Docstoc

laporan praktikum PERCOBAAN ENZIM BROMELIN DAN PAPAIN

Document Sample
laporan praktikum PERCOBAAN ENZIM BROMELIN DAN PAPAIN Powered By Docstoc
					                                 KEGIATAN 1
             PERCOBAAN ENZIM BROMELIN DAN PAPAIN


A. Tujuan
   Membandingkan dan mengetahui cara kerja bromelin dan papain


B. Landasan teori
       Enzim bromelin adalah enzim yang secara alami terdapat pada buah dan
   batang nanas. Gut Windarsih (2009:56) menyatakan bahwa enzim bromelin
   ini dapat digunakan dalam bidang industri makanan yaitu dapat melunakan
   daging sebelum dikonsumsi oleh manusia. Enzim bromelin merupakan
   protase yang mengkatalis reaksi hidrolisa protein atau peptida (Muchtadi,
   1993).
       Bromelin termasuk termasuk enzim proteotik yang membantu mencerna
   protein. Bromelin yang terkenal sebagai antiradang, misalnya antritis.
   Bromelin diekstrak dari nanas. Bromelin ini biasa digunakan untuk
   melunakkan daging. Selain itu bromelin bisa menyembuhkan diare yang
   disebabkan karena kekurangan enzim pencernaan. Suplemen bromelin sering
   mengandung pigmen dari tumbuhan yang disebut quercetin. Efek samping
   dari bromelin, antara lain: alergi dan gejala asma, seperti sesak nafas dan
   gatal-gatal apabila orang tersebut alergi pada buah nanas.
       Enzim papain didapat dari daun pepaya yang diremas sampai halus,
   dinyatakan dalam Tim MGMP (2009: 45). Menurut Hasbullah (2004), enzim
   papain merupakan protease yang dapat merusak struktur primer protein, yaitu
   ikatan antar asam amino pada rantai polimer asam amino.
       Sebenarnya, enzim papain telah dikenal sejak dulu oleh masyarakat
   Indonesia. Biasanya masyarakat kita menggunakan daun pepaya untuk
   membungkus daging yang keras sehingga bisa menjadi lunak dan nikmat
   untuk dikonsumsi. Namun, karena keterbatasan ilmu pengetahuan saat itu
   masyarakat kita belum mengetahui nama zat tersebut.



1|Laporan Praktikum KD IP A 3
       Enzim     papain   telah    berperan   besar   dalam        membantu     bidang
   mikrobiologi, biokimia maupun industri-industri berbasis biologi. Enzim
   papain     bukan   hanya       mampu   memecah        protein    melainkan     bisa
   menghidrolisisnya. Kemampuan hidrolisis ini sangat diperlukan dalam
   pembuatan asam amino, baik di industri makanan/minuman maupun farmasi.
   Dalam industri makanan, diantaranya sebagai bahan yang menjadikan biskuit
   renyah dan enak dinikmati.


C. Alat dan bahan
      Alat:                               Bahan:
   1. Tabung reaksi                       1. Daging sapi
   2. Gelas ukur                          2. Jus nanas
                                          3. Daun pepaya atau kulit buah pepaya
                                              muda


D. Langkah kerja
   1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
   2. Menyiapkan 4 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan potongan
      daging sapi
   3. Mengisi tabung reaksi pertama dan kedua dengan jus nanas
   4. Memasukkan tabung reaksi pertama ke dalam lemari es, dan menyimpan
      tabung reaksi kedua pada suhu kamar
   5. Melakukan hal yang sama untuk enzim papain yaitu pada tabung reaksi
      ketiga dan keempat dengan memasukkan daging pada tabung reaksi
      tersebut, kemudian mengambil daun pepaya yang diremas-remas
      menggunakan tangan
   6. Setelah beberapa jam, mengamati apa yang terjadi
   7. Mencatat hasilnya pada lembar kerja




2|Laporan Praktikum KD IP A 3
E. Hasil pengamatan


       PERLAKUAN                ENZIM                  PERUBAHAN
                                                       SELAMA 1 JAM
       SUHU KAMAR               Enzim Papain           +++       (lebih lunak)
                                Enzim Bromelin         +++++ (sangat lunak
                                                       sekali)
       SUHU DINGIN              Enzim Papain           ++        (lunak)
       (LEMARI ES)
                                Enzim Bromelin         ++++      (sangat lunak)
       KONTROL                  Enzim Papain
                                Enzim Bromelin


      Keterangan:
       +        : keras
       ++       : agak lunak
       +++      : lunak




F.   Pembahasan
         Gut Windarsih (2009:56) menyatakan “Enzim bromelin ini dapat
     digunakan dalam bidang industri makanan yaitu dapat melunakkan daging
     sebelum dikonsumsi oleh manusia.” Dari hasil pengamatan, terdapat
     perbedaan antara daging yang diberi jus nanas yang disimpan pada suhu
     dingin (lemari es) dengan daging yang diberi jus nanas yang disimpan pada



