Di samping itu, yang namanya klasikal itu berbeda
       dengan privat. Kalau privat kan mengajarnya satu-satu, sedangkan klasikal

       dengan 35-40 anak dengan tenaga gurunya cuma satu, padahal yang ideal
       itu gurunya lebih dari satu, kita hanya mengajar 15 orang dan yang 15
       orang dibagi beberapa kelompok sehingga enak bisa menyeluruh ngajinya.
       Untuk itu, saya sarankan bagi yang punya uang untuk mendatangkan guru
       privat di rumahnya.116

       Adapun      faktor-faktor   yang     mendukung      pelaksanaan     pengajaran

pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Malang adalah terutama dari orang

tua, juga sarana dan juga guru-guru yang lain seperti guru BK yang beragama

Islam itu juga mendukung sekali dan pelajaran IMTAQ. Di samping itu,

kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an juga sangat mendukung dalam

proses belajar mengajar pendidikan agama Islam. Sesuai dengan pernyataan Siti

Fatimah di bawah ini:

       Faktornya banyak ya mbak, terutama dari orang tua itu yang sangat
       mendukung juga, juga sarana di sini, juga guru-guru yang lain seperti guru
       BK itu yang beragama Islam itu juga mendukung sekali. Kemudian
       pelajaran IMTAQ ini. Kalau di rumah ya orang tua-orang tua yang perduli
       dan memotivasi anaknya untuk ngaji, tapi sementara itu ada juga orang
       tua yang tidak perduli mungkin 25% atau 30%. Sarana di sini juga
       mendukung, kalau al-Qur’an juga banyak iqra’ juga banyak di sini.117

       Mufidah menambahkan bahwa faktor yang mendukung lancarnya proses

belajar mengajar pendidikan agama Islam di kelas adalah kemampuan siswa

dalam membaca dan memahami al-Qur’an. Bagi siswa yang memiliki

kemampuan dalam tentang baca tulis al-Qur’an, sangat antusias sekali dalam

mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru di dalam kelas. Namun


116
    Wawancara dengan Mufidah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 14
Desember 2006.
117
    Wawancara dengan Siti Fatimah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 09
Desember 2006.
                                                                                    99




demikian, bagi siswa yang kebetulan tidak memiliki basic keilmuan tentang baca

tulis al-Qur’an adalah merupakan problem tersendiri Lebih jauh ia berkata,

       Untuk materi al-Qur’an bagi anak yang bisa ya antusias sekali mbak
       mereka senang dengan materi yang diterimanya. Kebalikanya, bagi anak
       yang tidak bisa itu merupakan problem. Saya juga prihatin itu padahal
       waktu di SD sudah digembleng sama gurunya, terus waktu di SMP itu
       sudah diajar lagi, maksudnya dilatih lagi, tapi anak-anak itu saya kira
       kurang kesadaran diri. Kebiasaan yang terjadi, apabila anak-anak sudah
       selesai belajar Iqra’ dan diwisuda, kemudian dia enggan untuk meneruskan
       lagi belajarnya. Sehingga ingatan yang ada itu hilang setelah lama
       mengendap di otaknya. Jadi kalau untuk anak yang sudah pinter ngaji,
       mereka senang dalam mengikuti pelajaran, buktinya kalau saya ngajar
       Imtaq hari Jum’at, ya itu tadi jawabanya antusias sekali. Kalau mereka
       diajak ngaji bareng mereka senang, diajak kajian juga senang gitu.118

       Adapun kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP Negeri 13

Malang sudah cukup bagus. Hal itu diakui oleh Siti Fatimah dalam hasil

wawancaranya sebagai berikut:

       Kalau yang saya tes kemaren itu sebagian besar 75% sudah bisa membaca
       al-Qur’an. Ya mungkin yang 50% itu katakan yang 40% ya sudah luancar
       dengan tajwidnya sekali, yang 30% itu lancar tapi mungkin tajwidnya
       masih perlu pembinaan, yang 20% itu ya kratul-kratul itu, yang 10%
       mungkin ada yang gak bisa sama sekali, gak bisa sekali karena terutama
       yang mu’allaf itu sudah yang nol putul itu saya masukkan di D itu banyak
       yang mu’allaf disitu.119

       Urgensitas kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an sangat penting

terutama dalam rangka meningkatkan prestasi belajar pendidikan Agama Islam.

