makalah pendidikan_ pengertian dan dasar hukum dan hubungannya dengan pembangunan

Document Sample
makalah pendidikan_ pengertian dan dasar hukum dan hubungannya dengan pembangunan Powered By Docstoc
					                                       BAB I
           PENGERTIAN DAN HUKUM DASAR PENDIDIKAN


       Sesungguhnya yang dimaksud dengan dasar-dasar kependidikan ialah
uraian ringkas asas-asas atau pengantar kependidikan. Uraian ini didasarkan atas
pendekatan yang lebih mendasar dan praktis. Artinya, uraian tentang teori
pendidikan secara teoritis hanya bersifat mendasar sekedar memberikan wawasan
tentang arti, ruang lingkup, fungsi, tujuan dan sistematika atau komponen-
komponen pendidikan.
A. Konsepsi dan Ruang Lingkup Pendidikan
       Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina
kepribadian sesuai dengan nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan
pada hakekatnya ialah usaha manusia melestarikan hidupnya. Sekedar
memperjelas pengertian, berikutini kita kutip beberapa definisi :
1. Tinjauan Etimologis
           Istilah pendidikan ini menurut Carter V. Good dalam "Dictionary of
   Education" dijelaskan sebagai berikut :
   a. Pedagogy (1) Seni, praktek, atau profesi sebagai pengajar (pengajaran)
                 (2) Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan
                    dengan     prinsip-prinsip   dan   metode-metode    mengajar,
                    pengawasan dan bimbingan murid.
   b. Menurut Carter, Education berarti :
                 (1) Proses perkembangan pribadi
                 (2) Proses social
                 (3) Profesional course
                 (4) Seni untuk membuat dan memahami ilmu pengetahuan
                    yang tersusun atau dikembangkan masa lampau oleh tiap
                    generasi bangsa.
2. Menurut buku "Higher Education for American Democracy"
           Pendidikan ialah suatu lembaga dalam tiap-tiap masyarakat yang
   beradap, tetapi tujuan pendidikan tidaklah sama setiap masyarakat.
3. Menurut Prof. Richey dalam buku "Planning for Teaching, an Introduction to
   Education"
          Istilah "pendidikan" berkenaan dengan fungsi yang luas dari
   pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa
   warga masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan
   tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Pendidikan adalah suatu aktivitas
   dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat yang kompleks modern, fungsi
   pendidikan ini mengalami proses spealisasi dan melembaga.
4. Menurut Brubachet dalam bukunya "Modern Philosophies of Education"
          Pendidikan diartikan sebagai proses timbal balik di tiap pribadi
   manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, teman dan dengan alam
   semesta.

B. Hukum-hukum Dasar dalam Pendidikan
          Usaha pendidikan dilakukan manusia berdasar keyakinan tertentu.
   Keyakinan ini didasarkan atas suatu pandangan baik filosofis maupun teoritis
   (ilmiah). Keyakinan ini disebut para ahli sebagai hukum-hukum dasar atau
   teori-teori pendidikan. Teori ini dipandang sebagai ide-ide dalam filsafat
   pendidikan yang meliputi :
   1. Teori (hukum) empirisme
                Ajaran filsafat empirisme yang dipelopori oleh John Locke (1632-
      1704) mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-
      faktor lingkungan terutama pendidikan.
   2. Teori (hukum) nativisme
                Tokoh nativisme ini Arthur Scopenhouer (1788-1860) menganggap
      faktor pembawaan yang bersifat kodrati dari kelahiran, yang tidak dapat
      diubah oleh pengaruh alam sekitar atau pendidikan itulah kepribadian
      manusia. Ajakan nativisme ini dapat dianggap aliran yang pesimistis,
      karena menerima kepribadian sebagaimana adanya, tanpa kepercayaan,
      adanya nilai pendidikan untuk merubah kepribadian.
C. Lembaga-lembaga Pendidikan
         Lembaga-lembaga pendidikan itu meliputi :
  (1) Keluarga atau rumah tangga atau orang tua, sebagaimana wujud kehidupan
     sosial yang asasi, sebagai unit kehidupan bersama manusia terkecil.
  (2) Masyarakat, yakni lingkungan sosial yang ada di sekitar keluarga itu,
     kampug, desa, warga ataupun pulau.
  1. Lembaga keluarga
     Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat terbentuk berdasar
     sukarela dan cinta yang asasi antara subyek manusia (suami-istri)
  2. Lembaga sekolah
     Lembaga ini meneruskan pembinaan yang telah diletakkan dasar-dasarnya
     dalam lingkungan keluarga, sekolah menerima tanggung jawab pendidikan
     berdasarkan kepercayaan keluarga.
  3. Lembaga masyarakat
     Masyarakat dapat diartikan sebagai suatu bentuk tata kehidupan sosial
     dengan tata nilai dan tata budaya sendiri. Masyarakat dalam arti organisasi
     ialah lembaga atau perwujudan pengelola dan kepemimpinan bersama
     (berasas demokrasi).

D. Tanggung Jawab Lembaga-lembaga Pendidikan
  1. Tanggung jawab keluarga
     a. Dorongan/motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua
         dengan anak.
     b. Dorongan/motivasi kewajiban moral sebagai konsekwensi kedudukan
         orang tua terhadap keturunannya.
     c. Tanggung jawab sosial sebagai bagian dari keluarga yang pada
         gilirannya juga menjadi bagian dari masyarakat, bangsa dan negaranya
         bahkan kemanusiaan.
  2. Tanggung jawab sekolah
   a. Tanggung jawab formal kelembagaan sesuai dengan fungsi dan tujuan
      yang ditetapkan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku (UU
      Pendidikan).
   b. Tanggung jawab keilmuan berdasar bentuk, isi, tujuan dan tingkat
      pendidikan yang dipercayakan kepadanya oleh masyarakat dan negara.
   c. Tanggung    jawab   fungsional   ialah tanggung jawab professional
      pengelola dan pelaksana pendidikan yang menerima ketetapan ini
      berdasar ketentuan-ketentuan jabatannya.
3. Tanggung jawab pemerintah
   a. Tanggung    jawab kenegaraan dan kemasyarakatan yang wujudnya
      motivasi untuk melestarikan tegaknya kemerdekaan bangsa dan
      negara.
   b. Tanggung jawab strukturnya kelembagaan yakni sebagai wujud tata
      kelembagaan negara dengan masing-masing aspek dan tanggung
      jawabnya.
                                    BAB II
         ILMU PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN


      Menurut sistemnya ilmu pengetahuan dibedakan sebagai berikut ;
1. Ilmu-ilmu murni berhadapan dengan ilmu pengalaman (empiri). Ilmu-ilmu
   murni berdiri sendiri lepas dari empiri, misalnya matematika.
2. Ilmu-ilmu pengalaman, berdasarkan pengalaman jadi obyeknya ialah gejala
   kehidupan umpamanya : alam, gejala-gejala hidup atau situasi pendidikan.
A. Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu yang Normatif
          Mengapa ilmu pendidikan bersifat normatif ? karena memang ilmu
   pendidikan bercorak normatif. Ilmu pendidikan itu selalu berurusan dengan
   soal siapakah "manusia" itu. Pembahasan mengenai siapakah manusia
   biasanya termasuk bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi. Karena
   pandangan filsafat itu menentukan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh
   seorang pendidik atau suatu bangsa yang melaksanakan pendidikan. nilai yang
   dijunjung tinggi ini dijadikan norma untuk menentukan cirri-ciri manusia yang
   ingin dicapai melalui praktek pendidikan.
          Untuk menjelaskan sistem nilai menjadi norma bagi pendidikan maka
   di bawah ini disajikan beberapa uraian sebagai berikut :
   1. Mengapa di Yunani kuno orang sangat mementingkan tujuan pendidikan
      yaitu pembentukan warga negara yang kuat. Jadi yang utama adalah
      pendidikan jasmani, karena dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang
      sehat (mensana incorporore sano).
   2. Bila kita melihat pada abad 17, 18, dan 19 di Eropa Barat nampak
      pengaruh rasionalisme yang sangat kuat. Mereka memandang manusia
      adalah makhluk berfikir (homo sapien). Orang sangat menjunjung tinggi
      akal, baik akal teoritis dan praktis. Dengan akal manusia menghasilkan
      pengetahuan. Dan dengan pengetahuan manusia dapat berbuat baik dalam
      pengertian sempurna.
          Dengan demikian ilmu pendidikan diarahkan pada perbuatan mendidik
   yang bertujuan. Dan tujuan itu ditentukan oleh nilai yang dijunjung tinggi oleh
   seseorang sedang nilai itu sendiri merupakan ukuran yang bersifat normative
   maka dapat ita tegaskan bahwa ilmu pendidikan masalah ilmu yang bersifat
   normatif.


B. Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu yang Bersifat Teoritis/Praktis
          Pada umumnya ilmu mendidik tidak hanya mencari pengetahuan
   deskriptif tentang obyek didiknya. Jadi dilihat dari maksud dan tujuannya,
   ilmu mendidik boleh disebut ilmu yang praktif, sebab ditujukan kepada
   praktek dan kepada perbuatan yang mempengaruhi anak didik.
          Tetapi dalam ilmu mendidik secara teoritis para cerdik pandai
   mengatur dan mensistemkan di dalam swa pikirnya yang tersusun sebagai pola
   pemikiran pendidikan. pemikiran teoritis ini disusun dalam satu sistem
   pendidikan dan biasanya disebut ilmu mendidik teoritis.
          Para pendidik Genial itu sebenarnya juga menggunakan teorinya
   sendiri. Walaupun teori itu belum disistematiskan, seorang maha guru ilmu
   mendidik Jra Guming pernah berkata : "teori tanpa praktek adalah baik bagi
   kaum cerdik cendikiawan dan praktek tanpa teori hanya terdapat pada orang
   gila dan para penjahat".
   1. Bidang yang menyangkut tujuan pendidikan
               Gambaran manusia bagi bangsa Indonesia ialah manusia Indonesia
      seutuhnya atau manusia Pancasilais. Untuk mewujudkan tujuan itu maka
      melalui pendidikan formal disekolah didirikan berbagai tingkat sekolah.
      Tiap tingkat sekolah mempunyai tujuan tersendiri dalam rangka mencapai
      tujuan nasional. Biasanya rumusan tujuan terdapta dalam kurikulum tiap
      tingkat sekolah dan disebut institusional. Setelah dirumuskan tujuan
      institusional, maka ada tujuan kurikuler. Jabaran tujuan kurikuler itu
      menjadi tujuan instruksional umum.
   2. Anak didik
               Yang terpenting dalam uraian ini ialah pengenalan tentnag anak.
      Bahwa setiap anam mempunyai persamaan tetapi juga perbedaan. Anak itu
      merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Dan ada pada anak itu
   kemungkinan untuk dididik. Sebagai contoh : bagaimana kita dapat
   mempelajari proses pengidentifikasian dari seorang anak pada umur 3
   tahun sampai masa dewasa. Pengelolaan tentang anak sangat diperlukan
   dalam mempelajari ilmu pendiidikan.
3. Pengetahuan tentang diri pendidik sendiri
            Saloman seorang tokoh pendidikan zaman percetakan (aufklarung)
   menuturkan dalam bukunya yang bernama "Buku Kepiting" terlihat suatu
   gambar pada halaman buku seekor induk kepiting dan anaknya yang
   sedang mengikuti induknya. Induk berkata pada anaknya : "Nak, jalan ikut
   ibu", anak menjawab : "Ya, Bu, saya memang mengikuti jalannya Ibu,
   karena ibu berjalan begitu maka saja juga berjalan demikian".
            Dari anecdote ini ini dapat belajar untuk mendidik, bahwa contoh
   si pendidik sangat besar pengaruhnya dalam proses didik. Oleh karena itu
   si pendidikan itu perlu mempunyai pengetahuan tentang dirinya sendiri.
4. Pengetahuan tentang alat pendidikan
            Alat pendidikan adalah segala usaha atau tindakan yang dengan
   sengaja digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Alat pendidikan itu
   sangat perlu dipelajari karena ia merupakan salah satu pembantu proses
   didik.
5. Pengetahuan tentang lingkungan
            Penelitian terhadap lingkungan dan penciptaaan lingkungan yang
   memungkinkan berlangsungnya proses didik adalah satu tugas ilmu
   pendidikan karena lingkungan juga ikut membentuk pribadi anak didik.
                                    BAB III
              DASAR-DASAR FILOSOFIS KEPENDIDIKAN


       Apabila orang tua menyarankan anaknya agar melanjutnya ke IKIP, maka
mereka berharap agar anaknya menjadi seorang guru yang baik. Oleh sebab
pekerjaan guru adalah pekerjaan paling mulya. Sesuai dengan filsafat hidupnya
yang menjunjung tinggi nilai sikap pengabdian, yaitu memberikan pelayanan jasa
pada masyarakat dan kemanusiaan.
       Dengan demikian, setiap tingkah laku manusia selalu didapatkan dan
diwarnai oleh nilai-nilai yang bersumber dari filsafat hidupnya dan selalu
berusaha untuk menanamkan sistem nilai tersebut pada orang lain. Itulah
sebabnya setiap kegiatan mendidik dipandang sebagai kegiatan yang bersifat
normatif, yaitu proses menanamkan norma-norma kehidupan sesuai dengan dan
bersumber pada dasar-dasar filsafat yang dimilikinya.

