Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

pengaruh skoliosis terhadap tubuh by Aji_Baroto

VIEWS: 56 PAGES: 26

									  PENGARUH SKOLIOSIS TERHADAP TUBUH


Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata
         Pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA




                   Disusun oleh:
                Nadia Luvena 9A/18


       SMP DIAN HARAPAN DAAN MOOT
                    JAKARTA
                       2013




                         1
                        HALAMAN PENGESAHAN
Makalah berjudul PENGARUH SKOLIOSIS TERHADAP TUBUH telah
disetujui oleh pembimbing dan disahkan oleh Kepala SMP Dian Harapan Daan
Mogot dalam rangka memenuhi tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia dan
IPA tahun pelajaran 2012-2013.




                            Jakarta, 10 Mei 2013




Pembimbing I                                              Pembimbing II




Sri Kristiyani, S.Pd.                              Patrisius Theopilos P., S.Si




                          Kepala SMP Dian Harapan




                            Puni Rumanti, M.Pd.




                                     2
                         KATA PENGANTAR
        Penulis panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan karunia-Nya, makalah ini dapat penulis selesaikan tepat waktu dan
dengan baik.

        Makalah yang berjudul PENGARUH SKOLIOSIS TERHADAP TUBUH
berisi definisi skoliosis, macam-macamnya, penyebab skoliosis, jenis kurva, letak
dan bentuk kurva, derajat skoliosis, faktor yang memperburuk skoliosis, penderita
skoliosis, penyembuhan skoliosis, struktur rangka tulang dan organ dalam tubuh
manusia, serta pengaruh skoliosis terhadap struktur rangka tulang dan organ
dalam tubuh.

       Penulis mengalami kesulitan dalam penulisan makalah ini, terutama dalam
hal pengaruh skoliosis terhadap tubuh. Namun, berkat dukungan dan bimbingan
dari guru dan teman serta orang tua, akhirnya penulis dapat mengatasi kesulitan
tersebut. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

   1. Ms. Kris dan Mr. Theo yang telah memberikan bimbingan dan arahan
      dalam pencarian bahan ataupun cara penulisan makalah.
   2. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan berupa materi dan doa.
   3. Luana, Nadya, Venessa, Heidi, dan teman-teman kelas 9A yang selalu
      mendukung dan memberi semangat sehingga penulis bisa menyelesaikan
      makalah.


       Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan makalah ini.
Penulis juga berharap agar makalah ini bisa memberikan tambahan wawasan
kepada pembaca.




                                                            Jakarta, 17 Mei 2013

                                                                         Penulis




                                       3
                                            DAFTAR ISI
 Halaman Judul...................................................................................... i
 Halaman Pengesahan ........................................................................... ii
 Kata Pengantar ..................................................................................... iii
 Daftar Isi............................................................................................... iv
 Bab I Pendahuluan
            A. Latar Belakang Masalah ..................................................... 1
            B. Rumusan Masalah .............................................................. 2
            C. Tujuan ................................................................................ 2
            D. Manfaat .............................................................................. 2
 Bab II Isi
            A. Landasan Teori
                  1. Pengertian Skoliosis ..................................................... 3
                  2. Jenis-Jenis Skoliosis ..................................................... 3
                  3. Penyebab Skoliosis ...................................................... 4
                  4. Kurva Skoliosis ............................................................ 5
                  5. Letak dan Bentuk Kurva Skoliosis............................... 5
                  6. Derajat Skoliosis .......................................................... 5
                  7. Faktor yang Memperburuk Skoliosis ........................... 6
                  8. Penderita Skoliosis ....................................................... 7
                  9. Penyembuhan Skoliosis ............................................... 7
                  10. Struktur Rangka Tulang Tubuh Manusia ..................... 8
                  11. Rangka Aksial Tubuh Manusia .................................... 8
                  12. Rangka Apendikular..................................................... 9
                  13. Sistem Tubuh Manusia................................................. 10
                  14. Organ Dalam Tubuh Manusia dan Fungsinya ............. 11
            B. Pembahasan
                  1. Pengaruh Skoliosis Terhadap Struktur Tubuh ............. 13
                  2. Pengaruh Skoliosis Terhadap Organ Tubuh ................ 13
Bab III Penutup
            A. Kesimpulan ........................................................................ 15
            B. Saran ................................................................................... 15

