Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

KEBUTUHAN MOBILITAS DAN IMOBILITAS

VIEWS: 0 PAGES: 57

									KEBUTUHAN MOBILITAS DAN
IMOBILITAS
    Disampaikan oleh:

  Podo Yuwono, S.kep.Ns
      NBM: 954873
KONSEP DASAR TENTANG MOBILITAS
• Mobilitas adl kemampuan seseorang untuk
  bergerak secara bebas, mudah, teratur dan
  mempunyai tujuan dalam rangka pemenuhan
  kebutuhan hidup sehat

       • Hal penting untuk kemandirian
Status mobilitas mempunyai kesehatan
mental & efektifitas fisik tubuh:
•   Harga diri dan body image
•   Sistem tubuh; aktifitas yang teratur
•   Meningkatkan kesehatan
•   Mencegah ketidakmampuan
•   Memperlambat serangan penyakit degeneratif
Faktor yg mempengaruhi Mobilitas
1.   Gaya Hidup
2.   Ketidakmampuan
3.   Tingkat energi
4.   Usia
1. Gaya hidup
  • Belajar tentang nilai dari aktifitas lingkungan
             keluarga & lingkungan di luar rumah
     • Pengaruh faktor budaya terhadap aktifitas
2. Ketidakmampuan
• Kelemahan fisik & mental yg menghalangi
  seseorang untuk melaksanakan aktifitas
  kehidupan
 Ketidakmampuan             Ketidakmampuan
 primer                     Sekunder

 Disebabkan                 Dampak akibat ketidak
 langsung karena            Mampuan primer
 penyakit trauma.           Contoh
                            Kelemahan otot, bed
 Contoh :
                            sores
 Paralisis o/k injury
 Spinal cord
3. Tingkat Energi
• Bervariasi antara individu
• Seseorang menghindar dari stressor untuk
  mempertahankan kesehatan fisik dan psikologis
4. Usia
• Usia mempengaruhi tingkat aktifitas dikaitkan
  dengan tingkat perkembangan dari sejak lahir
  sampai dengan usia lanjut
KONSEP DASAR TENTANG IMOBILITAS
3 Alasan dari Imobilitas
  1. Pembatasan gerak yang sifatnya terapeutik
  2. Pembatasan yang tidak dapat dihindari karena
     ketidakmampuan primer
  3. Pembatasan secara otomatis sampai dengan
     gaya hidup
Tingkat Imobilitas
• Bervariasi
 ▫ Komplit : pada pasien tidak sadar
 ▫ Parsial : pada pasien fraktur kaki
 ▫ Pembatasan aktifitas karena alasan kesehatan;
   klien sesak nafas tidak boleh naik tangga.
• Bedrest
 ▫ Bedrest Total
    Klien tidak boleh bergerak dari tempat tidur & tidak
     boleh pergi ke kamar mandi atau duduk di kursi.

 ▫ Bedrest
    Klien istirahat di tempat tidur kecuali ketika ia pergi
     kemar mandi
Keuntungan dari bedrest
• Mengurangi kebutuhan sel tubuh terhadap O2
• Menyalurkan sumber energi untuk proses
  penyembuhan
• Mengurangi nyeri
Klien dengan Resiko
Faktor yg meningkatkan resiko terhadap masalah sampai
  dg imobilitas
• Imobilisasi pada area tubuh yg luas
• Riwayat imobilitas pada waktu yg lama
• Imobilitas pada klien dg lanjut usia
• Klien yg mengalami nyeri atau spasme otot
• Menurunnya sensitivitas klien terhadap temperatur
  nyeri dan tekanan
• Klien dengan masalah nutrisi
• Klien tidak dapat belajar bgmn cara mencegah masalah
• Klien dg imobilitas pd salah satu sisi kiri tubuh dlm
  waktu yg lama
Respon Fisiologis terhadap Imobilitas
Perubahan
1. Muskuloskeletal
•   Kekuatan otot menurun
•   Penurunan masa otot/atropi; jika tidak
    berkontraksi
•   Disuse osteoporosis; akibat menurunya
    aktifitas otot dan gangguan endokrine
•   Contracture
• Atropi otot, menurunnya kekuatan otot &
  keterbatasan daya tahan

