Docstoc

PEMIKIRAN ULAMA MODERN

Document Sample
PEMIKIRAN ULAMA MODERN Powered By Docstoc
					                                  BAB I
                            PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
   Ilmu kalam yang biasa disebut dengan beberapa nama , yakni:ushuluddin,
tauhid, fiqh al-akbar, dan teologi islam mempunyai definisi yang berbeda, namun
ilmu kalam lebih condong sama dengan ilmu tauhid. Tetapi argumentasi ilmu
kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika. Oleh sebab itu, sebagian
teolog membedakan antara ilmu kalam dan ilmu tauhid.
   Seperti ilmu-ilmu lainnya ilmu kalam ini juga bersumber pada al-qur’an dan
hadits khususnya pada yang berhubungan dengan ketauhidan. Setelah itu dengan
menambahi sumber dari pemikiran manusia, disinilah banyaknya letak perbedaan
pendapat para kaum pemikir dalam menyikapi konteks ilmu kalam.


B. Rumusan Masalah
   Bertolak dari latar belakang diatas, pemakalah akan membahas:
   1. Siapa sajakah tokoh-tokoh ulama’ modern ?
   2. Bagaimanakah pemikiran menurut tokoh-tokoh ulama’ modern ?
                                                BAB II
                                          PEMBAHASAN
Pemikiran Ulama Modern
A. Syekh Muhammad Abduh
       1. Riwayat singkat Abduh
                     Syekh Muhammad Abduh dengan nama lengkap Muhammad bin
           abduh bin hasan khoirullah dilahirkan didesa mahallat nashr kabupaten al-
           buhairoh, mesir pada tahun 1849 M. dia bukan berasal dari ketrunan orang
           kaya dan bukan pula ketrurnan bangsaewan namun demikian, ayahnya dikenal
           sebagai orang terhormat yang suka memberi pertolongan.1
                     Mula-mula abduh dikirim ayahnya ke masjid ahmadi tanta.
           Belakangan tempat ini menjadi pusat kebudayaan selain al-azhar, namun
           metode pengajaran disana sangat membuatnya bosan sehingga setelah dua
           tahun disana dia memutuskan kembali ke desanya untuk bertani seperti
           mayoritas keluarganya. Dia dinikahkan pada usia 16 tahun, semula dia berisi
           keras untuk tidak melanjutkan studinya tetapi dia kembali belajar karena
           dorongan pamannya (syeikh darwish) yang banyak mempengaruhi kehidupan
           abduh sebelum bertemu dengan djamalludin al-afghani. Atas jasanya itu abduh
           berkata       “dia telah membebaskan ku dari penjara kebodohan dan
           membimbingku menuju ilmu pengetahuan.”setelah menyelesaikan studinya
           dibawah pamannya dia melanjutkan studi di al-azhar pada bulan februari tahun
           1866.
      2. Pemikiran-pemikiran kalam Muhammad abduh
           a. Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu
               Ada dua persoalan pokok yamg menjadi focus utama pemikiran abduh
                sebagaimana diakuinya sendiri2, yaitu:
                1) Membebaskan akal pikiran dari belenggu-belenggu taklid yang
                     menghambat perkembangan pengetahuan agama sebagaimana haknya
                     salaf al-ummah (ulama sebelum abad ke III H) sebelum timbulnya
                     perpecahan yakni memahami langsung dari sumber pokok al-qur’an.




