Docstoc

PERAN PAUD DALAM MENDUKUNG PROGRAM PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER By Wenny

Document Sample
PERAN PAUD DALAM MENDUKUNG PROGRAM PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER By Wenny Powered By Docstoc
					          PERAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) DALAM
  MENDUKUNG PROGRAM PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER :
                                 SUATU PEMIKIRAN
                         oleh : Wenny Indriyarti Putri, S.Si


Abstrak
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu faktor penting dalam pendidikan di
Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada tahun
2010 Pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Pendidikan Indonesia memulai wacana
tentang Pendidikan Berbasis Karakter. Dalam pidatonya pada Hari Pendidikan tanggal 2 Mei
2011 yang lalu, Menteri Pendidikan Indonesia menyatakan bahwa mulai tahun ajaran
2011/2012 pendidikan berbasis karakter akan dijadikan gerakan nasional, mulai dari PAUD
sampai dengan Perguruan Tinggi, termasuk di dalamnya pendidikan Nonformal dan Informal.
Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter pada PAUD, terutama pada jalur formal, tentunya
mempunyai hambatan tersendiri antara lain keadaan ekonomi orang tua, kondisi geografis,
ketersediaan lembaga PAUD, latar belakang tenaga pendidik dan informasi yang terbatas.
Maka dari itu, artikel ini bertujuan untuk melihat hambatan – hambatan apa saja yang
mungkin akan dihadapi dalam penerapan Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD
dan memberikan rekomendasi metode pembelajaran yang sesuai menurut beberapa sumber
buku maupun artikel lain.
Kata Kunci : pendidikan anak usia dini, pendidikan berbasis karakter, metode belajar PAUD,
metode belajar berkarakter, pendidikan holistik.


Abstract
Early Childhood Education (ECD) is one important factor in education in Indonesia is
expected to improve the quality of human resources. In 2010 the Government of Indonesia,
especially Indonesian Minister of Education to start a discourse about the Character-Based
Education. In his speech at the Education Day on May 2, 2011, Indonesian Minister of
Education a stated that beginning the academic year 2011/2012 will be used as character-
based education a national movement, from early childhood through higher education,
including Non-formal and informal education.Implementation of Character-Based Education
in early childhood, especially on formal, of course, has its own barriers include parents'
economic circumstances, geographical conditions, the availability of early childhood
institutions, educators, and background information is limited. Therefore, this article aims to
look at obstacles - whatever obstacles may be encountered in the implementation of
Character-Based Education in the levels of early childhood and recommending appropriate
learning     methods   according   to   several   sources   of   books   and   other   articles.
Keywords: early childhood education, character-based education, early childhood learning
methods, methods of studying character, holistic education.


1.   LATAR BELAKANG
     Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah salah satu faktor penting dalam pendidikan
di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan
dinaikkannya anggaran dana pendidikan pada tahun 2009 oleh pemrintah, hal ini
membuktikan bahwa pemerintah Indonesia menyadari betul pentingnya pendidikan di
Indonesia.
     PAUD di Indonesia dibagi menjadi beberapa jalur menurut Pasal 28 Undang – Undang
No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, terdapat tiga jalur PAUD yaitu (1)
jalur pendidikan formal yaitu berbentuk Taman Kanak – Kanak (TK), Raudhatul Atfhal
(RA), atau bentuk lain yang sederajat; (2) jalur pendidikan nonformal yaitu dapat berbentuk
Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (3)
jalur pendidikan informal yaitu berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang
diselanggarakan oleh lingkungan.
     Pendidikan memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam menyikapi
perkembangan aktual terhadap munculnya perilaku destruktif, anarkis dan radikalis. Untuk
itu para pemangku pendidikan, terutama Kepala Sekolah, Guru, Pemimpin Perguruan Tinggi
dan dosen harus memberikan perhatian dan pendampingan lebih besar kepada peserta didik
membentuk dan menumbuhkan pola pikir dan prilaku yang berbasis kasih sayang, toleran
terhadap realitas keanekaragaman yang dibenarkan oleh peraturan dan perundangan. Maka
dari itu pada tahun 2010 pemerintah Indonesia, khususnya Menteri Pendidikan Indonesia
memulai wacana tentang Pendidikan Berbasis Karakter. Dalam pidatonya pada Hari
Pendidikan tanggal 2 Mei 2011 yang lalu, Menteri Pendidikan Indonesia, Bapak Moh. Nuh
menyatakan bahwa mulai tahun ajaran 2011/2012 pendidikan berbasis karakter akan
dijadikan gerakan nasional, mulai dari PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi, termasuk di
dalamnya pendidikan Nonformal dan Informal.
