Docstoc

Draft Ustek Penyusunan DaRu Perbatasan Darat NTT

Document Sample
Draft Ustek Penyusunan DaRu Perbatasan Darat NTT Powered By Docstoc
					D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




                                  KATA PENGANTAR

 Dokumen Usulan Teknis (USTEK) Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka
 Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi Nusa Tenggara Timur
 (NTT) ini disusun sebagai bagian dari dokumen penawaran calon Penyedia Jasa (Konsultan)
 dalam rangkaian proses lelang yang dilaksanakan oleh Pengguna Jasa. Dokumen USTEK ini
 disusun berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang diterima oleh Konsultan dari Panitia
 Penyedia Barang dan Jasa, serta beberapa data dan informasi awal yang telah
 diinventarisasi oleh Konsultan.

 Dalam dokumen USTEK ini akan dijabarkan mengenai (1) Pendahuluan, (2)introduksi
 jatidiri Konsultan, termasuk profil perusahaan dan pengalaman melaksanakan pekerjaan
 sejenis dalam waktu 10 tahun terakhir; (3) berbagai hal substansial yang merupakan
 pemahaman konsultan terhadap substansi pekerjaan, termasuk pemahaman dan tanggapan
 terhadap KAK, apresiasi inovasi secara substansial, serta pendekatan dan metodologi;
 serta (4) berbagai hal yang bersifat teknis administratif, seperti rencana kerja, jadual
 pelaksanaan pekerjaan, penjabaran tenaga ahli dan personil, serta sistematika pelaporan.

 Melalui dokumen USTEK ini, diharapkan Pengguna Jasa melalui Panitia Penyedia Barang
 dan Jasa dapat melakukan penilaian terhadap kualitas Konsultan sebagai calon Penyedia
 Jasa, termasuk pemahaman terhadap substansi pekerjaan, efisiensi dan efektifitas
 pendekatan dan metodologi yang digunakan, komposisi tenaga ahli, serta kesiapan teknis
 lainnya. Dari penilaian kualitatif ini, pada akhirnya diharapkan dapat dihasilkan kajian
 substansial yang terbaik sesuai dengan sasaran yang diharapkan.

 Akhirnya konsultan mengucapkan terima kasih atas segala saran, komentar dan masukan
 yang diberikan untuk penyempurnaan dokumen ini. Besar harapan kami untuk dapat
 bekerja sama dengan Pengguna Jasa untuk menghasilkan Data Keruangan dalam Rangka
 Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi Nusa Tenggara Timur
 (NTT).



                                                                                                 Jakarta, Juni 2011


                                                                                              PT. GEOJAYA TEHNIK

    PT. ....                                                                                                          i
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




                                       DAFTAR ISI


 KATA PENGANTAR ...................................................................... i
 DAFTAR ISI .............................................................................. ii


 BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................. 1-1
    1.1. LATAR BELAKANG .................................................................... 1-2
    1.2. MAKSUD DAN TUJUAN ............................................................... 1-4
       1.2.1. Maksud............................................................................ 1-4
       1.2.2. Tujuan ............................................................................ 1-4
    1.3. SASARAN .............................................................................. 1-4
    1.4. RUANG LINGKUP ..................................................................... 1-4
       1.4.1. Lingkup Materi .................................................................. 1-4
       1.4.2. Lingkup Lokasi Kegiatan ....................................................... 1-6
    1.5. KELUARAN............................................................................. 1-6


 BAB 2. PROFIL DAN PENGALAMAN PERUSAHAAN ............................. 2-1
    2.1. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN ................................................... 2-2
    2.2. LINGKUP LAYANAN JASA KONSULTANSI ........................................... 2-2
    2.3. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN ............................................. 2-2
    2.4. DAFTAR PENGALAMAN PERUSAHAAN SELAMA 10 TAHUN TERAKHIR .......... 2-2


 BAB 3. PEMAHAMAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA ................. 3-1
    3.1. PEMAHAMAN TERHADAP LATAR BELAKANG ....................................... 3-2
    3.2. PEMAHAMAN TERHADAP MAKSUD DAN TUJUAN, SERTA SASARAN
          KEGIATAN ............................................................................. 3-3

    PT. ....                                                                                                          ii
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


       3.2.1. Pemahaman terhadap Maksud dan Tujuan Kegiatan ......................... 3-3
       3.2.2. Pemahaman terhadap Sasaran Kegiatan ....................................... 3-3
    3.3. PEMAHAMAN TERHADAP LINGKUP KEGIATAN .................................... 3-4
    3.4. PEMAHAMAN TERHADAP LINGKUP LOKASI KEGIATAN ........................... 3-5
    3.5. PEMAHAMAN TERHADAP KELUARAN ............................................... 3-5


 BAB 4. TANGGAPAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA ................. 4-1
    4.1. TANGGAPAN UMUM .................................................................. 4-2
    4.2. TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP PEKERJAAN ................................... 4-3
    4.3. TANGGAPAN TERHADAP KELUARAN ............................................... 4-4
    4.4. TANGGAPAN TERHADAP KEBUTUHAN TENAGA AHLI ............................ 4-4
    4.5. TANGGAPAN TERHADAP JANGKA WAKTU PELAKSANAAN ....................... 4-5
    4.7. TANGGAPAN TERHADAP POLA PENANGANAN PEKERJAAN ...................... 4-5


 BAB 5. APRESIASI INOVASI ......................................................... 5-1
    5.1. PENGERTIAN TERKAIT PENATAAN RUANG ........................................ 5-2
    5.2. TINJAUAN KEBIJAKAN ............................................................... 5-3
       5.2.1. Peraturan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 1 Tahun
               2011 Tentang Desain Besar Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan
               Kawasan Perbatasan Tahun 2011 - 2025 ..................................... 5-3
       5.2.2. Peraturan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 2 Tahun
               2011 Tentang Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan
               Kawasan Perbatasan Tahun 2011 - 2014 ..................................... 5-4
       5.2.3. Peraturan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 3 Tahun
               2011 Tentang Rencana Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan
               Kawasan Perbatasan Tahun 2011 ............................................. 5-5
    5.3. ARAHAN PENATAAN RUANG MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 26 TAHUN
          2007 .................................................................................... 5-6
       5.3.1. Hal Pokok Yang Diatur Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 ...... 5-6
       5.3.2. Strategi Umum dan Strategi Implementasi Penyelenggaraan
               Penataan Ruang ................................................................. 5-7
       5.3.3. Penyelenggaraan Penataan Ruang............................................ 5-8
       5.3.4. Hirarki dan Jenis Rencana Tata Ruang....................................... 5-9

    PT. ....                                                                                                         iii
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


    5.4. STANDAR PELAYANAN MINIMAL ................................................... 5-13
    5.5. KONSEP KETERPADUAN INFRASTRUKTUR ........................................ 5-16
    5.6. KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN ....................................... 5-26
       5.6.1. Definisi dan Pengertian Pembangunan Berkelanjutan .................... 5-26
       5.6.2. Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan .............................. 5-26
       5.6.3. Lingkup dan Komponen Pembangunan Berkelanjutan .................... 5-27
       5.6.4. Pembangunan Berbasis Kelanjutan Ekologi ................................ 5-29
    5.7. PERENCANAAN BERBASIS ECO-REGION ........................................... 5-31
    5.8. KONSEP KAWASAN HEMAT ENERGI ................................................ 5-33
    5.9. PROFIL KAWASAN PERBATASAN NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) .............. 5-39


 BAB 6. PENDEKATAN DAN METODOLOGI ........................................ 6-1
    6.1. PENDEKATAN STUDI.................................................................. 6-2
       6.1.1. Pendekatan Perencanaan ...................................................... 6-2
       6.1.2. Pendekatan Kebijakan (Sinkronisasi Kebijakan) ............................ 6-4
       6.1.3. Pendekatan Wilayah ............................................................ 6-4
         6.1.3.1. Pendekatan Pengembangan Wilayah .............................................6-4
         6.1.3.2. Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis–Proaktif . 6-11
       6.1.4. Pendekatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar ................................. 6-12
       6.1.5. Pendekatan Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi ................. 6-13
       6.1.6. Pendekatan Konservasi Lingkungan ......................................... 6-14
       6.1.7. Pendekatan Sosial Budaya .................................................... 6-14
       6.1.8 Pendekatan Pelaku Pembangunan ........................................... 6-15
       6.1.9. Pendekatan Partisipasi Masyarakat ......................................... 6-16
       6.1.10. Pendekatan Kelembagaan (Instansional) .................................. 6-17
       6.1.12. Pendekatan Mitigasi Bencana ............................................... 6-18
       6.1.13. Pendekatan Keberlanjutan .................................................. 6-18
    6.2. METODOLOGI ........................................................................ 6-20
       6.2.1. Metodologi Kerja ............................................................... 6-20
       6.2.2. Metodologi Pengumpulan Data dan Informasi Keruangan ................ 6-22
         6.2.2.1. Pemahaman Umum Mengenai Pengumpulan Data dan Informasi
                 Keruangan ............................................................................ 6-22
         6.2.2.2. Metode Pengumpulan Data dan Informasi .................................... 6-22


    PT. ....                                                                                                          iv
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


         6.2.2.3. Rekapitulasi Data dan Informasi Keruangan .................................. 6-23
       6.2.3. Metodologi Kompilasi Data dan Informasi Keruangan .................... 6-25
       6.2.4. Metodologi Penyiapan Peta................................................... 6-26
       6.2.5. Metodologi Analisa ............................................................. 6-32
         6.2.5.1. Analisa Permasalahan dan Potensi Kawasan Perbatasan .................... 6-32
         6.2.5.2. Analisa Kependudukan ........................................................... 6-38
         6.2.5.3. Analisis Kegiatan Kawasan....................................................... 6-42
         6.2.5.4. Analisis Intensitas Penggunaan Lahan ......................................... 6-45
         6.2.5.5. Analisa Kemampuan Lahan ...................................................... 6-46
         6.2.5.6. Analisa Alokasi Ruang Lindung dan Budidaya ................................. 6-50
         6.2.5.7. Analisa Kesesuaian Lahan........................................................ 6-51
         6.2.5.8. Analisa Transportasi .............................................................. 6-59
         6.2.5.9. Analisa Penanganan Kawasan Perbatasan ..................................... 6-62
         6.2.5.10. Analisa Prioritas Penanganan .................................................. 6-66
         6.2.5.11. Analisa Kelembagaan ........................................................... 6-67
       6.2.6. Metodologi Focused Group Discussion (FGD) dan Workshop ............. 6-68


 BAB 7. RENCANA KERJA KONSULTAN............................................ 7-1
    7.1. TAHAPAN PENDAHULUAN ........................................................... 7-2
       7.1.1. Koordinasi Tim .................................................................. 7-2
       7.1.2. Pemahaman KAK dan Studi Pustaka .......................................... 7-2
       7.1.3. Pemantapan Metodologi dan Rencana Kerja sertaJadual Kerja.......... 7-2
       7.1.4. Studi Literatur dan Kajian Awal .............................................. 7-3
       7.1.5. Diskusi dan Koordinasi dengan Pemberi Tugas ............................. 7-4
       7.1.6. Penyusunan dan Pembahasan Laporan Pendahuluan ...................... 7-4
    7.2. TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI KERUANGAN ................. 7-4
       7.2.1. Persiapan Pengumpulan Data dan Informasi di Pusat dan Daerah ....... 7-4
       7.2.2. Pelaksanaan Pengumpulan Data dan Informasi ............................. 7-5
    7.3. TAHAP KOMPILASI, ANALISIS, DAN PENYUSUNAN KONSEP DATA
          KERUANGAN........................................................................... 7-5
       7.3.1. Kompilasi Data dan Informasi Keruangan ................................... 7-5
       7.3.2. Analisis Data dan Informasi Keruangan ...................................... 7-6
       7.3.3. Penyusunan dan Pembahasan Laporan Antara .............................. 7-6
       7.3.4. Penyusunan Konsep Data dan Informasi Keruangan ....................... 7-6

    PT. ....                                                                                                          v
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


       7.3.5. Penyiapan dan Pelaksanaan FGD di Nusa Tenggara Timur (NTT) ........ 7-6
       7.3.6. Penyusunan dan Pembahasan Draf Laporan Akhir ......................... 7-7
    7.4. TAHAP FINALISASI .................................................................... 7-7
       7.4.1. Penyempurnaan Konsep Data dan Informasi Keruangan .................. 7-7
       7.4.2. Penyusunan Rekomendasi Tindak Lanjut .................................... 7-7
       7.4.3. Finalisasi Draf Laporan Akhir menjadi Laporan Akhir ..................... 7-7


 BAB 8. JADUAL PELAKSANAAN PEKERJAAN .................................... 8-1


 BAB 9. TENAGA AHLI DAN TANGGUNG JAWABNYA ........................... 9-1
    9.1. KEBUTUHAN TENAGA AHLI .......................................................... 9-2
    9.2. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB TENAGA AHLI ................................... 9-2
    9.4. KUALIFIKASI TENAGA AHLI .......................................................... 9-5
    9.5. RIWAYAT HIDUP (CURRICULUM VITAE) TENAGA AHLI ........................... 9-7


 BAB 10. JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI................................. 10-1


 BAB 11. ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN ........................... 11-1
    11.1. POLA HUBUNGAN KERJA .......................................................... 11-2
    11.2. MEKANISME PELAKSANAAN PEKERJAAN ......................................... 11-3
    11.3. ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN ........................................ 11-4


 BAB 12. PELAPORAN .............................................................. 12-1
    12.1. PENTAHAPAN SUBSTANSIAL SETIAP PELAPORAN .............................. 12-2
    12.2. WAKTU PELAPORAN ............................................................... 12-4


 BAB 13. STAF PENDUKUNG ..................................................... 13-1
    13.1. KEBUTUHAN TENAGA PENUNJANG .............................................. 13-2
    13.2. KUALIFIKASI TENAGA PENUNJANG .............................................. 13-2
    13.3. JADUAL PENUGASAN TENAGA PENUNJANG .................................... 13-3




    PT. ....                                                                                                         vi
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 BAB 14. FASILITAS PENDUKUNG ................................................ 14-1
    14.1. FASILITAS YANG DIMILIKI PENYEDIA JASA ...................................... 14-2
       14.1.1. Fasilitas Ruang Kantor ....................................................... 14-2
       14.1.2. Fasilitas Transportasi ........................................................ 14-2
    14.2. FASILITAS UNTUK PENYELESAIAN PEKERJAAN ................................. 14-2


 BAB 15. PENUTUP ................................................................ 15-1




    PT. ....                                                                                                         vii
   BAB 1.
PENDAHULUAN




ABSTRAK
Pendahuluan secara umum berisi uraian Kerangka Acuan Kerja, yang
meliputi Latar Belakang Kegiatan, Tujuan dan Sasaran Kegiatan,
Lingkup dan Sifat Kegiatan, serta Indikator Kinerja Kegiatan.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 1.1. LATAR BELAKANG
 Peraturan Presiden RI No.12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan,
 Pasal 3, menyatakan bahwa BNPP mempunyai tugas menetapkan kebijakan program
 pembangunan perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan
 pelaksanaan, dan melaksanakan evaluasi dan pengawasan terhadap pengelolaan Batas
 Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan.

 Dalam pengelolaan batas serta penyelesaian persoalan pengelolaan batas Wilayah Negara
 dan Kawasan Perbatasan, BNPP telah menyusun Desain Besar, Rencana Induk, dan Rencana
 Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan, yang telah ditetapkan
 dalam:

      1. Peraturan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan No.1 Tahun 2011 tentang
          Desain Besar Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun
          2011-2025
      2. Peraturan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan No.2 Tahun 2011 tentang
          Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun
          2011-2014
      3. Peraturan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan No.3 Tahun 2011 tentang
          Rencana Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun
          2011.

 Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, terkait pengelolaan batas Wilayah Negara
 dan Kawasan Perbatasan, BNPP selain harus mengacu kepada Desain Besar, Rencana Induk,
 dan Rencana Aksi sebagaimana ditetapkan, juga harus mengacu pada Undang-undang
 No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, berikut peraturan perundangan terkait
 penataan ruang lainnya, seperti PP No.26 Tahun 2008 tentang RTRWN, PP No.15 Tahun
 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, dan Rancangan Peraturan Presiden
 tentang RTRW Kawasan Perbatasan. Hal tersebut memberi indikasi bahwa pengelolaan
 batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan harus mengacu pada penyelenggaraan
 penataan ruang, sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan. Terkait dengan
 hal tersebut, Permendagri No.31 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat
 Tetap BNPP Pasal 92, menyatakan bahwa BNPP menyelenggarakan fungsi: a) penyiapan
 penyusunan dan perumusan rencana induk dan rencana aksi serta pengoordinasian
 penyusunan kebijakan penataan ruang kawasan perbatasan; b) penyiapan pelaksanaan
 koordinasi penyusunan anggaran penataan ruang kawasan perbatasan; dan c) penyiapan,
 pengendalian, pengawasan, evaluasi dan pelaporan penataan ruang Kawasan Perbatasan.

    PT. ....                                                                                                        1-2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 Dalam Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun
 2011-2014, telah ditetapkan lokasi prioritas (Lokpri) meliputi 111 kecamatan perbatasan,
 baik perbatasan darat maupun laut. Penetapan ini adalah dalam rangka memberikan arah
 dan fokus pengelolaan. Pengelolaan Lokpri sebagaimana amanat peraturan perundangan,
 harus didasarkan pada rencana tata ruang Lokpri terkait, utamanya dalam kegiatan
 penyelenggaraan pemanfaatan ruang, karena pelaksanaan pembangunan Lokpri berada
 dalam kerangka kegiatan pemanfaatan ruang. Lebih lanjut, pembangunan Lokpri sesuai
 dengan arahan RTRW yang ada, dalam kerangka pemanfaatan ruang, tidak dapat berjalan
 tanpa didukung adanya data dan informasi keruangan yang detail dan lengkap.
 Pemanfaatan ruang Lokpri akan terhambat, serta investasi sulit masuk, baik investasi
 pemerintah maupun keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan Lokpri.

 Dalam Peraturan Pemerintah RI No.15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
 Ruang disebutkan bahwa dalam rangka pemanfaatan ruang, maka pelaksanaan program
 pemanfaatan ruang harus memperhatikan: a) standar kualitas lingkungan, b) aspek
 kelayakan ekonomi dan finansial, c) aspek kelayakan teknis, dan d) standar pelayanan
 minimal. Lima aspek tersebut hanya dapat dipenuhi apabila tersedia data yang
 komprehensif, mutakhir, dan mudah diakses.

 Hingga saat ini, upaya untuk memperbaharui dan memperinci data dan informasi
 perbatasan yang berkaitan dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan belum
 terintegrasi, sehingga data dan informasinya masih bersifat parsial, tidak kontinyu, serta
 tersebar di beberapa institusi. Selain itu, studi mengenai daya saing kawasan perbatasan
 sebagai sumber dan penyerap kegiatan ekonomi belum dilakukan secara komprehensif.
 Oleh karena itu, upaya untuk mensinergikan dan mengintegrasikan data dan informasi
 perbatasan yang akurat dan aktual sangat diperlukan. Hal ini akan menjadi dasar dalam
 penyusunan program pemanfaatan ruang, yang juga merupakan implementasi dari
 Peraturan Presiden tentang RTRW Kawasan Perbatasan.

 Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah harus membangun data dan informasi
 keruangan yang detail dan lengkap mengenai lokasi prioritas Kawasan Perbatasan Negara,
 dalam rangka mendukung implementasi RTR, Rencana Induk, serta Rencana Aksi di Lokpri
 terkait. Hasil dari kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi
 penentuan landasan kebijakan pengelolaan potensi perbatasan di Indonesia.




    PT. ....                                                                                                        1-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

 1.2.1. Maksud
 Maksud dilakukannya kegiatan ini adalah untuk menghasilkan data dan informasi
 keruangan kawasan perbatasan darat terkini, sebagai bahan pertimbangan Pemerintah
 dalam menyusun kebijakan, rencana, dan program-program pemanfaatan ruang dan
 pengelolaan potensi kawasan perbatasan, serta sebagai dukungan bagi implementasi RTR,
 Rencana Induk, dan Rencana Aksi terkait.


 1.2.2. Tujuan
 Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah menginventarisasi data dan informasi
 keruangan lokasi prioritas di Kawasan Perbatasan Darat di Provinsi Nusa Tenggara Timur
 (NTT).




 1.3. SASARAN
 Sasaran dari kegiatan ini adalah:

      1. Tersedianya data dan informasi kualitas lingkungan dan fisik dasar
      2. Tersedianya data pertanahan
      3. Tersedianya data dan informasi sistem demografi, sosial budaya kemasyarakatan
      4. Tersedianya data dan informasi kegiatan ekonomi lokal
      5. Tersedianya data dan informasi interaksi kawasan perbatasan dengan negara
          tetangga
      6. Tersedianya data dan informasi sarana dan prasarana dasar.




 1.4. RUANG LINGKUP

 1.4.1. Lingkup Materi
 Lingkup materi pada kegiatan ini adalah sebagai berikut:

      1. Tinjauan kebijakan yang terkait dengan penataan ruang Kawasan Perbatasan Darat
          di Nusa Tenggara Timur (NTT), utamanya Desain Besar, Rencana Induk, Rencana
          Aksi, dan Rencana Tata Ruang terkait lokasi prioritas.
      2. Tinjauan kebijakan sektoral (nasional, provinsi, dan kabupaten), yang terkait
          dengan pemanfaatan ruang lokasi prioritas.


    PT. ....                                                                                                        1-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      3. Analisis kebutuhan data dan informasi keruangan untuk mendukung implementasi
          rencana kebijakan pembangunan dan tata ruang lokasi prioritas terkait.
      4. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait kualitas lingkungan dan fisik
          dasar lokasi prioritas, meliputi:
               a. Daya Dukung Lahan
               b. Pola Tutupan Lahan
               c. Resiko Bencana dan Kerentanan Perubahan Iklim
      5. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait pertanahan, meliputi:
               a. Status Tanah
               b. Kepemilikan Tanah
               c. Harga dan Nilai Tanah
               d. Informasi Agraria lainnya
      6. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait sistem demografi, sosial budaya
          kemasyarakatan lokasi prioritas, meliputi:
               a. Struktur Kependudukan
               b. Sistem Sosial
               c. Pasar Tenaga Kerja
               d. Tingkat Pendapatan Penduduk Rata-rata
      7. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait kegiatan ekonomi lokal, meliputi:
               a. Interaksi ekonomi masyarakat setempat
               b. Interaksi ekonomi masyarakat dengan negara tetangga
               c. Data ekonomi makro
               d. Komoditi unggulan setempat
               e. Harga bahan makanan pokok
               f. Harga bahan material bangunan
      8. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait interaksi kawasan perbatasan
          dengan negara tetangga, meliputi:
               a. Hubungan dagang
               b. Hubungan sosial
               c. Sistem Perdagangan yang berlaku
      9. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait sarana dan prasarana dasar lokasi
          prioritas, meliputi:
               a. Jumlah, jenis, dan sebaran umum dan sosial
               b. Kualitas pelayanan prasarana dasar.




    PT. ....                                                                                                        1-5
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 1.4.2. Lingkup Lokasi Kegiatan
 Kegiatan ini berada dalam lingkup Kawasan Perbatasan Negara di Kawasan Perbatasan
 Darat Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan fokus pada lokasi prioritas Insana Utara.




 1.5. KELUARAN
 Keluaran dari pekerjaan ini adalah:

      1. Dokumen Informasi Keruangan Lokasi Prioritas (Lokpri) yang detail dan lengkap
      2. Peta sebaran data dan informasi keruangan di wilayah Lokpri.




    PT. ....                                                                                                        1-6
              BAB 2.
PROFIL DAN PENGALAMAN PERUSAHAAN




         ABSTRAK
         Bab ini secara umum berisi penjelasan mengenai Profil Perusahaan
         yang meliputi Latar Belakang Perusahaan, Lingkup Layanan Jasa,
         Program Pengembangan Profesionalisme, dan Struktur Organisasi
         Perusahaan, dan penjelasana mengenai pengalaman calon Penyedia
         Jasa dalam melaksanakan pekerjaan sejenis, terutama pengalaman
         dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir yang dijadikan dasar
         penilaian kemampuan calon Penyedia Jasa dalam mengerjakan
         kegiatan ini.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 2.1. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN
 .....




 2.2. LINGKUP LAYANAN JASA KONSULTANSI
 .....




 2.3. STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN
 Struktur Organisasi PT. ..... dapat dilihat pada Gambar 2.1.

                                Gambar 2.1. Struktur Organisasi PT. .....




                                  Sumber: Berkas Administrasi Perusahaan, 2011




 2.4. DAFTAR PENGALAMAN PERUSAHAAN SELAMA 10 TAHUN
          TERAKHIR
 Daftar Pengalaman Perusahaan PT. ....., sebagai calon Penyedia Jasa dalam Kegiatan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), selama kurun waktu 10 (sepuluh)
 tahun terakhir dari tahun 2001 sampai 2010, yang mencakup jumlah orang bulan yang
 terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan, waktu pelaksanaan, uraian pekerjaan, nilai kontrak
 dan instansi pengguna jasa dapat dilihat pada Lampiran Daftar Pengalaman Perusahaan
 selama Kurun Waktu 10 (Sepuluh) Tahun Terakhir.

 Sebagai kelengkapan penunjang, Daftar Pengalaman Perusahaan tersebut didukung dengan
 lampiran referensi atau Surat Perjanjian Kerja dan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan.




    PT. .....                                                                                                          2-2
           BAB 3.
PEMAHAMAN TERHADAP KERANGKA
        ACUAN KERJA




       ABSTRAK
       Bab ini secara umum berisi penjelasan mengenai pemahaman calon
       Penyedia Jasa mengenai berbagai hal penting seperti yang telah
       dijabarkan pada KAK, seperti pemahaman terhadap latar belakang;
       maksud dan tujuan; sasaran; nama dan organisasi pengguna jasa;
       sumber pendanaan; lingkup, lokasi kegiatan, data dan fasilitas
       penunjang   serta   alih   pengetahuan;   metodologi;   jangka   waktu
       pelaksanaan; tenaga ahli yang dibutuhkan; keluaran; serta pelaporan.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 3.1. PEMAHAMAN TERHADAP LATAR BELAKANG
 Berdasarkan pemahaman Konsultan, terdapat beberapa poin penting yang menjadi kerangka
 latar belakang kegiatan, yaitu:

      1. Peraturan Presiden RI No.12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola
          Perbatasan, menjelaskan tugas dari BNPP adalah menetapkan kebijakan program
          pembangunan            perbatasan,       menetapkan             rencana          kebutuhan           anggaran,
          mengoordinasikan pelaksanaan, dan melaksanakan evaluasi dan pengawasan
          terhadap pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan
          Salah satu dasar dalam penetapan kebijakan program pembangunan perbatasan
          adalah data keruangan kawasan perbatasan termasuk hasil analisis dan rencana di
          dalamnya. Dengan demikian inventarisasi data keruangan kawasan perbatasan
          menjadi penting untuk dilakukan.
      2. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya BNPP selain harus mengacu kepada
          Desain Besar, Rencana Induk, dan Rencana Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara
          dan Kawasan Perbatasan juga harus mengacu pada kebijakan terkait penataan
          ruang. Berdasarkan kebijakan penataan ruang, kegiatan perencanaan tata ruang
          sebagai bagian dari penataan ruang, membutuhkan data keruangan, termasuk
          hasil analisis dan rencana di dalamnya.
      3. Dalam Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan
          Tahun 2011-2014, telah ditetapkan lokasi prioritas (Lokpri) meliputi 111 kecamatan
          perbatasan, baik perbatasan darat maupun laut. Penetapan ini adalah dalam
          rangka memberikan arah dan fokus pengelolaan. Pengelolaan Lokpri harus
          didasarkan pada rencana tata ruang Lokpri terkait. Sementara pembangunan
          Lokpri sesuai dengan arahan RTRW yang ada, dalam kerangka pemanfaatan ruang,
          tidak dapat berjalan tanpa didukung adanya data dan informasi keruangan yang
          detail dan lengkap.
      4. Dalam Peraturan Pemerintah RI No.15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
          Penataan Ruang disebutkan bahwa pelaksanaan program pemanfaatan ruang harus
          memperhatikan: a) standar kualitas lingkungan, b) aspek kelayakan ekonomi dan
          finansial, c) aspek kelayakan teknis, dan d) standar pelayanan minimal, yang hanya
          dapat dipenuhi apabila tersedia data yang komprehensif, mutakhir, dan mudah
          diakses.
      5. Hingga saat ini, upaya memperbaharui dan memperinci data dan informasi
          perbatasan yang berkaitan dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan belum


    PT. ....                                                                                                         3-2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          terintegrasi, sehingga data dan informasinya masih bersifat parsial, tidak
          kontinyu, serta tersebar di beberapa institusi. Selain itu, studi mengenai daya
          saing kawasan perbatasan sebagai sumber dan penyerap kegiatan ekonomi belum
          dilakukan secara komprehensif. Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah
          harus membangun data dan informasi keruangan yang detail dan lengkap
          mengenai       lokasi       prioritas    Kawasan         Perbatasan          Negara,         melalui       kegiatan
          Penyusunan        Data      Keruangan        dalam        Rangka        Pemanfaatan            Ruang       Kawasan
          Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas (Lokpri) Provinsi Nusa Tenggara Timur
          (NTT).




 3.2. PEMAHAMAN TERHADAP MAKSUD DAN TUJUAN, SERTA
          SASARAN KEGIATAN

 3.2.1. Pemahaman terhadap Maksud dan Tujuan Kegiatan
 Sebagaimana diuraikan dalam KAK, maksud dari kegiatan ini adalah untuk menghasilkan
 data dan informasi keruangan kawasan perbatasan darat terkini, sebagai bahan
 pertimbangan Pemerintah dalam menyusun kebijakan, rencana, dan program-program
 pemanfaatan ruang dan pengelolaan potensi kawasan perbatasan, serta sebagai dukungan
 bagi implementasi RTR, Rencana Induk, dan Rencana Aksi terkait, khususnya Kawasan
 Perbatasan Darat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk mencapai maksud
 tersebut dilakukan kegiatan Penyusunan Data Keruangan, yang tujuannya adalah
 menginventarisasi data dan informasi keruangan lokasi prioritas di Kawasan Perbatasan
 Darat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

 3.2.2. Pemahaman terhadap Sasaran Kegiatan
 Sebagaimana diuraikan dalam KAK, sasaran dari kegiatan ini adalah Sasaran dari kegiatan
 ini adalah mengumpulkan memperbaharui dan memperinci data dan informasi perbatasan
 yang berkaitan dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang mencakup:

      1. data dan informasi kualitas lingkungan dan fisik dasar
      2. data pertanahan
      3. data dan informasi sistem demografi, sosial budaya kemasyarakatan
      4. data dan informasi kegiatan ekonomi lokal
      5. data dan informasi interaksi kawasan perbatasan dengan negara tetangga
      6. data dan informasi sarana dan prasarana dasar.




    PT. ....                                                                                                             3-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 3.3. PEMAHAMAN TERHADAP LINGKUP KEGIATAN
 Konsultan memahami bahwa lingkup kegiatan yang diuraikan dalam KAK sudah cukup jelas
 dalam memberikan panduan bagi konsultan, untuk melakukan tahapan kegiatan, guna
 mencapai maksud, tujuan, dan sasaran kegiatan yang ditetapkan.

 Terkait dengan lingkup kegiatan ini, konsultan membaginya ke dalam beberapa tahapan, yaitu:

      1. Tahap Pendahuluan, yang melipuiti kegiatan:
               a. Tinjauan       kebijakan     yang      terkait       dengan        penataan         ruang       Kawasan
                   Perbatasan Darat di Nusa Tenggara Timur (NTT), utamanya Desain Besar,
                   Rencana Induk, Rencana Aksi, dan Rencana Tata Ruang terkait lokasi
                   prioritas.
               b. Tinjauan kebijakan sektoral (nasional, provinsi, dan kabupaten), yang
                   terkait dengan pemanfaatan ruang lokasi prioritas.
      2. Tahap Pengumpulan Data, yang meliputi kegiatan:
               a. Analisis kebutuhan data dan informasi keruangan untuk mendukung
                   implementasi rencana kebijakan pembangunan dan tata ruang lokasi
                   prioritas terkait.
               b. Inventarisasi data dan informasi keruangan melalui survei primer dan
                   sekunder.
      3. Tahap Kompilasi, Analisis, dan Penyusunan Konsep Data Keruangan, yang
          meliputi kegiatan:
               a. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait kualitas lingkungan dan
                   fisik dasar lokasi prioritas
               b. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait pertanahan
               c. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait sistem demografi, sosial
                   budaya kemasyarakatan lokasi prioritas
               d. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait kegiatan ekonomi lokal
               e. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait interaksi kawasan
                   perbatasan dengan negara tetangga
               f. Penyusunan data dan informasi keruangan terkait sarana dan prasarana
                   dasar lokasi prioritas.




    PT. ....                                                                                                          3-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 3.4. PEMAHAMAN TERHADAP LINGKUP LOKASI KEGIATAN
 Konsultan memahami bahwa lingkup lokasi kegiatan ini adalah Kawasan Perbatasan Negara di
 Kawasan Perbatasan Darat Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan fokus pada lokasi prioritas
 Insana Utara. Lokasi kegiatan sendiri masuk dalam 111 kecamatan perbatasan prioritas,
 dalam Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun
 2011-2014.,




 3.5. PEMAHAMAN TERHADAP KELUARAN
 Konsultan memahami bahwa keluaran dari kegiatan ini terdiri dari dua bentuk, yaitu:

      1. Dokumen Informasi Keruangan Lokasi Prioritas (Lokpri) yang detail dan lengkap,
          mencakup hasil kompilasi, analisis dan konsep data keruangan terkait: kualitas
          lingkungan dan fisik dasar, pertanahan, sistem demografi, sosial budaya
          kemasyarakatan, ekonomi lokal, dan interaksi kawasan perbatasan dengan negara
          tetangga
      2. Peta sebaran data dan informasi keruangan di wilayah Lokpri, yang merupakan
          hasil olahan peta/overlay dari berbagai peta dasar, yang menjelaskan hasil
          kompilasi, analisis dan konsep data keruangan.




    PT. ....                                                                                                        3-5
           BAB 4.
TANGGAPAN TERHADAP KERANGKA
        ACUAN KERJA




       ABSTRAK
       Bab ini secara umum berisi mengenai tanggapan calon Penyedia Jasa
       mengenai berbagai hal penting dalam KAK yang kurang tepat atau
       kurang detail untuk diluruskan, dilengkapi, dijabarkan lebih lanjut
       dan dikaitkan satu hal dengan hal lainnya. Beberapa hal yang dapat
       ditanggapi dari KAK antara lain seperti tanggapan terhadap latar
       belakang; lingkup kegiatan; lokasi kegiatan; metodologi; jangka waktu
       pelaksanaan; tenaga ahli yang dibutuhkan; keluaran; serta pelaporan.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 4.1. TANGGAPAN UMUM
 Pada dasarnya Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang diberikan telah menjabarkan uraian tugas
 dengan jelas, namun untuk menghindarkan kesalah pahaman antara pengguna jasa dan
 penyedia jasa yang akan melaksanakan pekerjaan ini, maka berikut ini konsultan akan
 menyesuaikan serta menginterpretasikan uraian tugas yang meliputi: latar belakang,
 maksud, tujuan dan sasaran, lingkup pekerjaan, metodologi, keluaran dan kesimpulan
 dari Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan
 Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

 Beberapa tanggapan umum terhadap kerangka acuan kerja yang terkait dengan
 penyusunan usulan teknis yaitu:

      1. Kerangka Acuan Kerja yang disusun telah memberikan uraian yang lengkap, jelas,
          dan sistematis atas substansi yang akan dilaksanakan.
      2. Penyusunan dokumen Usulan Teknis ini diharapkan dapat menjelaskan arahan-
          arahan yang terdapat dalam kerangka acuan kerja dalam bentuk operasionalisasi
          yang mencakup metode pencapaian sasaran yang ditetapkan dalam kerangka acuan
          kerja. Operasional tersebut paling tidak dapat mencakup hal-hal yang berkaitan
          dengan:
             1) Identifikasi rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan oleh konsultan selama
                 waktu penugasan,
             2) Perumusan kegiatan di atas kedalam tahapan kegiatan serta kebutuhan waktu
                 pelaksanaannya,
             3) Pengaturan peran dan tanggung jawab kelompok setiap personil terkait
                 dengan peran dan tugasnya.
             4) Penurunan alokasi waktu yang dibutuhkan setiap personil terkait dengan
                 peran dan tugasnya.

 Berdasarkan Kerangka Acuan Kerja tersebut, maka konsultan juga diharapkan dapat lebih
 mudah mempelajarinya agar dapat memberikan tanggapan, baik yang berkaitan dengan
 penyusunan bab-bab selanjutnya, maupun berupa masukan-masukan dari materi yang
 terkait untuk lebih mengoptimalkan penugasan konsultan sesuai dengan yang diharapkan
 oleh pemberi tugas seperti terlihat pada gambar berikut ini.




    PT. .....                                                                                                       4-2
 D engan E N U S U L A N T E K N I S
   OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT



                                       Diagram 4.1 Kerangka Isi Usulan Teknis


                                                                         Rencana
                                                                       jadwal kerja


                                                               Peran dan tugas tenaga ahli
Perubahan dan tanggapan
terhadap Kerangka Acuan            Metogologi                                                                   Prasarana
         Kerja                     Pendekatan                                                                   pendukung
                                                                          Alokasi                              pelaksanaan
                                                                        Tenaga ahli                             pekerjaan



                                                                         Struktur
                                                                      organisasi kerja




  4.2. TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP PEKERJAAN
  Lingkup Pekerjaan yang dibutuhkan untuk penyelesaian Kegiatan Penyusunan Data
  Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
  Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diminta dan diarahkan dalam KAK pada
  dasarnya sudah cukup jelas, di mana dalam penjelasan tersebut dijabarkan hal-hal penting
  yang harus dilakukan konsultan dalam penyelesaian pekerjaan ini. Namun hal-hal tersebut
  merupakan batas minimal yang diharapkan oleh Pengguna Jasa untuk disediakan oleh
  Penyedia Jasa.

  Dengan dasar penjelasan tersebut, konsultan akan mengusulkan Lingkup Kegiatan dan
  Lingkup Substansial yang merupakan dasar pelaksanaan penyelesaian kegiatan studi ini.
  Selain itu, konsultan juga akan mengembangkan penjelasan mengenai Lingkup Kegiatan
  dan Lingkup Substansial yang merupakan penjabaran dari substansi (teori) kajian yang
  akan diselesaikan serta kegiatan (langkah) kajian yang akan dilakukan, yang kesemuanya
  merupakan inti (Core) dari Usulan Teknis ini.

  Penjelasan mengenai Lingkup Substansial dan Lingkup Kegiatan Penyusunan Data
  Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
  Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini selengkapnya dapat dilihat pada Bab 6.
  Pendekatan dan Metodologi




     PT. .....                                                                                                           4-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 4.3. TANGGAPAN TERHADAP KELUARAN
 Keluaran Pekerjaan yang diminta dan diarahkan dalam KAK pada dasarnya sudah cukup
 jelas, namun Keluaran Pekerjaan yang dijelaskan dan dijabarkan hanya bersifat umum dan
 global.

 Tanggapan konsultan atas penjelasan Keluaran Pekerjaan tersebut adalah penjabaran
 keluaran kegiatan perlu dikaitkan dengan Maksud (Purpose), Tujuan (Objective) dan
 Sasaran (Goals) sehingga hal-hal yang diharapkan dalam Keluaran Pekerjaan dapat lebih
 kaya dan detail serta mencerminkan ketiga hal tersebut dan lebih mempertajam koridor
 arahan pekerjaan.

 Atas dasar itulah, konsultan akan mengembangkan dan menjabarkan keluaran Kegiatan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini yang dikaitkan dengan:

      a. Maksud, tujuan dan sasaran
      b. Metodologi dan Pendekatan
      c. Lingkup Kegiatan Penyelesaian Pekerjaan
      d. Sistimatika Pemenggalan Substansi terhadap Pelaporan

 Penjelasan mengenai Keluaran Pekerjaan selengkapnya dapat dilihat pada Bab 12. Sistem
 Pelaporan.




 4.4. TANGGAPAN TERHADAP KEBUTUHAN TENAGA AHLI
 Tenaga Ahli yang dibutuhkan untuk Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka
 Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa
 Tenggara Timur (NTT) yang diminta dan diarahkan dalam KAK pada dasarnya sudah cukup
 jelas, di mana dalam penjelasan tersebut dijabarkan kebutuhan Tenaga Ahli yang
 merupakan batas minimal yang diharapkan oleh Pengguna Jasa untuk disediakan oleh
 Penyedia Jasa.

 Dengan dasar penjelasan tersebut, konsultan akan mengusulkan Tenaga Ahli yang akan
 digunakan untuk melaksanakan dan menyelesaikan kegiatan studi ini. Selain itu, konsultan
 juga akan mengembangkan penjelasan mengenai tenaga ahli mulai dari kualifikasi masing-
 masing individu yang diusulkan, peran dan tanggung jawabnya, serta kontribusinya
 terhadap substansi dan tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh konsultan dalam
 penyelesaian pekerjaan ini.




    PT. .....                                                                                                       4-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 Penjelasan       mengenai       Tenaga      Ahli     serta      Peran       dan      Tanggung         Jawabnya          serta
 penerapanannya dalam waktu pelaksanaan pekerjaan untuk Kegiatan Penyusunan Data
 Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selengkapnya dapat dilihat pada Bab 9.
 Tenaga Ahli dan Tangung Jawabnya.




 4.5. TANGGAPAN TERHADAP JANGKA WAKTU PELAKSANAAN
 Jangka Waktu yang dijelaskan dan diarahkan dalam KAK pada dasarnya sudah cukup jelas,
 namun dalam penjelasan tersebut jangka waktu pelaksanaan yang dijelaskan dan
 diarahkan hanya bersifat batasan (limitasi) saja.

 Atas dasar itulah, konsultan akan menggunakan dan menjabarkan jangka waktu
 pelaksanaan yang diberikan untuk menyelesaikan Kegiatan Penyusunan Masukan Teknis
 Pemberian Bantuan Rumah Tapak Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang
 Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
 tersebut dan mengkaitkannya dengan:

      a. Metodologi dan Pendekatan
      b. Rencana Lingkup Kegiatan penyelesaian pekerjaan
      c. Rencana Alokasi Tenaga Ahli

 Penjelasan mengenai Jangka Waktu Pelaksanaan Kegiatan selengkapnya yang dikaitkan
 dengan Penyelesaian Substansial dan Alokasi Tenaga Ahli yang Dilibatkan, dapat dilihat
 pada Bab 8. Jadual Pelaksanaan Pekerjaan dan Bab 10. Jadual Penugasan Tenaga Ahli.




 4.7. TANGGAPAN TERHADAP POLA PENANGANAN PEKERJAAN
 Pola Penanganan Pekerjaan yang dibutuhkan untuk melaksanakan Kegiatan Penyusunan
 Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diminta dan diarahkan dalam KAK pada
 dasarnya sudah cukup jelas, di mana dalam penjelasan tersebut dijabarkan beberapa hal-
 hal penting terkait kebutuhan Penanganan Pekerjaan yang merupakan batas minimal yang
 diharapkan oleh Pengguna Jasa untuk disediakan oleh Penyedia Jasa.

 Dengan dasar penjelasan tersebut, konsultan akan mengusulkan Pola Penanganan
 Pekerjaan yang merupakan gambaran yang akan digunakan untuk melaksanakan dan


    PT. .....                                                                                                           4-5
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 menyelesaikan studi ini. Dalam penjelasan tersebut, konsultan juga akan mengembangkan
 penjabaran mengenai hubungan kerja semua pihak terkait, yaitu antara Konsultan dengan
 Pemberi Tugas (2 instansional), antara Tim Tenaga Ahli dengan Perusahaan (internal),
 antara Tim Tenaga Ahli dengan Tim Teknis (koordinasi), dan lain-lain.

 Penjelasan mengenai Organisasi Pelaksana Pekerjaan dengan penjabaran mengenai pola
 hubungan         kerja selengkapnya dapat dilihat pada Bab 11. Organisasi Pelaksana
 Pekerjaan.




