Sejarah Syeh Nawawi Al

Document Sample
Sejarah Syeh Nawawi Al Powered By Docstoc
					Sejarah Syeh Nawawi Al-Bantani (Guru Para Ulama Indonesia)




Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh Kitab Kuning Indonesia. Sebut
misalnya, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abdul Shamad Al-Palimbani, Syekh Yusuf
Makasar, Syekh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Sheikh Ihsan
Al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok
ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa
universitas di luar negeri. Dari beberapa tokoh tadi, nama Syekh Nawawi Al-Bantani boleh
disebut sebagai tokoh utamanya. Ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa,
Serang, Banten, Jawa Barat, 1813 ini layak menempati posisi itu karena hasil karyanya
menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri. Bernama
lengkap Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-
Jawi, Syekh Nawawi sejak kecil telah diarahkan ayahnya, KH. Umar bin Arabi menjadi
seorang ulama. Setelah mendidik langsung putranya, KH. Umar yang sehari-harinya menjadi
penghulu Kecamatan Tanara menyerahkan Nawawi kepada KH. Sahal, ulama terkenal di
Banten. Usai dari Banten, Nawawi melanjutkan pendidikannya kepada ulama besar
Purwakarta Kyai Yusuf. Ketika berusia 15 tahun bersama dua orang saudaranya, Nawawi
pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Tapi, setelah musim haji usai, ia tidak
langsung kembali ke tanah air. Dorongan menuntut ilmu menyebabkan ia bertahan di Kota
Suci Mekkah untuk menimba ilmu kepada ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan negeri
lainnya, seperti Imam Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima,
Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan,
Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani. Tiga tahun lamanya ia
menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah. Setelah merasa bekal ilmunya cukup, segeralah ia
kembali ke tanah air. Ia lalu mengajar dipesantren ayahnya. Namun, kondisi tanah air
agaknya tidak menguntungkan pengembangan ilmunya. Saat itu, hampir semua ulama Islam
mendapat tekanan dari penjajah Belanda. Keadaan itu tidak menyenangkan hati Nawawi.
Lagi pula, keinginannya menuntut ilmu di negeri yang telah menarik hatinya, begitu
berkobar. Akhirnya, kembalilah Syekh Nawawi ke Tanah Suci. Kecerdasan dan
ketekunannya mengantarkan ia menjadi salah satu murid yang terpandang di Masjidil Haram.
Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi Imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk
menggantikannya. Sejak saat itulah ia menjadi Imam Masjidil Haram dengan panggilan
Syekh Nawawi al-Jawi. Selain menjadi Imam Masjid, ia juga mengajar dan
menyelenggarakan halaqah (diskusi ilmiah) bagi murid-muridnya yang datang dari berbagai
belahan dunia. Laporan Snouck Hurgronje, orientalis yang pernah mengunjungi Mekkah
ditahun 1884-1885 menyebut, Syekh Nawawi setiap harinya sejak pukul 07.30 hingga 12.00
memberikan tiga perkuliahan sesuai dengan kebutuhan jumlah muridnya. Di antara muridnya
yang berasal dari Indonesia adalah KH. Kholil Madura, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus
Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten dan KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang. Mereka inilah
yang kemudian hari menjadi ulama-ulama terkenal di tanah air. Sejak 15 tahun sebelum
kewafatannya, Syekh Nawawi sangat giat dalam menulis buku. Akibatnya, ia tidak memiliki
waktu lagi untuk mengajar. Ia termasuk penulis yang produktif dalam melahirkan kitab-kitab
mengenai berbagai persoalan agama. Paling tidak 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam
Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf Alias Sarkis. Beberapa kalangan lainnya
malah menyebut karya-karyanya mencapai lebih dari 100 judul, meliputi berbagai disiplin
ilmu, seperti tauhid, ilmu kalam, sejarah, syari’ah, tafsir, dan lainnya. Di antara buku yang
ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas–Red) seperti Tafsir Marah Labid, Atsimar al-
Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir,
Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah
Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin.
Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah. Dengan kiprah dan karya-
karyanya ini, menempatkan dirinya sebagai Sayyid Ulama Hijaz hingga sekarang. Dikenal
sebagai ulama dan pemikir yang memiliki pandangan dan pendirian yang khas, Syekh
Nawawi amat konsisten dan berkomitmen kuat bagi perjuangan umat Islam. Namun
demikian, dalam menghadapi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, ia memiliki caranya
tersendiri. Syekh Nawawi misalnya, tidak agresif dan reaksioner dalam menghadapi kaum
penjajah. Tapi, itu tak berarti ia kooperatif dengan mereka. Syekh Nawawi tetap menentang
keras kerjasama dengan kolonial dalam bentuk apapun. Ia lebih suka memberikan perhatian
kepada dunia ilmu dan para anak didiknya serta aktivitas dalam rangka menegakkan
kebenaran dan agama Allah SWT. Dalam bidang syari’at Islamiyah, Syekh Nawawi
mendasarkan pandangannya pada dua sumber inti Islam, Alquran dan Al-Hadis, selain juga
ijma’ dan qiyas. Empat pijakan ini seperti yang dipakai pendiri Mazhab Syafi’iyyah, yakni
Imam Syafi’i. Mengenai ijtihad dan taklid (mengikuti salah satu ajaran), Syekh Nawawi
berpendapat, bahwa yang termasuk mujtahid (ahli ijtihad) mutlak adalah Imam Syafi’i,
Hanafi, Hanbali, dan Maliki. Bagi keempat ulama itu, katanya, haram bertaklid, sementara
selain mereka wajib bertaklid kepada salah satu keempat imam mazhab tersebut.
Pandangannya ini mungkin agak berbeda dengan kebanyakan ulama yang menilai pintu
ijtihad tetaplah terbuka lebar sepanjang masa. Barangkali, bila dalam soal mazhab fikih,
memang keempat ulama itulah yang patut diikuti umat Islam kini. Apapun, umat Islam patut
bersyukur pernah memiliki ulama dan guru besar keagamaan seperti Syekh Nawawi Al-
Bantani. Kini, tahun haul (ulang tahun wafatnya) diperingati puluhan ribu orang di Tanara,
Banten, setiap tahunnya. Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib A’li,
sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah, pada 25 Syawal 1314H/1879 M.

Syekh Muhammad bin Umar Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, adalah ulama Indonesia bertaraf
internasional, lahir di Kampung Pesisir, Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Serang, Banten,
1815. Sejak umur 15 tahun pergi ke Makkah dan tinggal di sana tepatnya daerah Syi’ab Ali,
hingga wafatnya 1897, dan dimakamkan di Ma’la. Ketenaran beliau di Makkah membuatnya
di juluki Sayyidul Ulama Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Daerah Hijaz adalah daerah yang
sejak 1925 dinamai Saudi Arabia (setelah dikudeta oleh Keluarga Saud).
Diantara ulama Indonesia yang sempat belajar ke Beliau adalah Syaikhona Khalil Bangkalan
dan Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kitab-kitab karangan beliau banyak yang
diterbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirimkan manuscriptnya dan setelah itu
tidak mempedulikan lagi bagaimana penerbit menyebarluaskan hasil karyanya, termasuk hak
cipta dan royaltinya. Selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum
pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand,
dan juga negara-negara di Timur Tengah. Begitu produktifnya beliau dalam menyusun kitab
(semuanya dalam bahasa Arab) hingga orang menjulukinya sebagai Imam Nawawi kedua.
Imam Nawawi pertama adalah yang membuat Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syarhul
Muhadzdzab, Riyadlush Shalihin, dll. Namun demikian panggilan beliau adalah Syekh
Nawawi bukan Imam Nawawi.
