Docstoc

JUDUL ARTIKEL

Document Sample
JUDUL ARTIKEL Powered By Docstoc
					          PERANCANGAN IDENTITAS VISUAL
            RUMAH BATIK THE BWAN NIO

                                         Daniel Christian
                                 Taman Duta Mas blok D5/17 Jakarta 11460
                                      (021) 5678688 / 08159661207
                                        psyco_disco@yahoo.com

                                       Inda Ariesta, S.Sn

                                                 ABSTRAK


       Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang identitas visual yang menarik, kreatif, dan
komunikatif agar rumah batik tulis The Bwan Nio memiliki identitas yang jelas dimata masyarakat dan
dapat merambat ke pasar yang lebih luas. Metode penelitian yang digunakan adalah berdasarkan disiplin
ilmu Desain Komunikasi Visual (DKV) yang ada, dengan begitu diharapkan identitas visual tersebut dapat
mencerminkan jati diri dari rumah batik The Bwan Nio. Semoga nantinya identitas ini digunakan secara
maksimal dan memberikan dampak positif dalam perkembangan rumah batik ini dan tetap berdiri kokoh
serta melestarikan budaya bangsa indonesia.

         The purpose of this study was to design an attractive visual identity, creative, and communicative to
the batik home Bwan Nio has a clear identity in the eyes of society and can spread to the broader market.
The method used is based on the disciplines of Visual Communication Design, which is, as expected with
the visual identity to reflect the identity of the batik home Bwan Nio. Hopefully later this identity is used to
its full potential and positively impact the development of batik house is still standing strong and preserve
the national culture as well as Indonesia.

Kata kunci: Identitas Visual, Rumah Batik The Bwan Nio




PENDAHULUAN
         Batik merupakan salah satu ciri khas budaya Indonesia. Batik secara historis berasal dari zaman
nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau
pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya
batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih
pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui
penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal
sekarang ini. Di Lasem, Jawa Tengah, motif dan warna batiknya kental dengan ciri multikultural antara
budaya Jawa dan Tionghoa. Hal ini terjadi karena pada zaman Kerajaan Majapahit, kota Lasem merupakan
salah satu dari tiga kota pelabuhan terbesar. Kota Lasem pernah disinggahi salah seorang nahkoda kapal
dari rombongan Laksamana Ceng Ho. Puteri Na Li Ni, istri sang nahkoda kapal, merupakan salah seorang
perintis dunia perbatikan Lasem. Tradisi itu kini diwarisi oleh pengrajin batik di Rembang khususnya
Lasem, Pancur, Pamotan dan Rembang. Motif khas Tionghoa itu bisa terlihat dalam gambar burung hong,
kilin, liong, ikan mas, ayam hutan dan sebagainya. Karena kekhasan motifnya inilah yang membuat batik
lasem menjadi berbeda diantara batik-batik dari daerah lainya. Namun sangat disayangkan karena diantara
banyaknya rumah batik di Lasem, masih sedikit yang sadar akan pentingnya identitas visual. Masih banyak
rumah-rumah batik di Lasem yang tidak memiliki logo bahkan nama karena sistem pemasaranya yang
masih dititipkan di toko besar atau di pasar-pasar. Padahal identitas visual sangatlah penting bagi
pemasaran dan pencitraan kain batik Lasem di mata masyarakat Indonesia.




METODE PENELITIAN
Data dan informasi untuk mendukung proyek Tugas Akhir ini diperoleh dari berbagai sumber antara lain :
1.     Literatur : buku, artikel, media elektronik maupun non elektronik.
2.    Wawancara dengan pemilik rumah batik peranakan The Bwan Nio dan para pembatik.

      Batik lasem memang merupakan seni batik tulis yang kaya akan warna dan memiliki ciri
multikultural. Hal ini terjadi akibat akulturasi aneka budaya, khususnya budaya Tionghoa dan budaya Jawa
di kota Lasem yang merupakan salah satu dari tiga kota pelabuhan terbesar sejak zaman kerajaan
Majapahit.

