Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Syarat-Wajib-Zakat-dan-Harta-yang-Wajib-Dizakati

VIEWS: 0 PAGES: 7

									Syarat Wajib Zakat dan Harta yang Wajib Dizakati
Oleh: Tim kajian dakwah alhikmah

alhikmah.ac.id - Ada 2 syarat wajib zakat, yaitu yang pertama menyangkut orang dan yang
kedua berkenaan dengan harta. Syarat yang berkenaan dengan orang yang wajib zakat, para
ulama bersepakat bahwa mengeluarkan zakat itu wajib atas setiap muslim yang sudah baligh –
dan berakal dan tidak wajib atas non muslim– karena zakat adalah salah satu rukun Islam. Ini
berdasar pesan Rasulullah saw. kepada Mua’dz bin Jabal saat mengutusnya ke Yaman, “…
beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari para orang
kaya dan dibagikan kepada para orang fakir.” (muttafaq alaih). Artinya zakat adalah kewajiban
yang tidak diwajibkan kepada seseorang sebelum masuk Islam. Meskipun zakat itu adalah
kewajiban sosial yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat, tetapi saja zakat merupkan
ibadah dalam Islam. Dan makna ibadah inilah yang lebih dominann sehingga tidak diwajibkan
atas non muslim.

Para ulama telah bersepakat bahwa zakat diwajibkan pula pada harta orang kaya muslim yang
dalam kondisi gila. Walinya yang mengeluarkan zakat itu. Hal ini berdasar kepada ayat Al-
Qur’an dan hadits Nabi yang memerintahkan zakat mencakup seluruh orang kaya, tanpa
mengecualikan anak-anak dan orang gila. Hadits Rasulullah saw., “Dagangkanlah harta anak
yatim sehingga hartanya tidak dimakan zakat.” (Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur, yang
saling menguatkan). Mayoritas para sahabat berpendapat demikian, di antaranya Umar dan
anaknya (Abdullah ibnu Umar), Ali, Aisyah, dan Jabir r.a.

Zakat adalah haqqul mal, seperti kata Abu Bakar r.a. dalam penegasannya saat memerangi orang
murtad yang tidak mau membayar zakat. Dan haqqul mal diambil dari anak kecil dan orang gila.
Karena zakat berkaitan dengan harta, bukan dengan personalnya. Pendapat ini dipegang oleh
madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali.

Sedangkan yang menyangkut harta, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah harta yang
telah memenuhi beberapa syarat, yaitu:

1. Kepemilikan penuh. Maksudnya, penguasaan seseorang terhadap harta kekayaan sehingga
bisa menggunakannya secara khusus. Karena Allah swt. mewajibkan zakat ketika harta itu sudah
dinisbatkan kepada pemiliknya. Perhatikan firman Allah swt. ini, “Ambillah zakat dari sebagian
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (At-Taubah: 103)

Karena itulah zakat tidak diambil dari harta yang tidak ada pemiliknya secara definitif. Seperti
al-fa’i (harta yang diperoleh tanpa perang), ghanimah, aset negara, kepemilikan umum, dan
waqaf khairi. Sedang waqaf pada orang tertentu, maka tetap kena wajib zakat menurut pendapat
yang rajih (kuat)[1].

Tidak wajib zakat pada harta haram, yaitu harta yang diperoleh manusia dengan cara haram,
seperti ghasab (ambil alih semena-mena), mencuri, pemalsuan, suap, riba, ihtikar (menimbun
untuk memainkan harga), menipu. Cara-cara ini tidak membuat seseorang menjadi pemilik harta.
Ia wajib mengembalikan kepada pemiliknya yang sah. Jika tidak ditemukan pemiliknya, maka ia
wajib bersedekah dengan keseluruhannya. [2]

Sedangkan hutang, yang masih ada harapan kembali, maka pemilik harta harus mengeluarkan
zakatnya setiap tahun. Namun jika tidak ada harapan kembali, maka pemilik hanya berkewajiban
zakat pada saat hutang itu dikembalikan dan hanya zakat untuk satu tahun (inilah madzhab Al-
Hasan Al-Bashriy dan Umar bin Abdul Aziz) atau dari tahun-tahun sebelumnya (madzhab Ali
dan Ibnu Abbas).

