PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA

Document Sample
PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA Powered By Docstoc
					   PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP
          MOTIVASI BELAJAR SISWA

(Studi Deskriptif terhadap Orang Tua Siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta
  As-Sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur Tahun Pelajaran 2010-2011)



                              SKRIPSI

     Disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan
  Program Strata Satu (S-1) Program Studi Pendidikan Agama Islam



                                oleh
                          IIS ISTIANAH
                          NIM : 0701.0029




        PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
      SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH NURUL HIKMAH
                         CIANJUR
                      2011 M – 1432 H



                                                                        1
                                     BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

          Anak adalah harapan bagi orang tuanya. Dia merupakan hasil dari

   buah kasih sayang yang diikat dalam suatu perkawinan antara suami istri

   dalam satu keluarga. Segala yang terbaik pantaslah diberikan kepada anak,

   termasuk dalam pemenuhan sandang, pangan, tempat tinggal, pendidikan dan

   sebagainya. Satu hal yang terpenting adalah masalah adalah pendidikan yang

   merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua untuk memberikan hak anak

   untuk mendapatkannya.

          Orang tua memiliki tugas utama dalam pendidikan anak, yaitu menjadi

   peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat

   dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari

   anggota keluarga yang lainnya, ketika seorang anak masih berusia 0-2 tahun.

   Pada masa ini anak sangta bergantung kepada orang lain, dia tidak dapat

   hiidup tanpa bimbingan orang-orang sekitarnya dan lingkungan pertama yang

   dialami oleh anak adalah asuhan ibu dan ayah. Dan yang terpenting lagi

   pendidikan dimulai sejak dini, karena perkembangan jiwa anak mulai tumbuh

   sejak ia kecil, sesuai dengan fitrahnya.

          Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan

   perkembangan anak. Jika suasana keluarga itu baik dan menyenangkan, maka

   anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak, tentu akan terhambatlah


                                                                            2
pertumbuhan anak tersebut. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang

paling berpengaruh dibandingkan yang lain. Seorang ibu sangat besar

pengaruhnya dalam membimbing anak seiring dengan pertumbuhannya. Para

ibu hendaknya memperhatikan berbagai permasalahan mengenai anak.

       Pendidikan merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dalam

kehidupan manusia. Pendidikan berlangsung terus menerus ada sepanjang

kehidupan manusia, akan senantiasa beriringan dengan perkembangan zaman,

oleh karenanya masalah pendidikan tidak akan selesai. Pendidikan memegang

peranan penting dalam kehidupan manusia. Muhibbin Syah (2000:1)

menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh-

kembangkan potensi sumber daya aktivitas operasional kependidikan oleh

tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar.

       A. Tafsir (1992:6) mengemukakan bahwa pendidikan mengandung arti

usaha sadar meningkatkan diri dalam segala aspeknya, definisi ini mencakup

kependidikan yang melibatkan guru maupun yang tidak melibatkan guru

(pendidik) mencakup pendidikann formal dan non formal.

       Hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan pendidikan anak,

antara lain adalah struktur masyarakat, lingkungan keluarga dan sebagainya.

Selain dalam lembaga pendidikan formal (sekolah). Pendidikan anak juga

dilaksanakan di rumah, yaitu dalam lingkungan keluarga. Di dalam keluarga

yang menjadi panutan pertama dan utama adalah orang tua, terutama dalam

hal pendidikan bimbingan dan dorongan orang tua sangat diperlukan dalam

belajar anak di rumah, karena hal ini sangat erat kaitannya dengan sikap



                                                                         3
belajar anak di sekolah sebagai siswa. Untuk itu di samping bantuan dan

bimbingan secara materiil yang memberi bimbingan dan dorongan secara

rohani, atau yang bersifat batiniyah bagi anaknya, baik berupa kasih sayang,

nasehat-nasehat, ataupun bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas anak di

rumah. Dalam diri seseorang terdapat suatu kekuatan yang menjadi daya

penggerak hatinya yang disebut motivasi. Proses pendidikan adalah

membangkitkan dorongan untuk melakukan aktivitas pendidikan (Tim Dosen

FIP IKIP Malang 1998; 117). Yang mendorong seseorang untuk melakukan

suatu itu biasanya tidak ditentukan oleh motivasi tunggal, karena pada diri

seseorang terdapat bermacam-macam motivasi yang menjadi pendorongnya

untuk melakukan sesuatu, begitu pula dalam belajar, seseorang tidak bias

hanya mengandalkan suatu motivasi saja, yaitu motivasi yang ada dalam

dirinya (motivasi intrinsik), tetapi ia juga membutuhkan dorongan yang dating

dari luar anak itu (motivasi ekstrinsik) salah satunya adalah dari orang tua

untuk meningkatkan semangat belajar anak yaitu dengan memberikan

bimbingannya dan dorongan yang bersifat kerohanian pada anaknya adalah

belajar di rumah.

       Pentingnya bimbingan dan perhatian orang tua terhadap pendidikan

anak dalam rangka meningkatkan motivasi belajar anak, bisa diaplikasikan

lewat pemberian kasih sayang, dan perhatian yang besar terhadap kegiatan

belajar anak di rumah, juga pada hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan

anak di sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan membantu dan mengarahkan

anak dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, sesuai dengan tingkat



                                                                           4
kemampuan orang tua. Dengan demikian, belajar anak di rumah akan menjadi

terbimbing dan terarah, hal ini akan mempengaruhi sikap belajar nya di

sekolah, serta dapat mempengaruhi tingkat semangat dan motivasi belajar

siswa di sekolah. Anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah jika

dibandingkan dengan keberadaannya di sekolah, oleh karena itulah selain

dididik di sekolah ia juga membutuhkan pengawasan yang baik di rumah,

tentu saja dari orang tua, dan sikap anak di sekolah, akan mencerminkan sikap

bimbingan dan pengawasan orang tua di rumah, karena di dalam pendidikan

orang tua dan pihak sekolah harus bekerja sama demi tercapainya pendidikan

yang diinginkan.

       Berdasarkan kerangka berpikir di atas, penulis tertarik untuk

mengadakan penelitian di MIS As-sa’idiyah Cipanas-Cianjur, dengan tujuan

untuk mengetahui bagaimana perhatian serta bimbingan dan pengawasan

orang tua murid MIS As-sa’idiyah Cipanas-Cianjur terhadap pendidikan anak-

anak mereka baik di rumah maupun di sekolah, dan pengaruh apa sajakah

yang akan timbul dari bimbingan tersebut terhadap semangat belajar anak di

sekolah. Dengan ini, maka penulis menuangkannya dalam sebuah karya tulis

ilmiah berupa skripsi yang berjudul: “PENGARUH BIMBINGAN ORANG

TUA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA MIS AS-SA’IDIYAH

CIPANAS KABUPATEN CIANJUR”. Dalam memilih judul di atas, penulis

memiliki beberapa alasan sebagai berikut.

1.   Adanya tanggung jawab orang tua terhadap anaknya terutama dalam hal

     pendidikan sehingga orang tua perlu memberikan bimbingan yang baik.



                                                                           5
  2.    Seorang   siswa   dalam   belajarnya    membutuhkan   motivasi   untuk

        mendapatkan hasil yang baik, untuk itu motivasi belajar siswa perlu

        ditingkatkan.

  3.    Setiap siswa harus berhasil dalam belajarnya, begitu pula dengan siswa

        MIS As-sa’idiyah Cipanas-Cianjur, untuk tu perlu motivasi belajar yang

        ditimbulkan oleh bimbingan orang tua.


B. Rumusan Masalah

         Semua jenis penelitian apa pun akan dimulai dengan cara merumuskan

  masalahnya. Suyatna (2000:7) mengemukakan bahwa ”mengidentifikasikan

  masalah itu merupakan bagian yang paling sulit dalam proses penelitian. Yang

  harus dirumuskan bukan sekedar ruang lingkupnya saja, melainkan juga

  penjabaran masalahnya itu ke dalam bentuk khusus yang spesifik.”

         Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini disusun dalam bentuk

  pertanyaan di bawah ini.

  1. Bagaimanakah cara orang tua siswa melakukan bimbingan kepada putra-

       putrinya yang duduk di MIS As-sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur?

  2. Bagaimanakah motivasi belajar para siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

       kabupaten Cianjur sehari-hari?

  3. Apakah pembinaan orang tua di rumah berpengaruh terhadap motivasi

       belajar siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur sehari-hari?




                                                                               6
C. Tujuan Penelitian

          Sesuai dengan rumusan di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai

   berikut.

   1. Mendeskripsikan cara orang tua siswa dalam melakukan bimbingan

      kepada putra-putrinya yang duduk di MIS As-sa’idiyah Cipanas

      Kabupaten Cianjur.

   2. Mendeskripsikan motivasi belajar para siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

      Kabupaten Cianjur sehari-hari.

   3. Menguji pengaruh pembinaan orang tua terhadap motivasi belajar siswa

      MIS As-sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur sehari-hari.


D. Manfaat Penelitian

   1. Manfaat Teoritis

              Secara teoritis penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan

      sumbangan pemikiran dalam pengembangan pembimbingan dan penanam-

      an pendidikan agama Islam pada siswa melalui lingkungan keluarga,

      khususnya orang tua siswa.

   2. Manfaat Praktis

              Sekecil apapun makna penelitian ini, penulis berharap memiliki

      makna yang bermanfaat bagi orang tua siswa, guru, maupun lembaga

      pendidikan yang terkait, terutama bagi penulis sendiri. Proses dan hasil

      penelitian ini diharapkan dapat menggugah kesadaran orang tua siswa

      akan pentingnya pembinaan pendidikan agama Islam, khususnya


                                                                            7
      penanaman nilai-nilai akidah serta pelaksanaan kewajiban-kewajiban

      pokok selaku Muslim sebagai bekal hidup mereka kelak di kemudian hari.

      Lebih sederhana lagi, diharapkan siswa termotivasi untuk lebih

      mengembangkan pemahaman nilai-nilai keagamaan sebagai pokok

      kewajiban yang penting.

             Bagi guru, penelitian ini diharapkan akan menjadi salah satu

      alternatif dalam pengembangan model dan metode pembinaan nilai-nilai

      pendidikan agama Islam. Guru yang bijaksana adalah guru yang mampu

      menerapkan metode teknik yang tepat dalam situasi pembelajaran yang

      tepat. Sesederhana apapun model pembinaan siswa yang dipaparkan dalam

      penelitian ini akan menjadi pilihan yang tepat jika diterapkan dalam situasi

      yang tepat pula.

             Selanjutnya, bagi lembaga pendidikan terkait, diharapkan keber-

      hasilan penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran bagi

      perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya perkembangan dunia pen-

      didikan dan pengajaran. Lebih jauh lagi, penulis berharap pula jika hasil

      penelitian ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang ber-

      minat melakukan penelitian serupa di masa mendatang.


E. Kerangka Pemikiran

      Minat dan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama

Islam pada jenjang satuan pendidikan dasar (SD dan MI) sering dikategorikan

rendah. Kenyataan ini dipicu oleh anggapan bahwa pembelajaran Pendidikan




                                                                                8
Agama Islam telah merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang harus

dijalani oleh siswa. Masing-masing siswa secara sadar atau tidak memiliki

anggapan bahwa materi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam telah

diperoleh dalam aktivitas dan rutinitas beribadah sehari-hari di lingkungan

keluarga dan masyarakat, sehingga minat untuk mempelajari Pendidikan Agama

Islam di sekolah menjadi berkurang.

       Minat belajar merupakan aspek mendasar dalam diri seorang anak untuk

mencapai tahap-tahap kompetensi. Dalam teori-teori pembelajaran disebutkan

bahwa minat merupakan faktor pertama yang harus ada dalam diri seorang siswa

untuk menghadapi kegiatan pembelajaran. Minat inilah yang seharusnya

menumbuhkan respon ketika ke dalam diri seseorang datang stimulus atau

rangsangan untuk berbuat sesuatu. Tanpa adanya minat, sebaik apa pun stimulus

atau rangsangan dalam belajar tidak akan dapat menumbuhkan respon yang

memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran.

       Kegiatan pembelajaran merupakan inti dari kegiatan belajar mengajar

yang berlangsung di sekolah. Pada konteks ini harus terjadi interaksi antara guru

dan siswa, siswa dan siswa, serta siswa dan lingkungan sekitarnya. Banyak terjadi

kegiatan belajar mengajar terasa sangat menjemukan dan melelahkan, baik bagi

guru maupun siswa. Kondisi ini sesungguhnya diakibatkan oleh kesalahan guru

dalam memilih pendekatan serta model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi

siswa. Oleh karena itu, penetapan strategi pembelajaran yang tepat dan baik akan

menumbuhkan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Pada




                                                                               9
konteks ini, minat dan motivasi siswa dalam belajar akan tumbuh secara optimal

dan wajar tanpa harus diberi tekanan oleh guru.

       Kegiatan pembelajaran yang kondusif, menyenangkan, dan kontekstual

sesungguhnya merupakan landasan pendidikan yang dikembangkan dalam Islam.

Islam mengajari kita untuk bersikap lemah lembut sesuai dengan kondisi yang

terdapat pada konteks. Bahkan Allah SWT menjelaskan hal ini dalam surah Ali-

Imran ayat 159 berikut ini.




       ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu bersikap lemah lembut
   terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
   mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka,
   mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka
   dalam urusan (keduniaan) itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan
   tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
   orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran:159. Bachtiar
   Surin, Adz-Dzikra: Terjemah dan Tafsir Al-Quran, 1986).


       Sifat lemah lembut adalah karakter yang diberikan Allah kepada manusia

untuk dapat bergaul dengan sesama manusia lainnya. Hal ini berlaku pula dalam

dunia pendidikan, yakni pada proses belajar mengajar, pada saat terjadinya

interaksi antara guru dan siswa serta siswa dan siswa.

       Firman Allah SWT pula dalam surah An-Nahl ayat 125:



                                                                           10
   ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …” (QS An-
Nahl:125, Bachtiar Surin, Adz-Dzikra: Terjemah dan Tafsir Al-Quran, 1986)

       Selanjutnya, untuk menghindari terjadi kekeliruan dan kesalah-

pahaman dalam menginterpretasikan setiap istilah yang digunakan pada

penelitian ini, maka perlu adanya penegasan istilah sebagai definisi

operasional sebagai berikut.

1. Pengaruh yang dimaksud di sini adalah daya yang ada atau yang timbul

   dari suatu yang ikut membantu watak, kepercayaan atau perbuatan

   seseorang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988: 664). Maksud dari

   pengertian tersebut adalah pengaruh dari bimbingan orang tua terhadap

   motivasi belajar siswa di MI Assa’idiyyah.

2. Bimbingan orang tua yang dimaksud adalah segala usaha yang dilakukan

   orang tua, dalam memberikan bantuan dan arahan yang bersifat kerohanian

   (non-materi) secara terus-menerus dalam rangka menumbuhkan motivasi

   belajar pada diri anak. Menurut Stoops adalah bantuan yang terus menerus

   dalam membantu individu untuk mencapai kemampuan secara optimal

   dalam mengarahkan yang sebesar-besarnya bagi diri maupun masyarakat

   (Jumhur dan Muh. Surya, 1975: 25).

