Docstoc

Kerukunan-Antar-Umat-Beragama

Document Sample
Kerukunan-Antar-Umat-Beragama Powered By Docstoc
					                    MAKALAH
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM
            PANDANGAN ISLAM




                         Oleh :

        1. Aditya Hendra S   (125030405111006)

        2. Wiwit Kurniawati (125030400111010)




             KELAS A PERPAJAKAN A

         FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

      DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
       UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
                       2012/2013
                            KATA PENGANTAR


      Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Kerukunan umat
beragama dalam pandangan Islam”
      Penulisan makalah merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam
mata kuliah PAI fakultas ilmu administrasi.
      Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
      Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini,
      Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita.Kita berdoa kepada Allah mudah-mudahan makalah ini dapat membantu
kita mengetahui makna kerukunan antar umat beragama dalam pandangan Islam
. Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.




                                                     Malang,7 Oktober 2012




                                                       Penyusun
                                         BAB I
                                   PENDAHULUAN


1.1    Latar belakang



                 Agama Islam mengakui keberagaman agama yang dianut oleh
      manusia, karena itu agama Islam tidak hanya mengajarkan tata cara
      hubungan sesama umat Islam, tetapi juga hubungan dengan umat beragama
      lain.



1.2Permasalahan
              Pemahaman islam yang masih sempit menjadi salah satu bibit
      munculnya permusuhan terhadap sesamanya. Apakah permusuhan sesama
      manusia merupakan sikap yang dibenarkan oleh islam?

              Ada perbedaan yang mendasar antara umat yang berbeda agama
      didunia (pluralitas agama), namun apakah antara keduanya tidak saling
      memerlukan?



1.3Tujuan
              Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain:

      1. Mewujudkan kesadaran dan menjalin hubungan pribadi yang akrab dalam
         menghadapi masalah bersama.
      2. Memberikan informasi kepada pembaca tentang pentingnya kerukunan
         antar umat beragama.
      3. Memotivasi dan mendinamisasikan umat beragama khususnya umat islam
         agar dapat ikut serta dalam upaya menjalin tali silaturahmi.
1.4    Metode Penulisan

           Penulis memakai metode studi literatur dan kepustakaan dalam
      penulisan makalah ini. Referensi makalah ini bersumber tidak hanya dari
      buku, tetapi juga dari media media lain seperti e-book, web, blog, dan
      perangkat media massa yang diambil dari internet.
                                     BAB II

  KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DALAM PANDANGAN ISLAM

      Manusia ditakdirkan Allah sebagai makhluk sosial yang membutuhkan
hubungan dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk sosial,
manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya, baik kehidupan material maupun spiritual.

      Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong
menolong dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan
ras,bangsa dan agama. Dengan kerjasama dan tolong menolong tersebut
diharapkan manusia bisa hidup rukun dan damai dengan sesamanya.

      Kerukunan     dalam     Islam diberi istilah “tasamuh” atau toleransi.
Sehingga    yang   dimaksud    dengan    toleransi    ialah   kerukunan   sosial
kemasyarakatan, bukan dalam bidang aqidah Islamiyah (keimanan),karena
aqidah telah digariskan secara jelas dan tegas dalam Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam bidang aqidah atau keimanan seorang muslim hendaknya meyakini
bahwa Islam adalah satu-satunya agama dan keyakinan yang dianutnya sesuai
dengan firman Alah SWT dalam Surat Al-Kafirun (109) ayat 1-6 sebagai
berikut :

      Artinya : “Katakanlah,”Hai orang-orang kafir!”. Aku tidak menyembah
apa yang kamu sembah. Dan tiada (pula) kamu menyembah Tuhan yang aku
sembah. Dan aku bukan penyembah apa yang biasa kamu sembah. Dan kamu
bukanlah penyembah Tuha yang aku semba. Bagimu agamamudan bagiku
agamaku.”