                                                   4
Daftar Pusaka ................................................................................................... 17




                                                           5
                                   BAB I
                            PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
          Mungkin banyak orang di Indonesia belum mengetahui apa itu
   “skoliosis”, padahal skoliosis pada masyarakat Indonesia dapat dijumpai
   mulai dari derajat yang sangat ringan sampai pada derajat yang sangat
   berat. Hal ini bisa dimaklumi karena skoliosis kadang tidak dapat langsung
   terlihat atau terdeteksi dengan mata telanjang.
          Skoliosis adalah kondisi tulang belakang yang tidak normal, yaitu
   tulang melengkung ke arah samping. Jika dilihat dari hasil X-Ray maka
   terlihat bentuk tulang seperti huruf S atau C. Seseorang dikatakan
   menderita skoliosis jika tulang belakangnya melengkung ke satu sisi kiri
   atau kanan melebihi 10 derajat dari garis lurus. Sering kali orang
   mengkaitkan skoliosis dengan kesalahan posisi duduk, kebiasaan dalam
   posisi salah, olah raga, atau terlalu banyak membawa beban berat. Dalam
   kebanyakan kasus, skoliosis tidak diketahui penyebabnya atau disebut
   idiopatik. Kebanyakan orang baru menyadari terkena skoliosis ketika
   memasuki masa remaja.
          Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat sederhana. Namun,
   apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luar biasa
   pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga
   dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti
   jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya.
          Awalnya penderita mungkin tidak menyadari atau merasakan sakit
   pada tubuhnya, karena memang skoliosis tidak selalu memberikan gejala–
   gejala yang mudah dikenali. Jika ada pun, gejala tersebut tidak terlalu
   dianggap serius karena kebanyakan orang hanya merasakan pegal–pegal di
   daerah punggung dan pinggang mereka saja.




                                     6
          Jika keadaan bertambah buruk, skoliosis menyebabkan tulang
   rusuk tertonjol keluar dan penderita mungkin mengalami masalah sakit
   punggung serta sukar bernafas. Dalam kebanyakan kondisi, skoliosis
   hanya diberi perhatian apabila penderita mulai menitikberatkan soal
   penampilan diri. Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, rata-
   rata penderita merasa malu dan rendah diri.
          Oleh karena masalah kelainan tulang belakang skoliosis bukan hal
   yang bisa dianggap remeh, penulis akan membahas dampaknya bagi
   struktur rangka tulang tubuh dan organ dalam manusia.
B. Rumusan Masalah
   Bagaimanakah kelainan tulang belakang skoliosis mempengaruhi struktur
   rangka tulang dan organ dalam tubuh manusia?
C. Tujuan Makalah
   Mendeskripsikan pengaruh kelainan tulang belakang skoliosis terhadap
   struktur rangka tulang dan organ dalam tubuh manusia.
D. Manfaat Makalah
   1. Penulis
      a. Mengerti dampak kelainan tulang belakang skoliosis terhadap
          struktur rangka tulang dan organ dalam tubuh manusia dengan
          lebih detil dan rinci.
      b. Memenuhi tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA
          kelas IX.
   2. Pembaca
      Mengenal pengaruh kelainan tulang belakang skoliosis terhadap
      struktur rangka tulang dan organ dalam tubuh manusia.
   3. Pemerhati kesehatan
      Lebih mengerti pengaruh kelainan tulang belakang skoliosis terhadap
      struktur rangka tulang dan organ dalam tubuh manusia dan sebagai
      landasan untuk membuat penyuluhan tentang bahaya skoliosis kepada
      masyarakat Indonesia.