Hal ini diakui oleh Siti Fatimah ketika didesak mengenai urgensi kemampuan

siswa dalam meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam, berikut hasil

wawancaranya:



118
    Wawancara dengan Mufidah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 14
Desember 2006.
119
    Wawancara dengan Siti Fatimah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 09
Desember 2006.
                                                                                   100




       Sangat penting sekali, ibaratkan orang nyambel itu kan terasinya harus
       enak. Kalau trasinya enak sambelannya yo enak meski gur kari herek-
       hereke tok, juga dengan pengolahanya. Nah pengolahanya juga, tapi kalau
       sudah bibitnya bisa membaca al-Qur’an itu kebanyakan saya teliti anak-
       anak yang agamanya bagus-bagus itu kebanyakan mereka-mereka itu
       sudah pinter membaca al-Qur’an akhirnya shalatnya juga rajin.120

       Hal ini diperkuat oleh pernyataan Mufidah sebagai berikut:

       Kalau untuk ini, biasanya kalau anak itu pinter dan lancar baca al-Qur’an,
       Kebanyakan kalau saya amati, kebanyakan anak itu minatnya tinggi.
       Sehingga pengaruhnya ke nilai pelajaran agama non al-qur’an, maksudnya
       yang babnya bukan al-Qur’an, otomatis ada dampaknya, sebaliknya kalau
       anak yang gak bisa mbaca al-Qur’an tidak bisa menunjang nilainya, saya
       lihat itu, jadi anak bisa mbaca al-Qur’an itu akan berdampak pada materi
       yang lain walaupun dak ada arabnya. Jadi ada semangat tersendiri, sebab
       kalau ada soal yang ada arabnya, bagi anak yang gak bisa, itu susah, putus
       asa. Tapi bagi anak yang bisa baca al-Qur’an itu, dia senang
       mengerjakan.121

       Untuk mencari data tentang kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an,

penulis menggunakan penyebaran angket terhadap siswa di SMP Negeri 13

Malang. Data yang berhasil dikumpulkan berdasarkan angket tersebut,

sebagaimana dipaparkan berikut ini:

                                     Tabel 4.6
                          Latar belakang pendidikan siswa

             N       Alternatif                 N                 F                %
             o       Jawaban
             1      MIN                         97                2                 2
             2      MI                                            --               %
             3      SDN                                           78               --
             4      SD Swasta                                     17                8
                                                                                    0


120
    Wawancara dengan Siti Fatimah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 09
Desember 2006.
121
    Wawancara dengan Mufidah, Guru Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, tanggal 14
Desember 2006.
                                                                            101




                                                                            %
                                                                            1
                                                                            8
                                                                            %
                    Jumlah                                  97              1
                                                                            0
                                                                            0
                                                                            %
                               Sumber: Data Angket

       Tabel di atas menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan siswa-siswi

sebelum masuk SMP Negeri 13 Malang yang masuk MIN 2 atau 2% siswa, yang

masuk SDN 78 atau 80% siswa dan yang masuk SD Swasta 17 atau18% siswa.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa rata-rata siswa-siswi SMP

Negeri 13 Malang lulusan SDN.

                                  Tabel 4.7
           Alasan siswa mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam

No         Alternatif Jawaban             N             F             %
 1    Ingin mengetahui agama             97             4             4%
 2    Ingin memahami agama                             29            30%
 3    Karena pelajaran wajib                           20            21%
 4    Ingin mendalami agama                            44            45%
                Jumlah                                 97            100%
                               Sumber: Data Angket

       Tabel diatas mengindikasikan bahwa alasan siswa-siswi yang mengikuti

pelajaran pendidikan agama Islam yang ingin mengetahui agama sebanyak 4 atau

4% siswa, alasan yang ingin memahami agama sebanyak 29 atau 30% siswa,

alasan karena pelajaran wajib sebanyak 20 atau 21% siswa, dan alasan yang ingin
                                                                             102




mendalami agama 44 atau 45% siswa. Dengan demikian rata-rata siswa-siswi

yang mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam karena ingin mendalami agama

sebanyak 44 atau 45% siswa.

                                    Tabel 4.8
              Sikap Siswa terhadap pelajaran pendidikan agama Islam

No      Alternatif Jawaban             N               F                %
1    Suka                              97              54              55%
2    Sangat Suka                                       19              20%
3    Tidak Suka                                        --               --
4    Biasa Saja                                        24              25%
               Jumlah                                  97             100%
       Tabel di atas menggambarkan bahwa siswa-siswi yang suka terhadap

pelajaran pendidikan agama Islam sebanyak 54 atau 55% siswa, yang sangat suka

terhadap pelajaran pendidikan agama Islam sebanyak 19 atau 20% siswa, dan

yang biasa saja terhadap pelajaran pendidikan agama Islam sebanyak 24 atau 25%

siswa. Dengan demikian rata-rata siswa-siswi SMP Negeri 13 Malang suka

terhadap pelajaran pendidikan agama Islam sebanyak 54 atau 55% siswa.

