Docstoc

fb - DOC

Document Sample
fb - DOC Powered By Docstoc
					Pengurangan Rumput Laut Ancam Ekosistem Pantai
By Republika Newsroom Senin, 13 Juli 2009 pukul 16:41:00 Font Size A A A EMAIL PRINT Facebook

UNEP-WCMC.ORG Rumput laut SANTA BARBARA — Sebuah tim ilmuwan internasional mengingatkan percepatan menghilangnya rumput laut di seluruh dunia mengancam kesehatan dan kelanjutan jangka panjang ekosistem pantai. Tim tersebut mengumpulkan dan menganalisa data global menyeluruh, untuk pertama kali, atas observasi terhadap rumput laut. Mereka menemukan 58 persen hamparan rumput laut saat ini mengalami penurunan. Pengamatan dan penelitian yang diterbitkan dalam kumpulan jurnal ilmiah, National Academy of Sciences pekan lalu menunjukkan jika percepatan pengurangan rumput tahun pert tahun meningkat dari 1 persen (1940) menjadi 7 persen per tahun sejak 1990. Berdasar lebih dari 215 studi dan 1.800 pengamatan di lapangan sejak 1979, data menunjukkan jika rumput laut menghilang dalam rata-rata berbanding lurus dengan bebatuan koral laut dan hutan hujan tropis di dunia. Penelitian yang didanai oleh Pusat Nasional Sintesa dan Analisa Ekologi (NCEAS), Santa Barbara, Kalifornia, memperkirakan, rumput laut telah menghilang seluas 110 kilometer persegi setiap tahun sejak 1980. Mereka menyatakan dua penyebab utama kondisi tersebut, yakni pengaruh langsung dari pembangunan kawasan sekitar pantai plus pembersihan dan pengurukan pantai, kedua pengaruh dari kualitas air laut yang juga semakin memburuk. "Kasus yang sering berulang pada sindrom kawasan pantai itu menyebabkan pengurangan rumput laut di seluruh dunia," salah satu anggota tim dan penulis jurnal penelitian, Dr William Dennison dari Ilmu Lingkungan Universitas Maryland. "Kombinasi antara pusat urban yang makin bertumbuh, garis pantai buatan yang diperkeras, dan penurunan sumber daya alami telah menganggu keseimbangan ekosistem pantai. Secara global kita kehilangan hamparan rumput laut sebesar lapangan sepak bola per tiga puluh menit," papar William.

"Ketika jumlah rumput laut yang menghilang dalam tingkat mengancam, percepatan jumlah yang menghilang lebih parah lagi," ujar kolega William, Dr. Robert Orth dari Ilmu Kelautan Institut Virginia, Kampus William and Mary. "Dengan menghilangnya setiap hamparan rumput laut, kita juga kehilangan layanan ekosistem yang memberikan ikan, kerang dan spesies lain yang bergantung pada habitat tersebut untuk berkembang biak," papar Robert. "Konsekuensi kehilangan terus-menerus juga berdampak luas, tidak hanya pada area rumput laut tumbuh, sebab rumput-rumput itu mengirimkan energi mereka dalam bentuk biomasa dan hewan-hewan ke ekosistem lain, termasuk muara, rawa-rawa, area pasang-surut, dan bebatuan koral," lanjut Robert. Seorang lagi anggota penelitian, Tim Carruthers, dari Universitas Maryland menimpali rekan-rekannya dengan hal senada. "Dengan 45 persen populasi dunia hidup pada kawasan 5 persen daratan yang menjorok ke laut, tekanan pada rumput laut di lepas pantai tersisa luar biasa tinggi,". Rumput laut, menurutnya sangat berpengaruh pada lingkungan biologis, kimiawi, dan fisik dari perairan lepas pantai. Kelompok tanaman laut yang berbunga itu menjadi habitat utama bagi kehidupan air. Mereka berfungsi mengalihkan arus air dan dapat membantu mengurangi dampak polusi terhadap sedimen dan nutrisi dalam air laut. "Dengan semakin banyak orang yang kini tinggal di kawasan dekat pantai, kondisi rumput laut tersisa semakin parah," ujar Tim "Bila tak mampu lagi mendukung ekosistem, itu akan merugikan kehidupan manusia, sekalipun kita tinggal di darat" tegasnya. (discovery/itz) http://www.republika.co.id/berita/61942/Pengurangan_Rumput_Laut_Ancam_Ek osistem_Pantai

Ekosistem Pantai Manokwari Butuhkan Pengelolaan
Sabtu, 02 Juli 2005 14:26 BERI KOMENTAR

CETAK BERITA INI

KIRIM KE TEMAN

Ikuti Kuis Berhadiah, Revenge Movies

Kapanlagi.com - Ekosistem pantai di Kabupaten Manokwari, Irian Jaya Barat yang memiliki pesona dan daya tarik terumbu karang yang masih utuh dan belum rusak terlihat belum dikembangkan dan dikelola Secara baik terutama di pantai bakaro dan pasir putih. Hal tersebut disampaikan Anggota DPD asal Provinsi Bali, Ida Ayu Agung kepada wartawan di Manokwari, Sabtu,padahal potensi tersebut merupakan salah satu pendukung untuk menambah PAD Kabupaten Manokwari yakni melalui upaya pengembangan potensi wisata bawah laut. Dikatakan kondisi fisik daerah pesisir pantai Manokwari dan daerah sepanjang 5 mil batas wilayah laut Indonesia masih terlihat alamiah. Sementara itu, Rosman Djohan anggota DPD dari Provinsi Bangka Belitung mengemukakan, jika dilihat kebawah dasar laut Manokwari dan daerah sekitarnya maka terumbu karang yang ada perlu dikembangkan dan dilakukan pemeliharaan sehingga tidak terjadi kerusakan serta pengambilan biota laut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, katanya. Aneka jenis ikan dan biota laut merupakan potensi yang perlu dijaga kelestariannya dalam pengembangan secara bersama-sama, baik oleh masyarakat adat setempat, para nelayan pihak pengusaha , maupun pemerintah daerah . Langkah ini harus ditempuh agar terumbu karang yang ada bisa memberikan hasil dan manfaat yang terbaik dan menghindarkan penggunaan baom. (*/erl) http://www.kapanlagi.com/h/0000070787.html

Pembukaan TPA Marunda Akan Ganggu Ekosistem Pantai
09 Januari 2002 TEMPO Interaktif, Jakarta:Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai, rencana pengalihan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) dari Bantargebang, Bekasi, ke Marunda, Jakarta Utara, dikhawatirkan akan menyebabkan gangguan serius terhadap ekosistem pantai dan pesisir kawasan itu. Apalagi kawasan itu merupakan daerah penangkapan ikan nelayan tradisional Jakarta Utara. Direktur Eksekutif Walhi, Emmy Hafild, mengatakan itu dalam kesempatan pemaparan mengenai lingkungan hidup selama tahun 2001 dan outlook untuk

tahun 2002 di Hotel Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (9/1) siang. Sementara rencana alternatif membawa sampah itu ke Pulau Bangka, dinilai Walhi, hanya akan menjadi bom waktu bagi masyarakat setempat, persis seperti keresahan masyarakat Bantargebang dan Benowo di Surabaya. Ia menilai, kedua rencana itu hanya bersifat sementara dan bersifat kuratif. Untuk mengatasi persoalan itu, menurut Walhi, pemerintah harus melakukan upaya yang integratif dan visioner. Karena solusi jangka pendek hanya akan bersifat tambal sulam dan berpotensi menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Pemerintah, masyarakat, dan produsen/industri harus terlibat secara bersama-sama dalam pengelolaan sampah. Dalam level kebijakan, kata Walhi, pemerintah harus menetapkan kebijakan zero waste dengan mendorong pemisahan sampah dan fasilitas. Pemerintah harus mendorong industri atau produsen untuk mendaur ulang produk-produk berkemasan, seperti produk air minum dan mengolah kembali produk yang mengandung B3 (bahan berbahaya beracun) seperti batu baterai kering, kaleng aerosol. Masyarakat juga diimbau untuk melakukan pemisahan sampah sejak awal. Sampah organik (basah) yang merupakan 60 persen produk rumah tangga diolah di rumah menjadi kompos sehingga tidak perlu diangkut ke TPA. (Deddy Sinaga)

http://www.tempo.co.id/hg/jakarta/2002/01/09/brk,20020109-09,id.html Abrasi Rusak Ekosistem Pantai Garis Pantai di Kendal 41 Kilometer, tetapi Sabuk Pengaman Hijau Baru 300 Meter Kamis, 4 Desember 2008 | 10:42 WIB KENDAL, KOMPAS - Minimnya sabuk pengaman hijau atau green belt di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Kendal membuat abrasi di daerah itu kian parah. Abrasi tidak hanya menghancurkan ekosistem sekitar pantai, tetapi juga merusak tambak milik warga. "Akibat abrasi, 4 hektar tambak milik warga rusak dihantam gelombang laut selama setahun ini," ucap Asro (42), warga di Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu Utara, Kabupaten Kendal, Rabu (3/12). Kini, tanggul di sekitar tambak terendam air setinggi paha orang dewasa. Akibatnya, tambak bandeng tersebut rusak dan tidak produktif. Di beberapa tambak yang masih selamat tampak tumpukan karung berisi pasir yang digunakan petambak untuk membendung hantaman gelombang air laut. "Pasalnya, jika sedang gelombang pasang, puluhan hektar tambak di sekitar sini juga terkena ombak," kata Asro.

