skripsi pendidikan PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PROSES PENYAMPAIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMP KARTIKA V-9 MALANG

Document Sample
skripsi pendidikan PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PROSES PENYAMPAIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMP KARTIKA V-9 MALANG Powered By Docstoc
					                                                     1




PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM
  PROSES PENYAMPAIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SMP KARTIKA V-9
                     MALANG




                     SKRIPSI




                      Oleh:
                   Uud Awaludin
                     01110016




      PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
              FAKULTAS TARBIYAH
      UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
                       2006
                                                                             2




                                    BAB I

                             PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

         Dalam kegiatan dan proses belajar mengajar sangatlah penting

untuk dikaji karena kegiatan ini merupakan proses yang betul-betul harus

dikuasai oleh seorang guru erat kaitannya dengan tugas kesehariannya

seperti yang diungkapkan oleh Moh. Uzer Usman dalam bukunya

Menjadi Guru Profesional "Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik,

mengajar,     dan     melatih.   Mendidik     berarti      meneruskan     dan

mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajari berarti meneruskan dan

mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Sedangkan melatih

berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa."

         Salah satu upaya seorang guru untuk meningkat mutu pendidikan

adalah      penggunaan      media   pembelajaran        yang    tepat    dalam

menyampaikan pesan-pesannya. Hal ini diperuntukkan bagi siswa yang

belum dapat menerima pesan yang disampaikan guru, maka penggunaan

media sangat dianjurkan. Dengan demikian penggunaan media untuk

menyampaikan        pesan   pembelajaran    akan   lebih   di   hayati   tanpa

menimbulkan kesalah pahaman bagi keduanya yaitu murid dan guru.

         Proses belajar mengajar, guru sebagai sumber menuangkan pesan

ke dalam simbol-simbol tertentu dan siswa sebagai penerima pesan
                                                                      3




menafsirkan simbol-simbol tersebut, sehingga dipahami sebagai pesan.

Agar pesan yang disampaikan oleh sumber atau pesan tadi bisa juga

sampai pada penerima pesan, maka dibutuhkan adanya wadah yang

disebut dengan “Media” media ini disebut saluran (chanel). Biasanya

dalam proses komunikasi walaupun pesan (message) atau informasi sudah

diberikan oleh sumber dan ditujukan kepada penerima melalui media

akan tetapi tidak ada umpan balik maka proses komunikasi tidak

sempurna. (Arif S. 1993 : 11)

      Dalam menyampaikan pesan pendidikan agama diperlukan media

pengajaran.     Media      pengajaran   pendidikan    agama     adalah

perantara/pengantar pesan guru agama kepada penerima pesan yaitu

siswa. Media pengajaran ini sangat diperlukan dalam merangsang

pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian sehingga terjadi

proses belajar mengajar serta dapat memperlancar penyampaian

pendidikan agama Islam. (Muhaimin, dkk. 1996 : 91)

      Media pembelajaran merupakan berbagai macam jenis komponen

dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar

walaupun bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran,

perangsang kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses

belajar mengajar.

      Penggunaan media pembelajaran ini bukanlah sekedar upaya

untuk membantu guru, namun juga membantu siswa dalam belajar.
                                                                          4




Karena dengan menggunakan media pikiran siswa akan lebih terfokus

pada apa yang disampaikan oleh pendidik atau guru dan dapat

meningkatkan pemahaman siswa serta dapat menerima pesan dengan

baik dan benar.

       Hamalik    dalam       Arsyad    (2003:15)   mengemukakan     bahwa

pemakaian     media        pengajar    dalam    proses   belajar   mengajar

membangkitkan kemajuan dan minat yang baru, bangkitkan motivasi dan

rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh psikologis

terhadap siswa.

       Dari pernyataan diatas semakin jelas bahwa penggunaan media

pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu

keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan serta isi materi

pelajaran pada saat itu.

       Dalam proses pendidikan banyak sekali media yang digunakan

seperti media garafis, media audio, media visual dan masih banyak lagi.

Sedangkan landasan penggunaan media menurut Mahfud Shalahuddin

ada beberapa landasan penggunaan media yaitu dasar religius, dasar

psikologis, dan dasar teknologis.

       Untuk pemilihan kriteria media menurut Arif S. Sadiman dalam

bukunya Media Pendidikan yaitu "Faktor yang perlu dipertimbngkan

dalam pemilihan media adalah tujuan instruksional yang ingin dicapai,

karakteristik siswa, jenis rangsangan belajar yang diinginkan, keadaan
                                                                        5




latar belakang dan lingkungan siswa, situasi kondisi tempat dan luas

jangkauan yang ingin dilayani. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya

harus diterjemahkan dalam norma/kriteria keputusan pemilihan" (1993:

83-84).

          Media pembelajaran pendidikan agama Islam dapat digunakan

untuk peningkatan interaksi belajar mengajar. Oleh karena itu harus

diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya. Dan penggunaan media

pembelajaran ini juga harus bermanfaat bagi peserta didik khususnya dan

pendidik karena keduanya akan mendapat pengetahuan yang baru.

          Salah satu prinsip penggunaan media pembelajaran bahwa dalam

penggunaan media siswa harus dipersiapkan dan diperlakukan sebagai

peserta yang aktif serta harus ikut bertanggung jawab selama kegiatan

pembelajaran, merupakan upaya dalam menimbulkan motivasi dalam

bentuk menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar,

mengikat perhatian sisawa agar senantiasa terikat kepada kegiatan belajar

mengajar (Karti Soeharto, dkk,1995 : 114).

          Sehubungan dengan uraian diatas maka penulis mencoba

mengangkat tentang pengaruh penggunaan media pembelajaran terhadap

motivasi belajar siswa pada pendidikan agama Islam. Dalam hal ini

penulis ingin membuktikan sebesar apakah pengaruh media terhadap

motivasi belajar siswa. Dengan mengadakan penelitian atau studi kasus
                                                                     6




tentang penerapan media pembelajaran di SMP Kartika V-9 Malang

motivasi belajar siswanya.

       Sehingga dalam hal ini penulis menulis tentang ”Pengaruh

Penggunaan Media Pembelajaran Dalam Proses Penyampaian Pendidikan

Islam Terhadap Motivasi Belajar Siswa" (studi kasus penerapan media

pembelajaran di SMP Kartika V-9 Malang) dengan harapan kajian ini

dapat dipakai bahan pemikiran untuk kegiatan penggunaan media

pembelajaran dalam keberhasilan penyampaian pendidikan agama Islam

di lembaga pendidikan tersebut.



B. Rumusan Masalah

      Berdasarkan beberapa uraian dan latar belakang diatas, dapat

dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

    1. Apa saja jenis media pembelajaran yang digunakan di SMP Kartika

      V-9 Malang ?

    2. Apa saja kriteria penggunaan media pembelajaran di SMP Kartika

      V-9 Malang ?

    3. Bagaimana motivasi belajar siswa di SMP Kartika V-9 Malang

    4. Bagaimana pengaruh media pembelajaran terhadap motivasi

      belajar pendidikan agama Islam di SMP Kartika V-9 Malang?
                                                                   7




C. Tujuan Penelitian

       Dari rumusan masalah diatas maka akan penulis kemukakan

tujuan penelitian yaitu :

   1. Untuk mengetahui jenis media pembelajaran yang telah digunakan

       di SMP Kartika V-9 Malang

   2. Untuk mengetahui secara jelas kriteria penggunaan media

       pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran.

   3. Untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa di SMP

       Kartika V-9 Malang.

   4. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran

       terhadap motivasi belajar pendidikan agama Islam.



D. Kegunaan Penelitian

       Dengan diketahuinya tujuan penelitian ini, diharapkan dapat

berguna untuk :

   1. Bahan informasi bagi pendidikan tentang pentingnya media

       pembelajaran dalam penyampaian pendidikan agama Islam.

   2. Bahan pertimbangan tentang penggunaan media pembelajaran

       untuk menarik perhatian siswa dalam menerima pendidikan

       agama Islam.

   3. Bahan infomasi bagi guru tentang pentingnya motivasi belajar

       siswa
                                                                         8




   4. Bahan masukan informasi bagi guru agama di SMP Kartika V-9

      Malang    untuk    memperoleh      latihan   yang   spesifik   dalam

      penggunaan media pembelajaran secara efektif dan efisien.



E. Ruang Lingkup Penelitian

      Agar mendapat gambaran yang lebih jelas betul (penafsiran) serta

meningkatkan kemampuan penulis dalam waktu, tenaga, materi, fasilitas,

ilmu pengetahuan yang relatif terbatas, maka dalam penelitian ini penulis

hanya membahas masalah yang berhubungan dengan penggunaan media

pembelajaran terhadap hasil belajar pendidikan agama Islam.

      Adapun penelitian ini dimaksudkan untuk :

      1. Mendeskripsikan      tentang   jenis penggunaan media yang

         digunakan dalam proses belajar mengajar di SMP Kartika V-9

         Malang terhadap motivasi belajar siswa.

      2. Mendeskripsikan penggunaan berbagai media pembelajaran di

         SMP Kartika V-9 Malang terkait dengan kriteria pemilihan

         media dalam proses penyampaian pendidikan agama Islam

         terhadap motivasi belajar siswa.

      3. Mendeskripsikan bagaimana motivasi belajar siswa di SMP

         Kartika V-9 Malang.

      4. Mendeskripsikan tentang pengaruh penggunaan media dalam

         di SMP Kartika V-9 Malang terhadap motivasi belajar siswa.
                                                                          9




F. Hipotesis

       Untuk mengetahui gambaran jawaban yang bersifat sementara dari

penelitian ini diperlukan hipotesis, sebagaimana penjelasan Suharsimi

Arikunto dalam bukunya “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis”

yaitu : Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara

terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang

terkumpul (Suharsimi, 1993 : 63).

       Dengan memperhatikan latar belakang dan pembahasan masalah

serta kajian literatur yang terkait maka dapat diajukan hipotesis sebagai

berikut :

   Ho : Tidak adanya pengaruh penggunaan media pembelajaran dalam

            proses   penyampaian      pendidikan   agama   Islam   terhadap

            motivasi belajar siswa.



G. Metode Pembahasan dan Penelitian

   1. Metode Pembahasan

     a. Metode Induksi adalah “suatu proses berfikir yang bersangkutan

        dari suatu fakta yang khusus dan peristiwa yang kongkrit

        kemudian dari itu ditarik ke generalisasi yang mempunyai sifat

        umum”. (Sutrisno Hadi, 1981 : 42) Metode ini penulis gunakan

        dengan           membaca,          mengemukakan            beberapa

        pendapat/keterangan yang berkaitan dengan masalah yang
                                                                   10




     dibahas, berikutnya diambil suatu pengertian yang bersifat

     umum.

  b. Metode Deduksi adalah “suatu proses berfikir yang berangkat

     dari pengetahuan yang bersifat umum, dan bertolak dari

     pengetahuan umum itu hendak menilai kejadian yang khusus.

      Metode ini dipakai sebagai dasar dalam mengelola data yang

berkaitan dengan pedoman yang bersifat umum, mengenal hal yang

berhubungan existensi penelitian dalam pengembangan sistem dan

metodenya.

2. Metode Penelitian

  a. Penentuan Populasi

              Menurut Suharsimi Arikunto bahwa yang dimaksud

     dengan populasi adalah “keseluruhan subyek penelitian”(2002,

     108) Dalam hal ini dikarenakan subyek penelitian lebih dari

     seratus maka dapat di ambil 10-15 % dari itu. Maka dalam hal ini,

     penulis menggunakan sample, dengan ketentuan diambil 10%

     dari jumlah populasi yang ada, yakni 10 % dari        siswa, 674

     jumlah seluruh siswa diambil 10% sebagai sample menjadi 68

     siswa.

  b. Penentuan Sampel

              Sampel ini dimaksudkan untuk mewakili obyek yang akan

     diteliti, sebab dalam suatu penelitian, jika seorang peneliti
                                                                  11




    mengadakan penelitian terhadap seluruh populasi maka akan

    kesulitan karena terlalu banyak dan biayanya besar. Dan sample

    yang diambil adalah 68 siswa kelas 2 dari 674 siswa.