     Berdasarkan hal tersebut di atas, maka artikel ini fokus dalam melihat peran PAUD
dalam mendukung program pemerintah tersebut. Artikel ini juga bertujuan untuk melihat
hambatan – hambatan apa saja yang mungkin akan dihadapi dalam penerapan Pendidikan
Berbasis Karakter pada tingkat PAUD dan memberikan rekomendasi metode pembelajaran
yang sesuai menurut beberapa sumber buku maupun artikel lain. Diharapkan melalui artikel
ini dapat dilihat bahwa pencanangan pendidikan berbasis karakter oleh pemerintah dapat
dilaksanakan secara efektif dan menyeluruh.


2.   PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER
     Menurut Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan nasional berfungsi (1) Mengembangkan kemampuan dan membentuk
karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa; (2) Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
     Sohan Modgil, etc dalam bukunya Multicultural Education : The Interminable Debate
(1986) menyatakan bahwa hasil yang diinginkan dalam suatu pendidikan adalah :
1.   Manusia yang kritis, imajinatif, self-criticsm, mampu mengungkapkan pendapat mampu
     berargumen, mampu mengumpulkan bukti yang kuat dan membuat kesimpulan,
2.   Suatu hari dapat menjadi manusia yang berpendirian kuat dan hidup sebagai manusia
     bebas. Bebas disini mempunyai arti bebas dari ketidakpedulian, dogma, prasangka dan
     pada akhirnya bisa bebas memilih kepercayaan dan dapat merencanakan hidupnya,
3.   Meningkatkan kualitas intelektual dan moral, keterbukaan pada dunia, bersikap
     objektivitas, keingintahuan akan ilmu, kemanusiaan dan pada akhirnya menghormati
     dan peduli pada sesama,
4.   Bertujuan untuk mensosialisasikan peserta didik kepada intelektual yang lebih luas,
     moral, agama, dan pencapaian lain dalam diri manusia.
     Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Pemerintah Indonesia, dalam hal ini khususnya
Menteri Pendidikan Indonesia mencanangkan pendidikan berbasis karakter sebagai gerakan
nasional mulai tahun ajaran 2011/2012. Pendidikan berkarakter ini dinilai penting dimulai
sejak dini karena merekalah nantinya yang akan melanjutkan pembangunan Bangsa dan
Negara Republik Indonesia.
3.   PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)
     Menurut Pasal 28 Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional : (1) PAUD diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar; (2) PAUD dapat
diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan/atau informal; (3) PAUD
pada jalur jalur pendidikan formal yaitu berbentuk Taman Kanak – Kanak (TK), Raudhatul
Atfhal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) PAUD pada jalur pendidikan nonformal
yaitu dapat berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk
lain yang sederajat; (5) PAUD pada jalur pendidikan informal yaitu berbentuk pendidikan
keluarga atau pendidikan yang diselanggarakan oleh lingkungan.
     Tujuan utama PAUD adalah memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak sedini
mungkin baik pada aspek fisik, psikis dan sosial secara menyeluruh (Supriadi dalam Agung,
2010). Pembelajaran pada PAUD didasarkan atas sejumlah prinsip, yaitu : (1) didasarkan atas
perkembangan anak; (2) belajar sambil bermain; (3) dilaksanakan dalam lingkungan yang
kondusif dan inovatif; (4) dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan terpadu; serta (5)
diarahkan pada pengembangan potensi kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu (Iskandar
Agung, 2010). Pendidik pada kelembagaan PAUD, menurut Undang – Undang no. 14 Tahun
2005 tentang Guru dan Dosen, haruslah berpendidikan minimal S1/D4.


4.   HAMBATAN DALAM PENYELENGGARAAN PAUD BERBASIS KARAKTER
     4.1 Pendidikan Anak Usia Dini Pada Jalur Formal dan Nonformal
          Kebijakan pemerintah dalam mencanangkan Pendidikan Berbasis Karakter sebagai
     gerakan nasional tentunya perlu mendapat perhatian khusus. Dalam pidatonya pada
     Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2011 yang lalu, Menteri Pendidikan Nasional
     Bapak Moh. Nuh menyatakan bahwa kita harus mulai memberikan perhatian khusus
     pada PAUD karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan pembangunan Bangsa
     dan Negara Republik Indonesia.
          Kondisi tumbuh kembang anak yang baik akan berpengaruh pada kualitas manusia
     (anak) di kemudian hari. Riset atas perkembangan anak dan hasil pendidikan
     menunjukkan keuntungan jangka panjang dan jangka pendek dari PAUD (Barnett, S.W
     1992; Hart dan Schumacher, 2004; Shore, 1997 dalam Agung, 2010). Keuntungan
     jangka pendek PAUD adalah peningkatan aspek kecerdasan anak, sedangkan
     keuntungan jangka panjang adalah peningkatan angka penyelesaian sekolah (Agung,
     2010).
