Docstoc

skripsi pendidikan MODEL PEMBELAJARAN SOROGAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SANTRI DI PONDOK PESANTREN DARUSSALAM SUMBERSARI PARE KEDIRI

Document Sample
skripsi pendidikan MODEL PEMBELAJARAN SOROGAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SANTRI DI PONDOK PESANTREN DARUSSALAM SUMBERSARI PARE KEDIRI Powered By Docstoc
					     MODEL PEMBELAJARAN SOROGAN DALAM
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SANTRI DI PONDOK
 PESANTREN DARUSSALAM SUMBERSARI PARE KEDIRI




                      SKRIPSI


                        Oleh :
                    ISTIQOMAH
                      02110003




            JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
            FAKULTAS TARBIYAH
      UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
                    September, 2006
                                                                                       2




                                        BAB I

                                 PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang

            Islam sangat menjunjung tinggi nilai pendidikan. Hal ini berarti bahwa

     manusia pada dasarnya adalah makhluk yang dapat didik dan harus didik. Hal

     ini merupakan hak yang paling fundamental dari profil dan gambaran tentang

     manusia.

             Dengan adanya pendidikan, keberadaan manusia sebagai kholifah

     Allah diberi tanggung jawab untuk memelihara alam beserta isinya. Ini dapat

     dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Allah.

             Di dalam UUSPN Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional No.

     20 tahun 2003 dinyatakan sebagai berikut:

             Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan

     dan membentuk watak suatu peradapan bangsa yang bermartabat dalam

     rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya

     potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa

     kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif,

     mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tangung jawab1.

             Untuk membawa masyarakat terutama generasi muda agar mampu

     berperan sebagaimana diharapkan, maka diperlukan wadah berlangsungnya

     proses pendidikan, yang mana proses pendidikan berlangsung             bersamaan

        1
          Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm.7


                                           1
                                                                                            3




    dengan proses pembudayan. Seorang dalam melalui proses kehidupannya

    dalam keluarga, ia melangsungkan perkembangan melalui bantuan orang lain,

    baik orang tua maupun pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar anak mendapat

    pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan berbuat sesuai dengan norma dan

    nilai budaya yang berlaku. Pengetahuan yang didapat lebih banyak diperoleh

    dari lembaga pendidikan yang membina anak menjadi manusia yang

    berkualitas atau mempunyai mutu pendidikan tinggi.

             Untuk itu penerapan pendidikan hendaknya dilaksanakan oleh sebuah

    wadah yang mendukung atas belajar mereka dengan situasi yang kondusif dan

    sarana yang memadai serta iklim belajar yang baik pula.

             Pondok pesantren merupakan lembaga Islam tradisional yang tertua di

    Indonesia dan merupakan lembaga pendidikan Islam yang diterapkan umat

    Islam di Indonesia. Sebagai suatu lembaga pendidikan Islam, pesantren dari

    sudut historis cultural dapat dikatakan sebagai ‘training center’ yang otomatis

    menjadi ‘cultural center’ Islam yang diusahakan atau dilembagakan oleh

    masyarakat, setidak-tidaknya oleh masyarakat Islam sendiri yang secara

    defakto tidak dapat diabaikan oleh pemerintah2

             Kehadiran pesantren ditengah- tengah masyarakat tidak hanya sebagai

    lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga penyiaran agama dan sosial

    keagamaan. Dengan sifat yang lentur (flekxibel). Sejak awal kehadirannya,

    pesantren ternyata mampu mengadaptasikan diri dengan serta memenuhi

    tuntutan masyarakat.

        2
          Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1996),hlm.40
                                                                          4




        Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara selektif bertujuan

menjadikan para santrinya sebagai manusia yang mandiri yang diharapkan

dapat menjadi pemimpin umat dalam menuju keridhoan Tuhan. Oleh karena

itu pesantren bertugas untuk mencetak manusia yang benar-benar ahli dalam

bidang agama dan lmu pengetahuan masyarakat serta berahlak mulia. Untuk

mencapai tujuan itu maka pesantren mengajarkan kitab-kitab wajib (Kutubul

Muqarrarah) sebagai buku teks yang dikenal dengan sebutan kitab kuning.

Untuk mempelajari kitab kuning ini digunakan sistem metode pembelajaran

tertentu.

        Metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang memegang

peranan penting dalam rangka keberhasilan program pengajaran dipesantren.

Karena tanpa adanya metode sistem pembelajaran yang baik maka kegiatan

pembelajaran dipesantren pun tidak akan berhasil. Untuk itulah maka sistem

pembelajaran dipesantren harus dipilih cara yang terbaik dan cocok untuk

santri. Hal ini disebabkan banyak santri yang prestasinya buruk disebabkan

karena metode yang digunakan kurang begitu baik.

        Atas dasar kenyataan tersebut diatas, maka penulis mencoba

menuangkan tugas penulisan dalam judul “Metode Pembelajaran Sorogan

dalam meningkatkan prestasi belajar santri di Pondok Pesantren Darussalam

Pare Kediri.
                                                                                  5




B.       Rumusan Masalah

             Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka penulis

     dapat membuat rumusan masalah yang menjadi pokok bahasan dalam kajian

     skripsi ini.

     Adapun rumusan masalah yang penulis buat adalah sebagai berikut:

     1. Bagaimana model pembelajaran dalam Pondok Pesantren Darussalam Pare

         kediri?

     2. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran sorogan di Pondok Pesantren

         Darussalam Pare Kediri?

     3. Bagaimana manfaat metode pembelajaran sorogan dalam meningkatkan

         prestasi belajar santri di Pondok Pesantren “Darussalam” Pare Kediri?



C. Tujuan Penelitian

     Adapun tujuan yang ingin penulis capai dalam penulisan skripsi ini adalah:

     1. Untuk mengetahui bagaimana model pembelajaran di Pondok Pesantren

         “Darussalam” Pare Kediri

     2. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran sorogan di

         Pondok Pesantren “Darussalam” Pare Kediri

     3. Untuk mengetahui manfaat metode pembelajaran sorogan dalam

         meningkatkan prestasi belajar santri di Pondok Pesantren “Darussalam”

         Pare Kediri
                                                                                6




D. Manfaat Penelitian

   Adapun harapan dari penulis semoga dari penelitian ini dapat berguna bagi.

   1. Bagi Pondok Pesantren, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai

      bahan masukan yang berharga dalam meningkatkan pestasi belajar para

      santrinya

   2. Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan

      pengetahuan dan pengalaman dalam menyusun karya tulis serta dapat

      digunakan sebagai persyaratan sebagai persyaratan menjadi sarjana

   3. Hasil penelitian dapat dipakai sebagai bahan perbandingan atau acuan

      untuk pendidikan yang sama dimasa yang akan datang, juga dapat

      digunakan sebagai informasi bagi yang membutuhkan.



E. Ruang Lingkup Pembahasan

          Mengingat adanya keterbatasan pada diri penulis, baik terbatasnya

   waktu, tenaga, maupun biaya maka penulis memfokuskan untuk:

   1. Membahas bagaimana model pembelajaran yang ada Pondok Pesatren

      Darussalam Pare Kediri

   2. Membahas tentang pelaksanaan pembelajaran sorogan di Pondok

      Pesantren Darussalam Pare Kediri

   3. Membahas tentang manfaat metode sorogan dalam meningkatkan prestasi

      belajar santri di Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri
                                                                              7




F. Sistematika Pembahasan

          Pembahasan dalam skripsi ini terdiri dari empat bab, yang untuk setiap

   babnya terdiri dari beberapa sub bab bahasan sebagai berikut :

   BAB I: Pendahuluan yang meliputi beberapa sub bab yaitu latar belakang

            masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

            ruang lingkup pembahasan, metode penelitian, dan sistematika

            pembahasan

   BAB II: Adalah landasan teori yang dalam sub babnya membahas:

            Pengertian Pondok Pesantren, sejarah Pondok Pesantren, tipe-tipe

            Pondok Pesantren, tujuan dan fungsi Pondok Pesantren, Sistem

            pendidikan Pesantren, metode pembelajaran Pondok Pesantren,

            metode penyampaian pengajaran sorogan di Pondok Pesantren,

            manfaat metode sorogan

   BAB III : Metodologi Penelitian yang membahas tentang :

            Rancangan penelitian, populasi dan sample, metode pengumpulan

            data dan analisis data.

   BAB IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan meliputi:

            Latar belakang obyek penelitian, penyajian dan analisis data.

   BAB V Kesimpulan dan Saran
                                                                                              8




                                           BAB II

    A. KAJIAN PUSTAKA


                 A. TINJAUAN TENTANG PESANTREN

      1. Pengertian Pondok Pesantren

                 Para ahli dalam memberikan pengertian tentang pesantren sangat

        berbeda, tergantung darimana ia memandang sebuah pesantren dengan

        segala aplikasinya.

                 Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Hasbullah sebagai

        berikut:

        “Di Indonesia, istilah kutab lebih dikenal dengan istilah “pondok

        pesantren” yaitu suatu lembaga pendidikan Islam, yang di dalamnya

        terdapat seorang Kyai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri

        (anak didik). Dengan sarana masjid yang di gunakan untuk

        menyelenggarakan tersebut. Serta di dukung adanya pondok sebagai

        tempat tinggal para santri. Dengan demikian ciri-ciri pondok pesantren

        adalah adanya kyai, santri, masjid, dan pondok”3

        Sedangkan menurut Zamakhasyari Dhofier, istilah pondok berasal dari

        pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat

        tinggal yang dibuat dari bambu atau barangkali berasal dari kata Arab

        fundug yang berarti hotel atau asrama. Pondok pesantren adalah lembaga

        pendidikan Islam yang di laksanakan dengan sistem asrama (pondok),



        3
          Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2001), hlm.24
                                                                                          9




        dengan Kyai yang mengajarkan agama kepada para santri, dan Masjid

        sebagai pusat lembaganya pondok pesantren, yang cukup banyak

        jumlahnya, sebagian besar berada didaerah pedesaan dan mempunyai

        peranan besar dalam pembinaan umat dan mencerdaskan kehidupan

        bangsa.4



                Istilah pondok pesantren mungkin berasal dari fundug yang bahasa

        arab yang berarti rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi pondok di

        dalam pesantren di Indonesia, khususnya di pulau jawa lebih mirip dengan

        pemondokan dalam lingkungan padepokan perumahan yang sangat

        sederhana yang dipetak-petak dalam kamar-kamar yang merupakan

        asrama bagi santri. Keseluruhan masyarakat tempat para santri itu
                                     7
        bermukim dan menuntut ilmu disebut pesantren.

                Dalam kamus umum bahasa Indonesia, W.J.S Purwodarminto

        mengartikan "pondok sebagai tempat mengaji, belajar agama Islam

        sedangkan pesantren diartikan orang yang menuntut pelajaran Islam".5

                Adapun pengertian lain tentang pesantren adalah lembaga

        pendidikan Islam yang pada umumnya dengan cara non klasikal,

        pengajarnya seorang yang menguasai ilmu agama Islam melalui kitab-

        kitab agama Islam klasik (kitab kuning) dengan tulisan (aksara) Arab

        dalam bahasa Melayu kuno atau dalam bahasa Arab.

        4
          Proyek Pembinaan Bantuan Kepada Pondok Pesantren Dirjen BINBAGA Islam,
Pedoman Penyelenggaraan Unit Ketrampilan PondokPesantren (Departeman Agama,
1982/1983), hlm.1
        5
          Abdurrahman Shaleh, dkk. Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren (Depag RI, 1982),
hlm.7
                                                                     10




       Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam berbeda

dengan pendidikan lainnya baik dari aspek sistem pendidikan maupun

unsur pendidikan yang dimilikinya, untuk itu yang menjadi ciri khas

pondok pesantren yang sekaligus menunjukkan unsur-unsur pokoknya

adalah :

a. Pondok

            Disinilah Kyai dan santrinya bertempat tinggal.Adanya pondok

   sebagai tempat tinggal bersama antara Kyai dan para santri, mereka

   memanfaatkan dalam rangka berkerja sama memenuhi kebutuhan

   hidup sehari-hari, hal ini merupakan pembeda dengan lembaga

   pendidikan lainnya.

b. Masjid

            Masjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar

   mengajar. Masjid merupakan unsur pokok kedua dari pesantren yang

   berfungsi juga sebagai tempat melakukan sholat berjama’ah setiap

   waktu sholat.

c. Santri

            Santri merupakan unsur pokok dari suatu pesantren. Tentang

   santri ini biasanya terdiri dari dua kelompok yaitu :

   1. Santri Mukim ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan

       menetap dalam pondok pesantren.

   2. Santri Kalong ialah santri-santri yang berasal dari daerah-daerah

       sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam
                                                                   11




      pesantren. Mereka pulang ke rumah masing-masing setiap selesai

      mengikuti suatu pelajaran di pesantren.

d. Kyai

          Adanya Kyai dalam pesantren merupakan hal mutlak bagi

   sebuah pesantren, sebab dia adalah tokoh sentral yang memberikan

   pengajaran karena Kyai menjadi salah satu unsur yang paling dominan

   dalam kehidupan suatu pesantren.
                                                                                            12




        e.   Kitab-Kitab Islam Yang Klasik

                     Tingkat suatu pesantren dan pengajarannya biasanya diketahui

             dari jenis kitab yang diajarkan.6

                     Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam dengan

             kyai sebagai tokoh sentralnya dan mesjid sebagai pusat lembaganya.

             Pendidikan yang diberikan di pondok pesantren adalah pendidikan

             agama dan akhlak(mental).

      2. Tipe-Tipe Pondok Pesantren

                 Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami

        perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman, terutama sekali

        adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan

        pesantren bukan berarti sebagai pondok pesantren yang telah hilang

        kekhasannya. Dalam hal ini pondok pesantren tetap merupakan lembaga

        pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat untuk

        masyarakat.

                 Secara garis besar menurut Bahri Ghozali pesantren sekarang ini

        dapat dibedakan menjadi tiga macam:

        1. Pondok Pesantren Tradisional
           Yaitu pondok pesantren yang menyelenggarakan pelajaran gengan
           pendekatan tradisional. Pembelajarannya ilmu-ilmu agama Islam
           dilakukan secara individual atau kelompok dengan kosentrasi dengan
           kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Penjajakan tidak didasarkan pada
           satu waktu, tetapi berdasarkan kitab yang dipelajari.




        6
          Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1996), hlm. 47-50
                                                                              13




2. Pondok Pesantren Modern
   Yaitu pondok pesantren yang menyelenggarakan keiatan pendidikan
   dengan pendekatan modern melalui suatu pendidikan formal, baik
   madrasah ataupun sekolah, tetapi dengan klasikal.
3. Pondok Pesantren Komprehensif
   Yaitu pondok pesantren yang sistem pendidikan dan pengajarannya
   gabungan antara yang tradisioanal dan yang modern. Artinya
   didalamnya ditetapkan pendidikan dan pengajarannya kitab kuning
   dengan metode sorogan, bandongan, wetonan, namun secara regular
   sistem persekolahan terus di kembangkan. 1

          Menurut Kafrawi pondok pesantren dibagi menjadi empat pola

yaitu :

          Pesantren pola I ialah pesantren yang memiliki unit kegiatan dan

elemen berupa Masjid dan rumah kyai. Pesantren ini masih sederhana,

kyai mempergunakan masjid atau rumahnya untuk tempat mengaji,

biasanya santri datang dari daerah sekitarnya, namun pengajian telah

diselenggarakan secara kontinyu dan sistematis. Jadi pola ini belum

mempunyai elemen pondok, bila diukur dengan dasar dari Zamakhsyari.