A. Filsafat sebagai Ilmu dan Metode Berfikir
1. Anekdote ruang kuliah filsafat
   a. Bahwa bahan filsafat memang sebenarnya ada, tetapi daya kemampuan
       berfikir manusia sangat terbatas, sehingga tidak mampu mengadakan
       sambungan pemikiran.
   b. Bahwa bahan filsafat tidak dapat dipahami karena kesalahan dalam cara
       bekerjanya pikiran mahasiswa, sehingga bahan ada tidak ditemukan.
   c. Bahwa mungkin bahannya tidak ada karena hanya hasil spekulasi, tetapi
       mahasiswa percaya bahwa bahan itu ada, sehingga dasarnya bukan
       pengertian   tetapi   kepercayaan,   paradok     bukan,   tetapi   kenyataan
       memberikan bukti betapapun benar kenyataan tentang sesuatu bila tidak
       dilandaskan kepercayaan menjadi tidak benar.
   d. Bahwa bahannya tidak ada, tetapi mahasiswa percaya ada dan benar,
       meskipun salah, dan tidak ada memang.
2. Apakah filsafat dan metode filsafat
   a. Definisi konsepsional filsafat
              J.A. Leighton mendefinisikan filsafat sebagai "a word view, or
       reasoned conception of the whole cosmos, and life view, or doctrine of the
       values, meanings, and purposes of human life". Yang merupakan
       sistematika filsafat yaitu metafisika, ethika, dan logika yang artinya secara
       berturut-turut adalah teori tentang kosmologi dan ontology, tentang nilai
       moral dan ajaran berfikir filosofis, yaitu logika formal aristoteles dan
       logika materiak, instrumental dan logika simbolis dari George Boole dkk.
       Tentang nilai yang disebutkan sebagai ethos, maka definisi filsafat adalah
       "the symbolic expression of culture", sebagai arti suatu konsep tidak
       mungkin berdiri sendiri dan selalu dikaitkan dan berkaitan dengan latar
       belakang.
   b. Definisi analisis operasional
              Filsafat sebagai metode berpikir, salah satu daya jiwa manusia
       yang paling dapat dipercaya dan yang telah menghasilkan ilmu filsafat
       adalah piker dan pikiran, tetapi dikenal berbagai jenis dan tingkat pikir.
              Filsafat sebagai sistem, sejalan dengan filsafat sebagai metode
       berpikir, maka filsafat dalam pengertian sistem terdiri atas tiga aspek yang
       saling berkaitan. Tiga aspek kategori metafisika yang menjawab masalah
       kosmologi dan ontology ethika yang menjawab persoalan nilai agama atau
       tingkah laku dan kategori logika yang menjelaskan sumber, alat dan
       kriteria ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses berpikir logis
       rasional.
              Filsafat sebagai aliran dan atau teori, karena variasi teori tentang
       kategori-kategori sistematika filsafat di atas, menyebabkan tumbuhnya
       bermacam-macam aliran filsafat seperti idealisme, rasionalisme, realisme,
       empirisme, pragmatisme, materialisme, dan eksistensialisme.
3. Bahaya mempelajari filsafat
           Setelah mempelajari sistem-sistem filsafat kita pada kenyataan
   terdapatnya sistem nilai ganda. Artinya dikembangkan baik penegah hukum,
   maupun pelanggar hukum. Dengan kata lain perbedaan antara kedua jenis
   manusia di atas tidak terletak pada tingkah lakunya, tapi ditentukan oleh
   kenyataan sudut tinjaunya.
           Kemudian bahaya kedua adalah deviasi filosofis memberikan akibat
   fatal dalam kenyataan tingkah laku manusia baik sebagai individu atau warga
   negara. Bagi orang idealisme yang absolut seperti Hegel martabat manusia
   hanya terealisir apabila manusia meluluhkan diri pada sang absolut, yang
   transcendental, sedang Max (Marx) berpandangan bahwa manusia dapat
   bergelar manusia selama mereka meluluhkan diri ke dalam organisme negara
   absolut dan materialistis. Tetapi Dewey menentang semua deminasi apapun,
   dia berkeyakinan bahwa manusia pada dasarnya bernilai absolut, artinya
   sangat menjunjung martabat individu.
           Bahaya ketiga adalah dengan selesainya mata kuliah filsafat, manusia
   merasa telah memiliki "jiwa" ilmu filsafat, bahkan mengangkat diriya sebagai
   filosof. Oleh sebab semakin manusia ahli teori ethika tambah tidak ethis
   secara filosofis.


B. Ilmu Filsafat Pendidikan
   1. Ilmu pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif
               Postulat di atas memberikan gambaran bagaimana hubungan antara
       agama, filsafat dan kebudayaan yang dapat dijadikan atau mendasari
       pertimbangan     dalam      merumuskan   pendidikan   dan   tujuan-tujuan
       pendidikan yang secara umum merupakan pokok-pokok masalah dalam
       ilmu filsafat pendidikan.
               Untuk menjelaskan postulat di atas, dapat dibaca pokok-pokok
       pikiran di bawah ini :
       a. Sebagai ilmu pengetahuan normatif, ilmu pendidikan merumuskan
           kaidah-kaidah atau ukuran tingkah laku perbuatan manusia.
   b. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan menanamkan
       norma perbuatan yang didasarkan pada filsafat yang dijunjung oleh
       lembaga pendidikan.
   c. Ilmu pengetahuan yang dapat dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan
       normatif meliputi agama, filsafat dengan segala cabang yaitu
       metafisika, ethika, esthethika dan logika.