Menurut Ngateman (24), warga lainnya, abrasi juga membuat garis pantai di Desa Wonorejo maju sekitar 40 meter ke arah daratan hanya dalam waktu empat bulan. Di Desa Sendang Sikucing, Kecamatan Rowosari, abrasi mengancam permukiman warga yang berjarak tinggal 40 meter dari garis pantai. "Padahal, setahun lalu jarak pantai masih sekitar 100 meter dari rumah penduduk," ucap Suparman (41), warga setempat. Menurut data Dinas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Kendal yang dihasilkan dari foto citra satelit, tingkat abrasi di Kabupaten Kendal dalam kurun waktu 2003-2006 mencapai 38,08 hektar di 20 desa dan 6 kecamatan. Abrasi terparah terjadi di Desa Mororejo dan Desa Wonorejo, Kecamatan Kaliwungu Utara, dengan total luas lahan yang tersapu gelombang sekitar 16,65 hektar. Sulit dikendalikan Kepala Bidang Kelautan Dinas PKP Kendal V Sudarmadji mengatakan, minimnya sabuk pengaman hijau di pantai membuat abrasi sulit dikendalikan. "Pantai yang tidak memiliki sabuk pengaman untuk membendung gelombang bisa membuat ekosistem pantai rusak dan permukiman warga terancam," ucap Sudarmadji, di sela-sela acara bersih pantai dan penanaman 1.000 pohon cemara laut dan glodokan di Pantai Sendang Sikucing. Dari garis pantai sepanjang 41 kilometer di Kendal, menurut Sudarmadji, baru terdapat 300 meter sabuk pengaman hijau berupa tanaman bakau di Desa Kartika Jaya, Kecamatan Patebon. "Itu saja baru ditanami sejak 2006," katanya. Selain karena belum ada sabuk pengaman, Sudarmadji menambahkan, terjadinya abrasi diperparah oleh bangunan yang berdiri menjorok ke laut. "Adanya bangunan tersebut berakibat pada pembelokan arah arus sehingga tekanan gelombang ke suatu daerah semakin kuat," ujarnya. Hal itu seperti terjadi di Kecamatan Kaliwungu Utara. Sebuah bangunan industri kayu lapis yang didirikan menjorok ke laut sejak tahun 1984 membuat abrasi yang terjadi di sekitarnya semakin parah. (ilo) http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/04/10423040/abrasi.rusak.ekosistem.p antai. Singa Pemakan Manusia Menyantap 35 Orang Tahun 1898

Museum of Natural History Chicago

The Ghost dan The Darkness, dua singa Tsavo yang dikenal luas karena menyantap sedikitnya 35 orang.

Rabu, 4 November 2009 | 17:47 WIB WASHINGTON, KOMPAS.com — Sergapan-sergapan di malam hari oleh dua singa pemakan manusia telah menghantui para pekerja rel kereta api lebih seratus tahun lalu. Kisah nyata yang kemudian diangkat ke layar lebar dalam film berjudul The Ghost and The Darkness itu menjadi cerita pembantaian yang sangat mengerikan di Afrika. Namun, menurut penelitian baru-baru ini, jumlah mereka yang mati karena dimangsa kedua singa itu tidak sebanyak dugaan semula. Selama lebih dari sembilan bulan, kedua singa ganas yang dikenal sebagai "The Ghost dan The Darkness" itu mencabut 35 nyawa pekerja. Ini bukan jumlah yang kecil, tetapi jauh lebih sedikit dari perhitungan semula yang menyebut 135 korban. Peristiwa terjadi tahun 1898 saat Pemerintah Inggris mengerahkan para buruh dari India dan penduduk setempat untuk membangun jalur kereta dari Uganda melewati Kenya. Saat melintasi daerah bernama Tsavo, para pekerja dihantui oleh singa-singa tanpa rambut yang doyan manusia. Tidak seperti layaknya singa jantan yang berambut panjang, singa jantan Tsavo tidak berambut sehingga mirip singa betina. Satu demi satu, pekerja dibunuh dan dijadikan santapan. Jumlah yang mati dikisahkan mencapai 28 buruh ditambah banyak orang setempat yang terlibat dalam proyek sehingga keseluruhan mencapai 135 jiwa. Namun, para peneliti yang ingin tahu jumlah sebenarnya kemudian mempelajari jasad kedua singa yang kini dipajang di Museum Sejarah Alam di Chicago. Mereka menguji jenis-jenis karbon dan nitrogen dalam gigi dan rambut keduanya. Rasio bahan kimia itu kemudian dibandingkan dengan karbon dan nitrogen pada singa modern di wilayah yang sama, juga terhadap singa yang memangsa hewan dan singa yang memangsa manusia. Tulang dan gigi bisa menyimpan isotop karbon dan nitrogen dalam waktu lama,

sedangkan rasio di bulu akan berubah lebih cepat sehingga memungkinkan para peneliti menentukan jenis makanan singa dalam waktu lama dan perubahan selama bulan-bulan terakhir. Ternyata, salah satu singa diketahui menjadikan daging manusia sebagai separuh dari makanan pokoknya selama bulan-bulan terakhir ia hidup, dan diduga ia makan setidaknya 24 orang. Adapun singa yang lain telah menyantap 11 orang. Peneliti yang dipimpin antropolog Nathaniel J Dominy dan Justin D Yeakel dari Universitas California, Santa Cruz, itu mencatat bahwa jumlah kematian yang dilaporkan saat itu berkisar 28 orang seperti dilaporkan Perusahaan Kereta Uganda, dan hingga 135 orang seperti diutarakan Letkol John H Patterson, perwira Inggris yang membunuh kedua singa itu pada Desember 1898. Dalam laporan yang dimuat Proceedings of the National Academy of Sciences hari Selasa (3/11) itu disebutkan bahwa jumlah 35 yang disebutkan adalah jumlah orang yang dimakan, tidak termasuk yang sekadar dibunuh. Menurut cerita, kedua singa itu juga suka membunuh bukan untuk dimakan. Bila yang dibunuh ikut dihitung, jumlahnya bisa mencapai 75 orang. Kedua singa itu membunuh manusia ketika terjadi kekeringan yang menyebabkan mangsa mereka hilang. Pada waktu yang sama, para pekerja rel berdatangan ke lokasi mereka sehingga seolah menggantikan mangsa mereka. Hal yang sedikit aneh menurut para peneliti adalah bahwa kedua singa itu sepertinya bekerja sama membunuh orang yang mereka incar. Ini adalah hal biasa ketika mereka memburu mangsa yang besar, seperti kerbau atau zebra, tapi tidak perlu bila mereka memburu manusia atau hewan yang lebih kecil. Meski begitu, salah satu singa diketahui memiliki masalah gigi dan luka di rahang sehingga mengurangi kemampuannya untuk berburu. Dengan demikian, keduanya mungkin bekerja sama, yang satu makan lebih banyak orang, sementara yang lain lebih memilih mangsa lain, tetapi juga doyan manusia. http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/04/17475246/Singa.Pemakan.Manusia .Menyantap.35.Orang.Tahun.1898 General Motors Berusaha Mempertahankan Opel dan Vauxhall

IAA

Kanselir Jerman, Angela Merkel mencoba mobil konsep Opel pada IAA 63 yang diselenggarakan di Frankfurt September lalu.