          Pesantren pola II sama dengan pola I ditambah adanya pondokan

bagi santri. Ini sama dengan starat Zamakhsyari.

          Pesantren pola III sama dengan pola II tetapi ditambah adanya

madrasah. Jadi di pesantren pola III ini telah ada pengajian sistem klasikal.

          Pesantren pola 1V ialah pesantren pola III ditambah adanya unit

keterampilan seperti peternakan, kerajinan koperasi sawah, ladang, dan

lain- lain.




1
M.Bahri Ghozali,Pesantren Berwawasan Lingkungan(Jakarta:Prasasti,2002),hlm.14-15
                                                                               14




                Wardi Bahtiar dan kawan-kawannya didalam membagi pesantren

        menjadi dua macam, dilihat dari macam pengetahuan yang diajarkan,

        menurtutnya prsantren dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu:

                                   Pesantren Salafi
        Yaitu pesantren yang menajarkan kitab-kitab Islam klasik, sistem

        madrasah ditetapkan untuk mempermudah tehnik pengajaran sebagai

        metode sorogan

                                 Pesantren Khalafi
        Selain memberikan pengajaran kitab Islam klasik juga membuka sistem

        sekolah umum dilingkungan dan dibawah tanggung jawab pesantren.2

                Berdasarkan hasil penelitian LP3ES di Bogor, Jawa Barat telah

        menemukan 5 macam pola fisik pondok pesantren yaitu:

        Pola Pertama :
        Terdiri dari masjid dan rumah kyai. Pondok pesantren seperti ini masih
        bersifat sederhan. Dimana kyai mempergunakan masjid atau rumahnya
        sendiri untuk tempat mengajar. Dalam pondok pesantren type ini santri
        hanya datang dari daerah sekitar pesantren itu sendiri.
        Pola Kedua :
        Terdiri dari masjid, rumah kyai dan pondok (asrama) menginap para
        santri yang datang dari daerah-daerah yang jauh.
        Pola Ketiga :
        Terdiri dari masjid, rumah kyai, dan pondok (asrama) dengan sistem
        wetonan dan sorogan, pondok pesantren tipe ketiga ini telah
        menyelenggarakan pendidikan formal seperti madrasah.
        Pola Keempat :

        Pondok tipe keempat ini selain mempunyai komponen-komponen fisik
        seperti pola ketiga, memiliki pula tempat pendidikan ketrampilan seperti
        kerajinan, perbengkalan, tokoh koperasi, sawah, ladang dan sebagainya.
        Pola Kelima :
        Dalam pola ini pondok pesantren merupakan pondok pesantren yang telah
        berkembang dan bisa disebut pondok pesantren modern atau pondok
        pesantren pembangunan. Disamping masjid rumah kyai atau ustadz,

2
 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosda
Karya,1991),hlm.193-194
                                                                                    15




       pondok (asrama) madrasah atau sekolah umum, terdapat pula bangunan–
       bangunan fisik seperti perpustakaan, dapur umum, ruang makan, kantor
       administrasi, toko, rumah penginapan tamu (orang tua santri atau tamu
       umum), ruang operation dan sebagainya.
              Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1979

       tentang Bantuan Kepada Pondok Pesantren, maka pondok pesantren dapat

       dikatagorikan menjadi:

       a. Pondok pesantren tipe A yaitu pondok yang seluruhnya dilaksanakan
          secara tradisional.
       b. Pondok pesantren tipe B yaitu pondok pesantren yang
          menyelenggarakan pengajaran secara klasikal (madrasi)
       c. Pondok pesantren tipe C yaitu pondok pesantren yang hanya
          merupakan asrama sedangkan santrinya belajar diluar
       d. Pondok pesantren tipe D yaitu pondok pesantren yang
          menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem
          sekolah atau madrasah. 3
              Sebenarnya mengkategorikan pondok pesantren kedalam empat

       bentuk seperti di atas adalah supaya untuk mempermudah perencanaan dan

       pelaksanaan pemberian bantuan kepada pondok pesantren. Sebenarnya,

       kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa bentuk atau model pesantren

       jauh lebih bervariasi. Seperti yang terdata sebagai berikut:

       a. Pondok pesantren yang menyelenggarakan pengajian kitab-kitab klasik

           (salafiyah)

       b. Pondok pesantren seperti yang telah diungkapkan pada point A namun

           memberikan tambahan latihan keterampilan atau kegiatan pada para

           santri bidang-bidang tertentu/kejuruan

       c. Pondok pesantren yang menyelenggarakan kegiatan pengajian kitab

           namun lebih mengarah pada upaya mengembangkan tarekat / sifisme,



       3
          Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan Dan Perkembangannya (Depag
RI, 2003),hlm15-16
                                                                        16




       para santrinya kadang-kadang ada yang di asramakan, adakalanya pula

       tidak di asramakan.

    d. Pondok pesantren yang hanya menyelenggarakan kegiatan ketermpilan

       khusus agama Islam, kegiatan keagamaan, seperti tahfidz (hafalan) Al

       Qur’an dan majlis taklim, adakalanya santri di asramakan adakalanya

       tidak.

    e. Pondok pesantren yang menyelenggarakan pengajaran pada orang-

       orang penyandang masalah sosial, yaitu madrasah luar biasa di pondok

       pesantren.

    f. Pondok pesantren yang menyelenggarakan pengajian kitab-kitab klasik

       namun juga menyelenggarakan kegiatan pendiddikan formal ke dalam

       lingkungan pondok pesantren.

    g. Pondok pesantren yang merupakan kombinasi dari beberapa point atau

       seluruh point yang tersebut diatas (konvergensi).

3. Tujuan dan Fungsi Pondok Pesantren

           Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pondok pesantren adalah

    suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh seorang Kyai

    sebagai figure sentral yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan

    pondoknya.

    Tujuan pendidikan pesantren menurut Mastuhu adalah menciptakan
    kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada
    Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat
    kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau menjadi abdi
    masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian,
    menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di
    tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka
    mengembangkan           kepribadian         Indonesia.       Idealnya
                                                                                            17




        pengembangankepribadian yang ingin di tuju ialah kepribadian mukhsin,
        bukan sekedar muslim. 4

                 Sedangkan      menurut      M.Arifin     bahwa      tujuan    didirikannnya

        pendidikan pesantren pada dasarnya terbagi pada dua yaitu

        a. Tujuan Khusus
             Yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang ‘alim dalam
                ilmu agama yang diajarkan oleh Kyai yang bersangkutan serta
                            mengamalkannya dalam masyarakat.
        b. Tujuan Umum
                  Yakni membimbing anak didik agar menjadi manusia yang
             berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi
               mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar dan melalui ilmu dan
                                         amalnya.5
          4.   Sistem Pendidikan Pondok Pesantren

                 Dalam        keputusan        Musyawarah/Lokakarya              intensifikasi

        Pengembangan Pondok Pesantren yang di selenggarakan pada tanggal 2

        s/d 6 Mei 1978 di Jakarta tentang pondok pengertian pesantren diberikan

        batasan sebagai berikut: Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan

        Islam yang minimal terdiri dari tiga unsur.

        a. Kyai / Syekh/ Ustadz yang mendidik serta mengajar
        b. Santri dengan asramanya, dan
        c. Masjid.

        Kegiatannya mencakup Tri Dharma Pondok Pesantren;
        1. Keimana dan ketaqawaan terhadap Allah SWT
        2. Pengembangan keilmuan yang bermanfaat, dan
        3. Pengabdian terhadap agama, masyarakat dan negara.
               Dalam keadaan aslinya pondok pesantren memiliki sistem

        pendidikan dan pengajaran non klasikal, yang dikenal dengan nama

        (bandungan, sorogan, dan wetonan). Penyelenggaraan pendidikan dan


        4
            Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang unsur dan
Nilai sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), Hlm. 55-56
          5
            M.Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993),
Hlm.248
                                                                     18




pengajaran ini berbeda antara satu pondok pesantren dengan pondok

pesantren lainnya, dalam arti tidak ada keseragaman sistem dalam

penyelenggaraan pendidikan dan pengajarannya .

          Dalam kenyataannya penyelenggaraan sistem pendidikan dan

pengajaran di pondok pesantren dewasa ini dapat di golongkan kepada tiga

bentuk:

1. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama

   Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut

   diberikan dengan cara non klasikal (sistem bandongan dan sorogan)

   dimana seorang kyai mengajar santri-santri berdasarkan kitab-kitab

   yang ditulis dalam bahas Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad

   pertengahan, sedang para satri biasanya tinggal dalam pondok/asrama

   dalam pesantren tersebut.

2. Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agam Isalam

   yang pada dasarnya dengan pondok pesantren tersebut diatas tetapi

   para santrinaya tidak disediakan pondokan dikaompleks pesantren,

   namun tinggal tersebar diseluruh penjuru desa sekeliling pesantren

   tersebut (santri kalong), dimana cara metode pendidikan dan

   pengajaran agama Islam diberikan dengan sistem weton yaitu para

   santri dating berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu.

3. Pondok pesantren dewasa ini adalah merupakan lembaga gabungan

   antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan

   pengajaran agama Islam dengan sistem bandongan, sorogan, ataupun
                                                                                      19




            wetonan dengan para santri disediakan pondokan ataupun merupakan

            santri kalong yang dalam istilah pendidikan pondok modern memenuhi

            criteria pendidikan non formal serta menyelenggarakan juga

            pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum

            dalam berbagai bentuk tingkatan dan aneka kejuruan menurut

            kebutuhan masing-masing

                  Dilihat dari bentuk pendidikan dan pengajaran dipondok pesantren

        diatas, di dalam kenyataannya sebagian pondok tetap mempertahankan

        pada bentuk pendidikan semula, sebagian lagi mengalami perubahan hal

        ini disebabkan olaeh tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat serta

        akibat kemajuan dan perkembangan pendidikan di tanah air

B.TINJAUAN TENTANG SANTRI

        1.Pengertian Santri

        Menurut Abu Hamid istilah santri berasal dari kata shastra (i) dari bahasa
        Tamil yang berarti seorang ahli buku suci (Hindu). Dalam dunia pesantren
        istilah santri adalah murid pesantren yang biasanya tingggal di asrama atau
        pondok. Hanya santri yang rumahnya dekat dengan dengan pesantren tidak
        demikian. Dari sumber lain, santri berarti orang baik yang suka
        menolong.6
                 Dalam istilah lain juga diterangkan bahwa santri merupakan

        sebutan bagi para siswa yang belajar dalam pesantren. 7

        2. Macam-macam Santri

                  Menurut para ahli santri dapat dikelompokkan beberapa bagian

        yaitu :


        6
         Abu Hamid dalam H.M Yacub, Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyarakat desa
(Bandung: Angkasa, 1993) hlm. 65
       7
         Haedar Putra Dauly, Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), Hlm. 15
                                                                                          20




        a. Santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh

        dan menetap dalam kelompok pesantren. Santri mukim yang paling lama

        tinggal di pesantren tersebut biasanya merupakan satu kelompok tersendiri

        yang memegang tanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-

        hari, mereka juga memikul tanggung jawab mengajar santri-santri muda

        tentang kitab-kitab dasar dan menengah.

        b. Santri kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah sekeliling

        pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesatren. Untuk mengikuti

        pelajaran di pesantren, mereka bolak-balik (nglajo) dari rumahnya sendiri.

        Biasanya perbedaan antara pesantren besar dan pesantren kecil dapat

        dilihat dari komposisi santri kalong.8

                Sedangkan Arifin dan Sunyoto menemukan bentuk kelompok

        santri yang lain yaitu:

        a. Santri alumnus adalah para santri yang sudah tidak dapat aktif dalm
           kegiatan rutin pesantren tetapi mereka masih sering datang pada acara-
           acara tertentu yang diadakan pesantren. Mereka masih memiliki
           komitmen hubungan dengan pesantren, terutama terhadap kyai
           pesantren.
        b. Santri luar yaitu santri yang tidak terdaftar secara resmi dipesantren
           sebagaimana santri mukim dan santri kalong, tetapi mereka memiliki
           hubungan batin yang kuat dan dekat dengan kyai, sewaktu-waktu
           mereka mengikuti pengajian-pengajian agama yang diberikan oleh
           kyai, dan memberikan sumbangan parsitipatif yang tinggi apabila
           pesantren membutuhkan sesuatu.9




        8
            Zamakhsyari Dhofir, Tradisi Pesantren Setudi Tentang Pandangan Hidup Kyai
(Jakarta: LP3ES, 1985) hlm. 51-52
          9
            Arifin dan Suyoto dalam Imron Arifin, Kepimpinan Kyai Kasus Pondok Pesantren Tebu
Ireng (Malang: Kalimasyahadah Press, 1993 ) hlm. 12
                                                                                    21




C.TINJAUAN TENTANG METODE

       1.Pengertian metodologi

               Metodologi berasal dari kata meta (yang berarti melalui), hodos

       berarti (jalan/cara) dan logos (kata, pembicaraan atau ilmu). Jadi

       metodologi atau metodik adalah ilmu yang memberi tuntunan tentang

       jalan yang harus ditempuh untuk menyampaikan atau menyajikan sesuatu

       pendidikan dan pelajaran agar berhasil sukses. Artinya memberikan hasil

       yang mantap atau tahan lama serta dapat digunakan anak didik kelak

       dalam     menghadapi      tantangan-tantangan     hidup    serta   membentuk

       prestasinya.10

                   2.Macam Metode Pembelajaran Pondok Pesantren

               Sejalan dengan perkembangan zaman, lembaga pendidikan

       pesantren juga tidak menutup diri untuk mengadakan pembaharuan-

       pembaharuan baik metode maupun tehnis dalam pelaksanaan pendidikan

       pesantren itu sendiri, meskipun demikian tidak semua pesantren mau

       membuka mengadakan inovasi serta pembaharuan terhadap metode

       pembelajaran yang ada

               Pada awal berdirinya pondok pesantren, metode yang digunakan

       adalah metode wetonan dan sorogan bagi pondok non klasikal, pada

       perkembangan selanjutnya maka metode pembelajaran pondok pesantren

       mencoba      untuk    merenofasi     metode     yang    ada   tersebut    untuk

       mengembangkan pada metode yang baru yaitu metode klasikal

       10
         Dawam Rahardjo (ed). Pergulatan Dunia Pesantren Membangun Dari Bawah (Jakarta:
Perhimpunan pengembangan Pesantren/ P3M, 1985 ) hlm.25
                                                                                    22




           Menurut beberapa ahli metode-metode pembelajaran yang ada

dipondok pesantren, meliputi:

a. Metode Sorogan

             Sistem pengajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan

       jalan santri yang biasanya pandai menyodorkan sebuah kitab kepada

       kyai untuk dibaca dihadapan kyai itu. Dan kalau ada salahnya,

       kesalahan itu langsung dihadapi oleh kyai itu. Di pesantren besar

       sorogan dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa

       terdiri dari keluarga kyai atau santri-santri yang diharapkan kemudian

       hari menjadi orang alim.11

b. Metode Wetonan

             Pelaksanaan sistem pengajaran wetonan ini adalah sebagai

       berikut: kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, dan santri

       membawa kitab yang sama,.kemudian mendengarkan dan menyimak

       tentang bacaan kyai tersebut. Sistem pengajaran yang demikian seolah-

       olah sistem bebas, sebab absensi santri tidak ada, santri boleh datang

       boleh tidak, tidak ada sistem kenaikan kelas. Dan santri yang cepat

       menamatkan kitab boleh menyambung ke kitab yang lebih tinggi atau

       mempelajari kitab kitab yang lain. Seolah-olah sistem ini mendidik

       anak supaya kreatif dan dinamis, ditambah lagi sistem pengajaran

       wetonan ini lama belajar santri tidak tergantung kepada lamanya tahun




11
     M. Bahri Ghozali, Pesantren Berwawasan Lingkungan (Jakarta: Prasasti, 2002),hlm.29
                                                                                    23




            belajar, tetapi berpatokan kepada kapan anak itu menamatkan kitab-

            kitab pelajaran yang telah di tetapkan.12

       c. Metode Muhawarah

                 Muhawarah adalah suatu kegiatan berlatih dengan bahasa Arab

            yang diwajibkan oleh pesantren kepada para santri selama mereka

            tinggal di pondok.