Jumlah kitab beliau yang terkenal dan banyak dipelajari ada sekitar 22 kitab. Beliau pernah
membuat tafsir Al-Qur’an berjudul Mirah Labid yang berhasil membahas dengan rinci setiap
ayat suci Al-Qur’an. Buku beliau tentang etika berumah tangga, berjudul Uqudul Lijain
(diterjemahkan ke Bahasa Indonesia) telah menjadi bacaan wajib para mempelai yang akan
segera menikah. Kitab Nihayatuz Zain sangat tuntas membahas berbagai masalah fiqih
(syariat Islam). Sebuah kitab kecil tentang syariat Islam yang berjudul Sullam (Habib
Abdullah bin Husein bin Tahir Ba’alawi), diberinya Syarah (penjelasan rinci) dengan judul
baru Mirqatus Su’udit Tashdiq. Salah satu karya beliau dalam hal kitab hadits adalah
Tanqihul Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith (Imam Suyuthi). Kitab Hadits lain yang
sangat terkenal adalah Nashaihul Ibad, yang beberapa tahun yang lalu dibahas secara
bergantian oleh Alm. KH Mudzakkir Ma’ruf dan KH Masrikhan (dari Masjid Jami
Mojokerto) dan disiarkan berbagai radio swasta di Jawa Timur. Kitab itu adalah syarah dari
kitabnya Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Di antara karomah beliau adalah, saat menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah (karya Imam
Ghozali), lampu minyak beliau padam, padahal saat itu sedang dalam perjalanan dengan
sekedup onta (di jalan pun tetep menulis, tidak seperti kita, melamun atau tidur). Beliau
berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslimin, mohon kepada
Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis. Tiba-tiba jempol kaki beliau
mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai.
Dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau
untuk dijadikan tentara (karena badan beliau tegap), ternyata beliau ditolak, karena adanya
bekas api di jempol tadi.
Karomah yang lain, nampak saat beberapa tahun setelah beliau wafat, makamnya akan
dibongkar oleh pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahadnya akan
ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma’la). Saat itulah para petugas
mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh
walaupun sudah bertahun-tahun dikubur. Karena itu, bila pergi ke Makkah, Insya Allah kita
akan bisa menemukan makam beliau di Pemakaman Umum Ma’la. Banyak juga kaum
Muslimin yang mengunjungi rumah bekas peninggalan beliau di Serang, Banten.

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan
sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam
Nawawi (w.676 H/l277 M). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren
tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji, nama Kiai asal Banten ini seakan
masih hidup dan terus menyertai umat memberikan wejangan ajaran Islam yang
menyejukkan. Di setiap majlis ta’lim karyanya selalu dijadikan rujukan utama dalam
berbagai ilmu; dari ilmu tauhid, fiqh, tasawuf sampai tafsir. Karya-karyanya sangat berjasa
dalam mengarahkan mainstrim keilmuan yang dikembangkan di lembaga-Iembaga pesantren
yang berada di bawah naungan NU.
Di kalangan komunitas pesantren Syekh Nawawi tidak hanya dikenal sebagai ulama penulis
kitab, tapi juga ia adalah mahaguru sejati (the great scholar). Nawawi telah banyak berjasa
meletakkan landasan teologis dan batasan-batasan etis tradisi keilmuan di lembaga
pendidikan pesantren. Ia turut banyak membentuk keintelektualan tokoh-tokoh para pendiri
pesantren yang sekaligus juga banyak menjadi tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama
(NU). Apabila KH. Hasyim Asyari sering disebut sebagai tokoh yang tidak bisa dilepaskan
dari sejarah berdirinya NU, maka Syekh Nawawi adalah guru utamanya. Di sela-sela
pengajian kitab-kitab karya gurunya ini, seringkali KH. Hasyim Asyari bernostalgia bercerita
tentang kehidupan Syekh Nawawi, kadang mengenangnya sampai meneteskan air mata
karena besarnya kecintaan beliau terhadap Syekh Nawawi.