3|Laporan Praktikum KD IP A 3
   suhu kamar. Penyimpanan di tempat yang berbeda menyebabkan daging pada
   tabung reaksi yang disimpan di dalam suhu kamar lebih lunak dibandingkan
   dengan daging pada tabung reaksi yang disimpan di dalam suhu dingin
   (lemari     es).   Hal   ini   membuktikan   bahwa   perbedaan   suhu   dapat
   mempengaruhi kerja enzim, oleh karena itu tingkat kelunakan daging yang
   disimpan pada suhu dingin (lemari es) yaitu sekitar -30C berbeda dengan
   daging yang disimpan pada suhu kamar yang berkisar 270C.
       Sedangkan untuk enzim papain di dapat dari daun pepaya yang diremas
   sampai halus, dinyatakan dalam Tim MGMP (2009:45). Tidak berbeda
   dengan enzim bromelin, enzim papain juga biasa digunakan untuk melunakan
   daging. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan di atas, bahwa daging bisa
   menjadi lunak bila diberi remasan daun pepaya. Sama halnya dengan enzim
   bromelin, daging pada tabung reaksi yang disimpan dalam suhu dingin
   (lemari es) lebih keras dibandingkan dengan daging pada tabung reaksi yang
   diletakkan suhu kamar. Hal ini membuktikan bahwa perbedaan suhu dapat
   mempengaruhi kerja enzim. Idealnya kerja enzim akan baik apabila dilakukan
   pada suhu kamar dibandingkan dengan suhu dingin (lemari es) yang dapat
   menghambat kerja enzim.


G. Kesimpulan
       Dari percobaan enzim papain dan bromelin, bisa disimpulkan jika enzim
   papain dan bromelin berfungsi untuk melunakkan daging. Cara kerja enzim
   papain dan bromelin sangat dipengaruhi oleh suhu. Jika suhu terlalu dingin
   maka akan menghambat kerja enzim tersebut.


H. Daftar pustaka
   Gut Windarsih. 2009. Biologi untuk SMA/MA. Klaten: Intan Pariwara
   Tim MGMP. 2009. Modul Biologi. Cilacap: Depdiknas
   Kartika Christy Suryandari. 2012. Petunjuk Praktikum Konsep Dasar IPA
             3Program S1 PGSD. Kebumen: Universitas Sebelas Maret Surakarta.



4|Laporan Praktikum KD IP A 3
                                   KEGIATAN 2
              PEMBUATAN TAPE SINGKONG DAN TAPE KETAN


A. Tujuan
   Mengenal produk fermentasi tape singkong dan tape ketan


B. Landasan teori
       Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan
   anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk
   respirasi anaerobik , akan tetapi terdapat definisi yang lebih jelas yang
   mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik
   dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
       Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil
   fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa
   komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan
   aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi
   untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol
   lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras
   (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal) dapat dikategorikan sebagai
   bentuk fermentasi.
       Tape merupakan makanan fermentasi tradisional yang sudah tidak asing
   lagi. Tape dibuat dari beras ketan atau singkong. Bebeda dengan makanan-
   makanan fermentasi lain yang hanya melibatkan satu mikroorganisme yang
   berperan utama, seperti, tempe atau minuman beralkohol. Pembuatan tape
   melibatkan banyak mikroorganisme. Mikroorganisme yang terkandung di
   dalam ragi tape adalah kapang Amylomyces rouxil, Mucor sp., dan Rhizopus
   sp., khamir Saccharomyeopsis fibuligera, Saccharomyeopis malanga, Pichia
   burtonii, Saccharomyces cerevisiae, dan Candida utilis, serta bakteri
   Pediococcus sp. dan Bacillus sp. Kedua kelompok mikroorganisme tersebut
   bekerja sama dalam menghasilkan tape.



5|Laporan Praktikum KD IP A 3
          Reaksi kimia:


                     C6H12O6 → 2 C2H5OH + 2 CO2 + 2 ATP


          Tape membutuhkan amilosa, amilum dan karbohidrat kompleks dengan
   derajat keasaman (pH 5-6) serta suhu dan kadar air yang tepat. Fermentasi
   yang terjadi yaitu perubahan pati menjadi gula dan oleh ragi gula diubah
   menjadi alkohol, sehingga ketan/ singkong menjadi lunak, berair, manis dan
   berbau alkohol.


C. Alat dan bahan
   1. Singkong/ beras ketan
   2. Ragi tape
   3. Peralatan memasak
   4. Pembungkus


D. Langkah kerja
   Tape singkong:
     1. Menyiapkan semua peralatan yang digunakan dalam pembuatan tape
          dalam keadaan bersih dan kering
     2. Mengupas singkong kemudian dikerik agar lendirnya hilang
     3. Mencuci singkong yang telah dikupas kemudian mengukusnya
     4. Membiarkan singkong yang telah masak sampai dingin
     5. Menaburi singkong yang telah dingin dengan ragi tape
     6. Membungkusnya
     7. Memfermentasikan selama 2-3 hari di tempat yang teduh, tidak lembab
          dan tidak terkena sinar matahari langsung, selama proses fermentasi tape
          tidak boleh sering dibuka


   Tape ketan:
     1.    Menyiapkan alat dan bahan


6|Laporan Praktikum KD IP A 3
    2.   Membersihkan beras ketan
    3.   Merendam beras ketan selama 1 malam
    4.   Mengukus beras ketan
    5.   Membersihkan lagi beras ketan yang telah dikukus dengan air
    6.   Mengukus kembali beras ketan
    7.   Mendinginkan ketan yang telah matang
    8.   Menaburkan ragi tape secara merata
    9.   Mambungkus tape dengan daun yang sudah bersih
    10. Memfermentasikan selama 2-3 hari ditempat teduh, tidak lembab dan
         tidak terkena sinar matahari langsung