    PT. .....                                                                                                       4-6
     BAB 5.
APRESIASI INOVASI




 ABSTRAK
 Bab ini secara umum berisi pendalaman substansial secara lebih detail
 yang   diindikasi   berdasarkan   pemahaman   calon   Penyedia   Jasa
 terhadap substansi pekerjaan dari data sekunder awal yang dimiliki
 dengan menjabarkan hal-hal penting mulai dari tinjauan kebijakan,
 teoritis sampai pada substansi penyelesaian substansial, termasuk di
 dalamnya inovasi yang akan dikembangkan untuk mencapai produk
 sesuai dengan sasaran pekerjaan.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 5.1. PENGERTIAN TERKAIT PENATAAN RUANG
 Pengertian berbagai istilah yang berkaitan dengan substansi Data Keruangan yang
 mengacu pada berbagai peraturan perundangan dan literatur yang ada dapat dijelaskan
 sebagai berikut.

      1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
             termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia
             dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
             hidupnya.
      2. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
             ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
      3. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan,
             pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
      4. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang
             melalui     pelaksanaan    perencanaan           tata      ruang,       pemanfaatan            ruang,       dan
             pengendalian pemanfaatan ruang.
      5. Perencanaan tata ruang adalah proses untuk menentukan struktur ruang dan pola
             ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
      6. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
             ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan
             program beserta pembiayaannya.
      7. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata
             ruang.
      8. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
             terkait     yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administatif
             dan/atau aspek fungsional.
      9. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung dan budidaya
      10. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungi utama melindungi
             kelestarian lingkungan hidup yang mencakup umber daya alam dan sumber daya
             buatan.
      11. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
             dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
             manusia dan sumber daya buatan.
      12. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
             pertanian      dengan    susunan      fungsi      kawasan         sebagai       tempat         permukiman


    PT. ....                                                                                                         5-2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


             perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
             sosial, dan kegiatan ekonomi.
      13. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang
             penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang
             tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam



 5.2. TINJAUAN KEBIJAKAN

 5.2.1. Peraturan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 1 Tahun 2011
          Tentang Desain Besar Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan Kawasan
          Perbatasan Tahun 2011 - 2025
 Terdapat beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan peraturan ini, yaitu:

      1. Desain      Besar     2011-2025    merupakan           penjabaran          dari      tujuan       dibentuknya
          Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang
          Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk rumusan visi, misi dan
          arah jangka panjang pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan.
      2. Desain Besar 2011-2025 difokuskan pada:
               a. pengelolaan batas wilayah negara darat dan laut
                       enetapan dan penegasan serta pembangunan dan pemeliharaan batas;
                       pengelolaan pertahanan, keamanan dan hukum.
               b. pengelolaan kawasan perbatasan darat dan laut.
                       pertahanan, keamanan dan hukum;
                       ekonomi kawasan; dan
                       sosial dasar kawasan perbatasan.
      3. Desain Besar 2011-2025 disusun berdasarkan:
               a. rencana pembangunan jangka panjang;
               b. rencana tata ruang di kawasan perbatasan;
               c. kondisi perbatasan negara; dan
               d. isu strategis pengelolaan perbatasan.
      4. Desain Besar 2011-2025 dijadikan:
               a. pedoman penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
               b. pedoman penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;
               c. pedoman dalam penyusunan rinduk;




    PT. ....                                                                                                        5-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               d. pedoman penyusunan rencana strategis kementerian/lembaga pemerintah
                   nonkementerian dalam pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan
                   perbatasan;
               e. pedoman dalam menyusun recana kerja bagi kementerian, lembaga
                   pemerintah nonkementerian dalam pengelolaan batas wilayah negara dan
                   kawasan perbatasan;
               f. pedoman dalam penyusunan renaksi bagi pemerintah provinsi, dan
                   pemerintah kabupaten/kota; dan
               g. acuan pelaksanaan pengawasan dan evaluasi serta pelaporan kinerja
                   pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan perbatasan.
      5. Desain Besar 2011-2025 disusun dengan sistematika:
               a. pendahuluan;
               b. konsep dasar;
               c. visi, misi, dan strategi dasar;
               d. desain pengelolaan; dan
               e. penutup.


 5.2.2. Peraturan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 2 Tahun 2011
          Tentang Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan Kawasan
          Perbatasan Tahun 2011 - 2014
 Terdapat beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan peraturan ini, yaitu:

      1. Rinduk 2011-2014 memuat:
               a. visi, misi, tujuan dan prinsip dasar;
               b. arah kebijakan, strategi dan program; dan
               c. kaidah pengelolaan.
      2. Rinduk 2011-2014 difokuskan pada prioritas:
               a. penyelesaian penetapan dan penegasan batas wilayah negara;
               b. peningkatan upaya pertahanan, keamanan, serta penegakan hukum;
               c. peningkatan pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan;
               d. peningkatan pelayanan sosial dasar; dan
               e. penguatan           kapasitas      kelembagaan            dalam         pengembangan               kawasan
                   perbatasan secara terintegrasi.
      3. Rinduk 2011-2014 dijadikan:
               a. pedoman penyusunan rencana kerja kementerian, lembaga pemerintah non
                   kementerian dalam pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan
                   perbatasan;

    PT. ....                                                                                                            5-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               b. pedoman penyusunan Renaksi pemerintah provinsi, dan pemerintah
                   kabupaten/kota;
               c. Instrumen           untuk   melakukan           koordinasi,         integrasi,        sinergitas,         dan
                   sinkronisasi rencana dari berbagai sektor, dunia usaha dan masyarakat
                   dalam mengelola batas wilayah negara dan kawasan perbatasan berdasarkan
                   kerangka waktu, lokasi, sumber pendanaan dan penanggung jawab
                   pelaksanaannya;
               d. pedoman dalam menyusun sistem dan prosedur pendanaan yang bersumber
                   dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan
                   Belanja Daerah, masyarakat dan pembiayaan lain-lain yang sah secara
                   efisien,      efektif,     akuntabel,           transparan,           partisipatif         dan        dapat
                   dipertanggungjawabkan sesuai dengan prinsip tata kelola pemerintahan
                   yang baik;
               e. informasi arah pengembangan, kebijakan, strategi, tahapan pelaksanaan,
                   dan kebutuhan program pengelolaan batas wilayah negara dan kawasan
                   perbatasan; dan
               f. acuan pelaksanaan monitoring dan evaluasi untuk pengelolaan batas wilayah
                   negara dan kawasan perbatasan.
      4. induk 2011-2014 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun dengan sistematika:
               a. pendahuluan;
               b. kondisi perbatasan negara;
               c. isu strategis pengelolaan perbatasan;
               d. visi, misi, tujuan dan prinsip dasar;
               e. arah kebijakan, strategi dan agenda prioritas;
               f. kaidah pengelolaan; dan
               g. penutup.


 5.2.3. Peraturan Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 3 Tahun 2011
          Tentang Rencana Aksi Pengelolaan Batas Wilayah Negara Dan Kawasan
          Perbatasan Tahun 2011
 Terdapat beberapa hal yang harus dipahami terkait dengan peraturan ini, yaitu:

      1. Renaksi memuat:
               a. kondisi umum;
               b. strategi dan kebijakan prioritas; dan
               c. program dan anggaran.
      2. Renaksi dijadikan:

    PT. ....                                                                                                            5-5
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               a. pedoman dalam menyusun rencana kerja pengelolaan batas wilayah negara
                   dan kawasan perbatasan, yang dilaksanakan oleh kementerian, lembaga
                   pemerintah         nonkementerian,           pemerintah           provinsi,        dan      pemerintah
                   kabupaten/kota;
               b. pedoman penyusunan rencana aksi pemerintah provinsi, dan pemerintah
                   kabupaten/kota; dan
               c. acuan pelaksanaan monitoring dan evaluasi untuk pengelolaan batas wilayah
                   negara dan kawasan perbatasan.
      3. Renaksi disusun dengan sistematika:
               a. pendahuluan;
               b. evaluasi hasil kinerja pembangunan kawasan perbatasan;
               c. kondisi umum kawasan perbatasan;
               d. strategi dan kebijakan pembangunan kawasan perbatasan;
               e. pembiayaan pembangunan kawasan perbatasan;
               f. prioritas pembangunan kawasan perbatasan g. pendanaan; dan
               g. .pelaksanaan.




 5.3. ARAHAN PENATAAN RUANG MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 26
          TAHUN 2007
 Dengan berlakunya Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang akan
 sangat berdampak pada peningkatan penataan ruang kawasan perbatasan. Pada sub bab
 berikut ini akan dibahas mengenai: (i) hal pokok yang diatur dalam UU No. 26 Tahun 2007,
 (ii) strategi umum dan strategi implementasi penyelenggaraan penataan ruang, (iii)
 penyelenggaran penataan ruang, serta (iv) hirarki dan jenis tata ruang.


 5.3.1. Hal Pokok Yang Diatur Dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007
 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang baru diberlakukan
 membawa perubahan yang cukup signifikan dalam proses penataan ruang. Beberapa hal
 mendasar yang berubah antara lain: matra laut dan ruang bawah tanah yang diatur dalam
 penataan ruang, hirarki dan kedalaman rencana tata ruang, jangka waktu perencanaan
 hingga 20 tahun untuk semua jenjang rencana, pengaturan pengendalian yang cukup jelas
 melalui zoning regulation, insentif dan disinsentif, pemberian sanksi hukum, dan
 sebagainya.




    PT. ....                                                                                                           5-6
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 Berikut hal-hal menonjol yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
 Penataan Ruang adalah:

     a. Penataan Ruang dibutuhkan untuk mewujudkan ruang Nusantara yang Aman,
          Nyaman, Produktif dan Berkelanjutan.

     b. Perwujudan Tujuan Penataan Ruang dilakukan dengan Strategi Umum seperti
          Penyiapan Kerangka Strategis Pengembangan Penataan Ruang Nasional dan Strategi
          Khusus berupa Penyiapan Peraturan Zonasi, Pemberian Insentif dan Disinsentif,
          Pengenaan Sanksi, dan lain-lain.

     c. Produk perencanaan tata ruang tidak hanya bersifat Administratif akan tetapi juga
          mengatur perencanaan tata ruang yang bersifat Fungsional dan di klasifikasikan ke
          dalam Rencana Umum dan Rencana Rinci Tata Ruang.

     d. Penataan Ruang Wilayah Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota dilakukan secara
          Berjenjang dan Komplementer sehingga saling melengkapi satu dengan yang lain,
          bersinergi,       dan       tidak    terjadi         tumpang           tindih        kewenangan              dalam
          penyelenggaraannya.

     e. Undang-undang Penataan Ruang telah mengakomodasi perkembangan lingkungan
          strategis seperti pengaturan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Perkotaan dan Daerah
          Aliran Sungai (DAS), Standar Pelayanan Minimal (SPM), integrasi penataan ruang
          Darat, Laut, dan Udara, Pengendalian Pemanfaatan Ruang, Penataan Ruang
          Kawasan Perkotaan dan Perdesaan, dan Aspek Pelestarian Lingkungan Hidup.

 Untuk menjamin pelaksanaan UU Penataan Ruang yang tertib dan konsisten telah diatur
 Ketentuan Peralihan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), dan Kelembagaan Penataan
 Ruang.

 Dengan telah diakomodasikannya berbagai isu strategis penataan ruang di dalam UU
 Penataan Ruang, diharapkan nantinya penyelenggaraan penataan ruang dapat lebih
 berdayaguna dan berhasil guna.


 5.3.2. Strategi Umum dan Strategi Implementasi Penyelenggaraan Penataan Ruang
 Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional
 yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan
 Ketahanan Nasional dengan:

      a. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;



    PT. ....                                                                                                           5-7
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


     b. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumberdaya alam dan sumberdaya
          buatan dengan memperhatikan sumberdaya manusia; dan

     c. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
          lingkungan akibat pemanfaaatan ruang.

 Strategi Umum Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah sebagai berikut:

     a. Menyelenggarakan penataan ruang wilayah nasional secara komprehensif, holistik,
          terkoordinasi, terpadu, efektif dan efisien dengan memperhatikan faktor-faktor
          politik,    ekonomi, sosial,     budaya,         pertahanan, keamanan,                    dan      kelestarian
          lingkungan hidup

     b. Memperjelas pembagian wewenang antara Pemerintah, pemerintah provinsi, dan
          pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan penataan ruang

     c. Memberikan perhatian besar kepada aspek lingkungan/ekosistem

     d. Memberikan penekanan kepada aspek pengendalian pemanfaatan ruang

 Strategi Implementasi Penyelenggaraan Penataan Ruang adalah sebagai berikut:

     a. Penerapan prinsip-prinsip “komplementaritas” dalam rencana struktur ruang dan
          rencana pola ruang RTRW Kabupaten/Kota dan RTRW Provinsi.

     b. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus dapat dijadikan acuan pembangunan,
          sehingga RTRW harus memuat arah pemanfaatan ruang wilayah yang berisi indikasi
          program utama jangka menengah lima tahunan.

     c. Pemanfaatan ruang harus mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang
          berkelanjutan dan tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang.

     d. Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi,
          perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi.

     e. Penegakan hukum yang ketat dan konsisten untuk mewujudkan tertib tata ruang.


 5.3.3. Penyelenggaraan Penataan Ruang
 Pembagian Kewenangan yang lebih Jelas antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi
 dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang diatur dalam
 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, sebagaimana terlihat pada skema dalam Gambar
 N0. 5.7 berikut ini.




    PT. ....                                                                                                        5-8
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


             Gambar 5.1. Pembagian Kewenangan Dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang



             PENGATURAN DAN             PENGATURAN DAN                    PENGATURAN, DAN
            PEMBINAAN TINGKAT          PEMBINAAN TINGKAT                  PEMBINAANTINGKAT
                NASIONAL                   PROVINSI                        KABUPATEN/KOTA




                                                                                                            PERAN MASYARAKAT
                  Pelaksanaan                Pelaksanaan                          Pelaksanaan
                   PERENC. TR                 PERENC. TR                          PERENC. TR
                    NASIONAL                   PROVINSI                            KAB./KOTA

                 PEMANF. RUANG              PEMANF. RUANG                       PEMANF. RUANG
                   NASIONAL                    PROVINSI                           KAB./KOTA

                 PENGENDALIAN               PENGENDALIAN                        PENGENDALIAN
                 PEMANF. RUANG              PEMANF. RUANG                       PEMANF. RUANG
                   NASIONAL                    PROVINSI                           KAB./KOTA




                PENGAWASAN                  PENGAWASAN                         PENGAWASAN




      Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2008


 5.3.4. Hirarki dan Jenis Rencana Tata Ruang
 Rencana tata ruang disusun secara bertahap dan dalam jenjang cakupan yang berurutan.
 Secara sistematis jenjang cakupan rencana ini dimulai dari lingkup yang lebih luas dan
 substansinya menyeluruh hingga ke jenjang cakupannya semakin terinci (detailed).
 Semakin kecil cakupan wilayahnya, maka rencana tersebut semakin terinci dan semakin
 tertuju kepada segi fisik yang lebih nyata.

 Pada awalnya penyusunan rencana kota di Indonesia telah diatur melalui Peraturan
 Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota.
 Mengingat peraturan perundang-undangan yang telah ada belum dapat menampung
 tuntutan perkembangan pembangunan, maka Pemerintah mengeluarkan Undang-undang
 No. 24 Tahun 1992 mengenai Penataan Ruang. Tata ruang yang dimaksud dalam undang-
 undang tersebut adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan
 maupun tidak. Mengacu pada Undang-undang No. 24 Tahun 1992, jenis rencana tata ruang
 dibedakan menurut hirarki adminstrasi pemerintahan, fungsi wilayah serta kawasan, dan
 kedalaman rencana. Revisi Undang-undang No. 24 Tahun 1992 menjadi Undang-undang No.
 26 Tahun 2007 tentang Penataan ruang membawa perubahan yang cukup signifikan
 terhadap produk rencana tata ruang, yaitu bukan hanya berdasar pada wilayah
 administrasi saja, tetapi dapat didasarkan pada fungsional dari suatu kawasan,
 sebagaimana dijelaskan pada Gambar No. 5.8 berikut ini.



    PT. ....                                                                                                                   5-9
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                Kegiatan Penyusunan
                                            Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


  Gambar 5.2. Klasifikasi Penataan Ruang Berdasarkan Sistem, Fungsi dan Nilai Strategis Kawasan



                              PR Berdasarkan Administrasi                     PR Berdasarkan Nilai Strategis Kawasan
      Kewenangan            (Mempertegas aspek kewenangan                   (Kawasan yang secara spesifik berpengaruh
                                   penyelenggaraan)                            besar terhadap pencapaian tujuan PR)

       Pem. Pusat                     PR Wilayah Nasional                              Kawasan Strategis Nasional

      Pem. Provinsi                   PR Wilayah Provinsi                               Kawasan Strategis Provinsi

     Pem. Kabupaten               PR Wilayah Kabupaten                                Kawasan Strategis Kabupaten

          Pem. Kota                     PR Wilayah Kota                                   Kawasan Strategis Kota




                            PR Berdasarkan                         PR Berdasarkan                            PR Berdasarkan
                             Fungsi Utama                         Kegiatan Kawasan                               Sistem
                          (Ruang yang dapat                      (Untuk meningkatkan                          (Fungsi-fungsi
                           dimanfaatkan dan                         keseimbangan                               kewilayahan)
                           ruang yang dijaga                        pembangunan)
                         untuk dilindungi dan
                              melindungi)                                                                     Sistem Wilayah
                                                                  Kawasan Perkotaan
                           Kawasan Lindung                                                                    Sistem Internal
                                                                  Kawasan Perdesaan                             Perkotaan
                           Kawasan Budidaya



 Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2008



 Klasifikasi penataan ruang berdasarkan sistem, fungsi dan nilai strategis kawasan terbagi
 menjadi:

     a.    Jenis rencana tata ruang menurut hirarki administrasi pemerintahan terdiri atas
           Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, dan
           Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.

     b.    Jenis rencana tata ruang menurut fungsi wilayah serta kawasan terdiri atas rencana
           tata ruang kawasan perdesaan, rencana tata ruang kawasan perkotaan, dan
           rencana tata ruang kawasan tertentu.

     c.    Jenis rencana tata ruang menurut kedalaman rencana terdiri atas strategi dan
           arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara, strategi dan struktur
           pemanfaatan ruang wilayah Provinsi, dan strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang
           wilayah Kabupaten/Kota, termasuk rencana rinci tata ruang kawasan.

 Setiap tingkatan rencana tata ruang tersebut memiliki cakupan wilayah perencanaan yang
 berbeda dengan maksud yang berbeda pula. Definisi dan cakupan wilayah perencanaan,


    PT. ....                                                                                                             5 - 10
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 maksud, dan skala ketelitian peta yang digunakan setiap tingkatan rencana tata ruang
 berdasarkan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dapat dilihat
 pada Tabel No. 5.5 berikut ini.



                               Tabel 5.9. Definisi Dan Lingkup Perencanaan


     RENCANA TATA         DEFINISI DAN WILAYAH
                                                                       MELIPUTI                            SKALA PETA
        RUANG                PERENCANAAN

    RTRW NASIONAL         Strategi dan arahan        Tujuan nasional dan pemanfaaatan                   1 : 1.000.000
                          kebijaksanaan              ruang        untuk        peningkatan
                          pemanfaatan      ruang     kesejahteraan      masyarakat     dan
                          dalam wilayah Negara       pertahanan nasional
                                                     Struktur dan pola pemanfaatan ruang
                                                     wilayah nasional
                                                     Kriteria dan pola pengelolaan kawasan
                                                     lindung,    kawasan   budidaya    dan
                                                     kawasan tertentu.

    RTRW PROVINSI         Penjabaran    Strategi     Tujuan pemanfaatan ruang wilayah                   1 : 250.000
                          dan            arahan      provinsi      untuk      peningkatan
                          kebijaksanaan              kesejahteraan     masyarakat     dan
                          pemanfaatan ruang wil      pertahanan keamanan
                          nas ke dlm ruang wil
                          provinsi                   Struktur dan pola pemanfaatan ruang
                                                     wilayah provinsi
                                                     Pedoman pengendalian pemanfaatan
                                                     ruang wilayah provinsi

    RTRW                  Penjabaran RTRW ke         Tujuan pemanfaatan ruang wilayah                   1   :    100.000
    KABUPATEN/ KOTA       dlm            strategi    Kabupaten/Kota untuk peningkatan                   untuk Kabupaten
                          pelaksanaan                kesejahteraan    masyarakat  dan
                          pemanfaatan ruang wil      pertahanan keamanan                                1 : 50.000 untuk
                          Kabupaten/Kota                                                                Kota
                                                     Rencana     struktur    dan    pola
                                                     pemanfaatan       ruang     wilayah
                                                     kabupaten/kota
                                                     Rencana Umum Tata Ruang Wilayah
                                                     Kabupaten/Kota
                                                     Pedoman pengendalian pemanfaatan
                                                     ruang wilayah Kabupaten/Kota

    RUTR/RDTR             Penjabaran       RTRW      Tujuan      pemanfaatan ruang wilayah              1 : 10.000 untuk
    Kawasan               Kabupaten/Kota       ke    kota,                                              penduduk kurang
                          dalam          strategi                                                       dari 1 jt jiwa,
                          pelaksanaan                Kebijaksanaan pengembangan kota,
                          pemanfaatan      ruang                                                        1 : 20.000 untuk
                                                     Rencana pemanfaatan ruang kota                     penduduk lebih
                          wilayah      kawasan
                          perkotaan                  Rencana struktur tingkat pelayanan                 dari 1 jt jiwa
                                                     kota,
                                                     Rencana sistem transportasi,
                                                     Rencana jaringan utilitas kota,
                                                     Rencana pemanfaatan air baku
                                                     Indikasi unit pelayanan kota
                                                     Rencana       pengelolaan      pembangunan
                                                     kota

    PT. ....                                                                                                          5 - 11
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

 Sumber: UU No. 26/2007 dan penjelasannya, serta KEPMEN KIMPRASWIL No. 327/KPTS/M/2002




 Dengan berlakunya Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka
 acuan penataan ruang di Indonesia haruslah mengikuti Undang-Undang No. 26 Tahun 2007
 tersebut. Dalam setiap proses perumusannya, maka rencana tata ruang kota tersebut
 selalu mengacu kepada kebijakan-kebijakan lain yang secara luas terkait dalam suatu
 struktur kebijakan pembangunan, yang dimulai dari kebijakan skala nasional, regional
 hingga kebijakan pembangunan kota itu sendiri.

 Substansi rencana tata ruang biasanya dibedakan dari yang sangat makro sampai ke sangat
 rinci. Pada masa Undang-Undang No. 24 tahun 1992 maupun Undang-Undang No. 26 Tahun
 2007, judul tidak mencerminkan substansi. Pada masa sebelum Undang-Undang No. 24
 tahun 1992 maupun Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, judul
 baik dari RTR tingkat wilayah dan RTR di tingkat kawasan, judul jenis RTR sangat
 mencerminkan substansi atau isi.

 Tingkat kedalaman pengamatan atau skala rencana sangat dipengaruhi oleh isi dan produk
 dari setiap jenis RTR. Pada skala mana isi dan produk tersebut dapat diamati dasar-dasar
 penyusunannya di lapangan dan kemudian dapat ditampilkan dengan baik agar manfaatnya
 dapat tercapai.




 Jenis dan hirarki produk rencana berdasarkan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang
 Penataan Ruang tersajikan pada Gambar 5.9 berikut ini.


    PT. ....                                                                                                       5 - 12
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


         Gambar 5.8. Jenis dan Hirarki Produk Rencana Berdasarkan UU No 26 Tahun 2007




                           RENCANA UMUM TATA RUANG                  RENCANA RINCI TATA RUANG

                                                                      RTR PULAU / KEPULAUAN
                           RTRW NASIONAL
               WILAYAH


                                                                     RTR KWS STRA. NASIONAL

                           RTRW PROVINSI                            RTR KWS STRA. PROVINSI


                           RTRW KABUPATEN                          RTR KWS STRA KABUPATEN

                                                                    RDTR WIL KABUPATEN

                                              RTR KWS METROPOLITAN
               PERKOTAAN




                                                                    RTR KWS PERKOTAAN DLM
                                                                    WIL KABUPATEN
                           RTRW KOTA
                                                                    RTR BAGIAN WIL KOTA

                                                                    RTR KWS STRA KOTA
                                                                    RDTR WIL KOTA


      Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2008




 5.4. STANDAR PELAYANAN MINIMAL
 Kawasan perbatasan, terpencil dan pulau-pulau kecil serta rata-rata dapat dikatagorikan
 sebagai kawasan yang pelayanan infrastukturnya jauh dari standar minimal. Untuk
 memahami mengenai standar pelayanan minimal ini, perlu direview peraturan terkait.

 Pada tahun 2010 telah ditetapkan Permen PU No. 14/PRT/M/2010 tentang Standar
 Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, yang menjadi acuan bagi
 Pemerintah Daerah dalam perencanaan program pencapaian target SPM melalui
 penyediaan pelayanan dasar kepada masyarakat di Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan
 Ruang.

 Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang selanjutnya
 disingkat SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar Bidang Pekerjaan
 Umum dan Penataan Ruang yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh
 setiap warga secara minimal.



    PT. ....                                                                                                        5 - 13
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Di dalam Pasal 5, yang merupakan inti dari Permen PU No. 14/PRT/M/2010 tentang
 Standar Pelayanan Minimal dijelaskan bahwa SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan
 Ruang berkaitan dengan pelayanan Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, meliputi
 jenis pelayanan berdasarkan indikator kinerja dan target tahun 2010 sampai dengan tahun
 2014:

 1. Sumber Daya Air
      Prioritas utama penyediaan air untuk kebutuhan masyarakat
          a. Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari hari.
          b. Tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah
               ada.

 2. Jalan
          a. Jaringan
                       Aksesibilitas
                       Tersedianya jalan yang menghubungkan pusat–pusat kegiatan
                       dalam wilayah kabupaten/kota.
                       Mobilitas
                       Tersedianya jalan yang memudahkan masyarakat perindividu
                       melakukan perjalanan.
                       Keselamatan
                       Tersedianya jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara
                       dengan selamat.
          b. Ruas
                       Kondisi jalan
                        Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan
                        selamat dan nyaman.
                       Kecepatan
                        Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat dilakukan sesuai
                        dengan kecepatan rencana.
 3. Air Minum
      Tersedianya akses air minum yang aman melalui Sistem Penyediaan Air Minum dengan
      jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok
      minimal 60 liter/orang/hari.




    PT. ....                                                                                                         5 - 14
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 4. Penyehatan Lingkungan Permukiman (Sanitasi Lingkungan dan Persampahan)
          a. Air limbah permukiman
                       Tersedianya sistem air limbah setempat yang memadai.
                       Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota.
          b. Pengelolaan sampah
                       Tersedianya fasilitas pengurangan sampah di perkotaan.
                       Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan.
          c. Drainase
               Tersedianya sistem jaringan drainase skala kawasan dan skala kota sehingga
               tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2
               kali setahun.
 5. Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan
      Berkurangnya luasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan.
 6. Penataan Bangunan dan Lingkungan
          a. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
               Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di kabupaten/kota.
          b. Harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN)
               Tersedianya       pedoman      Harga        Standar         Bangunan          Gedung          Negara          di
               kabupaten/kota.
 7. Jasa Konstruksi
          a. Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK)
               Penerbitan IUJK dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah persyaratan
               lengkap.
          b. Sistem Informasi Jasa Konstruksi
               Tersedianya Sistem Informasi Jasa Konstruksi setiap tahun.
 8. Penataan Ruang
          a. Informasi Penataan Ruang
               Tersedianya       informasi   mengenai          Rencana          Tata      Ruang        (RTR)       wilayah
               kabupaten/kota beserta rencana rincinya melalui peta analog dan peta digital.
          b. Pelibatan Peran Masyarakat dalam Proses Penyusunan RTR
               Terlaksananya penjaringan aspirasi masyarakat melalui forum konsultasi publik
               yang memenuhi syarat inklusif dalam proses penyusunan RTR dan program
               pemanfaatan ruang, yang dilakukan minimal 2 (dua) kali setiap disusunnya RTR
               dan program pemanfaatan ruang.
          c. Izin Pemanfaatan Ruang



    PT. ....                                                                                                        5 - 15
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan izin pemanfaatan ruang sesuai
               dengan Peraturan Daerah tentang RTR wilayah kabupaten/kota beserta rencana
               rincinya.
          d. Pelayanan Pengaduan Pelanggaran Tata Ruang
               Terlaksanakannya tindakan awal terhadap pengaduan masyarakat tentang
               pelanggaran di bidang penataan ruang dalam waktu 5 (lima) hari kerja.
          e. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik
               Tersedianya luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan
               perkotaan.



 5.5. KONSEP KETERPADUAN INFRASTRUKTUR
 A. Definisi dan Batasan Keterpaduan Prasarana Kawasan

 Prasarana Kawasan memiliki peran penting dalam pengembangan suatu kawasan. Sistem
 Prasarana Kawasan merupakan salah satu unsur utama pembentuk struktur ruang sebuah
 kawasan. Prasarana kawasan selain menyediakan layanan prasarana bagi berbagai jenis
 kegiatan yang ada, prasarana kawasan juga dapat digunakan sebagai alat pengarah pola
 pemanfaatan ruang sebuah kawasan.

 Dalam pembahasan ini, yang dimaksud dengan sistem prasarana kawasan dibatasi pada
 prasarana kawasan perumahan dan permukiman yang terdiri dari beberapa sub-sistem
 prasarana. Sub-sistem tersebut mencakup antara lain: jaringan jalan, jaringan drainase,
 suplai dan jaringan air bersih, jaringan air limbah, sistem pengelolaan sampah, suplai dan
 jaringan listrik, jaringan telepon, serta fasilitas umum dan sosial.

 Definisi KPK. Dalam kajian ini, istilah Keterpaduan Prasarana Kawasan (KPK) didefinisikan
 sebagai:

 “penerapan pola manajemen tertentu terhadap proses pengadaan prasarana kawasan -
 yang dibangun oleh dua pihak atau lebih- dengan tujuan untuk memastikan tersedianya
 layanan      prasarana      kawasan   bagi      pengguna/          penghuni         kawasan,          sesuai      dengan
 perkembangan kebutuhan layanan yang ada, baik secara kuantitas, kualitas, waktu dan
 tempat”.




    PT. ....                                                                                                        5 - 16
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Dengan demikian penerima manfaat sesungguhnya dari Keterpaduan Prasarana Kawasan
 adalah para pengguna/ penghuni sebuah kawasan perumahan dan permukiman. Kegagalan
 pengelola      kawasan       untuk   menciptakan          Keterpaduan            Prasarana         Kawasan          dapat
 menyebabkan inefisiensi biaya dan rendahnya mutu layanan sebuah kawasan yang diterima
 pengguna/penghuninya.

       1. Prasarana Kawasan sebagai sebuah Sistem Fisik.

           Sistem prasarana kawasan merupakan sebuah sistem fisik yang terdiri dari
           beberapa sub-sistem prasarana kawasan. Sebagai suatu solusi persoalan teknis
           maupun sebagai upaya peningkatan efisiensi dan efektifitas rancangan, seringkali
           diperlukan adanya upaya teknis untuk memadukan rancangan berbagai sub-sistem
           prasarana kawasan tersebut. Misalnya antara jaringan jalan, jaringan drainase,
           dan jaringan listrik. Selain itu, tahapan pembangunan masing-masing sub-sistem
           prasarana kawasan tersebut tidak dapat disusun secara sendiri-sendiri, namun
           harus disesuaikan dengan tahapan pengembangan kawasan secara umum.

           Pada tingkat paling rendah, ketidakterpaduan prasarana kawasan dapat terjadi
           karena lemahnya koordinasi antar perencana yang menyusun Rencana Induk
           Pengembangan Kawasan dengan para perencana sub-sistem prasarana kawasan.
           Kurangnya koordinasi di antara mereka dapat menyebabkan ketidak sesuaian
           antara kapasitas prasarana yang direncanakan dengan kebutuhan yang ada. Selain
           itu, kurangnya koordinasi di antara perencana masing-masing sub-sistem prasarana
           kawasan dapat menyebabkan munculnya berbagai persoalan teknis dalam
           implementasi di lapangan, dan juga kegagalan untuk memanfaatkan peluang
           peningkatan efektifitas dan efisiensi melalui upaya-upaya teknis pada tahap
           perencanaan dengan cara memadukan rancangan berbagai sub-sistem prasarana.

       2. Pengadaan Prasarana Kawasan sebagai sebuah Sistem Sosial.

           Pengadaan prasarana kawasan –terutama yang melibatkan dua pihak atau lebih-
           dapat juga dipandang sebagai sebuah sistem sosial. Keterlibatan multi-pihak -
           dengan berbagai kepentingan (interest) yang berbeda- menyebabkan proses
           pengambilan keputusan (decision making) menjadi sangat kompleks. Hal tersebut
           menyebabkan sebagian besar masalah ketidakterpaduan prasarana kawasan
           muncul akibat kegagalan dalam pengelolaan proses pengambilan keputusan yang
           melibatkan banyak pihak.

 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, penyebab dari munculnya persoalan
 ketidakterpaduan prasarana kawasan merupakan gabungan dari:


    PT. ....                                                                                                       5 - 17
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


       1. kompleksitas komponen fisik penyusun sistem prasarana kawasan, dan
       2. kompleksitas proses pengambilan keputusan oleh multi-pihak yang terlibat dalam
           pengadaan prasarana kawasan



                                                   Gambar 5.3.
                    Prasarana Kawasan Sebagai Gabungan dari Sistem Fisik dan Sistem Sosial




                Sumber: Bantek RP4D




 Dua Faktor Kunci KPK. Berdasarkan dua faktor penyebab sulitnya mewujudkan
 keterpaduan prasarana kawasan di atas, dapat dikenali adanya dua aspek kunci dalam
 mewujudkan Keterpaduan Prasarana Kawasan yaitu:

       1. Keterpaduan rancangan (desain) prasarana kawasan; dan
       2. Manajemen proses pengadaan prasarana kawasan.

 Keterpaduan prasarana kawasan (KPK) dapat dianggap sebagai salah satu indikator mutu
 (kualitas) yang penting dari sebuah proyek pengembangan kawasan. Jika keterpaduan
 tidak tercapai –atau berarti pengguna kawasan tidak mendapatkan layanan prasarana yang
 mereka butuhkan- maka mutu (kualitas) kawasan akan dinilai buruk. Demikian pula
 sebaliknya.

 Dalam kerangka manajemen mutu ini, keterpaduan rancangan prasarana kawasan
 merupakan bagian dari kegiatan Pengendalian Mutu (Quality Control). Dalam hal

    PT. ....                                                                                                         5 - 18
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 keterpaduan ini, tujuan utama Pengendalian Mutu adalah menilai apakah sebuah
 rancangan prasarana kawasan belum atau telah memenuhi kebutuhan dan persyaratan
 yang ada. Jika dinilai belum memenuhi (defect), maka perlu dilakukan beberapa tindakan
 korektif. Jika dinilai telah memenuhi, maka rancangan tersebut dapat dijadikan dasar bagi
 pelaksanaan kegiatan selanjutnya.

 Sedangkan manajemen proses pengadaan prasarana kawasan merupakan bagian dari
 Pemastian Mutu (Quality Assurance). Dalam hal keterpaduan ini, tujuan utama dari
 kegiatan Pemastian Mutu adalah secara terus-menerus memperbaiki proses pengadaan
 prasarana kawasan untuk memastikan tersedianya layanan prasarana kawasan (yang
 diadakan oleh lebih dari satu pihak), yang secara kuantitas, kualitas, waktu dan tempat
 sesuai dengan tahapan perkembangan kebutuhan layanan yang ada. Dengan demikian
 keterpaduan pengelolaan proses pengadaan prasarana kawasan memiliki lingkup yang lebih
 luas dan strategis, dan di dalamnya tercakup pula pengelolaan proses perancangan
 prasarana kawasan.

                                                 Gambar 5.4.
             Keterkaitan Keterpaduan Rancangan dengan Manajemen Proses Pengadaan Prasarana




                                            Sumber: Bantek RP4D




    PT. ....                                                                                                       5 - 19
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 B. Keterpaduan Rancangan Prasarana Kawasan

 Keterpaduan rancangan prasarana kawasan berkaitan dengan upaya untuk memadukan
 berbagai jenis dan jenjang rancangan yang terkait dengan prasarana kawasan, agar dapat
 membentuk kesatuan (sistem) rancangan yang lengkap, padu dan konsisten. Sesuai dengan
 tahapan yang lazim dari sebuah proses perancangan, maka keterpaduan rancangan
 prasarana kawasan dapat dibagi menjadi dua proses sebagai berikut, yaitu:

       1. pada tahap Rancangan Konseptual (Conceptual Design)
           Keterpaduan Rancangan Konseptual sangatlah penting, karena akan menjadi
           kerangka atau pondasi bagi keterpaduan pada tahap perancangan teknis
           selanjutnya.

                                                    Gambar 5.5.
                        Input, Proses, dan Keluaran Keterpaduan Rancangan Konseptual




           \




                                               Sumber: Bantek RP4D



                1) Input bagi proses keterpaduan Rancangan Konseptual terdiri dari:
                          Rencana        Induk        Pengembangan               Kawasan           berikut         tahapan
                              pengembangannya,              yang       dapat         dijadikan          sumber          untuk
                              memperkirakan prasarana kawasan yang dibutuhkan (kuantitas
                              maupun kualitasnya) pada setiap unit pengembangan terkecil, dan
                              pada setiap tahapan pengembangan kawasan.
                          Rancangan Konseptual dari masing-masing sub-sistem prasarana
                              kawasan.
                          Peraturan dan standar keterpaduan prasarana kawasan yang
                              mengatur:
                2) Proses-proses keterpaduan Rancangan Konseptual terdiri dari tiga kegiatan
                     utama, yaitu:
                          Proses verifikasi rancangan dengan peraturan dan standar yang
                              berlaku. Dalam proses verifikasi ini dinilai apakah sebuah rancangan
                              prasarana kawasan belum atau telah memenuhi kebutuhan dan


    PT. ....                                                                                                          5 - 20
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                              persyaratan yang ada. Jika dinilai belum memenuhi (defect), maka
                              dalam proses verifikasi ini ditentukan beberapa tindakan korektif
                              berkaitan dengan keterpaduan prasarana yang harus dilakukan.
                          Proses pengendalian tindakan korektif. Merupakan upaya-upaya
                              manajerial yang harus dilakukan untuk memastikan dilaksanakannya
                              tindakantindakan korektif yang harus dilakukan berkiatan dengan
                              keterpaduan prasarana.
                3) Output dari keterpaduan Rancangan Konseptual adalah berupa Tersedianya
                     sebuah dokumen Rancangan Konseptual prasarana kawasan yang telah
                     memenuhi standar keterpaduan prasarana kawasan yang berlaku.
       2. pada tahap Detailed Engineering Design (DED)
           Keterpaduan Detailed Engineering Design (DED) sangatlah penting, karena akan
           menjadi dasar bagi keterpaduan pada tahap implementasi (pembangunan)
           prasarana kawasan.

                                                   Gambar 5.6.
                     Input, Proses, dan Keluaran Keterpaduan Detailed Engineering Design




                                              Sumber: Bantek RP4D




                1) Input bagi proses keterpaduan DED terdiri dari:
                            DED dari masing-masing sub-sistem prasarana kawasan.
                            Peraturan dan standar keterpaduan prasarana kawasan yang
                             mengatur
                2) Proses- proses keterpaduan DED terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu:
                            Proses verifikasi DED dengan peraturan dan standar yang berlaku.
                             Dalam proses verifikasi ini dinilai apakah sebuah DED prasarana
                             kawasan belum atau telah memenuhi kebutuhan dan persyaratan
                             yang ada. Jika dinilai belum memenuhi (defect), maka dalam proses
                             verifikasi ini ditentukan beberapa tindakan korektif berkaitan
                             dengan keterpaduan prasarana yang harus dilakukan.

    PT. ....                                                                                                         5 - 21
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                            Proses pengendalian tindakan korektif. Merupakan upaya-upaya
                             manajerial yang harus dilakukan untuk memastikan dilaksanakannya
                             tindakantindakan korektif yang harus dilakukan berkiatan dengan
                             keterpaduan prasarana
                3) Output dari keterpaduan DED adalah berupa tersedianya sebuah dokumen
                     rancangan teknis prasarana kawasan yang telah memenuhi standar
                     keterpaduan prasarana kawasan yang berlaku

 C. Manajemen Proses Pengadaan Prasarana Kawasan

 Manajemen proses pengadaan prasarana kawasan berkaitan dengan penerapan pola
 manajemen tertentu dengan tujuan agar dapat lebih memastikan ketersediaan layanan
 prasarana kawasan -yang diadakan oleh lebih dari satu pihak-, yang secara kuantitas,
 kualitas, waktu dan tempat sesuai dengan tahapan perkembangan kebutuhan layanan yang
 ada.

 Manajemen Proses Pengadaan ini merupakan upaya yang lebih strategis untuk mewujudkan
 keterpaduan parasarana kawasan dibandingkan dengan keterpaduan rancangan yang lebih
 bersifat teknis. Namun keduanya bersifat saling melengkapi.

                                                 Gambar 5.7.
                    Input, Proses, dan Keluaran Keterpaduan Manajemen Proses Pengadaan




 Sumber: Bantek RP4D




        1. Input bagi manajemen proses pengadaan terdiri dari:
                1) Stakeholders Pengembangan Kawasan. Para stakeholders ini tidak terbatas
                     pada pihak-pihak yang terlibat pada pengadaan prasarana saja, namun juga
                     melibatkan pihak-pihak yang menyusun Rencana Induk Pengembangan
                     Kawasan.
                2) Rencana Induk Pengembangan Kawasan
                3) Pedoman Manajemen Proses Pengadaan Prasarana Kawasan.


    PT. ....                                                                                                       5 - 22
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


       2. Proses-proses manajemen pengadaan prasarana kawasan yang utama adalah:
                1) Proses koordinasi dan penyepakatan secara periodik untuk membahas
                     persoalan atau isu-isu keterpaduan diperkirakan akan terjadi, terutama
                     berkaitan dengan pengendalian dua komponen utama, yaitu:
                          layanan prasarana kawasan yang akan disediakan (kuantitas maupun
                           kualitas) sebagai respon terhadap perkiraan perubahan kebutuhan
                           layanan prasarana.
                          jadwal     waktu       yang       berkaitan          dengan         keterpaduan            proses
                           perencanaan maupun proses pembangunan prasarana kawasan

                     Dalam        proses-proses          koordinasi            periodik           tersebut            dibuat
                     kesepakatankesepakatan              untuk         keterpaduan              antar         multipihak.
                     Kesepakatankesepakatan ini akan dijadikan dasar bagi pengambilan
                     keputusan yang lebih rinci oleh masing-masing stakeholders.

                2) Proses monitoring dan evaluasi. Merupakan upaya-upaya manajerial berupa
                     pengamatan kontinyu terhadap proses pengadaan prasarana kawasan untuk
                     menemukenali masalah-masalah keterpaduan yang diperkirakan akan
                     muncul. Proses monitoring dan evaluasi ini lebih didasari pada pendekatan
                     antisipatif daripada pendekatan historis. Hasil dari proses monitoring dan
                     evaluasi ini merupakan input bagi proses koordinasi periodik.
       3. Output dari manajemen proses pengadaan prasarana kawasan adalah berupa
           tersedianya layanan prasarana kawasan yang mampu memenuhi kebutuhan
           layanan prasarana (secara kuantitas maupun kualitas) secara tepat waktu maupun
           lokasi

 Keterpaduan Prasarana Kawasan dituntut terjadi baik pada tingkat Nasional, Propinsi,
 Kawasan Startegis, Kabupaten, Kota, maupun pada Kawasan Permukiman dan kawasan
 budidaya lainnya. Pengembangan struktur ruang pada tingkat Nasional, Propinsi, Kawasan
 Strategis, Kabupaten dan Kota membutuhkan adanya keterpaduan prasarana wilayah (pada
 tahap perencanaan, pembangunan, dan pengoperasian/ pemeliharaannya). Contoh dari
 adanya keterpaduan pembangunan prasarana wilayah pada tingkat kota, adalah dengan
 telah disusunnya Program Pembangunan Fisik PSD-PU dan Rencana Pembiayaan Jangka
 Panjang. Namun, pada pekerjaan ini yang dimaksud dengan ‘kawasan’ dibatasi pada
 tingkat kawasan permukiman yang merupakan bagian wilayah dari sebuah kota/
 kabupaten, baik yang merupakan pengembangan baru maupun yang telah lama ada

 Output KPK dari tahap perencanaan adalah dokumen rencana/ program pembangunan
 prasarana yang terpadu dari aspek apa yang akan dibangun, kapasitasnya, di lokasi yang

    PT. ....                                                                                                         5 - 23
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 mana, kapan pembangunannya akan mulai dilaksanakan dan diperkirakan selesai, dan
 siapa yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaannya. Sedangkan output KPK dari tahap
 pembangunan dan pengeoperasian adalah tersedianya layanan prasarana kawasan sesuai
 dengan kebutuhan minimum pengembangan kawasan.