3. Motivasi Belajar Siswa, yaitu segala sesuatu yang menjadi pendorong atau

   penggerak seseorang siswa untuk belajar. Menurut Alisuf Sabri motivasi


                                                                        11
      adalah segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang

      menuntut/mendorong orang untuk memenuhi suatu kebutuhan (Alisuf

      Sabri, 1996: 129).

          Dari definisi operasional di atas, maka maksud dari judul penelitian ini

   dapat dirumuskan pengertiannya secara tertulis sebagai berikut: Suatu

   penelitian yang membahas tentang bagaimanakah pengaruh bimbingan orang

   tua terhadap motivasi belajar siswa yang berada di MIS Assa’idiyyah Cipanas-

   Cianjur Tahun ajaran 2010/2011.


F. Populasi dan Sampel Penelitian

   1. Populasi Penelitian

             Populasi menurut Subana (2000:24) adalah ”semua nilai baik

      melalui perhitungan kuantitatif maupun kualitatif, dari karakteristik

      tertentu mengenai objek yang lengkap dan jelas.” Ditinjau dari banyaknya

      anggota populasi, maka populasi terdiri dari populasi terbatas (terhingga)

      dan populasi tak terbatas (tak terhingga), dan dilihat dari sifatnya populasi

      dapat bersifat homogen dan heterogen. Menurut Sugiyono (2003:24)

      populasi adalah ”wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

      mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

      peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.”

            Populasi penelitian ini adalah orang tua siswa kelas I, II, dan kelas

      III MIS Assa’idiyyah Cipanas Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011

      sebagaimana terlihat pada tabel berikut.




                                                                                12
                                 Tabel 1.1

                            Populasi Penelitian

                                         Jumlah Siswa
              Kelas
                             Laki-laki       Perempuan    Jumlah

                I                5                7          12

               II                8                6          14

               III               7                7          14

          JUMLAH                20                20         40


      Populasi sebagaimana tergambar pada tabel di atas adalah orang tua

siswa kelas I, II, dan III MIS Assa’idiyyah Cipanas Kabupaten Cianjur

tahun ajar 2010 – 2011 yang seluruhnya berjumlah 40 orang.

      Pengambilan data populasi tersebut di atas didasarkan kepada teori-

teori yang dikemukakan oleh Subana (2000:12) berikut ini.

a. ”Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1988).”

b. ”Populasi adalah kumpulan dari indivisu dengan kualitas serta ciri-ciri

    yang ditetapkan (Nazir, 1983).”

c. ”Populasi adalah sekumpulan objek yang lengkap dan jelas (Vincent,

    1989).”

      Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi

adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia,

benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai tes, atau peristiwa sebagai dumber

data yang mewakili karakteristik tertentu dalam suatu penelitian.




                                                                       13
   2. Sampel Penelitian

            Sampel yang diambil pada penelitian ini didasarkan kepada

      pendapat Arikunto (1988:94) yang menyatakan bahwa ”apabila subjeknya

      kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya. Selanjutnya jika jumlah

      subjeknya lebih besar, dapat diambil antara 10 % - 15 % atau 20 % - 25

      %.”

            Berdasarkan pendapat di atas, untuk mendapatkan sampel yang

      representatif dan berukuran sesuai dengan kebutuhan, maka dalam

      pelaksanaan penelitian ini diambil 50 % dari jumlah siswa 40 orang. Jadi

      jumlah sampelnya adalah 20 orang tua siswa. Untuk memudahkan

      perlakuan, sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik random

      sampling pada orang tua siswa kelas I, II dan III yang masing-masing

      berjumlah 7 orang. Penentuan kelas ini sebagai sampel dilakukan karena

      diasumsikan seluruh populasi homogen.


G. Prosedur Penelitian

   1. Metode Penelitian

            Metode penelitian pada dasarnya memandu peneliti tentang langkah-

      langkah penelitian yang akan dilakukan, dengan alat apa dan prosedur

      yang bagaimana penelitian tersebut dikembangkan. Sejalan dengan

      perumusan masalah, serta tujuan penelitian yang dirumuskan dalam

      penelitian ini, maka metode yang akan digunakan adalah metode deskritif,

      hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Winarno Surakhmad



                                                                           14
(1982:131), yakni ”suatu cara untuk menyimpulkan masalah aktual dengan

jalan menyimpulkan, menyusun, dan mengklasifikasi data.”

     Metode deskritif adalah suatu metode penelitian atas kelompok

manusia, objek, set kondisi, sistem pemikiran, ataupun peristiwa sekarang.

Penelitian deskritif memberikan deskripsi, gambaran, atau lukisan secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan

fenomena yang diselidiki.

     Menurut Kline, dalam Sugiyono (2004:7), penelitian survey

dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak

mendalam, tetapi generalisasi yang dilakukan memiliki akurasi yang

tinggi. Penelitian survey menitikberatkan pada penelitian yang rasional

yakni mempelajari hubungan antarvariabel sehingga baik secara langsung

atau tidak langsung hipotesis penelitian bisa senantiasa dipertanyakan.

     Tujuan survei dapat merupakan pengembangan data sederhana

bersifat menerangkan atau menjelasakan, yakni mempelajari tentang

fenomena sosial dengan cara meneliti hubungan variabel penelitian. Survei

juga dapat menjadi alat bantu penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta

dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara

faktual, baik tentang intuisi sosial, ekonomi atau politik dari suatu

kelompok atau suatu daerah yang bisa digunakan untuk mendapatkan

pembenaran. Di samping itu, metode deskripsi survei juga dapat

digunakan untuk penyelidikan untuk menguji hipotesis.




                                                                          15
        Berdasarkan tingkat eksplanasinya, penelitian ini mengembangkan

   bentuk penelitian asosiatif. Menurut Sugiyono (2004:11-12), penelitian

   asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan

   antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini juga bertujuan untuk

   membangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan,

   meramalkan, dan mengontrol suatu gejala.

        Dalam penelitian ini diharapkan dapat diketahui berapa besar

   hubungan antara variabel yang satu dan variabel yang lain, baik secara

   sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.

2. Hipotesis Penelitian

          Hipotesis adalah jawaban sementara atas masalah yang diteliti dan

   perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang bersangkutan. Pengujian

   hipotesis di sini, sekali-kali bukanlah bertujuan membuktikan benar atau

   tidaknya hipotesis itu, tetapi bermaksud menguji dapat diterima atau

   tidaknya hipotesis itu (Suyatna, 2000:8).

          Sejalan dengan hal yang dikemukakan oleh Suyatna di atas,

   Surakhmad (1980:39) mengemukakan bahwa hipotesis adalah perumusan

   jawaban sementara terhadap suatu permasalahan yang dimaksudkan

   sebagai tuntunan sementara dalam penelitian untuk mencari jawaban yang

   sebenarnya.

          Berdasarkan kedua teori yang dikemukakan di atas, hipotesis

   dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.



                                                                        16
   HO : β = 0; Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan

         orang tua terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

         Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011.

   HA : β ≠ 0; Terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan orang tua

         terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

         Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011.


3. Teknik Penelitian

          Agar penelitian ini dapat dilakukan dengan efektif dan efisien,

   digunakan sejumlah teknik penelitian. Dalam upaya memperoleh data

   yang diperlukan dalam penelitian ini, digunakan beberapa teknik seperti

   berikut.

   a. Teknik Angket. Sebagai instrumen utama dalam penelitian ini

      digunakan angket yang dikembangkan dalam bentuk skala Likert.

      Alasan penggunaan skala Likert ini untuk mengukur sikap, pendapat

      dan profesi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

   b. Kajian Kepustakaan. Teknik ini digunakan untuk memperoleh

      pemahaman teoretis tentang pembinaan dan pembimbingan siswa

      dalam belajar oleh orangtua, serta hal-hal yang berkaitan dengan peran

      orang tua dalam membina dan membimbing anaknya dalam

      mengembangkan belajar di rumah.

          Untuk memperoleh data tentang pembinaan orang tua di rumah dan

   motivasi belajar siswa, para orang tua siswa sebagai sampel penelitian



                                                                         17
   diberi sejumlah pertanyaan positif atau negatif. Setiap pertanyaan

   merupakan penjabaran dan satu indikator variabel yang mendapatkan skor

   penelitian. Setiap pertanyaan diikuti oleh lima alternatif jawaban, yaitu

   Selalu (SL), Sering (S), Kadang-kadang (KK), Jarang (JR) dan Tidak

   Pernah (TP). Adapun       skor yang diperoleh responden adalah sebagai

   berikut.

       a. Untuk jawaban Selalu (SL) diberi skor 5

       b. Untuk jawaban Sering (S) diberi skor 4

       c. Untuk jawaban Kadang-kadang(KK) diberi skor 3

       d. Untuk jawaban Jarang (J) diberi skor 2

       e. Untuk jawaban Tidak pernah (TP) diberi skor 1


4. Teknik Pengolahan Data Hasil Penelitian

            Ada dua teknik pengolahan data yang digunakan untuk

   menafsirkan hasil penelitian, yakni analisis deskriptif dan analisis korelasi.

   Analisis deskriptif dilakukan untuk mendeskripsikan variabel X dan Y

   secara mandiri dengan melihat persentase tanggapan responden pada

   setiap item pertanyaan yang diajukan. Penafsiran atas rata-rata hasil

   tanggapan responden pada setiap dimensi dilakukan dengan menggunakan

   skala sebagai berikut.

       Sangat rendah        Rendah        Sedang           Tinggi

  20                 40              60             80               100




                                                                              18
          Analisis statistik data diarahkan pada pengujian hipotesis yang

diawali dengan deskripsi data penelitian dari ketiga variabel dalam bentuk

distribusi frekuensi dan histogramnya serta menentukan persamaan

regresinya. Pengujian data penelitian meliputi langkah-langkah sebagai

berikut.

a. Pengujian normalitas distribusi data yang dilakukan dengan teknik

   pengujian Chi-kuadrat atau tes Kolmogorov-Smirnov.

b. Pengujian homogenitas data dengan pengujian F.

c. Pengujian hubungan atau pengaruh kedua variabel pembinaan orang

   tua dan motivasi belajar siswa dengan menggunakan pengujian regresi

   linier sederhana dengan mencari koefisien kofelasi sederhana atau

   korelasi r Product Moment Rank-Spearman yang menunjukkan kuat

   lemahnya pengaruh variabel-variabel penelitian. Koefisien korelasi

   dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.


                           n ∑ XY - (∑ X )(∑ Y )
    rxy =
               [n(∑ X ) − (∑ X) ] [n(∑ Y ) − (∑ Y) ]
                       2           2           2       2




    Keterangan:

    rxy         : Koefisien korelasi

    n           : jumlah responden

    X           : Jumlah skor setiap item

    Y           : Jumlah skor total seluruh item

    (∑X)2       : Kuadrat jumlah skor item X




                                                                       19
   ∑X2        : Jumlah kuadrat skor item X

   (∑Y)2      : Kuadrat jumlah skor item Y

   (∑X)2      : Jumlah kuadrat skor item Y

   Kuat-lemahnya pengaruh antarvariabel dikategorikan merujuk kepada

   standar kategori Sugiyono (2001:149) sebagai berikut.

                                  Tabel 1.2
                          Standar Kategori Sugiyono

                Parameter                    Kategori

               0,000 – 0,199        Sangat rendah/lemah

               0,200 – 0,399        Rendah/lemah

               0,400 – 0,599        Sedang/cukup kuat

               0,600 – 0,799        Tinggi/kuat

               0,800 – 1,000        Sangat tinggi/kuat


d. Menguji    hipotesis    dengan      menggunakan       hipotesis   statistik

   sebagaimana dikemukakan di atas, yakni:

   HO : β = 0; Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan

           orang tua terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah

           Cipanas Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011.

   HA : β ≠ 0; Terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan orang

           tua terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

           Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011.

   Untuk menguji hipotesis ini digunakan uji t yang digunakan untuk

   menguji signifikansi koefisien regresi β dan sekaligus menguji


                                                                           20
          signifikansi koefsien korelasi r. Rumus yang digunakan adalah sebagai

          berikut.


                       β                    n-2
          thitung =        atau thitung = r
                      SE β                  1- r2


          β             = koefisien regresi

          SEβ           = standard error dari koefisien regresi

          r             = koefisien korelasi

          n             = ukuran sampel

          Jika thitung > ttabel atau thitung < -ttabel (pada taraf signifikansi α = 5% tipe

          uji 2 sisi dan derajat kebebasan db = n-k-1), maka diputuskan HO

          ditolak dan hipotesis penelitian (HA) diterima.

          Untuk mempercepat proses perhitungan dalam analisis ini digunakan

          aplikasi komputer melalui paket program Microsoft Excel 2007 dan

          aplikasi SPSS 11.0 for Windows.


H. Kajian Kepustakaan

          Kajian pustaka merupakan uraian singkat tentang hasil-hasil penelitian

   yang telah dilakukan sebelumnya tentang masalah sejenis sehingga diketahui

   secara jelas. Posisi dan kontribusi peneliti, selain itu juga berupa bukti yang

   telah diterbitkan. Tinjauan pustaka ini berfungsi untuk menggali teori-teori

   yang telah dikembangkan dalam bidang ilmu yang berkepentingan mencari

   metode-metode serta teknik penelitian yang telah digunakan oleh peneliti-

   peneliti terdahulu, serta menghindarkan terjadi duplikasi yang tidak diizinkan.



                                                                                        21
Adapun tentang masalah sejenis, di antaranya, sebagaimana yang dilakukan

oleh beberapa peneliti berikut.

       Husnul Inayati (UIN Sunan Gunung Djati 2008) dalam skripsinya

dengan judul Pengaruh Bimbingan Orang Tua dan Motivasi Belajar Terhadap

Prestasi Belajar Ekonomi Siswa Kelas II SLTP Negeri 1 Cipanas Tahun

Ajaran 2006/2007 menemukan bahwa: 1). Tinggi rendahnya prestasi belajar

ekonomi siswa ditentukan oleh tinggi rendahnya bimbingan orang tua dan

motivasi belajar siswa; 2). Motivasi belajar memiliki pengaruh lebih besar

(Dominan) terhadap prestasi belajar ekonomi dibandingkan bimbingan orang

tua.

       Deden Heri Mulyana (UNINUS Bandung 2009) dalam skripsinya

dengan judul motivasi belajar, intensitas belajar pengaruhnya terhadap

prestasi belajar PPKn kepada siswa kelas II MTsN Ciherang, menemukan

bahwa motivasi berpengaruh terhadap prestasi belajar PPKn, adapun yang

mempengaruhi prestasi belajar PPKn siswa adalah lingkungan pergaulan,

tingkat intelektual anak, bimbingan orang tua dan sebagainya.

       Elis Handayani (UIN Bandung 2008) dalam skripsinya dengan judul

bimbingan, orang tua, kedisiplinan, motivasi belajar, prestasi belajar PPKn,

siswa kelas II MA Sukamiskin Bandung. Menemukan bahwa intensitas

bimbingan orang tua, kedisiplinan dan motivasi belajar ternyata memberikan

pengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi belajar PPKn. Maka perlu

diupayakan untuk meningkatkan intensitas bimbingan orang tua dan

kedisiplinan serta motivasi belajar siswa.


