Docstoc

Kerajaan Banten

Document Sample
Kerajaan Banten Powered By Docstoc
					Kerajaan Banten


Selama kurang lebih 1400 tahun setelah kerajaan Salakanagara di Banten tidak
ada kerajaan besar berdiri baru sekitar tahun 1552 berdiri Kesultanan Banten
dengan rajanya Maulana Hasanudin anak dari sinuhun sunan Gunung Jati
Cirebon.


Prabu Siliwangi yang merupakan Maharaja tatar sunda mempunyai beberapa anak
dari kentring Manik Mayang sunda yang merupakan anak dari Prabu Susuk
Tunggal yaitu Prabu Sangyang Surawisesa yang merupakan raja di Pakuan, Sang
Surosowan yang dijadikan adipati di pesisir Banten. Dari Sang surosowan
mempunyai 2 orang anak yaitu . Sang Arya Surajaya dan nyai Kawung Anten.
Dalam babad Cirebon disebutkan ketika Syarif Hidayattulah baru datang dari
Mesir dan singgah di cirebon menemui Uwa-nya bernama Pangeran Cakrabuana,
mereka pergi ke Banten untuk menyebarkan agama Islam. Di Banten Syarif
Hidayattulah kemudian menikah dengan Nyai Kawung Anten yang merupakan anak
dari Sang surosowan jadi mereka itu adalah sama-sama cucu dari Prabu
siliwangi hanya lain ibu. Dari hasil perkawinan mereka mempunyai anak
Maulana Hasanudin lahir tahun 1478 Masehi, yang merupakan penyebar agama
Islam di Banten dan penguasa (Sultan Banten I).


Di samping Maulana Hasanudin di Banten ada seorang ulama yang lebih dahulu
menyebarkan agama Islam yaitu Syech Muhammad Soleh di Gunung Santri,
Cilegon, beliau pula yang ikut mendampingi Sultan Maulana Hasanudin
meyebarkan Islam di Banten. Maulana Hasanudin mempunyai nama lain yaitu
Pangeran Sabakingkin yang diberikan oleh kakeknya Sang surosowan ada juga
yang memanggil dengan Seda Kinkin yaitu Seda (rakyat berduka) Kinkin (rindu
akan kebijaksanaan) ketika beliau meninggal rakyat merasa bersedih. Ketika
Sang surosowan (nantinya nama beliau menjadi nama keraton) meninggal dalam
usia muda beliau digantikan oleh anaknya Arya surajaya ketika itu ibukota
Banten letaknya di pedalaman dengan sungai atau lebih dikenal dengan Banten
Girang. Pangeran Sabakingkin walaupun seorang keluarga kerajaan tetapi
beliau lebih dikenal seorang guru agama Islam yang hidup dengan rakyat
biasa, maka dari itu wibawa beliau mengalahkan Ua-nya yang menjadi penguasa
di Banten. suatu ketika beliau menerima kurir dari Bapaknya sunan Gunung
Jati yang menyebutkan adanya Pasukan Cirebon+Demak yang dipimpin Fadilah
Khan (Fatahillah) sedang berlayar ke Banten dalam rangka mengusir Portugis
di sunda Kelapa. Sebelum pasukan Cirebon datang Maulana Hasanudin membuat
kerusuhan di Banten yang mengakibatkan mengungsinya penguasa Banten Girang
(Aria surajaya) ke Pakuan, Banten berhasil ditaklukan sebelum Cirebon
datang. Mengenai penguasa Banten, disamping Aria surajaya ada juga yang
menyebut Prabu Pucuk Umun, Salaka Domas. Apakah mereka itu orang yang sama
atau berbeda kurang diketahui keberadaannya. Dalam babad Banten disebutkan
ketika Maulana Hasanudin menyebarkan agama islam beliau mendapat tantangan
adu ayam jago dari Prabu Pucuk Umun di lereng gunung karang, jika ayamnya
kalah maka Prabu Pucuk Umun akan memberikan kerjaan Banten ke Maulana
Hasanudin dan Prabu Pucuk Umun ternyata kalah, beliau beserta pengikutnya
mengungsi ke Banten Selatan dan Maulana Hasanudin memberikan izin agar
daerahnya tidak diganggu mereka lebih dikenal dengan suku Badui. Adapun asal
muasal kata Banten ialah dari masuknya agama Islam bagi masyarakat Banten
merupakan dampak yang sangat baik dan harus disyukuri. Hal ini ibarat
masyarakat Banten pada waktu itu seperti "kejatuhan intan" atau "Katiban
Inten" dari sini muncul istilah "Banten", ada juga yang mengambil kata dari
"Bantahan" karena dari dahulu orang Banten dikenal orang yang keras suka
mem"bantah" melanggar aturan agama dan negara mungkin dari Bantahan itu
muncul kata Banten, terkahir ada juga yang mengkaitkan dengan nama sebuah
sungai yang mengalir di kota Serang bernama "Cibanten"




