Docstoc

SYARI'AH

Document Sample
SYARI'AH Powered By Docstoc
					                   A. Arti dan Ruang Lingkup Syari’at


1.   Pengertian/ Arti Syari’at
             Arti syari’at menurut istilah adalah hukum-hukum (peraturan) yang
     diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia,
     agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan
     petunjuk ke jalan yang lurus.
             Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi
     Syari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu). Maksudnya syari’at Islam
     adalah hukum-hukum (peraturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt.
     untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad saw, baik berupa Al-
     Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan
     ketetapan, atau pengesahan.
             Jadi, Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur
     seluruh sendi kehidupan umat Muslim serta penyelesaian masalah
     seluruh kehidupan. Maka syariat Islam merupakan panduan menyeluruh
     dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia
     ini.

2.   Ruanglingkup Syari’at
     a. Al- Qur’an
                   Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi
            Muhammad SAW dengan bahasa arab yang memiliki tujuan
            kebaikan dan perbaikan manusia, yang berlaku di dunia dan akhirat.
            Al-Quran merupakan referensi utama umat islam, termasuk di
            dalamnya masalah hokum dan perundang-undangan.sebagai sumber
            hukum yang utama, Al-Quran dijadikan patokan pertama oleh umat
            islam dalam menemukan dan menarik hukum suatu perkara dalam
            kehidupan.


     b. Al- Hadits
            Al-Hadits adalah segala yang disandarkan kepada Rasulullah
   SAW, baik berupa perkataan,perbuatan,maupun ketetapan. Al-Hadits
   merupakan sumber fiqih kedua setelah Al-Quran yang berlaku dan
   mengikat bagi umat islam.


c. Ijma’ dan Qiyas
            Ijma’ adalah kesepakatan mujtahid terhadap suatu hukum
   syar’i dalam suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW. Suatu
   hukum syar’i agar bisa dikatakan sebagai ijma’, maka penetapan
   kesepakatan tersebut harus dilakukan oleh semua mujtahid, walau
   ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ijma’ bisa dibentuk hanya
   dengan kesepakatan mayoritas mujtahid saja. Sedangkan qiyas
   adalah kiat untuk menetapkan hukum pada kasus baru yang tidak
   terdapat dalam nash (Al-Qur’an maupun Al-Hadist), dengan cara
   menyamakan pada kasus baru yang sudah terdapat dalam nash.


d. Tarikh
            Secara Etimologi Tarikh berasal dari bahasa arab yang
   diartikan sebagai “Sejarah” ( ‫.)خيرات‬
            Sedangkan kata “Sejarah “ secara harafiah berasal dari kata
   arab ( ‫ :ةرجش‬šajaratun) yang artinya “Pohon“.
            Kata “Tarikh” dalam bahasa indonesia sendiri dapat di
   artikan kurang lebih sebagai “Waktu“.
            Jadi waktu/tarikh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
   adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan
   berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan
   interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama
   berlangsungnya suatu kejadian. Skala waktu diukur dengan satuan
   detik (sekon), menit, jam, hari (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat,
   Sabtu, Minggu), pekan (minggu), bulan (Januari, Februari, Maret,
   April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November,
              Desember), tahun, windu, dekade (dasawarsa), abad, milenium (alaf)
              dan seterusnya.


                                B. Hakikat Syahadat


Pengertian
         Syahadat secara harfiah (etimologi) berasal dari kata Syahada- Yasyhadu
yang artinya bersaksi-menyaksikan. Atatu berarti juga I’lain (pernyataan), qassam
(sumpah), dan wa’dun (janji). Kata Asyhadu berarti saya bersaksi atau
menyaksikan, dalam hal ini “saya member kesaksian.”

         Sedangkan secara istilah (terminologi) memberikan kesaksian yang tidak
hanya dalam bentuk sebuah kalimat yang diucapkan oleh lisan sebagai formalitas
kemusliman seseorang, tetapi harus menjadi keyakinan yang mendalam tanpa ada
sedikit pun keraguan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai
seorang Muslim.

(kalimatSyahadat)
Artinya : ”Aku mengaku tidak ada Tuhan lain selain Allah dan mengaku Nabi
Muhammad adalah utusan Allah.”
         Pada pernyataan pertama, berisi ikrar suci penyaksian dan keyakinan
yang sungguh-sungguh tentang Keesaan Allah. Kalimat ini membebaskan
manusia dari pemujaan terhadap dewa-dewa atau pribadi-pribadi yang muncul
pada suatu ketika dalam masyarakat. Bagi orang beriman, kalimat itu dengan
sendirinya menimbulkan kesadaran akan harga dirinya sebagai manusia, dengan
menutup segala kemungkinan untuk menyombongkan diri dan merasa lebih dari
orang lain.
         Pada pernyataan kedua, berisi pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW
adalah utusan Allah. Seorang muslim menngaku bahwa Nabi Muhammad adalah
manusia biasa yang dipilih Allah untuk menjadi utusan-Nya guna memberikan
contoh atau tauladan pada umat manusia agar seluruh hidup dan kehidupan Rasul-
Nya diikuti, terutama umat Islam, dalam QS. Al-Kahfi ayat 110:
Artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa".
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun
dalam beribadat kepada Tuhannya".