                                                                         22
       Noor Cholis (UIN Bandung 2007) dalam skripsinya dengan judul

motivasi belajar siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Cipanas-Cianjur Tahun

ajaran 2007/2008, menemukan bahwa motivasi belajar siswa banyak

dipengaruhi oleh faktor:

1. Dibentuknya uang SPP

2. Adanya harapan dan cita-cita dalam diri siswa

3. Adanya sistem dan fasilitas asrama

4. Adanya kesadaran diri dari siswa

5. Adanya kepercayaan diri

6. Dibebaskannya uang makan

          Penelitian-penelitian tersebut di atas dibatasi pada materi-materi

pelajaran tertentu seperti ekonomi dan PPKn serta motivasi-motivasi yang

membahas tentang bimbingan orang tua yang berpengaruh terhadap prestasi

siswa. Untuk itu penulis ingin membahas dan meneliti motivasi belajar siswa

yang ditimbulkan dari bimbingan orangtua, dengan demikian motivasi belajar

yang ditimbulkan oleh orang tua yang berada di MIS As-sa’idiyah Cipanas-

Cianjur belum ada yang meneliti sebelumnya, sehingga penelitian ini

mengandung unsure kebaruan, yang mengangkat pengaruh bimbingan orang

tua terhadap motivasi belajar siswa di MIS As-sa’idiyah Ciapanas-Cianjur,

sebagai tema penelitian.




                                                                         23
                                   BAB II

   BIMBINGAN ORANG TUA DAN MOTIVASI BELAJAR



A. Belajar dalam Pandangan Islam

          Islam memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa belajar itu

   merupakan kewajiban yang penting. Kewajiban ini berdampak pada kegiatan

   belajar yang harus dilakukan baik dalam dan terhadap lingkungan

   kehidupannya. Sebagai ilustrasi, agama Islam memberikan dorongan kuat

   kepada pemeluknya agar senantiasa belajar. Syarat utama yang perlu dimiliki

   oleh setoap individu untuk melakukan kegiatan belajar adalah membaca. Oleh

   sebab itu, wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, untuk

   disampaikan kepada seluruh manusia, adalah perintah untuk membaca dalam

   Al-Quran, Surah AL-‘Alaq, ayat 1.




             ”Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan”

      (Bachtiar Surin,1986:2693)

          Kewajiban ummat untuk belajar ini dipertegas oleh Rasulullah SAW

   dalam sabdanya ”Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi umat Islam,

   baik laki-laki maupun perempuan” (Tholabul ‘ilmi faridlatun ‘ala kulli

   muslimin wal-muslimat), serta ”Tuntutlah ilmu sejak dalam buaian hingga

   ke liang lahat” (Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal ahdi). Kedua sabda


                                                                           24
Rasulullah SAW tersebut sangatlah tegas dipahami bahwa kewajiban yang

harus dilakukan oleh setiap muslim selama hidupnya adalah belajar. Dengan

demikian, kegiatan belajar memiliki motivasi ibadah yaitu untuk melakukan

kewajiban yang telah ditteapkan Allah SWT dan Rasul-Nya.

       Menurut Islam, belajar adalah kunci utama untuk mencapai kemajuan

dan kebahagiaan. Belajar dalam pengertian ini adalah proses pencarian dan

penguasaan ilmu untuk diterapkan dalam kehidupan. Sabda Rasulullah SAW

yang menjelaskan ”Barangsiapa ingin memperoleh kebahagiaan di dunia,

maka ia harus menguasai ilmu. Barang siapa yang ingin meraih kebahaigiaan

di akhirat, maka ia harus menguasai ilmu, dan barang siapa yang ingin

mendapatkan kebahagiaan keduanya, maka ia harus menguasai ilmu.”

       Keutamaan ilmu ini memegang peranan penting dalam ajaran Islam

sehingga Allah berkali-kali menegaskan kedudukannya dalam Al-Quran,

Surah Al-Mujadalah:11 berikut.




          ”Allah meninggikan derajat orang yang berilmu di antara kamu
     dan orang-orang yang berilmu pengetahuan.” (Bachtiar Surin,
     1986:2375).

     Hal yang sama juga dapat dilihat pada Surah Al-Fathiir:28 berikut ini.




                                                                              25
          ”Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang
       melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam
       warna dan jenisnya. Sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Allah
       dari hamba-hambanya itu adalah orang-orang yang berilmu
       pengetahuan. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha
       Pengampun” (Bachtiar Surin,19861849)

       Orang yang berpengatahuan yang tidak mau mengajarkan ilmu yang

dikuasainya itu mendapatkan ancaman yang berat dari Allah SWT.

sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW:

       ”Barang siapa yang ditanya tentang ilmu kemudian menyimpan

ilmunya (tidak mau mengajarkannya), maka Allah akan mengekang dia (orang

yang berilmu itu) dengan api neraka pada hari kiamat.”

       Bagi semua muslim ada kewajiban untuk mencari ilmu kepada siapa

saja yang dianggap lebih tinggi ilmunya atau lebih menguasai sesuatu dari

pada dirinya. Hal ini ditegaskan beberapa kali dalam Al-Quran, dan di

antaranya dalam surah An-Nahl ayat 43 berikut.




          ”Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, orang-orang lelaki
       yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada
       orang-orang   yang     berilmupengetahuan  jika kamu   tidak
       mengetahuinya” (Bachtiar Surin,1986:1099).




                                                                      26
       Dalam surah Al-Ankabuut ayat 43, Allah bahkan mensyaratkan ilmu

pengetahuan sebagai dasar untuk memahami segala sesuatu fenomena yang

terjadi di muka bumi ini.




           ”Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia,
   dan tiada yang dapat memahaminya kecuali orang yang berilmu”
   (Bachtiar Surin, 1986:1688).

        Berdasarkan ayat-ayat Al-Quran serta sabda Rasulullah di atas dapat

 disimpulkan bahwa memang sejak semula Islam meletakkan dasar-dasar

 adanya kewajiban belajar dan mengajar. Tinggallah kita sebagai ummat

 Islam dapat memikirkan bagaimana masyarakat dapat menerima pendidikan

 secara layak serta memudahkan mereka dalam memperoleh ilmu

 pengetahuan sebagai bekal bagi kelangsungan hidupnya di muka bumi ini.

 Pada firman-firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW selalu

 ditekankan bahwa keimanan dan ketakwaan merupakan landasan utama bagi

 manusia dalam mencari dan menyampaikan ilmu pengetahuannya. Mencari

 dan menyampaikan ilmu pengetahuan yang didasari keimanan dan

 ketakwaan akan membawa manusia ke arah kesejukan, kedamaian, dan

 kerendahan hati. Orang yang melandasi dirinya dengan keimanan dan

 ketakwaan dalam mencari ilmu dan menyebarkan ilmu, tidak akan didapati

 kesombongan dan sifat riya dalam dirinya.



                                                                        27
          Dalam hubungan ini, Imam Ghazali berpendapat bahwa ”spesifikasi

   ilmu pengetahuan seseorang tidaklah mengotori ilmu yang dimiliki oleh

   orang lain dalam diri atau jiwa murid-muridnya. Para pendidik harus

   memiliki adab yang baik karena murid akan selalu melihat gurunya sebagai

   contoh yang harus diteladani. Perilaku guru akan selalu diikuti oleh

   muridnya, begitu pula sebaliknya.”

B. Prinsip Dasar Bimbingan Belajar

         Lembaga pendidikan, khususnya sekolah-sekolah, merupakan tumpuan

   harapan orang tua, siswa, dan warga masyarakat guna memperoleh

   pengetahuan, keterampilan, sikap dan sifat-sifat kepribadian utama sebagai

   sarana pengembangan karier, peningkatan status sosial, dan bekal hidup

   lainnya di dunia kini dan di akhirat kelak. Sebagai lembaga formal, sekolah

   mencoba mengkombinasikan aspirasi dan pandangan-pandangan masyarakat

   tersebut ke dalam tujuan-tujuan pembelajaran serta standar kompetensi

   tertentu secara operasional. Akhirnya, semua aspirasi itu terletak di bahu dan

   tangan guru karena merekalah yang diberi tugas, wewenang dan tanggung

   jawab pelaksanaan operasional pendidikan dan pengajaran.

         Meskipun para guru telah berusaha melancarkan segala kompetensinya

   dalam mengelola pembelajaran dan pendidikan, tatkala sampai pada suatu

   saat harus melaksanakan evaluasi berdasarkan data dan informasi hasil

   pengukuran proses dan produk belajar, maka para guru dihadapkan kepada

   beberapa kenyataan tertentu. Kenyataan ini oleh Hamid Sayuti (2000:123-

   124) diuraikan sebagai berikut.


                                                                              28
1. Menilai keberhasilan anak didik dengan menggunakan criterion
   referenced evaluastion (CRE) yang menilai tujuan-tujuan
   (dalam wujud perubahan tingah laku dan pribadi) yang
   diharapkan seperti yang dirumuskan dalam tujuan
   pembelajaran. Pada kenyataan ini guru akan menemukan
   kelompok-kelompok siswa yang benar-benar menguasai
   pembelajaran (siswa unggul), yang cukup menguasai (siswa
   papak), dan yang kurang menguasai pembelajaran (siswa asor).
2. Berdasarkan kapasitas (tingkat kecerdasan dan bakat) siswa
   sendiri untuk belajar dalam mata pelajaran tertentu (dengan
   asumsi kondisi belajar telah disesuaikan dengan perbedaan-
   perbedaan individual) sehingga ditemukan kualifikasi siswa
   memiliki prestasi tinggi (overachievers) sehingga siswa
   tersebut disebut sebagai siswa sukses, siswa yang sesuai dengan
   perkiraan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya, dan
   siswa yang tidak memiliki prestasi berdasarkan hasil tes
   kemampuan belajar (under achievers) sehingga disebut siswa
   gagal.
3. Berdasarkan waktu yang ditetapkan (time allowed) untuk
   menyelesaikan suatu program belajar dengan asumsi bahan dan
   kondisi belajar diperkirakan sesuai dengan ketentuan waktu
   tersebut, maka akan ditemukan kualifikasi siswa yang mampu
   belajar cepat (rapid learner), siswa yang belajar sedang saja
   (siswa normal), dan siswa yang lambat belajar.
4. Dengan menggunakan norm referenced (PAN) di mana prestasi
   seorang siswa dibandingkan prestasi siswa lainnya (baik teman
   sekelomponya di tempat yang sama maupun di tempat lain)
   sehingga ditemukan kategori siswa yang prestasi belajarnya
   selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya
   (higher group), siswa yang prestasinya selalu berada di sekitar
   niai rata-rata (mean) dari kelompoknya (average), dan siswa
   yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi
   kelompoknya (lower group).
                                       (Hamid Sayuti, 2000:123-124)

 Menurut Hamid Sayuti (2000:127)”

   ”sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya masih bersifat
   tradisional meskipun para guru telah mengetahui adanya kualifikasi
   siswa seperti yang digambarkan di atas karena pada umumnya
   mereka dikejar oleh suatu pandangan yang mengharuskan bahan
   pelajaran diselesaikan pada waktu yang telah ditetapkan, maka para
   guru tidak sempat menghiraukan para siswa yang termasuk
   kategori-kategori tertentu (cepat – lambat, higher – lower, under


                                                                     29
          achievers, unqualified  dan sebagainya) yang sebenarnya
          memerlukan perhatian khusus dalam proses kegiatan belajar
          mengajar sehari-hari.”

     Isjoni (2003) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan yang

definitif atas kondisi dan hasil belajar siswa, secara administratif baru

diambil pada saat-saat menjelang akhir tahun pelajaran, di mana ditetapkan

hal-hal sebagai berikut.

   a) siapa saja siswa yang dapat dinyatakan naik tingkat/kelas atau lulus
      (completers);
   b) siapa saja siswa yang dinyatakan harus mengulang program pelajaran
      tingkat/kelas yang sama (repeaters); bahkan
   c) siapa saja siswa yang dinyatakan harus dikeluarkan dari sekolah (to
      be pushed out, dropped outs).

     Dari berbagai sumber informasi dapat diketahui bahwa jumlah atau

persentase yang tergolong harus mengulang atau putus sekolah itu ternyata

cukup tinggi. Meskipun tidak seluruhnya putusan bersumber pada kelemahan

segi akademis (hal lain juga disebabkan oleh faktor sosio-ekonomis dan

antropologis), jumlah mortalitas (putusan) dan pengulang itu cukup banyak

membawa konsekuensi sebagai berikut.

(1) Bagi pengulang, ekses-ekses sosiopsikologis pada umumnya karena hal-

     hal sebagai berikut.

      (a) Kurangnya motivasi untuk belajar (lack of motivation).

      (b) Sikap belajar yang kurang positif (negative attitude).

      (c) Perasaan kecewa atau putus asa (frustated, negative feeling).

      (d) Perasaan rendah diri dan percaya diri (low of self esteem, lack of

          self confident).



                                                                          30
     (e) Perilaku yang salah suai (maladjusment, maladaptove behavior).

(2) Bagi para putusan (dropped outs) ekses-ekses tersebut mungkin dapat

    bersifat lebih jauh dan lebih luas lagi yang dapat menjangkau sendiri

    kehidupan masyarakat yang bersangkutan, misalnya dengan indikator

    sperti berikut ini.

     (a) Ada juga yang terpaksa menyibukkan diri dengan berbagai

         kegiatan yang sebenarnya sia-sia atau kurang produktif.

     (b) Ada juga yang melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang dapat

         dipandang menyimpang atau melanggar kaidah-kaidah sosial,

         norma agama atau perundang-undangan yang berlaku (juvenile

         deliquencies).

    Sudah barang tentu, terdapatnya kualifikasi hasil belajar yang tertentu

(unqualified, underachievers, slow learner, lower group students) dengan

segala ekses yang dibawa oleh penanganannya secara tradisional seperti

digambarkan di atas merupakan suatu hal yang sesungguhnya tidak

diharapkan terjadi dan mungkin dapat menge-cewakan orang tua, siswa

sendiri, maupun para guru dan pejabat sekolah yang bersangkutan.

Persoalannya sekarang adalah:

 1. Apakah kelemahan-kelemahan pada hasil dan proses pendidikan dengan

    segala eksesnya itu dapat diminimalkan?

 2. Apakah produktivitas belajar mengajar dapat dioptimalkan? (Apakah

    siswa yang telah menguasai suatu paket program atau lebih cepat




                                                                          31
     menyelesaikan programnya dapat lebih diperkaya (enrichment) atau

     dipromosikan kepada peket program lebih lanjut tanpa terikat dan

     terhambat oleh keharusan menunggu rekannya yang lambat; siswa yang

     termasuk kualifikasi sedang dapat ditingkatkan penguasaannya; siswa

     yang lambat akhirnya mempunyai kesempatan pula mencapai taraf

     penguasaan yang setaraf dengan rekannya meskipun dengan jangka

     waktu yang lebih lama dari rekannya).

 3. Usaha-usaha manakah yang tidak secara langsung termasuk tugas-tugas

     yang dapat diketegorikan ke dalam pengajaran tetapi dapat dilakukan

     oleh guru dalam rangka mengatasi kelemahan-kelemahan seperti

     digambarkan tersebut di atas?

     Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya terletak

pada layanan bimbingan belajar (guidance service) yang sebenarnya pada

konteks pendidikan kita belum dapat dilaksanakan secara optimal sesuai

dengan fungsinya. Layanan bimbingan ini dipercaya dapat meminimalkan

kesalahan dan ketidakber-hasilan pendidikan sehingga jumlah siswa yang

tertinggal dan putus dapat dikurangi secara sistematis.

     Layanan bimbingan belajar secara formal sudah barang tentu diberikan

di dalam lingkungan sekolah. Akan tetapi, bimbingan belajar yang

sesungguhnya terdapat pada lingkungan rumah di mana orang tua berperan

sebagai fasilitator dan motivator bagi anaknya dalam mencapai tujuan

pendidikan.




                                                                      32
C. Peran Orang Tua dalam Pembinaan Anak

         Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

  Nasional, khususnya pada pasal 7 ayat (2), mengemukakan bahwa ”Orang tua

  dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar ke-

  pada anaknya.” Ayat tersebut mengungkapkan bahwa orang tua berkewajiban

  memberikan pendidikan dasar kepada anaknya yang masih berada dalam usia

  wajib belajar. Usia wajib belajar yang dimaksud tersebut adalah anak yang

  berusia mulai tujuh tahun sampai dengan lima belas tahun.

         Harapan terbesar orang tua adalah ingin memiliki anak yang soleh,

  sopan, pandai bergaul, pintar dan sukses, tetapi harapan besar ini jangan

  sampai menjadi tinggal harapan saja. Bagaimana orang tua untuk mewujudkan

  harapan tersebut, itulah yang paling penting.

         Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia

  sangatlah penting dan fundamental, keluarga pada hakekatnya merupakan

  wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang

  masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orang tuanya. Perkembangan

  anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan intelektual.

  Bila kesemuanya berjalan secara baik maka dapat dikatakan bahwa anak

  tersebut dalam keadaan sehat jiwanya. Dalam perkembangan jiwa terdapat

  periode-periode kritis yang berarti bahwa bila periode-periode ini tidak dapat

  dilalui dengan baik, maka akan timbul gejala-gejala yang menunjukan

  misalnya keterlambatan, ketegangan, kesulitan penyesuaian diri dan kepribadi-

  an yang terganggu. Lebih jauh lagi bahkan tugas sebagai makhluk sosial untuk


                                                                             33
mengadakan hubungan antar manusia yang memuaskan baik untuk diri sendiri

maupun untuk orang di lingkungannya akan gagal sama sekali.

       Peran orang tua dalam hal pendidikan anak sudah seharusnya berada

pada urutan pertama, para orang tualah yang paling mengerti benar akan sifat-

sifat baik dan buruk anak-anaknya, apa saja yang mereka sukai dan apa saja

yang mereka tidak sukai. Para orang tua adalah yang pertama kali tahu bagai-

mana perubahan dan perkembangan karakter dan kepribadian anak-anaknya,

hal-hal apa saja yang membuat anaknya malu dan hal-hal apa saja yang

membuat anaknya takut. Para orang tualah yang nantinya akan menjadikan

anak-anak mereka seorang yang memiliki kepribadian baik ataukah buruk.

       Peran orang tua dalam pendidikan adalah membangun fondasi akidah

dan akhlak pada diri anak sehingga anak memiliki dasar yang kuat dalam

mengikuti pembelajaran lainnya di sekolah maupun di lingkungannya. Hal-hal

yang disampaikan oleh Lukman Al-Hakim dalam surah Luqman diawali

dengan penanaman akidah pada diri anak.




Artinya:    ”Dan ingatlah ketika Luqman mengajari anaknya, “Hai anakku!
           Janganlah engkau mempersekutukan Allah! Sebab musyrik itu
           adalah dosa yang amat besar.” (Bachtiar Surin,1986:1735)

       Konsep akidah yang ditanamkan Lukman kepada anaknya ini

diperkokoh oleh sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Sumawaih,




                                                                          34
Ibunu ‘Adi, ‘Uqaili, Kharaithi, Khatib, Ibnu ‘Asakir dan Rafi’i dari Anas r.a

berikut ini.




Artinya: ”Ini adalah agama yang telah Kuridlai untuk diri-Ku sendiri, dan
          tidak dapat dimanfaatkan kecuali dalam perbuatan murah hati dan
          akhlak yang baik. Karena itu, jadikanlah mulia dengan kedua sifat
          itu selama kalian menganutnya.” (Al-Fasyani, 1999:157)

        Allah SWT telah memilih agama Islam untuk dirinya sebagai agama

yang diridlai-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak akan menerima hamba-Nya

selain dalam agama Islam. Hal ini ditegaskan pula dalam Al-Quran surah Ali

Imran ayat 85 berikut ini.




        ”Maka, barangsiapa yang berusaha memeluk agama selain agama
     Islam, tidaklah akan diterima agamanya, dan kelak di akhirat dia
     termasuk orang-orang yang merugi” (Bachtiar Surin,1986:241)

        Setelah akidah kokoh pada diri anak, maka dimulailah penanaman

nilai-nilai akhlak dan ibadah berikutnya. Hal ini difirmankan Allah dalam

surah Lukman ayat 16-19 sebagai berikut.




                                                                          35
Artinya:

     (Luqman berkata): ”Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu
     perbuatan baik maupun buruk sekalipun seberat biji sawi yang
     tersembunyi dalam batu karang, atau di mana pun juga baik di langit
     maupun di bumi ini, kelak akan diperhitungkan juga oleh Allah.
     Sesungguhnya Allah Maha Halus dan Maha Mengetahui.
     ”Anakku! Kerjakanlah shalat, anjurkanlah perbuatan yang baik,
     cegahlah perbuatan keji dan bersabarlah terhadap kemalangan yang
     menimpamu. Sesungguhnya semua itu termasuk hal-hal yang menjadi
     inisari hidup, mengandung manfaat adiguna di dunia dan di akhirat.”
     ”Dan janganlah kamu membuang muka dengan sombong terhadap
     orang yang sedang berbicara denganmu, dan janganlah berjalan di
     muka bumi dengan angkuh. Allah sungguh-sungguh tidak senang
     terhadap semua orang sombong lagi angkuh.”
     ”Selanjutnya, sederhana sajalah dalam berjalan, dan lemah lembutlah
     dalam ucapan! Sesungguhnya suara yang paling buruk ialah suara
     keledai.” (Bachtiar Surin, 1986:1736-1738).
       Permasalahan akhlak ini sangat digarisbawahi dan ditekankan oleh

Rasulullah SAW. Dalam beberapa sabdanya, Rasulullah mengemukakan

sebagai berikut.




                                                                     36
       ”Aku diutus terutama untuk menyempurnakan akhlak.” (Al-Hasyimi,

       2007:178)




       ”Yang paling banyak dimasukkan ke dalam surga adalah orang-orang

       yang takwa dan berakhlak baik.” (Al-Hasyimi, 2007:181)




       ”Yang   paling sempurna kemimanan seorang mu’min adalah yang

       paling baik akhlaknya.” (Al-Hasyimi, 2007:181)




       ”Dengan   akhlak yang baik, seorang hamba Allah pasti akan mencapai
       derajat orang yang shaum diikuti shalat malam.” (Al-Hasyimi,
       2007:182)

       Akhlak yang baik (husnul khuluq) sebagaimana dikemukakan pada

keempat sabda Rasulullah SAW di atas seluruhnya mengacu kepada sikap dan

sifat baik, ramah, bermuka manis, selalu menanggapi, mendengarkan ucapan

orang lain dengan baik, dan selalu menjadi teladan bagi lingkungannya.




                                                                         37
       Sebagian ahlul-'Ilmi menyatakan bahwa husnul khuluq berarti: (1)

menahan marah karena Allah, (2) menampakkan muka manis dan ramah

tamah kecuali kepada orang yang mungkar dan jahat, (3) memaafkan orang

yang sesat tanpa sengaja kecuali apabila mau mendidiknya, (4) menegak-

kan Batas-Batas ketentuan Allah, (5) menghindarkan gangguan terhadap

kaum Muslimin dan kaum kafir yang ada dalam perlindungan pemerintah

Islam, kecuali usaha untuk merubah kemungkaran dan menyelamatkan orang

yang teraniaya tanpa melebihi batas (Ali Usman, H.A.A Dahlan, H.M.D

Dahlan, 1988:358).

       Selanjutnya, pembinaan yang lebih sungguh-sungguh selayaknya

diberikan kepada anak-anak yang sedang mengalami masa peralihan atau

masa transisi dari dunia anak-anak ke masa remaja. Anak-anak pada masa

peralihan ini lebih banyak membutuhkan perhatian dan kasih sayang, maka

para orang tua tidak dapat menyerahkan kepercayaan seluruhnya kepada guru

di sekolah, artinya orang tua harus banyak berkomunikasi dengan gurunya di

sekolah begitu juga sebaliknya. Hal penting dalam pendidikan adalah men-

didik jiwa anak. Jiwa anak pada masa remaja transisi yang masih rapuh dan

labil, kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua dapat mengakibatkan

pengaruh lebih buruk lagi bagi jiwa anak. Banyaknya tindakan kriminal yang

dilakukan generasi muda saat ini tidak terlepas dari kelengahan bahkan

ketidakpedulian para orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

       Orang tua dan sekolah merupakan dua unsur yang saling berkaitan dan

memiliki keterkaitan yang kuat satu sama lain. Terlepas dari beragamnya


                                                                       38
asumsi masyarakat, ungkapan “buah tak akan pernah jatuh jauh dari

pohonnya” adalah sebuah gambaran bahwa betapa kuatnya pengaruh orang tua

terhadap perkembangan anaknya. Supaya orang tua dan sekolah tidak salah

dalam mendidik anak, oleh karena itu harus terjalin kerjasama yang baik di

antara kedua belah pihak.

       Orang tua mendidik anaknya di rumah, dan di sekolah untuk mendidik

anak diserahkan kepada pihak sekolah atau guru, agar berjalan dengan baik

kerja sama diantara orang tua dan sekolah maka harus ada dalam suatu rel

yang sama supaya bisa seiring seirama dalam memperlakukan anak, baik di

rumah ataupun di sekolah, sesuai dengan kesepahaman yang telah disepakati

oleh kedua belah pihak dalam memperlakukan anak. Kalau saja dalam

mendidik anak berdasarkan kemauan salah satu pihak saja misalnya pihak

keluarga saja taupun pihak sekolah saja yang mendidik anak, hal ini

berdasarkan beberapa pengalaman tidak akan berjalan dengan baik atau

dengan kata lain usaha yang dilakukan oleh orang tua atau sekolah akan

mentah lagi karena ada dua rel yang harus dilalui oleh anak dan akibatnya si

anak menjadi pusing mana yang harus diturut, bahkan lebih jauhnya lagi

dikhawatirkan akan membentuk anak berkarakter ganda.

       Memang pada kenyataannya tidak mudah untuk melaksanakan

kesepahaman tersebut, tetapi kalau kita berlandaskan karena rasa cinta kita

kepada anak tentunya apapun akan kita lakukan, karena rasa cinta dapat

mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening,

sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan


                                                                         39
   kemarahan menjadi rahmat. Kalau hal ini sudah dimiliki oleh kedua belah

   pihak, hal ini merupakan modal besar dalam mendidik anak.

            Setiap kejadian yang terjadi, baik di rumah ataupun di sekolah

   hendaklah dicatat dengan baik oleh kedua belah pihak sehingga ketika ada hal

   yang janggal pada anak, hal ini bisa dijadikan bahan untuk mengevaluasi

   sejauhmana perubahan-perubahan yang dialami oleh anak, baik sifat yang

   jeleknya ataupun sifat yang bagusnya, sehingga didalam penentuan langkah

   berikutnya bisa berkaca dari catatn-catatan yang telah dibuat oleh kedua belah

   pihak.

            Setiap ada sesuatu hal yang dirasakan janggal pada diri anak baik di

   rumah ataupun di sekolah, baik orang tua ataupun guru, harus sesegera

   mungkin ditangani dengan cara saling menginformasikan di antara orang tua

   dan guru, mungkin lebih lanjut mendiskusikannya supaya bisa lebih cepat

   tertangani masalah yang dihadapai oleh anak dan tidak berlarut-larut. Oleh

   karena itu, sebagaimana yang telah dikemukakan di atas bahwa orang tua dan

   sekolah merupakan satu kesatuan yang utuh di dalam mendidik anak, agar apa

   yang dicita-citakan oleh orang tua atau sekolah dapat tercapai, maka harus ada

   konsistensi dari kedua belah pihak dalam melaksanakan program-program

   yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

D. Prinsip Dasar Motivasi

   1. Pengertian Motivasi

             Motivasi berasal dari kata dasar motif yang dapat diartikan sebagai

      kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang menyebabkan organ-


                                                                              40
isme itu bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung.

Motif pada seseorang dapat diinterpretasikan dari tingkah lakunya. Sayuti

(2000:85), yang mengutip teori motivasi dari Maslow, mengemukakan

bahwa motif itu dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

      a. Motif atau kebutuhan organisme yang meliputi kebutuhan-
         kebutuhan untuk makan, minum, bernafas, seksual, beruat,
         dan beristirahat.
      b. Motif darurat yang mencakup dorongan untuk
         menyelamatkan diri, membalas, berusaha, dan memburu atau
         mencari sesuatu.
      c. Motif objektif yang meliputi kebutuhan untuk melakukan
         eksplorasi,   untuk   melakukan     manipulasi,  untuk
         pengembangan minat dan hasrat.

       Motif organisme adalah kebutuhan biologis manusia, sebagai

makh-luk hidup. Motif darurat timbul karena adanya tantangan dari luar.

Motif ini, terbentuk karena dorongan untuk menghadapi dunia luar, baik

sosial maupun non-sosial secara efektif. Di sini minat, hasrat dan

keinginan disebut sebagai suatu kebutuhan objektif.

       Penggolongan lain, yang didasarkan atas terbentuknya motif-motif,

terdapat dua golongan sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayuti

(2000:89), yaitu: “motif bawaan dan motif yang dipelajari. Motif bawaan

telah ada sejak dilahirkan, dan tidak perlu dipelajari, misalnya makan,

minum, dan seksual. Motif yang kedua adalah motif yang timbul karena

dipelajari seperti motif belajar, motif untuk bekerja, motif mencari

kedudukan atau jabatan.”




                                                                        41
       Berdasarkan jabarannya, Makmun (1996:97) membedakan dua

macam motif yaitu, motif intrinsik dan motif ekstrinsik. “Motif intrinsik,

timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar karena memang telah

ada di dalam diri individu sendiri, yaitu sesuai atau sejalan dengan

kebutuhannya. Sedang motif ekstrinsik, timbul, karena adanya rangsangan

dari luar individu. Misalnya, dalam bidang pendidikan terdapat minat yang

positif terhadap kegiatan pendidikan yang dilaksanakan, bukan karena hal

itu dipaksakan oleh orang lain melainkan dirinya sendiri menaruh minat

terhadap kegiatan pendidikan karena melihat akan memberikan manfaat

kepadanya.”