     Penyelanggaran PAUD di Indonesia masih menemui beberapa hambatan, salah
satunya adalah tingkat partisipasi masyarakat yang masih rendah. Berdasarkan data
pada tahun 2009, dari 28.6 juta anak berusia 0-6 tahun, 15.3 juta anak sudah terlayani
PAUD baik formal mau pun nonformal. Hasil ini walaupun meningkat dari tahun –
tahun sebelumnya, tetap saja memprihatinkan, karena jika mengacu pada Pembukaan
Undang – Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa negara berkewajiban
mencerdaskan kehidupan bangsa, berarti negara harus berupaya memberikan dan
menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia tanpa kecuali.
     Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam menyertakan anaknya mengikuti
PAUD formal ataupun nonformal tentu saja disebabkan oleh beberapa faktor, di
antaranya :
1.   Kemampuan Ekonomi Orang Tua. Sebagian besar lembaga PAUD, baik formal
     maupun nonformal, yang ada di Indonesia diselenggarakan oleh masyarakat dalam
     bentuk sebuah yayasan. Oleh karena itu biaya pendidikannya tentu saja dibebankan
     kepada orang tua dan karena kebutuhan biaya yang besar itulah maka banyak orang
     tua memutuskan untuk tidak mengikutsertakan anaknya kedalam lembaga PAUD
     tersebut. Hal ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia
     agar dapat memastikan pemerataan dan perluasan pendidikan, khususnya PAUD,
     sehingga semua anak Indonesia dapat menikmati pendidikan sejak usia dini.
2.   Kondisi Geografis. Kondisi geografis yang kurang mendukung pemberian
     kesempatan memperoleh pendidikan seorang anakadalah jarak dan waktu tempuh
     dari rumah ke sekolah. Waktu tempuh dipengaruhi oleh jarak tempuh dan
     ketersediaan sarana transportasi (Balitbang, 2002). Pada kasus PAUD, dikarenakan
     peserta didiknya berusia 0 – 6 tahun, maka lokasi lembaga PAUD terkait menjadi
     sangat penting bagi orang tua yang ini mengikutsertakan anak – anaknya. Jarak
     tempuh yang jauh dan minimnya sarana transportasi tentu saja menyulitkan
     terutama bagi orang tua bekerja.
3.   Motivasi Orang Tua. Motivasi dapat diartikan sebagai keinginan atau dorongan
     (Balitbang, 2002). Hambatan ini biasanya kita jumpai di daerah pedesaan dimana
     masyarakat di pedesaan masih memiliki anggapan bahwa anaknya tidak perlu
     disekolahkan sampai ke perguruan tinggi, apalagi dimulai dari TK/RA. Bagi
     mereka yang terpenting adalah bagaimana nantinya anak mereka dapat membantu
     perekonomian keluarga. Hal ini juga terkait dengan pemahaman masyarakat bahwa
     sekolah yang wajib hanyalah SD sampai dengan SMP sesuai dengan program
     Wajib Belajar 9 Tahun dari pemerintah. Maka dari itu perlu adanya sosialisasi oleh
     pemerintah, baik pusat maupun daerah, akan pentingnya pendidikan anak usia dini
     kepada seluruh lapisan masyarakat.
4.   Ketersediaan Lembaga PAUD. Poin ini sangat erat kaitannya dengan poin 2
     sebelumnya. Sebagian besar Lembaga PAUD baik formal maupun nonformal
     hanya berada di kota – kota besar sehingga bagi orang tua yang lokasi tempat
     tinggalnya jauh dari tempat penyelenggaraan PAUD tersebut mengurungkan
     niatnya untuk mengikutsertakan anaknya. Selain itu, rasio antara jumlah penduduk,
     dalam hal ini anak usia 0 – 6 tahun, yang tidak sebanding dengan jumlah Lembaga
     PAUD yang tersedia di suatu daerah juga merupakan hambatan dalam pelaksanaan
     PAUD. Pada poin ini dapat kita simpulkan pentingnya pemerataan pendidikan oleh
     pemerintah. Pemerataan pendidikan memiliki arti pemberian kesempatan yang
     sama kepada setiap anak untuk mendapatkan pendidikan pada usia dini baik secara
     formal ataupun nonformal. Salah satu indikator yang menunjukkan pemerataan
     kesempatan pendidikan ini adalah Angka Partisipasi, yaitu rasio antara jumlah
     penduduk dengan jumlah penduduk usia sekolah yang dalam PAUD berarti usia 0
     – 6 tahun
     Dari sisi tenaga pendidik, pendidik pada lembaga PAUD terutama pada jalur
formal masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan data Pusat Statistik Pendidikan
tahun 2009/2010, dari total 276.835 orang guru dan kepala sekolah pada tingkat TK,
hampir 80% atau 237.446 di antaranya berlatarbelakang pendidikan dibawah S1
sedangkan Undang – Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
mensyaratkan minimal S1/D4. Sebagian besar pendidik di TK/RA berlatarbelakang
pendidikan SPG/SLTA keguruan. Selain dilihat dari segi latarbelakang pendidikan,
tenaga pendidik PAUD tentu harus dilihat kompetensinya dalam menghadapi anak –
anak usia 0 – 6 tahun. Penanganan anak usia 0 – 6 tahun tentunya jauh berbeda dengan
anak 7 tahun ke atas. Maka dari itu perlunya perhatian pemerintah untuk meningkatkan
kompetensi tenaga – tenaga pendidik PAUD dengan diselenggarakannya pelatihan –
pelatihan ataupun seminar – seminar.