                                   Tabel 4.9
                   Materi Pelajaran yang Paling Disukai Siswa

No Alternatif Jawaban            N               F               %
1    Al-Qur’an                   97              20              21%
2    Keimanan                                    36              37%
3    Ibadah                                      31              32%
4    Mu’amalat                                   10              10%
     Jumlah                                      97              100%
                              Sumber: Data Angket
                                                                               103




         Tabel di atas mengkonfirmasikan materi pelajaran yang paling disukai dari

mata pelajaran agama lain oleh siswa-siswi SMP Negeri 13 Malang yang

menjawab al-Qur’an sebanyak 20 atau 21% siswa, yang menjawab Keimanan

sebanyak 36 atau 37% siswa, yang menjawab Ibadah sebanyak 31 atau 32%

siswa, dan yang menjawab Mu’amalat sebanyak 10 atau 10% siswa. Dengan

demikian rata-rata materi pelajaran Keimanan yang paling di sukai siswa-siswi

SMP Negeri 13 Malang dari mata pelajaran agama Islam sebanyak 36 atau 37%

siswa.




                                   Tabel 4.10
                           Materi PAI yang paling sulit

No        Alternatif Jawaban             N                F              %
1    Materi Al-Qur’an                   97                64            66%
2    Materi Keimanan                                      4              4%
3    Materi Ibadah                                        6              6%
4    Materi Mu’amalat                                     23            24%
                Jumlah                                    97            100%


         Tabel di atas menjelaskan bahwa materi yang dianggap sulit dari mata

pelajaran agama Islam siswa-siswi menjawab Materi al-Qur’an sebanyak 64 atau

66%, yang menjawab Materi Keimanan sebanyak 4 atau 4% siswa, yang

menjawab Materi Ibadah sebanyak 6 atau 6% siswa, dan yang menjawab Materi

Mu’amalat sebanyak 23 atau 24% siswa. Dengan demikian rata-rata siswa-siswi
                                                                          104




menjawab materi yang dianggap paling sulit dari mata pelajaran agama Islam

adalah materi al-Qur’an sebanyak 64 atau 66% siswa.

                               Tabel 4.11
         Perhatian Orang Tua terhadap Anak-anaknya dalam PAI

No      Alternatif Jawaban            N               F             %
1    Selalu                           97              30           31%
2    Pernah                                           45           46%
3    Kadang-kadang                                    22           23%


                Jumlah                                97           100%



       Tabel di atas mendeskripsikan bahwa orang tua yang memperhatikan

siswa-siswi belajar pendidikan agama Islam yang menjawab selalu sebanyak 30

atau 31%, orang tua yang menjawab pernah sebanyak 45 atau 46%, orang tua

yang menjawab kadang-kadang sebanyak 22 atau 23%. Dengan demikian Orang

tua rata-rata pernah yang memperhatikan siswa-siswi belajar pendidikan agama

Islam sebanyak 45 atau 46%.

                                 Tabel 4.12
              Orang Tua Siswa yang Menyediakan Fasilitas Belajar

No      Alternatif Jawaban            N               F             %
1    Selalu                           97              48           50%
2    Ya Sebagian                                      45           46%
3    Kadang-kadang                                    2            2%
4    Tidak                                            2            2%
                Jumlah                                97           100%
                              Sumber: Data Angket
                                                                             105




       Tabel diatas menginformasikan bahwa Orang tua yang menyediakan

fasilitas belajar seperti: ruang belajar, lampu penerangan dan lain-lain yang

menjawab Selalu sebanyak 48 atau 50%, yang menjawab Ya Sebgian sebanyak 45

atau 46%, yang menjawab Kadang-kadang sebanyak 2 atau 2%, dan yang

menjawab Tidak sebanyak 2 atau 2%. Dengan demikian rata-rata orang tua yang

menyediakan fasilitas belajar seperti: ruang belajar, lampu penerangan dan lain-

lain yang menjawab Selalu sebanyak 48 atau 50%.