       Motif intrinsik lebih kuat daripada motif ekstrinsik. Maka

pendidikan    harus   berusaha   menimbulkan    motif   intrinsik   dengan

menumbuhkan dan mengembangkan minat mereka terhadap bidang-

bidang studi yang relevan. Sebagai contoh, memberitahukan sasaran yang

hendak dicapai dalam bentuk tujuan instruksional akan menimbulkan

motif keberhasilan mencapai sasaran.

       Berdasarkan uraian di atas dapatlah disusun kesimpulan bahwa

motivasi adalah dorongan atau kekuatan yang timbul dalam diri seseorang

untuk melakukan suatu tindakan yang didasari oleh kebutuh-an yang ada

pada dirinya. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan organis, dorongan

yang bersifat darurat, atau dorongan objektif berupa keinginan dalam

mengembangkan minat, hasrat, dan bakat.




                                                                       42
2. Dinamika Proses Perilaku Manusia

          Dipandang dari segi motifnya, Makmun (1996:29) mengemuka-

   kan bahwa perilaku manusia itu selalu mengandung tiga aspek yang

   kedudukannya bertahap dan berurutan. Ketiga aspek tersebut adalah

   sebagai berikut.

    a. motivating states, yakni timbulnya kekuatan dan terjadinya
       kesiapsediaan sebagai akibat terasanya kebutuhan jaringan atau
       sekresi, hormonal dalam diri organisme atau karena terangsang oleh
       stimulasi tertentu;
    b. motivated behavior, yakni bergeraknya organisme ke arah tujuan
       tertentu sesuai dengan sifat kebutuhan yang hendak dipenuhi dan
       dipuaskannya, misalnya jika lapar mencari makanan dan
       memakannya. Dengan demikian, pada tahap ini setiap perilaku pada
       hakikatnya bersifat instrumental (sadar atau tidak sadar);
    c. satisfied conditions; dengan berhasilnya dicapai tujuan yang dapat
       memenuhi kebutuhan yang terasa, maka keseimbangan dalam diri
       organisme pulih kembali, yakni dengan terpeliharanya homeostatis.
       Kondidi demikian dihayati sebagai rasa nikmat dan puas atau lega.
       Akan tetapi, di dalam kenyataannya tidak selamanya kondisi pada
       tahap ketiga itu demikian, bahkan mungkin sebaliknya, yakni
       terjadinya ketegangan yang memuncak kalau insentifnya (goals) tidak
       tercapai, sehingga individu merasa kecewa.
                                        (Abin Syamsuddin Makmun, 1996:29)

   Terjadinya   metabolisme   dan   penggunaan     atau   pelepasan   kalori,

   perangsangan kembali, dan sebagainya, menyebabkan kepuasan itu hanya

   bersifat sementara (temporal). Oleh karena itu, gerakan atau dinamika

   proses perilaku itu sebenarnya berlangsung secara siklus seperti yang

   tergambar pada gambar berikut ini.




                                                                          43
                                    Motif




Rasa puas lega /                 Lingkaran                   Perilaku
   Kecewa                         Motivasi                 Instrumental




                                Insentif atau
                                   Goals


                                   Gambar 2.1
                                Lingkaran Motivasi
                     (Abin Syamsuddin Makmun;1996:30)

         Meskipun motivasi itu merupakan suatu kekuatan, namun tidak

  merupakan suatu substansi yang dapat diamati. Menurut Makmun

  (1996:30), ”yang dapat dilakukan orang dalam mengukur motivasi seorang

  individu ialah dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya dalam

  konteks tertentu.” Indikator tersebut dapat disusun sebagai berikut.

  a. durasi kegiatan, yakni berapa lama kemampuan penggunaan waktu

      bagi individu tersebut dalam melakukan kegiatan;

  b. frekuensi kegiatan, yakni seberapa sering kegiatan individu dilakukan

      dalam periode tertentu;

  c. presistensi atau ketetapan dan kelekatannya pada tujuan kegiatan yang

      telah ditetapkan;




                                                                          44
   d. ketabahan, keuletan, dan kemampuannya dalam menghadapi rintangan

      dan kesulitan untuk mencapai tujuan;

   e. devosi (pengabdian) dan pengorbanan baik dalam bentuk uangm

      tenaga, pikiran, bahkan keselamatan jiwanya dalam mencapai tujuan;

   f. tingkatan aspirasi yang diberikan dalam kegiatan, yang meliputi

      maksud, rencana, cita-cita, sasaran atau target yang hendak dicapai

      melalui kegiatan yang dilakukan;

   g. tingkatan kualifikasi prestasi atau produk yang dicapai dari kegiatan

      yang dilakukan (berapa banyak, memadai atau tidak, memuaskan atau

      tidak); serta

   h. arah sikapnya terhadap sasaran kegiatan; misalnya suka atau tidak

      suka, positif atau negatif.

          Hal yang harus diperhitungkan bahwa faktor-faktor yang terlibat

   dalam suatu kegiatan bukanlah hanya motvasi belaka, melainkan juga

   tercakup di dalamnya indikator-indikator tersebut di atas. Dalam konteks

   motivasi pembinaan siswa yang diberikan oleh orang tuanya, maka hal-hal

   tersebut di atas berlaku pula.

3. Jenis-jenis Motivasi

          Makmun (1996:28-29) mengemukakan bahwa ”motivasi adalah

   suatu kekuatan (tenaga, daya) atau suatu keadaan yang kompleks dan

   kesiapsediaan dalam diri individu (organisme) untuk bergerak ke arah

   tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari.” Makmun (1996:29)


                                                                        45
juga mengemukakan bahwa ”motivasi timbul dan tumbuh berkembang

dengan jalan (1) datang dari dalam diri individu itu sendiri (intrisik), dan

(2) datang dari lingkungan sekitarnya (ekstrinsik).” Dengan demikian,

terdapat dua jenis motivasi berdasarkan teori tersebut, yakni motivasi

intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

       Pendapat lain dikemukakan oleh Morgan dan Woodworth dalam

Makmun (1996:30) bahwa berdasarkan sumber dan proses perkembangan-

nya, motivasi dibedakan dalam dua kelompok besar. Pengelompokan ini

didasarkan kepada kebutuhan analisis psikologis sebagai berikut.

 (1) Motif primer (primary motive) atau disebut juga sebagai motif
     dasar (basic motive) yang mengacu kepada motif-motif yang tidak
     dipelajari (unlearned motive) yang sering dinamakan sebagai
     dorongan (drive). Ke dalam motif ini dibedakan dua golongan
     sebagai berikut.
     (a) Dorongan fisiologis (physiological drive) yang bersumber
         pada kebutuhan organis (organic need) yang mencakup antara
         lain rasa lapar, haus, pernafasan, seks, kegiatan, dan istirahat.
         Untuk menjamin kelangsungan hidup organis diperlukan
         pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut sehingga dicapai
         keadaan fisik tertentu (physiological state or condition) yang
         seimbang (homeostatis).
     (b) Dorongan umum (general drive) dan motif darurat
         (emergency motive) yang termasuk di dalamnya adalah kasih
         sayang, takut, kekaguman, dan rasa ingin tahu. Kemudian
         dalam hubungannya dengan rangsangan dari luar muncul pula
         dorongan untuk melarikan diri, menyerang, berusaha, dan
         mengejar dalam rangka mempertahankan dan menyelamatkan
         dirinya.
 (2) Motif sekunder (secondary motive) menunjukkan kepada motif
     yang berkembang dalam diri individu karena pengalaman, dan
     dipelajari (conditioning and reinforcement). Ke dalam kelompok
     ini digolongkan motif-motif :
     (a) takut yang dipelajari (learned fears);




                                                                             46
     (b) motif-motif sosial (ingin diterima, dihargai, konformitas,
         afiliasi, persetujuan, status, merasa aman, dan sebagainya);
     (c) motif-motif objektif dan interest (eksplorasi, manipulasi,
         minat);
     (d) maksud (purpose) dan aspirasi; serta
     (e) motif berprestasi (achievement motive).
                                                     (Makmun, 1996:30)

       Berdasarkan teori-teori di atas dapat diambil kesimpulan bahwa

motivasi dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan berdasarkan

kepentingannya.

   a. Berdasarkan latar belakang tumbuhnya, motivasi dikelompok-kan

       menjadi dua macam yakni motivasi intrinsik (yang datang dari

       dalam diri manusia), dan motivasi ekstrinsik (yang datang dari luar

       diri manusia).

   b. Berdasarkan       kebutuhannya    dalam      perkembangan    manusia,

       motivasi dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yakni

       motif primer dan motif sekunder.

   c. Berdasarkan cara diperolehnya, motivasi terdiri atas motif yang

       tidak dipelajari dan motif-motif yang dipelajari.

       Berdasarkan kesimpulan di atas, akan timbul pula peristilahan-

peristilahan motivasi yang disesuaikan dengan kebutuhan ilmu penge-

tahuan, sehingga kita mengenal istilah motivasi belajar, motivasi bekerja,

motivasi berkeluarga, motivasi berprestasi, motivasi baik, motivasi buruk,

motivasi positif, motivasi negatif, serta sejumlah motivasi lainnya.




                                                                         47
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi

          Sebagaimana dikemukakan di atas, motivasi tumbuh karena dua

   aspek yang muncul dari dalam diri manusia, yakni dorongan pencapaian

   kepuasan serta kebutuhan manusia akan sesuatu. Atas dasar ini pula

   kemudian muncul teori-teori motivasi yang titik tolaknya berbeda satu

   sama lain. Ada teori motivasi yang bertitik tolak pada dorongan dan

   pencapaian kepuasan. Namun ada pula yang titik tolaknya pada azas

   kebutuhan, yang saat ini banyak. dianut orang kebanyakan.

          Motivasi dapat muncul dari dalam diri manusia maupun dari luar

   diri manusia yang kemudian dikenal sebagai motif intrinsik dan ekstrinsik.

   Oleh karena itu, tumbuh dan berkembangnya motivasi dapat dipengaruhi

   oleh faktor-faktor yang tumbuh di luar diri manusia.

          Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi dipenga-

   ruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam dirinya. Maslow, dalam

   Sayuti (2000:123) mengemukakan bahwa “kebutuhan manusia secara

   hirarkis semuanya laten dalam diri manusia, yaitu (1) kebutuhan fisiologis,

   seperti: sandang pangan (2) kebutuhan akan rasa aman seperti terbebas

   dari bahaya (3) kebutuhan akan kasih sayang seperti perhatian dan cinta

   (4) kebutuhan untuk dihargai dan dihormati seperti kekuasaan (5)

   kebutuhan aktualisasi diri seperti pengakuan diri.”

          Teori Maslow di atas jika diterapkan dalam konteks pembinaan

   anak di lingkungan rumah tangga dapat dilakukan dengan cara memenuhi




                                                                           48
kebutuhan anak agar dapat mencapai hasil belajar yang maksimal dan

sebaik mungkin. Sebagai contoh dari penerapan teori Maslow ini dalam

pembinaan anak dapat dilihat dari konteks berikut ini.

 (1) Sikap bijaksana orang tua dalam membimbing anak memahami

      berbagai fenomena sosial di sekita lingkungannya dengan

      memberikan pemahaman secara bertahap, lemah lembut, dan penuh

      pengertian.

 (2) Keberadaan anak dalam belajar seperti tumbuhnya rasa aman pada

      saat belajar, kesiapan dalam belajar, terbebas dari rasa cemas,

      terbebas dari rasa tertekan, dan sebagainya.

 (3) Memperhatikan lingkungan belajar, misalnya tempat belajar

      menyenangkan, bebas bising atau polusi. tanpa gangguan dalam

      belajar.

       Kita menyadari bahwa pembinaan pendidikan agama Islam di

lingkungan keluarga bukanlah semata-mata masalah kognitif belaka,

melainkan juga di dalamnya harus muncul aspek-aspek afektif dan

psikomotorik. Aspek afektif akan mengarahkan anak kepada keteguhan

sikap, apalagi jika berkaitan dengan penanaman akidah dan akhlak. Aspek

psikomotorik terdapat pada tata cara ibadah, khususnya pelaksanaan tata

cara shalat yang baik dan benar.




                                                                    49
       Selanjutnya,   Sayuti   juga   mengutip    pendapat      McClelland

(2000:132) bahwa ada sejumlah faktor yang dapat memotivasi seseorang

melakukan tindakan. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut.

  a. Kebutuhan berprestasi (need for achievement) kebutuhan akan
     prestasi merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat
     bekerja seseorang. Karena kebutuhan akan prestasi akan
     mendorong seseorang mengembangkan kreativitas dan
     menerangkan semua kemampuan serta energi yang dimilikinya
     demi mencapai prestasi kerja yang maksimal. Orang akan
     antusias untuk berprestasi tinggi, asalkan kemungkinan untuk hal
     itu diberikan kesempatan. Seseorang menyadari bahwa dengan
     mencapai prestasi kerja yang tinggi akan dapat mempercleh
     pendapatan yang besar. Dengan pendapatan yang besar akirnya
     ia dapat memiliki serta memenuhi kebutuhannya.
  b. Kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation) kebutuhan akan
     afiliasi ini menjadi daya penggerak yang akan memotivasi
     semangat kerja seseorang. Karena itu kebutuhan akan afiliasi ini
     akan merangsang gairah kerja seseorang. Karena kebutuhan
     afiliasi akan merangsang gairah kerja seseorang, sebab setiap
     orang menginginkan:
      1) Kebutuhan akan perasaan diterima orang lain di lingkungan
         dia akan bekerja.
      2) Kebutuhan akan perasaan dihormati,karena setiap orang
         merasa dirinya penting.
      3) Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal
      4) Kebutuhan akan perasaan ikut serta.
  c. kebutuhan akan kekuasaan (need for power). Kebutuhan akan
     kekuasaan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat
     kerja seseorang. Kebutuhan akan kekuasaan ini akan merangsang
     dan memotivasi gairah kerja seseorang serta menggerakkan semua
     kemampuan atau kedudukan yang tinggi.
                                      McCleland dalam Sayuti, 2000:132)

       Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi di atas

ternyata sangat erat kaitannya dengan ego manusia yang hanya berlaku




                                                                        50
pada lingkungan duniawi belaka. Kita tidak melihat adanya alasan

tumbuhnya motivasi dari sistem religi Islam yang bersifat spiritual.

       Seorang Muslim yang sadar akan tanggung jawab atas nilai-nilai

pendidikan atas keluarganya akan selalu berusaha menanamkan nilai-nilai

yang sama terhadap anaknya. Sikap ini ada dalam diri setiap Muslim yang

menginginkan anaknya hidup dalam ridlo Allah SWT sehingga akan

terjamin keselamatannya di dunia maupun di akhirat. Nilai-nilai spiritual

Islam harus tumbuh dan berkembang dalam diri anak-anak seluas-luasnya

dan sedalam-dalamnya. Nilai-nilai tersebut harus diimplementasikan

dalam ritual ibadah setiap waktu serta sikap perilaku pergaulan dalam

keluarga, masyarakat, dan berbangsa.

