skripsi ekonomi manajemen IMPLIKASI PEMBERIAN INSENTIF PRESTASI KERJA DAN MASA KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI

Document Sample
skripsi ekonomi manajemen IMPLIKASI PEMBERIAN INSENTIF PRESTASI KERJA DAN MASA KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI Powered By Docstoc
					                                    BAB I

                             PENDAHULUAN



1.1.     LATAR BELAKANG

         Dalam setiap perusahaan, sumber daya manusia memegang peranan yang

sangat penting, baik secara individu maupun secara kelompok. Ditangan mereka

inilah kelangsungan aktivitas perusahaan tergantung. Sekalipun organisasi atau

perusahaan mempunyai sumber daya yang melimpah baik bahan mentah, modal

maupun teknologi akan tetapi jika hal itu tidak didukung oleh sumber daya

manusianya, maka tujuan perusahaan yang telah direncanakan sebelumnya sulit

untuk tercapai. Mereka adalah salah satu faktor produksi yang merupkan penggerak

utama jalannya proses produksi, apalagi pada saat ini dunia usaha telah

berkembang dengan pesatnya ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan baru

yang didirikan sehingga mengakibatkan persaaingan antar perusahaan semakin

ketat.

         Dalam upaya menjaga kelangsungan hidup organisasi perusahaan, tidak

akan terlepas dari faktor “man power”nya, karena suatu perusahaan akan berhasil

mencapai target dan tujuannya apabila didukung oleh fasilitas yang cukup. Oleh

karena itu kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang memadai, dalam hal

ini adalah karyawan perusahaan merupakan unsur penunjang bagi kemajuan dan

keberhasilan perusahaan. Untuk mendukung tercapainya tujuan – tujuan yang
diharapkan oleh perusahaan perlu dilakukan kebijakan dua arah yang bermaksud

menyelaraskan dan menjempatani antar tujuan – tujuan tersebut sehingga tercapai

suatu sinergi yang mampu memberikan keuntungan bagi perusahaan dan karyawan.

       Agar tujuan-tujuan perusahaan dapat dicapai secara optimal maka pihak

perusahaan dituntut untuk mampu menjaga semangat dan gairah kerja para

karyawannya. Disamping itu selalu mendorong mereka untuk bekerja dengan baik

sehingga produtivitas mereka dapat meningkat. Setiap perusahaan selalu ingin

mendapatkan keuntungan yang maksimum serta pelaksanaan proses produksi tanpa

hambatan, terlebih lagi adanya persaingan yang membuat mereka harus selalu

memperhatikan efektifitas dan efesiensi kerja para karyawan serta berusaha untuk

memanfaatkan sumber daya yang dimilik dengan seefesien mungkin agar tujuan

perusahaan dapat tercapai. Karena karyawan merupakan merupakan asset yang

sangat penting bagi perusahaan maka suatu dorongan motivasi kepada karyawan

agar kemampuannya dapat dipergunakan secara tepat dalam perusahaan.

       Produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang dicapai (output)

dengan keseluruhan sumber daya yang dipakai (input) persatuan waktu. Output

dapat terdiri dari beberapa faktor produksi seperti tanah, gedung, mesin, peralatan,

bahan mentah, dan tenaga kerja.

       Produktivitas seseorang dalam suatu lingkungan kerja sangat dipengaruhi

oleh faktor-faktor baik yang bersifat materi maupun non materi. Penyebab yang

bersifat materi misalnya berhubungan dengan penetapan upah, perlakuan yang
layak dari perusahaan serta fasilitas yang disediakan oleh perusahaan. Dari

berbagai faktor diatas yang paling dominan berpengaruh terhadap produktivitas

seseorang adalah upah atau balas jasa. Karena upah merupakan faktor yang

dominan mempengaruhi produktivitas seseorang, maka perusahaan perlu

menetapkan kebijaksanaan tentang upah yang bertujuan untuk meningkatlkan

kualitas dan kuantitas produksinya.

       Salah satu kebijaksanaan yang diterapkan oleh perusahaan untuk

meningkatkan produktivitas adalah dengan pemberian upah intensif. Pemberian

upah intensif ini dimaksudkan agar nantinya berguna untuk mendorong semangat

kerja karyawan dalam melaksanakan pekerjaan agar lebih baik, sehingga

diharapkan produktivitas perusahaan akan meningkat. Selain untuk mendorong

semangat kerja dengan pemberian upah intensif kepada karyawan, maka

diharapkan mereka juga memperoleh kepuasan kerja, karena kepuasan kerja dari

karyawan juga akan mendukung semua kegiatan yang dilakukan perusahaan.

       Disamping pemberian upah insentif, faktor lain yang mempengaruhi

produktivitas adalah masa kerja. Harmonisnya hubungan antara pengusaha dan

karyawan tercermin dari betah tidaknya karyawan tersebut bekerja di perusahaan.

Semakin lama seseorang bekerja dalam lingkup tertentu maka ia akan semakin

terampil dibidangnya. Hal ini nantinya akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas

produksi seseorang sehingga diharapkan semakin lama masa kerja karyawan akan

meningkatkan produktivitas.
          Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian mengenai pengaruh pemberian

upah intensif dan masa kerja merupakan suatu yang sangat penting, karena dengan

adanya pemberian upah intensif dan lamanya seorang karyawan bekerja pada suatu

perusahaan, diharapkan produktivitas karyawannya menjadi meningkat dan secara

langsung akan berpengaruh pada peningkatan produksi perusahaan.

          Atas dasar itulah, maka dalam penyusunan skripsi ini penulis mengambil

judul :

“IMPLIKASI PEMBERIAN INSENTIF PRESTASI KERJA DAN MASA

KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BAGIAN

PRODUKSI “ ( Studi kasus pada Pabrik Gula Ngadirejo Kediri )



1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

1.    Apakah insentif prestasi kerja berpengaruh terhadap produktivitas tenaga

      kerja/ karyawan bagian produksi.

2.    Apakah masa kerja berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja/

      karyawan bagian produksi.



1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN

1.3.1. Tujuan

      Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui apakah insentif berpengaruh terhadap produktivitas karyawan

     bagian produksi.

2. Mengetahui apakah masa kerja berpengaruh terhadap produktivitas karyawan

     bagian produksi.

1.3.2. Kegunaan

1.    Bagi perusahaan :

      Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi

      perusahaan khususnya pihak manajemen dalam upaya meningkatkan

      produktivitas kerja karyawan bagian produksi. Disamping itu diharapkan juga

      dengan adanya penelitian ini perusahaan dapat mempertimbangkan

      pemberian insentif yang paling sesuai dengan kebutuhan karyawannya.

2.    Bagi penulis :

      Menambah wawasan dan pengetahuan yang tidak diperoleh selama

      perkuliahan dan penerapan teori yang berkaitan dengan usaha peningkatan

      kualitas sumber daya manusia yang didapat melalui perkuliahan.



1.4. SISTEMATIKA PEMBAHASANN

        Penelitian yang dituangkan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari 5 (lima)

bab yang merupakan rangkaian satu bab dengan bab yang lain. Untuk memudahkan

dalam mempelajari isi skripsi, maka akan disajikan sistematika pembahasan yang
merupakan garis besar dari skripsi ini. Adapun sistematika pembahasan sebagai

berikut :

Bab I : Merupakan bab pendahuluan yang menyajikan latar belakang, perumusan

            dan identifikasi masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika

            pembahasan.

Bab II : Berupa tujuan pustaka yang merupakan hasil dari penelitian – penelitian

             terdahulu yang berkaitan dengan produktivitas, upah, mas kerja serta

             kerangka dasar teori bagi    pembahasan lebih lanjut. Tinjauan pustaka

             ini meliputi kajian tentang upah, insentif, masa kerja, dan produktivitas.

Bab III : Berisi metode penelitian yang digunanakan dalam penyusunan skripsi ini

             yang berisi variabel penelitian, populasi dan sampel, sumber data dan

             responden penelitian, pengumpulan data serta metode analisis data yang

             digunakan.

Bab IV : Hal-hal yang berkaitan dengan gambaran perusahaan dapat dilihat dalam

             bab ini, seperti sejarah, letak, struktur organisasi maupun kegiatan

             operasional perusahaan.

Bab V :       Bab ini merupakan pembahasan dari hasil analisis yang telah dijadikan

             objek penelitian.

Bab VI : Berisi tentang kesimpulan dan saran – saran yang diharapkan berguna

             sebagai masukan dan perkembangan perusahaan.
                                       BAB II
                             TINJAUAN PUSTAKA



       Di dalam tinjauan pustaka ini akan dikemukakan hasil – hasil penelitian

terdahulu yang berkaitan dengan produktivitas, upah insentif, masa kerja serta

teori-teori yang erat kaitannya dengan produktivitas tenaga kerja, dimana teori

tersebut diperlukan untuk menganalisa masalah yang terjadi dan dapat digunakan

sebagai dasar penulisan dan kajian skripsi ini.

       Penelitian yang dilakukan oleh Maria Belqis (1998) dengan judul “Analisa

Pengaruh Perbedaan Tingkat Upah dan Kedisiplinan Terhadap Produktivitas Kerja

Karyawan” (Studi kasus pada PT Surya Sakti Utama Surabaya). Pada penelitian

tersebut, peneliti berupaya mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat upah dan

kedisiplinan terhadap produktivitas kerja karyawan PT Surya Sakti Utama di

Surabaya. Dari penelitian tersebut dapat disimpulakan bahwa tingkat upah dan

kedisiplinan mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan produktivitas

kerja karyawan.

       Ari Susanto (2000) dengan judul “Analisis Pengaruh Pemberian Insentif

dan Masa Kerja Terhadap Produktifitas Kerja Karyawan” (Studi kasus pada

karyawan bagian produksi PR. Djagung Malang). Penelitian dilakukan sebagai

upaya mengetahui bagaimana pengaruh insentif dan masa kerja terhadap

produktivitas kerja karyawan bagian produksi PR. Djagung. Dari penelitian
tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara ketiga variable bebas yang

terdiri dari insentif dan masa kerja tersebut dengan variabel terikatnya,   yaitu

produktivitas.

       Dyah Susantini (2001) dengan judul “ Analisa Faktor – Faktor Yang

Mempengaruhi Produktifitas Kerja Karyawan” ( Studi kasus pada PT. PG. Rejo

Agung Baru Madiun). Pada penelitian tersebut peneliti berupaya mengetahui faktor

– faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan pada PT. PG.

Rejo Agung Baru Madiun. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa masa

kerja dan lingkungan kerja merupakan faktor – faktor yang mempunyai pengaruh

terhadap produktivitas karyawan.



2.1 UPAH

       Di dalam dunia usaha, faktor tenaga kerja merupakan faktor yang sangat

penting. Pekerja mengeluarkan tenaga demi kepentingan dan untuk mencapai

tujuan perusahaan. Untuk mengganti jasa yang diberikan mereka, maka perusahaan

memberikan upah. Sehubungan dengan pengupahan yang dapat meningkatkan

produktivitas tenaga kerja maka perlu adanya perhatian pengusaha terhadap

karyawannya. Suatu organisasi tidak dapat secara arbitrer menetapkan begitu saja

tingkat upah yang akan dibayarkan kepada golongan pegawai yang bekerja dalam

suatu perusahaan.
2.1.1. Pengertian Upah

        Upah merupakan biaya tenaga kerja sekaligus merupakan sumber

pendapatan bagi karyawan. Oleh karena itu upah kerja dan kelangsungan produksi

suatu perusahaan tidak dapat dipisahkan.

        Menurut Flippo (1983 : 308)” Upah adalah harga untuk balas jasa yang

diberikan seseorang kepada orang lain.”

        Dari pengertian diatas, maka pemberian upah ini harus dilakukan seadil –

adilnya. Perusahaan harus mempertimbangkan metode penetapan sistem upah

dengan baik. Upah yang diterima karyawan harus layak dan sesuai dengan prestasi

kerjanya, agar mereka merasa hasil kerjanya dihargai dan kepuasan kerja

diperolehnya.

2.1.2   Fungsi Upah

        Sistem pengupahan merupakan kerangka bagaimana upah diatur dan

ditetapkan. Sistem pengupahan di Indonesia pada umumnya didasarkan pada tiga

fungsi upah, yaitu : (Sarwoto 1983)

1. Menjamin kehidupan yang layak bagi karyawan dan keluarganya.

2. Mencerminkan imbalan atas hasil kerja seseoarang.

3. Menyediakan insentif untuk mendorong produktivitas kerja.

        Penghasilan atau imbalan yang diterima seorang karyawan sehubungan

dengan pekerjaannya dapat digolongkan kedalam empat bentuk, yaitu : ( dalam

tulisan Belqis : 1998)
1. Upah atau gaji ( dalam bentuk uang)

2. Tunjangan dalam bentuk natura seperti beras, gula, garam dan lain-lain.

3. Fringe benefits, yaitu berbagai jenis benefits diluar gaji yang diperoleh

   seseorang sehubungan dengan jabatan dan pekerjaannya seperti pensiun,

   asuransi kesehatan, cuti dan lain-lain.

4. Kondisi lingkungan; kondisi lingkungan kerja yang berbeda disetiap

   perusahaan dapat memberikan tingkat kepuasan yang berbeda juga bagi setiap

   karyawan. Keadaan ini mencakup kebersihan, reputasi perusahaan dan lain-

   lain.