1
    Quraishshihab, studi kritis tafsir al-mannar, putaka hidayah, bandung.1994,hlm:12
2
    Ibid,hlm:19
               2) Memperbaiki gaya bahasa arab baik yang digunakan dalam
                   percakapan resmi di kantor-kantor pemerintah maupun tulisan-tulisan
                   di media massa.
                   Dua persoalan itu muncul saat dia meratapi perkembangan umat islam.
          Sebagaimana yang dijelaskan sayyid kutub. Kondisi umat saat itu dapat
          digambarkan sebagai suatu masyaraat yang beku, kaku, menutup rapat pintu
          ijtihad, mengabaikan peranan akal dalam memahami syare’at awal atau
          mengistinbatkan hukum-hukum, karena mereka telah merasa cukup dengan
          karya para pendahulunya yang juga hidup dalam masa kebekuan akal (jumud).
                  Atas dasar kedua focus pikirannya itu syeikh abduh memberikan
          peranan yang sangat besar kepada akal.begitu besarnya peranan yang
          diberikan olehnya sehingga Harun Nasution menyimpulkan bahwa syeikh
          abduh memberi kekuatan yang lebih tinggi kepada akal daripada mu’tazilah.
          Menurut syeikh abduh akal dapat mengetahui hal-hal berikut ini3:
          1. Tuhan dan sifat-sifatNya
          2. Keberadaan hidup di akhirat
          3. Kebahagiaan jiwa di akhrat bergantung pada upaya mengenal tuhan dan
              berbuat baik, sedangkan kesengsaraannya bergantung pada sikap tidak
              mengenal tuhan dan melakuka perbuatan jahat.
          4. Kewajiban manusia mengenal tuhan
          5. Kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat
              untuk kebahagiaan di akhirat
          6. Hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.
                  Dengan memperhatikan pandangan Syeikh Abduh tentang peranan akal
          di atas, dapat diketahui pula bagaimana fungsi wahyu baginya, wahyu adalah
          penolong (al-mu’in). untuk menjelaskan fungsi wahyu bagi akal manusia.
          Wahyu menolong akal untuk mengetahui sifat dan keadaan kehidupan alam
          akhirat, mengatur kehidupan masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang
          dibawanya, menyempurnakan pengetahuan akal tentang Tuhan dan sifat-sifat-
          Nya dan mengetahuicara beribadah serta berterimakasih kepada Tuhan.
          Dengan demikian , wahyu menurut Syeikh Abduh berfungsi sebagai



3
    Abdurrazaq dan rosihon anwar,ilmu kalam,pustaka setia,bandung,hlm:214
   konfirmasi yaitu untuk menguatkan dan menyempurnakan pengetahuan akal
   dan informasi.
          Menurut Syeikh Abduh, menggunakan akal merupakan salah satu dasar
   islam. Iman seseorang tidak akan sempurna kalau tidak didasarkan pada akal.
   Islam adalah agama yang pertama kali mengikat persaudaraan antara akal dan
   agama. Kepercayaan pada eksistensi Tuhan juga berdasarkan akal. Wahyu
   yang dibawa nabi tidak mungkin bertentangan dengan akal. Kalau ternyata
   terdapat pertentangan , maka terdapat penyimpangan dalam tataran interpretasi
   sehingga diperlukan interpretasi lain yang mendorong pada penyesuaian.
b. Kebebasan Manusia dan Fatalisme
   Disamping mempunyai daya pikir, manusia juga mempunyai kebebasan
   memilih, yang merupakan sifat dasar alami yang ada pada diri manusia. Kalau
   sifat daar ini dihilangkan dari dirinya, ia bukan manusia lagi, tetapi makhluk
   lain. Manusia dengan akalnya mampu mempertimbangkan akibat perbuatan
   yang dilakukannya, kemudian mangambil keputusan dengan kamauannya
   sendiri dan mewujudkan perbuatannya itu dengan daya yang ada dalam
   dirinya.
   c. Sifat-sifat Tuhan
   d. Kehendak Mutlak Tuhan
   e. Kadilan Tuhan
              Karena memberikan daya besar kepada akal dan kebebasan
   manusia, Syeikh Abduh mempunyai kecenderungan untuk memahami dan
   meninjau alam ini bukan kepentingan manusia. Ia berpendapat bahwa alam ini
   diciptakan untuk kepentingan manusia dan tidak satupun ciptaan Tuhan yang
   tidak memberi manfaatbagi manusia. Adapun masalah keadilan Tuhan,ia
   memandang bukan hanya dari segi kemahasempurnaan-Nya, tetapi juga dari
   pemikiran rasional manusia. Sifat ketidak adilan tidak dapat diberikan kepada
   Tuhan karena ketidakadilan tidak sejalan dengan kesempurnaan aturan alam
   semesta.
f. Antropomorfisme
              Karena Tuhan termasuk dalam alam rohani, rasio tidak dapat
   menerima faham bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani. Syeikh Abduh
   yang member kekuatan besar pada akal berpendapat bahwa, tidak mungkin
   asensi dan sifat-sifat Tuhan mengambil bentuk tubuh atau roh makhluk di
           alam ini. Kata-kata wajah, tangan, duduk, dan sebagainya mesti difahami
           sesuai dengan pengertian yang diberikan orang arab kepadanya. Dengan
           demikian al-arsy dalam Al-Qur’an berarti kerajaan atau kekuasaan, al-kursy
           berarti pengetahuan.
       g. Melihat Tuhan
           Syeikh Abduh tidak menjelaskan pendapatnya apakah Tuhan yang bersifat
           rohani itu dapat dilihat manusia dengan mata kepalanya di hari perhitungan
           kelak. Ia menyebutkan bahwa orang yang percaya pada tanzih sepakat
           mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat digambarkan ataupun dijelaskan dengan
           kata-kata.
       h. Perbuatan Tuhan
           Karena berpendapat bahwa dada perbuatan tuhan yang wajib, syekh abduh
           sefaham dengan mu’tazilah dalam mengatakan bahwa wajib bagi tuhan untuk
           berbuatb apa yang terbaik bagi manusia.4