E. Hasil pengamatan


      JENIS           HARI SUHU          BAU       WARNA          TEKSTUR
      TAPE            KE-
      TAPE            1       Normal Singkong Putih               Keras
      SINGKONG
                      3       Hangat     Alkohol   Putih          Lunak
                                         (agak)    Kekuningan
      TAPE            1       Normal Ketan         Putih          Keras,
      KETAN                                                       Padat
                      3       Hangat     Tape      Putih Susu     Lunak,
                                                                  Agak
                                                                  Berair




              Tape Singkong                             Tape Ketan


7|Laporan Praktikum KD IP A 3
F.   Pembahasan
         Dari hasil pengamatan singkong dan ketan yang telah menjadi tape, dapat
     dilihat pada tabel bahwa tape singkong memiliki tekstur lunak, warna putih
     kekuningan dan berbau alkohol sedangkan tape ketan memiliki tekstur lunak,
     agak berair, warna putih susu, dan berbau tape. Sebelum terjadi fermentasi,
     beras ketan masih berbentuk seperti beras pada umumnya, begitu juga dengan
     singkong. Namun, setelah proses fermentasi ketan dan singkong akan
     mengalami perubahan bentuk dan menghasilkan air yang mengandung
     alkohol serta menimbulkan rasa manis keasaman. Hal ini disebabkan karena
     singkong dan ketan yang dibubuhi ragi yang merupakan mikroorganisme
     yang berfungsi mengubah glukosa menjadi alkohol dan menghasilkan air.
         Menurut winarso (1984) makanan yang mengalami fermentasi biasanya
     mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dari bahan asalnya. Maka dari itu
     setelah melewati proses fermentasi singkong dan ketan yang berubah menjadi
     tape akan memiliki nilai gizi yang lebih tinggi dari bentuk aslinya. Hal ini
     diesbabkan oleh aktivitas mikroba yang memecah komponen kompleks
     menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga kandungannya lebih mudah
     dicerna. Selain itu, mikroba juga dapat mensintesa bebrapa vitamin dan
     faktor-faktor pertumbuhan badan lainnya, misalnya Riboflavin, vitamin B12,
     serta provitamin A.
         Tape singkong dan ketan hanya bertahan selama 2-3 hari bila diletakkan
     pada suhu kamar. Apabila lebih dari 3 hari, maka kadar alkohol dalam tape
     akan berubah menjadi khamir dan berbau alkohol. Pembubuhan ragi yang
     terlalu banyak juga dapat mengakibatkan fermentasi gagal.


G. Kesimpulan
         Pada tape, fermentasi yang terjadi membutuhkan waktu 2-3 hari. Selain
     itu perlu diperhatikan hal-hal yang mempengaruhi agar fermentasi
     berlangsung secara sempurna, seperti peralatan/ alat dan bahan harus steril



8|Laporan Praktikum KD IP A 3
   (bersih), menggunakan ragi yang berkualitas dan membubuhkan ragi dengan
   perbandinagan yang tepat.


H. Daftar Pustaka
   Kartika Christy Suryandari. 2012. Petunjuk Praktikum Konsep Dasar IPA
          3Program S1 PGSD. Kebumen: Universitas Sebelas Maret Surakarta.
   Winarno. 1984. Kandungan Gizi pada Produk Fermentasi. Bandung: Tekno
          Pangan




9|Laporan Praktikum KD IP A 3
                                    KEGIATAN 3
   PEMBUATAN TEMPE KEDELAI, TEMPE BENGUK, TEMPE KORO DAN
                                  TEMPE GEMBUS


A. Tujuan
    Mengenal produk fermentasi tempe kedelai, tempe benguk, tempe koro, dan
    tempe gembus


B. Landasan teori
         Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan
    anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk
    respirasi anaerobik , akan tetapi terdapat definisi yang lebih jelas yang
    mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik
    dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Contoh produk fermentasi yaitu
    tempe.
         Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai
    atau beberapa bahan lain yang mengggunakan beberapa jenis kapang
    Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer
    (kapang roti), atau Rhizopus arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum
    dikenal sebagai "ragi tempe”.
         Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi.
    Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti
    antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit
    degeneratif.
         Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam
    pembuatan tempe (Soetrisno, 1996). Menurut Purwoko dan Pramudyanti
    (2004) bahwa jamur Rhizopus oryzae aman dikonsumsi karena tidak
    menghasilkan toksin dan mampu menghasilkan asam laktat. Jamur Rhizopus
    oryzae juga mempunyai kemampuan mengurangi lemak kompleks menjadi
    trigliserida dan asam amino.



10 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
C. Alat dan bahan
    1. Kacang kedelai
    2. Biji kara benguk
    3. Ampas tahu
    4. Ragi tempe
    5. Peralatan memasak
    6. Pembungkus


D. Langkah kerja
    Tempe kedelai
      1. Menyiapkan semua peralatan yang digunakan dalam pembuatan tempe
         kedelai dalam keadaan bersih dan kering
      2. Merendam kacang kedelai dalam 1 malam agar mengembang sempurna
      3. Merebus kedelai, kemudian kulit arinya dikupas, dicuci sampai bersih
      4. Kedelai yang bersih dibiarkan sampai dingin
      5. Kedelai siap ditaburi ragi tempe
      6. Membungkus kedelai dengan plastik dan rekatkan plastik dengan api lilin
         agar benar-benar tertutup rapat