Artikel Terkait: Rabu, 4/11/2009 | 16:16 WIB DETROIT, KOMPAS.com — Keinginan Pemerintah Jerman di bawah Kanselir Angela Merkel menjual Opel ke Magna International mendapat tantangan baru. Pasalnya, pemegang saham mayoritas perusahaan yang berbasis di Jerman itu, yaitu General Motors GM), justru ingin mempertahankannya. Hal itu langsung disampaikan CEO GM Fritz Henderson setelah melakukan rapat dewan direksi perusahaan, kemarin. ―Dengan perkembangan bisnis GM dalam beberapa bulan terakhir, keputusan strategi global adalah tetap mempertahankan Opel (di Jerman) dan Vauxhall (di Inggris),‖ ungkap Fritz Henderson dalam rilis yang diterbitkan GM. Untuk itu, produsen mobil yang 61 persen sahamnya sekarang dimiliki Pemerintah Amerika Serikat akan mempresentasikan rencana restrukturisasi ke Jerman. Terakhir, Opel gencar ditawarkan kepada Magna International Inc, Kanada, dan mitranya, OAO Sberbank dari Rusia. Ketika dibangkrutkan pada 1 Juni lalu, GM ingin menjual 55 persen sahamnya di Adam Opel GmbH. Waktu itu, GM memperkirakan bahwa mereka memerlukan 3 miliar euro untuk strukturisasi Opel. Menurut Fritz Henderson, dana yang akan digelontorkan Magna International tidak sesuai dengan harapan GM. Karena itulah, mereka memutuskan untuk tetap mempertahankannya. Ini merupakan keputusan kedua GM mempertahankan unitnya setelah dibangkrutkan awal Juni lalu. Sebelumnya, GM membatalkan penjualan Saturn ke Penske Automotive Group.

Akses teknologi Menurut pengamat industri otomotif, GM ingin mempertahankan Opel untuk mencegah kompetitornya memperoleh akses teknologi dan desain. Di samping itu, mereka juga ingin mempertahankan keberadaannya di Eropa, apalagi Opel sekarang ini adalah produsen mobil kedua terbesar setelah Volkswagen. Opel mempunyai 50.000 karyawan di seluruh Eropa. Sebanyak empat pabrik berada di Jerman dan mempekerjakan 25.000 orang. Adapun di Inggris, jumlah pekerja Vauxhall 5.000 orang. Belum dijelaskan, berapa banyak posisi jabatan yang harus dihilangkan dari Opel bila GM tetap mempertahankannya. Keinginan GM tersebut juga mengundang kritikan dari pengamat industri di Eropa. Ferdinand Dudenhoeffer, Direktur Center Automotive Reseach di Universitas Duisburg-Essen, mengatakan bahwa keputusan GM mempertahankan GM di luar batas kemampuannya. ―Pasar Eropa Barat sangat kompetitif. Peluang sukses GM lebih besar di Amerika. Mereka tidak bisa di sini. Cepat atau lambat, Opel akan bangkrut,‖ komentarnya, seperti dikutip Bloomberg. http://otomotif.kompas.com/read/xml/2009/11/04/16163596/general.motors.berus aha.mempertahankan.opel.dan.vauxhall
Performa & Konsumsi BBM Prius Gen-3 (Terakhir)

Senin, 7 September 2009 | 13:34 WIB

KOMPAS.com - Fitur yang tak menarik dari mobil full hybrid ini adalah sistem informasinya. Dengan menekan tombol ―DISP‖ di sisi kanan setir, duplikat tombol ini juga muncul di layar informasi di atas dashboard. Bila tombol DISP ditekan terus, muncul informasi lain. Yaitu ―Hybride System Indicator‖, ―Energy Monitor‖ dengan gambar mobil dan aliran tenaga dari mesin, baterai, motor listrik dan roda. ―5 minute Consumption‖, ―Trip A‖ dan ―Past Record‖ dan lainnya. Juga ada tombol untuk mengaktifkan HUD (Head-Up Display), tayangan informasi kondisi mengemudi yang muncul di kaca, sejajar dengan mata pengemudi. Interior. Interior Prius menyenangkan saat duduki, baik pada jok pengemudi, penumpang depan dan belakang. Mobil ini sangat stabili dan bergaya sport. Hal tersebut dirasakan dari stabilitas yang sangat baik ketika bermanuver dan suspensi dengan bantingan keras. Performa. Pada kondisi lalu lintas agak padat di jalan tol lingkaran luar, tim KOMPAS.com mampu melaju pada kecepatan 172 km/jam. Saat itu, masih dirasakan injakan pedal gas belum penuh. Diperkirakan, kecepatan maksimum Prius 180 km/jam. Sama dengan yang diklaim Toyota di Inggris. Akselerasi 0–100 km/jam, tercepat diperoleh bila ―Power Mode‖ aktif. Hasilnya, 11,34 detik dengan tiga penumpang di dalamnya (sekitar 200 kg). Di Inggris, Toyota klaim 10,4 detik tanpa catatan. Konsumsi bahan bakar. Itulah cara yang dilakukan Prius mengirit bahan bakar dan menyelamatkan lingkungan. Karena itu jangan heran, konsumsi bahan bakarnya paling boros 5,5 km/liter atau 18,1 km/liter. Lebih umum, 5,3 li/100 km atau 18,9 km/liter. Namun berdasarkan tes standar Eropa, konsumsi bahan bakar Prisu 25 km/liter Kesimpulan. Prius Gen-3 dijuluki juga ―technological tour de force‖. Mobil yang menggerahkan berbagai kehebatan teknologi. Dibandingkan versi sebelumnya, Gen-3, tampil lebih gaya. Dengan konsumsi berkisar 18,9 km/liter, selain ramah terhadap lingkungan, Prius juga lebih ramah terhadap kantung. Sebagai contoh, konsumsi bahan bakar paling boros, 18 km/liter. Biaya yang dikeluarkan untuk setiap kilometer bila menggunakan bensin oktan 92 (Pertamax) – saat ini dijual Rp 6.400 – adalah Rp 355/km. Kalau okan 95 (Pertamax Plus)- harga sekarang Rp 7.200 - per kilometer biayanya Rp 400. Bandingkan dengan mobil yang konsumsi bensin premiumnya 10 km/liter, yaitu Rp 450/km. Kalau jarak tempuh makin jauh dan jalanan macet sering dilalui,

Prius jauh makin ekonomis. Di samping itu, juga membantu mencegah kualitas lingkungan makin buruk! Masalahnya, modal awal mahal. Harga mobil kompak ini sama dengan kelas menengah, Rp 585 juta. Akselerasi dalam detik Kecepatan Power Mode ECO Mode 0-100 km 11.34 14,59 60 – 100 km 6,44 7,54 80 – 120 km 8,37 Kecepatan tertinggi 180 km/jam Catatan: Saat tes, penumpang 2 + 1 pengemudi, total 200 kg. Bensin di tangki 20 liter, berat mobil 1.420 kg. Dimensi Panjang Lebar Tinggi Jarak Sumbu Roda Ground Clearance min. Mesin Kapasitas Diameter x langkah Tenaga maks. Torsi maks. Tipe Tenaga dihasilkan 1.797cc 80,5 x 88,43mm 98 (73kW) @ 5.200 pm 142 @ 4.000 rpm Baterai Nickel Metal Hydrade (NiMH) 34PS Tipe Tenaga Torsi Tegangan Tegangan Tenaga hibrida net mm 4.460 1.745 1.490 2.700 140

Radius putar bodi 5,6 m Radius putar ban 5,2 m Kapasitas tangki bensin 45 liter Berat total mobil maks. 1.420 kg Total berat kotor mobil 1.805 kg Motor Listrik Magnet Permanen 80PS (60kW) 207Nm 650volt 201,6volt 134PS (110kW)

Cegah Baut Velg Mobil Tidak Macet atau Dol

AUTOBILD/HERY K

Saat mengencangkan baut lakukan menyilang

Artikel Terkait:
  

Ganti Sendiri Filter Solar Kijang Innova, Yuk! Cara Ganti Sekring yang Putus Cara Mendeteksi Kelistrikan pada Mobil Bekas

Rabu, 4/11/2009 | 15:29 WIB KOMPAS.com — Pernah sulit membuka baut roda mobil ketika mengalami ban kempis? Pemicunya bisa karena pemasangan tidak pas (miring). Yang berbahaya lagi, bila bagian itu sampai lepas karena ulirnya sudah termakan (dol) atau ukurannya tidak pas. Selain itu, model pengunci roda ada dua, tanam atau tancap. Untuk mencegah baut roda macet, ikuti langkah-langkah di bawah ini. 1. Pemilihan mur dan baut Perhatikan tonjolan (cones) dari mur atau baut. Jika tak sesuai (ngeplak) sama velg, maka itu pasti bikin lubang velg tergerus. "Bisa juga karena titik 'gigit' antara tonjolan dan velg cuma sedikit dan tidak merata," bilang Felix dari gerai velg Revolution, Radio Dalam, Jakarta Selatan. 2. Derat/ulir Derat harus sesuai dengan lubang di teromol. Kalau derat di baut terlampau besar (kasar) dan dipaksakan, maka hal itu akan membuat ulir di lubang teromol termakan (rusak). Jika sudah terpasang, maka baut susah dibuka.

