Metode Penelitian-Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

Document Sample
Metode Penelitian-Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010 Powered By Docstoc
					Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


                                           BAB I

                                     PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

       Berdasarkan informasi yang peneliti peroleh dari ANTARA News bahwa beberapa

Industri kerupuk di beberapa daerah di indonesia terancam gulung tikar terkait naiknya harga

tepung dan minyak goreng. Bahkan di daerah Pekalongan, sudah ada 5 usaha kerupuk

terpaksa menutup usahanya karena terus merugi. Kenaikan harga bahan baku, seperti tepung

dan minyak goreng terus bertahan maka dipastikan industri kerupuk pekalongan akan tutup.

Selama ini ongkos produksi makin melonjak sedangkan produsen tak bisa menaikan harga

kerupuk karena takut tidak laku dijual. Sebagian industri kerupuk yang masih bertahan

beraktivitas meski harus mengurangi volume produksinya, dimana mereka memproduksi

kerupuk tidak setiap hari dalam seminggu. Olehnya itu, pemerintah perlu memberikan solusi

agar pengusaha kerupuk tetap bertahan dan mendapatkan keuntungan. Itu hanya potret kecil

dari permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan Industri kerupuk di Indonesia. Belum lagi

jika kita mengumpulkan seluruh masalah yang mungkin dihadapi oleh semua perusahaan

industri kerupuk di seluruh daerah indonesia. Paling tidak, permasalah produksi tidak lepas

dari komponen-komponen input produksi seperti tenaga kerja, modal, dan bahan baku

produksi.

       Komponen produksi kerupuk sendiri jelas tidak dapat dipisahkan dari bahan baku

yang diperlukan, modal yang digunakan untuk memproduksi kerupuk, serta tenaga kerja yang

diperlukan untuk memproduksi kerupuk. Untuk memecahkan masalah-masalah yang

dihadapi oleh perusahaan industri kerupuk tentunya harus menitikberatkan terhadap

komponen-komponen tersebut. Olehnya itu perlu dilakukan analisis yang serius terhadap


                                              1
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

produksi dan input-input produksi agar didapatkan solusi sehingga pengusaha tetap bertahan

dan memperoleh keuntungan yang signifikan dari usaha kerupuknya. Apakah harus

meningkatkan bahan baku, menambah tenaga kerja, meningkatkan modal, dan sebagainya.

        Beberapa pengamat berkeyakinan bahwa teknik produksi yang diterapkan pada

perusahaan industri mengakibatkan substitusi antara input tenaga kerja danh input lainnya

seperti modal timbul kesukaran, akibatnya kemampuan menyerap tenaga kerja terbatas.

Pengamat lain mengatakan ketidaksempurnaan pasar faktor produksi dapat muncul,

sekurang-kurangnya sebagian, pada perusahaan industri yang memiliki pertumbuhan

kesempatan kerja rendah. Perusahaan mungkin dirangsang menggunakan teknologi padat

modal oleh peraturan perdagangan luar negeri dimana mesin-mesin impor untuk keperluan

industri disubsidi.

        Dilihat dari segi kesempatan kerja di satu sisi dan perbaikan kesejahteraan pekerja di

sisi lain timbul dilema. Peningkatan kesejahteraan pekerja dapat dilakukan melalui

peningkatan upah. Peningkatan tingkat upah mengakibatkan pengusaha industri cenderung

beralih pada teknologi padat modal yang berarti mengurangi kesempatan kerja. Sebaliknya

usaha memperluas kesempatan kerja cenderung berakibat tingkat upah relatif rendah dan

pada beberapa kasus lebih rendah dari tingkat upah minimum.

        Adapun barang-barang produksi yang dihasilkan Indonesia kurang efisien

dibandingkan barang sejenis yang dihasilkan negara lain. Usaha meningkatkan efisiensi

nasional memang merupakan suatu kebutuhan semua pihak.

        Dari segi teknis, efisiensi perusahaan berkaitan dengan skala hasil. Dapat diharapkan

bahwa apabila perusahaan telah berada pada ukuran pabrik yang efisien, peningkatan

proporsional faktor produksi akan menghasilkan peningkatan produksi dengan proporsi yang

sama. Dalam hal demikian, perusahaan memiliki skala hasil konstan. Skala hasil menurun




                                               2
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

dapat terjadi karena efektifitas pengawasan yang semakin menurun atas faktor produksi yang

digunakan.

       Beradasarkan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan peneliti (saya) mengenai

Industri Kerupuk (skala besar-sedang) tahun 2008, diperoleh hasil bahwa indeks efisiensi

sebesar 3,720 dimana industri kerupuk di indonesia berada pada kondisi constant return to

scale(CRS) yang artinya bahwa penambahan secara proporsional persentasi penggunaan

faktor-faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen akan meningkatkan hasil

produksi sebesar 1 persen(skala hasil yang konstan). Lantas bagaimana jika hasil tersebut

dibandingkan dengan fungsi produksi untuk tahun 2009 dan 2010 ?

       Olehnya itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengkaji masalah tersebut.

Apakah indeks efisiensi perusahaan industri kerupuk pada tahun 2009 lebih baik dari tahun

2008 dan tahun 2010 lebih baik dari tahun 2009, atau sebaliknya. Atau bisa saja dari analisis

skala usaha diperoleh hasil bahwa terjadi penurunan (decreasing return to scale) dibanding

tahun sebelumnya. Selain itu, akan diketahui pula variabel input apa yang paling dominan

yang akan mengoptimalkan nilai produksi, apakah modal; tenaga kerja; ataukah bahan baku.

Nah hasil-hasil penelitian tersebut akan sangat membantu guna perbaikan manajemen

perusahaan industri kerupuk dan penentuan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah,

mengingat industri ini merupakan penghasil komoditi pangan yang cukup digemari

masyarakat Indonesia, disamping potensinya untuk memperluas usaha dan menambah

lapangan pekerjaan(kemampuan untuk menyerap tenaga kerja).




                                              3
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


1.2. Perumusan Masalah

        Dari uraian pada latar belakang diatas maka dirangkum lagi rumusan masalah sebagai

berikut :

1. ) Sejauh mana faktor produksi modal, bahan baku, tenaga kerja berpengaruh terhadap

   produksi industri kerupuk di Indonesia tahun 2009 dan tahun 2010 ? Lantas bagaimana

   perbandingannya dengan tahun sebelumnya (2008).

2. ) Apakah indeks efisiensi perusahaan industri kerupuk pada tahun 2009 lebih baik dari

   tahun 2008 dan tahun 2010 lebih baik dari tahun 2009, atau sebaliknya? Apakah terjadi

   peningkatan yang signifikan atau malah sebaliknya?

3.) Bagaimanakah kondisi skala usaha untuk produksi kerupuk tahun 2009 dan 2010?

   Bagaiman jika dibandingkan dengan tahun 2008?

4. ) Variabel input apa yang paling dominan yang akan mengoptimalkan nilai produksi,

    apakah modal; tenaga kerja; ataukah bahan baku? Bagaimana perbandingan untuk ketiga

    tahun tersebut?



1.3. Tujuan Penelitian

        Terkait dengan masalah yang dikemukakan diatas maka penelitian ini dimaksudkan :

1. ) Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh modal, bahan baku,dan tenaga kerja

    terhadap produksi industri kerupuk di Indonesia tahun 2009 dan 2010, serta bagaimana

    perbandingan untuk ketiga tahun tersebut(termasuk 2008).

2.) Untuk mengetahui perbandingan dan perkembangan tingkat efisiensi dan skala usaha

    perusahaan industri kerupuk Indonesia untuk tahun 2008, 2009, dan 2010.