2. Berkembang. Artinya, harta yang wajib dikeluarkan zakatnya harus harta yang berkembang
aktif, atau siap berkembang, yaitu harta yang lazimnya memberi keuntungan kepada pemilik.
Rasulullah saw. Bersabda, “Seorang muslim tidak wajib mengeluarkan zakat dari kuda dan
budaknya.” (Muslim). Dari hadits ini beberapa ulama berpendapat bahwa rumah tempat tinggal
dan perabotannya serta kendaraan tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Karena harta itu disiapkan
untuk kepentingan konsumsi pribadi, bukan untuk dikembangkan. Dari ini pula rumah yang
disewakan dikenakan zakat karena dikategorikan sebagai harta berkembang, jika telah memenuhi
syarta-syarat lainnya.

3. Mencapai nishab, yaitu batas minimal yang jika harta sudah melebihi batas itu, wajib
mengeluarkan zakat; jika kurang dari itu, tidak wajib zakat. Jika seseorang memiliki kurang dari
lima ekor onta atau kurang dari empat puluh ekor kambing, atau kurang dari dua ratus dirham
perak, maka ia tidak wajib zakat. Syarat mencapai nishab adalah syarat yang disepakati oleh
jumhurul ulama. Hikmahnya adalah orang yang memiliki kurang dari nishab tidak termasuk
orang kaya, sedang zakat hanya diwajibkan atas orang kaya untuk menyenangkan orang miskin.
Hadits Nabi, “Tidak wajib zakat, kecuali dari orang kaya.” (Bukhari dan Ahmad)

4. Nishab itu sudah lebih dari kebutuhan dasar pemiliknya sehingga ia terbukti kaya. Kebutuhan
minimal itu ialah kebutuhan yang jika tidak terpenuhi ia akan mati. Seperti makan, minum,
pakaian, tempat tinggal, alat kerja, alat perang, dan bayar hutang. Jika ia memiliki harta dan
dibutuhkan untuk keperluan ini, maka ia tidak zakat. Seperti yang disebutkan dalam firman Allah
swt., “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih
dari keperluan.” (Al-Baqarah: 219). Al-afwu adalah yang lebih dari kebutuhan keluarga, seperti
yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir. Demikian juga yang Rasulullah saw. katakan, “Tidak
wajib zakat, kecuali dari orang kaya.” (Bukhari dan Ahmad). Kebutuhan dasar itu mencakup
kebutuhan pribadi dan yang menjadi tanggung jawabnya seperti isteri, anak, orang tua, kerabat
yang dibiayai.

5. Pemilik lebih dari nishab itu tidak berhutang yang menggugurkan atau mengurangi nishabnya.
Karena membayar hutang lebih didahulukan waktunya daripada hak orang miskin, juga karena
kepemilikan orang berhutang itu lemah dan kurang. Orang yang berhutang adalah orang yang
diperbolehkan menerima zakat, termasuk dalam kelompok gharimin, dan zakat hanya wajib atas
orang kaya.

Hutang dapat menggugurkan atau mengurangi kewajiban zakat berlaku pada harta yang zhahir,
seperti hewan ternak dan tanaman pangan, juga pada harta yang tak terlihat seperti uang.
Syarat hutang yang menggugurkan atau mengurangi zakat itu adalah:

a. hutang yang menghabiskan atau mengurangi nishab dan tidak ada yang dapat dugunakan
membayarnya kecuali harta nishab itu.

b. hutang yang tidak bisa ditunda lagi, sebab jika hutang yang masih bisa ditunda tidak
menghalangi kewajiban zakat.

c. Syarat terakhir, hutang itu merupakan hutang adamiy (antar manusia), sebab hutang dengan
Allah seperti nadzar, kifarat tidak menghalangi kewajiban zakat.

6. Telah melewati masa satu tahun. Harta yang sudah mencapai satu nishab pada pemiliknya itu
telah melewati masa satu tahun qamariyah penuh. Syarat ini disepakati untuk harta seperti hewan
ternak, uang, perdagangan. Sedangkan pertanian, buah-buahan, madu, tambang, dan penemuan
purbakala, tidak berlaku syarat satu tahun ini. Harta ini wajib dikeluarkan zakatnya begitu
mendapatkannya. Dalil waktu satu tahun untuk ternak, uang, dan perdagangan adalah amal
khulafaur rasyidin yang empat, dan penerimaan para sahabat, juga hadits Ibnu Umar dari Nabi
saw., “Tidak wajib zakat pada harta sehingga ia telah melewati masa satu tahun.” (Ad-Daru
Quthni dan Al-Baihaqi)

Zakat Hewan

Hewan adalah salah satu jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya. Hewan yang dikeluarkan
zakatnya adalah onta, sapi, kerbau, dan kambing.