     Hal lain yang juga dapat menghambat penerapan Pendidikan Berbasis Karakter
pada PAUD adalah dalam metode pembelajaran di lembaga – lembaga PAUD tersebut.
Sampai saat ini masih belum ada standar resmi yang ditetapkan pemerintah mengenai
kurikulum ataupun metode pembelajaran untuk PAUD. Masing – masing lembaga
PAUD dapat menentukan sendiri metode pembelajaran dan kurikulumnya. Menurut
Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year, saat
seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle
Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu yang dikutip oleh http://www.kompas.com,
menyatakan bahwa pada taraf PAUD anak – anak sudah diajarkan dasar – dasar cara
belajar dan pondasinya. Metodenya tentu saja dengan cara belajar sambil bermain.
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak
anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk
dan tertanam. Kelas haruslah berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran.
Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun
sikap anak yang semangat untuk belajar. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa
belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu,
resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa.
Dengan metode pembelajaran yang tepat, yaitu melakukan pembelajaran sesuai dengan
kapasitas anak usia dini, maka pendidikan berbasis karakter akan efektif dilakukan dan
hasilnya diharapkan menjadi bekal bagi mereka ketika masuk sekolah dasar bahkan
pada pendidikan yang lebih tinggi.
4.2 Pendidikan Anak Usia Dini Pada Jalur Informal.
    PAUD pada jalur informal berbentuk pendidikan yang diselenggarakan oleh
keluarga ataupun oleh lingkungan. Anak usia 0 – 6 tahun biasanya akan mengikuti apa
yang dilakukan oleh orang tua mereka di rumah dan orang – orang terdekat di
lingkungannya. Oleh karena itu, PAUD pada jalur informal ini memiliki peran yang
jauh lebih penting karena pada kenyataannya pendidikan karakter seorang anak dimulai
dari dalam keluarga. PAUD pada jalur informal ini terbentuk ketika para orang tua
mengalami hambatan dalam mengikutsertakan anaknya ke lembaga – lembaga PAUD
formal maupun nonformal yang tersedia. Sehingga para orang tua memilih untuk
mendidik anak – anaknya sendiri di rumah sebagai bekal mereka memasuki sekolah
dasar nantinya.
    Hambatan yang ada dalam PAUD informal ini adalah kurangnya informasi yang
didapat oleh para orang tua tentang apa itu pendidikan berbasis karakter yang mulai
dicanangkan oleh pemerintah terurtama bagi para orang tua yang tinggal di pedesaan.
Tidak ada kurikulum khusus yang mengatur PAUD pada jalur informal ini, terutama
dalam pendidikan     berbasis karakter. Sehingga para orang tua biasanya hanya
melakukan yang biasa dilakukan oleh para orang tua pada umumnya. Misal, untuk
membuat anak tersebut berempati pada orang lain, orang tua hanya perlu
     mencontohkannya sehingga anak bisa melihat dan meniru yang dilakukan orang tua
     tersebut. Hambatan lainnya adalah masalah tradisi dan adat istiadat. Kita tahu bahwa
     Indonesia adalah negara yang kaya akan adat istiadatnya. Masing – masing daerah di
     Indonesia mempunyai aturan dan prinsip – prinip tersendiri dalam hal mengasuh anak.
     Sehingga jika ingin Pendidikan Berbasis Karakter ini dijadikan gerakan nasional, maka
     perlu disesuaikan dengan adat istiadat masing – masing daerah.
          Yang penting untuk selalu ditanyakan oleh orang tua adalah 5W1H, yaitu :
     1.   What. Contohnya, apakah pendidikan berbasis karakter itu? Hasil apa yang
          diinginkan oleh pemerintah dengan pencanangan pendidikan berbasis karakter?
     2.   When. Kapan harus dimulai pendidikan karakter ini?
     3.   Where. Dimana seorang anak dapat mengikuti pendidikan yang mendukung
          program pemerintah tersebut?
     4.   Why. Mengapa pendidikan berbasis karakter ini menjadi penting sehingga
          dijadikan sebagai gerakan nasional?
     5.   Who. Siapa saja yang dapat menyelenggarakan program ini? Siapa saja
          sasarannya?