3. ) Untuk mengetahui variabel yang dominan yang terdiri dari modal, bahan

    baku,dan tenaga kerja dalam mempengaruhi produksi industri kerupuk di Indonesia

    tahun 2009 dan 2010.


                                              4
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


1.4. Manfaat Penelitiaan

       Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.) Sebagai bahan masukan untuk menambah informasi bagi perusahaan industri kerupuk

  (skala besar-sedang) dalam kajian manajemen operasi yang berkaitan dengan peningkatan

   produksi kerupuk.

2.) Sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan bagi peneliti dan pembaca terutama

  pengusaha yang berkecimpung di industri kerupuk(skala besar-sedang) dibidang

  manajemen operasi.

3.) Sebagai bahan referensi bagi peneliti lain dalam meneliti dan mengkaji masalah yang

  sama dimasa yang akan datang.




                                             5
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


                                           BAB II

                                  TINJAUAN PUSTAKA




2.1.1 Definisi Industri

       Definisi industri menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian adalah

kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi,

dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya,

termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri. Menurut Badan Pusat Statistik

(2009), industri merupakan cabang kegiatan ekonomi, sebuah perusahaan atau badan usaha

sejenisnya dimana tempat seseorang bekerja. Kegiatan ini diklasifikasikan berdasarkan

Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI).

       Menurut Kamus Ekonomi(1998), industri merupakan usaha produktif, terutama dalam

bidang produksi atau perusahaan tertentu yang menggunakan modal dan tenaga kerja dalam

jumlah yang relatif besar.



2.1.2 Definisi Industri Besar Sedang(IBS)

       Karena data sekunder yang dianalisis merupakan kategori Industri Besar Sedang,

maka perlu diketahui definisi IBS itu sendiri. Adapun definisi Industri besar sedang ialah

sebagai berikut:

a.) Industri sedang, yaitu perusahaan atau usaha industri pengolahan yang

   mempunyai pekerja 20-99 orang.

b.) Industri besar, yaitu perusahaan atau usaha industri pengolahan yang

   mempunyai pekerja 100 orang atau lebih.




                                              6
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


2.1.3 Definisi Industri Kerupuk, Keripik, Peyek Dan Sejenisnya(15496)

       Kelompok ini mencakup usaha industri berbagai macam kerupuk, seperti: kerupuk

udang, kerupuk ikan dan kerupuk pati (kerupuk terung). Dan usaha pembuatan berbagai

macam makanan sejenis kerupuk, seperti macam-macam emping, kecimpring, karak, gendar,

opak, keripik paru, keripik bekicot dan keripik kulit, peyek teri, peyek udang. Kegiatan /

saha pembuatan keripik / peyek dari kacang kacangan dimasukkan dalam kelompok 15495

(Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2005).



2.2 Produksi

2.2.1. Teori Produksi

       Putong (2002) produksi atau memproduksi adalah menambah kegunaan (nilai guna)

suatu barang. Kegunaan suatu barang akan bertambah bila memberikan mamfaat baru atau

lebih dari bentuk semula. Lebih spesifik lagi produksi adalah kegiatan perusahaan

dengan mengkombinasikan berbagai input untuk menghasilkan output dengan biaya

yang minimum. Salvatore (2001) produksi merujuk pada transformasi dari berbagai input

atau sumber daya menjadi output berupa barang atau Jasa. Herjanto (2004) produksi

dan operasi merupakan suatu kegiatan yang berhubungan dengan penciptaan/pembuaatan

barang, jasa melalui proses transformasi dari masukan menjadi keluaran yang diinginkan.

Selanjutnya Ahyari (1997) produksi adalah segala kegiatan dalam menciptakan dan

menambah kegunaan sesuatu barang dan jasa, untuk kegiatan tersebut dibutuhkan faktor-

faktor produksi yang dalam ilmu ekonomi berupa tanah, modal dan tenaga kerja. Selanjutnya

Beattie dan Taylor (1994) menyatakan produksi adalah proses kombinasi dan koordinasi

materialmaterial serta kekuatan (faktor produksi, sumber daya) dalam menghasilkan suatu

barang /jasa (output).

        Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa produksi tidak terlepas dari


                                               7
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

penggunaan sumber-sumber yang ada untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu

barang atau jasa, sehingga barang atau jasa yang dihasilkan akan mempunyai nilai ekonomis

untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memperoleh laba dari hasil usaha yang dilakukan.

Masukan berupa sumberdaya yang diperlukan seperti : modal, bahan baku, tenaga kerja dan

mesin, sedangkan keluaran dapat berupa barang setengah jadi maupun barang jadi dan jasa.

Proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan melibatkan tiga kegiatan pokok.



2.2.1.1 Modal

1. Pengertian Modal

       Modal adalah salah satu faktor produksi yang digunakan dalam melakukan

proses produksi. Produksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat-alat atau

mesin produksi yang efisien. Dalam proses produksi tidak ada perbedaan antara

modal sendiri dengan modal pinjaman, yang masing-masing berperan langsung dalam

proses produksi. Akumulasi modal terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung

dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar produktivitas dan pendapatan.

       Riyanto (1997) Modal terbagi dua yaitu modal aktif dan modal pasif. Modal

aktif menurut fungsi kerjanya dapat dibedakan menjadi modal kerja dan modal tetap.

Sedangkan modal pasif dapat dibedakan antara modal sendiri dan modal asing atau

modal badan usaha dan modal kreditur/uang. Brigham dan Houston (2001) modal

kerja merupakan investasi perusahaan dalam jangka waktu pendek meliputi kas,

piutang, persediaan barang. Jumlah modal kerja dapat lebih mudah diperbesar atau

diperkecil, disesuaikan dengan kebutuhannya, juga elemen-elemen modal kerja akan

berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.

       Dengan perkembangan teknologi serta semakin ketatnya persaingan di

sektor industri, maka faktor produksi modal memiliki arti yang penting bagi


                                             8
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

perusahaan untuk mengembangkan usahanya. Schwiedland dalam Riyanto (1997)

modal itu meliputi modal dalam bentuk uang (geldkapital), maupun dalam bentuk

barang (sachkapital).

2. Modal Kerja

       Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk membelanjai

operasi sehari-hari, misalnya untuk pembelian bahan mentah, membayar gaji

karyawan, dan lain sebagainya, dimana modal yang dikeluarkan itu diharapkan akan

dapat kembali masuk kedalam perusahaan dalam waktu pendek melalui hasil

penjualan produknya. Uang yang masuk dari hasil penjualan produk tersebut akan

segera keluar lagi untuk membiayai operasi selanjutnya. Dengan demikian maka dana

tersebut akan terus menerus berputar setiap periode selama hidup perusahaan. Riyanto (1992)

modal kerja adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk operasi perusahaan dalam satu

periode (dalam jangka pendek) meliputi kas, persediaan barang, piutang, depresiasi bangunan

dan depresiasi mesin.



2.2.1.2 Tenaga Kerja

1. Pengertian Tenaga Kerja

       Setiap perusahaan dalam melaksanakan proses produksi tidak dapat hanya

mengandalkan pemanfaatan fasilitas dengan teknologi modern, karena sistem

produksi membutuhkan jasa tenaga kerja untuk memperlancar proses produksi yang

akan bermanfaat bagi masyarakat. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor yang

terpenting dalam proses produksi untuk menghasilkan barang maupun jasa disamping

faktor produksi modal, teknologi dan sumberdaya alam.




                                             9
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


2. Jenis Tenaga Kerja

       Untuk kepentingan penyusunan anggaran dan perhitungan biaya maka

biasanya tenaga kerja dapat dibagi menjadi :

1.) Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung terlibat dalam

   proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang

   yang dihasilkan. Menurut Maher dan Dealin (1996) tenaga kerja langsung adalah

   para pekerja yang benar-benar mengubah bahan baku menjadi barang jadi selama

   proses produksi.