                 Dibeberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadasah tidak

            diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu kali atau dua kali dalam

            seminggu yang digabungkan dengan latihan muhadhoroh atau

            khitobah, yang tujuannya melatih keterampilan anak didik berpidato.

       d. Metode Mudzakarah

                 Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara

            spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan aqidah serta

            masalah agama pada umumnya

                 Dalam mudzakarah tersebut dapat di bedakan atas dua tingkat

            kegiatan:

                 Pertama: Mudzakarah diselenggarakan oleh sesama santri untuk

            membahas suatu masalah dengan tujuan, melatih para santri agar

            terlatih dalam memecahkan persoalan dengan mempergunakan kitab-

            kitab yang tersedia. Salah seorng santri mesti ditunjuk sebagai juru

            bicara   untuk   menyampaikan       kesimpulan     dari   masalah      yang

            didiskusikan

       12
          Abdurrahman Shaleh, dkk. Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren (Depag RI,
1982),hlm.11
                                                                                       24




                    Kedua: Mudzakarah yang dipimpin oleh kyai, dimana hasil

             mudzakarah para santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti

             dalam suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi Tanya jawab dan

             hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.13

        e. Metode Hafalan

                    Dalam metode ini para santri diberi tugas menghafal bacaan-

             bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hafalan yang dimiliki oleh santri

             ini     kemudian     dihafalkan      dihadapan      kyai/ustadz      secara

             periodic/incidental tergantung pada petunjuk kyai/ustadz yang

             bersangkutan. Materi pelajaran dengan metode hafalan umumnya

             berkenaan dengan Al Qur’an, nazham-nazham untuk nahwu, sharaf,

             tajwid ataupun untuk teks-teks nahwu, sharaf dan fiqih.

        f. Metode Demontrasi

                    Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan

             memperagakan (mendemostrasikan) suatu ketermpilan dalam hal

             pelaksaan ibadah tertentu yang dilakukan perseorangan maupun

             kelompok dibawah petunjuk dan bimbingan kyai/ustad dengan

             kegiatan sebagai berikut:

             a) Para santri mendapatkan penjelasan/ teori tentang tata cara

                   pelaksanaan ibadah yang akan dipraktekkan sampai mereka betul-

                   betul memahaminya.




        13
         Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai, Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng (Malang,
Kalimasyahada Press, 1993),hlm.39
                                                                                       25




             b) Para     santri    berdasarakan      bimbingan       para    kyai/ustadz

                mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan yang diperlukan

                untuk kegiatan praktek.

             c) Setelah menentukan waktu dan tempat para santri berkumpul untuk

                menerima, penjelasan singkat berkenaan dengan urutan kegiatan

                yang ajan dilakukan serta pemberian tuga kepada para santri

                berkenaan dengan pelaksanaan praktek.

             d) Para     santri    secara     bergiliran/bergantian      memperagakan

                pelaksanaan praktek ibadah          tertentu dengan di bimbing dan

                diarahkan oleh kyai/ustadz sampai benar-benar sesuai kaifiat (tata

                cara pelaksanaan ibadah sesungguhnya)

             e) Setelah selesai kegiatan praktek ibadah para santri diberi

                kesempatan menanyakan hal-hal yang dipandang perlu selama

                berlangsung kegiatan.14

       3.Metode Penyampaian Pengajaran Sorogan di Pondok Pesantren

                Menurut M. Habib Chirzin sorogan berasal dari kata sorog (bahas

        jawa) yang berarti menyodorkan. Disebut demikian karena setiap santri

        menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya (badal, asisten

        kyai). Sistem sorogan ini termasuk belajar individual, dimana seorang

        santri berhadapan dengan seorang guru dan terjadi interaksi saling

        mengenal di antara keduanya.15



        14
           Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam/Direktorat Pendidikan Keagamaan dan
Pondok Pesantren, Profil Pondok Pesantren Muaddalah (Depag RI, 2004), hlm.30
        15
           M.Dawam Raharjo(ed). Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta: LP3ES, 1988),hlm.88
                                                                    26




         Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan

pada ruangan tertentu. Ada tempat duduk kyai dan ustadz, didepannya ada

meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap satri-

santri lain, baik yang mengaji kitab yang sama atau berbeda duduk agak

jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh kyai atau ustadz

sekaligus mempersiapkan diri untuk dipanggil.

Pelaksanaanya dapat digambarkan sebagai berikut:

         Santri berkumpul di tempat pengajian sesuai dengan waktu yang

telah di tentukan dan masing-masing membawa kitab yang hendak dikaji.

Seorang santri yang mendapat giliran menghadap langsung secara tatap

muka kepada kyai. Kyai atau ustadz membacakan teks dalam kitab itu baik

sambil melihat ataupun tidak jarang secara hafalan dan kemudian

memberikan artinya dengan menggunakan bahasa melayu atau bahasa

daerahnya, panjang pendeknya yang dibaca sangat bervariasi tergantung

kemampuan santri. Santri dengan tekun mendengarkan apa yang di

bacakan oleh kyai atau ustadz dan membacakannya dengan kitab yang

dibawanya. Selain mendengarkan santri juga melakukan pencatatan atas:

pertama, bunyi ucapan teks Arab dengan melakukan pembarian harakat

(syakal) terhadap kata-kata Arab yang ada dalam kitab. Pensyakalan itu

sering juga disebut 'Pendhabitan' (pemastian kharakat), meliputi semua

huruf yang ada dengan bahasa Indonesia atau denga bahasa daerah

langsung dibawah setiap kata Arab, dengan menggunakan huruf 'Arab

pegon'
                                                                       27




       Santri kemudian menirukan kembali apa yang dibacakan kyai

sebagaimana yang telah di ucapkan sebelumnya. Kegiatan ini biasanya

ditugaskan kyai untuk diulang pada pengajian berikutnya sebelum

dipindahkan pada pelajaran selanjutnya. Kyai atau ustadz mendengarkan

dengan tekun apa yang dibaca santrinya sambil melakukan koreksi-koreksi

seperlunya. Setelah tampilan santri dapat diterima, tidak jarang juga kyai

memberikan tambahan penjelasan agar apa yang telah dibacakan oleh

santri dapat dipahami.

       Para ahli juga memberikan definisi bahwa sorogan dimulai dari

seorang murid mendatangi seorang guru yang akan membacakan beberapa

baris Al-Qur'an atau kitab-kitab bahasa Arab dan menerjemahkannya

kedalam bahasa      jawa. Pada    gilirannya,   murid   mengulangi    dan

menerjemahkan kata demi kata sepersis mungkin seperti yang dilakukan

oleh gurunya. Sistem penterjemahan dibuat sedemikian rupa sehingga

murid diharapkan mengetahui baik arti maupun fungsi kata dalam suatu

kalimat bahasa Arab. Dengan demikian para murid dapat belajar tata

bahasa Arab langsung dari kitab-kitab tersebut. Murid diharuskan

menguasai pembacaan dan terjemahan kitab tersebut secara tepat dan

hanya bisa menerima tambahan pelajaran bila telah berulang-ulang

mendalami pelajaran sebelumnya. Para guru pengajar pada taraf ini selalu

menekankan pada kualitas dan tidak tertarik untuk mempunyai murid lebih

dari 3 atau 4 orang. Sistim individual ini dalam sistem pendidikan
                                                                     28




tradisional disebut sistem sorogan yang diberikan dalam pengajian kepada

murid-murid yang telah menguasai pembacan Al-Qur'an.

       Sistem sorogan merupakan bagian tersulit dari sistem pendidikan

Islam tradisional, sebab sistem ini membutuhkan kesabaran, kerajinan,

ketaatan dan disiplin pribadi dari murid. Kebanyakan murid-murid gagal

dalam pendidikan dasar ini. Disamping itu banyak diantara mereka yang

tidak menyadari bahwa seharusnya mereka mematangkan diri pada tingkat

sorogan ini sebelum dapat mengikuti pendidikan selanjutnya di pesantren,

sebab pada dasarnya hanya murid-murid yang telah menguasai sistem

sorogan sajalah yang dapat memetik keuntungan dari sistem bandongan di

pesantren.

       Sistem sorogan terbukti sangat efektif sebagai taraf pertama bagi

seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang yang alim. Sistem ini

memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara

maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasaArab.

       Dewasa ini, kecenderungan yang ada justru mengarah pada layanan

individual tersebut. Berbagai usaha berinovasi dilakukan justru ntuk

memberikan layanan individual tersebut, yakni sorogan gaya mutakhir.

Dengan metode sorogan yang di perbaharui, metode ini justru

mengutamakan tingkat kematangan dan perhatian serta kecepatan

seseorang. Banyak para santri berbeda tingkat pemahamannya, oleh karena

itu, pelayanan kepada para santri harus dibedakan.
                                                                                          29




                   D. Tinjauan Umum Tentang Prestasi Belajar

    1. Pengertian Prestasi Belajar

                Seseorang dalam melakukan kegiatan belajar sudah dimulai sejak

        lahir seperti, belajar berjalan, berbicara, menggambar, menulis, sampai

        dengan bentuk belajar komplek dan berbobot seperti yang dilakukan oleh

        orang yang dewasa dan terpelajar. Untuk setiap kecakapan, keterampilan

        dan pengetahuan kita perlu belajar, dengan belajar banyak pula hasil yang

        kita peroleh /pelajari. Keberhasilan di dalam belajar akan membawa rasa

        optimis dan peserta didik akan lebih termotivasi untuk meningkatkan

        belajar yang lebih baik lagi. Sebaliknya kegagalan di dalam belajar akan

        melahirkan perasaan pesimis yang mengakibatkan putus asa mengejar

        prestasi belajarnya.

        a. Pengertian Belajar

                   "Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya

             perubahan pada diri seseorang".16

                   Ahli belajar modern mengatakan dan merumuskan perbuatan

             belajar sebagai berikut: "Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau

             perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara

             bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan".17

                   Tingkah laku yang baru misalnya dari tidak tahu menjadi tahu,

             timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap,


        16
           Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung:
Sinar Baru, 1989), hlm.5
        17
           Oemar Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar (Bandung: Tarsito,
1983),hlm.21
                                                                          30




   kebiasaan-kebiasan,      keterampilan,      kesanggupan      menghargai,

   perkembangan      sifat-sifat   sosial,   emosional   dan   pertumbuhan

   jasmaniah.

          Jadi belajar merupakan proses dasar dari pada perkembangan

   hidup manusia. Dengan belajar manusia melakukan perubahan-

   perubahan individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua

   aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain adalah hasil dari belajar.

   Kita hidup dan bekerja menurut yang kita pelajari. Belajar itu bukan

   sekedar pengalaman.

b. Pengertian Prestasi Belajar

          Prestasi adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pada

   tingkat keberhasilan tentang suatu tujuan karena usaha yang dilakukan

   seseorang. Hasil tersebut dapat berupa nilai, penghargaan atau dapat

   berupa tingkah laku sesuai dengan macam kegiatan yang dilakukan.

   Pada    penelitian ini prestasi hasil yang dicapai oleh santri selama

   belajar di pondok pesantren.

          Prestasi belajar merupakan suatu proses perubahan yang terjadi

   dalam diri seseorang baik pengetahuan keterampilan dan sikap.

   Perubahan ini dapat dilihat secara langsung juga ada yang tidak dapat

   dilihat secara langsung. Perubahan yang dapat dilihat secara langsung

   dapat diketahui melalui sikap, tingkah laku. Sedang perubahan yang

   tidak dapat dilihat sebelumnya dapat diketahui dengan cara pemberian

   tes.
                                                                                          31




               2. Usaha Meningkatkan Prestasi Belajar.

                   Menurut beberapa ahli dalam usaha meningkatkan prestasi belajar

               siswa dapat ditempuh melalui :

               a. Peningkatan Mutu Tenaga Pengajar

                   Menjadi guru bukanlah tugas yang mudah, karena ia dituntut

               memahami sesuatu yang berakitan dengan tugas profesinya, yakni

               mendidik, mengajar, oleh karena itu guru harus meningkatkan ilmu

               pengetahuanya, baik ilmu keguruan maupun ilmu yang lainnya yang

               dapat menunjang profesi sebagai guru. Dengan kata lain seorang guru

               selalu berusaha meningkatkan pengetahuan yang dimiliki, agar

               pengetahuaannya       cukup        matang    dan    dapat     dipertanggung

               jawabkan.Untuk itu kompetensi keguruan merupakan sesuatu yang

               harus ada pada seorang pendidik. Kompetensi keguruan adalah

               kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh seorang guru. Pada

               mulanya kompetensi ini diperoleh dari "pre servis training" yang

               kemudian dikembangkan dalam pekerjaan profesional guru dan dibina

               melalui "in servis training" .18

               b. Membutuhkan Motivasi Belajar

                  Menurut Amir Daien Indrakusuma motivasi belajar adalah
               kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan
               dorongan kepada kegiatan belajar murid. 19
                  Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai

               keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan

        18
             Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 1990) hlm.
23
        19
          Amir Daien Indrakusum, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,
1973) hlm. 162
                                                                          32




       kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar

       dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang

       dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai. Motivasi belajar

       merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya

       yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan

       semangat untuk belajar sehingga siswa yang mempunyai motivasi

       yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan

       belajar.

       c. Pemenuhan Sarana Belajar

           Menurut Amir Daien Indrakusuma yang dimaksud sarana belajar
       disini adalah alat-alat atau sarana yang dapat membantu kelancaran
       pelaksanaan belajar mengajar. Contoh: gedung sekolah, perlengkapan,
       alat-alat pelajaran dan perpustakaan.20
           Keadaan ruang belajar itu sangat mempengaruhi pada situasi

       belajar mengajar . Bagaimanapun murid yang belajar atau guru yang

       mengajar dalam suatu ruangan yang indah, baik dan menyenangkan

       jauh lebih baik dibanding dengan guru atau murid yang belajar dalam

       kelas yang buruk dan kotor.

       d Peggunaan Metode

           Metode    adalah   suatu   jalan   yang   harus   ditempuh   untuk

       menyamapaikan atau menyajikan suatu pendidikan dan pelajaran agar

       berhasil sukses. Ramayulis dalam bukunya Metodologi Pengajaran

       Agama Islam menjelaskan bahwa :




20
     Ibid. hlm 138
                                                                           33




           Seorang pendidik yang selalu berkecimpung dalam proses belajar

       mengajar, kalau ia benar-benar menginginkan agar tujuan dapat

       dicapai secara efektif dan efisien, maka penguasaan materi saja

       tidaklah cukup. Ia harus menguasai berbagai tehnik atau metode

       penyampaian materi dan dapat menggunakan metode yang tepat dalam

       piroses belajar mengajar, sesuai dengan materi yang diajarkan dan

       kemampuan anak didik yang menerima.21

           Untuk itu para pendidik harus pandai memilih dan mempergunakan

       tehnik atau metode yang akan dipergunakannya, karena siswa akan

       terangsang / tertarik dan ikut serta diaktifkan dalam kegiatan belajar,

       sangat tergantung kepada metode yang dipakai. Aktifnya siswa dalam

       kegiatan belajar berarti makin melekatnya hasil belaljar itu dalam

       ingatan.