          Pengambilan     sample    ini   memakai    teknik   random

    sampling, sebagaimana pernyataan Sutrisno Hadi dalam buku

    metodelogi reasech berlaku secara umum, maka sering kali

    terpaksa menggunakan sebagian populasi yaitu sebuah sample,

    yang dapat dipandang mewakili populasi itu.

3. Metode Pengumpulan Data

        Untuk mendapatkan data yang diperlukan oleh penulis,

 maka digunakan metode sebagai berikut :

 a. Metode Observasi

          Menurut Suharsimi Arikunto yang dimaksud dengan

    metode observasi adalah “sebagaimana metode ilmiah observasi

    diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik

    fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas

    observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan

    yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.”

    (Suharsimi, 2002 : 133)

          Metode ini digunakan untuk memperoleh data dalam

    penelitian yang dilakukan penulis agar dapat menjangkau secara

    langsung subyek penelitian, agar dapat secara obyektif dan
                                                                    12




   independent dalam melakukan penelitian, agar dapat secara jelas

   bagi peneliti memantau jalannya suatu kegiatan observasi.

         Untuk      pengamatan      memaparkan         cara     untuk

   mengumpulkan data dengan jalan mengamati secara langsung

   berbagai gejala yang timbul dari obyek penelitian

b. Metode Interview.

         Metode interview yang dikenal dengan metode wawancara

  yang merupakan tehnik pengumpulan data dengan jalan

  menggunakan personel approach/pendekatan personal dengan

  responden/informan penelitian

         Untuk    mendapatkan     data   secara    langsung    penulis

   menggunakan metode wawancara dikarenakan berdasarkan

   pertimbangan bahwa :

          1. Peneliti dapat keterangan secara langsung dari

              informan

          2. Peneliti dapat dengan terperinci menerima penjelasan

              yang menyangkut kepentingan penelitian

          3. Peneliti akan lebih dekat dan akrab dengan subyek

              penelitian

          4. Peneliti akan dapat memperoleh data yang falid dan

              terhindar dari kesalahan observasi

         Metode ini digunakan sebagai metode primer dalam
                                                                  13




   pengumpulan data, karena metode dianggap sangat baik untuk

   mengetahui pendapat serta keyakinan seseorang dengan sesuatu.

   Dengan metode ini penulis dapat memperoleh data tentang

   berdirinya di SMP Kartika V-9 Malang.

c. Metode Questioner/Angket.

          Sedangkan yang dimaksud dengan metode angket adalah

   sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh

   informasi dari responden ( Suharsimi Arikunto, 2002 : 128 )

          Pemilihan metode angket berdasarkan pada :

          1. Jawaban lebih mudah di berikan karena karena pengisi

            angket tinggal menjawab soal yang telah diberikan

          2. Bersifat praktis dan ekonomis

          3. Bersifat pribadi karena pengisi angket tidak perlu

            mencantumkan identitas diri

          4. Dapat digunakan dalam beberapa komponen yang

            diperlukan pada penelitian, misalkan kriteria tertentu.

          Metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan data

   tentang tingkat penggunaan media pembelajaran di SMP Kartika

   V-9 Malang.

d. Metode Dokumenter.

         Yang dimaksud dengan mencari data melalui metode

   dokumenter yaitu : mencari data mengenai hal-hal/variabel yang
                                                                      14




        berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,

        notulen rapat, agenda dan sebagainya. (Suharsimi Arikunto, 2002

        : 131)



H. Metode Analisis Data.

      Setelah data diperoleh dan berhasil dikumpulkan, maka langkah

selanjutnya adalah menganalisa data tersebut. Adapun tehnik data yang

penulis pergunakan adalah :

  1. Tehink Analisa Diskriptif

    Tehnik ini digunakan untuk menganalisa data yang bersifat

    kualitatif, dalam hal ini adalah latar belakang pengaruh penggunaan

    media dalam proses penyampaian pendidikan agama Islam terhadap

    motivasi belajar siswa di SMP Kartika V-9 Malang

  2. Tehnik Analisa data Statistik

    Tehnik ini digunakan untuk menganalisa data yang bersifat

    kuantitatif/data yang berbentuk angka dalam hal ini penulis

    menggunakan rumus chi kwadrat yaitu :




           ( Fo  Fh ) 2
      X 
        2

                Fh

    Keterangan

     X 2 = Chi Kwadrat
                                                                         15




     Fo = Frekuensi yang diperoleh (observasi)

     Fh = Frekuensi yang di harapkan dalam sampel sebagai cerminan

     populasi (Sutrisno Hadi,1987 : 346)

             Untuk mengetahui tinggi rendahnya korelasi pengaruh

   penggunaan media dalam proses penyampaian pendidikan Islam

   menggunakan rumus :


              KK             X2
                            X 2 N


             Keterangan :

             KK = Koefisien Kontingensi

             X 2 = Harga Chi Kwardat yang diperoleh

             N   = Jumlah Reponden (Sutrisno Hadi, 1989 : 356)



I. Sistematika Pembahasan

      Uraian dalam skripsi ini dibagi menjadi empat bab, untuk lebih

jelasnya penulis uraikan hal-hal yang terkandung dalam masing-masing

bab : Bab I berisi tentang pendahuluan, yang terdiri dari a). Latar belakang

masalah, b). Rumusan masalah, c). Tujuan penelitian, d). Ruang lingkup

pembahasan, e) . Metode penelitian      dan    pembahasan,     f).   Metode

pengumpulan data dan sistematika pembahasan.

      Bab II : Berisi tentang teoritik, yang terdiri dari: a) Pengertian

tentang media pengajaran, b).Jenis-jenis media pengajaran dalam proses
                                                                        16




belajar mengajar, c). Tujuan penggunaan media pengajaran, d). Kriteria

media yang digunakan dalam proses belajar, e). Manfaat penggunaan

media pembelajaran, f). Motivasi.

      Bab III mengenai hasil penelitian dan analisis data yang terdiri dari

: a). Latar belakang berdirinya obyek, b). Ruang lingkup di SMP Kartika

V-9 Malang, c). Analisa data. Bab IV kesimpulan dan saran.
                                                                      17




                                 BAB II

     PEMBAHASAN MEDIA PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI

                               BELAJAR




A. Pengertian Media

       Kata media merupakan bentuk jamak dari Medium yang secara

harfiah tengah, pengantar, atau perantara. Dalam bahasa Arab media

adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan dari pengirim

pesan (Azhar Arsyad, 2002:3). Sedangkan dalam kepustakaan asing yang

ada sementra para ahli menggunakan istilah Audio Visual Aids (AVA),

untuk pengertian yang sama. Banyak pula para ahli menggunakan istilah

Teaching Material atau Instruksional Material yang artinya identik dengan

pengertian keperagaan yang berasl dari kata “raga” artinya suatu benda

yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamanati melalui panca indera

kita (Hamalik , 1994:11).

       Dan sebelum diambil sebuah kesimpulan mengenai arti dari media

pembelajaran ada baiknya penulis memaparkan tentang pengertian media

yang telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan diantaranya :

   1. Menurut AECT (Assosiation for Educational Communication and

       Technology). Media merupakan segala bentuk dan saluran yang
                                                                    18




   digunakan dalam proses penyampaian informasi (Azhar Arsyad,

   2002:3)


2. Menurut NEA ( National Educational Assosiation). Media adalah

   bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual

   serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat

   dilihat, didengar, dan di baca (Arif Sadiman , 2003:6 )


3. Menurut P. Ely dan Vernon S. Gerlach. Media memiliki dua

   pengertian yaitu arti luas dan sempit. Menurut arti luas yaitu

   kegiatan    yang     dapat     menciptakan      kondisi,   sehingga

   memungkinkan peserta didik dapat memperoleh pengetahuan,

   ketrampilan, dan sikap yang baru. Dan menurut arti sempit media

   berwujud grafik, foto, alat mekanik dan elektronik yang digunakan

   untuk menangkap, memproses, serta menyampaikan informasi.

   (Ahmad Rohani , 1997:2-3)


4. Menurut Asnawir dan Basyiruddin dalam bukunya mendefinisikan

   media adalah suatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat

   merangsang pikiran dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat

   mendorong terjadinya proses pendidikan (Asnawir, Basyiruddin,

   2002:11)
                                                                      19




   5. Zakiah Darajat      mengutip Rostiyah dkk. media pendidikan

       merupakan     alat, metode, dan tehnik yang digunakan dalam

       rangka meningkatkan efektifitas komunikasi dan interaksi edukatif

       antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di

       sekolah ( Zakiah Darajat, 1992:80)


   6. Muhaimin dalam bukunya mendefisinikan media pembelajaran

       agama adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

       menyalurkan pesan pendidikan agama dari pengirim atau guru

       kepada penerima pesan (siswa) dan dapat merangsang perasaan,

       perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga terjadi proses

       belajar mengajar pendidikan agama ( Muhaimin , 1992:9)


      Dari beberapa definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa media

pembelajaran merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau

penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran yaitu penerima pesan

tersebut. Bahwa materi yang ingin di sampaikan adalah pesan

pembelajarannya serta tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses

belajar mengajar.


      Apabila dalam satu dan hal lain media tidak dapat menjalankan

sebagaimana fungsinya sebagai penyalur pesan yang diharapkan, maka

media tersebut tidak efektif dalam arti tidak mampu mengkomunikasikan
                                                                           20




isi pesan yang diinginkan dan disampaikan oleh sumber kepada sasaran

yang ingin dicapai.




B. Jenis-jenis Media Pembelajaran


      Gearlach dan Elly, dalam bukunya yang berjudul "Teaching and

Media", menggolonglan media atas dasar ciri-ciri fisiknya terdiri dari :


   1. Benda Sesungguhnya

     Benda sebenarnya termasuk dalam katagoei ini meliputi : orang,
     kejadian, objek atau benda

   2. Presentasi Verbal

     Presentasi verbal yang termasuk dalam katagori ini meliputi : media
     cetak, kata-kata yang diproyeksikan melalui slide, filmstrip,
     transparansi, catatan di papan tulis, majalah dinding, papan tempel,
     dan lain sebagainya

   3. Presentasi Grafis

     Presentasi grafis, katagori ini meliputi : Chart, grafik, peta, diagram,
     lukisan/gambar yang sengaja dibuat untuk mengkomunikasikan
     suatu ide, ketrampilan/sikap.

   4. Potret diam (Still picture)

     .Potret ini dari berbagai macam objek atau peristiwa yang mungkin
     dipresentasikan melalui buku, film, stip, slide, majalah dinding dan
     sebagainya.

   5. Film (Motion picture)

     Artinya jenis media yang diperoleh dari hasil pemotretan
     benda/kejadian sebenarnya maupun film dari pemotretan gambar
     (film animasi)
                                                                     21




   6. Rekaman suara (audio recorder)

     Ialah bentuk media dengan menggunakan bahasa verbal atau efek
     suara, dalam hal ini sudah barang tentu dapat dimanfaatkan secara
     klasikal, kelompok atau bersifat individual.

   7. Program atau disebut dengan "pengajaran Berprograma"

    Yaitu infomasi verbal, visual, atau audio yang sengaja dibuat untuk
    merangsang adanya respon dari siswa.