                                   7
                                     BAB II
                                          ISI
A. Landasan Teori
   1. Pengertian Skoliosis
          Skoliosis (dari bahasa Yunani: ''skolíōsis'' berarti "bengkok")
       adalah suatu kondisi medis di mana tulang belakang seseorang
       melengkung abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada
       segmen servikal (leher), torakal (dada), maupun lumbal (pinggang),
       dan pada beberapa penderita dengan vertebra terputar. Skoliosis
       merupakan kelainan tulang belakang yang menjadi bengkok ke
       samping kiri atau kanan sehingga wujudnya merupakan bengkok
       benjolan yang dapat dilihat dengan jelas dari arah belakang. Pada
       sinar-x, jika dilihat dari belakang, tulang belakang seorang individu
       dengan skoliosis tampak lebih seperti "S" atau "C" daripada garis
       lurus.
   2. Jenis-Jenis Skoliosis
      a. Skoliosis Struktural
               Suatu kurvatura yang ireversibel dengan rotasi vertebra yang
                menetap. Jika kurva bertambah, maka rotasi juga bertambah.
                Rotasi   ini   membentuk        punuk   jika   penderita   sedang
                membungkuk.
               Skoliosis ini disebabkan karena pertumbuhan tulang belakang
                yang tidak normal.        Skoliosis struktural ini tidak dapat
                dikoreksi dengan posisi atau usaha penderita sendiri.
               Ciri-ciri fisiknya adalah sebagai berikut:
                -   Bahu tidak sama tinggi.
                -   Garis pinggang tidak sama tinggi.
                -   Badan belakang menjadi bongkok sebelah.
                -   Payu dara besar sebelah.
                -   Sebelah pinggul lebih tinggi.
                -   Badan kiri dan kanan menjadi tidak simetri.
                                      8
   b. Skoliosis Non-Struktural
         Suatu kurvatura yang reversibel dan cenderung terpengaruh
          oleh posisi tubuh (duduk dan berdiri), dan tidak ada rotasi
          vertebra.
         Disebabkan oleh:
          -   Tabiat yang tidak baik seperti membawa tas yang berat
              pada sebelah bahu saja (menyebabkan sebelah bahu
              menjadi tinggi) atau postur badan yang tidak bagus (seperti
              selalu membongkok atau badan tidak seimbang).
          -   Kaki yang tidak sama panjang (menyebabkan sebelah
              badan menopang beban yang lebih berat).
         Umumnya dengan membungkuk ke depan atau ke samping
          (posisi duduk dan berdiri) dapat mengoreksi skoliosis ini.
         Disebut juga Skoliosis Fungsional / Skoliosis Postural.
3. Penyebab Skoliosis
                 Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik,
                  yaitu kelainan yang tidak diketahui penyebabnya.
                          - Keempat      kategori     skoliosis     idiofatik
                  (berdasarkan usia penderita ketika kelengkungan tulang
                  terlihat untuk pertama kalinya) adalah skoliosis
                  idiofatik anak-anak, remaja, remaja di masa pubertas,
                  dan dewasa.
                 15-25%     kasus    skoliosis   lainnya   merupakan efek
                  samping yang diakibatkan karena menderita kelainan
                  tertentu, seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom
                  Down,    dan   penyakit     lainnya. (Berbagai    kelainan
                  tersebut menyebabkan otot atau saraf di sekitar tulang
                  belakang tidak berfungsi sempurna dan menyebabkan
                  bentuk tulang belakang menjadi melengkung.)




                                 9
4. Kurva Skoliosis
   Arah skoliosis ditentukan berdasarkan letak puncaknya:
                 Kurva mayor/kurva primer adalah kurva yang paling
                  besar, dan biasanya struktural. Umumnya terjadi pada
                  skoliosis idiopatik dan terletak diantara tulang vertebra
                  T4 sampai dengan T12.
                 Kurva kompensatori adalah kurva yang lebih kecil, dan
                  dapat terjadi kurva struktural maupun non-struktural.
                  Kurva ini membuat tinggi bahu penderita sama.
                 Kurva mayor double, disebut demikian jika besar kurva
                  dan keparahan rotasinya sepadan, biasanya kurva
                  struktural.
                 Apex kurva adalah puncak kurva yang letaknya paling
                  jauh dari garis tengah tulang belakang.


5. Letak dan Bentuk Kurva Skoliosis
      Letak kurva dapat berada di area servikal (leher), torakal (dada),
       maupun lumbal (pinggang).
      Bentuk kurva:
          -   Kurva C : Umumnya di area torakal dan lumbal, dan tidak
              ada kurva kompensatori. Disebabkan karena posisi asimetri
              tubuh dalam waktu yang lama, kelemahan otot, atau posisi
              duduk yang tidak benar.
          -   Kurva S : lebih sering terjadi pada skoliosis idiopatik, di
              area torakal kanan dan lumbal kiri, ada kurva mayor dan
              kurva kompensatori, umumnya struktural.