                               Tabel 4.13
                    Kemampuan siswa membaca al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban             N               F               %
1    Mampu                            97               56             58%
2    Sangat Mampu                                      6               6%
3    Kurang Mampu                                      35             36%


              Jumlah                                   97             100%
                             Sumber: Data Angket

       Tabel di atas menunjukkan kemampuan siswa-siswi membaca al-Qur’an

yang menjawab Mampu sebanyak 56 atau 58% siswa, yang menjawab Sangat

Mampu sebanyak 6 atau 6% siswa, yang menjawab Kurang Mampu sebanyak 35
                                                                          106




atau 36% siswa. Dengan demikian kemampuan siswa-siswi yang Mampu

membaca al-Qur’an sebanyak 56 atau 58% siswa.

                                 Tabel 4. 14
               Waktu Siswa Mulai Mengenal Membaca al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban            N                  F          %
1    Usia Dini                       97              47            49%
2    Usia SD                                         46            47%
3    Usia SMP                                            4         4%
4    Tidak Tahu                                          --         --
               Jumlah                                97           100%
                             Sumber: Data Angket

       Tabel di atas menunjukkan bahwa siswa-siswi mulai mengenal membaca

al-Qur’an sejak Usia Dini sebanyak 47 atau 49% siswa, membaca al-Qur’an sejak

Usia SD sebanyak 46 atau 47% siswa, dan yang membaca al-Qur’an sejak Usia

SLTP sebanyak 4 atau 4% siswa. Dengan demikian rata-rata siswa-siswi mulai

membaca al-Qur’an sejak Kecil sebanyak 47 atau 49% siswa.

                                  Tabel 4.15
                        Tempat siswa belajar al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban            N                  F           %
1    Pesantren                       97                  9          9%
2    Sekolah                                             7          7%
3    Langgar/Musholla                                78             81%
4    Guru Privat                                         3          3%
               Jumlah                                97            100%
                             Sumber: Data Angket
       Tabel di atas yang menggambarkan tempat siswa-siswi belajar al-Qur’an

di Pesantren sebanyak 9 atau 9% siswa, yang di Sekolah sebanyak 7 atau 7%
                                                                           107




siswa, yang di langgar/Mushalla sebanyak 78 atau 81% siswa, dan Guru Privat

sebanyak 3 atau 3% siswa. Dengan demikian rata-rata tempat siswa-siswi belajar

membaca al-Qur’an di langgar/Mushalla sebanyak 78 atau 81% siswa.

                                   Tabel 4.16
                   Kebiasaan Siswa dalam Membaca al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban            N               F               %
1    Setiap hari                      97             24             25%
2    Kadang-kadang                                   71             74%
3    Tidak pernah                                     2              2%


                Jumlah                               97             100%
                              Sumber: Data Angket

       Tabel di atas menunjukkan bahwa siswa-siswi yang membiasakan

membaca al-Qur’an Setiap Hari sebanyak 24 atau 25% siswa, Kadang-kadang

sebanyak 71 atau 74% siswa, dan Tidak Pernah sebanyak 2 atau 2%. Dengan

demikian rata-rata siswa-siswi kadang-kadang membaca al-Qur’an Setiap Hari

sebanyak 71 atau 74% siswa.

                                 Tabel 4.17
              Guru yang membimbing siswa dalam membaca al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban            N               F               %
1    Selalu                           97             79             81%
2    Kadang-kadang                                   16             17%
3    Tidak Pernah                                     2              2%


                Jumlah                               97             100%
                              Sumber: Data Angket
                                                                          108




       Tabel di atas yang mengindikasikan guru membimbing siswa-siswi dalam

membaca al-Qur’an yang menjawab Selalu sebanyak 79 atau 81% siswa, yang

menjawab Kadang-kadang sebanyak 16 atau 17% siswa, yang menjawab Tidak

Pernah sebanyak 2 atau 2% siswa. Dengan demikian rata-rata guru yang Selalu

membimbing siswa-siswi dalam membaca al-Qur’an sebanyak 79 atau 81% siswa.

                                    Tabel 4.18
                   Orang tua siswa yang bisa membaca al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban             N               F             %
1    Mampu Membaca                     97             65            67%
2    Sangat Mampu Membaca                             18            19%
3    Kurang Mampu Membaca                             14            14%


                Jumlah                                97           100%
                              Sumber: Data Angket

       Tabel di atas menunjukkan bahwa Orang tua siswa-siswi bisa membaca al-

Qur’an yang Mampu Membaca sebanyak 65 atau 67%, Sangat Mampu Membaca

sebanyak 18 atau 19%, Kurang Mampu Membaca sebanyak 14 atau 14. Dengan

demikian rata-rata Orang tua siswa-siswi yang Mampu Membaca al-Qur’an

sebanyak 65 atau 67%.