2. Mengapa filsafat pendidikan
          Mengapa ilmu filsafat pendidikan harus dipelajari oleh setiap
   guru/pendidik. Pokok-pokok pikiran tersebut adalah sebagai berikut :
   a. Bahwa setiap manusia individu harus bertindak secara sadar dan
       terarah tujuan yang pasti serta atau keputusan batinnya sendiri.
   b. Setiap individu harus bertanggung jawab, termasuk tanggung jawab
       dalam pendidikan yang tinggi rendahnya nilai mutu tanggung jawab
       tersebut akan banyak ditentukan oleh sistem dasar nilai norma yang
       melandasinya.
3. Pendekatan-pendekatan filsafat pendidikan
   a. Pendekatan tradisional
       1) Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah filsafat, sehingga untuk
           mempelajari filsafat pendidik haruslah memiliki pengetahuan dasar
           tentang filsafat.
       2) Bahwa kenyataan yang essensial baik dan benar adalah kenyataan
           yang tetap, kekal dan abadi.
       3) Bahwa nilai norma yang benar adalah yang absolut, universal dan
           obyektif.
   b. Pendekatan progresif
       1) Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah sosiologi, atau filsafat sosial
          humanisme ilmiah yang skeptis terhadap kenyataan yang bersifat
          metafisis transcendental.
       2) Bahwa kenyataan adalah perubahan, artinya kenyataan hidup yang
          esensial adalah kenyataan yang selalu berubah dan berkembang.
4. Nilai manfaat filsafat pendidilan
   a. Bahwa "unexamined life is not worth while living", artinya hidup
       tanpa perenungan adalah suatu kehidupan yang kurang bobot.
   b. Bahwa berbuat salah tetapi tahu atau sadar akan kesahannya, lebih
       baik dari pada berbuat baik tapi tidak tahu letak kebaikannya.
                                   BAB IV
                      DASAR-DASAR SOSIAL PENDIDIKAN


        Dasar-dasar sosial sebagai suatu rumpun masalah pendidikan merupakan
bidang studi sosiologi pendidikan. Nama lain untuk cabang ilmu pengetahuan ini
adalah hubungan sekolah dengan masyarakat, yang melandaskan diri pada dasar
pemikiran bahwa sekolah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
A. Hukum Hubungan Sekolah dan Masyarakat
   1.   Bahwa perubahan lingkungan fisik, sosial, politik, dan ekonomi akan
        menentukan atau membawa perubahan konsepsi manusia tentang
        pendidikan.
   2.   Bahwa perubahan konsepsi manusia tentang kehidupan akan menentukan
        atau merubah konsepsi manusia tentang pendidikan.
   3.   Bahwa perubahan dalam konsepsi dan tujuan merupakan akibat,
        ditentukan oleh atau sebagai suatu usaha perubahan penyesuaian terhadap
        perubahan lingkungan dan tujuan hidup manusia.
           Dengan demikian pendidikan adalah kegiatan sosial dan lembaga
   pendidikan merupakan lembaga sosial, sehingga perubahan sosial di luar
   empat segi tembok gedung sekolah tidak dapat dipisahkan dan selalu
   merupakan sebab dari perubahan penyesuaian di dalam tembok gedung
   sekolah. Perubahan di luar tembok gedung sekolah merupakan akibat atau
   hasil perubahan pengaruh dari perubahan lingkungan fisik, lingkungan sosial,
   lingkungan politik maupun perkembangan industri dalam kehidupan ekonomi
   dalam suatu masyarakat.

B. Beberapa Konsep Pendidikan
   1. Pendidikan adalah kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan,
        sehingga memungkinkan kita dari generasi yang satu kepada yang
        berikutnya.
   2. Pendidikan adalah proses dimana individu diajar sikap setia dan taat
        beragama dengan mana pikiran manusia ditata dan dibina.
   3. Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan di mana individu diberi
      pertolongan untuk mengembangkan kekuatan, bakat kemampuan dan
      minatnya.
   4. Pendidikan      adalah   pembangunan     kembali     pengalaman,    sehingga
      memperkaya arti perbendaharaan pengalaman yang dapat meningkat
      kemampuan dalam menentukan arah tujuan pengalaman selanjutnya.
   5. Pendidikan adalah proses di mana seseorang diberi kesempatan
      menyesuaikan diri terhadap aspek kehidupan lingkungan yang berkaitan
      dengan kehidupan modern, untuk mempersiapkan agar berhasil dalam
      kehidupan orang dewasa.

C. Sumber-sumber Sosial Problema Pendidikan
   1. Faktor-faktor sosial dari kemajuan murid
             Hasil belajar murid, kemajuan atau kemunduran, ditentukan oleh
      beberapa faktor sosial, baik yang terdapat dalam sekolah maupun yang di
      luar sekolah. Faktor kedua adalah keadaan keluarga pelajar, seperti jumlah
      saudara, tingkat status sosial akademis dan ekonomis dan pola pendidikan
      serta sikap orang tua terhadap pendidikan. Fktor ketiga adalah kelompok
      masyarakat yang biasa disebut pergaulan, positif atau negative pengaruh
      yang diberikan oleh kelompok ini terhadap kemajuan anak di sekolah
      banyak kaitannya dengan jenis dan jumlah kegiatan yang dilakukan oleh
      mereka.
  2. Faktor sosial dari kemajuan guru
             Kemajuan      guru   ditentukan    pula     oleh   faktor   bagaimana
      kebijaksanaan dan pemberian tuntunan oleh seorang guru serta relasi
      personalisasi administrative pendidikan dan ini meliputi kelayakan tentang
      pertumbuhan jabatan guru, apakah didasarkan atas masa kerja atau hasil
      karya mereka.
   3. Faktor sosial dari kemajuan sekolah
             Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri yaitu tidak ada 2
      sekolah yang dapat dikatakan sama, oleh sebab itu lingkungan di mana
sekolah didirikan atau berperanan tidak mungkin sama dan tentu
bervariasi. Padahal keadaan sosial pada suatu ketika memberikan
pengaruh yang penting terhadap apa yang terdapat d dalam kelas dan
sekolah.
                                   BAB V
         DASAR-DASAR PSIKOLOGIS DALAM PENDIDIKAN


A. Hukum-hukum Dasar Perkembangan Kejiwaan Manusian
          Sejak proses terjadinya konsepsi sampai mati, anak akan mengalami
   perubahan karena bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan itu bersifat
   jasmaiah maupun kejiwaannya. Proses perubahan itu terjadi secara teratur dan
   terarah, yaitu kea rah kemajuan bukan kemunduran. Pertumbuhan merupakan
   peralihan tingkah laku atau fungsi kejiwaan dari yang rendah ke tingkat yang
   lebih tinggi. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang hukum-hukum
   dasar perkembangan kejiwaan manusia agar tindakan pendidikan yang
   dilaksanakan berhasil guna dan berdaya guna. Adapun hukum dasar yang
   perlu kita perhatikan dalam membimbing anak dalam proses pendidikan.
   1. Bahwa tiap-tiap anak itu memiliki sifat kepribadian yang unik, artinya
      anak memiliki sifat khas yang dimiliki dirinya sendiri dan tidak dimiliki
      anak lain.
   2. Bahwa tiap-tiap anak itu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Mereka
      memiliki potensi-potensi yang berbeda dan bervariasi meskipun mereka
      mempunyai usia kalender yang sama, tetapi kemampuan mentalnya tidak
      sama.