    Tempe benguk
      1. Menyiapkan semua peralatan yang digunakan dalam pembuatan tempe
         dalam keadaan bersih dan kering
      2. Biji kara harus direndam ± 1 malam agar mengembang sempurna
      3. Biji kara direbus, kemudian kulitnya dikupas ssampai bersih
      4. Biji kara siap ditaburi ragi tempe
      5. Mengaduk biji kara dengan ragi sampai merata
      6. Memasukkan biji kara ke dalam plastik/daun sesuai dengan ukuran yang
         diinginkan




11 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
    Tempe gembus
      1. Menyiapkan semua peralatan yang digunakan dalam pembuatan tempe
         dalam keadaan bersih dan kering
      2. Mencuci ampas tahu sambil diremas-remas hingga bersih
      3. Mengukus ampas tahu yang sudah bersih selama 15 menit, kemudian
         dinginkan
      4. Setelah dingin, mencampuri ampas tahu dengan ragi tempe
      5. Masukkan ampas tahu tersebut ke dalam plastik kemudian direkatkan
         menggunakan api lilin agar tertutup rapat. Kemudian dilubangi sedikit
         menggunakan garpu
      6. Memfermentasikan selama 2-3 hari


E. Hasil pengamatan


     JENIS        HARI      SUHU          BAU      WARNA         TEKSTUR
    TEMPE          KE-
  KEDELAI            1     Normal       Kedelai    Kuning          Renggang
                     3     Hangat        Tempe      Putih           Rapat,
                                                                    Padat,
                                                                    Empuk
    KORO             1     Normal        Langu     Coklat          Renggang
                                          Koro     kuning
                     3     Hangat        Tempe      Putih           Rapat,
                                         (agak                      Padat,
                                         langu)                     Empuk
   BENGUK            1     Normal       Benguk     Cokelat         Renggang
                     3     Hangat        Tempe      Putih           Rapat,
                                                                    Padat,
                                                                    Empuk




12 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
     GEMBUS           1    Normal         Ampas             Putih     Renggang
                                          Tahu          Kecokelatan
                      3    Hangat         Tempe             Putih       Rapat,
                                                                        Padat,
                                                                        Empuk




                                                    Ampas tahu




      Tempe Kedelai        Tempe Benguk            Tempe Gembus       Tempe Koro



F.   Pembahasan
          Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam
     pembuatan tempe (Soetrisno, 1996). Dari hasil pengamatan, pada hari ketiga
     semua tempe baik tempe kedelai, tempe koro, tempe benguk dan tempe
     gembus mengalami perubahan warna, dari warna asal menjadi putih. Warna
     putih pada tempe disebabkan adanya misilia jamur yang tumbuh pada
     permukaan kedelai, koro, benguk dan gembus. Banyak jamur yang aktif
     selama proses fermentasi, tetapi jamur Rhizopus oryzae lebih mendominan
     dalam proses pembuatan tempe.
          Apabila waktu fermentasi semakin lama, maka fermentasi kedelai, koro,
     benguk dan ampas tahu akan semakin busuk serta tekstur akan semakin
     lembek dan warnanya menjadi coklat, busuk. Penggunaan bahan dan alat
     yang kurang berkualitas dan kurang steril, akan berdampak pada pembuatan
     tempe yang gagal. Waktu fermentasi juga mempengaruhi, proses fermentasi



13 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
    yang baik berkisar 2-3 hari, jika lebih dari itu maka fermentasi dikatakan
    gagal.


G. Kesimpulan
    Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pembutan tempe:
      1. Suhu
      2. Banyaknya ragi, semakin banyak ragi yang diberikan maka tempe akan
         cepat jadi
      3. Kesterilan, baik pada alat maupun bahan yang dipakai


H. Daftar Pustaka
    Purwoko      dan    Pamudyanti.     2004.      Fermentasi   Tempe.diunduh   dari
             http://anakpintar.blogspot.com/ pada tanggal 24 Maret 2012
    Soetrisno. 1996. Pengaruh Jamur pada Pembuatan Tempe. Diunduh dari
             http://anakbiologi.blogspot.com/ pada tanggal 24 Maret 2012
    Kartika Christy Suryandari. 2012. Petunjuk Praktikum Konsep Dasar IPA
             3Program S1 PGSD. Kebumen: Universitas Sebelas Maret Surakarta




14 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
                                    KEGIATAN 4
PEMBUATAN NATA DE COCO, NATA DE LERI, NATA DE CASSAVA DAN
                                 NATA DE KATUL


A. Tujuan
    Mengenal produk fermentasi nata de coco, nata de leri, nata de cassava dan
    nata de katul


B. Landasan teori
         Fermentasi merupakan proses peruraian senyawa kimia komplek menjadi
    senyawa lebih sederhana oleh aktivitas enzimatis jasad renik dalam kondisi
    anaerob.    Sebenarnya,     proses    fermentasi   merupakan   peruraan   gula
    (karbohidrat) dengan hasil alkohol dan CO2. Berdasarkan ada dan tidaknya
    alkohol dalam produk, fermentas dibedakan menjadi dua, yaitu fermentasi
    alkohol dan fermntasi nonalkohol.
         Nata adalah kmpulan sel bakteri selulosa yang mempunyai tekstur
    kenyal, putih, menyerupai gel dan terapng pada permukaan cairan (nata tidak
    akan tumbuh di dalam cairan). Mikroba yang aktif dalam pembuatan nata
    adalah bakteri pembentuk asam asetat yaitu Acetobacter xylinum. Mikroba ini
    dapat meubah gula menjadi selulsa. Jaringan slulosa inilah yang membuat
    nata terlihat putih. Nilawati et al. (1997) menyatakan bahwa kandungan
    nutrisi yang tersedia dalam medium seperti karbohidrat, protein, lemak abu
    dan vitamin B kompleks lainnya mempengaruhi pembentukan selulosa oleh
    Acetobacter xylinum.
         Beberapa bahan yang dapat diolah menjadi nata (selulosa bakteri) adalah
    kelapa, katul, leri dan cassava. Semua bahan tersebut dapat diolah menjadi
    produk nata, dan untuk kontrolnya adalah kelapa.
         Kualitas nata yang baik apabila bahan baku memenuh standar kualitas
    bahan nata, dan proses dikendalikan dengan cara yang benar berdasarkan




15 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
    faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas Acetobacter xylinum
    yang digunakan.