                                 Tabel 4.19
              Orang Tua yang Menyuruh dalam Membaca al-Qur’an

No      Alternatif Jawaban             N               F             %

1    Selalu                            97             75            77%

2    Kadang-kadang                                    16            17%

3    Tidak Selalu                                      6            6%
                                                                         109




                Jumlah                             97             100%

                             Sumber: Data Angket

       Tabel di atas yang menunjukkan bahwa Orang tua menyuruh/membimbing

siswa-siswi membaca al-Qur’an yang Selalu sebanyak 75 atau 77%, Kadang-

kadang 16 atau 17%, Tidak Selalu sebanyak 6 atau 6%. Dengan demikian rata-

rata Orang tua yang menyuruh/membimbing siswa-siswi membaca al-Qur’an

sebanyak 75 atau 77%.




                                Tabel 4.20
              Orang Tua yang Memperhatikan Prestasi Belajar PAI

No      Alternatif Jawaban           N              F              %
1    Selalu                          97            75             77%
2    Kadang-kadang                                 22             23%
3    Tidak                                          --             --


                Jumlah                             97             100%
                             Sumber: Data Angket

       Tabel yang menunjukkan Orang tua yang memperhatikan prestasi dalam

pelajaran pendidikan agama Islam yang menjawab Selalu sebanyak 75 atau 77%,

yang menjawab Kadang-kadang sebanyak 22 atau 23%. Dengan demikian rata-
                                                                       110




rata orang tua yang memperhatikan prestasi dalam pelajaran pendidikan agama

Islam sebanyak 75 atau 77%.
                                                                              111




                                      BAB V

                    PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


A. Urgensi     Kemampuan      Siswa    dalam    Membaca      Al-Qur’an     dalam

   Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri

   13 Malang

         Bertolak pemaparan data di atas, penulis memahami bahwa kemampuan

siswa dalam membaca al-Qur’an sangat urgen dan mendasar terutama dalam

meningkatkan prestasi siswa bidang study pendidikan agama Islam. Hal ini

dibuktikan dengan hasil wawancara di atas bahwa pelaksanaan pengajaran

pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Malang relatif berjalan dengan baik.

Itu semua dikarenakan anak-anak yang memiliki kemampuan dalam membaca al-

Qur’an demikian antusias dalam mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru

agama.

         Di samping itu, metode yang disampaikan oleh guru agama adalah juga

sudah relevan dengan materi yang akan disampaikan. Untuk materi akhlak, guru-

guru menggunakan metode bermain peran. Sedangkan untuk materi al-Qur’an

metode yang dipakai adalah metode Drill, atau langsung praktek. Anak-anak

disuruh membaca terlebih dahulu dan setelah itu, secara klasikal, lalu ditunjukkan

di mana yang salah-salah, baik dari segi tajwid atau lafadnya. Setelah itu baru

dilaksanakan Drill satu-persatu, lalu secara kelompok. Anak yang pandai diberi

kesempatan untuk meneliti temannya yang tidak lancar dengan mendapatkan

penilaian satu-persatu. Sehingga dengan pemakaian metode yang relevan dengan

topik yang dibahas dalam pelajaran pendidikan agama Islam, para siswa kemudian
                                                                             112




merasa senang dan menyukai pelajaran yang disampaikan di kelas. Hal ini

dibuktikan dengan hasil angket bahwa sebanyak 54 orang atau 55% anak-anak

suka dengan pelajaran pendidikan agama Islam yang disampaikan di kelas. Jadi,

pemakaian metode yang relevan dengan topik pembahasan sangat mendukung

terhadap kelancaran proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.

       Sedangkan kendala yang dihadapi guru dalam mengajar pendidikan agama

Islam di SMP Negeri 13 Malang, terutama yang berkaitan dengan materi-materi

al-Qur’an, adalah manakala menghadapi anak-anak yang tidak bisa membaca al-

Qur’an. Dan itu dikarenakan oleh faktor lingkungan keluarga dan/atau lingkungan

masyarakat.

       Lingkungan masyarakat, artinya, dia dulu pernah belajar mengaji al-

Qur’an, setelah itu, karena di langgar-langgar banyak yang berhenti dalam belajar

mengaji, lalu dia berhenti juga, sementara keluarganya tidak bisa ngaji, banyak

yang ditinggal cerai, dan lain-lain. Itu yang membuat mereka tidak bisa ngaji

akhirnya kendalanya juga terjadi dalam pendidikan agama Islam.