B. Proses Pendidikan Autoaktifitas
          Manusia merupakan makhluk yang aktif, di dalam diri seseorang
   terdapat kekuatan yang menjadi daya penggerak yang disebut motivasi. Proses
   pendidikan adalah salah satu aktivitas manusia. Fungsi motivasi dalam proses
   pendidikan adalah membangkitkan dorongan untuk melakukan aktivitas
   pendidikan.

C. Pendidikan, Pengajaran, Perubahan Tingkah Laku
          Pendidikan   merupakan     proses   belajar   mengajar   yang   dapat
   menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Hasil pendidikan
yang berupa perubahan tingkah laku meliputi bentuk kemampuan yang
menurut taksonomi Bloom diklasifikasikan dalam 3 domain :
1. Kemampuan kognitif, yang termasuk dalam kemampuan ini adalah
   mampu mengingat apa yang dipelajari, mampu menangkap makna dari
   yang dipelajari, mampu menggunakan hal yang sudah dipelajari, mampu
   merinci hal yang dipelajari supaya struktur, organisasinya dapat
   dimengerti, mampu mengumpulkan bagian-bagian untuk membentuk
   kesatuan baru dan mampu menentukan nilai yang dipelajari untuk tujuan
   tertentu   (mengetahuan,      memahami,    mengetrapkan,    mengalisis,
   mensistesis, mengevaluasi).
2. Kemampuan afektif, yang termasuk dalam kemampuan ini antara lain :
   a. Menerima : kesediaan untuk memperhatikan
   b. Menanggapi : aktif berpartisipasi
   c. Menghargai : penghargaan kepada benda, gejala, perbuatan tertentu
   d. Membentuk : memadukan nilai-nilai yang berbeda menjadi nilai yang
      bersifat konsisten
   e. Berpribadi : mempunyai nilai untuk mengendalikan perbuatan.
3. Kemampuan psikomitor, yang termasuk kategori ini adalah kemampuan
   menyangkut kegiatan otot (fisik) secara singkat dapat dikatakan, bahwa
   kemampuan psikomotor ini menyangkut kegiatan fisik yang meliputi
   kegiatn melempar, menekuk, mengangkat, berlari dan sebagainya.
                                     BAB VI
                  KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP


       Pendidikan adalah lembaga dari usaha pembangunan bangsa dan watak
bangsa. Pendidikan yang demikian mencakup ruang lingkup yang amat
komprehensif, yakni pendidikan kemampuan, mental, piker, kepribadian manusia
seutuhnya.
       Konsepsi pendidikan seumur hidup (life long education) mulai
dimasyarakat melalui kebijakan negara (Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO
Ketetapan MPR No. IV/MPR/1978, tantang GBHN) yang menetapkan prinsip-
prinsi pembangunan nasional.

A. Pendidikan Manusia Seutuhnya
             Teori ilmu jiwa mengajarkan bahwa kepribadian manusia merupakan
   satu kebulatan antara potensi-potensi lahir bathin bahkan juga jasmani dan
   penampilannya. Kepribadian manusia ialah suatu perwujudan keseluruhan
   bagi manusianya yang unik, lahir batih dan dalam antar hubungannya dengan
   kehidupan sosial dan individualnya. Pengertian demikian tersirat dalam
   ungkapan "ia tidak mempunyai kepribadian". Padahal istilah dan konsepsi
   kepribadian, hanyalah suatu konsep kejiwaan yang belum diberikan
   persyarakatan dan predikat apapun.
             Membahas   pendidikan   manusia    seutuhnya,   sebenarnya   adalah
   menganalisa secara konsepsional (teoritis dan praktis) apa dan bagaimana
   perwujudan manusia seutuhnya. Konsepsi tradisional, seutuhnya (kebulatan)
   dimaksud ialah kebulatan atau integrasi antara aspek jasmaniah dengan
   rohaniah, antara akal dengan keterampilan.

B. Dasar-dasar, Tujuan dan Implikasinya
   1. Dasar-dasar
       a. Dasar-dasar filosofis
               Bahwa sesungguhnya secara filosofis (filsafat manusia)
      hakekat kodrat martabat manusia merupakan kesatuan kesatuan
      integral potensi-potensi.
   b. Dasar-dasar psikofisis
               Dasar-dasra     psikofisi   adalah   dasar-dasar   kejiwaan   dan
      kejasmanian manusia. Realitas psikofisis manusia menunjukkan bahwa
      pribadi merupakan kesatuan antara beberapa potensi-potensi.
   c. Dasar-dasar sosio budaya
               Segi-segi sosio budaya bangsa ini mencakup :
      (1) Tata, nilai warisan budaya bangsa yang menjadi filsafat hidup
            rakyatnya seperti nilai ketuhanan, kekeluargaan, musyawarah,
            mufakat, gotong royong, teposeliro.
      (2) Nilai-nilai filsafat negaranya yaitu Pancasila
      (3) Nilai-nilai budaya dan tradisinya seperti bahasa nasional, adat-
            istiadat, unsure-unsur seni.
      (4) Tata kelembagaan dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan
            baik formal ataupun non formal.
2. Tujuan
   a. Untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan
      kodrat dan hakekatnya yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal
      mungkin.
   b. Dengan       mengingat      proses   pertumbuhan     dan    perkembangan
      kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis, maka pendidkan
      wajar berlangsung selama hidup.
3. Implikasi
   a. Pengertian implikasi
               Ialah akibat langsung atau konsekwensi dari suatu keputusan,
      jadi sesuatu yang merupakan tindak lanjut dari suatu kebijakan atau
      keputusan.
   b. Segi-segi implikasi dari konsepsi pendidikan manusia seutuhnya dan
      seumur hidup.
   1) Manusia seutuhnya sebagai obyek didik atau sasaran didik
   2) Proses berlangsungnya pendidikan, yakni seumur hidup manusia
c. Isi yang didirikan :
   1) Mengembangkan potensi jasmani dan panca indra
   2) Mengembangkan potensi fakir (rasional)
   3) Mengembangkan potensi perasaan
   4) Penyaluran potensi karsa (kemauan keras) dengan sikap raji belajar
   5) Mengembangkan potensi cipta dengan menghidupkan daya
       kreasi/imajinasi
   6) Mengembangkan potensi karya
   7) Mengembangkan budi nurani
       Dengan mengembangkan ketujuh potensi itu dengan sikap hidup
dan isi pendidikan yang secara mendasar, maka pendidikan manusia
seutuhnya itu secara teoritis konseptual telah memadai, sekolah dan
masyarakat bahkan tanggung jawab individu manusia Indonesia.
                                   BAB VII
            FUNGSI SEKOLAH SEBAGAI LEMBAGA SOSIAL


A. Pranata Sosial dalam Masyarakat
           Di dalam setiap masyarakat baik sederhana maupun kompleks,
   terbelakang maupun maju, padanya pasti terdapat pranata-pranata sosial
   (social institution). Dalam hubungan ini, paling tidak mesti terdapt 5 macam
   pranata sosial, yaitu :
   (1) Pranata pendidikan
   (2) Pranata Ekonomi
   (3) Pranata Politik
   (4) Pranata Teknologi dan
   (5) Pranata Moral atau ethika

B. Sekolah sebagai Pusat Pendidikan Formal
           Sekolah lahir dan berkembang dari pemikiran efisiensi dan efektifitas
   di dalam pemberian pendidikan kepada warga masyarakat, artinya sekolah
   merupakan perangkat masyarakat yang diserahi kewajiban pemberian
   pendidikan. sekolah merupakan lembaga sosial, formal yang terikat kepada
   tata aturan formal berprogram dan bertarget atau bersasaran yang jelas serta
   memiliki struktur kepemimpinan penyelenggaraan atau pengelolaan yang pasti
   dan murni.