       3. Manfaat Metode sorogan Dalam Meningkatkan Prestasi

       Belajar.

           Seorang pendidik yang selalu berkecimpung dalam proses belajar

mengajar, kalau ia benar-benar menginginkan agar tujuan dapat dicapai

scara efektif dan efisien, maka penguasaan materi saja tidaklah cukupi. Ia

harus menguasai berbagai tehnik atau metode penyampaian materi dan

dapat menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar,

sesuai dengan materi yang diajarkan dan kemampuan anak didik yang

menerima. Pemilihan tehnik atau metode yang tepat kiranya memang


21
     Ramayulis. Ibid. 103
                                                                                34




memerlukan keahlian tersendiri. Para pendidik harus pandai memilih dan

mempergunakan tehnik atau metode yang akan dipergunakannya.

           Perlu disadari bahwa sangat sulit untuk menyebutkan metode mana

yang terbaik, yang paling sesuai atau efektif. Metode itu dikatakan baik

apabila metode tersebut dapat merangsang atau menarik peserta didik

dalam kegiatan proses belajar mengajar. Untuk itu peserta didik sangat

tergantung kepada metode yang dipakai. Metode sorogan adalah salah satu

metode pembelajaran yang ada di pondok pesantren. Metode ini memang

metode paling sulit diantara metode- metode yang lainnya karena disana

menuntut kesabaran dan ketekunan. Untuk itulah karena banyak sulitnya

maka metode ini menjadi metode yang efektif yang dapat meningkatkan

kualitas peserta didik.

Adapun manfaat metode sorogan dalam meningkatkan prestasi belajar

adalah :

a. Melatih peserta didik untuk bersabar
b. Melatih peserta didik untuk belajar sehingga ia menjadi rajin.
c. Menjadikan peserta didik untuk taat dan disiplin pribadi kepada sang
   guru. 22

           Disini banyak murid yang tidak menyadari bahwa sebenarnya

mereka harus mematangkan diri dalam metode tersebut sebelum dapat

mengikuti system lainnya. Sorogan memungkinkan sang kyai dapat

membimbing, mengawasi, menilai kemampuan murid. Ini sangat efektif

guna mendorong peningkatan kualitas murid.



22
     Pondok Pesantren (http. www. webmaster@humas depag.diakses 11 Juli 2006)
                                                                                               35




                                          BAB III

                            METODOLOGI PENELITIAN



B. Rancangan Penelitian

              Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang sistematis, mempunyai

    tujuan tertentu dengan menggunakan metodologi yang tepat dimana data yang

    dikumpulkan harus ada relefansinya dengan masalah yang dihadapi. Baik

    tidaknya dari hasil suatu kegiatan penelitian tergantung pada bagian teknik-

    teknik pengumpulan data untuk memperoleh bahan-bahan yang relefan dan

    akurat.    Penelitian    ini   termasuk        penelitian   diskriptif,   karena    dalam

    pengumpulan data sampai pada analisis data, peneliti berusaha memperoleh

    data subyektif yang sebanyak mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada.


C. Populasi dan Sampel

    a. Populasi

                 Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian,23 adakalanya

        mengambil sebagian saja dari keseluruhan obyek yang di teliti dengan

        tujuan untuk .menarik kesimpulan yang disebabkan oleh banyaknya

        anggota obyek yang diteliti atau berdasarkan pertimbangan- pertimbangan

        lain yang logis.

                 Dalam hal ini yang dijadikan obyek                penelitian adalah santri

        pondok pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri yang berjumlah 426


        23
           Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002),hlm.108



                                              33
                                                                                            36




        santri. Sedangkan alasan pemilihan populasi adalah karena diketahui

        bahwa populasi yang dipilih telah memiliki karakteristik – karakteristik

        khusus yang sesuai dengan .tujuan penelitian yang dapat menjawab

        permasalahan – permasalahan.

    b. Sampel

                  Sampel merupakan sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek

        yang diteliti, yang dianggap mewakili seluruh populasi dan diambil

        dengan menggunakan tehnik- tehnik tertentu.24 Sampel dalam penelitian

        ini ditunjuk dan dipilih sebagai sumber informasi atau sumber data. Dalam

        penelitian ini yang menjadi sampel adalah sebanyak 40 santri.


D. Metode Pengumpulan Data

             Data adalah bagian terpenting dalam suatu penelitian, untuk kegiatan

    pengumpulan data ini peneliti akan berusaha memperoleh dan mengumpulkan

    sebanyak – banyaknya. Dimana dalam hal ini peneliti menggunakan beberapa

    metode. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam

    penelitian ini adalah :

    a. Metode Observasi

                Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara

        sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.25

                Dengan menggunakan metode observasi ini peneliti dimungkinkan

        dapat melakukan pencatatan dan pengamatan secara sistematis mengenai

        24
            Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002),hlm.109
         25
            Sutrisno Hadi, Metode Research 1 (Yopgyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi UGM, 1973).hlm.159
                                                                                              37




          gejala –gejala yang diteliti tanpa mengajukan pertanyaan. Metode

          observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang gambaran model

          pembelajaran yang dilaksanakan Pondok Pesantren Sumbersari Pare

          Kediri dan juga untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran

          sorogan yang ada di Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri.

   b. Metode Wawancara

                   Metode wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu

          Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara yang

          mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan

          jawaban atas pertanyaan itu.26

                   Metode wawancara dalam penelitian ini peneliti lakukan pada kyai,

          ustadz/ pengurus, dan para santri di Pondok Pesantren Sumbersari Pare

          Kediri .

   c. Metode Dokumenter

                   Metode dokumenter adalah suatu tehnik pengumpulan data dengan

          menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah-majalah yang

          di dasarkan atas penelitian data.            Metode ini dilakukan dengan cara

          mengutip berbagai dat melalui catatan – catatan, laporan- laporan, kejadian

          masa lampau atau peraturan instruksi dan perundang - undangan yang

          menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan yang ada di Pondok pesantren

          Sumbersari Pare Kediri




          26
               Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002),
hlm.135
                                                                                         38




    d. Metode Angket

              Kuesioner disebut pula angket atau self administrated quesioner

        adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengirimkan suatu daftar

        pertanyaan kepada responden untuk di isi.27

              Metode angket dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui

        manfaat metode sorogan dalam meningkatkan prestasi belajar santri.


E. Metode Analisis Data

             Tehnik analisis data atau tehnik pengumpulan suatu usaha yang

    kongkrit untuk membuat data dapat dijelaskan setelah data terkumpul dan

    tersusun. Peneliti menghimpun semua data yang diperoleh dan menganalisa

    untuk memberikan suatu pemecahan sehubungan adanya suatu permasalahan.

    Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian diskriptif yaitu untuk membuat

    gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif . Maka untuk menjabarkan

    atau mendeskripsikan prestasi belajar santri di pondok pesantren Sumbersari

    Pare Kediri, digunakan rumus prosentase sebagai berikut :

              F
        P       100%
              N

         Keterangan :

        P = Nilai prosen

        F = Frekuensi dari nilai belajar

        N = Banyaknya santri



        27
          Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula
(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2004),hlm.78
                                                                          39




                                   BAB IV

               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Latar Belakang Obyek Penelitian

   1. Sejarah Singkat Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri

             Pondok pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri didirikan
      oleh K.H. Imam Faqih Asy’ari pada tahun 1949 di desa Sumbersari.
      Sumbersari merupakan sebuah dusun kecil yang terletak di desa Kencong
      kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Sejak kecil Imam Faqih sudah di
      didik oleh orang tuanya dengan berbagai ilmu, seperti membaca al-qur’an
      dan al-barzanji sebagai dasar untuk menyampaikan jiwa agamis.
             Setelah beberapa tahun beliau mendapat gemblengan dari orang
      tuanya sendiri, tepat pada bulan Muharram 1925 M beliau pergi menyusul
      kakaknya Hj. Fatimah untuk menuntut ilmu di pesantren Tebuireng
      Jombang yang kala itu di asuh oleh almukarrom K.H Hasyim Asy’ari
      (pendiri NU). Di pesantren itu beliau mendalami berbagai ilmu agama.
      Dan beliau menetap di Tebuireng hingga tahun 1933.
             Setelah itu beliau pindah ke pesantren Lirboyo Kediri. Tidak
      disangka kenyataannya menjadi lain, karena baru 17 bulan mondok di
      Lirboyo tersebut beliau dipanggil oleh kyai Jauhari (ayah dari gus
      Ma’sum) untuk mendapatkan tugas mengajar dan menulis para santri di
      pesantren tersebut.
             Timbullah kebingungan di hati beliau karena beliau pindah dari
      Tebuireng ke Lirboyo untuk menambah ilmu, tetapi malah mendapatkan
      amanat dari kyai tersebut di atas. Kemudian setelah direnungkan
      sekhidmat mungkin maka beliau menyadari mungkin dengan jalan
      mengajar inilah ilmu beliau akan berkembang, lantas beliau berkenan
                                   37
      memenuhi perintah gurunya. Hanya demi Allah semata, semua beliau
      lakukan dengan rasa tulus serta ikhlas.
                                                                        40




       Kendati bekal ilmu yang didapat dari Tebuireng masih kurang
memadai namun karena kerelaan dan keridloannya dalam mengajar,
akhirnya jumlah anak didiknya yang mulanya hanya 40 orang semakin
bertambah. Pada tahun 1942 M. beliau terpanggil untuk mengabdikan diri
pada kampung halamannya tepatnya pada hari kamis bulan jumadil akhir
beliau meninggalkan lirboyo.
       Selang lima hari setelah kepulangannya dari pesantren lirboyo,
beliau melaksanakan akad nikah dengan seorang gadis desa Jombangan
Pare, putri kyai Abu Umar pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum.
Setelah beberapa hari beliau resmi sebagai menantu kyai Abu Umar beliau
langsung mendapat kepercayan dari mertua untuk membantu mengasuh
pesantren tersebut. Meski demikian beliau tetap rutin untuk datang ke
lirboyo untuk sowan pada kyai.
       Empat setengah tahun kemudian setelah perkembangan pondok
Jombangan cukup stabil, beliau bermaksud mengembangkan ilmunya,
sekaligus merintis lembaga pendidikan baru disuatu daerah Sumbersari.
       Saat itu kediaman beliau hanya sebuah rumah kecil berdinding
bambu dan sebuah bangunan tak berdinding disebelah baratnya, disitulah
para santri bernaung saat menuntut ilmu. Sebagai tokoh masyarakat yang
disegani, tak heran jika pesantren yang dibinanya semakin bertambah
santrinya walau kedudukan beliau masih sebagai guru pembantu
       Setelah itu banyak santri yang berdatangan dari berbagai pelosok
untuk mondok di pesantren itu. Maka beliau memerlukan pengajar
pembantu, kemudian mengambil kebijaksanaan menugaskan murid-
muridnya yang telah mampu mengajar di kelas bawahnya.
       Pada tahun 1949 kegiatan rutin belajar mengajar sempat terhenti,
karena terjadi agresi militer yang dilakukan oleh belanda. Setelah keadaan
aman, kegiatan dilanjutkan kembali, didirikan pula mushola sederhana dari
bambu. Tahun terus berganti dan santri semakin banyak, maka dibangun
pondokan yang lebih permanen pada tahun 1957.
                                                                               41




           Tahun itu pula dipersiapkan segala sesuatu untuk mendirikan
madrasah, hingga selesailah pembangunannya pada tahun 1958, madrasah
tersebut diberi nama Darussalamah. Kemudian pada hari ahad tanggal 27
Dzulhijjah 1412/ 28 Juni 1992 M, pukul 03 dini hari, dalam usia ke 80
tahun beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman keluarga Sumbersari.
           Adapun    jasa-jasa   beliau   adalah   berhasil   memajukan    dan
mengembangkan pondok dan madrasah yang cukup besar. Hingga saat ini
kita dapat melihat sarana dan pra sarana pendidikan yang cukup lengkap
seperti:
a   Lokalisasi kelas yang cukup banyak

b   Asrama yang berkapasitas kurang lebih 2000 santri putra dan putri

c   Aktivitas pondok pesantren

           Disamping pendidikan dari madrasah, pondok juga turut berperan
aktif dalam mencapai keberhasilan para santri. Yakni dengan mengadakan
berbagai macam aktivitas, diantaranya:
a. Pengajian Kutub

    1. Mengaji Wajib

           Pengajian wajib dikaji langsung oleh KH. Ahmad Zainuri Faqih,
           KH. Daerobi Abdurrohman, Nyai Hj.roihanah Faqih, setiap hari
           selasa dan setiap hari ba'da maghrib dan setiap hari ba'da isya'.
    2. Mengaji Sesuai Tingkatan

           Pengajian ini dikaji langsung oleh masing-masing pengajar, mulai
           tingkat bawah sampai tingkat atas.
    3. Mengaji Bebas

           Pengajian ini bersifat bebas bagi santri untuk memilih kitab yang di
           minati, sedang pelaksanaannya pukul 21.00 WIB
b. Jam’iyyah

              Pembentukan organisasi ini di tekankan pada letak asrama

    dalam keseluruhan struktur pesantren. Maka terbentuklah jam’iyyah-
                                                                        42




   jam’iyyah dalam upaya menegakkan persatuan dan kesatuan.

   Pembentukan jam’iyyah ini terdiri dari 6 kelompok jam’iyyah. Yaitu:

   Jam’iyyah Al-Mubarokah, Jam’iyyah Al-Hidayah, Jam’iyyah Al-

   Hikmah, Jam’iyyah Al-Fadhilah, Jam’iyyah Al-Maghfiroh, Jam’iyyah

   Al-Fatimiyah. Yang masing-masing jam’iyyah itu beranggotakan

   kurang lebih seratus orang dan diketuai oleh seorang santri dan

   wakilnya. Adapun kegiatannya dilaksanakan setiap malam selasa,

   malam rabu setelah sholat isya’ dengan acara pada malam yang ke:

   I.     Jam’iyyah Kubro/latihan kemasyarakatan

   II.    Al-Barzanji

   III.   Diba’iyyah

   IV. Khotmil Qur’an

c. Tarbiyatul Muballighoh

           Organisasi ini mencoba untuk mencetak kader-kader da’i yang

   militan dan responsive yang mampu meneruskan dakwah nabi SAW.

   dengan metode semacam pelatihan, penggemblengan dan pada suatu

   saat mendatangkan tutor dari luar serta aktif mengadakan diskusi.

d. Tarbiyatul Qiro'ah

           Sealin Tarbiyatul Muballighoh, demi tercetaknya kader-kader

   Qiro'ah yang handal, maka di bentuk pula Tarbiyatul Qiro'ah. Kegiatan

   ini diikuti oleh santri yang berminat dan berbakat dalam seni baca Al-

   Qur'an, dan dilaksanakan pada hari jum'at yang di bimbing langsung

   oleh Ibu Nur Qoni'ah.
                                                                      43




e. Jam'iyatul Qurro'

            Kegiatan ini diikuti oleh semua santri kecuali peserta

   Tarbiyatul Qur'an dan Tarbiyatul Muballighoh. Kegiaan ini bertempat

   di musholla.

f. Tartilul Qur'an

          Aktifitas ini terlaksana dibawah binaan bapak Murhib dan

   Aneng Lailatul Badriyah. Adapun peserta di ambil dari guru mengaji,

   anggota MMD, ketua jamiyyah,ketua kamar, anggota ISDA, santri

   yang sudah khotam.

g. Musyawarah

          Dalam rangka meningkatkan mutusantri Pondok Pesanten

   Darussalam mengeluarkan ultimatum bahwa semua santri wajib

   mengikuti musyawarah mulai dari yang kecil sampai yang dewasa,

   yang hal ini di pantau langsung oleh Mustahiq dan Munawib.

h. Mujahadah

          Mujahadah merupakan suatu sarana untuk meningkatkan

   ketaqwaan kepada Sang Kholik dan untuk melatih santri agar lebih

   istiqomah dalam bermunajat serta berpasrah diri kepada-Nya.

i. Olah Raga
                                                                         44




              Dalam rangka meningkatkan kesehatan jasmani para santri,

      pondok menekankan agar santri ikut kegiatan olah raga senam.yang di

      laksanakan tiga kali dalam seminggu.