     6.   How. Bagaimana cara kita, khususnya orang tua yang tidak mengikutkan anaknya
          ke dalam lembaga PAUD, dapat ikut mendukung program pemerintah tersebut?
          Bagaimanakah metode yang efektif utnuk membentuk karakter seorang anak
          sehingga dapat mencapai tujuan dan hasil yang sama dengan yang dicanangkan
          oleh pemerintah.


5.   REKOMENDASI METODE PEMBELAJARAN PENDIDIKAN BERBASIS
     KARAKTER PADA PAUD.
     Sampai saat ini PAUD pada jalur formal dan nonformal belum mempunyai kurikulum
tetap yang ditetapkan oleh pemerintah. Maka dari itu masing – masing lembaga PAUD harus
menyusun dengan baik metode pembelajaran yang efektif supaya pendidikan berbasis
karakter ini dapat tersampaikan dengan baik.
     Beberapa artikel ataupun penelitian telah memberikan banyak rekomendasi tentang
metode pembalajaran yang efektif terkait pendidikan berbasis karakter ini. UNESCO salah
satunya, menerbitkan buku tentang pembelajaran yang dapat moulding the mind and
character young generation. Metode pembelajaran yang dimaksud adalah :
     1.   Learning To Know, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik
          menghayati dan akhirnya dapat merasakan dan dapat menerapkan cara memperoleh
          pengetahuan, suatu proses yang memungkinkan tertanamya sikap ilmiah, yaitu
          sikap ingin tahu dan selanjutnya menimbulkan rasa mampu untuk selalu mencari
          jawab atas masalah yang dihadapi. Hasil yang diharapkan adalah menciptakan
          peserta didik yang memiliki rasa joy of discovery. Untuk menerapkan proses
          belajar seperti ini diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, guru yang
          profesional, dan sistem evaluasi yang terus menerus. Pada PAUD jalur informal,
          proses pembelajaran ini bisa dilakukan dengan cara membacakan buku cerita atau
          mengajak anak berkunjung ke tempat – tempat yang berkaitan dengan pendidikan,
          tentunya proses ini harus dijalankan secara konsisten.
     2.   Learning To Do. Pada proses belajar ini, sasaran akhir yang diinginkan adalah
          generasi muda yang dapat bekerja secara cerdas dengan memanfaatkan IPTEK.
          Proses belajar seperti ini memerlukan suasana atau situasi pembelajaran yang
          memungkinkan peserta didik menghadapi masalah untuk dipecahkan. Seperti
          misalnya bekerja secara berkelompok. Orang tua dapat pula menerapkan proses
          pembelajaran ini dengan cara mengajak serta anak ketika akan berkebun atau
          mengerjakan pekerjaan rumah.
     3.   Learning To Live Together. Ketidakharmonisan antar umat manusia yang sering
          terjadi akhir – akhir ini di Indonesia membuat proses pembelajaran ini menjadi
          sangat penting. Hasil yang diinginkan pada proses ini adah menciptakan manusia
          yang tidak hanya bisa bekerja serta memecahkan masalah, tetapi juga mempunyai
          kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain dengan penuh toleransi,
          pengertian dan tanpa prasangka. Proses pembelajaran seperti ini perlu menciptakan
          situasi kebersamaan dalam waktu yang relatif lama.
     4.   Learning To Be. Proses pembelajaran ini merupakan hasil akhir dari ketiga proses
          yang sebelumnya. Diharapkan ketika ketiga proses yang sebelumnya dapat
          terlaksana dengan baik dan juga mencapai hasil yang diinginkan, maka pada
          akhirnya akan tercipta manusia yang mempunyai kepribadian mantap dan mandiri.
     Proses – proses pembelajaran di atas dapat terlaksana dengan baik tentu saja tidak lepas
dari peran pendidiknya, dalam hal ini adalah guru dan orang tua. Dalam hal menanamkan
karakter kepada anak – anak usia dini tentunya perlu penanganan yang tidak biasa seperti
menangani anak – anak usia sekolah dasar atau lebih tinggi. Para pendidik dianjurkan untuk
bisa mengasah kreativitasnya dalam melakukan metode pembelajaran. Kreativitas yang
dimaksud di sini adalah kemampuan pendidik dalam meninggalkan gagasan, ide – ide, hal –
hal yang dinilai mapan, rutinitas, usang, dan beralih untuk menghasilkan atau memunculkan
gagasan, ide – ide, dan tindakan yang baru dan menarik, apakah itu utnuk pemecahan suatu
masalah, suatu metode atau alat, suatu obyek atau bentuk artistik yang baru, dan lain –
lainnya. Kemampuan menghasilkan atau memunculkan gagasan, ide – ide baru itu terwujud
ke dalam pola perilaku yang dinilai kreatif pula (Agung, 2007). Kreativitas para pendidik
pada PAUD dianggap perlu dan penting dikarenakan anak – anak usia 0 – 6 tahun pada
dasarnya masih senang bermain daripada harus belajar duduk di kelas dari pagi sampai siang.