C. Hubungan Sekolah dan Masyarakat
           Hubungan antara sekolah dan masyarakat, paling tidak bisa dilihat di
   dua segi, yaitu :
   (1) Sekolah sebagai partner dari masyarakat dalam melaksanakan fungsi
       pendidikan
   (2) Sekolah sebagai produser yang melayani peranan-peranan pendidikan dari
       masyarakat
           Dilihat dari sudut pandang pertama, berarti kedua-duanya dilihat
   sehingga pusat pendidikan yang potensial. Kemudian apabila dilihat dari sudut
pandang kedua, yaitu sekolah sebagai produser disatu pihak dengan
masyarakat sehingga pemesan (konsumen) dipihak lain, berarti keduanya
memiliki ikatan hubungan rasional berdasarkan kebutuhan dikedua belah
pihak.
                                     BAB VIII
MASYARAKAT SEBAGAI SALAH SATU LINGKUNGAN PENDIDIKAN


       Masyarakat mempunyai pengaruhnya yang besar terhadap berlangsungnya
segala kegiatan yang menyangkut masalah pendidikan. Dilihat dari materi yang
diharap, baik pendidikan yang bersifat informal maupun non formal berisikan
generasi muda yang akan meneruskan kehidupan masyarakat itu sendiri. Oleh
karena itu bahan yang diberikan harus disesuaikan dengan keadaan dan tuntutan
masyarakat. Ada beberapa hal yang erat hubungannya dengan pendidikan di
antaranya.

A. Nilai-nilai Sosio Budaya Bangsa
             Pendidikan tidak akan lepas dari nilai-nilai kebudayaan yang dijunjung
   oleh semua lapisan masyarakat bangsa itu. Nilai-nilai itu senantiasa
   berkembang yang harus diikuti oleh pendidikan agar tidak ketinggalan zaman.
   Perubahan itu biasanya menunjukkan berbagai kemajuan dalam kehidupan
   masyarakat yang menyangkut masalah sosial ekonomi, politik dan
   kebudayaan.

B. Kesadaran Aspirasi Pandangan Hidup dan Cita-cita Nasional
             Pandangan hidup dapat diartikan sebagai pedoman kearah mana kita
   kerjakan. Tanpa adanya pandangan hidup bangsa akan mudah terpengaruhi
   oleh bermacam-macam tantangan yang dihadapi, sebagaimana sebuah kapal
   yang berlayar di tengah lautan dengan gelombang yang dahsyat sedang isinya
   hanya para pengungsi yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang
   pelayaran.
             Di samping pandangan hidup seperti yang telah diuraikan di atas,
   masalah berikutnya yang penting adalah cita-cita nasional. Kehidupan mesti
   dibarengi dengan adanya cita-cita yang hendak dicapai cita-cita dapat
   menimbulkan gairah untuk berjalan dalam menyelesaikan pekerjaan yang
   memerlukan tenaga dan pikiran.
C. Dinameka Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Ekonomi
            Perkembangan    ilmu   pengetahuan   menyebabkan     perkembangan
   teknologi, dan perkembangan teknologi menyebabkan perkembangan di
   bidang ekonomi. Berkat pemberian Tuhan kepada manusia yang berupa akal
   dan pikiran manusia terus maju tanpa hentinya. Kegiatan manusia untuk
   mengetahui segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah perintah Tuhan dan
   bahkan Tuhan menyatakan bahwa orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya
   disbanding dengan orang yang tidak berilmu.
            Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan
   dikembangkan pula berbagai metode mengajar yang sesuai lebih efektif dan
   efisien. Materi pelajaran pun dikembangkan karena telah banyak perubahan
   yang terjadi dan ditemukan yang lebih mendalam sebagai                   akibat
   diperkembangan teknologi, sebagai contoh, berkat hasil penelitian bulan,
   penyakit, planet-planet,    maka   berkembanglah    materi   pelajaran    yang
   berhubungan dengan hal-hal di atas.
            Ilmu pendidikan sendiri telah banyak mendapatkan manfaat dari hasil
   perkembangan teknologi dengan dimanfaatkannya alat-alat Bantu dalam
   proses belajar mengajar. Penemuan tentang audio visual aid (AVA) telah
   banyak membantu guru dalam memberikan pengalaman belajar pada anak
   didik.
                                    BAB IX
        PENGARUH TIMBAL BALIK ANTARA SEKOLAH DAN
                                MASYARAKAT