Subject: sajarah Banten 2

SULTAN-SULTAN DI BANTEN



1. Maulana Hasanudin, Sultan Banten
I (1552-1570 M)

Namanya adalah Pangeran Sebakingking, beliau adalah putera dari Sunan
Gunung Jati dari pernikahannya dengan Nhay kawunganten. Sultan Hasanudin
berkuasa di kesultanan Banten selama 18 tahun (1552-1570). Banyak kemajuan
yang dialami Banten pada masa kepemimpinan Sultan Hasanudin. Daerah
kekuasaan pun meliputi seluruh daerah Banten, Jayakarta, Kerawang, Lampung
dan Bengkulu. Seluruh kota dibentengi dengan benteng yang kuat, yang
dilengkapi meriam di setiap sudutnya. Para pedagang dari Arab, Persi,
Gujarat, Birma, Cina dan negara-negara lainnya datang ke Banten untuk
melakukan transaksi jual beli.

Pada saat itu di Banten terdapat tiga buah pasar yang ramai. Yang pertama
terletak disebelah timur kota (Karangantu), disana banyak pedagang asing
dari Portugis, Arab, Turki, India, Pegu (Birma), Melayu, Benggala, Gujarat,
Malabar, Abesinia dan pedagang dari Nusantara. Mereka berdagang sampai
pukul sembilan pagi. Pasar kedua terletak di alun-alun kota dekat masjid
agung. Pasar ini dibuka sampai tengah hari bahkan hingga sore hari. Di
pasar ini diperdagangkan merica, buah-buahan, senjata, tombak, pisau,
meriam kecil, kayu cendana, tekstil, kain, hewan peliharaan, hewan ternak,
dan pedagang Cina menjual benag sulam, sutera, damas, beludru, satin,
perhiasan emas dan porselen. Pasar ketiga berada di daerah Pecinan, yang
dibuka hingga sampai malam hari.

Disamping itu Banten pun menjadi pusat penyebaran Agama Islam, sehingga
tumbuhlah beberapa perguruan Islam di daerah Banten, seperti di Kasunyatani
di tempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari Masjid
Agung Banten. Disini pula tempat tinggal dan mengajar Kyai Dukuh yang
bergelar Pangeran Kasunyatan (Guru dari Pangeran Yusuf). Disamping
membangun Masjid Agung, Maulana Hasanudin juga memperbaiki masjid di
Pecinan dan Karangantu.
Dari pernikahannya dengan puteri Sultan Trenggano yang bernama Pangeran
Ratu atau Ratu Ayu Kirana (Pada Tahun 1526), Sultan Hasanudin memiliki
putera/i sebagai berikut : Ratu Pembayun (menikah dengan Ratu Bagus Angke
putera dari ki mas Wisesa Adimarta, yang selanjutnya mereka menetap di
Jayakarta), Pangeran Yusuf, Pangeran Arya, Pangeran Sunyararas, Pangeran
Pajajaran, Pangeran Pringgalaya, Ratu Agung atau Ratu Kumadaragi, Pangeran
Molana Magrib dan Ratu Ayu Arsanengah. Sedang dari istri yang lainnya,
Sultan Hasanudi memiliki putera/i sebagi berikut : Pangeran Wahas, Pangeran
Lor, Ratu Rara, Ratu Keben, Ratu Terpenter, Ratu Wetan dan Ratu Biru.

Sultan Hasanudin wafat pada tahun 1570, dan beliau dimakamkan di samping
Masjid Agung Banten. Kemudian sebagai Sultan Banten II di angkat puteranya
yang bernama Pangeran Yusuf.



2. Maulana Yusuf, Sultan Banten II (1570-1580 M)



Beliau adalah Putera dari Sultan Hasanudin dari pernikahanannya dengan Ratu
Ayu Kirana. Seperti juga ayahnya Maulana Yusuf ingin memajukan Banten. Tapi
pada masa Maulana Yusuf disamping pendidikan agama, juga lebih ditekankan
pada bidang pembangunan kota, keamananan dan pertanian.