2.1.3. Sistem Pengupahan

       Sistem pengupahan yang umum diterapkan sebagai berikut : ( dalam tulisan

Belqis : 1998)

a. Sistem waktu

   Dalam sistem waktu besarnya kompensasi ditetapkan berdasarkan standar

   waktu    seperti jam, hari, minggu atau bulan. Sistem waktu ini biasanya

   diterapkan jika prestasi kerja sulit diukur perunitnya. Jadi besarnya kompensasi

   hanya didasarkan berdasarkan lamanya kerja.

b. Sistem hasil (output)

   Dalam sistem hasil, besarnya kompensasi/ upah ditetapkan atas kesatuan unit

   yang dihasilkan pekerja seperti perpotong, meter, liter dan kilogram. Dalam

   sistem hasil, besarnya kompensasi yang dibayar selalu didasarkan kepada
   banyaknya hasil yang dikerjakan pada lamanya waktu pekerjaan, sehingga

   semakin banyak hasilnya maka upah semakin tinggi.

c. Sistem borongan

   Dalam sistem ini penetapan besarnya jasa didasarkan pada volume pekerjaan

   dan lama mengerjakannya. Upah borongan ini mengaitkan kompensasi secara

   langsung dengan produksi yang dihasilkan. Besar kecilnya balas jasa sangat

   tergantung pada kecermatan mengkalkulasi biaya borongan tersebut. Sistem ini

   merupakan sistem pengupahan yang paling populer.

       Dari ketiga sistem tersebut, suatu perusahaan dapat menggunakan salah satu

atau bersamaan dari sistem-sistem di atas. Yang penting dalam hal ini adalah

bahwa dalam penetapan kompensasi tersebut harus dapat memenuhi keinginan dari

seluruh pihak, yaitu pengusaha dan karyawan. Selain itu penetapan kompensasi

tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari perusahaan.



2.2. INSENTIF

        Setiap perusahaan selalu menginginkan hasil yang maksimum dalam proses
produksinya. Untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut perlu adanya dukungan
dari setiap unsur perusahaan termasuk di dalamnya karyawan bagian produksi.
Dalam usaha mencapai peningkatan produksi juga ditandai dengan adanya
dukungan yang kuat dari keuangan dan tunjangan – tunjangan lain dalam
perusahaan.
       Perusahaan akan memberikan suatu penghargaan bagi karyawan yang

berprestasi baik dan hal ini akan membuat karyawan bekerja sebaik mungkin agar

menerima penghargaan dan imbalan yang lebih besar disamping tunjangan-
tunjangan lain yang telah disediakan oleh perusahaan. Bentuk pembayaran dan

penghargaan atas kerja karyawan yang tepat akan menghasilkan pencapaian

produktivitas yang lebih tinggi, hal itu mencakup sistem pemberian insentif yang

tepat serta usaha – usaha lain untuk menambah semangat dan kepuasan kerja bagi

karyawan.

       Tujuan       perseorangan   dalam   setiap   organisasi   berpengaruh   dalam

menentukan tercapai tidaknya hasil-hasil yang diinginkan oleh organisasi yang

bersangkutan. Bilamana tujuan – tujuan perseorangan dalam suatu organisasi

mendapat perhatian yang tepat atau perhatian yang sepantasnya, maka semakin

terarah dan efektif kegiatan perseorangan itu untuk merealisasikan apa yang

menjadi tujuan dari organisasi atau perusahaan tersebut. Karena itulah setiap

pemimpin yang menyadari akan tanggung jawabnya harus pula menyadari

kenyataan ini, hal ini disebabkan karena berhasil tidaknya ia mencapai hasil

melalui bawahan – bawahannya tergantung juga pada besar kecilnya perhatian

yang diberikannya untuk merealisasikan kebutuhan-kebutuhan bawahannya. Hal

inilah sebabnya, mengapa Allen (M. Manullang, 1984 : 138) berkesimpulan

sebagai berikut :

   " ..... bahwa efektiiftas seorang manajer untuk sebagian besar
   tergantung pada kecakapannya untuk membantu kebutuhan anggota-
   anggota kelompok yang dipimpinnya. Sejauh orang-orang yang
   diawasinya merasa bahwa ia membantu mereka untuk mencapai hal
   ini, mereka akan menurutinya dengan itikad baik dan dengan
   gembira".
          Inilah daya perangsang atau insentif bagi karyawan untuk mau bekerja
   dengan segala daya upayanya dalam suatu perusahaan. Jadi hal yang mendorong
   manusia mau bekerja dengan sebaik-baiknya dalam hubungan suatu organisasi
   tergantung dari seberapa tinggi taraf perealisasian tujuan perseorangan dalam
   organisasi yang bersangkutan.
2.2.1. Pengertian Insentif
           Ada beberapa pengertian insentif yang dikemukakan oleh para ahli,
   diantaranya yang dikemukakan oleh Harsono ( 1983 :128) bahwa insentif adalah
   setiap sistem kompensasi dimana jumlah yang diberikan tergantung dari hasil yang
   dicapai yang berarti menawarkan suatu insentif kepada pekerja untuk mencapai
   hasil yang lebih baik. Sementara itu menurut Heidjrachman dan Husnan ( 1992
   :161) mengatakan bahwa pengupahan insentif dimaksudkan untuk memberikan
   upah atau gaji yang berbeda. Jadi dua orang karyawan yang mempunyai jabatan
   yang sama bisa menerima upah yang berbeda dikarenakan prestasi kerja yang
   berbeda. Disamping itu ada pendapat dari ahli lain tentang pengertian insentif.
             “Insentif sebagai sarana motivasi dapat diberikan batasan
             perangsang ataupun pendorong yang diberikan dengan sengaja
             kepada pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang
             lebih besar untuk berprestasi bagi organisasi.”
             (Sarwoto, 1983 :144)


          Jadi pada dasarnya insentif merupakan suatu bentuk kompensasi yang
   diberikan kepada karyawan yang jumlahnya tergantung dari hasil yang dicapai baik
   berupa finansial maupun non finasial. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong
   karyawan bekerja lebih giat dan lebih baik sehingga prestasi dapat meningkat yang
   pada akhirnya tujuan perusahaan dapat tercapai.
2.2.2. Tujuan Insentif
           Tujuan utama dari pemberian insentif kepada karyawan pada dasarnya
   adalah untuk memotivasi mereka agar bekerja lebih baik dan dapat menunjukkan
   prestasi yang baik. Cara seperti ini adalah cara yang sangat efektif untuk
   meningkatkan hasil produksi perusahaan. Menurut pendapat Heidjrachman dan
   Husnan (1992 : 151) mengatakan bahwa pelaksanaan sistem upah insentif ini
   dimaksudkan perusahaan terutama untuk meningkatkan produktivitas kerja
   karyawan dan mempertahankan karyawan yang berprestasi untuk tetap berada
   dalam perusahaan.
         Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
   pemberian insentif, yaitu :
1. Bagi perusahaan
    Tujuan pelaksanaan pemberian insentif kepada karyawan dimaksudkan untuk
    meningkatkan produksi dengan cara mendorong mereka agar bekerja disiplin
    dan semangat yang lebih tinggi dengan tujuan menghasilkan kualitas produksi
    yang lebih baik serta dapat bekerja dengan menggunakan faktor produksi
    seefektif dan seefisien mungkin.
2. Bagi karyawan
    Dengan pemberian insentif dari perusahaan maka diharapkan karyawan
    memperoleh banyak keuntungan, seperti misalnya mendapatkan upah atau gaji
    yang lebih besar, mendapat dorongan untuk mengembangkan dirinya dan
    berusaha bekerja dengan sebaik – sebaiknya.
2.2.3. Macam-macam insentif
        Dalam suatu perusahaan biasanya ada dua macam model insentif yang
diterapkan, yaitu financial insentif dan non financial insentif. Financial insentif
adalah insentif yang dinilai dengan uang, misalnya upah dan gaji lebih, rekreasi,
jaminan hari tua dan lain sebagainya. Sedangkan non financial insentif adalah
insentif yang tidak dapat dinilai dengan uang, misalnya jam kerja, hubungan
dengan atasan dan lain sebagainya.
          Sarwoto (1977 : 155-159) membedakan insentif dalam dua garis besar,
yaitu :
1. Insentif material
    Insentif ini dapat diberikan dalam bentuk uang dan jaminan sosial. Insentif
    dalam bentuk uang dapat berupa :

    a) Bonus
           o Uang yang diberikan sebagai balas jasa atas hasil kerja yang telah
               dilaksanakan.
           o Diberikan secara selektif dan khusus kepada pegawai yang berhak
               menerima.
           o Diberikan secara sekali terima tanpa suatu ikatan dimasa yang akan
               datang.
           o Dalam perusahaan yang menggunakan sistem insentif ini lazimnya
               beberapa persen dari laba yang melebihi jumlah tertentu yang
              dimasukkan ke dalam sebuah dana bonus kemudian jumlah tersebut
              dibagi-bagi antara pihak yang akan diberikan bonus.
     b) Komisi
          o Merupakan jenis bonus yang dibayarkan kepada pihak yang
              menghasilkan penjualan yang baik.
          o Lazimnya dibayarkan sebagai bagian daripada penjualan dan
              diterimakan pada pekerja bagian penjualan.
     c) Profit Sharing
        Salah satu jenis insentif yang tertua. Dalam hal ini pembayaran dapat
     diikuti bermacam-macam pola, tetapi biasanya mencakup pembayaran sebagian
     besar dari laba bersih yang disetorkan sebuah dana dan kemudian dimasukkan
     ke dalam daftar pendapatan setiap peserta.

     d) Kompensasi yang ditangguhkan
        Ada dua macam program balas jasa yang mencakup pembayaran
     dikemudian hari, yaitu pensiun dan pembayaran kontraktural. Pensiunan
     mempunyai nilai insentif karena memenuhi salah satu kebutuhan pokok
     manusia yaitu menyediakan jaminan ekonomi baginya setelah dia tidak bekerja
     lagi. Sedangkan pembayaran kontraktural adalah pelaksanaan perjanjian antara
     majikan dan pegawai dimana setelah selesai masa kerja dibayarkan sejumlah
     uang tertentu selama masa kerja tertentu.

2.   Insentif non material
     Insentif non material dapat diberikan dalam berbagai bentuk, yaitu :

      a) Pemberian gelar (title) secara resmi.
      b) Pemberian tanda jasa / medali.
      c) Pemberian piagam penghargaan.
      d) Pemberian pujian lisan maupun tulisan secara resmi (di depan umum)
          ataupun secara pribadi.
     e) Ucapan terima kasih secara formal maupun informal.
     f) Pemberian promosi (kenaikan pangkat atau jabatan).
     g) Pemberian hak untuk menggunakan atribut jabatan.
     h) Pemberian perlengkapan khusus pada ruangan kerja.
     i) Pemberian hak apabila meninggal dunia dimakamkan ditaman makam
         pahlawan.
     j) Dan lain-lain.
2.2.4. Metode pengupahan insentif
         Dalam pemberian insentif perusahaan harus memperhatikan kondisi
perusahaan dan karyawan, karena pemilihan yang tepat terhadap pemberian
insentif akan menentukan keberhasilan perusahaan.
       Dalam dunia industri ada beberapa sistem insentif yang biasanya digunakan
dan diberikan untuk karyawan bagian produksi, yaitu : (Heidjrahman dan Husnan,
1990 : 162)
1.   Insentif berdasarkan unit yang dihasilkan (piece rate)
     a) Straight Piecework Plan (upah per potong proporsional)

         Sistem ini paling banyak digunakan. Dalam hal ini pekerjaan dibayar
         berdasarkan seluruh produk yang dihasilkan dikalikan tarif upah per
         potong.
     b). Taylor Piecework Plan (upah per potong taylor)
         Menurut sistem ini menentukan tarif yang berbeda untuk karyawan yang
         bekerja di atas dan di bawah output rata – rata. Bagi karyawan yang
         berhasil mencapai atau melebihi output rata – rata maka akan menerima
         upah per potong yang lebih besar daripada yang bekerja mendapat output
         dibawah rata – rata.
     c). Group Piecework Plan (upah per potong kelompok)
         Dalam hal ini cara menghitung upah adalah dengan menentukan suatu
         standar untuk kelompok. Mereka yang berada di atas standar kelompok
         akan dibayar sebanyak unit yang dihasilkan dikalikan dengan tarif per
         unit. Sedangkan yang bekerja di bawah standar akan dibayar dengan jam
         kerja dikalikan dengan tarif kerja.
2.   Insentif Berdasarkan Waktu (time bonuses)
2.1. Premi didasarkan atas waktu yang dihemat.
       a). Halsey Plan
          Halsey menentukan waktu standar dan upah per jam yang tertentu.
          prosentase premi yang diberikan adalah 50% dari waktu yang dihemat.
          Alasannya adalah tidak adanya standar kerja yang tepat sekali.
       b). 100 Percent Premium Plan
          Pada dasarnya cara pemberian insentif ini sama dengan Halsey Plan,
          tetapi prosentase preminya adalah 100% dari waktu yang dihemat.
       c). Bedaux Plan
          Pemberian insentif yang diberikan pada karyawan adalah sebesar 75%
          dari upah normal per jam dikalikan dengan waktu yang dihemat.
2.2    Premi didasarkan atas waktu pekerjaan

        a). Rowan Plan
            Pada sistem ini insentif didasarkan atas waktu kerja
        b). Emerson Plan
            Untuk menerapkan sistem insentif ini maka diperlukan suatu tabel
            indeks efisiensi. Jadi insentif akan bertambah dengan naiknya efisiensi
            kerja karyawan sesuai dengan naiknya efisiensi kerja sesuai dengan
            prosentase (tabel indeks efisiensi ) yang telah ditetapkan.
2.3.    Premi didasarkan atas waktu standar

         Pada sistem ini premi diberikan sebesar 20% dari standar.