A. Pengaruh Sekolah terhadap Masyarakat
          Pengaruh sekolah terhadap masyarakat tergantung kepada luas
   tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri. Semakin luas
   sebaran produk sekolah, lebih-lebih bila diikuti dengan tingkatan kualitas yang
   memadai, tentu produk pesekolahan tersebut membawa pengaruh positif dan
   berarti bagi perkembangan masyarakat.
          Berikut ini akan dikemukakan empat macam pengaruh yang bisa
   dimainkan oleh pendidikan terhadap perkembangan masyarakat. Keempat
   pengaruh tersebut adalah :
   (1) Menderdaskan kehidupan masyarakat
   (2) Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat
   (3) Melahirkan warga masyarakat yang siap dan dibekali bagi kepentingan
      karya
   (4) Melahirkan sikap-sikap positif dan konstruktif bagi warga masyarakat
   Pengaruh Pertama
          Tingkat kecerdasan masyarakat, dapat dikembangkan melalui program
   pendidikan. Baca-tulis hitung dan juga pengetahuan umum merupakan
   pengetahuan dasar dalam rangka mencerdaskan kehidupan masyarakat.
   Tingkatan kecerdasan warga masyarakat sangat menentukan ketetapan dan
   kecepatan penyelesaian atau menanggulangi aneka ragam masalah dan
   tantagan kehidupan yang dihadapinya.
   Pengaruh Kedua
          Pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi di satu pihak, dan
   masalah-masalah kehidupan yang tidak ada henti-hentinya di lain pihak, kedua
   kenyataan tersebut memotori lahrnya pemikiran-pemikiran dan praktek-
   praktek baru yang inovatif. Program pendidikan disamping menjamin upaya
   peningkatan kecerdasan, juga mengupayakan transformasi dari pengetahuan,
   pemikiran dan praktek-praktek baru. Isi atau arah program pendidikan bisa
   disebut sebagai transformasi virus-virus pembaharuan yang pada akhirnya
   berfungsi dan menjalar di tengah-tengah masyarakat.
   Pengaruh Ketiga
          Seseorang memerlukan kesiapan tertentu yang diperlukan lapangan
   kerja. Fungsi penyiapan bagi kepentingan dunia kerja, dalam kenyataannya
   tak terlepas dari perhatian lembaga pendidikan sekolah. Berfungsinya lembaga
   pendidikan   formal    di   dalam   memberikan     bekal-bekal    pengetahuan,
   keterampilan dan sikap-sikap yang relevan lagi dunia kerja, hal tersebut secara
   langsung terhadap lapangan kerja di masyarakat.
   Pengaruh Keempat
          Sikap-sikap positif dan konstruktif yang diperlukan dalam kehidupan
   masyarakat memang tanggung jawab dari pada lembaga pendidikan. orientasi
   tesebut senantiasa menjadi perhatian lembaga pendidikan formal.

B. Pengaruh Masyarahat terhadap Sekolah
          Identitas yang dimiliki dari dinameka suatu masyarakat, secara
   langsung akan berpengaruh terhadap tujuan, orientasi dan proses pendidikan
   di sekolah. Pengaruh masyarakat terhadap :
   (1)   Orientasi dan tujuan pendidikan, indentitas suatu masyarakat dan
         dinamikanya, senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan
         tujuan pendidikan, karena program pendidikan di persekolahan harus
         dibawa yang biasanya tercermin dalam kurikulum dalam kenyataannya
         selalu terjadi perubahan-perubahan dalam suatu jangka waktu tertentu.
         Munculnya orientasi dan tujuan baru yang berkembang dalam
         masyarakat, hal tersebut bergema di sekolah baik di lihat dari kacamata
         makro maupun mikro.
   (2)   Proses pendidikan di sekolah, bagaimana berlangsungnya proses
         pendidikan di sekolah juga tidak terlepas dari pengaruh masyarakat yaitu
         pengaruh sosial budaya dan partisipasinya. Pengaruh sosial budaya yang
         dimaksud biasanya tercermin dalam proses belajar mengajar baik yang
menyangkut pada aktivitas pendidik maupun anak didik di dalam proses
pendidikan. Katakanlah sekarang dikembangkan Cara Belajar Siswa
Aktif (CBSA), implementasinya akan banyak diwarnai oleh nilai sosial
budaya. Nilai sosial budaya yang mempribadi bisa jadi menghambat
atau mendukung terhadap proses pendidikan. oleh karena itu usaha-
usaha pembaharuan terhadap proses pendidikan di sekolah mau tidak
mau mesti mempertimbangkan pula pengaruh sosial budaya dari
masyarakat lingkungannya.
                                      BAB X
         PERKEMBANGAN DAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN


A.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perubahan dan Pembaharuan
      Pendidikan
     1. Pandangan terhadap pendidikan
               Pada hakekatnya pendidikan sejajar dengan usia manusia sendiri.
        Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan harus dididik akan
        tumbuh menjadi manusia dewasa dengan proses pendidikan yang
        dialaminya. Sejak kelahirannya manusia memiliki potensi dasar yang
        universal, berupa :
        (1) Kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan buruk (moral
           identity)
        (2) Kemampuan dam kebebasan memperkembangkan diri sesuai dengan
           cita-citanya (individual identity)
        (3) Kemampuan untuk berhubungan dan kerja sama dengan orang lain
           (social identity)
               Tanpa pendidikan anak tidak akan menjadi "manusia" dalam arti
        yang sesungguhnya. Dengan upaya pendidikan potensi dasar universal
        anak akan tumbuh dan membentuk diri anak yang unik. Sesuai dengan
        pembawaan, lingkungan budaya, dan zamannya. Tujuan pendidikan
        diabdikan untuk kebahagiaan individu, keselamatan masyarakat, dan
        kepentingan negara.
               Pada waktu akhir-akhir ini pemerintah kita dan negara-negara
        anggota perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) telah
        bangkit dan menyadari, bahwa pembangunan bangsa di bidang yang lain,
        industri, pertanian, perdagangan, politik, pertahanan, semua tergantung
        pada tenaga manusia yang terampil yang dapat dikembangkan dengan
        pendidikan yang tepat pada waktunya.
2. Pertambahan penduduk
            Penduduk dunia berkembang dengan cepat. Penduduk dunia pada
   tahun 1985 akan berjumlah dua kali lipat penduduk dunia tahun 1970.
   besarnya perubahan itu bervariasi dari setiap tempat. Namun rata-rata
   mencapai 30 persen. Perkembangan penduduk yang cepat akan
   menimbulkan landasan jumlah anak usia sekolah dan peningkatan
   kebutuhan dasar serta sumber-sumber pendidikan. Pertumbuhan penduduk
   yang cepat berarti pula memerlukan pertambahan jumlah sekolah dan
   kebutuhan untuk penyelenggaraan pendidikan lainnya.
            Pertambahan penduduk yang cepat menimbulkan akibat yang luas
   terhadap segala segi kehidupan masyarakat termasuk dalam segi
   pendidikan. Masalah-masalah pendidikan dapat dibedakan sebagai
   masalah kekurangan kesempatan belajar, rendahnya mutu pendidikan,
   ketidaksesuaian antara pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan
   masalah efisiensi serta efektifitas pelaksanaan pendidikan.
            Cara pemecahan masalah pendidikan biasa dilakukan, misalnya
   dengan     menambah     jumlah   sekolah,   meningkatkan      fasilitas   yang
   diperlukan untuk mempertinggi mutu pendidikan yang dilakukan,
   mengutamakan pendidikan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan
   tenaga kerja, pelayanan administrasi dan supervise pendidikan.
3. Perkembangan ilmu pengetahuan
            Tanggapan yang biasa dilakukan dalam kependidikan terhadap
   perkembangan ilmu ialah dengan memasukkan penemuan dan teori baru
   ke dalam kurikulum sekolah, kebiasaan memasukkan penemuan dan teori
   baru ke dalam kurikulum sekolah juga menyebabkan adanya kurikulum
   yang sarat dengan masalah-masalah baru.
            Implikasi dari fungsi sekolah seperti tersebut dahulu, maka sekolah
   tidak harus memasukkan penemuan dan teori-teori baru dalam kehidupan
   yang kompleks ini ke dalam kurikulumnya, melainkan harus mengajak
   siswa-siswi bagaimana belajar dan memecahkan masalah dalam kehidupan
   mereka.
     4. Tuntutan adanya proses pendidikan yang relevan
                Adanya proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dan
        masalah yang dihadapi sangat diperlukan mengingat akan keterbatasan
        dana pendidikan.

