Docstoc

Menulis di PT Indonesia

Document Sample
Menulis di PT Indonesia Powered By Docstoc
					                                                         Deny Rohmanda – 105030203111018


     RAIBNYA SEMANGAT MENULIS DI PERGURUAN TINGGI INDONESIA




       Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, dianggap masih

belum mampu mengoptimalkan sumber daya manusianya, khususnya dibidang karya tulis

ilmiah. Padahal dengan potensi yang begitu besar, Indonesia harusnya mampu bersaing

dengaan negara-negara maju lainnya. Apa penyebabnya?


       Perguruan tinggi di Indonesia tak kalah mewah dengan perguruan tinggi lain di negara

lain, sebut saja Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada,

dan lainnya. Gedung-gedung tinggi, arsitektur yang modern, hingga berbagai sarana dan

prasana yang mendukung kegiatan mahasiswa. Namun, jika kita merujuk pada 200 peringkat

perguruaan tinggi terbaik di seluruh dunia, tidak ada satupun nama perguruan tinggi dari

Indonesia. Sedangkan negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura, mampu menempatkan

University of Malay dan Nanyang Technological University masuk dalam peringkat 200

terbaik dunia. Mengapa mereka mampu, sedangkan kita tidak?


       Jika kita menelaah dari parameter penilaiannya, ternyata bukan seberapa tinggi

gedung yang ada, bukan seberapa mewah fasilitas yang tersedia, namun lebih difokuskan

pada kualitas akademik. Contohnya penilaian sejawat, jumlah mahasiswa dan dosen asing,

serta yang terpenting adalah seberapa banyak karya tulis dosen yang dirujuk dalam skala

internasional. Inilah yang dinilai menjadi kelemahan perguruan tinggi di Indonesia oleh

seorang guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bapak Chaedar. Beliau mengamati

rendahnya kemampuan menulis di lingkungan perguruan tinggi Indonesia. Tidak hanya

mahasiswa, dosen-dosen juga dituntut untuk lebih aktif dalam menghasilkan sebuah karya

tulis ilmiah yang nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi besar di kancah

internasional.
                                                            Deny Rohmanda – 105030203111018


       Fakta lain yang cukup miris yaitu ketertinggalan kita dari Malaysia. Malaysia yang

beberapa dekade silam masih berguru pada Indonesia dalam hal akademik, sekarang mereka

jauh mengungguli kualitas kita. Jumlah eksemplar buku dan karya tulis yang mampu mereka

hasilkan jauh di atas kita. Dalam setahun, Malaysia menghasilkan sekitar delapan ribu

eksemplar, sedangkan Indonesia hanya mampu dua hingga tiga ribu eksemplar per tahun.

Sungguh ironis memang, namun inilah gambaran minat bangsa kita untuk membuat suatu

karya tulis. Jangankan untuk menulis, membaca saja tidak.


       Ada beberapa solusi yang ditawarkan oleh Bapak Chaedar untuk meningkatkan

kemampuan dan minat kita untuk membuat suatu karya tulis. Pertama, mewajibkan seluruh

perguruan tinggi di Indonesia untuk memuat mata kuliah Menulis Akademik, minimal 4 sks,

untuk semua jurusan. Tujuannya untuk mempersiapkan dan melatih mahasiswa untuk

menghadapi tugas akhir yang berupa karya tulis ilmiah. Kedua, mempermudah akses

informasi dalam bentuk apapun. Sebagai contoh dengan cara membuat perpustakaan menjadi

senyaman mungkin, menambah koleksi buku, dan melengkapi dengan fasilitas internet.

Terakhir, tidak mempersulit penerbitan sebuah karya tulis dan buku. Pergeseran paradigma

masyarakat terhadap suatu karya tulis sudah berubah. Saat ini, sebuah buku dipandang

memiliki nilai lebih jika buku itu komersil, karena kualitas bukan lagi menjadi nomor satu.

Hal ini yang menyebabkan Indonesia mengalami paceklik karya tulis yang mampu bersaing

dalam skala internasional.


       Hanya itu saja? Tentu tidak. Banyak solusi alternatif yang bisa digunakan untuk

meningkatkan kemampuan individu untuk menulis. Jika semua pihak, baik pemerintah,

perguruan tinggi, dan mahasiswa mau bekerja sama memperbaiki sistem yang ada, bukan

tidak mungkin kita bisa mengungguli kedua negeri jiran tadi. Banyak cara yang bisa

digunakan pemerintah untuk menjalankan visi ini. Salah satu contohnya dengan memasukkan

materi tentang menulis ilmiah dalam soal Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
                                                         Deny Rohmanda – 105030203111018


(SNMPTN). Dengan begitu, calon mahasiswa akan mempelajari teori-teori tentang

bagaimana cara menulis ilmiah yang baik. Ini adalah modal pengetahuan dasar bagi calon

mahasiswa. Sehingga ketika lolos dan memasuki bangku perkuliahan, mereka mampu

menerapkan ilmu yang telah dipelajari sebelumnya dengan cepat. Dari pihak perguruan tinggi

juga harus aktif membina para dosen, baik di jenjang S1, S2, dan S3 untuk terus

menyumbangkan pemikirannya. Mengadakan forum terbuka antar dosen maupun dosen

dengan mahasiswa sebenarnya cukup efektif dalam membangkitkan kualitas sumber daya

manusia di lingkungan perguruan tinggi. Namun harus ada realisasi dari kegiatan forum tadi,

karena akan sia-sia jika tidak ada tindakan nyata. Minimal kegiatan forum tersebut harus

menghasilkan suatu solusi dan dituangkan dalam bentuk karya tulis agar dapat dijangkau dan

diterapkan oleh masyarakat luas. Sedangkan dari pihak mahasiswa tidak hanya hadir dan

mengikuti mata kuliah Bahasa Indonesia saja, namun juga harus menularkan ilmu yang sudah

didapatnya kepada masyarakat. Hal ini dapat diterapkan dengan membentuk divisi-divisi

yang salah satunya bertugas memberikan tutorial tentang menulis ilmiah saat mengikuti

Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tentu kita harus memilah dan membedakan tutorial apa yang

akan diberikan sesuai dengan tingkat pendidikannya. Pada jenjang sekolah dasar, mahasiswa

dapat membantu peserta didiknya untuk belajar menulis dengan baik, memperkenalkan ejaan

yang disempurnakan, dan sebagainya. Tingkat sekolah menengah pertama, mahasiswa

membantu dan membimbing para siswa untuk mampu berpikir kritis atas suatu masalah.

Hingga pada jenjang sekolah menengah atas, peserta didik dapat menganalisa dan membuat

karya tulis ilmiah dengan benar dan sederhana.


       Memang tidak mudah untuk membangkitkan kesadaran dan semangat bangsa

Indonesia untuk menulis, namun kita harus tetap optimis karena ada seribu cara untuk

mencapainya. Jika semua bersatu, jangankan Malaysia dan Singapura, Amerika Serikat pun

akan segan pada bangsa Indonesia.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2
posted:4/23/2013
language:
pages:3