Pada masanya pulalah Ibukota Pajajaran (Pakuan) dapat ditaklukan oleh
banten. Para ponggawa kerajaan Pajajaran lalu diislamkan dan masing-masing
memegang jabatannya seperti semula. Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf,
perdagangan di Banten semakin maju. bahkan bisa dikatakan bahwa pada saat
itu Banten bagaikan kota penimbunan barang-barang dari penjuru dunia yang
nantinya disebrakan ke kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. Sehingga
banten menjadi begitu ramai dikunjungi, baik dari luar maupun oleh para
penduduk nusantara. Sehingga pada masa pemerintahan Maulana Yusuf pulalah
dibuatnya peraturan penempatan penduduk berdasarkan keahliannya dan asal
daerahnya.

Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan diluar tembok kota.
seperti Kampung Pakojan terletak disebelah barat pasar Karangantu, untuk
para pedagang dari Timur Tengah, Pecinan terletak disebalh barat Masjid
Agung, untuk para pedagang dari Cina.Kampung Panjunan (Untuk para Tukang
Belanga, gerabah, periuk dsb), Kampung Kepandean (Untuk tukang Pandai
besi), Kampung Pangukiran (Untuk Tukang Ukir), Kampung Pagongan (Untuk
tukang gong), Kampung Sukadiri (Untuk para pembuat senjata). Demikian pula
untuk golongan sosial tertentu, misalkan Kademangan (untuk para demang),
Kefakihan (Untuk para ahli Fiqih), Kesatrian (Untuk para Satria, perwira,
Senopatai dan prajurit istana).

Pengelempokan pemukiman ini selain dimaksudkan untuk kerapihan dan
keserasian kota, tapi lebih penting untuk keamanan kota. Tembok kota pun
diperkuat dengan membuat parit-parit disekelilingnya, dalam babad banten
disebutkan Gawe Kuta bulawarti bata kalawan kawis Perbaikan Masjid Agung
Pun dikerjakannya, dan sebagai kelengkapan dibangun sebuah menara dengan
bantuan Cek Ban Cut arsitek muslim asal Mongolia

Disamping mengembangkan pertanian yang sudah ada,sultanpun mendorong
rakyatnya untuk membuka daerah-daerahbaru bagi persawahan.Oleh karenanya
sawah di Banten bertambah meluas sampai melewati daerah Serang
sekarang.Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah
tersebut,dibuatnya terusan-terusan dan bendungan-bendungan.Bagi persawahan
yang terletak disekitar kota,dibuatnya juga satu danau buatan yang disebut
Tasikardi.Air dari Sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau
ini.Lalu dari sana dibagi ke daerah-daerah persawahan di sektarnya.Tasikardi
juga digunakanbagi penampungan air bersih bagi kebutuhan kota.Dengan melalui
pipa-pipa yang terbuat dari terakota,setelah dibersihkan/diendapkan air
tersebut dialirkan kekeraton dan tempat-tempat lain di dalam kota.Di
tengah-tengah danau buatan tersebut terdapat pulau kecil yang digunakan
untuk tempat rekreasi keluarga keraton.

Dari permaisuri Ratu Hadijah,Maulana Yusuf mempunyai dua orang anak yaitu
Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad.Sedangkan dari istri-istri
lainnya,baginda dikaruniai anak antara lain :Pangeran Upapati,Pangeran
Dikara,Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina,Pangeran Aria
Ranamanggala,Pangeran Mandura,Pangeran Seminingrat,Pangeran Dikara ,Ratu
Demang atau Ratu Demak,Ratu Pacatanda atau Ratu Mancatanda,Ratu Rangga,Ratu
Manis,Ratu Wiyos dan Ratu Balimbing

Pada tahun 1580, Maulana yusuf mangkat dan kemudian dimakamkan di
Pekalangan Gede dekat Kampung Kasunyatan. Setelah meninggalnya, Maulana
Yusuf diberi gelar Pangeran Panembahan Pekalangan Gede atau Pangeran
Pasarean. Dan sebagai penggantinya diangkatlah puteranya yang bernama
Pangeran Muhammad

Subject: SAJARAH BANTEN 3

3. Sultan Muhammad, Sultan Banten III (1580-1596 M)



Pada masa pemerintahannya sudah dikembangkan sistem cor dan tempa logam
dengan teknik metalurgi dalam membuat perhiasan dan persenjataan. Salah
satu episode penting dalam pemerintahannya tentang kedatnagan kapal Belanda
tahun 1596 di Pelabuahn Banten dipimpin ornelis De Houtman.