3. Gemuk Jika baut roda sudah berkarat, maka hal itu bisa mengakibatkan baut susah dibuka atau seret. Sebaiknya, sebelum dipasang, olesi baut dengan gemuk. Namun, jangan terlalu banyak karena baut bisa tidak masuk dengan sempurna. 4. Mengencangkan berlebihan Disarankan, jangan mengencangkan baut atau mur berlebihan karena bisa bikin ulir pengunci roda itu rusak. Lebih parah, jika kualitas baut atau mur tidak bagus. Ini bisa mengakibatkan baut menjadi mulur. 5. Kencangkan menyilang Setiap roda mobil umumnya ada yang "diikat" dengan 4 atau 5 baut. Malah, sebagian jenis SUV menggunakan 6 baut. Kita ambil contoh yang 4 baut. Pengencangannya dilakukan secara menyilang (huruf X) agar kekuatan merata di setiap baut. Kalau terdiri dari 5 baut, maka lakukan pemasangan baut menyilang menyerupai bintang. Disarankan, setiap pemasangan baut jangan langsung dikencangkan. Pasang dulu semuanya, baru lakukan pengencangan menyilang. (Edo) enin, 2/11/2009 | 15:50 WIB KOMPAS.com — Tinggi rendahnya harga jual mobil bekas atau mobkas sangat tergantung dua hal, yakni merek dan kondisi. Untuk merek, tertinggi masih dipegang kendaraan buatan Jepang. Soal harga, masing-masing kota atau wilayah punya harga pasaran tersendiri. Misalnya, mobil—dengan merek, tahun, dan kondisi sama—berdomisili di Jakarta Utara tidak lebih mahal dari yang di Jakarta Selatan. Pasalnya, yang di Jakarta Utara mengandung kadar garam lebih tinggi karena dekat dengan laut. Kemudian, harga mobkas di Jakarta lebih murah ketimbang di Yogyakarta atau Medan (Sumut) karena pedagang di dua daerah terakhir mengambil mobil dari Jakarta. Selain wilayah, harga mobil juga ditentukan oleh kondisi fisik. Kalau kurang terawat, itu jelas bikin harga mobil jadi rendah. Nah, ada 7 cara yang bisa dilakukan jika Anda menginginkan harga mobkas tinggi. 1. Cat orisinil Ini yang diperhatikan sebagian calon pembeli sebelum beralih ke mesin dan interior. Lalu, pelat bodi diteliti, pernah tabrakan atau tidak. Apalagi jika terdapat bekas gores atau baret, maka ini perlu dihilangkan. Beberapa perlengkapan di bodi, seperti lis, logo, atau antena, sebaiknya masih utuh, termasuk komponen lampu.

2. Interior Warna dasbor, panel pintu, dan jok belum pudar. Kondisinya pun tak ada yang retak atau bolong, khususnya dasbor dan panel pintu. Jika kabin kotor, bau tak sedap, dan lenyapnya beberapa komponen atau tidak berfungsi dengan baik, maka semua ini akan membuat harga mobil jatuh. 3. Pendukung kenyamanan AC yang dingin menjadi salah satu faktor terpenting bagi calon pembeli. Lalu, kondisi busa dan pelapis jok masih terawat, begitu juga sabuk pengaman diharapkan terpasang dan berfungsi baik. 4. Kondisi mesin Ada pembeli terkadang lebih mementingkan kondisi mesin bagus ketimbang bodi. Makanya, munculnya lelehan oli mesin atau air radiator, knalpot berasap tebal, dan beberapa komponen sudah tidak asli bisa menjatuhkan harga. Kalau punya bukti perawatan berkala dan perbaikian tertentu, maka hal itu akan menambah nilai mobkas. 5. Bunyi-bunyian Hal ini bersumber dari mesin, kaki-kaki, dan interior. Bunyi-bunyian muncul karena ada dua komponen saling bergesek atau sudah kering lantaran kurang gemuk. 6. Perlengkapan tambahan Penambahan aksesori dapat menaikkan harga jual, seperti sistem audio yang sudah up-grade, pakai pelek lebar, penggantian shift knob, setir balap, dan jok semi-bucket racing. Di sisi lain, ada yang beranggapan, justru penambahan aksesori tidak sesuai selera pembeli sehingga ada biaya tambahan untuk mengembalikan kondisi mobil ke standar. Jika begitu, calon pembeli punya peluang untuk menekan harga. (Ary Damarjati) Ketika membeli mobil bekas (mobkas), yang mesti diperhatikan tak cukup meneliti kondisi bodi dan mendengar suara mesin. Kudu diketahui juga sistem kelistrikannya, seperti di antaranya kondisi ketika sinar lampu terang saat digas, meredup kala putaran mesin turun; kemudian, ruang dipenuhi kabel-kabel. Mobil dengan usia di atas lima tahun umumnya banyak mengalami gangguan pada sistem kelistrikan. Selain kabel sudah dimakan usia lantaran getas, kemampuannya mengalirkan arus menjadi berkurang.

Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk mencari tahu, apakah kelistrikan mobil—umumnya mobkas menganut 12 volt searah—masih tergolong sehat atau tidak. Dari sekian banyak cara, yang termudah dan populer adalah memakai voltmeter. Untuk yang ingin melakukan sendiri, juga bisa pakai voltmeter. Namun, sebelumnya, lakukan cara-cara di bawah ini. 1. Periksa ruang mesin bila banyak kabel tambahan yang tidak standar dan tidak rapi. Ada kemungkinan, hal ini bermasalah. 2. Perhatikan terminal positif (+) aki. Jika banyak kabel, hal itu mengindikasikan banyak aksesori tambahan yang membutuhkan listrik dan kemungkinan diambil dengan model bypass. 3. Teliti komponen kelistrikan, seperti lampu-lampu, AC, dan power window. Jika semuanya bekerja dengan baik, berarti kelistrikan masih bagus. 4. Uji ketika kondisi beban penuh, seperti menyalakan AC diikuti dengan menyalakan lampu-lampu, audio, dan lainnya; kemudian naikan putaran mesin. Jika sinar lampu, baik pada lampu utama atau di dasbor terangnya signifikan atau putaran kipas elektrik bertambah kencang, berarti ada masalah dengan pasokan listrik dari alternator. 5. Kalau masih penasaran, lakukanlah hal ini. Periksa tegangan aki saat mesin tidak hidup. Kondisi yang baik, angka di voltmeter menunjukkan 12-13 volt. 6. Untuk memeriksa alternator, hidupkan mesin dan seluruh perangkat kelistrikan, seperti lampu besar, audio, AC, dan pemanas kaca. Ukur tegangan pada aki. Alternator yang masih sehat akan menunjukkan tegangan aki yang baik, yaitu pada angka 12,8 volt. 7. Periksa tegangan pada beberapa titik yang menjadi aliran listrik positif, seperti koil, lampu-lampu, pemantik api, dan komponen lainnya. Carilah bagian yang memungkinkan Anda dapat mengecek tegangan listriknya dengan perbedaan tegangan tidak lebih dari 0,5 volt. * (Sugihendi) Amfibi Paling Rentan Kepunahan

Harvard University

Selasa, 3 November 2009 | 13:50 WIB LONDON, KOMPAS.com - Lebih dari sepertiga spesies yang diperiksa dalam sebuah studi keanekaragaman hayati internasional disimpulkan terancam kepunahan, demikian diungkap para peneliti. Dari 47.677 spesies yang masuk Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN, 17.291 di antaranya dinilai sangat terancam. Jumlah ini termasuk 21 persen jenis mamalia, 30 persen jenis ampibi, 70 persen jenis tumbuhan, dan 35 persen jenis hewan bertulang belakang. Ahli lingkungan memperingatkan tidak cukup ada upaya untuk mengatasi ancaman utamanya, antara lain hilangnya habitat mahluk hidup ini. "Bukti ilmiah menunjukkan naiknya tingkat krisis," kata Jane Smart, direktur kelompok konservasi keragaman hayati International Union for the Conservation of Nature's (IUCN). "Analisa terakhir... menunjukkan bahwa target 2010 untuk mengurangi hilangnya tingkat keragaman hayati tidak akan tercapai," tambah Smart. "Ini saatnya pemerintah mulai bertindak serius tentang upaya menyelamatkan spesies dan memastikan upaya ini ada dalam agenda tahun depan, karena waktu makin sempit," imbuhnya. Daftar Merah, dipandang sebagai upaya pencatatan paling otoritatif terhadap keadaan spesies di Bumi, dengan mengumpulkan hasil dari ribuan ilmuwan seluruh dunia. Catatan terakhir menunjukkan bahwa kelompok amfibi sebagai kelompok organisme di planet ini, dengan 1.895 dari 6.285 spesies yang dicatat paling terancam. Senin, 2 November 2009 | 12:17 WIB

Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

"Sejak tahun 2000 , pengaruh ketidakpastian iklim mulai terasa. Alam tidak lagi bersahabat dengan para petani..." (Dominggus Tse) JAKARTA, KOMPAS.com - Dampak perubahan iklim tak hanya mengakibatkan naiknya suhu secara ekstrim. Para petani juga merasakan dampak besar karena terjadinya pergeseran musim. Hal ini mengakibatkan mereka kesulitan memprediksi musim untuk mulai menanam. Pada sarasehan iklim "Memperjuangkan Keselamatan di Tengah Perubahan Iklim", Senin (2/11), di Jakarta, para petani dari sejumlah daerah menyampaikan keluh kesahnya. Salah satunya Dominggus Tse. Dominggus adalah petani jagung di Desa Nusa, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ia mengisahkan, untuk memprediksi musim, petani di daerahnya menggunakan cara tradisional yang diwariskan secara turun menurun. "Ramalan dari leluhur kami, sekarang sering meleset, tidak tepat. Biasanya, kami membaca tanda-tanda alam dengan melihat bintang yang sering muncul pertengahan September. Tapi sekarang, ramalannya sering meleset," kata Dominggus. Musim hujan yang biasanya datang pada bulan Oktober hingga Maret pun tak datang seperti biasanya. Tanaman jagung di desa Nusa, menurut Dominggus, normalnya ditanam pada masa-masa awal hujan turun. "Bibit yang ditanam kadang habis. Kalau hujan tidak turun dan tanah kering, jagung akan mati. Kalau hujannya lama, tanah basah, jagung juga akan tumbuh kerdil dan buahnya lebih kecil," kata dia. Dominggus dan para petani didaerahnya menamakan hujan yang tak jelas ini dengan "hujan tipu". Air hujan memang menjadi sumber utama untuk pertanian tanaman pangan di Desa Nusa. Guna mengatasi dampak perubahan musim dan

gagal panen, para petani menerapkan sistem pertanian tumpang sari. Petani juga membuat bak mini untuk menampung air hujan, sehingga dapat digunakan untuk menanam sayur pasca panen jagung. Keluhan yang sama juga datang dari Kamsari, petani asal Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Menurut Kamsari, petani di desanya bisa mulai melakukan penanaman pada pertengahan November. "Beberapa tahun terakhir musim tidak bersahabat pada kami karena sering banjir sehingga pola tanam tidak menentu dan merugikan petani. Akibatnya, petani sering gagal panen. Perubahan iklim ini merugikan petani," ujar Kamsari. Biasanya, dalam setiap kali panen, para petani bisa menghasilkan hingga 3,5 ton gabah kering panen. "Tapi sejak musim bergeser, panen sering gagal, padi tidak berisi dan hasil panen turun drastis sampai kurang dari 50 persen," ungkapnya. Para petani ini pun menitipkan harapan pada pemerintah, agar bertindak cepat untuk membantu petani mengurangi dampak perubahan iklim. "Kami berharap, pemerintah bisa membantu menjembatani keadaan sekarang agar petani lebih sejahtera menyongsong masa depan," ujar Kamsari. Adaptasi Perubahan Iklim Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, pengaruh perubahan iklim memang sangat beragam. Perubahan musim hujan yang biasanya turun pada media OktoberMaret, membutuhkan waktu lama untuk mengadaptasi kepada para petani. "Perubahan musim ini juga mengakibatkan perubahan kebiasaan dan adaptasi. Perubahan harus simultan dan menggerakkannya secara simultan. Untuk itu membutuhkan waktu, sehingga masih banyak kegagalan," kata Gatot. Akan tetapi, Gatot mengapresiasi inisiatif para petani yang membuat tandon khusus untuk menampung air. Persediaan air ini dinilai bisa meredam bencana banjir dan kekeringan. "Marilah kita memecahkan masalah masa depan dengan teknologi masa depan. Jangan masalah saat ini diatasi dengan teknologi masa lalu," kata dia.

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/03/13500876/amfibi.paling.rentan.kep unahan Berita Foto: Perdagangan Satwa Dilindungi

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Seekor elang ular bido (Spilornis cheela bido) berada di sangkar saat disita dan diamankan petugas di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur di Sidoarjo, Selasa (3/11). Selain elang ini, petugas juga menyita 28 ekor burung julang emas (Aceros undulatus) dan seekor lutung jawa (Trachypitecus auratus) dari pedagang satwa di Klakah, Lumajang. Satwa-satwa dilindungi tersebut termasuk satwa endemik yang habitatnya tersebar di daerah hutan pegunungan di Jawa.

Artikel Terkait:


BBKSDA Gagalkan Perdagangan Satwa

Rabu, 4 November 2009 | 08:53 WIB LUMAJANG, KOMPAS.com — Meski dilarang, perdagangan satwa langka masih dilakukan di berbagai tempat di seluruh Indonesia. Beberapa pedagang menjual satwa langka dengan terang-terangan, tetapi beberapa yang lain sembunyi-sembunyi sehingga untuk mencarinya harus menggunakan cara berbelit-belit. Mereka yang terang-terangan biasanya memajang satwa langka dagangannya secara terbuka, sedangkan yang sembunyi-sembunyi umumnya tidak bersedia menunjukkan satwa yang dijual sebelum yakin yang dihadapinya adalah pembeli. Oleh karena itu, petugas harus pandai-pandai mengungkap praktik terlarang ini. Salah satu usaha petugas adalah melalui operasi seperti yang dilakukan di pasar satwa Klakah, Lumajang, Selasa (3/11). Dalam operasi itu, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur menyita elang ular bido (Spilornis cheela bido), 28 ekor burung julang emas (Aceros undulatus), dan seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus). Satwa-satwa dilindungi tersebut termasuk satwa endemik yang habitatnya tersebar di daerah hutan pegunungan di Jawa.

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/04/08535853/berita.foto.perdagangan. satwa.dilindungi KATHMANDU, KOMPAS.com — Tanpa konservasi terarah, populasi harimau di dunia akan punah dalam 20 tahun mendatang. Kerusakan dan penyempitan habitat, perburuan liar, dan mitos khasiat organ tubuh harimau menjadi ancaman utama. Saat ini, populasi harimau di 12 negara diperkirakan 3.500 ekor. Kondisi itu jauh dibandingkan dengan data 100 tahun lalu, yang mencapai 100.000 ekor. ‖Harimau akan habis 15 hingga 20 tahun mendatang dengan pendekatan konservasi biasa,‖ kata Direktur Program Save the Tiger Fund, yang berbasis di Washington, AS, Mahendra Shrestha di sela-sela konferensi konservasi harimau di Kathmandu, Nepal, Rabu (28/10). Pada Maret 2009, Mahendra bersama tim konsultan Bank Dunia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Mereka bertemu Forum Harimau Kita, Departemen Kehutanan, dan pihak kepolisian untuk mencari informasi seputar konservasi harimau sumatera dan mereka siap mendukung. Menurut Mahendra, penegakan hukum, patroli perburuan liar, dan konservasi habitat tersisa akan memperbaiki situasi. ‖Di sanalah harapan dan dapat dikerjakan. Tidak mensyaratkan banyak aktivitas baru.‖ Yang dibutuhkan adalah kemauan politik kuat dan dukungan global bagi aktivitas konservasi di beberapa negara ‖pemilik‖ harimau, di antaranya adalah Indonesia, Banglades, Bhutan, Kamboja, China, Laos, India, Malaysia, Myanmar, Nepal, Thailand, Vietnam, dan Rusia. ‖Tantangannya adalah menyediakan lanskap untuk harimau tersisa seluas lanskap harimau yang sudah terbunuh,‖ kata Kepala Peneliti pada Smithsonian National Zoo’s Conservation Ecology Center John Seidensticker. Habitat harimau global diperkirakan menyusut 40 persen terkait kerusakan hutan. Dihubungi pada Rabu malam, peneliti Universitas Andalas, Wilson Novarino, mengatakan, data resmi populasi harimau sumatera adalah data tahun 1992. ‖Empat ratus ekor,‖ kata Wilson yang juga anggota Forum Harimau Kita. Di Indonesia, harimau tersebar pada 9 dari 11 taman nasional dan di kawasan yang dilindungi.

Data Departemen Kehutanan dan Program Konservasi Harimau Sumatera menunjukkan, tahun 1996-2004 terjadi 152 lebih konflik harimau dengan manusia, sekitar 25 orang tewas. Konflik tak lepas dari penyempitan habitat dan berkurangnya mangsa alami. http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/29/0901197/harimau.punah.dua.dekad e.lagi Menhut Minta Penambangan Pasir Krakatau Dihentikan

SANDRO GATRA

Kawah Gunung Anak Krakatau yang masih aktif.