                                10
6. Derajat Skoliosis
      Derajat skoliosis tergantung pada besar sudutnya dan besar
       rotasinya. Makin berat derajat skoliosis, makin besar dampaknya
       pada tubuh.
      Teknik Pengukuran Skoliosis
            -   Pengukuran     sudut   kurva       dapat   dilakukan   dengan
                metode Cobb atau Risser-Ferguson.
            -   Pengukuran rotasi vertebra dinilai tergantung x-raynya.
      Klasifikasi dari derajat kurva skoliosis:
            -   Skoliosis ringan : kurva kurang dari 20 º.
            -   Skoliosis sedang : kurva 20 º – 40 º /50 º. Mulai terjadi
                perubahan struktural vertebra.
            -   Skoliosis berat : lebih dari 40 º /50 º. Berkaitan dengan
                rotasi vertebra yang lebih besar, serta sering disertai nyeri
                dan penyakit sendi degeneratif. Pada sudut lebih dari 60 º -
                70 º, akan       terjadi gangguan fungsi tubuh bahkan
                menurunnya harapan hidup.


7. Faktor yang dapat menyebabkan masalah skoliosis bertambah buruk
   ialah:
      Proses pertumbuhan.
       Dengan bertumbuh dan berkembangnya tubuh penderita maka
       derajat kelengkungannya juga ikut berkembang dan menjadi
       semakin besar.
      Jenis Kelamin.
       Masalah skoliosis biasanya lebih buruk di kalangan remaja
       perempuan dibanding lelaki.
      Umur.
       Lebih awal seseorang penderita mengalami skoliosis, kemungkinan
       untuk penyakit tersebut menjadi buruk akan lebih besar. Walaupun
       secara umumnya ini lebih banyak berlaku pada remaja, anak-anak



                                  11
       juga dapat mengalami masalah ini pada umur empat hingga
       delapan tahun.
      Lokasi.
       Lengkungan pada bagian tengah atau bawah tulang belakang
       biasanya jarang bertambah buruk. Masalah skoliosis hanya
       bertambah buruk jika ini berlaku pada bagian atas tulang belakang,
       menyebabkan badan belakang penderita menonjol keluar dan
       kelihatan bongkok.
      Masalah tulang belakang ketika dilahirkan.
       Skoliosis pada anak-anak yang dilahirkan dengan penyakit ini
       berisiko tinggi menjadi buruk dengan cepat. Oleh karena skoliosis
       tidak menyebabkan kesakitan, masalah ini jarang diberi perhatian
       dan rawatan hingga postur badan berubah.




8. Penderita Skoliosis
      Kelainan ini sulit untuk dikenali, kecuali setelah penderita
       bertumbuh menjadi dewasa:
          -      Sekitar 4% dari seluruh anak-anak yang berumur 10-14
                 tahun mengalami skoliosis, 40-60% diantaranya ditemukan
                 pada anak perempuan.
          -      Skoliosis kira-kira dua kali lebih umum pada anak-anak
                 perempuan daripada anak-anak lelaki.
          -      Skoliosis dapat dilihat pada semua umur, namun lebih
                 umum pada mereka yang umurnya lebih dari 10 tahun.
          -      Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang turunan
                 atau genetis, dimana orang-orang dengan skoliosis sangat
                 mungkin mempunyai anak-anak dengan kelainan skoliosis
                 juga; bagaimanapun, tidak ada hubungan antara keparahan



                                 12
              (kemiringan) dari lekukan yang diturunkan satu generasi ke
              generasi berikutnya.


9. Penyembuhan Skoliosis
      Pada skoliosis derajat berat (lebih dari 40 derajat), hanya dapat
       diluruskan melalui operasi.
          -   Operasi skoliosis adalah operasi besar dimana risiko tidak
              berhasil dan komplikasi bisa diperhitungkan antara 1%
              sampai 50%. Komplikasi operasi yang dapat timbul adalah
              kehilangan darah, paru-paru terluka, tulang-tulang iga
              patah, lever, dan jantung terganggu, bahkan sampai terjadi
              kelumpuhan.
          -   Risiko-risiko ini harus sedapat mungkin diperkecil dengan
              alat-alat yang canggih dan pengetahuan struktur ilmiah dari
              tulang.
      Bukan saja operasi skoliosis merupakan salah satu operasi besar,
       tetapi juga dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya saja, di
       negara Ukraina, setelah operasi pasien harus berdiam di tempat
       tidur selama 6 bulan dengan dibalut gips. Penyembuhan paska
       operasi di Indonesia juga memakan waktu yang tidak sebentar. Di
       Jerman dengan metode baru yang dinamakan mobilisasi pasien
       seteleh opeasi memperlihatkan perbedaan teknik yang menyolok. 1
       hari setelah operasi, pasien diharuskan bergerak dan berusaha
       berdiri dengan dibantu ahli-ahli gymnastik untuk skoliosis. Hari ke
       2 pasien diharuskan berjalan dengan dibantu alat-alat gimnastik
       dan tim rehabilitasi.