      Dalam    sejarah   kehidupan    Rasulullah     SAW.,    kerukunan   sosial
kemasyarakatan telah ditampakkan pada masyarakat Madinah. Pada saat itu
rasul dan kaum muslim hidup berdampingan dengan masyarakat Madinah yang
berbeda agama (Yahudi danNasrani). Konflik yang terjadi kemudian
disebabkan adanya penghianatan dari orang bukan Islam (Yahudi) yang
melakukan persekongkolan untuk menghancurkan umat Islam.

2.1 Pengertian Ukhuwah
         Makna ukhuwah berarti persaudaraan, yang maksudnya adanya
   perasaan simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing
   pihak memiliki satu kondisi atau perasaan yang sama, baik sama suka
   maupun duka, baik senang maupun sedih. Jalinan perasaan ini menimbulkan
   sikap timbal balik untuk saling membantu bila pihak lain menglami
   kesulitan, dan sikap saling membagi kesenangan. Ukhuwah yang perlu kita
   jalin bukan hanya intern seagama saja akan tetapi yang lebih penting lagi
   adalah antar umat beragama.

2.2 Macam-macam Ukhuwah
  1. Ukhuwah Islamiyah
          Yaitu persaudaraan yang berlaku antar sesama umat Islam atau
     persaudaraan   yang diikat oleh aqidah/keimanan, tanpa membedakan
     golongan selama aqidahnya sama maka itu adalah saudara kita dan harus
     kita jalin dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT
     dalam Alqur’an surat Al Hujarat : 10, yang artinya: “Sesungguhnya
     orang-orang yang beriman itu adalah saudara, oleh karena itu
     peralatlah simpul persaudaraan diantara kamu, dan bertaqwalah kepada
     Allah, mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmatnya “.

          Dari ayat di atas jelas bahwa kita sesama umat islam ini adalah
     saudara, dan wajib menjalin terus persaudaraan di antara sesama umat
     Islam dan marilah yang mana saudara kita jadikan saudara dan janganlah
     saudara kita anggap sebagai musuh,hanya karna masalah masalah-
  masalah sepele yang tidak berarti.yang pada akhirnya mengancam
  ukhuwah Islamiyah yang pada akhirnya dapat melumpuhkan kerukunan
  dan keutuhan bangsa.

2. Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah
       Yaitu persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara
  universal tanpa membedakan ras, agama, suku dan aspek-aspek
  kekhususan lainnya. Persaudaraan yang di ikat oleh jiwa kemanusiaan,
  maksudnya kita sebagai manusia harus dapat memposisikan atau
  memandang orang lain dengan penuh rasa kasih sayang, selalu melihat
  kebaikannya bukan kejelekannya.

       Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua
  orang umat manusia adalah makhluk Allah, sekalipun Allah memberikan
  kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan
  atas pertimbangan rasionya. Jika ukhuwah insyaniyah tidak dilandasi
  dengan ajaran agama keimanan dan ketaqwaan, maka yang akan muncul
  adalah jiwa kebinatangan yang penuh keserakahan dan tak kenal halal
  dan haram bahkan dapat bersikap kanibal terhadap sesama.

3. Ukhuwah Wathoniyah
       Yaitu persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme tanpa
  membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat dan budaya dan
  aspek-aspek yang lainnya. Semua itu perlu untuk dijalin karena kita
  sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia. Mengingat pentingnya menjalin
  hubungan kebangsaan ini Rosulullah bersabda “Hubbui wathon minal
  iman”, artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk sebagian dari
  iman.

       Sebagai seorang muslim, harus berupaya semaksimal mungkin untuk
  mengaktualisasikan ketiga macam ukhuwah tersebut dalam kehidupan
     sehari-hari. Apabila ketiganya terjadi secara bersama, maka ukhuwah
     yang harus kita prioritaskan adalah ukhwah Islamiyah, karena ukhuwah
     ini menyangkut kehidupan dunia dan akherat.