   8. Simulasi

    Adalah peniruan situasi yang sengaja diadakan untuk
    mendekati/menyerupai kejadian sebenarnya, contoh : simulasi
    tingkah laku seorang pengemudi dalam mobil dengan
    memperhatikan keadaan jalan ditunjukkan pada layar (dengan film).
    Simulasi dapat pula dilakukan dengan permainan (permainan
    simulasi) (Mahfud, 1986 : 46-47)

      Selanjutnya apabila penggolongan jenis media tersebut atas dasar

ukuran serta kompleks tidaknya alat perlengkapan, maka dapat

diklasifikasikan menjadi lima macam yaitu :


   a. Media tanpa proyeksi dua dimensi : yaitu jenis yang
      penggunaannya tanpa proyektor dan hanya mempunyai dua
      ukuran saja, yakni panjang dan lebar. Termasuk dalam jenis ini
      misalnya : papan tulis, papan tempel, papan fanel, dan lainnya.

   b. Media tanpa proyeksi tiga dimensi yaitu : Jenis media yang
      penggunaannya tanpa proyektor dan mempunyai ukuran panjang,
      lebal tebal, dan tinggi. Termasuk dalam katagori ini misalnya :
      benda sebenarnya, boneka, dan sebagainya.

   c. Media Audio yaitu media yang hanya memberikan rangsangan
      suara saja. Media ini penggunaannya tanpa proyektor, tetapi
      memiliki alat perlengkapan khusus yang dapat menyampaikan
      atau memperkera suara. Jenis media semacam ini misalnya : radio
      dan tape recorder.

   d. Media dengan proyeksi yaitu : Media yang penggunaannya
      memakai proyektor, misalnya : Fim, slide, dan Film strip.
                                                                             22




   e. Televisi dan Video Tape Recorder yaitu Jenis media yang pada
      prinsipnya sama dengan Audio Tape recorder, dan Radio.
      Perbedaannya jika radio cukup dengan pemancar suara saja,
      sedangkan Tv memancarkan suara dan gambar. Video Tape
      Recorder adalah alat untuk merekam, menyimpan dan
      menampilkan kembali secara serempak suara dan gambar dari
      suatu objek. Sedangkan kalau TV adalah sebagai alat untuk melihat
      gambar dan mendengarkan suara dari jarak jauh. (Mahfud , 1986
      :47-48)


C. Landasan Penggunaan Media Dalam Pendidikan Agama Islam

      Menurut Drs Mahfudh Shalahuddin dalm bukunya Media

Pendidikan Islam menyatakan ada beberapa dasar penggunaan media

dalam pendidikan Islam antara lain :

   1. Dasar Religius

         Dalam masalah penerapan media pendidikan agama, harus

   memperhatikan jiwa keagamaan pada anak didik. Oleh karena faktor

   inilah yang justru menjadi sasaran media pendidikan agama yang

   sangat prinsipil. Dengan tanpa memperhatikan serta memahami

   perkembangan jiwa anak atau tingkat daya fikir anak didik, guru

   agama akan sulit diharapaknan untuk menjadi sukses. Sebagaimana

   firman Allah surat An-Nahl ayat 125 :




                    ْ ْ
      ‫ادع ِإلَى َِ سبْيل َِ رِّ بك ِبا ِلحْ كمة َِ والَموعَظة ِالَحسنة‬
        َ َ ْ                  َ ْ        َ                         ْ

      ‫َِ وجدلهْم ِباَّلتى ِهي ِ ْأحسْ ن ِإَّن ِرَّ بك هُو أَعْ لَم ِ َبمْن‬
              ُ        َ َ َ                 َ َ    َ               ْ

            }121 :‫ِضَّل ِعْ ن ِسبْيله وهُو أَعْ لَم ِباْلمه َتديْن {النحل‬
                         َ ُْ           ُ        َ َ        َ     َ     َ
                                                                     23




   Artinya : Serulah (manusia) pada jalan Tuhanmu dengan hikmah
            dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan
            cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
            lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
            jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
            orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl :125)


      Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat

membedakan antara yang haq dan yang batil. Bermacam-macam

orang mengartikan kata “Hikmah” dalam arti “Bijaksana.” Adapula

yang mengartikan hikmah dengan cara yang tepat dan efektif. Syekh

Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar (juz III) mengartikan kata

hikmah dengan “Alasan-alasan ilmiah dengan dalil dan hujjah yang

dapat diterima oleh kekuatan akal (Humaidi, 1974 : 8). Dalam Lisanul

Arab diterangkan bahwa” : Hakim yaitu orang yang berhikmah, ialah

orang yang paham benar tentang seluk beluk kaifiat/cara mengerjakan

sesuatu dan dia mahir didalamnya.

      Dapat disimpulkan bahwa hikmah adalah cara yang bijaksana,

tepat, efektif, dan dapat diterima dengan akal. Oleh karena itu tugas

pengamatan yang pertama harus dilakukan oleh guru agama sebagai

pendidik      ialah   pengamatan    langsung   kepada   perkembangan

keagamaan anak didik. Sebab perkembangan sikap keagamaan anak

sangat erat hubungannya dengan sikap percaya kepada Tuhan, yang

telah diberikan di lingkungan keluarga atau masyarakat, yang

selanjutnya     dapat   dijadikan   bahan   dasar   pengertian    dalam
                                                                   24




melaksanakan tugas sesuai dengan metode yang dipakai dalam proses

belajar mengajar.(Mahfud Salahuddin, 1986 : 21)



2. Dasar Psikologis

        Pada waktu guru menyusun desain untuk media, ia harus telah

merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan jelas, agar kegiatan

belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien, guru

pula yang menentukan dan mengorganisir komponen media. Guru

akan dapat mengorganisir komponen dengan tepat kalau ia

mengetahui tentang proses belajar mengajar/tipe-tipe belajar. Belajar

adalah suatu proses yang kompleks dan unik. Kompleks artinya

mengikutsertakan segala aspek kepribadian baik jasmani maupun

rohani. Sedangkan unik berarti cara belajar dari tiap orang mempunyai

perbedaan, seperti dalam hal : minat, bakat, kemampuan, kecerdasan

serta tipe belajar.

       Hakikat perbuatan belajar mengajar adalah usaha terjadinya

perubahan tingkah laku kepribadian bagi orang yang belajar.

Perubahan itu baik dalam aspek pengetahuan, ketrampilan, maupun

sikap/nilai. Guru akan dapat memilih dan menggunakan media

dengan tepat dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, jika

mengetahui tentang proses orang mengenal dunia dan sekitar

bagaimana cara mempelajarinya (mahfud, 1986 : 22).
                                                                         25




   3. Dasar Teknologis

           Kemajuan     dan    perkembangan       teknologi   mempengaruhi

   perkembangan dan kemajuan masyarakat. Pengaruh tersebut juga

   memasuki     dunia    pendidikan,      sehingga    menimbulkan    istilah

   “Teknologi Pendidikan” yang mempunyai pengertian sebagai proses

   keseluruhan kegiatan yang melibatkan orang, prosedur, fikiran,

   perencanaan, organisasi dalam menganalisis masalah, melaksanakan

   dan menilai serta mengelola usaha pemecahan masalah dengan segala

   sumber yang ada (Mahfud Salahuddin, 1986 : 42-43).



D. Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran

        Menurut Arif S. Sadiman dkk. dalam bukunya “Media Pendidikan”

menjelaskan    bahwa:    “faktor   yang   perlu    dipertimbangkan   dalam

pemilihan media adalah tujuan instruksional yang ingin dicapai,

karakteristik siswa, jenis rangsangan belajar yang diinginkan, keadaan

latar belakang dan lingkungan siswa, situasi kondisi setempat dan luas

jangkauan yang ingin dilayani. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya

harus       diterjemahkan       dalam       norma/kriteria       keputusan

pemilihan.”(Sadiman, 83-84).
                                                                       26




      Dalam hal ini Dick dan Carey menyebutkan bahwa disamping

kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya, setidaknya masih ada

empat faktor lagi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media

yaitu : pertama, ketersedian sumber setempat yaitu apabila media yang

bersangkutan tidak terdapat sumber-sumber yang ada, maka harus dibeli

atau dibuat sendiri. Kedua, apakah untuk membeli atau memproduksi

sendiri tersebut ada dana, tenaga, dan fasilitasnya. Ketiga, adalah faktor

yang menyangkut keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media yang

bersangkutan untuk waktu yang lama artinya bias digunakan dimanapun

dengan peralatan yang ada di sekitarnya dan kapanpun serta mudah di

bawa atau dipindahkan. Faktor keempat, adalah efektifitas biayanya dalam

jangka waktu yang panjang, sebab ada jenis media yang biaya

produksinya mahal (contohnya program film bingkai) tetapi dapat

dipakai berulang-ulang dalam jangka waktu yang panjang.

      Hakikat dari pemilihan media ini pada akhirnya adalah keputusan

untuk memakai, tidak memakai atau mengadaptasi media yang

bersangkutan (Arief S. Sadiman dkk, 1993 : 84).

Adapun kriteria dalam pemilihan media pembelajaran adalah :

   a. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Media yang dipilih
      berdasarkan tujuan insrtuksional yang diterpakan secara umum
      mengacu kepada kepada salah satu atau gabungan dari dua atau
      tiga arah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan ini dapat
      digambarkan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh
      siswa seperti menghafal, melakukan kegiatan fisik, dan
      mengerjakan tugas-tugas       yang melibatkan pemikiran pada
      tingkatan lebih tinggi.
                                                                     27




   b. Tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta, konsep,
      prinsip, atau generalisasi media yang berbeda, contoh film dan
      grafik memerlukan simbol dan kode yang berbeda. Agar dapat
      membantu proses pembelajaran secara efektif, media harus selaras
      dan sesuai dengan kebutuhan             tugas pembelajaran dan
      kemampuan mental siswa.
   c. Praktis, luwes dan bertahan, jika tidak tersedia waktu, dana, atau
      sumber cara lainnya memproduksi, maka tidak perlu dipaksakan.
      Kriteria ini menuntun para guru/instruktur untuk memilih media
      yang ada yang ada, mudah diperoleh atau mudah dibuat oleh
      guru. Media yang dipilih sebaiknya dapat digunakan dimanapun
      dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia di sekitarnya, serta
      mudah dipindahkan dan dibawa kemana-mana.
   d. Guru terampil menggunakannya, ini merupakan salah satu kriteria
      utama. Apapun jenis media yang digunakan, guru harus mampu
      menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Nilai dan
      manfaat      media   sangat     ditentukan    oleh   guru    yang
      menggunakannya.
   e. Pengelompokan sasaran, media yang efektif untuk kelompok besar
      belum tentu sama efektifnya jika digunakan pada kelompok kecil
      atau perorangan. Oleh karena itu ada berbagai macam media yang
      digunakan untuk jenis kelompok besar, kecil, dan perorangan.
   f. Mutu tekhnis, pengembangan visual baik gambar maupun
      fotografi harus memenuhi persyaratan tekhnis tertentu. Contohnya
      visual pada slide harus jelas dan informasi atau pesan yang
      ditonjolkan dan ingin disampaikan tidak boleh terganggu oleh
      elemen lainnya yang berupa latar belakang ( Azhar Arsyad, 1997 :
      72-74).


      Menurut Ahmad Rohani dalam bukunya “Media Instruksional

Edukatif” menyatakan bahwa pemilihan dan pemanfaatan media perlu

memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut :

   a. Tujuan
      Media hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang telah
      dirumuskan.
   b. Ketepatgunaan
      Tepat dan berguna bagi pemahaman bahan yang dipelajari.
   c. Keadaan peserta didik
      Kemampuan berfikir dan daya tangkapa peserta didik, dan besar
      kecilnya kelemahan peserta didik perlu dipertimbangkan.
                                                                      28




   d. Ketersediaan
      Pemilihan perlu memperlihatkan ada atau tidak media tersedia di
      perpustakaan atau di sekolah serta mudah-sulinya diperoleh.
   e. Mutu teknis
      Media harus memiliki kejelasan dan kualitas yang baik.
   f. Biaya
      Hal ini merupakan pertimbangan bahwa biaya yang dikeluarkan
      apakah seimbang dengan hasil yang dicapai serta ada kesesuaian
      atau tidak. (Ahmad Rohani, 1997 : 72-74)


      Berkaitan dengan hal tersebut beberapa ahli menyatakan : untuk

memilih media atau menggunakannya media pembelajaran perlu

diperhatikan hal-hal berikut :

   a. Biaya lebih murah, pada saat pembelian ataupun dalam
      pemeliharaan
   b. Kesesuaian dengan metode pembelajaran
   c. Kesesuaian dengan karakteristik peserta didik
   d. Pertimbangan praktis
      Media dipilih atas dasar praktis tidaknya untuk digunakan seperti :
      1) Kemudahannya dipindahkan atau ditempatkan.
      2) Kesesuaian dengan fasilitas yang dad di kelas.
      3) Keamanan penggunaannya.
      4) Kemudahan perbaikinya.
      5) Daya Tahannya.
   e. Ketersediaan media tersebut berikut suku cadang di pasaran serta
      keterbatasan bagi peserta didik.
      Jenis media yang digunakan harus dipilih berdasarkan kriteria
      utama, yaitu kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran dan
      kriteria lain, seperti yang telah diuraikan diatas. Bila media yang
      dipilih hanya memenuhi sebagian dari kriteria, dapat terjadi hal-
      hal sebagai berikut:
       1) tampak baik dalam perencanaan tetapi tidak berhasil
          diproduksi, karena terlalu mahal atau sulit diperoleh peralatan
          dan bahan bakunya.
       2) Diproduksi dengan kualitas rendah karena alasan yang sama
          seperti diatas.
       3) Tidak atau kurang digunakan karena tidak sesuai dengan
          karakteristik peserta didik, tidak praktis untuk digunakan atau
          tidak sesuai dengan metode pembelajaran.
                                                                    29




      4) Kurang efektif dalam mencapai tujuan (Ahmad Rohani, 1997 :
         29-30).