Syarat zakat hewan ternak adalah:

        Mencapai jumlah satu nishab, yaitu 5 onta, 30 sapi, dan 40 kambing.
        Sudah melewati satu tahun, dan zakat hanya dikeluarkan setahun sekali.
        Digembalakan di ladang yang boleh untuk menggembala. Sedangkan hewan yang
         dikandangkan (diberi makan di kandang dan tidak digembalakan), maka tidak wajib zakat
         kecuali menurut madzhab Maliki.
        Tidak menjadi alat kerja, membajak, menyiram, atau membawa barang. Sebab jika
         dipekerjakan, statusnya lebih mirip menjadi alat kerja daripada kekayaan.

1. Zakat Onta

Nishab onta adalah 5, maka barangsiapa memiliki 4 ekor onta, ia belum wajib zakat. Zakat
wajibnya seperti dalam table berikut ini:

       Jumlah        Zakat wajibnya
       5–19          Seekor kambing
       10 – 14       Dua ekor kambing
       15 – 19       Tiga ekor kambing
       20 – 24       Empat ekor kambing
       25 – 35       1 bintu makhadh/anak onta yang induknya sedang hamil (usia > 1 tahun)
    36 – 45         1 bintu labun/anak onta yang induknya sedang menyusui (usia > 2 tahun)
    46 – 60         1 onta hiqqah (onta betina yang berumut > 3 tahun)
    61 – 75         1 onta jadza’ah ( onta betina berumur > 4 tahun)
    76 – 90         2 ekor onta bintu labun
    91 – 120        2 hiqqah

Lebih dari 120, maka setiap 50 ekor zakatnya satu hiqqah, dan setiap 40 ekor zakatnya satu bintu
labun.

Jika disimak ketentuan zakat onta yang kurang dari 25 ekor menggunakan kambing, ini berbeda
dengan kaidah bahwa zakat itu diambilkan dari harta yang dizakati. Penggunaan kambing untuk
zakat onta ini adalah salah satu bentuk keringanan dalam Islam terhadap pemiliki onta yang
masih sedikit.

2. Zakat Sapi

Zakat sapi hukumnya wajib berdasarkan As-Sunnah dan Ijma’. Hadits Abu Dzarr dari Rasulullah
saw. bersabda, “Tidak ada seorangpun yang memiliki onta, sapi, atau kambing tetapi tidak
membayar haknya, kecuali di hari kiamat akan datang lebih besar dan gemuk dari yang ada
sebelumnya, kemudian menginjak-injak dengan kaki-kakinya, dan menyeruduk dengan
tanduknya. Ketika sampai ke belakang bersambung dengan yang terdepan, sehingga diputuskan
di tengah-tengah manusia.” (Bukhari)

Sedang ijma’, seperti yang disebutkan penulis Al-Mughniy, dan menegaskan bahwa tidak ada
seorangpun ulama yang menolak zakat sapi sepanjang masa (lihat Al-Mughniy Juz: II).

Nishab sapi yang dipilih oleh empat madzhab adalah 30 ekor sapi. Kurang dari itu, tidak wajib
zakat. Tiga puluh ekor sapi itu zakatnya seekor tabi’ (sudah berusia 1 tahun, dan masuk ke tahun
kedua, disebut tabi’ -artinya ikut– karena ia masih mengikuti induknya), dan jika sudah
mencapai jumlah 40 ekor, zakatnya seekor sapi musinnah (berusia 2 tahun dan masuk ke tahun
ketiga, disebut musinnah -artinya bergigi karena sudah mulai tampak giginya). Dan jika sudah
berjumlah 60 ekor, zakatnya 2 ekor anak sapi. Dan jika sudah berjumlah 70 ekor sapi, zakatnya
satu ekor tabi’ dan satu ekor musinnah. Jika sudah berjumlah 80 ekor, zakatnya 2 ekor musinnah.
Jika sudah mencapai 90 ekor, zakatnya 1 musinnah dan 2 ekor tabi’. Jika berjumlah 100 ekor
sapi, zakatnya 2 musinnah dan 1 ekor tabi’.

Dalil masalah ini adalah hadits Masruq dari Mu’adz bin Jabal. Muadz berkata, “Rasulullah saw.
mengutusku ke Yaman, dan menyuruhku untuk mengambil setiap 30 ekor sapi, seekor tabi’
jantan atau betina, dan setiap 40 ekor zakatnya satu ekor musinnah.”

Namun, Said bin Al Musayyib dan Ibnu Syihab Az Zuhriy berpendapat bahwa nishab sapi
adalah sama dengan nishab onta, yaitu 5 ekor. Imam At-Thabari berpendapat bahwa nishab onta
adalah 50 ekor.

