Docstoc

skripsi pendidikan agama islam PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ

Document Sample
skripsi pendidikan agama islam PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ Powered By Docstoc
					PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ
  (Studi Aplikasi Quantum Teaching di MTs Negeri Mojorejo-Wates)




                           SKRIPSI




                             Oleh :
                         Wilis Rofi'ah
                         NIM. 01140034




           JURUSAN PENDIDIKAN ISLAM
              FAKULTAS TARBIYAH
           UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
                   MALANG
                     2006




                               1
                HALAMAN PERSETUJUAN

PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ
 (Studi Aplikasi Quantum Teaching di MTs Negeri Mojorejo-Wates)



                           SKRIPSI


                             Oleh :
                        Wilis Rofi'ah
                           01140034


                         Telah Disetujui
                         Pada tanggal,


                             Oleh :
                       Dosen Pembimbing




                     Triyo Supriyatna M.Ag
                        NIP: 150 311 702




                        Mengetahui,

              Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam




                     Drs. Moh. Padil, M. Pd
                        NIP. 150267235




                               2
                    HALAMAN PENGESAHAN

                               SKRIPSI


                                 Oleh:

                            Wilis Rofi'ah
                               01140034



           Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi
          Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam
             Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
         Dan Diterima Sebagai salah satu Persyaratan Untuk
         Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. PdI)
                   Pada Tanggal: 26 April 2006


   DEWAN PENGUJI                                          TANDA TANGAN


1. Drs. H. Muchlis Usman        Penguji Utama         1................................
                                                        NIP.150019539

2. Triyo Supriyatno, MAg        Ketua                 2................................
                                                        NIP.150311702

3. H. Zulfi Mubarak, M.Ag       Sekretaris Penguji    3................................
                                                        NIP.150302532




                               Mengesahkan
                              Dekan Tarbiyah
                  Universitas Islam Negeri (UIN) Malang




                     Dr. H. M. Djunaidi Ghony
                            NIP. 150042031



                                   3
                                    MOTTO




            ‫ي ْص ْك َيَب ا د َك‬                 ‫ي َيه ال ِ ن أمن ا ت ْ ُر‬
   :‫َآاُّ َا َّذيْ َ َ َُوْا ِنْ َنص ُوْا اللهََن ُر ُمْ وُثِّتْ َقْ َام ُمْ (محمد‬

                                                                                     )7
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (Agama) Artinya:
Allah,   niscaya    Dia    akan     menolongmu        dan    meneguhkan
                                     kedudukanmu (Qs Muhammad:7).



   ‫ُ ع ال سب ْل َبك ب ِ َة و َ ْعظة َسَة َج د ْه ِالت هي‬
   َ ِ ‫ادْ ُ َِى َِي ِ رِّ َ ِالْحكْم ِ َالْمو ِ َ ِ الْح َن ِ و َا ِل ُمْ ب َِّى‬

   ‫َ ْس ِن َبك ُو َ لم بم َل ع سب ه و ُو َ لم ب م ت ِ ن‬
   َ ْ‫اح َنْ ا َّ رُّ َ ه َ اعَْ ُ ِ َنْ ض َّ َنْ َِيِْل ِ َه َ اعَْ ُ ِالْ ُهَْدي‬

                                  )521 :‫(النحل‬
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih
baik. Sesungguhnya Tuhan-Mu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Qs An-
                                                                 Nahl:125)




                                         4
                     PERSEMBAHAN
        Dengan segenap kelemahan hamba sungkurkan
               jiwa ini ke hadirat-Mu ya Robby


Dengan segala kerendahan dan ketulusan hati yang sangat dalam
   dan dengan Ridho-Mu, kupersembahkan karya ini untuk:


                 Ayah dan Ibunda tercinta
          Yang telah melahirkankan dan mencintaiku


               Mas Anwar & Adikku Muhsin
       Yang mencintai, menyayangi dan mendukungku


                        My Nephew
                 Nouval Alvarezha Anwar
          Keceriaanmu membangkitkan semangatku


                        Sayeed Zaki
     Ketulusanmu, menyemangati setiap detail belajarku,
       thanks for your support and thanks for everything


                    Sahabat-sahabatku:




                              5
                  De' Sri, Nduk Atik, Ana, Widi, Muna,
                         Mbak Mila & Neng Avin
               Trimakasih motivasi dan bantuannya untukku
                Aku mencintai kalian semua karena Allah


                       KATA PENGANTAR


                                           Bismillaahirrahmaanirrohiim
Alhamdulillaahi robbil alamiin, segenap puji syukur ke hadirat Allah SWT

yang telah menganugerahkan nikmat dan kekuatan pada kami. Dan atas karunia

dan petunjuk     yang Engkau berikan kepada hamba-Mu ini kami dapat

menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir dengan judul "PENGEMBANGAN

METODE PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ (Studi Aplikasi Quantum

                                      Teching di MTs Negeri Mojorejo-Wates)".

Teriring shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada sang

revolusioner akbar, murrobby agung Rosululloh Muhammad SAW, di mana atas

perjuangan serta ide-ide Beliau kita dapat meneruskan syariat yang dibawanya

             sebagai penegak dan pembawa Islam sampai akhir hayat kita. Amin.

Penulisan skripsi ini kami buat dengan harapan memberikan suatu

wawasan baru dalam dunia pendidikan kita dalam menghadapi tantangan zaman

yang akan datang. Serta sebagai prasyarat untuk memperoleh gelar sarjana pada

Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri

                                                                 (UIN) Malang.

Ucapan terima kasih juga tidak lepas dari pihak yang telah membantu

      terselesainya skripsi ini, maka dengan segala hormat kami haturkan kepada:



                                       6
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri

   (UIN) Malang yang telah memberikan fasilitas penulis dalam menyelesaikan

   penulisan skripsi ini.

2. Bapak Dr. H. M. Djunaidi Ghony, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah

   Universitas Islam Negeri Malang.

3. Drs. Moh. Padil, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah Universitas

   Islam Negeri Malang.

4. Bapak Triyo Supriyatna M.Ag selaku Dosen Pembimbing, yang dengan tulus

   hati serta penuh kesabaran, dalam membimbing dan mengarahkan dalam

   penyusunan skripsi.

5. Segenap para Dosen dan karyawan Fakultas Tarbiyah yang telah memberikan

   motivasi, fasilitas, bimbingan dan ilmunya kepada penulis.

6. Dan segenap pihak yang tidak kami sebutkan secara keseluruhan yang telah

   membantu penulis dengan tulus dan ikhlas.

7. Tiada gading yang tak retak, kami sadar sepenuhnya bahwa skripsi ini masih

   jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun

   sangatlah kami harapkan dari seluruh pembaca dan sangatlah penulis harapkan

   guna penyempurnaan skripsi ini.

Akhirnya hanya kepada Allah SWT kami menyembah dan kepada-Nya

kami memohon pertolongan, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dalam

                                                 menyongsong peradaban Islam.

       Malang, 25 April 2006




                                       7
                  Penulis



                                 ABSTRAK
Rofiah,Wilis.2006. Pengembangan Metode Pembelajaran Aqidah-Akhlaq (Studi
tentang Aplikasi Quantum Teaching di MTs Negeri Mojorejo-Wates). Skripsi.
Jurusan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Negeri Malang. Dosen
pembimbing: Triyo Supriyatna M.Ag.
Kata kunci: Quantum Teaching, Pembelajaran Aqidah-Akhlaq

        Penguasaan terhadap metode pembelajaran merupakan salah satu
persyaratan bagi seorang tenaga pendidik yang profesional. Metode pengajaran
Quantum Teaching tampak lebih komprehensif dibandingkan dengan metode
sebelumnya. Dengan kata lain bahwa metode Quantum Teaching mengandung
berbagai macam metode yang diolah menjadi satu yang semua saling bersinergi.
Quantum Teaching menggubah bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan
sekitar momen belajar. Interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar efektif yang
mempengaruhi kesuksesan siswa. Bagi guru-guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri
Mojorejo, penguasaan terhadap metode Quantum Teaching sangatlah diperlukan
guna memperbaiki dan memperbarui metode pengajaran yang sesuai dengan
tuntutan zaman untuk menyiapkan generasi penerus Islam yang akan hidup
dizamannya, sehingga penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui aplikasi
Quantum Teaching yang di terapkan di MTs Negeri Mojorejo.
         Jenis penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan teknik pengumpulan data
dilakukan dengan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisa
datanya adalah deskriptif kualitatif. menetapkan keabsahan data, dalam penelitian
ini menggunakan teknik triangulasi data yaitu, teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan berbagai sumber diluar data tersebut sebagai bahan
pebandingan. Penelitian dan kajian skripsi ini bertujuan untuk: 1)
mendeskripsikan persepsi dan pemahaman guru-guru Aqidah-Akhlaq tentang
Quantum Teaching, 2) mendeskripsikan aplikasi Quantum Teaching dalam
pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo, 3) mendeskripsikan faktor
yang menjadi penghambat aplikasi Quantum Teaching dalam pembelajaran
Aqidah-Akhlaq dan usaha-usaha yang dilakukan oleh guru Aqidah-Akhlaq dalam
mengatasi hambatan.
        Untuk menetapkan keabsahan data, dalam penelitian ini menggunakan
teknik triangulasi data yaitu, teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan berbagai sumber diluar data tersebut sebagai bahan pebandingan.
        Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman guru-guru Aqidah-
Akhlaq tentang Quantum Teaching adalah sebuah metode pembelajaran yang
sangat menarik untuk diterapkan dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq. Quantum
Teaching memiliki strategi yang menyenangkan yang menggunakan unsur-unsur
yang ada dalam kelas. Implementasi Quantum Teaching dalam pembelajaran



                                        8
Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo menerapkan beberapa petunjuk dari
Quantum Teaching yaitu; asaz utama Quantum Teaching, prinsip-prinsip
Quantum Teaching, merancang pengajaran yang dinamis dengan langkah
TANDUR, mengorkestrasi suasana yang menggairahkan dan mengorkestrasi
lingkungan yang mendukung. Hambatan yang dihadapi dalam implementasi
Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq adalah masih belum
utuhnya penguasaan guru-guru Aqidah-Akhlaq tentang Quantum Teaching,
kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran Aqidah-Akhlaq dan kurangnya
sarana dan fasilitas pendidikan di MTs Negeri Mojorejo. Sedangkan usaha yang
dilakukan oleh guru-guru Akidah-Akhlaq untuk mengatasi hambatan tersebut
adalah dengan cara banyak membaca dan belajar tentang Quantum Teaching serta
berusaha untuk menerapkannya sebaik mungkin, mendorong siswa untuk belajar
sendiri diluar jam pelajaran dan mengoptimalkan sarana dan fasilitas yang ada
dilembaga.
        Aplikasi Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs
Negeri Mojorejo belum bisa dikatakan utuh, karena masih mengalami beberapa
hambatan, akan tetapi ini bukan berarti menafikan keberhasilan implementasi
Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo
karena walaupun mengalami beberapa kendala, implementasi Quantum Teaching
dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq telah menunjukkan hasilnya yaitu kegairahan
dan kesenangan siswa dalam belajar, suasana yang terlihat dinamis dan siswa
menjadi aktif.




                                     9
                                                DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii

HALAMAN MOTTO ................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................... vi

ABSTRAK ..................................................................................................... vii

DAFTAR ISI .................................................................................................. ix

DAFTAR TABEL ......................................................................................... xii

BAB I : PENDAHULUAN

             A. Latar belakang masalah ............................................................... 1

             B. Rumusan masalah ......................................................................... 11

             C. Tujuan pembahasan ..................................................................... 11

             D. Kegunaan penelitian .................................................................... 12

             E. Ruang lingkup pembahasan .......................................................... 13

             F. Sistematika pembahasan ............................................................... 14

BAB II : KAJIAN TEORI




                                                         10
      A. QUANTUM TEACHING ......................................................... 16

           1. Pengertian Quantum Teaching ............................................. 16

           2. Asas Utama Quantum Teaching .......................................... 18

           3. Prinsip Quantum Teaching................................................... 19

           4. Model Quantum Teaching.................................................... 21

           5. Musik dalam Quantum Teaching ......................................... 29

           6. Kerangka rancangan Quantum Teaching ............................ 31

      B. PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ................................ 33

           1. Pengertian pembelajaran Aqidah-Akhlaq ............................ 33

           2. Ruang lingkup pembelajaran Aqidah-Akhlaq ..................... 36

           3. Tujuan Pembelajaran Aqidah-Akhlaq .................................. 36

           4. Cara Pembelajaran Aqidah–Akhlaq .................................... 39

           5. Pendekatan pembelajaran Aqidah-Akhlaq ........................... 42

BAB III : METODE PENELITIAN

      A.    Rancangan Penelitian ............................................................... 51

      B.    Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 52

      C.    Ruang lingkup Penelitian ......................................................... 52

      D.    Sumber Data ............................................................................ 52

      E.    Metode Pengumpulan Data ...................................................... 52

      F.    Prosedur Penelitian................................................................... 54

      G.    Tehnik Analisa Data ................................................................. 56

BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN

      A. LATAR BELAKANG OBYEK .............................................. 57




                                               11
           1. Sejarah berdirinya MTs Negeri Mojorejo- Wates-Blitar ..... 57

           2. Letak geografis MTs Negeri Mojorejo-Wates-Blitar........... 58

           3. Keadaan MTs Negeri Mojorejo-Wates-Blitar...................... 59

           4. Struktur organisasi MTs Negeri Morejo-Wates-Blitar ........ 60

      B. PEMAHAMAN DAN PERSEPSI GURU AQIDAH-AKHLAQ

           DI       MTs         NEGERI              MOJOREJO-WATES                         TENTANG

           QUANTUM TEACHING ........................................................ 77

      C. APLIKASI                     QUANTUM                     TEACHING                     DALAM

           PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ DI MTs NEGERI

           MOJOREJO-WATES ............................................................. 79

      D. FAKTOR                  PENGHAMBAT                       APLIKASI                QUANTUM

           TEACHING DALAM PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ

           DI MTs NEGERI MOJOREJO-WATES DAN USAHA YANG

           DILAKUKAN UNTUK MENGATASI HAMBATAN ......... 89

      E. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ................................ 90

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

      A. KESIMPULAN ......................................................................... 98

      B. SARAN ...................................................................................... 99

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                12
                                     BAB I

                             PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG MASALAH

       Dalam era globalisasi dan pasar bebas manusia dihadapkan pada

perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan "di laut lepas" yang

dapat menyesatkan jika tidak memiliki konsep sebagai pedoman untuk bertindak

dan untuk mengarunginya (E.Mulyasa, 2002: 4).

       Gejala fenomenal di balik globalisasi itu direspon secara beragam oleh

banyak orang, terutama oleh mereka yang telah menjadi masyarakat pembelajar.

Ada orang yang tidak lebih hanya melafalkannya. Ada yang memang siap

menghadapinya secara intelektual, ekonomi dan sosial. Sebagian lagi berfikir

realistis dengan menjalani kehidupan ini secara bersahaja dan membangun

persepsi bahwa hadirnya milenium ketiga adalah sebuah rentang perjalanan waktu

secara normal yang tidak lebih dari hukum alam, laksana adanya kelahiran dan

kematian (Sudarwan Danim, 2003:1).

       Arus globalisasi semakin menunjukkan kekekarannya untuk memimpin

dunia. Semua ide-ide yang bersifat bebas tak terbatas sudah melingkupi

masyarakat dunia. Setiap tindakan selalu dinilai dengan uang, jabatan dan




                                      13
kesenganan. Pelanggaran HAM sudah tidak terhitung lagi banyaknya akibat ulah

manusia. Begitu juga dengan kapitalisasi, praktek mencari keuntungan sendiri

sekarang sudah bukan sesuatu yang rahasia lagi, bahkan hal ini terkesan malah

dilindungi.

       Masalah dekadensi moral telah dirasakan sangat mengglobal seiring

dengan tata nilai yang sifatnya mendunia. Dibelahan bumi manapun kerap kali

dapat disaksikan berbagai gaya hidup yang bertentangan dengan etika dan nilai

agama. Berbagai pendekatan telah dan sedang dilakukan untuk menyelamatkan

peradaban manusia dari rendahnya perilaku moral. Pentingnya pendidikan akhlaq

bukan dirasakan oleh masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama Islam

saja, tapi kini sudah mulai diterapkan berbagai negara. Di Jerman misalnya,

pelajaran agama Islam juga masuk pada kurikulum sekolah mereka (Muhaimin,

2005:21).

       Masalah-masalah dekadensi moral dapat kita lihat seperti; 1) kebebasan

seks yang menimpa sebagaian besar negara-negara didunia didukung, dihidupkan

dan dipromosikan oleh media-media massa barat. Barat mensosialisasikan

kebebasan seks ini melalui seminar-seminar yang mengizinkan praktik prostitusi,

aborsi dan sodomi dengan argumen yang sangat rapuh, yaitu mengatasi

pertumbuhan penduduk, 2) beredarnya obat-obat terlarang dengan berbagai

jenisnya, perluasan dan tempat pemasarannya, dan peningkatan teknik produksi

dan promosinya, 3) meluasnya kriminalitas dengan berbagai ragamnya, baik yang

bersifat pribadi maupun sosial, bahkan tingkat dunia, 4) merajalelanya penculikan

anak-anak, wanita dan orang dewasa, serta pembajakan pesawat atau kapal laut, 5)




                                       14
adanya undang-undang yang dirumuskan oleh badan-badan dunia yang memihak

negara-negara kuat untuk menguasai negara-negara lemah (Ali Abdul Halim,

2003:43). Selain dekadensi moral, juga terjadi dekadensi akidah seperti maraknya

perdukunan yang menyeret seseorang kepada kesyirikan, karenanya haruslah

diluruskan dengan melalui pendidikan agama yang benar dalam hal ini adalah

pendidikan Aqidah dan Akhlaq.

       Sebenarnya bangsa ini telah banyak melahirkan anak-anak bangsa yang

berstatus Sarjana bahkan Doktor dan Profesor. Akan tetapi yang bermental sehat

hanya seribu satu dari jutaan penduduk bangsa ini. Kepandaian yang mereka

miliki hanya sebatas pengetahuan dan pencapaian target nilai, sedangkan dalam

hal aplikasi, masih dipertanyakan. Padahal menurut Mulyasa ada 4 kondisi belajar

yang harus dikembangkan yaitu Iearning to Know, Learning to Do, Learning Live

Together dan Learning to Be (Mulyasa, 2002:5).

       Terjadi keadaan yang paradoks antara prestasi individual dan kualitas

institusional. Mengapa ketika di negara lain orang Indonesia mampu berprestasi

baik, sementara di negeri sendiri tidak. Untuk itulah sudah saatnya kita bangkit

menyelamatkan anak negeri ini dengan pendidikan yang positif, aplikatif dan

normatif. Merubah paradigma bahwa pendidikan itu adalah dengan 3D (Duduk,

Diam, Dengar), yang sangat membodohi anak. Hal ini seperti diakui oleh studi

Blazely dkk (1997), bahwa pembelajaran disekolah cenderung sangat teoritik dan

tidak terkait dengan lingkungan dimana anak berada, yang mengakibatkan anak

tidak mampu menerapkan apa yang dipelajarinya disekolah guna memecahkan




                                      15
masalah kehidupan yang dihadapinya dalam kehidupan keseharian (Muhaimin,

2003:148).

      Selama ini pelaksanaan pendidikan agama yang berlangsung disekolah

masih banyak mengalami kelemahan. Muhtar Bukhori (dalam Muhaimin,

2005:23) menilai pendidikan agama masih gagal. Mengutip pendapatnya

Nasution, Muhaimin mengatakan kegagalan ini disebabkan karena praktik

pendidikannya hanya memperhatikan          aspek   koqnitif semata dari   pada

pertumbuhan kesadaran nilai-nilai (agama), dan mengabaikan pembinaan aspek

afektif dan konatif-volutif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-

nilai ajaran agama. Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan dan

pengalaman, antara gnosis dan praksis dalam kehidupan nilai agama atau dalam

praktik kehidupan agama berubah menjadi pengajaran agama, sehingga tidak mau

membentuk pribadi-pribadi bermoral.

      Hal tersebut tentu saja belumlah seluruhnya sesuai dengan fungsi dan

tujuan pendidikan yang ada dalam UURI No 20 Th 2003 tentang sistem

pendidikan nasional yang menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi

mengembangkan kemampuan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya peserta didik agar manusia yang beriman dan bertakwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU

SisDikNas, 2003:5)




                                      16
       Muhaimin dengan mengutip Atho' Mudzor (Tempo, 24 Nov 2004),

mengemukakan hasil studi LitBang agama dan diklat keagamaan th 2000, bahwa

merosornya moral dan akhlaq peserta didik disebabkan antara lain akibat

kurikulum pendidikan agama yang terlampau padat materi, dan materi tersebut

lebih mengedepankan aspek pemikiran ketimbang membangun kesadaran

keberagamaan yang utuh. Selain itu metodologi pendidikan agama yang kurang

mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai keagamaan, serta terbatasnya bahan-

bahan bacaaan keagamaan. Dalam konteks metodologi, hasil penelitian Furchan

(1993) juga menunjukan bahwa penggunaan metode pembelajaran tradisional,

yaitu ceramah monoton dan statis akontekstual, cenderung normatif, monolitik,

lepas dari sejarah, dan semakin akademis.