2.3. MASA KERJA
       Pengertian masa kerja secara umum adalah tingkat pengalaman kerja
karyawan yang dihitung dari lama ia bekerja pada bidang tertentu dan pada lingkup
tertentu. Masa kerja dijadikan sebagai faktor yang menentukan produktivitas
karena pada industri tertentu, semakin lama masa kerja seseorang maka ia akan
semakin terampil dan berpengalaman sehingga mutu dan kualitas kerja meningkat
seiring dengan bertambahnya masa kerja yang diikuti meningkatnya pendapatan.
(dalam tulisan Susantini 2001 : 25 ).
        Hal ini sesuai dengan pendapat Payaman J. Simanjuntak (1985 :13) yang
menyatakan bahwa orang yang baru mulai bekerja atau kurang berpengalaman
kerja biasanya seringkali mempunyai produktivitas yang rendah.
2.4. PRODUKTIVITAS

2.4.1. Pengertian Produktivitas
        Menurut Payaman J. Simanjuntak dalam bukunya Pengantar Ekonomi
Sumber Daya Manusia, produktivitas mengandung pengertian filosofis, yaitu
definisi kerja dan teknik operasional. Secara filosofis menmgandung makna
pandangan hidup dan sikap mental yang berusaha meningkatkan mutu kehidupan
        Pandangan hidup dan sikap mental yang demikian akan mendorong
manusia untuk tidak cepat puas, sehingga akan terus mengebangkan diri dan
meningkatkan kemampuan kerja. Untuk definisi kerja, produktivitas merupakan
perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya
(input) yang dipergunakan persatuan waktu. Secara umum produktivitas diartikan
sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang dan jasa) dengan
masukan yang sebelumnya ( Muchadarsyah : 1987).
       Peningkatan produktivitas dapat terwujud dalam empat bentuk, yaitu :
( Payaman J. Simanjuntak 1985 : 15)
     1. Jumalah produksi yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan

        sumber daya yang lebih sedikit; dan /atau

     2. Jumlah produksi yang lebih besar dapat dicapai dengan menggunakan

        sumber daya yang kurang; dan/ atau

     3. Jumlah produksi yang lebih besar dapat dicapai dengan menggunakan

        sumber daya yang sama; dan/ atau

     4. Jumlah produksi yang jauh lebih besar diperoleh dengn pertambahan

        sumber daya yang relatif lebih kecil.

        Sehingga dapat disimpulkan bahwa produktivitas merupakan rasio antara
keluaran dengan masukan, dimana semakin tinggi rasio tersebut maka makin tinggi
pula tingkat produktivitasnya. Dalam proses produksi, tenaga kerja merupakan
faktor yang sangat menentukan diantara faktor – faktor produksi lainnya secara
keseluruhan.
       Produktivitas bukan hanya ukuran dari produksi yang dihasilkan, tetapi juga
tergantung tingkat penggunaan sumber – sumber modal untuk mencapai hasil yang
diharapkan dan terdapat hubungan antara efisiensi dan efektifitas.
2.4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
        Sumber daya masukan dapat terdiri dari beberapa faktor produksi seperti
tanah, gedung, peralatan, mesin, peralatan, bahan mentah, dan sumber daya
manusia sendiri. Dalam hal ini peningkatan produktivitas manusia merupakan
sasaran strategis karena peningkatan produktivitas dari faktor – faktor lain sangat
tergantung pada kemampuan tenaga manusia yang memanfaatkannya.
     Menurut Payaman J. Simanjuntak ( 1985 : 17) faktor – faktor yang
mempengaruhi produktivitas dapat digolongkan pada tiga kelompok, yaitu :
   1. Kualitas dan kemampuan fisik karyawan.

   2. Sarana pendukung.

   3. Supra sarana,

   Maksud dari ketiga kelompok di atas adalah sebagai berikut :
 a). Kualitas dan kemampuan fisik karyawan
               Kualitas dan kemampuan fisik karyawan dapat dipengaruhi oleh :
       Tingkat pendidikan

       Motivasi kerja

       Etos kerja

       Mental dan kemampuan fisik karyawan

       Latihan

 b). Sarana pendukung
               Sarana pendukung untuk peningkatan produktifitas kerja karyawan
       perusahaan dapat dikelompokan pada dua golongan, yaitu :
    Menyangkut lingkungan kerja, termasuk teknologi dan cara produksi,

        sarana dan peralatan yang digunakan, tingkat keselamatan dan kesehatan

        kerja serta suasana dalam lingkungan kerja itu sendiri.

       Menyangkut kesejahteraan karyawan tercermin dalam sistem pengupahan

        dan jaminan sosial serta jaminan kelangsungan kerja.

c). Supra sarana
         Aktifitas perusahaan selalu dipengaruhi oleh apa yang terjadi diluarnya,
 seperti faktor-faktor produksi yang akan digunakan, prospek pemasaran,
 perpajakan, perijinan, lingkungan hidup dan lain-lain. Kebijaksanaan
 pemerintah dibidang ekspor-impor, pembatsan dan pengawasan juga
 mempengaruhi ruang gerak pimpinan perusahaan dan jalannya aktifitas di
 perusahaan.
              Diantara unsur – unsur yang terdapat dalam faktor – faktor yang

       mempengatruhi     produktivitas   yang    berkaitann       langsung   dengan

       produktivitas tenaga kerja adalah kualitas dan kemampuan tenaga kerja dan

       secara tidak langsung adalah sarana pendukung dan supra sarana.

              Kemampuan manajemen menggunakan sumber-sumber secara

       maksimal dan menciptakan sistem kerja yang optimal akan menentukan

       tinggi rendahnya produktivitas kerja karyawan. Peranan manajemen sangat

       strategis untuk peningkatan produktivitas, yaitu dengan mengkombinasikan

       dan mendayagunakan semua sarana produksi, menerapkan fungsi-fungsi

       manajemen, menciptakan sistem kerja dan pembagian kerja, menempatkan

       orang pada tempat yang tepat, serta menciptakan kondisi dan lingkungan

       kerja yang aman dan nyaman.
2.5. HUBUNGAN INSENTIF, MASA KERJA DAN PRODUKTIVITAS

          Untuk melihat hubungan antara insentif, masa kerja dan produktivitas,

maka terlebih dulu kita lihat lagi pendapatan dari para ahli.

          Menurut Drs. Sarwoto (1983 : 144) :

               “Insentif sebagai suatu sarana motivasi dapat diberikan
             sebagai batasan perangsang ataupun pendorong yang
             diberikan dengan sengaja kepada para pekerja agar dalam diri
             mereka timbul semangat yang lebih besar untuk berprestasi
             bagi organisasi.”


           Dari pendapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa produktifitas tenaga kerja mempunyai kaitan dengan
tingkat kepuasan karyawan. Mereka menganggap hasil kerja dan prestasi kerja mereka dihargai dengan upah yang mereka
terima secara layak dan upah dalam hal ini adalah insentif yang merupakan suatu perangsang atau dorongan bagi karyawan
agar dalam dirinya timbul motivasi kerja dari karyawan itu sendiri.
           Selain pemberian insentif, faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas karyawan adalah masa
kerja. Dalam hal ini adalah tingkat pengalaman bekerja pada bidang yang sama. Semakin lama lama masa kerja seseorang
pada bidang yang sama maka ia akan semakin terampil dan ahli pada pekerjaannya, sehingga kualitas dan kuantitas kerja
akan semakin meningkat.
           Untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan, peruasahaan harus mampu memberikan insentif yang sesuai,
karena kemampuan dan keterampilan dari karyawan juga akan meningkat jika pengalaman kerja mereka lama. Hasil
pekerjaan karyawan harus diperhitungkan dengan baik, hal ini berarti karyawan tersebut mampu berproduksi sesuai dengan
standar pekerjaan yang telah ditetapkan.
Gambar 2.1. Kerangka Pikir




                      UPAH+INSENTIF                                                   MASA KERJA




                                                         PENINGKATAN
                                                             SDM




                                                        PRODUKTIVITAS
                                                          MENINGKAT


                         …………….
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………                                OUTPUT
                         ………………………                             MENINGKAT
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
         ket. : secara teori pemberian upah insentif terhadap karyawan dan lama masa kerja karyawan dapat meningkatkan
                         ………………………
                   produktivitas mereka sehingga output yang dapat dihasilkan juga meningkat.
2.6.     HIPOTESIS ………………………
                         ………………………
                         ………………………
           Dari latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis yang hendak diuji oleh penulis
adalah :
                         ………………………
                         ………………………
1. Pemberian insentif oleh perusahaan berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja bagian produksi.
                         ………………………
2. Masa kerja berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja bagian produksi.
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                         ………………………
                                    BAB III

                         METODE PENELITIAN



        Metode penelitian ini berguna untuk memberikan arahan kepada peneliti

dan akan memandu peneliti tentang bagaimana urut – urutan penelitian yang akan

dilakukan serta menjelaskan tentang tahap – tahap yang berkaitan dengan : ruang

lingkup penelitian, populasi dan sampel, data dan sumber data serta metode analisis

data.



3.1. RUANG LINGKUP PENELITIAN

       Daerah penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) di Pabrik Gula
Ngadirejo Kecamatan Kras di Kabupaten Daerah Tingkat II Kediri. Penentuan
daerah tersebut didasarkan pertimbangan bahwa Kabupaten Kediri merupakan
salah satu daerah potensial penghasil gula di Jawa Timur. Hal ini ditunjang
keberadaan tiga pabrik gula di daerah tersebut, yaitu Pabrik Gula Meritjan dan
Pabrik Gula Pesantren Baru yang terletak di daerah Kota Kediri, sedangkan Pabrik
Gula Ngadirejo di Kabupaten Kediri. Alasan mengapa latar belakang penelitian
dilakukan pada perusahaan yang bergerak pada sektor industri gula karena proses
produksi gula di Indonesia masih sangat tergantung pada kualitas sumber daya
manusia. Oleh karena alasan tersebut maka program – program yang berkaitan
dengan masalah peningkatan produktivitas karyawan sangat diperlukan terutama
karyawan bagian produksi.

3.2. POPULASI DAN SAMPEL

3.2.1. Populasi Penelitian

        Menurut Singarimbun dan Effendi (1989 : 152) “Populasi merupakan
jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri – cirinya akan diduga”. Dalam
penelitian ini populasi yang diambil adalah karyawan Pabrik Gula Ngadirejo
bagian produksi
3.2.2. Sampel Penelitian

         Sebuah sampel merupakan bagian dari suatu populasi keseluruhan yang

dipilih secara cermat agar mewakili populasi itu .Menurut Soeratno dan Arsyad

(1988 : 129) “Sampel adalah bagian yang menjadi obyek sesungguhnya dari suatu

penelitian”. Dalam pengambilan sampel perlu dipertimbangkan waktu, biaya dan

tenaga, sehingga tidak perlu dilakukan studi pada semua anggota populasi. Akan

tetapi sepanjang sampel yang digunakan porsinya cukup mewakili populasi, maka

penemuan dan kesimpulan yang diperoleh dari sampel tersebut dapat dikatakan

sah/ valid (Consuello, 1993 : 161).

         Sedangkan uraian mengenai besarnya sampel yang dapat diambil untuk

mendapatkan data yang representatif biasanya kurang lebih sebesar 10% dari

populasi. Beberapa peneliti menyatakan bahwa besarnya sampel minimum adalah

sebesar 5% dari jumlah satuan elementer populasi (Singarimbun dan Effendi 1989

:150).

          Berdasarkan pendapat di atas maka dalam penelitian ini besar sampel yang

digunakan berdasarkan pertimbangan presisi, tenaga dan biaya adalah sebesar 50

orang. Sedangkan teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple

random sampling, dalam metode ini tiap unit satuan elementer dalam populasi

memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.



3.3. DATA DAN SUMBER DATA
3.3.1. Jenis Data

      Data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder.
1. Data Primer

   Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber yang diamati dan

   dicatat untuk pertama kalinya melalui pengamatan terhadap obyek. Dalam hal

   ini data primer diperoleh melalui kuisioner dimana sampel dihubungkan

   melalui daftar pertanyaan tertulis.

2. Data Sekunder

   Data sekunder adalah data yang berasal dari laporan atau catatan arsip–arsip

   yang terdapat dalam perusahaan yang dapat mendukung data primer, misalnya

   bagan struktur organisasi dan bagan proses produksi perusahaan.

3.3.2. Teknik Pengumpulan dan Sumber Data

        Dalam suatu penelitian, pengumpulan data merupakan prosedur yang
sistematis untuk memperoleh data yang diperlukan yang kemudian akan dianalisa
lebih lanjut. Dalam penelitian ini sumber data diperoleh melalui :
1. Library Research

   Yaitu cara mengumpulkan data yang diperoleh dengan jalan mengambil bahan–

   bahan yang ada pada literatur–literatur dimana penulis mengambil teori – teori

   yang ada hubungannya dengan permasalahan yang dibahas.

2. Field Research

   Yaitu suatu cara yang diperlukan untuk memperoleh data dengan jalan

   mengadakan penyelidikan atau pengamatan terhadap suatu obyek langsung atau

   keadaan lokasi yang sesungguhnya.
   Sedangkan instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

adalah:

a. Metode Interview

   Interview merupakan suatu proses pengumpulan data, dimana dilaksanakan

   dengan wawancara atau tanya jawab secara langsung dengan pimpinan

   perusahaan atau karyawan yang berwenang dalam bidangnya.

b. Metode Observasi

   Observasi merupakan pengamatan yang memerlukan kecermatan. Dalam

   penelitian ini penulis secara langsung mengamati obyek yang menjadi

   sasaran penelitian

c. Metode Dokumentasi

   Yaitu dengan mempelajari atau menggunakan catatan – catatan yang ada

   hubungannya dengan masalah yang diteliti pada perusahaan yang

   bersangkutan.

d. Kuisioner

   Yaitu seperangkat pertanyaan yang disusun oleh peneliti untuk diisi oleh

   responden yang berbentuk pertanyaan tertulis. Dalam penelitian ini,

   kuisioner   dilakukan     secara   tertutup,    yaitu     dengan     memberikan

   kemungkinan     jawaban     yang   sudah       ada,     dimana     pengukurannya

   menggunakan nilai skor. Sedangkan untuk mengukur variabel dalam

   penelitian ini digunakan alat bantu yaitu Skala Likert. Dalam Skala Likert
       ini sejumlah pertanyaan disusun dengan jawaban responden berada dalam

       satu kontinum dan diberi bobot nilai antara satu sampai lima.



3.4. METODE ANALISIS DATA

        Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat
kuantitatif, yaitu analisa yang bermaksud menggambarkan variabel yang ada
dengan menggunakan uji statistik dan uji ekonometrik. Untuk mendukung
penelitian ini digunakan metode studi kasus. Dalam hal ini penulis akan
mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan dari obyek
yang diteliti.

