Docstoc

Pengertian Tindak Tutur - Blog Student UNY

Document Sample
Pengertian Tindak Tutur - Blog Student UNY Powered By Docstoc
					Pengertian Tindak Tutur
       Harimurti Kridalaksana (2000: 171) memakai istilah pertuturan untuk istilah yang
dalam bahasa Inggris disebut sebagai speech act yang didefinisikan sebagai:
       (1) perbuatan berbahasa yang dimungkinkan oleh dan diwujudkan sesuai dengan
       kaidah-kaidah pemakaian unsur-unsur bahasa; (2) perbuatan menghasilkan bunyi
       bahasa secara beraturan sehingga menghasilkan ujaran bermakna; (3) seluruh
       komponen linguistik dan nonlinguistik yang meliputi suatu perbuatan bahasa yang
       utuh, yang menyangkut partisipan, bentuk penyampaian amanat, topik, dan konteks
       amanat itu; (4) pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari
       pembicara diketahui pendengar.

       Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa pertuturan atau speech act merupakan
suatu bentuk perbuatan berbahasa. Faktor-faktor linguistik dan nonlinguistik sangat
berpengaruh terhadap perbuatan berbahasa. Hal ini didukung oleh Austin (dalam Crystal,
1987: 121) yang mengatakan bahwa:
       In particular, he pointed out that many utterances do not communicate informations,
       but are equivalent to actions. When someone says ‘I apologize …’, ‘I promise …’, ‘I
       will’ (at a wedding), or ‘I name this ship …’, the utterance immediately conveys a
       new psychological or social reality. An apology takes place when someone
       apologizes, and not before. A ship is named only when the act of naming is complete.
       In such cases, to say is to perform. Austin thus called these utterances performatives,
       seeing them as very different from statements that convey information (constantives).
       In Particular, performatives are not true or false. If A says “I name this ship ...”, B
       cannot then say “That’s not true”!

       Dari kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa banyak tuturan tidak mengkomunikasikan
informasi, tetapi mirip dengan perbuatan. Dicontohkan oleh Austin jika seseorang
mengatakan ‘Saya minta maaf …’, ‘Saya berjanji …’, ‘Saya terima’ (pada sebuah
pernikahan), atau “Saya namakan kapal ini …’ ujaran-ujaran itu menyatakan realitas
psikologis dan sosial yang baru. Oleh karena itu, Austin mengatakan bahwa ujaran-ujaran
seperti itu bersifat performatif yang tentu berbeda dengan pernyataan-pernyataan yang
menyatakan informasi (konstatif). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa ujaran-ujaran
performatif tidak dapat dimaknai sebagai benar atau salah. Misalnya, jika seorang pejabat
yang berwenang mengatakan ‘Saya namakan kapal ini …’, orang lain tidak dapat
mengatakan bahwa ‘Itu tidak benar’!
       Ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak
lokusi (locutionary acts), tindak ilokusi (illocutionary acts), dan tindak perlokusi
(perlocutionary acts) (Austin dalam Searle, 1974: 23-24; Mey, 1993: 112-113; Levinson,
1983: 236). Tiga jenis tindakan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.


                                              1
a. Tindak Lokusi
          I Dewa Putu Wijana (1996:17) menyatakan bahwa “tindak lokusi adalah tindak tutur
untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini disebut The act of saying something. Konsep ini
berkaitan dengan proposisi kalimat, yaitu di dalamnya terdapat subjek/topik dan predikat”.
Dalam hal tindak lokusi ini Austin mengatakan “the utterance of a sentence with determinate
sense and reference” (dalam Levinson, 1983: 236). Jadi, tindak lokusi ini merupakan tuturan
sebuah kalimat yang memiliki maksud dan referen yang sudah jelas.
        Tindak tutur lokusi lebih mudah diidentifikasi karena untuk menafsirkannya dapat
dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan. Tindak lokusi ini kurang penting peranannya
jika dipakai untuk memahami tindak tutur.
Contoh:
        (1) Banjir melanda ibukota.
        (2) Ekonomi dunia dalam keadaan porak poranda.
        (3) Aksi teroris di Indonesia memakan banyak korban.
        Tuturan-tuturan   di   atas   dituturkan   oleh    penuturnya    semata-mata     untuk
menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk
mempengaruhi mitra tuturnya. Tuturan (1) menginformasikan bahwa banjir sedang melanda
Jakarta. Demikian juga tuturan (2) dan (3) menginformasikan sesuatu yang diproposisikan.
Oleh karena itu, konsep lokusi tampak lebih cenderung pada konsep yang berkaitan dengan
proposisi kalimat.