       Dari uraian tersebut diatas dapat dipahami bahwa berbagai kritik dan

sekaligus kelemahan dari pelaksanaan pendidikan agama lebih banyak bermuara

pada aspek metodologi pembelajaran PAI dan orientasinya yang bersifat normatif,

teoritis, dan kognitif, termasuk didalamnya aspek gurunya yang kurang mampu

mengaitkan dan berinteraksi dengan mata pelajaran dan guru non-pendidikan

agama. Aspek lain yang banyak disoroti adalah menyangkut aspek muatan

kurikulum atau materi pendidikan agama, sarana pendidikan agama, termasuk

didalamnya buku-buku dan bahan ajar pendidikan agama (Muhaimin, 2005:26).

       Pendidikan agama merupakan salah satu dari tiga subyek pelajaran yang

harus dimasukkan dalam setiap lembaga pendidikan formal di Indonesia. Hal ini

karena dikarenakan kehidupan beragama merupakan salah satu dimensi kehidupan

yang diharapkan dapat terwujud secara terpadu dengan dimensi kehidupan lain




                                       17
pada setiap individu warga negara. Hanya dengan keterpaduan berbagai dimensi

kehidupan tersebutlah kehidupan yang utuh, sebagaimana yang dicita-citakan oleh

bangsa Indonesia, dapat terwujud. Pendidikan agama diharapkan mampu

mewujudkan dimensi kehidupan beragama tersebut sehingga, bersama-sama

subyek pendidikan yang lain, mampu mewujudkan kepribadian individu yang

utuh, sejalan dengan pandangan hidup bangsa (Drs. Chabib Thaha, 1999: 1).

       Persoalan Aqidah-Akhlaq sebetulnya lebih didasarkan pada keyakinan

hati yang selanjutnya dimanifestasikan dalam bentuk sikap hidup dan amal

perbuatan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, untuk

mencapai keyakinan hati yang kokoh serta kemantapan dalam bersikap dan

beramal sholeh diperlukan proses penalaran kritis, untuk tidak terjebak pada

keyakinan yang bersifat dogmatik dan rutin (Sutiah, 2003:42).

       Sebagai pembentuk nilai spiritual, efektifitas pendidikan Aqidah-Akhlaq

sering dipertanyakan. Terjadinya krisis politik, sosial, ekonomi, hukum, golongan

dan agama dianggab sebagai akibat lemahnya kontribusi pendidikan Aqidah-

Akhlaq dalam menanamkan integritas etik pada peserta didik sejak dini. Hal ini

disebabkan karena materi Aqidah-Akhlaq terfokus pada unsur pengetahuan

(Koqnitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif), serta pembiasaan

(psikomotorik). Disamping itu juga lemahnya partisipasi guru Aqidah-Akhlaq

dam mempraktekkan subtansi ajaran agama yang berpengaruh buruk pada peserta

didik. Waktu yang disediakan sangat terbatas, belum lagi kelemahan metodologis,

minimnya sarana-prasarana pelatihan pengembangan, serta rendahnya partisipasi




                                       18
orang tua siswa dalam masyarakat pada umumnya dalam proses transformasi

nilai-nilai afektif tersebut.

        Metode pembelajaran perlu dikembangkan karena berhubungan dengan

dengan mengajar, sedangkan mengajar sendiri adalah suatu seni dalam hal ini

adalah seni mengajar. Sebagai sebuah seni tentunya metode mengajar harus

menimbulkan kesenangan dan kepuasan bagi siswa. Kesenangan dan kepuasan

merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan gairah dan semangat

kepada anak didik. Oleh karena itu agar pendidikan dan pengajaran yang

dipaparkan guru terhadap anak didik memperoleh respon positif, menarik

perhatian dan terimplementasi dalam sikap yang positif pula (terjadi

keseimbangan antara ranah koqnitif, afektif, dan psykomotorik), maka seorang

guru haruslah dapat memformat pelajarannya semenarik mungkin, karena metode

yang digunakan disekolah dirasakan masih sangat kurang menciptakan suasana

kondusif dan menyenangkan bagi siswa untuk dapat mempelajari serta mencerna

isi materi pelajaran. Hal ini menyebabkan siswa kurang termotivasi untuk

mengikuti pembelajaran, karena metode mengajar yang kurang menarik.

        Penguasaan terhadap metodologi pengajaran adalah merupakan salah satu

persyaratan bagi seorang tenaga pendidik yang profesional. Seorang tenaga

pendidik yang profesional selain harus menguasai mata pelajaran yang akan

diajarkan, juga harus menguasai metodologi pembelajaran. Didalam metodologi

pembelajaran ini diajarkan tentang teknik mengajar (Teaching Skill) yang efektif

yang dibangun berdasarkan teori-teori pendidikan serta ilmu didaktik, metodik

dan pedagogik. Selain itu tenaga pendidik yang profesional juga harus memiliki




                                      19
idealisme, yakni siap dan komitmen untuk menegakkan dan memperjuangkan

terlaksananya nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, kebenaran dan

kemanusiaan, dan menjadikan bidang tugasnya sebagi pilihan hidup, dimana mata

pencaharian dan sumber kehidupannya bertumpu pada pekerjaan itu (Abuddin

Nata, 2003:33).

       Disamping itu, secara umum pendidik adalah orang yang memiliki

tanggung jawab untuk mendidik, sementara         secara khusus, pendidik dalam

perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap

perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh

potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai

dengan nilai-nilai ajaran Islam (Syamsul Nizar, 2002:1).

       Seperti yang telah tersebut diatas bahwa krisis politik, sosial, ekonomi,

hukum, golongan dan agama dianggab sebagai akibat lemahnya kontribusi

pendidikan agama Islam dalam hal ini adalah Aqidah-Akhlaq dalam menanamkan

integritas etik pada peserta didik sejak dini, karenanya perlu diterapkan metode

pembelajaran yang baik dan dapat menanamkan nilai-nilai dengan suasana

pembelajaran yang menyenangkan.

       Seiring dengan berjalannya waktu, para ahli pendidikan telah berhasil

membuat rumusan baru yang sempat menggemparkan dunia pendidikan. Bobby

DePorter salah satu pakar pendidikan berhasil menciptakan cara baru dan praktis

untuk mempengaruhi keadaan mental pelajar yang dilakukan oleh guru. Semua itu

terangkum dalam Quantum Teaching yang berarti pengubahan bermacam-macam

interaksi yang ada dalam diri siswa menjadi sesuatu yang bermanfaat baik bagi




                                       20
diri siswa itu sendiri maupun bagi orang lain (DePorter, dkk, 2001:5). Disinilah

letak pengembangan metode pembelajaran Quantum Teaching, yaitu menggubah

bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.

Karena itulah guru harus tahu apa yang ada pada siswanya. Begitu juga harus ada

kerjasama yang solid antara guru dan siswa, bila guru berusaha membimbing dan

mengarahkan siswanya, maka diharapkan siswa juga berusaha sekuat tenaga

untuk mencapai hasil belajar. Dalam pelaksanaan Quantum Teaching lebih

menekankan    pada    emosioanal   anak,   sebagaimana    prinsip-prinsip   yang

dikembangkan dalam Quantum Teaching yaitu "Bawalah Dunia Mereka ke Dunia

Kita dan Antarkan Dunia kita ke Dunia Mereka" ( DePorter, 2001:7).

       Quantum Teaching menawarkan suatu sintesis dari hal-hal yang dicari,

atau   cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usah pengajaran yang

dilakukan guru melalui perkembangan hubungan, penggubahan belajar, dan

penyampaian kurikulum (Abuddin Nata, 2003:35). Metode pengajaran dalam

bentuk Quantum Teaching tampak lebih komprehensip dibandingkan dengan

berbagai metode pengajaran yang telah ada sebelumnya. Dengan kata lain bahwa

dalam quantum Teaching terkandung berbagai macam-macam metode pengajaran

yang diolah menjadi satu, seperti metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi,

karya wisata, penugasan, pemecahan masalah, diskusi, simulasi, eksperimen,

penemuan, dan proyek atau unit. Berbagai ini satu dan saling bersinergi

membentuk Quantum Teaching.

       Berdasar hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Supercamp (sebuah

program pemercepatan Quantum Learning yaitu perusahaan pendidikan nasional),




                                      21
pemercepatan Quantum Teaching dapat meningkatkan beberapa hasil daripada

proses pembelajaran sebagai berikut;

           1. 68 % meningkatkan motivasi belajar siswa

           2. 73 % meningkatkan prestasi belajar siswa

           3. 81 % meningkatkan rasa percaya diri siswa

           4. 98 % melanjutkan penggunaan ketrampilan (Bobby DePorter;

               2001:4).

       Sedangkan belajar itu sendiri adalah suatu proses yang kompleks yang

terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena

adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya (Azhar Arsyad, 1997:1),

dan berdasarkan keyakinan orang mukmin dan penegasan Allah SWT, Islam

adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah dan diperintahkan kepada manusia

untuk memeluknya. Namun, manusia dengan segala kelemahan yang ada padanya

tidak akan dapat beragama Islam dengan mudah tanpa melalui pendidikan, tanpa

bantuan pihak lain untuk selanjutnya mampu membimbing dirinya sendiri (Hery

Noer Ali, 1999:1). Masalah-masalah sosial diharapkan dapat diatasi dengan

mendidik generasi muda untuk mencegah penyakit-penyakit sosial seperti

kejahatan, pengrusakan lingkungan, narkotika, pergaulan bebas dan sebagainya

(Nasution,1999:16).

       Sebagai metode yang masih baru, Quantum Teaching merupakan sesuatu

yang baru dan asing bagi kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia, sehingga

masih jarang sekolah-sekolah yang menerapkan metode ini dalam melaksanakan

pembelajaran. Melihat latar belakang diatas maka penulis mengadakan penelitian




                                        22
yang dilaksanakan di MTs Negeri Mojorejo-Wates-Blitar sebagai obyek

penelitian karena MTs Negeri Mojorejo sebagai MTs Negeri favorit dan satu-

satunya MTs dikecamatan Wates kabupaten Blitar yang sekaligus menerapkan

Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq.

       Dari paparan diatas maka penulis mengangkat masalah tersebut sebagai

bahan penulisan skripsi yang berjudul "PENGEMBANGAN METODE

PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ (Studi Tentang Aplikasi Quantum

Teaching di MTs Negeri Mojorejo-Wates).



B. RUMUSAN MASALAH

       Melihat dari pemaparan yang telah dikemukakan sebelumnya, rumusan

masalah yang penulis dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pemahaman dan persepsi guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri

   Mojorejo tentang Quantum Teaching

2. Bagaimana penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-

   Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo.

3. Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi dalam penerapan metode belajar

   Quantum Teaching di MTs Negeri Mojorejo dan usaha yang dilakukan untuk

   mengatasi hambatan.



C. TUJUAN PEMBAHASAN

       Bertolak pada rumusan masalah diatas, maka penelitian ini memiliki

beberapa tujuan yaitu:




                                      23
1. Mendeskripsikan bagaimana pemahaman guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri

   Mojorejo tentang Quantum Teaching

2. Mendiskripsikan     bagaimana     penerapan    quantum     Teaching   dalam

   pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo

3. Mendiskripsikan faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam penerapan

   Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri

   Mojorejo- Wates-Blitar dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi hambatan



D. KEGUNAAN PEMBAHASAN

       Dengan penelitian ini, besar harapan peneliti agar penelitian ini bisa

bermafaat dan memberikan kontribusi dalam rangka peningkatan kualitas

pendidikan.

       Adapun manfaat penelitian ini dapat disimpulkan antara lain:

1. Menjadi bahan referensi untuk mengkaji tentang penerapan Quantum

   Teaching

2. Dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru dalam masalah metode

   pembelajaran

3. Dengan mengetahui gambaran mengenai metode pembelajaran Quantum

   Teaching maka diharapkan dapat berguna untuk dijadikan pedoman dalam

   peningkatan pendidikan

4. Dengan mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi dalam penerapan

   metode Quantum Teaching, maka diharapkan dapat mengembangkan




                                       24
     pengetahuan dengan wawasan yang lebih luas baik secara teoritis maupun

     praktis.

5. Sebagai wawasan atau gambaran bagaimana guru mengelola kelas

6. Dengan penelitian ini diharapkan mampu menambah khazanah keilmuan bagi

     peneliti   khususnya   dan   pembaca     pada   umumnya,   sehingga   dapat

     mengembangkan pengetahuan dengan wawasan yang lebih luas secara teoritis

     maupun praktis.

7. Sebagai bahan untuk memperluas pengetahuan peneliti dalam mempersiapkan

     diri sebagai calon tenaga pendidik yang profesional.



E. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN

        Sesuai dengan judul skripsi ini, maka ruang lingkup pembahasan yang

akan      dikaji    yaitu    menyangkut       "PENGEMBANGAN             METODE

PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ (Studi Tentang Aplikasi Quantum

Teaching di MTs Negeri Mojorejo-Wates)". Agar pembahasan tidak melebar dan

lebih mengarah maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan dibahas

sebagai berikut:

1.     Membahas seputar metode pembelajaran Quantum Teaching, yaitu tentang

       pengertian, asas, prinsip, tujuan dan manfaat Quantum Teaching

2.     Membahas masalah pembelajaran Aqidah-Akhlaq yang meliputi, pengertian,

       tujuan pembelajaran, ruang lingkup, cara mengajarkan dan pendekatan

       pembelajaran Aqidah-Akhlaq




                                         25
3.   Faktor penghambat, usaha-usaha yang dilakukan dalam untuk mengatasi

     hambatan-hambatan penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran

     Aqidah-Akhlak




F. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

      Agar dalam pembahasan skripsi ini memperoleh gambaran yang jelas,

maka penulis menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

         Menjelaskan secara umum mengenai latar belakang masalah, rumusan

         masalah,   tujuan     penelitian,    manfaat   penelitian,   ruang   lingkup

         pembahasan dan sistematika penulisan.

BAB II : KAJIAN TEORI

         Membahas mengenai kajian teori yang berhubungan dengan Quantum

         Teaching, dan pembelajaran Aqidah-Akhlaq

BAB III : METODE PENELITIAN

         Berisi   penjelasan    mengenai      variabel-variabel   yang   mendukung

         penyelesaian masalah, tentang obyek penelitian, metode pengumpulan

         data dan analisis data yang berfungsi untuk memperoleh gambaran

         tentang permasalahan dari obyek penelitian.

BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN




                                         26
      Pada bab laporan hasil penelitian ini akan diuraikan tentang sejarah

      berdirinya MTsN Mojorejo-Wates-Blitar, struktur organisasi, keadaan

      sarana dan prasarana, keadaan guru, staf dan karyawan, dan keadaan

      siswa. Sedangkan pada penyajian dan analisis data akan dilaporkan

      mengenai: gambaran umum pelaksanaan Quantum Teaching, aplikasi

      Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq, hal-hal yang

      menjadi faktor pendorong, penghambat dan solusi.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

      Dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan dari keseluruhan hasil

      penelitian yang telah dilakukan dan juga berisi tentang saran-saran yang

      berhubungan dengan topik pembahasan.




                                    27
                                   BAB II

                              KAJIAN TEORI



A. QUANTUM TECHING

1. Pengertian Quantum Teaching

       Quantum Teaching berasal dari dua kata yaitu "Quantum" yang berarti

interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya dan "Teaching" yang berarti

mengajar. Dengan demikian maka Quantum Teaching adalah orkestrasi

bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan disekitar momen belajar.

Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang dapat

mempengaruhi kesuksesan siswa (Bobbi DePorter, 2001:5).

       Abuddin Nata, dengan mengutip pendapatnya DePorter mengatakan

bahwa Quantum Teaching adalah badan ilmu pengetahuan dan metodologi yang

digunakan dalam rancangan, penyajian dan fasilitasi SuperCamp. Diciptakan

berdasarkan teori-teori pendidikan seperti   Accelerated Learning (Lozanov),

Multiple Intellegence Gardner), Neuro-Linguistic Programing (Ginder &




                                     28
Bandler), Eksperiental Learning (Hahn), Socratic Incuiry, Cooperative Learning

(Jhonson & Jhonson), dan Element of Effective Intruction (Hunter). Quantum

Teaching merangkaikan yang paling baik dari yang terbaik menjadi paket

multisensori, multikecerdasan, dan kompatibel dengan otak, yang pada akhirnya

akan melejitkan kemampuan guru untuk mengilhami, dan kemampuan murid

untuk berprestasi. Sebagai sebuah pendekatan belajar yang segar, mengalir,

praktis dan mudah diterapkan (Abuddin Nata, 2003:35).

       Quantum Teaching yaitu sebuah metode pembelajaran yang terbukti

mampu meningkatkan motivasi belajar anak didik, meningkatkan prestasi,

meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan harga diri dan melanjutkan

penggunaan ketrampilan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. (Bobbi

DePorter, 2001:5).

       Metode Quantum Teaching merupakan salah satu metode yang dilukiskan

mirip sebuah orkestra, dimana kita sedang memimpin konser saat berada diruang

kelas, karena disitu membutuhkan pemahaman terhadap karakter murid yang

berbeda-beda sebagaimana alat-alat musik yang berbeda pula. Karenanya

Quantum Teaching mengajarkan agar setiap karakter dapat memiliki peran dan

terlibat aktif dalam proses belajar mengajar sehingga pembelajaran membawa

kesuksesan.

       Quantum Teaching menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses

belajar lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah,

apapun mata pelajarannya. Dengan menggunakan metodologi Quantum Teaching,




                                     29
dapat menggabungkan keistimewaan-keistimewaan belajar menuju bentuk

perencanaan yang akan melejitkan prestasi siswa (DePorter, 2002:3).

       Quantum Teaching adalah penggubahan belajar yang meriah, dengan

segala nuansanya. Dan Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan,

interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum

Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi

yang mendirikan landasan dan keterangan untuk belajar.

       QuantumTeaching menawarkan suatu sintesis dari hal-hal yang dicari,

atau cara-cara baru untuk memaksimalkan dampak usaha pengajaran yang

dilakukan guru melalui perkembangan hubungan, penggubahan belajar, dan

penyampaian kurikulum.

2. Asas Utama Quantum Teaching

       Asas utama Quantum Teaching adalah Bawalah dunia mereka kedunia

kita, dan antarkan duia kita kedalam dunia mereka. Asas ini terletak pada

kemampuan guru untuk menjembatani jurang antara dua dunia yaitu guru dengan

siswa. Artinya bahwa tidak ada sekat-sekat yang membatasi antara seorang guru

dan siswa sehingga keduanya dapat berinteraksi dengan baik. Seorang guru juga

diharapkan mampu memahami karakter, minat, bakat dan fikiran setiap siswa,

dengan demikian berarti guru dapat memasuki dunia siswa (Bobbi DePorter,

2002:84).

       Inilah hal pertama    yang harus dilakukan oleh seorang guru, untuk

mendapatkan hak mengajar, pertama-tama guru harus membangun jembatan

autentik memasuki kehidupan murid. Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan




                                      30
diberikan oleh siswa, bukan oleh departemen Pendidikan. Belajar dari segala

definisinya adalah kegiatan full contact. Dengan kata lain, belajar melibatkan

semua aspek kehidupan manusia yang meliputi pikiran, perasaan, dan bahasa

tubuh, disamping pengetahuan sikap dan keyakinan sebelumnya serta persepsi

masa mendatang. Dengan demikian, karena belajar berurusan dengan orang secara

keseluruhan, hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh pelajar

dan diraih oleh guru.

       Bagaimana caranya?..yaitu dengan mengaitkan apa yang akan diajarkan

dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan

rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi, atau akademis mereka. Setelah kaitan

terbentuk, guru bisa membawa siswa kedunia guru, dan memberi siswa

pemahaman guru mengenai isi dunia itu (DePorter, 2002:6).

       Ketika seorang guru sudah dapat memasuki dunia siswa dan diterima

dengan baik oleh siswa maka sudah saatnya pula siswa diajak untuk memasuki

dunia lain yang lebih luas sehingga apa yang dipelajari oleh siswa tersebut dapat

diterapkan pada situasi baru dalam kehidupan lingkungannya.

       Dalam interaksi edukatif yang berlangsung terjadi interaksi yang

bertujuan. Guru dan anak didiklah yang menggerakkannya. Interaksi yang

bertujuan itu disebabkan gurulah yang memaknainya dengan menciptakan

lingkungan yang bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dalam belajar.

Guru ingin memberikan layanan yang terbaik kepada anak didik, dengan

menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan menggairahkan. Guru berusaha

menjadi pembimbing yang baik dengan peranan yang arif dan bijaksana, sehingga




                                        31
tercipta hubungan dua arah yang harmonis antara guru dan murid (Syaiful Bahri

Djamarah, 2000:5).

3. Prinsip-Prinsip Quantum Teaching

          Selain asas utama Quantum Teaching juga memiliki prinsip atau yang

disebut oleh DePorter sebagai kebenaran tetap. Prinsip-prinsip ini akan

berpengaruh terhadap aspek Quantum Teaching itu sendiri, prinsip-prinsip itu

adalah:

1)        Segalanya berbicara, maksudnya adalah segala hal yang berada dikelas

          mengirim pesan tentang belajar. Menurut Islam prinsip ini berarti bahwa

          segala sesuatu memiliki jiwa atau personalitas. Air, tanah, tumbuh-

          tumbuhan, binatang, manusia dan sebagainya memiliki jiwa dan

          personalitas. Oleh karenanya semua itu harus diperlakukan secara baik

          dan diberikan hak hidupnya, dirawat dan disayang, sehingga semuanya

          bersahabat dan bermanfaat bagi manusia (Abuddin Nata, 2003:41).