• Mengganggu koordinasi pada ekstremitas
  atas dan bawah

• Membatasi kemampuan klien untuk
  melaksanakan aktifitas sehari-hari.
• Mengganggu keseimbangan & kemampuan
  berdiri dan berjalan
2. Cardiovaskuler
• Beban kerja jantung naik, heart rate, CO dan
  stroke volume naik
• Resiko pembentukan trombus naik
• Hipotensi ortostatic (postural) refleks neurologis
  menurun > vasokontriksi > darah terkumpul
  pada vena bagian bawah tubuh > aliran darah ke
  sistem sirkulasi pusat terhambat.
3. Respiratory
• Ventilasi paru terganggu
 ▫ Pergerakan dada dan ekspansi paru terbatas;
   pernafasan dangkal
• Aliran darah ke paru-paru terganggu;
  pertukaran gas menurun
 ▫ Lemahnya oksigenasi & retensi CO2 dalam darah:
   asidosis respiratory.
• Sekresi mukus lebih kental & menempel
  sepanjang tract respiratory
 ▫ Kelemahan otot thorax, ketidakmampuan inhalasi
   max. gerakan ciliary menurun > mekanisme batuk
   terganggu > mukus menjadi statis > media
   berkembangnya bakteri: infeksi tract respiratory
   bagian tubuh.
4. Metabolik & Nutrisi
• BMR turun: kebutuhan energi dari tubuh,
  motilitas gastrointestinal & sekresi kelenjar
  digestive menurun
• Ketidakseimbangan proses anabolisme dan
  katabolisme > nitrogen dieksresikan secara
  berlebihan > negative nitrogen balance.
• Anoreksia ; intake kalori-kalori protein rendah >
  malnutrisi.
5. Urinay
• Pengaruh gaya gravitasi kecil > menghalangi
  pengosongan urine di ginjal & kandung kemih
  secara komplit > urinary statis > media
  berkembangnya bakteri infeksi traktus urinary
• Retensi urinary, distensi kandung kemih,
  incontinence
• Resiko terjadi :Renal Calculi karena kenaikan
  tingkat kalsium dalam urine > urin tertumpuk di
  ginjal & tertumpuk di kandung kemih
6. Eliminasi Fecal
• Motilitas kolon & peristaltik turun; sphincter
  kontriksi : konstipasi
• Kelemahan otot skeletal akan mempengaruhi
  otot abdomen & perineal yg digunakan untuk
  defekasi
• Penggunaan bedpan tidak memfasilitasi
  eliminasi
7. Integumen
• Elastisitas kulit turun
• Ischemia & nekrosis jaringan superfisial : luka
  dekubitus
8. Neurosensory
• Ketidakmampuan merubah posisi hambatan
  dalam input sensory perasaan lelah, iritable,
  persepsi tidak realistik, bingung
9.   Respon Psikososial Terhadap Imobilitas;
     Perubahan sosial, emosional, intelektual
• Menurunnya input sensory & lingkungan baru
  pengalaman menakutkan & mencemaskan
• Perubahan dalam konsep diri & persepsi peran
  terjadi jika individu menyadari ketergantungan.
• Perasaan tidak berharga, tidak berdaya,
  kesepian diekspresikan dengan hostilitas,
  bingung, menarik diri, apatis
• Kemampuan mengambil keputusan &
  memecahkan masalah menurun
PENGKAJIAN
Pengkajian masalah Imobilitas
1. Sistem Muskuloskeletal
2. Sistem CV
3. Sistem respirasi
4. Metabolisme dan Nutrisi
5. Sistem urinary
6. Eliminasi fecal
7. Sistem integumen
8. Sistem neurosensory
9. psikologis
1. Sistem Muskuloskeletal
• Kaji masa otot: atropi
• Perubahan struktur sendi : nyeri jika bergerak
• Menurunnya kekuatan otot & gangguan
  koordinasi
2. Sistem CV
• Kaji HR & TD; naiknya HR dan turunnya TD
  jika berubah posisi, indikasi : orthostatic
  hipotensi
• Kaji gangguan sirkulasi perifer; kekuatan nadi
  perifer turun, kulit dingin, terutama pada tangan
  dan kaki.
• Kaji adanya trombus, nyeri jika bergerak
3. Sistem Respirasi
• Auskultasi suara paru
• Cek analisa gas darah: rendahnya PO2, naiknya
  PCO2
• Kaji gerakan dinding thoraks
• Kaji adanya mucus, batuk yang produktif diikuti
  panas, nyeri setiap respirasi: pnumonia
4. Metabolisme dan Nutrisi
• Kaji intake kalori & protein; jumlah dan jenis
  makanan
• Ukur berat badan setiap minggu
• Menurunnya serum protein: penyembuhan
  menjadi lambat
5. Sistem urinary
• Palpasi di atas simpisis pubis, keluhan tidak
  nyaman pd abdomen bagian bawah retensi
  urine, retensi kandung kemih.
• Test lab; leukosit & bakteri dalam urine; keluhan
  sering kencing dengan jumlah sedikit, dysuria,
  demam, pusing: infeksi traktus urinarius
• Kaji adanya batu dalam saluran urinary: keluhan
  nyeri abdomen, darah pada urine, batu pada
  urine.
6. Eliminasi fecal
• Kaji intake & output makanan berserat
• Kaji pola b.a.b normal

