Docstoc

angkatan 45 dan pujangga baru

Document Sample
angkatan 45 dan pujangga baru Powered By Docstoc
					                                 BAB II
                            PEMBAHASAN
A. Sejarah Karya Sastra Pujangga Baru
        Pada awalnya Pujangga Baru adalah nama majalah sastra dan
   kebudayaan Indonesia yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan
   adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang saat masa pendudukan Jepang
   di Indonesia. Pengasuh dalam majalah Pujangga Baru antara lain Sultan
   Takdir Alisjahbana, Armien Pane, Amir Hamzah dan Sanusi Pane. Jadi,
   Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi atau aliran. Namun, hanya untuk
   memudahkan ingatan adanya angkatan baru maka dipakai istilah Angkatan
   Pujangga Baru yang tak lain adalah orang-orang yang tulisannya pernah
   dimuat dalam majalah tersebut dan dinilai memiliki bobot serta cita-cita
   kesenian baru yang mengarah kedepan. Namun pada zaman pendudukan
   Jepang majalah Pujangga Baru dilarang beredar oleh pemerintah Jepang
   dengan alasan mengarah kebarat-baratan. Setelah Indonesia merdeka,
   majalah ini diterbitkan lagi dari tahun 1948 sampai dengan 1953 dengan
   pemimpin redaksi Sultan Takdir Alisjahbana. Para tokoh pujangga baru
   sangat dipengaruhi oleh para pujangga Belanda angkatan 1880. Hal ini
   disebabkan pada zaman itu banyak pemuda Indonesia yang berpendidikan
   barat dan giat mendalami kesusateraan Belanda. Berbeda dengan tokoh
   Pujangga Baru lainnya, Amir Hamzah lebih menyukai berkarya
   bernafaskan Islam. Ia sangat dipengaruhi agama Islam serta adat istiadat
   Melayu. Jiwa Barat itu rupanya jelas sekali terlihat pada diri Sutan Takdir
   Alisyahbana. Lebih jelas lagi tampak pada Armijn Pane, yang boleh kita
   anggap sebagai perintis kesusastraan modern. Pada Armijn Pane rupanya
   pengaruh Barat itu menguasai dirinya secara lahir batin. Masih banyak lagi
   para pujangga baru lainnya seperti Rustam Effendi, A.M. Daeng Myala,
   Adinegoro, A. Hasjemi, Mozasa, Aoh Kartahadimadja, dan Karim Halim.
   Mereka datang dari segala penjuru tanah air dengan segala corak ragam
   gaya dan bentuk jiwa serta seninya.
B. Karakteristik Karya Angkatan Pujangga Baru
          Karya-karya angkatan Pujangga Baru memiliki karakteristik
   tersendiri, diantaranya adalah :
   1. Dinamis
   2. Bercorak     romantik/idealistis,   masih   secorak   dengan   angkatan
       sebelumnya. Hanya saja kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat
       pasif sedangkan angkatan Pujangga Baru bersifat aktif romantik.
   3. Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern bukan
       lagi menggunakan bahasa klise seperti angkatan-angkatan sebelumnya,
   4. Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum
       muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan
       perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan, misalnya pada
       roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana.
   5. Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru
       dengan tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari
       sejarah dan ada pula yang semata-mata pantasi pengarang sendiri yang
       menggambarkan jiwa dinamis.

   Selain karakteristik di atas, karya-karya angkatan Pujangga Baru dalam
   genre prosa dapat berupa :
   a. Roman
       Roman pada angkata Pujangga Baru ini banyak menggunakan bahasa
       individual, pengarang membiarkan pembaca mengambil simpulan
       sendiri, pelaku-pelaku hidup/ bergerak, pembaca seolah-olah diseret ke
       dalam suasana pikiran pelaku- pelakunya, mengutamakan jalan pikiran
       dan kehidupan pelaku-pelakunya. Dengan kata lain, hampir semua
       buku roman angkatan ini mengutamakan psikologi. Isi roman angkatan
       ini tentang segala persoalan yang menjadi cita-cita sesuai dengan
     semangat kebangunan bangsa Indonesia pada waktu itu, seperti
     politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kebudayaan.Di sisi lain, corak
     lukisannya bersifat romantis idealistis. Contoh roman pada angkatan
b.   Novel/ Cerpen
     Kalangan Pujangga Baru tidak banyak menghasilkan novel/cerpen.