         Akhirnya perlu dipahami tentang cara-cara pemilihan media

      ada tiga cara yaitu:

      a. Model, flow Chart, Eliminasi.
         Menggunakan sistem pengguguran (batal) dalam pengambilan
         keputusan.
      b. Model Matriks.
         Menangguhkan pengambilan keputusan, untuk memilih ini
         cocok kalau menggunakan media rancangan.
      c. Model Checeklist.
         Menangguhkan keputusan untuk memilih sampai seluruh
         kriteria dipertimbangkan, hal ini cocok untuk media jadi dan
         media rancangan. ( Ahmad Rohani, 1997 : 34)



E. Penggunaan Media Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

      Media pembelajaran pendidikan agama Islam dapat digunakan

dalam rangka upaya peningkatan interaksi belajar mengajar. Oleh karena

itu harus diperhatikan prinsip-prinsip penggunaannya. Menurut Asnawir

dan M Basyiruddin Usman (2002: 19). Prinsip-prinsip penggunaan media

pembelajaran adalah sebagai berikut:

   1. Pengunaan media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai

      bagian yang integral dari suatu sistem pengajaran dan bukan

      hanya sebagai alat bantu yang berfungsi sebagai tambahan yang

      digunakan bila dianggap perlu dan hanya dimanfaatkan bila

      sewaktu-waktu digunakan.
                                                                        30




   2. Media pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sumber belajar

      yang digunakan dalam usaha memecahkan masalah yang dihadapi

      dalam proses belajar mengajar.

   3. Guru hendaknya dapat mengasai teknik-teknik dari suatu media

      pembelajaran yang digunakan.

   4. Guru seharusnya memperhitungkan untung ruginya pemanfaatan

      suatu media pembelajaran.

   5. Penggunaan    media   pembelajaran    harus      diorganisir   secara

      sistematis.

   6. Jika sekiranya suatu pokok bahasan memerlukan lebih dari

      beberapa macam media, maka guru dapat memanfaatkan

      multimedia yang menguntungkan dan memperlancar proses belajar

      mengajar dan dapat merangsang motivasi belajar siswa sehingga

      dapat meningkatkan interaksi belajar mengajar.



      Menurut Arief Sukadi S.S dan Radikun (1998: 173-174) prinsip-

prinsip penggunaan media adalah sebagai berikut:

   a. Tidak ada satupun teknik atau strategi mengajar dan media
      pembelajaran yang harus dipakai tanpa melibatkan strategi
      mengajar dan media lainnya. Oleh sebab itu sebaiknya dalam
      proses belajar mengajar dipergunakan teknik dan media
      pembelajaran sesuai dengan tujuan belajar dan kebutuhan belajar.
   b. Tidak ada satu mediapun yang sessuai dan cocok dengan segala
      macam kegiatan belajar. Oleh karena itu sebaiknya sebelum
      melaksanakan proses belajar mengajar dipilih satu bentuk media
      yang cocok dan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan belajar.
                                                                     31




   c. Media tertentu lebih cepat dipakai untuk tujuan pembelajaran
      tertentu dibanding media lain.
   d. Pengunaan berbagai media secara berlebihan dan tidak
      berdasarkan teori pemilihan media dalam tempo relatif kurang
      akan menyebabkan kaburnya isi materi ini berarti bukan
      pendekatan multi media.
   e. Sebelum menggunakan suatu media dalam proses belajar mengajar
      sebaiknya guru melakukan persiapan yang cukup dan cermat.
      Karena hanya dengan cara demikian guru dapat menguasai
      seluruh materi dan proses belajar mengajar akan berjalan sesuai
      dengan tujuan yang ingin dicapai. Bila dianggap perlu maka guru
      sebaiknya mempersiapkan bahan tambahan agar dapat
      memperluas dan memperdalam topik yang dibahasnya.
   f. Selama belajar menggunakan media, sebaiknya siswa juga
      dipersiapkan sebelumnya dan siswa juga harus diperlakukan
      sebaik-baiknya sesuai dengan karakteristiknya sehingga dapat
      berperan sebagai siswa yang berperan aktif dan bertangungjawab
      dalam proses belajar mengajar dan juga dapat meningkatkan
      interaksi belajar.
   g. Media perlu diusahakan agar dapat menjadi bagian intregal dari
      sistem pendidkan. Yakni media harus diperlakukan secara tepat
      dan proposional, sehingga tidak hanya sebagai alat Bantu mengajar
      tetapi betul- betul merupakan satu mata rantai dalam sistem
      pendidikan.
   h. Jangan sekali- kali menggunakan media hanya untuk mengisi
      waktu kosong dengan tujuan sebagai hiburan semata, karena
      dengan demikian tanggapan siswa selanjutnya terhadap media
      betul- betul sebagai hiburan. Dan untuk mengubah situasi akan
      sulit sekali.


       Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prinsip-

prinsip penggunaan media pembelajaran pendidikan agama Islam adalah

sebagai berikut:

   1. Media merupakan bagian intregal dari sistem pengajaran.

   2. Media merupakan sumber belajar yang digunakan dalam usaha

      memecahkan masalah.

   3. Guru harus menguasai tehnik media yang akan digunakan.
                                                                     32




   4. Guru harus memperhitungkan untung- rugi penggunaan media.

   5. Penggunaan     media   pembelajaran   harus   diorganisir   secara

      sistematis.

   6. Guru dapat menggunakan multimedia jika pokok bahasan

      memerlukan beberapa macam media.

   7. Guru harus mempersiapkan media secara cermat dan juga siswa

      yang akan diajar sehingga ada interaksi dalam proses belajar

      mengajar.



F. Manfaat Penggunaan Media Pembelajaran

      Media pembelajaran mempunyai manfaat yang utama yaitu

membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan

oleh gurunya. Tetapi menurut beberapa ahli pendidikan media

pembelajaran mempunyai manfaat yang lebih luas antara lain :

   1. Menurut Dale

      Menurut Dale manfaat media pembelajaran adalah :

       a   Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam

           kelas.

       b   Membuahkan perubahan signifikan tingkah laku siswa.

       c   Menunjukkan hubungan mata pelajaran dan kebutuhan serta

           minat siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa.
                                                                  33




    d   Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar

        siswa.

    e   Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai

        kemampuan siswa.

    f   Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran

        dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang

        mengakibatkan meningkatnya hasil belajar siswa.

    g   Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat

        membantu siswa menemukan seberapa banyak yang telah

        mereka pelajari.

    h   Melengkapi pengalaman yang kaya dengan konsep-konsep

        yang bermakna dan dapat dikembangkan.

    i   Memperluas      wawsan   dan    pengalaman     siswa   yang

        mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat

        generalisasi.

    j   Menyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan fikiran yang

        siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan

        sistem dan gagasan yang bermakna.



2. Menurut Sudjana dan Rifa’i

   Manfaat media pembelajaran menurut mereka adalah :
                                                                    34




   a     Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga

         dapat menumbuhkan motivasi belajar

   b     Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat

         lebih      dipahami   oleh   siswa   dan   memungkinkannnya

         menguasai dan mencapai tujuan pengajaran

   c     Metode belajar akan lebuh bervariasi, tidak semata-mata

         komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru,

         sehingga siswa tidak mengalami kebosanan dan guru tidak

         kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap

         jam pelajaran

   d     Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak

         hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktifitas lain

         seperti:     mengamati,      melakukan,    mendemonstrasikan,

         memerankan, dan lain-lain.



3. Menurut Oemar Malik

  Manfaat media pembelajaran menurut Oemar Malik adalah :

       a Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir, oleh

         karena itu mengurangi verbalisme

       b Memperbesar perhatian siswa

       c Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan

         belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap
                                                                         35




         d Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan

             kegiatan berusaha sendiri dikalalangan siswa

         e Menumbuhkan        pemikiran    yang   teratur    dan   kontinyu

             terutama melalui gambar hidup

         f   Membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu

             perkembangan kemampuan berbahasa.



       Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan

cara lain dan membantu efiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam

belajar (Oemar Hamalik, 1976 : 15-16).



G. Motivasi Belajar

 1. Pengertian Motivasi

      Sudah umum orang menyebut motivasi dengan "motif" untuk

menunjuk kenapa seseorang itu berbuat sesuatu. Motif dan motivasi

keduanya sangat erat kaitannya dengan penghayatan suatu kebutuhan

(Soetjipto dan Raflis kosasi, 1999 : 33). Kata motif diartikan sebagai daya

upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

      Berawal dari suatu pendekatan kata "motif" tersebut dapat ditarik

persamaan     bahwa   keduanya      menyatakan    suatu     kehendak   yang

melatarbelakangi perbuatan. Para ahli yang memberikan batasan tentang

pengertian motivasi antara lain :
                                                                               36




   1. Gleitman       dan     Reiber   yang    dikutip   oleh    Muhibbin    Syah

      berpendapat, bahwa motivasi berarti pemasok daya (energizer)

      untuk bertingkah laku secara terarah(Muhibbin Syah, 2002 : 136).

   2. Tabrani       Rusyan     berpendapat,    bahwa     motivasi    merupakan

      kekuatan yang mendorong seorang melakukan sesuatu untuk

      mencapai tujuan(Tabrani Rusyan,dkk, 1989 : 95).

   3. Heinz      Kcok        memberikan       pengertian       motivasi    adalah

      mengembangkan keinginan untuk melakukan sesuatu(Heinz Kcok,

      1991 : 69).

   4. Mc. Donald yang dikutip oleh Sardiman mengemukakan, motivasi

      adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai

      dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan

      terhadap adanya tujuan (Sardiman AM, 1990 : 73).

      Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas,

dapat dikatakan bahwa motivasi yaitu sesuatu yang kompleks, karena

motivasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan energi dalam diri

seseorang untuk melakukan sesuatu yang didorong karena adanya tujuan,

kebutuhan atau keinginan.



2. Fungsi Motivasi

      Agar terlaksana suatu kegiatan yang pertama harus ada dorongan

untuk melaksanakan kegiatan itu, begitu juga dalam dunia pendidikan,
                                                                      37




aspek motivasi ini sangat penting. Siswa harus mempunyai motivasi

untuk mengikuti kegiatan belajar terutama dalam proses belajar mengajar.

      Motivasi adalah salah satu faktor pendukung dalam proses belajar

mengajar sebab motivasi berfungsi :

    1. Pemberi semangat pada siswa dalam kegiatan belajarnya.

    2. Pemilih dari tipe-tipe berbagai kegiatan dimana seseorang

       berkeinginan untuk melakukannya.

    3. Pemberi petunjuk pada tingkah laku.

          Fungsi motivasi juga dipaparkan oleh Tabrani dalam bukunya

      Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar adalah :

          a. Mendorong timbulnya perbuatan.

          b. Mengarahkan aktifitas belajar siswa.

          c. Menggerakkan dan menentukan cepat atau lambatnya

              suatu perbuatan (Tabarani Rusyan, 1989 : 123).

          Sama halnya dengan pendapat yang dikemukakan oleh

    Sardiman AM, ada tiga fungsi motivasi :

          1. Mendorong manusia untuk berbuat.

          2. Menentukan arah perbuatan, yakni menentukan perbuatan-

             perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna

             mencapai tujuan (Sardiman, 1989 : 84)

           Ada juga fungsi-fungsi lain, motvasi dapat berfungsi sebagai

    pendorong usaha-usaha pencapaian prestasi. Seseorang melakukan
                                                                    38




    suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik

    dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik, dengan kata lain

    bahwa, adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya

    motivasi maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan

    prestasi yang baik. Itensitas motivasi seseorang siswa akan sangat

    menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.



3. Macam-macam Motivasi

       Para ahli psikologi berusaha menggolongkan motivasi yang ada

dalam diri manusia atau suatu organisme kedalam beberapa golongan.

