Makalah TEORI KEPRIBADIAN CARL ROGERS - wikipedia by arieslibraa1

VIEWS: 1 PAGES: 15

									        TEORI KEPRIBADIAN CARL ROGERS

BAB I
RESUME TEORI
HOLISM AND HUMANISM: CARL ROGERS
Rogers adalah seorang psikoterapist yang melibatkan peneliti kedalam
sesi terapi (memakai tape recorder) yang pada tahun 1940an
membuka sesi klien yang masih tabu dicermati oleh orang lain.
Dengan cara itu orang mulai belajar tentang hakekat psikoterapi dan
proses beroperasinya. Model terapi yang dikembangkan oleh Rogers
lebih dikenal dengan sebutan client centered.
Dibandingkan teknik terapi yang ada masa itu, teknik ini adalah
pembaharuan karena mengasumsikan posisi yang sejajar antara
terapis dan pasien (dalam konteks ini pasien disebut klien).
Hubungan terapis-klien diwarnai kehangatan, saling percaya, dan
klien diberikan diperlakukan sebagai orang dewasa yang dapat
mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas
keputusannya. Tugas terapis adalah membantu klien mengenali
masalahnya, dirisnya sendiri sehingga akhrinya dapat menemukan
solusi bagi dirinya sendiri.

Menurut rogers seorang terapis harus genuine dan tidak bersembunyi
dibalik perilaku defensif. Mereka harus membiarkan klien memahami
perasaannya sendiri. Terapis juga harus berusaha memahami dunia
klien. Terapis juga harus bisa membuat klien merasa nyaman dalam
proses terapi. Rogers memandang proses terapeutik sebagai model
dari hubungan interpersonal, hal inilah yang mendasari ia
memformulasikan teori tentang hubungan interpersonal yang
diringkas sebagai berikut:
a. Minimal dua orang yang bersedia terjadinya kontak.

b. Masing-masing mampu dan bersedia untuk menerima
komunikasi dari yang lainnya.


c. Berhubungan terus menerus dalam beberapa jangka waktu.

Menurut Rogers, klien datang kepada konselor dalam keadaan tidak
selaras, yakni terdapat ketidakcocokan antara persepsi diri dan
pengalaman dalam kenyataan. Pada mulanya, klien boleh jadi
mengharapkan terapis akan menyediakan jawaban-jawaban dan
pengarahan atau memandang terapis sebagai seorang ahli yang bisa
menyediakan pemecahan-pemecahan ajaib. Hal-hal yang mendorong
klien untuk menjalani terapi mungkin adalah perasaan tidak berdaya,
tidak kuasa dan tidak berkemampuan untuk membuat keputusan-
keputusan untuk mengarahkan hidupnya sendiri secara efektif. Klien
mungkin berharap menemukan jalan melalui pengajaran dari terapis .
bagaimanapun, dalam kerangka client centered klien dengan segera
belajar bahwa ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan bahwa
dia bisa belajar lebih bebas untuk memperoleh pemahaman diri yang
lebih besar melalui hubungan dengan terapis.
THE SELF

Carl Rogers mendeskripsikan the self sebagai sebuah konstruk yang
menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri.
Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga
dapat dikatakan self merupakan satu-satunya sruktur kepribadian
yang sebenarnya. Self ini dibagi 2 yaitu : Real Self dan Ideal Self. Real
Self adalah keadaan diri individu saat ini, sementara Ideal Self adalah
keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau
apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut. Perhatian Rogers yang
utama adalah bagaimana organisme dan self dapat dibuat lebih
kongruen.
Self atau konsep self adalah konsep menyeluruh yang ajeg dan
terorganisir tersusun dari persepsi ciri-ciri tentang “I” atau “me” (aku
sebagai subyek atau aku sebagai obyek) dan persepsi hubungan “I”
atau “me” dengan orang lain dan berbagai aspek kehidupan, berikut
nilai-nilai yang terlibat dalam persepsi itu. Konsep self
menggambarkan konsepsi orang tentang dirinya sendiri, ciri-ciri yang
dianggapnya menjadi bagian dari dirinya. Konsep self juga
menggambarkan pandangan diri dalam kaitannya dengan berbagai
perannya dalam kehidupan dan dalam kaitannya dengan hubungan
interpersonal.