Macam-macam Syahadat
Syahadat macamnya ada dua yaitu:

   Syahadat tauhid

     bunyinya:
     artinya : Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah



   Syahadat Rasul

     Bunyinya : ‫هللا ر سول محمدا ان وا شهد‬
     artinya   : Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah


Rukun Syahadat
Ada 4 rukun dalam syahadat yaitu:

    1. Menetapkan dzat Allah Ta'ala (berdiri dengan sendirinya)
    2. Menetapkan sifat Allah Ta'ala (berkuasa)
    3. Menetapkan af'al Allah Ta'ala (berbuat dengan sekehendaknya)
   4. Menetapkan kebenaran Rasulullah SAW.



Syarat Syahadat
Ada 4 syarat dalam Syahadat yaitu:

   1. Memahami maksud syahadat.
   2. Diikrarkan dengan lidah maksutnya dibaca dari permulaan hingga
       akhirnya.
   3. Meyakini dalam hati maksutnya tidak ragu lagi dengan apa yang
       diucapkan.
   4. Diamalkan dengan anggota badan, yaitu hati dan perbuatan wajib menolak
       segala sesuatu yang menyalahi arti dan maksut dari kedua kalimat
       syahadat tersebut.

Sebab-Sebab Pentingnya Kalimat Syahadat:
   1. Sebagai pintu masuk Islam, tercantum dalam QS. Al-A’raaf ayat 172




       Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-
       anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
       jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka
       menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami
       lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
       "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
       terhadap ini (keesaan Tuhan)",
   dan QS. Muhammad ayat 19




   Artinya: Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah
   (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu
   dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah
   mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
2. Intisari ajaran Islam, tercantum dalam QS. Al-Anbiyaa’ ayat 25




   Artinya : Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu
   melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan
   (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
    dan QS. Jaatsiyah ayat 18




   Artinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat
   (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah
   kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
3. Konsep dasar reformasi total, yaitu mampu mengubah manusia dalam
   aspek keyakinan, pemikiran, dan jalan hidup. Tercantum dalam QS. Al-
   An’am ayat 122
   Artinya : Dan apakah orang yang sudah mati[502] kemudian dia Kami
   hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan
   cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa
   dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
   tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang
   kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.
4. Hakikat dakwah para Rasul, tercantum dalam QS. Mumtahanah ayat 4




   Artinya : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada
   Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata
   kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu
   dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari
   (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan
   kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.
   Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku
   akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak
   sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan
       kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada
       Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."
       dan QS. Al-An’aam ayat 19




       Artinya: Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?"
       Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al
       Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi
       peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran
       (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-
       tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui."
       Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan
       sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan
       Allah)".
   5. Keutamaan yang besar.
Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad
saw. Di antaranya seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan
dari neraka seperti sabda Rasulullah saw yang artinya :
“Barang siapa mengatakan tiada tuhan selain Allah tiada sekutu bagi-Nya dan
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan
utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya,
dan bahwa surga adalah haq serta neraka itu haq. Allah akan memasukkannya ke
surga, apapun amal perbuatannya.” ( H.R. Bukhari)


Kandungan Kalimat Syahadat ada 3:
1. Merupakan pernyataan atau ikrar, yaitu pernyataan seorang muslim akan
   keyakinannya. Tercantum dalam QS. Ali Imran ayat 18




   Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia
   (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan
   orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). Tak
   ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa
   lagi Maha Bijaksana.
   Selain itu tercantum juga dalam QS. Al-A’raaf ayat 172, QS. Ali Imran
   Ayat 81.
2. Merupakan sumpah atau khosam yaitu pernyataan kesediaan menerima
   akibat dan risiko apapun dalam mengamalkan Syahadat. Tercantum dalam
   QS. 63 ayat 1-2, QS. 4 ayat 138-145.




   Artinya : Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata:
   "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah".
   Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-
   Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu
   benar-benar orang pendusta.