2.) Tenaga kerja tak langsung adalah tenaga kerja yang tidak terlibat langsung

   pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada overhead pabrik

   (Adisaputro 2000).



2.2.1.3 Bahan baku

       Bahan baku disebut juga bahan dasar yang dipergunakan untuk memproduksi

suatu barang. Bahan baku merupakan bagian yang integral dari produk yang

dihasilkan oleh suatu perusahaan.



2.2.2 Fungsi Produksi

       Sunaryo (2001) fungsi produksi menggambarkan hubungan antara input dan output,

jika input bertambah maka output juga meningkat. Beattie dan Taylor (1994) fungsi produksi

adalah sebuah diskripsi matematis atau kwantitatif dari kemungkinan-kemungkinan teknis

yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Sukirno dan Adiningsih tingkat produksi suatu barang

tergantung kepada jumlah modal, jumlah tenaga kerja, jumlah kekayaan alam, dan tingkat

teknologi yang digunakan (Asnawi, 2002). Fungsi produksi akan berubah jika salah satu dari




                                               10
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

keseluruhan variabel input berubah, fungsi produksi harus efisien secara teknis harus tunduk

pada the law of diminishing return. Perubahan besarnya output diperoleh karena perubahan

pemakaian input dapat diukur dengan suatu konsep elastisitas produksi. Pappas (1995)

elastisitas produksi adalah persentase perubahan dalam variabel dependent yang dihasilkan

dari perubahan 1 (satu) persen variabel independent.

       Fungsi produksi menghubungkan input dengan output dan menentukan tingkat output

optimum yang bisa diproduksikan dengan sejumlah input tertentu atau sebaliknya, jumlah

input minimum yang diperlukan untuk memproduksi tingkat output tertentu. Fungsi produksi

ditentukan oleh tingkat teknologi yang digunakan dalam suatu perusahaan (Arsyad 1993).

Proses produksi merupakan sistem yang memerlukan pengelolaan, dalam hal ini adalah

manajemen produksi. Manajemen produksi berkepentingan dalam pengambilan keputusan

yang menyangkut proses produksi serta mengarah pada produk yang dihasilkan sesuai

dengan rencana, baik dari segi waktu maupun biaya.

       Fungsi produksi yang diperoleh dapat dipakai untuk menguji serta mengukur efisiensi

dari suatu proses produksi. Dalam proses produksi sejumlah produk tertentu dapat diperoleh

dengan menggunakan beberapa faktor produksi yang berbeda-beda kombinasinya. Dalam

usaha produksi perusahaan berusaha untuk memadukan berbagai faktor produksi agar

tercapai suatu kondisi yang efisien. Kondisi tersebut dapat digambarkan oleh fungsi produksi

yang melihat hubungan antara tingkat produksi dengan penggunaan faktor produksi. Fungsi

produksi yang menunjukan hubungan antara jumlah produk dengan input yang digunakan

dalam proses produksi, dapat diformulasikan secara umum sebagai berikut :

Q = f (K,L,M) ……………………………………………………… (2.1)

Dimana :

Q = jumlah output yang dihasilkan selama periode tertentu

K = jumlah modal yang digunakan


                                             11
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

L = jumlah tenaga kerja yang digunakan

M = variabel lain yang kemungkinan mempengaruhi produksi.

       Gasperz dalam Matthias Aroef (1991) terdapat tiga bentuk fungsi produksi

yaitu fungsi produksi Cobb Douglas, Log-log Inverse (LLI) dan Transdental (TRAN).

Josran dan Fathorozi (2003) mengemukakan tiga bentuk fungsi produksi yaitu fungsi

produksi Leontief, fungsi produksi Cobb-Douglas dan fungsi produksi Constant

Elasticity of Substitution (CES). Dari beberapa bentuk fungsi produksi yang ada,

fungsi produksi Cobb-Douglas paling sering digunakan karena memiliki kemudahan

dibandingkan fungsi produksi yang lain. Sorkartawati dalam Joesran dan Fatorozi (2003) ada

tiga alasan mengapa fungsi produksi Cobb-Douglas banyak dipakai oleh para peneliti, yaitu :

1. Penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif mudah dibandingkan dengan

  fungsi lainnya, misalnya lebih mudah ditransfer dalam bentuk linier.

2. Hasil pendugaan garis melalui fungsi produksi Cobb-Douglas akan menghasilkan

  koefisien regresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastisitas.

3. Besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran Return to

  Scale.



2.2.2.1 Fungsi Produksi Cobb-Douglas

       Fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan salah satu model yang paling

banyak digunakan dalam bidang-bidang ekonomi maupun bidang produksi. Model ini

pertama kali diperkenalkan oleh Charles W.Cobb dan Paul H.Douglas pada tahun

1928. Persamaan matematis fungsi Cobb-Douglas adalah :

            p
Q  B0 ( X i )e u ……………………………………………….. (2.2)
                  Bi

           i 1


       Fungsi produksi yang secara umum digunakan adalah dalam bentuk estimasi


                                             12
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

empiris dengan persamaan (Gasperz dalam Matthias Aroef, 1991) :

Q = A0Kb1Lb2eu ………………………………………………….. (2.3)

Dimana :

Q = output

K = input modal

L = input tenaga kerja

A0 = parameter estimasi

b1 = elastisitas input modal

b2 = elastisitas input tenaga kerja

        Dimana model diatas dapat ditransformasikan ke dalam bentuk linier

logaritmatik sebagai berikut :

Ln Q = ln A0 + b1 ln K + b2 ln L + u . ………………………………. (2.4)

        Dari model fungsi produksi juga dapat diturunkan produk marjinal (PM) dan

elastisitas produksi. Produk marjinal yaitu tambahan produksi akibat penambahan satu input

(Soekartawi dalam Joesran dan Fathorrozi, 2003), secara matematis dapatdiformulasikan

sebagai berikut :

        Q                       Y
PM          a0 Bi X iBi 1  Bi    .………………………………….. (2.5)
        X i                     Xi

        Elastisitas adalah konsep kuantitatif yang sangat penting untuk mengidentifikasi

secara kuantitatif respon sebuah variabel karena perubahan variabel lain. Elastisitas produksi

(Ep) sendiri menunjukkan persentase perubahan output sebagai akibat dari perubahan input

(Soekartawi dalam Joesran dan Fathorozi, 2003),

secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :

            Q    X i   
EQ . X i  
            X   
                   Q       Bi …………………………………………… (2.6)
                           
            i           

Analisis elastisitas input ini penting untuk menjelaskan input mana yang lebih

                                              13
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

elastis dibanding dengan input lainnya. Disamping itu, sekaligus dapat diketahui

intensitas faktor produksinya, apakah bersifat tenaga kerja dan padat modal. Apabila

nilai b1>b2, maka proses produksi lebih bersifat padat kapital, dan sebaliknya.




2.3 Penelitian Terdahulu


        Dari hasil penelitian terdahulu peneliti(saya) yang berjudul, “Analisis Fungsi Cobb

Douglas Terhadap Industri Kerupuk(Skala Besar-Sedang) di Indonesia Tahun 2008”, di

mana jumlah perusahaan sbesar 691 perusahaan, diperoleh hasil bahwa asumsi klasik berupa

normalitas; non-multikolinearitas; non-autokorelasi; dan homoskedastisitas terpenuhi (lihat

Lampiran 3 & 4). Sehingga diperoleh persamaan regresi linear berganda yakni Ln Q =

Ln(3,720) + 0,068 LnX1 + 0,743 LnX2 + 0,224 LnX3 dan menghasilkan fungsi Cobb-Douglas

sebagai berikut


Q = 3,72X10,068X20,743X30,224 .