DINAMIKA KEPRIBADIAN


Menurut Rogers, organisme memiliki satu kekuatan pendorong
tunggal – mendorong aktualisasi diri – dan satu gol tunggal dalam
hidup – untuk menjadi diri yang teraktualisasikan. Pengalaman
dinilai apakah dapat member kepuasan atau tidak, mula-mula secara
fisik namun kemudian berkembang menjadi kepuasan emosional dan
sosial. Akhirnya konsep self itu mencakup gambaran siapa dirinya,
siapa seharusnya dirinya dan siapa kemungkinan dirinya. Kesadaran
memiliki konsep dir kemudian mengembangkan penerimaan positif.
Sebagaimana ahli humanistik umumnya, Rogers mendasarkan teori
dinamika kepribadian pada konsep aktualisasi diri. Aktualisasi diri
adalah daya yang mendorong pengembangan diri dan potensi
individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi cirri seluruh manusia.
Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada
pengembangan yang optimal dan menghasilkan cirri unik manusia
seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain.


1. Penerimaan Positif (Positive Regard). Orang merasa puas
menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapat memberi
regard positif kepada orang lain.
2. Konsistensi dan Salingsuai Self (Self Consistensy and Congruence).
Organisme berfungsi untuk memelihara konsistensi (keajegan =
keadaan tanpa konflik ) dari persepsi diri, dan kongruen (salingsuai)
antara persepsi self dengan pengalaman.
3. Aktualisasi Diri (Self Actualization). Freud memandang organisme
sebagai sistem energi, dan mengembangkan teori bagaimana energi
psikik ditimbulkan, ditransfer dan disimpan. Rogers memandang
organisme terus menerus bergerak maju. Tujuan tingkahlaku bukan
untuk mereduksi tegangan enerji tetapi mencapai aktualisasi diri yaitu
kecenderungan dasar organisme untuk aktualisasi: yakni kebutuhan
pemeliharaan (maintenance) dan peningkatan diri (enhancement).
PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Rogers tidak membahas teori pertumbuhan dan perkembangan dan
tidak melakukan riset jangka panjang yang mempelajari hubungan
anak dengan orangtuanya. Namun ia yakin adanya kekuatan tumbuh
pada semua orang yang secara alami mendorong proses organism
menjadi semakin kompleks, ekspansi, otonom, sosial dan secara
keseluruhan semakin aktualisasi diri. Struktur self menjadi bagian
terpisah dari medan fenomena dan semakin kompleks. Self
berkembang secara utuh keseluruhan, menyentuh semua bagian-
bagiannya. Berkembangnya self diikuti oleh kebutuhan penerimaan
positif dan penyaringan tingkah laku yang disadari agar tetap konruen
dengan struktur self.


Contoh sederhana dapat dilihat sebagai berikut: seorang gadis kecil
yang memiliki konsep diri bahwa ia seorang gadis yang baik, sangat
dicintai oleh orangtuanya, dan yang terpesona dengan kereta api
kemudian menungkapkan pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi
insinyur mesin dan akhirnya menjadi kepala stasiun kereta api. Orang
tua gadis tersebut sangat tradisional, bahkan tidak mengijikan ia
untuk memilih pekerjaan yang diperutukan laki-laki. Hasilnya gadis
kecil itu mengubah konsep dirinya. Dia memutuskan bahwa dia
adalah gadis yang “tidak baik” karena tidak mau menuruti keinginan
orang tuanya. Dia berfikir bahwa orang tuanya tidak menyukainya
atau mungkin dia memutuskan bahwa dia tidak tertarik pada
pekerjaan itu selamanya.