2. Elemen-Elemem Pondok Pesantren

        Keadaan pondok pesanten Darussalam Sumbersari sebagai lembaga

 pendidikan islam jika ditinjau dari segi fisiknya, maka dapat dikatakan

 bahwa pondok ini telah memenuhi penuh untuk dapat dikatakan sebagai

 sebuah pondok pesantren, dimana seperti yang telah dijelaskan, pada bab

 sebelumnya bahwa sebuah pondok pesantren harus memiliki lima elemen

 yang harus dipenuhi sebagai pesyaratan mutlak berdirinya sebuah pondok

 pesatren, diantaranya memiliki bangunan fisik sebagai lokasi proses belajar

 mengajar.Dibawah ini akan dijelaskan secara rinci keadaan fisik yang

 terdapat di pondok pesantren.

 a. Masjid

             Di komplek pondok pesantren Darussalam Sumbersari terdapat

    sebuah masjid yang terletak di wilayah pondok yang diberi nama

    “Baiturrahman”. Mesjid ini digunakan untuk pelaksanaan sholat jum’at

    dan juga berfungsi sebagai sarana pelaksanaan sholat lima waktu oleh

    para santri, pengasuh pondok pesantren, dan masyarakat sekitar. Selain

    itu juga di gunakan untuk Qotmil Qur'an.

 b. Pondok / Asrama
                                                                             45




            Asrama atau pondok dalam konteks kehidupan pesantren

   mempunyai peran yang sangat esensial, bahkan sebagai salah satu ciri

   dari pendidikan pesantren. Di pesantren Darussalam Sumbersari asrama

   menempati area yang paling luas yang memuat sekitar 2000 santri.

   Sebab pada dasarnya santri Darussalam Sumbersari seluruhnya

   merupakan santri mukim yang berasal dari berbagai daerah di pulau

   jawa. Lokal asrama ntuk santri dibagi menjadi 5 lokal kamar dengan

   fasilitas yang memadai dan masing- masing lokal kamar diberi nama

   yang berbeda guna memudahkan pengontrolan

            Dengan asrama inilah, terjalin hubungan yang akrab antara kyai

   dan santrinya dan menghilangkan kesan akan adanya jurang pemisah

   antara guru murid, selain sebagai tempat istirahat para santri,

   pembagunan asrama ini juga ditekankan sebagai tempat kegiatan

   pendidikan, baik secara individu maupun secara kolektif.

c. Santri

            Kata santri sering kita dengar dan tidak asing lagi bagi kita santri

   adalah seseorang yang bertempat tinggal dalam pesantren. Santri-santri

   tersebut untuk mempelajari dan memperdalam kitab-kitab klasik. Oleh

   kakrena itu santri merupakan elemen terpenting dalam suatu lembaga

   pesantren.Adapun jumlah santri yang ada di Pondok Pesantren

   Sumbersari Pare Kediri adalah sekitar 426 santri. Hal ini dapat dilihat

   pada tabel berikut.
                                                                                              46




   Tabel 4.1

        Sensus Santri Ma'had Islami Darussalam Sumbersari Pare Kediri

                               1426-1427 / 2005-2006

    A          1       2       3       4       5         6       7   8        n               J

srama                                                                    dalem      umlah

    A                  3       4       4                                      1               1

                   9       6       1                                      5              41

    B          1       1       1       1       1         1       1   5        -               1

           2       2       4       9       9       5         3                           09

    C          2       2       3       2       4         2                    -               1

           3       6       4       8       4       1                                     76

                                   Jumlah total                                               4

                                                                                         26



    Keterangan :

           Jumlah total                            Lama                           Baru

               426                                 378                            50
                                                                      47




       Sumber data : Daftar santri Pondok Pesantren Darussalam

 Sumbersari Pare Kediri 1426-1427/2005-2006

d. Kyai / Pengajar.

          Kyai dalam pesantren merupakan hal mutlak bagi sebuah

   pesantren, sebab dia adalah tokoh sentral yang memberikan pengajaran

   karena kyai menjadi salah satu unsur yang paling dominan dalam

   kehidupan suatu pesantren. Dalam hal ini yang menjadi pengasuh

   Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri adalah K. H. Daerobi

   Abdurrohman. Selain sebagai pengasuh pondok beliau juga sebagai

   seorang pengajar, untuk itulah beliau dibantu oleh pengajar yang lain,

   yang ahli dalam bidang-bidang tertentu.

          Para guru yang mengajar di pondok pesantren tidak mendapatkan

   gaji atau honor sebagaimana pegawai negeri pada umumnya, tetapi

   mereka hanya mendapat imbalan sekedar sesuai dengan keadaan

   keuangan yanga ada di pondok pesantren, walaupun guru ada yang

   sebagian menjadi pegawai negeri. Mereka mengajar didasari oleh

   keikhlasan dan perjuangan serta rasa tanggung jawab terhadap

   perkembangan lembaga agama Islam. Guru yang ada di Pondok

   Pesantren Sumbersari Pare Kediri sebagian besar alumni dari pondok

   Sumbersari sendiri walaupun sebagian lagi, ada beberapa guru yang

   bukan alumni Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri, tetapi mereka

   telah mengetahui kondisi pondok pesantren Sumbersari. Minimal para

   guru yang mengajar di pondok pesantren adalah mereka yang mahir
                                                                      48




disegala bidang.Adapun untuk mengetahui para pengajar yang ada di

Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri dapat di ketahui melalui daftar

berikut.

 Tabel 4.2

       Moh. Muslihuddin                    Zainal Abidin

       Shobirin                            Zainul Wafa

       Moh. Abror                          Ahmad Zainal Aisy

       Munirul Hafidz                      Uswatun Hasanah

       Khozinatul Asror                    Siti          Fuadatun

                                     Nadzifah

       Moh.Ahsan                           Mir'atul Fuadiyah

       Moh. Yasin                          Siti Halimah

       Moh. Nasocha                        Muntasyiratul ula

       Moh. Sholihan                       Nurul Hamidah

       Ahmad Najib                         Khoirun Nisa'

       Abdul Hamid                         Siti            Lailatul

                                     Mubarakah

       Ahmad Roisul Umam                   Siti    Mufarrohatul

                                     Ummah

       Moh. Rofi' usyan                    Mahfudhotin

                                     Rizqiyah

       Ali Rosidin                         Siti Maimunah

       Moh. Zarkasyi                       Tri              Tantra
                                                                       49




                                         Windrianni

          Husnul Khotimah                     Jauharotullama'ah

          Siti Nur Farida                     Risalatul Marfuah

          Nurul Inayah                        Wasilatul Hidayah

          Nur Chofifah                        Miftahunni'mah

          Alifatul Maula                      Malihatul Faizah

          Sati'ul Inayah                      Maziyatut Tasfyah

                  Sumber data : Buku Personalia dan Acuan Program (BPAP)

              MIDA-MAHISD1426-1427/2005-2006

e. Kitab-kitab klasik

              Berbicara tentang materi pendidikan di Pondok Pesaantren

   memang tidak lepas dari kurikulum pendidikan pesantren itu sendiri, hal

   ini mengingat bahwa kurikulum pada dasarnya meliputi seluruh aktifitas

   atau kegiatan yang dilaksanakan di pesantren dan juga mengandung

   nilai-nilai pendidikan bagi para santri di Pondok Pesantren. Maka dapat

   di peroleh gambaran bahwa kurikulum Pondok Pesantren adalah

   meliputi seluruh aktifitas yang dilaksanakan di Pondok Pesantren yang

   didalamnya adalah termasuk kegiatan pendidikan dan pengajaran itu

   sendiri.

              Dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran di pesantren

   dalam mencapai tujuan pendidikan, ada beragam materi yang diajarkan

   pesantren. Untuk itu di dalam pesanten diajarkan kitab-kitab yang

   dijadikan pedoman bagi para santri sebagai dasar atau bekal dalam
                                                                       50




mengamalkan ilmunya. Adapun materi-materi yang diajarkan Pondok

Pesantren Sumbersari Pare Kediri adalah sebagai berikut :

 Tabel 4.3

      Imriti                                      'Adatul Faridh
      Badiul Amali                                Khulasoh         Nurul
                                            Yaqin
      Akhlaqul Banat                              Al' aradh
      Qowa'idul Shorofiyah                        Adabu Syariah
      Qowaidul I'lal                              Tafsir Jalalen
      Jurumiyah                                   Fakhul Mu'in
      Mabadiul Fiqiyah                            Jawahir Maknun
      Arbain Nawawi                               Tajridu Shorekh
      Jazariyah                                   Faraidul Bahiyah
      Hidayatus Mustaqid                          Sulam
      Alfiyah Ibnu Malik                          Tashilud Turuqod
      Jawahir Bukhori                             Durotus Tsaniyah
      Fatkhul Qorib                               Durus Falakiyah
      Bulughul Marom                              Ilmu Hisab



      Sumber data : Buku Personalia dan Acuan Program (BPAP)

MIDA-MAHISD1426-1427/2005-2006



       Di zaman modern ini pesanten tidak hanya mempelajari kitab-

kitab klasik saja, tetapi pesantren juga perubahan-perubahan atau

metamorfosis      dalam   pendidikannya.   Pesanten   sudah    berupaya

membekali lulusannya dengan bidang keilmuan kontemporer misalnya
                                                                       51




     ketrampilan, computer,bahasa, dan lain-lain yang mana pembaharuan-

     pembaharuan itu masih tetap dalam nilai-nilai yang baik.

3. Sarana dan prasarana

        Adapun sarana prasarana yang ada di Pondok Pesantren Sumbersari

   Pare Kediri, adalah sebagai berikut :

   a. Gedung Madrasah

            Untuk melakukan aktifitas belajar mengajar sangat di butuhkan

      konsentrasi yang tinggi, maka untuk mewujudkan aktifitas tersebut di

      butuhkan tempat khusus. Maka dibangunlah sebuah gedung yang

      memiliki 16 lokal untuk MIS, MI, MTs, MA dan ditambah local untuk

      TK.

   b. Koperasi Santri

            Koperasi Darussalamah merupakan pusat belanja bagi santri

      Sumbersari. Yang didalamnya menyediakan aneka macam kebutuhan

      santri. Koperasi ada dua jenis, yang pertama kopda yakni koperasi

      milik pondok yang menyediakan kebutuhan santri, baik kebutuhan

      primer maupaun sekunder. Yang kedua koperasi milik madrasah yang

      hanya menyediakan keperluan dalam jenis lauk pauk dan kesehatan

      tradisional

   c. Dapur Umum

            Tanpa menghilangkan ciri khas seorang santri salafi, pondok

      Sumbersari pun menyediakan dapur umum untuk memasak bagi para

      santri.
                                                                        52




d. Perpustakaan

         Untuk mewujudkan santri         yang berintelek     tinggi   maka

   dibangunlah perpustakaan bagi para santri . Perpustakaan tersebut

   berisi tentang kitab – kitab kuning, buku ilmiyah, hingga cerita -cerita

   Islam yang cukup terkenal.

e. Kantor Panggilan

         Agar bisa menjumpai santri maka disediakan sebuah tempat yang

   tepatnya berada di depan ndalem yang akrab disebut kantor panggilan,

   di sana akan lebih leluasa dalam berbicara dan melepasakan rindu

   dengan keluarga.Ini merupakan salah satu kebijakan yang dikeluarkan

   oleh Mida Mahids yaitu dengan syarat harus membawa kartu mahrom

   yang telah diberikan, dan bila ingin menemui mahrom harus

   diserahkan pada petugas panggilan.

f. UKP

         UKP merupakan salah satu usaha kesehatan dari pondok untuk

   menangani santri yang sakit, UKP sendiri kepanjangan dari Usaha

   Kesehatan Pondok. Pondok Darussalam Sumbersari merupakan

   pondok yang cukup besar maka untuk itu disediakan sebuah badan

   khusus yang bertindak dalam bidang kesehatan.

g. Mading An-Nur

         Untuk melatih dan menumbuhkan kreativitas santri dalam

   berbagai hal maka pondok menciptakan Mading An-Nur sebagai ajang

   pengembangan kresi bakat dan imajinasi santri agar dapat tersalurkan
                                                                           53




           bakat-bakat yang terpendam. Mading An-Nur terbit setiap satu minggu

           sekali.



B. Penyajian dan Analisis Data

       Pola pendidikan dan pengajaran pondok pesanten erat akitannya dengan

tipologi pondok pesantren sebagaimana yang dituangkan dalam ciri- ciri yang

telah di jelaskan sebelumnya. Berangkat dari pemikiran dan kondisi pondok

pesantren Sumbersari Pare Kediri, maka dapat dikatakan bahwa pondok pesantren

Sumbersari Pare Kediri menganut sistem pembelajaran klasikal dan non

klasikal.hal ini terlihat pada model pengajaran kitab yang digunakan.

   1. Model Pembelajaran di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari

       Pare Kediri

             Pondok pesanren Darussalam Sumbersari, merupakan salah satu

       lembaga pendidikan yang bercirikan agama Islam.. pengajaran pendidikan

       yang dilaksanakan di pondok pesantren Sumbersari Pare Kediri, meliputi

       dua model pendidikan , yaitu pendidikan formal dan pendidikan non

       formal.



       a. Pendidikan Formal

                     Yang dimaksud deongan pendidikan formal bagi para santri

           pondok pesantren Sumbersari, yaitu pendidikan yang dilaksanakan di

           sekolah formal yang ada di lingkungan pondok pesantren dan para

           santri di wajibkan untuk mengikuti pendidikan ini .
                                                                                    54




b. Pendidikan Non Formal

          Yang dimaksud dengan pendidikan non formal disini adalah

   pendidikan yang di laksanakan di lingkungan pondok pesantren

   sendiri, dengan mengajarkan pendidikan agama saja . Adapun model

   pendidikan non formal yang dilaksanakan disana adalah :

   1) Metode Wetonan

           Sistem         wetonan        adalah         kyai      membaca        kitab,

      menterjemahkan, menerangkan, dan sekaligus mengulas teks- teks

      kitab berbahas Arab tanpa kharakat (gundul). Santri dengan

      memegang         kitab    yang     sama     masing-      masing    melakukan

      pendhabitan kharakat kata, langsung dibawah kata yang dimaksud

      agar dapat membantu memahami isi teks. Posisi santri pada

      pembelajaran       dengan        metode     ini    adalah     melingkari     dan

      mengelilingi kyai atau ustadz sehingga membentuk halaqoh

      (lingkaran) dan biasanya dilaksanakan setelah sholat subuh.