Dimana: Q = nilai produksi (Rp)

         X1 = nilai modal (Rp)

         X2 = nilai bahan baku (Rp)

         X3 = jumlah tenaga kerja.

        Terlihat bahwa elstisitas produksi dari penjumlahan koefisien regresi

(Σbi=0,068+0,743+0,224=1,035) sebesar 1,035, berarti setiap penambahan 1 persen faktor-

faktor produksi secara bersama-sama akan meningkatkan produksi sebesar 1,035 persen. Hal

ini menunjukan bahwa perusahaan industri kerupuk (skala besar-sedang) di Indonesia berada

di kondisi increasing return to scale (IRS) atau berada pada tahap kenaikan hasil yang

meningkat.



                                              14
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

       Pernyataan di atas belum sepenuhnya dapat diterima, harus diuji terlebih dahulu

dengan menggunakan uji F Tintner.

Ln Q = 3,720 + 0,068 LnX1 + 0,743 LnX2 + 0,224 LnX3

b1 + b2 + b3 = 1 (asumsi Cobb Douglas),maka b1 = 1- (b2+b3)

Ln Q = ln b0 + (1-(b2+b3)) lnX1 + b2 lnX2 +b3lnX3

Ln Q = ln b0 + (ln x1- b2 lnX1 – b3 lnX1) + b2 ln X2 + b3 lnX3

Ln Q – ln X1 = Ln b0 + b2 lnX2 – b2 lnX1 + b3 lnX3 – b3 lnX1

Ln Q – ln X1 = ln b0 + b2(ln X2 – ln X1) + b3(ln X3 – ln X1)

Jika (R) = ln Q – ln X1

     (S) = ln X2 – ln X1

     (T) = ln X3 – ln X1

Maka persamaan dapat ditulis dalam bentuk :

       (R) = ln b0 + b2 (S) + b3 (T)

 (R) = ln 3,720 + 0,743 (S) + 0,224 (T)

H0 : Σbi =1

H1 : Σbi≠1

Ftitner = [(Σe22- Σe12)/m]/[(Σe12)/(n-k)]

Dimana :

Σe12 = jumlah kuadrat sisa fungsi terbuka (fungsi cobb douglas)

Σe12 = jumlah kuadrat sisa fungsi terbatas ( model yang direstriksi)

k = jumlah variabel = 3

n = jumlah sampel = 691

m=1

db = 1 ; 687 (m;(n-k))




                                              15
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

       Diperoleh nilai F hitung sebesar 0,00046. Sedangkan nilai F tabel sebesar 3,86 dengan

tingkat kepercayaan 95%. Nilai F hitung yang lebih kecil daripada F tabel menunjukan

bahwa fungsi produksi telah memenuhi asumsi fungsi cobb douglas, dimana industri kerupuk

di indonesia berada pada kondisi constant return to scale (terima H0). Penambahan secara

proporsional persentasi penggunaan faktor-faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1

persen akan meningkatkan hasil produksi sebesar 1 persen.

       Koefisien ln X1 sebesar 0,068 sekaligus menunjukkan besarnya elastisitas input modal

terhadap produksi kerupuk perusahaan industri kerupuk yang artinya jika kenaikan modal

setiap 1 (satu) persen dengan mengasumsikan input lain (tenaga kerja, bahan baku) konstan,

hanya akan meningkatkan produksi sebesar 0,068 persen.


       Koefisien ln X2 sebesar 0,743 sekaligus menunjukkan besarnya elastisitas input bahan

baku terhadap produksi perusahaan industri kerupuk di Indonesia yang artinya jika kenaikan

bahan baku setiap 1 (satu) persen dengan mengasumsikan input lain (modal, tenaga kerja)

konstan hanya akan meningkatkan produksi krupuk sebesar 0,743 persen.


       Koefisien ln X3 sebesar 0,224 sekaligus menunjukkan besarnya elastisitas input

tenaga kerja terhadap produksi perusahaan industri kerupuk di Indonesia yang artinya jika

kenaikan setiap 1 (satu) persen jam kerja tenaga kerja dengan mengasumsikan input lain

konstan, hanya akan meningkatkan produksi kerupuk sebesar 0,224 persen.

       Temuan empiris menunjukan bahwa bahan baku lebih dominan, hal ini dapat

dilihat dari nilai Unstandarized Coeffecients bahan baku (X2) 0,743 sedangkan nilai

Unstandarized Coefficients modal (X1) 0,068, nilai Unstandarized Coefficients tenaga

kerja (X3) 0,224. Dengan demikian bahan baku menunjukkan pengaruh yang lebih besar

terhadap upaya peningkatan produksi perusahaan industri kerupuk di indonesia dibandingkan

modal, dan tenaga kerja.



                                             16
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010




2.4 Kerangka Teoritis

       Kerangka pemikiran teoritis untuk penelitian ini dapat dituangkan dalam bentuk

bagan berikut.




                                   Bahan
                                    Baku
                                                            Tenaga
          Modal
                                                             Kerja

                                    Produksi



2.5 Hipotesis Penelitian

       Berdasarkan rumusan masalah dalam kerangka berpikir diatas, maka

dirumuskan hipotesis sebagai berikut : faktor produksi modal, bahan baku,dan tenaga

kerja berpengaruh terhadap produksi kerupuk di Indonesia, baik untuk tahun 2009 maupun

tahun 2010.




                                             17
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


                             BAB III Metodologi Penelitian




3.1. Jenis dan Sumber Data

         Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ialah data cross sectional yang

bersumber dari data sekunder BPS bagian Statistik Produksi, subdit Industri Besar

Sedang(IBS) tahun 2009 dan 2010 yang menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan kerja

Indonesia(KBLI) 2005, tepatnya Industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya.Untuk data

IBS tahun 2008 telah ada pada peneltian sebelumnya (termasuk hasil penelitian).



3.2. Identifikasi Variabel Penelitian

         Berdasarkan perumusan masalah, uraian teori dan hipotesis yang diajukan,

maka variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.) Variabel bebas (independent variable) dengan simbol X, yaitu faktor-faktor yang

   mempengaruhi produksi industri kerupuk yang terdiri dari modal

   (X1), bahan baku (X2), dan tenaga kerja (X3) .

2.) Variabel terikat (dependent variable) dengan simbol Y, yaitu produksi Industri kerupuk

  (Y).

3.3. Model Analisis Data

         Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis

Regresi Linier Berganda (Multiple Regression Linier), yang dimodifikasi dari

persamaan fungsi Cobb-Douglas. Setelah diuraikan model konseptualnya dengan

menggunakan model fungsi Cobb-Douglas kemudian ditransformasi kedalam model

linier logaritmatik. Model persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut :


                                               18
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

Q = b0X1b1 X2b2 X3b3 eu ……………………………………… (3.1)

Kemudian ditransformasi kemodel linier logaritmatik menjadi :

LnQ = lnb0 + b1 lnX1 + b2lnX2 + b3lnX3 + u …………………………(3.2)

Dimana :

Q = output produksi kerupuk

b0 = konstanta

X1 = input modal

X2 = input bahan baku

X3 = input tenaga kerja

b1 = elastisitas input modal

b2 = elastisitas input bahan baku

b3 = elastisitas input tenaga kerja

u = error term



3.4. Pengujian Asumsi Klasik

       Pengujian mengenai ada tidaknya pelanggaran terhadap asumsi-asumsi klasik yang

merupakan dasar dalam model regresi linier berganda. Hal ini dilakukan sebelum dilakukan

pengujian terhadap hipotesis. Pengujian asumsi klasik meliputi uji normalitas,

multikolineritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas.