Beberapa pilihan sebelumnya akan mengubah realitas seorang anak
karena ia tidak buruk dan orangtuanya sangat menyukai dia dan dia
ingin menjadi insinyur. Self image dia akan keluar dari tahapan
pengalaman aktualnya. Rogers berkata jika gadis tersebut menyangkal
nilai-nilai kebenarannya dengan membuat pilihan yang ketiga –
menyerah dari ketertarikannya – dan jika ia meneruskan sesuatu
sebagai niali yang di tolak oleh orang lain, dirinya akan berakhir
dengan melawan dirinya sendiri. Dia akan merasa seolah-olah dirinya
tidak mengetahui dengan jelas siapa dirinya sendiri dan apa yang dia
inginkan, maka ia akan berkepribadian keras, tidak nyaman,

Jika penolakan menjadi style, dan orang tidak menyadari
ketidaksesuaian dalam dirinya maka kecemasan dan ancaman muncul
akibat dari orang yang sangat sadar dengan ketidaksesuaian itu.
Sedikit saja seseorang menyadari bahwa perbedaan antara
pengalaman organismik dengan konsep diri yang tidak muncul ke
kesadaran telah membuatnya merasakan kecemasan. Rogers
mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan ketidaknyamanan atau
ketegangan yang sebabnya tidak diketahui. Ketika orang semakin
menyadari ketidaksesuaian antara pengalaman dengan persepsi
dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri
yang sesuai. Kecemasan dan ancaman yang menjadi indikasi adanya
ketidaksesuaian diri dengan pengalaman membuat orang berada
dalam perasaan tegang yang tidak menyenangkan namun pada tingkat
tertentu kecemasan dan ancaman itu dibutuhkan untuk
mengembangkan diri memperoleh jiwa yang sehat.
TEKNIK RISET

Rogers menjadi pelopor riset ilmiah dalam konseling dan psikoterapi.
Pendekatan yang dipakainya antara lain content analysis, rating
scale, dan Q-techniques.Analisis isi (content analysis) adalah
prosedur menganalisis verbalisasi klien (merekam, mengklasifikasi,
menghitung pernyataan klien) untuk menguji berbagai hipotesis atau
proposisi tentang hakekat kepribadian, atau meneliti perubahan
konsep diri yang terjadi dalam terapi. Skala rating (rating
scale)dipakai untuk meneliti kualitas hubungan terapi. Rating
dilakukan oleh klien secara bebas menurut apa yang dirasakannya. Q-
tecniques adalah model asesmen untuk meneliti pandangan orang
tentang dirinya sendiri. Q-sort atau Q-tecniquesadalah self rating,
sehingga mungkin sekali timbul defensiveness; usaha tampil yang
dapat diterima, yang baik, dimata dirinya sendiri dan orang lain.
Tingkah Laku Bertahan (Defensiveness)


Tingkah laku bertahan yang dipakai untuk menangani inkongruen,
dapat efektif atau tidak efektif. Deskripsinya mirip dengan mekanisme
pertahanan dari freud. Rogers hanya mengklasifikasikan dua tingkah
laku bertahan, yakni distorsi dan denial. Termasuk dalam distorsi
adalah kompulsi, kompensasi, rasionalisasi, fantasi dan proyeksi
sebagai berikut:

1. Distorsi: pengalaman diinterpretasi secara salah dalam rangka
menyesuaikan dengan aspek yang ada dalam konsep self. Orang
mempersepsi pengalaman secara sadar tetapi gagal menangkap (tidak
menginterpretasi) makna pengalaman yang sebenarnya. Distorsi
dapat menimbulkan bermacam difense dan tingkah laku salah suai.

2. Denial: orang menolak menyadari suatu pengalaman, atau paling
tidak menghalangi beberapa bagian dari pengalaman untuk
disimbolisasi. Pengingkaran itu dilakukan terhadap pengalaman yang
tidak kongruen dengan konsep diri, sehingga orang terbebas dari
ancaman ketidakharmonisan diri.