      Dalam operasi skoliosis, ada 2 metode:
          -   metode 1: pembedahan yang lurus dari atas sampai bawah
          -   metode 2: pembedahan kemiringan, dari atas ke dada depan
              (Thoraks)



                                13
          -   Metode mana yang akan digunakan adalah pertimbangan
              dokter ahli bedah dan spesialis skoliosis.
      Operasi adalah salah satu tindakan penyembuhan terakhir yg
       diambil dokter, dimana pasien tidak bisa lagi disembuhkan melalui
       terapi. Tindakan operasi adalah suatu tindakan yg boleh dikatakan
       tindakan darurat, tindakan ini juga adalah tindakan ireversibel
       (tidak dapat dikembalikan lagi).


10. Struktur Rangka Tulang Tubuh Manusia
       Rangka manusia terdiri atas kurang lebih 206 tulang. Berdasarkan
   letak tulang-tulang terhadap sumbu tubuh, rangka manusia dapat
   dikelompokkan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama rangka
   tubuh manusia adalah rangka aksial yang berada di bagian tengah
   sumbu tubuh. Kelompok kedua rangka tubuh manusia, adalah rangka
   apendikular yang berada di bagian tepi dari sistem rangka aksial.
   Rangka aksial terdiri atas tulang kepala (tengkorak), ruas-ruas tulang
   belakang (vertebrae), tulang dada (sternum), dan tulang rusuk
   (kosta). Rangka apendikular terdiri atas gelang bahu, anggota gerak
   atas (tungkai    atas),   gelang       panggul,   dan anggota   gerak
   bawah (tungkai bawah).




11. Rangka Aksial
   Rangka aksial merupakan tulang-tulang yang berada di bagian tengah
   sumbu tubuh. Tulang rangka aksial terdiri atas tulang kepala, ruas
   tulang belakang, tulang dada, dan tulang rusuk.
      Tulang Kepala.
       Tulang kepala terdiri atas tulang tempurung (kranium) dan tulang
       rahang. Tulang kepala berfungsi sebagai pelindung otak, organ
       pendengaran, dan organ penglihatan.
      Tulang Belakang (Columna Vertebralis)



                                14
       Tulang belakang merupakan penopang tubuh utama. Terdiri atas
       jejeran tulang-tulang belakang (vertebrae). Di antara tulang-tulang
       vertebrae terdapat discus invertebralis merupakan tulang rawan
       yang     membentuk    sendi   yang    kuat    dan   elastis. Discus
       invertebralis memungkinkan tulang belakang bergerak ke segala
       arah. Jika dilihat dari samping, tulang belakang membentuk
       lekukan leher (cervix), lekukan dada (thorax), lekukan pinggul
       (lumbar), dan lekukan selangkang (sacral).
      Tulang Dada (Sternum) dan Tulang Rusuk (Costa)
       Tulang dada terdiri atas bagian hulu atau tangkai (manubrium
       sterni), bagian badan (corpus sterni), dan taju pedang (processus
       xyphoideus). Tulang rusuk terdiri atas 12 pasang tulang rusuk,
       yaitu 7 pasang rusuk sejati (costa vera), 3 pasang rusuk palsu
       (costa spuria), dan 2 pasang rusuk melayang (costa fluctuantes).
      Bersama lekukan thorax pada tulang belakang, tulang dada dan
       tulang rusuk membentuk rongga dada (thorax) yang melindungi
       organ-organ penting seperti jantung, paru-paru, dan pembuluh
       darah.