3.4.1. Variabel Yang Diteliti

       Variabel merupakan sesuatu yang memiliki variasi nilai. Sedangkan

variabel – variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah : (Singarimbun

dan Effendi 1989 : 33)

1. Variabel independent atau variabel bebas, merupakan variabel yang terjadi

   pertama dari segi waktu atau sebab yang diperkirakan. Variabel – variabel

   bebas yang digunakan dalam penelitian ini terjadi dari :

   a) Insentif, yaitu besarnya insentif yang diterima karyawan per bulan

   b) Masa kerja, yaitu pengalaman kerja karyawan sejak ia mulai bekerja pada

       Pabrik Gula Ngadirejo. Jadi masa kerja dari bidang yang ditekuni selama

       ini (dalam hal ini sebagai karyawan bagian produksi)

   2. Variabel dependent atau variabel terikat, merupakan variabel yang terjadi
   kemudian atau akibat yang diperkirakan, dalam hal ini adalah produktivitas
   kerja, dimana indikator yang digunakan adalah besarnya penghasilan karyawan
   (upah + insentif) dan kuantitas produksi.
3.4.2. Model dan Teknik Analisis Data

        Model dan teknik analisis data digunakan untuk mengetahui nilai dari hasil

penelitian yang telah dilakukan. Untuk memperoleh nilai dari penelitian ini maka

peneliti menggunakan analisis linier berganda, dimana sebuah variabel terikat

dipengaruhi oleh dua variabel bebas.



   Y = a + b1 X1 + b2 X2

   Y = Produktivitas kerja

   A = Konstanta

   X1 = Upah insentif

   X2 = Masa kerja

3.4.2.1.Uji statistik

        Pendekatan yang dilakukan dalam pengujian variable – variable yang
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan adalah dengan uji signifikasi. Uji
siknifikasi secara umum merupakan suatu prosedur untuk memeriksa benar atau
tidaknya suatu hipotesis. Adapun uji hipotesis yang digunakan adalah :
1. Uji F

       Uji F bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya peranan variabel bebas
terhadap variabel tidak bebas secara bersama-sama.
    H0 :  = 0 : seluruh variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel

                        tidak   bebas.

   H1     : 0 :         seluruh variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel

                        tidak bebas.
Pengukuran yang dilakukan adalah dengan membandingkan antara Fhitung dengan

Ftabel

            Bila Fhitung < Ftabel = maka H0 diterima dan H1 ditolak

            Bila Fhitung > Ftabel = maka H0 ditolak dan H1 diterima

2. Uji t

       Uji t digunakan untuk menguji hubungan regresi secara parsial/ terpisah.
Pengujian dilakukan untuk melihat kuat tidaknya pengaruh masing-masing variabel
bebas secara terpisah terhadap variabel tidak bebas. Pengujian dilakukan dengan
membandingkan antara t hitung dengan t tabel.
        Bila thitung < ttabel = maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya tidak ada

             pengaruhnya antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas.

            Bila thitung > ttabel = maka H0 ditolak dan H1 diterima, ini berarti

             variabel bebas berpengaruh terhadap veariabel tidak bebas.

3. Uji Koefisien Detetrminasi ( R2)

         Uji ini untuk mengukur proporsi (bagian) atau prosentase total variasi

dalam variable tak bebas (Y) yang dijelaskan oleh variable yang menjelaskan (X1

dan X2) atau model regresi. Dalam beberapa model biasanya perhitungan r2 adalah

kurang dari 1 tetapi yang sering terjadi adalah R2 berada antara 0,2 sampai 0,8.(

Gujarati 1995 : 99)

3.4.2.2.Uji Asumsi Klasik

         Untuk mendapatkan nilai penaksir yang tidak bias dan efesien dari suatu

persamaan regresi linier berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square )
maka sebelum dilakukan analisis, hasil estimasi haruslah memenuhi syarat-syarat

asumsi klasik. Uji tersebut adalah :



1.Uji Autokorelasi

        Uji autokorelasi dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi

antara anggota observasi yang disusun menurut urutan waktu (jika datanya time

series) atau korelasi antar ruang (jika datanya cross section). Masalah autokorelasi

biasanya munculdalam data time series, tetapi tidak menutup kemungkinan akan

terjadi pada data cross section. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi pada

model dapat dilihat dari statistik Durbin Watson, dengan ketentuan sebagai berikut

:

       Jika hipotesis nol (H0) adalah tidak ada serial korelasi positif, maka jika :

        d < dL       : menolak H0

        d > dU        : tidak menolak H0

        dL  d  dU: pengujian tidak meyakinkan

       Jika hipotesis nol (H0) adalah tidak ada serial korelasi negatif, maka jika :

        d > 4-dL : menolak H0

        d < 4-dU     : tidak menolak H0

        4-dU  d 4-dL : pengujian tidak meyakinkan

       Jika H0 adalah dua ujung yaitu tidak ada serial autokorelasi baik positif

        maupun negatif, maka jika :
         d < dL : menolak H0

         d > 4-dL : menolak H0

         dL  d  dU : pengujian tidak meyakinkan

         4-dU  d  4-dL : pengujian tidak meyakinkan

Gambar 3.1 Statistik Durbin – Watson




           f(d)
                   Daerah          Daerah                                Daerah      Daerah

                   Korelasi        Ragu 2                                Ragu 2       Korelasi




               0              dL         dU             2           4-dU          4-dL           4

Sumber : Gujarati 1995: 216


2. Uji Multikolinearitas

    Uji multikolinieritas ini digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan linier yang sempurna atau mendekati

    sempurna diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi.


         Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinieritas dalam model regresi linier

dapat dilihat dengan cara meregresi X1 atau sisa variabel X dalam model dan

menghitung R2 yang cocok, biasa disebut R2*. Apabila R2 masih lebih besar dari

R2* maka tidak ada multikolinieritas dari model. Disamping itu dapat juga dilihat
dari hasil regresi, jika variable signifikan maka dapat dipastikan tidak terjadi

multikolinearitas. ( MODUL l : 31)



3. Uji Heteroskedastisitas

       Uji heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana masing-masing

kesalahan pengganggu mempunyai variabel yang berlainan. Uji heteroskedastisitas

dimaksudkan untuk menguji apakah varian dari kesalahan pengganggu tidak

konstan untuk semua nilai variabel bebas. Para ahli menyarankan beberapa metode

untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam model empiris, yaitu

dengan menggunakan uji Park (1966), uji Glejser (1969), uji Breusch – Pagan –

Godfrey. (MODUL l : 17). Dalam penelitian ini uji heteroskesdastisitas yang

digunakan adalah uji Glejser (uji white), yaitu dengan meregresikan nilai absolut

yang diperoleh yaituei atau variabel Xi.
                                    BAB IV
                    GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN



4.1. SEJARAH SINGKAT PABRIK GULA NGADIREJO KEDIRI

       Pabrik Gula Ngadirejo Kediri merupakan salah satu pabrik gula yang pada

mulanya dirintis oleh perusahaan swasta milik Belanda yaitu Naamloze

Vennootschaf (N.F.) Handels Vereneging       Amsterdam (H.V.A.) tahun 1912.

Perusahaan ini dikuasai Jepang pada saat menjajah selama tiga tahun di Indonesia

dan pada perebutan kemerdekaan Republik Indonesia menjadi Perusahaan

Perkebunan Negara ( P.P.N).

       Pada mulanya Pabrik Gula Ngadirejo Kediri terdiri dari Pabrik Gula

Ngadirejo ditambah dengan Perusahaan Serat (Vezelonderneming) Jengkol.

Dengan demikian riwayat singkat ini meliputi kedua perusahaan tersebut.

       Perkebunan Jengkol didirikan pada tahun 1928 oleh Naaloze Vennootscha

(N.V.) dengan tujuan mengusahakan tanaman topioka dan serat.

       Perang kemerdakaan II menjadikan Pabrik Gula Ngadirejo dan Perkebunan

Jengkol jatuh kembali ketangan Belanda. Kemudian dalam aksi pembebasan Irian

Jaya    ( akhir tahun 1957) perusahaan ini diambil alih lagi oleh Pemerintah

Republik Indonesia dan diganti menjadi Perusahaan Perkebunan Negara Baru.

Berdasar pada peraturan pemerintah no.166 / 1961 tanggal 26 April 1961 Pabrik

Gula Ngadirejo masuk dalam kesatuan dua yang berbadan hukum sendiri.
       Akhir tahun 1961 Pabrik Gula Ngadirejo Kediri menerima penggabungan

dari perkebunan Jengkol ( bekas perkebunan serat milik N.V dan H.V.A) yang

pada saat itu areal perkebunan Jengkol dipecah menjadi dua wilayah kerja yaitu

sebagian areal tetap menjajadi wilayah kerja Pabrik gula Ngadirejo, yaitu di

Sumber Lumbu Kecamatan Ngancar.

       Pabrik Gula Ngadirejo sendiri didirikan pada tahun 1912 oleh NV.H.V.A

dan bekerja terus menerus, baik selama pendudukan Jepang maupun setelah

Proklamasi Kemerdakaan di bawah penguasaan Pemerintah Republik Indonesia,

C.Q. Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPGN).

       Seperti Perkebunan Jengkol, setelah Agresi Militer Belanda II, Pabrik Gula

Ngadirejo jatuh kembali ketangan Belanda. dalam rangka aksi Irian Barat (tahun

1970) Pabrik Gula Ngadirejo diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia

(PPN Baru) dengan tata susuann seperti perkebunan Jengkol.

       Setelah Peraturan Pemerintah no. 166 / 1961 tertanggal 26 April 1961 mulai

berlaku, maka Pabrik Gula Ngadirejo masuk dalam kesatuan II (karisidenan

Kediri)yang berbadan hukum sendiri. Sementara itu pada tahun 1961 Pabrik Gula

Ngadirejo menerima penggabungan dari Perkebunan Serat Jengkol.

       Tahun 1968 dengan keluarnya peraturan Pemerintah No.14 / 1968

(Lemabaran Negara No.3/ 1968) pasal 1 ayat 2, maka Pabrik Gula Ngadirejo

beralih ke Perusahaan Negara Perkebunan XXI-XXII.              Dalam Peraturan

Pemerintah no. 233/ 1973 (L.N. no. 29 tahun 1973) Pabrik Gula Ngadirejo dan
pabrik-pabrik gula di karisidenan Surabaya menjadi PTP XXI-XXII (PERSERO)

dengan modal seluruhnya dimiliki oleh negara dari kekayaan negara yang

dipisahklan.

       Pada perkembangan selanjuutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 15

/ 1996, PTP XXI-XXII (PERSERO) dilebur menjadi PTP IX dan PTP XXVII

menjadi PT. Perkebunan Nusantara X (PERSERO ) yang berkedudukan di Jalan

Jembatan Merah no. 3-5 Surabaya. Pabrik gula dan perusahaan milik perkebunan

yang bergabung dengan PTP Nuusantara X adalah :

           1. PG. Watoe Toelis                       7. PG. Krembong

           2. PG. Mojopanggong                       8. PG. Pesantren Baru

           3. PG. Tjoekir                            9. PG. Meritjan

           4. PG. Gempol Krep                       10. PG. Jombang Baru

           5. PG. Ngadirejo                          11. Rumah Sakit Gatoel

           6. Rumah Sakit Toeloengrejo

       Pada akhirnya Pabrik Gula Ngadirejo termasuk salah satu diantara jajaran

pabrik gula terbesar dilingkungan PT. Perkebunana Nusantara X (PERSERO).



4.2 LOKASI PERUSAHAAN

       Penentuan lokasi perusahaan atau lokasi pabrik merupakan faktor yang

sangat penting bagi efisiensi perusahaan atau pabrik. Pemilihan lokasi yang tepat,

akan sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan dan keuntungan yang
diperoleh bagi perusahaan tersebut. Pemilihan lokasi yang tepat bagi perusahaan

adalah pemilihan lokasi yangh dianggap paling baik dan paling menguntungkan

jika ditinjau dari segi pengadaan bahan baku, tenaga kerja, sumber energi lain,

masalah transportasi, pemasarannya dan sebagainya.

       Lokasi Pabrik Gula Ngadirejo terletak di km 14 dari Kota Kediri dan

kurang lebih 18 km dari Kabupaten Tulungagung, terletak di Desa Jambean –

Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pemilihan lokasi Pabrik Gula

Ngadirejo ini cukup strategis, karena lokasi tersebut didasarkan pada berbagai

faktor pertimbangan, yaitu:

   a. Bahan baku

   Lokasi Pabrik Gula Ngadirejo ini berada disekitar daerah penanaman tebu,

   sehingga untuk memenuhi bahan baku, Pabrik Gula Ngadirejo tidak mengalami

   kesulitan. Lokasi asal bahan baku Pabrik Gula Ngadirejo Kediri tersebar pada

   21 kecamatan antara lain Ngadiluwih, Kandat, Kras, Ngancar, Ponggok,

   Udanawu, Sumberlumbu, Nglegok, Sanan kulon, Kanigoro, Garum, Talun,

   Gandusari, Doko, Sutojayan, Wonotirto, Bakung, Panggungrejo, Binangan

   b. Transportasi

   Sarana transportasi merupakan masalah yang penting karena menyangkut

   kelancaran kegiatan operasional pabrik, misalnya penyediaan bahan baku

   maupun pemasaran hasil produksi. Lokasi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri
   terletak dipinggir jalan propinsi Kediri – Tulungagung atau Kediri – Blitar dan

   dekat dengan jalur kereta api.

   c. Tenaga kerja

   Tersedianya sumber daya manusia yang cukup meupakan faktor yang penting

   dalam menjalankan aktifitas operasional perusahaan. Lokasi Pabrik Gula

   Ngadirejo Kediri yang dekat dengan perumahan penduduk yang sebagian besar

   penduduknya tidak mempunyai lapangan kerja yang tetap, sehingga perusahaan

   dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja dengan merekrut

   penduduk sekitar menjadi karyawannya.

   d. Sumber energi

   Pabrik Gula Ngadirejo Kediri mempunyai turbin generator yang dapat

   menghasilkan tenaga listrik sebagai sumber energi di pabrik. Turbin tersebut

   digerakkan dengan tenaga air yang berasal dari aliran sungai Brantas yang

   berada disebelah barat lokasi pabrik kurang lebih 1 km.