b. Tindak Ilokusi
        Tindak ilokusi ini merupakan sentral dari kajian tindak tutur, seperti dikatakan oleh
Levinson (1983:236) “… the illocutionary act, that is the focus of Austin’s interest, and
indeed the term speech act has come to refer exclusively to that kind of act”. Tindak ilokusi
merupakan tuturan yang selain berfungsi untuk mengatakan sesuatu atau menginformasikan
sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu. “Tindak ilokusi ini disebut
sebagai The act of doing something” (I Dewa Putu Wijana, 1996: 18). Untuk menafsirkan
tindak ilokusi diperlukan pemahaman terhadap situasi tutur, karena pemaknaan tindak tutur
ini dipengaruhi oleh aspek situasi tutur. Contoh-contoh tindak tutur ilokusi dapat dilihat pada
tuturan berikut.
        (4) Ada ujian.
                                              2
       (5) Saya lagi flu.
       (6) Sekarang kamu sudah 25 tahun.
       (7) Pak Rudi datang jam 7.
       Tuturan (4) banyak ditemukan di halaman Sekolah Dasar pada waktu pelaksanaan
ujian. Tuturan itu tidak hanya menyatakan bahwa di sekitar itu ada kegiatan ujian, tetapi juga
memohon atau meminta kepada siapa saja yang berada di dekat lokasi itu untuk tenang atau
untuk tidak mengganggu jalannya ujian. Tuturan (5) dapat memiliki maksud tidak hanya
menginformasikan bahwa si penutur sedang menderita flu tetapi jika dituturkan kepada
temannya yang mengundangnya ke pesta ulang tahun bisa saja berarti bahwa dia minta ijin
untuk tidak datang. Tuturan itu juga bisa memiliki maksud bahwa penutur minta obat untuk
menyembuhkan flu yang dideritanya.
       Tuturan (6) tidak saja menginformasikan bahwa mitra tutur sudah berumur 25 tahun.
Jika tuturan itu dituturkan oleh seorang bapak kepada anaknya, tuturan (6) itu dimaksudkan
bisa saja untuk mengingatkan anaknya untuk segera menikah. Atau kemungkinan anak
tersebut berperilaku seperti anak kecil sehingga dengan tuturan (6) tersebut seorang bapak
mengingatkan kepada anaknya untuk tidak berperilaku seperti anak kecil. Tuturan (7) bila
dituturkan oleh penerima tamu berfungsi untuk mengajak para among tamu untuk segera
bersiap-siap menyambut kehadiran Pak Rudi karena sudah ada informasi bahwa beliau akan
datang jam 7, sementara waktu telah menunjukkan, misalnya, pukul 06.55.
       Dari apa yang diuraikan di atas jelaslah bahwa tindak ilokusi tidak secara serta merta
diidentifikasi maknanya, karena terlebih dahulu harus dipertimbangkan siapa penutur dan
mitra tutur, kapan, dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya. Dengan demikian,
tindak ilokusi ini merupakan bagian sentral untuk memahami suatu tindak tutur.


c. Tindak Perlokusi
       Tuturan perlokusi ini mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) terhadap
mitra tutur. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan
oleh penuturnya. “Tindak perlokusi ini mengharapkan respon dari mitra tutur terhadap
tuturan yang dituturkan oleh penutur, baik berupa tindakan maupun jawaban. Tindak ini
disebut sebagai ‘The act of affecting someone’” (I Dewa Putu Wijana, 1996: 20). Contoh-
contoh tuturan tindak perlokusi dapat diperhatikan pada tuturan-tuturan berikut ini.
       (8)   Saya sedang kuliah.
       (9) Jalan-jalan banyak macet.


                                              3
      Tuturan (8) bila dituturkan oleh seorang dosen yang sedang studi lanjut S3, dapat
memiliki efek ilokusi bahwa dirinya sekarang ini sangat sibuk dengan kuliahnya. Adapun
efek perlokusi yang diharapkan dari tuturan itu ialah, misalnya, agar Ketua Program Studi
tidak memberi banyak tugas mengajar. Tuturan (9) memiliki efek ilokusi sebuah permohonan
untuk tidak pergi jalan-jalan ke, misalnya tempat wisata atau pusat perbelanjaan. Efek
perlokusinya adalah mitra tuturnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke tempat-temat
tersebut.




                                           4

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:4/28/2013
language:Indonesian
pages:4
huangyuarong huangyuarong
About