B.    Tujuan Pembaharuan Pendidikan
             Kehidupan manusia selalu mengalami perubahan dan kebutuhan
      meningkat sesuai engan perkembangannya. Peranan pendidikan dan tingkat
      perkembangan       manusia    merupakan     faktor    dominant     terhadap
      kemampuannya untuk menanggapi masalah kehidupan sehari-hari. Setiap
      masalah pendidikan berkaitan erat dengan segi kehidupan yang lain.
      Masalahnya setiap bersifat kompleks, sesuai dengan kehidupan masyarakat.
      Seberapa besar keterikatan suatu masalah pendidikan dengan masalah
      ekonomi atau masalah sosial lain. Secara sederhana masalah pendidikan
      dapat dikelompokkan ke dalam empat jenis, yaitu :
      (1) Masalah pemerataan
      (2) Masalah mutu
      (3) Masalah efektivitas dan relevansi dan
      (4) Masalah efisiensi

C.    Masalah-masalah sebagai Dinamika Hidup
             Sirkulasi perubahan sosial yang merupakan lingkaran masalah, usaha
      pemenuhan masalah baru dan usaha baru, ini harus diterima sebab sesuai
      dengan dinamika kehidupan manusia. Reaksi berantai dalam masyarakat
      yang berupa strukturasi destruktrurasi-restrukturasi kembali dan seterusnya,
      akan berulang kembali dan memerlukan keikutsertaan manusia secara
      bertanggung jawab untuk membimbing dan menyelaraskannya dengan
      tujuan hidup yang tepat.
                                     BAB XI
        HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN PEMBANGUNAN


A. Titik Temu Pendidikan dan Pembangunan
          Imanuel   Kant    menyatakan,     bahwa   menjadi     manusia        karena
   pendidikan. karena pendidikan selalu berupaya membawa tugas suci dan
   mulia bagi manusia dan kemanusiaan. Dalam khazanah ilmu pendidikan
   disebutkan,   bahwa     tegas   mulia    pendidikan    terletak    pada     upaya
   mengembangkan aspek-aspek pribadi manusia baik yang jasmaniah maupun
   yang rohaniah. Dengan demikian hakikat pendidikan adalah upaya
   memasiakan manusia dan membudayakan manusia, sehingga mampu
   mencipta, berkarya, membudi dan membaik bagi kehidupan ekosferisnya
   (kebulatan diri dan lingkungannya).
          Sedangkan istilah pembangunan sering diartikan pembangunan
   ekonomi dan industrialisasi karena sebagian besar negara-negara di dunia
   memusatkan diri pada pembangunan ekonomi dan industrialisasi yang
   dianggap sebagai kuda pacuan yang dapat diandalkan lari secepatnya dalam
   mencapai ekonomi itu sendiri. Tetapi pembangunan itu sendiri adalah upaya
   dari suatu masyarakat, bangsa atau negara dalam menyesuaikan diri terhadap
   tantangan dan kebutuhan yang dihadapinya.
          Essensi sebuah usaha pembangunan tidak terletak pada terwujudnya
   industrialisasi dan layunya pertumbuhan ekonomi dalam skala nasional atau
   regional. Tetapi pada teratasinya masalah dan terpenuhnya hajat hidup baik
   biologis maupun rohaniah masyarakat. Ini berarti, bahwa usaha pembangunan
   bertitik pangkal pada kepentingan manusia. Karena itu hasil akhirnya pun
   diukur berdasarkan kebaikan perbaikan mutu hidup manusianya.

B. Sumbangan Pendidikan terhadap Pembangunan
          Kemampuan      jasmaniah    dan   rohaniah     manusia     dibenuk     oleh
   pendidikan dengan pemberian pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai serta
   sikap-sikap tertentu. Dengan demikian pendidikan dalam maknany yang luas
   senantiasa   menstimulir     dan   menyertai      perubahan-perubahan    dan
   perkembangan umat manusia. Stimulasi dan penyertaan upaya pendidikan
   terhadap usaha pembangunan jelas diperlukan dan diharapkan. Banyak contoh
   konkrit seperti di negara bagian Carribes Amerika Serikat bahwa stimulasi dan
   penyertaan upaya pendidikan memberikan hasil yang memuaskan di dalam
   menghadapi persoalan-persoalan hajat hidup masyarakat.
          Dalam hubungannya di bidang politik, usaha pendidikan berfungsi
   mempersiapkan rakyat menjadi bagian politik, sehingga menyadari hak dan
   kewajibannya masing-masing dalam kehidupan demokrasi. Di pandang dari
   sudut sosial budaya, pendidikan dapat diharapkan bantuannya untuk
   membimbing rakyat. Mengasuh rakyat dan memberikan bantuan pada rakyat,
   agar lebih sempurna dan kaya secara rohaniah. Makato Aso dan Ikuo Amono
   menjelaskan, bahwa pembaharuan menyeluruh di Jepang adalah purna
   investasi pendidikan.

C. Pendidikan yang Relevan dengan Pembangunan
          Pendidikan yang relevan dengan pembangunan, berarti mempunyai
   tingkat keterhubungan yang tinggi antara bekal pendidikan yang diberikan
   pada seseorang, masyarakat atau bangsa. Ini berarti, bahwa pendidikan yang
   relevan dengan pembangunan dituntut untuk mengabdi pada kepentingan
   nasional, regional, lokal sampai pada kelompok kecil berupa keluarga.
          Dunia modern sekarang mengalami perubahan dan perkembangan
   yang cepat. Perubahan dan perkembangan yang cepat tersebut memerlukan
   penyesuaian pengetahuan, keterampilan dari seseorang yang menghadapi
   tantangan dan hajat hidup baru.
          Uraian di atas mempertegas orientasi yang perlu dijadikan titik tolak
   ukur mengembangkan pendidikan yang relevan dengan pembangunan. Karena
   pendidikan dituntut untuk lari cepat, sehingga memungkinkan seseorang atau
   masyarakat menyesuaikan diri secara berhasil di dalam perubahan dan
   perkembangan dunia kini serta yang akan datang.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/23/2013
language:Malay
pages:32
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com