                                                 Gambar 5.8.
                     Matriks Keterpaduan Prasarana Dengan Pengembangan Kawasan Baru




 Sumber: Bantek RP4D




    PT. ....                                                                                                       5 - 24
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

                                                  Gambar 5.9.
                          Tahapan-tahapan Pemastian Keterpaduan Prasarana Kawasan




                                             Sumber: Bantek RP4D




    PT. ....                                                                                                        5 - 25
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                Kegiatan Penyusunan
                                            Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 5.6. KONSEP PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
 Gambaran umum tentang pembangunan berkelanjutan dibahas atas: (i) definisi dan
 pengertian, (ii) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, dan (iii) lingkup pembangunan
 berkelanjutan.


 5.6.1. Definisi dan Pengertian Pembangunan Berkelanjutan
 Istilah pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation Strategy
 (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme
 (UNEP), International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dan
 World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1980. Pada 1982, UNEP menyelenggarakan sidang
 istimewa memperingati 10 tahun gerakan lingkungan dunia (1972-1982) di Nairobi, Kenya,
 sebagai reaksi ketidakpuasan alas penanganan lingkungan selama ini.

 Konsep Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development dipopulerkan melalui
 laporan WCED berjudul “Our Common Future” (Hari Depan Kita Bersama) yang diterbitkan
 pada      1987.     Laporan          itu   mendefinisikan            Pembangunan              Berkelanjutan            sebagai
 pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi
 kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

 Di dalam konsep tersebut terkandung dua gagasan penting, yaitu:

      a. gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial, kaum miskin sedunia yang harus
          diberi prioritas utama.

      b. gagasan keterbatasan, yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial
          terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebututuhan kini dan hari
          depan.


 5.6.2. Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan
 Tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dituangkan dalam gagasan keberlanjutan di
 semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Ada 4 (empat) syarat yang
 harus dipenuhi bagi suatu proses pembangunan berkelanjutan, yaitu:

      a. Menempatkan suatu kegiatan dan proyek pembangunan pada lokasi yang secara
          ekologis, benar;

      b. Pemanfaatan sumberdaya terbarukan (renewable resources) tidak boleh melebihi
          potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagi sumberdaya tak-terbarukan
          (non-renewable resources);




    PT. ....                                                                                                             5 - 26
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      c. Pembuangan limbah industri maupun rumah tangga tidak boleh melebihi kapasitas
          asimilasi pencemaran;

      d. Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung lingkungan
          (carrying capacity).


 5.6.3. Lingkup dan Komponen Pembangunan Berkelanjutan
 Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas
 daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup 3 (tiga) lingkup kebijakan, yaitu:

      a. pembangunan ekonomi,

      b. pembangunan sosial

      c. perlindungan lingkungan.

 Dokumen-dokumen PBB, terutama dokumen hasil World Summit 2005 menyebut ketiga hal
 dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan
 berkelanjutan seperti yang tergambar pada skema berikut ini.

                             Gambar 5.10. Skema Pembangunan Berkelanjutan




                                       Sumber: www.wikipedia.com



 Berdasar dari skema di atas, maka dalam Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (2001)
 lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa:

      a. keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman
          hayati bagi alam



    PT. ....                                                                                                       5 - 27
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      b. pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga
          sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual

      c. keragaman         budaya     merupakan         kebijakan         keempat         dari      lingkup       kebijakan
          pembangunan berkelanjutan.

 Pembangunan berkelanjutan bisa dijabarkan lagi dalam beberapa komponen yang akan
 saling mendukung dengan good governance, yaitu:

      a. sumberdaya manusia (human resources)

      b. sumberdaya sosial (social resources)

      c. sumberdaya alam (natural resources)

      d. sumberdaya fisik (physical resources)

      e. sumberdaya finansial (financial resources)

                           Gambar 5.11. Komponen Pembangunan Berkelanjutan

                                      dan Ketatapemerintahan yang Baik




                                         Sumber: Olahan Konsultan, 2011




    PT. ....                                                                                                          5 - 28
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 5.6.4. Pembangunan Berbasis Kelanjutan Ekologi
 Keberlanjutan        Ekologi     tidak    bisa      dilepaskan         dengan         pemahaman            Pembangunan
 Berkelanjutan (Keraf, 2002); di mana:

     a. Pembangunan             Berkelanjutan           adalah         suatu       proses        pembangunan              yang
          memfokuskan pada aspek pembangunan ekonomi sekaligus memberikan perhatian
          secara proposional pada aspek pembangunan sosial dan aspek lingkungan hidup;

     b. Keberlanjutan Ekologi adalah suatu proses pembangunan yang memfokuskan pada
          kelestarian lingkungan, dengan tetap menjamin kualitas kehidupan ekonomi dan
          sosial budaya masyarakat.



 Robert J. Kodoatie dan Roestam Sjarief (2005) menyatakan bahwa secara spesifik
 keberlanjutan ekologi melihat ekologi menjadi bagian utama dari keseimbangan
 pembangunan yang didukung oleh aspek sosial dan ekonomi. Kekayaan alam dapat
 dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas kehidupan; namun di sisi lain, alam harus dijaga
 keseimbangannya. Manusia tidak lagi terjebak dengan kata “pembangunan” yang diartikan
 salah oleh pelaku pembangunan; di mana pemahaman pertumbuhan ekonomi tidak lebih
 dari pertumbuhan produksi yang berakibat ekploitasi sumber daya alam dengan dalih
 pertumbuhan ekonomi (atau produksi) tersebut. Pembangunan tidak lagi dominan
 bermakna eksploitasi alam dmi untuk pemenuhan tuntutan pertumbuhan ekonomi semata,
 namun juga bersamaan dengan pertumbuhan nilai-nilai ekologi dan sosial. Pada prinsipnya,
 apabila Pembangunan Berkelanjutan dan Keberlanjutan Ekologi dapat dilaksanakan secara
 konsekuen, maka kedua istilah tersebut mempunyai tujuan yang sama.

 Salah satu bentuk keberlanjutan ekologi adalah: regenerative-environment yang pada
 prinsipnya adalah membangun komunitas yang mendorong terjadinya pola aliran siklus
 (cyclical flows) atas sumber daya, pusat konsumsi dan bahan-bahan buangan agar tidak
 hanya mengurangi pencemaran dan kerusakan lingkungan tetapi membangun relasi-
 keseimbangan antara manusia dengan lingkungan dengan cara:

      a. reduce (mengurangi) dapat berarti mengurangi jumlah sumber daya yang digunakan
          dari bumi dan residu aktivitas yang dibuang ke bumi, sehingga beban bumi dalam
          menetralkannya berkurang;

      b. reuse (mengolah kembali) berarti menggunakan kembali dari pada dibuang dan
          menjadi beban bumi untuk mengelolanya;

      c. recycle (mendaur ulang) berarti mendaur ulang residu menjadi sesuatu yang baru
          dan nilai manfaatnya bertambah.

    PT. ....                                                                                                           5 - 29
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Pembuangan ke laut, tanah, dan udara menjadi pilihan terakhir setelah ketiga prinsip
 tersebut diaplikasikan.

 Skema sederhana mengenai regenerative-environment bisa terlihat pada gambar berikut
 ini.

                               Gambar 5.12. Skema Regenerative Environment




                                      Sumber: Studi Ecocity Calang-BRR, 2007




    PT. ....                                                                                                            5 - 30
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 5.7. PERENCANAAN BERBASIS ECO-REGION

 Bioregion dipahami sebagai region, kawasan atau wilayah yang disusun atas satuan-satuan
 ekologis. Dan Williams dan Chris Jackson (dalam Donald Watson, 2003) menyatakan secara
 umum bahwa bioregion terbagi atas 3 (tiga) elemen atau satuan ekologis seperti yang
 terlihat pada tabel berikut ini.


                                        Tabel 5.1. Elemen Bioregion




                                            Sumber: Donald Watson, 2003




        Donald Watson (2003) menyatakan bahwa bioregionalism atau perencanaan berbasis
        bioregion      merupakan      pendekatan         untuk       merencanakan             tempat-tempat              dan
        infrastruktur kota dalam konteks lngkungan dari region yang diperjelas dengan
        bentukan tanah, vegetasi dan sumber air, keterkaitan dengan spesies, klimat dan
        sumber daya yang ada. Konservasi sumber daya alami, pembuatan zona vegetasi dan
        pemulihan buangan limbah merupakan strategi penting dalam perencanaan berbasis
        bioregion yang mendorong keseimbangan kebutuhan manusia dengan daya dukung
        dari lingkungan alami dan kultural. Daya dukung lingkungan (carrying capacity)
        dipahami sebagai kemampuan alami dari lingkungan atau ekosistem untuk
        melanjutkan kehidupan dan pertumbuhan. Daya dukung lingkungan tidak bisa
        dilepaskan dengan aturan ekologi yang mengatur seluruh kehidupan spesies pada
        habitatnya, yaitu: Hukum Homeostatik. Hukum Homeostatik menyatakan bahwa
        jumlah spesies pada suat habitat sangat tergantung pada daya dukung lingkungan
        yang dimiliki. Bila jumlah spesies melebihi daya dukung lingkungan, maka secara
        alami akan mengalami keseimbangan dalam bentuk penurunan jumlah.

    PT. ....                                                                                                        5 - 31
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                  Kegiatan Penyusunan
                                              Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


        Secara prinsip, pembangunan kota tidak bisa dilepaskan dengan konteks lingkungan
        hidup atau sumber daya alami yang ada di sekitarnya. Perencanaan keruangan yang
        mendorong terjadinya integrasi dari pembangunan kota dengan sumber daya alami
        (Donald Watson, 2003) meliputi:
             1. Perilaku alami dalam ekosistem (natural behavior within ecosystem). Sebuah
                 pemahaman dasar akan tata kelakuan natural dari suatu ekosistem
                 dibutuhkan sebelum merancang fasilitas-fasilitas yang berfungsi di dalamnya,
                 dibentuk oleh inventaris sumber daya yang ada sebelum merancang suatu
                 proyek.
             2. Keterkaitan           antar      ekosistem          (links      between          ecosystems).           Terdapat
                 keterkaitan antar ekosistem yang mungkin saja terpisah secara geografis,
                 yaitu, antara hutan pegunungan dan mangrove pesisir, antara mangrove dan
                 batu karang. Perubahan dalam satu ekosistem dapat berakibat pada
                 ekosistem yang lain.
             3. Fragmentasi habitat (fragmentation of habitats). Baik disebabkan oleh
                 konstruksi suatu fasilitas tertentu atau karena keputusan tata guna lahan atas
                 suatu ekosistem, fragmentasi habitat menyebabkan hilangnya keragaman
                 biologis dan harus di minimalkan, dan di manapun yang dimungkinkan,
                 dikembalikan dengan pengaturan kembali preservasi dan koridor lingkungan
                 hidup.
             4. Tuntutan manusia pada ekosistem (human demands on ecosystems). Tuntutan
                 manusia akan penggunaan suatu ekosistem bersifat kumulatif. Usulan baru
                 harus memperhitungkan penggunaan sumber-sumber                                          daya sebelumnya
                 sehingga akibat dari aktivitas yang lalu, pembangunan yang diusulkan, dan
                 masa depan yang diantisipasi tidak melebihi kapabilitas ekosistem. Besaran
                 dan jenis dari pembangunan potensial apapun sebaiknya ditentukan oleh
                 kapabilitas dan ketahanan ekosistem dan bukan oleh kapasitas fisik dari
                 tapak.
             5. Batasan perubahan yang dapat diterima (acceptable limits of change).
                 Perubahan dalam suatu sistem memang tidak dapat dihindari, namun
                 batasan-batasan dari perubahan lingkungan yang dapat diterima – sering
                 disebut kapasitas bawaan – harus ditetapkan sebelum pembangunan dimulai.
                 Perubahan yang dapat diterima tidak boleh mendekati batas tertinggi dari
                 kapasitas      karena          peristiwa         yang       tidak      dapat       diperkirakan           seperti
                 kemarau/kekeringan dan badai dapat terjadi sampai melebihi batas tersebut
                 dan menyebabkan rusaknya seluruh sistem.


    PT. ....                                                                                                               5 - 32
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                  Kegiatan Penyusunan
                                              Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


             6. Monitoring ekosistem (ecosystem monitoring). Akibat-akibat dari sumber-
                 sumber daya di sekitar fasilitas pembangunan dan operasi harus dimonitor
                 dan dievaluasi secara rutin, dan diambil tindakan sesegera mungkin untuk
                 mengatasi persoalan.
        Prinsip dasar dari perencanaan berbasis bioregion yang tercermin dalam “Valdez
        Principles for Site Design”, yaitu:
             1. Pengenalan atas konteks (regcognition of context);
             2. Perlakukan lansekap secara saling ketergantungan dan saling berkaitan
                 (treatment of landscape as interdependent);
             3. Integrasi lansekap setempat dalam pembangunan (integration of the native
                 landscape with development);
             4. Promosi keberagaman hayati (promotion of biodiversity);
             5. Penggunaan kembali area yang sudah rusak (reuse of already disturbed
                 areas);
             6. Mendorong kebiasaan memperbaharui (making a habit of restoration).




 5.8. KONSEP KAWASAN HEMAT ENERGI
 Pemahaman tentang konsep kawasan hemat energi sangat terkait dengan upaya konservasi
 energi, dan konservasi energi menjadi pertimbangan dalam penentuan daya dukung dan
 daya tampung lingkungan. Kawasan sebagai ekosistem tidak lagi menggambarkan
 pertentangan di antara alam liar dan tempat peradaban, melainkan memungkinkan suatu
 sintesis di antara lingkungan alam dan lingkungan buatan serta segala mahluk hidup (flora,
 fauna, manusia) didalamnya.



 Pada dasarnya terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam pengembangan
 kawasan hemat energi, yaitu:

 a. Pengembangan kawasan terpadu berskala besar.
      Kawasan terpadu di sini adalah sebuah kawasan permukiman mandiri yang lengkap,
      dimana pengembangan prasarana dan sarana dasar serta permukiman dilakukan dalam
      sub-sub kawasan, sehingga dapat memangkas waktu dan energi yang dikeluarkan dalam
      setiap perjalanan. Terdapat dua hal utama yang dapat dicapai melalui pengembangan
      kota    terpadu       ini,      yaitu      hemat        energi        penggunaan           sumber         daya       listrik,
      komunikasi��hemat energi dalam transportasi regional



    PT. ....                                                                                                               5 - 33
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 b. Pengembangan pola site plan/master plan kota                                  dengan penyediaan fasilitas
      lingkungan yang mengurangi penggunaan kendaraan semaksimal mungkin.




                                                  Gambar 5.13.
                                      Perumahan Hemat Energi di Inggris




                                        Sumber: Kajian Konsultan, 2010




             Salah satu studi kasus adalah di Bogota. Untuk menghemat energi dan
             mengurangi polusi udara kota, Enrique Penalosa - walikota Bogota tahun 1998-
             2001 - membangun jalur sepeda sepanjang 350 km. Ini merupakan kota yang
             memiliki jalur sepeda terpanjang di Amerika Latin maupun di kota-kota negara
             berkembang lainnya.

             Jalur-jalur sepeda dan pedestrian itu dibuat sangat kompak, menerus, dan
             terintegrasi serta akses yang sangat luas hingga menembus berbagai kawasan
             pemukiman. Selain itu, pemerintah kota pun memanjakan para pengguna sepeda
             dan pejalan kaki dengan berbagai regulasi keistimewaan (privilage). Untuk
             mendukung ini, tak segan-segan walikota sendiri dan pejabat pemerintahnya
             memiliki jadwal tertentu untuk bersepeda saat pergi ke kantor. Oleh karenanya
             dalam waktu lima tahun, jumlah pengendara sepeda meningkat drastis hingga

    PT. ....                                                                                                         5 - 34
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


             mencapai 100% nya, yakni dari 8% pada tahun 1998 menjadi 16% pada 2003.
             Bahkan hingga tahun 2005 ini, ditargetkan sekitar 30% penduduk Bogota akan
             menjadikan sepeda sebagai salah satu moda transportasinya. Semua itu tidak
             lepas dari perhatian pemerintah kotanya yang menyediakan fasilitas jalur sepeda
             yang aman dan nyaman tersebut.

                                                  Gambar 5.14.
                     Visualisasi Pembuatan Jalur Sepeda Khusus di sertai Tempat Parkirnya




                                            Sumber: Kajian Konsultan, 2010




             Untuk mensukseskan kebijakannya dapat dilakukan beberapa hal pertama
             lakukan dengan cara konsep mengundang, yakni membuat jalur khusus sepeda
             dan pedestrian beserta penyeberangannya yang aman dan nyaman. Kedua,
             lakukan kampanye dan contoh nyata dari para pejabat, pada hari-hari tertentu
             mereka juga bersepeda ke kantor seperti di Bogota tersebut. Ketiga, buat
             undang-undang perlindungan, khususnya undang-undang keistimewaan (privilege)
             bagi pengguna sepeda dan pejalan kaki. Sudah semestinya pemihakan lebih
             diberikan kepada moda transportasi yang hemat energi dan ramah lingkungan
             seperti     ini.   Keempat,      buat      aturan        untuk       kelancaran,          keamanan           dan
             kenyamanannya. Khusus untuk pedagang kaki lima (PKL) yang berpeluang
             mengambil tempat di jalur sepeda dan pedestrian, perlu pendekatan tersendiri
             dalam penanganannya. Dan kelima, lakukan ketegasan penegakan aturan, hukum
             dan Undang-Undang.

        c. Pengadaan design bangunan yang ramah lingkungan dan mengupayakan
             penghematan energi semaksimal mungkin. Berikut adalah contoh design
             bangunan yang hemat energi, dengan memanfaatkan energi matahari yang masuk
             ke dalam ruangan melalui kaca di area corridor

    PT. ....                                                                                                         5 - 35
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

                                                     Gambar 5.15.
                                      Contoh Desain Bangunan Ramah Lingkungan




                                           Sumber: Kajian Konsultan, 2010




        d. Pola hijau perkotaan yang memaksimalkan penghijauan pada jalur median,taman
             kota,taman lingkungan,tepi sungai dll gunamengeluarkan O2 cukup besar dari
             tanaman yang ada, guna meningkatkan produksi o2 sebanyak banyaknya guna
             mengurangi kadar CO2
                                                     Gambar 5.16.
                                  Contoh Penghijauan di Kawasaan Permukiman




                                           Sumber: Kajian Konsultan, 2011




    PT. ....                                                                                                            5 - 36
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


        e. Pembangunan sistem pengolahan air limbah bersih yang mendaur ulang 100
             persen air buangan, baik keperluan sehari-hari (cuci tangan, piring, kendaraan,
             atau bersuci diri) maupun air limbah (air buangan dari kamar mandi, kloset air).
             Air daur ulang dapat digunakan untuk mencuci kendaraan, membilas kloset, dan
             menyiram tanaman di taman, sehingga tidak ada air yang terbuang. Bahkan di
             beberapa tempat saat ini sudah dilakukan pula daur ulang air wudhu yang dapat
             digunakan kembali untuk berwudhu)
        f. Penanganan masalah sampah dengan membangun tempat proses pengolahan dan
             pengelolaan sampah secara berkelanjutan dengan prinsip zero waste material,
             melalui Program 3R (reduce, reuse, recycle). Seluruh penghuni perumahan harus
             diberdayakan untuk mengurangi (reduce) pemakaian bahan-bahan sulit terurai
             yang mampu menekan jumlah produksi sampah rumah tangga hingga 50 persen.
             Sampah anorganik dipilah dan dipakai ulang (reuse), yakni bahan-bahan seperti
             kertas, botol gelas, kayu, dan besi. Sampah organik didaur ulang (recycle)
             sehingga dapat bernilai ekonomis seperti menjadi pupuk organik untuk
             menyuburkan tanaman kebun dan pepohonan di kawasan perumahan.
        g. Pemanfaatan energi-energi alternatif
             Kota ekologis memanfaatkan sejauh mungkin sumber energi terbarukan (energi
             surya, angin, air dan geothermal) terutama untuk membangkitkan listrik. Contoh
             pemanfaatan energi terbarukan adalah sebagai berikut:

             1) Energi Surya
                 Energi surya dapat dimanfaatkan untuk energi radiasi (panas) dan radiasi
                 cahaya, sel surya (listrik).

             2) Energi Air
                 Energi air dapat dimanfaatkan untuk penggilingan, penggergajian atau
                 sebagai penggerak mesin yang lain. Energi air secara tradisional digunakan
                 sebagai kincir air, selanjutnya untuk membangkitkan listrik biasanya
                 digunakan turbin.




    PT. ....                                                                                                       5 - 37
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

                                                     Gambar 5.17.
                                      PLTA Mikrohidro di Desa Gema – Ketapang




                                                Sumber : ketapang.go.id




             3) Energi Geothermal

                 Energi geothermal memanfaatkan panas bumi untuk menghasilkan uap yang
                 dapat digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Perlu diketahui bahwa
                 pembangkit listrik dengan penggunaan panas (uap) merupakan sistem yang
                 kurang efisien (faktor efisiensi < 27%).                     Jika bahan bakar yang digunakan
                 merupakan energi terbarukan atau yang selalu ada (tenaga surya, angin, air
                 dan biomassa) hal ini tidak terlalu memberatkan. Tetapi jika bahan bakar
                 yang digunakan tidak terbarukan (minyak bumi, gas dan batubara), hal ini
                 tidak berkesinambungan




    PT. ....                                                                                                            5 - 38
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 5.9. PROFIL KAWASAN PERBATASAN NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)
 Cakupan wilayah administrasi kawasan perbatasan darat di Provinsi Nusa Tenggara Timur
 (NTT) meliputi 3 (liga) kabupaten, terdiri atas 10 (sepuluh) kecamatan. Sedangkan
 kawasan perbatasan laut meliputi 4 (empat) Kabupaten, terdiri atas 5 (lima) kecamatan.
 Fokus wilayah kajian kegiatan Penyusunan Data Keruangan Dalam Rangka Pemanfaatan
 Ruang Kawasan Perbatasan Darat ini adalah wilayah Insana Utara. Namun demikian, untuk
 memberikan gambaran awal kawasan perbatasan NTT dengan Republik Demokratik Timor
 Leste (RDLT), dapat dijelaskan sebagai berikut :


 A. BATAS WILAYAH RI – RDTL

      1.   Lingkup Wilayah Perbatasan darat
           Kawasan perbatasan darat Timor bagian barat dengan RDTL secara administrasi meliputi 10
           Kecamatan :
               1.   Kabupaten Kupang : Kecamatan Amfoang Utara
               2.   Kabupaten Timor Tengah Utara : Kecamatan Miomafo Barat, Miomafo Timur & Kecamatan
                    Insana Utara
               3.   Kabupaten Belu : Kecamatan Malaka Timur, Tasifeto Barat, Tasifeto Timur,
                    Lamaknen,Kecamatan Rehaat & Kecamatan Kobalima
      2.   Perbatasan laut
           Kawasan perbatasan Laut Wilayah NTT dengan RDTL meliputi 4 Kabupaten, 5 Kecamatan :
               1.   Kabupaten Kupang : Kecamatan Amfong Utara
               2.   Kabupaten Belu : Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Kobalima
               3.   Kabupaten TTU : Kecamatan Insana Utara
               4.   Kabupaten Alor : Kecamatan Alor Barat Daya
      3.   Gambaran Fisik Garis Perbatasan
           Perbatasan Negara di daratan di Timor Barat dengan RDTL meliputi
           3 wilayah Kabupaten yaitu :
               1.   Kabupaten Belu sepanjang 149,9 Km (dari Motaain di Utara sampai Mota Masin di Selatan)
               2.   Perbatasan pada wilayah enclave Ambenu dengan Kabupaten Kupang sepanjang 15,2 Km
               3.   Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sepanjang 114,9 Km
 Total    garis     perbatasan     negara               darat        di       Kabupaten           Belu,        TTU          dan
 Kabupaten Kupang sepanjang 268,8 Km


                       Gambaran Demarkasi Darat dan Perairan di Wilayah Provinsi NTT

                                                                            Desa
                                                         Pulau
                            Panjang                               Garis    Batas
                                                        Kecil /
              No Kabupaten Perbatasan                           Perbatasan Darat                       Ket
                                                         Pulau
                             Darat                                Pantai     /
                                                        Terluar
                                                                           Pantai
                                                                                        34 Ds RDTL +
              1     Belu              149,1 Km      -                52 Km
                                                                                        4 Ds Aus*
                                                                                        19 Ds
              2     TTU               104,5 Km      -                -                        RDTL*
                                                                                        1 Ds

    PT. ....                                                                                                           5 - 39
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                                                                                        -     -
              3    TTS                -             -                86 Km
                                                                                        21 Ds Aus.
                                                    Batek-                              2 Ds RDTL +
              4    Kupang             15,2 Km       Dana             32 Km
                                                                                        12 Ds Aus.
                                                    Sabu
                                                                                        -          -
              5    Alor               -             Alor             63 Km
                                                                                        6 Ds       RDTL
                                                                                        -     -
              6    Rote Ndao -                      Ndana            55 Km
                                                                                        10 Ds Aus*

                   Sumba                                                                           Samudera
              7                       -             Manggudu 55 Km                      54 Ds
                   Timur                                                                           Aus*
              Jumlah                  268,8 Km      5 Pulau          288 Km             54 Ds




 B. Kebijakan Penanganan Perbatasan
 Kebijakan Pengembanan Perbatasan dalam RTRWP NTT (Perda Nomor 9 Tahun 2005) dilakukan melalui
 upaya-upaya sebagai berikut :

      1.   Mendorong pengembangan kawasan perbatasan RI, Timor Leste dan Australia sebagai beranda depan
           Negara Indonesia di Daerah;
      2.   Percepatan pembangunan kawasan perbatasan negara yang berlandaskan pada pola kesejahteraan,
           keamanan dan kelestarian lingkungan.
      3.   Kawasan prioritas untuk keamanan wilayah meliputi kawasan pulau-pulau terdepan, seperti pulau
           Batek, Ndana, Dana, Selura, Mengkudu dan Kotak.


                             Kebijakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
                                             Tahun 2008 – 2013
 Agenda Khusus : Penanggulangan masalah kemiskinan, penanganan kawasan perbatasan, pengembangan
 daerah kepulauan dan penanganan daerah rawan bencana alam


 Perkembangan Pembangunan Kawasan Perbatasan

      1.   Aspek hukum internasional
               o   Pembangunan Pos Perbatasan 3 unit di Motaaian, Motamasin & Metamauk;
               o   Pembangunan Pos Imigrasi di 7 pintu masuk;
               o   Pembangunan Pos Karantina;
                   Pembangunan Pos Bea Cukai;
               o   Pemasangan Pilar Batas untuk kepentingan pembuatan koordinat batas;
               o   Pengkajian Intensif Batas Wilayah;
               o   Pemasangan lampu suar dan rumah jaga di pulau Batek
      2.   Aspek pertahanan keamanan
               o   Penempatan Pasukan pada pulau terdepan
      3.   Aspek pengembangan wilayah
               o   Pemukiman dan prasarana wilayah

    PT. ....                                                                                                           5 - 40
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                            Pembangunan permukiman di desa wilayah perbatasan;
                            Peningkatan mutu jalan kawasan perbatasan : Akses batas Kupang–Citrana,
                             TTU ke Batas Distrik Ambenu dan Batas Belu ke arah Distrik Bobonaro;
                            Pembangunan prasarana Irigasi perbatasan
               o   Perekonomian
                            Pembangunan pasar di daerah perbatasan yaitu di Kabupaten Belu (Motaain,
                             Motamasin dan Turiskain); dalam rencana TTU (Napan) dan Kupang (Naikliu)
               o   Sosial
                            Pembangunan Rumah Sakit perbatasan di Betun
               o   Penanganan pengungsi
                        1.   Bantuan sosial berupa bantuan jaminan hidup/ bekal hidup, yang diberikan langsung
                             kepada warga pengungsi.
                        2.   Program penanganan KBS atau dikenal dengan bantuan keserasian sosial pada 8
                             Kabupaten/Kota di Provinsi NTT untuk 4.550 Kepala Keluarga.
                        3.   Program Bantuan Pembangunan Rumah bagi KBS penghuni Kamp di Daratan Timor,
                             Provinsi NTT sebanyak 5.000 unit, tersebar di 45 Desa di Timor Barat
                        4.   Pembangunan daerah transmigrasi untuk warga eks pengungsi Timor Timur
                        5.   Penanganan terhadap kondisi tanggap darurat
                        6.   Penanganan terhadap perumahan dan permukiman data rumah yang sudah dibangun
                             untuk penanganan pengungsi/ eks pengungsi sampai dengan tahun 2005 sebanyak
                             7.753 unit
               o   Untuk kegiatan pergerakan barang dan orang di antar RI-RDTL pada tanggal 11 Juni 2005
                   telah disepakati Perjanjian Lintas batas dan Pengaturan Pasar Tradisional
                            Penetapan lokasi dan kegiatan pasar perbatasan meliputi:
                                 1.   Kabupaten Belu : Motaain, Metamauk dan Turiskain
                                 2.   KabupatenTTU : Napan Haumusu dan Haumeniana
                                 3.   Kabupaten Kupang : Oepoli – Amfoang Utara.
                            Ditetapkannya kecamatan perbatasan yang meliputi 5 kecamatan di Kabupaten Belu,
                             4 kecamatan di Kabupaten TTU & 1 Kecamatan di Kabupaten Kupang, serta 3
                             kecamatan perbatasan di Kabupaten Alor.
                            Ditetapkan juga Pengaturan Jalan Lintas Tradisional:
                                 1.   Motoain - Batu Gade
                                 2.   Metamauk – Salele
                                 3.   Haekesak – Turiskain
                                 4.   Builalu - Memo
                                 5.   Napan – Bobometo
                                 6.   Haumusus/Wini – Pante Makasar
                                 7.   Oepoli – Citrana
                                 8.   Laktutus – Belulik Leten




 C. KELEMBAGAAN PENGELELOLAAN PENGATURAN PERBATASAN
 Untuk menangani permasalahan dan merancang kegiatan untuk menindak lanjuti berbagai kesepakatan dalam
 pengaturan lintas batas negara antar negara RI - RDTL, melalui forum Joint Border Committee di Pemerintah
 Pusat disepakati dan ditetapkan Sub-sub Komite Teknis dan ditingkat Propinsi dibentuk Border Liaison
 Committee                                                                                         (BLC)
 Sub-sub komite tersebut meliputi :

      1.   Technical Sub Committee on Border Movement of Person and Goods and Crsossing RI – RDTL
      2.   Technical Sub Committee on Border Security RI - RDTL

    PT. ....                                                                                                           5 - 41
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      3.   Technical Sub Committee on Police Cooperation RI – RDTL
      4.   Technical Sub Committee on River Management RI – RDTL
      5.   Technical Sub Committee on Border Demarcation and Regulation
 Permasalahan yang timbul:

          Terbatasnya prasarana, sarana, SDM & regulasi yang memiliki fungsi pada kegiatan-kegiatan
           keimigrasian, kepabeanan & karantina;
          Belum tuntasnya kesepakatan batas-batas negara baik di darat maupun di perairan;
          Pelanggaran imigrasi, ilegal fishing dan human traficking;
          Terbatasnya prasarana, sarana & SDM yang memiliki fungsí pada kegiatan-kegiatan pertahanan &
           keamanan baik di darat, laut maupun udara;
          Belum jelasnya status kepemilikan lahan, khususnya yang akan dipergunakan bagi fasilitas publik;
          Belum memadainya sarana, prasarana & SDM, serta kegiatan pelayanan di bidang kesehatan &
           pendidikan
           Belum memadainya prasarana ekonomi, seperti pasar;
          Lemahnya aspek permodalan dan perdagangan;




 D. PERKEMBANGAN PERDAGANGAN LINTAS BATAS NEGARA KESATUAN
 RI DENGAN RDTL

          Perdagangan lintas batas
               o    Perdagangan yang telah dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah perbatasan.
               o    Perdagangan yang saat ini dikembangankan untuk memfasilitasi kebutuhan penduduk di
                    perbatasan.
               o    Perdagangan barang yang tidak dilarang oleh salah satu pemerintah.
          Tujuan perdagangan lintas batas
               o    Perdagangan lintas batas bertujuan untuk memfasilitasi perdagangan penduduk yang tinggal di
                    daerah perbatasan.
               o    Meningkatkan kesejahteraan penduduk yang hidup di daerah perbatasan.
               o    Memudahkan lalu lintas orang dan barang.
               o    Meningkatkan kapasitas pengelolaan potensi wilayah perbatasan.
               o    Mengurangi penyulundupan
          Pasar perbatasan
               1.   Pengaturan tempat keluar masuknya pelintas batas tradisional di 9 crossing points (Motaain,
                    Metamauk, Haekesak, Builalo, Napan, Haumusu C, Haumeniana, Oepoli dan Latutus).
               2.   Dari 9 crossing points tersebut sebanyak 7 pasar ponts ditetapkan sebagai lokasi dari
                    regulated market.
               3.   Sebanyak 6 pasar telah dibangun oleh Departemen Perdagangan yaitu:
                    3 pasar di Kabupaten Belu (Motaain di desa Silawan Kec. Tasi Feto Timur, Turiskain di Desa
                    Maumutin Kec. Raihat, Motamasin didesa Alas Selatan Kec. Kobalima) tahun 2003 dengan
                    dana sebesar Rp. 2.199.937.000,- dan
                    3 pasar di kabupaten TTU (Haumusu di Desa Wini Kec. Insana Utara, Napan di Desa Napan
                    Kec. Meomafo Timur, Haumeniana diDesa Haumeniana Kec. Miomafo Timur) tahun 2004
                    dengan dana sebesar Rp. 1.784.575.000,-
               4.   Karena Timor Leste belum menerbitkan Pas Lintas Batas (PLB), maka pasar tersebut belum
                    dimanfaatkan untuk perdagangan lintas batas.
          Cakupan border trade (Perdagangan lintas batas)
           Provinsi NTT memiliki perbatasan darat dan laut (Kabupaten Belu, TTU, Kupang dan Kabupaten Alor)
           berbatasan dengan Timor Leste (Distrik Bobonaro, Covalima, Oecusi).


    PT. ....                                                                                                           5 - 42
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


         Bentuk perdagangan RI (NTT) – RDTL
               o   Perdagangan Normal
                        1.   Saat ini perdagangan NTT dan RDTL dilaksanakan dengan ketentuan perdagangan
                             normal, baik melalui laut maupun darat (menggunakan mobil-mobil boks/ perdagang
                             keliling).
                        2.   Neraca perdagangan NTT – Timor Leste 2006 – 2008* dalam US $

                     Uraian                    2006                   2007                     2008*
                Total Trade           14.904.923,31          14.539.620,62             26.284.966,28
                Ekspor                14.866.203,69          14.390.414,67             25.521.289,30
                Impor                 38.719,62              149.205,95                763.676,98
                Neraca                14.827.484.07          14.241.208,72             24.757.612.32
                                          ket.)* Data sampai Agustus 2008

                        1.   Produk utama NTT ke Timor Leste
                                     Bahan bangunan
                                     Sparepart kendaraan
                                     Makanan ringan
                                     Pakaian/ tekstil
                                     Perabot rumah tangga
                                     Sabun
                                     Alat tulis kantor
                                     Alas kaki
                                     Barang elektronik
                                     Bumbu dapur
                                     Kasur (kapuk/busa)
                                     Generator
                                     Semen
                                     Ikan kering
                                     Bawang
                                     Sayur-sayuran
                                     Barang campuran
                                     Migas
                        2.   Produk impor utama dari Timor Leste ke NTT
                                     Sapi potong
                                     Kerbau
                                     Kopra
                                     Kemiri gelondongan
                                     Kopi kulit
                                     Kulit sapi/kerbau
                                     Kacang hijau

         Perdagangan lintas batas

                                     Perdagangan yang bebas bea masuk dengan syarat-syarat tertentu yaitu:
                                          1.    Perdagangan bagi pemegang kartu pas lintas batas
                                          2.    Produk yang diperdagangkan :



    PT. ....                                                                                                           5 - 43
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                                                     3.   Alat pertanian yang biasa digunakan di desa perbatasan.
                                                     4.   Perkakas & bahan bangunan yang dapat dipergunakan
                                                          untuk membuat rumah.
                                                     5.   Alat-alat listrik yang biasa digunakan untuk penerangan.
                                                     6.   Alat-alat rumah tangga untuk keperluan rumah tangga di
                                                          desa perbatasan.
                                                     7.   Pakaian jadi untuk keperluan pemakaian pribadi.
                                                     8.   Barang-barang kebutuhan sehari-hari yang biasa
                                                          digunakan untuk konsumsi.
                                          9.   Barang-barang hasil pertanian yaitu barang yang diproduksi dan
                                               atau dihasilkan di daerah perbatasan
                                          10. Bahan-bahan makanan alami, baik yang segar maupun yang
                                              dikalengkan.
                                          11. Prosedur kepabeanan berlaku bagi barang-barang yang tidak
                                              tercakup dalam ketentuan tersebut.
                                          12. Berlaku ketentuan health and quarantine

          Jenis barang yang dilarang untuk diperdagangkan secara lintas batas yaitu :

                        o
                                 1.   Bahan bakar minyak (minyak diesel, minyak tanah, gasalin, bensin, dll.
                                 2.   Senjata (senjata api)
                                 3.   Obat-obat terlarang
                                 4.   Pakaian seragam militer dan sipil (PNS)
                                 5.   Peralatan komunikasi seperti HF, VHF
                                 6.   Kayu Cendana atau produk-produk yang dibuat dari kayu Cendana
                                 7.   Emas dan batu berharga lainnya.
                                 8.   Barang-barang yang dilarang di bawah undang-undang yang berlaku antara
                                      kedua negara.
                                 9.   Barang-barang subsidi pemerintah


 E. Permasalahan Perdagangan Lintas Batas RI - RDTL

      1.   Perjanjian perdagangan lintas batas antara pemerintah RI dan RDTL belum dapat diimplementasikan
           karena pihak Timor Leste belum menerbitkan Pas Lintas Batas (PLB) bagi penduduknya.
      2.   Pemahaman terhadap ketentuan perdagangan lintas batas masih rendah.
      3.   Infrastruktur penunjang perdagangan masih terbatas.
      4.   Penetapan garis batas negara yang belum jelas




 F. Solusi

      1.   Timor Leste dapat menjadi peluang pasar yang prospektif bagi produk non migas RI (NTT);
      2.   Selama ini arus perdagangan ke Timor Leste dikuasai oleh pedagangan dari Surabaya dan Makassar,
           mengingat Kupang memiliki jarak yang terdekat perlu dikembangkan infrastrukur dan pengembangan
           industri di perbatasan NTT.
      3.   Kondisi wilayah perbatasan masih tertinggal dan berpenduduk miskin, dengan pengembangan
           perdagangan di perbatasan diharapkan akan meningkatkan taraf hidup penduduk perbatasan.




    PT. ....                                                                                                           5 - 44
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      4.   Perjanjian perdagangan lintas batas belim dapat diimplementasikan mengingat pihak Timor Leste belum
           menerbitkan pas lintas batas bagi penduduknya. Oleh sebab itu pemerintah Indonesia perlu mendesak
           pihak Timor Leste.
      5.   Daerah perbatasan sangat rawan illegal trade, untuk itu diperlukan penambahan dan kemampuan para
           petugas yang melayani pos lintas batas.
      6.   Mengingat daerah perbatasan yang ditetapkan dalam perjanjian tidak seluruhnya tepat, perlu dilakukan
           revisi dari perjanjian tersebut, seperti nilai barang yang diperbolehkan sangat terbatas




 Dalam penyusunan kebijakan dan strategi spasial pengembangan kawasan perbatasan ini
 dipilih. isu pengembangan yang akan diberi perhatian khusus, yaitu:
      1. Kerawanan di bidang pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan.
               a. Pelintas batas ilegal
               b. Perdagangan ilegal dan penyeludupan
               c. Pemahaman garis batas negara yang belum diketahui oleh masyarakat
               d. Terdapat kegiatan kerawanan gerakan separatis
      2. Keterisolasian wilayah dan ketertinggalan tingkat perkembangan wilayah
               a. Keterbatasan prasarana dan sarana
               b. Kekurangan pendanaan pemda
               c. Kondisi jaringan jalan masih banyak yang rusak
      3. Pengelolaan sumber daya alam masih kurang optimal
               a. Eksploitasi SDA ilegal
               b. Pencemaran lingkungan disebabkan pengelolaan di daerah batas
               c. Pengelolaan lingkungan masih bersifat komoditi pertanian
               d. Pola pengelolaan masih bersifat tradisi dan budaya yang diwariskan
      4. Ketersediaan kualitas dan kuantias sumber daya manusia
               a. Tingkat pendidikan secara riil rendah
               b. Tingkat ketrampilan masih rendah
               c. Prasarana dan sarana kebutuhan pelayanan penduduk masih sangat kurang
               d. Prasarana dan sarana dasar (air bersih, listrik, telepon dan lain-lain)




    PT. ....                                                                                                          5 - 45
          BAB 6.
PENDEKATAN DAN METODOLOGI




      ABSTRAK
      Bab ini secara umum berisi penjabaran secara lebih detail mengenai
      pendekatan serta metodologi yang akan dilakukan oleh calon Penyedia
      Jasa dalam upaya penyelesaian substansi pekerjaan. Pada bab ini
      akan   dijelaskan   mengenai   berbagai   pendekatan     penyelesaian
      substansial yang akan digunakan ataupun metodologi yang akan
      dilakukan, baik metode survei ataupun metode analisa .
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 6.1. PENDEKATAN STUDI
 Pendekatan pekerjaan merupakan acuan yang digunakan sebagai pertimbangan dalam
 melakukan proses kajian dalam studi ini. Pendekatan pekerjaan yang digunakan dalam
 Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan
 Perbatasan darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan
 dijabarkan pada pembahasan pada sub bab berikut ini.


 6.1.1. Pendekatan Perencanaan
 Pendekatan perencanaan yang digunakan adalah:

     a. Pendekatan Eksploratif dalam Pengumpulan Data

          Pendekatan eksploratif bercirikan pencarian yang berlangsung secara menerus.
          Pendekatan ini akan digunakan baik dalam proses pengumpulan data dan informasi
          maupun dalam proses analisa dan evaluasi guna perumusan konsep penanganan.

             1) Eksplorasi dalam Proses Pengumpulan Data dan Informasi

                 Pendekatan eksploratif digunakan mulai dari kegiatan inventarisasi dan
                 pengumpulan data awal, hingga eksplorasi data dan informasi di lokasi studi
                 yang     dilakukan.   Sifat      pendekatan            eksploratif         yang      menerus          akan
                 memungkinkan terjadinya pembaharuan data dan informasi berdasarkan hasil
                 temuan terakhir. Informasi yang didapat dengan pendekatan ini bisa bersifat
                 situasional dan berdasarkan pengalaman sumber.