BAB II
PEMBAHASAN TEORI
Carl Ransom Rogers (1961), seorang tokoh utama dalam penciptaan
psikologi humanistik, membangun teori dan praktek terapinya di atas
konsep tentang “pribadi yang berfungsi penuh” yang sangat mirip
dengan “orang yang mengaktualkan diri” yang dikemukakan oleh
Maslow. Rogers mempercayai dapat dipercayanya sifat manusia dan
memandang gerak ke arah berfungsi penuh sebagai suatu kebutuhan
dasar. Menurut Rogers, apabila manusia berfungsi secara bebas, maka
dia akan bersifat konstruktif dan dapat dipercaya.

Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi
terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar
dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client-
centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang
menggarisbawahi tindakan pengalaman klien yang subjektif dan
fenomenalnya.
Carl R. Rogers (1902-1987) menjadi terkenal berkat metoda terapi
yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (client-
centered therapy). Tekniknya tersebar luas di kalangan pendidikan,
bimbingan, dan pekerja sosial. Rogers sangat kuat memegang
asumsinya bahwa manusia itu bebas, rasional, utuh, mudah berubah,
subjektif, proaktif, heterostatis, dan sukar dipahami (Alwisol, 2005 :
333). Pendekatan Fenomenologi dari Carl Rogers konsisten
menekankan pandangan bahwa tingkah laku manusia hanya dapat
dipahami dari bagaimana dia memandang realita hidup secara
subyektif (subyektif experience of reality).
Pendekatan ini juga berpendapat bahwa manusia mempunyai
kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, hakekat yang
terdalam dari manusia adalah sifatnya yang bertujuan, dapat
dipercaya, dan mengejar kesempurnaan diri (purposive, trusthworthy,
self-perfecting). Carl Rogers orang yang pertama melibatkan
penelitian kepada sesi terapi (memakai tape recorder). Dengan cara
itu orang mulai belajar mengenai hakekat psikoterapi dan proses
beroperasinya.

Teori Rogers didasarkan pada suatu “daya hidup” yang disebut
kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut
diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk
hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh potensinya semaksimal
mungkin. Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup
saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya.
Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-keinginan atau
dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain, seperti
kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman
dan rasa cinta, dan sebagainya.


Pandangan client centered tentang sifat manusia menolak konsep
tentang kecenderungan-kecenderungan negative dasar. Sementara
beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut
kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap
dirinya sendiri maupun terhadap orang lain kecuali jika telah
menjalani sosialisasi. Rogers menunjukan kepercayaan yang
mendalam pada manusia. Ia memandang manusia terisolasi dan
bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki
kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam.
Pandangan tentang manusia yang mositif ini memiliki implikasi –
implikasi bahwa individu memiliki kesanggupan yang inheren untuk
menjauhi maladjustmentmenuju keadaan psikologis yang sehat.
Model client centered yang dikemukakan oleh Rogers ini menolak
konsep yang memandang konselor sebagao otoritas yang mengetahui
apa yang terbaik bagi klien dan yang memandang klien sebagai
manusia pasif yang hanya mengikuti perintah konselor tetapi berakar
pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat keputusannya
sendiri.
Struktur Kepribadian

Sejak awal Rogers mengamati bagaimana kepribadian berubah dan
berkembang, dan ada tiga konstruk yang menjadi dasar penting dalam
teorinya: Organisme, Medan fenomena, dan Self.

1.   Organisme. Pengertian organisme mencakup tiga hal:


v Mahkluk hidup. Organisme adalah mahkluk lengkap dengan fungsi
fisik dan psikologisnya dan merupakan tempat semua pengalaman,
potensi yang terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi
seseorang tentang kejadian yang terjadi dalam diri dan dunia
eksternal.

v Realitas Subyektif. Organisme menganggap dunia seperti yang
dialami dan diamatinya. Realita adalah persepsi yang sifatnya
subyektif dan dapat membentuk tingkah laku.
v Holisme. Organisme adalah satu kesatuan sistem, sehingga
perubahan dalam satu bagian akan berpengaruh pada bagian lain.
Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yaitu tujuan
mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.