   Artinya : Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai[1476], lalu
   mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat
   buruklah apa yang telah mereka kerjakan.
   3. Merupakan perjanjian atau al mitsaq yakni janji setia untuk mendengar
       dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah yang
       terkandung dalam Kitabullah dan Sunatullah. Tercantum dalam QS. 5 ayat
       7, QS. 2 ayat 285, QS. 2 ayat 92.
       Q.S Al-Maidah ayat 7




Artinya : Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya[405] yang telah
diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati".
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu).
Yang Merusak Syahadat
Ada 4 hal yang dapat menyebabkan rusaknya syahadat kita yaitu:

   1. Menyekutukan Allah
   2. Ragu akan adanya Allah
   3. Menyangkal dirinya diciptakan oleh Allah
   4. Menyangkal bahwa alam semesta ini diatur oleh Allah.




                                  C. Thaharah
  1. Pengertian Thaharah

          Kata   thaharah   berasal dari bahasa arab yaitu : “attahuru”    yang
  diartikan menurut bahasa yaitu : “annazofa” yang berarti bersih (kebersihan
  /bersuci). Sedangkan menurut syara adalah suci dari hadats dan najis.
  Allah SWT telah berfirman :



  Artinya :
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri”. (AL –Baqarah: 222)
       Adapun pengertian thaharah menurut istilah adalah mengerjakan
sesuatu (bersuci) yang diperbolehkan dengannya untuk mengerjakan shalat,
baik itu dengan berwudhu, mandi ataupun bertayamum.
       Rasulullah SAW, pernah bersabda :
“Laa Yaqbalul Laahu Shalaatan bi Ghairi Thahuurin”.
Artinya :
    “Allah tidak akan menerima shalat yang tidak bersuci.”(H.R.Imam
Muslim).
       Tujuan dari thaharah adalah agar manusia selalu berusaha berada dalam
keadaan suci, fitrah, supaya dapat berhubungan dengan Yang Maha Suci
karena hanya arwah yang memelihara kesucianlah yang diterima Allah SWT
kemudian hari.
2. Dua Macam Thaharah: Batin dan Lahir

  a. Thaharah batin spiritual, yaitu dari kemusyrikan dan kemaksiatan.
     Dilakukan dengan cara bertauhid dan beramal shalih. Ini lebih penting
     daripada thaharah fisik, bahkan thaharah badan tidak mungkin bisa
     terwujud jika masih terdapat najis kemusyrikan.
     Firman Allah SWT:




    Artinya:
    Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik
    itu najis (QS At-Taubah : 28)


  b. Thaharah fisik, yaitu bersuci dari berbagai hadats dan najis. Dan yang
     merupakan bagian kedua dari iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
     sallam bersabda:
                                                               ‫ا‬        ‫ر‬    ‫ا‬
       Artinya :

       “Bersuci itu setengah dari iman” (HR Muslim)

            Thaharah yang kedua ini dilakukan dengan cara yang telah
  disyari’atkan oleh Allah Ta’ala berupa wudhu’, mandi, dan tayammum pada
  saat tidak ada air, menghilangkan najis dari pakaian, badan, dan tempat
  shalat.
3. Pembagian Thaharah
  Bila ditinjau dari pengertian thaharah tersebut, maka thaharah dapat dibagi
  menjadi 2 yaitu :
   a. Bersuci dari hadats
     Bersuci dari hadats yaitu bersuci untuk menghilangkan hadats, baik
     hadats kecil maupun hadats besar . hal ini dapat dilakukan engan
     berwudhu ,dengan tayamum , dengan mandi junub, terutama yang
     berhubungan dengan badan (bersenggama).
   b. Bersuci dari najis
     Bersuci untuk menghilangkan najis yaitu najis-najis yang terdapat pada
     badan, pakaian maupun tempat, maka hendaklah harus dibersihkan
     terlebih      dahulu,   baik   dengan     air,   debu,   ataupun   enggan
     beristinja’sebelum mengerjakan shalat .
4. Alat- alat Thaharah
  Alat-alat thaharah (bersuci) yang utama ada dua macam , yaitu air dan debu
  (tanah). Air merupakan alat untuk mensucikan sesuatu, sebagaimana
  disebutkan dalam firman Allah SWT:
Artinya: (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu
penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari
langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari
kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan
mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)[598].
 a. Adapun air yang dapat digunakan untuk bersuci itu ada 7 macam, yaitu:
      Air hujan
      Air laut
      Air sungai
      Air sumur
      Air telaga
      Air sungai
      Air salju
 b. Macam – macam air :
     1) Air muthlaq, yaitu air yang suci dan mensucikan, dan juga dapat
        dipergunakan untuk bersuci, hal ini keadaanya masih asli dan tidak
        tercampur dengan suatu benda.