C. Alat dan bahan
    Alat:
      1. Botol untuk menampung air kelapa, leri, katul, cassava
      2. Gayung ukuran/ gelas ukur
      3. Torong
      4. Saringan
      5. Alat untuk masak (kompor,panci)
      6. Nampan plastik ukuran mnimal 22x29cm
      7. Kertas koran, karet kolor atau karet gelang
      8. Botol sirup bening tempat membuat stater (bibit)


    Bahan:
      1. Air kelapa
      2. Air leri sampai bilasan ketiga
      3. Air sari pati singkong
      4. Air katul
      5. Gula pasir sebagai sumber karbon
      6. Amonium sulfat (ZA) sebagai sumber protein
      7. Asam asetat glacial (air cuka murni kadar 98,8%) atau cuka makan
      8. Stater (bibit)


D. Langkah kerja
    Nata de coco
      1.    Menyiapkan alat dan bahan
      2.    Menyaring air kelapa dengan penyaring agar bersih dari sabut kelapa
            dan pecahan kelapa
      3.    Memasukkan air kelapa ke dalam botol, mendiamkan selama 5 hari



16 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
      4.   Setelah 5 hari, merebus air kelapa sampai mendidih, selama merebus
           dengan menambahkan:


            ZA 1 sendok makan untuk 3 liter air kelapa
            Gula pasir 1 sendok makan untuk 3 liter air kelapa, buih yang timbul
              dibuang
            Memindahkan panci
      5.   Menuang ke dalam nampan sebanyak 1 liter dalam keadaan panas
      6.   Menutup dengan koran dan mengikat dengan karet gelang
      7.   Mendinginkan minimal 3 jam
      8.   Meninokulasi dengan starter (bibit) 100-150 cc (1 botol bibt untuk 4-5
           nampan)
      9.   Memfermentasikan (memeram) selama 8 hari (selama fermentasi tidak
           boleh dibuka)
      10. Pada umr 8 hari nata siap dipanen
      11. Nata yang berupa lembaran diiris kurang lebih 1 cm, kemudian direbus
           sampai mendidih 5 menit, kemudian dicuci
      12. Nata siap untuk dikonsumsi sebagai campuran makanan atau sirup


    Nata de leri
      1.   Menyaring air leri dengan saringan agar bersih dari kotoran
      2.   Merebus sampai mendidih, buh yang muncul dibuang, mendinginkan
           sampai dingin
      3.   Merebus kembali sampai mendidih ±15 menit, jika muncl buih dibuang
           dengan sendok, selama perebusan ditambahkan:
            ZA sebanyak 1 sendok makan untuk 3 liter air leri
            Gula pasir 1 sendok makan untuk 3 liter air leri
            Tambahkan cuka murni 1cc untuk 2 litr air leri atau 1 botol cuka
              makan untuk 1 liter air leri
      4.   Menuangkan ke dalam nampan sebanyak 1 liter dalam keadaan panas.
           Nampan yang akan digunakan dibersihkan lebih dulu dan didesinfeksi/


17 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
           disentralisasi dengan spirtus/ alkohol 70% air panas/ dijemur di bawah
           terik matahari hingga kering
      5.   Menutup nampan pakai koran dan mengikat dengan karet gelang
      6.   Mendinginkan selama 3 jam
      7.   Meninokulasi dengan starter (bibit) 200-300 cc (1 botol bibit untuk 3-4
           nampan) dengan cara membuka sedikit penutup koran, kemudian segera
           menutupnya kembali
      8.   Memfermentasikan selama 8 hari, nata siap dipanen


    Nata de cassava
      1.   Menyaring air sari pati singkong dengan saringan agar bersih dari
           kotoran
      2.   Merebus sampai mendidih, buih yang muncul dibuang, mendinginkan
           sampai dingin
      3.   Merebus sampai mendidih ±15 menit, jika muncul buih dibuang dengan
           sendok, selama perebusan ditambahkan:
            ZA sebanyak 1 sendok makan untuk 3 liter air sari pati singkong
            Gula pasir 1 sendok makan untuk 3 liter air sari pati singkong
            Tambahkan cuka murni 1cc untuk 2 liter air sari pati singkong atau 1
              botol cuka makan untuk 1 liter air sari pati singkong
      4.   Menuangkan ke dalam nampan sebanyak 1 liter dalam keadaan panas.
           Nampan yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dan
           didesinfeksi/ disentralisasi dengan spirtus/ alkohol 70% air panas/
           dijemur di bawah terik matahari hingga kering
      5.   Menutup nampan pakai koran dan mengikat dengan karet gelang
      6.   Mendinginkan selama 3 jam
      7.   Meninokulasi dengan starter (bibit) 200-300 cc (1 botol untuk 3-4
           nampan) dengan cara membuka sedikit penutup koran, kemudian segera
           menutupnya kembali
      8.   Memfermentasikan (memeram) 8 hari, nata siap dipanen