4.3. KEGIATAN OPERASIONAL PERUSAHAAN

      Seperti pabrik gula pada umumnya, Pabrik Gula Ngadirejo Kediri

melakukan kegiatan produksi secara musiman. Musim giling terjadi sekitar 180

hari sampai 220 hari, yaitu antara bulan Mei sampai bulan Desember ( DMG =

Dalam Masa Giling )
        Ketika DMG pabrik bekerja selam 24 jam. Istirahat dilakukan apabila

terjadi kerusakan pada mesin atau ada perbaikan pada mesin – mesin pabrik.

Selebihnya         (bulan Januari sampai April ) adalah Luar Masa Giling ( LMG).

Pada masa ini pabrik mengadakan pembongkaran terhadap mesin – mesin dan

memperbaiki kerusakan yang mungkin terjadi, serta mempersiapkan untuk musim

giling selanjutnya.

4.3.1   Ketenagakerjaan

                 Secara garis besar tenaga kerja yang ada di Pabrik Gula Ngadirejo

        dibagi menjadi dua, yaitu tenaga kerja pimpinan (staf) dan tenaga kerja

        operasional (karyawan pelaksana). Tenaga kerja pimpinan adalah orang

        yang menduduki posisi manajer atau staff serta kepala bagian. Sedangkan

        karyawan pelaksana adalah orang-orang yang melaksanakan pekerjaan

        sebagaimana yang diperintahkan kepadanya.

                 Pekerja di perusahaan ini menurut sifat ketenagakerjaannya dibagi

        atas :

             1. Pekerja tetap

                 Pekerja yang sifat hubungannya dengan perusahaan untuk waktu

                 yang tidak tentu atau lama hubungan kerjanya tidak ditentukan batas

                 waktu.

             2. Pekerja tidak tetap
Yang termasuk dalam pekerja tidak tetap dalam perusahaan ini

adalah :

 Pekerja musiman (borongan) tanaman. Melaksanakan pekerjaan

   dari permulaan pembukaan tanah, penanaman, perawatan hingga

   siap tebang.

 Pekerja musiman tebang. Pekerja yang melakukan pekerjaan

   sejak tebu ditebang hingga siap dianggkut.

 Pekerja musiman lain-lain. Pekerjaan yang tidak mempunyai

   hubungan secara langsung dengan pengilingan tebu, seperti

   misalnya pembersihan tebu antar timbangan dan gilingan di rel -

   ban dan di emplasemen, tenaga administrasi untuk keperluan

   TRI. Tenaga kerja ini meliputi :

   1. Pekerja kampanye keliling

       Pekerja yang melaksanakan pekerjaan di pabrik sampai

       dengan pengangkutan gula di atas alat pengangkut.

   2. Pekerja harian lepas

       Pekerja yang melakukan pekerjaan yang bersifat insidentil

       menurut kebutuhan perusahaan.

   3. Pekerja borongan

       Pekerja     yang   melaksanakan   pekerjaan   yang   bersifat

       diborong.
4.3.2.   Proses Produksi

                Sebagai salah satu dari unit produksi PTPN X (PERSERO), Pabrik

         Gula Ngadirejo Kediri memproduksi gula pasir. Bahan dasar pembuatan

         gula pasir adalah batang tanaman tebu yang banyak mengandung cairan

         yang berisi gula. Beberapa jenis gula yang terkandung adalah akarosa

         (sukrosa), fruktosa, glukosa dan lain-lain. Sakarosa yang terdapat dalam

         batang tanaman tebu dibentuk melalui proses fotosintesa oleh jasad hidup

         dengan bantuan foton (sinar matahari).

                Cara pengolahan batang tanaman tebu menjadi gula pasir dalam

         prosesnya melalui beberapa stasiun, yaitu :

         1. Stasiun Gilingan

                    Stasiun gilingan berfungsi untuk mengeluarkan gula dalam

            bentuk cairan (nira) dari tebu semaksimal mungkin dan meminimalkan

            hilangnya kadar gula yang terikut dalam ampas. Untuk maksud tersebut

            dilakukan pengenceran atau imbibisi agar zat kering terlarut yang ada

            pada ampas dapat terserap, sehingga diharapkan ampas gilingan akhir

            ditekan serendah mungkin.

                    Pada stasiun gilingan terjadi proses gilingan. Tebu dari kebun

            diangkut trruk atau lori. Sebelum masuk gilingan, tebu ditimbang

            terlebih dulu sehingga dapat diketahui jumlah yang akan digiling di
   pabrik pada setiap harinya. Tebu yang sudah ditimbang diatur

   penempatannya di halaman pabrik untuk menunggu gilirannya digiling.

          Dari halaman pabrik dengan menggunakan lokomotif, tebu yang

   ada di lori didekatkan ke meja tebu dan dipindahkan kealat pengangkut

   tebu yang kemudian diatur pada meja tebu dan dijatuhkan pada krepyak

   tebu. Dengan krepyak tebu I ini tebu dibawa ke alat preparasi untuk

   disayat, dipotong-potong dan dilumatkan sehingga muda diperas.

          Tebu diperas sebanyak lima kali sehingga dihasilkan nira

   semaksimal mungkin. Nira tersebut kemudian masuk dalam stasiun

   pemurnian.

2. Stasiun Tengah

          Stasiun tengah dibagi lagi menjadi beberapa stasiun yang

   melaksanakn pengolahan nira, yaitu :

   a. Stasiun Pemurnian

             Tujuan dari stasiun pemurnian adalah untuk menghilangkan

      atau membuang bahan-bahan kotoran yang terlarut dalam nira

      secara kimia dan fisika.

             Bahan-bahan kotoran yang ada berupa tanah, lemak, zat

      warna, zat asam, protein dan bahan kotoran lainnya, sehingga nira

      yang dihasilkan dari stasiun gilingan berwarna coklat kehijauan.

      Oleh karenanya pembersihan ini sangat penting untuk mendapatkan
      hasil akhir berupa gula dengan kualitas yang baik dan juga tidak

      membuat      kesulitan   pada     proses   selanjutnya.   Pemurnian

      dilaksanakan dengan cara sulfitasi, yaitu dengan menggunakan

      bahan pembantu berupa kapur tohor dalam bentuk susu kapur dan

      belerang.

   b. Stasiun Penguapan

              Dari hasil pemurnian didapatkan nira yang masih encer,

      banyak mengandung air. Untuk mendapatkan gula yang murni

      dalam bentuk kristal maka air harus diuapkan. Pada stasiun

      penguapan ini, proses penguapan menggunakan tenaga dari molekul

      penyusun bahan cair agar dapat berubah menjadi molekul gas.

      Proses tersebut dilakukan dalam ruang hampa, agar bisa berjalan

      dengan cepat serta menghemat kebutuhan panas.

   c. Proses Kristalisasi

              Proses kristalisasi merupakan salah satu langkah dalam

      proses produksi gula. Dalam proses ini larutan yang mengandung

      sakarosa diolah untuk membuat gula dari larutan tersebut, serta

      memisahkan kotoran yang masih terkandung di dalamnya. Untuk

      mencapai tujuan tersebut, maka kondisi proses dimana sakarosa

      dikristalkan sangat menentukan.

3. Stasiun Pemutaran
              Tujuan dari pemutaran ini adalah untuk memisahkan kristal

   dari larutannya (stroop). Kristal yang didapat semula masih dalam

   keadaan basah sehingga masih perlu pengeringan sekaligus untuk

   memisahkan antara kristal halus, kasar dan kristal produk.

              Kristal halus dan kristal kasar dapat dilebur kembali untuk

   kemudian disaring lagi. Hal ini dapat dilakukan berulang kali, sampai

   akhirnya kristal halus dan kristal kasar benar – benar sedikit. Sedangkan

   kristal produk diturunkan, dikemas dan selanjutnga dimasukkan dalam

   gudang.

4. Stasiun Penyelesaian

              Stasiun penyelesaian adalah perlakuan terhadap gula produk

   yang keluar dari pemutaran terakhir sebelum disimpan dalam gudang.

   Dalam stasiun penyelesaian terdapat dua tahap,penyelesaian, yaitu

   pendingan dan terakhir penggudangan.

              Penempatan gula dalam gudang diatur secara kapling untuk

   memudahkan kontrol atau perhitungan. Tumpukan karung antara

   lapisan atasnya diatur berselang seling agar tumpukan gula tidak mudah

   roboh.

              Setelah semua gula sudah dalam pengepakan dan disimpan

   dalam gudang penyimpanan, maka gula – gula tersebut siap untuk
          dikirim kepusat dan dijual sesai dengan harga yang telah dittetapkan

          oleh pusat.




Gambar 4.1. Proses produksi gula PG. Ngadirejo Kediri



 TEBU A
                                                               KAPUR dan
 TEBU B                 Ditimbang dan      St. gilingan          NIRA
                         dipisahkan
 TEBU C


                                         St. tengah
                                            Pemurnian
                                            Penguapan
                                            Kristalisasi




                                          St. pemutaran




                                        St. penyelesaian
          Siap dijual                      Pendinginan
                                           Penggudangan
4.3.3. Hasil Produksi

               Adapun yang dihasilkan oleh Pabrik Gula Ngadirejo ada dua

       macam, yaitu :

           1. Hasil produksi utama yaitu gula ( SHS=Superior Head Sugar)

               kualitas I – A.

           2. Hasil produksi sampingan yaitu ampas dan tetes tebu.



4.4. STRUKTUR ORGANISASI

       Struktur organisasi pada Pabrik Gula Ngadirejo      Kediri berbentuk line

organization/ organisasi garis, yaitu suatu bentuk dimana kekuasaan dan tanggung

jawab berjalan secara garis lurus dari atas sampai bawah. Tiap-tiap kepala bagian

memegang kekuasaan dan tanggung jawab secara langsung kepada atasannya.

       Administratur merupakan pimpinan tertinggi pada pabrik gula ini. Dalam

menjalankan tugasnya, administratur dibantu oleh empat kepala bagian, yaitu :

    1. Bagian Agronomi (Tanaman)

    2. Bagian Pabrikasi

    3. Bagian Instalasi

    4. Bagian Administrasi, Keuangan dan Umum

   Adapun pembagian tugas (job deskription) untuk masing-masing bagian adalah

sebagai berikut :
1. Tugas Administratur :

a) Melaksanakan tata kerja dan prosedur yang telah disetujui oleh direksi.

b) Membuat dan melaksanakan kegiatannya secara bekerjasama dengan

   masing-masing kepala bagian.

c) Melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan dari berbagai bidang dalam

   pabrik.

d) Memelihara dan mempertahankan mutu yang tertinggi dari tiap bidang

   dalam pelaksanaan pekerjaan.

e) Mengkoordinir penyusunan RAB (Rencana Anggaran Belanja) agar tepat

   isinya dan waktu penyelesaiannya.

f) Mengendalikan cash – flow yang telah disetujui direksi seefisien mungkin.

g) Melaporkan kepada direksi persoalan-persoalan yang mengganggu kegiatan

   dalam pabrik secara keseluruhan.

h) Mewakili pabrik atau perusahaan dalam perundingan dengan serikat

   pekerja.

i) Mengusulkan kenaikan gaji, kenaikan pangkat yang sesuai dengan policy

   yang telah ditetapkan perusahaan.

j) Memelihara dan mempertahankan tingkat moral karyawan yang tinggi,

   memperhatikan persoalan – persoalan perburuhan.

k) Mengurus dan berusaha supaya semua fasilitas – fasilitas dan kekayaan

   perusahaan dipelihara dan dijaga sebagaimana mestinya.
2. Tugas Kepala Bagian Agronomi

a) Memantau pemasukan dan pengeluaran bahan baku tebu dengan cara

   meninjau langsung ke lapangan (areal tebu).

b) Membuat rencana kegiatan-kegiatan secara terperinci mengenai masa tanam

   tebu.

c) Melaporkan kepada Administratur persoalan – persaolan yang mengganggu

   kegiatan dalam kesulitan mengenai bahan baku secara keseluruhan.

d) Meninjau dan mengawasi secara berkala pelaksanaan kerja daripada

   karyawan dan mengusulkan kenaikan upah, pangkat, pemberhentian

   sementara atau pemecatan bila dipandang perlu.

e) Menyusun rencana produksi tebu jangka pendek maupun jangka panjang

   dan areal yang diperlukan untuk itu.

f) Mengkoordinir penyusunan RAB Bagian Tanaman.

g) Berusaha supaya semua areal tanam bertambah luas dan tidak mengalami

   gangguan cuaca.

h) Menyiapkan dan menyampaikan laporan – laporan sesuai dengan ketentuan

   direksi.

3. Tugas-tugas Bagian Pabrikasi

a) Menyusun rencana kerja dan RAB bagian pabrikasi.

b) Melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan RAB yang

   telah disetujui.
c) Melaksanakan tercapainya kesempurnaan pemrosesan tebu menjadi gula

   dengan standar kualitas dan kuantitas yang telah ditentukan.

d) Memelihara kelestarian bagian-bagian pabrikasi agar dapat dipakai kembali

   untuk masa berikutnya.

e) Mengendalikan biaya agar tidak terjadi kebocoran dan atau pemborosan.

f) Meningkatkan dan menjaga kerjasama dengan seluruh bagian pabrik dan

   kantor direksi, instasi luar yang berhubungan kerja dan masyarakat umum.