3.4.1 Uji Normalitas Data

       Ghozali (2005) uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah dalam

model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.

Cara untuk melihat normalitas residual adalah melalui analisis grafik




                                               19
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

(Histogram dan Normal P-Plot), yaitu dengan melihat grafik Histogram dan grafik P-Plot

yang membandingkan distribusi komulatif dari distribusi normal, dasar pengambilan

keputusan :

a.) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal

   atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model

   regresi memenuhi asumsi normalitas.

b.) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis

   diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal,

   maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.



3.4.2 Uji Multikolineritas

       Uji multikolineritas dilakukan untuk melihat apakah ada variabel yang saling

berkorelasi pada variabel bebas (independent variable). Jika terjadi korelasi maka

terdapat masalah multikolineritas sehingga model regresi tidak dapat digunakan.

Ghozali (2005) pengujian ini dapat dilihat melalui :

1.) Nilai Tolerance

   Nilai tolerance, nilai out off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya

   Multokolineritas adalah nilai tolerance < 0,10.

2.) Nilai Variance Inflation Factor (VIF), apabila :

   a.) Jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) > 10 maka terdapat

      persoalan multikolineritas diantara variabel bebas.

   b.) Jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 10 maka tidak terdapat

      persoalan multikolineritas diantara variabel bebas.




                                              20
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


3.4.3 Uji Autokorelasi

       Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada

korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu

pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan problema autokorelasi.

Ghozali (2005) autokorelasi muncul karena observasi yang muncul secara berurutan

sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Pengambilan keputusan ada atau tidaknya

autokorelasi :



           Tabel 3.1 Tabel Pengambilan keputusan ada tidaknya Autokorelasi

                                  Hipotesis Nol Keputusan Jika



                      Hipotesis Nol                      Keputusan            Jika

            Tidak ada autokorelasi positif                  Tolak            0<d<dl

            Tidak ada autokorelasi positif              No decision        dl ≤ d ≤ du

                 Tidak ada korelasi negatif                 Tolak         4 – dl < d <4

                 Tidak ada korelasi negatif             No decision      4 – du ≤ d ≤ dl

     Tidak ada autokorelasi, positif atau negatif       Tidak Tolak       du < d <4 -du

Sumber : Ghozali (2005)



Keterangan :

d = Durbin Watson hitung

dl = Durbin Watson – Lower

du = durbin Watson – Upper

Jika nilai dhitung berada diantara interval nilai du dan 4 – du maka tidak terdapat

autokorelasi, sebaliknya jika nilai dhitung berada diluar interval nilai du dan 4 – du maka


                                               21
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

terdapat penyimpangan dari asumsi ini. Cara yang digunakan untuk mendeteksi ada atau

tidaknya autokorelasi yaitu dengan melihat uji Durbin-Watson (DW test), hipotesis yang akan

diuji :

H0 : tidak ada autokorelasi (r = 0)

Ha : ada autokorelasi (r ≠ 0)



3.4.4 Uji Heteroskedastisitas

          Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi

terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan kepengamatan yang

lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika varians berbeda disebut

heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.

Santoso (2002), untuk mendeksi apakah ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas dapat

dilakukan dengan menganalisis penyebaran titik yang terdapat pada scaterplot yang

dihasilkan dari pengolahan data SPSS dengan dasar pengambilan keputusan sebagai berikut :

Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur

(bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka telah terjadi heteroskedastisitas. Jika

ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y,

maka tidak terjadi heteroskedastisitas.



3.5 Pengujian Hipotesis

          Data diolah dengan menggunakan aplikasi sofware pengolahan data Statistical

Package for social Science (SPSS) versi 16.0 dan pengujian hipotesis menggunakan

regresi linier berganda, dimana akan terlihat pengaruh secara simultan maupun secara

parsial dengan analisis sebagai berikut :Untuk membuktikan hipotesis maka digunakan

alat uji sebagai berikut :


                                               22
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010




3.5.1 Uji Simultan (Uji F)

        Uji serempak (uji F), dengan maksud menguji apakah secara simultan variabel bebas

berpengaruh terhadap variabel tidak bebas, dengan tingkat keyakinan 95 % (α=0,05).

H0 : b1 = b2 = b3 = 0 ; (Faktor produksi Modal, bahan baku,dan tenaga kerja, berpengaruh

signifikan terhadap produksi perusahaan industri kerupuk Indonesia).

H1 : Paling sedikit ada satu bi ≠ 0 ; (Faktor produksi modal, bahan baku,dan tenaga

kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi perusahaan industri kerupuk Indonesia).

Menghitung F-hitung dengan menggunakan rumus (Sugiyono, 2002) :

             R2 / k
Fh 
     (1  R 2 ) /( n  k  1)

dimana :

R2 = koefesien determinasi

n = jumlah sampel

k = jumlah variabel bebas

Dengan kriteria tersebut, diperoleh nilai Fhitung yang dibandingkan dengan

Ftabel dengan tingkat resiko (level of significant) dalam hal ini 0,05 dan degree of

freedom = n-k-1.



3.5.2 Uji Parsial (uji t)

        Uji parsial (uji t) untuk menguji pengaruh secara parsial antara variabel bebas

terhadap variabel tidak bebas dengan asumsi bahwa variabel lain dianggap konstan,

dengan tingkat keyakinan 95 % (α = 0,05).

H0 : bi = 0 ; (Faktor produksi modal, bahan baku,dan tenaga kerja tidak

berpengaruh secara parsial terhadap produksi perusahaan industri kerupuk Indonesia).


                                               23
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

H1 : bi ≠ 0; (Faktor produksi modal, bahan baku,dan tenaga kerja berpengaruh

secara parsial terhadap produksi perusahaan industri kerupuk Indonesia).

Menghitung t-hitung dengan menggunakan rumus :

              bi
t hitung 
             s(bi )

dimana :

bi = koefesien regresi masing-masing variabel

s(bi) = standar error masing-masing variabel

Dari perhitungan tersebut akan diperoleh nilai thitung yang kemudian dibandingkan dengan

ttabel pada tingkat keyakinan 95%.



3.5.3 Uji Koefesien Determinasi (R2)

             Uji koefisien determinasi (R2), melihat berapa proporsi variasi dari variabel

bebas secara bersama-sama dalam mempengaruhi variabel tidak bebas, dengan

formula (Gujarati, oleh Sumarno Zain, 1995 : 207) sebagai berikut :

R 2 = JkR/Jky

Dimana :

JKR = jumlah kuadrat regresi (explained sum of squares)

JKY = jumlah total kuadrat (total sum of squares)

Dalam hasil output SPSS maka yang menjadi patokan adalah Adjusted R-squared.




                                                    24
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


3.5.4 Teknik Analisis Fungsi Produksi Cobb-Douglas


       Soekartawi (1990) menyatakan bahwa fungsi CobbDouglass adalah suatu fungsi atau

persamaan yangmelibatkan dua atau lebih variabel, di mana variabel yang satu disebut

variabel indipenden, yang menjelaskan atau dengan simbol x sedangkan variabel dependen

atau variabel yang dijelaskan dengan simbol y.