Mengungkap jaringan intelektual para ulama Indonesia sebelum organisasi NU berdiri
merupakan kajian yang terlupakan dari perhatian para pemerhati NU. Terlebih lagi bila
ditarik sampai keterkaitannya dengan keberhasilan ulama-ulama tradisional dalam karir
keilmuannya di Mekkah dan Madinah. Salah satu faktor minimnya kajian di seputar ini
adalah diakibatkan dari persepsi pemahaman sebagian masyarakat yang sederhana terhadap
NU. NU dipahami sebagai organisasi keagamaan yang seolah-olah hanya bergerak dalam
sosial politik dengan sejumlah langkah-langkah perjalanan politik praktisnya, dan bukan
sebagai organisasi intelektual keagamaan yang bergerak dalam keilmuan dan mencetak para
ulama. Sehingga orang merasa heran dan terkagum-kagum ketika menyaksikan belakangan
ini banyak anak muda NU mengusung gerakan pemikiran yang sangat maju, berani dan
progressif. Mereka tidak menyadari kalau di tubuh NU juga memiliki akar tradisi intelektual
keilmuan yang mapan dan tipikal. Dengan begitu NU berdiri untuk menyelamatkan tradisi
keilmuan Islam yang hampir tercerabut dari akar keilmuan ulama salaf. Figur ulama seperti
Syekh Nawawi Banten merupakan sosok ulama berpengaruh yang tipikal dari model
pemikiran demikian.
Ia memegang teguh mempertahankan traidisi keilmuan klasik, suatu tradisi keilmuan yang
tidak bisa dilepaskan dari kesinambungan secara evolutif dalam pembentukkan keilmuan
agama Islam. Besarnya pengaruh pola pemahaman dan pemikiran Syekh Nawawi Banten
terhadap para tokoh ulama di Indonesia, Nawawi dapat dikatakan sebagai poros dari akar
tradisi keilmuan pesantren dan NU. Untuk itu menarik jika di sini diuraikan sosok sang kiai
ini dengan sejumlah pemikiran mendasar yang kelak akan banyak menjadi karakteristik pola
pemikiran dan perjuangan para muridnya di pesantren-pesantren.
Hidup Syekh Nawawi
Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad ibn Umar al-
Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-
Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada
tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia
84 tahun. Ia dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi.
Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa
Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan
acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.
Ayahnya bernama Kiai Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari
silsilahnya, Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif
Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin
(Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan
Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali
Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.
Pada usia 15 tahun, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji.
Di sana ia memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis,
tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah ia kembali ke daerahnya
tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu
ayahnya mengajar para santri. Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya
langsung mendapat simpati dari masyarakat Kedatangannya membuat pesantren yang dibina
ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya
beberapa tahun kemudian ia memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impiannya
untuk mukim dan menetap di sana.
Di Mekkah ia melanjutkan belajar ke guru-gurunya yang terkenal, pertama kali ia mengikuti
bimbingan dari Syeikh Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di
Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana.
Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di
Mekkah. Sedang di Madinah, ia belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian ia
melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut
penuturan Abdul Jabbar bahwa Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya
ke Mesir. Guru sejatinya pun berasal dari Mesir seperti Syekh Yusuf Sumbulawini dan Syekh
Ahmad Nahrawi.
Setelah ia memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung
halamannya ia menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada
tahun 1860 Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya
cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, ia tercatat sebagai
Syekh di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena ia harus banyak menulis
kitab. Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian koleganya yang meminta untuk
menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabatnya yang berasal
dari Jawi, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat
terlihat dalam setiap karyanya yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab
yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (Syarh) dari karya-karya ulama
sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Alasan menulis Syarh selain karena
permintaan orang lain, Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya
yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan.
Dalam menyusun karyanya Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya,
sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai
tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas
maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai
ke daerah Mesir dan Syiria. Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa
yang mudah dipahami dan padat isinya ini nama Nawawi bahkan termasuk dalam kategori
salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar:
A’yan ‘Ulama’ al-Qarn aI-Ra M’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-
Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz [pemimpin Ulama daerah Hijaz, red.].
Kesibukannya dalam menulis membuat Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu
sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula ia sering mendelegasikan siswa-siswa
seniornya untuk membantunya. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di
beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai
beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada kiai agar proses
pembelajaran dengan kiai tidak mengalami kesulitan.
Bidang Teologi
Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir,
sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh,
tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab
kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang ditulisnya
ini dapat jadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang penulis produktif
multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan
pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah
seluruh pemikirannya secara komprehensif-utuh.