B. SAYYID AHMAD KHAN
       1. Riwayat singkat Sayyid Ahmad
                  Sayyid Ahmad lahir di Delhi pada tahun 1517. Menurut suatu
           keterangan, ia berasal dari keturunan HUsein cucu Rosul melalui Fatimah dan
           Ali. Sejak kecil dia mendapat pendidikan tradisional dalam pengetahuan
           agama. Dia belajar bahasa arab dan Persia. Dia rajin membaca buku dalam
           bidang ilmu pengetahuan. Ketika berusia 18 tahunia bekerja pada sarikat india
           timur. Kemudian bekerja sebagai hakim, tetapi pada tahun 1846 ia kembali ke
           Delhi dan mempergunakan kkesempatan itu untuk belajar . semasa di Delhi, ia
           mulai mengarang. Karaya pertamanya adalah Atsat as-Sanadid. Pada tahun
           1855 ia pindah ke Pijnore. Disini ia tetap mengarang buku-buku penting islam
           di India.
       2. Pemikiran Kalam Sayyid Ahmad
                  Pemikiran beliau sama dengan pemikiran M.Abduh di Mesir. Hal ini
           dapat di lihat dari beberapa ide yang di kemukakannya, terutama tentang
           pemikiran akal yang di junjung tinggi olehnya. Namun dia tetap berpendapat