7. Sistem Integumen

   Kaji status hidrasi, dehidrasi, menaiknya
    gangguan pada kulit; mudah pecah
8. Sistem Neurosensory
• Kaji perubahan-perubahan sensory & persepsi
9. Pengkajian Psikologis
• Sosial, emosional, intelektual
 ▫ Perubahan emosi ; perasaan tidak berharga, tidak
   berdaya, kesepian, apatis, menarik diri.
 ▫ Ketidakmampuan konsentrasi, membuat
   keputusan.
• Pengkajian Joint Range Of Motion;
 ▫ gerakan maksimal yg dapat dilaksanakan pada setiap
   persendian tubuh.
• Pengkajian Activity os Daily Living (ADL);
 ▫ kaji ketergantungan klien dalam melaksanakan ADL
• Pengkajian Activity Tolerance;
 ▫ kaji kekuatan dan ketahanan klien untuk
   berpartisipasi dalam melaksanakan aktifitas yaitu dg
   menentukan aktifitas yg sesuai.
 ▫ Pengkajian thp Heart rate, TD, keluhan pusing selama
   aktifitas, cemas karena kondisi atau motivasi
   menurun.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
• Metabolik
 ▫ Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan s.d
   anoreksia
 ▫ Inbalance cairan s.d anoreksi sekunder individu
   imobilitas
• Cardivaskuler
 ▫ Gangguan dalam cardiac output s.d imobilitas
 ▫ Potensial injury s.d. orthostatic hipotensi
• Muskuloskleletal
 ▫ Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri sekunder
   terhadap pembedahan
 ▫ Gangguan mobilitas fisik s.d. trauma spinal cord
 ▫ Activity intolerance s.d menurunnya tonus dan
   kekuatan otot
 ▫ Self care deficit s.d menurunnya kekuatan dan
   fleksibilitas otot.
• Eliminasi Urinary
 ▫ Retensi urine s.d. imobilitas yang lama
 ▫ Incontinensia urin s.d gangguan (fungsional,
   stress dll)
 ▫ Potensial infeksi saluran kemih b.d. urine statis
• Respirasi
 ▫ Tidak efektifnya pola nafas b.d terbatasnya
   ekspansi dada
 ▫ Bersihan jalan nafas tidak efektif s.d tidak
   efektifnya batuk dan penumpukkan sekret
 ▫ Gangguan pertukaran gas b.d, menurunnya
   gerakan respiratory
• Eliminasi fecal
 ▫ Gangguan eliminasi fecal; konstipasi b.d
   imobilitas
 ▫ Gangguan eliminasi fecal; konstipasi b.d
   kurangnya intake cairan sekunder terhadap
   anoreksia
• Psikososial
 ▫ Tidak efektifnya koping individu b.d imobilitas
 ▫ Gangguan konsep diri; harga diri rendah b.d
   isolasi sosial (imobilitas dan kebutuhan
   tergantung pada orang lain)
 ▫ Gangguan interaksi sosial b.d imobitas
PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

• Tujuan
  ▫ Meningkatkan fungsi cardiovaskuler
  ▫ Meningkatkan fungsi respirasi
  ▫ Meningkatkan kekuatan dan ketahan otot
  ▫ Meningkatkan fleksibilitas sendi
  ▫ Meningkatkan ketrampilan motorik
  ▫ Meningkatkan fungsi gastrointestinal untuk mencegah
    konstipasi
  ▫ Meningkatkan kesehatan emosi
  ▫ Meningkatkan produktifitas
  ▫ Memperlambat proses penuaan
Intervensi Untuk mencegah masalah
Imobilitas
1.       Sistem muskuloskeletal
     •     Memperbaiki posisi tubuh
             Body alignment yang benar pada setiap posisi
             Buat jadwal perubahan posisi tiap 1 atau 2 jam;
              ajarkan pada klien secara bertahap
     •     Weight-bearing Activity
             Klien dibantu untuk ambulasi secara dini, duduk
              di tempat tidur, pinggir tempat tidur, turun dan
              berdiri, bergerak ke kursi, dibantu berjalan
•   Kemandirian dalam ADL
       Motivasi klien untuk mandiri dalam ADL\
       Ajarkan tentang tanda dan gejala activity
        intolerance (pusing, nyeri dada, sesak nafas)