12. Rangka Apendikular
   Rangka apendikular meliputi anggota gerak tubuh. Rangka apendikular
   dapat dikelompokkan menjadi gelang bahu, tulang anggota gerak atas,
   gelang panggul, dan tulang anggota gerak bawah.
      Gelang bahu.
       Terdapat dua gelang bahu, yaitu kanan dan kiri. Masing-masing
       gelang bahu terdiri atas tulang selangka (clavicula) dan tulang
       belikat (scapula).
      Tulang anggota gerak atas.
       Tulang anggota gerak atas terdiri atas dua tungkai, kanan dan kiri.
       Masing-masing terdiri atas:
          a) tulang lengan atas (humerus);


                               15
          b) tulang hasta (ulna);
          c) tulang pengumpil (radius);
          d) 8 tulang pergelangan tangan (carpal);
          e) 5 tulang telapak tangan (metacarpal);
          f) 14 tulang jari tangan (phalanges).
      Gelang panggul. Gelang panggul terdiri atas 2 tulang pinggul
       (coxae) di kanan dan kiri. Gelang panggul sangat stabil dan
       berfungsi menahan berat tubuh.
      Tulang anggota gerak bawah.
       Tulang anggota gerak bawah terdiri atas dua tungkai kaki, kanan
       dan kiri. Masing-masing terdiri atas:
              a) tulang paha (femur);
              b) tulang tempurung (patella);
              c) tulang kering (tibia);
              d) tulang betis (fibula);
              e) 7 tulang pergelangan kaki (tarsal);
              f) 5 tulang telapak kaki (metatarsal);
              g) 14 tulang jari kaki (phalanges).




13. Sistem Tubuh Manusia
      Sistem kardiovaskular: memompa darah ke seluruh tubuh
      Sistem pencernaan: pemrosesan makanan yang terjadi di dalam
       mulut, perut, dan usus
      Sistem endokrin: komunikasi dalam tubuh dengan hormone
      Sistem kekebalan: mempertahankan tubuh dari serangan benda
       yang menyebabkan penyakit
      Sistem integumen: kulit, rambut
      Sistem limfatik: struktur yang terlibat dalam transfer limfa antara
       jaringan dan aliran darah
      Sistem otot: menggerakkan tubuh



                                   16
      Sistem saraf: mengumpulkan, mengirim, dan memproses informasi
       dalam otak dan saraf
      Sistem reproduksi: organ seks
      Sistem pernapasan: organ yang digunakan bernafas, paru-paru
      Sistem rangka: sokongan dan perlindungan struktural dengan
       tulang
      Sistem urin: ginjal dan struktur yang dihubungkan dalam produksi
       dan ekskresi urin




14. Organ Dalam Tubuh Manusia dan Fungsinya
      Tenggorokan
       Dalam anatomi, tenggorokan adalah bagian dari leher yang terdiri
   dari faring dan laring. Tenggorokan memiliki sebuah selaput otot yang
   dinamakan epiglottis yang berfungsi untuk memisahkan esofagus dari
   trakea dan mencegah makanan dan minuman untuk masuk ke saluran
   pernapasan. Tenggorok terdiri dari 2 bagian:
       a. Jalan makan (keronggongan): Orofaring, hipofaring, dan
          esofagus
       b. Jalan napas (tenggorok): Faring, laring dan trakea


      Jantung
       Jantung (bahasa Latin, cor) adalah sebuah rongga, organ berotot
   yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama
   yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung,
   dari Yunani “cardia” untuk jantung. Jantung adalah salah satu organ
   tubuh manusia yang berperan dalam sistem peredaran darah.


      Hati
       Hati adalah sebuah organ dalam vertebrata, termasuk manusia.
   Organ ini memainkan peran penting dalam metabolisme dan memiliki
   beberapa fungsi dalam tubuh termasuk penyimpanan glikogen, sintesis

                               17
protein plasma, dan penetralan obat. Hati juga memproduksi bile, yang
penting dalam pencernaan. Istilah medis yang bersangkutan dengan
hati biasanya dimulai dalam hepat- atau hepatik dari kata Yunani untuk
hati, hepar.


   Ginjal
    Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang berbentuk
mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi
menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya
bersama dengan air dalam bentuk urin. Cabang dari kedokteran yang
mempelajari ginjal dan penyakitnya disebut nefrologi.