     Beberapa pengarang tersebut, antara lain:
     (1). Armyn Pane dengan cerpennya Barang Tiada Berharga dan Lupa.
     Cerpen        itu   dikumpulkan       dalam   kumpulan    cerpennya     yang
     berjudul Kisah Antara Manusia (1953).
     (2). Sutan Takdir Alisyahbana dengan cerpennya Panji Pustaka.
c.   Essay dan Kritik
     Sesuai dengan persatuan dan timbulnya kesadaran nasional, maka
     essay pada masa angkatan ini mengupas soal bahasa, kesusastraan,
     kebudayaan, pengaruh barat, soal-soal masyarakat umumnya.Semua
     itu menuju keindonesiaan. Essayist yang paling produktif di kalangan
     Pujangga Baru adalah STA.Selain itu, pengarang essay lainnya adalah
     Sanusi Pane dengan essai Persatuan Indonesia, Armyn Pane dengan
     essaiMengapa Pengarang Modern Suka Mematikan, Sutan Syahrir
     dengan essaiKesusasteraan dengan Rakyat, Dr. M. Amir dengan
     essai Sampai di Mana KemajuanKita.
d. Drama
     Angkatan Pujangga Baru menghasilkan drama berdasarkan kejadian
     yang menunjukkankebesaran dalam sejarah Indonesia. Hal ini
     merupakan           perwujudan    tentang anjuran   mempelajari       sejarah
     kebudayaan dan bahasa sendiri untuk menanam rasakebangsaan.
     Drama angkatan 33 ini mengandung semangat romantik dan idealisme,
     lari   dari     realita   kehidupan    masa   penjjahan   tapi   bercita-cita
     hendak melahirkan yang baru.
     Contoh:
     Sandhyakala ning Majapahit karya Sanusi Pane (1933)
     Ken Arok dan Ken Dedes karya Moh. Yamin (1934)
   Nyai Lenggang Kencana karya Arymne Pane (1936)
   Lukisan Masa karya Arymne Pane (1937)
   Manusia Baru karya Sanusi Pane (1940)
   Airlangga karya Moh. Yamin (1943)
e. Puisi
   Puisi Pujangga Baru adalah awal puisi Indonesia modern. Untuk
   memahami puisi Indonesia modern sesudahnya dan puisi Indonesia
   secara keseluruhan, penelitian puisi Pujangga Baru penting dilakukan.
   Hal ini disebabkan karya sastra, termasuk puisi, tidak lahir dalam
   kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11), termasuk karya sastra. Di
   samping itu, karya sastra itu merupakan response (jawaban) terhadap
   karya sastra.
   Karya sastra, termasuk puisi, dicipta sastrawan. Sastrawan sebagai
   anggota masyarakat tidak terlepas dari latar sosial–budaya dan
   kesejarahan masyarakatnya. Begitu juga, penyair Pujangga Baru tidak
   lepas dari latar sosial-budaya dan kesejarahan bangsa Indonesia. Puisi
   Pujangga Baru (1920-1942) itu lahir dan berkembang pada saat bangsa
   Indonesia menuntut kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Oleh
   karena itu, perlu diteliti wujud perjuangannya, di samping wujud latar
   sosial-budayanya.Untuk memahami puisi secara mendalam, juga puisi
   Pujangga Baru, perlu diteliti secara ilmiah keseluruhan puisi itu, baik
   secara struktur estetik maupun muatan yang terkandung di dalamnya.
   Akan tetapi, sampai sekarang belum ada penelitian puisi Pujangga
   Baru yang tuntas, sistematik, dan mendalam. Sifatnya penelitian yang
   sudah ada itu impresionistik, yaitu penelaahan hanya mengenai pokok-
   pokoknya, tanpa analisis yang terperinci, serta diuraikan secara
   ringkas.
   Puisi merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, dalam
   penelitian puisi Pujangga Baru digunakan teori dan metode struktural
   semiotik. Kesusastraan merupakan struktur ketandaan yang bermakna
   dan kompleks, antarunsurnya terjadi hubungan yang erat (koheren).