        Misalnya : air hujan , air laut , air sumur ,dan sebagainya
     2) Air musammas, yaitu air yang suci dan mensucikan tetapi makruh
        jika dipergunakan untuk bersuci.

        Misalnya : air yang terjemur oleh sinar matahari , air ini suci, tetapi
        makruh untuk dipakai. Juga air yang ditempatkan pada tembaga, besi,
        dan sebagainya, yang dapat berkarat.
     3) Air musta’mal, yaitu air yang suci dan mensucikan tetapi tidak dapat
        dipakai untuk bersuci karena sudah tercampur oleh suatu benda. Hal
        ini termasuk :
        a) Air suci yang dicampur dengan benda suci lainnya, sehingga air
           tersebut berubah salah satu sifatnya .
           Misalnya : air teh , air kopi ,dan sebagainya.
         b) Air yang sedikit, yang kurang dari satu qullah yang digunakan
            untuk bersuci meskipun tidak berubah sifatnya. Air yang qullah
            ( ALKHULLATAN ) yaitu air yang kira-kira 2 ½ m3 .
         c) Air yang keluar dari pepohonan (air buah-buahan).
            Misalnya : air kelapa, air nira.
      4) Air yang bernajis (air najis) : yaitu air suci yang terkena najis baik
         air itu sedikit ataupun banyak .


5. Macam-macam Najis
         Najis adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh setiap muslim,
  karena dapat menghalangi sahnya wudhu dan shalat dengan cara mencuci
  benda yang terkena. Adapun benda- benda yang termasuk najis antara lain:
  a. Air kencing, tinja manusia, dan hewan yang tidak halal dagingnya, telah
     disepakati para ulama. Sedangkan kotoran hewan yang halal dimakan
     dagingnya, hukumnya najis menurut madzhab Hanafi dan Syafi’i; dan
     suci menurut madzhab Maliki dan Hanbali.
  b. Madzyi, yaitu air putih lengket yang keluar ketika seseorang sedang
     berpikir tentang seks dan sejenisnya.
  c. Wadi, yaitu air putih yang keluar setelah buang air kecil.
  d. Darah dan nanah yang mengalir. Sedangkan yang sedikit di-ma’fu.
     Menurut madzhab Syafi’i darah nyamuk, kutu, dan sejenisnya dima’fu
     jika secara umum dianggap sedikit.
  e. Anjing dan babi
  f. Muntahan.
  g. Bangkai, kecuali mayat manusia, ikan dan belalang, dan hewan yang
     tidak berdarah mengalir.


6. Cara menghilangkan najis
  a. Najis Mukhaffafah (Najis Ringan)
            Yang termasuk najis ringan ini adalah air seni atau air kencing
     bayi laki-laki yang hanya diberi minum asi (air susu ibu) tanpa makanan
  lain dan belum berumur 2 tahun. Untuk mensucikan najis mukhafafah
  yaitu dengan memercikkan air bersih pada bagian yang terkena najis.
b. Najis Mutawassithah (Najis Biasa/Sedang)
          Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan
  binatang/hewan adalah najis biasa dengan tingkatan sedang. Air kencing,
  kotoran buang air besar, termasuk bangkai (kecuali ikan dan belalang),
  air susu hewan yang diharamkan untuk memakan dagingnya, khamar,
  dan lain sebagainya.
          Najis   Mutawasitah     terdiri   atas   dua   bagian,   yakni   :
  Najis ‘Ainiyah : najis yang jelas terlihat rupa, rasa atau tercium baunya.
  Cara menghilangkan najis ini membasuh 1 s/d 3 dengan air bersih hingga
  benar-benar hilang bau dan rasanya. Contoh: tahi, darah, dan nanah.
  Najis Hukmiyah : najis yang tidak tampak, cara menghilangkannya
  cukup mengalirkan air ke bagian yang terkena najis. Contoh: bekas
  kencing & miras.
c. Najis Mughalladhah (Najis Berat)
          Najis mughalladhah merupakan naji berat, seperti air liur anjing,
  air iler babi dan sebangsanya. Najis ini sangat tinggi tingkatannya
  sehingga untuk membersihkan najis tersebut sampai suci harus dicuci
  dengan air bersih 7 kali di mana 1 kali diantaranya menggunakan air
  dicampur tanah.