Dalam beberapa tulisannya seringkali Nawawi mengaku dirinya sebagai penganut teologi
Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang
ini dianranya Fath ai-Majid, Tijan al-Durari, Nur al Dzulam, al-Futuhat al-Madaniyah, al-
Tsumar al-Yaniah, Bahjat al-Wasail, Kasyifat as-Suja dan Mirqat al-Su’ud.
Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Nawawi mengikuti
aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Sebagai
penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifa-sifat Allah.
Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari
perbuatannya (His Act), karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Dia membagi sifat Allah
dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat
pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat
pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak
ada pada Allah. Meskipun Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah
Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan
teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.
Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurutnya harus digunakan bersama-sama,
tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan.
Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap
keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas
pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih
pemahamannya dalam benak akal pikirannya.
Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of
God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut
aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan
Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Dia mengakui
Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang
meyakini bahwa sebenamya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak
disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk hal ini
dalam konteks Indonesia sebenarnya Nawawi telah berhasil membangkitkan dan
menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir
kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep
tawakkal bi Allah.
Sayangnya sebagian sejarawan modern terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem
teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme. Padahal fenomena
kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan
teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena.
Dalam konteks Islam Jawa teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenamya telah dapat
menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah. Melalui
konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain
kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak
peranan Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat
menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”. Dalam beberapa
kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda
(non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh
kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.
Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor”
mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqhnya seperti Syarh
Safinat an-Naja, Syarh Sullam at-Taufiq, Nihayat az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in dan Tasyrih
ala Fathul Qarib, sehingga KH. Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara
sempurna Dan, atas dedikasi KH. Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk
mengajar dan menulis mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan. Hasil tulisannya yang
sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para
pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas al-Azhar Mesir pernah
mengundangnya untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka
tertarik untuk mengundangnya karena nama KH. Nawawi sudah dikenal melalui karya-
karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.
Sufi Brilian
Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan ia
bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini ia memiliki konsep
yang identik dengan tasawuf ortodok. Dari karyanya saja Nawawi menunjukkan seorang sufi
brilian, ia banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan
standar bagi seorang sufi. Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya
Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu Misbah al-Zulam,
Qami’ al-Thugyan dan Salalim al Fudala. Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya
‘Ulumuddin al-Ghazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat.
Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang
ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut
menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek
tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini
Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat
merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam
proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i)
seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini
mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat
tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.
Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap
pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan
ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan
dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik
tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel
dan sebagainya.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori
genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan
syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh
dan tasawuf. Ia lebih Gazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini. Dalam kitab tasawufnya
Salalim al-Fudlala, terlihat Nawawi bagai seorang sosok al-Gazali di era modern. Ia lihai
dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari
pandangannya tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh
dengan proses ta’allum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim
sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melalui proses dzikr, muraqabah dan musyahadah
sehingga mencapai derajat ‘Arif. Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi ‘alim yang
banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual
ilmu batin. Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah
semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya
seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus
ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau
moral (Adab). Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Nawawi adalah sikap
moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika ia diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin
Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek
tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini
bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang
dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun
secara hati-hati Nawawi menjawab dengan bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan
Sayyid Ustman. Sebab Nawawi tahu bahwa di satu sisi ia memahami kecenderungan
masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung
dalam persoalan politik. Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keIslaman
yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang. Misalkan dalam laporan penelitian Van
Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta
perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak
ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang
keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga
bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh:
Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh
Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan
kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Kiai Mahfuz Termas (1919 M) yang telah
berjasa dalam bidang Ilmu Hadis. Sebenarnya karya-karya Nawawi tidak hanya banyak dikaji
dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia
Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di
Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di
Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di
Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina
Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu Sulaiman Yasin, seorang
dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya
Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di
kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-
kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa
karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan
penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari
di sana. Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di
pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Nawawi. Penyebaran
karya Nawawi tidak lepas dari peran murid-muridnya. Di Indonesia murid-murid Nawawi
termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan
Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : KH. Hasyim Asyari dari
Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama ), KH. Kholil dari
Bangkalan, Madura, Jawa Timur, KH. Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri KH.