Dalam hal ini Tadjab, dalam bukunya Ilmu Jiwa Pendidikan membedakan

motivasi belajar siswa di sekolah dalam dua bentuk yaitu :

   1. Motivasi Instrinsik

   2. Motvasi Ekstrensik (Sardiman, 1990 : 84)

a. Motivasi Instrinsik

       Motivasi instrinsik adalah suatu kegiatan belajar dimulai dan

diteruskan berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan

yang secara mutlak berkaitan dengan aktifitas belajar. Sardiman

mengemukakan dalam bukunya menjelaskan bahwa motivasi instrinsik

adalah motif-motif yang aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang

dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk

melakukan sesuatu (Sardiman, 1990 : 104).
                                                                        39




       Sedangkan dalam bukunya Tabrani mendefisinikan motivasi

Instrinsik ialah dorongan untuk mencapai tujuan-tujuan yang terletak

didalam perbuatan belajar (Tabrani, 1989 : 120). Jenis motivasi ini menurut

Uzer Usman sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada

paksaan dari orang lain, akan tetapi atas kemauan sendiri(M. Uzer

Usman, 2002 : 29).

       Dari definisi tersebut dapat diambil pengertian bahwa motivasi

instrinsik merupakan motivasi yang datang dari dalam diri sendiri dan

bukan datang dari orang lain atau faktor lain. Jadi motivasi ini bersifat

alami dari diri seseorang dan sering juga disebut motivasi murni dan

bersifat riil, berguna dalam situasi belajar fungsional.

b. Motivasi Ekstrensik

       Motivasi Ekstrensik adalah dorongan untuk mencapai tujuan-

tujuan yang terletak di luar perbuatan belajar (Heinz Kcok, 1986: 80). Dari

definisi dapat dipahami bahwa motivasi ini yang pada hakikatnya adalah

dorongan yang berasal dari luar seseorang. Jadi berdasarkan motivasi

ekstrensik tersebut peserta didik yang belajar sepertinya bukan karena

ingin mengetahui sesuatu tetapi ingin mendapatkan pujian atau nilai yang

baik. Walaupun demikian dalam proses belajar mengajar motivasi

ekstrensik tetap berguna bahkan dianggap penting. Hal tersebut seperti

yang diungkapkan oleh S. Nasution dalam bukunya Diktatik Asas-asas

Mengajar yaitu sebagai berikut :
                                                                         40




      "Dalam hal pertama ia ingin mencapai tujuan yang terkandung
      didalam perbuatan belajar. Sebaliknya bila seseorang belajar untuk
      mencapai penghargaan berapa angka, hadiah, dan sebagainya ia
      didorong oleh motivasi ekstrensik. Oleh sebab itu tujuan itu teletak
      diluar penghargaan itu."


      Berangkat dari uraian diatas, dapat diambil pengertian bahwa

motivasi instrinsik lebih baik daripada motivasi ekstrinsik. Namun

motivasi ekstrinsik juga perlu digunakan dalam proses belajar mengajar .

Untuk dapat menumbuhkan motivasi instrinsik maupun ekstrinsik

merupakan suatu hal yang tidak mudah, maka dari itu guru perlu dan

mempunyai kesanggupan untuk menggunakan bermacam-macam cara

yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa sehingga dapat belajar

dengan baik.



4. Faktor-faktor yang dapat Menimbulkan Motivasi Belajar

      Dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa motivasi

belajar dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :

   1. Adanya kebutuhan

   2. Adanya pengetahuan tentang kemampuan dirinya

   3. Adanya aspirasi atau cita-cita (Amir Dien, 1973 : 163-164)

Adapun penjelasan dari faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

   1. Adanya kebutuhan

               Pada hakikatnya semua tindakan yang dilakukan manusia

      adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik maupun psikis. Oleh
                                                                  41




   karena itu kebutuhan dapat dijadikan sebagai salah satu factor

   yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. Misalnya siswa ingin

   mengetahui isi dari suatu buku. Keinginan untuk mengetahui isi

   buku tersebut dapat menjadi pendorong yang kuat untuk belajar

   mempelajarinya, sebab apabila ia telah mempelajari buku tersebut

   berarti ia telah memenuhi kebutuhannya untuk mengetahui isi

   buku tersebut.

2. Adanya pengetahuan tentang kemajuan dirinya

          Mengetahui kemajuan yang telah diperoleh dirinya baik

   berupa prestasi, pengalaman dan sebagainya merupakan faktor

   yang mempengaruhi motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu dengan

   mengetahui prestasi dan pengalaman yang telah diperoleh, siswa

   akan dapat menentukan dirinya telah mencapai kemajuan atau

   bahkan kegagalan. Dengan demikian siswa akan terdorong untuk

   meningkatkan dan mempertahankan prestasi baiknya dan akan

   mengoreksi diri untuk memenuhi sebab-sebab kegagalannya. Oleh

   karena itu penting sekali adanya penilaian atau evaluasi terhadap

   keseluruhan kegiatan siswa secara kontinyu.

3. Adanya aspirasi atau cita-cita

          Aspirasi atau cita-cita dalam belajar yang menjadi tujuan

   hidup siswa akan menjadi pendorong bagi seluruh kegiatannya

   dan pendorong bagi belajarnya. Aspirasi atau cita-cita tersebut
                                                                      42




      sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan siswa itu sendiri.

      Siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang baik akan

      mempunyai cita-cita yang lebih realitis jika dibandingkan dengan

      siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang rendah.

              Dalam melaksanakan pendidikan sering dijumpai bahwa

      motivasi instrinsik yang demikian itu tidak selamanya dimiliki oleh

      peserta didik atau siswa. Karena itu, pendidik harus berusaha

      sebaik-baiknya untuk menimbulkan motivasi jenis lain pada diri

      siswa, yaitu apa yang disebut ekstrinsik (Tabarani Rusyan, 1989 :

      104).

      Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi eksteinsik

adalah ganjaran, hukuman, persaingan. Kajian masing-masing faktor

tersebut akan penulis jelaskan dibawah ini :

a. Ganjaran

      Ganjaran merupakan alat yang dapat menimbulkan            motivasi

 ekstrinsik . Ganjaran ini dapat dijadikan pendorong bagi siswa untuk

 belajar lebih baik dan lebih giat lagi. Ganjaran yang diberikan oleh

 ganjaran kepada muridnya dapat dibedakan menjadi empat, yaitu :

 a). Pujian

     Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus

     merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu seorang guru harus

     mampu memberikan pujian secara tepat, dengan pujian yang tepat
                                                                   43




   akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi

   gairah belajar ( Tabrani Rusyan, 1989 : 104).

b). Penghormatan

   Ganjaran yang berupa penghormatan ini ada dua macam yaitu :

      1. Berbentuk semacam penobatan, yaitu anak yang mendapat

          penghormatan diumumkan dan ditampilkan dihadapan

          teman-temannya, baik itu temn-teman dikelas, teman-teman

          satu sekolah atau mungkin juga dihadapan para teman dan

          orang tua siswa, misalnya pada malam perpisahan yang

          diadakan pada akhir tahun, pada saat itu ditampilkan siswa-

          siswa yang telah berhasil menjadi bintang kelas.

      2. Berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan sesuatu.

          Misalnya anak yang berhasil mengerjakan suatu soal yang

          sulit, disuruh mengerjakan dipapan tulis untuk dicontoh

          teman-temannya, anak yang rajin diserahi wewenang untuk

          mengurusi perpustakaan sekolah dan sebagainya (Amir Dien,

          1973 :159-160).

c). Hadiah

   Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai

   pengharhaan atau kenangan cindera mata (Syaiful Bahri, 1994 : 42).

   Hadiah ini merupakan ganjaran yang berbentuk pemberian barang

   atau yang disebut juga dengan materiil. Dengan demikian hadiah
                                                                          44




   tersebut siswa akan termotivasi untuk belajar guna mempertahankan

   prestasi belajar yang telah diraih dan tidak menutup kemungkinan

   akan mendorong siswa lainnya berlomba-lomba dalam belajar.

d). Tanda Penghargaan

   Tanda penghargaan ini disebut juga ganjaran simbolis. Ganjaran

   simbolis ini dapat berupa surat-surat tanda penghargaan, surat

   tanda jasa, sertifikat-sertifikat, piala-piala dan lain sebagainya. Ijazah

   dan Surat Tanda Tamat Belajar yang diberikan kepada siswa

   disamping berfungsi sebagai laporan pendidikan, sebenarnya tidak

   lain adalah merupakan tanda penghargaan atas berhasilnya anak

   menyelesaikan pelajarannya. Pada umunya ganjaran simbolis ini

   lebih   besar   pengaruhnya      terhadap     kejiwaan    anak.    Tanda

   penghargaan yang diperoleh anak merupakan sumber pendorong

   bagi perkembangan anak selanjutnya. Dan mengenai ganjaran ini

   juga telah dijelaskan dalam Al-qur'an Surat An-Nisa ayat 124 :




                                                               ْ
               ‫َِ و َِ من َِ يعمل من الصا لحا ت من د كر او انثى وهو مؤ من‬

                   )121: ‫فاو لئك يد خلو ن الجنة و ال يظلمو ن نقيرا (النساء‬

   Artinya :

            Barang siapa yang mengerjakan amalan shaleh baik laki-laki
           maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka
           akan masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya walau
           sedikitpun. (QS An-Nisa : 124)
                                                                       45




             Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa dengan adanya

      ganjaran, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk belajar lebuh

      diat agar dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

b. Hukuman

      Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anal secara

sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan adanya

nestapa itu anak akan menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji

didalam hatinya untuk tidak mengulanginya (Amir Dien,1973 : 147).

Sedangkan Kartini Kartono dalam bukunya Pengantar Ilmu Mendidik

Teoritis berpendapat     “hukum sebagai perbuatan yang intensional

diberikan, sehingga    menyebabkan penderitaan lahir batin, diarahkan

untuk menggugah hati nurani dan penyadaran sipenderita akan

kesalahannya” (Kartini Kartono, 1992 : 261). Dalam hal ini terdapat dua

macam prinsip pengadaan hukuman, yaitu::

   1. Hukuman diadakan karena adanya pelanggaran dan karena
      adanya kesalan yang dipebuat.
   2. Hukuman diadakan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran
      (Amir Dien, 1973 : 147)

      Dua    prinsip   tersebut   menunjukkan    bahwa       hukuman   itu

merupakan akibat dari pelanggaran yang diperbuat oleh siswa dan tjuan

hukuman adalah untuk menghindari adanya pelanggaran atau kesalan

yang sama. Siswa yang pernah mendapatkan hukuman karena suatu

kesalan misalnya tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru akan
                                                                            46




berusaha untuk tidak memperoleh hukuman lagi. Hukuman dapat

dijadikan sebagai alat untuk motivasi belajar jika dilakukan dengan

pendekatan edukatif dan bukan secara sewenang-wenang atau menurut

kehendak guru sendiri. Yaitu sebagai hukuman yang mendidik dan

bertujuan untuk merubah dan memperbaiki sikap serta perbuatan siswa

yang dianggap salah. Seperti hadits Nabi :




‫عن عمربن شعيب عن ا بيه عن جد ه رضي هللا عنه قا ل : قا ل ر سو ل هللا‬

‫ص م : مر وا او ال د كم با لصال ة وهم ابناء سبع سنين واضربوا هم عليها وهم‬

                      )‫ابناء عشر وفر قوا بينهم في المضا جع (ر وا ه ابو د ود‬

   Artinya : Dari Amru bain Suaib dari ayahnya dari kakeknya r.a beliau berkata
            : Rasulullah SAW bersabda : Suruhlah anak-anakmu sholat ketika
            mereka berumur 7 tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan
            sholat itu, ketika mereka berumur 10 tahun, pisahkan diantara
            mereka tidurnya ( Hadits hasan yang diriwayatkan Abu Dawud)
            (Abi Zakariyah, Riayadus Sholihin : 159)



       Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa dalam memberikan

hukuman itu terkandung tujuan untuk etis serta mendidik anak.