       Penyelesaian hubungan antara y dan x adalah sebagai berikut :


               Persamaan dalam Fungsi produksi Cobb Douglas


               Y = aX1b1X2b2....Xibi...Xnbneu


               Ln Y = ln a + b1 ln X1 + b2 ln X2 + .. + bnln Xn + u lne


               Misalnya :      Z        = lnY


                               α        = ln a


                               X11      = ln X1


                               X22      = ln X2


                               μ   = u ln e
                 n            n      n       
               n Xi ln Yi    Xi    ln Yi 
                                             
      bi   
                i 1          i 1   i 1    
                                                2
                         n            n    
                      n  Xi          Xi 
                               2
                                           
                        i 1          i 1 


               Karena penyelesaian fungsi Cobb Douglass harus diubah bentuk fungsinya

       menjadi fungsi linier, maka ada persyaratan yang harus dipenuhi sebelum

       menggunakan persamaan tersebut :




                                                    25
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

                   1. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol sebab logaritma dari nol

                       adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui Dalam fungsi

                       produksi,perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan tehnologi dalam

                       setiap pengamatan, ini artinya kalau fungsi produksi yang dipakai

                       dalam pengamatan memerlukan lebih dari satu model, maka perbedaan

                       tersebut terletak pada intersep dan bukan pada kemiringan (slope)

                       model tersebut.


                   2. Tiap variabel x adalah perfect competition.


                   3. Perbedaan lokasi tercakup pada faktor kesalahan u (disturbance term).


        Ada beberapa alasan mengapa banyak peneliti yang menggunakan fungsi produksi

Cobb Douglas ini antara lain :


   1. Penyelesaiannya relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi lainnya karena

        mudah ditransfer ke bentuk linier.


   2. Hasil pendugaan garis melalui fungsi ini akan menghasilkan koefisien regresi yang

        sekaligus juga menunjukkan besaran elastisitas.


   3.   Besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale.


   Soekartawi (1993) menyatakan Return to scale (RTS) digunakan untuk mengetahui

apakah kegiatan dari usahatani tersebut mengalami kaidah increasing, constan atau

decreasing return to scale serta dapat menunjukkan efisiensi produksi secara tehnis.


Ada tiga alternatif yang bisa terjadi dalam RTS, yaitu :


1. Decreasing return to scale, apabila (Σbi) < 1, artinya bahwa proporsi penambahan faktor

   produksi melebihi proporsi penambahan produksi.

                                              26
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

2. Constant return to scale, apabila (Σbi) = 1, artinya bahwa proporsi penambahan faktor

   produksi akan sama dengan proporsi penambahan produksi.


3. Increasing return to scale, apabila (Σbi) > 1, artinya bahwa proporsi penambahan produksi

   melebihi proporsi penambahan faktor produksi.


   Namun, pernyataan di atas belum sepenuhnya dapat diterima, harus diuji terlebih dahulu

dengan menggunakan uji F Tintner.


b1 + b2 + b3 = 1 (asumsi Cobb Douglas), maka b1 = 1- (b2+b3)
Ln Q = ln b0 + (1-(b2+b3)) lnX1 + b2 lnX2 +b3 lnX3
Ln Q = ln b0 + (ln X1- b2 lnX1 – b3 lnX1) + b2 ln X2 + b3 lnX3
Ln Q – ln X1 = Ln b0 + b2 lnX2 – b2 lnX1 + b3 lnX3 – b3 lnX1
Ln Q – ln X1 = ln b0 + b2(ln X2 – ln X1) + b3(ln X3 – ln X1)
Jika (R) = ln Q – ln X1 =
     (S) = ln X2 – ln X1
     (T) = ln X3 – ln X1
Maka persamaan dapat ditulis dalam bentuk :
       (R) = ln b0 + b2 (S) + b3 (T)
H0 : Σbi =1
H1 : Σbi≠1
Ftitner = [(Σe22- Σe12)/m]/[(Σe12)/(n-k)]
Dimana :
Σe12 = jumlah kuadrat sisa fungsi terbuka (fungsi cobb douglas)
Σe12 = jumlah kuadrat sisa fungsi terbatas ( model yang direstriksi)
k = jumlah variabel independen = 3
n = jumlah sampel
m=1
db = (m;(n-k))


   Jika nilai F hitung yang lebih kecil daripada F tabel menunjukan bahwa fungsi produksi

telah memenuhi asumsi fungsi cobb douglas, dimana industri kerupuk di indonesia berada


                                              27
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

pada kondisi constant return to scale (terima H0). Penambahan secara proporsional persentasi

penggunaan faktor-faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen akan meningkatkan

hasil produksi sebesar 1 persen. Jika H0 ditolak, maka kondisi skala usaha perusahaan industri

kerupuk tidak berada pada kondisi CRS.


Average Physical Product (APP)


APP dari suatu faktor produksi adalah total produksi dibagi dengan jumlah faktor produksi

yang digunakan untuk menghasilkan produksi tersebut. Jadi APP adalah perbandingan output

factor produksi untuk setiap tingkat output dan faktor produksi yang bersangkutan

(Boediono,1982).


APPi = Q / Xi


APPi = Average Physical Product untuk input ke- i


Marginal Physical productivity (MPP)


Marginal Physical Productivity (MPP) dari suatu faktor produksi adalah bertambahnya


total produksi yang disebabkan oleh bertambahnya satu unit faktor produksi


variable ke dalam proses produksi, dimana factor produksi tetap tidak berubah jumlahnya

(Boediono,1982).


MPPi =d (Q ) / d ( Ii )


MPPi = Marginal Physical Productivity untuk input ke- i


Elastisitas Produksi parsial berkenaan dengan input tertentu merupakan ukuran perubahan


proporsional outputnya disebabkan oleh perubahan proporsional pada inputnya manakala

input-input lainnya konstan (Boediono,1982).

                                               28
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

Untukperhitungan elastisitas produksi parsial (E), terlebih dahulu harus dicari MPP.


Ei = MPPi / APPi


Dimana:


Bila Ei < 1, maka proporsi penambahan input ke-i melebihi proporsi penambahan produksi.


Ei = 1, maka proporsi penambahan input ke-i proporsional dengan penambahan produksi.


Ei > 1, maka proporsi penambahan input ke-i akan menghasilkan tambahan produksi yang


proporsinya lebih besar.


Dari elastisitas produksi parsial dapat terlihat seberapa banyak input untuk memberikan

pengaruh terhadap output dan input mana yang mengalami pemborosan atau memberikan

nilai tambah.


        Dari penelitian sebelumnya telah diperoleh persamaan regresi dan fungsi Cobb-

Douglass untuk perusahaan industri kerupuk Indonesia (skala besar-sedang) ialah


Ln Q = Ln(3,720) + 0,068 LnX1 + 0,743 LnX2 + 0,224 LnX3 yang menghasilkan fungsi

Cobb-Douglas sebagai berikut


Q = 3,72X10,068X20,743X30,224 .

Maka bisa dimisalkan untuk yang tahun 2009 dan 2010 berturut-turut fungsi produksi cobb-

douglass-nya ialah


Q = AX1aX2bX3c  tahun 2009


Q = BX1dX2eX3f  tahun 2010


Dimana: Q = nilai produksi (Rp)



                                              29
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

          X1 = nilai modal (Rp)

          X2 = nilai bahan baku (Rp)

          X3 = jumlah tenaga kerja.


Perhitungan Indeks Efisiensi Proses Produksi


Rasio inndeks efisiensi produksi tahun 2008 dan 2009 adalah sebaagai berikut :


                                 Indeksi Pr oduksiTahun  2009
Rasio inddeks efisiensi =                                          = A/3,72
                             IndeksEfisiensi Pr oduksiTahun  2008


                                 Indeksi Pr oduksiTahun  2010
Rasio inddeks efisiensi =                                          = B/3,72
                             IndeksEfisiensi Pr oduksiTahun  2009


Jika rasio indeks efisiensi msmenunjukkan nilai > 1 maka hal in menggambarkan telah


terjadi keenaikan efisiensi penggunaan input-input atau penggunaauaan input variable pada


proses produksi tahun 2008 sangat efisien.