18 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
    Nata de katul
      1.   Menyaring air katul dengan saringan agar bersih dari kotoran
      2.   Merebus sampai mendidih, buih yang muncul dibuang, mendinginkan
           sampai dingin
      3.   Merebus sampai mendidih ±15 menit, jika muncul buih dibuang dengan
           sendok, selama perebusan ditambahkan:
            ZA sebanyak 1 sendok makan untuk 3 liter air katul
            Gula pasir 1 sendok makan untuk 3 liter air katul
            Tambahkan cuka murni 1cc untuk 2 liter air katul atau 1 botol cuka
              makan untuk 1 liter air katul
      4.   Menuangkan ke dalam nampan sebanyak 1 liter dalam keadaan panas.
           Nampan yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dan
           didesinfeksi/ disentralisasi dengan spirtus/ alkohol 70% air panas/
           dijemur di bawah terik matahari hingga kering
      5.   Menutup nampan pakai koran dan mengikat dengan karet gelang
      6.   Mendinginkan selama 3 jam
      7.   Meninokulasi dengan starter (bibit) 200-300 cc (1 botol untuk 3-4
           nampan) dengan cara membuka sedikit penutup koran, kemudian segera
           menutupnya kembali
      8.   Memfermentasikan (memeram) 8 hari, nata siap dipanen


E. Hasil Pengamatan

  JENIS        HARI      BAU      WARNA            TEKSTUR          TEBAL    KET.
  NATA         KE-
  DE…
  COCO         1         Air      Putih Keruh      Encer            0,8 cm
                         Kelapa
               8         Asam     Putih            Padat (Kenyal)   1 cm
  KATUL        1         Katul    Putih Kusam      Encer            0,2 cm
               8         Agak     Putih            Padat (Kenyal)   0,5 cm
                         Asam     Kekuningan




19 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
     LERI        1        Air      Kekuningan      Encer            0,2 cm
                          Leri
                 8        Busuk    Putih           Encer            0,2 cm   Gagal
                                   Kekuningan
     CASSAVA     1        Asam     Putih           Cair             0,5 cm
                                   Kekuningan
                 8        Asam     Putih           Padat (Kenyal)   0,2 cm




                                    Nata de coco

F.    Pembahasan
            Pada percobaan pembuatan nata de cassava, nata de katul, nat de leri dan
      nata de coco yang telah dilakukan sudah berhasil kecuali percobaan nata de
      leri. Nata yang berhasil dibuat mempunyai ketebalan dan tekstur yang
      berbeda-beda. Ini disebabkan oleh ketersediaan nutrien yang terkandung pada
      tiap-tiap medium. Ketersediaan nutrien yang cukup pada medium
      menyebabkan bakteri mampu melakukan metabolisme dan reproduksi yang
      cukup tinggi , sehingga produk metabolismenya pun semakin banyak.
      Monomer-monomer selulosa hasil sekresi Acetobacter xylinum terus
      berikatan satu dengan yang lainnya membentuk lapisan-lapisan yang terus
      menerus menebal seiring dengan berlangsungnya metabolisme Acetobacter
      xylinum. Semakin banyak hasil sekresi Acetobacter xylinum, maka semakin
      tebal pula selulosa yang dihasilkan dari proses fermentasi. Hal ini sesuai
      dengan pendapat Nilawati et al. (1997) yang menyatakan bahwa kandungan
      nutrisi yang tersedia dalam medium seperti karbohidrat, protein, lemak abu
      dan vitamin B kompleks lainnya mempengaruhi pembentukan selulosa oleh
      Acetobacter xylinum.


20 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
         Dari tabel hasil pengamatan dapat dilihat bahwa nata de coco sebagai
    kontrol menunjukkan hasil terbaik, yaitu ditandai dengan bau yang asam,
    tekstur padat kenyal dan memiliki ketebalan yang paling besar dibandingkan
    dengan nata yang lain. Untuk hasil baik selanjutnya disandang oleh nata de
    katul yang mempunyai ketebalan berkisar 0,5 cm. Kemudian hasil yang
    cukup baik adalah nata de cassava, dapat dilihat dari nata de cassava yang
    mempunyai ketebalan paling tipis, hanya 0,2 cm. Tebal tipisnya nata
    dipengaruhi oleh banyak sedikitnya nutrien yang terkandung. Dari hasil
    pengamatan, terlihat bahwa nata de coco mengandung paling banyak nutrien,
    sedangkan nata de cassava mengandung sedikit nutrien.
         Dan untuk percobaan nata de leri yang mengalami kegagalan, hal ini
    mungkin dipicu oleh beberapa faktor diantaranya penggunaan alatyang
    kurang steril, bahan baku yang kurang memenuhi standar kualitas serta proses
    pembuatan yang kurang benar sehingga mempengaruhi faktor pertumbuhan
    dan aktivitas Acetobacter xylinum yang digunakan.


G. Kesimpulan
      1. Fermentasi adalah penguraian senyawa kompleks menjadi senyawa
         sederhana
      2. Semua bahan yang mengandung karbohidrat dapat dibuat nata
      3. Tebal tipisnya produk nata dipengaruhi oleh kandungan nutrien pada
         medium yang digunakan


H. Daftar Pustaka
    Nilawati,dkk. 1997. Pengaruh Lama penyimpanan Limbah cair Tahu dan
         Konsentrasi Asam Asetat Terhadap Mutu Nata De Soya. Buletin HPI
         Balai Industri Banda Aceh. Vol X: 01-02
    Kartika Christy Suryandari. 2012. Petunjuk Praktikum Konsep Dasar IPA
           3Program S1 PGSD. Kebumen: Universitas Sebelas Maret Surakarta.