       Kendala yang dihadapi oleh para guru agama dalam proses pembelajaran

pendidikan agama Islam, terutama yang berkaitan dengan materi al-Qur’an

tersebut kemudian dicari jalan keluarnya. Untuk memperkecil kendala yang

dihadapi dalam proses belajar mengajar pendidikan agama Islam, terutama materi-

materi tentang al-Qur’an, upaya yang dilakukan oleh guru PAI SMP Negeri 13

Malang adalah (setelah dilakukan cek ulang tentang kemampuan siswa dalam

membaca al-Qur’an) dengan menyarankan agar para siswa ngaji di rumah masing-

masing, dan memberi tahu kepada orang tuanya kalau anaknya masih belum bisa
                                                                             113




membaca al-Qur’an dengan saran agar orang tuanya memberikan les di rumah,

terutama untuk kelas VII.

       Sementara untuk kelas VIII, adalah dengan memberi tambahan ekstra

kurikuler berupa IMTAQ. IMTAQ adalah ekstra kurikuler wajib bagi anak kelas

VIII yang di dalamnya berisi kegiatan seperti membaca tartil al-Qur’an yang

dilaksanakan setiap hari Jum’at.

       Upaya yang ditempuh oleh guru agama tersebut sangat efektif mengingat

jam pelajaran untuk pendidikan agama Islam di sekolah hanya memiliki durasi

waktu yang sangat sempit yaitu selama 2 jam pelajaran dalam satu minggu. Dan

yang tak kalah pentingnya adalah juga faktor jumlah siswa yang tidak sedikit yang

tidak memungkinkan bagi para guru untuk memberikan bimbingan layaknya yang

dilakukan oleh guru privat. Untuk itu kemudian dilakukan upaya memberi saran

terhadap anak didik agar melakukan upaya-upaya yang dapat mengatasi terhadap

kendala yang dihadapi, misalnya dengan mendatangkan guru privat, dan lain-lain.

       Begitu juga dengan upaya guru agama Islam dengan memberitahu

terhadap orang tua siswa akan kemajuan anaknya dalam menguasai pelajaran

pendidikan agama Islam terutama materi tentang al-Qur’an sangat bagus dalam

arti sangat efektif. Dikatakan demikian, karena mengingat waktu yang dimiliki

anak didik lebih banyak dalam lingkungan keluarga dibandingkan dengan waktu

yang ada di sekolah. Nah, dengan demikian, apabila orang tua sudah mengetahui

tentang kemampuan yang dimiliki oleh anak-anaknya, maka orang tua otomatis

juga akan melakukan upaya-upaya agar anaknya bisa meningkatkan prestasinya

lagi. Berdasarkan tabel di muka bahwa orang tua yang selalu menyuruh siswa
                                                                             114




membaca al-Qur’an sebanyak 75 atau 77%, yang kadang-kadang sebanyak 16

atau 17%, dan yang tidak pernah sebanyak 6 atau 6%. Dengan demikian rata-rata

Orang tua yang menyuruh siswa-siswi membaca al-Qur’an sebanyak 75 atau 77%

       Yang tak kalah pentingnya juga adalah faktor-faktor yang mendukung

pelaksanaan pengajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Malang.

Faktor-faktor pendukung tersebut menjadi bukti yang cukup kuat bahwa

kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an adalah sangat urgen dalam

meningkatkan prestasi bidang studi agama Islam.

       Faktor-faktor yang mendukung proses pembelajaran pendidikan agama

Islam terutama materi-materi yang berkenaan dengan al-Qur’an di SMP Negeri 13

Malang adalah faktor dari orang tua, sarana, dan juga guru-guru yang lain seperti

guru BK yang beragama Islam, dan pelajaran IMTAQ. Di samping itu, yang

terpenting adalah kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an juga sangat

mendukung dalam proses belajar mengajar pendidikan agama Islam.

       Orang tua yang perduli terhadap kondisi kemampuan anaknya dalam

membaca al-Qur’an akan selalu memotivasi anaknya untuk belajar mengaji,

sehingga anak tersebut yang dulunya tidak bisa membaca al-Qur’an kemudian

menjadi bisa, yang awalnya tidak lancar menjadi lancar, dan seterusnya.

