Docstoc

Penyetaraan Gender Wanita

Document Sample
Penyetaraan Gender Wanita Powered By Docstoc
					                                       GERAKAN WANITA



I.         PENDAHULUAN

             Kalau berbicara tentangg pergerakan wanita tentunya kita harus melihat latar

belakang sejarah yang menyebabkan timbulnya pergerakan wanita itu sendiri. Pada

dasarnya pergerakan wanita itu muncul diawali dari pergerakan individu-individu

sampai melembaga, pergerakan wanita itu muncul di berbagai negara baik di dunia barat

yang merupakan awal dari lahirnya pergerakan wanita maupun di dunia timur yang

mana sebab-sebabnya baik di dunia barat maupun di dunia timur tidak jauh berbeda.

             Keadaan wanita yang ditindas oleh pihak laki-laki itu akhirnya, tidak boleh

tidak, niscaya membangunkan dan membangkitkan satu pergerakan yang berusaha

meniadakan segala tindasan itu. Memang itu suatu hukum alam, tetapi adalah suatu

hukum alam juga, bahwa kesadaran dan kegiatan suatu pergerakan itu bertingkat-tingkat

serta berevolusi.

             Di dunia barat pertama-tama terdengar semboyan “Perempuan, Bersatulah”.

Isana pulalah mula lahir dan berkembangnya pergerakan wanita yang dicontoh kaum

wanita dunia lain. Dengan slogan “Hai wanita Asia, sadar dan melawanlah”. Itulah yang

keluar dari mulut Katharina Brechkovskaya1

             Pergerakan wanita di dunia barat menjalar ke dunia timur khususnya di

Indonesia. Pergerakan wanita yang mula-mula berupa pergerakan sosial yaitu suatu

pergerakan yang berjuang untuk menaikkan derajat (kdudukan) wanita dalam

masyarakat. Sering dinamakan pergerakan emansipasi, yaitu pergerakan yang bertujuan

untuk mencapai persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan, terutama yang

menyangkut urusan keluarga dan perkawinan, agar wanita tidak semata-mata menjadi




1
    Soekarno, Sarinah (Jakatrta, Inti Idayu Press, 1984), hlm. 114
koki bagi keluarganya, agar wanita terhindar dari kawin paksa, agar kebiasaan poligami

dihapus dan sebagainya.2



II.     PEMBAHASAN

          Dalam masapertama dari pergerakan Indonesia, pergerakan wanita hanya

berjuang untuk mempertinggi kedudukan sosial. Masalah-masalah politik seperti hak,

pemilihan sama tidak menjadi perundingan, sebab kaum laki-lakipun tidak

mempunyainya, begitu pla soal tanah air.3

          Pergerakan wanita dalam permulaan adalah gerak orang seorang, sebagai aksi

dari beberapa orang perempuan sendiri-sendiri, tidak dalam susunan perkumpulan.

Pergerakan wanita itu dipelopori oleh R.A. Kartini (1879-1904), putri Bupati Jepara

yang diperistri oleh Bupati Rembang Joyodiningrta, yang istrinya juga lebih dari

seorang.4

          Para kaum wanita mengalami nasib yang buruk dikarenakan kurangnya

pendidikan mereka, sehingga dalam banyak hal hidup kaum wanita menggantungkan

kepada kaum laki-laki. Keadaan yang demikian mendorong R.A. Kartini untuk

merubahnya, seperti dicerminkan di dalam surat-surat pribadinya yang diterbitkan pada

tahun 1912 atas usaha dan edit oleh J.H. Abendanon dengan judul Door duisternis tot

licht (Habis Gelap Terbitlah Terang)5

          Cita-cita Kartini makin tersebar dan wanita-wanita Indonesia lain mulai

bergerak untuk maksud yang sama, pengajaran buat anak-anak perempuan, pendidikan

dan pengajaran untuk mempertinggi derajat sosial, bukan saja cakap sebagai ibu dan

pemegang rumah tangga.

          Pada akhirnya perhatian kepentingan kaum perempuan ini menjadi perhatian

organisasi-organisasi perempuan, yang dengan sendirinya boleh dipandang akibat dari


2
  G. Moedjanto, Indonesia Abad ke-20. Yogyakarta, Kanisius, 1991), hlm. 53
3
  A. K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, (Jakarta, Dian Rakyat, 1986), hlm. 19
4
  G. Moedjanto, Indonesia…, hlm. 53
5
  Sartono Kartodordjo, Sejarah Nasional Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1977), halm. 241
pendapat-pendapat Kartini itu. Dalam tahun 1912 di Jakarta berdiri perkumpulan “Putri