2.3 Hal yang Mengahancurkan Ukhuwah Islam
     Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, menjalin ukuwah memang
  tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, mengingat banyak
  masalah yang dapat menghancurkan ukhuwah Islam tentunya membutuhkan
  perjuangan dan proses yang panjang di bawah ini adalah contoh masalah
  yang dapat menghacurkan ukhuwah Islam diantaranya:


  1. Ta’asub atau fanatisme yang berlebihan.
         Sikap fanatik yang berlebihan dengan mengagung-agungkan
     kelompokya, menganggap kelompoknya paling benar, paling baik dan
     meremehkan kelompok lain, padahal masih satu agama itu pun
     merupakan perbuatan tidak terpuji dan tidak dibenarkan dalam islam,
     karena dapat merusak tali ukhuwah.

  2. Suka bermusuhan antar umat beragama.
         Ini adalah merupakan masalah yang dapat menghancurkan ukhuwah
     Islam yang sangat berbahaya, jika dala hati manusia sudah dirasuki sifat
     hasut, dengki, iri hati maka yang ada dalam hatinya hanyalah dendam dan
     permusuhan. Jika hal ini kita akhiri maka ukhuwah akan damai dan
     tentram.



  3. Kurangnya toleransi atau tasamuh.
         Kurangnya sikap toleransi atau sikap saling menghargai dan
     menghormati terhadap peredaan-perbedaan pendapat yang terjadi,
     sehingga menutup pintu dialog secara terbuka dan kreatif, juga dapat
    penghalang dalam merajut kembali ukhuwah. Oleh karena itu perlu kita
    optimalkan secara terus menerus untuk mengembangkan sikap toleransi
    tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

2.4 Upaya dalam Mewujudkan Ukhuwah
        Ukhuwah sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT, harus terus
  menerus di upayakan penerapannya dalam kehidupan umat maanusia dalam
  rangka mewujudkan kerukunan dan perdamaian di muka bumi. Hal ini akan
  dapat tercipta manakala ukhuwah atau persaudaraan dapat di wujudkan.

        Adapun langkah-langkah konkret yang harus kita lakukan dalam
  mewujudkan ukhuwah atau persaudaraan adalah sebagai berikut:

  1. Secara terus-menerus melakukan kegiatan dakwah Islamiah terhadap
    umat Islam, tentang pentingnya menjalin ukhuwah terhadap sesamanya
    dan menjelaskan pada mereka tentang bahayanya jika kita saling
    bermusuhan. Tentunya dengan metode yang teratur dan sistematis, baik
    melalui dakwal bil lisan, dakwal bil hal dan dakwal bil qolam.
  2. Berusaha meningkatkan frekuensi silaturrahmi, saling mengunjungi,
    saling bertegur sapa baik dalam forum formal maupun informal terutama
    kepada mereka yang memutuskan hubungan baik dengan kita.
    Silaturrahmi ini di samping dapat merajut ukhuwah, juga banyak segi
    manfaatnya bagi pelaku silaturahm, sebagaimana di sabdakan oleh
    rosulullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang ingi dilapangkan
    rizqinya dan di panjangkan umumnya maka yang senang silaturahmi”.
  3. Memperbanyak dialog internal maupun antar umat beragama untuk
    menyamakan persepsi terhadap setiap permasalahan yang fundamental
    dalam arti mencari persamaan bukan perbedaan, untuk mengantisipasi
    terhadap perbedaan pendapat yang mengarah pada konflik kontroversial,
    menahan diri dari komentar-komentar yang belum jelas, tidak mudah
      emosional dan senantiasa mengedepankan rasional dan pertimbangan
      akal sehat dan pada akhirnya tercipta budaya dialog yang sehat yang
      mengarah mempererat tali ukhuwah dan terciptanya kerukunan.
   4. Meningkatkan lembaga-lembaga lintas organisasi dan lembaga-lembaga
      pemerintahan untuk terus menerus melakukan berbagai macam kegiatan
      yang berorientasi pada upaya merajut simpul ukhuwah agar tercapai
      tatanan masyarakat penuh kerukunan dan kedamaian sebagaimana yang
      kita cita-citakan bersama.
   5. Menghimbau kepada semua umat manusia terutama umat Islam untuk
      berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas iman dan
      takwanya, karena iman dan takwanya berkulitas dan sempurna, maka
      mereka mempunyai kecenderungan untuk melakukan kebaikan dan
      kebenaran termasuk dalam hal mengaktualisasi ukhuwah dalam
      kehidupan sehari-hari.
 A. Permasalahan