Artikel Terkait:
    

Dahsyat, Etnik di Panggung Krakatau Krakatau Band Besok Pentas dan Pameran di BBJ Meski Diguncang Gempa, Krakatau Aman Mengamankan Cagar Alam Krakatau dengan Keterbatasan Panorama di Puncak Gunung Anak Krakatau

Jumat, 30 Oktober 2009 | 17:11 WIB BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Pasir Gunung Anak Krakatau terancam ditambang dengan dalih melakukan mitigasi bencana gunung berapi. Menteri Kehutanan memastikan kegiatan tersebut illegal dan harus berhenti. Manajer Wilayah Sumatera Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Mukri Friatna, Jumat (30/10) mengatakan, informasi kegiatan penambangan pasir Gunung Anak Krakatau sudah diperoleh sejak dua bulan yang lalu. Akan tetapi, kegiatan yang menyolok baru terjadi dua minggu yang lalu. Tepatnya ketika dua buah kapal merapat di pantai Gunun g Anak Krakatau. Satu kapal di antaranya memuat pipa-pipa. Mukri mengatakan, kapal tersebut adalah kapal LCT Menumbar Samarinda dan Eka Buana III Samarinda. "Dari penelusuran Walhi dengan mengkonfirmasi

kepada anak buah kapal, pipa-pipa di dalam kapal tersebut hendak dipasang untuk menyedot pasir Gunung Anak Krakatau," ujar Mukri. Saat penelusuran tersebut, Walhi tidak melihat adanya pasir Krakatau di dalam kapal. Akan tetapi, berdasarkan penuturan warga Pulau Sebesi, atau pulau terdekat dengan Gunung An ak Krakatau, kapal tersebut beberapa kali sudah mengangkut pasir dari Krakatau keluar. Keterangan yang dihimpun di lapangan menunjukkan, kedua kapal tersebut milik PT Ascho Unggul Pratama, sebuah perusahaan pertambangan yang berkantor di Jakarta. Perusahaan menempatkan kedua kapal di Gunung Anak Krakatau dengan alasan untuk mitigasi. Kegiatan tersebut dilakukan setelah PT Ascho Unggul Pratama mengantungi Surat Keputusan Bupati Lampung Selatan No.503/1728/III.09/2008 tanggal 15 Mei 2008. Di dalam surat ter sebut, Zulkifli Anwar selaku bupati saat itu memberikan kuasa pengelolaan mitigasi Gunung Anak Krakatau, izin pengangkutan, dan penjualan. Perusahaan diberi izin selama 25 tahun. Kegiatan tersebut kembali diperkuat dengan SK Bupati Lampung Selatan saat ini Wendy Melfa tanggal 1 Oktober 2009. Surat tersebut berisi tentang persetujuan survey dan pengujian alat dalam rangka mitigasi Gunung Anak Krakatau. Direktur Utama PT Ascho Unggul Pratama Suharsono yang dikonfirmasi memastikan, penempatan kedua kapal di sekitar Gunung Anak Krakatau sudah mendapat izin dari Pemkab Lampung Selatan. "Lagipula, kami tidak menambang di sana. Kami hanya menguji coba pemasangan peralatan untuk keperluan mitigasi," ujar Suharsono. Suharsono mengatakan, mitigasi itu dilakukan untuk membantu Pemkab Lampung Selatan melakukan mitigasi bencana. Tindakan tersebut sesuai dengan rencana teknis dan strategis aksi mitigasi bencana Kabupaten Lampung Selatan. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung Ambar Dwiyono mengatakan, izin masuk wilayah Gunung Anak Krakatau diberikan karena perusahaan hendak mengadakan uji coba pemasangan alat mitigasi. Izin masuk diberikan oleh BKSDA Lampung tanggal 29 September 2009. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) Bandung Surono mengatakan, kegiatan perusahaan tersebut sejatinya hanya untuk mendapatkan pasir Krakatau dengan dalih mitigasi. Sesuai Undang Undang No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana sudah jelas diatur, dalam penanggulangan bencana yang diperhatikan adalah manusia. Dalam hal mitigasi gunung berapi, BPVMG adalah pihak yang berkepentingan melakukan mitigasi supaya bisa diberikan peringatan dini atau potensi ancaman

lain kepada pemerintah daerah. Pemerintah daerah adalah pihak yang kemudian menin daklanjuti peringatan dalam bentuk pengungsian atau evakuasi. Dalam pencegahan, pemerintah daerah pula yang berhak membuat jalur evakuasi serta sosialisasi. Surono menjelaskan, selain itu, mengacu pada UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Ala m Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) dan UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, sama sekali tidak perbolehkan adanya kegiatan di kawasan cagar alam. Selain itu juga tidak diperbolehkan kegiatan yang mengubah bentang alam dan kegiatan eksploitasi seperti penambangan pasir. "Kepulauan Gunung Anak Krakatau sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan ditetapkan kembali oleh Pemerintah RI sampai sekarang," ujar Surono. Surono menegaskan, BPVMBG tidak pernah merekomendasikan pengurangan resiko bencana geologi dengan menambang pasir. "Sesuai kajian, tindakan mitigasi dengan mengurangi partikel dengan menggali atau pemanfaatan pasir agar letusan muntahan material yang terlontar tidak terlalu besar atau membiarkannya hingga terjadi letusan hebat, sama-sama mempunyai resiko besar," tegas Surono. Berdasarkan pertimbangan dan rekomendasi Surono tersebut, Menhut MS Kaban menerbitkan surat pada 19 Agustus 2008 sebagai jawaban atas tiga surat Bupati Lampung Selatan yang dikirimkan kurun waktu 20072008 yang menginginkan adanya mitigasi. Dalam suratnya Menhut memastikan tidak boleh ada aktivitas mitigasi di Gunung Anak Krakatau dengan menambang pasir. Untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), Menhut menyarankan Pem kab Lampung Selatan mengembangkan wisata alam terbatas di luar kawasan cagar alam atau perairan sekitar kawasan. Zulkifli Anwar, mantan Bupati Lampung Selatan mengatakan, kegiatan di Gunung Anak Krakatau tersebut belum ada izin Menhut. Ia mengakui, saat m enjabat Bupati, melihat potensi kebencanaan yang dimiliki gunung berapi tersebut ia memberikan izin survei kepada beberapa perusahaan. Ada sekitar tiga perusahaan yang mencoba mensurvei, salah satunya PT Ascho tersebut, ujar Zulkifli. Namun demikian, kepada tiga perusahaan tersebut ia mewanti-wanti tidak boleh ada kegiatan penambangan di wilayah Gunung Anak Krakatau tanpa ada surat izin dari Menhut. Secara terpisah Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan, kegiatan penambangan di kawasan Cagar Alat Laut Krakatau merupakan kegiatan illegal. "Harus segera dihentikan," ujarnya tegas.

Kegiatan tersebut melanggar UU No.5 Tahun 1990 dan UU No.41 Tahun 1999. Menhut menegaskan, ia sudah menurunkan tim untuk meneliti dan menyelidiki kegiatan tersebut. http://sains.kompas.com/read/xml/2009/10/30/17115838/menhut.minta.penamban gan.pasir.krakatau.dihentikan Mengamankan Cagar Alam Krakatau dengan Keterbatasan

SANDRO GATRA

Minggu, 18 Oktober 2009 | 07:20 WIB LAMPUNG, KOMPAS.com - Polisi hutan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung bekerja mengamankan seluruh wilayah Cagar Alam Krakatau dengan segala keterbatasan yang ada. Dana yang minim menjadi kendala utama petugas dalam bekerja. Wakil kepala Resort Cagar Alam Kepulauan Krakatau, M Iqbal, mengatakan, cagar alam dijaga oleh 10 polisi hutan (polhut), ditambah 8 orang pengelola ekosistem hutan, dan 4 kru kapal yang bertugas secara periodik seminggu sekali. Polhut yang tidak mendapat shif jaga di cagar alam bekerja di kantor pusat BKSDA di Bandar Lampung. Menurut Iqbal, BKSDA hanya memiliki dua kapal patroli yaitu kapal speedboad dan kapal kayu. Kondisi kapal kayu saat ini rusak parah di bagian atap, namun mesin serta bagian bawah kondisinya masih baik. Akibat rusak, kapal tersebut tidak digunakan dan disandarkan di dermaga Pulau Sebesi, Kec. Rajabasa, Kab Lampung Selatan. Sedangkan kapal speedboad jarang digunakan akibat boros bahan bakar. "Udah beberapa kali kita patroli pakai speedboad kehabisan bahan bakar terus ditarik nelayan ke pulau. Kalau lagi patroli kita lihat ada kapal mencurigakan yah kita

kejar. Jaraknya bisa jauh dan perlu banyak bahan bakar. Sedangkan dana kita terbatas," jelasnya. Karena itu lah kini Polhut berpatroli dengan kapal nelayan. Polhut bertugas menjaga kawasan Cagar Alam Krakatau dengan total area 13.605 hektar meliputi darat dan laut dari ulah pengebom ikan, penebang kayu, dan kejahatan lain. Sekali patroli, diperlukan dana sekitar Rp. 5 juta untuk bahan bakar solar. Akibat besarnya dana yang dibutuhkan, patroli menjadi tak menentu. Petugas sangat mengandalkan informasi nelayan setempat. "Kita patroli kalau menerima banyak informasi pengebom ikan. Mau gimana lagi dananya sangat terbatas. Dulu penebang hutan banyak tapi sekarang udah jarang. Nah, pengebom ikan masih sering," terang dia. Kawasan cagar alam terdiri dari empat gunung yaitu Krakatau, Anak Krakatau, Panjang, dan Sertung. Untuk pengamanan, Polhut membangun pos di Panjang dan Sertung. Kini pos pengamatan di Panjang rusak akibat terpaan angin kencang saat badai sehingga pengamatan hanya dilakukan melalui pos Sertung.