         Melalui pengamatan terhadap sehelai batik Lasem, kita dapat mengenali hasil silang budaya tersebut.
Hal ini dapat kita lihat dari motif yang ada pada batik Lasem. Secara umum pada batik Lasem kita jumpai
kombinasi motif khas Cina dan motif Jawa. Motif Cina dapat berupa motif fauna (burung Hong/phoenix),
kilin, liong/naga, ikan mas, kelelawar, ayam hutan dan sebagainya), motif geometris (banji, swastika, dan
lain-lain), motif benda alam (awan, gunung, rembulan, dan sebagainya), serta motif Cina lainya (mata uang,
gulungan surat, dan sebagainya). Sedangkan motif Jawa pada umumnya merupakan motif geometris khas
batik vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta) seperti parang, lereng, kawung, udan liris, dan
sebagainya.

      Selain pada motifnya yang khas, kita dapat mengenali persilang budaya ini dari warnanya. Warna
dominan batik Lasem adalah merah, biru, soga, hijau, ungu, hitam, krem (kuning muda), dan putih. Pilihan
warna ini terjadi akibat dari pengaruh budaya tertentu. Warna merah darah menegaskan pengaruh budaya
Cina. Warna biru dipengaruhi budaya Belanda/Eropa (serupa warna biru keramik Delft/Delft blau). Warna
soga mencerminkan pengaruh budaya Jawa, yaitu diambil dari warna soga pada batik Surakarta. Sedangkan
warna hijau berasosiasi dengan komunitas muslim.

        Persilangan budaya melalui kombinasi warna ini dapat dilihat dari warna yang terdapat pada batik
tiga negeri. Batik tiga negeri merupakan jenis batik yang dikembangkan pada masa hindia Belanda dengan
ciri-ciri kombinasi tiga warna khas yang dibuat di tiga wilayah produksi, yaitu merah darah ayam (pengaruh
budaya Cina, proses pewarnaan di Lasem), biru (pengaruh budaya Belanda/Eropa), proses pewarnaan di
pekalongan), dan soga (pengaruh budaya Jawa, proses pewarnaan di Surakarta atau Solo). Warna merah dan
soga merupakan warna yang paling dominan di dalam batik tiga negeri. Kedua warna ini selalu ada pada
setiap batik tiga negeri yang di produksi oleh rumah batik di Lasem. Sedangkan warna biru dapat
digantikan oleh warna hijau atau bahkan ungu, sesuai permintaan calon pembeli.

        Diantara banyaknya rumah batik yang gulung tikar karena makin maraknya batik cap di kota Lasem
dan sekitarnya, rumah batik The Bwan Nio masih tetap bertahan dengan batik tulisnya yang khas Lasem
dan motif yang klasik. Rumah batik yang berdiri sejak tahun 1972 ini merupakan generasi penerus dari
warisan budaya leluhur nenek moyang yang terancam punah. Pada awal berdirinya, kain batik The Bwan
Nio bisa meraup untung hingga 400%-500% dari selembar kain batik tulisnya karena zaman dulu masih
sedikit berdiri rumah batik di kota Lasem, namun sekarang bisa meraup untung saja sudah bersyukur karena
sudah banyak bermunculan rumah-rumah batik di kota Lasem.

       Untuk menghasilkan selembar kain batik tulis, rumah batik The Bwan Nio membutuhkan waktu
kurang lebih 2 hari, hal ini dikarenakan proses pengerjaannya yang sangat memakan waktu karena rumah
batik The Bwan Nio masih menggunakan cara-cara traditional.

       Rumah batik The Bwan Nio hanya memproduksi batik tulis yang nantinya dibuat sarung. Untuk
membuat sarung dibutuhkan kain mori (kain untuk bahan dasar batik) sepanjang 2.2 meter. Sebetulnya
dulu, rumah batik The Bwan Nio juga memproduksi kain panjang atau kain yang biasa digunakan untuk
menjadi bawahan saat mengenakan kebaya, namun karena perkembangan zaman saat ini, dimana sudah
jarang atau bahkan tidak ada lagi perempuan-perempuan muda yang mengenakan kebaya traditional sehari-
harinya maka rumah batik The Bwan Nio tidak lagi memproduksi kain panjang.