Hukuman diberikan karena ada kesalahan yang diperbuat oleh siswa dan

juga   dimaksudkan      agar    siswa    menyadari     kekeliruannya     serta

meninggalkan perbuatan tersebut.
                                                                       47




c. Persaingan atau kompetisi

        Persaingan atau kompetisi merupakan salah satu faktor yang dapat

menumbuhkan motivasi belajar siswa. Persaingan ini akan dapat terjadi

dengan sendirinya dan juga dapat terjadi karena ditimbulkan dengan

sengaja oleh guru.


        Dalam proses belajar mengajar guru harus dapat menimbulkan

kompetisi agar siswa menjadi semangat belajar. Agar kompetisi yang

diadakan menjadi kompetisi yang sehat harus memperhatikan hal-hal

berikut ini :


        a. Kompetisi jangan terlalu intensif

        b. Kompetisi harus diadakan dalam suasana yang " fair", jujur,

             positif dan sportif

        c. Semua siswa yang ikut seharusnya mendapat penghargaan,

             baik yang menang ataupun yang tidak

        d. Macam kompetisi harus berjenis dan jangan satu macam saja

        e. Adakalanya       kompetisi baik diadakan dengan tidak begitu

             normal


        Seperti yang diungkapkan diatas dalam hal ini persaingan harus

juga dapat memotivasi dan dapat mendidik dan mengarah ke hal-hal

yang positif sehingga siswa dapat mencapai tujuannya yaitu menggapai

cita-cita.
                                                                         48




                                   BAB III

                  PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA




A. Latar Belakang SMP Kartika V-9

      Pendidikan yang diberikan sejak kecil sangat besar pengaruhnya

terhadap individu di masa mendatang, terlebih lagi dari penanaman jiwa

keagamaan dan budi pekerti. Berbagai pengalaman anak di masa kecil

merupakan      dasar   atau    pondasi   mereka   dalam    mengembangkan

kemampuan dirinya baik jasmaniah maupun rohaniah.

      Untuk itu keberadaan lembaga pendidikan dasar dalam hal ini

SMP Kartika V-9 Malang yang ada di Jalan Narotama 100 A Ksatrian

Blimbing    sangat     besar   artinya   bagi   semua     masyarakat   yang

mempengaruh kemajuan bidang informasi dalam hal ini perkembangan

media yang digunakan untuk membantu dan mempermudah proses

belajar mengajar di SMP Kartika V-9 Malang. Hal ini menyangkut

penggunaaan media pembelajaran dalam pendidikan Islam terhadap

motivasi belajar siswa di lembaga pendidikan tersebut. (Hasil wawancara

dengan Kepsek Yuyun Perbawati pada tanggal 20 April 2006 di SMP

Kartika V-9)
                                                                       49




1. Sejarah Singkat SMP Kartika V-9

         SMP Kartika V-9 ini adalah institusi pendidikan yang bernaung

di bawah Yayasan Kartika Jaya yang didirikan dan diasuh oleh

Koordinator Xl DIM 0833 Cabang IV Daerah V Brawijaya Malang yang

telah berbadan hukum SK Diknas No 24760/104/K.97 29-1-197 Tahun

1981 (Hasil dokumentasi dan wawancara dengan Kepala Sekolah Yuyun

Perbawati pada tanggal 20 April 2006 di SMP Kartika V-9).

         Kalau dipelajari lagi sejarah berdirinya SMP Kartika V-9 sama

persis dengan berdirinya SD Kartika dan SMK Kartika, ketiga lembaga

pendidikan ini memang sejalan dalam proses berdirnya sampai pada

perkembangannya sekarang. Status lembaga pendidikan ini adalah diakui

oleh pemerintah dan berada dilingkungan kompleks pemukiman atau

asrama anggota TNI AD di KODIM Malang. Fenomena ini berpengaruh

besar terhadap moralita anak didik yang senantiasa menjadi dambaan

orang tua, bangsa, negara dan agama. (Hasil wawancara dengan Kepala

Sekolah Yuyun Perbawati pada tanggal 20 April 2006).

         Dalam era transformasi global penggunaan media pembelajaran

pendidikan adalah sebuah keharusan dan tuntutan, karena setinggi

apapun    pengetahuan   seseorang    apabila   tidak   diimbangi   dengan

penguasaan teknologi dan informasi, maka tidak bermanfaat dan

berharga, namun juga tidak terlepas dari norma-norma yang berlaku
                                                                    50




dimasyarakat dan agama. SMP Kartika V-9 dibantu dan di didik oleh para

tenaga pengajar yang memiliki pengetahuan yang berlatar belakang

pendidikan S1 yang diharapkan mampu mencetak generasi-generasi

penerus bangsa yang berkualitas serta berbudi pekerti luhur. Komitmen

SMP Kartika V-9 kedepan diharapkan benar-benar menjadi sebuah

lembaga pendidikan yang unggul dalam berbagai bidang. Adapun denah

lokasi dapat dilihat pada lampiran.5 (Hasil wawancara dengan Kepsek

Yuyun Perbawati pada tanggal 20 April 2006 di SMP Kartika v-9).



2. Struktur Organisasi SMP Kartika V-9

      Dalam suatu lembaga pendidikan apabila tidak ada organisasi

yang terbentuk dalam sebuah sistem maka segala pekerjaan tidak dapat

berjalan dengan teratur, rapi dan lancar. Maka sangat dipandang perlu

adanya suatu stuktur organisasi.

      Dalam sebuah organisasi, baik organisasi kemasyarakatan maupun

organisasi dalam lembaga pendidikan atau sekolah perlu adanya

penataan struktur untuk mempermudah membagi tugas dalam suatu

organisasi, demikian pula sekolah. Struktur organisasi ini terbentuk

berdasarkan hasil musyawarah antara dewan yayasan dan pihak sekolah

yang diadakan pada tanggal 21 Juni 2003. Adapun struktur organisasi di

SMP Kartika V-9 dapat dilihat pada lampiran 6 (Hasil dokumentasi dan
                                                                    51




wawancara dengan Kepsek Dra Yuyun Perbawati pada tanggal 20 April

2006)..



3. Visi dan Misi SMP Kartika V-9

          Visi SMP Kartika V-9 yaitu" Membangun masyarakat sekolah

yang berilmu, beriman, disiplin, dan bertaqwa." Sedangkan Misi dari

SMP Kartika V-9 adalah "Meningkatkan sumber daya manusia dan

memberdayakan semua komponen". (Hasil dokumentasi dan wawancara

dengan Kepala Sekolah Yuyun Perbawati pada tanggal 21 April 2006 di

SMP Kartika V-9)



4. Keadaan Guru/Tenaga Pengajar dan Tenaga Non Pengajar SMP

Kartika V-9

          Data tentang keadaan tenaga pengajar dan non pengajar di SMP

Kartika V-9 Malang sebagian besar tenaga pengajarnya berlatar belakang

pendidikan S1      yang sesuai dengan bidangnya sehingga diharapkan

mampu mencetak lulusan yang bisa diandalkan dan mampu bersaing.

(Data dokumentasi SMP Kartika V-9 Malang tahun ajaran 2003/2004) lihat

lampiran 7
                                                                     52




5. Keadaan Siswa SMP Kartika V-9

      Dari data tabel yang terdapat pada lampiran dapat disimpulkan

bahwa jumlah siswa pada tahun ajaran 2005/2006 adalah 674 siswa terdiri

dari : Kelas I sebanyak 259 siswa, yakni siswa laki-laki 108 dan siswa

perempuan 151. Kelas II 254 siswa, yakni siswa laki-laki 121 dan siswa

perempuan 125 siswa. Kelas III 161 siswa, yakni siswa laki-laki 82 dan

Siswa perempuan 79. Pada tahun ajaran 2004/2005 siswa SMP Kartika V-9

berjumlah 653 siswa sedangkan pada tahun ajaran 2005/2006 674 siswa

dan ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan jumlah siswa dari tahun

2004-2006. Dan khusus kelas II masuk siang dikarenakan ruangan kelas

belum bias menampung semua siswa untuk masuk pagi, dapat pada

lampiran 8 (Data dokumentasi SMP Kartika V-9 Malang tahun ajaran

2005/2006)



6. Sarana dan Prasarana Pendidikan SMP Kartika V-9

      Sarana dan prasarana pendidikan di SMP Kartika V-9 Malang

merupakan salah satu sistem pendidikan yang turut mempengaruhi

berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan. Keberadaan fasilitas

suatu sekolah mencerminkan kemajuan sekolah tersebut.

Data tentang keadaan sarana dan prasarana di SMP Kaartika V-9

sebagaimana tampak pada tabel IV-V yang tercantum pada lampiran.9
                                                                      53




dan 10 (Data dokumentasi SMP Kartika V-9 Malang tahun ajaran

2005/2006)



B. Analisis Data

       Sebelum sampai pada proses analisis data maka perlu adanya

penyajian data. Penyajian data yang dimaksudkan untuk memapaparkan

atau menyajikan data yang diperoleh penulis dari hasil penelitian

kemudian dianalisis untuk memperoleh gambaran yang jelas dengan

tujuan peulisan skripsi ini.

       Sedangkan data dibawah ini adalah data yang diperoleh dari hasil

angket kepada responden (siswa) yang didukung oleh data pendukung

berupa hasil wawancara, observasi dan dokmentasi

       Berdasarkan hasil interview dengan beberapa guru agama

khususnya pendidikan agama Islam di SMP Kartika V-9 Malang pada

tanggal 22 April 2006 yang mengacu pada rumusan masalah dapat

diperoleh data berikut ini :

   1. Penggunaan media dalam PBM Pendidikan Agama Islam :

              Berdasarkan hasil interview dengan guru PAI dapat

       diungkapkan      bahwa   tidak   semua   penggunaan        media

       pembelajaran digunakan pada semua materi. Akan tetapi yang

       menggunakan media hanya pada materi/bab pembahasan tentang

       Fiqih, baca tulis Alqur'an dan Hadits. Misalnya pada materi fiqih
                                                                    54




   yang menerangkan tentang jenazah. Dalam bab ini terdapat

   bagaimana    cara   memandikan,    mengkafani   jenazah.   Untuk

   mempraktekannya diperlukan media yang dapat menerangkan hal

   tersebut, maka media pembelajaran yang digunakan adalah boneka

   yang dapat dimandikan dan dikafani. Sedangkan pada materi baca

   tulis Alqur'an dan Hadits menggunakan Alqur'an serta buku

   panduan baca tulis Alqur'an Qiroati/Iqro.(Hasil diambil dari

   wawancara dengan Bapak Samsul Hidayat dan Bapak M. Hadi

   Sucipto, pada tanggal 22 April 2006 di SMP Kartika V-9 Malang)

2. Jenis media yang digunakan oleh guru PAI

         Hasil dari wawancara dengan guru PAI berupa bagan-bagan

   sebagai media sehingga guru dapat mempercepat pemahaman

   siswa dan juga media gambar serta buku paket, buku panduan

   baca tulis Alqur'an, LKS. (Hasil dari wawancara dengan Bapak

   Samsul Hidayat dan Bapak M. Hadi Sucipto, pada tanggal 22 April

   2006, di SMP kartika V-9)

3. Kriteria Penggunaan Media

         Menurut pendapat guru PAI kriteria media pembelajaran

   yang digunakan harus disesuaikan dengan materi, tujuan, metode,

   karakteristik siswa dikelas, biaya pengadaaan media yang

   disesuaikan dengan dana intern sekolah hal ini dimaksudkan agar

   penggunaan media pembelajaran tidak melenceng dari materi,
                                                                    55




  tujuan, metode, karakteristik siswa sehingga pemahaman siswa

  dengan penggunaan media pempelajaran dapat lebih mudah

  dicapai. (Hasil dari wawancara dengan Bapak Samsul Hidayat dan

  Bapak M. Hadi Sucipto, pada tanggal 22 April 2006 di SMP Kartika

  V-9)

4. Pengaruh penggunaan media pembelajaran terhadap motivasi

  belajar siswa

         Berdasarkan tatap muka peneliti dengan guru PAI di SMP

  Kartika V-9 malang bahawa pengaruh penggunaan media

  sangatlah besar dengan motivasi karena seperti fungsinya media

  adalah sarana atau alat bantu guru dalam PBM khususnya materi

  PAI, untuk menyampaikan pesan dari pendidik kepada yang di

  didik agar mengerti dan paham maka di gunakanlah media

  tersebut, akan tetapi media haruslah dapat menarik perhataian

  siswa sehingga siswa termotivasi untuk mengetahui dan belajar.