    Islam tidak melarang umatnya bergaul dengan kaum non muslim.Hanya
saja, dalam pergaulan Islam telah memberikan adab-adabnya baik dengan
sesama muslim dan adab dengan non muslim.

      Dibolehkan melakukan kerjasama dalam hal hablum minannas (antar
manusia dengan manusia) seperti perdagangan, pendidikan umum, pekerjaan,
memberantas kebatilan, menolong orang yang dizhalimi, memberantas segala
bahaya terhadap kemanusiaan. Tapi tidak boleh kerjasama dalam hal agama.
Seperti ikut perayaan suatu agama, atau melakukan ibadah bersama. Ibadah
bersama yang tidak dibolehkan ini tentu saja dalam konteks ibadah manusia ke
tuhan seperti sholat atau misa. Tapi ibadah antar manusia seperti saling
memberikan hadiah/sedekah, senyum, mengucapkan salam, berbuat baik dan
lain-lain dibolehkan.
Perkawinan merupakan ikatan lahir batin yang kuat dan kekal antara dua insan,
rasa cinta kasih, kewajiban, dan pelanjutan keturunan bagi Islam. Sedangkan
perkawinan beda agama ialah suatu perkawinan yang dilakukan oleh orang-
orang yang berbeda agama antara yang satu dengan yang lainnya.

Perkawinan beda agama dikhawatirkan akan mempengaruhi keyakinan laki-laki
maupun perempuan Muslim, dan berpengaruh pula bagi pendidikan anak-
anaknya kelak, bahkan sering menjadi kendala dalam membangun kehidupan
rumah tangga yang bahagia sejahtera. Sehingga perkawinan semacam ini akan
menimbuikan kerusakan (mafsadah) yang lebih besar dari kemanfaatannya
(maslahah).

Ada 2 jenis nikah beda agama yaitu Perempuan beragama Islam nikah dengan
laki-laki non islam dan Laki-laki beragama Islam nikah dengan prempuan non
islam. Perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non Islam. Hukum
mengenai perempuan beragama Islam menikah dengan laki-laki non Islam
adalah jelas-jelas dilarang (haram). Dalil yang digunakan untuk larangan
menikahnya muslimah dengan laki-laki non Islam adalah surat Al-Baqarah
(2):221.
"Dan jangaanlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, seblum mereka beriman,
sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita yang musyrik,
walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang
musyrik (dengan wanita2 mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya
budak yg mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu”
Jadi wanita muslimah dilarang/diharamkan menikah dengan non muslim,
apapun alasannya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an. Bisa
dikatakan, jika seorang muslimah memaksakan dirinya menikah dengan laki-
laki non Islam, maka akan dianggap berzina. Sedangkan jika kita menghadiri
acara keagamaan lain itu tidak masalah asal kita tidak mengikuti ritual agama
lain tersebut.
B.   Kebersamaan dalam Pluralitas Agama
     Pada era globalisasi sekarang ini, umat beragama dihadapkan kepada
serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan yang pernah
dialami sebelumnya. Pluralitas merupakan hukum alam (sunnatulah) yang mesti
terjadi dan tidak mungkin terelakkan. Hal itu sudah merupakan kodrati dalam
kehidupan dalam QS. Al Hujarat: 13, Allah menggambarkan adanya indikasi
yang cukup kuat tentang pluralitas tersebut.
      Namun, pluralitas tidak semata menunjukkan pada kenyataan adanya
kemajemukan, tetapi lebih dari itu adanya ketrlibatan akti terhadap kenyataan
adanya pluralitas tersebut. Pluralitas agama dapat kita jumpai dimana-mana,
seprti di dalam masyarakat tertentu, di kantor tempat bekerja dan di perguruan
tinggi tempat belajar dll. Seseorang baru dikatakan memiliki sikap keterlibatan
aktif dalam pluralitas apabila dia dapat berinteraksi secara positif dalam
lingkungan kemajemukan. Pemahaman pluralitas agama menuntut sikap
pemeluk agama untuk tidak hanya mengakui keberadaan dan hak agama
lain,tetapi juga harus terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan
guna mencapai kerukunaan dan kebersamaan.
      Bila dilihat, eksistensi manusia dalam kerukunaan dan kebersamaan ini,
diperoleh pengertian bahwa arti sesungguhnya dari manusia bukan terletak
pada akunya, tetapi pada kitanya atau pada kebersamaannya. Kerukunan dan
kebersamaan ini bukan hanya harus tercipta intern seagama tetapi yang lebih
penting adalah ”antar umat beragama didunia” (pluralitas Agama).