             2) Eksplorasi dalam Proses Analisa dan Evaluasi

                 Eksplorasi dalam proses analisa dan evaluasi dilakukan guna mengelaborasi
                 pokok permasalahan serta konsep-konsep penanganan dan pengembangan
                 kawasan pusat kota yang ada berikut dukungan regulasi dan kebijakan.
                 Eksplorasi perlu mengaitkan konsep-konsep teoritis dengan kondisi dan
                 karakteristik permasalahan melalui pendalaman pemahaman terhadap lokasi
                 pekerjaan.

     b. Pendekatan Studi Dokumenter dalam Identifikasi dan Kajian Materi Pekerjaan

          Model pendekatan studi dokumenter akan menginventarisasi dan mengeksplorasi
          berbagai dokumen terkait dengan materi pekerjaan. Studi dokumenter memiliki ciri
          pendekatan yang mengandalkan dokumen/data-data sekunder seperti:

             1) Peraturan perundangan-undangan dan dokumen kebijakan yang terkait


    PT. .....                                                                                                        6-2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


             2) Laporan perencanaan penataan kawasan perkotaan pada wilayah lain (best
                 practice)
             3) Teori maupun konsep-konsep penataan kawasan perkotaan, termasuk dalam
                 aspek pendukungnya seperti kelembagaan, pengelolaan kawasan, serta aspek
                 pembiayaan.
     c. Pendekatan Preskriptif dalam Perumusan Konsep Pengembangan Kawasan

          Pendekatan preskriptif (prescriptive approach) merupakan jenis pendekatan yang
          bersifat kualitatif dan dapat memberikan deskripsi analitis untuk menghasilkan
          rekomendasi yang bermanfaat dalam mendukung suatu strategi penanganan
          ataupun kebijakan. Pendekatan ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menilai
          suatu rencana alternatif kebijakan untuk kemudian mengeluarkan rekomendasi
          yang tepat berkaitan dengan kemungkinan implementasi kebijakan dan program-
          programnya di masa yang akan datang.

          Implementasi        mekanisme     penyusunan           data      Keruangan           sendiri       merupakan
          penjabaran lebih lanjut dari poin-poin pelaksanaan dan pencapaian sebagaimana
          tersebut di atas.

          Agar konsepsi capaian-capaian dalam penyusunan data Keruangan dapat terwujud,
          maka digunakan media-media penjabaran yang akan digunakan dalam jangka waktu
          pelaksanaan pekerjaan dan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan. Media-media
          tersebut adalah:

            1)   Diskusi. Merupakan forum pertemuan yang dihadiri oleh anggota focus group
                 yang digunakan sebagai tempat konsultasi
            2)   Seminar. Merupakan forum yang bertujuan untuk mensosialisasikan kemajuan
                 pekerjaan di depan seluruh stakeholder di daerah
            3)   Kuesioner/Daftar Pertanyaan. Merupakan media tertulis yang digunakan
                 untuk memperoleh informasi lebih banyak dan mendalam, terutama
                 menyangkut aspirasi stakeholders yang ada.
            4)   Learning by doing process, merupakan proses belajar bersama yang dilakukan
                 oleh konsultan bersama pemerintah daerah. Proses ini dilakukan pula melalui
                 fasilitasi dan konsultasi yang dilakukan tenaga ahli konsultan di lapangan
                 kepada tim teknis daerah.
            5)   Kunjungan Lapangan. Merupakan kegiatan tinjauan dan mengunjungi lokasi
                 kegiatan penataan ruang di daerah untuk mendampingi instansi-instansi
                 Pemerintah Daerah dalam melakukan proses penataan ruang.



    PT. .....                                                                                                       6-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 6.1.2. Pendekatan Kebijakan (Sinkronisasi Kebijakan)
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai suatu rencana penataan
 ruang yang merupakan dasar pembangunan akan sangat terkait dengan berbagai kebijakan
 yang telah ada, baik yang bersifat nasional (UUD, UU, PP, KEPPRES, PERMEN, KEPMEN),
 maupun bersifat lokal (PERDA Provinsi serta Kabupaten/Kota, PERGUB, PERBUP/WAL).
 Sebagai suatu rencana pembangunan, maka keluaran dari rumusan data keruangan ini
 pada akhirnya pun akan dilegalisasi sebagai suatu dokumen kebijakan. Oleh karena itu,
 dalam proses penyusunannya pendekatan kebijakan perlu dilakukan untuk menghindari
 pertentangan kebijakan dan mampu melengkapi aturan yang belum diatur dalam kebijakan
 terkait tersebut.


 6.1.3. Pendekatan Wilayah
 Pendekatan wilayah pada prinsipnya memandang wilayah sebagai satu kesatuan sistem.
 Keselarasan unsur pembentuk wilayah yang meliputi sumber daya alam, sumber daya
 buatan dan sumber daya manusia beserta kegiatannya yang meliputi kegiatan ekonomi,
 politik,     sosial-budaya      dan   pertahanan-keamanan,                 berinteraksi         membentuk            wujud
 pembangunan perumahan dan permukiman wilayah, baik yang direncanakan maupun
 tidak.

 Mengingat wilayah adalah suatu sistem tempat manusia bermukim dan mempertahankan
 kehidupannya, maka dalam penataan ruang yang paling utama diwujudkan adalah
 meningkatkan kinerja atau kualitas ruang wilayah untuk penyediaan produksi barang dan
 jasa yang cukup, permukiman yang sehat dan kelestarian lingkungan hidup.

 Berdasarkan pendekatan wilayah maka akan dirumuskan visi, misi dan program penataan
 ruang dan arah pembangunan dalam wilayah, fungsi-fungsi kawasan (permukiman,
 jasa/usaha, dll), sistem pusat-pusat permukiman, serta sistem prasarana wilayah
 (transportasi, pengairan, energi, listrik dan telekomunikasi).

 6.1.3.1. Pendekatan Pengembangan Wilayah
 Pendekatan pengembangan wilayah meliputi:

     a.     Pendekatan Pertumbuhan Wilayah

            Pendekatan pertumbuhan wilayah berakar dari teori ekonomi Neo Klasik yang
            mengasumsikan bahwa pembangunan merupakan hasil pertumbuhan ekonomi, dan
            perwujudan ruangnya merupakan konsep dari pertumbuhan itu sendiri. Konsep ini
            disebut juga sebagai Growth Centre Concept (Misra, 1981). Hipotesis dasar dari


    PT. .....                                                                                                         6-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          konsep tersebut adalah bahwa pembangunan dijalankan atas dasar kebutuhan pada
          saat ini dan dorongan-dorongan yang bersifat inovasi. Hasil dari pembangunan pada
          sektor-sektor dan wilayah strategis akan secara spontan ‘menetes” ke sektor-sektor
          dan wilayah-wilayah lain yang masih tertinggal.

          Dalam kerangka tata ruang, mekanisme penetesan tersebut berkerja berdasarkan
          sistem pusat-pusat yang hirarkis. Sistem tersebut merupakan kota-kota yang saling
          berinteraksi dalam ruang. Dalam hal ini, kota-kota tersusun pada tingkatan yang
          berberda-beda berdasarkan potensi ekonominya. Penetasan atau penjalaran secara
          hirarkis dari kota besar ke kota kecil terjadi dengan cara:

               1) Melalui ekspansi dari kegiatan-kegiatan yang ada ke wilayah-wilayah
                   pemasaran baru, yaitu dari pusat terbesar ke pusat-pusat yang lebih kecil.

               2) Pergesaran kegiatan yang memiliki tingkat upah rendah menuju ke pusat
                   yang relatif kecil, ini disebabkan tingkat upah di kota besar cenderung
                   meningkat.

               3) Dengan menawarkan pilihan lokasi yang lebih tepat bagi industri yang
                   berbeda kebutuhan pasar dan prasarananya.

               4) Dengan dorongan inovasi dari wirausahawan yang dijalarakan ke bawah
                   melalui hirarki.

          Pendekatan seperti ini membutuhkan pengambilan keputusan yang tersentralisasi
          secara cepat dan efektif di pusat. Dengan demikian, surplus yang dihasilkan di
          suatu sektor atau wilayah dapat dengan mudah ditransfer ke sektor atau wilayah
          lain. Konsep pengembangan wilayah ini juga berkeyakinan bahwa bila pertumbuhan
          ekonomi terjadi, maka pendistribusian hasil-hasil pembangunan akan terjadi secara
          spontan. Tetapi sesungguhnya alokasi agregat dari sumber daya di pusat malah
          mengacu pada disintegrasi sumber daya pelengkap pada wilayah di bawahnya.

          Pengembangan wilayah berdasarkan teori ekonomi Neo Klasik dan pendekatan
          pertumbuhan wilayah ini ternyata menyebabkan wilayah-wilayah yang relatif maju
          semakin maju dan berkembang, sedangkan wilayah-wilayah yang sudah tertinggal
          tetap berada pada lingkaran kemiskinan yang tak berujung pangkal. Namun hal ini
          bukan berarti pendekatan pertumbuhan wilayah ini harus ditinggalkan, tetapi akan
          lebih baik hasilnya jika diselaraskan dengan pendekatan pemerataan tingkat
          perkembangan antarwilayah maupun antarsektor.




    PT. .....                                                                                                       6-5
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


     b. Pendekatan Keseimbangan Tingkat Perkembangan Antarwilayah

          Menurut Stohr (1981) pendekatan kemerataan tingkat perkembangan antar wilayah
          merupakan pendekatan pengembangan wilayah yang menekankan pada pemenuhan
          kebutuhan dasar seluruh penduduk yang diorganisasi secara teritorial. Pendekatan
          ini muncul akibat kegagalan pendekatan pertumbuhan wilayah. Kegagalan ini
          terjadi karena ternyata pertumbuhan wilayah tidak dapat diserahkan begitu saja
          pada mekanisme pasar seperti apa yang diungkapkan dalam teori ekonomi Neo
          Klasik, karena pada kenyataannya mekanisme pasar tersebut tidak dapat
          menyelesaikan persoalan-persoalan dalam pengembangan wilayah, seperti masalah
          kemiskinan dan ketimpangan antarwilayah.

          Anggapan bahwa hasil-hasil pembangunan dapat menetes dengan sendirinya
          melalui sektor-sektor pembangunan                (teori ekonomi neo klasik) ternyata tidak
          sepenuhnya benar. Hasil-hasil pembangunan ternyata lebih terkonsentrasi pada
          sekelompok kecil masyarakat yang terkait dengan sektor andalan yang yang pada
          umumnya terdapat di kota-kota besar. Akibatnya ketimpangan antargolongan,
          antarwilayah, dan antar desa dan kota, menjadi semakin lebar; pengangguran dan
          setengah pengangguran semakin luas, dan masalah kemiskinan tidak teratasi,
          bahkan semakin meningkat (Sarosa, 1989: 2).

          Dengan       berkembangnya       pendekatan            pemerataan             tingkat        perkembangan
          antarwilayah, maka wilayah-wilayah terbelakang diharapkan dapat menyeimbangi
          perkembangan wilayah-wilayah di depannya.

     c.   Pendekatan Pemerataan Kesejahteraan

          Menurut Adelman (1979), pada setiap tahapan pertumbuhan ekonomi hanya orang-
          orang yang mempunyai akses ke faktor-faktor produksi paling utama yang akan
          mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi tersebut. Agar hasil
          pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata diperlukan suatu
          pendekatan pemerataan ekonomi melalui redistribusi faktor-faktor produksi
          dominan. Dengan demikian setiap orang akan mendapatkan akses yang sama ke
          faktor-faktor produksi dominan sehingga pemerataan ekonomi dapat tercapai.

          Selain itu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menjadi
          pertimbangan penting, baik itu menyangkut wilayah yang mempunyai sumber daya
          alam potensial maupun wilayah yang mempunyai sumber daya alam kurang
          potensial.




    PT. .....                                                                                                       6-6
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          Faktor-faktor yang menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah dan tingkat
          kesejahteraan masyarakat di wilayah agraris adalah kuantitas dan kualitas sumber
          daya alam. Namun usaha pertumbuhan ekonomi pada wilayah perkotaan atau
          wilayah yang struktur ekonominya telah cukup berimbang antara sektor primer,
          sekunder, dan tersier, tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas sumber daya alam,
          tapi lebih ditentukan oleh tingkat aksesibilitas dan letak geografis, kelengkapan
          infrastruktur, dan akumulasi kegiatan.

     d. Pendekatan Ekonomi Makro

          Sistem perekonomian dunia cenderung akan menuju pasar bebas, sehingga batas
          pemasaran tidak lagi mengikuti wilayah administrasi suatu negara, atau dengan
          kata lain batas pasar secara administrasi negara akan semakin melemah. Ini berarti
          perlindungan pasar terhadap suatu jenis komoditi akan sulit dilakukan. Dalam
          sistem perekonomian pasar bebas, sebenarnya kompetisi lebih sehat, terbuka dan
          dinamis, sehingga kegiatan ekonomi yang menghasilkan produk yang berkualitas,
          dengan proses yang efisien dan efektif yang akan berkembang.

          Dalam      menghadapi       era   pasar      bebas,        kita     tetap      memprioritaskan              proses
          pembangunan pada laju pertumbuhan yang optimal yang diiringi dengan
          pemerataan. Dalam kegiatan ekonomi pasar bebas, maka unit ekonomi yang telah
          berkembang cenderung akan lebih pesat, sebaliknya yang belum berkembang
          cenderung relatif lebih lambat. Hal ini perlu diimbangi dengan suatu kebijaksanaan
          pembangunan          (rekayasa    proses       pembangunan)              yang      mampu          menciptakan
          mekanisme pertumbuhan semua sektor kegiatan secara berimbang sebagai upaya
          menuju arah pemerataan pembangunan.

         Dalam skala makro, setiap negara berusaha menciptakan mekanisme perekonomian
         yang mempunyai produktivitas tinggi dengan proses yang efektif dan efisien. Untuk
         menghadapi era pasar bebas dan menarik investasi asing yang mengalir dari negara
         maju ke negara berkembang, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai
         berikut:

             1) Memperbaiki sistem birokrasi (debirokratisasi), sehingga memudahkan dalam
                 sistem     administrasi     dan      perijinan,        termasuk         dalam        hal     ini    adalah
                 penyederhanaan        sistem       perijinan,        sistem        perpajakan,          retribusi        dan
                 kelengkapan peraturan yang berkaitan dengan usaha efisiensi kegiatan
                 ekonomi




    PT. .....                                                                                                         6-7
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                 Kegiatan Penyusunan
                                             Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


             2) Peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang lebih penting dalam
                 kebijaksanaan kependudukan adalah peningkatan kemampuan dan keahlian
                 untuk mengimbangi perkembangan teknologi, khususnya di bidang industri
             3) Mengembangkan kemitraan antara pelaku pembangunan, yaitu antara
                 pemerintah, swasta, pengusaha kuat, pengusaha sedang dan pengusaha kecil
                 yang sejajar dan seimbang
             4) Menciptakan sistem perekonomian yang kompetitif, dengan cara proses
                 produksi yang efektif dan efisien, kualitas sumber daya yang tinggi,
                 penguasaan teknologi sedang-tinggi, sistem koleksi dan distribusi barang yang
                 efisien, dan mengembangkan komoditi yang berorientasi pasar
             5) Setiap proses produksi berwawasan lingkungan, mengingat kepedulian
                 terhadap lingkungan akan terus menjadi salah satu syarat memasuki pasar
                 dunia
             6) Menciptakan keseimbangan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
                 pemerataan           pertumbuhan            antar        wilayah         dan      antar       sektor.       Agar
                 perkembangan ekonomi dapat menyebar dan merata, maka pembangunan
                 infrastruktur        yang      menyebar,          sistem       insentif      dan      disinsentif        mutlak
                 diperlukan
             7) Meningkatkan           peran        serta      masyarakat           dan      swasta       dalam        kegiatan
                 pembangunan, tidak hanya pada sektor privat, tetapi pada sektor publik,
                 sehingga penyediaan infrastruktur pengembangan wilayah dapat dilakukan
                 oleh berbagai pihak

     e. Strategi Penutupan Wilayah Secara Selektif (Selective Regional Closure)

          Friedmann dan Weaver (1979) dalam mendiskusikan fenomena yang sama,
          menganggap bahwa distorsi desa kota merupakan hasil konflik yang telah menjadi
          sifat antara teritorial dan fungsi dengan dominasi sejarah saat ini di bawah sistem
          dunia yang di atur oleh perusahaan multi nasional. Ekonomi-ekonomi wilayah
          diintegrasikan atau dikaitkan ke ekonomi dunia pada suatu basis ketidakmerataan,
          mengarah ke polarisasi (Backwash) kegiatan-kegiatan pembangunan dan kebocoran
          sumber daya wilayahnya yang vital keluar ke kota-kota besar dan luar negeri.

          Kebijaksanaan regional di bawah paradigma pembangunan yang baru, yang
          ditujukan pada pengurangan kesenjangan melalui pembangunan wilayah yang
          bertumpu pada kemampuan sendiri, meliputi suatu pengertian dan penyelesaian
          masalah kebocoran dalam suatu konteks ruang. Masalah yang penting adalah
          bagaimana transfer sumber daya desa–kota yang menguntungkan dapat diaslurkan


    PT. .....                                                                                                              6-8
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          untuk pertumbuhan dan pembangunan perdesaan, dan bagaimana surplus pertanian
          dipertahankan di daerah perdesaan, mencegahnya dari arus berlebihan ke kota-
          kota, untuk ditanamkan lagi bagi pembangunan sendiri. Dalam hal ini, alternatif
          kesempatan         kerja    dapat    diciptakan,          kemampuan            daya       beli     lokal     dapat
          ditingkatkan, kemungkinan-kemungkinan untuk industrialisasi perdesaan dapat
          ditingkatkan dan karenanya muncul aturan yang tepat untuk pusat-pusat yang lebih
          rendah.

          Masalah kebocoran distribusi pendapatan dan struktur kelembagaan ekonomi adalah
          elemen kritis dalam menentukan dampak pengeluaran publik pada kelompok
          sasaran.     Pengaruh       redistribusi      dari     pertumbuhan             atau      suatu       pendekatan
          incremental, akan agak tipis/marginal. Pengeluaran publik di daerah terbelakang
          dilayani sebagai suatu instrumen transfer wilayah yang melalui multiplier efek yang
          dilokasikan secara menjanjikan akan mengacu ke pergeseran positif dalam
          distribusi pendapatan interregional dan juga ketidakmerataan intraregional.
          Bagaimanapun, multiplier efek tidak dilokasikan, dan karena keterkaitan dengan
          wilayah lain, transfer nilai surplus melalui beberapa mekanisme pasar yang
          bervariasi dan lembaga eksploitasi sosial ke daerah-daerah yang lebih maju dapat
          terjadi.

          Dalam mencari alternatif pembangunan wilayah di bawah kondisi produksi surplus
          dan meminimalkan kebocoran yang terjadi, diperlukan perlindungan dari polarisasi
          wilayah bagi pembangunan wilayah-wilayah belakang. Dengan cara umum, dapat
          digambarkan sebagai strategi penutupan wilayah secara selektif.

     f.   Pendekatan Sektoral dan Spasial

          Pengembangan wilayah dapat dilakukan dengan 2 (dua) pendekatan, yaitu
          pendekatan sektoral dan pendekatan wilayah (spasial). Pendekatan sektoral dalam
          perencanaan        selalu    dimulai       dengan        pertanyaan           sektor       apa      yang      perlu
          dikembangkan           untuk mencapai suatu tujuan.                        Pertanyaan tersebut dapat
          dilanjutkan dengan: berapa banyak yang harus diproduksi, dengan cara dan
          teknologi yang bagaimana, dan kapan produksi tersebut akan dimulai. Setelah
          tahapan pada hirarki tersebut selesai baru muncul pertanyaan: dimana aktivitas
          tiap sektor tersebut akan dijalankan. Dan pada akhirnya menyangkut kebijakan,
          strategi     dan    langkah-langkah          yang      akan       diambil        di    dalam        pelaksanaan
          pembangunan.

          Sementara itu, pendekatan wilayah lebih menitikberatkan pada pertanyaan:
          wilayah mana yang perlu mendapatkan prioritas untuk dikembangkan. Baru

    PT. .....                                                                                                          6-9
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          kemudian di cari sektor-sektor apa yang sesuai dikembangkan di daerah tersebut.
          Di dalam kenyataan, pendekatan wilayah diambil tidak dalam kerangka totalitas
          namun untuk konteks hanya beberapa wilayah tertentu, misalnya wilayah
          terbelakang, wilayah perbatasan, atau wilayah yang diharapkan mempunyai posisi
          strategis secara ekonomi dan politik.

          Untuk Indonesia, yang diperlukan adalah gabungan antara dua pendekatan diatas. Bukan
          sektoral atau wilayah. Tetapi keduanya berjalan bersama. Hal ini tidak hanya dari segi
          konsep, namun juga dari segi pelaksanaan, khususnya yang menyangkut koordinasi
          pembangunan daerah dalam kerangka sistem pemeritahan yang ada. Arah tersebutlah yang
          perlu dituju karena pada kenyataan selama ini ada kecenderungan yang berat sebelah.
          Pendekatan sektoral kerap kali mendominasi proses perencanaan. Itulah sebabnya sering
          ditemui otoritas dan kontrol dari departemen (yang mencerminkan adanya sektor) lebih
          efektif dibandingkan dengan pemerintah maupun instansi daerah.

          Adanya pendekatan gabungan di dalam pembangunan daerah di Indonesia terebut
          mulai nampak dalam dasawarsa terakhir, terlihat dengan adanya beberapa
          kebijaksanaan pemerintah yang mengatur pembangunan dengan pertimbangan
          keruangan/wilayah.

     g.   Pendekatan Rencana Komprehensif

          Dalam perencanaan dikenal adanya 3 (tiga) pendekatan, yaitu perencanaan
          menyeluruh, perencanaan terpilah, dan perencanaan terpilah menyeluruh.
          Perencanaan menyeluruh (komprehensif) adalah pendekatan perencanaan yang
          melibatkan seluruh aspek dari awal kajian hingga menghasilkan produk akhir.
          Perencanaan terpilah hanya meninjau 1 aspek saja mulai dari awal hingga produk
          akhir. Adapun perencanaan terpilah menyeluruh adalah pendekatan perencanaan
          yang pada awalnya meninjau seluruh aspek, namun kemudia dipilih satu aspek saja
          sehingga pada produk akhirnya juga hanya berisi rencana 1 aspek tersebut.

          Pendekatan Menyeluruh dan Terpadu merupakan pendekatan perencanaan yang
          menyeluruh dan terpadu serta didasarkan pada potensi dan permasalahan yang
          ada, baik dalam wilayah perencanaan maupun dalam konstelasi regional.
          Menyeluruh memberi arti bahwa peninjauan permasalahan ditinjau dan dikaji
          kepentingan yang lebih luas, baik antar wilayah dengan daerah hinterlandnya.
          Terpadu mengartikan bahwa dalam menyelesaikan permasalahan didasarkan
          kepada kerangka perencanaan terpadu antar tiap-tiap sektor, di mana dalam
          perwujudannya dapat berbentuk koordinasi dan sinkronisasi antar sektor.


    PT. .....                                                                                                      6 - 10
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 6.1.3.2. Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis–Proaktif
 Pemahaman mengenai Pendekatan Perencanaan Incremental-Strategis dan Strategis–
 Proaktif adalah:

     a.   Pendekatan Incremental-Strategis

          Suatu produk data keruangan yang ‘baik’ harus operasional, oleh karenanya maksud
          dan tujuan perencanaan yang ditetapkan harus realistis, demikian pula dengan
          langkah-langkah kegiatan yang ditetapkan untuk mencapai maksud dan tujuan
          tersebut. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan perencanaan yang realistis
          adalah:
             1) Mengenali secara nyata masalah-masalah pembangunan kawasan.
             2) Mengenali secara nyata potensi yang dimiliki kawasan.
             3) Mengenali secara nyata kendala yang dihadapi kawasan dalam proses
                 pembangunan.
             4) Memahami tujuan pembangunan secara jelas dan nyata.
             5) Mengenali aktor-aktor yang berperan dalam pembangunan kawasan.
             6) Mengenali ‘aturan main’ yang berlaku dalam proses pembangunan kawasan.

          Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan data keruangan adalah pendekatan
          Incremental yang lebih bersifat strategis. Adapun karakteristik pendekatan ini
          antara lain:

           1) Berorientasi pada persoalan-persoalan nyata.
           2) Bersifat jangka pendek dan menengah
           3) Terkonsentrasi pada beberapa hal, tetapi bersifat strategis
           4) Mempertimbangkan eksternalitas
           5) Langkah-langkah penyelesaian tidak bersifat final

     b.   Pendekatan Strategis-Proaktif

          Pendekatan strategis-proaktif merupakan bentuk kebalikan dari pendekatan
          incremental-strategis. Adapun yang dimaksud rencana strategis – proaktif adalah:

           1) Rencana yang kurang menekankan pada penentuan maksud dan tujuan
               pembangunan, tetapi cenderung menekankan pada proses pengenalan dan
               penyelesaian masalah.
           2) Rencana yang melihat lingkup permasalahan secara internal maupun eksternal.
           3) Rencana yang menyadari bahwa perkiraan-perkiraan kondisi di masa yang akan
               datang      terdapat   kemungkinan-kemungkinan                    munculnya           kecenderungan-



    PT. .....                                                                                                      6 - 11
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               kecenderungan baru, faktor-faktor ketidakpastian, serta ‘kejutan-kejutan’ lain
               yang terjadi diluar perkiraan.
           4) Rencana yang lebih bersifat jangka pendek dan menengah
           5) Rencana yang berorientasi pada pelaksanaan (action)

     c.   Pencampuran Kedua Pendekatan dalam Pelaksanaan Pekerjaan

          Kedua jenis pendekatan ini dapat digunakan dalam pekerjaan ini. Perbedaan
          penggunaannya hanya terdapat pada kesesuaian sifat pendekatan dengan
          karakteristik kegiatan yang sedang dilakukan. Penjelasan singkatnya adalah sebagai
          berikut:

               1) Dalam perumusan konsepsi dan penyusunan rencana struktur, maka
                   pendekatan         incremental-strategis            perlu       dikedepankan            untuk       dapat
                   menghasilkan suatu konsepsi pengembangan yang sifatnya cenderung
                   ‘utopis’.
               2) Dalam penyusunan rencana pembangunan, program pentahapan, dan aspek
                   pendukung lainnya, perlu dikedepankan pendekatan strategis-proaktif untuk
                   dapat menghasilkan suatu produk dokumen rencana yang realistis dan dapat
                   diimplementasikan sesuai tahapan pelaksanaannya.


 6.1.4. Pendekatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
 Kebutuhan dasar manusia dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tingkatan, yaitu; (i) Kebutuhan
 dasar kelangsungan hidup hayati, (ii) Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup yang
 manusiawi serta (iii) Kebutuhan dasar untuk memilih (Otto Sumarwoto: Ekologi Lingkungan
 Hidup dan Pembangunan).

 Pada tingkatan kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati sangat berhubungan
 dengan kebutuhan fisiologi dasar tubuh manusia seperti; makan dan minum (pangan),
 istirahat dan latihan, keseimbangan kimia serta kesehatan. Pada tingkatan kebutuhan
 untuk kelangsungan hidup yang manusiawi sangat berhubungan dengan kebutuhan sosial
 kemasyarakatan seperti; pakaian (sandang), tempat tingggal (papan), keamanan dan
 keselamatan, kreatif dan keindahan, penghargaan, kepemilikan sosial dan aktualisasi diri.
 Pada kebutuhan dasar untuk memilih sangat berhubungan dengan tingkat kemampuan
 sosial ekonomi manusia untuk memilih segala sesuatu yang diinginkan.

 Kebutuhan dasar manusia yang seperti dijelaskan diatas memiliki konsekuensi yang
 berdimensi ke-ruang-an (spatial) yaitu peningkatan kebutuhan ruang dalam konteks mikro
 maupun makro. Kebutuhan ruang secara makro akan tercermin pada tingkat wilayah
 nasional, provinsi atau kabupaten/kota. Ruang wilayah kawasan adalah salah satu sumber

    PT. .....                                                                                                         6 - 12
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 daya yang bersifat tetap dan terbatas, sedangkan kebutuhan pemanfaatan ruang semakin
 bertambah dan meningkat. Maka perlunya pengaturan pemanfaatan ruang yang dapat
 mengakomodir seluruh kebutuhan aktivitas manusia, untuk menghindari terjadinya
 benturan kepentingan antar kegiatan pemakai ruang lainnya.

 Perencanaan pemanfaatan ruang pada dasarnya bertujuan untuk mewadahi segala
 kebutuhan kegiatan masyarakat dalam prespektif perencanaan secara jangka panjang 20
 tahun ke depan, agar tidak terjadi benturan kepentingan antar pengguna ruang.


 6.1.5. Pendekatan Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi
 Pertumbuhan ekonomi sering didefenisikan sebagai pertumbuhan agregatif dari sektor
 dalam perekonomian dengan melihat perubahan indikatornya. Sedangkan perkembangan
 ekonomi lebih luas cakupannya dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Mengingat pada
 perkembangan ekonomi yang diamati tidak hanya perubahan indikator agregatif sektor
 perekonomian, tetapi juga mengamati apakah terjadi pergeseran struktur perekonomian.

 Pada wilayah/daerah yang masih tradisional, umumnya struktur perekonomian sangat
 didominasi oleh sektor primer. Perkembangan ekonomi suatu wilayah/daerah dapat dilihat
 apabila terjadinya perubahan struktural sektor argraris/tradisional menuju sektor
 industri/modern, dalam arti terjadi perubahan/penurunan dominasi sektor/tradisional, di
 lain pihak terjadi perubahan/peningkatan dominasi sektor sekunder, tersier.

 Pertumbahan dan perkembangan ekonomi sebagai salah satu pendekatan perencanaan
 pembangunan terbukti tidak selamanya sesuai untuk diterapkan. Struktur perekonomian
 wilayah yang baik adalah terjadinya keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan
 ekonomi juga harus diimbangi oleh perbedayaan ekonomi rakyat, sehingga diharapkan
 terjadi persaingan yang sehat antara para pelaku ekonomi di suatu wilayah.

 Pendekatan ekonomi akan dilakukan melalui 3 (tiga) langkah utama, yaitu:

      a. Pertama, mengenali karakteristik kegiatan ekonomi saat ini dan potensi sumber
          daya alam yang dapat menunjang kegiatan ekonomi wilayah di masa datang. Dari
          sini, selanjutnya dapat dirumuskan sektor/sub sektor potensial yang dapat
          dijadikan sektor/sub sektor unggulan di wilayah dikaitkan dengan tujuan dan
          sasaran pertumbuhan ekonomi wilayah kecamatan, serta sasaran pertumbuhan
          ekonomi regional/kewilayahan.
      b. Kedua, mengenali faktor-faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang
          untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi wilayah. Faktor eksternal
          tersebut tidak hanya dilihat dalam konteks antar wilayah dalam skala regional,
          tetapi juga antara kawasan ekonomi dalam skala yang lebih luas.

    PT. .....                                                                                                      6 - 13
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      c. Ketiga,      mengenali       perkembangan          globalisasi       ekonomi         (pasar       bebas)       yang
          berlangsung dalam rangka AFTA dan APEC. Pemahaman terhadap ‘milestone’
          menuju pasar bebas akan memudahkan penyusunan lebih lanjut skenario dan
          agenda pengembangan wilayah kota dalam merespon dan mengantisipasi serta
          menyeleraskan kesiapan kota menghadapi fenomena global tersebut.


 6.1.6. Pendekatan Konservasi Lingkungan
 Pendekatan ini dilakukan dengan memandang wilayah merupakan bagian satu kesatuan
 ekosistem yang utuh dalam konteks yang lebih regional, dan memiliki sub-sub
 ekosistemnya. Kawasan lindung yang terdapat di dalam suatu wilayah merupakan kawasan
 dengan keaneka-ragaman hayati (biodiversity) yang sangat tinggi dan perlu terus
 dilestarikan. Setiap kegiatan pembangunan yang akan mengubah ekosistem wilayah perlu
 dilakukan secara lebih berhati-hati agar tidak menggangu daya dukung ekosistem dan
 menurunnya/hilangnya keaneka-ragaman hayati.

 Melalui pendekatan ini diharapkan setiap kegiatan penataan ruang justru akan
 meningkatkan daya dukung wilayah. Untuk itu penetapan kawasan fungsional dan
 intensitas kegiatannya           dalam rencana sinkronisasi program pengembangan harus
 memperhatikan dampak yang ditimbulkannya terhadap ekosistem wilayah dan penduduk
 sekitarnya, agar selaras dengan azas dan tujuan pembangunan yang berkelanjutan
 (sustainable development).


 6.1.7. Pendekatan Sosial Budaya
 Pendekatan ini memandang wilayah sebagai satu kesatuan ruang sosial (social space)
 dengan masyarakatnya yang beragam serta mempunyai budaya dan tata nilai (norm and
 value) tersendiri. Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai, di sepanjang aliran
 sungai maupun di sekitar hutan masing-masing memiliki ciri-ciri dan tata nilai tradisional
 yang unik. Dalam rangka penataan ruang dan pembangunan wilayah kota corak ragam
 budaya dan tata nilai ini harus ditempatkan sebagai satu variabel yang penting.

 Nilai-nilai tradisional yang positif perlu diakomodir untuk merangsang peran serta
 masyarakat yang lebih besar dalam pembangunan wilayahnya. Sedangkan nilai-nilai
 pembangunan perlu diupayakan agar tidak berbenturan dengan nilai-nilai tradisional,
 sehingga tidak menghalangi kinerja pengembangan kawasan. Oleh sebab itu, dalam
 Penyusunan data keruangan ini perlu dan harus mencermati karakteristik budaya dan nilai-
 nilai tersebut.




    PT. .....                                                                                                        6 - 14
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Diharapkan melalui pendekatan ini akan dapat dihindari kemungkinan terjadinya benturan
 sosial dan keterasingan kelompok masyarakat tertentu dari derap kegiatan pembangunan,
 serta segregasi keruangan yang dapat berdampak negatif terhadap kinerja pertumbuhan
 wilayah maupun pada perkembangan kehidupan masyarakat.


 6.1.8 Pendekatan Pelaku Pembangunan
 Metode pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan adalah dengan melibatkan seluruh
 pelaku pembangunan (stakeholders) terkait pada setiap proses kegiatan penyusunan
 rencana. Hal ini dirasakan perlu untuk menghasilkan Rencana Tata Ruang yang merupakan
 kesepakatan dari semua pihak (stakeholders). Konsultan dalam hal ini akan melibatkan
 secara aktif stakeholders yang ada, selain itu konsultan juga memfasilitasi program-
 program pemerintah yang telah direncanakan. Konsultan sendiri akan memberikan arahan-
 arahan teknis dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam
 penyusunan data keruangan.

 Dengan adanya pelibatan stakeholder dalam tahap penyusunan rencana, maka diharapkan
 pemerintah daerah akan mudah menerapkan rencana tersebut. Dalam tahap pemanfaatan
 rencana, stakeholders terlibat sebagai pemanfaat ruang yang utama, yaitu pemerintah,
 swasta dan masyarakat. Di samping sebagai pemanfaat utama, terdapat pula stakeholders
 yang terlibat dalam proses pemanfaatan ruang itu sendiri, yaitu para profesional dan
 decission maker. Untuk menjamin kelancaran proses pemanfaatan ruang, maka diperlukan
 suatu forum komunikasi horisontal baik antar profesional, antar decission maker dan
 antara profesional dan decission maker. Fungsi dari forum komunikasi ini adalah untuk
 menjaga       kesimambungan          rencana      tata      ruang       yang       telah       disusun        ke     dalam
 pemanfaatannya.

 Kemampuan pengendalian pemanfaatan ruang kabupaten sangat dipengaruhi oleh
 kemampuan institusi pengendali pemanfaatan ruang untuk melakukan pelaporan,
 permantauan, evaluasi, dan penertiban pemanfaatan ruang secara efektif. Untuk itu perlu
 ditentukan peranan, kedudukan, dan tanggung jawab institusi pengendali masing-masing
 peringkat wilayah perencanaan.

 Adapun unsur yang harus dipenuhi oleh institusi pengendali adalah sebagai berikut:

      a.   Berkemampuan untuk mengkoordinasi, mengendalikan, dan melaksanakan evaluasi
           atas usulan dan pelaksanaan pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh berbagai
           peringkat dan jurisdiksi pemerintahan yang ada di, terutama program dan proyek
           yang bersifat strategis dan berdampak regional.



    PT. .....                                                                                                        6 - 15
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      b.   Memiliki kewenangan dan sumber daya yang memadai untuk dapat mengambil
           keputusan yang cepat dan efektif, terutama bila dihadapkan pada kontroversi
           pemanfaatan ruang yang melibatkan berbagai pihak dan konflik tata ruang
           horisontal maupun vertikal.

      c.   Mempunyai akses terhadap informasi atas program dan proyek strategis berskala
           besar dan berdampak luas dan berkemampuan untuk mengolah informasi serta
           mengevaluasi implikasinya pada Rencana Tata Ruang di masing-masing peringkat
           wilayah perencanaan yang bersangkutan.

      d.   Institusi pengendali berkemampuan menjalankan peran mediator dan fasilitator
           untuk menampung aspirasi semua stakeholders dalam pembangunan kabupaten dan
           kawasan-kawasan di dalamnya sehingga dapat dihasilkan keputusan yang seimbang
           dan dapat diterima oleh semua pihak.

      e.   Tugas dan tanggung jawab kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan
           tugas utama dari pemerintah. Namun pada dasarnya seluruh stakeholders
           pembangunan dapat dilibatkan dalam kegiatan ini dalam bentuk pelaporan. Jenis
           pelaporan apapun yang dilakukan oleh seluruh stakeholders yang apresiatif
           terhadap kualitas tata ruang, perlu ditindaklanjuti dalam kegiatan pemantauan
           oleh pemerintah, khususnya bagi pelaporan yang mengindikasikan adanya
           pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang yang ada.

      f.   Secara kelembagaan, pelaporan ini wajib dilakukan atau dikoordinasikan oleh
           Pemerintah Kabupaten secara rutin dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang
           dengan menyediakan pos pengaduan yang dapat dengan mudah diakses oleh seluruh
           stakeholders.


 6.1.9. Pendekatan Partisipasi Masyarakat
 Penyusunan data keruangan tidak terlepas dari keterlibatan masyarakat sebagai
 pemanfaat ruang dan pelaksana pembangunan serta sebagai pihak yang terkena dampak
 positif maupun negatif dari pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu dalam
 penyusunan rencana ini digunakan pendekatan partisipasi masyarakat (community
 approach) untuk mengikutsertakan masyarakat di dalam proses penyusunan rencana tata
 ruang melalui forum diskusi pelaku pembangunan. Konsultan dalam hal ini berusaha
 untuk melibatkan secara aktif pelaku pembangunan yang ada dalam setiap tahapan
 perencanaan. Pelibatan pelaku pembangunan dalam pekerjaan ini dapat digambarkan
 dengan diagram seperti di bawah ini.



    PT. .....                                                                                                      6 - 16
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT



         Gambar 6.1. Diagram Keterlibatan Pelaku Pembangunan Dalam Penyusunan Data Keruangan


                                                                                                            Pelaksanaan oleh
    Pelaku                        Keterlibatan Dalam Penyusunan Rencana
                                                                                                           Pemerintah, Swasta,
                                                                                                               Masyarakat


Masyarakat              Forum                                        Forum
                     Stakeholder                                  stakeholder
                                                                                                            Perangkat
                                                                                                           Pengendalian
                                                                                        Rencana            Pelaksanaan
  Konsultan            SURVEI          Analisis dan         Penyusunan                    yang
                                       Interpretasi         materi teknis              disepakati
                                                                                                               Indikasi
                      Program                                                                                  Program
 Pemerintah                                                        Arahan
                     Pemerintah                                  Pemerintah



                                        Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2009



 Di dalam penyusunan data keruangan ini masyarakat tidak hanya dilihat sebagai pelaku
 pembangunan (stakeholders) tetapi juga sebagai pemilik dari pembangunan (shareholder).
 Keterlibatan       masyarakat          sebagai        shareholder          dimaksudkan             untuk        mengurangi
 ketergantungan wilayah terhadap investor dari luar wilayah, tetapi yang diharapkan
 adalah kerjasama antara investor dengan masyarakat sebagai pemilik lahan di wilayah
 tersebut. Dengan posisi sebagai shareholder diharapkan masyarakat akan benar-benar
 memiliki pembangunan di wilayahnya, dapat bersaing dengan penduduk pendatang, dan
 dengan demikian masyarakat lokal tidak tergusur dari wilayahnya.


 6.1.10. Pendekatan Kelembagaan (Instansional)
 Penyusunan data keruangan sebagai suatu dasar dan arahan pembangunan daerah, salah
 satu aspek penting yang diatur adalah aspek kelembagaan. Keberhasilan pembangunan
 daerah tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan perencanaan kelembagaan yang efektif
 dan efisien.

 Pendekatan         kelembagaan          yang         dimaksud         adalah        identifikasi         instansi-instansi
 kepemerintahan yang terkait dengan pembangunan daerah baik secara vertikal, yaitu
 mengkaji kewenanganan, peran dan tanggung jawab dari Pemerintah Pusat, Pemerintah
 Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota; ataupun secara horisontal, yaitu mengkaji
 kewenanganan, peran dan tanggung jawab instansi pemerintah daerah secara lintas
 instansional.




    PT. .....                                                                                                           6 - 17
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Pada Tabel 6.7 diidentifikasi keterlibatan lintas sektor baik ditingkat nasional, provinsi dan
 tingkat kabupaten. Tabel ini merupakan acuan dan tidak tertutup kemungkinan terdapat
 tambahan instansi lagi sesuai dengan kebutuhan dari pekerjaan ini.



                                      Tabel 6.1. Keterlibatan Lintas Sektoral


          No                Level                                         Instansi Terkait
           1     Tingkat Pusat                 Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
                                               Departemen Dalam Negeri
                                               Departemen Pekerjaan Umum
                                               Departemen Perhubungan
                                               Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral
                                               Departemen Kehutanan
                                               Departemen Transmigrasi dan Tenaga Kerja
                                               Departemen Komunikasi dan Informasi
                                               Sekretariat Negara
           2     Tingkat Propinsi              Bappeda Propinsi
                                               Dinas Pekerjaan Umum Propinsi
                                               Dinas teknis lainnya
           3     Tingkat Kabupaten             Bappeda Kabupaten
                                               Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten
                                               Dinas teknis lainnya
                                       Sumber: Hasil Olahan Konsultan, 2009




 6.1.12. Pendekatan Mitigasi Bencana
 Pendekatan mitigasi bencana merupakan salah satu pendekatan baru yang digunakan
 dalam pembangunan nasional, termasuk didalamnya pada bidang penataan ruang.
 Pendekatan mitigasi bencana ini merupakan konsekuensi logis dari fakta bahwa semakin
 sadarnya masyarakat untuk memasukkan unsur-unsur mitigasi bencana, guna mengurangi
 resiko bencana bilamana hal itu terjadi. Dengan pendekatan mitigasi bencana, maka
 dalam penyusunan data keruangan, akan dipikirkan alokasi ruang untuk penyelematan diri
 dari bencana atau dengan menyusun elemen dari refuge planning, seperti standarisasi
 kualitas bangunan yang mampu mereduksi dampak bencana serta adanya alokasi ruang
 untuk escape building dan escape hill.


 6.1.13. Pendekatan Keberlanjutan
 Definisi dasar dari “pembangunan berkelanjutan” yang dikemukakan oleh komisi
 Brundlandt adalah pembangunan untuk memenuhi keperluan hidup manusia kini dengan
 tanpa mengabaikan keperluan hidup manusia masa datang. Pengertian awal ini
 dikembangkan oleh UNEP menjadi "memperbaiki kualitas kehidupan manusia dengan tetap
 memelihara kemampuan daya dukung sumberdaya alam dan lingkungan hidup dari
 ekosistem yang menopangnya."


    PT. .....                                                                                                          6 - 18
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Suatu pendapat mengatakan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan kemajuan
 yang dihasilkan dari interaksi aspek lingkungan hidup, dimensi ekonomi dan aspek sosial
 politik sedemikian rupa masing-masing terhadap pola perubahan yang terjadi pada
 kegiatan manusia (produksi, konsumsi, dan sebagainya) dapat menjamin kehidupan
 manusia yang hidup pada masa kini dan masa mendatang dan disertai akses pembangunan
 sosial ekonomi tanpa melampaui batas ambang lingkungan (WCED, 1987). Perlu
 digarisbawahi bahwa pengertian keberlanjutan tidak dapat didefinisikan secara mutlak
 maupun mengikuti pendekatan atau ukuran pemahaman tertentu, demikian pula dengan
 keberlanjutan kebijakannya.