2)        Segalanya bertujuan, semua yang kita lakukan memiliki tujuan. Semua

          yang terjadi dalam penggubahan pembelajaran mempunyai tujuan. Prinsip

          ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Ali-Imron ayat 191, yaitu:

                            َ‫َََ َ َََ ََ َ َا َ َاََ ََ َ َََََ َ َ ََ ََر‬
                              ‫ربناَماَخلقت هذاَب طل سبحنك فقناَعذاب النا‬
          Ayat ini berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang

          sikap orang-orang yang berakal yang mampu meneliti segala ciptaan

          Tuhan yang ada dilangit dan dibumi serta pergantian waktu siang dan

          malam. Dengan berpegang pada prinsip ini, maka seorang yang berakal




                                          32
      akan selalu meneliti rahasia, manfaat, hikmah yang terkandung dalam

      semua ciptaan Tuhan.

3)    Pengalaman sebelum pemberian nama, maksudnya uraian, penjelasan dan

      informasi tentang "sesuatu" sebelum siswa memperoleh nama "sesuatu"

      itu untuk dipelajari. Atau dengan bahasa yang lebih mudah yaitu mencari

      "sesuatu" sebelum diberi tahu tentang "sesuatu itu".

             Dalam ajaran Islam seseorang terlebih dahulu disuruh percaya

      kepada Allah, mengucapkan dua kalimah syahadah, melaksanakan sholat,

      membaca Al-Qur'an dan mempraktekkan ajaran Islam lainnya. Hal ini

      memberikan penjelasan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai anak akan

      lebih mantap dalam pengajaran, daripada lebih dahulu mengemukakan

      teori yang sulit baru kemudian mempraktekkannya.

4)    Akui setiap usaha, yaitu pengakuan setiap usaha yang berupa kecakapan

      dan kepercayaan diri terhadap apa yang dilakukan oleh siswa, sebab

      belajar iu mengandung resiko. Menghargai setiap usaha siswa sebagi

      bentuk pengakuan atas kecakapan untuk menumbuhkan kepercayaan diri,

      sekalipun usaha siswa kurang berarti.

5)    Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan, artinya terdapat umpan

      balik mengenai kemajuan dan meningkatkan emosi positif dengan belajar.

      (Bobbi DePorter, 2001:7).

4. Model Quantum Teaching




                                      33
       Model Quantum Teaching hampir sama dengan sebuah simfoni, dalam

simfoni terdapat banyak unsur dan didalam Quantum Teaching unsur tersebut

digolongkan menjadi 2 bagian (Bobbi DePorter, 2001:9), yaitu:

1) Unsur Konteks, yaitu unsur pengalaman yang meliputi:

   a. Suasana yang memberdayakan, suasana kelas mencakup bahasa yang

       dipilih oleh guru, cara menjalin simpati dengan siswa, dan sikap guru

       terhadap sekolah serta belajar. Suasana yang penuh dengan kegembiraan

       membawa kegembiraan pula dalam belajar. Mengutip pendapatnya

       Walberg dan Greenberg (1997) DePorter mengatakan bahwa dalam

       sebuah penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial atau suasana

       kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar

       akademis. Suasana atau keadaan ruangan menunjukkan arena belajar yang

       dipengaruhi oleh emosi. Bahan-bahan kunci untuk membangun suasana

       yang bagus adalah niat, hubungan, kegembiraan, dan ketakjuban,

       pengambilan resiko, rasa saling memiliki dan keteladanan.

       Jika seorang guru secara sadar menciptakan kesempatan untuk membawa

       kegembiraan ke dalam pekerjaannya, kegiatan belajar mengajar akan lebih

       menyenangkan. Kegembiraan ini membuat siswa siap belajar dengan lebih

       mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap positif.

   b. Landasan yang kukuh, adalah kerangka kerja: tujuan, keyakinan,

       kesepakatan, kebijakan, prosedur, dan aturan bersama yang memberi guru

       dan siswa sebuah pedoman untuk bekerja dalam komunitas belajar.




                                      34
   Dalam mengorkestrasi landasan yang kukuh, ada unsur-unsur dasar yang

   perlu diperhatikan yaitu tujuan, prinsip-prinsip dan nilai-nilai, keyakinan

   yang kuat mengenai belajar dan mengajar, kesepakatan, kebijakan,

   prosedur, dan peraturan yang jelas.

c. Lingkungan yang mendukung, adalah cara guru menata ruang kelas:

   pencahayaan, warna, pengaturan meja dan kursi, tanaman, musik dan

   semua hal yang mendukung proses belajar. Sebuah gambar lebih berarti

   daripada seribu kata. Jika guru menggunakan alat peraga dalam situasi

   belajar, akan terjadi hal yang menakjubkan. Bukan hanya mengawali

   proses belajar dengan cara merangsang modalitas visual, alat peraga juga

   secara harfiah menyalakan jalur syaraf seperti kembang api dimalam

   lebaran. Beribu-ribu asosiasi tiba-tiba diluncurkan kedalam kesadaran.

   Kaitan ini menyedikan konteks yang kaya untuk pembelajaran yang baru.

   Untuk    menciptakan     dan       memperkuat   jalur   syaraf   ini   perlu

   dipertimbangkan dua unsur yaitu pandangan sekeliling dan kaitan mata

   dan otak. Prinsip-prinsip yang perlu dikembangkan dalam penataan

   lingkungan antara lain; (Cece Wijaya, 1994:133):

      Lingkungan kelas harus memudahkan siswa untuk bergerak.

      Kegiatan dan tugas-tugas harus menyenangkan siswa sehingga siswa

       dengan penuh kepercayaan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya.

      Lingkungan belajar harus memudahkan kelompok untuk berperan

       serta dalam setiap kegiatan.




                                      35
         Lingkungan belajar harus memudahkan siswa dalam mencari dan

          menemukan masalah dengan cermat. Lingkungan lain yang perlu

          ditata adalah pusat-pusat belajar, yaitu perpustakaan, laboratorium dan

          sebagainya.

   d. Rancangan belajar yang dinamis, adalah penciptaan terarah unsur-unsur

      penting yang bisa menumbuhkan minat siswa, mendalami makna, dan

      memperbaiki proses tukar-menukar informasi (DePorter, 2002:14-15).

      Seorang guru harus mengenali dan memahami modalitas dari setiap siswa

      yang diajar karena dengan mengenalinya akan dapat menyesuaikan

      pengajaran dengan modalitas visual, auditorial, dan kinestetik. Menurut

      DePorter (2002:85) dengan mengutip pendapatnya Bandler dan Grinder

      (1981) bahwa meskipun kebanyakan orang memilki ketiga akses ketiga

      modalitas tersebut, hampir semua orang cenderung pada salah satu

      modalitas belajar.

2) Unsur isi, yaitu penyajian informasi (ketrampilan penyampaian berbagai

   macam kurikulum dan strategi dalam mengajar) pada murid yang meliputi:

   a. Penyajian yang prima, ada beberapa pedoman untuk mencapai presentasi

      yang prima yaitu: pahamilah apa yang ada inginkan, membina jalinan

      yang baik dengan siswa, bacalah mereka, targetkan keadaan mereka,

      capailah modalitas mereka, manfaatkanlah ruangan dan bersikaplah tulus

      (DePorter, 2002:114).

      Seorang guru harus memberikan teladan tentang makna menjadi seorang

      pelajar. Keteladanan, ketulusan, kongruensi dan kesiapsiagaan guru akan




                                      36
   memberdayakan dan mengilhami siswa untuk membebaskan potensi milik

   mereka sebagai pelajar. Kemampuan guru berkominukasi, digabungkan

   dengan rancangan pengajaran yang efektif, akan memberikan pengalaman

   belajar yang dinamis bagi siswa.

b. Fasilitas yang luwes, fasilitasi adalah seni dan ilmu untuk memaksimalkan

   saat belajar dan bekerja dengan siswa, melompat masuk kedalam kepala

   dan hati mereka untuk membuka dan menjelajahi cara mereka untuk

   menyajikan dan memahami apa yang mereka pelajari.

c. Ketrampilan belajar-untuk-belajar, apapun mata pelajarannya, siswa

   belajar lebih cepat dan efektif jika mereka menguasai lima ketrampilan

   penting ini, yaitu:



   1. Konsentrasi terfokus

   2. Cara mencatat

   3. Organisasi dan persiapan tes

   4. Membaca cepat

   5. Teknik mengingat

           Setiap siswa diharapkan mampu belajar dan memiliki ketrampilan

   untuk belajar dengan efektif. Dengan mengetahui gaya belajar masing-

   masing, mereka menyerap bahan pelajaran dengan cara yang terbaik bagi

   mereka. Bila seseorang mampu mengenali tipe belajarnya dan melalukan

   pembelajaran yang sesuai maka belajar akan sangat menyenangkan dan

   memberikan hasil optimal (Nggermanto, 2003:24).




                                      37
       Setiap orang memilki gaya belajar dan gaya bekerja yang unik.

Sebagian orang lebih mudah belajar visual, sebagian yang lain secara

auditorial, sebagian lain secara haptic/kinestetik. Dan teknik mengajar

yang diterapkan disekolah lanjutan mestinya hanya digunakan untuk

mengajar para pelajar dengan gaya belajar akademis, bukanlah metode

terbaik untuk meningkatkan standart mereka. Akan tetapi, merancang

kurikulum sekolah yang memungkinkan setiap pelajar diuji untuk

mengetahui gaya belajar mereka, bukanlah hal mustahil jika hal itu bisa

dilakukan, setiap gaya belajar anak mestinya dapat dilayani disekolah

(Dryden, 2002:99).

       Dibawah ini adalah ciri-ciri berbagai gaya belajar untuk

menyesuaikan    dengan   modalitas   belajar   seseorang   yang   terbaik

(DePorter&Mike, 2002:16):

Orang-orang Visual

       Orang-orang dengan gaya belajar visual bercirikan; rapi dan

teratur, berbicara dengan cepat, perencana dan pengatur jangka panjang

yang baik, teliti terhadap detail, mementingkan penampilan baik dalam hal

pakaian atau presentasi, mengingat apa yang dilihat daripada yang

didengar, pembaca cepat dan tekun, dsb.

Orang-orang auditorial

       Orang-orang dengan gaya belajar auditorial bercirikan: berbicara

kepada diri sendiri saat bekerja, mudah terganggu oleh keributan,

menggerakkan bibir mereka ketika membaca, senang membaca keras dan




                               38
mendengarkan, biasanya pembicara fasih, lebih suka musik, suka

berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar.

Orang-orang kinestetik

       Orang-orang dengan gaya belajar kinestetik bercirikan; berbicara

dengan perlahan, menanggapi perhatian fisik, menyentuh orang untuk

mendapatkan perhatian, berdiri dekat dengan orang yang diajak bicara,

belajar melalui praktik dan manipulatif, banyak menggunakan isyarat

tubuh, tidak dapat duduk diam dalam waktu yang lama.

       Sejalan dengan hal ini, dengan merujuk pendapatnya Gardner,

Laurel percaya bahwa dalam diri manusia, sedikitnya ada tujuh potensi

kecerdasan utama atau tujuh cara manusia mengetahui sesuatu. Tujuh

jenis kecerdasan ini adalah kecerdasan dalam bidang bahasa/linguistik,

visual/spasial, musik, kinestik, logis/matematis, interpersonal    dan

intrapersonal (Laurel, 2003:32). Sedikitnya akan kita jelaskan 3

kecerdasan yang berhubungan dengan gaya belajar seseorang yaitu

kecerdasan visual, kecerdasan verbal, dan kecerdasan kinestetik.

Kecerdasan visual

       Orang yang memiliki tingkat kecerdasan visual/spasial tinggi

memilki mata "super". Mereka biasanya memiliki daya pengamatan yang

tinggi. Tokoh-tokoh sukes yang memilki kecerdasan visual misalnya; Will

Short seorang ahli teka-teki silang, sutradara Walt Disney, pemahat

Alexan dar Calder, dan lainnya. Anak-anak yang masuk dalam kelompok

ini biasanya suka bermain dengan balok kayu, mainan kontruksi,




                                39
merangkai bunga, merancang poster dan menata perabot rumah tangga.

Jika dewasa, mereka akan bahagia jika menjadi arsitek, seniman,

pendesain mobil, ahli animasi, set designer, arsitek pertamanan, perancang

grafis dan sebagainya.

Kecerdasan verbal

       Pengarang-pengarang seperti Gertude Stein, Langston Hughes,

Alex Halley, dan Oscar Wilde, atau para politikus seperti Barbara Jordan

dan Benyamin Franklin terkenal karena kemahirannya dalan bahasa lisan.

Anak-anak yang cerdas dibidang bahasa biasanya bicara lebih cepat dan

lebih sering. Mereka senang mengumpulkan kata-kata baru dan

memamerkan perbendaharaan kata mereka pada orang lain. Anak-anak

yang punya kecerdasan dibidang bahasa bisa jadi pengarang, guru, penyiar

radio, reporter, pengacara, pustakawan dan sebagainya.

Kecerdasan kinestetik

       Kecerdasan olah tubuh merangsang kemampuan seseorang untuk

mengolah tubuh secara ahli, atau untuk mengekspresikan gagasan dan

emosi melalui gerakan. Ini termasuk kemampuan untuk menangani suatu

benda dengan cekatan dan membuat sesuatu. Pebasket Michael Jordan,

penari dan penyanyi Josephine Baker, pemain bisbol Babe Ruth, pelari

jose Owens, peluncur es Michelle Kwan, adalah orang-orang dengan

kecerdasan istimewa dibidang olah tubuh.

       Anak-anak yang pandai berolah tubuh biasanya suka bergerak dan

menyentuh segala sesuatu. Anak-anak ini mengenal dunia dengan otot-




                               40
       otot mereka. Mereka suka membuat model, menjahit, bermain dengan jari

       tangan atau belajar bahasa isyarat. Anak-anak dengan kecerdasan dibidang

       olah tubuh mungkin memilih karir sebagai atlet, montir mobil, aktor, guru

       olahraga, ahli terapi fisik, pilot dan sebagainya.

   d. Ketrampilan hidup, dalam Quantum Teaching ini mengajarkan hidup

       diatas garis. Diatas ada daya tanggap, yang didefinisikan sebagai

       "kemampuan untuk menanggapi". Dengan kemampuan ini muncullah

       pilihan dan kebebasan. Hidup diatas garis berarti bertanggung jawab atas

       tindakan sendiri dan mau memperbaiki jika perlu. Hal ini juga berarti

       melihat pilihan yang ada, menentukan solusi, dan menemukan cara untuk

       menjadi lebih efektif.

5. Musik Dalam Quantum Teaching

       Musik berpengaruh bagi guru dan siswa. Dalam pembelajaran, musik

dapat digunakan untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa dan

mendukung lingkungan belajar. Mengapa harus musik? Karena irama, ketukan,

dan keharmonisan musik dapat mempengaruhi fisiologi manusia terutama

gelombang otak dan detak jantung, disamping membangkitkan perasaan dan

ingatan. Jadi musik dapat membantu siswa bekerja lebih baik dan mengingat lebih

banyak (Bobbi DePorter, 2001:73).

       Musik dapat digunakan dengan beragam cara dalam pendidikan, sebab

musik mempunyai banyak fungsi (Bobbi DePorter, 2001:77), yaitu:

a. Menata suasana hati

b. Meningkatkan hasil belajar yang diinginkan




                                         41
c. Menyoroti hal-hal penting

d. Meningkatkan semangat

e. Merangsang pengalaman, menumbuhkan rileksasi

f. Meningkatkan fokus

g. Memberi inspirasi

h. Bersenang-senang

       Metode Georgi Lozanov, (dalam Gordon, 2002:180) menggunakan

dengan tiga cara yang berbeda untuk mempercepat proses belajar:

a) Musik pembukaan untuk menenangkan peserta dan mencapai kondisi optimal

   untuk belajar.

b) Sebuah "konser aktif", didalamnya informasi yang akan dipelajari dibacakan

   dan diiringi musik yang ekspresif.

c) Sebuah "konser pasif", yang didalamnya para pelajar mendengarkan informasi

   baru yang dibacakan sebagai percakapan diiringi musik barok sebagai latar,

   untuk membantu memasukkan informasi ke memori jangka panjang.

       Alasan mengapa musik sangat penting untuk lingkungan Quantum

Learning karena musik sebenarnya berhubungan dan mempengaruhi kondisi

fisiologis. Selama melakukan pekerjaan mental yang berat, tekanan dan denyut

jantung cenderung meningkat. Gelombang-gelombang otak meningkat, dan otot-

otot menjadi tegang. Selama relaksasi dan meditasi, denyut jantung dan tekanan

darah menurun, dan otot-otot mengendor (DePorter&Mike, 2002:72).

       Jika situasi otak kiri sedang bekerja, seperti mempelajari materi baru,

musik akan membangkitkan reaksi otak kanan yang intuitif dan kreatif sehingga




                                        42
masukannya dapat dipadukan dengan keseluruhan proses. Otak kanan cenderung

terganggu selama rapat, kuliah dan semacamnya, yang merupakan penyebab

mengapa seseorang kadang-kadang melamun dan memperhatikan pemandangan

ketika seseorang berniat untuk konsentrasi. Memasang musik adalah cara efektif

untuk menyibukkan otak kanan ketika sedang berkonsentrasi pada aktivitas-

aktivitas otak kiri.




6. Kerangka Rancangan Quantum Teaching

        Kerangka perancangan Quantum Teaching lebih dikenal dengan singkatan

TANDUR, yaitu:

a. Tumbuhkan, yaitu tumbuhkan minat, sertakan diri siswa, pikat mereka,

    puaskan dengan AMBaK (Apakah Manfaatnya BagiKu).

b. Alami, yaitu ciptakan pengalaman umum yang dapat dimengerti oleh semua

    pelajar, berikan siswa pengalaman belajar, tumbuhkan kebutuhan untuk

    mengetahui. Hal ini sejalan dengan pendidikan akhlaq dan sopan santun yang

    harus dilakukan dengan membiasakan, seperti membiasakan berkata yang

    baik, menghormati kedua orang tua, mengerjakan sholat, menolong orang

    lain, dan seterusnya.

c. Namai, yaitu penyediaan kata kunci, model, rumus, agar dapat memuaskan,

    mengajarkan konsep, ketrampilan berpikir dan strategi belajar. Hal ini sejalan

    dengan apa yang diajarkan Allah SWT kepada nabi Adam as, mengenai nama-

    nama yang ada di alam ini, setelah Nabi Adam mengalaminya.




                                       43
d. Demonstrasikan, menyediakan kesempatan bagi siwa untuk menunjukkan

   bahwa mereka tahu. Hal ini pernah dilakukan Nabi Adam as dihadapan

   malaikat ketika diminta oleh Allah untuk mendemonstrasikan hasil didikan-

   Nya, kejadian ini diabadikan dalan Al-Qur'an surat Al-Baqoroh ayat 32 yang

   berbunyi

               ‫قالواَسب نك ل علم لناَال ماَعلمتناَا نك انت العليم الحكيم‬
              ََ ََ َ َ ََ َََ َ ََ ََََ َََ َََ ََ َ ََ َ ََََ ََ ََ َََ َ‫َ َ َ ََح‬
          Artinya: "Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang

          kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami,

          sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha

          Bijaksana". (QS. Al_Baqoroh:32).

e. Ulangi, memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa " Aku tahu bahwa

   aku tahu ini". Dalam hal ini menunjukkan apa yang telah dijarkan oleh guru

   agar betul-betul terlihat hasilnya dan lebih mantap. Dalam hal ini Ari Ginanjar

   Agustian (2003:270) berargumen bahwa untuk membentuk sebuah karakter

   manusia unggul dibutuhkan mekanisme RMP (Repetitif Magic Power) atau

   pengulangan yang terus menerus. Dalam RMP ini, energi potensial yang maha

   dahsyat yang berada dalam diri setiap manusia diubah menjadi energi kinetik

   secara berulang-ulang, sehingga menghasilkan sebuah karakter manusia yang

   handal. Contoh pengulangan ini dapat kita lihat dalam ibadah sholat, kalimat

   apa saja yang anda baca ketika sholat? Sifat mulia apa saja yang anda baca

   ketika itu? Dan berapa kalikah pengulangan itu anda lakukan?. Sholat

   merupakan pengulangan terhebat. Didalam QS Al-Anfal (rampasan Perang)

   8:45 diisyaratkan agar kita melakukan pengulangan.



                                        44
    "…..maka perkokohlah (berteguh hati) dan ingatlah Allah sebanyak-

    banyaknya supaya kamu memperoleh kemenangan".

f. Rayakan, jika layak dipelajari maka layak pula untuk dirayakan. Memberi

    pengakuan sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis belajar siswa.

    Prinsip ini sejalan dengan adanya upacara tradisi yang ada dalam Islam,

    seperti tradisi pemberian nama yang baik pada anak, menyembelih hewan

    aqiqah untuknya dan menikahkannya jika dewasa, adalah merupakan upaya

    perayaan yang didalamnya mengandung unsur-unsur pengakuan terhadap

    keberadaan seseorang ditengah-tengah masyarakat. (Abuddin Nata, 2003:43).

B. PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ

1. Pengertian Pembelajaran Aqidah-Akhlaq

       Penyelenggaran pendidikan merupakan salah satu tugas utama guru,

sebagaimana yang diungkapkan oleh Dimyati dan Mujiono bahwa pembelajaran

dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa

(Dimyati dan Mujiono, 1999:114).