4. Zakat Kambing
Hukumnya wajib berdasarkan As-Sunnah dan Ijma’. Abu Bakar r.a. memberikan catatan kepada
Anas r.a. tentang nishab hewan ternak, seperti yang telah disebutkan di depan. Al-Majmu’
(Imam An-Nawawi) dan Al-Mughni (Ibnu Qudamah) menyebutkan telah terjadi ijma’ tentang
wajib zakat kambing. Besar zakat kambing seperti yang ditulis Abu Bakar r.a. dapat dilihat
dalam table berikut ini:

       Mulai         Sampai              Besar zakat wajibnya

           1               39            Tidak wajib zakat

           40              120           Seekor kambing

          121              200           Dua ekor kambing

          201              299           Tiga ekor kambing

          300              399           Empat ekor kambing

          400              499           Lima ekor kambing

                   Berikutnya setiap seratus ekor kambing zakatnya satu ekor kambing

Perlu dicatat di sini, bahwa syariah Islam meringankan zakat kambing. Semakin banyak,
zakatnya 1%, padahal persentase zakat yang lazim 2,5%. Hikmah yang tampak adalah, bahwa
kambing itu banyak yang kecil karena dalam setahun ia beranak lebih dari sekali, dan setiap kali
beranak lebih dari satu ekor, terutama domba. Kambing-kambing kecil ini dihitung, tetapi tidak
bisa digunakan untuk membayar zakat. Dari itulah keringanan ini tidak menjadi kecemburuan
pemilik onta dan sapi atas pemilik kambing. Sedangkan bilangan 40 pertama, wajib
mengeluarkan zakatnya seekor kambing, karena di antara syaratnya -menurut yang rajah (kuat)–
4 ekor kambing itu telah dewasa. Dan inilah pendapat madzhab Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i
dalam membahas zakat seluruh hewan ternak.

Zakat hewan lain

1. Para ulama bersepakat bahwa kuda untuk transportasi dan jihad fi sabilillah tidak diwajjibkan
zakat. Sedangkan yang diperdagangkan, wajib dikeluarkan zakat dagangan. Demikian juga kuda
yang dikurung, tidak wajib zakat karena yang wajib dizakati adalah hewan yang digembalakan.

2. Sedangkan untuk kuda gembalaan yang dilakukan seorang muslim untuk memperoleh
anaknya –kudanya tidak hanya jantan–, Abu Hanifah berpendapat tentang wajibnya zakat kuda
ini, yaitu satu dinar setiap ekornya untuk kuda Arab, atau senilai 2,5% dari perkiraan harga kuda
untuk kuda non Arab.

3. Jika kemudian berkembang jenis-jenis hewan baru yang menjadi peliharaan untuk
pengembangan dan memperoleh hasilnya, seperti keledai, apakah ada kewajiban zakatnya? Para
ulama modern seperti Muhammad Abu Zahrah, Abdul Wahab Khallaf, dan Yusuf Qardhawi
mengatakan wajib zakat. Karena qiyas masalah zakat dapat dianalisis alasan hukumnya. Umar
r.a. mewajibkan zakat kuda karena alasan yang logis, dan diikuti oleh Abu Hanifah. Nishab yang
digunakan adalah senilai 20 mitsqal emas, dengan wajib zakatnya 2,5%. Yusuf Qardhawi
berpendapat bahwa nishab hewan itu adalah dua kali lipat nishab uang, minimal berjumlah 5
ekor, dan senilai 5 ekor onta atau 40 kambing.

Syarat Zakat Hewan Ternak

1. Bebas dari aneka cacat, tidak sakit, tidak patah tulang, dan tidak pula pikun. Kecuali jika
seluruh ternak mengalami cacat tertentu, maka diperbolehkan mengeluarkan zakatnya dari yang
cacat ini.

2. Betina, bagi yang mensyaratkan. Dalam kasus ini tidak boleh mengambil zakat jantan, kecuali
jika lebih dewasa. Menurut madzhab Hanafi diperbolehkan zakatnya dengan uang senilai hewan
yang harus dikeluarkan.

3. Umur hewan. Ada beberapa hadits yang membatasi umur hewan zakat ternak. Maka harus
terikat dengan ketentuan ini. Jika tidak ada yang memenuhi standar umur itu, maka
diperbolehkan mengeluarkan yang lebih besar atau yang lebih kecil, dan mengambil selisih
harganya menurut madhab Syafi’i. Sedang menurut Abu Hanifah dibayar dengan uang senilai
hewan yang wajib dikeluarkan.