Maka dari itu, walaupun pendidik pada PAUD sudah memiliki kualifikasi pendidikan yang
cukup dan dapat menguasai bahan ajaran yang ditentukan, tetapi kurang mampu
mengemasnya dalam kegiatan belajar – mengajar kepada peserta didik, mengakibatkan
peserta didik akan cepat bosan dan tentunya bahan ajaran yang disampaikan tidak akan
diterima dengan baik oleh peserta didik. Pada PAUD, konsep utama dalam belajar mengajar
adalah belajar sambil bermain. Maka pelaksanaan konsep belajar sambil bermain inilah yang
memerlukan kretivitas pendidiknya.
     Metode pembelajaran lainnya yang dapat dijadikan referensi adalah menyelenggarakan
pendidikan alternatif seperti sekolah alam. Saat ini sudah banyak lembaga – lembaga PAUD,
terutama lembaga PAUD formal, yang menerapkan konsep sekolah alam. Pada dasarnya
sekolah alam ini memiliki keinginan untuk memperkenalkan kembali manusia kepada
alamnya. Di sekolah alam ini, anak – anak akan diajarka untuk menghargai dan menghormati
alam sekitarnya. Konsep belajar kepada alam ini tentu saja dapat membuat anak – anak lebih
menghargai dan mempunyai rasa empati dan simpati terhadap makhluk hidup lainnya. Hal ini
tentu saja sejalan dengan Pendidikan Berbasis Karakter yang dicanangkan oleh pemerintah.
     Dalam sebuah artikel, Indonesia Heritage Foundation (IHF) juga merekomendasikan
sebuah metode pembelajaran yang dapat mendukung program pendidikan berbasis karakter
ini, yaitu Model Pendidikan Holistik. Model Pendidikan Holistik ini memfokuskan pada
pembentukan 9 Pilar Karakter kepada para peserta didik. 9 Pilar Karakter yang dimaksud
adalah (1) Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya; (2) Tanggung jawab, Kedisiplinan dan
Kemandirian; (3) Kejujuran/Amanah dan Arif; (4). Hormat dan Santun; (5). Dermawan, Suka
menolong dan Gotong-royong / Kerjasama; (6). Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras; (7).
Kepemimpinan dan Keadilan; (8). Baik dan Rendah Hati; (9). Toleransi, Kedamaian dan
Kesatuan. Disamping 9 Pilar karakter di atas, IHF juga mengembangkan materi untuk
mengajarkan kebersihan, kesehatan, kerapian dan keamanan pada anak. Metode yang
digunakan disebut sebagai “Refleksi Rutin” atau Apperception. Setiap pagi anak-anak
diminta untuk mengikuti kegiatan refleksi Pilar selama 15-20 menit sesuai dengan Pilar yang
sedang diterapkan saat itu (Maryuni, 2011).
     Beberapa metode yang telah disebutkan di atas hanya merupakan sebuah referensi dari
berbagai hasil penelitian dan buku. Pada PAUD tentu saja yang terutama adalah melakukan
metode belajar – mengajar yang mangacu pada kemampuan masing – masing anak. Dalam
satu metode penerapannya tentu bisa berbeda tergantung dari pribadi anak masing – masing
yang menjadi sasaran. Peran orang tua juga tidak kalah pentingnya, walaupun sudah
diikutsertakan ke dalam lembaga PAUD baik formal maupun nonformal, karakter seorang
anak tetap dibentuk dari keluarga sendiri.
5.   SIMPULAN DAN SARAN
     5.1 SIMPULAN
          5.1.1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan faktor penting dalam
                 pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2011, Pemerintah Indonesia,
                 khususnya Menteri Pendidikan Indonesia, mulai mencanangkan Pendidikan
                 Berbasis Karakter sebagai gerakan Nasional yang dimulai dari PAUD
                 sampai Perguruan Tinggi.
          5.1.2 Menurut Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 Tentang Sistem
                 Pendidikan Nasional, pendidikan nasional berfungsi (1) Mengembangkan
                 kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
                 bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; (2) Pendidikan
                 nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
                 manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
                 berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
                 negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
          5.1.3 Menurut Pasal 28 Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
                 Pendidikan Nasional : (1) PAUD diselenggarakan sebelum jenjang
                 pendidikan dasar; (2) PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur
                 pendidikan formal, nonformal dan/atau informal; (3) PAUD pada jalur jalur
                 pendidikan formal yaitu berbentuk Taman Kanak – Kanak (TK), Raudhatul
                 Atfhal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) PAUD pada jalur
                 pendidikan nonformal yaitu dapat berbentuk Kelompok Bermain (KB),
                 Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (5) PAUD
                 pada jalur pendidikan informal yaitu berbentuk pendidikan keluarga atau
                 pendidikan yang diselanggarakan oleh lingkungan.