Hidup berhari-hari di pulau terpencil

Petugas BKSDA lainya, Awaludin, menceritakan, setiap akan bertugas di pos Sertung, polhut membawa perbekalan untuk seminggu ke depan seperti beras, mie instan, daging, bumbu masak, dan bekal lain. Selain membawa bekal, petugas juga mencari ikan, kepiting, dan sayuran di sekitar pulau untuk makanan seharihari. Selain patroli pengamanan cagar alam, polhut juga bertugas menemani wisatawan serta peneliti yang ingin memasuki kawasan cagar alam. Jika menemani peneliti, polhut dapat tinggal berbulan-bulan di kawasan cagar alam. "Kalau nemani peneliti lama. Lewat seminggu udah mulai bosan. Tapi mau gimana lagi udah tugas," tuturnya. Waduh, Buang Limbah Kapal di Batam Gratis

KOMPAS/ANDREAS MARYOTO

Salah satu pemandangan khas Kota Batam, yaitu Jembatan Barelang.

Rabu, 4 November 2009 | 10:38 WIB BATAM, KOMPAS.com - Pencemaran laut akibat pembuangan limbah mengancam perairan Pulau Batam, Kepulauan Riau, yang terlihat dari kondisi air laut yang kotor, demikian dikatakan Staf Ahli Bidang Pengamanan Badan Pengusahaan Batam, Bambang Bunar. "Kami sering melihat tepi pantai di Batam menghitam karena limbah sehingga banyak tumbuhan dan biota laut mati," katanya di sela menerima kunjungan wartawan unit Departemen Pertahanan di Batam, Rabu (4/11). Ia menduga limbah laut berasal dari kapal yang melintas di perairan Batam. "Kendati sering terjadi, kami belum pernah memergoki kapal yang membuang limbah sembarangan sehingga sulit untuk menangkap pelakunya," katanya. Limbah yang dibuang tidak saja limbah cair tapi juga limbah padat. Bahkan, ada kapal-kapal tertentu sengaja membuang limbah saat melintas perairan Batam, sebab membuang limbah di negara lain membutuhkan biaya yang lebih besar. "Kami juga belum punya alat untuk mendeteksi kapal-kapal yang melintas di laut termasuk aktivitasnya sehingga jika ada yang membuang limbah tidak ketahuan," katanya. Perairan Singapura yang berbatasan langsung dengan perairan Batam juga rawan pembuangan limbah di laut namun hal itu bisa dicegah. Singapura mempunyai alat untuk mendeteksi aktivitas semua kapal yang melewati perairannya sehingga tidak ada yang berani membuang limbah di tempat itu. Singapura, juga memiliki cara menanggulangi limbah yang terlanjur masuk laut sehingga tidak menyebabkan pencemaran yang bisa menyebabkan biota laut mati. "Kami belum mampu untuk mencegah pembuangan limbah ataupun mengurangi efeknya," katanya.

Badan Pengusahaan Batam akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar kasus ini tidak terjadi lagi. Gangguan keamanan laut lain, perompakan. Namun frekuensinya sudah menurun.

Deputi Pengawasan dan Pengendalian Badan Pengusahaan Batam, Asroni Harahap mengatakan perampokan laut dapat ditekan karena ada patroli bersama antara Indonesia, Malaysia dan Singapura. "Bahkan beberapa tahun lalu ada patroli dari Amerika Serikat ikut mengamankan laut dari perompakan," katanya. Namun, perompakan itu bukan seperti yang terjadi di Somalia yang meminta uang tebusan dalam jumlah besar hingga ratusan miliar rupiah. "Sasaran perompak di sini bukan kapal atau muatan kapal tapi awak kapal yang membawa uang bekal selama berlayar," katanya. Kapal yang menjadi sasaran, tanker karena awaknya hanya 10 orang dan laju kapal lambat. "Para perompak itu tahu jika ruangan di kapal tanker sedikit sehingga mudah untuk beraksi," katanya. Perompakan sudah berkurang sehingga diharapkan Selat Malaka dan perairan Batam aman untuk lalu lintas kapal-kapal dari negara lain. http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/04/10380447/waduh.buang.limbah.kap al.di.batam.gratis Biogas Kotoran Manusia Terus Dikembangkan

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Nyonya Budi (35) memasak menggunakan kompor biogas di Dukuh Kanoman, Desa Gagaksipat, Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (26/2). Energi biogas dialirkan dari bak yang berisi limbah cair sisa pembuatan tahu.

Artikel Terkait:


Baru 25 Persen Perajin Tahu Olah Biogas

   

Sebagian Perajin Tahu di Gunungsaren Belum Pasang Instalasi Dengan Kotoran Sapi, Hasil Pertanian Melimpah LIPI Rintis Bioelektrik di Desa Giri Mekar Kotoran Sapi Terangi 98 Rumah

Minggu, 1 November 2009 | 20:53 WIB WONOSARI, KOMPAS.com- Biogas dari kotoran manusia terus dikembangkan di wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Setelah sebelumnya memasang instalasi pengolahan biogas di bantaran Kali Besole, Kementerian Lingkungan Hidup membangun instalasi yang sama di Pondok Pesantren Darul Quran. Pembangunan instalasi biogas di pesantren ini berpotensi menciptakan ekopesantren atau pesantren berwawasan lingkungan. Ketua Pondok Pesantren Darul Quran Ahmad Haris Masduki mengatakan akan menularkan teknologi pengolahan limbah ini ke pondok pesantren lain pada forum ekopesantren yang akan digelar di Yogyakarta, Rabu (4/11). "Pengolahan limbah menjadi biogas mampu menciptakan pondok pesantren yang ramah lingkungan atau ekopesantren," ujar Haris, Minggu (1/11). Teknologi pengolahan limbah kotoran manusia yang baru satu bulan terakhir dipasang di Pondok Pesantren Darul Quran ini diadopsi dari Jerman melalui Bremen Overseas Research and Development Association. Dengan mengolah kotoran manusia, pengelola pondok pesantren bisa menghemat pengeluaran uang untuk pembelian bahan bakar hingga Rp 2,5 juta per bulan. Limbah cair dari instalasi pengolahan biogas juga bisa dimanfaatkan bagi pertanian. Dari lahan seluas 1.500 meter persegi, para santri bisa memanen aneka sayuran dengan nilai jual hingga Rp 1,6 juta per bulan. "Keuntungan ekonomi hanya efek samping. Yang terpenting limbah tak lagi menjadi masalah, tetapi justru bermanfaat," tambah Haris. Santri di Pondok Pesantren Darul Quran, Muhtasin, mengaku, awalnya dia dan sekitar 400 santri lainnya merasa jijik untuk memanfaatkan biogas dari kotoran manusia. Dia dan rekan-rekannya mulai terbiasa memanfaatkan biogas setelah mencicipi rasa masakan yang tidak berbeda dengan menggunakan bahan bakar jenis lain. Sebelum mengenal pengolahan biogas, limbah dari pondok pesantren hanya dibuang ke areal persawahan sehingga mencemari lingkungan. Lewat pengolahan limbah tersebut, para santri juga diajak untuk menjaga kelestarian lingkungan. Ke depannya, pengelola pondok pesantren berharap bisa memanfaatkan olahan limbah kotoran manusia ini sebagai bahan baku pupuk.

Sejak Desember lalu, warga di pinggiran Kali Besole, Gunung Kidul, juga telah memanfaatkan gas dari kotoran manusia sebagai bahan bakar. Pemerintah memperbaiki toilet warga yang hidup berdesakan di pinggir kali dan menampung seluruh kotoran dari tujuh rumah. Gas dari kotoran tersebut baru bisa dimanfaatkan oleh 13 orang dari dua keluarga. http://sains.kompas.com/read/xml/2009/11/01/20535377/biogas.kotoran.manusia.t erus.dikembangkan Nissan Serena Akan Jadi MVP Hybrid Pertama di Dunia

NMC

Artikel Terkait:
 

Mazda Rangkul Toyota Bikin Mobil Hybrid Toyota Tunda Bikin Mesin 1.6 L, Siap Bikin Hybrid ...