21 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
                                   KEGIATAN 5
                      PEMBUATAN PUPUK BOKASHI
      ( BAHAN ORGANIK KAYA AKAN SUMBER HAYATI )


A. Tujuan
    1. Mengetahui produk fermentasi
    2. Mengetahui cara pembuatan pupuk bokashi (bahan organic kaya akan
       sumber hayati).


B. Landasan teori
         Bokashi adalah hasil fermentasi bahan-bahan organik seperti sekam,
    serbuk gergajian, jerami, kotoran hewan dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut
    difermentasikan      dengan       bantuan
    mikroorganisme        aktivator     yang
    mempercepat        proses     fermentasi.
    Campuran       mikroorganisme       yang
    digunakan       untuk       mempercepat
    fermentasi dikenal sebagai effective
    microorganism      (EM).    Penggunaan
    EM tidak hanya mempercepat proses fermentasi tetapi juga menekan bau
    yang biasanya muncul pada proses penguraian bahan organik.
         Di Jepang, bokashi telah digunakan sejak tahun 80-an. Banyak petani di
    negeri sakura memilih bokashi untuk lahan pertaniannya dikarenakan bokashi
    dapat memperbaiki struktur tanah yang sebagian besar telah menjadi keras
    akibat penggunaan pupuk kimia terus-menerus.
         Tingginya harga pupuk kimia buatan dan kelangkaan pupuk di sejumlah
    wilayah saat ini sangat meresahkan para petani. Sejumlah petani di beberapa
    daerah bahkan telah mulai melirik jenis pupuk lain sebagai pengganti pupuk
    kimia buatan yang biasa digunakan. Salah satu jenis pupuk yang dapat
    menggantikan kehadiran pupuk kimia buatan adalah bokashi.



22 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
         Bokashi juga terbukti meningkatkan kesuburan serta produktifitas
    tanaman meski efek ini baru dapat dirasakan setelah bertahun-tahun
    penggunaan. Hal tersebut sangat wajar karena pupuk alami semacam bokashi
    biasanya memang mengandung unsur hara dalam dosis kecil, namun lengkap
    unsur makro dan mikronya. Semua bahan organik yang akan difermentasi
    oleh mikroorganisme frmentasi dalam kondisi semi anaerobik pada suhu 40-
    500 C. Hasil fermentasi bahan organik berupa senyawa organik mudah
    diserap oleh perakaran tanaman.
         (http://www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak_pandeglang/art
    ikel_12.htm)
         Belum diketahui dengan jelas mengapa petani di Indonesia enggan
    menggunakan bokashi. Padahal bila mau, bahan baku bokashi tersedia
    melimpah dan bahkan seringkali dianggap sebagai limbah sehingga kerap
    dihargai sangat murah.


C. Alat dan bahan
      1. Jerami sebanyak 2 kg yang telah dipotong-potong sehingga jerami
         berukuran 5-10 cm.
      2. Dedak sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 2 kg.
      3. EM4 sebanyak seperempat sendok makan
      4. Pupuk kandang
      5. Karung goni
      6. Molases atau gula sebanyak seperempat sendok makan
      7. Air secukupnya


D. Langkah kerja
      1. Membuat larutan dari EM4, molasses atau gula dan air dengan
         perbandingan 1ml : 1ml: 1 liter air
      2. Bahan jerami, sekam, dedak, pupuk kandang dicampur merata di atas
         lantai yang kering



23 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
      3. Selanjutnya bahan disiram larutan
         EM4 secar perlahan-lahan dan
         bertahap      sehingga      terbentuk
         adonan. Adonan yang terbentuk
         jika dikepal dengan tangan maka
         tidak ada air yang keluar dari
         daonan. Begitu pula jika kepalan
         dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar
         30%)
      4. Adonan        selanjutnya      dibuat
         gundukan       setinggi     15-20cm.
         gundukan      selanjutnya     ditutup
         denga menggunakan karung goni
         selama 3-4 hari. Selam proses,
         suhu bahan dipertahankan 40-
         500C. Jika suhu bahan melebihi
         500C , maka karung penutup
         dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selajutnya gundukan ditutup
         kembali
      5. Setelah 4-7 hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan
         berhasil jika bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya
         adalah bokashi akan ditumbuhi jamur berwarna putih dan aromanya
         sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang berbau busuk, maka
         pembuatan bokashi dikatakan gagal


E. Hasil pengamatan

     HARI       SUHU                   BAU            KADAR       WARNA

       KE-                                              AIR

     1          Normal      Agak Asam               Sedikit       Cokelat




24 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
                            Jerami+Kotoran Sapi                     muda

      7        Hangat       Sedap                     Agak          Cokelat

                                                      Banyak




              Langkah Pertama                           Hasil


F.   Pembahasan
          Berdasarkan tabel hasil pengamatan, pupuk bokashi dapat dikatakan
     berhasil karena tidak timbul bau busuk. Baunya sedap, bersuhu hangat, dan
     mengandung air yang agak banyak dari sebelumnya, serta warna yang
     dihasilkan yaitu cokelat. Pupuk bokashi tersebut dapat digunakan untuk
     melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan
     pertanian dan sangat sesuai apabila diaplikasikan pada lahan persawahan.