          5.1.4 Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD formal dan
                 nonformal memiliki berbagai hambatan, di antaranya adalah tingkat
       partisipasi masyarakat yang masih rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh
       berbagai faktor antara lain faktor ekonomi keluarga, kondisi geografis,
       motivasi dari orang tua dan ketersediaan Lembaga PAUD baik formal
       maupun nonformal.
5.1.5 Hambatan lainnya dalam pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter ini
       adalah dari segi tenaga pendidik. Dalam Undang – Undang no. 14 Tahun
       2005 Tentang Guru dan Dosen mensyaratkan latar belakang pendidik
       minimal S1/D4. Namun pada kenyataannya, tenaga pendidik untuk PAUD
       pada jalur formal (TK/RA) sebagian besar memiliki latar belakang
       pendidikan SPG/SLTA keguruan.
5.1.6 Dari segi metode belajar yang dilaksanakan oleh lembaga – lembaga PAUD
       formal dan nonformal juga dapat menjadi hambatan tersendiri. Metode
       belajar pada tingkat PAUD yang diutamakan adalah belajar sambil bermain.
       Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat
       bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu,
       pendidikan pun bisa masuk dan tertanam.              Kelas haruslah berisi
       kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran.
5.1.7 Pada PAUD jalur informal, pelaksanaan Pendidikan Berbasis Karakter juga
       menemui berbagai hambatan. Hambatan yang paling utama adalah
       kurangnya informasi yang didapat oleh para orang tua tentang betapa
       pentingnya pendidikan anak yang berbasis karakter.
5.1.8 Hambatan lainnya adalah masalah tradisi dan adat istiadat. Kita tahu bahwa
       Indonesia adalah negara yang kaya akan adat istiadatnya. Masing – masing
       daerah di Indonesia mempunyai aturan dan prinsip – prinip tersendiri dalam
       hal mengasuh anak. Sehingga jika ingin Pendidikan Berbasis Karakter ini
       dijadikan gerakan nasional, maka perlu disesuaikan dengan adat istiadat
       masing – masing daerah.
5.1.9 Beberapa rekomendasi pembelajaran yang telah banyak diberikan melalui
       berbagai penelitian dan pendapat para ahli dapat digunakan sebagai bahan
       acuan dalam Pendidikan Berbasis Karakter pada tingkat PAUD. UNESCO
       telah menerbitkan buku tentang pembelajaran yang dapat moulding the
       mind and character young generation. Dalam buku tersebut dijelaskan
       metode pembelajaran yang efektif adalah Learning To Know, Learning To
       Do, Learning To Live Together, dan Learning To Be.
5.1.10 Indonesia Heritage Foundation (IHF) merekomendasikan metode belajar
      yang disebut Model Pendidikan Holistik. Model Pendidikan Holistik ini
      memfokuskan pada pembentukan 9 Pilar Karakter kepada para peserta
      didik. 9 Pilar Karakter yang dimaksud adalah (1) Cinta Tuhan dan segenap
      ciptaanNya; (2) Tanggung jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian; (3)
      Kejujuran/Amanah dan Arif; (4). Hormat dan Santun; (5). Dermawan, Suka
      menolong dan Gotong-royong / Kerjasama; (6). Percaya Diri, Kreatif dan
      Pekerja keras; (7). Kepemimpinan dan Keadilan; (8). Baik dan Rendah
      Hati; (9). Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan. Disamping 9 Pilar karakter
      di atas, IHF juga mengembangkan materi untuk mengajarkan kebersihan,
      kesehatan, kerapian dan keamanan pada anak. Metode yang digunakan
      disebut sebagai “Refleksi Rutin” atau Apperception. Setiap pagi anak-anak
      diminta untuk mengikuti kegiatan refleksi Pilar selama 15-20 menit sesuai
      dengan Pilar yang sedang diterapkan saat itu (Maryuni, 2011).
5.1.11 Metode pembelajaran lainnya yang dapat dijadikan referensi adalah
      menyelenggarakan pendidikan alternatif seperti sekolah alam. Saat ini
      sudah banyak lembaga – lembaga PAUD, terutama lembaga PAUD formal,
      yang menerapkan konsep sekolah alam. Pada dasarnya sekolah alam ini
      memiliki keinginan untuk memperkenalkan kembali manusia kepada
      alamnya. Di sekolah alam ini, anak – anak akan diajarka untuk menghargai
      dan menghormati alam sekitarnya. Konsep belajar kepada alam ini tentu
      saja dapat membuat anak – anak lebih menghargai dan mempunyai rasa
      empati dan simpati terhadap makhluk hidup lainnya.