 Untuk menjamin berkelanjutannya pembangunan ekonomi dan sosial budaya, ekosistem
 terpadu (integrated ecosystem) yang menopangnya harus tetap terjaga dengan baik.
 Karena itu aspek lingkungan perlu diinternalisasikan ke dalam pembangunan ekonomi.
 Secara sosial, ekosistem ini harus terjaga hingga generasi yang akan datang (inter-
 generasi) sebagai sumberdaya alam pendukungnya, terutama menghadapi tantangan
 pertumbuhan penduduk tinggi yang memacu produksi dan konsumsi. Sementara intra-
 generasi, pembangunan ekonomi tidak membuat kesenjangan dalam masyarakat,
 terjadinya pemerataan dan kestabilan.

 Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga matra berikut ini:

      a. Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan fakta bahwa lingkungan
          hidup dan berbagai elemen di dalamnya memiliki keterkaitan dan juga memiliki
          nilai ekonomi (dapat dinyatakan dengan nilai uang). Pembangunan ekonomi
          berkelanjutan dapat mengelola lingkungan hidup dan sumberdaya alam secara
          efektif dan efisien dengan yang berkeadilan perimbangan modal masyarakat,
          pemerintah dan dunia usaha;
      b. Keberlanjutan sosial budaya; pembangunan berkelanjutan berimplikasi terhadap
          pembentukan nilai-nilai sosial budaya baru dan perubahan bagi nilai-nilai sosial
          budaya yang telah ada, serta peranan pembangunan yang berkelanjutan terhadap
          iklim politik serta stabilitasnya. Dalam hal ini juga perlu keikutsertaan masyarakat
          dalam pembanguna ekonomi yang berwawasan lingkungan serta mengurangi
          kesenjangan antar tingkat kesejahteraan masyarakat;
      c. Keberlanjutan kehidupan lingkungan (ekologi) manusia dan segala eksistensinya.
          Sebagai     penopang        pembangunan         ekonomi,         lingkungan         perlu       dipertahankan
          kualitasnya, karena itu harus dijaga keselarasan antara lingkungan alam dan
          lingkungan buatan. Sebagai satu upaya mempertahankan keberlanjutan, setiap
          kegiatan      diminimasikan       dampak         lingkungannya,             diupayakan           menggunakan


    PT. .....                                                                                                        6 - 19
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, mengurangi limbah dan meningkatkan
          penggunaan teknologi bersih.

 Pembangunan berkelanjutan memiliki beberapa konsep yang menjadi landasan berpikir
 dalam pengembangannya. Konsep tersebut antara lain sebagai berikut:

      a. Pembangunan pada hakikatnya merupakan pelaksanaan proses transformasi
          sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya pendukung beserta
          kombinasi ketiganya yang menghasilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
          manusia yang sebesar-besarnya;
      b. Hasil pembangunan dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang dengan tidak
          mengabaikan pemenuhan kebutuhan bagi generasi mendatang (orientasi masa kini
          dan masa mendatang);
      c. Pemahaman yang baik, tentang implikasi dari masing-masing pelaksanaan kegiatan
          pembangunan itu sendiri, baik positif maupun negatif, terhadap elemen hidup dan
          tidak hidup dalam lingkungan yang terkena pembangunan, merupakan suatu alat
          efektif yang berfungsi mengendalikan. Penerapan nilai-nilai lingkungan hidup
          terutama nilai-nilai yang menekankan tentang keselarasan dan keterkaitan yang
          terdapat antara manusia dengan alam; berperan sebagai strategi utama;
      d. Pengendalian keberlanjutan pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan
          secara sinergis, merupakan suatu bentuk keberlanjutan.




 6.2. METODOLOGI

 6.2.1. Metodologi Kerja
 Berdasarkan kepada tuntutan Kerangka acuan kerja serta apresiasi dari pekerjaan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), maka metodologi pelaksanaan
 pekerjaan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa metode, yaitu metode pengumpulan
 data dan informasi keruangan, metode kompilasi data dan informasi keruangan, metode
 penyiapan dan pengolahan peta, metode analisis data dan informasi keruangan, dan
 metode FGD. Keseluruhan metode tersebut, mengikuti alur kegiatan dalam metodologi
 kerja.




    PT. .....                                                                                                      6 - 20
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                 Kegiatan Penyusunan
                                             Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

                                                                                  Gambar 6.2. Metodologi Kerja


                                  BULAN I                         BULAN II                        BULAN III                        BULAN IV                      BULAN V
                           M1     M2     M3        M4    M1        M2      M3      M4      M1      M2      M3      M4   M1         M2      M3      M4     M1      M2      M3      M4
                                                   M4                              M4                              M4                              M4                             M4
     PEMBAHASAN                                                                                                    Ekspose              FGD             Ekspose Draf
                                                    Ekspose
     LAPORAN DAN                                                                                                   Lapant.                                Lapakh.
                                                    Lapdul.
         FGD

       KEGIATAN            Koordinasi                                                                       Penyusunan
                                                                                Kompilasi Data                                           Perumusan Konsep            Penyempurnaan
        PROSES                Tim                                                dan Informasi
                                                                                                              Lapant.
                                                                                                                                          Data Keruangan:             Laporan Akhir
     PELAKSANAAN                                             Pelaksanaan          Keruangan:                                             Konsep struktur
       KEGIATAN                                              pengumpulan         aspek fisik              Analisis Data dan              ruang
                            Pemantapan                         data dan           dan                          Informasi:                Konsep pola ruang
                           Metodoloigi dan                     informasi          lingkungan;          Analisis Permasalahan            Konsep
                           Rencana Kerja                      keruangan          aspek                 dan Potensi Kawasan               pembiayaan
                                                                                  ekonomi;              Perbatasan                        pembangunan;
                             Kajian Awal:                                        sosial               Analisis Kependudukan            Konsep prioritas
                                                              Persiapan                                Analisis Kegiatan
                            Review                                               budaya;                                                 pembangunan
                                                             Penumpulan                                 Kawasan
                             Peraturan                                           kelembagaan                                            Konsep pendanaan
                                                               Data dan
                            Kajian                                               Wilayah              Analisis Intensitas              Konsep
                                                              Informasi:
                             pengelolaan                                                                Penggunaan Lahan                  pelaksanaan
                                                           Penyiapan
                             kawasan                                                                   Analisis Kemampuan                pembangunan
                                                            Check List
                             perbatasan,                                                                Lahan                            Konsep
                                                            Data
                            Kajian                                                                    Analisis Alokasi Ruang            pengendalian
                                                           Penyiapan
                             penataan                                                                   Lindung dan Budidaya              pemanfaatan
                                                            Metode dan
                             ruang                                                                     Analisis Kesesuaian               ruang
                                                            Rencana Survei
                             kawasan                                                                    Lahan
                                                           Penyiapan alat
                             perbatasan                                                                Analisis Transportasi
                                                            dan
                                         Penyusunan         kelengkapan                                Analisis Penanganan                    Penyusunan
                                           Lapdul.          survei                                      Kawasan                                Draf Laporan
                                                                                                       Analisis Prioritas                         Akhir
                                                                                                        Penanganan

        OUTPUT/
       PELAPORAN                  Laporan                                   Laporan Antara                                     Draf Laporan               Laporan Akhir
                                Pendahuluan                                                                                       Akhir                   Executive Summary
                                                                                                                                                          Buku Database PPNS
                                                                                                                                                          Buku Manual Aplikasi
                                                                                                                                                             Database
                                                                                                                                                             ssapliasApliasiDatabase


    PT. .....                                                                                                             6 - 21
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT



 6.2.2. Metodologi Pengumpulan Data dan Informasi Keruangan

 6.2.2.1. Pemahaman Umum Mengenai Pengumpulan Data dan Informasi
            Keruangan
 Pengumpulan data adalah bagian dari rangkaian kegiatan riset yang memusatkan pada
 salah satu atau beberapa aspek dari obyeknya. Obyek dari pengumpulan data dapat terdiri
 dari tokoh masyarakat, dinas, lembaga, badan dan lingkungan fisik. Prinsipnya survei
 dilakukan untuk mendapatkan data dan fakta mengenai: Kondisi Eksisting, Tren, Potensi
 dan Permasalahan serta arahan Pengembangan yang telah ditentukan

 Berbagai bentuk survei antara lain, yaitu wawancara, pengamatan, perekaman,
 pengukuran, penggambaran, dan penghitungan.

 6.2.2.2. Metode Pengumpulan Data dan Informasi
 A. Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi di Instansi Pusat

     Pengumpulan data dan informasi di instansi pusat dilakukan dengan melakukan
     kunjungan instansional ke Kementerian atau Lembaga terkait dengan pengelolaan
     Lingkungan Hidup, seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan
     Umum, BAPPENAS, dan instansi lainnya. Dalam pelaksanaanya tim pengumpul data
     dibekali dengan checklist data yang harus dikumpulkan serta surat tugas dari pihak
     pemberi kerja, yaitu SATKER Deputi Bidang Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan
     Hidup

 B. Kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi di Instansi Daerah

     Pengumpulan data dan informasi di instansi daerah dilakukan dengan dua metode.
     Metode pertama melakukan kunjungan instansional ke SKPD terkait dengan pengelolaan
     Lingkungan Hidup yang ada di daerah, seperti BPLHD, Dinas PU, Dinas Tata Ruang, dan
     instansi lainnya, khususnya untuk daerah yang dekat dengan Jakarta seperti Kota Bogor
     dan Bandung. Untuk metode pertama ini, pengumpul data dibekali dengan checklist
     data yang harus dikumpulkan serta surat tugas dari pihak pemberi kerja, yaitu SATKER
     Deputi Bidang Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup. Metode kedua adalah
     dengan mengirimkan form permintaan data ke Instansi terkait di daerah yang jauh dari
     Jakarta (bila diperlukan), lengkap dengan surat resmi dari pihak pemberi kerja.




    PT. .....                                                                                                      6 - 22
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                  Kegiatan Penyusunan
                                              Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 6.2.2.3. Rekapitulasi Data dan Informasi Keruangan
 Berdasarkan hasil identifikasi konsultan, terdapat beberapa data keruangan yang
 dibutuhkan dalam kegiatan penataan ruang, yang diklasifikasikan menjadi data kebijakan,
 gambaran umum wilayah, dan data peta. Rekapitulasi data dan informasi keruangan yang
 dibutuhkan dapat dilihat secara lengkpa dalam tabel 6.2.

                                   Tabel 6.2. Rekapitulasi Data dan Informasi Keruangan

                                                                                          Sumber Data
     No     Jenis Data                 Nama Data
                                                                              Instansi                          Lapangan
 I        KEBIJAKAN
 1        Kebijakan           [UU, PP, PERPRES,      KEPRES,
          Terkait             PERMEN, SNI, dll]                Internet                                -

 2        Kebijakan           [RTRWN, RTR Pulau, RTRWP,
          Penataan            (RTRWK)]                  DJPR-PU/Internet, BAPPEDA-P,
                                                                                     -
          Ruang Terkait                                 BAPPEDA Kab/Kot

 3        Kebijakan           [RPJPN,   RPJMN,    RPJPD-P,
                                                           DJPR-PU/Internet, BAPPEDA-P,
          Sektoral            RPJMD-P, (RPJPD-K), (RPJMD-                               -
                                                           BAPPEDA Kab/Kot
                              K)]
 II       GAMBARAN
          WILAYAH

 1        Administratif & Pembagian Administratif, Batas
          Geografis       Geografis                      SETDA & BAPPEDA                               Konfirmasi

 2        Kondisi     Fisik ·    Klimatologi                  ·  BMKG
          Dasar             ·    Topografi                    ·  Bakosurtanal
                            ·    Jenis Tanah                  ·  Badan Geologi
                            ·    Geologi                      ·  Badan Geologi
                                                                                       Konfirmasi
                            ·    Hidrologi                    ·  Badan Geologi
                            ·    Sumberdaya mineral           ·  Badan Geologi
                            ·    Jalur Patahan/ Sesar         ·  Badan Geologi
                            ·    Tutupan Lahan                ·  Bakosurtanal
 3        Kependudukan Jumlah Penduduk; Kepadatan
                        Penduduk;        dan     Struktur BPS, BAPPEDA, Kecamatan,
                                                                                       Konfirmasi
                        Penduduk (Kelamin, Usia, Mata Kelurahan/Desa
                        pencaharian, dll)
 4        Sosial Budaya Kondisi Herritage; Kesenian
                                                          BAPPEDA,     Din.    Sosial, Konfirmasi,
                        Lokal; Adat Istiadat Lokal
                                                          Kebudayaan                   Dokumentasi, Koordinat
 5        Sumber      Daya Potensi Flora & Fauna; Hutan; BPLHD,     Din.                 Kehutanan, Konfirmasi
          Alam             Pertanian;   Kelautan;  serta Pertanian,                       Kelautan,
                           Mineral                       Pertambangan
 6        Perekonomian PDRB; Pendapatan Per Kapita; SETDA & BAPPEDA                                    -
                       PAD; APBD




      PT. .....                                                                                                            6 - 23
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                 Kegiatan Penyusunan
                                             Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                                                                                         Sumber Data
  No      Jenis Data               Nama Data
                                                                             Instansi                          Lapangan
 7      Kegiatan    Ekonomi Primer                 ·  Din. Pertanian;                                 -
        Ekonomi         ·   Pertanian;             ·  Din. Peternakan;
                        ·   Peternakan;            ·  Din. Perkebunan;
                        ·   Perkebunan;            ·  Din. Perikanan;
                        ·   Perikanan;             ·  Din. Kelautan;
                        ·   Kelautan;              ·  Din. Pertambangan;
                        ·   Pertambangan;          ·  Din. Kehutanan
                        ·   Kehutanan              ·  Din. Industri;
                    Ekonomi Sekunder               ·  Din. Perdagangan;
                        ·   Industri;              ·  Din. Jasa;
                    Ekonomi Tersier                ·  Din. Pariwisata
                        ·   Perdagangan;
                        ·   Jasa;
                        ·   Pariwisata
 8      Perumahan & Kondisi Perumahan, Sebaran BAPPEDA, Din. PU                                       Konfirmasi
        Permukiman  Permukiman

 9      Transportasi    Transportasi Darat         BAPPEDA, Din. Perhubungan, Konfirmasi
                        Jalan; Jembatan; Terminal; PU
                        Pengangkutan
                        Transportasi Laut
                        Pelabuhan; Alur Pelayaran
                        Transportasi Udara
                        Bandara; Alur Penerbangan

 10 Prasarana          & Energi; Sumber Daya Air; BAPPEDA, Din. Pertambangan, Konfirmasi
    Utilitas             Telekomunikasi; Persampahan; Pengairan, PU, PLN, TELKOM,
                         Air Bersih Regional; Air Limbah PDAM

 11 Fasilitas Sosial Pemerintahan;             Pendidikan; BAPPEDA, Din. PU, Pendidikan, Konfirmasi
    & Umum           Kesehatan;               Peribadatan; Kesehatan,             PORA,
                     Olahraga;                  Komersial; Perdagangan, Kebudayaan
                     Kebudayaan
 12 Bencana Alam        Sejarah;    Lokasi;        Dampak; Badan Geologi-ESDM, BAPPEDA, Konfirmasi
                        Potensi Bencana                    PU

 13 Kelembagaan         SO Eksektutif; SO Legislatif; SETDA & BAPPEDA                                 Konfirmasi
                        BKPRD-P/K;       Dinas  yang
                        Berwenang dalam PPR; PPNS;
                        Partisipasi Masyarakat


 14 Kawasan             Potensi; Dokumentasi;          Letak BAPPEDA, PU                              Konfirmasi
    Strategis           dan Delineasi Kawasan

 III    PETA
 1      Peta Dasar      Peta Rupa Bumi Indonesia              Bakosurtanal                            -
                        Peta Citra Satelit                    Bakosurtanal                            -
                        Peta Penetapan Status Kawasan Kem. Kehutanan                                  Konfirmasi,
                        Hutan                                                                         Dokumentasi, Koordinat



                        Peta Administratif                    SETDA, BAPPEDA                          Konfirmasi,
                                                                                                      Dokumentasi, Koordinat



                        Peta Geografis                        SETDA, BAPPEDA                          -
 2      Fisik Dasar     Peta Klimatologi                      BMKG                                    -


       PT. .....                                                                                                          6 - 24
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                                                                                     Sumber Data
  No     Jenis Data               Nama Data
                                                                         Instansi                          Lapangan
                        Peta Topografi                    Bakosurtanal                            -
                        Jenis Tanah                       Badan Geologi-ESDM                      -
                        Peta Geologi                      Badan Geologi-ESDM                      -
                        Peta Hidrologi                    Badan Geologi-ESDM                      -
                        Peta Sumberdaya mineral           Badan Geologi-ESDM                      -
                        Peta Jalur Patahan/Sesar          Badan Geologi-ESDM                      -
                        Peta Potensi Bencana Alam         Badan Geologi-ESDM                      Konfirmasi,
                                                                                                  Dokumentasi, Koordinat


                        Peta Tutupan Lahan                Bakosurtanal                            Konfirmasi,
                                                                                                  Dokumentasi, Koordinat


 3     Peta Eksisting   Peta Kondisi Eksisting Jaringan BAPPEDA, Din. Perhubungan, -
                        Transportasi                    PU

                        Peta Kondisi Eksisting Prasarana BAPPEDA, Din. Pertambangan, -
                        & Utilitas                       Pengairan, PU, PLN, TELKOM,
                                                         PDAM

                        Peta Kondisi Eksisting Fasos & BAPPEDA, Din. PU, Pendidikan, Konfirmasi,
                        Fasum                          Kesehatan,             PORA, Dokumentasi, Koordinat
                                                       Perdagangan, Kebudayaan

                        Peta Kawasan Strategis            BAPPEDA, PU                             Konfirmasi,
                                                                                                  Dokumentasi, Koordinat




 6.2.3. Metodologi Kompilasi Data dan Informasi Keruangan

 Semua data dan informasi yang telah diperoleh dari hasil kegiatan pengumpulan data dan
 survai kemudian dikompilasikan. Pada dasarnya kegiatan kompilasi data ini dilakukan
 dengan cara mentabulasi dan mengsistematisasi data-data tersebut dengan menggunakan
 cara komputerisasi.

 Hasil dari kegiatan ini adalah tersusunnya data dan informasi yang telah diperoleh
 sehingga akan mempermudah pelaksanaan kegiatan selanjutnya yaitu analisis.

 Metoda pengolahan dan kompilasi data yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

       1. Mengelompokan data dan informasi menurut kategori aspek kajian
       2. Menyortir data-data setiap aspek tersebut agar menjadi sederhana dan tidak
          duplikasi



     PT. .....                                                                                                        6 - 25
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      3. Mendetailkan desain pengolahan dan kompilasi data dari desain studi awal sehingga
          tercipta form-form isian berupa tabel-tabel, konsep isian,
      4. Mengisi dan memindahkan data yang telah tersortir ke dalam tabel-tabel isian
      5. Melakukan        pengolahan     data      berupa        penjumlahan,            pengalian,          pembagian,
          prosentase dan sebagainya baik bagi data primer maupun sekunder

 Setelah seluruh tabel terisi, maka langkah selanjutnya adalah membuat uraian deskriptif
 penjelasannya ke dalam suatu laporan yang sistematis per aspek kajian dan menuangkan
 informasi kedalam analisis konsep-konsep


 6.2.4. Metodologi Penyiapan Peta
 Sejalan dengan meningkatnya kemampuan teknologi pengolahan data peta, saat ini GPS
 (Global Positioning System) banyak digunakan dalam berbagai aplikasi.Keunggulan sytem
 ini dapat dipergunakan hampir dalam segala cuaca, dapat memberikan data posisi tiga
 dimensi yang teliti. Untuk memenuhi kebutuhan perencanaan dalam hal ini, beberapa
 metode pengolahan data peta berbasis GPS sebagai berikut:

      1. Posisi dan Sistem Koordinat

          Posisi suatu titik dapat dinyatakan secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara
          kuantitatif posisi suatu titik dinyatakan dengan koordinat, baik dalam ruang satu,
          dua, tiga, maupun empat dimensi (1D, 2D, 3D, maupun 4D). Perlu dicatat di sini
          bahwa koordinat tidak hanya memberikan deskripsi kuantitatif tentang posisi, tapi
          juga pergerakan (trayektori) suatu titik seandainya titik yang bersangkutan
          bergerak. Untuk menjamin adanya konsistensi dan standarisasi, perlu ada suatu
          sistem dalam menyatakan koordinat. Sistem ini disebut sistem referensi koordinat,
          atau secara singkat sistem koordinat, dan realisasinya umum dinamakan kerangka
          referensi koordinat.

      2. Metode dalam Menentukan Sistem Referensi Koordinat

          Sistem referensi koordinat adalah sistem (termasuk teori, konsep, deskripsi fisis
          dan geometris, serta standar dan parameter) yang digunakan dalam pendefinisian
          koordinat dari suatu atau beberapa titik dalam ruang. Dalam bidang geodesi dan
          geomatika, posisi suatu titik biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua-dimensi
          atau tigadimensi) yang mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem
          koordinat itu sendiri didefinisikan dengan menspesfikasi tiga parameter berikut,
          yaitu:

                  Lokasi titik nol dari sistem koordinat,


    PT. .....                                                                                                       6 - 26
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                  Orientasi dari sumbu-sumbu koordinat, dan
                  Besaran (kartesian, curvilinear) yang digunakan untuk mendefiniskan posisi
                   suatu titik dalam sistem koordinat tersebut.

          Setiap parameter dari sistem koordinat tersebut dapat dispesifikasikan lebih lanjut,
          dan tergantung dari spesifikasi parameter yang digunakan maka dikenal beberapa
          jenis sistem koordinat.

          Dalam penentuan posisi suatu titik di permukaan bumi, titik nol dari sistem
          koordinat yang digunakan dapat berlokasi di titik pusat massa bumi (sistem
          koordinat geosentrik), maupun di salah satu titik di permukaan bumi (sistem
          koordinat toposentrik). Kedua sistem koordinat diilustrasikan pada berikut.

              Gambar 6.3. Posisi Titik Dalam Sistem Koordinat Geosentrik (Kartesian & Geodetik)




          Sistem koordinat geosentrik banyak digunakan oleh metode-metode penentuan
          posisi ekstra-terestris yang mengguna-kan satelit dan benda-benda langit lainnya,
          baik untuk menentukan posisi titik-titik di permukaan Bumi maupun posisi satelit.
          Sedangkan sistem koordinat toposentrik banyak digunakan oleh metode-metode
          penentuan posisi terestris. Dilihat dari orientasi sumbunya, ada sistem koordinat
          yang sumbu-sumbunya ikut berotasi dengan bumi (terikat bumi) dan ada yang tidak
          (terikat langit). Sistem koordinat yang terikat bumi umumnya digunakan untuk
          menyatakan posisi titik-titik yang berada di bumi, dan sistem yang terikat langit
          umumnya digunakan untuk menyatakan posisi titik dan obyek di angkasa, seperti
          satelit dan benda-benda langit.




    PT. .....                                                                                                       6 - 27
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          Dilihat dari besaran koordinat yang digunakan, posisi suatu titik dalam sistem
          koordinat ada yang dinyatakan dengan besaran-besaran jarak seperti sistem
          koordinat Kartesian, dan ada yang dengan besaran-besaran sudut dan jarak seperti
          sistem pada sistem koordinat ellipsoid atau geodetik.



                          Gambar 6.4. Posisi Titik Dalam Sistem Koordinat Toposentrik




      3. Model Desktop Cartography

          Desktop cartography adalah poses penyajian peta digital menjadi sebuah peta
          analog/hard copy yang representatif dengan dilengkapi simbol-simbol obyek
          topografi dan informasi tepi sebagaimana                    hasil proses kartografi manual. Pada
          tahap desktop kartografi dilakukan dengan bantuan media perangkat lunak yang
          mempunyai fasilitas desktop publishing.

      4. Metode Konversi Data

          Dengan melakukan konversi data dari data format vektor GIS menjadi data format
          vektor grafis. Perlu diperhatikan bahwa proses konversi tidak selalu menjamin file
          hasil konversi bisa 100 % sama dengan aslinya. Kadang-kadang akan terjadi
          kesalahan (error) pada waktu proses konversi tersebut berjalan, sehingga
          diperlukan suatu pengamatan dan perbaikan pada file hasil dari konversi tersebut
          langsung pada monitornya.

      5. Metode Penskalaan

          Penskalaan dilakukan terhadap data peta hasil konversi, mengingat hasil konversi
          belum menghasilkan skala yang tepat.




    PT. .....                                                                                                        6 - 28
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      6. Metode Layer and Style Atributting serta Coloring Table

          Layer, Style dan warna merupakan suatu cara dari software desktop kartografi
          (dalam hal ini sofware Illustrator ) untuk membantu melaksanakan proses
          konstruksi peta secara sistematika dan efisien, yang ditampilkan melalui icon
          window. Masing-masing window dapat dibuat item-item tertentu sesuai dengan
          keinginan dengan merujuk pada spesifikasinya. Item-item pada window layer,style
          dan warna tersebut dinamakan dengan atribut dan masing-masing mempunyai
          kegunaan dan fungsi tertentu.

      7. Metode Input Data kedalam Atribut Layer dan Style

          Data didalam file DXF/Vektor grafik hasil digitasi pada umumnya sudah diatur
          dengan menggunakan sistim pelayeranya tersendiri. Layer-layer ini pada proses
          konversi oleh software desktop kartografi akan ikut diproses dan langsung
          dimasukan dalam sistim layer file konversi dengan urutannya sesuai dengan
          sebagaimana pembentukan dan penulisan teksnya didalam file digitasi.

      8. Model Editing Peta

          Sesuai dengan namanya, pada prinsipnya proses ini menterjemahkan detail data
          peta dalam bentuk simbolisasi sesuai kaidah-kaidah kartografinya dengan mengacu
          pada spesifikasi.

      9. Editing Teks

          Editing terhadap teks menuntut suatu pekerjaan yang harus memperhatikan
          kaidah-kaidah kartografi untuk penempatan posisi dan ukuran teks yang benar.

      10. Editing Simbol Titik

          Pada umumnya ada dua cara editing terhadap simbol titik yaitu:

                Apabila telah dibuat pada saat digitasi, biasanya langsung diganti simbolnya,
                 yang dapat diambil dari simbol yang telah dibuatkan terlebih dahulu dimaster
                 legendanya,dan ditempatka pada posisi yang sama, kemudian simbol lama
                 dihapus/didelete.

                Apabila belum dibuatkan, maka diambil langsung juga dari master legenda
                 dan ditempatkan pada posisinya dengan bantuan manuskrip peta.




    PT. .....                                                                                                      6 - 29
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      11. Editing Simbol Garis

          Proses editing garis membutuhkan suatu kejelian dan kecermatan, karena unsur
          inilah yang paling banyak jumlah detailnya didalam peta seperti garis kontur,
          sungai, batas administrasi dan lain-lain.

      12. Editing Area/Warna

          Suatu area didifinisikan sebagai luasan yang dibentuk atau dibatasi dengan garis-
          garis yang tertutup (close area). Suatu area seringkali dibuat dengan bantuan dari
          berbagai detai garis, seperti suatu area sawah dibentuk dari garis deleniasi
          landuse, jalan dan sungai.

          Dalam melaksanakan editing area dituntut untuk memahami batasan garis-garis
          yang akan membentuk suatu area yang tertutup (close area). Pada umumnya data
          awal yang belum dibentuk dalam peta/manuskrip maupun digitalnya, suatu area
          akan disimbolkan dengan menggunakan kode teks.

          Kendala yang sering terjadi adalah dalam mencari batasan-batasan areanya. Oleh
          karena itu, unsur logika pengetahuan geografi untuk suatu batasan area diperlukan
          untuk memanipulasi batasan garisnya atau dibuatkan guide warnanya atau ploting
          peta hasil digitasi.

      13. Model Checkplot

          Proses checkplot dilakukan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan dan kekurangan-
          kekurangan pada peta hasil editing yang mungkin terjadi. Pada dasarnya, proses
          koreksi dapat dilaksanakan langsung dimonitor, namun suatu hal yang harus
          menjadi pegangan bahwa proses tersebut mempunyai suatu kelemahan yang susah
          untuk dihindari, yaitu keterbatasan luas sudut pandang penglihatan dimonitor.
          Keterbatasan ini menjadi kendala apabila ingin melihat peta dalam bentuk satu
          kesatuan yang utuh, agar dapat melihat komposisi peta secara keseluruhan.

      14. Model Anotasi dan Pencetakan Draft

          Anotasi dan pembuatan legenda dilakukan dengan memperhatikan kaedah-kaedah
          pemetaan yang mengacu pada PP no.10/2000 tentang ketelitian peta dalam
          penataan ruang. Anotasi tersebut tidak hanya dituangkan secara baik dalam
          bentuk cetak saja, namun juga dalam format file digital yangmenjadi keluarannya.




    PT. .....                                                                                                      6 - 30
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

                          Gambar 6.5. Contoh Penulisan Peta Berdasarkan PP.10/2000




          Untuk meminimasi kesalahan muatan maupun kaedah pemetaannya, keterlibatan
          Tim Teknis Dep.PU pada tahap ini akan sangat dibutuhkan, terutama dalam
          melakukan supervisi pekerjaan, memberi masukan-masukan serta persetujuan
          terhadap draft yang telah dikeluarkan. Karenanya, hasil pencetakan draft
          selanjutnya akan didiskusikan dengan Tim Teknis dengan mengundang pula instansi
          sektoral yang terkait dengan proses pemetaan tersebut.

     15. Teknik Superimposed (Seive Map Analysis)

          Analisis ini digunakan untuk menentukan daerah yang paling baik untuk
          pengembangan kegiatan tertentu. Faktor penentunya adalah semua aspek fisik
          lingkungan dari daerah perencanaan. Prinsipnya yang digunakan dalam analisis ini
          adalah untuk memperoleh lahan yang sesuai dengan kebutuhan perencanaan
          (kesesuaian lahan). Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah superimposed
          (tumpang tindih) dari berbagai keadaan dari daerah perencanaan. Penilaian
          dilakukan atas dasar metode pembobotan dari penilaian skor (weightingad scoring).
          Pendekatan proses permodelan pekerjaan ini, salah satu tekniknya menggunakan
          perangkat komputer melalui program GIS (Geographic Information System) atau
          biasa dikenal dengan nama SIG (Sistem Informasi Geografis ). Substansi materi GIS
          yang akan mengawali pekerjaan ini merupakan salah satu bentuk system informasi
          yang mengelola data dan menghasilkan informasi yang beraspek spasial,
          bergeoferensi dan berbasisi komputer dengan kemampuan memasukan, menyusun,
          memanipulasi dan menganalisa data serta menampilkan sebagai suatu informasi.
          Setiap feature (titik, garis dan polygon) disimpan dalam angka koordinat X, Y dan
          untuk konsep layernya disimpan dalam bentuk coverage. Secara umum dijelaskan
          sebagai berikut: Setiap layer pada GIS dalam bentuk coverage terdiri dari feature
          geografi yang dihubungkan secara topologi dan berkaitan dengan data atribut,
          sebagaimana dapat terlihat pada gambar berikut:



    PT. .....                                                                                                       6 - 31
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT



                          Gambar 6.6. Permodelan Dunia Nyata Dalam Data Spasial GIS




                                                    Model data vektor:

                                                         Titik, garis, poligon
                                                         Hasil dari digitasi,
       Layer data                                         vektorisasi




                                                    Model data raster:

                                                         Pixels
                                                         Foto udara, scanned
                                                          image, citra satelit

                                                                                                  Integrasi informasi spasial
                                                                                                  dan non-spasial (atribut)
     Dunia nyata
Sumber: Prawiranegara,M .2006. Aplikasi Analisis Sistem Informasi Geografis pada Penyusunan Tipologi
         Kawasan dalam Penataan Ruang Kota          (Studi Kasus: Kota Bandung). Tugas Akhir Prodi
         Perencanaan Wilayah dan Kota ,SAPPK ITB




 6.2.5. Metodologi Analisa

 6.2.5.1. Analisa Permasalahan dan Potensi Kawasan Perbatasan
 Analisis Permasalahan dan Potensi Kawasan Perbatasan dilakukan untuk mendalami
 berbagai permasalahan dan potensi yang dihadapai sebagai masukan dalam menentukan
 strategi penanganan kawasan.

  A. Analisis mengenai Permasalahan Kawasan

      Permasalahan yang menyebabkan kawasan permukiman di perbatasan menjadi
      terisolasi (terpencil) antara lain:

         1.    Pengaruh Geografis yang membagi kawasan dalam berbagai keadaan/kondisi
               (Pulau, Pesisir, Dataran Rendah ataupun Dataran Tinggi) dengan pembatas
               alami seperti Laut, Sungai, Gunung, dan lain-lain.
         2.    Kurangnya Sarana Aksesibilitas yang menghubungkan suatu kawasan dengan
               kawasanlain seperti Jalan, Jembatan, Dermaga atau Bandar Udara




    PT. .....                                                                                                        6 - 32
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


         3.    Gangguan Akibat Bencana yang menyebabkan rusaknya Sarana Aksesibilitas
               yang telah ada
         4.    Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang secara sadar memisahkan diri dari
               lingkungan sosial diluar wilayahnya (Self Isolation), serta menolak intervensi.

      Permasalahan yang menyebabkan ketertinggalan kawasan permukiman di perbatasan
      adalah sebagai berikut :

         1.    Kualitas SDM di kawasan retatif lebih rendah di bawah rata-rata nasional akibat
               terbatasnya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan dan lapangan
               kerja.
         2.    Terbatasnya akses permodalan, pasar, informasi dan teknologi bagi upaya
               pengembangan ekonomi lokal,
         3.    Terdapat gangguan keamanan dan bencana yang menyebabkan kondisi daerah
               tidak kondusif untuk berkembang;
         4.    Komunitas adat terpencil (KAT) memiliki akses yang sangat terbatas kepada
               pelayanan sosial ekonomi, dan politik serba terisolir dari kawasan di
               sekitarnya.
         5.    Kebijakan pembangunan sebelumnya yang kurang tepat sehingga terjadi
               kesenjangan dan ketidakmampuan pemerintah daerah dalam melakukan
               pembangunan.
  B. Analisis mengenai Potensi Kawasan
         1.    Potensi Pariwisata

               Lokasi suatu daerah yang menawan (eksotis), dengan keadaan alam yang indah
               dan didukung dengan keadaan iklim yang nyaman merupakan suatu aset Alami
               bernilai tinggi. Keadaan SDA seperti inilah yang dapat menjadi potensi suatu
               daerah. Selain itu aset sepeti situs-situs peninggalan bersejarah dengan nilai
               histris yang tinggi juga dapat menjadi daya tarik suatu daerah.

         2.    Potensi Pertanian dan Perkebunan

               Sektor Pertanian dan Perkebunan diindikasikan sebagai bidang paling utama
               kawasan pedesaan. Kawasan pedesaan salah satu cirinya adalah sebagian besar
               angkatan kerjanya memperoleh mata pencaharian di sektor pertanian dan
               perkebunan, sehingga pendapataan sebagian besar berasal dari sektor
               pertanian dan perkebunan. Keuntungan yang dimiliki kawasan pedesaan adalah
               ketersediaan lahan sangat untuk dapat dimanfaatkan. Sehingga penekanan dan
               konsentrasi pada sektor pertanian dan perkebunan dapat memberikan
               keuntungan yang besar pada perekonomian.

    PT. .....                                                                                                      6 - 33
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


         3.    Potensi Kehutanan

               Pada wilayah dengan ketersediaan hutan produksi merupakan aset yang besar
               untuk wilayah tersebut. Tidak semua wilayah memiliki keuntungan seperti ini.
               Berbagai jenis hasil kehutanan seperti beragam jenis kayu memiliki nilai
               ekonomis yang tinggi, dengan lingkup pelayanan pemasaran yang cukup luas.
               Suatu daerah dengan keunggulan seperti ini selayaknya dapat memetakan dan
               memperhitungkan kontribusinya pada perekonomian daerahnya.

         4.    Potensi Peternakan

               Sektor peternakan diidentifikasi terdiri dari ternak besar, seperti Sapi dan
               kerbau; ternak kecil, seperti kambingm domba dan babi; serta ternak unggas,
               seperti ayam, itik dan burung. Sektor peternakan seperti halnya sektor
               pertanian        juga   merupakan            sektor         yang        umumnya             mendominasi
               matapencaharian di kawasan pedesaan. Sebagian besar pendapatan masyarakat
               juga berasal dari sektor peternakan sejalan dengan sektor pertanian.

               Hasil yang didapatkan dari sektor peternakan adalah kapasitas produksi daging
               pada daerah bersangkutan. Besarnya produksi daerah menentukan peran
               daerah tersebut dalam hal pemenuhan kebutuhan masyarakat, perdagangan
               dan ekspor.

         5.    Potensi Perikanan

               Baik kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil maupun yang berada di daratan
               dapat memiliki potensi perikanan. Bedanya adalah potensi perikanan yang
               dapat dimiliki daerah pedalaman adalah perikanan air tawar yang didapat dari
               sungai, danau ataupun hasil budidaya tambak. Walaupun hasil perikanan tidak
               sebesar perikanan laut, namun hasil produksinya cukup memberikan kontribusi
               terhadap pemenuhan kebutuhan dan perekonomian.

         6.    Potensi Pertambangan dan Energi

               Ketersediaan pertambangan dan energi pada suatu daerah merupakan suatu hal
               yang tidak dapat diciptakan/dibuat, karena hal ini merupakan suatu aset yang
               bersifat spesifik dan tertentu artinya tidak semua daerah memilikinya. Karena
               sifatnya yang langka dan tertentu inilah yang membuat sektor pertambangan
               dan energi memiliki nilai strategis dan ekonomis yang sangat tinggi.

               Ketersediaan pertambangan (seperti galian type C, berbagai jenis bahan logam
               dan berbagai jenis batuan ) serta energi (minyak, gas dan panas bumi) akan


    PT. .....                                                                                                       6 - 34
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               memberikan kontribusi pada daerah dan perekonomian masyarakat. Eksplorasi
               dan eksploitasi bersifat strategis dan vital dalam menentukan realisasi
               pertambangan dan energi di suatu daerah.

         7.    Potensi Industri

               Sektor industri suatu kawasan dapat diklasifikasikan dalam Industri Kecil
               (Rumah Tangga), Industri Menengah dan Industri Besar. Umumnya sektor
               industri muncul dan tumbuh dipengaruhi oleh potensi-potensi yang tersedia
               dalam suatu daerah. Potensi-potensi yang mempengaruhi pertumbuhan sektor
               industri dalam suatu daerah antara lain dipengaruhi oleh: potensi Sumber Daya
               Manusia, ketersediaan bahan baku (SDA), permodalan, permintaan pasar
               (demand) dan potensi pemasaran. Jenis Industri yang berkembang pun akan
               dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

               Identifikasi potensi industri suatu daerah dapat dinilai dari jumlah industri yang
               berjalan, keragaman jenisnya, besarnya, dan pertumbuhannya. Potensi industri
               akan     memberikan    kontribusi         pada      perekonomian             daerah       (pajak)        dan
               penyediaan lapangan pekerjaan (produktivitas) .

         8.    Potensi Perdagangan

               Sektor perdagangan akan tumbuh karena dipengaruhi oleh keberadaan sektor-
               sektor lain yang telah dijabarkan sebelumnya. Perdagangan dalam suatu
               daerah muncul akibat adanya keperluan pemenuhan kebutuhan hidup yang
               beraneka ragam. Sedangkan perdagangan antar daerah muncul akibat produksi
               dari suatu daerah melebihi konsumsinya (jual), atau konsumsi suatu daerah
               melebihi produksinya (beli).

               Komoditas perdagangan suatu daerah bersifat khas, karena dipengaruhi potensi
               yang dimiliki daerah tersebut. Daerah dengan potensi perdagangan tinggi
               apabila daerah tersebut memiliki kapasitas komoditas tinggi, dengan jenis yang
               beragam.

               Intensitas aktivitas perdagangan dalam suatu daerah memberikan sinyal positif
               mengenai perkonomian daerah tersebut, terlebih lagi perdagangan antar
               daerah akan memberikan kontribusi yang tinggi pada perekonomian daerah.

         9.    Potensi Usaha Jasa

               Sektor usaha jasa merupakan sektor yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan
               potensi SDM suatu daerah. Munculnya sektor usaha jasa ditentukan oleh


    PT. .....                                                                                                      6 - 35
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               kreativitas SDM dalam menerjemahkan kebutuhan (demand) bidang Jasa dalam
               suatu daerah dan menerapkannya dalam bentuk usaha.

               Usaha Jasa akan lahir dan tumbuh seiring dengan pertumbuhan sektor-sektor
               lain yang secara alami akan lahir kebutuhan jasa profesional untuk
               meningkatkan pertumbuhan sektor-sektor tersebut yang secara keseluruhan
               akan membentuk suatu sistem perekonomian. Sektor usaha jasa dapat
               dijadikan indikator tingkat perekonomian suatu daerah.

 Potensi Usaha Jasa yang tinggi adalah saat jumlah usaha tinggi dan jenis usaha beragam.
 Potensi usaha jasa yang tinggi akan memberikan kontribusi yang signifikan pada
 perekonomian suatu daerah dan masyarakat

 Dalam upaya melakukan analisa permasalahan dan potensi secara umum dapat dilakukan
 secara deskriptif dan elaboratif, serta menggunakan metode yang dikenal dengan nama
 Analisis SWOT (Strengthness, Weakness, Opportunities, Threatness), yaitu suatu analisis
 yang bertujuan mengetahui potensi dan kendala yang dimiliki kawasan, sehubungan
 dengan kegiatan pengembangan kawasan yang akan dilakukan di masa datang.

 SWOT merupakan sebuah metode yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
 kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat
 meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats)., Langkah pertama yang
 dilakukan dalam menggunakan analisis SWOT adalah menelaah lingkup studi yang akan
 dianalisis. Dengan kata lain harus diketahui tujuan dari studi tersebut, apakah bertujuan
 untuk mendapatkan profit, untuk meningkatkan produksi dan penjualan atau suatu
 organisasi didirikan dengan tujuan sebagai pelayanan publik. Dari pengetahuan tujuan
 dapat ditentukan dua faktor yang harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT. Dua faktor
 tersebut adalah:

     1. Faktor internal:

        Faktor-faktor yang menentukan kinerja suatu wilayah yang sepenuhnya berada dalam
        kendali stakholders. Faktor internal ini dapat mengidentifikasikan kekuatan
        (strengths) dan kelemahan (weaknesses).

     2. Faktor eksternal:

        Faktor-faktor yang diluar kendali stakholders tapi sangat mempengaruhi kinerja
        suatu wilayah. Faktor eksternal dapat mengidentifiaksi peluang (opportunities) dan
        ancaman (threats).




    PT. .....                                                                                                      6 - 36
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Dalam penyusunan perencanaan strategis dengan menggunakan analisis SWOT dilakukan
 beberapa langkah:

     1. Langkah I

        Faktor internal:

             a. Identifikasi faktor internal yang memiliki nilai positif, disebut kekuatan.
                 Kekuatan (Strengthness) yang dimiliki kawasan, yang dapat memacu dan
                 mendukung perkembangan kawasan, misalnya kebijaksanaan pengembangan
                 yang dimiliki, aspek lokasi yang strategis dan lain-lain;
             b. Identifikasi faktor internal yang memiliki nilai negatif, disebut kelemahan.
                 Kelemahan (Weakness) yang ada, yang dapat menghambat pengembangan
                 kawasan, baik hambatan fisik kawasan maupun non fisik, misalnya
                 kemampuan sumberdaya manusia, instansi dan pendanaan pembangunan.
                 Dengan mengetahui kelemahan ini dapat ditentukan upaya penanggulangan
                 untuk mengatasi kelemahan tersebut;

        Faktor eksternal:

             a. Identifikasi faktor eksternal yang memiliki nilai positif, disebut peluang.
                 Peluang (Opportunities) yang dimiliki untuk melakukan pengembangan
                 kawasan, misalnya ruang terbuka yang masih luas untuk pengembangan
                 kawasan.

             b. Identifikasi faktor eksternal yang memiliki nilai negatif, disebut ancaman.
                 Ancaman        (Threatness)     yang       dihadapi,         misalnya        tingginya         intensitas
                 pembangunan yang membutuhkan Sumber Daya Alam yang besar, dan
                 berpotensi menimbulkan pencemaran.

     2. Langkah II

        Setelah semua informasi terkumpul yang berpengaruh terhadap kelangsungan studi,
        tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut ke dalam model
        matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan
        ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan
        yang dimilikinya.