       Pembelajaran berasal dari kata dasar "Ajar" yang artinya petunjuk yang

diberikan orang supaya diketahui. Dari kata ajar inilah lahir kata kerja "Belajar"

yang berarti berlatih atau berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Dan kata

"Pembelajaran" yang berasal dari kata "Belajar" mendapat awalan pem – dan

akhiran – an, yang merupakan konfiks nominal (bertalian dengan perfiks verbal

meng) yang mempunyai arti proses ( DepDikBud, tt:664).

       Berikut adalah beberapa devinisi tentang pembelajaran yang dikemukakan

oleh para ahli:




                                       45
1) Menurut Degeng dalam Muhaimin, pembelajaran ( atau ungkapan yang lebih

   dikenal sebelumya dengan pengajaran ) adalah upaya untuk membelajarkan

   siswa ( Muhaimin dkk, 2002:183)

2) Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa untuk belajar.

   Kegiatan ini mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengasn cara lebih

   efektif dan efisien ( Muhaimin dkk, 1996:99)

3) Pembelajaran adalah suatu usaha untuk mengorganisasi lingkungan sehingga

   menciptakan belajar bagi siswa ( Omar hamalik, 2001:48).

       Aqidah    berasal   dari   kata   "aqoda-   yu'qidu-aqdan"     yang    berarti

"mengikatkan    atau   mempercayai/meyakini".      Jadi   aqidah    berarti   ikatan,

kepercayaan atau keyakinan. Kata ini sering pula digunakan dalam ungkapan-

ungkapan seperti akad nikah atau akad jual beli, yang berarti suatu upacara untuk

menjalin ikatan antara dua pihak dengan ikatan pernikahan atau jual beli. Dengan

demikian, akidah disini bisa diartikan sebagai "ikatan antara manusia dengan

Tuhan" (Muslim Nurdin,dkk, 1993:77).

       Akidah merupakan dasar-dasar kepercayaan dalam agama yang mengikat

seseorang dengan persoalan-persoalan yang prinsipil dari agama itu. Islam

mengikat kepercayaan umatnya dengan tauhid, yaitu keyakinan bahwa Allah itu

Esa. Tauhid merupakan aqidah Islam yang menopang seluruh bangunan ke-

Islaman seseorang. Ia tidak hanya sebatas kepercayaan, melainkan keyakinan

yang mempengaruhi corak kehidupannya.

       Lebih jauh mengenai aqidah ini As-syahid Hasan Al-Banna merumuskan

pengertiannya sebagai sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya,




                                         46
membuat jiwa tenang dan tenteram kepada atau bersamanya, dan menjadikan

sandaran yang bersih dari kebimbangan atau keraguan.

       Sedangkan akhlaq secara etimologi berasal dari jama' "khuluq" yang

artinya "perangai atau tabiat". Sesuai dengan arti tersebut maka akhlaq adalah

bagian dari ajaran islam yang mengatur tingkah laku manusia (Tatapangarsa,

1991:32). Karenanya akhlaq secara kebahasasan bisa baik atau buruk tergantung

kepada nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di

Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik. Jadi oran yang berakhlaq

berarti orang yang berakhlaq baik (Abu Ahmadi dkk, 1991:198).

       Adapun pengertian akhlaq secara istilah ada beberapa devinisi yang telah

dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:

   1. Menurut Asmaran, akhlaq adalah sifat-sifat manusia yang terdidik

       (Asmaran, 1992:1)

   2. Menurut Maskawaih, akhlaq adalah keadaan jiwa seseorang yang

       mendorong    untuk   melakukan      perbuatan-perbuatan   tanpa   melalui

       pertimbangan terlebih dahulu (Muhammad Amin, 1995:8)

   3. Menurut Dra. Zuhairini, akhlaq adalah merupakan bentuk proyeksi dari

       pada insan, yaitu sebagai puncak kesempurnaan dari keimanan dan

       keislaman seseorang (Zuhairini dkk, 1995:51).

   4. Menurut Al-Ghozaly, akhlaq adalah suatu sikap yang mengakar jiwa yang

       darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu

       pemikiran dan pertimbangan (Asmaran, 1992:2). Jika dari sikap itu lahir

       perbuatan yang baik dan terpuji, (baik dari segi akalnya maupun syara')




                                      47
       maka disebut akhlaq yang baik, dan jika lahir darinya perbuatan yang

       tercela maka sikap itu disebut akhlaq yang buruk.

       Berdasarkan uraian diatas pembelajaran Aqidah-Akhlaq adalah upaya

sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami

menghayati dan mengimani Allah SWT dan merealisasikannya dalam perilaku

akhlaq mulia dan kehidupan sehari-hari berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits

melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.

Disertai tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dan hubungannya

dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud

kesatuan dan persatuan bangsa. Pembelajaran Aqidah-Akhlaq itu sendiri berfungsi

memberikan kemampuan dan ketrampilan dasar kepada peserta didik untuk

meningkatkan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan akhlaq

Islami dan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan (Departemen Agama, 2003:2).

2. Ruang Lingkup Pembelajaran Aqidah-Akhlaq

       Pembelajaran    Aqidah-Akhlaq     di   Madrasah     Tsanawiyah    cakupan

pembahasan kurikulum dan hasil belajar meliputi:

1)   Aspek aqidah, terdiri atas keimanan kepada sifat wajib, mustahil dan jaiz

     Allah, keimanan kepada kitab Allah, rasul Alllah, sifat-sifat dan

     mu'jizatnya, dan hari kiamat.

2)   Sub aspek akhlaq terpuji yang terdiri atas khouf, raja, taubat, tawadhu,

     ikhlas, bertauhid, inovatif, kreatif, percaya diri, tekat yang kuat, ta'aruf,

     ta'awun, tasamuh, jujur, adil, amanah, menepati janji dan bermusyawarah.




                                       48
3)    Sub aspek akhlaq tercela meliputi kompetensi dasar kufur, syirik, munafik,

      namimah dan ghodhob (Depag, 2003:2).



3. Tujuan Pembelaran Aqidah-Akhlaq

        Mata pelajaran Aqidah Akhlaq dimaksudkan untuk               memberikan

pengetahuan pemahaman, dan penghayatan tentang keimanan dan nilai-nilai

akhlaq yang merupakan dasar utama dalam pembentukan kepribadian muslim,

dengan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa

kepada Tuhan Yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur.

        Tidak ada tujuan yang lebih penting bagi pendidikan akhlaq Islam dari

pada membimbing umat manusia diatas prinsip kebenaran dan jalan lurus, jalan

Allah yang dapat mewujudkan kebahagiaan dunia akherat mereka. Akhlak yang

baik adalah tujuan pokok pendidikan ini dan akhlaq tidak disebut baik kecuali jika

sesuai dengan ajaran al-Qur'an. Pokok-pokok akhlaq yang baik yaitu, (Ali Abdul

Halim, 2003:150):

a. Memberikan rasa cinta kepada manusia baik melalui ucapan maupun

     perbuatan.

b. Rasa toleran ketika melakukan transaksi jual-beli atau yang semisalnya.

c. Menjaga hak keluarganya, kerabat, dan tetangga tanpa diminta.

d. Menjauhi sifat kikir, marah, dan sifat-sifat tercela lain.

e. Tidak memutuskan hubungan silaturahim dan mendiamkan orang lain.

f. Tidak berlebihan dalam bermuamalah antar sesama, dan

g. Berakhlaq.




                                         49
      Dengan mencapai masing-masing kualitas diatas, tercapailah salah satu

tujuan pendidiakan akhlaq Islam dari sekian banyak tujuan yang harus dicapainya

seperti halnya:

1)    Mempersiapkan manusia beriman yang beramal sholeh, sebab tidak ada

      sesuatu yang dapat merefleksikan akhlaq Islami seperti halnya amal sholeh

      dan tidak ada yang dapat merefleksikan iman kepada Allah dan komitmen

      kepada pola hidup Islami seperti halnya pentauladanan diri kepada praktek

      normatif Nabi.

2)    Mempersiapkan mukmin sholeh yang menjalani kehidupan dunianya

      dengan menaati hukum halal-haram Allah SWT, menikmati rejeki halal dan

      menjauhi setiap tindakan yang menjijikkan, keji, munkar, dan jahat.

3)    Mempersiapkan mukmin sholih yang baik interaksi sosialnya baik dengan

      sesama kaum muslimin maupun dengan kaum non-muslim.

4)    Mempersiapkan mukmin sholih yang bersedia melaksanakan dakwah Illahi,

      beramar makruf nahi munkar dan berjihad dijalan Allah.

5)    Mempersiapkan mukmin sholih yang bangga berukhuwah Islamiyah,

      menjaga hak-hak persaudaraan, suka atau tidak suka karena Allah dan tidak

      menghiraukan caciaan orang lain.

6)    Mempersiapkan mukmin sholih yang merasa bahwa dirinya bagian dari

      umat Islam multi wilayah dan bahasa sehingga selalu siap melaksanakan

      tugas-tugas utama.

7)    Mempersiapkan mukmin sholih yang bangga berintima' kepada agama

      penutup (Islam), berjuang sedapat mungkin dengan mengorbankan harta,




                                         50
     jabatan, waktu dan jiwanya demi keluhuran agamanya untuk memimpin dan

     demi aplikasi syariat Islam kaum muslimin.

     Sedangkan tujuan pendidikan aqidah menurut Ikhwanul Muslimin adalah:

a)   Agar setiap individu beriman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa,

     pembuat syariat, dzat yang disembah dan ditaati, dengan segala sifat dan

     perbuatan-Nya, sebagaimana yang dipahami oleh Ahlusunnah dari

     salafussaholih, sesuai dengan manhaj mereka.

b)   Agar dia yakin dengan keyakinan yang sholih kepada kitab-kitab langit

     (samawi), para nabi, wahyu, mu'jjizat, malikat, dan semua yang ghoib,

     kepada qodzlo dan qodar, hari akhir, dengan segala yang terjadi didalamnya.

c)   Berkeyakinan dengan keyakinan yang sholih terhadap eksistensi manusia,

     alam, kehidupan dan nilai-nilai.

d)   Yakin bahwa pengajaran nilai, peraturan dan perundang-undangan

     masyarakat, harus didasarkan pada sumberi Ilahiyah saja, yang telah

     disampaikan Rasulullah SAW.

e)   Membebaskan loyalitasnya agar hanya untuk Allah, Rasul-Nya, dan orang-

     orang yang beriman. Ia harus melepaskan loyalitasnya dari segala komunitas

     yang menentang Islam.

f)   Membebaskan diri secara total dari segala bentuk peribadatan dan ketaatan

     kepada selain Allah, dan orang-orang yang menaati-Nya.

g)   Agar ia bersemangat mempelajari aqidahnya, bekerja keras untuk

     merealisasikan, dan mensosialisasikannya dengan kesabaran, ketabahan dan

     ketekunan (Mu'iz Ruslan, 2000:491).




                                        51
4. Cara Pembelajaran Aqidah-Akhlaq

        Pembelajaran Aqidah-Akhlaq lebih banyak menonjolkan aspek nilai, baik

nilai   ketuhanan     maupun      kemanusiaan,   yang   hendak   ditanamkan   dan

ditumbuhkembangkan kedalam diri peserta didik, sehingga dapat melekat pada

dirinya dan menjadi kepribadiannya.

        Menurut Noeng Muhadjir (1988), (dalam Muhaimin dkk, 1996:146),

bahwa ada beberapa strategi yang bisa digunakan dalam pembelajaran nilai

(aqidah-akhlaq), yaitu: (1) strategi tradisional; (2) strategi bebas; (3) strategi

reflektif; (4) strategi transinternal.

        Pertama, pembelajaran nilai dengan menggunakan strategi tradisional,

yaitu dengan jalan memberikan nasehat atau indoktrinasi. Dengan kata lain,

strategi ini ditempuh dengan jalan memberitahukan secara langsung nilai-nilai

mana yang baik dan yang kurang baik.

        Dengan strategi tersebut guru memiliki peran yang menentukan, karena

kebaikan atau kebenaran datang dari atas, dan siswa tinggal menerima kebaikan

atau kebenaran itu tanpa harus mempersoalkan hakekatnya. Penerapan strategi

tersebut akan menjadikan peserta didik hanya mengetahui atau menghafal jenis-

jenis nilai tertentu yang baik, dan belum tentu melaksanakannya. Sedangkan guru

atau pendidik kadang-kadang hanya berlaku sebagi guru bicara nilai, dan iapun

belum tentu melaksanakannya juga. Karena itu tekanan strategi ini lebih bersifat

koqnitif, sementara segi afektifnya kurang dikembangkan. Disinilah letak

kelemahan strategi tradisional.




                                          52
         Kelemahan lainnya terletak pada aspek pengertian peserta didik terhadap

nilai itu sendiri bersifat paksaan, dan paksaan akan lebih efektif bila disertai

dengan hukuman atau penggunaan hukuman atau ganjaran yang bersifat material.

Hal ini jelas kurang menguntungkan untuk pembelajaran nilai yang seharusnya

mengembangkan kesadaran internal pada diri peserta didik.

         Kedua,   pembelajaran   nilai   dengan   menggunakan     strategi   bebas

merupakan kebalikan dari strategi tradisional, dalam arti guru atau pendidik tidak

memberitahukan kepada peserta didik mengenai nilai-nilai yang baik dan buruk,

tetapi justru peserta didik diberi kebebasan sepenuhnya untuk memilih dan

menentukan nilai mana yang akan diambilnya, karena nilai yang baik belum tentu

baik pula bagi peserta didik itu sendiri. Dengan demikian peserta didik memiliki

kesempatan yang seluas-luasnya untuk memilih dan menentukan nilai mana yang

baik dan yang tidak baik, dan peran peserta didik guru sama-sama terlibat secara

aktif.

         Strategi tersebut juga mempunyai kelemahan, antara lain peserta didik

belum tentu mampu memilih niali-nilai mana yang baik dan kurang baik, karena

masih memerlukan bimbingan dari pendidik untuk memilih nilai yang terbaik bagi

dirinya. Karena itu, strategi ini lebih cocok digunakan bagi orang-orang dewasa

dan pada obyek-obyek nilai kemanusiaan.

         Ketiga, Pembelajaran dengan menggunakan Strategi reflektif adalah

dengan jalan mondar-mandir antara menggunakan pendekatan teoritik ke

pendekatam empirik, atau mondar mandir antara deduktif dan induktif.




                                         53
       Dalam penggunaan strategi tersebut dituntut adanya konsistensi dalam

penerapan kreteria untuk mengadakan analisis terhadap kasus-kasus empirik yang

kemudian dikembalikan pada konsep teoritiknya, dan juga diperlukan konsistensi

untuk menggunakan aksioma-aksioma sebagai dasar deduksi untuk menjabarkan

konsep teoritik kedalam terapan pada kasus-kasus yang lebih mengkhusus dan

operasional.

       Strategi tersebut lebih relevan dengan tuntutan perkembangan berfikir

peserta didik dan tujuan pembelajaran nilai untuk menumbuh-kembangkan

kesadaran rasional dan keluasan wawasan terhadap nilai tersebut.

       Keempat, Pembelajaran nilai dengan menggunakan strategi transinternal

merupakan cara untuk membelajarkan nilai dengan jalan melakukan transformasi

nilai, dilakukan dengan transaksi dilanjutkan dan transinternalisasi. Dalam hal ini

guru dan peserta didik sama-sama terlibat dalam proses komunikasi aktif, yang

tidak hanya melibatkan komunikasi verbal dan fisik, tetapi juga melibatkan

komunikasi batin (kepribadian) antara keduanya.

       Dengan strategi tersebut, guru berperan sebagai penyaji informasi,

pemberi contoh atau teladan, serta sumber nilai yang melekat dalam pribadinya.

Sedangkan peserta didik menerima informasi dan merespon terhadap stimulus

guru secara fisik, serta memindahkan dan mempolakan pribadinya untuk

menerima nilai-nilai kebenaran sesuai dengan kepribadian guru tersebut. Strategi

inilah yang paling sesuai dengan pembelajaran nilai Ketuhanan dan kemanusiaan.

5. Pendekatan Pembelajaran Aqidah-Akhlaq




                                        54
       Berbagai strategi diatas perlu dijabarkan ke dalam beberapa pendekatan

tertentu dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq yang meliputi:

a. Keimanan,     yang   memberikan     peluang   kepada    peserta   didik   untuk

   mengembangkan pemahaman adanya Allah SWT sebagai sumber kehidupan.

b. Pengalaman, memberikan kepada peserta didik untuk mempraktekkan dan

   merasakan hasil-hasil pengalaman keyakinan aqidah dan akhlaq dalam

   menghadapi tugas-tugas dan masalah dalam kehidupan.

c. Pembiasaan,    memberikan      kesempatan     kepada   peserta    didik   untuk

   membiasakan sikap dan perilaku yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam

   dan budaya bangsa dalam menghadapi masalah kehidupan.

d. Rasional, usaha untuk memberikan peranan kepada rasio (akal) peserta didik

   dalam memahami dan membedakan berbagai materi dalam standar materi

   serta kaitannya dengan perilaku yang baik dengan perilaku yang buruk dalam

   kehidupan duniawi.

e. Emosional, upaya menggugah perasaan (emosi) peserta didik dalam

   menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.

f. Fungsional, menyajikan materi Aqidah-Akhlaq dari segi manfaatnya bagi

   peserta didik dalm kehidupan sehari-hari dalam arti luas.

g. Keteladan, yaitu menjadikan figur pribadi-pribadi teladan dan sebagai

   cerminan bagi manusia yang memiliki keyakinan tauhid yang teguh dan

   berperilaku mulia (Depag, 2003:3)




                                       55
       Muhadjir (1988) dalam Muhaimin, menjabarkan metode pembelajaran

Aqidah-Akhlaq dalam 4 metode, yaitu: 1) metode dogmatik, 2) metode deduktif,

3) metode induktif, 4) metode reflektif.

       Pertama, metode dogmatik adalah metode untuk mengajarkan nilai

kepada peserta didik dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran

ynag harus diterima apa adanya tanpa mempersoalkan hakekat kebaikan dan

kebenaran itu sendiri.

       Metode tersebut dianggap kurang mampu mengembangkan kesadaran

rasioanal peserta didik dalam memahami dan menghayati niali-nilai kebenaran.

Bila peserta didik menghayati dan menerima suatu kebenaran, maka penerimaan

cenderung bersifat dangkal dan terpaksa, karena takut pada otoritas guru atau

atasannya.

       Kedua, metode deduktif adalah cara menyajikan nilai-nilai kebenaran

(kebenaran dan kemanusiaan) dengan jalan menguraikan konsep tentang

kebenaran itu agar dipahami oleh peserta didik. Metode ini bertolak dari

kebenaran sebagi teori atau konsep yang mempunyai nilai-nilai baik, selanjuitnya

ditarik contoh kasus terapan dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat, atau

ditarik kedalam nilai-nilai lain yang lebih khusus atau sempit ruang lingkupnya.

       Metode tersebut mempunyai kelebihan, terutama bagi peserta didik yang

masih dalam taraf pemula dalam mempelajari nilai, karena mereka terlebih dahulu

akan diperkenalkan beberapa konsep atau teori tentang nilai secara umum,

kemudian ditarik rincian-rincian yang lebih khusus dan mendetail, serta dikaitkan

dengan kasus-kasus yang terjadi dimasyarakat.




                                           56
        Ketiga, metode induktif adalah sebagai kebalikan dari metode deduktif,

yakni dalam membelajarkan nilai dikenalkan kasus-kasus dalam kehidupan

sehari-hari, kemudian ditarik maknanya secara hakiki tentang nilai-nilai

kebenaran yang berada dalam kehidupan tersebut.

        Metode tersebut cocok diterapkan untuk peserta didik yang telah memiliki

kemampuan berpikir abstrak, sehingga mampu membuat kesimpulan dari gejala-

gejala kongkrit untuk diabstrakkan. Sedangkan kelemahannya, kadang-kadang

dalam mengembalikan antar berbagai kasus-kasus yang sama diberikan nilai yang

berbeda-beda ( Muhaimin dkk, 1996:150).

        Keempat, metode reflektif merupakan gabungan dari penggunaan metode

deduktif dan induktif, yakni membelajarkan nilai dengan jalan mondar-mandir

antara memberikan konsep secara umum tentang nilai-nilai kebenaran, kemudian

melihatnya dalam kasus-kasus kehidupan sehari-hari, atau dari melihat kasus

sehari-hari dikembalikan pada konsep teoritiknya yang umum.

        Penerapan metode tersebut dapat mengatasi kekurangan metode deduktif

yang kadang kurang bersifat empirik, dan sekaligus mengatasi kekurangan metode

induktif yang kadang kurang konsisten dalam menerapkan kreteria untuk masing-

masing kasus yang serupa.

        Dalam penggunaan metode tersebut guru harus menguasai teori-teori atau

konsep secara umum tentang nilai-nilai kebenaran, dan sekaligus dituntut untuk

memiliki daya penalaran yang tinggi untuk mengembalikan setiap kasus dalam

tataran konsep nilai itu.




                                       57
       Berbagai metode tersebut selanjutnya oleh Noeng Muhadjir (1998) dalam

Muhaimin, dirasa perlu untuk dijabarkan lagi secara rinci kedalam teknik atau

prosedur pembelajarannya. Teknik pembelajaran Aqidah-Akhlaq ada bermacam-

macam, diantaranya ialah: (1) teknik indoktrinasi; (2)teknik moral reasonimg); (3)

teknik meramalkan konsekuensi; (4) teknik klarifikasi dan (5) teknik internalisasi.