      Kerukunan dan kebersamaan yang didambakan dalam islam bukanlah
yang bersifat semu, tetapi yang dapat memberikan rasa aman pada jiwa setiap
manusia. Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah
mewujudkannya dalam setiap diri individu, setelah itu melangkah pada
keluarga, kemudian masyarakat luas pada seluruh bangsa di dunia ini dengan
demikian pada akhirnya dapat tercipta kerukunan, kebersamaan dan
perdamaian dunia.
     Itulah konsep ajaran Islam tetang “Kerukunaan Antar Umat Beragama”,
kalaupun kenyataannya berbeda dengan realita, bukan berarti konsep
ajarannya yang salah, akan tetapi pelaku atau manusianya           yang perlu
dipersalahkan dan selanjutnya diingatkan dengan cara-cara yang hasanah dan
hikmah.


         Pertanyaan :
        1. Bagaimana pendapat Anda tentang penjagaan oleh kaum muslim
           saat perayaan hari raya agama lain? (Zainuddin Fauzi,
           125030400111007)
           -Menurut kami jika penjagaan dilakukan oleh kaum muslim itu
           tidak masalah,asalkan tidak mengikuti ritual agama yang sedang
           merayakan hari rayanya. Karena pada dasarnya kita sesama
           manusia haruslah saling membantu dan menghormati, tapi tidak
           dengan mengikuti ritual agama lain.
                                BAB III

                               PENUTUP



3.1 Kesimpulan

       Dari makalah yang berjudul “Kerukunan Antar Umat Beragama” ini
   dapat diambil kesimpulan:

   1. Islam menghormati dan menghargai semua manusia sebagai hamba
     Allah, baik mereka muslim maupun nonmuslim.
   2. Dalam agama Islam mewajibkan penganutnya untuk menjaga kerukunan
     antarumat beragama.
   3. Umat Islam diwajibkan untuk memelihara ukhuwah islamiyah.
   4. Perbedaan merupakan suatu kenikmatan dari Allah SWT yang patut di
     syukuri, karena dengan perbedaan, manusia dapat lebih menghargai hidup
     dan memperkuat persatuan dan kesatuan suatu bangsa.



3.2 Saran
   1. Jalinlah persaudaraan sesama umat beragama dan antarumat beragama,
     yang merupakan salah satu cara bertakwa kepada Allah SWT.
   2. Sebagai umat beragama, harus bisa memahami perbedaan guna mencapau
     kerukunan dan kebersamaan sebagai sesama manusia.
                                    DAFTAR PUSTAKA


   Buku:
    Tim Dosen Agama Islam Universitas Brawijaya. Pendidikan Agama Islam. 2007.
            Malang : Citra Mentari Group.

   Sumber lain:
    www.google.com
    http://eprints.undip.ac.id/10747/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5
posted:4/13/2013
language:Unknown
pages:15