        Dengan demikian diharapkan dalam menganalisis kawasan perencanaan akan
        diketahui dengan tepat masalah dan akar permasalahan yang ada, potensi dan
        kekuatan yang dapat diberdayakan untuk pembangunan. Di samping itu dapat pula




    PT. .....                                                                                                       6 - 37
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


        ditentukan tujuan dan sasaran yang akan dicapai serta membuat metode pemecahan
        masalah dan pencapaian tujuan dan sasaran.

 Prosedur SWOT

       Tentukan variabel-variabel yang mempengaruhi, misalnya aspek kebijaksanaan dan
        arahan pada penyelenggaraan perumahan dan permukiman

       Pilah-pilah varibel tersebut ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok Kekuatan,
        Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Pada proses ini sangat dibutuhkan kejelian
        pengguna dalam mengklasifikasikan variabel tersebut untuk disesuaikan dengan goals
        karena sebuah variabel dapat menjadi ancaman sekaligus sebagai peluang,
        tergantung dari cara pandang dan tujuannya.

       Setiap variabel yang dimasukkan sebagai Kekuatan diberikan label S1, S2, S3, … dan
        seterusnya. Demikian juga dengan Kelemahan (label W), Peluang (label O) dan
        Ancaman (label T)

       Kemudian pengguna mencoba mengkombinasikan setiap label, misalnya S1 dengan T1
        (kekuatan 1 dengan ancaman 1) dan kemudian secara kualitatif dianalisis apa
        dampak dan pengaruhnya terhadap pencapaian. Demikian juga untuk kombinasi
        variabel lainnya. Disinilah dibutuhkan kejelian pengguna untuk mengkombinasikan
        setiap variabel, mengembangkannya sesuai tujuan dan merumuskan hasilnya.

 Kumpulan kesimpulan tersebut, kemudian dipilah sesuai prioritas dan besarnya pengaruh,
 sehingga diperoleh rumusan kesimpulan sebagai masukan pegambilan keputusan dan
 kebijakan.

                                              Tabel 6.3. Matrik SWOT

                                                                   POTENSI             PERMASALAHAN
                                                                        S                       W
                        PELUANG PENGEMBANGAN
                                      O                                OS                      OW
                      TANTANGAN PENGEMBANGAN
                                      T                                TS                      TW




 6.2.5.2. Analisa Kependudukan
 Penduduk merupakan faktor utama perencanaan, sehingga pengetahuan akan kegiatan dan
 perkembangan penduduk merupakan bagian pokok dalam penyusunan rencana. Analisis
 kependudukan merupakan faktor utama untuk mengetahui ciri perkembangan suatu


    PT. .....                                                                                                          6 - 38
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                  Kegiatan Penyusunan
                                              Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 daerah, sehingga data penduduk masa lampau sampai tahun terakhir sangat diperlukan
 dalam memproyeksikan keadaan pada masa mendatang. Salah satu yang penting dalam
 analisis penduduk yaitu mengetahui jumlah penduduk di masa yang akan datang. Untuk
 hal tersebut, dapat digunakan beberapa metoda atau model analisis, seperti:

      a.   Kurva polinomial garis lurus
      b.   Kurva polinomial regresi
      c.   Metoda bunga berganda
      d.   Kurva Gompertz
      e.   Kurva logistik

 Teknik atau metoda tersebut di atas memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing,
 sehingga dalam penerapannya perlu dilakukan pemahaman terlebih dahulu terhadap
 kondisi kependudukan pada wilayah perencanaan, seperti pola pertumbuhan yang terjadi
 di masa lampau, ketersediaan data dan sebagainya.                                 Hal ini untuk memperoleh hasil
 proyeksi yang mendekati ketepatan dan menghindari kesulitan-kesulitan dalam proses
 analisis.

 Model analisis yang sering digunakan dalam melakukan analisis kependudukan adalah:

     a. Model Kurva Polinomial

           Pada Penyusunan data keruangan, perhitungan jumlah penduduk tahun tertentu
           pada masa yang akan datang ditetapkan berdasarkan hasil proyeksi tahun-tahun
           sebelumnya hingga tahun terakhir dengan mengikuti pola garis lurus mengikuti
           model persamaan:

              P t   P t  b            

                        t 1

                        b       n
                         1
              b
                         t 1 
               dimana:
               P t         = penduduk daerah yang diselidiki pada tahun t + 
                             = penduduk daerah yang diselidiki pada tahun dasar t
               Pt
                             = selisih tahun dari tahun t ke tahun t +
               
                         = rata-rata tambahan jumlah penduduk tiap tahun pada masa lalu hingga
               b
                               data tahun terakhir




    PT. .....                                                                                                              6 - 39
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                  Kegiatan Penyusunan
                                              Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


     b. Model Regresi

          Untuk memperhalus perkiran, teknik yang berdasarkan data masa lampau dengan
          penggambaran kurva polinomial akan dapat digambarkan sebagai suatu garis
          regresi. Cara ini disebut metode selisih kuadrat terkecil (least square). Cara ini
          dianggap penghalusan cara ekstrapolasi garis lurus diatas, karena garis regresi
          memberikan penyimpangan minimum atas data penduduk masa lampau (dengan
          menganggap ciri perkembangan penduduk masa lampau berlaku untuk masa
          depan).

          Teknik ini menggunakan persamaan matematis:

               P tx  a  b             X   
               Pt + x         = jumlah penduduk tahun (t + x)
               X              = tambahan tahun terhitung dari tahun dasar
               a, b           = tetapan yang diperoleh dari rumus berikut




     c. Model Bunga Berganda

          Teknik ini menganggap perkembangan jumlah penduduk akan berganda dengan
          sendirinya.           Disini dianggap tambahan jumlah penduduk akan membawa
          konsekuensi bertambahnya tambahan jumlah penduduk.                                       Hal ini analog dengan
          bunga berbunga.                 Oleh karenanya persamaan yang digunakan merupakan
          persamaan bunga berganda, yaitu:

               P t   P t         1 r  
               r        =   rata-rata persentase tambahan jumlah penduduk daerah yang diselidiki berdasarkan
                            data masa lampau

     d. Kurva Gompertz

          Kurva Gompertz mengikuti pola hiperbolik yang memiliki batas (asimtot) pada
          kedua belah sisinya (atas dan bawah). Dasar pertimbangan model ini adalah prinsip
          Gompertz, yaitu bahwa pertumbuhan penduduk di daerah yang sudah maju adalah
          rendah yang diikuti oleh pertumbuhan yang cepat pada periode berikutnya, namun
          lebih lanjut pada periode berikutnya lagi pertumbuhan tersebut menurun apabila
          jumlah            dan kepadatan penduduk mendekati maksimal.                                Kurva Gompertz ini
          mempunyai persamaan umum:

    PT. .....                                                                                                              6 - 40
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                       Kegiatan Penyusunan
                                                   Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               P tx  k  a                                   log P t  x  log k  b                            log a 
                                          x
                                      b                                                                      x
                                                  atau



          Model ini sering digunakan karena didalamnya mempertimbangkan faktor
          perkembangan penduduk pada setiap periode waktu.

          Adapun persamaan umum untuk mendapatkan tetapan Gompertz adalah:

                              3
                                   log Y               2
                                                             log Y
              b   n
                       
                              2
                                   log Y               1
                                                             log Y

                                                                                        b 1
              log a               log Y   1 log Y                     
                                                                                   b            
                                   2
                                                                                                     2
                                                                                        n
                                                                                            1

                      1                                       b   n
                                                                           1              
              log k                      log Y                                   log a 
                      n                                                                   
                                          1
                                                                  b 1                    

              atau

                        
                      1                     1
                                                  log Y              3
                                                                           log Y                 2
                                                                                                         log Y      2
                                                                                                                         
                                                                                                                         
              log k                                                                                                    
                      n 
                                                 1
                                                       log Y                 3
                                                                                   log Y  2            2
                                                                                                             log Y       
                                                                                                                         

               dimana:

                      n adalah sepertiga banyaknya data




     e. Permodelan Interaksi antar Bagian Wilayah

          Pendekatan analisis wilayah selain faktor kependudukan, adalah analisis terhadap
          pola hubungan/interaksi antarwilayah maupun antar bagian wilayah yang satu
          dengan lainnya.            Anggapan dasar yang digunakan adalah melihat suatu daerah
          sebagai suatu massa, sehingga hubungan antar daerah diasumsikan dengan
          hubungan antar massa, yang mana massa tersebut memiliki daya tarik, sehingga
          terjadi saling pengaruhi antar daerah.

          Permodelan yang dapat digunakan dalam melakukan analisis terhadap pola
          interaksi atau keterkaitan antardaerah atau antar bagian wilayah dengan wilayah
          lainnya, adalah Model Gravitasi.                                 Penerapan model ini ini dalam bidang analisis
          perencanaan kota adalah dengan anggapan dasar bahwa faktor aglomerasi

    PT. .....                                                                                                                   6 - 41
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          penduduk, pemusatan kegiatan atau potensi sumber daya alam yang dimiliki,
          mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan sebagai daya tarik menarik antara 2
          (dua) kutub magnet.

          Kelemahan penerapan model ini dalam analisis wilayah, terutama terletak pada
          variabel yang digunakan sebagai alat ukur, dimana dalam fisika variabel yang
          digunakan, yaitu molekul suatu zat mempunyai sifat yang homogen, namun tidak
          demikian halnya dengan unsur pembentuk kota, misalnya penduduk.                                             Namun
          demikian, hal ini telah dikembangkan, yaitu dengan tidak hanya memasukan
          variabel massa saja, tetapi juga gejala sosial sebagai faktor pembobot.

          Persamaan umum model Gravitasi ini adalah:

                        Pi  Pj
              Tij  k
                          P

               dimana:

               Tij       = pergerakan penduduk sub-wilayah i ke sub-wilayah j
               K         = tetapan empiris (bobot)
               Pi        = pergerakan penduduk sub wilayah I
               Pj        = pergerakan penduduk yang berakhir di sub wilayah j
               P        = jumlah penduduk sub wilayah i


 6.2.5.3. Analisis Kegiatan Kawasan
 Analisa kegiatan kota bertujuan untuk mengetahui potensi perkembangan kegiatan kota
 dan melihat potensi kondisi suatu kegiatan terhadap kegiatan lainnya sehingga dapat
 membantu menghasilkan perkembangan kawasan perencanaan secara optimum.
     a. Metode Location Quotient (LQ)

          Model yang sering digunakan untuk melakukan analisis kegiatan pada suatu wilayah
          antara lain dengan model analisis Location Quotient (LQ). Teknik ini merupakan
          cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan
          tertentu. Hasil akhir dari teknik ini masih merupakan kesimpulan sementara yang
          masih harus dikaji kembali melalui teknik analisis yang lain sehingga dapat
          menjawab apakah kesimpulan sementara tersebut terbukti kebenarannya atau
          tidak.     Namun demikian, dalam tahap awal sudah cukup memberikan gambaran
          mengenai kemampuan daerah yang bersangkutan dalam sektor yang diamati.

          Pada dasarnya teknik ini menyajikan perbandingan relatif antara kemampuan suatu
          sektor di daerah yang diselidiki dengan kemampuan sektor yang sama pada daerah
          yang lebih luas.            Adapun variabel yang digunakan sebagai alat ukur untuk


    PT. .....                                                                                                         6 - 42
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                   Kegiatan Penyusunan
                                               Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          menghasilkan koefisien dapat menggunakan satuan jumlah tenaga kerja pada
          sektor tersebut, hasil produksi atau satuan lain yang dapat dijadikan kriteria.

          Perbandingan relatif Model Location Quotient (LQ) ini dapat dinyatakan melalui
          persamaan matematis berikut:

                              S   i                   S   i
                                      N   i                     S
              LQ      i                        
                                  S                   N   i
                                      N                         N

          dimana:

                 Si       =   jumlah buruh industri i di bagian wilayah yang diamati
                 S        =   jumlah total buruh industri di seluruh bagian wilayah
                 Ni       =   jumlah buruh industri i di seluruh wilayah
                 N        =   jumlah total buruh di seluruh wilayah
          Struktur perumusan LQ memberikan beberapa nilai sebagai berikut:

                  LQ > 1             :       menyatakan sub wilayah yang diamati memiliki potensi surplus
                  LQ < 1             :       menunjukan sub wilayah yang bersangkutan memiliki kecenderungan
                                              impor dari wilayah lain
                  LQ = 1             :       menunjukan sub wilayah yang bersangkutan telah mencukupi dalam
                                              kegiatan tertentu



     b. Metoda Analisa Pergeseran (shift and share)

          Berguna untuk melihat pertumbuhan/perkembangan dari suatu kegiatan tertentu
          pada suatu daerah tertentu. Dapat pula ditujukan untuk melihat tingkat
          perkembangan dan kedudukan suatu daerah dalam sistem wilayah yang lebih luas.
          Metoda analisa pergeseran ini terdiri dari:

          1) Total Shift
               Rumusan dari Total Shift ini adalah sebagai berikut:
               (ST) = Ejt - (Et/Eo)Ejo
               dimana bila:
               Nilai ST         (+) = Upward Total Shift, aktivitas ekonomi tersebut berkembang
               pesat.
               Nilai ST (-) = Downward Total Shift, aktivitas ekonomi berkembang dengan
               lambat.




    PT. .....                                                                                                               6 - 43
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          2) Diferensial Shift
               Rumusan dari Diferensial Shift ini adalah sebagai berikut:
               SD = Eijt - (Eit/Eio) Eijo

               dimana bila:
               Nilai SD (+) =         Aktivitas ekonomi daerah tersebut berkembang pesat, dan
               memiliki akses yang baik terhadap lokasi pasar dan bahan baku.
               Nilai SD (-) = Aktivitas ekonomi daerah tersebut berkembang dengan lambat


          3) Proporsionality Shift
               Rumusan Proporsionality Shift ini adalah sebagai berikut:
               SP = ST - SD

               dimana bila:
               Nilai SP (+) berarti daerah tersebut berspesialisasi dalam aktivitas ekonomi
               yang cepat pertumbuhannya. Nilai SP (-) berarti sebaliknya.
          4) Model Analisa Share
               Rumusan dari model analisa share ini adalah sebagai berikut:
               N = Ejo (Et/Eo) - Ejo

               dimana:
               Ejo = Besaran aktivitas ekonomi di daerah j pada tahun dasar.
               Et = Besaran aktivitas ekonomi Nasional atau sistem daerah yang ebih luas
               pada tahun akhir
               Eo = Besaran aktivitas ekonomi Nasional atau sistem daerah yang lebih luas
               pada tahun dasar
     c. Skoring
          Digunakan untuk menilai tingkat pelayanan kota, sehingga dapat ditentukan
          potensinya yang dapat menentukan fungsi kota yang bersangkutan. Rumus
          digunakan adalah:


                             Bi = Pi      x 1000
                                      P
                             Dimana,
                   Bi = Bobot dari kegiatan
                   Pi = Jumlah aktivitas I di kota
                   P = Jumlah penduduk di kota




    PT. .....                                                                                                          6 - 44
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                         Kegiatan Penyusunan
                                                     Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          Jumlah aktivitas yang dimaksud biasanya berupa produksi maupun pelayanan sosial,
          seperti hasil pertanian, fasilitas pendidikan, jumlah fasilitas kesehatan dan
          sebagainya. Makin tinggi nilai Bi dapat diinterpretasikan bahwa kota atau kawasan
          tersebut mempunyai tingkat pelayanan yang optimal/potensial.
     d. Model Tingkat Kemampuan Pelayanan Fasilitas
          Tingkat pelayanan fasilitas umum diukur dengan cara mengkaji kemampuan suatu
          jenis fasilitas dalam melayani kebutuhan penduduknya.                                         Dalam hal ini, fasilitas
          umum yang memiliki tingkat pelayanan 100% mengandung arti bahwa fasilitas
          tersebut       memiliki                  kemampuan         pelayanan          yang       sama       dengan        kebutuhan
          penduduknya.                Untuk mengetahui kelengkapan fasilitas umum suatu bagian
          wilayah, dihitung tingkat pelayanannya dengan menggunakan rumus:


                         d   ij            b   j
               TP                                   X 100%
                                  C   is


               dimana:

               TP =      tingkat pelayanan fasilitas i di kawasan j
               dij =     jumlah fasilitas i di kawasan j
               bij =     jumlah penduduk di kawasan j
               Cis =     jumlah fasilitas i persatuan penduduk menurut standar penentuan fasilitas untuk
               kawasan


 6.2.5.4. Analisis Intensitas Penggunaan Lahan
 Komponen intensitas penggunaan lahan di dalam suatu ruang perkotaan digunakan untuk
 mengidentifikasi tingkat kepadatan atau intensitas suatu kawasan yang merupakan
 indicator perlu tidaknya diadakan pengaturan-pengaturan bangunan seperti pengaturan
 (Chiara, 1984):
      a. koefisien dasar bangunan (KDB);
      b. koefisien lantai bangunan (KLB);
      c. tinggi bangunan;
      d. open space ratio;
      e. recreation space ratio;
      f. livability space ratio.




    PT. .....                                                                                                                     6 - 45
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Formula untuk menghitung KDB adalah:


          KDB      =         Total luas lantai
                             Total luas lahan


 Formula untuk mengetahui kondisi intensitas penggunaan lahan adalah:


                          1,903  log KLB
                  IPL 
                                0,301
          IPL      : Intensitas Penggunaan Lahan
          KLB      : Koefisien Lantai Bangunan




 6.2.5.5. Analisa Kemampuan Lahan
 Analisis kemampuan lahan di arahkan untuk mengetahui potensi lahan bagi penggunaan
 berbagai sisem pertanian secara luas dan lestari, berdasarkan cara penggunaan dan
 perlakuan yang paling sesuai, sehingga dapat di jamin pemanfaatan lahan dalam waktu
 yang tidak terbatas.

 Analisis kemampuan lahan yang dilakukan mengacu pada sistem klasifikasi kemampuan
 lahan yang di kembangkan oleh USDA. Metode klasifikasi tersebut di dasarkan pada
 sejumlah asumsi, antara lain sebagai berikut :

     a. Klasifikasi kemampuan lahan merupakan klasifikasi yang bersifat interpretatif di
          dasarkan atas sifat-sifat lahan yang permanen. Vegetasi yang ada seperti pohon,
          belukar dan sebagainya tidak di pertimbangkan sebagai sifat-sifat lahan yang
          permanen.

     b. Lahan di dalam satu kelas serupa dalam tingkat kegawatan faktor penghambatnya,
          tetapi tidak harus sama dalam jenis faktor penghambat atau tindakan pengelolaan
          yang dibutuhkan.

     c. Klasifikasi kemampuan lahan bukanlah gambaran produktivitas untuk jenis tanaman
          tertentu, meskipun perbandingan masukan terhadap hasil dapat membantu dalam
          menentukan kelas.

     d. Diasumsikan tingkat pengelolaan yang cukup tinggi.

     e. Sistem itu sendiri tidak menunjukkan penggunaan yang paling menguntungkan yang
          dapat di lakukan pada sebidang lahan.

    PT. .....                                                                                                        6 - 46
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


     f. Apabila faktor penghambat dapat di hilangkan atau perbaikan sedang dilakukan
          (seperti drainase, irigasi, penyingkiran batu-batuan), maka nilai lahan dinilai
          menurut faktor panghambat yang masih ada (yang tertinggal) setelah tindakan
          perbaikan tersebut di lakukan. Biaya perbaikan tidak berpengaruh terhadap
          penilaian.

     g. Penilaian kemampuan lahan dari suatu daerah dapat berubah dengan adanya
          proyek reklamasi yang mengubah secara permanen keadaan dan atau cakupan
          faktor penghambat (misalnya pembuatan drainase, irigasi dan sebagainya).

     h. Pengelompokan kemampuan lahan akan dapat berubah apabila informasi baru
          tentang tingkah laku dan respon tanah menjadi tersedia.

     i. Jarak ke pasar, macam dan kondisi jalan, lokasi di lapangan dan keadaan sifat
          pemilikan lahan tidak merupakan kriteria dalam mengelompokkan kemampuan
          lahan.

 Berdasarkan sejumlah asumsi yang telah di uraikan diatas, kemudian disusun Kelas
 Kemampuan Lahan berdasarkan Faktor-faktor Pembatasnya.

                 Tabel 6.4. Kelas Kemampuan Lahan Berdasarkan Faktor-Faktor Pembatasnya

 Faktor                                                    Kelas Kemampuan Lahan
 Pembatas        I            II            III                IV                 V                  VI            II            VIII
 1. Tekstur
 Tanah
 a. lapisan      agak         halus,
 atas            halus,       (meliputi
 (40cm)          (meliputi    liat dan
                 liat         liat
                 berpasir,    berdebu)
                 lempung      sampai
                 , liat       agak
                 berdebu,     kasar
                 lempung      (meliputi
                 berliat,     lempung
                 lempung      berpasir)
                                            *                  *                  *                  *             *             *
                 liat
                 berpasir)
                 dan
                 sedang
                 (meliputi
                 debu,
                 lempung
                 berdebu,
                 dan
                 lempung
                 )




    PT. .....                                                                                                           6 - 47
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Faktor                                                     Kelas Kemampuan Lahan
 Pembatas        I            II             III                IV                 V                  VI            II            VIII
 b. lapisan      agak         halus,
 bawah           halus,       (meliputi
                 (meliputi    liat dan
                 liat         liat
                 berpasir,    berdebu)
                 lempung      sampai
                 , liat       agak
                 berdebu,     kasar
                 lempung      (meliputi
                 berliat,     lempung
                 lempung      berpasir)
                                             *                  *                  *                  *             *             *
                 liat
                 berpasir)
                 dan
                 sedang
                 (meliputi
                 debu,
                 lempung
                 berdebu,
                 dan
                 lempung
                 )
 2.              datar        landai         agak atau          miring atau                           agak          curam         sangat
 Kelerengan                   sampai         bergelomb          berbukit           *                  curam                       curam
 (%)                          berombak       ang
 3.              baik -       agak           buruk              sangat
 Drainase        agak         buruk                             buruk              **                 *             *             *
                 baik
 4.              dalam        dalam          sedang             dangkal                               sangat
 Kedalaman                                                                         *                  dangka        *             *
 Efektif                                                                                              l
 5. Erosi        tidak ada    erosi          erosi              erosi                                 erosi         erosi
                 erosi        ringan         ringan             sedang             *                  berat         sangat        *
                                                                                                                    berat
 6. Keadaan      tidak ada    tidak ada      tidak ada          sedang,            banyak,                                        banyak,
 Batuan                                                         pengolahan         pengolahan                                     pengolaha
                                                                tanah              dengan                                         n tanah
                                                                mulai sulit        mesin                                          mungkin
                                                                dan                sudah              *             *             lagi di
                                                                pertumbuh          mulai agak                                     lakukan
                                                                an tanaman         sulit
                                                                agak
                                                                terganggu
 7.              dalam 1      banjir         selama             selama 2 -5
 Ancaman         tahun        yang           satu bulan         bulan
 Banjir          tidak        menutupi       atau lebih         dalam
                 pernah       tanah          tanah              setahun
                 banjir       lebih dari     selalu             tanah
                              24 jam         tertutup           secara
                              terjadinya     banjir             selalu
                                                                                   *                  *             *             *
                              tidak          untuk              tertutup
                              teratur        jangka             banjir
                              dalam          waktu              untuk
                              periode        lebih dari         jangka
                              kurang         24 jam             waktu lebih
                              dari 1                            dari 24 jam
                              tahun

    PT. .....                                                                                                            6 - 48
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT

             Catatan :
             *   = dapat mempunyai sebaran sifat faktor pembatas dari kelas yang lebih rendah
             ** = permukaan tanah selalu tergenang air




 Adapun rincian dari setiap kelas kemampuan lahan dan rekomendasi penggunaannya dapat
 dilihata pada tabel berikut ini.

                 Tabel 6.5. Rekomendasi Penggunaan Lahan Berdasarkan Kelas Kemampuan Lahan

 Kelas Kemampuan
                                                       Rekomendasi Penggunaan Lahan
         Lahan
 Kelas I                  Tanah pada lahan kelas I tidak memiliki penghambat berarti yang membatasi
                          pemanfaatannya sehingga sesuai untuk segala macam kegiatan usaha pertanian usaha
                          pertanian yang intensif. Kelas ini dicirikan oleh tanah datar, bahaya erosi sangat kecil,
                          solum dalam, umumnya berdrainase baik, mudah di olah, dapat menahan air dengan
                          baik dan responsif terhadap pemupukan.
 Kelas II                 Tanah pada lahan kelas II mempunyai sedikit penghambat yang dapat mengurangi pilihan
                          penggunaannya atau membutuhkan tindakan pengawetan yang sedang. Tanah di lahan
                          kelas II membutuhkan pengelolaan secara hati-hati meliputi tindakan pengawetan,
                          menghindari kerusakan dan memperbaiki hubungan air udara dalam tanah bila tanah di
                          tanami. Penghambat dalam kelas ini dapat merupakan satu atau kombinasi dari faktor-
                          faktor berikut : berlerang landai, mempunyai kepekaan sedang terhadap erosi, struktur
                          tanah yang sedikit kurang baik.
                          Didalam penggunaannya diperlukan tindakan-tindakan pengawetan yang ringan seperti
                          pengolahan tanah menurut kontur, penanaman dalam jalur (strip cropping), pergiliran
                          tanaman dengan tanaman penutup lahan atau pupuk hijau, guludan, pemupukan dan
                          pengapuran. Kombinasi tindakan-tindakan yang di perlukan bervariasi dari satu tempat
                          ke tempat lain, tergantung dari sifat-sifat tanah, iklim dan sistem usaha tani yang di
                          lakukan.
 Kelas III                Tanah pada lahan kelas III mempunyai lebih banyak penghambat dari tanah di lahan
                          kelas II, dan bila digunakan untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan pengawetan
                          khusus, yang umumnya lebih sulit baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaannya.
                          Penghambat pada lahan kelas III dapat merupakan satu atau lebih faktor-faktor berikut :
                          lereng agak miring, atau sangat peka terhadap bahaya erosi, berdrainase buruk,
                          permeabilitas tanah (sub soil) sangat lambat, solum dangkal yang membatasi daerah
                          perakaran, kapasitas menahan air rendah, kesuburan yang rendah dan tidak mudah di
                          perbaiki.
 Kelas IV                 Tanah pada lahan kelas IV mempunyai penghambat yang lebih besar dibandingkan
                          dengan kelas III sehingga pemilihan jenis penggunaan atau jenis tanaman juga lebih
                          terbatas. Tanah pada kelas IV dapat di gunakan untuk berbagai jenis penggunaan
                          pertanian dengan ancaman dan bahaya kerusakan yang lebih besar dari tanah di kelas III.
                          Tanah pada lahan kelas IV mempunyai salah satu atau lebih faktor penghambat berikut :
                          lereng curam, sangat peka terhadap bahaya erosi, solum dangkal, kapasitas menahan air
                          rendah, dan drainase buruk.
 Kelas V                  Tanah pada kelas V tidak sesuai untuk di tanami dengan tanaman semusim, tetapi lebih
                          sesuai untuk ditanami dengan vegetasi permanen seperti tanaman makanan ternak atau
                          di hutankan.
                          Tanah pada lahan kelas V terletak pada tempat yang hampir datar, basah atau tergenang
                          air atau terlalu banyak batu di atas permukaan tanah.
 Kelas VI                 Tanah pada lahan kelas VI tidak sesuai untuk di garap bagi usahatani tanaman semusim,
                          tetapi sesuai untuk vegetasi permanen yang dapat digunakan sebagai tanaman makanan
                          ternak/padang rumput atau di hutankan.
                          Tanah ini mempunyai lereng yang curam, sehingga mudah tererosi atau telah mengalami
                          erosi yang sangat berat, atau mempunyai solum tanah yang sangat dangkal.
 Kelas VII                Tanah pada lahan kelas VII tidak sesuai untuk di garap bagi usaha tani tanaman semusim,
                          dan sebaiknya digunakan untuk penanaman dengan vegetasi permanen seperti padang
                          rumput atau hutan yang di sertai dengan tindakan pengelolaan yang tepat dan lebih
                          intensif dibanding dengan yang diperlukan pada lahan kelas VI.
                          Tanah pada lahan kelas VI terletak pada lereng yang sangat curam atau mengalami erosi
                          berat, atau tanah sangat dangkal, atau berbatu
 Kelas VIII               Tanah pada kelas VIII tidak sesuai untuk tanaman semusim dan usaha produksi pertanian


    PT. .....                                                                                                           6 - 49
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Kelas Kemampuan
                                                    Rekomendasi Penggunaan Lahan
       Lahan
                        lainnya dan harus di biarkan pada keadaan alami di bawah vegetasi alami. Tanah pada
                        lahan kelas VIII dapat digunakan untuk cagar alam, hutan lindung atau rekreasi.
                        Tanah pada lahan kelas VIII merupakan tanah yang berlereng sangat curam atau
                        permukaan tanah sangat berbatu yang dapat berupa batuan lepas atau singkapan (rock
                        outcrops) atau tanah pasir (di pantai).



 6.2.5.6. Analisa Alokasi Ruang Lindung dan Budidaya
 Penetapan suatu lokasi sebagai kawasan lindung atau kawasan budidaya dilakukan dengan
 mengacu pada kriteria lokasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Kriteria dimaksud secara
 langsung maupun tidak langsung merefleksikan daya dukung serta tingkat kesesuaian (fisik)
 lokasi dengan kegiatan yang akan diletakkan diatasnya. Analisis ini dilakukan sebelum
 kemudian menentukan analisis kesesuaian lahannya.

 Karakteristik fisik lahan seperti kemiringan lereng, kepekaan tanah terhadap erosi,
 intensitas curah hujan dan ketinggian merupakan variabel utama dalam penetapan jenis
 kawasan, disamping variabel lainnya seperti ketersediaan sumberdaya (termasuk air) yang
 mendukung atau diperlukan oleh suatu kegiatan budidaya yang merupakan variabel utama
 dalam pengalokasian pemanfaatan ruang untuk kawasan budidaya.

 Metode analisis alokasi ruang lindung dan budidaya adalah analisis skoring lahan,
 menggunakan teknik overlay peta. Skor lokasi merupakan salah satu parameter utama
 dalam penentuan jenis kawasan. Skor ini merupakan hasil superimpose dan pembobotan
 dari 3 variabel lokasi, yaitu kemiringan lereng, jenis tanah dan intensitas curah hujan.
 Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980
 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung dan Surat Keputusan Menteri
 Pertanian No. 683/Kpts/Um/8/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan
 Produksi, maka :

         Nilai/skor 124 ke bawah di luar kawasan Suaka Alam, Hutan Wisata dan Hutan
          Konservasi lain ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi bebas.
         Nilai/skor 125-174 ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi dengan penebangan
          terbatas
         Nilai/skor sama dengan atau lebih dari 175 ditetapkan sebagai Hutan Lindung.
 Tahapan Analisis dalam Perhitungan skor Lokasi adalah sebagai berikut :
         Kumpulkan peta kemiringan lereng, intensitas curah hujan dan peta tanah.
         Tumpang tindihkan (super impose) ketiga peta tersebut untuk mendapatkan ”unit
          medan”, yaitu satuan lokasi yang memiliki nilai tertentu, masing-masing untuk
          ketiga variabel yang disebutkan sebelumnya.


    PT. .....                                                                                                        6 - 50
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


         Hitung nilai dari setiap variabel dengan menggunakan klasifikasi penilaian. Bobot
          yang diberikan untuk kemiringan lereng adalah 20, jenis tanah 15 dan intensitas
          hujan 10.
         Hitung skor lokasi setiap ”unit medan dengan menjumlahkan hasil perkalian antara
          nilai yang diperoleh pada langkah ke tiga dengan bobotnya masing-masing.

          Mengenai klasifikasi penilaian dapat dilihat berikut ini :

                            Tabel 6.6. Klasifikasi Kelas Lereng Lapangan (bobot : 20)

           Nilai       Kelas                                                      Kategori
                                Kemiringan Lereng (%)
           Lereng
           1                  0-8                                      Datar
           2                  8-15                                     Landai
           3                  15-25                                    Agak Curam
           4                  25-40                                    Curam
           5                  >40                                      Sangat Curam
                           Sumber: SK Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980



                       Tabel 6.7. Klasifikasi Kepekaan Tanah Terhadap Erosi (bobot : 15)

           Nilai       Kelas
                                Jenis Tanah                                       Kategori
           Tanah
                              Aluvial, Glei, Planosol, Hidromorf Tidak Peka
           1
                              Kelabu, Laterite Air Tanah
           2                  Latosol                                  Agak Peka
                              Brown Forest Soil, Non Calcic Brown,     Kurang Peka
           3
                              Mediteran
                              Andosol, Laterite, Grumusol, Podsol, Peka
           4
                              Podsolik
           5                  Pegosol, Litosol, Organosol, Renzina     Sangat Peka
                           Sumber: SK Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980



                                Tabel 6.8. Klasifikasi Intensitas Hujan (bobot : 10)

           Nilai       Kelas
                             Intensitas Hujan      (mm/hari hujan)    Keterangan
           Intensitas Hujan
           1                  13,5                                   Sangat Rendah
           2                 13,6 – 20,7                              Rendah
           3                 20,7 – 27,7                              Sedang
           4                 27,7 – 34,8                              Tinggi
           5                 > 34,8                                   Sangat Tinggi
                          Sumber: SK Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980




 6.2.5.7. Analisa Kesesuaian Lahan
 Evaluasi lahan merupakan bagian dari klasifikasi lahan dimana dasar pengelompokkannya
 adalah kesesuaian lahan. Tujuan evaluasi lahan adalah untuk menentukan potensi suatu
 lahan untuk tujuan tertentu. Evaluasi lahan pada hakekatnya merupakan proses untuk
 menduga hasil potensi lahan untuk beberapa penggunaan. Hasil evaluasi lahan
 memberikan alternatif penggunaan lahan dan batas-batas kemungkinan penggunaannya

    PT. .....                                                                                                          6 - 51
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 serta tindakan-tindakan pengelolaan yang diperlukan agar lahan-lahan dapat dipergunakan
 secara lestari sesuai dengan faktor pembatas yang ada. Kecocokan antara sifat lingkungan
 fisik dari suatu wilayah dengan persyaratan penggunaan atau komoditas yang dievaluasi
 memberikan gambaran atau informasi bahwa lahan tersebut potensial untuk dikembangkan
 bagi tujuan tersebut. Hasil evaluasi lahan disajikan dalam bentuk peta-peta dan
 rekomendasi yang dapat memberikan dasar bagi pengambilan keputusan terhadap
 penggunaan lahan (Munir 2003).

 Klasifikasi kesesuaian lahan adalah penilaian dan pengelompokkan atau proses penilaian
 dan pengelompokkan lahan dalam arti kesesuaian relatif lahan atau kesesuaian absolut
 bagi tanaman tertentu. Klasifikasi ini lebih terperinci dengan spesifikasi faktor pembatas
 dinilai secara kualitatif (Sutanto 2005). Kesesuaian lahan aktual menunjukkan kesesuaian
 terhadap penggunaan lahan yang ditentukan pada penggunaan sekarang tanpa adanya
 suatu perbaikan yang berarti. Kesesuaian lahan potensial menunjukkan kesesuaian
 terhadap penggunaan lahan yang ditentukan dari suatu lahan untuk keadaan yang akan
 datang      setelah     diadakan     perbaikan           utama        tertentu        yang      diperlukan.          Menurut
 Hardjowigeno (2003), kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian sebelum dilakukan
 perbaikan lahan, sedangkan kesesuaian lahan potensial adalah kesesuaian lahan setelah
 dilakukan perbaikan lahan.

 Klasifikasi kesesuaian lahan dibagi berdasarkan kategori sesuai dengan kerangka FAO untuk
 evaluasi lahan yakni ordo kesesuaian (macam kesesuaian), kelas kesesuaian di dalam ordo
 (asas kesesuaian) dan sub kelas kesesuaian (macam pembatas) (Sutanto 2005).

 Klasifikasi kesesuaian lahan menurut metode FAO dalam Hardjowigeno (2003) terdiri atas
 empat kategori, yaitu :

          a. Ordo             : Menunjukkan kesesuaian secara umum apakah suatu lahan sesuai
                                 atau tidak, dibedakan atas ordo ‘S’ sesuai dan ordo ‘N’ tidak
                                 sesuai.

          b. Kelas            : Menunujukan tingkat kesesuaian dari masing-masing ordo dan
                                 terdiri dari 5 (lima) kelas : S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai),
                                 S3 (sesuai marginal), N1 (tidak sesuai saat ini) dan N2 (tidak
                                 sesuai permanen).

          c. Sub Kelas        : Menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang harus
                                 dijalankan dalam masing-masing kelas.

          d. Unit             : Menunjukkan perbedaan-perbedaan besarnya faktor penghambat
                                 yang berpengaruh dalam pengelolaan suatu sub kelas.


    PT. .....                                                                                                           6 - 52
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Dalam analisis kesesuaian lahan di Kabupaten Puncak, dengan mempertimbangkan
 ketersediaan data dan kebutuhan analisis, maka analisis kesesuaian lahan budidaya
 dilakukan hingga level/tingkat kelas.

      A. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Ordo

          Sitorus (1998) mengemukakan bahwa kesesuaian lahan pada tingkat ordo
          menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu.
          Oleh karena itu ordo kesesuaian lahan dibagi dua, yaitu :

          Ordo S        : Sesuai

                          Lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang dapat digunakan
                          untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau dengan
                          sedikit resiko kerusakan terhadap sumberdaya lahannya. Keuntungan
                          yang diharapkan dari hasil pemanfaatan lahan ini akan melebihi
                          masukan yang diberikan.



          Ordo N       : Tidak sesuai

                          Lahan yang termasuk ordo ini mempunyai pembatas yang sedemikian
                          rupa sehingga mencegah suatu penggunaan secara lestari.

      B. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Kelas

          Kelas     kesesuaian        lahan    adalah       pembagian           lebih      lanjut       dari     ordo       dan
          menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian dari ordo. Kelas ini dalam simbolnya
          diberi nomor urut yang ditulis di belakang ordo. Jumlah kelas dalam tiap ordo
          sebetulnya tidak terbatas, akan tetapi dianjurkan untuk memakai tiga kelas dalam
          ordo sesuai dan dua kelas dalam ordo tidak sesuai. Penentuan jumlah kelas ini
          didasarkan pada keperluan minimum untuk mencapai tujuan interpretasi dan
          umumnya terdiri dari lima kelas. Apabila tiga kelas dipakai dalam ordo sesuai (S)
          dan dua kelas dalam ordo tidak sesuai (N), maka pembagian serta definisi kelas-
          kelas tersebut adalah sebagai berikut:

          Kelas S1 : Sangat sesuai

                          Lahan yang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu
                          penggunaan secara lestari atau hanya mempunyai pembatas yang tidak
                          berarti dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksinya
                          serta tidak akan menaikan masukan dari apa yang telah diberikan.



    PT. .....                                                                                                          6 - 53
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          Kelas S2 : Cukup sesuai

                          Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang agak berat untuk
                          suatu       penggunaan          yang       lestari.      Pembatas           akan       mengurangi
                          produktifitas dan keuntungan dan meningkatkan masukan yang
                          diperlukan.

          Kelas S3 : Sesuai marginal

                          Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk
                          suatu       penggunaan          yang       lestari.      Pembatas           akan       mengurangi
                          produktivitas atau keuntungan dan perlu menaikan masukan yang
                          diperlukan.

          Kelas N1 : Tidak sesuai pada saat ini

                          Lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, tetapi masih
                          memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan
                          tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya yang rasional.

          Kelas N2 : Tidak sesuai permanen

                          Lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak
                          mungkin untuk digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.

 Terkait dengan analisis kesesuaian lahan ini, terdapat beberapa kriteria kawasan lindung dan
 budidaya yang menjadi parameter penentuan fungsi kawasan, sebagaimana dapat diidentifikasi
 dari tabel di bawah ini.

            Tabel 6.9. Kriteria Pemantapan Kawasan Lindung Menurut Keppres No. 32 Tahun 1990


Jenis Kawasan                   Definisi                                   Kriteria

I. KAWASAN YANG MEMBERIKAN PERLINDUNGAN KAWASAN DIBAWAHNYA
Kawasan Hutan Lindung           Kawasan Hutan Lindung adalah               Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng
                                kawasan hutan yang memiliki                lapangan, jenis tanah, curah hujan yang
                                sifat khas yang mampu                      melebihi nilai skor 175 dan atau
                                memberikan perlindungan                    Kawasan hutan yang mempunyai lereng
                                kepada kawasan sekitar maupun              lapangan 40% atau lebih dan atau
                                bawahannya sebagai pengatur                Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian
                                tata air pencegah banjir dan               diatas permukaan laut 2000 m/lebih
                                erosi serta memelihara
                                kesuburan tanah
Kawasan Bergambut               Kawasan bergambut adalah                   Tanah bergambut dengan ketebalan 3 m atau
                                kawasan yang unsur pembentuk               lebih yang terdapat dibagian hulu sungai dan
                                tanahnya sebagaian besar berupa            rawa.
                                sisa-sisa bahan organik yang
                                tertimbun dalam waktu yang
                                lama.
Kawasan Resapan Air             Kawasan resapan air adalah                 Curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang
                                kawasan yang mempunyai                     mudah meresapkan air dan bentuk
                                kemampuan tinggi untuk                     geomorfologi yang mampu meresapkan air
                                meresapkan air hujan sehingga              hujan secara besar-besaran.

    PT. .....                                                                                                           6 - 54
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


Jenis Kawasan                   Definisi                                   Kriteria
                                merupakan tempat pengisian air
                                bumi (akifer) yang berguna
                                sebagai sumber air.
II. KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT
Sempadan Pantai                 Sempadan pantai adalah kawasan             Daratan sepanjang tepian yang lebarnya
                                tertentu sepanjang pantai yang             proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
                                mempunyai manfaat penting                  pantai min. 100 m dari titik pasang tertinggi
                                untuk mempertahankan                       ke arah darat.
                                kelestarian fungsi pantai.
Sempadan Sungai                 Sempadan sungai adalah kawasan             Sekurang-kurangnya 100 m di kiri-kanan
                                sepanjang kiri atau kanan sungai,          sungai besar 50 m di kiri-kanan anak sungai
                                termasuk sungai                            yang berada di luar permukiman
                                buatan/kanal/saluran irigasi               Untuk sungai di kawasan permukiman berupa
                                primer yang mempunyai manfaat              sempadan sungai yang diperkirakan.
                                penting untuk mempertahankan
                                kelestarian fungsi sungai
Kawasan Sekitar                 Kawasan sekitar danau/waduk                Daratan sekeliling tepian yang lebarnya
Danau/Waduk                     adalah kawasan tertentu di                 proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
                                sekeliling danau/waduk yang                danau/waduk antara 50-100 meter dari titik
                                mempunyai manfaat penting                  pasang tertinggi ke arah darat.
                                untuk mempertahankan
                                kelestarian fungsi danau/waduk
Kawasan Sekitar Mata Air        Kawasan sekitar mata air adalah            Sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 m di
                                kawasan di sekeliling mata air             sekitar mata air
                                yang mempunyai manfaat
                                penting untuk mempertahankan
                                kelestarian fungsi mata air
III. KAWASAN SUAKA ALAM DAN CAGAR BUDAYA
Kawasan Suaka Alam              Kawasan suaka alam adalah                  Kawasan suaka alam terdiri dari Cagar Alam,
                                kawasan yang memiliki ekosistem            Suaka Margasatawa, Hutan Wisata, Daerah
                                khas yang merupakan habitat                Perlindungan Satwa dan daerah pengungsian
                                alami yang memberi                         satwa.
                                perlindungan bagi perkembangan             1.                Kriteria cagar alam adalah :
                                flora fauna yang khas dan                     - Kawasan yang ditunjuk mempunyai
                                beranekaragam.                                  keanekaragaman jenis tumbuhan dan
                                                                                satwa dan tipe ekosistemnya
                                                                              - Mewakili formasi biota tertentu dan atau
                                                                                unit-unit penyusun
                                                                              - Mempunyai kondisi alam, baik biota
                                                                                maupun fisiknya yang masih asli dan
                                                                                tidak/atau belum diganggu manusia
                                                                              - Mempunyai luas dan bentuk tertentu
                                                                                agar menunjang pengelolaan yang efektif
                                                                                dengan daerah penyangga yang cukup
                                                                                luas
                                                                              - Mempunyai ciri khas dan dapat
                                                                                merupakan satu-satunya contoh di suatu
                                                                                daerah serta keberadaanya memerlukan
                                                                                upaya konservasi.