   Paru-paru
    Paru-paru adalah organ pada sistem pernapasan (respirasi) dan
berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) vertebrata yang
bernapas dengan udara. Fungsinya adalah menukar oksigen dari udara
dengan karbon dioksida dari darah. Prosesnya disebut \”pernapasan
eksternal\” atau bernapas. Paru-paru juga mempunyai fungsi
nonrespirasi. Istilah kedokteran yang berhubungan dengan paru-paru
sering mulai di pulmo-, dari kata Latin “pulmones” untuk paru-paru.


   Limpa
    Limpa adalah kelenjar tanpa saluran (ductless) yang berhubungan
erat dengan sistem sirkulasi dan berfungsi menghancurkan sel darah
merah tua. Organ tubuh manusia ini dianggap merupakan salah satu
pusat kegiatan pada sistem retikuloendotelium. Awalnya, peranan
limpa tidak dimengerti dengan jelas. Tapi akhir-akhir ini, ditemukan
bahwa ketidakhadiran limpa dapat mendorong timbulnya beberapa
jenis infeksi.


   Lambung



                            18
    Lambung adalah organ tubuh manusia setelah kerongkongan yang
berfungsi untuk menghancurkan atau mencerna makanan yang ditelan
dan menyerap sari atau nutrisi makanan yang penting bagi tubuh.
Fungsi lambung sebagai fungsi motoris adalah: ”Fungsi Reservoir”,
menyimpan makanan sampai makanan tersebut sedikit demi sedikit
dicerna dan bergerak pada saluran cerna, memecah makanan menjadi
halus, dan mencampurkan dengan getah lambung melalui kontraksi
otot.


   Usus
    Usus adalah bagian dari sistem pencernaan yang bermula dari
lambung hingga anus. Pada manusia dan mamalia lain, usus terdiri dari
dua bagian: usus kecil dan usus besar (kolon). Pada manusia, usus
kecil terbagi lagi menjadi duodenum, jejunum, dan ileum, sedangkan
usus besar terbagi menjadi cecum, kolon, dan rektum.


   Usus halus
    Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan
yang terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari
tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong
(jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Pada usus dua belas jari
terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.


   Usus besar
    Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara
usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ tubuh manusia ini adalah
menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon terdiri dari kolon
menanjak (ascending), kolon melintang (transverse), kolon menurun
(descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus
buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan
“kolon kanan”, sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan
“kolon kiri”.

                            19
   Usus dua belas jari
       Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus
halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus
kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian
terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir
di ligamentum Treitz.
       Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang
tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua
belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan.
    Fungsi Usus dua belas jari bertanggung jawab untuk menyalurkan
makanan ke usus halus. Secara histologis, terdapat kelenjar Brunner
yang menghasilkan lendir. Dinding usus dua belas jari tersusun atas
lapisan-lapisan sel yang sangat tipis yang membentuk mukosa otot.


   Empedu
    Empedu adalah cairan bersifat basa yang pahit dan berwarna hijau
kekuningan, yang disekresikan oleh hepatosit hati pada sebagian besar
vertebrata. Pada beberapa spesies, empedu disimpan di kantung
empedu dan dilepaskan ke usus dua belas jari untuk membantu proses
pencernaan.


   Pankreas
    Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua
fungsi utama: menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon
penting seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut
dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari).




                            20
B. Pembahasan
       1. Pengaruh Skoliosis Terhadap Struktur Tubuh
              Kepala tidak sejajar langsung dengan panggul
              Kedua pundak tingginya tidak sama
              Tulang rusuk di ketinggian yang berbeda
              Garis pinggang tidak seimbang
              Terlihat tonjolan pinggul atau punggung
              Condongnya seluruh bagian tubuh ke satu sisi (kanan atau kiri)
              (Pada wanita) payudara besar sebelah
              Sebelah pinggul lebih tinggi
              Gangguan keseimbangan
              Kedua telinga tidak seimbang
              Ada sisi bahu yang lebih maju ke depan


