CORPORATE CULTURE ANDALAH “PEMAIN-NYA by rolo14

VIEWS: 16 PAGES: 3

									Kompas, 20 September 2006

CORPORATE CULTURE: ANDALAH “PEMAIN"-NYA
Oleh: Eileen Rachman, EXPERD

Bila Anda memasuki banking hall Bank Niaga, misalnya, Anda akan
menjumpai personil dengan sikap yang "seragam’, dari satpam sampai
kepala cabangnya.

Bank yang menjadi pelopor ‘customer focus’ tersebut sudah lama secara sadar
berorientasi mencetak karyawan untuk menginternalisasikan dan saling
menularkan nilai-nilai seperti integritas dan ‘customer focus’, sehingga nilai-nilai
tersebut terekspresikan dalam tindakan nyata, dan terasa sebagai ‘budaya’
perusahaan yang khas.

Derap persaingan bisnis, tidak mengizinkan perusahaan berada dalam ‘PW’ (posisi
wuenak), dan menikmati budaya perusahaan yang sudah ada. Ada perusahaan atau
organisasi yang ingin agar nilai integritas dihayati oleh pegawai sesegera
mungkin, sehingga dimana-mana digantungkan poster yang meng-’iklan’- kan
integritas. Sementara perusahaan lain yang merasa bahwa karyawannya sudah
cukup kuat menampilkan ‘compliance’, ingin agar nilai-nilai lain, misalnya
‘profesionalisme’, yang diseragamkan dan dimantapkan.

Bagaimana bila kita berada di perusahaan di mana yang menjadi ‘budaya’ adalah
hal-hal seperti: tidak berbicara terus terang, datang terlambat, mengambangkan
masalah, tidak berkoordinasi, minim berkomunikasi, dan menolerir kemandulan
produktivitas? Dari pembicaraan di kantin sering kali kita dengar bahwa setiap
individu merasa tahu persis lemahnya budaya perusahaan, tetapi merasa bahwa
dirinya tidak terlibat dan terpotret. Pertanyaan yang sering diucapkan: “Kenapa
ya... di sini kebiasaannya seperti ini?" tanpa menyadari bahwa yang dibicarakan
(baca: perusahaan) adalah dirinya sendiri.

BUDAYA PERUSAHAAN PERILAKU SAYA
Tindakan yang paling aman tetapi usang adalah tidak melibatkan diri sebagai
unsur paling penting dalam pembentukan dan pemantapan budaya perusahaan.
Padahal, dari cara berpikir, berespons, cara berbicara, dan cara memproses kitalah
budaya perusahaan dicerap oleh orang luar. Budaya adalah “The way we do things
around here.”
Setiap karyawan modern dituntut untuk bisa mengubah cara pandang dan reaksi-
reaksinya sesuai dengan arah perubahan strategi perusahaan. Bila tadinya
perusahaan biasa menangani pelanggan korporasi, di mana kita biasa
mengembangkan gaya gaul eksekutif, dan sekarang perusahaan bergerak ke aràh
‘retail’, di mana pelanggan perlu dilayani dengan lebih bersahabat dan non-formal,
maka individu perlu mampu mengubah sikapnya, menggulung lengan panjangnya,
dan mungkin terjun ke pasar becek. Individu perlu mengembangkan kemampuan
adaptasinyá seperti orang mendengarkan musik, yaitu mencerap, menangkap
iramanya, menikmati melodinya, dan kemudian ikut bergoyang sesuai irama yang
tengah dimainkan.

JADILAH ‘KEPALA’, BUKAN ‘EKOR’
Mengembangkan perilaku dan kebiasaan baru memang perlu energi ekstra.
Namun, ini adalah pilihan individu, apakah ia ingin semata menjadi ‘batu bata”
dalam membangun budaya perusahaan atau “tukang batu"-nya. Tentu saja, kita
lebih baik mengambil peran proaktif dan kreatif dalam memahami, meminati, dan
mengimajinasikan budaya ideal yang ingin dibangun dan kemudian menjadi
pelopor dalam tim. Lebih baik menjadi “kepala daripada hanya meng-ekor” dalam
pengembangan budayä perusahaan kita. Energi lebih akan datang dari diri kita
sendiri karena kita merasa bahwa kitalah pemilik dalam pengembangan budaya
tersebut.

Tanda-tanda Anda sudah terlibat dan “memiliki” perubahan justru datang bila
Anda mengalami konflik atau dilema. Bisa saja konflik disebabkan oleh sikap
resisten teman sekelompok, bahkan atasan Anda. Bisa juga konflik ada dalam diri
Anda sendiri, dimana Anda ditarik oleh dua kutub yang ingin mempertahankan
kebiasaan lama atau menjalankan sikap baru dengan penuh tantangan. Dan, hal
yang paling penting di sini adalah tidak merasa kecut dan mundur tetapi justru
memenangkan dilemanya.

PRINSIP “I-WE-THEM-IT”
Dalam mengikuti pengembangan budaya perusahaan, individu selalu perlu
memusatkan perubahan pada dirinya terlebih dahulu, sebelum melihat lebih jauh

I Jadilah “The Super Power Can Do Man”, yang menjunjung tinggi etika
kebiasaan dan standar respons yang mudah dikenali orang lain, dan memberi efek
pada citra perusahaan.

WE Tularkan semangat Anda ke rekan dälam tim, kemudian ke tim lain.
Semangati kelompok untuk mempunyai “Esprit de Corps” yang jempolan. Jangan
ragu mengemukakan saran korektif bila terlihat ada perilaku menyimpang di
dalam tim Anda.

 THEM Perlakukan pelanggan, baik internal maupun eksternal, dengan semangat
beda dan lebih. Beri “kesan positif” dan beri warna pada servis Anda.

IT Pandanglah perusahaan sebagai “Si dia” yang Anda sayangi. Bela “dia”
sepenuh hati, dan upayakan sekuat tenaga agar perusahaan terlihat “kinclong” di
mata pihak luar.

Bukankah kita sadar bahwa tanpa manusia—nya (baca: saya), budaya hanya akan
menjadi ‘peninggalan sejarah” belaka? ***


//bdy

								
To top