4. Tugas-tugas Bagian Instalasi

a) Menyusun rencana kerja dan RAB bagian instalasi.

b) Melaksankan dan mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan RAB yang

    telah disetujui

c) Mempersiapkan teknis instalasi agar siap pakai pada saat buka giling.

d) Memberikan sebaik mungkin pelayanan permintaan kebutuhan dari seluruh

    pabrik terhadap bagian-bagian di bawah naungan instalasi.

e) Menjaga kelestarian bagian-bagian instalasi agar dapat dipakai kembali

    untuk tahun berikutnya.

f) Melaksanakan tercapainya kesempurnaan kelancaran teknis instalasi

    sehingga terpenuhi target hasil produksi baik kualitas maupun kuantitas.

5. Tugas-tugas Kepala Bagian Administrasi , Keuangan dan Umum

a) Menjamin agar RAB dapat diselesaikan sesuai dengan instruksi dan jadwal

   yang telah ditentukan oleh Direksi.
    b) Menjamin penyediaan modal kerja bagi bagian-bagian di P.G. sesuai jadwal

          dan jumlah yang telah disetujui oleh Direksi.

    c) Mengendalikan realisasi RAB dengan penyimpangan seminimal mungkin.

    d) Mengarahkan dan menjamin pembukuan P.G. secara teliti dan tepat agar

          laporan-laporan keuangan dapat diampaikan tepat pada waktunya.

    e) Memelihara disiplin, semangat dan kemampuan kerja dari seluruh korps

          karyawan P.G. dalam batas-batas kemampuan perusahaan.

    f)    Mengawasi kegiatan organisasi non dinas yang bekerja di bawah

          bimbingan P.G. agar tidak bertentangan dengan kebijakan yang telah

          ditetapkan direksi.



4.4. PRODUKSI DAN HASIL PRODUKSI

4.5.1. Bahan baku yang digunakan

          Dalam memproduksi gula, Pabrik Gula Ngadirejo Kediri seperti pabrik-

pabrik gula yang lain menggunakan bahan baku tebu. Dalam masa giling jumlah

tebu yang dibutuhkan Pabrik Gula Ngadirejo Kediri sebanyak           tiap harinya.

Disamping menggunakan bahan baku tebu, juga menggunakan bahan pembantu,

yaitu :

    a) Kapur, digunakan untuk meningkatkan pH nira supaya kotoran nira dapat

          mengendap.
   b) Belerang, digunakan untuk menurunkan pH nira agar kembali normal dan

       supaya nira dapat menggumpal.



4.5.2. Mesin dan alat yang digunakan

       Setiap pabrik gula mempunyai kethel yang digunakan untuk pembangkit

listrik menggunakan tenaga uap. Demikian juag pada Pabrik Gula Ngadirejo

Kediri. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat biaya dibandingkan jika

menggunakan listrik dari PLN.



4.5.3. Proses Produksi

       Proses produksi adalah segala kegiatan perusahaan dalam memproduksi

barang, mulai dari bahan mentah menjadi barang jadi. Secara garis besar proses

roduksi yang dilakukan oleh perusahaan pabrik gula melalui beberapa tahap

sebagai berikut :

   1) Proses Timbangan;

   2) Proses Gilingan;

   3) Proses Pemurnian;    Penguapan;    Pemasakan;   Pendingan; (dalam satu

       stasiun)

   4) Proses Putaran;

   5) Penggudangan dan Penyimpanan;

4.5.4. Hasil Produksi
       Disamping gula, Pabrik Gula Ngadirejo Kediri menghasilakan tetes tebu

yang dapat dijual dan digunakan sebagai bahan pembuat alkohal maupun bumbu

masak. Jumlah produksi yang dapat dihasilkan Pabrik Gula Ngadirejo tiap harinya



4.6. ORGANISASI DAN PERSONALIA

4.6.1. Jumlah dan Kualitas Karyawan

       Jumlah karyawan Pabrik Gula Ngadirejo Kediri pada tahun giling 2001-

2002 berjumlah 1228 orang terdiri dari pria dan wanita dan terbagi dalam dua

bagian, yaitu :

   1) Karyawan tetap sebanyak 574 orang terdiri dari :

   Tabel 4.1. Jumlah Karyawan Tetap

                    BAGIAN                    JUMLAH KARYAWAN

                    Administrasi                      113
                    Tanaman                            164
                    Tebang angkut                       27
                    Instalasi/ pabrik                 195
                    Pengelolas/ proses                  14
                    Kendaraan                           49
                    Traktor                             12
                    Total                             574
                  Sumber : Pabrik Gula Ngadirejo – Kediri, 2002



   2) Karyawan musiman sebanyak 654 orang, terdiri dari :
      Tabel 4.2. Jumlah Karyawan Musiman

                   BAGIAN                   JUMLAH KARYAWAN

                   Administrasi                       27
                   Tanaman                            60
                   Tebang angkut                      91
                   Instalasi/ pabrik                 205
                   Pengelolas/ proses                271
                   Total                             654

               Sumber : Pabrik Gula Ngadirejo – Kedri, 2002

        Data kualitas karyawan non staff ditinjau dari pendidikan pada Pabrik

Gula Ngadirejo Kediri berpendidiakn SD, SMP dan SMA. Sedangkan bagian staf

lulusan Akademi dan Perguruan Tinggi.

4.6.2. Jam Kerja

        Jam kerja pada Pabrik Gula Ngadirejo Kediri adalah :

          1.   Hari Senin – Kamis
               Masuk mulai jam 07.00 – 12.00 WIB
                               Jam 13.00 – 15.00 WIB
          2. Hari Jumat
               Masuk mulai jam 06.00 – 11.00 WIB
                              Jam 13.00 – 15.00 WIB
          3. Hari Sabtu
               Masuk mulai jam 06.30 – 11.30 WIB
4.6.3. Upah dan Sistem Penggajian
        Upah dan gaji karyawan di Pabrik Gula Ngadirejo Kediri yang paling

rendah disesuaikan dengan upah minimum pada Kabupaten Kediri, sebesar

Rp. 380.000 dan yang lainnya disesuaikan dengan jabatan dan golongan.

4.6.4. Tunjangan Karyawan

        Disamping upah, Pabrik Gula Ngadirejo Kediri memberikan tunjangan –

tunjangan atau santunan kepada karyawan yang antara lain :

    a) Tunjangan kesehatan

       Bagi karyawan Pabrik Gula Ngadirejo yang sakit atau ingin berobat, selaku

       di bawah naungan PTPN X, karyawan dapat berobat ke Rumah Sakit

       Toeloengrejo Pare tanpa dikenakan biaya bagi yang staff, sedangkan non

       staff akan mendapat keringanan biaya.

    b) Tunjangan Hari Raya

       Tunjangan hari raya ini diberikan kepada karyawan dengan ketentuan THR

       diberikan sekali dalam setahun.

    c) Tunjangan sosial seperti :

       Seperti juga pabrik gula lain, para karyawan juga mendapat tunjangan –

       tunjangan sosial, seperti :

            Sewa rumah

            Listrik

            Air

            Bahan bakar
           T. pajak penghasilan

           Jamsostek

           Dapenbun perusahaan

4.6.5. Tujuan Perusahaan

        Tujuan merupakan arah yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan.

Disamping itu tujuan merupakan tolak ukur keberhasilan dari pelaksanaan

kebijaksanaan perusahaan. Pabrik Gula Ngadirejo Kediri dalam keberadaannya

mempunyai dua tujuan yang utama, yaitu :

   a. Tujuan jangka pendek, yaitu memenuhi target yang telah dianggarkan pada

      Rencana Anggaran Belanja.

   b. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk memenuhi kebutuhan gula

      nasional, sehingga diharapkan tidak ada lagi gula impor.
                                   BAB V

                              PEMBAHASAN



5.1. GAMBARAN UMUM RESPONDEN

       Sebelum memasuki pokok pembahasan lebih lanjut, terlebih dulu dijelaskan
pada penelitian, ini penulis menggunakan sampel karyawan Pabrik Gula Ngadirejo
Kediri bagian produksi yang meliputi bagian produksi yang meliputi bagian
gilingan, pemurnian, penguapan maupun putaran pada perusahaan Pabrik Gula
Ngadirejo Kediri.
        Untuk mengetahui lebih jelas gambaran responden tersebut, berikut ini
akan dijelaskan identitas responden menurut usia dan tingkat pendidikan.



Tabel 5.1. Jumlah Responden Dilihat Dari Usia
           Usia                     Jumlah                  Persentase (%)
       < 20 tahun                       -                           0
      20 – 24 tahun                     7                          14
      25 – 39 tahun                     8                          16
      30 – 34 tahun                    11                          22
      35 – 39 tahun                    15                          30
      40 – 44 tahun                     8                          16
        > 44 tahun                      1                           2

           Total                       50                         100
Sumber data Primer (diolah)

   Pada tabel 5.1. menunjukan bahwa sebagian besar responden (30 %) berusia
   antara 35 – 39 tahun. Untuk responden yang berusia di atas 44 tahun hanya 2
   responden, hal ini cukup masuk akal dikarenakan karyawan bagian produksi
   yang berusia diatas 40 tahun biasanya dipindahkan dibagian “kantor”.
    Tabel 5.2. Jumlah Responden Dilihat Dari Tingkat Pendidikan
        Pendidikan                  Jumlah                Persentase (%)

 Tamat SD                              2                         4
 Tamat SMP                            13                        26
 Tamat SMA                            31                        62
 Tamat perguruan tinggi                4                         8

           Total                      50                        100
Sumber : Data Primer ( diolah)

        Pada Tabel 5.2. menunjukkan bahwa sebagian besar responden tamat SMA,
yaitu sebesar 31 atau 62 %, kemudian berturut – turut SMP (26%), Perguruan
tinggi (8%) dan yang terakhir tamat SD (4%).

5.2.HASIL PENELITIAN

5.2.1. Hasil Distribusi Item

       Pada bagian ini ditunjukkan distribusi item masing-masing variabel dari
jawaban responden secara keseluhran, baik jumlah responden (orang) maupun
prosentase.
a. Variabel Upah Insentiv ( X1)

Tabel 5.3. Distribusi Item Upah Insentif (X1)
Item                     Keterangan                          Jumlah
                                                        Orang Prosentase
X1.1   Selain upah yang diterima, apakah karyawan
       menerima insentif
           a. selalu                              12           24
           b. sering                              0            0
           c. kadang-kadang                       38           76
           d. hampir tidak pernah                 0            0
           e. tidak pernah                        0            0


       Jumlah                                          50      100
X1.2   Apakah ada manfaat program insentif yang
       diberikan oleh perusahaan
           a. sangat bermanfaat                        18      36
           b. bermanfaat                               21      42
           c. cukup bermanfaat                         11      22
           d. kurang bermanfaat                        0       0
           e. tidak nbermanfaat                        0       0
       Jumlah                                          50      100
X1.3   Upah insentif yang diterima sesuai dengan
       ketentuan yang ditetapkan perusahaan
           a. selalu sesuai                            0       0
           b. sesuai                                   33      66
           c. kadang-kadang sesuai                     17      34
           d. hampir tidak pernah sesuai               0       0
           e. tidak pernah sesuai                      0       0
       Jumlah                                          50      100
X1.4   Berapa jumlah insentif yang diterima anda
           a. > Rp 300.000                             3       6
           b. Rp 250.000 – Rp 300.000                  18      36
           c. Rp 200.000 – Rp 250.000                  6       12
           d. Rp 150.000 – Rp 200.000                  11      22
           e. < Rp 150.000                             12      24

       Jumlah                                           50     100
X1.5   Apakah insentif yang anda terima dapat menunjang
       hidup sehari-hari
          a. sangat menunjang                           6      12
          b. menunjang                                  17     34
          c. cukup menunjang                            17     34
          d. kurang menunjang                           10     20
          e. tidak menunjang                            0      0
       Jumlah                                           50     100
        Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa item intensitas mendapat upah

insentif (X1.1) ternyata jawaban terbanyak adalah kadang-kadang yaitu sebesar

76% atau 38 responden. Pada item manfaat insentif (X1.2) 21 orang responden atau

42% memberi jawaban bahwa upah insentif bermanfaat basgi karyawan. Untuk

itam (X1.3) yaitu kesesuaian insentif dengan ketentuan perusahaan, jawaban

terbanyak adalah “ sesuai “ sebanyak 33 orang atau 66% dari responden. Kemudian

untuk jawaban responden mengenai apakah insentif tersebut dapat menunjang

pemenuhan kebutuhan sehari-hari sekitar 17 atau 34%          orang    menjawab

menunjang dan cukup menunjang. Dari tabel diatas juga dapat kita lihat bahwa

sebagian besar responden, yaitu 18 orang atau 36% menerima insentif sebesar Rp

250.000 – Rp 300.000.

b. Variabel Masa Kerja (X2)

Tebel 5.4. Distribusi Item Variabel Maasa Kerja (X2)

 Item                      Keterangan                            Jumlah
                                                            Orang Prosentase
 X2.1   Sudah berapa lama anda bekerja pada Pabrik Gula
        Ngadirejo
           a. > 20 tahun                                   37        74
           b. antara 15 – 20 tahun                         3         6
           c. antara 10 – 15 tahun                         5         10
           d. antara 5 – 10 tahun                          4         8
           e. antara 1 – 5 tahun                           1         2
        Jumlah                                             50        100
 X2.2   Apakah yang mendorong anda bekerja pada Pabrik
        Gula Ngadirejo
           a. status dan upah                              0         0
           b. tanggungan keluarga                          27        54
           c. upah                                         0         0
            d. pekerjaan                                   23        46
            e. status                                      0         0
        Jumlah                                             50        100
 X2.3   Apakah jumlah produksi gula yang anda hasilkan
        meningakat dibandingkan dengan hari-hari
        sebelumnya                                         4         8
            a. selalu meningkat                            31        62
            b. meningkat                                   15        30
            c. kadang-kadang meningkat                     0         0
            d. hampir tidak pernah meningkat               0         0
            e. tidak pernah meningkat
        Jumlah                                             50        100
 X2.4   Apakah penghasilan anda mengalami peningkatan
        sejak bekerja pada Pabrik Gula Ngadirejo
            a. selalu meningkat                            10        20
            b. meningkat                                   37        74
            c. kadang – kadang meningkat                   3         6
            d. hampir tidak pernah meningkat               0         0
            e. tidak pernah meningkat                      0         0
        Jumlah                                             50        100