       Untuk memproduksi selembar kain batik tulis khas Lasem tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu 3
bulan untuk memproduksi batik tulis dari awal hingga akhir. pertama kain mori diketeli/diuleni dengan
minyak jarak dan soda lalu diberi kanji dan dicuci. proses ini dilakukan berkali-kali hingga 10-25 hari
proses ini bertujuan agar saat proses pewarnaan, warnanya menyerap ke dalam kain. Namun saat ini banyak
rumah batik yang hanya merebus kain mori karena waktunya terlalu lama jika menggunakan minyak jarak
dan soda. Tetapi rumah batik The Bwan Nio teteap menggunakan metode kuno ini untuk memproduksi kain
batiknya. Setelah proses diketeli selesai, batik di pola dengan lilin dikedua sisinya lalu masuk ke proses
pewarnaan yang pertama. Untuk mendapatkan satu warna perlu dicelup beberapa kali karena kita harus
mencelupkan ke beberapa warna untuk mendapatkan warna yang diinginkan. setelah satu warna lalu kain di
tembok dengan lilin untuk menutup bagian yang tidak ingin diwarnai, begitu seterusnya hingga selesai.

       Pemasaran batik The Bwan Nio dari dulu hanya dari mulut ke mulut saja. Kebanyakan peminat batik
tulis The Bwan Nio berasal dari Surabaya dan Serang. Biasanya para pedagang langsung datang ke rumah
produksi batik dan memesan kain batik. Karena itu dibutuhkan identitas visual untuk rumah batik The
Bwan Nio agar masyarakat mengenali produk rumah batik ini.




                          Gambar 1 Proses produksi rumah batik The Bwan Nio

Target Audiens Primer

Demografi :
Usia          : 25-50 tahun
SES           :B
Jenis kelamin : perempuan

Psikografi :
Sikap dan perilaku :
Pedagang, kolektor, mencintai kain nusantara, orang yang memperhatikan detail.


Target Audiens Sekunder

Demografi :
Usia          : 25-50
SES           :A
Jenis kelamin : perempuan

Psikografi :
Sikap dan perilaku :
kolektor, mencintai kain nusantara, orang yang memperhatikan detail, sosialita, seniman.


SWOT(Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) Image Toys

Strengths :
- Produk yang ditawarkan merupakan batik tulis peranakan yang hanya dibuat khusus satu per satu.
- warna kain batiknya semakin dicuci warnanya akan semakin keluar.
- Motifnya klasik: 3 negri, tertotejo, gunung ringgit, dan warna khas peranakan: mengunakan warna merah
yang khas yaitu warna merah darah ayam, biru, soga, hijau, kuning.
- Kualitas kain dan bahan bakunya sangat baik, menggunakan pewarna alami.
- Batik Lasem adalah identitas bangsa.

Weaknesses :
- Rumah batik The Bwan Nio tidak memiliki identitas visual

Opportunities :
- Sejak ditetapkanya hari batik di hari jumat oleh pemerintah yang mewajibkan para karyawan untuk
mengenakan batik maka meningkatkan permintaan akan kain batik.
- Kain batik mudah diolah dan dapat dipakai di berbagai acara.

Threats :
   - Minat masyarakat yang kurang akan kain batik.

HASIL DAN BAHASAN
       Berikut merupakan hasil-hasil desain yang telah dikerjakan oleh penulis beserta konsep dan
keterangan dari media-media yang telah dipilih. Spesifikasi secara lengkap mengenai materi promosi kreatif
dari rumah batik The bwan Nio agar produknya dapat memiliki citra yang sesuai dengan yang diharapkan di
mata masyarakat.

Logo

       Logo The Bwan Nio di lambangkan oleh burung hong. Menurut kepercayaan China, Merupakan
mahluk dewata, gabungan dari berbagai burung antara lain ayam (jengger), burung layang-layang (paruh),
merak (ekor). Burung Hong adalah mahluk mitologi yang melambangkan ketulusan hati dan kesetiaan.
Filosofi inilah yang dipegang teguh oleh rumah batik The Bwan Nio.