         Untuk memudahkan, dapat dibuat tabel berikut:


                Fungsi Produksi Cobb-Douglass            Indeks                       Elastisitas
                                                                     RTS
 Tahun                                                  Efisiensi
            intercept       b1         b2       b3                               X1       X2         X3
  2008        3,720     0,068         0,743    0,224       3,72     1,035     0,068     0,743       0,224
  2009
  2010




                                               30
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


                                     Daftar Pustaka

Arif,Sritua. Metodologi Penelitian Ekonomi . Jakarta: UI-Press. 2006.

Barata, Amrin. Analisis Fungsi produksi Cobb-Douglas Terhadap Industri Kerupuk (Skala

       Besar-Sedang) di Indonesia Tahun 2008. Jakarta. 2012

Fungsi Produksi, Bab VII. Diperoleh, 22 Februarui 2012

       darihttp://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/teori_ekonomi_mikro/bab7_fungsi_pr

       oduksi.pdf.


Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Penerbit

       Universitas Diponegoro,Semarang.

Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometrika Terapan. Alih bahasa : Sumarno Zain,

       Penerbit Erlangga, Jakarta.

Harian analisa, Home.”Industri Kerupuk Terancam Bangkrut.” Diperoleh, 14 Februari, 2012,

       darihttp://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/05/24676/industri_kerupuk_tera

       ncam_bangkrut/#.TzqQ8U47U_h.

Putong, Iskandar. (2002). Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Edisi Kedua.

       Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.




                                             31
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


                                      Lampiran




Lampiran 1

Gantt Chart




                                                                 Analysis The Data




                                                                 Collecting All secondary Data




                                                                 Bab III                         start date
                                                                                                 completed
                                                                                                 remaining



                                                                 Bab II




                                                                 Bab I




                                             32
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


Lampiran 2

Berikut grafik keempat variabel hasil olahan data-data perusahaan industri kerupuk (skala

besar-sedang) tahun 2008 (sumber : penelitian sebelumnya yang berjudul Analisis faktor

produksi Cobb-Douglass terhadap industri kerupuk (skala besar-sedang) Indonesia tahun

2008)



                               Grafik Nilai Bahan Baku(X2) 691 Perusahaan
                                Industri Kerupuk di Indonesia Tahun 2008
                         25000000


                         20000000
   Nilai dalam Juta Rp




                         15000000


                         10000000


                         5000000


                               0
                                     25
                                     49
                                     73
                                     97
                                      1




                                    121




                                    241




                                    361




                                    481




                                    601
                                    145
                                    169
                                    193
                                    217

                                    265
                                    289
                                    313
                                    337

                                    385
                                    409
                                    433
                                    457

                                    505
                                    529
                                    553
                                    577

                                    625
                                    649
                                    673
                                                    ID perusahaan




                                                   33
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010



                              Grafik Nilai Produksi(Y) 691 Perusahaan Industri
                                     Kerupuk di Indonesia Tahun 2008
                        35000000

                        30000000
  Nilai dalam Juta Rp




                        25000000

                        20000000

                        15000000

                        10000000

                        5000000

                              0
                                     1




                                   599




                                   691
                                   116
                                   139
                                   162
                                   185
                                   208
                                   231
                                   254
                                   277
                                   300
                                   323
                                   346
                                   369
                                   392
                                   415
                                   438
                                   461
                                   484
                                   507
                                   530
                                   553
                                   576

                                   622
                                   645
                                   668
                                    24
                                    47
                                    70
                                    93




                                                        ID perusahaan




                               Grafik Nilai Tenaga Kerja(X3) 691 Perusahaan
                                Industri Kerupuk di Indonesia Tahun 2008
                        300

                        250
  Nilai dalam Juta Rp




                        200

                        150

                        100

                        50

                         0
                                1




                              221




                              309




                              639
                              111
                              133
                              155
                              177
                              199

                              243
                              265
                              287

                              331
                              353
                              375
                              397
                              419
                              441
                              463
                              485
                              507
                              529
                              551
                              573
                              595
                              617

                              661
                              683
                               23
                               45
                               67
                               89




                                                   ID perusahaan




                                                   34
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010



                             Grafik Nilai Modal(X1) 691 Perusahaan Industri
                                    Kerupuk di Indonesia Tahun 2008
                        50000000

                        45000000

                        40000000

                        35000000
  Nilai dalam Juta Rp




                        30000000

                        25000000

                        20000000

                        15000000

                        10000000

                         5000000

                               0
                                     1




                                   121
                                   145
                                   169
                                   193
                                   217
                                   241
                                   265
                                   289
                                   313
                                   337
                                   361
                                   385
                                   409
                                   433
                                   457
                                   481
                                   505
                                   529
                                   553
                                   577
                                   601
                                   625
                                   649
                                   673
                                    25
                                    49
                                    73
                                    97




                                                       ID perusahaan




                                                  35
Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                        Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


Lampiran 3 Uji asumsi klasik penelitian sebelumnya (IBS

tahun2008)

Uji Normalitas
       Pengujian normalitas data dalam penelitian ini hanya akan dideteksi melalui
analisa grafik yang dihasilkan melalui perhitungan regresi dengan perangkat lunak
SPSS versi 16.0. Pengujian dengan menggunakan analisa grafik, berikut pola grafik hasil
pengolahan SPSS versi 16.0 dapat dilihat pada Gambar dibawah ini :




                           Gambar Histogram Uji Normalitas




                                             36
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010




                            Gambar Pola grafik Uji Normalitas


       Untuk model regresi pada penelitian ini sudah memenuhi asumsi normalitas. Hal ini
dapat dilihat dari histogram yang tidak condong ke kiri maupun ke kanan dan normal P-plot
yang menggrafikkan titik-titik yang menyebar di sekitar garis diagonal, serta penyebarannya
mengikuti arah garis diagonal. Sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi
faktor produksi terhadap produksi kerupuk di Indonesia.


Uji Multikolinearitas
       Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan
adanya korelasi diantara variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi diantara variabel bebas. Hasil pengujian multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel
sebagai berikut:




                                              37
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010


Uji Multikolinieritas
Coefficientsa

                          Unstandardized Coefficients                        Collinearity Statistics

Model                     B              Std. Error      t          Sig.     Tolerance    VIF

1       (Constant)        3.720          .256            14.540     .000

        Modal             .068           .010            6.970      .000     .838         1.193

        Tenaga_Kerja .224                .030            7.419      .000     .660         1.514

        Bahan_Baku        .743           .013            55.477     .000     .678         1.475

a. Dependent Variable: Produksi


        Dari Tabel menunjukkan variabel bebas yaitu variabel modal, tenaga kerja, dan bahan
baku memiliki nilai Variance Inflation Faktor (VIF) kurang dari 5 dengan nilai Tolerance
lebih kecil dari 1. Dengan demikian dapat disimpulkan model regresi dalam penelitian ini
tidak terjadi multikolinearitas dalam masing-masing variabel bebas penelitian ini.