Nawawi, Nyi Maryam, KH. Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang
menikahi cucu perempuan KH. Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, KH.
Tubagus Muhammad Asnawi, dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, KH. Ilyas dari
Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, KH. Abd Gaffar dari Kampung
Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, KH. Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta.
Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini
memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi. Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren
di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran
modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan
pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia
yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik
simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan
kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan warna jaringan intelektual
pesantren. Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh K.H. Nawawi Banten.,
Syekh K.H. Mahfuz Termas, Syekh K.H. Abdul Karim, K.H. Kholil Bangkalan Madura, dan
Syekh K.H. Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh
terakhir. Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya. Karya-karya
Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim
Asya’ari, salah seorang murid Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya
dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon
gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H.
Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi
yang tidak sama sekali meninggalkan karya ulama Salaf. Meskipun ia senang membaca Kitab
tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut
penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik, ia tidak mau mengajarkannya pada
santri dan ia lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Nawawi lainnya berjasa
di daerah asalnya. Syekh K.H. Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa
dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi. Begitu juga dengan Syekh Abdul
Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Kiai Ageng.
Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Ki Ageng menjadi tokoh sentral di bidang
tasawuf di daerah Jawa Barat. Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sama lain terkait
juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan
referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir
kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir
Jalalain. Peranan Kiai para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya
Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam
transmisi keilmuan tradisional Islam. Para kiai didikan K.H Hasyim Asyari memiliki
semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh
pemikiran Nawawi. Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa ia banyak
mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana
penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain menjadi benteng penyebaran ajaran
tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua
pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara
gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain. Karya-karyanya di bidang tasawuf cukup
mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini
Nawawi, ibarat al-Ghazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf
yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.
Sejak abad ke-20 pesantren memiliki fungsi strategis. Gerakan intelektual dari generasi
pelanjut K.H. Nawawi ini lambat laun bergeser masuk dalam wilayah politik. Ketika kemelut
politik di daerah Jazirah Arab meletus yang berujung pada penaklukan Haramain oleh
penguasa Ibn Saud yang beraliran Wahabi, para ulama pesantren membentuk sebuah komite
yang disebut dengan “komite Hijaz” yang terdiri dari 11 ulama pesantren. Dengan dimotori
oleh K.H. Wahab Hasbullah dari Jombang Jatim, seorang kiai produk perguruan Haramain,
komite ini bertugas melakukan negosiasi dengan raja Saudi yang akan memberlakukan
kebijakan penghancuran makam-makam dan peninggalan-peninggalan bersejarah dan usaha
itu berhasil. Dan, dalam perkembangannya komite ini kemudian berlanjut mengikuti isu-isu
politik di dalam negeri. Untuk masuk dalam wilayah politik praktis secara intens organisasi
ini kemudian mengalami perubahan nama dari Nahdlatul Wathan (NW) sampai jadi
Nahdlatul Ulama (NU). Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa KH.Nawawi merupakan
sosok ulama yang menjadi “akar tunjang” dalam tradisi keintelektualan NU. Sebab
karakteristik pola pemikirannya merupakan representasi kecenderungan pemikiran tradisional
yang kuat di tengah-tengah gelombang gerakan purifikasi dan pembaharuan. Kehadiran NU
adalah untuk membentengi tradisi ini dari ancaman penggusuran intelektual yang
mengatasnamakan tajdid terhadap khasanah klasik. Karenanya formulasi manhaj al-Fikr
tawaran KH. Nawawi banyak dielaborasi (diuraikan kembali) oleh para ulama NU sebagai
garis perjuangannya yang sejak tahun 1926 dituangkan dalam setiap konferensinya. Bahkan
tidak berlebihan bila disebut berdirinya NU merupakan tindak lanjut institusionalisasi dari
arus pemikiran KH. Nawawi Banten.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:4/14/2013
language:Unknown
pages:10