  (Hasil dari wawancara dengan Bapak Samsul Hidayat dan Bapak

  M. Hadi Sucipto, pada tanggal 22 April 2006 di SMP Kartika V-9)
                                                                         56




      Angket yang masuk diproses dan ditabelkan serta diberi skor,

sehingga   memudahkan      dalam      penghitungan      dan   membacanya.

Pemberian skor ini dalam setiap itemnya ditentukan sebagai berikut :

             A skornya 4

             B skornya 3

             C skornya 2

             D skornya 1

      Untuk angket bagi responden informan (siswa akan disajikan

dalam bentuk tabel, tidak di skor dan hanya diprosentasi saja, karena

hasilnya dapat disajikan pada tabel sebagai berikut :

                     TABEL VI
    PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN OLEH GURU PAI

 NO ITEM        ALTERNATIF JAWABAN                N           F         %
    1         Selalu                              68          31        45
              Kadang-kadang                                   22        35
              Tidak pernah                                     5         7
              Tidak tahu                                       9        13
                 JUMLAH                           68          68       100


      Dari jawaban responden yang terdapat pada tabel penggunaan

media pembelajaran oleh guru PAI pada setiap PBM menunjukkan bahwa

31 siswa (45%) menjawab selalu, 22 siswa (35%) menjawab kadang-

kadang, 5 siswa (7%) menjawab tidak pernah, 9 siswa (13%) menjawab

tidak tahu. Ini menunjukkan bahwa guru setiap kali mengajar lebih
                                                                        57




banyak menggunakan media pembelajaran dengan hasil jawaban 68

respoden sebesar 31 (45%)

                    TABEL. VII
  PEMAHAMAN MATERI PAI SETELAH PENGGUNAAN MEDIA

   NO ITEM       ALTERNATIF JAWABAN                N         F     %
      2        Sangat paham                        53        30    55
               Kurang faham                                  15    29
               Tidak faham                                    7    13
               Tidak tahu                                     1     3
                  JUMLAH                           53        53   100

      Dari tabel diatas dapat dilihat tingkat pemahaman siswa setelah

guru memberikan materi PAI dibantu dengan menggunakan media

pembelajaran menunjukkan bahwa 30 siswa (55%) menjawab sangat

paham, 15 siswa (29%) menjawab kurang paham, 7siswa (13%) menjawab

tidak paham, 1 siswa (3%) menjawab tidak tahu. Ini menunjukkan bahwa

tingkat pemahaman siswa terhadap materi PAI yang menggunakan media

pembelajaran cukup tinggi dengan hasil jawaban dari 53 responden

(siswa) menjawab sangat paham sebesar 55% dari 30 siswa.

                           TABEL VIII
          JENIS MEDIA YANG DIPAKAI OLEH GURU PAI

   NO ITEM      ALTERNATIF JAWABAN            N         F          %
      3        Model/Barang tiruan            53        26         49
               Gambar peraga                            15         29
               Buku paket                               10         19
               Tidak tahu                                1          3
                 JUMLAH                       53        53        100
                                                                       58




      Dari tabel diatas dapat menunjukkan jenis media pembelajaran

yang digunakan pada materi PAI 53 responden menjawab model/barang

tiruan sebanyak 26 siswa (49%), gambar peraga 15 siswa (28%), buku

paket 10 siswa (19%), dan 1 siswa (5%) menjawab tidak tahu.


                     TABEL IX
   KESULITAN MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PAI

   NO ITEM       ALTERNATIF JAWABAN              N        F       %
      4        Tidak pernah                      53       31      57
               Kadang-kadang                              14      28
               Selalu                                      5       9
               Tidak tahu                                  3       6
                  JUMLAH                         53       53     100


      Tabel diatas memperlihatkan tingkat kesulitan siswa dalam

penggunaan media pembelajaran pada materi PAI 53 siswa (responden)

menjawab    tidak   pernah   kesulitan   dalam   menggunakan     media

pembelajaran sebesar 31 siswa (57%), 14 siswa (28%) kadang mengalami

kesulitan, 5 siswa (9%) selalu ksulitan dalam menggunakan media

pembelajaran, sisanya 3 siswa(6%) menjawab tidak tahu. Hal ini

menunjukkan tingkat kesulitan siswa dalam menggunakan media

pembelajaran cukup kecil dengan bukti hasil 31 siswa (57%) menjawab

tidak mengalami kesulitan dalam penggunaan media pembelajaran.
                                                                      59




                        TABEL. X
     NILAI MATERI PELAJARAN AGAMA SETELAH ADANYA
                   PENGGUNAAN MEDIA

   NO ITEM     ALTERNATIF JAWABAN               N     F          %
      5       Naik                              53    30         55
              Tetap                                   12         28
              Naik-Turun                               7         11
              Turun                                    4          6
                JUMLAH                          53    53        100

      Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa nilai materi PAI siswa

setelah adanya penggunaan media pembelajaran di SMP Kartika V-9

Malang naik, ini di buktikan dengan 30 siswa (55%) menjawab naik, 15

siswa (28%) menjawab tetap, 15 siswa(11%) menjawab naik – turun, dan

hanya 4 siswa (6%) saja. Hal ini membuktikan penggunaan media

pembelajaran memberikan pengaruh besar pada siswa.


                     TABEL XI
 PENGGUNAAN MEDIA MEMBERIKAN SEMANGAT(MOTIVASI)
                  BELAJAR SISWA


NO ITEM      ALTERNATIF JAWABAN            N         F           %
    6        Ya                            53        25          49
             Kadang-kadang                           20          36
             Tidak semangat                           5           9
             Tidak tahu                               3           6
               JUMLAH                      53        45         100


      Dari tabel diatas menunujukkan bahwa penggunaan media

pembelajaran dapat memberikan motivasi/semangat       belajar    siswa,

karena 25 siswa (49%) menjawab ya, 20 siswa (36%) menjawab kadang-

kadang, 5 siswa (9%) menjawab tidak semangat, dan 3 siswa (6%)
                                                                             60




menjawab tidak tahu. Dengan demikian pengaruh penggunaan media

pembelajaran dapat memberikan semangat belajar kepada siswa di SMP

Kartika V-9 Malang.

                    TABEL XII
      KESENANGAN SISWA TERHADAP GURU YANG
   MENGGUNAKAN MEDIA DALAM PENYAMPAIAN MATERI

   NO ITEM       ALTERNATIF JAWABAN              N        F             %
      7        Menggunakan media                 45       29            53
               Tanpa menggunakan media                    10            22
               Tidak suka keduanya                         3            19
               Tidak tahu                                  2             6
                  JUMLAH                         45       45           100


      Dari   tabel    diatas   menunjukkan   siswa    senang    jika    guru

menggunakan media pembelajaran dalam mengajar ini dbuktikan dengan

jawaban dari 45 siswa (respoden), 29 siswa (53%) menjawab senang

kepada guru yang menggunakan media, 10 siswa (29%) menjawab lebih

senang kepada guru yang tidak menggunakan media pembelajaran, 3

siswa (19%) menjawab tidak senang keduanya dan hanya 2 siswa (6%)

menjawab tidak tahu.

                         TABEL XIII
        GURU MEMBERIKAN PUJIAN KETIKA MURID BERHASIL
                      MENJAWAB SOAL

   NO ITEM       ALTERNATIF JAWABAN              N             F         %
      8        Selalu                            39            14        40
               Kadang-kadang                                   13        39
               Tidak pernah                                    10        20
               Tidak tahu                                       2         1
                  JUMLAH                         39            39       100
                                                                      61




      Tabel diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan memberikan pujian

yang biasa dilakukan oleh guru kepada siswa yang dapat menjawab soal

yang diberikan dengan benar.    Jawaban dari 39 siswa (responden)

menunjukkan 14 siwa (40%) menjawab selalu diberikan pujian, 13 siswa

(39%) menjawab kadang-kadang, 10 siswa (20%) menjawab tidak pernah,

dan 2 siswa (1%) menjawab tidak tahu. Ini membuktikan bahwa guru

lebih banyak memberikan pujian kepada siswa yang dapat menjawab soal

yang diberikan dengan benar karena 55% siswa menjawab selalu

diberikan pujian.

                    TABEL XIV
YANG DILAKUKAN OLEH SISWA KETIKA SISWA TIDAK DAPAT
                 MENJAWAB SOAL

   NO ITEM       ALTERNATIF JAWABAN             N            F       %
      9         Diberi nasehat                  12           7       58
                Dimarahi                                     2       17
                Dihukum                                      2       17
                Dibiarkan                                    1        8
                   JUMLAH                       12                  100

      Tabel diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan yang biasa

dilakukan oleh guru kepada siswa yang tidak dapat menjawab soal yang

diberikan   dengan   benar.   Jawaban   dari   12    siswa   (responden)

menunjukkan 7 siwa (58%) menjawab selalu diberikan nasehat, 2siswa

(17%) menjawab selalu dimarahi, 2 siswa (17%)          menjawab selalu

dihukum, dan 1 siswa (8%) menjawab di biarkan tanpa ditindak lanjuti

oleh guru yang bersngkutan. Ini membuktikan bahwa guru lebih banyak
                                                                        62




memberikan nasehat kepada siswa yang tidak dapat menjawab soal yang

diberikan dengan benar karena 58% siswa menjawab selalu diberikan

nasehat.

                     TABEL. XV
KEIKUTSERTAAN MURID MENGIKUTI KEGIATAN KEAGAMAAN
                    DI SEKOLAH

    NO ITEM         ALTERNATIF JAWABAN           N        F        %
      10            Selalu                       68       49       67
                    Kadang-kadang                         12       26
                    Tidak pernah                           5        7
                    Tidak tahu                             1        3
                     JUMLAH                      68       68      100

      Dari jawaban responden yang terdapat pada tabel keikutsertaan

siswa dalam kegiatan keagamaan di sekolah         bahwa49 siswa (67%)

menjawab selalu, 12 siswa 26%) menjawab kadang-kadang, 5 siswa (7%)

menjawab tidak pernah, 9 siswa (13%) menjawab tidak tahu. Ini

menunjukkan     bahwa   guru   setiap   kali   mengajar   lebih    banyak

menggunakan media pembelajaran dengan hasil jawaban 68 respoden

sebesar 49 (67%).

      Sedangkan untuk angket responden yang diambil dari siswa

disajikan dalam bentuk tabel dan diberi skor, sehingga dalam tabel nanti

terlihat hasil skor jawaban responden, seperti yang dapat dilihat di

lampiran 3
                                                                         63




       Untuk mengetahui besar mean dan hasil pengumpulan data diatas

adalah dengan rumus :

                    JumlahNilai
       Mean =
                 Jumlah Re sponden

                2106
       Mean =        = 30.97
                 68



       Dari rumus diatas dapat disimpulkan bahwa siswa yang mendapat

nilai 30.97 kebawah dinyatakan rendah (negatif) mendapat pengaruh dari

penggunaan media pembelajaran terhadap motivasi belajar sebaliknya

yang   mendapat     nilai   diatas   nilai   tersebut   mendapat   pengaruh

sebagaimana yang akan dipaparkan dalam tabel berikut :



                                               Kategori Pengaruh
                No Resp     Nilai Skor       TINGGI       RENDAH
                   1            36              
                   2            35              
                   3            36              
                   4            34              
                   5            33              
                   6            32              
                   7            26                            
                   8            32              
                   9            30              
                  10            31              
                  11            34              
                  12            27                            
                  13            37              
                  14            31              
                  15            32              
                  16            32              
                  17            34              
                  64




18   31   
19   30   
20   31   
21   34   
22   31   
23   37   
24   37   
25   24       
26   26       
27   37   
28   35   
29   31   
30   30   
31   31   
32   38   
33   31   
34   35   
35   35   
36   31   
37   33   
38   30   
39   33   
40   28       
41   30   
42   34   
43   31   
44   35   
45   30   
46   37   
47   34   
48   34   
49   35   
50   32   
51   30   
52   31   
53   39   
54   29       
55   24       
56   32   
57   28       
58   35   
59   34   
                                                                          65




                   60            30              
                   61            33              
                   62            37              
                   63            30              
                   64            34              
                   65            34              
                   66            30              
                   67            33              
                   68            34              




      Dari tabel diatas dapat disimpulkan :

                                                      Kategori
              Responden
                                             Tinggi              rendah
      S68 Siswa SMP Kartika V-9                60                   8



      Setelah dikemukakan data hasil penelitian, maka data tersebut

akan dianalisis untuk mengetahui permasalahan yang akan diajukan,

yakni apakah penggunaan media pembelajaran              di SMP Kartika V-9

malang mempunyai pengaruh dan bagaimana pengaruh tersebut

terhadap motivasi belajar siswanya.