Tambahan :

       Najis Ma’fu adalah najis yang tidak wajib dibersihkan/disucikan
karena sulit dibedakan mana yang kena najis dan yang tidak kena najis.
Contoh dari najis mafu yaitu seperti sedikit percikan darah atau nanah, kena
debu, kena air kotor yang tidak disengaja dan sulit dihindari. Jika ada
makanan kemasukan bangkai binatang sebaiknya jangan dimakan kecuali
makanan kering karena cukup dibuang bagian yang kena bangkai saja.
           “Sesungguhnya Allah Maha Indah mencintai keindahan, Allah Maha
   Baik menyukai kebaikan, Allah Maha Bersih mencintai kebersihan. Karena
   itu bersihkanlah teras rumah kalian dan janganlah kalian seperti orang-orang
   Yahudi” (HR.Tirmizi).

        Thaharah fisik atau badan dilakukan dengan cara yang telah
disyari’atkan oleh Allah Ta’ala berupa wudhu’, mandi, dan tayammum pada
saat tidak ada air.

1. Wudhu
   a. Pengertian
   Wudhu menurut bahasa berarti “bersih”, sedangkn menurut syara artinya
   membersihkan anggota tubuh tertentu dengan menggunakan air untuk
   menghilangkan hadats kecil sebagai persiapan orang muslim untuk
   menghadapa Alloh SWT (mendirikan shalat).
   Dalil yang menunjukkan kewajiban berwudhu antara lain
          Allah SWT berfirman:




           Artinya:
           “Wahai orang- orang yang beriman, apabila kamu hendak
           mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
           siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua
           mata kaki”. (QS. Al- Maidah: 6)
          Rasulullah SAW bersabda yang berarti :
           “Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kamu bila ia
           berhadats sehingga ia berwudhu”. (Riwayat Bukhori dan Muslim)
   b. Syarat- syarat Wudhu
  1) Beragama islam
  2) Tamyiz (bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk)
  3) Menggunakan air mutlak (air suci dan mensucikan)
  4) Tidak menanggung junub (hadats besar)
  5) Mengetahui antara yang wajib dan yang sunnat
  6) Tidak terhalang sampainya air pada anggota wudhu seperti getah, cat,
     dan sebagainya.
c. Rukun- rukun Wudhu
  1) Niat, merupakan kemauan dan keinginan hati untuk berwudhu sebagai
     wujud mentaati perintah Allah SWT. Berdasarkan sabda Nabi yang
     masyhur, “Sesungguhnya setiap amalan -syah atau tidaknya-
     tergantung dengan niat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

     Lafadz niat wudhu:




     Artinya:

     “Aku berniat wudhu untuk menghilangkan hadats kecil wajib karena
     Allah Ta’ala”.

  2) Membasuh wajah, yaitu membasuh dengan air pada bagian atas dahi
     samapi bagian dagu yang bawah dan dari bagian bawah satu telinga ke
     bagian bawah telinga lain. Air wudhu tersebut harus mengalir pada
     wajah.
  3) Membasuh kedua tangan, yaitu membasahi kedua tangan dari ujung
     jari sampai ke siku.
  4) Membasuh kepala, yaitu membasahi kepala dengan air, lalu
     mengusapanya dari arah depan ke belakang.
  5) Membasuh ke dua kaki, yaitu membasuh kaki hingga mencapai kedua
     mata kaki.
  6) Tertib, maksudnya dalam membasuh sesuai dengan urutan yaiti
     diawali dengan membasuh muka, lalu ke dua tangan, kemudian
     mengusap kepala dan selanjutnya membasuh ke dua kaki.
  7) Berwudhu satu kali (sekaligus) dalam satu waktu, yaitu yidak
     berselang waktu yang terlalu lama antara satu rukun wudhu dengan
     rukun yang lain.

d. Sunnat-sunnat Wudhu
   1) Membaca basmallah
   2) Membersihkan kedua telapak tangan tiga kali
   3) Bersiwak atau menggosok gigi
   4) Berkumur tiga kali
   5) Istinsyaq dan istinsyar tiga kali
   6) Membersihkan sela- sela jari
   7) Mendahulukan yang kanan
   8) Membaca doa setelah wudhu
e. Hal- hal yang Membatalkan Wudhu
  1) Mengeluarkan sesuatu melalui dua jalan keluar, seperti: kencing,
     kotoran, kentut.
  2) Tidur
  3) Pingsan
  4) Tidur dalam shalat
  5) Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan (sengaja)
  6) Murtad (keluar dari islam)
  7) Memakan daging hewan sembelihan (tidak membatalkan tetapi
     dianjurkan untuk berwudhu)
  8) Madzi, yaitu cairan yang keluar dari kemaluan ketika sedang
     melakukan percumbuan dengan istri atau ketika mengkhayalkan hal
     seperti itu
f. Keutamaan Berwudhu
  1) Allah SWT akan menghapuskan dosa- dosa dan mrninggikan
    derjatnya
  2) Memberi pengaruh positif pada jiwa sehingga terhindar dari maksiat
  3) Wajah dan tubuhnya bersinar dan cemerlang kelak di hari akhir
  4) Kesalahan- kesalahan dari orang yang berwudhu akan jatuh
    bersamaan dengan jatuhnya air untuk berwudhu