       Berdasarkan uraian di atas, motivasi orang tua siswa dalam

menanamkan pendidikan agama Islam pada lingkungan keluarga sangat

erat kaitannya dengan sikap tanggung jawab mereka atas pembentukan

pribadi Muslim yang paripurna dalam keimanan dan ketaqwaannya. Setiap

orang tua Muslim tidak menginginkan anak-anaknya terjerumus ke dalam

situasi yang buruk, yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Oleh

sebab itu, faktor-faktor yang mempengaruhi orang tua dalam memberikan

pendidikan agama Islam kepada anak-anaknya di antaranya meliputi hal-

hal sebagai berikut.

 a. Nilai-nilai keimanan dan ketakwaan orang tua atas sistem religi Islam

     yang mengacu kepada Al-Quran dan Al-Hadits.




                                                                       51
b. Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya yang

   harus ditanggung di hadapan Allah SWT kelak.

c. Rasa takut orang tua terhadap perubahan akidah yang terjadi pada

   anak-anaknya.

d. Keinginan untuk menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang shalih

   dan shalihah.




                                                                52
                                  BAB III

            HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Penelitian dan Analisis Data

          Penelitian ini menggunakan angket sebagai alat utama pengumpulan

   data yang diberikan kepada sampel orang tua siswa kelas I, II dan III MIS As-

   Sa’idiyah Cipanas, Kabupaten Cianjur sebanyak 20 orang. Sesuai dengan

   tujuan yang ditetapkan pada Bab I, ada 3 (tiga) permasalahan yang dikaji pada

   penelitian ini, yakni (1) mendeskripsikan cara orang tua siswa melakukan

   pembinaan terhadap putra-putrinya, (2) mendeskripsikan motivasi belajar

   siswa, dan (3) menguji pengaruh pembinaan orang tua siswa terhadap motivasi

   belajar siswa MIS As-Sa’idiyah Cipanas, Kabupaten Cianjur tahun pelajaran

   2010-2011.


   1. Cara Pembimbingan Orang Tua Siswa terhadap Anaknya

             Pada variabel pembinaan orang tua siswa terhadap anaknya ini

      terdapat 12 (dua belas) item pertanyaan yang diajukan kepada responden

      yang terbagi dalam 4 dimensi yang terdiri atas (1) mendidik secara komu-

      nikatif, (2) menjadi fasilitator dalam belajar anak, (3) menjadi motivator

      dalam belajar anak, dan (4) menjadi konsultan dalam belajar anak. Berikut

      ini adalah rekapitulasi tanggapan responden atas pernyataan yang

      dituangkan dalam bentuk tabel pada setiap dimensi. Data hasil perhitungan

      selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4 skripsi ini.



                                                                             53
                                              Tabel 3.1
                 Rekapitulasi Hasil Pengolahan Data Variabel X
                                                       Skor Jawaban
No         Dimensi              5                  4         3      2                           1             Σ        %
                           f        %         f         % f % f %                           f       %       Skor

     Mendidik secara




                                    55 %



                                                       18 %


                                                                      9%


                                                                                   3%
 1                                                                                                           170      85 %




                           22



                                              9


                                                                 6


                                                                               3


                                                                                            0
                                                                                                    0
     komunikatif




                                    23,33 %



                                                       25,33 %




                                                                                   5,33 %
     Menjadi fasilitator




                                                                      16 %




                                                                                                    1%
 2                                                                                                           213      71 %
                           14



                                              19


                                                                 16


                                                                               8


                                                                                            3
     dalam belajar anak




                                                                      18,6 %
     Menjadi motivator




                                                                                   3,6 %


                                                                                                    0,6 %
                                    27 %



                                                       24 %
 3                                                                                                           369     73,8 %
                           27



                                              30


                                                                 31


                                                                               9


                                                                                            3
     dalam belajar anak




                                                                                                    0,5 %
     Menjadi konsultan
                                    10 %



                                                       32 %


                                                                      18 %


                                                                                   7%
 4                                                                                                           135     67,5 %
                                              16


                                                                 12
                           4




                                                                               7


                                                                                            1
     dalam belajar anak

Jumlah                                                                                                       887      297,3

Kategori rata-rata                                                                                          221,75   74,33 %


               Data pada tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa pada umumnya

      orang tua siswa mendidik anak-anaknya secara komunikatif dan tidak me-

      maksakan kehendaknya. Sebagian besar orang tua siswa memberikan

      pernyataan selalu dan sering pada setiap pertanyaan yang diajukan dengan

      frekuensi 22 respon selalu (55%) dan 9 respon sering (18%). Hal ini juga

      ditunjukkan dengan rata-rata persentase tindakan pembinaan komunikatif

      orang tua siswa sebanyak 85 % yang termasuk kategori baik.

               Sebagai fasilitator dalam belajar anak, sebagian besar orang tua

      siswa mampu memberikan perannya dengan cukup baik. Sebagian besar

      orang tua siswa memberikan respon selalu dan sering. Angka rata-rata

      persentase sebanyak 71 % berada pada kategori cukup baik dan menunjuk-




                                                                                                                     54
kan bahwa sebagian besar orang tua siswa mampu memenuhi kebutuhan-

kebutuhan siswa dalam belajar.

       Selanjutnya, ternyata sebagian besar orang tua siswa mampu

berperan sebagai motivator dalam proses belajar anak-anaknya. Sebagian

besar orang tua siswa memberikan pernyataan selalu (27 respon atau

sebesar 27 %) dan pernyataan sering (30 respon atau sebesar 24 %).

Persentase rata-rata tanggapan responden sebesar 73,8 % menunjukkan

peran orang tua siswa dalam menjadi motivator berada pada kategori

cukup baik.

       Pada peran konsultan bagi anak-anaknya, para orang tua siswa

yang memberikan pernyataan selalu sebanyak 4 respon (10 %) dan

pernyataan sering sebanyak 16 respon (32 %). Akan tetapi, angka rata-rata

persentase pada peran konsultan ini berada pada 67,5 % yang masih

berada pada kategori cukup baik.

       Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa pada

umumnya orang tua telah memberikan pembinaan yang maksimal

terhadap putra-putrinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pada

konteks pembinaan anak ini, para orang tua telah mampu menempatkan

dirinya sebagai komunikator yang baik bagi anak-anaknya, sebagai

motivator, fasilitator dan konsultan yang cukup baik dalam perkembangan

pembinaan anak-anaknya. Angka persentase rata-rata dari keempat

dimensi yang sebesar 74,33 % menunjukkan bahwa tingkat pembinaan

orang tua siswa dalam belajar anaknya berada pada kategori cukup baik.


                                                                         55
     2. Motivasi Belajar Siswa

               Pada variabel motivasi belajar siswa terdapat empat dimensi yang

        dikaji, yakni (1) siswa menunjukkan semangat dalam belajar, (2) siswa

        menunjukkan keingintahuan, (3) siswa menunjukkan keterbukaan dalam

        belajar, dan (4) siswa menunjukkan peningkatan prestasi belajar. Keempat

        dimensi tersebut dikembangkan ke dalam 13 pertanyaan yang diajukan

        kepada responden yang seluruhnya orang tua siswa sebanyak 20 orang.

               Berikut ini adalah rekapitulasi tanggapan                                             responden atas

        pernyataan yang dituangkan dalam bentuk tabel pada setiap dimensi. Data

        hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4 skripsi ini.

                                                Tabel 3.2
                 Rekapitulasi Hasil Pengolahan Data Variabel Y
                                                         Skor Jawaban
No          Dimensi               5                  4         3      2                          1              Σ           %
                             f        %          f        % f % f %                          f       %        Skor
      Menunjukkan
                                      44,17 %



                                                         24,67 %




                                                                                                     0,33 %
                                                                        9,5 %


                                                                                      3%




 1    semangat dalam                                                                                           490     81,67 %
                             53



                                                37


                                                                   19


                                                                                 9


                                                                                             2




      belajar
                                      33,33 %




                                                                                                     0,67 %




      Menunjukkan
                                                         24 %


                                                                        14 %


                                                                                      4%




 2                                                                                                             228      76 %
                             20



                                                18


                                                                   14


                                                                                 6


                                                                                             2




      keingintahuan

      Menunjukkan
                                      32,5 %




                                                                        10,5 %
                                                         28 %




                                                                                      6%




 3    keterbukaan dalam                                                                                        154      77 %
                             13



                                                14


                                                                   7


                                                                                 6


                                                                                             0
                                                                                                     0




      belajar
      Menunjukkan
                                      17,5 %




                                                                        10,5 %




                                                                                                     2,5 %
                                                         22 %




                                                                                      10 %




 4    peningkatan prestasi                                                                                     125     62,5 %
                                                11




                                                                                 10
                             7




                                                                   7




                                                                                             5




      belajar
Jumlah                                                                                                         997     297,17

Kategori rata-rata                                                                                            249,25   74,29 %




                                                                                                                       56
       Berdasarkan pengamatan dan pandangan responden, mayoritas

siswa menunjukkan semangat dalam menghadapi hari-hari belajarnya.

Mayoritas orang tua siswa sebagai responden memberikan pernyataan

selalu sebanyak 53 respon (44,17%) dan sering sebanyak 37 respon

(24,67%). Pada dimensi ini, terdapat 6 pertanyaan yang mengacu kepada

sikap kegembiraan anak dalam belajar, rasa senang yang ditunjukkan pada

saat belajar, dan menunjukkan perhatian pada saat belajar. Kemudian

tingkat persentase pada dimensi ini ternyata mencapai 81,67 % yang

berada pada kategori baik.

       Berdasarkan pengamatan orang tua siswa, sebagian besar anak me-

nunjukkan rasa keingintahuannya pada saat belajar. Sebanyak 20 respon

(33,33 %) menyatakan selalu dan sebanyak 18 respon (24 %) menyatakan

sering yang diperoleh dari 3 pertanyaan yang diajukan. Selanjutnya,

jumlah persentase yang diperoleh pada dimensi ini sebesar 76 % me-

nunjukkan bahwa tingkat keingintahuan anak-anak berdasarkan pandangan

orang tuanya berada pada taraf yang cukup baik.

       Pada dimnesi keterbukaan dalam menerima pembelajaran, para res-

ponden memberikan pengamatannya yang terangkum dalam 2 pertanyaan

bahwa sebanyak 13 respon (32,5 %) menyatakan selalu dan sebanyak 14

respon (28 %) menyatakan sering. Tingkat keterbukaan anak-anak dalam

menerima pembelajaran secara keseluruhan adalah sebesar 77 % yang

berarti berada pada kategori yang cukup baik.




                                                                    57
          Pada dimensi peningkatan prestasi belajar terdapat 2 item per-

   tanyaan yang diajukan dan sebanyak 7 respon (17,5 %) menyatakan selalu

   dan sebanyak 11 respon (22 %) menyatakan sering. Secara keseluruhan

   pada dimensi ini diperoleh persentase sebesar 62,5 % pernyataan bahwa

   prestasi siswa mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan bahwa

   perkembangan prestasi belajar siswa berada pada kategori cukup baik.

          Berdasarkan data dan hasil analisis di atas dapat disimpulkan

   bahwa motivasi belajar siswa MIS As-Sa’idiyah berada pada kategori

   cukup baik yang ditunjukkan dengan rata-rata persentase sebesar 74,29 %

   dari empat dimensi yang diamati. Pada konteks ini, berdasarkan peng-

   amatan orang tua masing-masing, para siswa telah menunjukkan semangat

   dalam belajar, menunjukkan sikap keingintahuan, menunjukkan keter-

   bukaan dalam menerima pengetahuan, serta menunjukkan perkembangan

   prestasi belajar yang relatif cukup baik.


3. Pengaruh Bimbingan Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Siswa

          Untuk menguji pengaruh pembinaan orang tua siswa terhadap

   motivasi belajar siswa MIS As-Sa’idiyah Cipanas, dilakukan analisis

   statistik regresi linier sederhana dengan dua variabel. Variabel pembinaan

   orang tua (X) siswa adalah variabel independen (bebas) dan variabel

   motivasi belajar siswa (Y) adalah variabel dependen (terikat).

          Langkah-langkah pengujian statistik dilakukan dengan mengguna-

   kan aplikasi Microsoft Office Excel 2007 dan SPSS 11.0 for Windows



                                                                          58
untuk memper-mudah pengolahan. Prosedur yang dilakukan adalah

sebagai berikut.

a. Menguji Normalitas Distribusi Kedua Data Variabel X dan Y

   Pengujian normalitas distribusi data dilakukan sebagai persyaratan

   pengujian statistik. Cara pengujian yang dilakukan adalah dengan me-

   lakukan uji χ2 (Chi Kuadrat). Hasil pengolahan data dengan

   menggunakan SPSS 11.0 for Windows diketahui hasilnya sebagaimana

   terlihat pada tabel berikut.

                                    Tabel 3.3
          Data Hasil Pengujian Chi-Kuadrat pada Variabel X dan Y
          Test Statistics
                                 Pembinaan      Motivasi Belajar
                            Orang Tua Siswa               Siswa
            Chi-Square                4,000               6,400
                       df                 9                  10
            Asymp. Sig.                ,911                 ,781
          a 10 cells (100,0%) have expected frequencies less than
             5. The minimum expected cell frequency is 2,0.
          b 11 cells (100,0%) have expected frequencies less than
            5. The minimum expected cell frequency is 1,8.


          Dalam pengujian dengan menggunakan SPSS 11.0 for Windows

   pada taraf signifikansi 1% diperoleh harga χ2hitung untuk variabel X

   adalah 4,000 dan untuk variabel Y adalah 6,400. Sebuah data
                                                                    2
   dikatakan dapat berdistribusi normal jika harga χ2hitung < χ      tabel   (Chi-

   kuadrat hitung lebih kecil daripada Chi-kuadrat tabel). Untuk dapat

   membandingkan harga Chi-kuadrat tersebut, diperlukan harga Chi




                                                                               59
   kuadrat tabel yang diperoleh dengan menggunakan rumus sebagai

   berikut.

           2
         χ     tabel   = χ2(1 - α) (k - 3)

         Nilai k diperoleh dari perhitungan

    k = 1 + 3,33 log n                                     Di mana:
                                                           k = panjang kelas
       = 1 + 3,33 log 20                                   n = jumlah sampel

       = 1 + (3,33 x 1,301)

       = 1 + 4,552

       = 5,552 dan dibulatkan menjadi 6
                        2
   Sehingga            χ tabel             = χ2(1 - α) (k - 3)
                           2
                  =χ        (1 – 0.01) (6 - 3)


                  = χ2(0,99) (3)

                                                                               2
         Jadi, pada dk 3 dan taraf signifikansi 5% ternyata harga χ                tabel


   adalah 7,815. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa kedua data

   hasil pembelajaran siklus I dan siklus II berdistribusi normal karena
                              2
   harga χ2hitung < χ             tabel.


b. Menguji Homogenitas Kedua Data Variabel X dan Y

         Untuk menentukan ada atau tidak adanya perbedaan antara kedua

   data, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian homogenitas kedua

   varians dengan menggunakan rumus berikut ini.




                                                                                    60
            VariansBesar   (5,294) 2   28,026436
   F =                   =         2
                                     =           = 1,4516 ≈ 1,452
            VarianKecil    (4,394)     19,307236

   Varians besar (V1) adalah (SD1)2 yakni (5,294)2

   Varians kevil (V2) adalah (SD)2 yakni (4,394)2

   Dari perhitungan di atas dapat diketahui Fhitung = 1,452

   Derajat kebebasan ditentukan dengan rumus:

   db1 = n1 – 1 >> db1 = 20 – 1 = 19

   db2 = n2 – 1 >> db2 = 20 – 1 = 19

   Untuk menentukan nilai Ftabel dari daftar pada taraf signifikansi 5 %

   adalah F0,01(19/19).