       Adapun penggunaan teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut:

1) Teknik indoktrinasi, prosedur teknik ini dilakukan melalui beberapa tahap,

   yaitu: (1) tahap brainwashing, yakni pendidik memulai pendidikan nilai

   dengan jalan merusak tata nilai yang sudah mapan dalam pribadi siswa untuk

   dikacaukan, sehingga mereka tidak mempunyai pendirian lagi. Beberapa

   metode dapat digunakan untuk mengacaukan pikiran siswa, misalnya dengan

   Tanya jawab, wawancara mendalam dengan teknik dialektik, dan sebagainya.

   Pada saat pikirannya sudah kosong dan kesadaran rasionalnya tidak lagi

   mampu mengontrol dirinya, serta pendirianya sudah hilang, maka dilanjutkan

   dengan tahap kedua; (2) tahap menanamkan fanatisme, yakni pendidik

   berkewajiban menanamkan ide-ide yang dianggap benar, sehingga nilai-nilai

   yang ditanamkan masuk kedalam otak siswa tanpa melalui pertimbangan yang

   mapan. Dalam menanamkan fanatisme ini banyak digunakan pendekatan

   emosional daripada pendekatan rasional. Apabila siswa telah mau menerima

   nilai-nilai secara emosional, barulah ditanamkan doktrin yang sesungguhnya;

   (3) tahap penanaman doktrin, pada tahap ini pendidik tahap menggunakan

   pendekatan emosional, keteladanan. Pada saat penanaman doktrin ini hanya

   dikenal satu nilai kebenaran yang disajikan , dan tidak ada alternatif lain.




                                        58
   Semua siswa harus menerima kebenaran itu tanpa harus mempertanyakan

   hakekat dari kebenaran itu.

2) Teknik moral reasoning, langkah-langkah teknik ini dilakukan dengan jalan,

   (1) penyajian dilema moral: pada tahap ini siswa dihadapkan pada

   problematika nilai yang bersifat kontradiktif, dari yang bersifat sederhana

   sampai dengan yang kompleks. Cara penyajiannya dapat melalui observasi,

   membaca Koran, atau majalah, mendengarkan sandiwara melihat film dan

   sebagainya; (2) pembagian kelompok diskusi: setelah disajikan problematik

   dilema moral tersebut, kemudian siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil

    untuk mendiskusikan hasil pengamatan terhadap dilema moral tersebut; (3)

   hasil diskusi kelompok selanjutnya dibawa dalam diskusi kelas dengan tujuan

   untuk mengadakan klarifikasi nilai, membuat alternatif dan konsekuensinya;

   (4) setelah siswa mendiskusikan secara internsif dan melakukan seleksi yang

   terpilih sesuai dengan alterantif     dan konsekuensinya, selanjutnya siswa

   mengorganisasikan nilai-nilai terpilih tersebut dalam dirinya. Hal ini bisa

   diketahui lewat pendapat siswa, misalnya melalui karangan-karangannya yang

   disusun setelah diskusi, atau tindakan follow-up dari kegiatan diskusi itu.

3) Teknik meramalkan konsekuensi, teknik ini merupakan penerapan dari

   pendekatan rasional dalam mengajarkan nilai. Dalam arti mengandalkan

   kemampuan berpikir kedepan bagi siswa untuk membuat proyeksi tentang

   hal-hal yang akan terjadi dari penerapan suatu nilai tertentu. Adapun langkah-

   langkahnya sebagai berikut: (1) tahap pertama, siswa diberikan suatu kasus

   melalui cerita, membaca majalah, melihat film, atau melihat kejadian konkrit




                                        59
   dilapangan; (2) siswa diberi beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan

   nilai-nilai yang ia lihat, ia ketahui dan ia rasakan. Pertanyaan itu ada kalanya

   bersifat memperdalam wawasan tentang nilai yang dilihat, alasan dan

   kemungkinan yang akan terjadi dari nilai-nilai tersebut, atau menghubungkan

   kejadian itu dengan kejadian-kejadian lain yang ada kaitanya dengan kasus

   tersebut; (3) upaya membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam kasus itu

   dengan nilai lain yang bersifat kontrafiktif; (4) tahap terakhir adalah

   kemampuan meramalkan konsekuensi yang akan terjadi dari pemilihan dan

   penerapan suatu tata nilai tertentu (Muhaimin dkk, 1996:152).

4) Teknik klarifikasi: teknik ini merupakan salah satu cara untuk membantu anak

   dalam menentukan nilai-nilai yang akan dipilihnya. Teknik ini dapat ditempuh

   melalui tiga tahap, yaitu: (1) tahap pemberian contoh: pada tahap ini guru

   memperkenalkan kepada siswa nilai-nilai yang baik dan memberikan contoh

   penerapannya. Hal ini bisa ditempuh dengan jalan observasi, melibatkan siswa

   dalam kegiatan nyata, pemberian contoh secara langsung dari guru kepada

   siswa nilai-nilai yang baik dan memberikan contoh penerapannya. Hal ini bisa

   ditempuh melalui jalan observasi, melibatkan siswa dalam kegiatan nyata,

   pemberian contoh secara langsung dari guru kepada siswa, dan sebagainya;

   (2) tahap mengenal kelebihan dan kekurangan nilai yang telah diketahui dari

   siswa lewat contoh-contoh tersebut diatas. Hal ini bisa ditempuh melalui

   diskusi atau Tanya jawab, guna melihat kelebihan dan kekurangan nilai-nilai

   tersebut. Dari kegiatan ini akhirnya siswa dapat memilih nilai-nilai yang ia

   setujui dan yang dianggap paling baik dan benar; (3) tahap selanjutnya adalah




                                       60
   tahap mengorganisasikan tata nilai pada diri siswa. Setelah pemilihan nilai

   ditentukan, maka siswa dapat mengorganisasikan system nilai tersebut dalm

   dirinya dan menjadikan nilai itu sebagai pribadinya.

5) Teknik internalisasi: kalau teknik-teknik diatas hanya terbatas pada pemilihan

   nilai dengan disertai wawasan yang cukup luas dan mendalam maka dalam

   teknik internalisasi ini sasarannya sampai pada tahap pemilikan nilai yang

   menyatu dalam kepribadian siswa, atau sampai pada taraf karakterisasi atau

   mewatak. Tahap-tahap dari teknik internalisasi ini adalah: (1) tahap

   transformasi nilai: pada tahap ini guru sekedar menginformasikan nilai-nilai

   yang baik dan yang tidak baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan

   komunikasi verbal; (2) tahap trasaksi nilai, yakni suatu tahap pendidikan nilai

   dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa

   dengan guru bersifat interaksi timbal balik. Kalau pada tahap transformasi,

   koimunikasi masih dalam bentuk satu arah, yakni guru yang aktif. Tetapi

   dalam transaksi ini guru dan siswa sama-sama aktif. Tekanan dari komunikasi

   ini masih menampilkan sosok fisiknya daripada sosok mentalnya. Dalam

   tahap ini guru tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik dan

   buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberi contoh amalan

   yang nyata, dan siswa diminta memberi respon yang sama, yakni menerima

   dan mengamalkan nilai itu; (3) tahap transinternalisasi: tahap ini jauh lebih

   dalam dari sekedar transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan

   siswa bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya).




                                       61
   Demikian juga siswa merespon kepada guru bukan hanya gerakan atau

   penampilan fisiknya, melainkan sikap mental dan kepribadiannya.

6) Proses dari transinternalisasi itu mulai dari yang sederhana sampai dengan

   yang kompleks, yaitu muali dari: (1) menyimak (receiving), yaitu kegiatan

   siswa untuk bersedia menerima adanya stimulus yang berupa nilai-nilai baru

   yang dikembangkan dalam sikap afektifnya; (2) menanggapi (responding),

   yakni kesediaan siswa untuk merespon nilai-nilai yang ia terima dan sampai

   pada tahap memiliki kepuasan untuk merespon nilai tersebut; (3) memberi

   nilai (valueing), yakni sebagai kelanjutan dari aktivitas merespon nilai

   menjadi siswa mampu memberi makna baru terhadap nilai-nilai yang muncul

   dengan kreteria nilai-nilai yang diyakini kebenarannya; (4) mengorganisasi

   nilai (organization of value), yakni aktivitas siswa untuk mengatur berlakunya

   system nilai yang ia yakini sebagai kebenaran dalam perilaku kepribadiannya

   sendiri, sehingga ia memilki satu system nilai yang berbeda dengan orang

   lain; dan (5) karakteristik nilai (characterization by a value or value complex),

   yakni dengan membiasakan nilai-nilai yang benar yang diyakini, dan yang

   telah diorganisir dalam laku pribadinya, sehingga nilai tersebut sudah menjadi

   watak (kepribadiannya), yang tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupannya.

   Nilai yang sudah mempribadi inilah yang dalam Islam disebut dengan

   kepercayaan atau keimanan yang istiqomah, yang sulit tergoyahkan oleh

   situasi apapun.




                                        62
                                    BAB III

                           METODE PENELITIAN



A. RANCANGAN PENELITIAN

       Penelitian ini masuk dalam kategori penelitian kualitatif, sebab itu

pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif deskriptif.

Maksudnya adalah dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan bukan

berupa angka-angka melainkan data tersebut mungkin berasal dari wawancara,

catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya

(Lexy M. 1993:5), sehingga yang menjadi tujuan penelitian kualitatif adalah ingin

menggambarkan realitas empirik dibalik fenomena yang ada secara mendalam,

rinci dan tuntas (Muh Nasir, 1999:66). Oleh karena itu pendekatan penelitian ini




                                       63
menggunakan pendekatan kualitatif dengan mencocokkan realitas empirik dengan

teori yang telah berlaku, dengan menggunakan metode deskriptif analitik.



B. LOKASI PENELITIAN

       Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri yang terletak dijalan Dahlia No 34

Telp: (0342) 351094 Mojorejo-Wates-Blitar. Pemilihan lokasi ini disertai dengan

beberapa pertimbangan diantaranya; sekolah ini sekolah sekolah favorit

dikecamatan Wates, peneliti sering berhubungan dengan pihak pengelola sekolah.

Adapun waktu penelitian ini adalah tanggal 1 Agustus sampai 30 September 2005.




C. RUANG LINGKUP PENELITIAN

       Ruang lingkup penelitian adalah bidang pendidikan yang dibatasi oleh

permasalahan seperti yang dirumuskan dalam bab I, yaitu bagaimana penerapan

Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo.



D. SUMBER DATA

       Data merupakan fakta-fakta atau ukuran-ukuran tertentu dari suatu

fenomena. Menurut Arikunto (2002:107), sumber data dalam penelitian adalah

subyek dari mana data dapat diperoleh. Adapun data-data yang digunakan dalam

penelitian ini dikelompokkan dalam dua jenis (Suryabrata, 1998) yaitu:

a. Data primer, yaitu data yang pengambilannya dengan membagikan daftar

   pertanyaan tentang penerapan metode Quantum Teaching dalam pembelajaran




                                       64
   Aqidah-Akhlaq kepada guru bidang studi Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri

   Mojorejo.

b. Data skunder, yaitu data dalam bentuk jadi dan sudah diolah oleh pihak lain.

   Data ini berasal dari literatur dokumentasi bagian administrasi di MTs Negeri

   Mojorejo.



E. METODE PENGUMPULAN DATA

       Sesuai dengan data yang diperlukan dalam penelitian ini maka dalam

pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode dibawah ini:

1. Metode observasi

       Metode observasi     adalah    metode   yang dilakukan    dengan    jalan

mengadakan pengamatan terhadap obyek yang diteliti sebagaimana yang

dikatakan oleh Sutrisno hadi: "metode observasi bisa dikatakan sebagai

pengamatan dan pencatatan dengan sistematika fenomena-fenomena yang

diselidiki, dalam arti yang luas, observasi tidak hanya terbatas pada pengamtan

yang dilakukan baik secar langsung maupun tidak langsung (Sutrisno hadi,

1984:136).

       Metode    ini   digunakan     untuk   mengumpulkan    data-data    dengan

berpartisipasi langsung terhadap obyek yang diteliti, dalam hal ini penulis

menggunakan observasi, yaitu dengan cara peneliti mendatangi langsung daerah

atau lokasi serta memperhatikan jalannya proses pembelajaran Aqidah-Akhlaq

melalui penggunaan metode Quantum teaching untuk memperoleh data.

2. Metode interview




                                        65
       Metode interview atau wawancara adalah metode yang dilakukan dengan

jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (Tanya jawab)

lisan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini Sutrisno Hadi

mengatakan: "interview sebagai proses Tanya jawab lesan, dimana dua orang atau

lebih berhadap-hadapan secara fisik orang lain dan mendengarkan sendiri

suaranya, tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung

tentang beberapa jenis data sosial, baik yang terpadu maupun manifes (Sutrisno

Hadi, 1984:192).

       Dalam hal ini penulis menggunakan metode ini untuk mengumpulkan data

tentang bagaimana penerapan Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah

Akhlaq dengan jalan berkomunikasi dan mengajukan pertanyaan yang disusun

sendiri oleh peneliti untuk dijawab oleh responden.

3. Metode dokumentasi

       Metode dokumentasi adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara

meneliti terhadap buku-buku, catatan-catatan,arsip-arsip tentang suatu masalah

yang berhubungan denagn hal-hal yang diteliti. Suharsini. Arikunto mengatakan

bahwa: "metode dokumentasi adalah mencari dat-data mengenai hal-hal atau

variable yang berupa catatan, arsip, buku-buku, surat kabar, majalah, notulen,

rapat, agenda dan sebagainya (Arikunto, 1991:188).

       Dalam hal ini metode dokumentasi dipakai untuk memperoleh data tentang

keberadaan sekolah yaitu fasilitas sekolah, keadaan guru dan staf, karyawan dan

keadaan siswa. Dengan kata lain metode ini digunakan dengan jalan melihat

dokumentasi sekolah.




                                        66
F. PROSEDUR PENELITIAN

       Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, pertama; orientasi, kedua;

tahap pengumpulan data (lapangan) atau tahap eksploraasi; dan ketiga tahap

analisis dan penafsiran data. Ketiga langkah tersebut sesuai dengan pendapat Bog

and Dan (1972) yaitu ada tiga tahap pokok dalam penelitisn kualitatif, yakni (1)

tahap pra lapangan; (2) tahap kegiatan lapangan; (3) tahap analisis intensif. Begitu

juga Moleong (1993:239) mengemukakan bahwa prosedur pertama ialah

mengetahui sesuatu tentang apa yang belum diketahui. Tahap ini dikenal dengan

tahap orientasi yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang tepat tentang

latar penelitian. Tahap kedua adalah tahap eksplorasi focus, pada tahap ini mulai

memasuki proses pengumpulan data, yaitu cara-cara yang digunakan dalam

pengumpulan data. Dan tahap yang ketiga adalah rencana tentang teknik yang

digunakan untuk melakukan pengecekan dan pemeriksaan kaeabsahan data.

       Ketiga tahap penelitian diatas akan diikuti dan dilakukan oleh peneliti,

pertama adalah orientasi, yaitu mengunjungi dan bertatap muka dengan kepala

sekolah dan berbagai sumber sementara tentang MTs Negeri Mojorejo. Pada tahap

ini (orientasi) kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah (1) mohon izin kepada

lembaga tempat penelitian untuk melakukan penelitian; (2) merancang usulan

penelitian; (3) menentukan informan penelitian; (4) menyiapkan kelengkapan

penelitian; dan (5) mendiskusikan rencana penelitian.

       Kedua, adalah eksplorasi khusus, yaitu setelah mengadakan orientasi,

kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah pengumpulan data dengan cara: (1)




                                        67
wawancara dengan subyek dan informan penelitian yang telah dipilih; (2)

mengkaji dokumen, berupa fakta-fakta yang berkaitan dengan focus penelitian;

(3) observasi pada kegiatan subyek penelitian, yaitu mengikuti bagaimana guru

bidang studi Aqidah-Akhlaq mengajar dikelas.

       Ketiga, adalah tahap pengecekan dan pemeriksaan keabsahan data. Pada

tahap ini kegiatan yang dilakukan peneliti adalah mengadakan pengecekan

keabsahan data pada subyek informan atau dokumen untuk membuktikan validitas

data yang diperoleh. Pada tahap ini dilakukan penghalusan data yang diberikan

subyek maupun informan, dan diadakan perbaikan baik dari segi bahasa maupun

sistematikanya, agar dalam hasil pelaporan hasil penelitian memperoleh derajat

kepercayaan tinggi. Tehnik yang digunakan dalam hal ini peneliti melakukan; (1)

perpanjangan waktu dan ketekunan pengamatan; (2) triangulasi data; (3) diskusi

dengan sejawat; dan (4) menggunakan referensi.



G. TEKNIK ANALISA DATA

       Dalam menetapkan keabsahan data peneliti menggunakan teknik

triangulasi data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan

memanfaatkan berbagai sumber diluar data tersebut sebagai bahan perbandingan.

Triangulasi yang digunakan oleh peneliti ada tiga yaitu; satu; triangulasi data,

yaitu dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil

wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi, dan data hasil

pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan ini diharapkan dapat

menyatukan persepsi atas data yang diperoleh. Kedua, triangulasi metode,




                                      68
dilakukan peneliti untuk pencarian data tentang fenomena yang sudah diperoleh

dengan menggunakan metode yang berbeda yaitu wawancara, observasi dan

dokumentasi. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode yang berbeda itu

dibandingkan dan disimpulkan sehingga memperoleh data yang dipercaya. Ketiga

menggunakan triangulasi sumber, yang dilakukan peneliti dengan cara

membandingkan kebenaran suatu fenomena berdasarkan data yang diperoleh

peneliti baik dilihat dari dimensi waktu maupun sumber lain, misalnya

membandingkan data ynag diperoleh melalui wawancara baik antara pihak

peneliti dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum dan guru

Aqidah-Akhlaq.

                                  BAB IV

                       LAPORAN HASIL PENELITIAN



A. LATAR BELAKANG OBYEK

1. IDENTITAS MADRASAH



   1)    Nama Madrasah             : MTs Negeri

   2)    Alamat Madrasah           :

         a. Jalan                  : Dahlia No. 24

         b. Desa                   : Mojorejo

         c. Kecamatan              : Wates

         d. Kabupaten              : Blitar

         e. Propinsi               : Jawa Timur




                                       69
         f. Nomer Telepon          : (0342) 351094

         g. E-Mail                 : mtsn_mjr@telkom.net

     3) Status Madrasah: Negeri

     4) SK akreditasi

              a. Nomer             : 107

              b. Tanggal           : 17 Maret 1997

     5) NSM                        : 211350504007

     6) Tahun                      :1997

     7) Nama Kepala Madrasah       : H. Sahad Zunaidi A. Ma

     8) SK Kepala Madrasah

          a. Nomer                 : Wm.01.02/KP.076/1164/SK/97

          b. Tanggal               : 26 Mei 1997



2. SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA MTs NEGERI MOJOREJO

       Madrasah adalah sekolah umum yang beriri khas agama Islam yang

diselenggarakan oleh Departemen Agama (PP No. 20 Tahun 1990). Madrasah

Tsanawiyah lebih menekankan pada peningkatan iman dan taqwa, peningkatan

akhlaq mulia dan minat peserta didik, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi

dan seni, keseimbangan antara pelajaran umum dan agama (UU No 20 tentang

SisDikNas) yang dituangkan dalam kurikulum pendidikannya sebagai wujud ciri

khas kelembagaannya.

       Bermula dari keputusan Menteri Agama RI No. 107 tahun 1997, MTs

Hasanuddin berubah status menjadi MTs Negeri Mojorejo yang diresmikan oleh




                                     70
Bupati Blitar (Drs. H. Bambang Suktjo, SH) pada tanggal 16 Juni 1997, semenjak

itu MTs Negeri Mojorejo mengalami peningkatan kualitas belajar mengajar yang

pesat. Saat itu jumlah siswa mencapai 320 anak didik yang terbagi dalam 8 kelas

besar yang didukung oleh tenaga-tenaga guru yang berpengalaman serta tempat

belajar yang nyaman, serta lingkungan masyarakat sekitar yang kondusif.

       MTS Negeri Mojorejo adalah satu-satunya lembaga di kecamatan Wates

yang mengembangkan pola pendidikan berdasarkan IPTEK dan IMTAQ kepada

Allah SWT, menuju terwujudnya manusia yang berakhlaq karimah.




3. VISI, MISI, DAN TUJUAN MTs NEGERI MOJOREJO-WATES

       Visi dan misi merupakan gambaran visual yang dinyatakan dalam kata-

kata. Visi merupakan gambaran kemana sebuah organisasi dibawa pergi. Visi bagi

organisasi merupakan segalanya yang tidak pernah berakhir, tidak ada batas

waktu, dan tidak terukur, sedangkan misi tidak demikian halnya. Misi harus

memilIki titik akhir yang dapat diukur dan dapat dicapai, misi menyediakan fokus

dan kejelasan sekaligus menjadi tinjauan ulang yang berharga dalam mencapai

sebuah visi masa depan yang bermanfaat.

       Adapun secara eksplisit dapat diketahui berdasarkan data tertulis sebagai

berikut:

a. Visi Madrasah: Menjadikan Madrasah sebagai pusat pemantapan Aqidah Islam,

                  pendalaman spiritual dan pembentukan akhlaq yang luhur dan

                  mulia.