       Kemudian, berdasarkan hasil wawancara, setelah anak didik memiliki

kemampuan yang lumayan bagus dalam membaca al-Qur’an, setelah sampai di

sekolah ia akan dengan antusias mengikuti pelajaran pendidikan agama Islam

yang disampaikan oleh gurunya. Namun demikian, bagi siswa yang kebetulan

tidak memiliki basic keilmuan tentang baca tulis al-Qur’an adalah merupakan
                                                                           115




problem tersendiri. Hal ini diperkuat dengan hasil data angket siswa-siswi yang

suka terhadap pelajaran pendidikan agama Islam sebanyak 54 atau 55% siswa,

yang sangat suka terhadap pelajaran pendidikan agama Islam sebanyak 19 atau

20% siswa, dan yang biasa saja terhadap pelajaran pendidikan agama Islam

sebanyak 24 atau 25% siswa. Dengan demikian rata-rata siswa-siswi SMP Negeri

13 Malang suka terhadap pelajaran pendidikan agama islam sebanyak 54 atau

55% siswa.

       Adapun kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP Negeri 13

Malang sudah lumayan bagus. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru

pengajar pendidikan agama Islam, diketahui bahwa sebagian besar anak-anak

sudah bisa membaca al-Qur’an. Namun demikian ada juga siswa yang tidak bisa

sama sekali, terutama yang mu’allaf . Data tersebut kemudian diperkuat lagi

dengan hasil angket yang menggambarkan bahwa kemampuan siswa-siswi

membaca al-Qur’an yang menjawab mampu sebanyak 56 atau 58% siswa, yang

menjawab sangat mampu sebanyak 6 atau 6% siswa, yang menjawab kurang

mampu sebanyak 35 atau 36% siswa.

       Urgensitas kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an sangat penting

terutama dalam rangka meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam.

Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara bahwa rata-rata siswa yang memiliki

kemampuan membaca al-Qur’an, nilai agamanya juga bagus. Biasanya kalau anak

itu pintar dan lancar baca al-Qur’an, kebanyakan anak itu minatnya tinggi.

Sehingga pengaruhnya ke nilai pelajaran agama non al-Qur’an, maksudnya yang
                                                                          116




babnya bukan al-Qur’an, sebaliknya kalau anak tidak bisa mbaca al-Qur’an tidak

akan bisa menunjang nilai dari bidang studi pendidikan agama Islam.

       Jadi, anak atau siswa yang memiliki kemampuan dalam membaca al-

qur’an itu akan berdampak pada materi yang lain dalam bidang studi pendidikan

agama Islam walaupun tidak ada arab atau al-Qur’annya.
                                                                          117




                                   BAB VI

                                  PENUTUP

A. Kesimpulan

       Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan oleh penulis, maka

kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

  1. Kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an di SMP Negeri 13 Malang

     sudah cukup baik. Sebagaimana dalam data angket, bahwa siswa yang

     mampu membaca al-Qur’an sebanyak 56 atau 58%, siswa yang sangat

     mampu membaca al-Qur’an sebanyak 6 atau 6%, dan siswa yang kurang

     mampu membaca al-Qur’an sebanyak 35 atau 36%.

  2. Adapun kemampuan yang dimiliki siswa dalam membaca al-Qur’an

     memiliki peranan yang fundamental guna meningkatkan prestasi belajar

     pendidikan agama Islam. Hal ini dibuktikan dengan penelitian di lapangan,

     penulis sampaikan bahwa rata-rata siswa yang memiliki kemampuan

     membaca al-Qur’an, anak itu minatnya tinggi. Sesuai dengan data angket

     bahwa siswa yang menjawab suka dengan pelajaran PAI sebanyak 54 atau

     55%, yang menjawab sangat suka sebanyak 19 atau 20% siswa, dan yang

     menjawab biasa saja sebanyak 24 atau 25%. Sehingga pengaruhnya pada

     nilai pelajaran pendidikan agama Islam non al-Qur’an. Siswa-siswi yang

     memiliki kemampuan yang cukup dalam membaca al-Qur’an akan memiliki
                                                                            118




     minat yang tinggi dalam mengikuti pelajaran yang berlangsung serta

     menunjukkan sikap antusias yang maksimal dalam menerima pelajaran.



B. Saran-saran

       Sebagai bahan masukan kepada civitas SMP Negeri 13 Malang, guna

dijadikan acuan dan pertimbangan dalam pengembangan pengajaran pendidikan

agama Islam, dengan tidak bermaksud menggurui dan mengurangi rasa hormat

penulis, maka disarankan, antara lain:

  1. Perlu adanya kerja sama yang baik antara guru agama Islam mengingat

     waktu yang disediakan untuk pelajaran agama di SMP Negeri 13 relatif

     sedikit, yaitu hanya 2 jam pelajaran dalam satu minggu. Adapun dari segi

     metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar juga perlu

     dikembangkan, terutama ketika menyampaikan topik yang berkenaan

     dengan al-Qur’an. Sebab metode Drill yang biasa digunakan tersebut, jika

     dipraktikkan dalam setiap kali pertemuan, dan tidak dilakukan upaya

     pengembangan, maka anak-anak akan merasa bosan.