   F0,05(16/19) = 2,21
                             F0,01(32/32) = 2,21 - ½(0,06) = 2,18
   F0,05(20/19) = 2,15
                  0,06

             Berdasarkan perhitungan di atas ternyata Fhitung < F0,01(19/19),

   yakni 1,452 < 2,18 yang mengandung makna pada taraf signifikansi 5

   % kedua varians homogen sehingga analisis dapat dilanjutkan dengan

   uji t.


c. Menghitung Koefisien Korelasi r

             Penghitungan koefsien korelasi r Product-Moment dari rho-

   Spearman dimaksudkan untuk mengukur kuat atau lemahnya hubung-

   an antarvariabel yang digunakan dalam penelitian. Hasil pengujian

   koefisien korelasi 2 sisi dengan menggunakan aplikasi SPSS 11.0 for

   Windows terlihat pada tabel di bawah ini.


                                                                           61
                                    Tabel 3.4
       Penghitungan Koefisien Korelasi r-Product Moment Spearman
   Correlations
                                                       Pembinaan   Motivasi
                                                       Orang Tua    Belajar
                                                           Siswa     Siswa
   Spearman's rho     Pembinaan        Correlation         1,000      0,565
                      Orang Tua        Coefficient
                          Siswa
                                     Sig. (2-tailed)         0,0      0,659
                                                  N           20            20
                         Motivasi      Correlation         0,565      1,000
                    Belajar Siswa      Coefficient
                                     Sig. (2-tailed)       0,659           0,0
                                                  N           20            20


           Hasil pengujian yang terdapat pada tabel di atas menunjukkan

   bahwa koefisien korelasi yang dihasilkan adalah sebesar 0,565.

   Berdasarkan tabel standar korelasi dari Sugiyono, nilai tersebut berada

   pada tingkat sedang atau cukup kuat. Sedangkan signifikansi koefisien

   r berada pada parameter 0,659 yang berarti berada pada tingkat tinggi

   atau kuat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara

   pembinaan orang tuas siswa dan motivasi belajar siswa MIS As-

   Sa’idiyah Cipanas berada pada tingkat cukup kuat.


d. Menguji Hipotesis Penelitian

           Pengujian hipotesis statistik yang diajukan dilakukan dengan

   menggunakan uji t yang digunakan untuk menguji signifikansi

   koefisien regresi β dan sekaligus menguji signifikansi koefsien korelasi

   r. Hipotesis yang diajukan pada pengujian ini adalah sebagai berikut.




                                                                           62
HO : β = 0; Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan

        orang tua terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah

        Cipanas Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011.

HA : β ≠ 0; Terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan orang

        tua terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

        Kabupaten Cianjur tahun ajar 2010 – 2011.

        Berdasarkan       perhitungan       statistik   dengan      menggunakan

aplikasi SPSS 11.0 for Windows diperoleh output sebagai berikut.

                                      Tabel 3.5
Hasil Uji t Pengaruh Pembinaan Orang Tua terhadap Motivasi Belajar
        Siswa MIS As-Sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur

      Pengaruh                  β              t         p-value       Keputusan

 Pembinaan Orang
 Tua terhadap                                                          Signifikan,
                              0,565        4,133*          0,001
 Motivasi Belajar                                                      HO ditolak
 Siswa

Keterangan:
ttabel = t0,05(20) = 2,086 (nilai ttabel pada α = 5 % dengan tipe uji 2 sisi dan db =
n-2 = 18).
β = koefisien regresi, * = signifikan.

        Dari hasil uji signifikansi diperoleh nilai thitung sebesar 4,133.

Nilai thitung ini ternyata lebih besar daripada ttabel = 2,086 (nilai ttabel

pada taraf signifikansi 5 % dengan tipe uji 2-sisi dan derajat bebas n-2

= 20-2 = 18) yang menunjukkan bahwa Pembinaan Orang Tua Siswa

(Y) berpengaruh secara signifikan terhadap Motivasi Belajar Siswa

pada taraf kesalahan 5 %. Dengan demikian, HO ditolak dan hipotesis

penelitian (HA) diterima. Tingkat sigifikansi Pembinaan Orang Tua


                                                                                  63
        Siswa (X) terhadap Motivasi Belajar Siswa (Y) dapat dilihat pula dari

        nilai probabilitas kesalahan statistik atau p-value (sig.) yang jauh lebih

        kecil daripada tingkat signifikansi α = 0,05. Pada tabel di atas, nilai p-

        value yang dihasilkan adalah 0,001.

                Berdasarkan hasil pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa

        terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan orang tua siswa

        terhadap motivasi belajar siswa MIS As-Sa’idiyah Cipanas Kabupaten

        Cianjur tahun pelajaran 2010-2011.


B. Pembahasan

  1. Cara Pembimbingan Orang Tua Siswa terhadap Anaknya

            Orang tua merupakan lingkungan pertama dan utama dalam proses

     pembinaan seorang anak. Fondasi pertama pembangunan mental anak

     berada pada lingkungan keluarganya, terutama melalui keteladanan yang

     diberikan oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu, penciptaan lingkungan

     belajar yang baik sangatlah diperlukan dalam lingkungan keluarga.

            Penciptaan lingkungan belajar yang dimaksud pada pembahasan

     ini adalah lingkungan belajar yang memiliki basis atau dasar keislaman.

     Lingkungan belajar yang bernuansa Islami ini dapat dibentuk di antaranya

     melalui cara-cara sebagai berikut.

     a. Berupaya melakukan kegiatan-kegiatan ibadah secara disiplin (seperti

        shalat tepat pada waktunya).




                                                                               64
b. Menjalin komunikasi yang baik dengan anak dengan berupaya

   mengikuti pola pikir mereka dengan cara menyelami kehidupan

   pergaulan yang dilakukannya.

c. Melakukan diksusi dengan anak tentang berbagai aspek, khususnya

   yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah.

d. Selalu menanyakan peristiwa-peristiwa penting yang dialami anak

   selama di sekolah atau di lingkungan pergaulannya.

e. Memasang hiasan-hiasan dinding yang bernuansa Islami serta

   merangsang imajinasi anak. Misalnya menempelkan lukisan kaligrafi,

   gambar-gambar yang menampilkan teknologi modern, serta hal-hal

   yang serupa dengan itu.

       Dukungan yang tidak kalah pentingnya adalah penciptaan suasana

yang   kondusif      bagi   perkembangan    proses   pembelajaran    dan

pengembangan kepribadian serta budi pekerti siswa harus tumbuh di

lingkungan keluarga. Pendidikan budi pekerti bukan sekedar ceramah

panjang lebar tentang perilaku baik dan buruk seseorang pada forum-

forum tertentu serta pembelajaran di kelas, melainkan melalui tindakan

nyata keteladanan orang tua serta anggota keluarga lainnya. Dengan kata

lain, pendidikan tata krama dan budi pekerti yang baik seharusnya

dilakukan dalam pola in action pada kehidupan sehari-hari seluruh anggota

keluarga di rumah.




                                                                      65
       Lingkungan edukatif yang baik selalu dibangun di bawah rambu-

rambu sopan santun dan nilai-nilai akhlak mulia. Sopan santun pergaulan

yang tumbuh dan berkembang di masyarakat sesungguhnya merupakan

konvensi sosial yang tumbuh dari kesadaran moral manusia sesuai dengan

konteksnya. Untuk mengetahui apakah suatu norma bersifat konvensi

dapat diperhati-kan bagaimana reaksi kita terhadap orang asing yang

melanggar norma tersebut. Jika orang asing makan dengan sumpit atau

dengan tangan saja, padahal menurut kita harus menggunakan sendok,

tentu ia tetap tidak akan kita anggap sebagai orang jelek. Demikian pula

halnya jika ada orang makan dengan menggunakan pisau dan garpu, itu

bukanlah masalah moral melainkan masalah sopan santun belaka. Lain

halnya dengan orang Sunda berpakaian seperti orang Papua dan berada di

Jakarta, atau pada acara resepsi ada orang yang memakai pakaian untuk

berenang, maka tindakan serupa itu sudah melanggar norma sosial dan

dianggap tidak sopan (Von Magnis, 1984:20).

       Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa adat sopan santun

atau tata krama adalah sejumlah kesepakatan (konvensi) yang tumbuh

berkembang dan digunakan oleh suatu lingkungan untuk menjaga

keharmonisan hubungan komunikasi dan pergaulan masyarakatnya.

       Akan tetapi, sebagai masyarakat beragama manusia dituntun oleh

sejumlah ketentuan yang mengatur tata hubungan pergaulan di dalamnya.

Agama Islam (melalui tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits) telah mengatur

dengan sempurna tata hubungan manusia degnan manusia lain dalam


                                                                     66
masyarakatnya, hubungan anak dengan orang tuanya, serta hubungan

siswa dengan gurunya. Tata hubungan tersebut ternyata berlaku secara

universal yang harus bersumber dari kesadaran moralitas dan religi

seseorang. Salah satu ayat dalam Al-Quran (Al-Hajj: 24) menyebutkan

salah satu perilaku sopan santun yang diajarkan kepada manusia, yakni

berbuat baik dan berperilaku santun sebagai berikut ini.




       Artinya: Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang

baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji (QS Al-

Hajj:24).

       Ayat 22 dari Surat Al-Hajj di atas menunjukkan bahwa ada

petunjuk Allah untuk berbicara dengan baik dan tindakan-tindakan terpuji

dalam tata pergaulan manusia agar manusia memperoleh kebaikan. Atas

dasar itulah, tata hubungan pergaulan yang berkembang di rumah pun

harus diatur dan dikembangkan sebagai pedoman dan petunjuk bagi

seluruh anggota keluarga, khususnya anak-anak, dalam menciptakan iklim

kehidupan sosial yang baik dan kondusif.

       Dikaitkan dengan hasil penelitian yang telah dianalisis di atas,

proses pembinaan orang tua siswa dilakukan pula terhadap dimensi-

dimensi pembelajaran secara nyata di dalam lingkungan keluarga.

Komunikasi yang baik dan penuh kasih sayang akan dapat membentuk


                                                                     67
mentalitas anak yang juga penuh kasih sayang, motivasi yang diberikan

orang tua dalam berbagai aspek kegiatan anak akan dapat pula

menumbuhkan sikap optimis dalam diri anak, fasilitas yang diberikan oleh

orang tua (dalam batas-batas wajar) akan memberikan pula dampak

kekuatan bahwa manusia tidak dapat bergerak sendiri tanpa bantuan

sesuatu, dan konsultasi yang diberikan oleh orang tua akan membentuk

pribadi anak selalu mempertimbangkan sesuatu dari sisi baik dan

buruknya.

       Layanan bimbingan belajar bagi anak di lingkungan keluarga pada

dasarnya adalah proses pemberian bantuan belajar kepada anak dalam

memahami     konteks    pembelajaran    tertentu.   Peran   utama   dalam

memberikan layanan bimbingan belajar bagi anak ini sudah barang tentu

adalah orang tua, yakni ayah dan atau ibunya. Keterlibatan anggota

keluarga lain dalam proses layanan bimbingan belajar memang pada saat

tertentu diperlukan, tetapi hal itu terjadi apabila berkaitan dengan

permasalahan teknis pembelajaran.

       Apa peran utama orang tua dalam melakukan layanan bimbingan

belajar bagi anaknya? Banyak orang tua yang sementara ini berpendapat

bahwa membantu anak belajar di rumah haruslah pintar dan memahami

seluruh pelajaran yang sedang dituntut oleh anaknya di sekolah.

       Pendapat ini tidak seluruhnya benar. Orang tua bukanlah guru di

sekolah. Peran utama orang tua adalah menjadi fasilitator dan motivator

bagi anaknya agar mau belajar dengan baik dan sistematis di rumah.


                                                                      68
Rangsangan dan dorongan yang diberikan oleh orang tua sangat berarti

bagi perkembangan kemampuan anak. Rangsangan dan dorongan orang

tua ini diharapkan akan dapat memberdayakan anak dalam mengakami

proses belajar secara mandiri di rumah.

         Sebagai orang tua, tentu harus mampu memfasilitasi proses belajar

anak di rumah. Peran orang tua sebagai fasilitator di sini mengandung

makna dua arah, yakni memberikan kemudahan sarana pembelajaran bagi

anak selama belajar di rumah serta menyediakan waktu sebagai konsultan

jika anak menemukan kesulitan. Pengadaan sarana pembelajaran yang

ideal sudah barang tentu sangat relatif. Hal seperti ini sangat bergantung

kepada kondisi keuangan keluarga. Jika keluarga tersebut memiliki

penghasilan yang baik, sudah tentu seharusnya mampu memberikan

layanan bimbingan belajar bagi anaknya dengan menyediakan sejumlah

sarana    yang   diperlukan.   Jika   kondisi   keuangan   keluarga   tidak

memungkinkan, setidaknya keluarga mampu memberi-kan waktu luang

kepada anaknya untuk melaksanakan kewajibannya belajar di rumah

selama waktu tertentu.

         Layanan bimbingan belajar yang seharusnya mampu diberikan oleh

orang tua adalah ruang konsultasi bagi anaknya ketika menemukan

kesulitan. Akan tetapi, perlu dipahami oleh orang tua bahwa membantu

kesulitan siswa di sini bukan membantu menjawab soal-soal pelajaran

yang tidak dapat diselesaikan oleh anak, melainkan memberikan jalan atau

alternatif pemecahan masalah yang selanjutnya harus diputuskan sendiri


                                                                        69
   oleh anak. Orang tua yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah

   anaknya pada mata pelajaran tertentu bukanlah cara membantu anak keluar

   dari kesulitan, tetapi justru akan menjerumuskan anak kepada sikap

   ketergantungan kepada orang lain dan tidak memiliki kemampuan

   memecahkan masalah sendiri. Kebiasaan orang tua me-ngerjakan

   kesulitan-kesulitan yang dihadapi anaknya akan menyebab-kan anak tidak

   memiliki kecakapan bertahan hidup (life skill) di samping akan

   menumbuhkan sikap manja dalam dirinya.


2. Motivasi Belajar Siswa

          Motivasi belajar idealnya tumbuh secara sadar dalam diri siswa

   setelah dirinya memperoleh sejumlah pengalaman. Akan tetapi, motivasi

   secara sadar sangat besar dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di mana

   seorang anak berada. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat muncul melalui

   lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat sekitar, serta

   lingkungan sekolah

          Orang tua dan lingkungan keluarga memberikan pengaruh yang

   sangat besar bagi pembentukan kepribadian anak. Di dalamnya akan

   tumbuh pula perhatian, persepsi, dan minat siswa terhadap sesuatu.

          Sebagai makhluk sosial, seorang anak akan dipengaruhi pula oleh

   lingkungan masyarakat yang ada di sekitarnya. Tata pergaulan masyarakat

   secara sadar akan membentuk perilaku anak. Pada konteks ini pula minat

   dan motivasi anak terhadap sesuatu (termasuk belajar) akan terbentuk.



                                                                           70
         Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peranan

yang sangat besar dalam menumbuhkan motivasi dan minat belajar siswa.