4
    Ibid,217
bahwa dalam islam akal bukanlah hal yang nomer satu dan kekuatan akalpun
terbatas.
       Keyakinannya akan kekuatan akal membuatnya percaya bahwa
manusia bebas untuk menentukan kehendak dan melakukan perbuatan. Ini
berarati bahwa pemahamannya sama dengan paham Qadariyah. Menurutnya
manusia telah dianugerahi Tuhan berbagai macam daya baik berupa akal
ataupun fisik. Hal ini mengakibatkan dia dianggap kafir oleh sebagian orang
islam, bahkan ketika ia datang ke India Djamaluddin menerima keluhan itu.
Dan sebagai tanggapan atas tuduhan itu dia mengarang kitab ‘ar-Radd ad-
Dahriyah.
       Sejalan dengan faham Qadariyah dia menentang keras faham taqlid.
Khan berpendapat umat islam mundur karena mereka tidak mengikuti
perkembangan     zaman     sehingga   mereka   tidak   menyadari    adanya
perkembangan di daerah Barat. Peradaban berkenbang dengan dasar ilmu
pengetahuan dan teknologi, hal itu membuat mereka berkmbang dengan pesat.
       Khan juga berpendapat bahwa Allah telah menetapkan tabiat atau
nature yang tetap dan tidak bisa berubah bagi setiap makhluknya. Baginya,
islam adalah agama yang sesuai dengan hukum Alam karena Alam adalah
ciptaan Allah dan Al-qur’an adalah firmannya, maka sudah pasti keduanya
sejalan tanpa ada pertentangan.
       Khan juga tidak mau pemikirannya terganggu otoritas hadits dan fiqh.
Segala sesuatu diukurnya dengan kritik rasional, ia pun menolak semua yang
bertentangan dengan logika dan hukum alam. Ia hanya mengambil al-qur’an
sebagai pedoman Islam. Alasan penolakannya terhadap hadits karena dia
menganggap hadits hanya berisi tentang moralitas social dari masyarakat
Islam pada abad pertama dan kedua. Sedangkan hukum fiqh menurutnya berisi
tentang moralitas masyarakat berikutnya sampai timbul madzhab-madzhab.
Sebagai penolakannya terhadap taklid, khan memandang ijtihad perlu
diadakan untuk menyesuaikan pelaksanaan ajaran-ajaran islam mengikuti
kondisi masyarakat.
C. MUHAMMAD IQBAL
  1. Riwayat hidup M.Iqbal
            Muhammad Iqbal lahir di Sialkot pada tahun 1873. Ia berasal dari
     keluarga kasta brahmana Khasmir . ayahnya benama Nur Muhammad yang
     terkenal shaleh. Pada awalnya iqbal di didik oleh ayahnya sendiri kemudian ia
     dimasukkan maktab untuk mempelajari al-qur’an. Setelah itu ia dimaskkan di
     Scottish Mission School. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sialkot ia
     melanjutkan ke Lahore, disini ia melanjutkan di Government College. Disini ia
     bertemu dengan Thomas Arnold,seoran orientalis yang menjadi guru besar
     filsafat disana. Setelah itu dia melanjutkan ke Inggris untuk belajar filsafat
     pada Universitas Cambridge. 2 tahun setelah itu dia melanjutkan ke Munich
     Jerman.
     Pada tahun 1935 dia jatuh sakit dan bertmbah parah setelah istrinya meninggal
     pada tahun itu pula. Dan ia meninggal pada tanggal 20 april 1935.
  2. Pemikiran Kalam Muhammad Iqbal
            Daripada, teolog sebenarnya M.Iqbal lebih terkenal sebagai seorang
     filosof eksistensialis. Oleh karena itu agak sulit menemukan pandangannya
     sebagai wacana-wacana kalam klasik. Seperti fungsi akal dan wahyu,
     perbuatan Tuhan, perbuatan manusia, dan kewajiban-kewajiban tuhan. Namun
     ia sering menyinggung beberapa aliran kalam yang pernah muncul dalam
     sejarah islam.
            Sebagai seorang pembaharu, dia menyadari akan adanya kemunduran
     umat islam . katanya, kemunduran itu bersumber dari kebekuan umat islam
     dan tertutupnya pintu ijtihad. Mereka menolak kebiasaan berpikir rasional
     kaum mu’tazilah karena hal tersebut dianggap membawa disintegrasi umat
     islam dan membahayakan kestabilan politik mereka. Hal inilah yang
     dianggapnya sebagai penyimpangan dari semangat islam, semangat dinamis
     dan kreatif.
            Dalam pandangan iqbal , islam menolak konsep lama yang mengatakan
     bahwa alam bersifat statis. Oleh karena itu, manusia dengan kemampuan
     khudi-nya      harus   menciptakan   perubahan.   Oleh   karena     itu,   untuk
     mengembalikan semangat dinamika islam dan membuang kelakuan serta
     kejumudan hukum islam, ijtihad harus dialihkan menjadi ijtihad kolektif.
     Menurut iqbal,pengalihan kekuasaan ijtihad individu yang mewakili madzhab
tertentu kepada lembaga legislatif islam adalah satu-satunya bentuk yang
paling tepat untuk menggerakkan spirit dalam system hukum islam yang
selama ini hilang dari umat islam.
a. Hakikat Teologi
       Secara umum ia melihat teologi sebagai ilmu yang berdimensi
   keimanan, mendasarkan pada esensi ketauhidan. Pandangannya tentang
   ontologi tologo membuatnya berhasil melihat anomaly yang melekat pada
   literature ilmu kalam klasik.
b. Pembuktian Tuhan
       Dalam membuktikan eksisitensi tuhan iqbal menolak argument
   kosmologis maupun ontologism. Ia juga menolak argument teleologis
   yang berusaha membuktikan eksistensi tuhan yang mengatr ciptaanya dari
   sebelah luar. Walaupun demikian dia tetap menerima landasan teleologis
   yang imanen. Untuk menopang hal ini, iqbal menolak pandangan yang
   statis tentang matter serta menerima pandangan whitehead tentagnya
   sebagai struktur kejadian dalam alira dinamis yang tidak terhenti. Karakter
   nyata konsep tersebut ditemukan iqbal dalam “jangka waktu murni”-nya
   Bergson.
c. Jati diri manusia
       Paham dinamisme iqbal berpengaruh besar terhadap jati diri manusia.
   Penelusuran terhadap pendapatnya tentang persoalan ini dapat dilihat dari
   konsepnya tentang ego, ide sentral dalam pemikiran filosofisnya. Pada
   hakikatnya menafikan diri bukanlah ajaran islam karena hakikat hidup
   adalah bergerak, bergerak adalah perubahan. Filsafat khudinya tampaknya
   merupakan reaksi terhadap kondisi umat islam yang ketika itu telah
   dibawa oleh kaum sufi semakin jauh dari tujuan dan maksud islam yang
   sebenarnya.
d. Dosa
       Dalam hubungan ini, ia mengembangkan         cerita tentang kejatuhan
   adam (karena memakan buah terlarang) sebagau kisah yang berisi
   pelajaran tentang “kebangkitan manusia dari kondisi primitive yang
   dikuasai hawa nafsu naluriyah kepada pemilikan kepribadian bebas yang
   diprolehnya secara sadar, sehingga mampu mengatasi kebimbangan dan
   kecenderungan untuk membangkang “dan” timbulnya ego terbatas yang
   memiliki kemampuan untuk memilih”.” Allah telah menyerahkan
   tanggung jawab yang penuh resiko ini , menunjukkan kepercayaan-Nya
   yang   besar   kepada    manusia.   Maka     kewajiban    manusia    adalah
   membenarkan adanya kepercayaan ini.
e. Surga dan Neraka
      Surga dan neraka , kata iqbal adalah keadaan, bukan tempat.
   Gambaran-gambaran       tentang   keduanya   didalam     al-Qur’an   adalah
   penampilan-penampilan kenyataan batin secara visual, yaitu sifatnya,
   neraka , menurut rumusan al-qur’an, adalah “api Allah yang menyala-
   nyala dan yang membumbung keatas hati “, pernyataan yang menyakitkan
   mengenai kegagalan manusia. Surge adalah kegembiraan karena
   mendapatkan kemenangan dalam mengatasi berbagai dorongan yang
   menuju perpecahan. Dan tidak ada kutukan abadi dalam islam.
                                   BAB III
                                  PENUTUP