Merdeka” dengan bantuan Budi Utomo, yang bertujuan memajukan pengajaran anak-

anak perempuan (diantaranya memberi penerangan dan sokongan uang) juga

mempertinggi sikap yang merdeka dan tegak serta melepaskan tindak malu-malu yang

melewati batas.6

            Dalam      perkembangan        tahun-tahun   berikutnya   berdiri   perkumpulan-

perkumpulan “Keutamaan Istri”, yang bertujuan, mengaakan rumah-rumah sekolah

untuk perempuan (1913 Tasikmalaya, 1916 Sumedang, 1916 Cianjur, 1917 Ciamis,

1918 Tasikmalaya, Cicuruk). Bersamaan waktunya berdiri badan-badan untuk

mengadakan sekolah-sekolah Kartini, (1913 Jakarta, 1914 Madiun, 1916 Malang dan

Cirebon, 1917 Pekalongan, 1918 Indramayu, Surabaya, Rembang dsb)

            Corak pergerakan wanita dalam masa pertama ini (jika boleh dinamakan

“Gerakan”) bisa disebut pergerakan perbaikan kedudukan dalam hidup keluarga dan

perkawinan dan memperluas kecakapan sebagai ibu dan pemegang rumah tangga

dengan jalan         menambah lapangan pengajaran, memperbaiki              pendidikan dan

mempertinggi kecakapan-kecakapan wanita yang khusus. Gerak kemajuan dilakukan

dengan pelan-pelan dan tidak pernah menyerang, wanita-wanita dari masa pertama

umumnya tidak menentang agama Islam atau kaum laki-laki serta pemerintah jajahan.7

            Sebelumnya telah disebutkan bahwa perkumpulan-perkumpulan wanita

sebelum tahun 1920 menuju ke arah perbaikan kedudukan dalam perkawinan dan hidup

keluarga dan sebagainya.

            Sekarang sesudah tahun 1920 kita dapat melihat jumlah perkumpulan wanita

bertambah banyak sekali, sedangkan PKI, SI, Muhammadiyah dan Syarikat Ambon

mempunyai bagian wanita. Perkumpulan-perkumpulan ini mengerti bahwa perempuan

sebagai pusat keluarga rumah (yaitu bentuk golongan sosial yang terkecil) dan sebagai

pendidik turunan adalah suatu faktor yang berharga sekali untuk penyebar cita-cita.

6
    A.K. Pringgodigdo, Sejarah…, hlm. 20
7
    Ibid. hlm. 21
Bagian wanita tadi dalam penyebaran cita-cita tentu saja dengan sendirinya

mempertinggi hal-hal yang khusus mengenai kewanitaan.

          Disamping R.A. kartini bangsa Indonesia mengenal nama Dewi Sartika dari

bandung sebagai pelopor pergerakan wanita juga. Beliau hidup antara tahun 1884-1947,

dan mengusahaan berdirinya sekolah-sekolah wanita keutamaan istri di Jawa Barat,

sampai akhir hayatnya ia tetap sibuk mengurus kepentingan sekolah-sekolahnya.8

          Di Minahasa pelopor pergerakan wanitanya yaitu Maria Walanda Maramis

yang hidup antara tahun 1872-1924, ia adalah stri Yosef Walanda. Usahanya yaitu

mendirikan perkumpulan yang disebut dengan PIKAT (Pecinta Ibu Kepada Anak

Temurunnya)9

          Seiring dengan kemajuan pergerakan Nasional, perkumpulan-perkumpulan

wanita mempunyai tujuan yang lebih luas, tidak saja menyangkut kemajuan wanita

tetapi juga kemajuan bangsa pada umumnya, itu terjadi setelah tahun 1920, perkumpulan

semacam ini ada yang berdiri sendiri, seperti Utama Mulya, Wanita Utama, Wanita

Katolik yang kesemuanya didirikan tahun 20-1n, di Yogyakarta. Disamping Putri Budi

Sejati di Surabaya dan lain-lain.

          Panggilan persatuan kebangsaan mendorong perhimpunan wanita untuk

mengadakan kongres persatuan wanita Indonesia pertama pada tanggal 22-25 Desember

1928 di Yogyakarta, sehingga hari pembukaan itu diperingati sebagai Hari Ibu. Tujuan

dari konggres tersebut yaitu mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan

wanita Indonesia dan juga mengadakan gabungan antara perkumpulan-perkumpulan

wanita itu.10

          Pada konggres di Jakarta 28-31 Desember 1929 namanya dirubah menjadi

Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Supaya sifatnya sebagai federasi




8
  Sartono Kartodirdjo, Sejarah…., hlm. 243
9
  Moedjanto, Indonesia…,hlm. 54
10
   A.K. Pringgodigdo, Sejarah…, hlm. 99
perkumpulan-perkumpulan wanita lebih nampak. Dengan mengajukan mosi pada

pemerintahan untuk melarang “Pendidikan”.11

         Pergerakan wanita yang bergerak politik berdiri pada tahun 1931 di Bandung,

yaitu Istri sedar oleh Nona Suwarni Jayaseputra dengan tujuan mencapai Indonesia

mRdeka. IS berpendapat bahwa buat bangsa yang dijajah untuk lekas mendapat

kemajuan bangsa, kaum wanita harus berdiri berjajar dengan kaum laki-laki dalam

pembangunan bangsa ini dan kewajibannya yang istimewa adalah mendidik anak-anak

menjadi pembangun dan pembela bangsa yang gagah perkasa.12

         Pemerintah kolonial senantiasa mengamati sepak terjang dari pergerakan wanita

Istri Sedar, karena gerakan itu amat anti kolonioal dengan keyakinan nasionalisme yang