                               Gambar 2 Logo rumah batik The Bwan Nio
Element Grafis

      Element grafis yang ditampilkan berupa potongan foto-foto kuno yang ditata layaknya scrapbook.




                                      Gambar 3 Element Grafis



Kop Surat

       Kop surat ini berukuran A4 dan menggunakan kertas fancy. Bagian belakang kop surat terdapak
visual karena nantinya akan menggunakan amplop bening dari kalkir.
                                        Gambar 4 Kop Surat
Kartu Nama

       Kartu nama rumah batik Lasem peranakan The Bwan Nio terdiri dari 4 desain yang menjadi 1 seri.
Tiap desainya dibuat berbeda namun tetap dalam satu kesatuan.




                                       Gambar 5 Kartu Nama

Box
                                     Gambar 6 Desain box
Faktur, tanda terima, surat pengantar




                      Gambar 7 Desain faktur, tanda terima, surat pengantar
Label Harga

       Label harga ini di desain berupa kartu yang didalamnya terdapat ulasan mengennai tips merawat
serta kode dan harga produk batik tulis ini.




                                     Gambar 8 Desain laber harga

Paper Bag

      Desain paperbag terdiri dari 2 jenis, satu paperbag kecil untuk konsumen yang hanya membeli satu
produk dan yang satunya untuk konsumen yang membeli lebih dari satu produk.
                                    Gambar 9 Desain paper bag

Kartu pos

        Desain postcard ini bertujuan mengedukasi para konsumen agar mereka memahami tentang batik
tulis Lasem peranakan.




                                    Gambar 10 Desain kartu pos
Brosur

     Desain brosur terdiri dari bagian luar brosur dan isi brosur dang dilipat menjadi 5 bagian.




                                       Gambar 11 Desain Brosur
SIMPULAN DAN SARAN
        Identitas visual suatu perusahaan merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan
dengan identitas perusahaan secara keseluruhan. Identitas perusahaan menjadi bagian yang paling mendasar
dalam pembentukan citra perusahaan di mata masyarakat secara umum, maka pada setiap penerapannya
diharapkan tetap konsisten sehingga identitas tetap terjaga dan terarah.

       Identitas visual tersebut mencerminkan jati diri dari rumah batik Lasem peranakan The Bwan Nio.
Semoga nantinya identitas ini digunakan secara maksimal dan memberikan dampak positif dalam
perkembangan rumah batik ini dan tetap berdiri kokoh serta melestarikan budaya bangsa Indonesia.

        Disarankan identitas visual ini dapat dipergunakan secara maksimal dan sesuai dengan aturan yang
ada, supaya konsistensi tersebut dapat mencerminkan rumah batik The Bwan Nio yang profesional dan
dapat menjaga hubungan yang baik dengan konsumenya.



REFERENSI
Allison Goodman.(2001). 7 Essentials of Graphic Design. How Design Book, Chincinnati, Ohio.

Anonymous.(2007). Batik Lasem: Kekayaan Masyarakat Rembang.

Drs. F.X. Tri Djoko Margono.(2007). Kanuri. Peran Dinas Perindagkop dalam Pengembangan Batik Lasem

Kwan Hwie Liong.(2007). Kanuri. Batik Lasem: Refleksi sejarah, Dimensi Multikultural, dan
Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan di Kabupaten Rembang, Propinsi Jawa Tengah.

Murphy, Horn Adn Rowe, Michael. How to design Trademark And Logos.

Rustan, S. (2008). Layout: Dasar dan Penerapannya, pp75-86. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Safanayong, Yongky.(2006).Desain Komunikasi Visual Terpadu.

Sihombing, D. (2001). Tipografi dalam Desain Grafis. Gramedia, Jakarta.

RIWAYAT PENULIS
Daniel Christian, lahir di kota Jakarta pada 18 Desember 1989. Penulis menamatkan pendidikan S1 di
Universitas Bina Nusantara dalam bidang Desain Komunikasi Visual pada tahun 2012.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/17/2013
language:Unknown
pages:11
tang shuming tang shuming
About