2.    Medan Fenomena. Medan fenomena adalah keseluruhan
pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik disadari
maupun tidak disadari. Medan fenomena ini merupakan seluruh
pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya di
dunia,sebagaimanapersepsisubyektifnya.

3.    Self (Diri). Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian
Rogers, yang intinya adalah:

a. Terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-
nilai orang tertentu.

b.   Bersifat integral dan konsisten.


c. Menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self
sebagai ancaman.

d.   Dapat berubah karena kematangan dan belajar.

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada
perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan
bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang
lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya
tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan
yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya. Selain itu
gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara
realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua
orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia
karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif. Rogers juga
mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia
karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa
depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan
pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami
suatu penyakit psikologis.
BAB III
IMPLIKASI BAGI BIMBINGAN DAN KONSELING
Teori Carl Ransom Rogers memberikan implikasi bagi bimbingan dan
konseling. Tujuan dasar dari teori yang dikemukakan oleh Carl R
Rogers (client centered)adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi
usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi
penuh. Peran konselor client-centeredberakar pada cara-cara
keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-
teknik yang dirancang untuk menjadikan klien “berbuat sesuatu”
sehingga klien bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan
persepsi-persepsinya yang kaku serta mampu bergerak menuju taraf
fungsi pribadi yang lebih tinggi. Sofyan Willis (2009) dalam bukunya
yang berjudul Konseling Keluarga menguraikan implikasi teori yang
dikemukakan Carl Ransom Rogers bagi bimbingan dan konseling
sebagai berikut:
1. Tujuan Konseling
Terapi terpusat pada klien yang dikembangkan oleh Carl R Rogers
pada tahun 1942 bertujuan untuk membina kepribadian klien secara
integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk
memecahkan masalah sendiri. Kepribadian yang integral adalah
struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai antara
gambaran diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri
sebenarnya (actual-self). Kepribadian yang berdiri sendiri atas dasar
tanggung jawab dan kemampuan. Tidak bergantung pada orang lain.
Sebelum menentukan pilihan tentu individu harus memahami dirinya
(kekuatan dan kelemahan diri) dan kemudian keadaan diri tersebut
harus ia terima.
Untuk mencapai tujuan ini diperlukan beberapa syarat yakni:

a. Kemampuan dan keterampilan teknik konselor.

b. Kesiapan klien untuk menerima bimbingan.

c. Taraf intelegensi klien yang memadai.


2.   Proses Konseling

Berikut ini tahap-tahap konseling terapi terpusat pada klien.

a. Klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien
datang atas suruhan orang lain, maka konselor harus mampu
menciptakan situasi yang sangat bebas dan permisif dengan tujuan
agar klien memilih apakah ia akan terus minta bantuan atau akan
membatalkannya.
b. Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien,
untuk itu konselor menyadarkan klien.

c. Konselor memberanikan klien agar mampu mengemukakan
perasaannya. Konselor harus bersikap ramah, bersahabat dan
menerima klien sebagaimana adanya.


d. Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.

e. Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima
keadaan dirinya.

f. Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil
(perencanaan)

g. Klien merealisasikan pilihannya itu.

3.   Teknik Konseling


Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan sikap konselor
ketimbang teknik, dan mengutamakan hubungan konseling
ketimbang perkataan dan perbuatan konselor. Implementasi teknik
konseling didasari oleh paham filsafat dan sikap konselor tersebut.
Karena itu teknik konseling Rogers berkisar antara lain pada cara-cara
penerimaan pernyataan dan komunikasi, menghargai orang lain dan
memahaminya (klien). Karena itu dalam teknik amat digunakan sifat-
sifat konselor berikut:
a. Acceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya
dengan segala masalahnya. Jadi sikap konselor adalah menerima
secara netral.
b. Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai
kata dengan perbuatan dan konsisten.
c. Understanding artinya konselor harus dapat secara akurat dan
memahami secara empati dunia klien sebagaimana dilihat dari dalam
diri klien itu.
d. Nonjudgemental artinya tidak member penilaian terhadap klien,
akan tetapi konselor selalu objektif.

								
To top