   2) Metode Sorogan

           Metode sorogan dalam pengajian merupakan bagian yang

      paling   sulit     dari    keseluruhan        metode        pendidikan     Islam

      tradisional,sebab metode tersebut menuntut kesabaran, kerajinan,

      ketaatan dan disisplin pribadi dari murid. Dalam metode ini santri

      mengajukan sebuah kitab kepada kayi untuk dibaca dihadapan kyai

      tersebut. Kalau dalam membaca dan memahami kitab tersebut
                                                                        55




   terdapat kesalahan, maka kesalahan itu langsung akan dibenarkan

   kyai. Metode ini dilakukan setiap hari senin setelah sholat ashar.

3) Metode Musyawarah / Bathstul Masail

        Metode musyawarah merupakan metode pembelajaran yang

   mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa orang santri

   dengan jumlah waktu tertentu membentuk hallaqoh yang dipimpin

   langsung oleh ustadz atau senior untuk membahas atau mengkaji

   persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu,

   metode ini juga lebih dikenal dengan istilah bathsul masail.

        Dalam pelaksanaannya para santri dengan bebas mengajukan

   pertanyaan-pertanyaan atau pendapatnya. Dengan demikian lebih

   menitikberatkan kepada kemampuan perseorangan di dalam

   menganalisa dan memecahkan suatu persoalan dengan argument

   logika yang mengacu pada kitab-kitab tertentu. Musyawarah

   dilakukan juga untuk membahas materi-materi tertentu dari sebuah

   kitab yang dianggap rumit untuk memahaminya.

        Langkah persiapan terpenting pada metode ini adalah terlebih

   dahulu     memberikan       topik-topik     materi     yang     akan

   dimusyawarahkan.Pilihan topik itu sendiri amat ditentukan. Topik

   yang menarik umumnya akan mendapat respon yang baik dan

   memberikan dorongan yang kuat kepada santri untuk belajar.

   Penetuan topik secara lebih awal ini dimaksudkan agar peserta

   dapat mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan. Selain
                                                                   56




   itu juga disampaikan penjelasan tentang cara-cara yang dilakukan

   berkenaan dengan dipilihnya metode sebagai permulaan, kyai atau

   ustadz atau salah satu santri senior menjelaskan secara singkat

   permulaan yang akan dibahas.

4) Metode Hafalan

        Pada metode ini para santri diberi tugas untuk menghafal

   bacaan-bacaan dalam jangka waktu tertentu. Hafalan yang dimiliki

   santri ini kemudian dihafalkan di hadapan kyai atau ustadz. Materi

   pembelajaran dengan metode hafalan pada umumnya berkenaan

   dengan Al-Qur'an, nadzam-nadzam, untuk nahwu, sharaf, tajwid,

   atau teks-teks nahwu, sharaf dan fiqih.

5) Metode Demonstrasi atau Praktek Ibadah

        Metode ini adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan

   mempraktekkan suatu keterampilan dalam hal pelaksanaan ibadah

   tertentu yang dilakukan perseorangan maupun kelompok di bawah

   petunjuk kyai maupun ustadz.

        Adapun untuk memudahkan penelitian, saya menggunakan

   angket karena para pengurus tidak bisa mewakili secara langsung.

   Lebih jelasnya untuk mengetahui tentang matode pembelajaran di

   Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri itu efektif

   atau tidak dapat dilihat dari angket yang saya sebarkan kepada para

   santri di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri.

   Tabel 4.4
                                                                   57




 Frekuensi jawaban tentang peran metode pembelajaran

   No           Alternatif Jawaban             N         F         %

Item

    1          a. Sangat penting               4         3         8

                                           0         3       2,5

               b. Penting                      -         7         1

                                                             7,5

               c. Tidak Penting                -         -         -

               Jumlah                          4         4         1

                                           0         0        00

  Sumber data: angket responden

        Dari tabel di atas responden siswa tentang metode

pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren Darussalam

Sumbersari Pare Kediri dapat diambil kesimpulan bahwa 82,5 %

peran metode pembelajaran sangat penting dan 17,5 % dianggap

penting. Dari tabel tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode

pembelajaran     dianggap    sangat    penting,    karena    metode

pembelajaran adalah suatu cara pemahaman terhadap materi –

materi yang diajarkan. Karena tanpa metode pembelajaran suatu

ilmu sangat sulit untuk di tularkan kepada orang lain.
                                                                   58




Tabel 4.5
     Frekuensi jawaban tentang metode pembelajaran yang ada di
Pondok Pesantren
      No            Alternatif Jawaban          N        F         %

  Item

       2           a. Baik Sekali               4        2         6

                                            0        6        5

                   b. Cukup Baik                -        1         3

                                                     4        5

                   c. Kurang Baik               -        -         -

                   Jumlah                       4        4         1

                                            0        0        00

            Sumber data: angket responden

           Dari tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode

   pembelajaran yang ada di Pondok Pesantren Darussalam

   Sumbersari Pare Kediri, 65% baik sekali dan 35% cukup baik.

   Dalam hal ini gurulah yang menentukan suatu metode. Untuk itu

   guru harus menilai efisiensi metode yang digunakan sehingga tidak

   bertentangan dengan tujuan yang dirumuskan, kematangan anak

   didik fasilitas dan lingkungan. Metode yang baik bisa menjadi

   jelek apabila guru tidak bisa menguasai teknik pelaksanaannya .

   Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan metode pembelajaran

   yang ada di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri

   dapat dilihat pada table berikut.
                                                                59




 Tabel 4.6
 Frekuensi jawaban tentang pelaksanaan metode pembelajaran
   No          Alternatif Jawaban            N        F         %

Item

   3         a. Baik sekali                  4        2         5

                                         0        1       2,5

             b. Cukup Baik                   -        1         4

                                                  9       7,5

             c. Kurang Baik                  -        -         -

             Jumlah                          4        4         1

                                         0        0        00

Sumber data : angket responden

       Tabel di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan metode

pembelajaran di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare

Kediri 52,5% baik sekali, dan 35% cukup baik. Jadi penulis dapat

menyimpulkan bahwa pelaksanaan metode pembelajaran di

Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri sangat baik,

hal ini terlihat pada prestasi para santri yang semakin meningkat

dan juga terlihat dengan banyaknya metode pembelajaran yang ada

di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri. Untuk
                                                                      60




   mengetahui metode – metode apa saja yang di terapkan Pondok

   Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri dapat dilihat pada

   tabel berikut ini.




 Tabel 4.7
     Frekuensi jawaban tentang metode pembelajaran yang di
terapkan di
     Pondok Pesantren
      No            Alternatif Jawaban             N        F         %

  Item

       4           a. Metode Sorogan               4        1         3

                                               0        5       7,5

                   b. Metode Ceramah               -        1         3

                                                        5       7,5

                   c. Metode Tanya Jawab           -        1         2

                                                        0        5

                   Jumlah                          4        4         1

                                               0        0        00

 Sumber data : angket responden

           Dari tabel di atas mengenai metode apa saja yang di terapkan

   Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri, maka dapat
                                                                        61




         di ambil kesimpulan bahwa 37,5% adalah metode sorogan, 37,5%

         adalah metode ceramah, sedangkan 25% adalah metode Tanya

         jawab. Dalam memilih metode seorang guru harus menggunakan

         metode yang sesuai dengan keadaan murid, fasilitas, lingkungan,

         sehingga tiodak bertentangan dengan tujuan yang dirumuskan.

         Karena setiap metode pasti mempunyai keunggulan dan kelemahan

2. Pelaksanaan Metode Pembelajaran Sorogan di Pondok Pesantren

  Darussalam Sumbersari Pare Kediri

         Pembelajaran    sorogan    di   Pondok     Pesantren   Darussalam

  Sumbersari Pare Kediri biasanya di laksanakan setelah sholat ashar. Dalam

  proses belajar mengajar metode sorogan, dalam1 (satu) kelasnya dibagi

  dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok biasanya beranggotakan

  5-8 orang dengan 1(satu) guru atau ustadz pada setiap kelompoknya.

  Untuk itulah, dalam pelaksanaan metode pembelajaran sorogan ini

  dibutuhkan guru yang sangat banyak. Begitu juga dengan siswanya,

  semakin sedikit siswa yang belajar maka pembelajaran sorogan ini

  semakin efektif. Dan semakin banyak siswa dalam pembelajaran ini tidak

  akan efektif.

         Dalam pembelajaran sorogan ini dilaksanakan dalam suatu

  ruangan, dan dalam ruangan tersebut diberi batas – batas atau sekat –

  sekat. Hal ini dilakukan agar dalam proses pembelajaran tidak terjadi

  komunikasi antara kelompok satu dengan kelompok yang lain.

         Adapun tata cara pelaksanaannya adalah :
                                                                          62




       Pertama – tama santri berkumpul ditempat pengajian sesuai dengan

waktu yang telah ditentukan dan masing – masing santri membawa kitab

yang hendak dikaji. Seorang santri yang mendapat giliran menghadap

lagsung secara tatap muka kepada kyai atau ustadz pengajar, kemudian dia

membuka bagian yang akan dikaji. Setelah itu murid membaca dan guru

mendengarkan bacaan murid, bila dalam pembacaan murid itu terdapat

kesalahan maka guru langsung membenarkannya dan hal ini dilakukan

secara bergantian. Setelah semua murid mendapat giliran, kemudian

seorang guru memberikan satu pertanyaan dan pertanyaan tersebut harus

dijawab oleh kelompok tersebut.


       Adapun untuk memudahkan penelitian, saya menggunakan angket

karena guru tidak bisa mewakili secara langsung. Lebih jelasnya untuk

mengetahui bagaimana pelaksanaan metode sorogan di Pondok Pesantren

Darussalam Sumbersari Pare Kediri itu dapat dilihat dari angket yang saya

sebarkan kepada para santri Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari

Pare Kediri.

       Tabel 4.8

       Frekuensi jawaban tentang penerapan metode sorogan

        No          Alternatif Jawaban             N        F         %

    Item

         5         a. Selalu                       4        2         5

                                               0        3       7,5
                                                                        63




                  b. Kadang - Kadang              -       1         4

                                                      7       2,5

                  c. Jarang                       -       -         -

                  Jumlah                          4       4         1

                                              0       0       00

     Sumber data : angket responden


      Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan metode sorogan

selalu diterapkan sebanyak 57,5% dan 42,5% kadang diterapkan kadang

tidak diterapkan. Jadi sangatlah mungkin bahwa penerapan metode

sorogan ini sudah hampir mencapai maksimal.

  Tabel 4.9

  Tentang waktu metode sorogan dilaksanakan

        No         Alternatif Jawaban             N       F         %

    Item

        6         a.2x dalam 1 bulan              4       -         -

                                              0

                  b. 3x dalam 1 bulan             -       -         -

                  c. 4x dalam 1 bulan             -       4         1

                                                      0       00

                  Jumlah                          4       4         1

                                              0       0       00

        Sumber data : angket responden
                                                                   64




      Tabel di atas mengenai waktu metode sorogan dilaksanakan, dapat

diambil kesimpulan bahwa 100% metode sorogan dilaksanakan 4x

dalam 1bulan. Hal ini menunjukkan bahwa metode sorogan benar –

benar di laksanakan dalam tiap minggunya.



      Tabel 4.10

      Tentang guru dalam menggunakan metode sorogan dalam proses

belajarmengajar

       No           Alternatif Jawaban          N      F           %

    Item

          7        a. Selalu                    4       4          1

                                            0                  0

                   b. Kadang - Kadang           -      36          9

                                                               0

                   c. : angket responden
          Sumber data Tidak Sama Sekali         -       -          -

      T            Jumlah                       4      40          1

a                                           0                 00

b

el di atas menunjukkan bahwa guru dalam menggunakan metode

sorogan dalam proses belajar mengajar dapat diambil kesimpulan bahwa

10% guru selalu menggunakan metode sorogan dalam proses belajar

mengajar dan 90% guru kadang menggunakan dan kadang tidak

mengunakan dalam proses belajar mengajar. Jadi sangat dimungkinkan
                                                                     65




bahwa guru menggunakan metode sorogan hanya pada materi – materi

tertentu. Untuk mengetahui materi – materi apa saja yang menggunakan

metode sorogan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

       Tabel 4.11

       Frekuensi jawaban tentang materi pelajaran yang menggunakan
       metode sorogan
         No           Alternatif Jawaban            N       F        %

     Item

          8         a.Fiqih                         4       3        8

                                                0       4       5

                    b. Tafsir                       -       -        -

                    c. Nahwu                        -       6        1

                                                                5

                    Jumlah                          4       4        1

                                                0       0       00

       Sumber data : angket responden

     Tabel di atas menunjukkan bahwa materi pelajaran yang

menggunakan metode sorogan yaitu 85% adalah materi fiqih dan 15%

adalah materi nahwu. Adapun untuk mengetahui apakah mereka paham

terhadap materi – materi yang diajarkan Pondok Pesantren Darussalam

Sumbersari Pare Kediri dengan menggunakan metode sorogan dapat

diihat pada tabel berikut.

      Tabel 4.12
       Frekuensi jawaban tentang pemahaman terhadap materi pelajaran
                                                                     66




       yang menggunakan metode sorogan
        No           Alternatif Jawaban           N        F         %

    Item

         9         a.Bertambah Paham              4        3         9

                                              0        8        5

                   b.Tetap                        -        2         5

                   c.Tetap   Saja   Tidak         -        -         -

               Berpengaruh

                   Jumlah                         4        4         1

                                              0        0        00

       Sumber data : angket responden

     Tabel di atas tentang pemahaman terhadap materi pelajaran setelah

menggunakan metode sorogan yaitu 95% bertambah paham terhadap

materi pelajaran setelah menggunakan metode sorogan dan 5% tetap

atau tidak bertambah paham setelah menggunakan metode sorogan. Oleh

karena itu penulis menyimpulkan bahwa dengan menggunakan metode

sorogan, para santri semakin bertambah paham terhadap materi -materi

pelajaran, seperti materi pelajaran fiqih dan nahwu. Sedangkan untuk

mengeahui kendala-kendala apa saja yang harus dihadapi dalam

pelaksanaan metode pembelajaran sorogan ini dapat dilihat pada tabel

dibawah ini.

      Tabel 4.13
       Tentang kendala-kendala yang harus dihadapi dalam pelaksanaan
       sorogan
        No           Alternatif Jawaban           N        F         %
                                                                       67




     Item

         10         a.Kurangnya        waktu         4       7         1

              dalam        proses      belajar   0               7,5

              mengajar

                    b.Santri dituntut belajar        -       2         5

              terlebih    dahulu      sebelum            2       5

              memasuki kelas

                    c.    Kurangnya    waktu         -       1         2

              istirahat                                  1       7,5

                    Jumlah                           4       4         1

                                                 0       0       00

       Sumber data : angket responden


     Tabel di atas menunjukan bahwa kendala- kendala yang harus

dihadapi dalam pelaksanaan metode sorogan adalah 17,5% kurangnya

waktu dalam proses belajar mengajar, 55% santri di tuntut untuk belajar

dahulu sebelum memasuki kelas dan 27,5% kurangnya waktu istirahat.