radikal sekali. Istri Sedar juga berkonfrontasi dengan PPII yang federasi itu. Yang sangat

hebat adalah aksi perlawanan golongan Islam, boleh jadi ini terjadi oleh sebab dugaan,

bahwa karena kebanyakan anggota IS terdiri dari kaum wanita bekas anggota atau istri

bekas anggota PNI lama yang anti Islam itu.13

         Pada tahun berikutnya tepatnya pada tahun 1932 berdiri pula Istri Indonesia

yang bertujuan mencapai Indonesia Raya. Pemimpinnya ialah Maria Ulfah dan Ny.

Sunaryo Mangunpuspita.14

         Konggres pertengahan Juni 1938 mewajibkan semua cabang untuk mengadakan

kantor penerangan buat memberi penerangan-penerangan tentang perkawinan dan

perceraian untuk menahan perbuatan sewenang-wenang yang melalui hukum Islam.15

         Dalam konggresnya di Pasuruan 24-28 Desember 1940 I.I. memutuskan akan

ikut menjadi anggota konggres rakyat Indonesia selanjutnya konggres menerangkan

setuju dengan aksi Gapi “Indonesia-berparlemen”. Tetapi I.I. tidak akan turut secara




11
   Ibid, hal. 100
12
   Moedjanto, Indonesia…., hlm. 55
13
   AK. Pringgodigdo, Sejarah… hlm. 178
14
   G. Moedjanto, Indonesia…, hlm. 55
15
   AK. Pringgodigdo, Sejarah…, hlm. 181
aktif pada aksi itu. Kepada wanita peranakan diberi kesempatan untuk menjadi

donatris.16

          Disamping perkumpulan-perkumpulan tersebut di atas ada lagi perkumpulan

yang dinamakan “Perkumpulan Pembasmian Perdagangan Perempuan dan Anak-anak”

yang biasa disingkat dengan PPPPA. Organisasi ini sebetulnya bukan Perkumpulan

Wanita didalamnya duduk juga seorang laki-laki, akan tetapi seperti ternyata dalam

namanya adalah suatu perkumpulan untuk melindungi wanita dan anak-anak.

          Seorang wakil dari perkumpulan ini, yang didiirikan dalam bulan April 1930,

Ny. Sunarjati Sukemi dalam tahun 1937 diminta mengunjungi rapat-rapat yang diadakan

di Bandung oleh Komisi Volkenbond untuk memberantas perdagangan wanita

Internasional.17

          Konggres PPPPA April 1940 diantaranya meminta kepada pemerintah untuk

menambah jumlah polisi-kesusilaan dan supaya di dalamnya diangkat wanita Indonesia.

Selanjutnya konggres mengharap supaya imigrasi, pemasukan film dan percetakan

(mengingat kepentingan peikususilaan) dikerjakan dengan lebih teliti dan supaya dalam

bahan-bahan pemeriksa duduk juga kaum wanita Indonesia.

          Haisl-hasil gerakan wanita terutama di dalam hal pendidikan dan pengajaran

bolehlah dikatakan memuaskan. Demikiian juga kedudukan sosialnya mengalami

perbaikan dan dalam bidang politik bolehlah disebut ikut-sertanya wanita Indoneisa

dalam pemilihan keanggotaan dewan-dewan kotapraja pada tahun 1938. Namun bila

dibandingkan dengan jumlah wanita dari golongan rendah, hasil-hasil usaha gerakan

wanita belumlah kentara benar.18




16
   Ibid. hlm. 182
17
   Ibid. hlm. 183
18
   Sartono Kartodirjo, Sejarah…, hlm. 248
III.   KESIMPULAN

        Berangkat dari uraian tersebut di atas dapatlah kami tarik suatu kesimpulan

bahwa gerakan wanita di dunia timur khususnya Indonesia merupakan gerakan manifes

yang ada di dunia barat. Gerakan Wanita Indonesia yang dimulai sebelum tahun 1920

sampai menjelang kemerdekaan, yang dimulai juga dari sifat orang seorang sampai

kepada bentuk organisasi yang melembaga. Dengan Srikandi-srikandinya yang tangguh,

mempunyai tujuan memperjuangkan hak-hak kaum wanita dan juga tak kalah

pentingnya yaitu ikut memperjuangkan tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia.
                                    BIBLIOGRAFI



A.K. Pringgodigdo. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta, Dian Rakyat, 1986

G. Moedjanto. Indonesia Abad Ke-20 Jilid I. Yogyakarta. Kanisius. 1991

Sartono Kartodirdjo. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta, balai Pustaka. 1977

Soekarno. Sarinah. Jakarta. Inti Idayu Press. 1984

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:12
posted:5/4/2013
language:
pages:8