5.1.12 Selain metode pembelajaran yang baik, Pendidikan Berbasis Karakter perlu
      didukung oleh kreativitas dari tenaga pendidik dalam mengemas metode –
      metode tersebut menjadi sistem belajar mengajar yang efektif. Kreativitas
      yang dimaksud di sini adalah kemampuan pendidik dalam meninggalkan
      gagasan, ide – ide, hal – hal yang dinilai mapan, rutinitas, usang, dan
      beralih untuk menghasilkan atau memunculkan gagasan, ide – ide, dan
      tindakan yang baru dan menarik, apakah itu utnuk pemecahan suatu
      masalah, suatu metode atau alat, suatu obyek atau bentuk artistik yang baru,
      dan lain – lainnya
     5.2 SARAN
         Sesuai dengan pencanangan yang telah dilakukan oleh pemerintah, yaitu
     Pendidikan Berbasis Karakter sebagai Gerakan Nasional yang akan dimulai dari tingkat
     PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi, maka dapat kita simpulkan bahwa PAUD
     memiliki faktor yang penting dalam membentuk karakter anak.
         Dari berbagai hambatan yang telah diuraikan, maka disarankan berbagai langkah
     sebagai berikut :
         5.2.1 Perlu adanya pemerataan pendidikan, khususnya pada tingkat PAUD formal
                 dan nonformal sehingga seluruh anak di Indonesia usia 0 – 6 tahun dapat
                 merasakan PAUD pada jalur formal maupun nonformal. Pemerataan
                 pendidikan yang dimaksud adalah memperbanyak lembaga PAUD formal
                 dan nonformal.
         5.2.2 Perlu sosialisasi yang menyeluruh, baik oleh pemerintah pusat maupun
                 pemerintah daerah, mengenai apa itu Pendidikan Berbasis Karakter,
                 bagaimana anak – anak mendapatkannya, dan sebagainya.
         5.2.3 Peningkatan kualitas tenaga pendidik PAUD pada tingkat formal dan
                 nonformal melalui pelatihan – pelatihan dan seminar – seminar. Pelatihan –
                 pelatihan yang dilakukan juga harus menyeluruh dan dapat langsung
                 dipraktekan (tidak hanya berupa materi saja).
         5.2.4 Jika memungkinkan, PAUD dapat dijadikan pendidikan wajib seperti SD
                 dan SMP untuk menunjang pemerataan PAUD di Indonesia.
         5.2.5 Perlu adanya kurikulum yang tetap untuk PAUD sehingga dapat diterapkan
                 menyeluruh oleh lembaga – lembaga PAUD formal di Indonesia.
                 Kurikulum ini tentu harus disesuaikan dengan keadaan masing – masing
                 daerah terkait dengan keragaman adat istiadat yang berbeda di Indonesia.
         5.2.6 Adanya pengalokasian dana oleh pemerintah untuk PAUD dalam hal
                 memberikan fasilitas belajar dan bermain untuk PAUD.


Daftar Pustaka
   Agung, I. 2010. Perluasan Wajib Belajar 12 Tahun : Suatu Pemikiran. Jurnal Penelitian
    Kebijakan Pendidikan : 119 – 135
   Agung, I dan Drs. Suharjono, MM. 2007. Inventarisasi dan Kajian Inovasi Pendidikan :
    Penyelenggaraan Pendidikan Alternatif (Sekolah Alam dan SMP Alternatif). Pusat
    Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Kemdiknas : Jakarta
   Agung, I dan Drs. Suharjono, MM. 2007. Kreativitas Pembelajaran di Jenjang Dikdas.
    Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Kemdiknas : Jakarta.
   http://female.kompas.com/read/2011/02/12/19564528/Ada.Apa.dengan.Pendidikan.Anak
    .Usia.Dini.di.Indonesia. diakses 1 Juni 2011.
   http://female.kompas.com/read/2009/05/15/20340696/Fokuskan.Pendidikan.Usia.Dini.ke
    .Anak.Usia.0-6.Tahun. diakses 1 Juni 2011.
   http://female.kompas.com/read/2011/02/13/05354263/Mengapa.Pendidikan.Anak.Usia.D
    ini.Penting. diakses 1 Juni 2011.
   Indonesia Heritage Foundation, Model Pendidikan Holistik. Tersedia : http://ihf-
    org.tripod.com. Diakses 1 Juni 2011.
   Pusat Statistik Pendidikan. 2010. Statistik Pendidikan Nonformal. Kemdiknas : Jakarta.
   Pusat Statistik Pendidikan. 2010. Statistik Pendidikan TK. Kemdiknas : Jakarta.
   Yendri, W, Nur Berlian dan LH. Winingsih. 2007. Pemerataan dan Perluasan Akses
    Pendidikan. Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Balitbang Kemdiknas :
    Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:0
posted:4/14/2013
language:Unknown
pages:15