2. Tayamum

   a. Pengertian
             Tayammum ialah menyapu debu kemuka dan kedua tangan
      sampai ke siku, menggunakan debu yang suci dengan beberapa
      syarat. Tayammum adalah sebagai ganti dari wuduk atau mandi.
      Tayammum di segi syarak adalah menggunakan tanah yang bersih
      dan suci seperti debu atau pasir bagi menyapu muka dan tangan
      untuk mengangkat hadas dengan persyaratan syarak sebagai
      pengganti wuduk atau mandi wajib (mandi junub).
      Allah SWT berfirman:




      Artinya: dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu
      sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air
      (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh
  air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah
  mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak
  menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan
  menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
b. Sebab melakukan tayamum
  1) Perjalanan jauh
  2) Persediaan air sedikit
  3) Telah berusaha mencari air namun tidak ketemu
  4) Air yang ada hanya cukup untuk minum
  5) Air yang ada suhu atau kondisinya mengandung kemudharatan
  6) Sumber air terlalu jauh yang bisa membuat kita telat untuk shalat.
  7) Sakit yang tidak boleh terkena air

c. Syarat- syarat Tayamum

  1) Sudah masuk waktu shalat.
  2) Tidak mendapat air setelah berusaha mencari.
  3) Dengan debu yang suci.
  4) Berhalangan menggunakan air disebabkan sakit.
  5) Suci dari najis.

d. Rukun Tayamum

  1) Niat,   dengan     lafaz   “Sengaja   aku   bertayammum     untuk
     membolehkan mengerjakan solat karena Allah Ta’ala”.
  2) Mengusap muka dan dua telapak tangan sampai ke siku cukup
     sekali dengan debu yang suci
  3) Meratakan debu yang suci itu pada seluruh anggota tayammum,
     iaitu muka dan kedua tangan
  4) Tertib melakukannya.

e. Sunnah Tayamum
     1) Membaca basmallah
     2) Menipiskan debu
     3) Mendahulukan yang kanan dari yang kiri
     4) Tertib

  f. Perkara yang Membatalkan Tayamum

     1) Setiap yang membatalkan wudhu
     2) Ada air (melihat air sebelum solat) kecuali kerana sakit
     3) Murtad

3. Mandi

  a. Pengertian

     Mandi menurut bahasa adalah meratakan atau menyiramkan,
     sedangkan menurut syara artinya menyiramkan air dengan rata ke
     seluruh tubuh dengan niat menghilangkan hadats besar

     Allah SWT berfirman:




     Artinya:

     “Dan jika kamu junub , maka mandilah kamu”.

  b. Sebab diwajibkan Mandi

     1) Mandi yang dilakukan setelah bersetubuh (melakukan hubungan
       suami istri)
     2) Keluar mani, baik karena apa saja
     3) Setelah Haid/Menstruasi (Wanita)
     4) Setelah Melahirkan/Nifas (Wanita)
  5) Meninggal dunia bukan karena mati syahid

c. Fardlu- fardlu Mandi

  a. Niat mandi ketika menyiramkan air

     Lafadz niat mandi:

     Artinya:

     “Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar,
     karena Allah Ta’ ala”.

  b. Meratakan air ke seluruh tubuh
  c. Menghilangkan najis yang terdapat di tubuh

d. Sunnat- sunnat Mandi

  1) Berwudhu sebelum mandi
  2) Membaca basmallah
  3) Menghadap kiblat ketika mandi
  4) Mendahulukan bagian yang kanan
  5) Mencuci kotoran yang ada pada tubuh
  6) Membasuh tubuh sebanyak tiga kali
  7) Membaca doa setelah mandi (baca doa wudhu)

e. Mandi Sunnat

  a) Mandi untuk Shalat jum’at
  b) Mandi untuk Shalat hari raya
  c) Sadar dari kehilangan kesadaran akibat pingsan, gila,
  d) Muallaf (baru memeluk/masuk agama islam)
  e) Setelah memandikan mayit/mayat/jenazah
  f) Saat hendak Ihram
             g) Ketika akan Sa’i
             h) Ketika hendak thawaf