                                                                           2. Kriteria suaka margasatwa adalah :
                                                                              - Kawasan yang ditunjuk merupakan
                                                                                tempat hidup dan perkembangbiakan
                                                                                dari suatu jenis satwa yang perlu
                                                                                dilakukan upaya konsentarsinya.
                                                                              - Memiliki tempat dan kehidupan bagi
                                                                                jenis satwa migran tertentu.
                                                                              - Merupakan tempat dan kehidupan bagi
                                                                                jenis satwa migran tertentu.
                                                                              - Mempunyai luas yang cukup sebagai
                                                                                habitat jenis satwa yang bersangkutan



    PT. .....                                                                                                           6 - 55
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


Jenis Kawasan                   Definisi                                   Kriteria
                                                                           3. Kriteria hutan wisata adalah :
                                                                              - Kawasan yang ditunjuk memiliki maupun
                                                                                buatan manusia.
                                                                              - Memenuhi kebutuhan manusia akan
                                                                                rekreasi dan olah raga serta terletak
                                                                                dekat pusat-pusat permukiman
                                                                                penduduk.
                                                                              - Mengandung satwa buru yang dapat
                                                                                dikembangbiakan sehingga
                                                                                memungkinkan perburuan secara teratur
                                                                                dengan mengutamakan segi rekreasi,
                                                                                olahraga dan kelestarian satwa.
                                                                              - Mempunyai luas yang cukup dan
                                                                                lapangannya tidak membahayakan.

                                                                           4. Kriteria daerah perlindungan plasma
                                                                              nuftah adalah :
                                                                              - Areal yang ditunjuk memiliki jenis
                                                                                plasma nuftah telah ditetapkan.
                                                                              - Merupakan areal tempat pemindahan
                                                                                satwa yang merupakan tempat
                                                                                kehidupan baru bagi satwa tersebut.
                                                                              - Mempunyai luas yang cukup dan
                                                                                lapangannya tidak membahayakan.

                                                                           5. Kriteria daerah pengungsian satwa:
                                                                              - Areal yang ditunjuk merupakan wilayah
                                                                                 lehidupan satwa yang sejak semula
                                                                                 menghuni areal tersebut.
                                                                              - Mempunyai luas tertentu yang
                                                                                 memungkinkan berlangsung proses hidup
                                                                                 dan kehidupan serta berkembangbiaknya
                                                                                 satwa tersebut.
 Pantai Berhutan Bakau          Pantai berhutan bakau adalah               Minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air
                                kawasan pesisir laut yang                  pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur
                                merupakan habitat alami hutan              dari garis air surut terendah ke arah darat.
                                bakau (mangrove) yang berfungsi
                                memberi perlindungan kepada
                                peri kehidupan pantai dan
                                lautan.
Kawasan Suaka Alam Laut         Suaka alam laut dan perairan               Kawasan berupa perairan laut, perairan darat,
dan Perairanm Lainnya.          lainnya adalah daerah berupa               wilayah pesisir, muara sungai, gugusan
                                perairan laut, perairan darat,             karangf dan atoll yang mempunyai cirri khas
                                wilayah pesisir muara sungai,              keragaman dan atau keunikan ekosistem.
                                gugusan karang dan atoll yang
                                mempunyai cirri khas berupa
                                keragaman dan atau keunikan
                                ekosistem
Taman Nasional, Taman           Taman Nasional adalah kawasan              Kawasan berhutan atau bervegetasi tetap
Hutan Raya dan Taman            pelestarian alam yang dikelola             yang memiliki flora dan fauna yang beraneka
Wisata Alam                     dengan sistem zonasi yang                  ragam, memiliki arsitektur bentang alam yang
                                dimanfaatkan untuk tujuan                  baik dan memiliki akses yang baik untuk
                                pengembangan ilmu                          keperluan pariwisata
                                pengetahuan, pariwisata,
                                rekreasi dan pendidikan.
                                Taman Nasional Raya adalah
                                kawasan pelestarian alam yang
                                terutama dimanfaatkan untuk
                                tujuan koleksi tumbuhan dan
                                atau satwa alami atau buatan,
                                jenis asli dan/atau bukan asli,
                                pengembangan ilmu
                                pengetahuan, pendidikan dan
                                kebudayaan, pariwisata dan


    PT. .....                                                                                                           6 - 56
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


Jenis Kawasan                   Definisi                                   Kriteria
                         rekreasi.
                         Taman Wisata Alam adalah
                         kawasan pelestarian alam di
                         darat maupun di laut yang
                         terutama dimanfaatkan untuk
                         pariwisata dan rekreasi alam
Kawasan Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu                     Tempat serta ruang di sekitar bangunan
Ilmu Pengetahuan         Pengetahuan adalah kawasan                        bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan
                         dimana lokasi bangunan hasil                      kawasan dengan bentukan geologi tertentu
                         budaya manusia yang bernilai                      yang mempunyai manfaat tinggi untuk
                         tinggi maupun bentukan geologi                    pengembangan ilmu pengetahuan.
                         alami yang khas berbeda.
IV. KAWASAN RAWAN BENCANA
                         Kawasan Rawan Bencana adalah                      Daerah yang diidentifikasikan sering dan
                         kawasan yang sering atau                          berpotensi tinggi mengalami bencana alam
                         berpotensi tinggi mengalami                       seperti letusan gunung berapi, gempa bumi
                         bencana alam.                                     dan tanah longsor.



                                      Tabel 6.10. Kriteria Kawasan Budidaya


  Jenis Kawasan                       Definisi                                     Kriteria
  I. KAWASAN HUTAN INDUSTRI
  Kawasan Hutan Produksi              Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan hutan dengan faktor-faktor
  Terbatas                            hutan produksi terbatas dimana               lereng lapangan, jenis tanah, curah
                                      eksploitasinya hanya dapat dengan            hujan yang mempunyai nilai skor 125-
                                      tebang pilih dan tanam.                      174, di luar hutan suaka alam, hutan
                                                                                   wisata dan hutan konversi lainnya (SK
                                                                                   Mentan No. 683/Kpts/Um/8/1980).
  Kawasan Hutan Produksi Tetap        Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan hutan dengan faktor-faktor
                                      hutan produksi tetap dimana                  lereng lapangan, jenis tanah, curah
                                      eksploitasinya dapat dengan                  hujan yang mempunyai nilai skor 124
                                      tebang pilih atau tebang habis dan           atau kurang di luar hutan suaka alam,
                                      tanam                                        hutan wisata dan hutan konversi
                                                                                   lainnya (SK Mentan No.
                                                                                   683/Kpts/Um/8/1980).
  Kawasan Hutan Produksi              Kawasan hutan yang bilamana                  Kawasan hutan dengan faktor-faktor
  Konversi                            diperlukan dapat dialihgunakan               lereng lapangan, jenis tanah, curah
                                                                                   hujan yang mempunyai nilai skor 124
                                                                                   atau kurang dii luar hutan suaka
                                                                                   alam, hutan wisata & hutan konversi
                                                                                   lainnya (SK Mentan No.
                                                                                   683/Kpts/Um/8/1980).
  II.KAWASAN PERTANIAN
  Kawasan Tanaman Pangan              Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan yang sesuai untuk tanaman
  Lahan Basah                         tanaman pangan lahan basah                   pangan lahan basah adalah yang
                                      dimana pengairannya dapat                    mempunyai sistem dan atau potensi
                                      diperoleh secara alamiah maupun              pengembangan pengairan yang
                                      teknis.                                      memiliki :
                                                                                   - Ketinggian < 1.000 m
                                                                                   - Kelerengan <40 %
                                                                                   - Kedalaman Efektif Lapisan Tanah
                                                                                      Atas >30 cm
  Kawasan Tanaman Pangan              Kawasan yangdiperuntukan bagi                Kawasan yang tidak mempunyai
  Lahan Kering                        tanaman pangan lahan kering                  sistem atau potensi pengembangan
                                      untuk tanaman palawija,                      pengairan & memiliki :
                                      hortikultura atau tanaman pangan             - Ketinggian < 2.000 m
                                                                                   - Kelerengan < 40 %
                                                                                   - Kedalaman Efektif Lapisan Tanah
                                                                                      Atas > 30 cm
  Kawasan Tanaman                     Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan yang sesuai untuk tanaman
  Tahunan/Perkebunan                  tanaman pangan lahan kering                  tahunan / perkebunan dengan


    PT. .....                                                                                                           6 - 57
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


  Jenis Kawasan                       Definisi                                     Kriteria
                                      untuk tanaman palawija,                      mempertimbangankan faktor-faktor :
                                      hortikultura atau tanaman pangan.            - Ketinggian < 2.000 m
                                                                                   - Kelerengan < 15 %
                                                                                   - Kedalaman Efektif Lapisan Tanah
                                                                                     Atas > 30 cm
  Kawasan Peternakan                  Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan yang sesuai untuk
                                      peternakan hewan besar dan                   peternakan / penggembalaan hewan
                                      padang penggembalaan ternak                  besar ditentukan dengan
                                                                                   mempertimbangkan faktor-faktor :
                                                                                   - Ketinggian < 1.000 m
                                                                                   - Kelerengan < 15 %
                                                                                   - Jenis tanah dan iklim yang sesuai
                                                                                     untuk padang rumput alamiah.

  Kawasan Perikanan                   Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan yangsesuai untuk perikanan
                                      perikanan, baik berupa                       ditentukan dengan
                                      pertambakan / kolam dan perairan             mempertimbangkan faktor :
                                      darat lainnya.                               - Kelerengan < 8 %
                                                                                   - Persediaan air cukup
  III. KAWASAN PERTAMBANGAN
                                      Kawasan yang diperuntukan bagi               Kriteria lokasi sesuai dengan yang
                                      pertambangan, baik wilayah yang              ditetapkan Departemen
                                      sedang maupun yang akan segera               Pertambangan untuk daerah masing-
                                      dilakukan kegiatan pertambangan.             masing, yang mempunyai potensi
                                                                                   bahan tambang bernilai tinggi.
  IV. KAWASAN PERINDUSTRIAN
                                      Kawasan yang diperuntukan bagi               - Kawasan yang memenuhi
                                      perindustrian, berupa tempat                   persyaratan lokasi industri
                                      pemusatan kegiatan industri.                 - Tersedia sumber air baku yang
                                                                                     cukup
                                                                                   - Adanya sistem pembuangan limbah
                                                                                   - Tidak menimbulkan dampak sosial
                                                                                     negatif yang berat
                                                                                   - Tidak terletak di kawasan tanaman
                                                                                     pangan lahan basah yang beririgasi
                                                                                     dan yang berpotensi untuk
                                                                                     pengembangan irigasi.
  V. KAWASAN PARIWISATA
                                      Kawasan yang diperuntukan bagi               Kawasan yang mempunyai :
                                      kegiatan pariwisata                          - Keindahan alam dan keindahan
                                                                                     panorama
                                                                                   - Masyarakat dengan kebudayaan
                                                                                     bernilai tinggi dan diminati oleh
                                                                                     wisatawan
                                                                                   - Bangunan peninggalan budaya
                                                                                     dannatau mempunyai nilai sejarah
                                                                                     yang tinggi
  VI. KAWASAN PERMUKIMAN
                                      Kawasan yang diperuntukan bagi               - Kesesuaian dengan masukan
                                      permukiman                                     teknologi yang ada
                                                                                   - Ketersediaan air terjamin
                                                                                   - Lokasi yang terkait dengan
                                                                                     kawasan hunian yang telah
                                                                                     ada/berkembang
                                                                                   - Tidak terletak di kawasan tanaman
                                                                                     pangan lahan basah.




    PT. .....                                                                                                           6 - 58
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 6.2.5.8. Analisa Transportasi
 Metoda yang dipakai dalam melakukan analisis transportasi adalah:

     a. Metoda Aksesibilitas
          Faktor kemudahan pencapaian baik dalam hubungan keterkaitan antar bagian
          wilayah dalam wilayah perencanaan, ataupun antar komponen dalam bagian
          wilayah, sangat menentukan intensitas interaksi antar bagian wilayah maupun
          antar komponen pembentuk wilayah, serta struktur tata ruang yang direncanakan.
          Metoda ini merupakan upaya untuk mengukur tingkat kemudahan pencapaian antar
          kegiatan, atau untuk mengetahui seberapa mudah suatu tempat dapat dicapai dari
          lokasi lainnya. Pada dasarnya model ini merupakan fungsi dari kualitas prasarana
          penghubung unit kegiatan yang satu dengan lainnya per satuan jarak yang harus
          ditempuh. Model persamaannya adalah sebagai berikut:


                             FKT
                A
                                 d
          dimana:
          A              =       Nilai aksesibilitas
          F              =       Fungsi jalan (arteri, kolektor, lokal)
          T              =       Kondisi jalan (baik, sedang, buruk)
          D              =       Jarak antara kedua unit kegiatan



          Metoda lainnya, yaitu Indeks Aksesibilitas, yang memiliki persamaan:


                                     E    j
                A                                b
                    ij
                                  d     ij   

          dimana:
          Aij            =       Indeks aksesibilitas
          Ej             =       Ukuran aktifitas
          dij            =       Jarak tempuh (jarak geografi atau waktu tempuh)
          b              =       Parameter




    PT. .....                                                                                                                      6 - 59
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          Langkah selanjutnya adalah menghitung potensi pengembangan, yaitu dengan cara
          mengkalikan indeks aksesibilitas dengan luas kawasan yang mungkin untuk
          dikembangkan, yaitu:


                        Di = Ai * Hi
          dimana:
          Di            =       potensi pengembanga di kawasan i
          Ai            =       indeks aksesibilitas dari kawasan i
          Hi            =       luas kawasan yang mungkin dikembangkan di kawasan i



          Potensi masing-masing kawasan dihitung dan dijumlahkan untuk memperoleh
          potensi seluruh kawasan.                          Dari potensi keseluruhan ini, maka potensi relatif
          masing-masing kawasan terhadap keseluruhan kawasan (wilayah) dapat diketahui,
          atau secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:


                                    D    i
                D   r       
                                    iD   i

          dimana:
          Dr            =       potensi pengembangan (relatif)
          Di            =       potensi pengembangan di kawasan i
          iDi           =       jumlah seluruh potensi pengembangan



          Selanjutnya untuk menentukan jumlah penduduk yang akan dialokasikan pada
          masing-masing kawasan yang potensial adalah dengan cara mengkalikan hasil
          proyeksi total penduduk untuk masa mendatang dengan Di, yang secara matematis
          dapat dirumuskan:


                                             D    i
                P i  P total x
                                             iD   i

          dimana:
          Pi                    =       jumlah penduduk yang dapat dialokasikan di kawasan I
          Ptotal        =       jumlah penduduk seluruhnya
          Di/iDi        =       potensi relatif kawasan i



          Metoda lain yang cukup mudah                                    penggunaannya yang hingga kini masih
          dipergunakan adalah Metoda Perkiraan Kebutuhan.                                            Pada model ini,digunakan
          standar-standar yang dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan sarana dan

    PT. .....                                                                                                                      6 - 60
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          prasarana yang memiliki implikasi terhadap kebutuhan ruang. Beberapa standar
          yang        digunakan    antara     lain   mengacu          pada       pedoman          standar       lingkungan
          permukiman         kota,    pedoman        standar       pembangunan              perumahan           sederhana,
          peraturan geometris jalan raya dan jembatan dan lain-lain.
     b. Model Analisis Kapasitas (Capacity/C)
          Kapasitas jalan adalah arus lalu-lintas maksimum yang dapat dipertahankan (tetap)
          pada suatu bagian jalan dalam kondisi tertentu (misalnya: rencana geometrik,
          lingkungan, komposisi lalu lintas dan sebagainya). Satuan yang digunakan biasanya
          dinyatakan dalam kend/jam atau smp/jam. Kapasitas harian sebaiknya tidak
          digunakan sebagai ukuran, karena akan bervariasi sesuai dengan faktor k.
          Rumus perhitungannya, sebagai berikut:


                      C =    CO x FCW x FCSP x FCSF (smp/jam)
               Dimana,
               C        = kapasitas (smp/jam)
               CO       = kapasitas dasar (smp/jam)
               FGCW = faktor penyesuaian akibat lebar jalur lalu lintas
               FCSP     = faktor penyesuaian akibat pemisahan arah
               FCSF     = faktor penyesuaian akibat hambatan samping



     c. Model Analisis Derajat Kejenuhan (Degree of Saturation/DS)

          Derajat kejenuhan adalah perbandingan dari arus lalu lintas terhadap kapasitas
          jalan.
                      DS = Q / C
               Dimana,
               Q = arus lalu lintas
               C = kapasitas


          Derajat kejenuhan (DS) didefinisikan sebagai rasio arus terhadap kapasitas,
          digunakan faktor utama dalam penentuan tingkat kinerja segmen jalan. Nilai DS
          menunjukan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah kapasitas atau
          tidak. Karena kapasitas didefinisikan sebagai arus maksimum melalui suatu titik di
          jalan yang dipertahankan per satuan jam pada kondisi tertentu.
          Berdasarkan standar IHCM apabila:
          1)        DS < 0,8 kondisi stabil
          2)        DS 0,8 – 1,0 kondisi tidak stabil

    PT. .....                                                                                                         6 - 61
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


          3)     DS > 1,0 kondisi kritis


          Apabila dari hasil perhitungan, ITP (Indeks Tingkat Pelayanan) ada beberapa
          kriteria/kelas tingkat pelayanan jalan yang dibagi menjadi ITP A hingga F dengan
          uraian sebagai berikut:
          1) ITP A        : Kondisi arus lalu lintasnya bebas satu kendaraan dengan kendaraan
                            lainnya, besarnya kecepatan sepenuhnya ditentukan oleh keinginan
                            pengemudi       dan      sesuai      dengan        batas       kecepatan          yang      telah
                            ditentukan.
          2) ITP B        : Kondisi arus lalu lintas stabil, kecepatan operasi mulai dibatasi oleh
                            kendaraan lainnya dan mulai dirasakan hambatan oleh kendaraan di
                            sekitarnya
          3) ITP C        : Kondisi arus lalu lintas masih dalam stabil, kecepatan operasi mulai
                            dibatasi dan hambatan kendaraan lain semakin besar.
          4) ITP D        : kondisi arus lalu lintas mendekati tidak stabil, kecepatan operasi
                            menuurn relatif cepat akibat hambatan yang timbul dan kebebasan
                            bergerak relatif kecil
          5) ITP E        : pada tingkat pelayanan ini arus lalu lintas berada dalam kendaraan
                            dipaksakan, kecepatan relatif rendah, arus lalu lintas sering terhenti
                            sehingga menimbulkan antrian kendaraan yang panjang.
          6) ITP F        : arus lalu lintas berada dalam keadaan dipaksakan, kecepatan relatif
                            rendah, arus lalu lintas sering terhenti sehingga menimbulkan antrian
                            kendaraan yang panjang.

 6.2.5.9. Analisa Penanganan Kawasan Perbatasan
 Analisis penanganan kawasan dilakukan berdasarkan hasil identifikasi permasalahan yang
 dihadapi serta potensi yang dimiliki. Penanganan kawasan ditentukan ke dalam dua
 strategi utama, yaitu a) strategi penanganan terhadap masalah yang dihadapi kawasan,
 serta b) strategi strategi penanganan berkaitan dengan pengembangan potensi kawasan.

 A. Strategi Penanganan Permasalahan yang dihadapi Kawasan
      1. Penanganan Keterpencilan Kawasan

            Penanganan keterpencilan suatu kawasan pada dasarnya adalah upaya untuk
            menyediakan aksesibilitas dan keterkaitan suatu kawasan dengan kawasan lain.
            Untuk mengatasi permasalahan Keterpencilan Kawasan diindikasikan beberapa
            bentuk program penanganan antara lain:

                a. Program Penyediaan Sarana Aksesibilitas Antar Daerah

    PT. .....                                                                                                         6 - 62
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                        i.   Penyediaan Jalan Antar wilayah
                       ii.   Penyediaan Jembatan
                      iii.   Penyediaan Dermaga
                b. Program Pengembangan Pusat-Pusat Pertumbuhan Baru
                        i.   Pemberdayaan Pusat-Pusat Aktivitas
                       ii.   Penyebaran Pusat-Pusat Ekonomi Baru
                      iii.   Penyebaran Pusat-Pusat Pelayanan Administratif
                c. Program Penanggulangan Bencana Cepat Tanggap
                        i.   Penyediaan Early Warning System
                       ii.   Alokasi Dana Darurat penanggulangan bencana
                      iii.   Mendorong partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana
                d. Program Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT)
                        i.   Pemberdayaan KAT sebagai potensi pariwisata daerah
                       ii.   Konservasi Lingkungan, Sosial dan Budaya masyarakat KAT
                      iii.   Penyediaan kebutuhan dasar (basic needs) masyarakat KAT
      2. Penanganan Ketertinggalan Kawasan

            Pembangunan ketertinggalan suatu kawasan merupakan program pembangunan
            dalam      rangka         pemerataan       pembangunan,             pengentasan            kemiskinan           dan
            penanggulangan keterbelakangan masyarakat dalam suatu kawasan. Untuk
            mengatasi ketertinggalan kawasan diindikasikan beberapa bentuk program
            penanganan antara lain:

                a. Program Penyediaan Prasarana Dasar Wilayah
                          a. Penyediaan lalan lingkungan
                          b. Penyediaan jaringan drainase
                          c. Penyediaan jaringan air bersih
                          d. Penyediaan sistem sanitasi
                          e. Penyediaan pengelolaan persampahan
                          f. Penyediaan pengemanan kebakaran

                b. Program Penyediaan Sarana Wilayah
                          a. Penyediaan Sarana Ekonomi
                          b. Penyediaan Sarana Industri
                          c. Penyediaan Sarana Kesehatan
                          d. Penyediaan Sarana Pendidikan
                          e. Penyediaan Sarana Transportasi

                c. Program Peningkatan Perekonomian Masyarakat


    PT. .....                                                                                                          6 - 63
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                          a. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat
                          b. Memprioritaskan pembangunan infrastruktur, dengan pendekatan
                              padat karya
                          c. Memprioritaskan pembangunan sarana dan prasarana penunjang
                              ekonomi dengan alternatif USO (universal Service Obligation) untuk
                              telekomunukasi, keperintisan untuk tansportasi, dan listrik masuk
                              desa, dengan pendekatan proyek padat karya
                          d. Meningkatkan modal sosial yang ada dalam masyarakat;
                          e. Mendorong Investasi swasta dan asing pada potensi karakteristik
                              daerah
                          f. Meningkatkan akses masyarakat dan usaha mikro, kecil, dan
                              menengah kepada permodalan, pasar, informasi, dan teknologi;
                          g. Penguatan dan penataan kelembagaan pemerintah daerah dan
                              masyarakat.

                d. Program Peningkatan Pendidikan Masyarakat
                          a. Penyediaan          dan    peningkatan           kualitas       sarana       dan      prasarana
                              pendidikan yaitu:
                                      i. Pendirian SD kecil dan fasilitas sarana dan filial di daerah-
                                         daerah terpencil yang secara geografis sulit dijangkau
                                  ii. Perbaikan bangunan sekolah;
                                  iii. Pengadaan buku pelajaran dan alat peraga.
                          b. Peningkatan kualitas dan kualifikasi guru
                          c. Penuntasan Wajib Belajar 9 tahun baik melalui pendidikan formal
                              dan pendidikan luar sekolah
                          d. Mempercepat pemberantasan buta aksara dengan menyelenggarakan
                              pendidikan keaksaraan fungsional;

                e. Program Peningkatan Produktivitas Masyarakat
                          a. Perluasan dan pengembangan kesempatan kerja dengan prioritas:
                                      i. Mengadakan        pelatihan        keterampilan           dan      kewirausahaan
                                         tenaga kerja;
                                  ii. Peningkatan penyusunan dan penyebarluasan informasi pasar
                                         kerja
                                  iii. Memfasilitasi pengiriman tenaga kerja antar daerah maupun
                                         antar negara
                          b. Peningkatan         kualitas      dan      produktivitas          tenaga       kerja      dengan
                              prioritas:

    PT. .....                                                                                                           6 - 64
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                           Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                                      i. Pengembangan pendidikan dan pelatihan ketenagakerjaan;
                                  ii. Perlindungan dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja
                          c. Perlindungan tenaga kerja dengan prioritas berupa:
                                      i. Peningkatan hubungan pengusaha dengan tenaga kerja;
                                  ii. Perlindungan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja

 B.    Strategi Penanganan berkaitan dengan Pengembangan Potensi Kawasan
          1. Program Pengembangan Potensi Pariwisata
                   a. Mendorong Investasi Swasta dan Asing
                   b. Aktif dan Kreatif dalam Perencanaan Pariwisata
                   c. Penyediaan Sarana Akomodasi
                   d. Memaksimalkan Promosi

          2. Program Pengembangan Potensi Pertanian dan Perkebunan
                   a. Penyediaan Infrastruktur Irigasi
                   b. Pengendalian Distribusi dan Harga Pupuk
                   c. Pengendalian Distribusi dan Harga Pestisida & Insektisida
                   d. Penyediaan Akses Pemasaran dan Distribusi Hasil Pertanian
                   e. Pemberdayaan lembaga dan organisasi petani
                   f. Revitalisasi lembaga koperasi pertanian
                   g. Pengembangan pusat layanan informasi pertanian

          3. Program Pengembangan Potensi Kehutanan
                   a. Penyediaan Sarana Akses untuk distribusi logging
                   b. Penyediaan Sarana Industri Pengolahan
                   c. Pengendalian Bencana Kebakaran Hutan
                   d. Pengendalian Pencurian Kayu (Illegal Logging)
                   e. Pemberdayaan lembaga dan organisasi kehutanan
                   f. Pengendalian dampak lingkungan

          4. Program Pengembangan Potensi Peternakan
                   a. Pengendalian Distribusi dan Harga Pakan Ternak
                   b. Penyediaan Akses Pemasaran dan Distribusi Hasil Peternakan
                   c. Pemberdayaan lembaga dan organisasi Peternak
                   d. Revitalisasi lembaga koperasi
                   e. Pengembangan pusat layanan informasi peternakan

          5. Program Pengembangan Potensi Perikanan Air Tawar
                   a. Pengendalian Distribusi dan Harga Pakan Ikan
                   b. Penyediaan Akses Pemasaran dan Distribusi Hasil Perikanan

      PT. .....                                                                                                         6 - 65
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                   c. Pemberdayaan lembaga dan organisasi Nelayan dan Petani Tambak
                   d. Revitalisasi lembaga koperasi
                   e. Pengembangan pusat layanan informasi Perikanan

          6. Program Pengembangan Potensi Pertambangan dan Energi
                   a. Mendorong Investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi
                   b. Penyediaan sarana akses distribusi hasil pertimbangan & energi
                   c. Pengendalian aktivitas eksploitasi
                   d. Pengendalian dampak lingkungan

          7. Program Pengembangan Potensi Industri
                   a. Mendorong Investasi untuk pertumbuhan industri
                   b. Koordinasi berbagai sumber bantuan modal
                   c. Penyediaan prasarana dasar wilayah
                   d. Membuka peluang koperasi UKM
                   e. Penyediaan sarana akses pemasaran hasil industri
                   f. Pengembangan pusat layanan informasi industri
                   g. Pemberdayaan lembaga dan organisasi UKM

          8. Program Pengembangan Potensi Perdagangan
                   a. Pemerataan ketersediaan sarana perdagangan
                   b. Membuka infrastruktur akses perdagangan
                   c. Mendorong investasi swasta dalam perdagangan
                   d. Membuka peluang akses permodalan seluas mungkin
                   e. Pemberdayaan lembaga atau organisasi perdagangan

          9. Program Pengembangan Potensi Usaha Jasa
                   a. Pemerataan ketersediaan sarana perkantoran
                   b. Mendorong investasi swasta dalam usaha jasa
                   c. Memotivasi tenaga profesional untuk berpartisipasi
                   d. Membuka peluang akses permodalan seluas mungkin
                   e. Pemberdayaan lembaga atau organisasi profesional

 6.2.5.10. Analisa Prioritas Penanganan
 Mengingat besarnya permasalahan yang harus dihadapi untuk menangani kawasan
 permukiman di perbatasan, maka perlu dilakukan strategi pelaksanaan berupa identifikasi
 prioritas penanganan. Strategi Prioritas Penanganan dirumuskan dengan urutan lokasi yang
 paling urgen, berurut sampai dengan lokasi yang paling tidak urgen.




    PT. .....                                                                                                      6 - 66
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Dalam merumuskan Strategi Prioritas Penanganan, dilakukan dengan mengacu pada
 Tipologi     permasalahan        kawasan    yang       telah      ditentukan.          Dengan        mengacu          pada
 kemungkinan tipologi tersebut, upaya mengurutkan Prioritas Penanganan lebih terstruktur
 dan terprogram.

 6.2.5.11. Analisa Kelembagaan
 Analisa kelembagaan merupakan analisa yang mengkaji aspek kelembagaan yaitu
 identifikasi instansi-instansi kepemerintahan yang terkait dengan pembangunan nasional
 bidang perumahan dan permukiman. Analisa kelembagaan dilakukan baik secara vertikal,
 yaitu mengkaji kewenanganan, peran dan tanggung jawab dari Pemerintah Pusat,
 Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota; serta secara horisontal, yaitu
 mengkaji kewenanganan, peran dan tanggung jawab instansi pemerintah secara lintas
 instansional.

 Perencanaan Pembangunan merupakan suatu proses yang terus menerus dan terintegrasi,
 tujuan akhirnya adalah sama dengan tujuan pembangunan daerah itu sendiri, yaitu untuk
 mencapai kesejahteraan masyarakat di mana secara sederhana tujuan Perencanaan
 Pembangunan adalah:

      a. Menyusun atau memproduksi rumusan kebijakan pembangunan sebagai alat
          koordinasi bagi semua pihak/pelaku (stakeholders);
      b. Membuat pedoman atau arahan dan strategi bagi pelaksanaan pembangunan untuk
          mencapai harapan-harapan dan tujuan-tujuan pembangunan;
      c. Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan melalui monitoring dan
          evaluasi;
      d. Memberikan umpan balik dan rekomandasi bagi perencanaan selanjutnya.

 Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi
 Perangkat Daerah. Organisasi perangkat daerah ini dapat dibentuk berdasarkan
 pertimbangan sebagai berikut:

      a. Kewenangan Pemerintah yang dimiliki oleh Daerah;
      b. Karakteristik, potensi, dan kebutuhan Daerah;
      c. Kemampuan keuangan Daerah;
      d. Ketersediaan sumber daya aparatur;
      e. Pengembangan pola kerjasama antar Daerah dan/atau dengan pihak ketiga.

 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
 menjelaskan dan mengatur susunan, kedudukan, dan tugas pokok organisasi perangkat



    PT. .....                                                                                                       6 - 67
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 daerah, susunan, kedudukan, dan tugas pokok organisasi perangkat daerah sebagai
 kelembagaan perangkat Pemerintahan Daerah yang dikelompokkan menjadi tiga.

 6.2.6. Metodologi Focused Group Discussion (FGD) dan Workshop

 Diskusi Kelompok Terarah atau Focus Group Disscussion (FGD) menjadi pilihan yang efektif
 dalam pendekatan pemangku kepentingan pekerjaan ini karena memiliki kemampuan
 untuk menggali topik/tema secara mendalam mengenai alasan, motivasi atau argumentasi
 dari seseorang.

 FGD secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu diskusi yang dilakukan secara
 sistematis dan terarah atas suatu isu atau masalah tertentu. Meski sebuah diskusi, FGD
 tidaklah sama dengan pembicaraan beberapa orang di kedai kopi. FGD bukan kumpul-
 kumpul beberapa orang untuk membicarakan suatu hal. Meski terlihat sederhana,
 menyelenggarakan suatu FGD butuh kemampuan dan keahlian. Ada prosedur dan standar
 tertentu yang harus diikuti agar hasilnya benar dan sesuai dengan tujuan yang ingin
 dicapai (sumber: http://www.lsi.co.id/artikel.php?id=197 (1 Mei 2008).

 Metode ini sangat diperlukan guna menampung dan memperoleh aspirasi serta pendapat
 pemangku kepentingan yang terkait. FGD adalah salah satu metode penjaringan aspirasi
 stakeholder yang cukup efektif dan relatif mudah dan tidak memerlukan biaya yang terlalu
 tinggi untuk dilaksanakan. Berikut rambu-rambu dalam melaksanakan FGD:

     a. Pokok-pokok bahasan, perlu dirancang dengan seksama agar pertemuan dapat
          memperoleh hasil sesuai dengan apa yang diharapkan;

     b. Pemilihan peserta, utamanya individu-individu yang mewakili konsumen dan
          masyarakat umum;

      c. Harus dijaga agar terjadi komunikasi dua arah;

     d. Moderator, harus menguasai materi dan mempunyai kepribadian yang kuat, netral
          dan adil, sehingga semua peserta mempunyai kesempatan untuk bertanya dan
          menggunakan pendapatnya, sehingga mampu mengarahkan jalannya diskusi;

     e. Moderator hendaknya tidak memasukkan opini-opini pribadinya dalam merumuskan
          simpulan hasil diskusi. Kelemahan metode ini ialah, tidak semua peserta
          memahami materi yang dibahas dan mampu mengartikulasikan pendapatnya
          dengan baik, serta sikap sementara peserta yang terlalu dominan dan ingin
          menguasai pembicaraan, baik yang disebabkan oleh karakter, ketokohan atau
          jabatan formalnya di pemerintahan atau lembaga-lembaga lainnya;



    PT. .....                                                                                                      6 - 68
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      f. Metode FGD memerlukan TOR tertulis sebagai panduan pelaksanaan, yang
          mencakup latar belakang dan tujuan, waktu dan tempat, para peserta, agenda
          pertemuan dan anggaran biaya pelaksanaan.

     g. Pelaksanaan FGD dianjurkan melibatkan jumlah peserta yang tidak lebih dari 20
          orang atau idealnya 8-12 orang.

 Langkah-langkah pelaksanaan FGD adalah sebagai berikut:

        1)     Fasilitator menyiapkan diri dengan pengetahuan tentang kondisi wilayah,
               minimal dari data sekunder atau hasil pengkajian substansial, serta menentukan
               target FGD yang hendak dicapai berkaitan dengan pemberian bantuan rumah
               tapak menurut peserta.
        2)     Fasilitator menciptakan suasana yang nyaman bagi semua peserta untuk
               berdiskusi, bertegur sapa dan berkomunikasi dengan semua peserta.
        3)     Fasilitator / moderator meminta kesepakatan dari peserta tentang topik yang
               akan dibahas.
        4)     Mederator meminta peserta untuk menceritakan tentang konsep pemberian
               bantuan rumah tapak dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua
               peserta. Sebagai moderator, fasilitator mengatur jalannya diskusi agar peserta
               tidak saling berebut bicara.
        5)     Selanjutnya, moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban dari peserta.
        6)     Moderator memberikan pertanyaan kunci berikutnya dengan berdasarkan pada
               jawaban peserta, bagaimana pemberian bantuan rumah tapak menurut
               pendapat peserta.
        7)     Moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban peserta.
        8)     Pertanyaan kunci selanjutnya, bagaimana kriteria pemberian bantuan rumah
               tapak menurut pendapat peserta.
        9)     Moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban peserta.
        10)    Moderator mengajukan pertanyaan kunci, bagaimana bentuk/pola pemberian
               bantuan rumah tapak menurut pendapat peserta.
        11)    Moderator mengklarifikasi dan merumuskan jawaban peserta.




    PT. .....                                                                                                      6 - 69
         BAB 7.
RENCANA KERJA KONSULTAN




     ABSTRAK
     Bab ini secara umum berisi penjabaran secara detail mengenai
     rencana kerja calon Penyedia Jasa, yang merupakan tahapan/langkah-
     langkah penyelesaian pekerjaan mulai dari awal sampai akhir.
     Tahapan   penyelesaian   pekerjaan   pada   dasarnya   terdiri   dari
     persiapan, identifikasi awal, survei, kompilasi dan analisa, sampai
     pada perumusan hasil studi.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 7.1. TAHAPAN PENDAHULUAN
 Tahap pendahuluan dari kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan
 Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)
 terdiri dari:

      1. Koordinasi Tim
      2. Pemahaman KAK dan Studi Pustaka
      3. Pemantapan Metodologi dan Rencana Kerja sertaJadual Kerja
      4. Studi Literatur dan Kajian Awal (pengelolaan dan penataan ruang kawasan
          perbatasan)
      5. Diskusi dan Koordinasi dengan Pemberi Tugas
      6. Penyusunan dan Pembahasan Laporan Pendahuluan

 7.1.1. Koordinasi Tim
 Koordinasi Tim yang dimaksud adalah mobilisasi tim untuk melakukan koordinasi awal
 dalam rangka persiapan pelaksanaan pekerjaan. Koordinasi Tim dilakukan oleh Ketua Tim.

 7.1.2. Pemahaman KAK dan Studi Pustaka
 Pemahaman terhadap KAK dilakukan di awal dari seluruh rangkaian kegiatan studi sebagai
 upaya memahami dan memberikan apresiasi untuk menyempurnakan berbagai arahan
 substansial dan teknis sebagai acuan pelaksanaan keseluruhan studi.

 Studi pustaka dilakukan sebagai bentuk pendalaman substansial yang menjadi materi
 kajian sesuai arahan KAK, seperti:

      1. Tinjauan Kebijakan terkait
      2. Pengertian terkait Judul
      3. Pengertian Terkait Lainnya
      4. Pemahaman Umum mengenai pengelolaan dan penataan ruang kawasan perbatasan
      5. Pemahaman Umum mengenai lokasi kegiatan
      6. Urgensi pengelolaan dan penataan ruang kawasan perbatasan.


 7.1.3. Pemantapan Metodologi dan Rencana Kerja serta Jadual Kerja
 Pemantapan Pemantapan Metodologi dan Rencana Kerja dilakukan untuk menjabarkan
 tahapan-tahapan kerja yang akan dilakukan untuk mendapatkan keluaran sebagaimana
 diarahkan KAK dan berdasarkan hasil pendalaman substansial. Penyusunan Jadual Kerja
 dilakukan untuk mengatur tahapan kerja yang telah diidentifikasi menurut alokasi waktu


    PT. ....                                                                                                        7-2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                Kegiatan Penyusunan
                                            Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 pelaksanaan yang telah ditetapkan dalam KAK yaitu 5 bulan kalender, secara realistis dan
 managable.

 Penyusunan        Pendekatan         dan     Metodologi         dilakukan         untuk       menjabarkan            berbagai
 pendekatan dan metodologi pelaksanaan studi yang akan digunakan, yang terdiri dari:

      1. Pendekatan Studi
               a. Pendekatan Perencanaan
               b. Pendekatan Kebijakan
               c. Pendekatan Aspiratif
               d. Pendekatan Kewilayahan
               e. Pendekatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
               f. Pendekatan Kemampuan Ekonomi
               g. Pendekatan Sosial Budaya
               h. Pendekatan Pelaku Pembangunan
               i. Pendekatan Partisipasi Masyarakat
               j. Pendekatan Kelembagaan
      2. Metodologi Studi
               a. Metodologi Survei
               b. Metodologi Analisa
               c. Metodologi Diskusi Kelompok Terarah
               d. Metodologi Penyusunan Naskah Akademik


 7.1.4. Studi Literatur dan Kajian Awal
 Studi literatur dan kajian awal dimaksudkan untuk memberikan pemahaman lebih
 mendalam bagi konsultan, dalam mengidentifikasi substansi dari data keruangan kawasan
 perbatasan itu nantinya.

 Studi literatur mencakup:

      1. studi mengenai landasan hukum,
      2. studi pengelolaan kawasan perbatasan,
      3. studi penataan ruang kawasan perbatasan,

 Kajian awal mencakup:

      1. Kajian kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan berdasarkan tipologinya
      2. Kajian kebijakan penataan ruang pada lokasi prioritas




    PT. ....                                                                                                              7-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 7.1.5. Diskusi dan Koordinasi dengan Pemberi Tugas
 Tahap Diskusi dan Koordinasi dengan Pemberi Tugas dilakukan untuk memperoleh
 gambaran awal mengenai beberapa hal prinsip terkait dengan kajian yang akan dilakukan.


 Tahap ini terdiri dari beberapa kegiatan, antara lain yaitu:
      1. Koordinasi Awal dengan Pemberi Tugas
      2. Arahan dari Pemberi Tugas
      3. Diskusi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Permukiman Kawasan Perbatasan


 7.1.6. Penyusunan dan Pembahasan Laporan Pendahuluan
 Laporan pendahuluan disusun dengan memuat perkembangan pekerjaan yang telah
 dilakukan pada tahap awal sebagaimana telah dijelaskan pada sub-bab 7.1.1 sampai 7.1.5
 di atas. Laporan pendahuluan ini harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan
 sejak SPMK dikeluarkan. Laporan Pendahuluan selanjutnya dilakukan pembahasan bersama
 Tim Teknis dan stakeholders terkait yang ditentukan oleh Pemberi Tugas.




 7.2. TAHAPAN PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI KERUANGAN
 Tahap Pengumpulan Data dan Informasi dari kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam
 Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa
 Tenggara Timur (NTT) terdiri dari:

      1. Persiapan Pengumpulan Data dan Informasi di Pusat dan Daerah
      2. Pelaksanaan Pengumpulan Data dan Informasi.


 7.2.1. Persiapan Pengumpulan Data dan Informasi di Pusat dan Daerah
 Penyiapan bahan survei dilakukan sebagai persiapan agar pelaksanaan survei ke Instansi
 pusat maupun daerah dapat dilakukan secara efektif, yaitu tepat sasaran, maupun efisien,
 yaitu tepat waktu dan tepat biaya. Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain:

      1. Identifikasi kebutuhan data sekunder dan data primer
      2. Identifikasi sasaran instansional dan sasaran lokasi sampling
      3. Penentuan Metodologi Survei
      4. Penyiapan Jadual Pelaksanaan Survei
      5. Penyiapan Pelaksana Survei (Surveyor)
      6. Identifikasi Peralatan yang dibutuhkan
      7. Penyusunan Kuesioner
      8. Penyusunan Checklist Data dan Informasi

    PT. ....                                                                                                        7-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      9. Penyiapan Surat Pengantar Survei
      10. Konfirmasi Pelaksanaan Survei ke Daerah.


 7.2.2. Pelaksanaan Pengumpulan Data dan Informasi
 Pelaksanaan Pengumpulan Data dan Informasi dilakukan untuk mendapatkan data dan
 informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan substansi kajian, yaitu data keruangan terkait
 aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pelaksanaan survei dilakukan di instansi-instansi di
 pusat dan di daerah sebagaimana diarahkan dalam KAK, yaitu: Jakarta,                                         dan Nusa
 Tenggara Timur (NTT).

 Pelaksanaan survei dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi dalam bentuk
 sekunder yang terdiri dari:

      1. data dan informasi kualitas lingkungan dan fisik dasar
      2. data pertanahan
      3. data dan informasi sistem demografi, sosial budaya kemasyarakatan
      4. data dan informasi kegiatan ekonomi lokal
      5. data dan informasi interaksi kawasan perbatasan dengan negara tetangga
      6. data dan informasi sarana dan prasarana dasar.




 7.3. TAHAP KOMPILASI, ANALISIS, DAN PENYUSUNAN KONSEP DATA
          KERUANGAN
 Tahap Kompilasi, Analisis, dan Penyusunan Konsep Data Keruangan dari kegiatan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari:

      1. Kompilasi data dan informasi keruangan
      2. Analisis data dan informasi keruangan
      3. Penyusunan dan Pembahasan Laporan Antara
      4. Penyusunan konsep data dan informasi keruangan
      5. Penyiapan dan Pelaksanaan FGD di Nusa Tenggara Timur (NTT)
      6. Penyusunan dan Pembahasan Draf Laporan Akhir


 7.3.1. Kompilasi Data dan Informasi Keruangan
 Kompilasi data dan informasi keruangan dilakukan sebagai bagian dari pengecekan data
 yang telah diperoleh dari hasil survei, sekaligus menstrukturkan data dan informasi
 menurut klasifikasi data. Dengan adanya kegiatan kompilasi data dan informasi keruangan


    PT. ....                                                                                                        7-5
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 ini juga, diharapkan dapat teridentifikasi adanya data yang saling melengkapi, atau data
 yang saling kontra dan sebagainya.