                                      71
b. Misi Madrasah:

   1) Memperkokoh madrasah sebagai pusat pendalaman keilmuan yang setara

      dengan lembaga pendidikan lainnya

   2) Mengantarkan anak didik agar memilki kemantapan aqidah, kedalaman

      spiritual dan keluhuran akhlaq budi pekerti

   3) Mempersiapkan anak didik dalam menuju jenjang pendidikan selanjutnya

   4) Menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unggul dalam

      berbagai bidang ilmu pengetahuan

   5) Menumbuhkan semangat berprestasi kepada seluruh warga madrasah

      secara intensif

   6) Membantu dan mendorong setiap untuk mengenal dan menggali potensi

      yang ada pada dirinya agar dapat berkembang secara optimal

   7) Menumbuhkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam

      dan budaya bangsa yang luhur sebagai dasar berpijak dalam kehidupan

      bermasyarakat dan berbangsa

   8) Menerapkan menejemen partisipasif dengan melibatkan warga madrasah

      warga lingkungan madrasah

c. Tujuan Madrasah

   1. Semua guru dan karyawan mendapat informasi lengkap dan faham tentang

       KBK sehingga dapat mengimplementasian dalam proses belajar mengajar

   2. Semua guru dapat menyusun silabus berdasarkan KBK untuk semua mata

       pelajaran

   3. Semua guru dapat menyusun perangkat penilaian berbasis kompetensi




                                      72
   4. Menambah kemampuan siswa dengan melakukan pendalaman materi, dan

       selanjutnya menjadi siswa yang berprestasi

   5. Meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan dalam mengelola

       madrasah sehingga bisa lebih maju

   6. Membekali siswa dengan ketrampilan yang sesuai dengan perkembangan

       zaman (Dokumen MTs Negeri Mojorejo-Wates)



4. LETAK GEOGRAFIS MTs NEGERI MOJOREJO-WATES

       MTs Negeri Mojorejo terletak dijalan Dahlia Nomer 24 Mojorejo-Wates-

Blitar Nomer Tlp: (0342) 351094. MTs negeri Mojorejo terletak dikanan jalan

dari arah utara. Mulai masuk gerbang MTsN kita akan melihat pos sAtpam

disebelah kiri dan mushola disebelah kanan. Bangunan mushola yang baru tampak

bersih apalagi tata letaknya yang lebih tinggi dibanding dengan bangunan-

bangunan atau ruang-ruang kelas yang berada disebelah kiri.

       Disebelah kanan mushola tedapat satu bangunan yang menghadap

keselatan yang saling terhubung yang terdiri dari (urut dari kiri ke kanan) ruang

guru, ruang tata usaha dan ruang kepala madrasah. Ketiga ruang tersebut memiliki

pintu sendiri-sendiri akan tetapi juga ada pintu penghubung antar ruang untuk

memudahkah akses.

       Didepan    ruang-ruang   tersebut,   nampak    ruang-ruang   kelas   yang

menghadap kebarat dan keutara dan juga adanya bangunan yang menghadap ke

timur. Ruang-ruang kelas yang menghadap ke Barat terdiri dari tiga kelas yang

ditempati oleh siswa kelas 3A, 3B, 2C dan 2A. ruang-ruang kelas yang




                                       73
menghadap ke utara ke uatara yang ditempati oleh siswa kelas 2B, 1A, 1B, 1C dan

3C.

        Sedangkan bangunan yang menghadap ketimur terdiri dari tiga ruang

yaitu ruang laboratorium IPA dan laboratorium komputer dan perpustakaan.

Untuk menuju ruang computer harus melewati tangga karena kedua ruang tersebut

terletak dilantai dua. Sehingga secara umum tata letak bangunan-bangunan itu

telihat seperti segi empat karena ada yang menghadap ke Barat, ke Timur, ke

Utara dan ke Selatan yang mengitari lapangan. Didepan ruang-ruang kelas terlihat

pepohonan rindang yang membuat teduh lokasi.

        MTs Negeri Mojorejo juga terletak dikawasan pendidikan, karena

berdekatan (satu lingkungan) dengan RA Perwanida Mojorejo, MIN Mojorejo,

Madrasah Aliyah Hasanudin dan STIT al-Muslihun (Observasi: 5 Agustus 2005).



5. STRUKTUR        ORGANISASI,        FUNGSI DAN                TUGAS        PENGELOLA

      SEKOLAH

        Struktur organisasi merupakan suatu kerangka atau susunan yang

menghubungkan hubungan antara komponen yang satu dengan yang lainnya,

sehingga jelas tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam suatu

kebulatan yang utuh. Adapun struktur organisasi MTs Negeri Mojorejo-Wates

tertera dalam bagan dibawah ini:

                         STRUKTUR ORGANISASI PEMBAGIAN

                           TUGAS DAN MEKANISME KERJA




                                                                 KOMITE
                                         KEPALA                 MADRASAH


                           TU          WAKIL KEPALA



                                     PEMBANTU KEPALA MADRASAH
                         URUSAN          74
                                      URUSAN        URUSAN          URUSAN
                         SARANA     KURIKULUM     PEMBINAAN      HUB.KERJASAMA
                        PRASARANA                  KESISWAN       MASYARAKAT
Ket :

----------------- : Garis Konsultasi

                : Garis Komando

        Sedangkan fungsi dan tugas pengelola MTs Negeri Mojorejo adalah

sebagai berikut:



        PEMBAGIAN TUGAS PENGELOLAAN MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI

                MOJOREJO WATES BLITAR TAHUN PELAJARAN 2005/2006




        Sekolah / Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang berfungsi

sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pendidikan jalur sekolah, yang secara garis

besar memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut :

    a. Melaksanakan pendidikan di sekolah dalam jangka waktu tertentu sesuai

        dengan jenis, jenjang dan sifat sekolah tersebut.

    b. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan kurikulum yang

        berlaku.

    c. Melaksanakan bimbingan dan konseling bagi siswa di sekolah.

    d. Membina organisasi intra sekolah.



                                         75
   e. Melaksanakan urusan tata usaha.

   f. Membina kerjasama dengan orang tua, masyarakat dan instansi terkait.

   g. Bertanggung jawab kepada Kepala Kandepag. Kab. Blitar.

TUGAS KEPALA SEKOLAH

   Kepala sekolah berfungsi dan bertugas sebagai Edukator, Manager,

Administrator dan Supervisor (EMAS).

   a. Kepala     sekolah   selaku   edukator     bertugas   melaksanakan    proses

      pembelajaran secara efektif dan efisien.

   b. Kepala sekolah selaku manager mempunyai tugas :

      1. Menyusun perencanaan              11. Mengatur administrasi :

      2. Mengorganisir kegiatan                a. Ketata-usahaan

      3. Mengarahkan kegiatan                  b. Siswa

      4. Mengkoordinasikan                     c. Ketenagaan

          kegiatan                             d. Sarana dan Prasarana

      5. Melaksanakan pengawasan               e. Keuangan/RAPBS

      6. Melaksanakan          evaluasi        f. Mengatur Organisasi Siswa Intra

          terhadap kegiatan                       Sekolah

      7. Menentukan           kebijakan        g. Mengatur hubungan sekolah

          OSIS                                    dengan masyarakat.

      8. Mengadakan rapat

      9. Mengambil keputusan

      10. Mengatur    proses    belajar

          mengajar




                                          76
c. Kepala   Sekolah   selaku    administrator   bertugas   menyelenggarakan

   administrasi :

   1. Perencanaan          9. Ketenagaan               17.OSIS

   2. Pengorganisasian     10. Kantor                  18. Serba Guna

   3. Pengarahan           11. Keuangan                19. Media

   4. Pengkoordinasian     12. Perpustakaan            20. Gudang

   5. Pengawasan           13. Laboratorium            21.8K(Keamanan,

   6. Kurikulum            14. Ruang Ketrampilan            Kebersihan,

   7. Kesiswaan            15. Bimb.DanKonseling            Keindahan,

   8. Ketatausahaan        16. UKS                          Ketertiban,

                                                            Kekeluargaan,

                                                            Kerindangan,

                                                            Keagamaan,dan

                                                            Kesehatan.

d. Kepala Sekolah selaku supervisor bertugas menyelenggarakan supervisi

   mengenai:

   1. Proses belajar mengajar            6. Kegiatan Kerjasama       dengan

   2. Kegiatan Belajar Mengajar             masyarakat

   3. Kegiatan      Bimbingan      dan 7. Sarana dan Prasarana

      Konseling                          8. Kegiatan OSIS

   4. Kegiatan Ekstra Kurikuler dan 9. Kegiatan 8 k

      Kokurikuler

   5. Kegiatan Ketata-Usahaan




                                   77
KEPALA TATA USAHA

   1. Bertugas dan bertanggung jawab atas berlakunya garis kebijakan Kepala

      Madrasah di bidang tata usaha.

   2. Membina staf tata usaha Madrasah sehingga mampu dan kreatif dalam

      melaksanakan tugas masing-masing dalam pengembangan karir pegawai

      yang bersifat insidental maupun tugas-tugas tambahan.

   3. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan administrasi Madrasah.

   4. Membantu semua pihak Madrasah dalam tata usaha khususnya dan

      kelancaran fungsi Madrasah pada umumnya.

   5. Menyusun program pembinaan administrasi Madrasah.

   6. Membantu Kepala Madrasah dalam mengelola keuangan rutin, BOS,

      DIPA, BOP, dan keuangan non budgetter.

   7. Membuat dan menyajikan data-data statistik tentang keadaan dan

      perkembangan madrasah.

   8. Mengelola sarana dan prasarana dan menyusun administrasi perlengkapan

      Madrasah.

   9. Mengatur administrasi kepegawaian.

   10. Mengkoordinasikan dan melaksanakan 8 K.

   11. Mengkonsep surat-surat untuk dimintakan persetujuan Kepala Madrasah.

   12. Membuat laporan berkala administrasi Madrasah.

PEMBANTU KEPALA MADRASAH URUSAN KURIKULUM

   1. Menyusun dan menjabarkan kalender Pendidikan

   2. Menyusun Pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran

   3. Mengatur penyusuan program pengajaran



                                       78
4. Mengatur pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler

5. Mengatur pelaksanaan program penilaian kriteria kenaikan kelas, kriteria

   kelulusan dan laporan kemajuan belajar

6. Mengatur program perbaikan dan pengajaran

7. Mengatur pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar

8. Mengatur pengembangan MGMP dan koordinator mata pelajaran

9. Mengatur mutasi siswa

10. Melaksanakan supervisi administrasi dan akademis

11. Menyusun dan mengelola evaluasi belajar serta ujian akhir

12. Memeriksa administrasi wali kelas, guru, perpustakaan, administrasi

   laboratorium dan administrasi guru piket

13. Merencanakan penerimaan siswa baru sesuai dengan daya tampung

   Madrasah

14. Memeriksa dan mengusulkan calon guru teladan kepada Kepala Madrasah

15. Mengkoordinir dan membina lomba-lomba bidang akademik

16. Membina dan menyusun adminsitrasi guru, wali kelas, perpustakaan dan

   laboratorium

17. Membina, memeriksa dan mengawasi pelaksanaan program wali kelas,

   guru, perpustakaan dan laboratorium

18. Membina dan memeriksa penyusunan satuan pembelajarn, daya serap

   siswa, deposit soal, program remedi dan pengayaan setiap guru

19. membuat laporan




                                   79
PEMBANTU KEPALA MADRASAH URUSAN KESISWAAN

   1. Mengatur program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling

   2. Mengatur     dan    mengkoordinasikan    pelaksanaan    8K(Keagamaan,

      Keamanan, Kebersihan, Ketertiban, Keindahan, Kekeluargaan, Kesehatan,

      dan Kerindangan)

   3. Mengatur dan membina kegiatan OSIS, Pramuka dan PMR

   4. Mengatur program pesantren kilat

   5. Membimbing, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan OSIS, Pramuka

      dan PMR

   6. Membimbing, mengarahkan dan mengendalikan proses pemilihan

      pengurus OSIS

   7. Menyelenggarakan Latihan Dasar Kepemimpinan Madrasah (LDKM)

   8. Mengkoordinir, membina dan mengawasi kegiatan try out/ try in

   9. Mengkoordinir, membina dan mengawasi apel bendera

   10. Merencanakan, mengkoordinir dan melaksanakan pelaksanaan bhakti

      masyarakat para siswa

   11. Membantu lulusan Madrash dan senantiasa berusaha meningkatkan

      kualitas siswa dan kegiatn siswa.

   12. Mengkoordinir, membina dan mengawasi kegiatan UKS, PMR, PKM,

      Pramuka dan kegiatan lainnya

   13. Menyusun dan mengatur jadwal dan program pembinaan siswa lainnya

   14. Melakukan pemilihan siswa teladan dan calon siswa penerima bea siswa

   15. Mengurusi, membina dan mengawasi kost/asrama siswa (bila ada)




                                      80
   16. Mengadakan pemilihan untuk mewakili Madrasah dalam kegiatan di luar

      Madrasah

   17. Membina pengurus OSIS dalam berorganisasi

   18. Merencanakan, membina dan mengawasi praktek kerja, karya wisata

      siswa

   19. Membina karya siswa, KIR, majalah dinding dan buletin

   20. Merencanakan, membina dan mengawasi orientasi Madrasah bagi siswa

      baru




PEMBANTU KEPALA MADRASAH URUSAN HUB. MASYARAKAT

   1. Menyusun program pengadaan/kebutuhan, pemeliharaan dan pengamanan

      barang inventaris yang khususnya dengan KBM

   2. Mendayagunakan sarana prasaran KBM (termasuk kartu pelaksananaan

      pendidikan)

   3. Menjaga stabilitas kesejahteraan guru dan karyawan

   4. Merencanakan kegiatan pendayagunaan sarana prasarana Madrasah

   5. Merencanakan kegiatan teknik pemeliharaan sarana prasarana Madrasah

   6. Mencatat dn menginventarisasi tropi piala dan piagam yang diperoleh

      Madrasah/siswa

   7. Mengelolo pembiayaan alat-alat pengajaran

   8. Menyusun laporan pelaksanaan urusan sarana prasarana secara berkala

      pelaksanaan tugasnya

PEMBANTU KEPALA MADRASAH URUSAN SARANA PRASARANA




                                     81
    1. Mengatur dan menyelenggarakan hubungan Madrasah dengan orang tua /

        wali siswa

    2. Membina hubungan antar Madrasah dengan komite

    3. Membina pengembangan hubungan lintas sektoral antara Madrasah

        dengan instansi lain, dunia usaha dan lembaga sosial lainnya untuk

        kegiatan Madrasah

    4. Mengadakan peringatan hari-hari besar Islam/Nasional

    5. Melaksanakan bhakti sosial antara lain: Sumbangan bencana alam, Palamg

        Merah Indonesia(PMI), Kerja bakti masyarakat

    6. Melaksanakan kerja sama masyarakat sekitar demi keamanan lingkungan

        Madrasah

    7. Penertiban pakaian seragam siswa

    8. Menyusun laporan pelaksanaan humas secara berkala



6. SARANA DAN PRASARANA

        untuk mengetahui sarana fisik Madrasah, peneliti melakukan penggalian

data melalui observasi langsung dilokasi penelitian dan didukung oleh data

dokumentasi yang peneliti peroleh, untuk lebih jelas peneliti sajikan dalam tabel

berikut ini:

                                    Tabel 1

                                Sarana Prasarana

 No                  Uraian                 Jumlah        Keadaan




                                       82
1    Ruang belajar                 9    Baik

2    Perpustakaan                  1    Baik

3    Ruang TU                      1    Baik

4    Ruang kepala madrasah         1    Baik

5    Ruang guru                    1    Baik

6    Ruang BP/BK                   1    Baik

7    Ruang UKS                     1    Baik

8    Ruang laboratorium            1    Baik

9    Musholla                      1    Baik

10   Kamar kecil                   2    Baik

11   Ruang OSIS                    1    Baik

12   Gudang                        1    Baik

13   Ruang computer                1    Baik

14   Meja siswa                   350   Baik

15   Kursi siswa                  350   Baik

16   Meja kerja                   25    Baik

17   Papan visual                  3    Baik

18   Telepon                       1    Baik

19   Tiang bendera                 1    Baik

20   Meghaphon                     5    Baik

21   Box file                     50    Baik

22   Rak kayu                      6    Baik

23   Meja computer                20    Baik




                             83
24   Computer                 20   Baik

25   Meja ketik manual        2    Baik

26   Printer                  10   Baik

27   Loud speaker             2    Baik

28   Amplifier                2    Baik

29   Tape recorder            4    Baik

30   Roll kabel               4    Baik

31   Kaca hias                3    Baik

32   Microphone               2    Baik

33   Stick microphone         3    Baik

34   Bola volley              2    Baik

35   Piala                    25   Baik

36   Buppet kayu              2    Baik

37   Piagam                   11   Baik

38   Cindera mata             4    Baik

39   Blok logika              1    Baik

40   Limas transparan         1    Baik

41   Globe 30 cm              21   Baik

42   Lensa prisma 45          1    Baik

43   Barometer                1    Baik

44   Sel konnduktifis         1    Baik

45   Sperometer               1    Baik

46   Microskop                1    Baik




                         84
 47   Planetarium                              1             Baik

 48   Monometer terbuka                        1             Baik

 49   Monometer tertutup                       1             Baik

 50   Kumparan 300                             1             Baik

 51   Pesawat hartl                            1             Baik

 52   Magnet U besar                           1             Baik

 53   Magnet batang panjang                    1             Baik

 54   Rak dan tabung reaksi                    1             Baik

 55   Model RNA dan DNA                        1             Baik

 56   Model pembiakan malaria                  1             Baik

 57   Kotak obat                               3             Baik

 58   Timbangan badan                          3             Baik

 59   Pengukur tinggi badan                    2             Baik

 60   Snelling test chart                      1             Baik

 61   White board                              10            Baik

             Sumber data: Dokumen MTsN Tahun Pelajaran 2005



7. KEADAAN GURU, STAF DAN KARYAWAN

      Dalam perkembangannya untuk meningkatkan mutu dan kualitas, MTs

Negeri Mojorejo-Wates mengadakan pembinaan terhadap para guru dan pegawai.

Pembinaan    ini    dilakukan   melalui    peningkatan   profesionalisme   dengan

melanjutkan S1 dan S2, pelatihan, kursus, seminar dan sebagainya. Hal ini

berdasarkan wawancara dengan kepala madrasah yang menyatakan bahwa:




                                          85
       "Untuk meningkatkan profesionalisme guru, kami sering mengirim para
       guru untuk mengikuti seminar, pelatihan dan sebagainya. Kami juga
       memberi kesempatan kepada guru untuk melanjutkan ke jenjang S1 dan
       S2. sementara ini ada dua orang yang sedang melanjutkan ke S1 dan dua
       orang yang sedang menempuh S2 di Malang tepatnya di UM dan
       Universitas Muhammadiyah" (Wawancara dengan Bapak Sahad Zunaidi:
       11 Agustus 2005).


       Uraian diatas dipertegas oleh wakil kepala urusan kurikulum Bapak zainal

yang mengungkapkan sebagai berikut:

       "Pihak sekolah memberi konsep kepada guru atau bahkan kepada pegawai
       untuk mengembangkan diri seluas-luasnya, kami mendukung sepenuhnya"
       (Wawancara dengan Bapak Zainal Abidin: 11 Agustus 2005).


       Ungkapan diatas menyiratkan bahwa keterkaitan dalam ketenagaan MTs

Negeri berupaya mengadakan pembenahan dan perbaikan melalui pembinaan dan

pengembangan       untuk menghasilkan suatu proses pelayanan pendidikan yang

berkualitas, sehingga diharapkan dapat mengeluarkan out put yang bermutu.

Dibawah ini adalah keadaan guru tetap, guru tuidak tetap, pegawai tetap dan

pegawai tidak tetap.



                                      Tabel 2

                        Daftar guru tetap, guru tidak tetap,

                       pegawai tetap dan pegawai tidak tetap

 No             Nama                Guru tetap     GTT/GBS     PT      PTT

  1   H. Sahad Zunaidi A.Ma              -

  2   Drs. Zainal Abidin                 -

  3   Muhadi S.Ag                        -




                                        86
4    Tasirin S.Ag            -

5    Umi Toyibah S.Pd        -

6    Lesus Nur P S.Pdi       -

7    Dra. Yulis Asifah       -

8    Rosidah Lutfiana S.Pd   -

9    Tati farida s.Pd        -

10   Adib Nurhuda S.Pd       -

11   Muh. Fahrudin S.Pd      -

12   Hendrik NH S.Pd              GBS

13   Lilik lutfiyah S.Pd          GBS

14   Sulistiyani                  GBS

15   Sukateman S.Pd               GTT

16   Drs.Ahmadi Mahsun            GTT

17   Drs. Mujiono                 GTT

18   Tukeni A.Md                  GTT

19   Syahri Mustofa               GTT

20   Jamto S.Pd                   GTT

21   Saiful Ashar                 GTT

23   Syamsul H S.Pt               GTT

24   Imam Nasroin                 GTT

25   Dwi Nurcahyati S.Pd          GTT

26   Wahyudiono                   GTT

27   Muhsin Aminullah             GTT




                             87
 28   Zainal Fatoni S.Pd                                        PT

 29   Suherman                                                       PTT

 30   Solihin S.Ag                                              PT

 31   Eko Suciati S.Pd                                          PT

      Sumber data: Dokumen MTs Negeri Mojorejo tahun pelajaran 2005




                                     Tabel 3

                      Jumlah SDM (Guru, Staf dan Pegawai)

                     Yang didasarkan pada gelar yang dimiliki

       No             Pendidikan                  Jumlah

        1              Magister                      -

        2         Sarjana Muda/S1                   20

        3              Diploma                       2

        4                SMU                         8

        5                  SD                        -

                 Sumber data: Dok MTsN Tahun Pelajaran 2005



8. KEADAAN SISWA




                                       88
        Siswa di MTs Negeri Mojorejo dari tahun ke tahun terus mengalami

peningkatan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas dapat

diperoleh data sebagai berikut:

                                        Tabel 4

                        Jumlah siswa MTsN Mojorejo dalam

                                  tiga tahun terakhir

                                               Tahun pelajaran
   No         Siswa
                             2003/2004            2004/2005       2005/2006

    1        Kelas I              90                    107           115

    2        Kelas II             70                    88            103

    3       Kelas III             78                    70            82

          Jumlah                  241                   265           300

             Sumber data: Dok MTsN Mojorejo tahun pelajaran 2005



        Sedangkan dalam hal kualitas juga mengalami peningkatan yang berarti,

sebagaimana yang diungkapkan oleh kepala madrasah berikut ini:

        "Prestasi akademik siswa dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
        seperti nilai rata-rata ujian nasional siswa tahun 2005 adalah 9 dan khusus
        matematika ada 20 siswa yang mendapat nilai 10. selain prestasi akademik
        yang meningkat, prestasi non akademikpun meningkat, hampir seluruh
        perlombaan-perlombaan yang diadakan di tingkat kecamatan diborong
        oleh MTs Negeri Mojorejo”. (Wawancara dengan Bapak Sahad Zunaidi:
        28 Agustus 2005).