Jumat, 17/7/2009 | 16:59 WIB TOKYO, KOMPAS.com — Permintaan akan mobil hybrid kini terus melonjak seiring makin ketatnya regulasi emisi gas buang yang berkembang di negara maju. Situasi ini tentu tak mau dilewatkan Nissan Motor Corporation (NMC) Jepang untuk ikut menggarapnya. Salah satu pabrikan mobil di negeri Sakura ini akan segera membuat mobil hybrid pertamanya, bukan hatch-back seperti Toyota, sedan seperti Honda, atau truk ringan seperti Mitsubishi, melainkan kendaraan multi purpose vehicle (MPV) hybrid pertama di dunia dengan platform produk terlarisnya di Jepang, Serena. Seperti dilaporkan Kantor Berita Jepang, Nikkei, MPV ini sengaja dipilih karena belum ada produsen mobil di dunia yang melirik segmen ini. Tahun 2011 dipatok untuk menjadi waktu peluncuran pertama ke pasar.

Produsen mobil yang 44 persen sahamnya dimiliki Renault SA ini berencana mengikuti merek lain yang terus mengembangkan produk hybrid-nya di pasar mobil Jepang dan dunia. Nissan seperti tertinggal dari Toyota, Honda, dan Ford untuk segmen ramah lingkungan karena mereka lebih fokus dalam mengembangkan mobil listrik. Bayangkan saja, Honda yang tahun ini melemparkan Insight hybrid, tahun depan siap memperkenalkan dua hybrid baru (CR-Z dan Fit). Sementara itu, Mazda tengah mengembangkan mesin elektrik bekerja sama dengan Toyota. Langkah agresif Nissan ini bukan tanpa alasan. Perusahaan Keuangan AS, JP Morgan, memprediksi permintaan hybrid akan melonjak menjadi 13,3 persen tahun 2020 dari posisi 0,7 persen pada 2008. Sebenarnya, kalau untuk sekadar jualan, Nissan sudah berpengalaman dengan memasarkan mobil hybrid Altima yang menggunakan sistem dari Toyota untuk pasar AS. Nah, sekarang tinggal menunggu realisasi yang akan dilakukannya. Ekosistem sawah rusak Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme). Bagaimana halnya dengan ekosistem sawah pasca penggunaan pupuk dan pestisida kimia? Kenyataan menunjukkan bahwa berkurang atau bahkan sudah habisnya unsur organik dalam tanah pertanian kita ternyata bukan hanya mengakibatkan miskinnya unsur hara sehingga tanah tidak lagi subur, ternyata juga berakibat berkurangnya jasad renik baik dalam jumlah maupun jenisnya. Tidaklah mengherankan bila saat ini kita kesulitan menemukan belut yang hidup di lumpur sawah. Penggunaan pestisida kimia bukan hanya mampu membunuh hama pengganggu tanaman, tetapi juga membunuh predator alami hama tanaman. Secara alami, predator inilah yang bertugas menyeimbangkan jumlah hama tanaman, sehingga keseimbangan ekosistem terjaga. Celakanya, hama tanaman yang tidak mati justru menjadi kebal (imun) terhadap pestisida kimia, sehingga dibutuhkan dosis yang makin meningkat. Penggunaan pestisida kimia juga membunuh hewan-hewan kecil, juga hewan air termasuk ikan dimana lele ada didalamnya. Tidak mengherankan bila bocah Jawa telah kehilangan istilah "Pakboletus". http://java-organik.blogspot.com/2009/01/rusaknya-ekosistem-sawah.html

Konversi Kawasan Lindung Jawa Barat
Thursday, 27 November 2008 17:13 administrator

Konversi lahan tidak hanya berpengaruh terhadap produksi pangan, tetapi juga hilangnya investasi untuk membangun irigasi dan prasarana lainnya. Menurut Sumaryanto dan Tahlim Sudaryanto dari Pusat Studi Sosial Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), nilai investasi per hektar sawah tahun 2000 lebih dari Rp 25 juta dan tahun 2004 mencapai Rp 42 juta per hektar. Jika biaya pemeliharaan sistem irigasi dan pengembangan kelembagaan pendukung juga diperhitungkan, investasi untuk mengembangkan ekosistem sawah akan mencapai lima kali lipat dari angka tersebut. Belum lagi kerugian ekologis bagi sawah di sekitarnya akibat alih fungsi sebagian lahan, antara lain hilangnya hamparan efektif untuk menampung kelebihan air limpasan yang bisa membantu mengurangi banjir. Kerugian itu masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja dan pendapatan bagi petani penggarap, buruh tani, penggilingan padi, dan sektor- sektor pedesaan lainnya. Sektor pertanian, terutama padi, merupakan sektor yang paling banyak menyediakan lapangan kerja. Menurut Ketua Program Studi Sosiologi Pedesaan Pascasarjana IPB MT Felix Sitorus, alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan nonpertanian terkait paradigma pertanahan penguasa. Di era kolonialisme Inggris (1811-1816), paradigmanya adalah tanah untuk negara, semua tanah milik raja atau pemerintah, petani wajib membayar pajak dua per lima dari hasil tanah garapannya. Masa tanam paksa (1830-1870), paradigmanya tetap tanah untuk negara, pemerintah menjadi pemilik tanah, dan kepala desa meminjam tanah itu, selanjutnya dipinjamkan kepada petani. Petani tidak membayar pajak, tetapi seperlima dari tanahnya harus ditanami komoditas tertentu yang hasilnya diserahkan kepada Pemerintah Belanda. Paradigma bergeser pada era kapitalisme kolonialisme (1870-1900), yaitu tanah untuk negara dan swasta, pemerintah memberikan hak erpacht 75 tahun kepada pemodal. Di era pemerintahan Presiden Soekarno, paradigma diubah menjadi tanah untuk rakyat dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Tahun 1960, yang diikuti landreform (1963-1965) soal penetapan luas tanah pertanian. ”Tetapi hanya sebentar, belum terimplementasi dengan baik. Pemerintahan Soeharto mengembalikan paradigma, yaitu tanah untuk negara dan swasta, dan itu berlangsung sampai kini, apalagi adanya Perpres No 36/2005,” kata Felix. Krisis paradigma pertanahan yang berlangsung lama di Indonesia terlihat setidaknya dari banyaknya kasus sengketa tanah antara rakyat dan pemerintah atau pengusaha. Konsorsium Pembaruan Agraria tahun 2002 mencatat ada 1.920 kasus sengketa tanah, yang melibatkan 1.284.557 keluarga dengan luas lahan 10,512 juta hektar. ”Oleh karena itu, sebelum ditetapkan keputusan menyediakan lahan abadi pertanian seluas 15 juta hektar, harus jelas dulu itu untuk siapa, apakah tanah pertanian abadi untuk negara, swasta, atau petani. Selama paradigmanya masih tanah untuk negara dan

swasta, konversi lahan masih tetap akan terjadi. Sementara bagi petani, bertani bukan sekadar untuk alasan ekonomi, tetapi bagian dari pandangan hidupnya,” ujar Felix. Setidaknya telah ada sembilan peraturan, mulai dari keputusan presiden, peraturan Menteri Dalam Negeri, peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional, hingga surat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mengendalikan konversi lahan pertanian ke nonpertanian. Semua itu tidak efektif menghentikan konversi. Persoalan ini tidak cukup hanya dihadapi dengan peraturan perundang-undangan karena masalahnya bukan hanya persoalan kebutuhan sektor lain akan lahan, tetapi menyangkut kesejahteraan petani, kepentingan keuangan pemerintah daerah, para pengejar rente, serta kebijakan dasar perekonomian yang ingin dibangun. Diperlukan komitmen yang kuat untuk mencegah terjadinya konversi lahan pertanian, yang diwujudkan pada visi baru dalam kebijakan yang dilaksanakan. Keberpihakan pada kesejahteraan petani, kepentingan menjaga ketahanan pangan nasional, serta menjaga kelestarian lingkungan harus dinyatakan dengan jelas. Menjadikan sektor pertanian sebagai lapangan usaha yang menarik dan bergengsi secara alami dapat mencegah terjadinya konversi lahan. Jika konversi terus terjadi tanpa terkendali, hal itu tidak saja melahirkan persoalan ketahanan pangan, tetapi juga lingkungan dan ketenagakerjaan.

http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/bidang-tata-kelola/subid-penyelarasandan-evaluasi/162-kawasan-lindung


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:625
posted:11/8/2009
language:Indonesian
pages:33