      Adapun hasil dari analisa dalam pembahasan ini menggunakan

metode   statistik,     untuk   mengetahui    apakah penggunaaan      media

pembelajaran mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar digunakan

rumus chi kwadrat, sedangkan untuk mengetahui bagaimana pengaruh

penggunaan media pembelajaran dianalisi dengan rumus Koefisien

Kontigensi (KK).
                                                                    66




          Hasil KK ini digunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya

pengaruh penggunaaan media pembelajaran. Setelah diketahui hasil KK

maka hasil tersebut intepretsikan:

                                  TABEL XVII
                            INTERVAL KEPERCAYAAN
                        df atau db         Kepercayaan 1%
                             1                 0,0002
                             2                 0,0201
                             3                  0,115
                             4                  0,297
                             5                  0,554




          Dalam menjawab hipotesa yang ada maka langkah selanjutnya

adalah memasukkan data yang berada dalam tabel diatas kedalam tabel

kerja. Kemudian ditentukan terlebih dahulu frekuensi yang diharapkan

(fh). Dasar yang digunakan adalah kita mengharapkan frekuensi dari

pengaruh penggnaan media pembelajaran yang terbagi rata yaitu 50%

lawan 50% , maka (fh) yang diharapkan adalah 34 dari jumlah responden

yaitu 68 selanjutnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :



             Kategori        Fo       Fh            Fo - Fh
              Tinggi         60       34               26
             Rendah           8       34              -26
             Jumlah          68       68                0




          Dari tabel diatas kemudian dimasukkan pada rumus Chi Kwadrat

yaitu :
                                                                 67




                    ( fo1  fh ) 2 ( fo2  f 2 ) 2
                X  2         1
                                  
                          fh1           fh2

                          (60  34 )             (8  34 )
                                           2                 2
                X   2
                                              
                             34                     34

                            ( 26)   ( 26)
                                 
                             34       34

                             674   674
                                
                             34    34

                            1352
                                = 39.76
                             34




      Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan media

terhadap motivasi belajar siswa maka nilai Chi Kwadrat yang sudah

diperoleh dimasukkan kedalam rumus KK yaitu :




      KK           X2
                  X 2 N


                   39 .76
            
                39 .76  68

                 39.76
                      = 0.607
                107.76
                                                                      68




          Dari perhitungan diatas maka diperoleh hasil KK= 0.607 , hasil

tersebut dalam table kepercayaan menunjukkan hasil hitung KK lebih

besar daripada tabel (lihat tabel kepercayaan)



Uji Signifikan

          Setelah data yang terkumpul dihitung dan diketahui nilai   X2

dan nilai KK, maka tahap berikutnya adalah peneliti melakukan uji

signifikansi. Uji signifikansi ini dapat dilakukan dengan tiga langkah,

yaitu :

   1. Mencari darajat kebebasan

          Drajat kebebasan dapat dicari dengan menggunakan rumus :

          df = (b-1) (k-1)

          Keterangan : df = drajat kebebasan

                         b = jumlah baris

                         k = jumlah kolom

                   jadi df = ( 2 - 1) . ( 2 – 1)

                             = ( 1) . ( 1 )

                             =1x1

                             =1
                                                                   69




2. Menentukan Harga Kritik

  Harga kritik   X 2 pada d f = 1 dan taraf signifikansi 1% -5% adalah

  6.63-3.84 (lihat tabel signifikansi) sedangkan harga    X 2 hitung

  adalah 39.76

3. Keputusan

   X 2 hitung > X 2 tabel yaitu 6.63< 39.76 > 3.84 hal ini berarti

  hipotesis nol (Ho) tidak diterima sedangkan hipotesis (Ha)

  diterima.

        Dari nilai keputusan diatas dapat diketahui hasil dari

  penelitian yang telah dilakukan adalah penolakan terhadap

  hipotesis (Ho), yakni tidak adanya pengaruh penggunaan media

  pembelajaran dalam proses penyampaian pendidikan Islam

  terhadap motivasi belajar siswa karena dalam penelitian ini

  terbukti bahwa adanya pengaruh penggunaan media pembelajaran

  dalam proses penyampaian pendidikan Islam terhadap motivasi

  belajar siswa di SMP Kartika V-9 Malang.

        Sungguhpun penggunaaan media pembelajaran diharapkan

  untuk selalu digunakan di waktu guru sedang melakukan kegiatan

  pembelajaran agar siswa      lebih kreatif dalam menerima materi

  yang diberikan oleh guru.
                                                                    70




                                     BAB IV

                                  KESIMPULAN



A. Kesimpulan

    Menarik kesimpulan adalah kegiatan akhir dari proses penelitian.

Berdasarkan pembahasan deskriptif dan hasil analisa yang penulis

uraikan pada bab-bab sebelumnya dengan disertai berbagai metode dan

teknik yang ada, maka dapat disimpulkan :

         1. Berdasarkan hasil interview dengan guru PAI dapat

            diungkapkan bahwa tidak semua penggunaan            media

            pembelajaran digunakan pada semua materi. Akan tetapi

            yang   menggunakan     media    hanya   pada   materi/bab

            pembahasan tentang Fiqih, baca tulis Alqur'an dan Hadits.

            Misalnya pada materi fiqih yang menerangkan tentang

            jenazah. berupa bagan-bagan sebagai media sehingga guru

            dapat mempercepat pemahaman siswa dan juga media

            gambar serta buku paket, buku panduan baca tulis Alqur'an,

            LKS.
                                                             71




2. Guru   agama    di    SMP    Kartika   V-9   Malang    dalam

   menggunakan media pembelajaran khususnya materi PAI

   sangat memperhatikan kriteria penggunaan media. Hal ini

   berdasarkan hasil dari wawancara dan menyebarkan angket

   hasilnya adalah      guru   agama dalam      memilih   media

   pembelajaran PAI yang digunakan selalu menyesuaikan

   media pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, materi,

   serta metode pembelajaran.

3. Motivasi belajar di SMP Kartika V-9 Malang dari satu kelas

   sampai kelas lainnya ternyata berbeda-beda ini di akibatkan

   oleh karakteristik siswa yang berbeda antara siswa yang satu

   dengan yang lainnya. Dan ini adalah salah satu factor bagi

   seorang guru agar lebih memotivasi siswanya untuk belajar,

   khususnya pendidikan agama Islam.

4. Dari hasil nilai perhitungan Chi Kwadrat dan Koefisien

   Kontigensi keputusan dapat diketahui hasil dari penelitian

   yang telah dilakukan adalah penolakan terhadap hipotesis

   (Ho), yakni tidak adanya pengaruh penggunaan media

   pembelajaran dalam proses penyampaian pendidikan Islam

   terhadap motivasi belajar siswa karena dalam penelitian ini

   terbukti bahwa adanya pengaruh penggunaan media

   pembelajaran dalam proses penyampaian pendidikan Islam
                                                                          72




                terhadap motivasi belajar siswa di SMP Kartika V-9 Malang,

                dan   juga   menunjukkan     bahwa     tingkat    pengaruh

                penggunaan media pembelajaran terhadap motivasi belajar

                siswa masuk dalam kategori (cukup) artinya bisa dikatakan

                tinggi/cukup besar pengaruhnya.



B. Saran - saran

     1. Sekolah :

                Keberadaan    media    pembelajaran    yang      ada   perlu

      diperhatikan mulai dari pengadaan perlengkapan, perawatan dan

      pemanfaatan.      Menambah      perlengkapan    media   pembelajaran

      memang sangat penting, tetapi harus disertai koordinasi dan

      pengelolaan dengan baik karena akan menunjang keberhasilan

      belajar     mengajar. Sebuah    media pembelajaran yang          dapat

      digunakan harus sesuai dengan kebutuhan dan harus langsung

      menunjang belajar siswa. Sebenarnya media pembelajaran tidak

      hanya menuntut kelengkapan tetapi dari segi pemanfaatannya juga

      harus diperhatikan.

            Kelengkapan media pembelajaran tidak ada artinya jika tidak

      berfungsi dan terselenggara secara baik, efektif dan efisien. Sealain

      itu tidak kalah pentingnya adalah kebijakan kepala sekolah berupa

      kedisplinan dan penggunaan waktu sebaik mungkin.
                                                                    73




2. Guru :

        Walaupun jenis media pembelajaran PAI yang tersedia kurang

   memenuhi kebutuhan siswa, akan tetapi penggunaannya masih

   kurang efektif, oleh karena itu hendaknya guru menggunakan

   sarana dan prasarana yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

        Akan lebih baik jika guru agama mempersiapkan sendiri

   media pembelajaran sebelum PBM, mengingat betapa pentingnya

   media pembelajaran hal ini bertujuan agar guru lebih bervariasi

   dalam mendidik dan mengajar sehingga siswa tidak merasakan

   kejenuhan dalam belajar dan mempunyai motivasi belajar yang

   tinggi dalam belajar.
                                                                                      74




                                 DAFTAR PUSTAKA



Arif Sadiman, dkk, Media Pengajaran: Pengertian, Pengembangan, dan

     Pemanfaatannya, Ed. I. Cet. III, PT Raja Garfindo Persada, Jakarta,1993

Arif Sadiman, dkk, Media Pengajaran: Pengertian, Pengembangan, dan

     Pemanfaatannya, Ed. I. Cet. III, PT Raja Garfindo Persada, Jakarta,2003

Arif Sukadi. S. S, Radikun, Pengembangan Sumber Belajar, PT. Mediatama Sarana

     Perkasa, Jakarta, 1988

Amir Dien Indra Kusuma, Pengantar Ilm Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1973.

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Cet. IV, Penerbit PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,

     2003.

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, Cet. IV, Penerbit PT Raja Grafindo Persada, 1997.

Ahmad Rohani, Media Intuksional Edukatif, Cet. I, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1997

Asnawir, M Basyirudin Usman, Media Pembelajaran, Ciputat Perss, 2002.

Departemen Agama Republik Indonesia, Alqur'an dan Terjemahnya, Surya Cipta Sarana,

     Surabaya, 1995

Humaidi Tata Pangarsa, Metode Pendidikan Agama Islam, Lembaga Penerbitan

     Almamater YPTP IKIP Malang, Malang, 1974.

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, PT Remaja Rosdakarya.

     Bandung 2002

Heinz Kcok, Saya Guru Yang Baik, Kanisius, Yogyakarta,1991

Mahfud Shalahudin, Media Pendidikan Agama, PT Bina Ilmu, Surabaya, 1986

Muahaimin, Drs. MA. Drs. H. Abd. Ghofir. Drs. Nur Ali Rahman, M.Pd. Strategi

     Belajar(Penerapan Dalam Pembelajaran Pendidikan Islam) CV. Citra Media,

     Surabaya, 1996.

M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1992
                                                                                   75




Nana Sudajana, Ahmad Rivai, Media Pengajaran Penggunaan dan Pembuatannya, CV.

     Sinar Baru, Bandung, 1990.

Oemar Hamalik, Media Pendidikan, Cet VII, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1994.

Oemar Hamalik, Media Pendidikan,CV Alumni, Bandung, 1976.

S. Nasution, Diktatik Asas-asas Mengajar, Jemmars, Bandung, 1986

Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar, CV. Rajawali Pers, Jakarta, 1990.

Sutrisno Hadi, Metologi Reseach I, Andi Offset, Yogyakarta, 1989

Sutrisno Hadi, Metologi Reseach II, Andi Offset, Yogyakarta, 1986

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Rineka Cipta,

     Jakarta, 1993

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Rineka Cipta,

     Jakarta, 2002.

Tadjab MA. Ilmu Jiwa Pendidikan, Karya Abditama, Surabaya, 1994

Tabrani Rusyan, dkk, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, CV. Remaja

     Rosdakarya, Bandung, 1989

Zakiyah Drajat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1992

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/23/2013
language:Unknown
pages:75
Sita Trijata Sita Trijata
About