A. Kesimpulan
  Perbedaan pendapat tenteng pemikiran kalam menurut ulama’ modern
     Menurut Muhammad Abduh tentang :
      1. Kedudukan akal dan fungsi wahyu
      2. Kebebasan manusia dan fatalisme
      3. Sifat-sifat Tuhan
      4. Kehendak mutlak Tuhan
      5. Keadilan Tuhan
      6. Antropomorfisme
      7. Melihat Tuhan
      8. Perbuatan Tuhan.
     Menurut Sayyid Ahmad Khan
             Keyakinan akal dan kebebasan akal menjadikan manusia bebas untuk
      menentukan kehendak dan melakukan perbuatan. Manusia telah dianugerahi
      Tuhan berbagai macam daya, diantaranyaadalah daya berpikir berupa akal,
      dan daya fisik untuk merealisasikan kehendaknya.
     Menurut Muhammad Iqbal tentang :
      1. Hakikat teologi
      2. Pembuktian Tuhan
      3. Jati diri manusia
      4. Dosa
      5. Surga dan neraka
                           DAFTAR PUSTAKA


Razaq,Abdur dan rosihon anwar,ilmu kalam,pustaka setia,bandung.
Shihab,Quraish, studi kritis tafsir al-mannar, putaka hidayah, bandung.1994.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1
posted:5/17/2013
language:Malay
pages:11
Zainul Ismanto Zainul Ismanto
About good guy...