           2. Pengaruh Skoliosis Terhadap Organ Tubuh
      Skoliosis dapat menghambat pergerakan rusuk dan volume paru-paru
       (pulmonary hypertention), sehingga penderita sering kesulitan bernafas
       (sesak nafas).
      Penderita skoliosis juga lebih mudah terkena osteoatritis (penyakit
       degeneratif sendi) akibat pergerakan sendi yang terhambat pada satu
       sisi.
      Skoliosis juga menyebabkan kelelahan tulang dan sendi, sehingga
       penderitanya sering merasakan nyeri, sakit kepala, kaku otot, atau
       pegal punggung.
      Skoliosis yang parah dengan derajat kebengkokan lebih dari 90 derajat
       berpotensi menyebabkan terjepitnya syaraf yang ada disepanjang ruas
       tulang belakang yang dapat mengakibatkan kelumpuhan.
      Sikap berjalan penderita skoliosis juga condong miring ke satu sisi
       karena pinggul tinggi sebelah.
      Kerusakan paru-paru dan jantung.
       Ini terjadi jika tulang belakang membengkok melebihi 70 derajat.
       Tulang rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan

                                    21
    penderita        sukar       bernafas   dan       cepat      capai.
    Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran memompa darah.
    Dalam keadaan ini, penderita lebih mudah mengalami penyakit paru-
    paru dan pneumonia.
   Sakit tulang belakang.
    Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi
    mengalami masalah sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat,
    penderita mungkin akan menghidap masalah sakit sendi. Tulang
    belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila penderita
    berumur 50 atau 60 tahun.
   Masalah image.
    Biasanya penderita merasa rendah diri, malu, dan kurang yakin untuk
    berhadapan dengan orang lain kerana badan mereka tidak seimbang,
    tinggi atau berat sebelah.
   Kemurungan.
    Ini adalah masalah psikologi yang paling dikhawatirkan pakar
    pengobatan, penderita akan lebih mudah mengalami kemurungan dan
    rasa sedih yang amat sangat.




                                   22
                                  BAB III
                                 PENUTUP


A. Kesimpulan
           Dampak atau imbas dari skoliosis, di samping bentuk tubuh yang
   tidak proporsional, juga mendatangkan berbagai ketidak nyamanan,
   misalnya seperti pinggang dan punggung terasa kaku (stiffness) terutama
   bila skoliosis tidak dikoreksi sejak dini. Akan lebih berbahaya lagi jika
   sudutnya besar dan terjadi di bagian atas (pinggang keatas), skoliosis dapat
   mempengaruhi paru-paru, dimana paru pada sisi yang terdorong tidak bisa
   berkembang maksimal karena rongga thorak menyempit termakan oleh
   tulang yang bengkok. Akibatnya dada menjadi sesak dan sulit bernafas.


B. Saran
   1.   Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, tetapi penderita
        perlu dirawat seawal mungkin. Tanpa perawatan, tulang belakang
        akan menjadi semakin bengkok dan menimbulkan berbagai
        komplikasi berbahaya bagi struktur rangka tulang tubuh dan organ
        dalam tubuh. Oleh karena itu, perlu dilakukan deteksi secara dini
        untuk mencegah skoliosis bertambah parah (atau terbentuk).


                                    23
2. Jika masyarakat sudah mengalami gejala-gejala kelainan tulang
   belakang skoliosis (misalnya sakit pinggang dan punggung), ataupun
   sudah melihat ciri-ciri fisik skoliosis, harus segera menghindari
   aktivitas-aktivitas yang memperburuk (atau membentuk) skoliosis,
   seperti:
          -   tidak memanggul beban berat di punggung (apalagi jika
              beratnya tidak seimbang)
          -   menghindari olahraga berlebihan
          -   menghilangkan kebiasaan duduk atau berdiri lama
          -   menghindari tidur dengan posisi tidak sempurna (miring ke
              samping)
          -   menghilangkan kebiasaan duduk miring/bengkok
          -   rajin berolahraga: berenang, yoga, lompat tali, menari, dll
              (yang merangsang pertumbuhan tulang)
          -   mengonsumsi vitamin B setiap hari.




                               24
                                   Daftar Pusaka
http://hanum01.wordpress.com/2008/10/06/apa-sih-skoliosis-itu/


http://klinikindomedistra.blogspot.com/p/pentingnya-deteksi-dan-penanganan-
sejak.html


http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/06/24/mewaspadai-ketika-si-
penyangga-tubuh-membengkok-472100.html


http://lailyjayy.blogspot.com/2013/03/cara-mencegah-dan-menangani-
skoliosis.html


http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100205190030AAYhgoV


http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/11/17/ketahui-skoliosis-sejak-dini-
413559.html


http://budisma.web.id/materi/sma/biologi-kelas-xi/struktur-dan-fungsi-rangka-
tubuh-manusia/




                                     25
26

								
To top