Hampir seluruh tugas pembelajaran siswa berada pada pengelolaan

sekolah. Oleh karena itu, sekolah harus mampu menempatkan diri sebagai

lingkungan yang membentuk pribadi siswa, minat siswa, persepsi,

motivasi, hingga kompetensi siswa secara utuh.

         Sebagai hasil interaksi antara anak dan faktor-faktor orang tua,

lingkung-an sosial, dan sekolah di atas, baik secara teripsah maupun secara

bersamaan, timbullah faktor-faktor yang dapat mendorong minat belajar

siswa.

a. Dunia dengan sifatnya yang mengajak (Kurt Singer dalam Slameto,

   1995:78). Konteks ini dapat dipahami sebagai bentuk fenomena yang

   berkembang di sekitar siswa dalam bentuk sajian-sajian menarik,

   tontonan, permainan, dan sebagainya.

b. Anak mengetahui tujuan belajar, karena dengan mengetahui tujuan bel-

   ajar seorang anak akan mempelajari sesuatu yang dipandangnya

   berguna untuk dipelajari. Hal ini sejalan dengan pendapat Rivling

   dalam Slameto (1988:26) yang mengemukakan bahwa ”sesungguhnya

   untuk menumbuhkan minat belajar atau keinginan untuk berusaha

   memperoleh sesuatu pengalaman baru adalah tujuan. Tujuan ini sangat

   penting dan tidak boleh diabaikan oleh orang tua maupun guru.”




                                                                        71
   c. Pribadi dan motivasi guru sangat memegang peranan penting dalam

      pembentukan minat siswa. Guru yang memberikan perhatian lebih atas

      pelajaran tertentu serta disukai oleh sisiwa akan dapat membangkitkan

      minat siswa untuk belajar, apalagi jika guru tersebut mampu

      memberikan motivasi belajar yang baik kepada anak didiknya.

   d. Keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kesempatan

      yang dimiliki siswa akan menentukan berkembangnya minat belajar

      siswa. Pada tempat-tempat inilah siswa memperoleh pengalaman-

      pengalamannya secara langsung sebagai modal dasar pengembangan

      minat belajar.


3. Pengaruh Pembinaan Orang Tua terhadap Motivasi Belajar Siswa

          Hasil analisis korelasi product moment diperoleh koefisien korelasi

   sebesar 0,565 dengan p < 0,05. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh

   pembinaan orang tua terhadap motivasi belajar siswa. Artinya motivasi

   belajar siswa dipengaruhi sebanyak 56,5 % oleh pembinaan orang tua

   siswa di lingkungan keluarga. Koefisien korelasi yang diperoleh ini

   sesungguhnya berada pada taraf yang sedang dan tidak cukup tinggi

   meskipun nilai p berada pada 0,001. Hal ini diduga karena faktor jumlah

   sampel yang relatif sedikit (20 orang atau 50 % dari populasi) dengan

   ruang lingkup terbatas meskipun jumlah populasi yang digunakan adalah

   40 orang.




                                                                          72
       Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non

intelektual yang berperan dalam menimbulkan gairah belajar serta

perasaan senang dan bersemangat untuk belajar (Soemanto, 1984). Hasil

penelitian telah dapat membuktikan pendapat tersebut meskipun dalam

taraf yang tidak terlalu signifikan. Pembinaan yang diberikan oleh orang

tua telah mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa MIS As-Sa’idiyah

Cipanas Kabupaten Cianjur.

       Setiap penelitian pasti terdapat kekurangan, begitu juga dalam

penelitian ini memiliki kelemahan antara lain:

a. Jumlah subjek yang relatif sedikit, terbatas pada 20 orang tua siswa

   kelas I, II, dan III sebanyak 64 siswa MIS As-Sa’idiyah Cipanas

   Kabupaten Cianjur.

b. Penelitian hanya mengungkap dua variabel, sehingga perlu ditambah

   variabel lain.

c. Generalisasi dari hasil penelitian ini terbatas pada populasi di mana

   penelitian dilakukan, yakni terbatas pada sebagian siswa kelas I, II dan

   III MIS As-Sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur.

d. Ada kemungkinan munculnya sikap subjektif orang tua siswa dalam

   menilai anaknya sendiri sehingga orang tua lebih banyak memilih

   pernyataan bernilai 5 daripada mengungkapkan realitas yang ada.

e. Siswa kelas I, II dan III merupakan siswa kelas awal yang sesungguh-

   nya masih mengalami proses perubahan mentalitas sehingga hasil



                                                                        73
   penelitian ini tidak dapat dijadikan ukuran bagi perkembangan

   mentalitas siswa di masa mendatang. Di sisi lain, motivasi belajar tidak

   semata-mata ditentukan oleh peran pembinaan orang tua siswa, karena

   masih terdapat faktor-faktor lain yang dapat memberikan pengaruh

   seperti lingkungan sekolah, sikap dan perilaku siswa di dalam kelas,

   cara mengajar guru, ketersediaan buku, persepsi pola asuh orang tua,

   serta faktor-faktor lainnya.

       Bagi peneliti selanjutnya penerapan ruang lingkup yang luas

dengan menambah atau menggunakan variabel lain yang belum disertakan

dalam penelitian ini ataupun dengan memperbaiki kelemahan dan

keterbatasan penelitian ini. Hal ini dapat dilakukan dengan:

a. Memperbanyak ruang lingkup penelitian atau sampel yang digunakan

   dalam penelitian.

b. Memperbaiki alat ukur penelitian agar lebih bevariasi dalam

   mengungkap aspek-aspek yang terkait dengan variabel penelitian.




                                                                        74
                                   BAB IV

                    KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan

         Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh

  pembinaan orang tua terhadap motivasi belajar siswa kelas awal pada

  Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) As-Sa’idiyah Cipanas Kabupaten Cianjur

  tahun pelajaran 2010-2011. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan

  untuk (1) mendeskripsikan cara orang tua siswa dalam melakukan pembinaan

  kepada putra-putrinya yang duduk di MIS As-sa’idiyah Cipanas Kabupaten

  Cianjur, (2) mendeskripsikan motivasi belajar para siswa MIS As-sa’idiyah

  Cipanas Kabupaten Cianjur sehari-hari, dan (3) menguji pengaruh pembinaan

  orang tua terhadap motivasi belajar siswa MIS As-sa’idiyah Cipanas

  Kabupaten Cianjur sehari-hari.

         Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan serta analisis atas data

  tersebut, diperoleh kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut.

  1. Pada umumnya orang tua telah memberikan pembinaan yang maksimal

     terhadap putra-putrinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pada

     konteks pembinaan anak ini, para orang tua telah mampu menempatkan

     dirinya sebagai komunikator yang baik bagi anak-anaknya, sebagai

     motivator, fasilitator dan konsultan yang cukup baik dalam perkembangan

     pembinaan anak-anaknya. Angka persentase rata-rata dari keempat



                                                                          75
   dimensi yang sebesar 74,33 % menunjukkan bahwa tingkat pembinaan dan

   bimbingan orang tua siswa dalam belajar anaknya berada pada kategori

   cukup baik.

2. Motivasi belajar siswa MIS As-Sa’idiyah berada pada kategori cukup baik

   yang ditunjukkan dengan rata-rata persentase sebesar 74,29 % dari empat

   dimensi yang diamati. Pada konteks ini, berdasarkan pengamatan orang

   tua masing-masing, para siswa telah menunjukkan semangat dalam

   belajar, menunjukkan sikap keingintahuan, menunjukkan keterbukaan

   dalam menerima pengetahuan, serta menunjukkan perkembangan prestasi

   belajar yang relatif cukup baik.

3. Terdapat pengaruh positif dan signifikan pembinaan orang tua siswa

   terhadap motivasi belajar siswa MIS As-Sa’idiyah Cipanas Kabupaten

   Cianjur tahun pelajaran 2010-2011. Kesimpulan ini didukung oleh data

   koefisien korelasi yang dihasilkan adalah sebesar 0,565. Berdasarkan tabel

   standar korelasi dari Sugiyono, nilai tersebut berada pada tingkat sedang

   atau cukup kuat. Sedangkan signifikansi koefisien r berada pada parameter

   0,659 yang berarti berada pada tingkat tinggi atau kuat. Di samping itu,

   hasil uji signifikansi menunjukkan nilai thitung sebesar 4,133 yang ternyata

   lebih besar daripada ttabel = 2,086 pada taraf signifikansi 5 % dan

   membuktikan bahwa Pembinaan Orang Tua Siswa (Y) berpengaruh secara

   signifikan terhadap Motivasi Belajar Siswa. Dengan demikian, HO ditolak

   dan hipotesis penelitian (HA) diterima. Tingkat sigifikansi Pembinaan

   Orang Tua Siswa (X) terhadap Motivasi Belajar Siswa (Y) dapat dilihat


                                                                            76
      pula dari nilai probabilitas kesalahan statistik atau p-value (sig.) sebesar

      0,001 yang jauh lebih kecil daripada tingkat signifikansi α = 0,05.


B. Saran-saran

          Saran-saran   dan   rekomendasi     yang    dapat   disampaikan    pada

   kesempatan ini adalah sebagai berikut.

   1. Kebutuhan anak terhadap pendidikan akan sangat berbeda dari kebutuhan

      orang tua, demikian pula pandangan orang tua dan anak akan memiliki

      perbedaan pula. Secara teoritis, upaya pembimbingan belajar anak di

      lingkungan rumah harus memiliki perbedaan suasana yang sangat terasa

      bagi anak jika dibandingkan dengan di sekolah. Perbedaan ini harus

      diciptakan agar suasana belajar di rumah lebih menyenangkan dan

      bermakna. Perbedaan tersebut terletak pada sarana pembelajaran yang

      relatif lebih baik dibandingkan dengan yang terdapat di sekolah, buku-

      buku sumber yang lebih beragam, serta suasana keakraban antara orang

      tua siswa dan anak lebih terasa sehingga mampu mencairkan suasana kaku

      yang biasa tercipta di dalam kelas. Pada konteks ini, selayaknyalah orang

      tua siswa memberikan perhatian penuh terhadap proses bimbingan belajar

      anaknya di rumah. Jika orang tua tidak merasa mampu memberikan

      kelengkapan sarana belajar yang memadai dan baik, kebutuhan utama

      yang diperlukan oleh anak adalah perhatian orang tua yang sungguh-

      sungguh sehingga proses belajar di rumah menjadi lebih menyenangkan.




                                                                               77
2. Cara belajar yang baik tentu saja dengan menggunakan cara atau langkah-

   langkah sistematis. Orang tua siswa sebagai sosok yang paling ber-

   tanggung jawab terhadap proses pendidikan anaknya hendaknya memiliki

   pemahaman yang cukup tentang metode pembimbingan belajar. Selain

   dapat mempermudah proses bimbingan belajar di rumah, penguasaan

   metode pembelajaran juga akan mendidik anak secara tidak langsung

   untuk berpikir dan bertindak secara sistematis pula.

3. Pembelajaran ideal memerlukan media pembelajaran yang relatif memadai

   dan mencukupi. Pada mata pelajaran tertentu seperti Fisika, Biologi,

   Geografi, dan mata pelajaran yang mengembangkan keterampilan

   psikomotor diperlukan media pembelajaran yang dapat digunakan siswa.

   Orang tua siswa akan lebih baik jika dapat mengadakan beberapa

   perlengkapan pribadi anaknya yang digunakan dalam proses pembelajaran.

   Di sisi lain, pihak sekolah pun hendaknya dapat pula memprioritaskan

   pengadaan kelengkapan sarana pembelajaran ini pada RAPBS secara

   bertahap dan konsisten sehingga pada saatnya sekolah akan mampu

   memiliki sarana yang lengkap dan memudahkan proses belajar mengajar.

4. Meskipun orang tua siswa memiliki tugas yang berat dalam membimbing

   dan mendidik anaknya, pihak sekolah secara proporsional hendaknya

   dapat pula mengembangkan sistem pendidikan secara ideal sesuai dengan

   standar pendidikan nasional yang ditetapkan berdasarkan Peraturan

   pemerintah Nomor 19 Tahun 2005. Pemberian pekerjaan rumah yang

   selalu bertumpuk kepada anak bukanlah cara yang bijaksana dalam


                                                                       78
   memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Prinsip-prinsip belajar

   tuntas (mastery learning) seharusnya menjadi dasar pijakan bagi

   pengembangan pembelajaran di sekolah sehingga setiap kompetensi dasar

   yang dirumuskan akan tercapai dalam waktu yang disediakan oleh

   sekolah. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa untuk dilaksanakan di

   rumah seharusnya merupakan tugas-tugas pengayaan dan pendalaman,

   bukan menyelesaikan pelajaran tidak tuntas yang diberikan di kelas.

5. Bagi peneliti yang merasa tertarik pada konteks pembimbingan belajar

   anak yang dilakukan oleh orang tua siswa, diharapkan akan dapat

   melakukan pengembangan dan perbaikan melalui pencarian variabel-

   variabel yang lebih determinan dan strategis.




                                                                         79
                             DAFTAR PUSTAKA



Arikunto, Suharsimi. (1987) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Jakarta
         Jaya.

Badan Nasional Standar Pendidikan. (2005). Standar Isi. Jakarta: BNSP.

Bambang Indriyanto. (2004). Sumber Daya Pendidikan: Reaktualisasi Pasal 1
       (Ayat 10) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang
       Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Pustekom Balitbang Depdiknas.

Dahar, Ratna Wilis. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1984). Kamus Besar Bahasa
        Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Imam Ghazali. (1983). Ihya ‘Ulumuddin. alih bahasa Nurhichmah dan R.H.A.
       Suminto. Jakarta: Penerbit Tintamas.

Imam Nawawi (1964). Riadush Shalihin alih bahasa oleh Salim Bahreisi.
       Bandung: Al-Ma’arif.

Makmun, Abin Syamsuddin. (1996). Psikologi Kependidikan: Belajar dan
       Pembelajaran. Bandung: CV Remaja Rosda Karya.

Sapani, Suardi. Drs. M.Pd. et. Al. (1997). Teori Pembelajaran. Jakarta: Bagian
         Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III. Departemen Pendidikan dan
         Kebudayaan.

Seno, Winarno Hami. (1984). Profesionalisme Guru dan Upaya Peningkatan
        Martabatnya. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
        Depdiknas.

Slameto. (1995). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Subana. M. dkk. (2000). Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Sudjana. (1996). Teknik Analisis Data Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito.

Sugiono. (2001). Statistik Non Parametrik untuk Penelitian. Bandung: Penerbit
         Alfabeta.

Sugiyono. (2004). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.

Surakhmad. (1980). Pengantar Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.




                                                                               80
Umaedi. (2002). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Buku 4:
        Pedoman Tatakrama dan Tata Tertib Kehidupan Sosial Sekolah bagi
        SLTP. Jakarta: Direktorat PLP. Depdiknas.

Von Magnis, Franz. (1984). Etika Umum. Masalah-masalah Pokok Filsafat
       Moral. Jakarta: Yayasan Kanisius.

Yulaelawati, Ella. (2003). Taksonomi Pemilihan Kurikulum. Jakarta: Pusat
        Kurikulum Balitbang Depdiknas.




                                                                     81

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:5/13/2013
language:Unknown
pages:81