      Tiap unsur karya sastra mempunyai makna dalam hubungannya
      dengan unsur lain dalam struktur itu dan keseluruhannya Akan tetapi,
      strukturalisme murni yang hanya terbatas pada struktur dalam (inner
      structure) karya sastra itu mengasingkan relevansi kesejarahannya dan
      sosial budayanya. Oleh karena itu, untuk dapat memahami puisi
      dengan baik serta untuk mendapatkan makna yang lebih penuh, dalam
      menganalisis sajak dipergunakan strukturalisme dinamik , yaitu
      analisis struktural dalam kerangka semiotik. Karya sastra sebagai tanda
      terikat kepada konvensi masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra
      tidak terlepas dari jalinan sejarah dan latar sosial budaya masyarakat
      yang menghasilkannya, seperti telah terurai di atas. Di samping itu,
      untuk memahami struktur puisi Pujangga Baru, perlu juga diketahui
      struktur puisi sebelumnya, yaitu puisi Melayu lama yang direspons
      oleh puisi Pujangga Baru.
C. Angkatan Pujangga Baru dan Karyanya
           Angkatan Pujangga Baru terdapat tokoh-tokoh sastrawan yang
  tidak lagi diragukan kualitas karya-karyanya. Tokoh-tokoh tersebut antara
  lain:
   1. Sutan Takdir Alisjahbana
      Orang besar ini dilahirkan di Natal (Tapanuli) pada 11-02-1908.
      Setelah
      menamatkan HIS di Bengkulu ia memasuki Kweekschool di
      Bukitinggi dan kemudian HKS di Bandung. Setelah itu ia belajar untuk
      Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar pada Sekolah Hakim Tinggi.
      Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan pada Fakultas
      sastra. Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta
      cita-cita dan keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang
      bermacam-macam pula pada dirinya. Karangannya mempunyai bahasa
      yang sederhana tetapi tepat. Karya-karyanya antara lain:
      a.     Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)
      b.    Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
     c.   Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)
     d.   Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
     e.   Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936)
     f.   Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
     g.   Puisi Lama (1942)
     h.   Puisi Baru (1946)
2. Amir Hamzah
     Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28-2-
     1911 di Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret
     1946. Ia keturunan bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan
     Langkat, serta hidup ditengah-tengah keluarga yang taat beragama
     Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di Medan, dan
     Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada
     Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak
     mengubah puisi sehingga mendapat sebutan “Raja Penyair” Pujangga
     Baru. Karya-karyanya antara lain:
     a.   Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)
     b.   Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)
     c.   Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)
     d.   Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)
3.   Sanusi Pane
     Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14-11-1905. Ia mengunjungi SR
     di Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS
     Adabiyah di Padang, dan melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang
     dan Jakarta, serta pendidikannya pada Kweekschool Gunung Sahari
     Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi ke India untuk
     memperdalam      pengetahuannya     tentang    kebudayaan      India.
     Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping
     sebagai guru pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat
     kabar Kebangunan dan kepala pengarang Balai Pustaka sampai tahun
     1941. Pada jaman pendududkan Jepang menjadi pegawai tinggi Pusat
     Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada Jawatan Pendidikan
     Masyarakat di Jakarta.
     Karya-karyanya antara lain:
     a.    Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)
     b.   Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
     c.    Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)
     d.   Kertajaya (sandiwara, 1932)
     e.    Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933)
     f.    Manusia Baru (Sandiwara, 1940)
4.   Muhamad Yamin, SH.
     Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23
     agustus     1905.   Setelah   menamatkan    Volkschool,   HIS   dan
     Normaalschool, ia mengunjungi sekolah-sekolah vak seperti sekolah
     pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian menamatkan AMS di
     Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah Hakim di
     Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian
     Yamin beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan
     19’45, ia memegang jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga
     akhir hayatnya (26 Oktober 1962). Ia pun tidak pernah absen dalam
     revolusi.
     Karya-karyanya antara lain:
     a.    Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)
     b.   Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)
     c.    Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath
     Tagore)
     d.   Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan
     dari Rabindranath Tagore)
     e.    Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
     f.    Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
     g.   Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
     h.   Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
     i.    6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
     j.    Tan Malaka (19’45)
     k.   Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)
5.   J.E. Tatengkeng
     Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai
     dari SD kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke
     Bandung, lalu ke KHS Kristen di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS
     Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya bercorak religius. Dia juga
     sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal. Karyanya antara lain
     Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).
6. Hamka
     Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia
     lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H.
     Abdul Karim Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan
     berhaluan Islam modern dan tokoh yang ingin membersihkan agama
     Islam dari khurafat dan bid’ah. Pendidikan Hamka hanya sampai kelas
     dua SD, kemudian mengaji di langgar dan madsrasah. Ia pernah
     mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto. Prosa
     Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga
     Islam yang produktif.