        Pada tabel di atas menjelaskan tentang masa kerja karyawan (X2) dimana

pada item pengalaman kerja yang ditekuni (X2.1) sebagian besar responden telah

bekerja lebih dari 20 tahun sebanyak 37 responden atau secara prosentase sebesar

74%. Untuk motivasi kerja karyawan pabrik gula ngadirejo Kediri (X2.2) ternyata

jawaban yang terbanyak adalah karena alasan tanggungan keluarga (sebanyak 27

responden atau 54%). Motivasi bekerja karyawan bagian produksi Pabrik Gula

Ngadirejo Kediri ternyata mendorong peningkatan kualaitas produksi yang mereka

hasilkan (X2.3) dimana 31 responden atau 62% menjawab bahwa jumlah gula yang

mereka hasilkan meningkat. Pada item peningkatan penghasilan (X2.4) ternyata

sebagian besar responden menjawab meningkat (37 responden atau 74%). Hal ini
dapat disebabkan karena semakin lama mereka bekerja maka tingkat keterampilan

dan keahlian mereka (menjalankan mesin – mesin) meningkat sehingga nantinya

akan berpengaruh kepada kuantitas produksi gula yang akhirnya juga akan

meningkatkan penghasilan mereka.

c. Variabel Prduktivitas Kerja (Y)

Tabel 5.5. Disribusi Item Variabel Produktivitas (Y)

 Item                      Keterangan                             Jumlah
                                                             Orang Prosentase
 Y.1    Berapa kali dalam satu bulan dapat memproduksi
        gula diatas standar produksi
            a. diatas 5 kali                                   6         12
            b. 4 – 5 kali                                     12         24
            c. 3 – 4 kali                                     12         24
            d. 1 – 3 kali                                     20         40
            e. tidak pernah                                    0          0
        Jumlah                                                50        100
 Y.2    Berapa jumlah total penghasilan (upah + insentif)
        yang anda terima perbulan
            a. > Rp 750.000                                   30         60
            b. Rp 650.000 – Rp 750.000                         0          0
            c. Rp 550.000 – Rp 650.000                         8         16
            d. Rp 450.000 – Rp 550.000                         0          0
            e. < Rp 450.000                                   12         24
        Jumlah                                                50        100
 Y.3    Berapa jumlah produksi yang dapat dihasilkan rata-
        rata sehari setelah adanya program insentif
            a. > 4.500 kuintal                                 4          8
            b. ± 4.000 kuintal                                26         52
            c. ± 3.500 kuintal                                20         40
            d. ± 3.000 kuintal                                 0          0
            e. < 2.500 kuintal                                 0          0
        Jumlah                                                50        100

       Pada tabel di atas dapat dijelaskan tentang produktivitas kerja karyawan
bagian produksi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri dimana untuk item jumlah kuantitas
gula dapat dhasilkan perbulan diatas standar produksi (Y.1) sebanyak 20 responden
atau 40% menjawab sekitar 1 – 3 kali mereka dapat melebihi standar produksi yang
ditentukan oleh perusahaan. Sedangkan jumlah penghasilan (upah + insentif) yang
diperoleh setiap bulan diatas Rp 750.000 (Y.2), ini dibuktikan dengan jawaban
respnden sebanyak 30 orang aau 60%. Sedangkan jumlah kuantitas gula yang dapat
dihasilkan rata-rata setelah adanya program insentif (Y.3) adalah sebanyak ± 4.000
kuintal perhari, ini dibuktikan dengan jawaban responden sebanyak 26 orang atau
52%.

5.3 HASIL ESTIMASI
        Hasil estimasi mengenai implikasi pengaruh pemberian insentif dan masa
kerja terhadap produktivitas karyawan Pabrik Gula Ngadirejo Kediri adalah :
Y = a + b1 X1 + b2 X2
Y = -11,03 + 0,590 X 1 + 0,717 X2
Sedangkan hasil analisis regresi linier dapat dilihat dari ringkasan pada tabel
berikut ini :
Tabel 5.6 Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
       Variabel           Keterangan        Koefisen regresi        t hitung
          X1          Pemberian insentif         0,590                6,83
          X2              Masa kerja             0,717                4,46

R2           = 0,524
F hitung     = 25,95
DW – test    = 2,12
Sumber       : - Lampiran
               - Data diolah
   1. Variabel X1 (upah insentif) mempunyai koefisien 0,590 artinya jika variabel

       upah insentif (X1) naik sebesar satu satuan maka kenaikan tersebut akan

       mengakibatkan kenaikan probabilitas untuk produktivitas kerja sebesar

       0,590 satuan, dengan asumsi variabel X2 (masa kerja) adalah konstan.

       Koefisien regresi untuk variabel X1 ini bertanda positif, hal tersebut

       menunjukkan bahwa semakin besar upah insentif diberikan maka

       produktivitas kerja karyawan semakin meningkat.
   2. Variabel X2 (masa kerja) mempunyai koefisien sebesar 0,717. Artinya jika

       masa kerja yang dimiliki oleh karyawan naik satu satuan maka akan

       menaikkan produktivitas kerja sebesar 0,717 dengan syarat variabel X1

       (upah insentif) dalam keadan konstan. Koefisien regresi variabel X2

       memiliki     tanda   positif,   hal   ini   menggambarkan      bahwa     dengan

       bertambahnya masa kerja maka produktivitas kerja karyawan semakin

       meningkat.

       Untuk koefisien determinasi (R2) menunjukkan prosentase sebesar 52,4%
hal tersebut menjelaskan bahwa 52,4% dari produktifitas kerja karyawan
dipengaruhi oleh upah insentif dan masa kerja sedangkan sisanya 47,6%
dipengaruhi oleh variabel lain.
       Untuk menguji apakah seluruh variabel bebas secara bersama-sama yaitu
upah insentif dan masa kerja berpengaruh nyata terhadap produktivitas kerja
karyawan maka digunakan uji F.

Uji F dilakukan untuk pengujian sebagai berikut:
H0      : β = 0 : seluruh variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel tidak
        bebas.
H1      : β ≠ 0 : seluruh variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel tak
        bebas.
        Dari hasil regresi diperoleh nilai Fhitung sebesar 25,95. Sedangkan nilai Ftabel
diperoleh sebesar 3,32 dengan signifikansi sebesar 5% sehingga dapat diketahui
bahwa Fhitung > Ftabel. Ini berarti H0 ditolak dan sebagai gantinya H1 diterima.
Dengan demikian seluruh variabel bebas dalam model regresi secara serentak atau
bersama-sama berpengaruh nyata terhadap probabilitas kerja.
        Sedangkan untuk menguji pengaruh secara parsial atau individu dari
masing masing regresi variabel bebas terhadap variabel tak bebas maka digunakan
uji t. Hasil perhitungan thitung dan ttabel masing-masing variabel adalah sebagai
berikut :
Tabel 5.7 Hasil thitung dan ttabel masing-masing variabel
 Variabel bebas                thitung                        ttabel
 X1 (upah insentif)            6,83                           2,02
 X2 (masa kerja)               4,46                           2,02
α = 5%
Sumber : lampiran

       Dari hasil perhitungan regresi dapat dilakukan pengujian secara parsial
terhadap variabel bebas dengan penjelasan sebagai berikut :
    1. Pengujian terhadap koefisien regresi upah insentif (X1) menghasilkan thitung

       sebesar 6,83 dengan ttabel sebesar 2,02. karena thitung > ttabel maka H0 ditolak

       dan H1 diterima. Ini artinya secara parsial upah insentif berpengaruh nyata

       terhadap produkivitas karyawan.

   2. Pengujian terhadap koefisien regresi masa kerja (X2) menghasilkan thitung

       sebesar 4,46 dan ttabel sebesar 2,02. karena thitung > ttabel maka H0 ditolak dan

       H1 diterima, artinya secara parsial masa kerja berpengaruh nyata terhadap

       produktivitas karyawan.

       Untuk mendapatkan nilai penaksir tidak bias dan efisien dari suatu
persamaan regresi linier berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square)
maka sebelum dilakukan analisis hasil estinasi haruslah memenuhi syarat-syarat
asumsi klasik. Dalam uji klasik yang paling sering digunakan biasanya adalah
autokolerasi, multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil dari uji asumsi klasik
terhadap data empiris adalah sebagai berikut :

1. Hasil Uji Autokorelasi

   Uji autokorelasi dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara
   anggota seri observasi yang disusun menurut urutan waktu (jika data time
   series) atau ruang (jika data cross section). Untuk melihat ada tidaknya
   autokorelasi dapat dilihat dari hasil statistk Durbin – Watson dibawaah ini :

   Gambar 5.1 Hasil Statisitik Durbin – Watson

        f(d)
               Daerah     Daerah                       Daerah   Daerah

               Korelasi   Ragu 2                       Ragu 2   Korelasi
           0         dL       dU                  4-dU     4-dL       4

                    1, 46    1, 63     2, 21     2, 37    2, 54


       Dari hasil analisa regresi linear dapat diketahui bahwa nilai statistik Durbin

   – Watson adalah sebesar 2, 21. ini menunjukkan nilai statistic Durbin – Watson

   dari hasil hitung estimasi tersebut berada pada daerah tidak terdapat

   autokorelasi              ( Du ≤2,12≤Dl). Dengan demikian asumsi terjadinya

   autokorelasi baik positif maupun negatif tidak terpenuhi.

2. Hasil Uji Multikolinearitas

   Uji multikolinearitas ini digunakan untuk menguji ada tidaknya hubungan

   linear yang sempurna atau yang mendekati sempurna diantara beberapa atau

   semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi, yaitu antara variabel

   upah insentif, masa kerja dan produktifitas. Karena nilai kedua variabel terikat

   semuanya siknifikan maka menunjukkan tidak terdapat multikolinearitas.



3. Hasil Uji Heteroskedastisitas

   Heteroskedastisitas terjadi jika masing – masing kesalahan pengganggu

   mempunyai varian yang berlainan. Untuk mendetektesi ada tidaknya

   pelanggaran maka digunakan uji White Heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil
   estimasi dengan menggunakan uji White, maka dapat disimpulkan bahwa

   hipotesis yang mengatakan tidak ada masalah heteroskedastisitas dalam model

   yang digunakan, karena nilai (n. R2 =Zhitung)= 50. 0,7212 = 36,06 dengan

   degree of freedom sama dengan 40 lebih kecil dibandingkan dengan X2tabel

   dengan tingkat kepercayaan (α =0,5% =55,8). Dengan demikian hasil uji

   dengan menggunakan white heteroskedastisitas mengatakan bahwa tidak

   terdapat masalah heteroskedastisitas dalam model tersebut.



5.3. INTERPRETASI HASIL

       Dari hasil analisis terhadap produktivitas kerja karyawan bagian produksi

Pabrik Gula Ngadirejo Kediri menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi adalah

sebesar 0,524. ini menunjukkan bahwa produktivitas kerja karyawan bagian

produksi 52,4% dipengaruhi oleh variabel upah insentif dan masa kerja. Sedangkan

sisanya sebesar 47,6% dipengaruhi oleh variabel lain (tidak dimasukkan dalam

model).

       Hasil estimasi juga menunjukkan bahwa variabel upah insentif (X1)

mempunyai koefisien regresi sebesar 0,59, sedangkan untuk variabel masa kerja

(X2) adalah sebesar 0,717.

       Untuk selanjutnya akan dibahas satu persatu dari tiap – tiap variabel bebas

yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan bagian produksi Pabrik

Gula Ngadirejo Kediri sebagai berikut :
1. Variabel Upah Insentif (X1)

   Variabel upah insentif mempunyai pengaruh terhadap produktivitas kerja

   karyawan bagian produksi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri dengan nilai koefisien

   regresi sebesar 0,59. Dari koefisien variabel bebas tersebut ternyata menolak

   hipotesa nol dan menerima hipotesa alternatif (H1).

       Koefisien regresi juga menunjukkan tanda positif sehingga jika upah

   insentif bertambah sebesar satu satuan maka akan menaikkan produktifitas

   sebesar 0,59 satuan atau semakin tinggi produktivitas yang dihasilkan. Nilai

   koefisien yang bertanda positif ini sesuai dengan teori bahwa insentif adalah

   sistem kompensasi dimana jumlah yang diberikan tergantung dari hasil yang

   dicapai, sehingga semakin besar hasil yang dicapai maka insentif semakin

   besar.

       Selain itu hasil analisis juga menggambarkan teori upah insentif dimana

   semakin efektif perusahaan memberikan insentif kepada karyawannya, maka

   akan timbul dorongan bagi karyawan untuk bekerja lebih baik dan berprestasi.

   Dengan bekerja lebih giat dan lebih baik maka produktivitas akan meningkat

   dan akhirnya tujuan perusahaan dapat tercapai.

2. Variabel Masa Kerja (X2)

       Variabel masa kerja (X2) ternyata paling besar memberi pengaruh terhadap

   produktivitas karyawan bagian produksi. Hal ini terlihat dari besarnya koefisien

   regresi mencapai 0,717. Dari koefisien regresi variabel bebas tersebut ternyata
   juga menolak hipotesa nol dan menerima hipotesa alternatif (H1). Nilai dari

   koefesien regresi juga memiliki tanda positif yang berarti apabila masa kerja

   karyawan bagian produksi bertambah sebesar satu satuan maka produktivitas

   juga akan meningkat sebesar 0,717 satuan.

       Dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa keterkaitan antara masa kerja

   dengan produktivitas ternyata cukup besar. Ini dilatar belakangi oleh pengertian

   bahwa semakin lama pengalaman kerja karyawan maka ia akan semakin

   terampil   dan   berpengalaman     sehingga    mutu,   kuantitas   kerja   serta

   penghasilannya juga akan meningkat seiring dengan bertambahnya masa kerja

   (pengalaman kerja). Keadaan ini juga dibuktikan dari hasil penelitian dimana

   dengan adanya pengaruh jumlah kuantitas gula yang diproduksi meningkat

   sehingga penghasilan mereka (upah + insentif) juga meningkat.