Uji Autokorelasi
        Pengujian terhadap gejala autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin- Watson
test. Hasil perhitungan SPSS Versi 16.0 dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut:


Tabel Uji Autokorelasi
Model Summaryb

                                 Adjusted R     Std. Error of Durbin-
Model R            R Square Square              the Estimate   Watson

1       .945a      .893          .893           .2925150761 1.820

a. Predictors: (Constant), Bahan_Baku, Modal, Tenaga_Kerja
b. Dependent Variable: Produksi




        Berdasarkan Tabel diperoleh angka Durbin-Watson sebesar 1,820
dengan tingkat signifikan 0,05 dengan jumlah sampel N = 691 dan variabel bebas (k = 3),
maka agak sulit untuk dapat metentukan Durbin-Watson tabel. Olehnya itu menggunakan

                                                 38
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

pendekatan cara mendeteksi terjadinya autokorelasi dengan menggunakan tabel seperti yang
dikemukakan Algifari (2000:89). Sebagaimana Tabel 4.4 berikut ini :


                       Tabel Pengukuran Autokorelasi
         Durbin Watson                                        Kesimpulan
         Kurang dari 1.08                                     Ada autokor lasi
         1.08 sampai dengan 1.66                              Tanpa kesimpulan
         1,66 sampai dengan 2,34                              Tak ada autokorelasi
         2,34 sampai dengan 2,92                              Tanpa kesimpulan
         Lebih dari 2,92                                      Ada autokorelasi


Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala autokorelasi.


Uji Heteroskedasitas
       Uji heteroskesdastisitas bertujuan untuk menguji terjadinya perbedaan
variance residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan yang lain atau
gambaran hubungan antara nilai yang diprediksi dengan Standardized Delete
Residual nilai tersebut. Sehingga model juga terbebas dari heteroskedasitas. Hal ini
dapat dilihat pada scatterplot yang menggrafikkan titik data yang menyebar dan tidak




                                              39
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

mengumpul membentuk suatu pola tertentu. Hal ini dapat dilihat pada Gambar sebagai
berikut:




                               Gambar Uji Heteroskedasitas




                                              40
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010




Lampiran 4 Uji Hipotesis penelitian sebelumnya (IBS tahun 2008)

Pengujian Hipotesis
        Pengujian hipotesis dilakukan untuk melihat pengaruh secara serempak dan
parsial dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Pengujian secara parsial masingmasing
variabel bebas dimasudkan untuk mengetahui apakah secara individual variabel faktor
produksi mempunyai pengaruh signifikan atau tidak terhadap produksi. Untuk uji parsial
digunakan uji t dengan ketentuan apabila hasil thitung lebih besar dari ttabel maka keputusan
yang diambil H0 ditolak dan H1 diterima, dan sebaliknya. Sedangkan untuk pengujian
serempak digunakan uji F dengan ketentuan Fhitung lebih besar dari Ftabel keputusan yang
diambil H0 ditolak dan H1 diterima, dan sebaliknya.
        Berdasarkan hasil regresi dari data sekunder yang diolah dengan menggunakan
perangkat lunak SPSS versi 16.0, maka diperoleh persamaan regresi linier berganda yang
kemudian ditransformasikan ke dalam persamaan fungsi produksi.
Tabel Koefisien Regresi


                                                                                     Coefficientsa

                                                                   Standardized
                                  Unstandardized Coefficients      Coefficients

Model                                 B            Std. Error         Beta                t           Sig.

1        (Constant)                       3.720             .256                          14.540             .000

         Modal                             .068             .010              .095            6.970          .000

         Tenaga_Kerja                      .224             .030              .114            7.419          .000

         Bahan_Baku                        .743             .013              .840        55.477             .000

a. Dependent Variable: Produksi




        Berdasarkan Tabel di dapat persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Ln Q = Ln(3,720) + 0,068 LnX1 + 0,743 LnX2 + 0,224 LnX3
dimana :
Ln Q = Produksi kerupuk
Ln Xi = Modal (Ln K)
Ln X2 = Bahan Baku (Ln BB)

                                                       41
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010

Ln X3 = Tenaga Kerja (Ln L)
Sehingga fungsi produksinya diperoleh, Q = 3,72X10,068X20,743X30,224


Uji Simultan (Uji F)
        Pengaruh variabel bebas (modal, tenaga kerja,dan bahan baku) secara serempak dapat
dihitung dengan menggunakan uji F. Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 4.6 sebagai
berikut:
Tabel Hasil Uji F
                                            ANOVAb

Model                   Sum of Squares        Df          Mean Square     F        Sig.

1          Regression             492.166            3         164.055   1.917E3     .000a

           Residual                58.783          687            .086

           Total                  550.950          690

a. Predictors: (Constant), Bahan_Baku, Modal, Tenaga_Kerja

b. Dependent Variable: Produksi




        Dari Tabel diperoleh nilai Fhitung sebesar 1917 dengan tingkat kepercayaan 95% (α =
0,05), dari tabel nilai kritis distribusi F dengan derajat kebebasan pembilang = 3 dan derajat
kebebasan penyebut = 687. Disini bisa dilakukan pendekatan p-value atau sig., dimana sig.<
α, maka H0 ditolak dan terima H1 artinya secara bersama-sama (serempak) variabel modal,
tenaga kerja, bahan baku dan mesin berpengaruh signifikan terhadap produksi kerupuk. Hasil
ini menunjukkan bahwa faktor input produksi yang terdiri dari modal, tenaga kerja,dan bahan
baku berpengaruh nyata terhadap produksi kerupuk. Dengan kata lain bahwa tanpa adanya
input produksi akan mengakibatkan terhentinya proses produksi dan hasil produksi sama
dengan nol.




                                                         42
 Analisis Perbandingan Fungsi Produksi Cobb-Douglass Perusahaan Industri Kerupuk (Skala Besar-
                         Sedang) Indonesia tahun 2008, 2009, dan 2010




Uji Parsial (Uji t)
        Hasil uji pengaruh variabel modal, tenaga kerja,dan bahan baku secara
parsial dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :



                                                                                                  a
                                                                                     Coefficients

                                                                   Standardized
                                  Unstandardized Coefficients      Coefficients

Model                                 B            Std. Error         Beta                t           Sig.

1        (Constant)                       3.720             .256                          14.540             .000

         Modal                             .068             .010              .095            6.970          .000

         Tenaga_Kerja                      .224             .030              .114            7.419          .000

         Bahan_Baku                        .743             .013              .840        55.477             .000

a. Dependent Variable: Produksi


        Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa semua sig.< α, sehingga dapat disimpulkan

bahwa secara parsial, semua variabel bebas(modal,tenaga kerja, dam bahan baku)

berpengaruh signifikan terhadap variabel tak bebasnya (produksi kerupuk).




                                                       43

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:159
posted:5/17/2013
language:
pages:43
Description: Beradasarkan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan peneliti (saya) mengenai Industri Kerupuk (skala besar-sedang) tahun 2008, diperoleh hasil bahwa indeks efisiensi sebesar 3,720 dimana industri kerupuk di indonesia berada pada kondisi constant return to scale(CRS) yang artinya bahwa penambahan secara proporsional persentasi penggunaan faktor-faktor produksi secara bersama-sama sebesar 1 persen akan meningkatkan hasil produksi sebesar 1 persen(skala hasil yang konstan). Lantas bagaimana jika hasil tersebut dibandingkan dengan fungsi produksi untuk tahun 2009 dan 2010 ? Olehnya itu perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengkaji masalah tersebut. Apakah indeks efisiensi perusahaan industri kerupuk pada tahun 2009 lebih baik dari tahun 2008 dan tahun 2010 lebih baik dari tahun 2009, atau sebaliknya. Atau bisa saja dari analisis skala usaha diperoleh hasil bahwa terjadi penurunan (decreasing return to scale) dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, akan diketahui pula variabel input apa yang paling dominan yang akan mengoptimalkan nilai produksi, apakah modal; tenaga kerja; ataukah bahan baku. Nah hasil-hasil penelitian tersebut akan sangat membantu guna perbaikan manajemen perusahaan industri kerupuk dan penentuan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah, mengingat industri ini merupakan penghasil komoditi pangan yang cukup digemari masyarakat Indonesia, disamping potensinya untuk memperluas usaha dan menambah lapangan pekerjaan(kemampuan untuk menyerap tenaga kerja).