•   Isotonic & Isometric Exercise
     Isotonic/Dynamic Exercise:
        • Untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan
          otot, meningkatkan fungsi cardiorespirasi
          dengan meningkatkan aliran darah keseluruh
          bagian tubuh. Contoh active rom
 Isometric/Static Exercise
   Meningkatkan Heart rate & CO ringan
Active & Passive Rom Exercise
• Active ROM
 ▫ Klien menggerakkan tiap sendi dalam tubuh
   melalui gerakan komplit
 ▫ Secara maximal mengencangkan semua otot
 ▫ Meningkatkan kekuatan ketahanan otot
 ▫ Membantu mempertahankan fungsi
   cardiorespirasi
• Passive ROM
 ▫ Orang lain membantu menggerakkan setiap sendi
   klien melalui gerakan komplit
 ▫ Dilaksanakan 2 X sehari
2. Sistem Cardiovaskuler
• Gerakan dan latihan
 ▫ Ambulasi dini, latihan aktif, kemandirian dalam
   ADL; meningkatkan fungsi c.v. memperbaiki
   vasokontriksi perifer. Meningkatkan tonus otot &
   mencegah trombus
 ▫ Ajarkan klien untuk ambulasi secara pelan-pelan;
   ukur tekanan darah dan hr setiap klien berubah
   posisi
• Memperbaiki posisi kaki
 ▫ Ajarkan klien untuk menaikkan kaki setiap hari ;
   meningkatkan sirkulasi vena perifer.
3. Sistem Respirasi
• Fokus intervensi : meningkatkan exspansi
  alveolar, mencegah tertahannya sekret,
  mempertahankan jalan nafas, meningkatkan
  pertukaran gas.
 ▫   Latihan nafas dalam dan batuk
 ▫   Merubah posisi klien tiap 1-2 jam
 ▫   Postural drainage
 ▫   Perkusi dada dan vibrasi
4. Metabolisme dan Nutrisi
• Diet tinggi kalori & protein serta serat
• Pemberian vitamin & mineral
  ▫ k/p multivitamin tablet,
  ▫ Jika klien tidak dapat makan; total parenteral
    nutrition
5. Sistem Urinary
• Merubah posisi dan latihan; membantu pengosongan
  ginjal & kandung kemih secara komplit
• Meningkatkan hidrasi; anjurkan klien minum 2000-
  2500 cc/lebih perhari guna mengurangi resiko batu
  ginjal & infeksi tractus urinarius
• Menjaga kebersihan perineal; perineal care.
• Kateterisasi urinary; jika klien tidak dapat b.a.k secara
  normal
• Mencegah incontinence urinary; anjurkan klien minum
  banyak pada siang hari & batasi pada malam hari
• Bantu b.a.k tiap 2 jam
6. Eliminasi fecal
• Gerakan dan latihan
 ▫ Meningkatkan tonus dan kekuatan otot abdomen
   & perineal yang digunakan untuk defekasi
 ▫ Meningkatkan tonus otot polos; meningkatkan
   peristaltik
7. Sistem Neurosensory
• Merubah posisi dan latihan
• Semua gerakan dapat meningkatkan aktifitas
  motorik dan merangsang organ propioceptive
8. Sistem integumen
• Pressure Sores
PENDEKATAN PRIKOSOSIAL
Fokus Intervensi: Aspek sosial, emosional &
intelektual:
• Sosial
  ▫ Interaksi sosial dapat mencegah klien menarik
    diri.
  ▫ Sharing perasaan dengan teman sekamar
  ▫ Pertahankan hubungan posisif dengan anggota
    keluarga
• Emosional
 ▫ Pertahankan orientasi klien (orang,
   waktu, tempat).
 ▫ Bantu klien mempertahankan self image
   sebagai orang yang berguna, mandiri:
   Dorong klien untuk melaksanakan ADL jika
    mungkin
 ▫ Jaga privacy klien
 ▫ Dorong klien mengekspresikan perasaan,
   diskusikan dengan keluarga
• Intelektual
 ▫ Beri kesempatan klien untuk memilih dan membuat
   keputusan tentang perawatan diri dan pemecahan
   masalah
EVALUASI
Contoh Kriteria hasil
• Klien mempunyai ROM pada bahu
• Tidak ada masalah kulit sebagai dampak dari
  imobilitas
• Klien merasa nyaman
• Klien mengekspresikan pernyataan positif
  tentang perasaannya.

								
To top