B. PERSEPSI DAN PEMAHAMAN GURU AQIDAH-AKHLAK TENTANG

QUANTUM TEACHING




                                          89
       Quantum Taeching pertama kali dikenalkan oleh Bobby de Porter di

Indonesia pada 8-9 Maret 2000. Ketika itu atas undangan Mizan Learning Center,

tepatnya kurang lebih 5 tahun yang lalu. Bagi Guru Aqidah Akhlak di MTSN

Mojorejo Quantum Teaching adalah sebuah metode pembelajaran yang tergolong

masih baru. Hal ini sesuai dengan yang dipaparkan oleh Bapak Zainal selaku

Wakaur Kurikulum yang merangkap guru Aqidah-Akhlak MTsN Mojorejo

dibawah ini :

        “Quantum Teaching adalah sebuah metode masih asing bagi kami guru-
        guru Aqidah-Akhlak, dibanding dengan pengenalannya di Indonesia
        tentu kami terlambat mengenalnya, karena kami baru mendapakan
        training Quantum Teaching tersebut satu tahun yang lalu dan semester
        ini merupakan semester pertama diterapakannya Quantum Teaching di
        MTs Negeri Mojorejo” (Wawancara dengan Bapak Zainal : 30 Agustus
        2005).
       Bagi guru Aqidah-akhlak diMTsN Mojorejo untuk mengaplikasikan

Quantum Teaching telah di lakukan dengan berbagai bentuk dalam rangka

mengembangkan metode pembelajraran Aqidah-Akhlak. Segenap guru Aqidah-

Akhlak menyambut baik adanya metode Quantum Teaching ini. Hal ini sesuai

dengan yang sampaikan oleh Bapak Zainal yang menyatakan :

         “Untuk mengembangkan metode pembelajaran Aqidah-Akhlaq, pihak
         sekolah mengirim guru Akidah-Akhlaq untuk mengikuti pelatihan-
         pelatihan tentang Quantum Teaching, seperti yang sering diadakan di
         Surabaya, dan guru Aqidah-Akhlaq sendiri merespon baik adanya
         metode pembelajaran Quantum Teaching ini, hal ini ditujukan dengan
         antusias mereka untuk mengikuti training-training Quantum Teaching”
         (Wawancara dengan Bapak Zainal: 30 Agustus 2005).


       Senada dengan yang disampaikan oleh Bapak Zainal diatas, Bapak Tasirin

selaku guru Aqidah-Akhlaq memaparkan sebagai berikut:

         “Saya sebagai guru Aqidah-Akhlaq sering dikirim oleh pihak sekolah
         untuk   mengikuti   pelatihan-pelatihan   pengembangan     metode



                                     90
         pembelajaran, saya pribadi sangat senang mengikuti pelatihan-pelatihan
         tersebut karena banyak metode-metode pembelajaran yang ditawarkan
         yang sangat menarik utamanya adalah QuantumTeaching” (Wawancara
         dengan Bapak Tasirin: 30 Agustus 2005).


       Dari hasil wawancara diatas dapat penulis simpulkan bahwa guru Aqidah-

Akhlaq merespon baik tentang adanya pembelajaran Quantum Teaching. Kerena

metode yang baik dan menarik untuk digunakan sebagai strategi pembelajaran .

       Menurut Bapak Tasirin, Quantum Teaching adalah sebuah metode yang

sangat bagus yang merupakan gabungan dari beberapa teori pembelajaran, beliau

menganalogikan Quantum Teaching ini dengan gado-gado yang sangat lezat. Ini

model pembelajaran yang sangat menakjubkan, model ini mewadahi penerapan

metode Quantum Learning diruang-ruang kelas. Metode Quantum Teaching

menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar lewat pemaduan

unsur-unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, metode ini

mengggabungkan      keistimewaan-keistimewaan      belajar    menuju     bentuk

perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa. (Wawancara dengan

Bapak Tasirin: 31 Agustus 2005).

       Sedangkan menurut Bapak Zainal metode Quantum Teaching memiliki

kompetensi yang jelas mengenai materi-materi yang disajikan. Berikut hasil

wawancara peneliti dengan beliau:

       “Quantum Teaching ini merupakan strategi pembelajaran yang tidak
       hanya terfokus penuh pada buku panduan dan memiliki kompetensi yang
       jelas mengenai materi-materi yang disajikan, metode ini menggunakan
       unsur-unsur yang ada dalam kelas dan luar kelas seperti guru, siswa, buku
       panduan, sarana dan prasarana lainnya, karena itulah metode ini cocok
       untuk digunakan dalam semua pembelajaran termasuk Aqidah-Akhlaq”
       (Wawancara dengan Bapak Zainal: 31 Agustus 2005).




                                      91
        Dari kedua pendapat yang disampaikan oleh guru Aqidah-Akhlaq tersebut

dapat disimpulkan bahwa para guru Aqidah-Akhlaq sangat mendukung dan

memberikan persepsi dan pemahaman bahwa metode Quantum Teaching sangat

menarik     untuk     diterapkan    dalam    pembelajaran    Aqidah-Akhlaq         dengan

menggunakan unsur yang ada dikelas dan seluruh lingkungan. Metode ini cocok

untuk     digunakan    dalam       semua    pembelajaran    karena   strateginya    yang

menyenangkan sehingga siswa belajar dalam suasana yang menyenangkan pula.




C. APLIKASI QUANTUM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN

AQIDAH-AKHLAQ DI MTs NEGERI MOJOREJO.

        Aqidah-akhlaq merupakan salah satu pembelajaran agama yang banyak

membahas tentang moral atau tingkah laku manusia agar sesuai dengan ajaran

Islam, sehingga guru haruslah menjadi contoh yang baik dalam segala tingkah

lakunya terutama ketika mengajar. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh

Bapak Zainal berikut ini:

        “Masalah pertama yang amat penting dalam persoalan mendidik adalah
        perlu adanya kesesuaian antara perilaku kita dengan apa yang kita
        tuntutkan kepada siswa, dalam Quantum Teaching ada prinsip atau azas
        bawalah dunia mereka ke dunia kita dan bawalah dunia kita kedunia
        mereka. Ini berarti bahwa tidak ada pembatas antara guru dan siswa.
        Ketika mengantarkan kita kedunia mereka itulah seorang guru harus
        menjadi teladan yang akan mempengaruhi kehidupan siswa. Dengan
        demikian kita akan berhasil dalam proses pendidikan, dengan kata lain
        kita tidak boleh menyuruh anak-anak atau siswa untuk melakukan sesuatu
        atau melarang mengerjakan sesuatu, namun kita sendiri menyalahi



                                             92
       perintah itu atau mengerjakan larangan itu” (Wawancara dengan Bapak
       Zainal: 31 Agustus 2005).


       Berkaitan dengan yang disampaikan oleh Bapak Zainal diatas, Bapak

Tasirin memberikan tanggapan sebagai berikut:

       “Keteladanan merupakan persoalan yang sangat diperlukan dalam
       mendidik sebab, keteladanan merupakan bentuk pengggambaran yang
       bersifat realistik terhadap semua keteladanan dan pemikiran. Bagaimana
       guru meminta siswanya untuk tidak merokok, padahal guru sendiri
       merokok atau bagaimana seorang guru meminta murid untuk tidak
       mendatangi dukun kalau dia sendiri pergi dan mempercayai seorang
       dukun. Karena itulah penting bagi kita untuk menerapkan azas dari
       Quantum Teaching bawalah dunia mereka ke dunia kita dan hantarkan
       dunia kita ke dunia mereka, untuk membawa siswa kedunia saya, biasanya
       yang saya lakukan adalah bercerita yang sesuai dengan materi dan
       menarik mereka untuk memasuki dunia saya melalui materi yang saya
       sampaikan. Hal ini sangat menarik, karena dengan cerita singkat akan
       menumbuhkan motivasi mereka untuk memasuki materi yang akan saya
       ajarkan sehingga konsentrasi siswa terfokus pada materi” (Wawancara
       dengan Bapak Tasirin: 31 Agustus 2005).


       Masih menurutnya, sebetulnya materi-materi Aqidah-Akhlaq dari dulu

sampai sekarang tidak berubah, yang berubah adalah metode pembelajarannya

karena harus disesuaikan dengan zaman apalagi zaman teknologi seperti sekarang

ini. Belum lagi masalah-masalah lingkungan yang berpengaruh buruk terhadap

pola tingkah laku siswa. Sehingga guru harus berusaha dan pandai-pandai

memilih cara yang tepat bagaimana mentransformasi nilai-nilai yang ada dalam

Aqidah-Akhlaq melalui pendekatan yang baik, tepat dan menyenangkan, yang

menyenangkan inilah kunci pertamanya sehingga ketika siswa belajar merasa

senang, insyaAllah mudah bagi kita untuk memasukkan nilai-nilai. Dengan belajar

menyenangkan melalui pendekatan Quantum Teaching ini belajar Aqidah-Akhlaq




                                      93
terasa lebih santai, enjoy, menyenangkan dan mengena seperti apa yang kita

inginkan.

       Dari hasil wawancara diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Quantum

Teaching dengan Azasnya yaitu bawalah dunia mereka ke dunia kita dan

hantarkan kita ke dunia mereka sangat tepat digunakan dalam mata pelajaran

Aqidah-Akhlaq yaitu dalam rangka memberikan keteladanan.

       Dalam rangka mengaplikasikan Quantum Teaching dalam pembelajaran

Aqidah-Akhlaq guru Aqidah-Akhlaq menerapkan prinsip-prinsip Quantum

Teaching, yaitu segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman sebelum

pemberian nama, mengakui setiap usaha dan jika layak dipelajari maka layak pula

dirayakan.

       Segalanya berbicara, dalam menerapkan prinsip ini guru Aqidah-Akhlaq

berusaha untuk mengoptimalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan

pelajaran, mulai dari bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan ketika memberikan

tugas dan rancangan pelajaran agar belajar selalu menggairahkan.

       Segalanya bertujuan, karena semuanya punya tujuan maka guru Aqidah-

Akhlaq dalam proses belajar dengan mengoptimalkan dan memanfaatkan segala

hal yang berkaitan dengan belajar, mulai ruang kelas, poster, papan tulis dan

sebagainya.

       Pengalaman sebelum pemberian nama, guru melakukan appersepsi

sebelum menyampaikan atau memberikan materi.

       Akui setiap usaha, guru Aqidah-Akhlaq memberikan reward berupaya

acungan jempol, kata-kata verbal seperti hebat dan bagus untuk mengakui usaha




                                       94
yang dilakukan oleh siswa, guru berusaha untuk mengakomodasi setiap pikiran,

inisiatif dan kerjasama.

       Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan, guru Aqidah-Akhlaq

selalu berusaha untuk menciptakan kegembiraan di akhir pembelajaran misalnya

dengan meminta siswa untuk berdiri untuk membentuk lingkaran (putri sendiri

dan putra sendiri) untuk meneriakkan tiga kali hore. Setelah itu secara serentak

siswi putri melafalkan “Kun Aliman” kemudian disahut oleh siswa putra “wa la

takun jaahilan” (Observasi di kelas 1A: 5 September 2005).

       Dalam observasi dikelas 1A waktu itu, guru memberikan materi pokok

sifat-sifat Allah dalam sub bahasan sifat mustahil bagi Allah. Guru meminta siswa

untuk mengeluarkan buku Aqidah-Akhlaq yang dilanjutkan dengan pemberian

ilustrasi materi sesuai dengan topik pembahasan yang disertai gambaran obyektif

penerapan dilapangan. Dalam bertutur sapa guru menggunakan bahasa yang

bersahaja kata-kata yang digunakan adalah “anak-anak, materi kita hari ini adalah

sifat mustahil bagi Allah, materi ini adalah materi yang menantang akan tetapi

mudah kita pelajari”. Sambil melakukan pre tes guru berjalan pelan-pelan

mengelilingi siswa dengan sekali-kali memegang pundak siswa yang dilaluinya.

       Dikelas ini bangku diatur dengan model berkelompok, siswa duduk secara

berkelompok sehingga memudahkan untuk berinteraksi, tiap kelompok terdiri dari

lima sampai enam siswa. Pajangan-pajangan didinding terdiri dari gambar, tata

tertib, jadwal pelajaran, jadwal piket, tulisan-tulisan siswa dan poster-poster lain

yang merupkan kreasi dari siswa kelas 1b sendiri. Kreasi-kreasi tersebut sewaktu-




                                        95
waktu bisa dirubah atas kehendak atau kesepakatan kelas. (Observasi: 5

September 2005).

       Guru-guru Aqidah-Akhlaq di             MTs Negeri     Mojorejo-Wates juga

menerapkan kerangka pembelajaran Quantum Teaching yang lebih dikenal

dengan istilah TANDUR. Dibawah ini adalah kerangka yang dirancang guru

dalam menyampaikan materi sifat-sifat wajib Allah di kelas 1B.

   a. Tumbuhkan

            Guru membuka pelajaran dengan salam dan menanyakan kabar

             siswa, apa kabar kalian? Siswa menjawab “Alhamdulillah luar biasa,

             AllahuAkbar!. Guru meminta siswa untuk mengeluarkan buku, dan

             menjelaskan materi yang dipelajari yaitu sifat-sifat wajib bagi Allah.

             Guru meminta siswa untuk berkonsentrasi dan memusatkan

             perhatian.

            Guru melontarkan appersepsi dengan melepaskan senyum sebagi

             aplikasi dari visual, auditorial, kinestetik.

   b. Alami

            Guru mengajak siswa untuk membaca materi tentang sifat-sifat

             wajib Allah.

            Guru meminta siswa untuk berdiskusi dengan kelompok masing-

             masing yang sudah dibagi.

            Setelah dirasa cukup, guru mengajak siswa untuk merenungi tentang

             ciptaan Allah sambil memejamkan mata, guru meminta siswa untuk

             membandingkan diri dengan sang pencipta. Setelah selesai, guru




                                         96
           meminta siswa untuk membuka mata dilanjutkan dengan alunan

           tasbih: Subhanallah walhamdulillah wala illahailallah hu Allah hu

           Akbar.

c. Namai

           Guru mengajak siswa untuk duduk melingkar, guru mengarahkan

            konsentrasi untuk merenungi kebesaran Allah dijagad raya, guru

            membawa siswa pada khayalan seolah-olah berada di bulan yang

            berkeliling menyaksikan keindahan alam semesta, nikmati

            keindahan yang ditemukan selama penggambaran yang dipelajari.

            Jika sudah menemukan kesimpulan yang jelas tentang keindahan

            alam, kekuasaan Allah, keberadaan diri dan nilai sesuai materi,

            minta siswa untuk bangun dan menceritakan pada teman yang lain.



d. Demonstrasikan

           Guru meminta pada setiap kelas untuk menyampaikan pertanyaan

            yang sudah disepakati, dilontarkan kepada seluruh kelas untuk

            menjawab pertanyaan demi pertanyaan.

e. Ulangi

           Guru meminta untuk mengulang kembali apa yang telah mereka

            alami, setelah selesai guru melanjutkannya dengan memberikan

            tugas untuk mengerjakan soal-soal latihan, dilanjutkan dengan

            justifikasi materi diakhir proses pembelajaran.

f. Rayakan




                                     97
             Guru mengajak siswa untuk berdiri, memejamkan mata, guru

              meminta siswa    untuk mengoreksi kekurangan diri sendiri dan

              meminta untuk membandingkan dengan Allah. Setelah beberapa

              menit buka mata, guru memberi kesempatan agar siswa

              menceritakan hasil renungannya pada teman sebangku, jika sudah

              dirasa cukup kemudian siswa (Putra) melafalkan secara bersama-

              sama “Kun Aliman” disambut siswi (Putri) dengan lafal “Wala

              Takun Jahilan. Setelah itu seluruh siswa-siswi melafalkan

              bersama-sama “Alhamdulillahirobbil Alamin” (Observasi di kelas

              1B: 7 September 2005)

       Selain dikelas IIIA, beberapa perancangan Quantum Teaching juga

diterapkan dikelas IIIA. Dibawah ini adalah kerangka rancangan TANDUR dalam

materi Iman kepada Hari Akhir dikelas IIIA.

       a. Tanamkan

          Setelah memberi salam, guru memberikan ilustrasi materi sesuai topik

          yaitu Iman kepada Hari Akhir. Guru memulainya dengan bercerita

          tentang keadaan hari Akhir.

       b. Alami

           Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok

           terdiri atas 5 s/d 6 siswa. Setiap kelompok diberikan tugas yang

           berbeda, beberapa kelompok membuat resume materi dan yang

           lainnya menjawab soal latihan. Sedangkan ada satu kelompok sebagai

           pembanding yang menyiapkan konsep penerapan topik pembahasan




                                        98
   dilapangan atau dalam kehidupan kemudian ada satu kelompok lain

   sebagai pengkritik.

c. Demonstrasikan

   Tiap kelompok mempresentasikan hasil karya sekaligus dibandingkan

   dengan pendapat para ahli. Proses ini difasilitasi oleh guru.

d. Namai

   Tiap kelompok membuat laporan sesuai dengan tugas masing-masing

   kelompok sekaligus membuat kesimpulan secara garis besar.

e. Ulangi

   Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengajarkan

   pengetahuan baru mereka kepada orang lain. Guru memberikan

   kesempatan pada       siswa untuk duduk berhadapan dengan teman

   sebangku, lalu mengulang bersama tentang pengertian beriman kepada

   hari Akhir, dalil-dalilnya, tanda-tanda adanya hari Akhir, dan hikmah

   beriman kepada hari Akhir.

f. Rayakan

   Ajak siswa berdiri, angkat tangan menengadah keatas, pertemukan

   kedua telapak tangan dengan posisi menengadah keatas. Gerakan

   tangan    kebawah     dengan    posisi   lurus   didepan   dada.   Ketika

   menggerakkan tangan kebawah melafalkan kalimat Allah. Kemudian

   gerakan tangan keatas posisi lurus dan tegak diatas kepala dengan

   melafalkan Allahu Akbar. Dilakukan sampai pada hitungan tujuh kali




                                  99
          gerakan. Gerakan diakhiri dengan membaca atau mengucapkan “Al-

          hamdulillahirobbilal ‘alamin”. (Observasi: 10 September 2005).

       Guru Aqidah-Akhlak menggunakan musik dalam waktu-waktu tertentu,

seperti ketika guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas. Hal ini seperti yang

dungkapkan oleh Bapak Tasirin berikut:

        “Kadang-kadang saya memutarkan musik pilihan bagi mereka atau siswa
       ketika saya meminta mengerjakan tugas. Jadi mereka mendengarkan
       musik sambil mengerjakan tugas. Musik yang saya putarkan adalah
       Nasyid, seperti obat hati punya Opiek dan kaset-kasetnya Raihan. Musik
       cocok sekali bagi siswa yang bertipe belajar Auditorial" (Wawancara
       dengan Bapak Tasirin: 16 September 2005 ).


       Menambahi yang disampaikan oleh Bapak Tasirin, Bapak Zainal

menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:

       “Ya kami kadang memutarkan musik, musik-musik Islami tentunya yang
       syairnya dapat diambil pelajaran darinya. Karena musik bisa meremajakan
       memperkuat belajar tanpa disadari siswa, sehingga mereka tidak merasa
       bosan dalam belajar” (Wawancara dengan Bapak Zainal: 16 september
       2005).


       Dari sekilas yang disampaikan oleh kedua guru Aqidah-Akhlak diatas

dapat diambil kesimpulan bahwa, guru-guru Aqidah-Akhlak kadang-kadang

menggunakan musik dalam rangka untuk merelaksasi suasana belajar sekaligus

siswa belajar dari apa yang telah ia dengar. Karena syair-syairnya yang sarat

dengan nasihat.

       Dalam merancang pengajaran yang dinamis harus memperhatikan

modalitas siswa, dan melakukan pendekatan sesuai dengan modalitas yang

dimiliki siswa. Karena karakteristik siswa yang berbeda-beda ada yang bertipe

pembelajar visual, tipe auditorial dan tipe pembelajar kinestetik. Sehingga kita



                                      100
perlu memperhatikan perbedaan itu, misalnya yang visual dan auditorial biasanya

menggunakan alat peraga, papan, tape recorder dan sebagainya. Sedangkan

kinestetik lebih suka pendekatan permainan.