4. Sedang. Pemungut zakat tidak boleh mengambil yang paling bagus atau yang paling buruk,
akan tetapi mengambil kualitas sedang, dengan memperhatikan posisi pemiliki dan fakir miskin
sebagai mustahiq.

Ternak dimiliki oleh beberapa pemilik

Jika ada dua orang yang menggabungkan ternaknya, maka penggabungan ini tidak
mempengaruhi nishab maupun zakat menurut Abu Hanifah, masing-masing berkewajiban
mengeluarkan zakatnya sendiri-sendiri ketika sudah mencapai nishabnya. Tetapi menurut
madzhab Syafi’i, penggabungan hewan ternak dapat mempengaruhi nishab dan zakat, sepertinya
ia menjadi milik satu orang dengan syarat:

1. Kandang penginapannya menyatu

2. Tempat peristirahatanya satu

3. Tempat penggemabalaannya menyatu

4. Penggabungan itu sudah berlangsung satu tahun

5. Yang digabung itu sudah mencapai satu nishab

6. Masing-masing penggabung adalah orang secara pribadi berkewajiban zakat
seperti dua orang yang bergabung satu orang memiliki dua puluh ekor kambing, dan yang kedua
memiliki empat puluh ekor kambing.

      menurut Abu Hanifah, yang pertama tidak wajib zakat karena belum mencapai satu
       nishab dan yang kedua wajib zakat, satu ekor kambing
      menurut madzhab Syafi’i, kedua orang itu hanya wajib memabyar satu ekor kambing.

Dari sini terlihat bahwa madzhab Hanfi lebih dekat dengan prinsip keadilan dan kemaslahatan
orang fakir, akantetapi madzhab Syafi’i dengan keputusannya itu lebih dekat kepada sistem
korporasi modern, terutama korporasi partisipasif, nishabnya lebih simple dan lebih mudah.

Zakat Madu dan Produk Hewani

1. Zakat madu hukumnya wajiib menurut madzhab Hanbali dan Hanafi. Sebagaimana disebutkan
dalam beberapa hadits dari Rasulullah saw. dan para sahabatnya, yang saling menguatkan, di
antara yang kuat adalah riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i: Hilal (seorang dari Bani Qai’an)
mendatangi Rasulullah saw. dengan membawa sepersepuluh madu lebahnya. Rasulullah
memintanya untuk menjaga lembah yang bernama lembah Salbah, lalu ia menjaga lembah itu.
Ketika Umar r.a. menjadi khalifah, Sufyan bin Wahb menulis surat kepada Umar bin Khaththab
menanyakan hal ini. Lalu Umar menjawab, “Jika ia masih membayar sepersepuluh yang pernah
diberikan di masa Rasulullah, maka silahkan ia menjaga lembah Salbah, dan jika tidak, maka
sesungguhnya mereka itu lebah hujan yang dimakan oleh siapa saja.”

2. Persentase zakatnya adalah sepersepuluh setelah dikurangi biaya produksi jika ada.

3. Menurut Abu Hanifah, tidak ada nishab zakat madu, tetapi diambil zakatnya dari berapapun
jumlahnya sedikit ataupun banyak. Menurut Abu Yusuf, nishabnya ketika sudah senilai lima
wisq, yaitu nishab terkecil barang-barang yang dapat ditimbang.

4. Hasil-hasil hewani seperti susu, sutera, telur, dan daging yang menjadi kakayaan besar di
zaman sekarang ini. Apakah wajib zakat?

      Jika zakat sudah diambil dari fisik hewannya seperti sapi sebagai pengahsil susu, maka
       ketika itu tidak wajib zakat susu.
      Jika belum diambil zakat fisik hewannya, seperti ayam dan sejenisnya, maka ketika itu
       diambil zakat dari hasilnya, dikiaskan dengan madu yang merupakan hasil lebah, atau
       diqiaskan dengan tanah yang dikeluarkan hasilnya bukan tanahnya.
      Nishab zakat ini senilai lima wisq, yang merupakan nishab terendah dari hasil tanaman
       yang ditimbang, yaitu 653 kg. Persentasenya sepersepuluh jika diqiaskan dengan tanah
       yang disiram dengan air hujan, dan seperduapuluh jika disiram dengan alat, di mana
       muzakki mengeluarkan dana untuk biaya produksinya.
      Dan sangat mungkin ditentukan persentase zakatnya 2,5% jika dipertimbangkan bahwa
       produk hewani sama dengan harta perdagangan, diabayarkan dari modal dan hasil. (dkwt)

								
To top