     Karyanya antara lain:
     a.   Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
     b.   Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)
     c.   Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)
     d.   Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)
     e.   Ayahku (biografi)
     f.   Karena Fitnah (roman, 1938)
     g.   Merantau ke Deli (kisah;1939)
     h.   Tuan Direktur (1939)
     i.    Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950)
     j.    Keadilan Illhi
     k.      Lembaga Budi
     l.      Lembaga Hidup
     m.   Revolusi Agama
7. M.R. Dajoh
     Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa, 2 November 1909.
     Ia
     berpendidikan SR, HIS Sirmadidi, HKS Bandung, dan Normaalcursus
     di Malang. Pada masa Jepang menjabatat kepala bagian sandiwara di
     kantor Pusat Kebudayaan. Kemudian pindah ke Radio Makasar. Dalam
     karya Prosanya sering menggambarkan pahlawanpahlawan yang
     berani, sedang dalam puisinya sering meratapi kesengsaraan
     masyarakat.
     Karyanya antara lain:
     a.      Pahlawan Minahasa (roman; 1935)
     b.      Peperangan Orang Minahasa dengan Orang Spanyol (roman,
     1931)
     c.      Syair Untuk Aih (sajaka, 1935)
8.   Ipih
     Ipih atau H.R. adalah nama samaran dari Asmara Hadi. Dia lahir di
     Talo,
     Bengkulu, tanggal 5 September 1914. Pendidikannya di HIS
     Bengkulu, Mulo Jakarta, Bandung serta Mulo Taman Siswa Bandung.
     Lebih dari setahun ia ikut dengan Ir. Soekarno di Endeh. Setelah
     menjadi guru, ia menjadi wartawan dan pernah memimpin harian
     Pikiran Rakyat di Bandung. Dalam karyanya terbayang semangat
     gembira dengan napas kebangsaan dan perjuangan. Karya-karyanya
     antara lain:
     a.      Di Dalam Lingkungan Kawat Berduri (catatan, 1941)
     b.      Sajak-sajak dalam majalah
9.   Armijn Pane
   Armijn Pane adalah adik dari Sanusi Pane. Lahir di Muarasipongi,
   Tapanuli Selatan, 18 Agustus 1908. Ia berpendidikan HIS, ELS, Stofia
   Jakarta pada tahun 1923, dan pindah ke Nias, Surabaya, dan
   menamatkan di Solo. Kemudian menjadi guru bahasa dan sejarah di
   Kediri dan Jakarta serta pada tahun 1936 bekerja di Balai Pustaka.
   Pada masa pendudukan Jepang menjadi Kepala Bagian Kesusastraan
   di Kantor Pusat Kebudayaan Jakarta, serta memimpin majalah
   Kebudayaan Timur.
   Karyanya antara lain:
   a.   Belenggu (roman jiwa, 1940)
   b.   Kisah Antara Manusia (kumpulan cerita pendek, 1953)
   c.   Nyai Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)
   d.   Jiwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939)
   e.   Ratna (sandiwara, 1943)
   f.   Lukisan Masa (sandiwara, 1957)
   g.   Habis Gelap Terbitlah Terang (uraian dan terjemahan surat-surat
   R.A Kartini, 1938)
10. Rustam Effendi
   Lahir di Padang, 18 Mei 1905. Dia aktif dalam bidang politik serta
   pernah
   menjadi anggota Majelis Perwakilan Belanda sebagai utusan Partai
   Komunis. Dalam karyanya banyak dipengaruhi oleh bahasa daerahnya,
   juga sering mencari istilah-istilah dari Bahasa Arab dan Sansakerta.
   Karyanya antara lain:
   a.   Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1922)
   b.   Bebasari (sandiwara bersajak, 1922)
11. A. Hasjmy
   A. Hasjmy nama sebenarnya adalah Muhammad Ali Hasjmy. Lahir di
   Seulimeun, Aceh, 28 Maret 1912. Ia berpendidikan SR dan Madrasah
   Pendidkan Islam. Pada tahun 1936 menjadi guru di Perguruan Islam
   Seulimeun.