 7.3.2. Analisis Data dan Informasi Keruangan
 Analisis dilakukan sebagai data processing berdasarkan instrumen dan metode yang telah
 ditetapkan sebelumnya, untuk menghasilkan output/keluaran seperti yang diharapkan.
 Kegiatan analisis data dan informasi keruangan, mencakup analisis terhadap:

      1. aspek fisik dan lingkungan;
      2. aspek ekonomi;
      3. sosial budaya;
      4. kelembagaan.


 7.3.3. Penyusunan dan Pembahasan Laporan Antara
 Laporan Antara disusun dengan memuat perkembangan pekerjaan yang telah dilakukan
 pada tahap pertengahan ini, yaitu hasil penyempurnaan materi-materi dalam laporan
 pendahuluan serta hasil pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan sebagaimana telah
 dijelaskan pada sub-bab 7.3.1 sampai 7.3.2 di atas. Laporan antara ini harus diserahkan
 selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak SPMK dikeluarkan. Laporan antara selanjutnya
 dilakukan pembahasan bersama Tim Teknis dan stakeholders terkait yang ditentukan oleh
 Pemberi Tugas.

 7.3.4. Penyusunan Konsep Data dan Informasi Keruangan
 Penyusunan Konsep dilakukan sebagai keluaran dan lanjutan dari hasil analisa langkah
 sebelumnya. Pada tahap ini akan dibuatkan konsep penanganan peningkatan kualitas
 kawasan perbatasan yang merupakan dasar penyusunan rencana pengembangan.
 Penyusunan konsep mencakup:
      1. Konsep struktur ruang kawasan
      2. Konsep pola ruang kawasan
      3. Konsep pembiayaan pembangunan kawasan perbatasan;
      4. Konsep prioritas pembangunan kawasan perbatasan
      5. Konsep pendanaan
      6. Konsep pelaksanaan pembangunan
      7. Konsep pengendalian pemanfaatan ruang kawasan


 7.3.5. Penyiapan dan Pelaksanaan FGD di Nusa Tenggara Timur (NTT)
 Focused Group Discussion (FGD) kedua dilakukan bersama Tim Teknis, narasumber dan
 stakeholders terkait yang ditentukan bersama. Pelaksanaan FGD dilakukan untuk

    PT. ....                                                                                                        7-6
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                           Kegiatan Penyusunan
                                       Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan terhadap substansi dari hasil
 analisis serta konsep data dan informasi keruangan yang telah disusun.

 7.3.6. Penyusunan dan Pembahasan Draf Laporan Akhir
 Draf Laporan Akhir disusun dengan memuat perkembangan pekerjaan yang telah dilakukan
 pada tahap lanjutan ini, yaitu hasil penyempurnaan materi-materi dalam laporan
 pendahuluan dan antara serta hasil penyusunan konsep data dan informasi keruangan. Draf
 laporan akhir ini harus diserahkan selambat-lambatnya 4 (empat) bulan sejak SPMK
 dikeluarkan. Draf laporan akhir selanjutnya dilakukan pembahasan bersama Tim Teknis
 dan stakeholders terkait yang ditentukan oleh Pemberi Tugas.




 7.4. TAHAP FINALISASI
 Tahap Finalisasi dari kegiatan Penyusunan Konsep Data Keruangan dari kegiatan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari:

      1. Penyempurnaan Konsep Data dan Informasi Keruangan
      2. Penyusunan Rekomendasi Tindak Lanjut
      3. Finalisasi Draf Laporan Akhir menjadi Laporan Akhir


 7.4.1. Penyempurnaan Konsep Data dan Informasi Keruangan
 Penyempurnaan Konsep Data dan Informasi Keruangan dilakukan berdasarkan masukan-
 masukan yang diperoleh dalam pembahasan Draf Laporan Akhir. Penyempurnaan Konsep
 Data dan Informasi Keruangan kemudian akan menghasilkan Konsep Data dan Informasi
 Keruangan Final.


 7.4.2. Penyusunan Rekomendasi Tindak Lanjut
 Rekomendasi tindak lanjut, merupakan rumusan rekomendasi untuk menindaklanjuti
 konsep data keruangan yang telah disusun, sebagai bagian dari upaya pengendalian
 pemanfaatan ruang pada kawasan perbatasan.

 7.4.3. Finalisasi Draf Laporan Akhir menjadi Laporan Akhir
 Laporan Akhir disusun dengan memuat perkembangan pekerjaan yang telah dilakukan pada
 tahap akhir ini, yaitu hasil penyempurnaan materi-materi dalam laporan pendahuluan,
 antara dan draf akhir            serta penyempurnaan Konsep Data dan Informasi Keruangan.




    PT. ....                                                                                                         7-7
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Laporan akhir ini harus diserahkan selambat-lambatnya 5 (lima) bulan sejak SPMK
 dikeluarkan.




    PT. ....                                                                                                        7-8
            BAB 8.
JADUAL PELAKSANAAN PEKERJAAN




       ABSTRAK
       Bab ini secara umum berisi penjelasan mengenai jadual pelaksanaan
       pekerjaan yang menjabarkan tahapan/ langkah-kangkah kerja seperti
       telah diidentifikasi, dengan dimensi waktu pelaksanaan pekerjaan
       sesuai dengan alokasi yang ditetapkan pada KAK.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                              Kegiatan Penyusunan
                                          Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 Berdasarkan Lingkup Kegiatan, pada bagian ini dijabarkan jadual pelaksanaan pekerjaan
 sesuai jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 5 (lima) bulan kalender sebagaimana
 telah ditetapkan dalam Kerangka acuan Kerja maupun Rapat Penjelasan Dokumen
 Penawaran. Secara rinci Jadual Pelaksanaan Pekerjaan dapat dilihat pada tabel 8.1.
 berikut.

                                      Tabel 8.1. Jadual Pelaksanaan Pekerjaan

                                                        Juni        Juli      Agustus September Oktober November
  No.                    Kegiatan
                                                     1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
 1. TAHAP PERSIAPAN
    a. Koordinasi Tim
    b. Pemahaman KAK dan Studi Pusataka
    c. Pemantapan Metodologi dan Kerja
       Rencana sertaJadual Kerja
    d. Studi Literatur dan Kajian Awal
    e. Diskusi dan Koordiansi dengan Pemberi
       Tugas
    d. Penyusunan dan Pembahasan Laporan
       Pendahuluan
 2. TAHAP PENGUMPULAN DATA DAN
    INFORMASI KERUANGAN
    a. Persiapan Pengumpulan Data dan
       Informasi Keruangan
    b. Pelaksanaan Pengumpulan Data dan
       Informasi Keruangan
 3. TAHAP KOMPILASI, ANALISIS, DAN
    PENYUSUNAN KONSEP DATA KERUANGAN
    a. Kompilasi Data dan Informasi Keruangan
    b. Analisis Data dan Informasi Keruangan
    c. Penyusunan dan Pembahasan Laporan
       Antara
    d. Penyusunan Konsep Data dan Informasi
       Keruangan
    e. Penyiapan dan Pelaksanaan FGD di Nusa
       Tenggara Timur (NTT)
    f. Penyusunan dan Pembahasan Draf
       Laporan Akhir
 4. TAHAP FINALISASI
    a. Penyempurnaan Konsep Data dan
       Infomrasi Keruangan
    b. Penyusunan     Rekomendasi Tindak
       Lanjut
    d. Penyerahan Laporan Akhir
                                              Sumber: Konsultan, 2011




    PT. ....                                                                                                            8-2
          BAB 9.
TENAGA AHLI DAN TANGGUNG
        JAWABNYA




     ABSTRAK
     Bab ini secara umum berisi penjabaran mengenai tenaga-tenaga ahli
     yang akan disediakan oleh calon Penyedia Jasa untuk menyelesaikan
     substansi pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmu yang diindikasi.
     Penjabaran akan dilakukan dengan mengidentifikasi tanggung jawab
     tenaga ahli, kontribusinya dalam pelaksanaan pekerjaan, serta
     kualifikasi yang akan disediakan.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 9.1. KEBUTUHAN TENAGA AHLI
 Berikut dijelaskan daftar tenaga ahli yang diusulkan dalam Kegiatan Penyusunan Data
 Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun anggaran 2011:


           Tabel 9.1. Posisi/Jabatan yang Diusulkan dan Lama Penugasan untuk Setiap Tenaga Ahli
                                                                                                               Lama
    No                   Nama                            Posisi/Jabatan Diusulkan
                                                                                                            Penugasan
    1.               To be named                Team Leader (Ahli Perencanaan Wilayah)                        5 bulan
    2.               To be named                            Tenaga Ahli Ekonomi                               5 bulan
    3.               To be named                          Tenaga Ahli Transportasi                            5 bulan
    4.               To be named                                Tenaga Ahli GIS                               5 bulan
    5.               To be named                        Tenaga Ahli Remote Sensing                            5 bulan
    6.               To be named                Tenaga Ahli Sosial Budaya dan Demografi                       5 bulan
    7.               To be named                           Tenaga Ahli Lingkungan                             5 bulan




 9.2. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB TENAGA AHLI
 Tugas dan tanggung jawab personil yang terlibat dalam Kegiatan Penyusunan Data
 Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini meliputi:

      1. Ketua Tim (Team Leader) – Ahli Perencanaan Wilayah
                Bertanggung jawab kepada Manajer Proyek atas seluruh tugas yang diberikan
                 sesuai dengan keahlian yang dimiliki, baik dari segi kualitas maupun terget
                 penyelesaian kerja yang telah disepakati.
                Menyusun rencana kerja dan menyusun kerangka strategi pelaksanaan
                 pekerjaan yang meliputi keseluruhan tahapan pelaksanaan, pembagian tugas,
                 dan koordinasi antar anggota tim.
                Mengkoordinir pelaksanaan pekerjaan baik secara internal maupun eksternal
                 melalui komunikasi intensif dengan tim teknis yang dibentuk oleh Pengguna
                 Jasa.
                Melakukan fungsi kontrol terhadap kinerja anggota tim terutama dalam hal
                 produktivitas kerja, koordinasi, dan kualitas pekerjaan.
                Menyusun kerangka substansi materi yang akan di bahas dalam setiap tahapan
                 pekerjaan.
                Merumuskan data dan informasi interaksi kawasan perbatasan dengan negara
                 tetangga yang harus dikumpulkan dalam survei.

    PT. ....                                                                                                        9-2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                Mereview peraturan terkait dengan pengelolaan kawasan perbatasan dan
                 penataan ruang
                Menyusun skenario pemanfaatan dan pengelolaan kawasan perbatasan
                Menyusun Kebijakan dan strategi pemanfaatan dan pengelolaan kawasan
                 perbatasan
                Bersama dengan tenaga ahli lain menyusun konsep struktur ruang kawasan,
                 konsep pola ruang kawasan, konsep prioritas pembangunan kawasan
                 perbatasan, konsep pelaksanaan pembangunan, dan konsep pengendalian
                 pemanfaatan ruang
      2. Tenaga Ahli Ekonomi
                Bertanggung jawab kepada ketua tim atas seluruh tugas yang diberikan sesuai
                 dengan keahlian yang dimiliki baik dari segi kualitas maupun target
                 penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati.
                Merumuskan data dan informasi kegiatan ekonomi lokal yang harus
                 dikumpulkan dalam survei.
                Melakukan analisis aspek ekonomi
                Bersama dengan tenaga ahli lain menyusun konsep prioritas pembangunan
                 kawasan perbatasan, konsep pembiayaan pembangunan kawasan perbatasan,
                 konsep      pendanaan,     konsep        pelaksanaan           pembangunan,              dan      konsep
                 pengendalian pemanfaatan ruang.
                Bersama dengan tenaga ahli lain dan arahan dari Ketua Tim, mengkompilasi
                 seluruh analisis dan konsep menjadi laporan.
      3. Tenaga Ahli Transportasi
                Bertanggung jawab kepada ketua tim atas seluruh tugas yang diberikan sesuai
                 dengan keahlian yang dimiliki baik dari segi kualitas maupun target
                 penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati.
                Merumuskan data transportasi yang harus dikumpulkan dalam survei.
                Bersama dengan tenaga ahli lain melakukan analisis aspek fisik dan
                 lingkungan, khususnya bidang transportasi
                Bersama dengan tenaga ahli lain menyusun konsep struktur ruang kawasan,
                 konsep prioritas pembangunan kawasan perbatasan, dan konsep pengendalian
                 pemanfaatan ruang.
                Bersama dengan tenaga ahli lain dan arahan dari Ketua Tim, mengkompilasi
                 seluruh analisis dan konsep menjadi laporan.




    PT. ....                                                                                                        9-3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                                 Kegiatan Penyusunan
                                             Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      4. Tenaga Ahli GIS
                Bertanggung jawab kepada ketua tim atas seluruh tugas yang diberikan sesuai
                 dengan keahlian yang dimiliki baik dari segi kualitas maupun target
                 penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati.
                Menyiapkan data peta citra yang akan digunakan dalam analisis spasial
                Membantu tenaga ahli dalam melakukan analisis keruangan
                Membantu tenaga ahli lain dalam menyusun konsep struktur ruang kawasan,
                 konsep pola ruang kawasan, dan konsep prioritas pembangunan kawasan
                 perbatasan.
                Bersama dengan tenaga ahli lain dan arahan dari Ketua Tim, mengkompilasi
                 seluruh analisis dan konsep menjadi laporan.
      5. Tenaga Ahli Remote Sensing
                Bertanggung jawab kepada ketua tim atas seluruh tugas yang diberikan sesuai
                 dengan keahlian yang dimiliki baik dari segi kualitas maupun target
                 penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati.
                Merumuskan data pertanahan dan data dan informasi sarana dan prasarana
                 dasar yang harus dikumpulkan dalam survei.
                Membantu tenaga ahli GIS dalam menyiapkan peta citra yang akan digunakan
                 dalam analisis spasial
                Membantu tenaga ahli dalam melakukan analisis keruangan
                Bersama dengan tenaga ahli lain dan arahan dari Ketua Tim, mengkompilasi
                 seluruh analisis dan konsep menjadi laporan.
      6. Tenaga Ahli Sosial Budaya dan Demografi
                Bertanggung jawab kepada ketua tim atas seluruh tugas yang diberikan sesuai
                 dengan keahlian yang dimiliki baik dari segi kualitas maupun target
                 penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati.
                Merumuskan           data      dan       informasi         sistem       demografi,          sosial      budaya
                 kemasyarakatan yang harus dikumpulkan dalam survei.
                Melakukan analisis analisis sosial budaya dan analisis kelembagaan
                Bersama dengan tenaga ahli lain menyusun konsep prioritas pembangunan
                 kawasan       perbatasan,          konsep        pelaksanaan           pembangunan,             dan      konsep
                 pengendalian pemanfaatan ruang.
                Bersama dengan tenaga ahli lain dan arahan dari Ketua Tim, mengkompilasi
                 seluruh analisis dan konsep menjadi laporan




    PT. ....                                                                                                               9-4
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      7. Tenaga Ahli Lingkungan
                Bertanggung jawab kepada ketua tim atas seluruh tugas yang diberikan sesuai
                 dengan keahlian yang dimiliki baik dari segi kualitas maupun target
                 penyelesaian pekerjaan yang telah disepakati.
                Merumuskan data dan informasi kualitas lingkungan dan fisik dasar yang harus
                 dikumpulkan dalam survei.
                Melakukan analisis analisis aspek fisik dan lingkungan
                Bersama dengan tenaga ahli lain menyusun konsep struktur ruang kawasan,
                 konsep pola ruang kawasan, konsep prioritas pembangunan kawasan
                 perbatasan, konsep pelaksanaan pembangunan, dan konsep pengendalian
                 pemanfaatan ruang.
                Bersama dengan tenaga ahli lain dan arahan dari Ketua Tim, mengkompilasi
                 seluruh analisis dan konsep menjadi laporan.




 9.4. KUALIFIKASI TENAGA AHLI
 Berdasarkan KAK, kualifikasi tenaga ahli yang dibutuhkan untuk penyelesaian Kegiatan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat dijelaskan sebagai berikut:

      1. Ketua Tim (Team Leader) – Ahli Perencanaan Wilayah
                Ketua Tim disyaratkan sekurang-kurangnya seorang Strata 2 (S2)
                Jurusan Perencanaan Wilayah
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang telah disamakan
                Berpengalaman di bidang perencanaan wilayah dan kota sekurang-kurangnya
                 3,5 (tiga setengah) tahun.
      2. Tenaga Ahli Ekonomi
                Tenaga ahli yang dibutuhkan 1 (satu) orang Ketua dengan persyaratan
                 sekurang-kurangnya seorang Strata 1 (S1)
                Jurusan Ekonomi
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan
                Berpengalaman di bidang ekonomi perkotaan sekurang-kurangnya 3 (tiga)
                 tahun.




    PT. ....                                                                                                        9-5
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


      3. Tenaga Ahli Transportasi
                Tenaga ahli yang dibutuhkan 1 (satu) orang Ketua dengan persyaratan
                 sekurang-kurangnya seorang Strata 1 (S1)
                Jurusan Teknik Sipil
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan
                Berpengalaman di bidang transportasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.
      4. Tenaga Ahli GIS
                Tenaga ahli yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan sekurang-
                 kurangnya Sarjana Strata 1 (S1)
                Jurusan Teknik Geodesi/Geografi
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan
                Berpengalaman di bidang Sistem Informasi Geografis sekurang-kurangnya 3
                 (tiga) tahun.
      5. Tenaga Ahli Remote Sensing
                Tenaga ahli yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan sekurang-
                 kurangnya Sarjana Strata 1 (S1)
                Jurusan Teknik Geodesi/Geografi
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan
                Berpengalaman di bidang Sistem Informasi Geografis sekurang-kurangnya 3
                 (tiga) tahun
      6. Tenaga Ahli Sosial Budaya dan Demografi
                Tenaga ahli yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan sekurang-
                 kurangnya Sarjana Strata 1 (S1)
                Jurusan Sosiologi/Antropologi
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan
                Berpengalaman di bidang Sistem Informasi Geografis sekurang-kurangnya 3
                 (tiga) tahun
      7. Tenaga Ahli Lingkungan
                Tenaga ahli yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan sekurang-
                 kurangnya Sarjana Strata 1 (S1)
                Jurusan Teknik Lingkungan/Biologi Lingkungan
                Lulusan universitas/perguruan tinggi negeri atau yang disamakan
                Berpengalaman di bidang lingkungan sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun




    PT. ....                                                                                                        9-6
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 9.5. RIWAYAT HIDUP (CURRICULUM VITAE) TENAGA AHLI
 Riwayat Hidup (Curriculum Vitae) Tenaga Ahli yang diusulkan untuk melaksanakan
 Kegiatan Penyusunan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang
 Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat
 dilihat sebagai berikut pada Lampiran Riwayat Hidup (Curriculum Vitae) Tenaga Ahli.




    PT. ....                                                                                                        9-7
          BAB 10.
JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI




       ABSTRAK
       Bab ini secara umum berisi penjabaran penugasan tenaga ahli yang
       telah ditetapkan pada bab sebelumnya, pada bulan tertentu sesuai
       dengan jumlah bulan dan kebutuhan penyelesaian substansial yang
       yang diindikasi.
     D engan E N U S U L A N T E K N I S
       OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                                Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT



      Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, Konsultan telah mengatur pengalokasian waktu setiap
      Tenaga Ahli dan Tenaga Penunjang, sesuai dengan Rencana Jadual Pelaksanaan dan uraian
      penugasan masing-masing Tenaga Ahli. Pengaturan alokasi waktu tersebut sesuai
      kebutuhannya, telah dituangkan dalam Rencana Jadwal Penugasan Personil, yang dapat
      dilihat pada Tabel 10.1 berikut ini.



                                           Tabel 10.1. Jadual Penugasan Tenaga Ahli

                                                                         Bulan 1       Bulan 2        Bulan 3       Bulan 4       Bulan 5
No              Nama                                  Lama Penugasan
                               Posisi/Jabatan Diusulkan

                                                                       1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

                                  Team Leader (Ahli       5 bulan
1            To be named
                                Perencanaan Wilayah)

2            To be named         Tenaga Ahli Ekonomi      5 bulan

                                    Tenaga Ahli           5 bulan
3            To be named
                                    Transportasi

4            To be named           Tenaga Ahli GIS        5 bulan

5                                Tenaga Ahli Remote       5 bulan
             To be named
                                      Sensing
6                                 Tenaga Ahli Sosial      5 bulan
             To be named
                                Budaya dan Demografi
7                                    Tenaga Ahli          5 bulan
             To be named
                                     Lingkungan




         PT. ....                                                                                                             10 - 2
              BAB 11.
ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN




         ABSTRAK
         Bab   ini    secara    umum    berisi   penjabaran   mengenai   organisasi
         pelaksanaan pekerjaan yang menggambarkan sistem hubungan kerja
         antara      Pengguna    Jasa   dengan     Penyedia   Jasa,   baik   secara
         administratif maupun secara teknis substansial, sehingga secara jelas
         dapat terlihat pola penugasan, pertanggungjawaban serta koordinasi.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 11.1. POLA HUBUNGAN KERJA
 Pola hubungan kerja untuk Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka
 Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa
 Tenggara Timur (NTT) dapat dijelaskan sebagai berikut:

      1. Pengguna Jasa
            Pengguna Jasa merupakan pihak yang merupakan pemberi pekerjaan dan
            menerima layanan jasa. Pihak pengguna jasa dapat dijabarkan sebagai berikut:

               a. Instansi Pengguna Jasa, yaitu Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan.
               b. Pejabat Pembuat Komitmen, yaitu wakil dari pihak pengguna jasa yang
                   menanda-tangani kontrak kerjasama dengan penyedia jasa. Dalam hal ini
                   Pejabat Pembuat Komitmen yaitu: Asisten Deputi Penataan Ruang Kawasan
                   Perbatasan, Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, Badan
                   Nasional Pengelolaan Perbatasan.
               c. Tim Teknis, yaitu wakil dari pihak pengguna jasa yang dibentuk untuk
                   memberikan arahan teknis dan substansial, serta mengendalikan arah
                   pekerjaan.
      2. Penyedia Jasa
            Penyedia Jasa merupakan pihak yang merupakan penerima pekerjaan dan
            memberikan layanan jasa. Pihak penyedia jasa dapat dijabarkan sebagai:

               a. Instansi Penyedia Jasa, yaitu konsultan berbadan hukum, dalam hal ini
                   konsultan PT. ......
               b. Penerima Komitmen, yaitu wakil dari pihak Penyedia Jasa yang menanda-
                   tangani kontrak kerjasama dengan pengguna jasa. Dalam hal ini Penerima
                   Komitmen adalah Direktur Utama dari perusahaan/konsultan.
               c. Tim Tenaga Ahli, yaitu wakil dari pihak penyedia jasa yang dibentuk untuk
                   melaksanakan pekerjaan secara teknis dan substansial, sesuai dengan
                   arahan Tim Teknis Pengguna Jasa.




    PT. ....                                                                                                       11 - 2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


 11.2. MEKANISME PELAKSANAAN PEKERJAAN

 Terkait dengan mekanisme pekerjaan, maka konsultan membaginya menjadi dua bagian
 besar, yaitu mekanisme pemberi kerja dengan konsultan pelaksana, dan mekanisme kerja
 internal konsultan.

 A. Mekanisme Pemberi Kerja dengan Konsultan Pelaksana

 Dalam melaksanakan tugas, Konsultan akan selalu mengadakan hubungan kerja dengan
 Pihak I (Pemberi Kerja), khususnya para ahli yang ditunjuk untuk pelaksanaan pekerjaan.
 Hal ini sangat diperlukan terutama untuk memperoleh kesepakatan di dalam penetapan
 strategi     dan    yang     berhubungan     dengan        penerapan          kebijakan         pemerintah          serta
 persyaratan-persyaratan teknis operasional dalam bidang perencanaan dalam pekerjaan
 Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat
 pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga Konsultan akan
 mendapatkan manfaat dan masukan dengan baik dari diskusi antara konsultan dengan
 pemberi kerja. Disamping itu, perlu juga dilakukan diskusi antara pihak kedua dengan
 pihak kesatu pada setiap perumusan alternatif kebijakan yang diambil dalam penyusunan
 studi ini.

 B. Mekanisme Kerja Internal Konsultan

 Mekanisme kerja internal Konsultan untuk unsur pelaksanaan kegiatan Penyusunan Data
 Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memprioritaskan efektivitas dan
 efisiensi kerja yang merupakan suatu persyaratan dalam menangani beberapa macam
 pekerjaan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pemborosan waktu dan duplikasi tugas,
 sehingga pekerjaan dapat dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
 Penerapan mekanisme kerja di dalam Konsultan, terutama antar komponen dan struktur
 organisasi kerja pelaksanaan, dilakukan secara terpadu, saling mengisi dan menunjang,
 terutama menyangkut kerjasama tim.

 Adapun tugas dan tanggungjawab serta wewenang masing-masing unsur dalam organisasi
 tersebut dirinci sebagai berikut :

      1. Direktur

               a. Menjalankan fungsi kontrol dan konsultasi materi.




    PT. ....                                                                                                       11 - 3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


               b. Sebagai penanggungjawab utama dalam pekerjaan, terutama dalam
                   hubungan keluar (eksternal) dengan pihak-pihak pemberi tugas.

      2. Koordinator Proyek (Ketua Tim)

               a. Bertanggungjawab terhadap Direktur Utama dan Pemberi Kerja.
               b. Mengkoordinir, mengarahkan, dan memberi bimbingan baik dalam hal
                   substantif dalam pelaksanaan pekerjaan yang berada di bawah tanggung
                   jawabnya.
               c. Bekerjasama dengan para tenaga ahli dalam menyelesaikan proses
                   pelaksanaan pekerjaan.

      3. Tenaga Ahli

               a. Bertanggungjawab kepada Koordinator Proyek.
               b. Merupakan tenaga ahli yang dipercaya untuk melaksanaan pekerjaan.
               c. Melakukan pengkajian sesuai dengan bidang atau aspek masing-masing mulai
                   tahap kompilasi sampai tahap rencana.
      4. Asisten Ahli GIS
               a. Bertanggungjawab kepada Koordinator Proyek
               b. Membantu Tenaga Ahli dalam hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan
                   analisis dan simulasi pemetaan
      5. Asisten Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota
               a. Bertanggungjawab kepada Koordinator Proyek
               b. Membantu Tenaga Ahli dalam memformulasi seluruh hasil analisis TA
                   menjadi dokumen keluaran kegiatan
      6. Administrasi Keuangan
               a. Bertanggungjawab kepada Koordinator Proyek.
               b. Mendukung fungsi-fungsi administrasi, seperti pengetikan, pengurusan
                   pencairan dan keuangan kegiatan
      7. Operator Komputer
               a. Bertanggungjawab kepada Koordinator Proyek.
               b. Mendukung fungsi-fungsi operasional teknis, seperti pengetikan, penyiapan
                   peralatan survei dan lainnya


 11.3. ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN
 Secara Skematis, organisasi pelaksanaan pekerjaan termasuk hubungan penugasan,
 tanggung jawab dan koordinasi dapat digambarkan seperti pada diagram di bawah ini.



    PT. ....                                                                                                       11 - 4
                                                            Gambar 11. 1. Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan
                                                                                                                                                                                                    OKUM




PT. ....
                                            BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN




                         PEMBERI TUGAS
                     Pejabat Pembuat Komitmen                               KONSULTAN (PT. ...........................)
                                                                                                                                                                                                  D engan E N U S U L A N T E K N I S




               Asisten Deputi Penataan Ruang Kawasan                                 Direktur Utama
            Perbatasan, Deputi Bidang Pengelolaan Potensi
                         Kawasan Perbatasan




                  TIM TEKNIS




                                                                                      TEAM LEADER
                                                                               AHLI PERENCANAAN WILAYAH




             AHLI                             AHLI                        AHLI                          AHLI                  AHLI                AHLI
           EKONOMI                        TRANSPORTASI                LINGKUNGAN                         SIG              REMOTE SENSING   SOSIAL BUDAYA DAN
                                                                                                                                               DEMOGRAFI




                                                                                ASISTEN TENAGA AHLI
                                                                          (PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA, GIS)




 11 - 5
                  Garis Penugasan                                                TENAGA PENDUKUNG:
                  Garis Tanggung Jawab                                (ADMIINISTRASI KEUANGAN, OPERATOR KOMPUTER)
                  Garis Koordinasi
                                                                                                                                                                                                                                         Kegiatan Penyusunan
                                                                                                                                                               Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT
      BAB 12.
    PELAPORAN




ABSTRAK
Bab ini secara umum berisi penjelasan mengenai sistem pelaporan
yang   merupakan   tahapan   perkembangan   substansi   pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan arahan waktu serta jumlah yang telah
ditetapkan.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 12.1. PENTAHAPAN SUBSTANSIAL SETIAP PELAPORAN
 Dalam Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan
 Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdapat lima
 dokumen yang dihasilkan, yaitu laporan pendahuluan, laporan antara, draf laporan akhir,
 laporan akhir, dan dokumen pendukung. Kelima dokumen ini disusun secara periodik sesuai
 dengan tahapan pekerjaan yang telah dicapai dan jadual pemasukan seperti yang
 dijelaskan dalam KAK. Kelima dokumen tersebut pada intinya memuat capaian kegiatan
 berserta informasi yang mendukung lainnya. Berikut akan dijelaskan sistematika pelaporan
 yang harus diserahkan konsultan:

    1. Laporan Pendahuluan, berisi:
               a. Pemahaman dan tanggapan konsultan tentang kerangka acuan yang
                   diberikan dan berisi masukan untuk penyempurnaannya,
               b. Metodologi pendekatan yang digunakan,
               c. Produk akhir kegiatan,
               d. Ruang lingkup,
               e. Jadual rencana kegiatan maupun jadual diskusi/ pembahasan dan koordinasi
                   dengan masyarakat dan pemerintah daerah,
               f. Tugas serta tanggung jawab tenaga ahli yang terlibat dalam kegiatan,
               g. Rumusan informasi/data yang perlu diinventarisir guna menyusun rencana
                   kegiatan selanjutnya,
               h. Hasil studi literatur mengenai landasan hukum, kebijakan, dan referensi
                   terkait dengan pemanfaatan ruang kawasan perbatsan.
    2. Laporan Antara, berisi:
               a. Kompilasi Data dan Fakta Hasil Pengumpulan Data di Instansi Pusat dan
                   Daerah
                           data dan informasi kualitas lingkungan dan fisik dasar
                           data pertanahan
                           data dan informasi sistem demografi, sosial budaya kemasyarakatan
                           data dan informasi kegiatan ekonomi lokal
                           data dan informasi interaksi kawasan perbatasan dengan negara
                             tetangga
                           data dan informasi sarana dan prasarana dasar.




    PT. ....                                                                                                         12 - 2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                             Kegiatan Penyusunan
                                         Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




               b. Kompilasi hasil analisis:
                           Hasil     review     kebijakan        terkait       dengan        pengelolaan          kawasan
                             perbatasan dan penataan ruang
                           Hasil analisis aspek fisik dan lingkungan;
                           Hasil analisis aspek ekonomi;
                           Hasil analisis sosial budaya;
                           Hasil analisis kelembagaan
               c. Skenario pemanfaatan dan pengelolaan kawasan perbatasan
               d. Kebijakan dan strategi pemanfaatan dan pengelolaan kawasan perbatasan
    3. Draf Laporan Akhir, berisi:
               a. Hasil FGD pengelolaan dan pembangunan lokasi prioritas
               b. Konsep Data Keruangan, yang mencakup:
                           Konsep struktur ruang kawasan
                           Konsep pola ruang kawasan
                           Konsep pembiayaan pembangunan kawasan perbatasan;
                           Konsep prioritas pembangunan kawasan perbatasan
                           Konsep pendanaan
                           Konsep pelaksanaan pembangunan
                           Konsep pengendalian pemanfaatan ruang kawasan
    4. Laporan Akhir, berisi:
               a. Penyempurnaan substansi Draf Laporan Akhir
               b. Rekomendasi tindak lanjut kegiatan
    5. Dokumen Pendukung, berisi:
               a. Buku Rencana, berisi Kebijakan dan strategi pemanfaatan dan pengelolaan
                   kawasan perbatasan, rencana (rencana struktur ruang dan pola ruang),
                   program-program pemanfaatan ruang, rencana pembiayaan pembangunan
                   kawasan perbatasan, rencana prioritas pembangunan kawasan perbatasan,
                   rencana       pendanaan,        rencana          pelaksanaan           pembangunan,              rencana
                   pengendalian pemanfaatan ruang kawasan
               b. Album Peta Dasar, berisi peta profil kawasan yang terdiri dari Peta
                   Orientasi, Peta Batas Administrasi, Peta Tutupan Lahan, Peta Rawan
                   Bencana, Peta Sebaran Penduduk.
               c. Album Peta Spasial, berisi peta hasil analisis (peta analisis aspek fisik dan
                   lingkungan, peta analisis aspek ekonomi, peta analisis sosial budaya), dan
                   peta rencana pengelolaan kawasan yang terdiri dari (Peta Rencana Struktur

    PT. ....                                                                                                          12 - 3
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                   Ruang, Peta Rencana Pola Ruang, Peta Rencana prioritas pembangunan
                   kawasan perbatasan)
               d. Lembar Peta Citra, berupa data peta citra yang digunakan sebagai acuan
               e. CD Data Laporan, berisi seluruh laporan kegiatan dalam format CD
               f. Ringkasan Eksekutif, berisi rangkuman Laporan Akhir.



 12.2. WAKTU PELAPORAN
 Selanjutnya dari sistematika jenis dan isi pelaporan yang telah dijelaskan di atas, maka
 waktu pelaporan yang diatur dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) Kegiatan Penyusunan Data
 Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu:

    1. Laporan Pendahuluan, harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak
        SPMK diterbitkan, dibuat sebanyak 20 (dau puluh) eksemplar dengan ukuran A4,
        serta dibahas bersama Tim Teknis dan stakeholder terkait yang telah ditunjuk oleh
        pengguna jasa.
    2. Laporan Antara, harus diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak SPMK
        diterbitkan, dibuat sebanyak 20 (dau puluh) eksemplar dengan ukuran A4, serta
        dibahas bersama Tim Teknis dan stakeholder terkait yang telah ditunjuk oleh
        pengguna jasa.
    3. Draf Laporan Akhir, harus diserahkan selambat-lambatnya 4 (empat) bulan sejak
        SPMK diterbitkan, dibuat sebanyak 20 (dau puluh)dengan ukuran A4, serta dibahas
        bersama Tim Teknis dan stakeholder terkait yang telah ditunjuk oleh pengguna jasa.
    4. Laporan Akhir, harus diserahkan selambat-lambatnya 5 (lima) bulan sejak SPMK
        diterbitkan, dibuat sebanyak 30 (tiga puluh) eksemplar dengan ukuran A3, serta
        dibahas bersama Tim Teknis dan stakeholder terkait yang telah ditunjuk oleh
        pengguna jasa.
    5. Dokumen Pendukung diserahkan bersamaan dengan penyerahan Laporan Akhir,
        pada bulan ke-5, yang terdiri dari:
               a. Buku Rencana, sejumlah 10 (sepuluh) eksemplar
               b. Album Peta Dasar, sejumlah 15 (lima belas) album
               c. Album Peta Spasial, sejumlah 2 (dua) album
               d. Lembar Peta Citra, sejumlah 5 (lima) lembar
               e. CD Data Laporan, sejumlah 10 (sepuluh) keping
               f. Ringkasan Eksekutif, sejumlah 50 (lima puluh) eksemplar



    PT. ....                                                                                                       12 - 4
    BAB 13.
STAF PENDUKUNG




 ABSTRAK
 Bab ini secara umum berisi penjabaran personil-personil pendukung
 yang   dibutuhkan untuk   membantu   kinerja   Tenaga Ahli   dalam
 menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan kebutuhannya.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 13.1. KEBUTUHAN TENAGA PENUNJANG
 Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Tim Tenaga Ahli akan didampingi dan
 dibantu oleh beberapa Tenaga Penunjang. Untuk menyelesaikan Kegiatan Penyusunan Data
 Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi
 Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, dijelaskan bahwa tenaga penunjang yang
 dibutuhkan antara lain:

      a. Seorang Asisten Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota
      b. Seorang Asisten Ahli GIS
      c. Seorang Administrasi Keuangan
      d. Operator Komputer




 13.2. KUALIFIKASI TENAGA PENUNJANG
 Dari kedua Tenaga Penunjang tersebut, kualifikasi dari setiap Tenaga Penunjang untuk
 menyelesaikan Kegiatan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang
 Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini
 dapat dijelaskan sebagai berikut:

      a. Asisten Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota
                Tenaga Penunjang yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan
                 minimal lulusan Sarjana (S1)
                Jurusan Teknik Planologi
                Berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.
      b. Asisten Ahli GIS
                Tenaga Penunjang yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan
                 minimal lulusan Sarjana (S1)
                Jurusan Geografi
                Berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun.
      c. Administrasi Keuangan
                Tenaga Penunjang yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan
                 minimal lulusan Diploma 3 (D3)
                Jurusan Administrasi Niaga
                Berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun.
      d. Operator Komputer


    PT. ....                                                                                                       13 - 2
    D engan E N U S U L A N T E K N I S
      OKUM                                                                                                               Kegiatan Penyusunan
                                               Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT


                    Tenaga Penunjang yang dibutuhkan 1 (satu) orang dengan persyaratan
                     minimal lulusan Diploma 3 (D3)
                    Jurusan Teknik
                    Berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun.




     13.3. JADUAL PENUGASAN TENAGA PENUNJANG
     Sesuai dengan tugas dan tanggungjawab tenaga penunjang, maka seluruh Tenaga Penunjang
     dilibatkan secara penuh, yaitu 5 bulan.

                                    Tabel 13.1. Jadual Penugasan Tenaga Penunjang

                                                          Lama          Bulan 1       Bulan 2       Bulan 3        Bulan 4       Bulan 5
No           Nama                   Posisi
                                                       Penugasan
                                                                      1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
                           Asisten Ahli Prerencanaan     5 bulan
1         To be Named
                               Wilayah dan KOta

2         To be Named           Asisten Ahli GIS         5 bulan


3         To be Named        Administrasi Keuangan       5 bulan


3         To be Named         Operator Komputer          5 bulan




        PT. ....                                                                                                             13 - 3
       BAB 14.
FASILITAS PENDUKUNG




   ABSTRAK
   Fasilitas pendukung merupakan penjabaran berbagai peralatan, aset
   dan perlengkapan baik yang dimiliki oleh calon Penyedia Jasa maupun
   yang akan digunakan/ dimanfaatkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




 14.1. FASILITAS YANG DIMILIKI PENYEDIA JASA

 14.1.1. Fasilitas Ruang Kantor

 Konsultan akan memanfaatkan ruangan kantor di studio milik perusahaan, untuk
 menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan. Ruangan studio cukup untuk mengakomodasi
 seluruh tim konsultan beserta staff pendukung sesuai yang diusulkan dan dilengkapi
 dengan peralatan kantor sebagai sarana kerja. Ruangan studio yang dimiliki konsultan
 terdapat di .....

 Peralatan kantor yang diperlukan adalah sebagai berikut:

      1. Meja + Kursi Kantor
      2. Filing Cabinet
      3. AC Split
      4. Telephone
      5. Faxmile


 14.1.2. Fasilitas Transportasi
 Transportasi kendaraan disediakan untuk mobilisasi staff dan tenaga guna menunjang
 mobilitas tenaga ahli pada saat pelaksanaan kegiatan, khususnya survei instansional dan
 expose di Jakarta dan sekitarnya. Dengan adanya fasilitas transportasi tersebut, maka
 percepatan pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan.



 14.2. FASILITAS UNTUK PENYELESAIAN PEKERJAAN
 Fasilitas pendukung yang akan digunakan dalam Kegiatan Penyusunan Data Keruangan
 dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi
 Nusa Tenggara Timur (NTT) yang harus disediakan baik oleh Pengguna Jasa maupun
 Penyedia Jasa dapat dijelaskan sebagai berikut:

          1. Biaya Pelaksanaan
               Merupakan komponen yang paling utama, yaitu fasilitas yang harus disediakan
               oleh Pengguna Jasa. Dalam hal ini, Biaya pelaksanaan pekerjaan dibebankan
               pada dana APBN pada DIPA Asisten Deputi Penataan Ruang Kawasan Perbatasan,
               Tahun Anggaran 2011.




    PT. ......                                                                                                     14 - 2
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                            Kegiatan Penyusunan
                                        Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT




          2. Fasilitasi Koordinasi
                   a. Secara Horisontal, yaitu hubungan lintas instansional (antar instansi
                        setara)
                   b. Secara Vertikal, yaitu hubungan ke bawah, antara Pemerintah Pusat
                        dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota (termasuk
                        dinas-dinas di dalamnya)
          3. Fasilitas Survey
                   a. Perangkat Perekaman
                          Kamera Handycam;
                          Kamera Digital;
                          Recorder Digital.
                   b. Perangkat Pengamatan
                          Peralatan Sketsa/Gambar;
                          Paper Holder A4/Folio.
                   c. Perangkat Pengukuran
                          Digitizer;
                          Teodolit Total Station;
                          Teodolit Digital;
                          Pita Ukur;
                          Auto Level,
                   d. Perangkat Penyimpanan
                          Laptop Computer;
                          Flashdisk.
          4. Fasilitas Operasional Kantor
                   a. Telepon, Faksimili
                   b. Komputer, Printer, Scanner
                   c. Penyimpan data seperti: Flashdisc, Compact Disc (CD), ataupun external
                        Hard disc
          5. Fasilitas Pembahasan dan Diskusi
                   a. Ruang Pertemuan
                   b. Peralatan Presentasi yaitu: Laptop, LCD




    PT. ......                                                                                                       14 - 3
        BAB 15.
       PENUTUP




ABSTRAK
Bab ini secara umum berisi penutupan seperti harapan-harapan calon
Penyedia Jasa, pentingnya kegiatan akan dilaksanakan pada tahun
anggaran ini bagi pembangunan di daerah serta upaya calon Penyedia
Jasa untuk melaksanakan upaya yang maksimal untuk memberikan
hasil terbaik.
D engan E N U S U L A N T E K N I S
  OKUM                                                                                                          Kegiatan Penyusunan
                                      Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokpri Provinsi NTT



 Demikian penawaran teknis ini dibuat oleh penyedia jasa dengan maksud agar dapat
 dipergunakan sebagai pedoman perencanaan selanjutnya. Walaupun                                      tertuang dalam
 bahasa yang sangat sederhana tetapi mempunyai makna yang cukup berarti sebagai titik
 tolak pelaksanaan kerja.

 Dalam usulan teknis yang dibuat ini, penyedia jasa memulai pekerjaan dengan
 memperkenalkan perusahaan berikut pengurus dan tenaga ahli yang dimiliki dan
 sebagiannya ikut diterjunkan dalam penyusunan usulan teknis ini. Hasil dari diskusi para
 tenaga ahli terhadap Kerangka Acuan Kerja menghasilkan suatu konsep perencanaan kerja
 untuk pekerjaan Penyusunan Data Keruangan dalam Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan
 Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memuat
 metodologi dan muatan kerja untuk pelaksanaan kerja mulai dari survey pengambilan
 data, menganalisa data, sampai pada penyusunan laporan.

 Penyedia jasa banyak mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang
 telah diberikan oleh pengguna jasa untuk menyusun penawaran teknis ini, dan lebih jauh
 lagi penyedia jasa berharap semoga penawaran ini dapat membawa penyedia jasa untuk
 melaksanakan pekerjaan selanjutnya yakni pekerjaan Penyusunan Data Keruangan dalam
 Rangka Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Darat pada Lokasi Prioritas Provinsi Nusa
 Tenggara Timur (NTT).

 Akhir kata, penyedia jasa berharap semoga penawaran ini bermanfaat bagi pengguna jasa
 dan dapat direalisasikan serta dapat diperhitungkan untuk penggarapan kerja selanjutnya.




    PT. ....                                                                                                       15 - 2

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2
posted:5/21/2013
language:Unknown
pages:176