        Untuk menciptakan suasana yang menggairahkan guru-guru Aqidah-

Ahklaq di MTs Negeri Mojorejo mensiasatinya dengan berusaha menciptakan

suasana yang menyenangkan. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Bapak Tasirin

berikut ini:

        "Dalam menciptakan suasana yang menggairahkan, kami berusaha untuk
        menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam hal ini yang
        perlu diperhatikan adalah penataan ruang kelas, emosi dalam belajar,
        menjalin rasa simpati dan saling pengertian dan keriangan siswa"
        (Wawancara dengan Bapak Tasirin: 12 September 2005).


        Lingkungan merupakan faktor yang juga penting dalam belajar mengajar.

Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung yang dilakukan adalah membuat

kelas serapi dan seindah mungkin, memberikan kesempatan kepada anak untuk

mendekorasi kelas, karena otak senantisasa dibanjiri stimulus dan otak memilih

fokus tertentu saat demi saat. Misalnya saja gambar, poster dan majalah didinding.

Selain itu bangku siswa perlu ditata untuk mendukung proses belajar mengajar.

(Wawancara dengan Bapak Zainal: 12 September 2005).

        Dari dua argument diatas dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan

suasana yang menggairahkan yang dilakukan oleh guru-guru Aqidah-Akhlaq di

MTs Negeri Mojorejo adalah dengan memperhatikan penataan ruang kelas, emosi

dalam belajar, menjalin rasa simpati dan memperhatikan juga pajangan-pajangan

dinding.




                                       101
D. FAKTOR         PENGHAMBAT           APLIKASI       QUANTUM TEACHING

DALAM          PEMBELAJARAN AQIDAH-AKHLAQ DI MTs                         NEGERI

MOJOREJO DAN USAHA YANG DILAKUKAN UNTUK MENGATASI

HAMBATAN



        Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh fasilitas serta potensi yang tersedia

di madrasah, lingkungan masyarakat        lingkungan pergaulan siswa dan latar

belakang keluarga. Bagi guru-guru Aqidah-Akhlaq yang menjadi penghambat

aplikasi Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq adalah Quantum

Teaching merupakan metode yang masih baru bagi guru-guru PAI umumnya dan

Aqidah-Akhlaq khususnya. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Bapak Zainal

berikut ini:

        "Karena Quantum Teaching masih baru bagi kami, sehingga kami belum
        sepenuhnya menguasai teori-teori atau petunjuk-petunjuk yang ada dalam
        Quantum Teaching, selain itu semester ini merupakan semester pertama
        diterapkannya metode ini, sehingga terus terang saja kami masih merasa
        kaku karena belum terbiasa. Disamping itu karena karakteristik belajar
        anak yang berbeda maka kewajiban guru adalah untuk memperhatikan
        setiap tipe belajar, bagaimana kita belajar dengan siswa yang bertipe
        auditorial, yang bertipe visual dan siswa yang bertipe kinestetik tentu saja
        ini membutuhkan waktu yang panjang, sedangkan alokasi untuk mata
        pelajaran Aqidah-Akhlaq hanya 2 jam pelajaran setiap minggu, jadi
        kendalanya adalah waktu" (Wawancara dengan Bapak Zainal: Senin 12
        September 2005).


        Selain kendala-kendala diatas, faktor penghambat lainnya adalah

terbatasnya sarana dan fasilitas yang dimiliki sekolah. Hal ini       seperti yang

diungkapkan oleh Bapak Tasirin dibawah ini:

        "Masalah yang kami hadapi selain yang dipaparkan oleh Bapak Zainal
        adalah sarana dan fasilitas yang terbatas. Dalam Quantum Teaching



                                        102
       dianjurkan untuk memperhatikan lingkungan sekeliling, alat Bantu,
       pengaturan bangku, taman atau tumbuhan dan sebagainya, yang mana hal-
       hal tersebut sangat membantu proses belajar mengajar, sedangkan di
       madrasah ini ada sebagian sarana yang belum ada" (Wawancara dengan
       Bapak Tasirin: Senin 12 September 2005).


       Untuk mengatasi kendala-kendala diatas yang dilakukan oleh guru-guru

Aqidah-Akhlaq adalah dengan banyak membaca dan belajar tentang Quantum

Teaching. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak Zainal berikut ini:

       "Agar kami tidak kaku dalam penerapan Quantum Teaching, yang kami
       lakukan adalah banyak membaca dan belajar tentang Quantum Teaching,
       kemudian kami berusaha untuk menerapkannya sebaik mugkin, tapi kami
       yakin semakin menguasainya, semakin mudah pula untuk menerapkannya,
       sedangkan untuk mengatasi tipe belajar siswa yang berbeda terkait dengan
       terbatasnya waktu, kami selalu mendorong siswa untuk belajar sendiri
       diluar jam pelajaran sesauai dengan tipe belajar masing-masing siswa"
       (Wawancara dengan Bapak Zainal: Senin 12 September 2005).


       Untuk mengatasi terbatasnya sarana dan fasilitas, Bapak Tasirin

memberikan solusi yaitu memanfaatkan sarana yang ada seoptimal mungkin. Hal

ini sesuai dengan hasil wawancara dengan beliau dibawah ini:

       "Untuk sementara yang kami lakukan adalah mengoptimalkan sarana dan
       fasilitas yang ada, tentu saja kami sangat berharap lembaga segera
       melakukan pengadaan sarana dan fasilitas yang cukup, sehingga Quantum
       Teaching dapat teraplikasi dengan lebih baik" (Wawancara dengan Bapak
       Tasirin: Senin 12 September 2005).


E. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

       Setelah ditemukan data yang peneliti harapkan, baik dari hasil observasi,

interview maupun dokumentasi, pada uraian ini akan kami sajikan uraian bahasan

sesuai dengan rumusan masalah penelitian dan tujuan penelitian. Pada

pembahasan ini peneliti akan mengintegrasikan temuan yang ada kemudian




                                      103
memodifikasi teori yang ada dan kemudian membangun teori yang baru serta

menjelaskan tentang implikasi-implikasi dari hasil penelitian.



Persepsi dan pemahaman guru MTs Negeri Mojorejo-Wates tentang

Quantum Teaching

       Guru-guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo-Wates berpersepsi

dan berpemahaman bahwa Quantum Teaching merupakan sebuah metode

pembelajaran yang sangat menarik untuk diterapkan dalam pembelajaran Aqidah-

Akhlaq. Metode ini memiliki strategi yang menyenangkan sehingga siswa belajar

dengan suasana yang menyenangkan.

       Quantum Teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah dengan

segala nuansanya. Quantum Teaching menyertakan segala kaitan, interaksi dan

perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching menawarkan

suatu sintesis dari hal-hal yang dicari atau cara-cara baru untuk memaksimalkan

dampak usaha pengajaran yang dilakukan guru melalui perkembangan hubungan,

penggubahan belajar dan penyampaian kurikulum.

       Menurut salah satu guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo-Wates

yaitu Bapak Tasirin, beliau mengatakan bahwa Quantum Teaching itu seperti

gado-gado yang sangat lezat. Hal ini bisa dipahami karena Quantum Teaching

merupakan metode pengajaran mutakhir yang memadukan dan menyempurnakan

metode-metode pengajaran yang telah ada sebelumnya.




                                       104
       Dari data-data diatas dapat dikatakan bahwa pada umumnya guru-guru

Aqidah-Akhlaq sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang Quantum

Teaching dan mereka juga merespon baik tentang adanya Quantum Teaching.



Aplikasi Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs

Negeri Mojorejo

       Dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo-Wates,

banyak teori-teori atau petunjuk-petunjuk dalam Quantum Teaching          yang

diterapkan dalam pembelajaran walaupun memang belum semuanya teraplikasi.

Petunjuk-petunjuk yang diterapkan diantaranya adalah; asas utama Quantum

Teaching, prinsip-prinsip Quantum Teaching, kerangka perancangan Quantum

Teaching, mengorkestrasi suasana yang menggairahkan dan mengorkestrasi

lingkungan yang mendukung .

       Asas utama Quantum adalah Bawalah Dunia Kita ke Dunia Mereka dan

Antarkan Mereka ke Dunia Kita. Menurut guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri

Mojorejo, disinilah pentingnya memasuki dunia murid sebagai langkah utama dan

pertama yaitu dengan membangun jembatan yang mengantarkan guru kepada

murid. Tindakan ini akan memberikan izin pada guru untuk memimpin, menuntun

dan memudahkan pembelajaran menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang

lebih luas. Dalam hal ini yang dilakukan oleh guru Aqidah-Akhlaq adalah

mengaitkan sebuah peristiwa, cerita atau yang lainnya yang diperoleh dari

kehidupan rumah, sosial, atau akademis mereka. Dalam semua proses itulah guru-

guru Aqidah-Akhlaq memberiakan keteladanan.




                                     105
       Prinsip-prinsip Quantum Teaching. Dalam rangka mengimplementasikan

prinsip-prinsip Quantum Teaching ini yang dilakukan oleh guru-guru Aqidah-

Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo-Wates adalah menerapkan keseluruhan prinsip-

prinsip Quantum Teaching yaitu:

       1. Segalanya berbicara, dalam hal ini yang dilakukan oleh guru-guru

           Aqidah-Akhlaq adalah berusaha untuk mengoptimalkan segala sesuatu

           yang berhubungan dengan belajar, mulai dari bahasa tubuh, kertas

           yang dibagikan ketika memberikan tugas agar belajar selalu

           menggairahkan.

       2. Segalanya bertujuan, karena semua bertujuan maka guru-guru Aqidah-

           Akhlaq berusaha agar setiap detail belajar dapat dimanfaatkan untuk

           mencapai tujuan belajar

       3. Pengalaman sebelum pemberian nama,

       4. Akui setiap usaha

       5. Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan

       Mengorkestrasi suasana yang menggairahkan. Dalam proses belajar

mengajar guru-guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo-Wates sudah

berusaha untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar seperti

bertutur kata yang santun, selalu tersenyum, menjalin rasa simpati, saling

pengertian dan menciptakan rasa saling memiliki.

       Mengorkestrasi lingkungan yang mendukung. Yang dilakukan oleh guru-

guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo-Wates adalah mengatur bangku

sesuai dengan kebutuhan belajar untuk memudahkan proses belajar mengajar,




                                      106
pajangan-pajangan di dinding dibuat semenarik mungkin dengan memberikan

kesempatan kepada siswa untuk berkreasi, memaksimalkan alat bantu, tumbuhan

sekitar dan musik.

       Mengorkestrasi pengajaran yang dinamis, guru-guru Aqidah-Akhlaq di

MTs Negeri Mojorejo menerapkan kerangka pengajaran Quantum teaching yang

dikenal dengan istilah TANDUR, Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan,

Ulangi dan Rayakan. Kerangka pengajaran ini dipastikan dapat menarik siswa

pada pembelajaran. Dari kerangka konseptual tentang langkah-langkah pengajaran

dalam Quantum Teaching terlihat adanya beberapa ciri          yang membedakan

dilakukan oleh guru-guru Aqidah-Akhlaq tersebut terlihat adanya beberapa ciri

yang membedakan Quantum Teaching dengan metode yang lain yaitu:

   1. adanya unsur demokrasi dalam pengajaran, hal ini terlihat bahwa dalam

       Quantum Teaching terdapat unsur kesempatan yang luas kepada seluruh

       siswa untuk terlibat aktif dan partisipasi dalam tahapan-tahapan kajian

       terhadap materi Aqidah-Akhlaq.

   2. sebagai akibat dari ciri yang pertama, maka memungkinkan tergali dan

       terekspresikannya seluruh potensi dan bakat yang terdapat pada diri siswa.

   3. menimbulkan kepuasan pada siswa karena mendapat pengakuan.

   4. adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu ketrampilan

       yang diajarkan melalui pengulangan terhadap sesuatu yang sudah dikuasai

       oleh siswa.

   5. adanya unsur kemampuan pada seorang guru dalam merumuskan temuan

       yang dihasilkan siswa, dalam bentuk konsep, teori dan model.




                                      107
   6. kegiatan belajar dalam Quantum Teaching adalah full contact, artinya

         belajar melibatkan semua aspek kehidupan manusia yang meliputi pikiran,

         perasaan dan bahasa tubuh.

   7. quantum teaching menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

   8. quantum teaching memadukan beberapa metode pembelajaran. Antara

         metode yang satu dengan yang lainnya saling bersinergi sehingga lebih

         komprehensif. Sedangkan metode yang lain berdiri sendiri.



         Dengan diterapkan prinsip-prinsip dan langkah-langkah yang terdapat

dalam Quantum dalam pembelajaran Aqidah-Akhlaq ini, maka suasana belajar

terlihat dinamis, demokratis, menggairahkan dan menyenangkan anak didik,

sehingga mereka dapat bertahan lama-lama dalam ruangan tanpa mengenal rasa

bosan.



Faktor penghambat implementasi Quantum Teaching dalam pembelajaran

Aqidah-Akhlaq dan usaha yang dilakukan guru-guru Aqidah Akhlaq untuk

mengatasi hambatan

         Yang menjadi penghambat implementasi Quantum Teaching dalam

pembelajaran Aqidah-Akhlaq menurut guru-guru Aqidah-Akhlaq adalah masih

terbatasnya pengetahuan dan penguasaan mereka tentang Quantum Teaching,

kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran Aqidah-Akhlaq dan kurangnya

sarana dan fasilitas pembelajaran yang ada di lembaga.




                                       108
       Sedangkan untuk mengatasi hambatan tersebut yang dilakukan oleh guru-

guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo adalah dengan banyak membaca

dan belajar Quantum Teaching serta berusaha untuk menerapkannya sebaik

mungkin.

       Masalah kurang profesionalnya guru juga merupakan masalah yang sering

timbul dalam dunia pendidikan. Selain menguasai materi, guru juga harus mampu

mengajarkannya secara efisien dan efektif kepada para siswa, serta harus memiliki

idealisme. Berbagai upaya untuk meningkatkan kompetensi profesionalitas

pendidik melalui penataran, pelatihan seminar dan sebagainya masih belum belum

menunjukkan hasil yang diharapkan, mengingat berbagai kegiatan tersebut sering

melenceng dari tujuan dan sasaran yang diharapkan. Hal ini juga yang terjadi pada

guru-guru di MTs Negeri Mojorejo.

       Hambatan kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran Aqidah-Akhlaq

di MTs Negeri Mojorejo juga merupakan masalah yang sering dikemukakan oleh

pengamat pendidikan Islam. Masalah ini ditengarai sebagai penyebab utama

timbulnya kekurangan para pelajar dalam memahami, menghayati dan

mengamalkan ajaran agama. Sebagai aikibat dari kekurangan ini, para pelajar

tidak memiliki bekal yang memadai untuk membentengi dirinnya dari berbagai

pengaruh negatif akibat globalisasi yang menerpa kehidupan. Banyak pelajar yang

terlibat dalam perbuatan yang tidak terpuji seperti tawuran, pencurian,

penodongan, penyalah-gunaan obat narkotik dan sebagainya. Semua perbuatan

yang dapat menghancurkan masa depan para pelajar ini penyebab utamanya

adalah karena kekurangan bekal pendidikan agama.




                                      109
        Sarana dan prasarana pendidikan merupakan komponen yang sangat

menentukan efisiensi dan efsektifitas pencapaian kompetensi yang direncanakan.

Fasilitas pendidikan tidak bisa diabaikan dalam proses pendidikan, khususnya

dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaruan pendidikan, tentu saja fasilitas

merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan

diterapkan. Berbagai keadaan tersebut diatas merupakan masalah besar yang harus

segera diatasi, lebih-lebih lagi jika dihubungkan dengan pentingnya pendidikan

Aqidah-Akhlaq bagi siswa. Hal demikian kami kemukakan, karena para remaja

sekarang adalah pemimpi umat di hari esok—syubban alyaum rijal alghod.

                                     BAB V

                          KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN

        Dari hasil penelitian dan analisa yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan

berikut ini:

1. Quantum Teaching menurut guru-guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri

     Mojorejo merupakan metode pembelajaran yang sangat menarik yang untuk

     di terapkan dalam pembelajaran Aqidah-akhlaq, metode ini memiliki strategi

     yang      menyenangkan   sehingga   siswa   belajar   dengan   suasana   yang

     menyenangkam pula.

2. Untuk mengimplementasikan metode Quantum Teaching dalam pembelajaran

     Aqidah-Akhlaq, guru-guru Aqidah-Akhlaq di MTs Negeri Mojorejo

     menerapkan beberapa petunjuk dari Quantum Teaching yaitu:




                                         110
   a)   Asas utama Quantum Teaching yaitu Bawalah Dunia Kita ke Dunia

        Mereka dan Antarkan Dunia Mereka ke Dunia Kita

   b)   Prinsip-prinsip Quantum Teaching yaitu; segalanya berbicara, segalanya

        bertujuan, pengalaman sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan

        jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan.

   c)   Kerangka pengajaran Quantum Teaching yang terdiri dari enam langkah

        pengajaran dengan enam langkah yang tercermin dalam istilah

        TANDUR (Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan

        Rayakan).

   d)   Mengorkestrasi suasana yang menggairahkan

   e)   Mengorkestrasi lingkungan yang mendukung

   f)   Mengorkestrasi presentasi yang prima

3. Hambatan yang dihadapi oleh guru-guru Aqidah-Akhlaq dalam rangka

   mengimplementasikan Quantum Teaching dalam pembelajaran Aqidah-

   Akhlaq adalah:

   a)   Kurangnya pengetahuan guru-guru Aqidah-Akhlaq tentang Quantum

        Teaching

   b)   Kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran Aqidah-Akhlaq

   c)   Kurangnya sarana dan fasilitas pembelajaran

4. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut pada nomer 3 usaha-usaha

   yang dilakukan oleh guru-guru Aqidah-Akhlak di MTs Negeri Mojorejo

   adalah:




                                     111
     a)     Banyak membaca dan belajar tentang Quantum Teaching dan

            menerapkannya sebaik mungkin

     b)     Mendorong siswa untuk belajar sendiri di luar jam pelajaran

     c)     Mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan fasilitas yang ada di lembaga

            madrasah



B.        SARAN



          Berdasarkan pada kesimpulan diatas, berikut ini disajikan saran-saran

peneliti dengan harapan dapat dijadikan pertimbangan bagi guru-guru Aqidah-

Akhlaq maupun lembaga madrasah:

     1. Lembaga madrasah dan terutama guru-guru Aqidah-Akhlaq hendaknya

          mengikuti perkembangan metode-metode yang baru dan hendaknya guru-

          guru    Aqidah-Akhlaq     kreatif    untuk   mengembangkan      strategi

          pembelajarannya, karena penguasaan terhadap metode pembelajaran

          merupakan bagian ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru

          disamping ia harus menguasai pengetahuan dan ilmu yang akan diajarkan.

     2. Selain itu guru-guru Aqidah-Akhlaq hendaknya lebih memperdalam

          pengetahuan mereka tentang Quantum Teaching dan lebih sering

          mengikuti pelatihan-pelatihan dan seminar-seminar yang terkait dengan

          pengembangan metode pembelajaran.

     3. Untuk menyiasati kurangnya jam pelajaran Aqidah-Akhlak, hendaknya

          guru-guru Aqidah-Akhlaq melakukan beberapa hal:




                                         112
a)   merubah orientasi dan fokus pegajaran yang bersifat subyek matter

     oriented, yakni dari yang semula berpusat pada pemberian

     pengetahuan agama dalam arti memahami dan menghafal ajaran

     agama    sesuai   kurikulum,    menjadi    pengajaran   agama   yang

     berorientasi pada pengalaman dan pembentukan sikap keagamaan

     melalui pembiasaan hidup sesuai dengan agama utamanya

     internalisasi nilai-nilai Aqidah-Akhlaq.

b)   Menambah jumlah jam pelajaran Aqidah-Akhlaq yang diberikan

     diluar jam pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Dalam

     hal ini, kurikulum tambah atau kegiatan ekstra kurikulum perlu

     ditambahkan dan di rancang sesuai dengan kebutuhan dengan

     penekanan utamanya pada pengalaman agama dalam kehidupan

     sehari-hari. Kegiatan yang dapat ditawarkan dalam ekstra kurikuler

     antara lain dengan kegiatan-kegiatan berupa memberikan santunan

     kepada fakir miskin, tadabur alam dan lain-lain.

c)   Dengan cara meningkatkan perhatian dan kasih sayang, bimbingan

     dan pengawasan yang diberikan oleh kedua orang tua dirumah. Hal

     ini didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak yang sedang

     tumbuh dewasa dan belum membentuk sikap keagamaannya sangat

     memerlukan bantuan dari kedua orang tuanya. Maka disinilah

     perlunya komunikasi antara lembaga madrasah dan wali siswa

     dalam rangka bekerjasama untuk memantau pendidikan siswa

     dirumah dan disekolah.




                               113
d)   Memanfaatkan berbagai mass media yang tersedia, seperti surat

     kabar, radio, televise dan sebagainya. Kekurangan jam pelajaran

     Akidah-Akhlaq     di   madrasah    selain   dapat   diatasi   dengan

     mengintensifkan pengalaman agama dirumah, dapat pula dilengkapi

     dengan memanfaatkan berbagai media informasi dan komunikasi

     sebagaimana disebutkan diatas. Oleh sebab itu kesungguhan untuk

     memanfaatkan berbagai media tersebut harus masuk dalam

     kebijakan madrasah,sehingga metode Quantum teaching dapat

     diaplikasikan lebih utuh.s




                                  114

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:27
posted:4/19/2013
language:Unknown
pages:114
bayu ajie bayu ajie
About ingin download tapi tidak bisa? hubungi: zuperbayu at yahoo.com