G. Kesimpulan
          Pupuk bokashi merupakan pupuk kompos yang memanfaatkan bahan-
     bahan organik dari alam dengan proses fermentasi dan ramah terhadap
     lingkungan. Pupuk bokashi adalah cara cepat menghasilkan pupuk organik
     dengan waktu relatif singkat apabila menggunakan bantuan teknologi EM4.


H. Daftar pustaka
     Widyanti Yuliandari. 2012. Cara Pembuatan Pupuk Organik Bokashi.
            Diunduh                                                             dari



25 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
            http://green.kompasiana.com/penghijauan/2012/04/11/cara-
            pembuatan-pupuk-organik-bokashi-453507.html. pada tanggal 18
            April 2013.
    Bapelluh.    2013.    Cara     Pembuatan       Pupuk   bokashi.   Diunduh   dari
            http://epetani.deptan.go.id/pupuk/cara-pembuatan-pupuk-bokashi-
            7721 . Pada tanggal 21 April 2013.
    Kartika Christy Suryandari. 2012. Petunjuk Praktikum Konsep Dasar IPA
            3Program S1 PGSD. Kebumen: Universitas Sebelas Maret Surakarta.




26 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
                                  KEGIATAN 6
         PEMBUATAN EMRAS ( EM4 DENGAN AIR BERAS )


A. Tujuan
    Mengetahui cara pembuatan EMRAS (EM4 dengan air beras)


B. Landasan teori
         Banyak cara untuk membuat "mikroba efektif" untuk mempercepat
    proses pembuatan kompos. Salah satu di antaranya adalah yang kami tulis di
    bawah ini. Pengalaman teman-teman kami membuat EM4 dengan isi usus
    binatang telah menimbulkan bau yang kurang sedap sehingga kami memilih
    jalan pembuatan yang sifatnya vegetarian, dari bahan-bahan tanaman yang
    mudah dan cepat busuk.
         Penemuan yang sangat berharga untuk pertanian mandiri ini, -- awalnya
    adalah orang Jepang, bernama Teruo Higa pada tahun 1970 -- kini telah
    banyak diterapkan oleh para petani modern. Tapi masih banyak pula yang
    belum melakukannya karena lebih percaya pada pupuk kimia yang dirasa
    "lebih praktis" tapi sesungguhnya tidak sehat baik untuk tanah, tanaman
    maupun untuk kita manusia.
         Selain digunakan untuk pembuatan bokashi, EM4 dapat digunakan
    sebagai pestisida seperti EM5, super EM5, EMRAS dan pestisida alami dari
    ekstrak tanaman. EM5 digunakan sebagai pestisida untuk penanggulagan
    hama dan penyakit tahap awal. Sedangkan Super EM5 digunakan untuk
    menanggulangi hama dan penyakit pada tahap kronis.


C. Alat dan bahan
      1. Air beras sebanyak 1liter
      2. Molasses/gula sebanyak 10 ml
      3. EM4 sebanyak 10 ml (2 sdm)
      4. Wadah/ ember



27 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
D. Langkah kerja
         1. Mencampur semua bahan
         2. Membiarkan selama dua hari
         3. EMRAS kemudian dapat diaplikasikan. Namun, EMRAS harus sudah
           habis diaplikasikan pada hari ketiga (satu hari setelah proses pembuatan
           selesai). Selain sebagai pestisida, EMRAS dapat digunakan sebagai
           pupuk.


E. Hasil pengamatan

     HARI         SUHU      BAU            KADAR           WARNA

     KE-                                   AIR

     1            250       Tidak          98%             Putih

                            Berbau

     7            250       Menyengat      98%             Putih Kekuningan


F.   Pembahasan
           EMRAS merupakan pupuk pestisida
     yang terbuat dari campuran EM4 dengan air
     cucian beras (leri) dan dicampur sedikit gula.
           Dari     hasil   percobaan   yang       telah
     dilakukan dan jika dilihat dari tabel hasil
                                                       emras
     pengamatan diatas, maka dapat kita ketahui bahwa pada hasil EMRAS
     tersebut tidak ditemukan perbedaan yang cukup signifikan dari hari pertama
     hingga hari ketujuh, yang terlihat perbedaan mencoloknya hanya pada
     perubahan warna yaitu dari warna putih menjadi warna putih kekuningan, dan
     baunya yang lebih menyengat. Sementara suhu dan kadar airnya tetap.




28 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3
G. Kesimpulan
         EMRAS merupakan pupuk pestisida yang terbuat dari campuran EM4
    dengan air cucian beras (leri) dan dicampur sedikit gula. EMRAS merupakan
    pestisida alami yang dapat digunakan dengan waktu yang relative singkat
    (sangat terbatas). EMRAS selain digunakan sebagai pestisida alami juga
    dapat digunakn sebagai pupuk.


H. Daftar pustaka
    Anonim.       2008.    Pupuk      Cair     2   EM4.   Diunduh   dari   http
            ://sekolahpetani.blogspot.com/2008/06/pupuk-cair-2-em4.html    Pada
            tanggal 21 April 2013
    Kartika Christy Suryandari. 2012. Petunjuk Praktikum Konsep Dasar IPA
            3Program S1 PGSD. Kebumen: Universitas Sebelas Maret Surakarta.




29 | L a p o r a n P r a k t i k u m K D I P A 3

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/19/2013
language:Unknown
pages:29
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com