                                   D. Shalat
       Perkataan shalat berasal dari bahasa arab assolat artinya sama dengan
addu’a yakni doa. Sedangkan menurut istilah shalat ialah suatu amal ibadah yang
terdiri dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dimulai dengan
takbir dan diakhiri dengan salam dengan syarat-syarat dan rukun tertentu. Shalat
dapat diartikan juga sebagai doa yang diharapkan dengan sepenuh hati ke hadirat
ilahi yang menjadi salah satu kewajiban agama yang harus dilakukan. Rosul
mendapat perintah shalat dari Allah S.W.T saat beliau mikraj, sebelum melakukan
mikraj beliau melakukan isra’ (perjalanan malam) terlebih dahulu pada 27 rajab
dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Jerussalem). Dari Masjidil Aqsa beliau
mikraj ke Sidaratul Muntaha dan berhadapan langsung dengan Allah S.W.T
Q.S Al-Isra’ : 1




“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang telah Kami berkati sekelilingnya agar
kami (dapat) memperlihatkan ayat-ayat Kami kepadanya. Sesungguhnya Ia
(Allah) Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”
       Dalam perjalanan mikraj Nabi Muhammad S.A.W berjumpa dan
diperkenalkan kepada nabi Adam (di langit pertama), Nabi Isa (di langit kedua),
Nabi Musa (di langit keenam), dan Nabi Ibrahim pada langit ketujuh. Setelah
mendapat perintah mendirikan salat 50 waktu sehari, Beliau turun ke bumi.
Namun sampai dilangit keenam dan berjumpa dengan Nabi Musa, Nabi Musa
menyarankan agar Nabi Muhammad menghadap kembali kehadirat tuhan dan
memohon keringanan agar jmlah salat dikurangi. Setelah sembilan kali naik-turun
menghadap Allah atas saran para Nabi yang dijumpainya, tinggal lima kali
kewajiban salat dalam sehari. Kendati para Nabi lain masih menyarankan
mengurangi    jumlah    salat,   namun   karena   Beliau   malu     meminta   lagi
pengurangannya, beliau akhirnya turun ke bumi (mekkah) sebelum fajar.
       Dari cara      Beliau mendapat perintah salat dari Allah S.W.T, salat
mempunyai kedudukan istimewa dalam agama islam pertama salat diperintahkan
langsung oleh Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad S.A.W, kedua Salat adalah
tiang agung agama, ketiga berbeda dengan ibadah lainnya. Tujuan dari salat ialah
mencegah manusia dari (segala) yang keji (kotor) dan mungkar (jahat)
Q.S Al-Ankabut : 45




Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan.
       Salat dapat dijadikan sebagai suatu upaya yang ampuh untuk menemukan
kembali ketenangan jiwa dalam menempuh perjuangan hidup, nilai pendidikan
salat sangat tinggi karena akan menumbuhkan disiplin pribadi bagi yang teratur
menjalankannya yang sangat berguna bagi kehidupannya
       Allah S.W.T memberi keringanan dalam menjalankan salat, namun
keringanan tersebut mempunyai syarat diantaranya karena sakit, atau melakukan
perjalanan jauh. Keringanan tersebut ialah salat jamak dan qasar.
       Salat jamak adalah salat yang dikumpulkan (digabungkan). Artinya
diperbolehkan mengerjakan dua salat wajib pada satu waktu yakni dalam waktu
yang sebenarnya hanya tertentu untuk satu salat saja. Salat yang dibolehkan
dijamak ialah Dzuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya. Macam salat jamak
pertama jamak taqdim ialah menjama’ salat dikerjakan pada waktu yang lebih
awal (salat ashar dikerjakan pada waktu dzuhur, kedua jama’ ta’khir ialah
menjama’ salat dikerjakan pada waktu yang akhir (salat dzuhur dikerjakan pada
waktu ashar).
       Qasar ialah ringkasan atau meringkaskan, memperpendek salat 4 raka’at
menjadi 2 raka’at. Salat qasar hanya diperkenankan bagi musafir dan salat yang
boleh diqasar hanya dzuhur dan ashar.
       Shalat wajib yang diperintahkan oleh Allah S.W.T kepada Nabi
Muhammad dan kaumnya ialah pertama salat subuh yang terdiri dari 2 raka’at
yang dilakukan antara dini hari dan terbit matahari, kedua salat dzuhur yang
terdiri dari 4 raka’at dilakukan dari permulaan matahari menurun sampai pada
waktu matahari berada pertengahan jalan ke tempat terbenam, ketiga salat ashar
yang terdiri dari 4 raka’at dilakukandari permulaan matahari menurun sampai
pada waktu matahari berada dipertengahan jalan ke tempat terbenam sampai
terbenam matahari tersebut, keempa salat maghrib yang terdiri dari 3 raka’at
dilakukuan segera setelah matahari terbenam sampai habis warna merah disebelah
barat, dan yang kelima salat isya yang terdiri dari 4 raka’at dilakukan antara habis
warna merah disebelah barat sampai dengan waktu subuh.
       Seorang yang hendak melaksanakan sholat harus suci dari najis baik tubuh
pakaian, maupun tempat sholat. Dalam keadaan kekurangan air, atau karena
alasan tertentu bila terkena air maka dapat melakukan tayamum. Dalam sholat
juga harus menutup aurat, antara pusat sampai lutut bagi laki-laki, bagi wanita
auraltnya seliruh badan kecuali muka dan telapak tangan.
       Gerakan sholat dimulai dari takbirotul ihram sampai dengan salam. Salat
dapat dilakukan secara munfarid atau berjamaah, shalat berjamaah hukumnya
sunnah muakkad, pahalanya 27 derajat lebih banyak dari sholat munfarid.
       Selain sholat fardu yang 5 waktu, ada juga sholat yang wajib bagi kaum
laki-laki dewasa saja, yaitu sholat jumat seperti yang tercantum dalam QS. Al-
Jumuat ayat 9-10
Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual
beli[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.