  Karya-karyanya antara lain:
  a.   Kisah Seorang Pengembara (kumpulan sajak, 1936)
  b.   Dewan Sajak (kumpulan sajak, 1940)
12. Imam Supardi
  Karya-karyanya antara lain:
  a.   Kintamani (roman)
  b.   Wishnu Wardhana (drama, 1937)
D. Sejarah Karya Sastra Angkatan ‘45
            Pujangga Angkatan ’45 lahir dan tumbuh di masa Revolusi
   Kemerdekaan. Orientasi Pujangga Angkatan ’45 masih kebarat-baratan.
   Peristiwa yang terjadi pada masa itu antara lain Penjajahan Jepang,
   Proklamasi Kemerdekaan, Agresi Militer I dan II, Penyerahan Kedaulatan
   RI
E. Karakteristik Karya Sastra Angkatan ‘45
            Karya sastra angkatan ’45 lebih bercorak realistik, berbeda dengan
   karya sastra angkatan Pujangga Baru yang bercorak romantik idealistik.
   Selain itu,karya sastra angkatan ’45 memiliki beberapa ciri khas antara
   lain:
   a. Revolusioner dalam bentuk dan isi. Membuang tradisi lama dan
        menggantinya dengan semangat kemerdekaan.
   b. Ekspresionis, mengutamakan ekspresi yang jernih
   c. Individualis, mengutamakan cara-cara pribadi.
   d. Humanisme universal, bersifat kemanusiaan umum. Indonesia dibawa
        dalam perjuangan keadilan dunia.
   e. Tema yang dibicarakan: humanisme, sahala (martabat manusia),
        penderitaan rakyat, moral, keganasan perang dengan keroncongnya
        perut lapar.
F. Tokoh Angkatan ’45 Beserta Karyanya
            Angkatan ’45 memiliki tokoh-tokoh satrawan yang tidak lagi
   diragukan karya-karyanya, antara lain:
   1. Chairil Anwar (Kerikil Tajam dan Yang Terempas dan Yang Putus
        [1949], Deru Campur Debu [1949], dll.)
   2.    Idrus (Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma [1948], Aki [1949], dll.)
   3.    Pramoedya Ananta Toer (Cerita dari Blora [1963], Keluarga Gerilya
        [1951], dll.)
   4. Mochtar Lubis (Tidak Ada Esok [1982], Harimau! Harimau!, dll.)
5. Utuy Tatang Sontani (Suling [1948], dll.)
6. Achdiat K. Mihardja (Atheis [1958], dll.), dll.
                                 BAB I
                          PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
   1. Bagaimana sejarah munculnya sastra angkatan Pujangga Baru?
   2. Apa saja karakteristik karya sastra angkatan Pujangga Baru?
   3. Siapa tokoh sastrawan angkatan Pujangga Baru beserta karya yang
      dihasilkannya?
   4. Bagaimana sejarah munculnya sastra angkatan ’45?
   5. Apa saja karakteristik karya sastra angkatan ’45?
   6. Siapa tokoh sastrawan angkatan ’45 beserta karya yang
      dihasilkannya?
C. Tujuan
   1. Mengetahui sejarah munculnya angkatan Pujangga Baru.
   2. Mengetahui karakteristik karya sastra angkatan Pujangga Baru.
   3. Mengetahui tokoh sastra angkatan Pujangga Baru beserta
      karyanya.
   4. Mengetahui sejarah munculnya sastra angkatan ’45.
   5. Mengetahui apa saja karakteristik karya sastra angkatan ’45.
   6. Mengetahui tokoh sastra angkatan ’45 beserta karya sastra yang
      dihasilkannya.
                                   BAB III
                                 PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
       Sebagai generasi penerus bangsa, kita sebaiknya mampu dan mau
melestarikan kebudayaan Indonesia dimana sastra Indonesia masuk ke dalamnya.
Dengan mempelajari sastra Indonesia, kita menjadi tahu bahwa ternyata Indonesia
merupakan negara yang besar, negara yang memiliki keindahan melalui seni
sastranya.
                            KATA PENGANTAR


       Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt karena berkat rahmat
serta hidayahNya, penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah Bahasa
Indonesia ini.
       Dalam menyusun makalah, penulis mengucapakan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan makalah antara lain :
      Orang tua tercinta
      Drs. Ngatman, selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia FKIP kampus
       VI Kebumen.
      Rekan-rekan mahasiswa yang banyak memberikan masukan dalam
       menyusun makalah
       Penulis berharap makalah ini dapat dijadikan referensi bagi pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis
berharap adanya kritik atau saran yang membangun.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/19/2013
language:Unknown
pages:16
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com