       Dari interpretasi di atas dapat dijelaskan bahwa pemberian insentif dan

masa kerja merupakan faktor yang cukup penting dan harus diperhatikan oleh

perusahaan, agar perusahaan daapat mempertahankan mutu dan kuantitas

produksinya, apalagi bagi karyawan yang menggunakan sistem upah borongan.

Pemberian insentif menjadi sangat diperlukan karena dapat memotivasi karyawan

untuk bekerja dengan lebih baik dan lebih giat. Selain itu perusahaan hendaknya

memperhatikan faktor masa kerja dari karyawan. Sebisa mungkin perusahaan

mempertahankan LTO nya dalam prosentase yang kecil, karena jika tingkat LTO

nya besar maka kuantitas daan kualitas barang hasil produksi akan berkuarang
karena keterampilan dan pengalaman karyawan yang masih baru tentu lebih kecil

dibandingkan karyawan yang sudah bekerja lama. Dengan kata lain semakin tinggi

masa kerja maka semakin tinggi pula produktivitas kerja mereka.




                                     BAB VI

                        KESIMPULAN DAN SARAN



5.1. KESIMPULAN
        Dalam beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil penelitian

implikasi pemberian insentif dan masa kerja terhadap produktivitas karyawan

bagian produksi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri adalah sebagai berikut :

   1.      Variabel upah insentif (X1) ternyata memberikan pengaruh terhadap

           produktifitas kerja karyawan bagian produksi, artinya upah insentif ini

           memberiksn manfaat yang nyata bagi karyawan dengan nilai koefisien

           regresi positif sebesar 0,59. Karena bertanda positif maka apabila upah

           insentif dinaikkan sebesar satu satuan, maka produktifitas kerja dari

           karyawan bagian produksi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri akan

           meningkat sebesar 0,59 satuan. Meskipun kontribusi variabel upah

           insentif ini dapat dikatakan lebih kecil dibandingkan dengan variabel

           masa kerja tetapi tetap mempunyai pengaruh yang nyata terhadap

           produktivitas.

   2.      Variabel masa kerja (X2) memberikan pengaruh yang besar terhadap

           produktifitas kerja karyawan dengan nilai koefisien regresi sebesar

           0,717. karena mempunyai nilai positif maka jika masa kerja karyawan

           naik sebesar satu satuan maka produktivitas kerja karyawan bagian

           produksi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri akan naik sebesar 0,717 satuan.

           Hal ini menunjukkan dengan tingginya prosentase jawaban sebagian

           responden yaitu sebanayk 37 atau 74 % mengenai pengalaman kerja

           mereka dalam Pabrik Gula Ngadirejo Kediri (bagian produksi), dimana
         mereka telah bekerja lebih dari 20 tahun. Dengan masa kerja yang

         cukup lama tersebut, maka akan berdampak pada keterampilan dan

         keahlian mereka terutama dalam menjalankan mesin – mesin pabrik.

         Dengan begitu produksi yang dapat dihasilkan dapat meningkat.

  3.     Secara keseluruhan variabel upah insentif (X1 dan variabel masa kerja

         (X2) mempunyai pengaruh yang nyata terhadap produktifitas karyawan

         dengan koefisien determinasi sebesar 0,524 atau 52,4 %. Dengan kata

         lain dapat pula disimpulkan bahwa 52, 4% dari seluruh produktivitas

         kerja karyawan bagian produksi Pabrik Gula Ngadirejo Kediri

         dipengaruhi oleh upah insentif dan masa kerja.



6.2. SARAN

  Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ada bebrapa saran yang dapat
  diberikan, yaitu antara lain :
    1.   Hendaknya pihak perusahaan meningkatkan pemberian upah insentif

         terhadap karyawan khususnya bagian produksi, baik secara intensitas

         pemberian maupun besarnya insentif yang diberikan. Hal ini karena

         prosentase dari upah insentif lebih kecil pengaruhnya dibandingkan

         variabel masa kerja. Keadaan seperti ini seharusnya dipertimbangkan

         oleh perusahaan dengan baik, karena dengan melihat hasil analisis yang

         bergerak kearah positif yang menunjukkan semakin besar insentif yang

         mereka terima maka akan berdampak peningkatan kerja karyawan.
     Apabila ini terus dilaksanakn dan ditingkatkan maka akan memberikan

     keuntungan bagi perusahaan.

2.   Variabel masa kerja dari hasil penelitian menunjukkan korelasi yang

     positif dimana semakin lama mereka bekerja pada bidang yang sama

     maka keterampilan dan keahlian mereka terutama dalam menjalankan

     mesin – mesin juga meningkat. Keadaan ini perlu dipertahankan oleh

     perusahaan. Untuk menjaga dan mempertahankan keberadaan karyawan

     dalam perusahaan, maka perusahaan sebaiknya perlu memberikan

     fasilitas – fasilitas yang dapat mendorong dan memotovasi agar mereka

     tetap “nyaman” bekerja pada perusahaan dan mampu bekerja dengan

     baik.

3.   Karena keseluruhan variabel upah insentif dan variabel masa kerja

     berpengaruh nyata terhadap produktivitas kerja karyawan bagian

     produksi, maka diharapkan kebijakan – kebijakan yang akan diambil

     oleh perusahaan hendaknya dilaksanakan secara tepat dan terencana

     sehingga kebijakan tersebut bermanfaat bagi karyawan dan dapat

     digunakan untuk mempertahankan keberadaan karyawan. Apabila hal

     ini terlaksana dengan baik, maka secara tidak langsung tujuan yang

     telah ditetapkan perusahaan akan dapat tercapai.
Dependent Variable: PRODUKTIVITAS
Method: Least Squares
Date: 09/01/02 Time: 10:45
Sample: 1 50
Included observations: 50
       Variable        Coefficient    Std. Error      t-Statistic      Prob.
        C               -11.02866     3.354238        -3.287978       0.0019
     INSENTIF            0.590016     0.086403         6.828656       0.0000
    MASAKERJA            0.717349     0.160900         4.458351       0.0001
R-squared                0.524747    Mean dependent var             10.50000
Adjusted R-squared       0.504524    S.D. dependent var             2.323351
S.E. of regression       1.635409    Akaike info criterion          3.879787
Sum squared resid        125.7044    Schwarz criterion              3.994508
Log likelihood          -93.99467    F-statistic                    25.94736
Durbin-Watson stat       2.120879    Prob(F-statistic)              0.000000




ARCH Test:
F-statistic              0.031001    Probability                    0.860994
Obs*R-squared            0.032299    Probability                    0.857373

Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 09/01/02 Time: 10:52
Sample(adjusted): 2 50
Included observations: 49 after adjusting endpoints
       Variable        Coefficient    Std. Error      t-Statistic      Prob.
         C               2.614851     0.517401         5.053822       0.0000
     RESID^2(-1)        -0.025541     0.145062        -0.176072       0.8610
R-squared                0.000659    Mean dependent var             2.550550
Adjusted R-squared      -0.020603    S.D. dependent var             2.539603
S.E. of regression       2.565631    Akaike info criterion          4.762246
Sum squared resid        309.3758    Schwarz criterion              4.839463
Log likelihood          -114.6750    F-statistic                    0.031001
Durbin-Watson stat       2.009275    Prob(F-statistic)              0.860994




White Heteroskedasticity Test:
F-statistic              22.76832    Probability                    0.000000
Obs*R-squared              36.06198         Probability                   0.000001

Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 09/01/02 Time: 10:52
Sample: 1 50
Included observations: 50
          Variable        Coefficient       Std. Error     t-Statistic         Prob.
        C                 -354.6233         56.58284      -6.267329           0.0000
     INSENTIF              19.98066         3.758633       5.315938           0.0000
    INSENTIF^2            -0.330967         0.075846      -4.363649           0.0001
INSENTIF*MASAKER          -0.606465         0.088788      -6.830464           0.0000
        JA
    MASAKERJA              25.63491         3.987741       6.428428           0.0000
   MASAKERJA^2            -0.503688         0.101804      -4.947619           0.0000
R-squared                  0.721240         Mean dependent var            2.514088
Adjusted R-squared         0.689562         S.D. dependent var            2.526744
S.E. of regression         1.407824         Akaike info criterion         3.634135
Sum squared resid          87.20667         Schwarz criterion             3.863578
Log likelihood            -84.85337         F-statistic                   22.76832
Durbin-Watson stat         1.941762         Prob(F-statistic)             0.000000




10
                                                          Series: Residuals
                                                          Sample 1 50
8                                                         Observations 50

                                                          Mean                 2.32E-15
6                                                         Median               0.496087
                                                          Maximum              2.163517
                                                          Minimum             -3.016515
4                                                         Std. Dev.            1.601685
                                                          Skewness            -0.442413
                                                          Kurtosis             1.989892
2
                                                          Jarque-Bera          3.756738
                                                          Probability          0.152839
0
     -3        -2    -1       0         1         2
                        No.   i1   i2   i3   Y
                         1    3    1    4     8
                         2    3    5    4    12
                         3    5    5    3    13
Lampiran 3.              4    4    5    4    13
Header data for A :Y     5    4    3    3    10
Number of cases :50      6    3    5    4    12
Number of variabel: 4    7    2    1    3     6
LABEL PG. NGADIREJO      8    2    5    4    11
                         9    2    5    5    12
                        10    2    1    4     7
                        11    4    3    3    10
                        12    3    5    4    12
                        13    2    1    3     6
                        14    2    5    4    11
                        15    5    5    3    13
                        16    4    5    4    13
                        17    4    3    3    10
                        18    3    5    4    12
                        19    2    5    4    11
                        20    2    5    5    12
                        21    2    1    4     7
                        22    4    3    3    10
                        23    3    5    4    12
                        24    2    1    3     6
                        25    2    5    4    11
                        26    5    5    3    13
                        27    3    1    4     8
                        28    3    5    4    12
                        29    5    5    3    13
                        30    4    5    4    13
                        31    4    3    3    10
                        32    2    5    5    12
                        33    2    1    4     7
                        34    4    3    3    10
                        35    3    5    4    12
                        36    2    1    3     6
                        37    2    5    4    11
                        38    2    1    3     6
                        39    2    5    4    11
                        40    5    5    3    13
                        41    3    1    4     8
                        42    3    5    4    12
                        43    5    5    3    13
                        44    4    5    4    13
                        45    4    3    3    10
                        46    3    5    4    12
                        47    2    5    4    11
                        48    2    5    5    12
                        49    2    1    4     7
                        50    4    3    3    10
LAMPIRAN 4
Dependent Variable: PRODUKTIVITY
Method: Least Squares
Date: 08/13/02 Time: 06:35
Sample: 1 50
Included observations: 50
            Variable            Coefficient    Std. Error    t-Statistic              Prob.
             C                  -11.02866       3.354238     -3.287978            0.0019
          INSENTIF               0.590016       0.086403      6.828656            0.0000
         MASAKERJA               0.717349       0.160900      4.458351            0.0001
R-squared                        0.524747      Mean dependent var               10.50000
Adjusted R-squared               0.504524      S.D. dependent var               2.323351
S.E. of regression               1.635409      Akaike info criterion            3.879787
Sum squared resid                125.7044      Schwarz criterion                3.994508
Log likelihood                  -93.99467      F-statistic                      25.94736
Durbin-Watson stat               2.120879      Prob(F-statistic)                0.000000
HASIL ANALISIS REGRESI




                       UJI WHITE HETEROSKEDASTISITAS


          F-statistic           22.76832      Probability                  0.000000
          Obs*R-squared         36.06198      Probability                  0.000001

          Test Equation:
          Dependent Variable: RESID^2
          Method: Least Squares
          Date: 08/09/02 Time: 07:55
          Sample: 1 50
          Included observations: 50
                 Variable      Coefficient    Std. Error    t-Statistic       Prob.
                   C           -354.6233      56.58284      -6.267329        0.0000
               INSENTIV         19.98066      3.758633       5.315938        0.0000
              INSENTIV^2       -0.330967      0.075846      -4.363649        0.0001
           INSENTIV*MASAKE     -0.606465      0.088788      -6.830464        0.0000
                  RJA
              MASAKERJA         25.63491      3.987741       6.428428        0.0000
             MASAKERJA^2       -0.503688      0.101804      -4.947619        0.0000
          R-squared             0.721240      Mean dependent var           2.514088
          Adjusted R-squared    0.689562      S.D. dependent var           2.526744
         S.E. of regression           1.407824      Akaike info criterion   3.634135
         Sum squared resid            87.20667      Schwarz criterion       3.863578
         Log likelihood              -84.85337      F-statistic             22.76832
         Durbin-Watson stat           1.941762      Prob(F-statistic)       0.000000




UJI AUTOKORELASI




  ARCH Test:
  F-statistic           0.031001      Probability                              0.860994
  Obs*R-squared         0.032299      Probability                              0.857373

  Test Equation:
  Dependent Variable: RESID^2
  Method: Least Squares
  Date: 05/30/01 Time: 18:16
  Sample(adjusted): 2 50
  Included observations: 49 after adjusting endpoints
       Variable        Coefficient     Std. Error      t-Statistic                 Prob.
        C               2.614851       0.517401        5.053822                   0.0000
    RESID^2(-1)        -0.025541       0.145062       -0.176072                   0.8610
  R-squared             0.000659      Mean dependent var                       2.550550
  Adjusted R-          -0.020603      S.D. dependent var                       2.539603
  squared
  S.E. of regression    2.565631      Akaike info criterion                    4.762246
  Sum squared           309.3758      Schwarz criterion                        4.839463
  resid
  Log likelihood       -114.6750      F-statistic                              0.031001
  Durbin-Watson         2.009275      Prob(F-statistic)                        0.860994
  stat

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5
posted:5/3/2013
language:Malay
pages:77
Sita Trijata Sita Trijata
About