Metode sorogan adalah metode pengajaran kitab tradisional Islam yang

paling sulit dan yang paling rumit untuk itu dibutuhkan ketrampilan,

ketekunan, kesabaran, waktu yang banyak dan lain- lain. Sehingga

metode ini sangat berat untuk dilakukan. Untuk mengetahui apakah para

santri keberatan atau tidak dengan adanya metode sorogan ini, maka

dapat dilihat pada tabel berikut.

     Tabel 4.14
                                                                        68




     Frekuensi jawaban tentang keberatn dan tidaknya adanya metode
sorogan
      No           Alternatif Jawaban            N       F          %

   Item

       11         a.Tidak Keberatan              4       3          7

                                             0       1        7,5

                  b.Kadang-kadang                -       8          2

                                                              0

                  c.Keberatan                    -       1          2

                                                              ,5

                  Jumlah                         4       4          1

                                             0       0        00

   Sumber data : angket responden


     Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa santri yang merasa tidak

keberatan dengan adanya metode sorogan adalah 77,5% tidak keberatan

dan 20% santri kadang merasa keberatan kadang tidak keberatan serta

2,5% santri yang merasa keberatan dengan adanya metode sorogan. Dari

tabel tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa santri tidak merasa

keberatan dengan sorogan yang mana orang melihat bahwa metode ini

adalah metode yang amat berat dilaksanakan. Karena metode ini sangat

berat, biasanya murid belajar dengan tekun



     Tabel 4.15
                                                                        69




       Frekuensi jawaban adanya metode sorogan santri belajar dahulu
                                sebelum
     memasuki kelas
      No          Alternatif Jawaban            N        F          %

  Item

      12         a. Ya, selalu belajar          4        5          1

                                            0                 2,5

                 b. Kadang-kadang               -        3          8

                                                     3        2,5

                 c. Tidak belajar               -        2          5

                 Jumlah                         4        4          1

                                            0        0        00

     Sumber data: angket responden

     Tabel di atas menunjukkan bahwa dengan adanya metode sorogan

maka santri belajar terlebih dahulu sebelum memasuki kelas adalah 12,5

% dan 82,5 % kadang-kadang belajar terlebih dahulu sebelum memasuki

kelas dan 5% tidak belajar sama sekali sebelum memasuki kelas.Metode

sorogan adalah metode yang mana murid membaca kitab dan guru

menyimaknya, dan metode ini adalah metode yang paling sulit diantara

metode metode yang lain. Untuk itu murid perlu belajar untuk

menguasai metode ini, dan apabila guru menyuruh untuk membaca kitab

murid dengan mudah       membacanya. Hal inilah yang menyebabkan

murid belajar terlebih dahulu sebelum memasuki kelas. Untuk
                                                                          70




mengetahui apakah santri belajar sendiri atau ditemani orang lain dapat

dilihat ada table berikut



     Tabel 4.16
     Frekuensi jawaban tentang belajar sendiri atau ditemani orang lain
       No           Alternatif Jawaban            N         F         %

   Item

       13          a. Belajar sendiri             4         1         3

                                              0         4        5

                   b. Ditemani orang lain         -         7         1

                                                                7,5

                   c.       kadang-kadang         -         1         4

             ditemani orang lain                        9       7,5

                   Jumlah                         4         4         1

                                              0         0        00

     Sumber data: angket responden

     Tabel di atas tentang belajar sendiri atau ditemani orang lain dapat

diambil kesimpulan bahwa 35 % santri di Pondok Pesantren Darussalam

Sumbersari Pare Kediri adalah belajar sendiri, 17,5% ditemani orang lain

dan 47,5% kadang-kadang ditemani orang lain.Belajar tidak hanya

dilakukan sendirian, tetapi juga bisa dilakukan secara bersama-sama,

misalnya dengan melakukan Tanya jawab. Maka untuk melakukan

metode ini diperlukan orang lain. Untuk itulah kadang-kadang belajar

memerlukan orang lain
                                                                            71




       Tabel 4.17
       Frekuensi jawaban tentang keseriusan dalam mengikuti pelajaran
        No           Alternatif Jawaban             N         F         %

    Item

         14         a. Sangat serius                4         5         1

                                                0                 2,5

                    b. Cukup serius                 -         3         7

                                                          0        5

                    c. Kurang serius                -         5         1

                                                                  2,5

                    Jumlah                          4         4         1

                                                0         0        00

       Sumber data: angket responden

       Tabel di atas tentang keseriusan mengikuti pelajaran, bahwa 12,5%

santri di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri sangat

serius dalam mengikuti pelajaran, 75% cukup serius dalam mengikuti

pelajaran dan 12,5% kurang serius dalam mengikuti pelajaran. Keseriusan

santri dapat dilihat pada keaktifan dalam kelas dan dapat pula dilihat pada

hasil ulangan para santri. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa 75%
                                                                         72




  santri Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri cukup serius

  dalam mengikuti pelajaran

3. Manfaat Metode Sorogan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar

  Santri

           Awal timbulnya atau munculnya metode sorogan di Pondok

  Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri adalah dikarenakan

  banyaknya prestasi murid yang menurun. Hal ini terlihat ketika siswa tidak

  bisa mengerjakan soal ujian atau evaluasi. Maka untuk mengatasi

  permasalahan itu dibutuhkan suatu metode, yang mana metode ini benar-

  benar akurat dalam mengatasi permasalahan itu. Maka dipilihlah sorogan

  sebagai salah satu metode untuk mengatasi permasalahan ini. Dan

  alhamdulillah melalui metode inilah kini prestasi para santri pun mulai

  membaik kembali.

           Dari hasil wawancara dengan guru atau ustadz di Pondok Pesantren

  Darussalam Sumbersari Pare Kediri dapat diketahui bahwa manfaat

  metode sorogan adalah:

  1. Dengan adanya metode sorogan, maka hal ini menjadikan siswa hafal

     tentang teori.

  2. Siswa bisa mengungkapkan teori tersebut dan bisa melaksanakan atau

     mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Menjadikan siswa lebih trampil dalam membaca kitab.

  4. Dengan ketrampilan berpikir itulah, sehingga para santri mengalami

     peningkata prestasi, hal ini terlihat pada hasil setiap evaluasi.
                                                                             73




5. Melatih santri untuk sabar, tekun, trampil dalam belajar.

6. Dengan adanya metode sorogan ini siswa berlomba-lomba untuk

   memperoleh nilai yang baik.

       Adapun untuk memudahkan penelitian, saya menggunakan angket

karena para guru tidak bisa mewakili secara langsung. Lebih jelasnya

untuk mengetahui tentang bagaimana prestasi belajar santri yang ada

Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri dapat dilihat pada

angket yang saya sebarkan kepada para santri.




       Tabel 4.18
       Frekuensi jawaban tentang metode sorogan dalam membantu
 meningkatkan prestasi
        No           Alternatif Jawaban             N          F         %

     Item

         15          a. Sangat membantu             4          2         7

                                                0         9        2,5

                     b. Cukup membantu              -          1         2

                                                          1        7,5

                      c. Tidak membantu             -          -         -

                    Jumlah                          4          4         1

                                                0         0        00

       Sumber data : angket responden
                                                                         74




       Tabel di atas tentang metode sorogan dalam membantu

meningkatkan prestasi belajar maka dapat di ambil kesimpulan 75,5%

metode sorogan sangat membantu dalam meningkatkan prestasi belajar,

dan 27,5% metode sorogan cukup membantu dalam meningkatkan prestasi

belajar. Prestasi belajar dapat dilihat dari nilai santri yang semakin

meningkat. Adapun mengetahui nilai siswa menjadi meningkat dengan

adanya metode sorogan ini dapat diihat pada tabel berikut

       Tabel 4.19
       Tentang penggunaan metode sorogan dalam meningkatkan nilai
      No            Alternatif Jawaban            N         F        %

   Item

       16        a. Ya, bertambah naik            4         3        8

                                              0        2        0

                 b. Tetap                         -         8        2

                                                                0

                 c. Menurun                       -         -        -

                 Jumlah                           4         4        1

                                              0        0        00

Sumber data : angket responden

       Tabel di atas mengenai penggunaan metode pembelajaran sorogan

dalam meningkatkan nilai maka dapat diambil kesimpulan bahwa 80%

metode pembelajaran sorogan mampu meningkatkan nilai dan 20% adalah

tetap (tidak ada peningkatan nilai). Melalui metode inilah maka santri

berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Dan untuk
                                                                            75




mendapatkan nilai yang baik itu, maka para siswa harus belajar. Untuk

mengetahui apakah metode sorogan mampu membangkitkan motivasi

belajar atau tidak dapat dilihat pada tabel berikut.

 Tabel 4.20
 Tentang metode sorogan dalam membangkitkan motivasi belajar.
       No           Alternatif Jawaban                 N       F        %

   Item

       17         a. Ya                                4       3        7

                                                 0         0       5

                  b. Kadang-kadang                     -       1        2

                                                           0       5

                  c. Tidak                             -       -        -

                  Jumlah                               4       4        1

                                                 0         0       00

 Sumber data: angket responden

       Tabel di atas tentang metode sorogan dalam membangkitkan

motivasi belajar maka dapat diambil kesimpulan 75% adalah sangat

membantu dalam membangkitkan motivasi belajar dan 25% kadang-

kadang metode sorogan cukup membantu dalam membangkitkan motivasi

belajar. Metode yang menarik dapat membangkitkan semangat siswa.

Untuk itu guru harus pandai memilih metode, karena metode adalah salah

      satu komponen pendidikan yang harus dikuasai oleh guru
                                                                         76




      Tabel 4.21
      Tentang metode sorogan dalam meningkatkan minat belajar
       No           Alternatif Jawaban            N       F          %

    Item

        18         a. Sangat membantu             4       1          4

                                              0       8         5

                   b. Cukup membantu              -       2          5

                                                      1       2,5

                   c. Tidak membantu              -       1          2

                                                                ,5

                   Jumlah                         4       4          1

                                              0       0       00

      Sumber data: angket responden

      Tabel di atas tentang metode sorogan dalam membantu

meningkatkan minat belajar, dapat disimpulkan bahwa 45% metode

sorogan sangat membantu dalam meningkatkan minat belajar, 52,5%

cukup membantu dalam meningkatkan minat belajar, dan 2,5% metode

sorogan tidak membantu dalam meningkatkan minat belajar. Untuk itu

seorang guru harus pandai dalam memilih suatu metode. Karena metode

yang menarik akan membangkitkan minat siswa

 Tabel 4.22
 Frekuensi jawaban tentang metode sorogan dalam memberi manfaat
 terhadap penyampaian materi pelajaran
      No           Alternatif Jawaban         N       F          %
                                                                       77




   Item

       19        a.        Ya,    sangat         4        4        1

            bermanfaat                       0        0       00

                 b. Kurang bermanfaat            -        -        -

                 c. Tidak bermanfaat             -        -        -

                 Jumlah                          4        4        1

                                             0        0       00

 Sumber data: angket responden

       Tabel di atas tentang metode sorogan dalam memberi manfaat

terhadap penyampaian materi pelajaran, dapat diambil kesimpulan bahwa

100% metode sorogan sangat bermanfaat dalam penyampaian materi

pelajaran. Metode sorogan emang metode paling sulit diantara metode –

metode yang lain. Karena metode ini menuntut kesabaran dan ketekunan,

sehingga santri belajar lebih tekun. Melalui belajar inilah maka materi

pelajaran itu dapat dikuasai oleh peserta didik. Untuk mengetahui metode

sorogan bermanfaat dalam meningkatkan prestasi dapat dilihat pada table

berikut.



  Tabel 4.23
  Frekuensi jawaban tentang metode sorogan bermanfaat dalam
   meningkatkan prestasi
       No         Alternatif Jawaban             N        F        %

   Item
                                                                      78




       20         a. Sangat bermanfaat           4       3        9

                                             0       8        5

                  b. Kurang bermanfaat           -       2        5

                  c.Tidak       bermanfaat       -       -        -

            sama sekali

                  Jumlah                         4       4        1

                                             0       0       00

       Sumber data: angket responden

       Tabel di atas mengenai metode sorogan bermanfaat dalam

meningkatkan prestasi belajar dapat diambil kesimpulan bahwa 95%

metode sorogan sangat bermanfaat dalam meningkatkan prestasi belajar

dan 5% kurang bermanfaat dalam meningkatkan prestasi belajar. Hal ini

dapat dilihat pada prestasi santri. Santri Pondok Pesantren Darussalam

Sumbersari Pare Kediri sebelum menggunakan metode ini prestasinya

yang tadinya kurang begitu baik, akan tetapi setelah menggunakan metode

ini prestasinya menjadi baik.
                                                                          79




                                       BAB V

                         KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan

          Berdasarkan pada rumusan masalah di atas maka peulis menyimpulkan

  isi dari skripsi ini sebagai berikut :

   1. Pembelajaran sorogan yang ada di Pondok Pesantren Darussalam

      Sumbersari Pare Kediri, menggunakan dua model yaitu pendidikan formal

      dan pendidikan non formal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang

      dilaksanakan disekolah formal yang ada di lingkungan Pondok Pesantren

      Darussalam Sumbersari Pare Kediri dan pendidikan non formal adalah

      pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan pondok pesantren itu sendiri

      yang mengajarkan pendidikan agama saja yang menggunakan metode

      seperti : metode wetonan, sorogan, musyawarah, hafalan, demontrasi

      /praktek ibadah

   2. Pembelajaran sorogan di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare

      Kediri dilaksanakan dalam 1 (satu) kelas dibagi dalam beberapa kelompok

      dan setiap kelompok beranggotakan 5-8 orang dengan satu guru pada

      setiap kelompoknya. Pembelajaran sorogan ini dilaksanakan dalam suatu

      ruangan yang diberi batas-batas atau dibagi dalam petak- petak, hal ini

      dilakukan agar dalam proses belajar mengajar tidak terjadi komunikasi

      antara kelompok satu dengan kelompok yang lain




                                           74
                                                                            80




   1. Metode sorogan yang diterapkan di pondok pesantren Darussalam

      Sumbersari Pare Kediri mempunyai manfaat

      a) Menjadikan siswa hafal tentang teori.

      b) Siswa bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

      c) Siswa lebih trampil dalam membaca kitab. .

      d) Siswa mengalami peningkatan prestasi, yang terlihat pada hasil setiap

           evalusi.

      e) Melatih santri untuk sabar, tekun, trampil, dalam belajar.

      f) Terjadi kompetisi antar santri.



B. Saran

  1. Diharapkan Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri lebih

     meningkatkan lagi program kegiatan yang sudah dilaksanakan, sehingga

     Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare Kediri akan lebih

     berkembang lagi di masa yang akan datang.

  2. Hendaknya sebagai santri agar lebih giat belajar, dalam mendalami dan

     memahami ilmu-ilmu agama yang telah diberikan            Pondok Pesantren

     Darussalam Sumbersari Pare Kediri, sehingga apa yang diharapkan oleh

     orang tua, Pondok Pesantren khususnya yang dicita-citakannya dapat

     diraih dengan baik.

  3. Hendaknya model pembelajaran sorogan tersebut dapat dilaksanakan dan

     dipertahankan terus, karena dengan model seperti itu dapat menghasilkan

     generasi penerus yang berkualitas dan handal, sehingga nantinya akan

     bermanfaat       bagi   pembangunan    bangsa    dan    negara   khususnya

     pembangunan syari’at agama Islam
                                                                               81




                              ANGKET SISWA


       Di bawah ini tersedia sejumlah pertanyaan yang harus anda jawab dengan
jujur sesuai dengan yang sebenarnya pada diri anda. Pertanyaan ini tidak
mempengaruhi pada nilai prestasi anda. Selanjutnya jawaban yang anda berikan
merupakan data yang penting untuk diketahui.