  2. Minimnya jam pelajaran agama (2 jam), memang dirasa sangat tidak

     memadai     dalam    meningkatkan   prestasi   siswa,   khususnya   tentang

     kemampuan membaca al-Qur’an. Untuk itu, berbagai kebijakan yang telah

     ditempuh dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca al-Qur’an

     perlu dipertahankan dan dikembangkan.

  3. Bagi para siswa hendaknya dipahami bahwa salah satu faktor yang

     menentukan prestasi belajar pendidikan agama Islam adalah dengan bekal
                                                                  119




memiliki kemampuan dalam membaca al-Qur’an. Dan pada gilirannya,

apabila siswa telah memiliki kemampuan dalam mebaca al-Qur’an, ia akan

mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan

baik.
                                                                          120




                            DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi, Abu.1993. Cara Belajar yang Mandiri dan Sukses. Solo: C.V. Aneka.

Ali ash-Shabuny, Muhammad. 1985. at-Tibyan fi Ulumi al-Qur’an. Jakarta:
     Dinamika Berkah Utama.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.
     Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Burhanuddin al-Zarnuji, Syaikh Imam, Ta’lim al-Muta’allim Thuruq al-Ta’allum.
     Surabaya: al-Hidayah, t.t.

Daradjat, Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia
     Jakarta: Balai Pustaka.

Depag RI. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV. Penerbit J-ART.

Hadi, Sutrisno. 2000. Metodologi Research 2. Yogyakarta: Andi.

Haroen, Nasrun. H. 1997. Ushul Fiqh 1. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Hasbi Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad. 2003. Sejarah dan Pengantar Ilmu
     al-Qur’an dan Tafsir. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.

Hamalik, Oemar. 1983. Metoda Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar.
    Bandung: Tarsito.

Majid, Abdul dan Andayani, Dian. 2004. Pendidikan Agama Islam Berbasis
     Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja
     Rosdakarya.

Marimba, Ahmad D. 1980. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Alma’arif.

Moleong, Lexi J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
     Rosdakarya.

Muhaimin. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan,
     Pengembangan Kurikulum, hingga Redifinisi Islamisasi Pengetahuan.
     Bandung: Nuansa Cendikia.
                                                                            121




_________, dkk. 2002. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan
     Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
_________. 1996. Strategi Belajar Mengajar (Penerapannya dalam
     Pembelajaran Pendidikan Agama). Surabaya: CV. Citra Media.

Mustaqim dan Wahid, Abdul. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Mustofa, H. A. 1994. Sejarah al-Qur’an. Surabaya: al-Ikhlas.

Nasution, Harun. 1995 Islam Rasional. Bandung: Mizan.

Nizar, H. Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis
      dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers.

Noer Aly, Hery. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.

Poerwadarminta, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
     Pustaka.

Purwanto, Ngalim, M. 1988. Psikologi Pendidikan. Bandung: CV. Remaja Karya.

Rusyan, Tabrani, dkk.. 1994. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.
     Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sabri, Alisuf M. 1996. Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasinal
      Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Santoso, Gempur. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta: Prestasi Pustaka
      Publisher.

Shihab, M. Quraish. 2003. “Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu
     dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.

Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
     Rineka Cipta.

Soejanto, Agus. 1990. Bimbingan ke Arah Belajar yang Sukses. Bandung: Aksara
      Baru.

Soemanto, Wasty. 1990. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin
     Pendidikan). Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar.
     Bandung: Sinar Baru.
                                                                        122




Sujdino, Anas. 1994. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
      Jakarta.

Surjadi, A. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mandar Maju.

Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
     Persada.
________. 1989. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
     Andi Offset.

Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu,.
_____________. 2004. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:
      Remaja RosdaKarya.

Tafsir, Ahmad. 2001. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
      Rosdakarya.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003. 2003. Tentang
     SISDIKNAS. Bandung: Citra Umbara.

Usman, Moh Uzer dan Setiawati, Lilis. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan
    Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Zuhairini dan Ghafir, Abdul. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama
      Islam. Malang: UM Press.
_______, dkk. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha
      Nasional

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/23/2013
language:Unknown
pages:122
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com