Artinya : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka
bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung.
Sholat jumat dilaksakan pada waktu dzuhur sebanyak dua raka’at dan didahului
kutbah oleh khatib. Fungsi sholat jumat seperti yang telah dinyatakan dalam QS.
Al- Ankabut ayat 45




Artinya : Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-
perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan.
       Selain itu ada sholat sunnah rawatib, yaitu solat sunnah yangmenyertai
solat wajib. Sholat sunnah rawatib ada yang hukumnya sunnah muakkad dan ada
yang sunnah saja. Sholat sunnah rawatib yang dianjurkan yaitu 2 rakaat sebelum
sholat shubuh, 2 rakaat sebelum dan sesudah sholat zhuhur, 2 rakaat sesudah
sholat maghrib dan isya’. Sholat sunnah yang lain yaitusholat tahajjud yang
bilangan rakaatnya 8 ditanbah witir 3-11 rakaat.
         Manfaat sholat bagi pembentukan kepribadian yaitu menjaga dan
memelihara ketepatan waktu, meningkatkan rasa tanggungjawab dan kewajiban
menjalankan sesuatu, latianmendisiplinkan diri,      menempa dan membina
watak,tekun dan mengendalikan diri sendiri, menumbuhkan sifat sabar dan tabah,
mendidik kerapian dan ketepat gunaan, membentuk sikap rendah hati. Manfaat
sholat terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan yaitu, melatih hidup
berorganisasi,   menjadikan   masjid   sebagai   pusat   kegiatan   masyarakat,
meningkatkan semangat kerja sama dan tolong menolong, menerapakan asas
persatuan persaudaraan, latihan perjuaangan, menubuhkan sikap menghormati hak
orang lain, berpandangan luas dan toleran, menggalang persatuan dan kesatuan.
Untuk menjaga kekhusukan salat dapat dilakukan dengan 4 cara meliputi
melupakan segala urusan diluar salat, memilih tempat salat jauh dari keramaian,
menguasai bacaan salat, memhami makna yang terkandung dalam setiap bacaan
salat.
Kesimpulan:
Setiap orang muslim wajib mengucapkan kalimat Syahadat, sekurang-kurangnya
sekali dalam hidupnya. Kalimat Syahadat merupakan perjanjian yang dibuat
manusia yang mengucapkannya dengan Allah, dengan konsekuensi bahwa selama
hayatnya dikandung badan ia akan mengikuti ketetapan-ketetapan Allah yang
sekarang terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits.
Daftar Pustaka:
Buku ijo
http://religi-blogs.blogspot.com/2012/04/pengertian-rukun-dan-macam-
macam.html diunduh tanggal 16 April 2012.
Kajian AAI tanggal 8 Maret 2012 oleh drg. Farida S.
http://fordmuslim.wordpress.com/2011/01/09/memahami-syahadat/          diunduh
tanggal 17 April 2012.




http://www.dakwatuna.com/2008/03/456/fiqh-thaharah/#ixzz1sA6lVeaA

http://hasrian04rudi.blogspot.com/2011/04/thaharah.html

http://kodokkrawu.wordpress.com/2010/08/11/macam-macam-najis-dan-cara-
mensucikannya/

http://ms.wikipedia.org/wiki/Tayammum

Labib dan TM. Sanihiyyah. 1997. Pedoman Shalat Lengkap. Yayasan Amanah-
       Tuban: Jawa Timur.

Tim Biro AAI UNS. 2011. Buku Panduan dan Monitoring Asistensi Agama Islam.
       Surakarta: Yuma Pustaka.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/15/2013
language:Unknown
pages:29
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com