I. Tuliskan identitas anda pada tempat yang disediakan, dan atas kesediaan anda
   tak lupa kami mengucapkan terima kasih.
   Identitas pengisi:
               1.   Nama     :…………………………………….
               2.   Kelas    :…………………………………….


II. Petunjuk
   Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan keadaan dan pendapat anda
   dan berilah tanda silang (X) pada huruf yang ada.


   1. Bagaimana pendapat anda tentang peran metode pembelajaran yang ada
       di Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri
       a. Sangat penting       b. Penting                   c. Tidak penting
   2. Bagaimana .pendapat anda tentang metode pembelajaran yang ada di
       pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri
       a. Baik sekali       b. Cukup baik                 c. Kurang baik
   3. Bagaimana pelaksanaan metode pembelajaran yang ada di Pondok
       Pesantren
       a. Baik sekali       b. Cukup baik                 c. Kurang baik
   4. Metode apa saja yang diterapkan di Pondok Pesantren Sumbersari Pare
       Kediri
       a. Metode Sorogan            b. Metode ceramah     c………
   5. Bagaimana penerapan metode sorogan di pondok pesantren ini
        a. Selalu           b. Kadang – kadang
                                                                               82




6. Berapa kali dalam satu bulan metode pembelajaran sorogan dilaksanakan
   a. 2x dalam 1 bulan            b. 3x dalam 1 bulan    c. 4x dalam 1 bulan
7. Apakah guru anda selalu menggunakan metode sorogan dalam proses
   belajar mengajar
   a. Selalu         b. Kadang – kadang       c. Tidak sama sekali
8. Materi pelajaran apa yang menggunakan metode sorogan
   a. Fiqih          b. Tafsir                c. ……….
9. Bagaimana pemahaman anda terhadap materi pelajaran setelah
   menggunakan metode sorogan
a. Bertambah paham b. Tetap c. Tetap saja .tidak berpengaruh
10. Kendala – kendala apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan
   metode.sorogan
   a.Kurangnya waktu dalam proses belajar mengajar
   b.Santri di tuntut belajar terlebih dahulu sebelum memasuki kelas
   c.……………….
11. Apakah saudara tidak merasa keberatan dengan adanya metode sorogan
   a. Tidak              b. Kadang – kadang       c Keberatan
12. Dengan adanya metode sorogan, apakah anda belajar dahulu sebelum
    memasuki kelas
   a. Ya, selalu belajar b. Kadang - kadang       c. Tidak belajar
13. Dalam waktu belajar, apakah anda belajar sendiri atau ditemani oleh orang
   lain
   a. Belajar sendiri    b. Ditemani orang lain          c………
14. Bagaimana keseriusan anda dalam mengikuti pelajaran yang ada di
   pondok pesantren
    a. Sangat serius   b. Cukup serius     c. Kurang serius
15. Apakah metode sorogan dapat membantu meningkatkan prestasi belajar
   anda
   a. Sangat membantu b. Cukup membantu              c. Tidak membantu
16. Apakah dengan menggunakan metode pembelajaran sorogan nilai anda
   menjadi meningkat
   a. Ya, bertambah naik          b. Tetap              c. Menurun
                                                                             83




17. Apakah metode sorogan dapat membangkitkan motivasi belajar anda
   a. Ya                   b. Kadang – kadang       c Tidak
18. Menurut anda, apakah metode sorogan dapat membantu meningkatkan
   minat      belajar anda
a. Sangat membantu         b. Cukup membantu         c. Tidak membantu .
19. Menurut anda, apakah metode sorogan memberi manfaat terhadap
   penyampaian .materi pelajaran
   a. Ya, sangat bermanfaat       b. Kurang bermanfaat c. Tidak bermanfaat
20. Menurut anda, apakah metode sorogan bermanfaat dalam meningkatkan
   prestasi belajar anda
   a. Sangat bermanfaat b. Kurang bermanfaat c. Tidak bermanfaat sama
     sekali
                                                                          84




         JADWAL KEGIATAN PONDOK PESANTREN DARUSSALAMAH
                        Sumbersari Pare Kediri

     No
JoeniJJJJJenis Kegiatan       Waktu           Tempat        Keterangan
    1.    Sholat Subuh    04.45 Ist.        Musholla
    2.    Mengaji         05.15 –Selesai
          Qiroati
    3.    Aktifitas
          sehari-hari
    4.    Sekolah         07.15 -11.45Ist               Kls VI MI-MMD
    5.    Wajib Belajar   08.15 – 10.30 Jemuran dan     Kelas V Kebawah
                          Ist           Kantor Mahisd
                                        Lantai II
    6.    Tidur Siang   11.00–12.15 Ist Kamar
    7.    Sholat Dhuhur 12.15-13.00 Ist Musholla       Seluruh santri
    8.    Sekolah       13.15-16.15 Ist                Kelas V Kebawah
    9.    Syawir        14.30-16.30 Ist                Tingkat Mts sabtu-
                                                       Senin        Tingkat
                                                       Aliyah Setiap hari
    10.   Mengaji dan 15.00-17.00 Ist Kamar A no 1 MMD Tingkat 1
          Musyawarah
    11.   Wajib Belajar 15.30-16.15 Ist Musholla       Kelas VI
    12.   Sholat Ashar  16.30-17.00 Ist Musholla
    13.   Mengaji Kitab 17.00-17.45 Ist                Menurut tingkatan
                                                       kelasnya
    14.   Makan Sore    17.45-18.05 Ist Tidak Tertentu
    15.   Sholat        18.20-18.45 Ist Musholla
          Maghrib
    16.   MengajiWajib 18.4 5-19.30 Ist Musholla       Seluruh Santri
    17.   Sholat 'Isya  19.30-20.00 Ist Musholla
    18.   Mengaji Al- 20.00-21.00 Ist Sesuai
          Qur'an                        Kesepakatan
    19.   Mengaji       21.00-21.30 Ist Musholla       Kecuali tingkat
          Wajib                                        Ibtida'
    20.   Musyawarah    21.30-23.15 Ist Kelas Masing- Semua tingkatan
                                        masing         Kecuali MMD I dan
                                                       II hanya malam
                                                       Rabu dan Kamis
    21.   Mengaji       21.30-22.00 Ist Kamar A no 1 Pengurus dan
          Hikam                                        Tingkat MMD
    22.   Jam Malam 24.00-03.30 Ist KamarMasing-
          (Tidur)                       masing
    23.   Mujadahan     03.00-04.15 Ist Musholla
    24.   Sholat Subuh 04.45-05.30 Ist Musholla
                                                                              85




  TATA TERTIB SANTRI PONDOK PESANTREN DARUSSALAMAH
                SUMBERSARI PARE KEDIRI

Kewajiban

   1) Mengaji dan sekolah sampai tamat MMD.

   2) Mengikuti pengajian Hadrutusyaikh.

   3) Mengikuti pengajian Al Qur'an bagi santri yang belum mampu membaca

      Al-Qur'an dan belum khatam.

   4) Mengikuti kegiatan pondok dan organisasi Furu'.

   5) Mengikuti jama'ah sholat maktubah di musholla.

   6) Mengaji menurut tingkatannya.

   7) Mengikuti Jam'iyyatul Qurro'.

   8) Menghormati tamu.

   9) Berbicara baik dan sopan.

   10) Berpakaian resmi ala pesantren, berkerudung kurung dan memakai .kaos

      kaki apabila keluar dan masuk pondok.

   11) Berkerudung bila keluar kamar.

   12) Di tempat panggilan bila menemui famili dengan membawa kartu mahrom

      atau kartu panggilan.

   13) Bila akan pulang mengambil buku perizinan ke kantor panggilan dan

      minta tanda tangan ibu Nyai serta mengembalikannya bila sudah datang.

   14) Apabila pulang dan pergi sesuai dengan izinnya.

   15) Diantar dan dijemput oleh mahrom ketika datang dan pulang.

   16) Lapor kepada keamanan bila terjadi kehilangan.
                                                                           86




  17) Membayar uang syahriyah setiap bulan selambat-lambatnya tanggal 10

     bulan Qomariyah.

  18) Berada didalam pondok setelah masuk waktu maghrib.

  19) Menjaga nama baik pondok dimana saja berada.

Larangan

  1) Berguarau pada waktu jama'ah sholat dan mengaji, sekolah, tidur dan jaga

     malam.

  2) Duduk dibaduk musholla dan pondok serta meletakkan sesuatu yang tidak

     pantas disekitar pondok, musholla dan madrasah.

  3) Mengghosob dan memiliki hak orang lain.

  4) Pulang, datang, dan pergi sendirian.

  5) Surat menyurat/telpon menelpon dengan selain mahrom.

  6) Naik kendraan melewati pondok putra.

  7) Mengriting, menyemir atau memendekkan rambut sebatas pundak.

  8) Berpenampilan yang tidak sesuai dengan perilaku santri.

  9) Meminjam sepeda untuk berpergian.

  10) Mengejek tamu dan sesama santri.

  11) Meminjam peralatan milik ndalem.

  12) Membawa, menyimpan dan membunyikan radio, tape, tustel, HP dan

     sejenisnya.

  13) Membawa dan memakai celana panjang /trening kulot.

  14) Membaca koran, komik atau majalah kecuali pada tempat yang telah

     disediakan.
                                                                        87




15) Membawa atau membaca bacaan porno.

16) Memiliki baju diatas 6 stel.

17) Memakai rok pendek, meksi berbelek panjang, dan kaos berlengan

   pendek.

18) Masuk kamar lain kecuali ada kepentingan syar'i.

19) Keluar pondok kecuali pada hari yang telah ditentukan atau udzur.

20) Membeli makanan ditempat yang tidak wajar.

21) Berkeliaran disawah-sawah.

22) Memakai perhiasan kecuali anting-anting.

23) Mengundang dan memberi kado santri putra.

24) Mencoret -coret pada tempat yang bukan semestinya dan merusak segala

   bentuk pengumuman.

25) Bergurau dan bergaul dengan santri putra.

26) Membuang sampah disembarangan tempat.

27) Membawa atau menyimpan obat-obatan terlarangan.
                                                                                88




                             DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
       Jakarta: Rineka Cipta.

Arifin, Imron. 1993.Kepemimpinan Kyai, Kasus Pondok Pesantren Tebu Ireng.
         Malang: Kalimasyahada Press.

Arifin,M. 1993.Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum).Jakarta: Bumi
       Aksara.

Daien Indrakusuma, Amir.1973. Pengantar Ilmu Pendidikan.Surabaya: Usaha
       Nasional

Dauly, Haidar Putra. 2001. Historisitas Dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan
       Madrasah.Yogyakarta: Tiara Wacana.

Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam/Direktorat Pendidikan Keagamaan
       Dan Pondok Pesantren.2004.Profil Pondok Pesantren Muaddalah
       .Departemen agama.

Dhofier, Zamakhsyari.1985.Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup
       Kyai. Jakarta: LP3ES.

Ghozali. M Bahri.2002.Pesanren Berwawasan Lingkungan. Jakarta: Prasasti.

Hasbullah.1996.Kapita Selekta Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja
       Grafindo Persada.

Hamalik, Oemar.1983.Metode Belajar dan Kesulian-kesulitan Belajar. Bandung
      Tarsito.

Hadi, Sutrisno. 1973. Metode Research.Yogyakarta: Yayasan Penerbitan fakultas
       Psikologi UGM.

H.ttp,//.www,Webmaster.@ humas depag.or.id.

Moleong, J.Lexy.2002.Metode Penelitian Kualitatif.Bandung: Remaja Rosda
      Karya.

Mastuhu.1994.Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang
      Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.

Pondok Pesantren Dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya.
      2003. Depag RI.
                                                                              89




Proyek Pembinaan Bantuan Kepada Pondok Pesantren Dirjen BINBAGA
Islam.1982/1983. Pedoman Penyelenggaraan Unit Ketrampilan Pondok
       Pesantren. Departemen Agama.

Raharjo, M. Dawam.1985.Pergulatan Dunia Pesantren. Jakarta: P3M.

Ramayulis.1990.Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Saleh, Abdurrahaman dkk.1982. Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren. Depag
        RI.

Sunyoto.1988.Alam Pendidikan Nasional. LP3ES: Pustaka Indonesia.

Sudjana, Nana.1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar.
       Bandung: Sinar Baru.

Sukandarrumidi.2004. Metodologi Penelitian Petunjuk Praktis Untuk Peneliti
      Pemula.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tafsir, Ahmad.1991. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
        Rosda karya.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003.Tentang Sistem
      Pendidikan Nasional.Bandung: Citra Umbara.
                                                                              90




                               DAFTAR TABEL


Tabel 4.1      : Sensus Santri Ma'had Islami Darussalam Sumbersari Pare Kediri.
Tabel 4.2      : Daftar pengajar Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Pare
               Kediri.
Tabel 4.3     : Daftar materi pelajaran di Pondok Pesantren Sumbersari Pare
                Kediri.
Tabel 4.4     : Tentang peran metode Pembelajaran.
Tabel 4.5     : Metode pembelajaran di Pondok Pesantren Sumbersari Pare
               Kediri.
Table 4.6     : Tentang pelaksanaan Metode pembelajaran.
Tabel 4.7     : Metode yang diterapkan di Pondok Pesantren Sumbersari Pare
               Kediri.
Tabel 4.8     : Tentang penerapan metode sorogan.
Tabel 4.9     : Tentang waktu metode sorogan dilaksanakan.
Tabel 4.10    : Tentang guru dalam menggunakan metode sorogan dalam proses
                belajar mengajar.
Tabel 4.11    : Tentang materi yang menggunakan metode sorogan.
Tabel 4 .12   : Tentang pemahaman terhadap materi pelajaran yang
               menggunakan       metode sorogan.
Tabel 4.13    : Kendala-kendala yang harus dihadapi dalam pelaksanaan sorogan.
Tabel 4.14    : Tentang .keberatan dan tidaknya adanya metode sorogan.
Tabel 4.15    : Tentang santri belajar dahulu sebelum memasuki kelas.
Tabel 4.16    : Tentang santri belajar sendiri atau ditemani orang lain.
Tabel 4.17    : Tentang keseriusan dalam mengikuti pelajaran.
Tabel 4.18    : Tentang metode sorogan dalam membantu meningkatkan prestasi.
Tabel 4.19    : Tentang penggunaan metode sorogan dalam meningkatkan nilai.
Tabel 4.20    : Tentang metode sorogan dalam membangkitkan motivasi belajar.
Tabel 4.21    : Tentang metode sorogan dalam meningkatkan minat belajar.
Tabel 4.22    : Tentang metode sorogan dalam memberi manfaat terhadap
               penyampaian materi pelajaran.
Tabel 4.23    : Tentang metode sorogan bermanfaat dalam meningkatkan
               prestasi.
                                                                             91




                            DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1.1 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 1.2 : Surat Balasan Penelitian
Lampiran 1.3 : Bukti Konsultasi
Lampiran 1.4 : Surat Bimbingan Skripsi Mahasiswa
Lampiran 1.5 : Pedoman angket
Lampiran 1.6 : Struktur Kepengurusan
Lampiran 1.7 : Jadwal kegiatan Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri.
Lampiran 1.8 : Tata tertib santri Pondok Pesantren Sumbersari Pare Kediri.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/23/2013
language:Unknown
pages:91
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com