Beliau diangkat ketika masih berusia 9 Tahun. Para Kadhi menyerahkan
perwaliannya kepada Mangkubumi. Pangeran Muhammad diangkat menjadi sultan
dengan gelar Kanjeng Ratu Banten Surosowan. Ketika Maulana Muhammad
memimpin Banten, Kesultanan Banten menjadi semakin kuat dan ramai.
Orang-orang dapat melayari kota dengan menyusuri banyak sungai yang
terdapat di Banten.
Mulai dari pintu gerbang besar istana sampai luar, terdapat berbagai
bangunan : Made Bahan tempat tambak baya melakukan jaga, Made Mundu dan
Made gayam, Sitiluhur atau Sitinggil yang didekatnya terdapat bangunan
untuk gudang senjata dan kandang kuda kerajaan. Pakombalan yaitu tempat
penjagaan wong Gunung. Disebelah utara terdapat tempat perbendaharaan dan
disebelah barat berdiri masjid dengan menara disampingnya. Selanjutnya
terdapat suatu perkampungan yang disebut Candi raras yang diantaranya
terdapat bangunan-bangunan Made Bobot dan Made Sirap. disebelah timur Made
Bobot terdapat Mandapat yaitu suatu bangunan terbuka yang dipasangi meriam
Ki Jimat mengarah ke Utara. Dekat Srimanganti terdapat WaringinKurung dan
Watu Gilang. Ditepi sungai terdapat Panyurungan atau galangan kapal
kerajaan.

Dekat Panyurungan terdapat tonggak tempat mengikta gajah raja yang bernama
Rara Kawi. Disebelahnya terdapat jembatan besar dari kayu jati melintasi
sungai yang selanjutnya jalan raya dengan pagar kembar menuju ke arah utara
ke perbentengan. Perbentengan sebelah dalam atau Baluwarti Dalme disebut
Lawang Sadeni atau Lawang Saketeng yang disebelah baratnya berdiri pohon
beringin besar dan perbentengan Sampar lebu. (Halwany;Mudjahid
Chudari;"Masa lalu Banten";1990:42)

Maulana Muhammad dikenal dengan sebagai seorang yang Shaleh. Untuk
kepentingan penyebaran agama Islam beliau banyak mengarang kitab agama yang
kemudian dibagikan kepada yang memerlukannya. Untuk sarana ibadat beliau
banyak membangun masjid sampai ke pelosok desa. beliau pun selalu menjadi
imam dan khatib pada shalat Jum'at dan Hari raya. masjid Agung pun
diperindah. Temboknya dilapisi porselen dan tiang atapnya dibuat dari kayu
cendana. Untuk para wanita disediakan tempat khusus yang disebut Pawestren
atau Pewadonan.

Peristiwa menarik pada masa Maulana Muhammad adalah peristiwa penyerbuan ke
Palembang. Penyerbuan ini bermula dari hasutan Pangeran Mas putera dari
Aria Pangiri. Pangeran Mas berkeinginan menjadi raja di Palembang. Maulana
Muhammad yang masih muda dan penuh semangat dihasutnya. Dikatakannya bahwa
Palembang dulunya adalah kekuasaan ayahnya sewaktu menjadi sultan di Demak.
Disamping itu dikatakannya pula bahwa rakyat Palebang saat itu masih banyak
yang kafir. Terdorong oleh darah muda dan semangat untuk memakmurkan Banten
dan mengembangkan agama Islam ke seluruh Nusantara, sultan pun dapat
dipengaruhinya. Saran Mangkubumi dan para pembesar istana lainnya tidak
diindahkan. Sehingga penyerbuan ke Palembangpun harus dilakukan.

Dengan 200 kapal perang berangkatlah pasukan Banten menuju Palembang.
pasukan ini dipimpin langsung oleh Maulana muhammad didampingi Mangkubumi
dan Pangeran Mas. Saat itu lampung, Seputih, dan Semangka (daerah-daerah
kekuasaan Banten) diperintahkan untuk mengerahkan prajuritnya menyerang
Palembang melalui darat. Pertempuran hebat terjadi di sungai Musi hingga
berhari-hari. Pasukan palembang nyaris dapat dipukul mundur. Tapi dalam
keadaan yang hampir berhasil itu, Sultan yang memimpin pasukan dari kapal
Indrajaldri tertembak oleh pasukan Palembang. Dan Sultan pun wafat dalam
pertempuran tersebut. Penyerangan tidak dilanjutkan, dan pasukan Banten
kembali tanpa hasil. Peristiwa gugurnya Sultan ini terjadi menuru
sangsakala Prabu Lepas tataning prang atau pada Tahun 1596 M.

Maulana Muhammad wafat pada Usia muda (kira-kira 25 Tahun). Beliau
meninggalkan seorang putera yang bernama Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir
yang baru berusia 5 Bulan dari permaisurinya (Ratu wanagiri, puteri dari
mangkubumi). Anak inilah yang nanti menggantikan dirinya. Setelah wafatnya,
Maulana Muhammad diberi gelar Pangeran Seda Ing Palembang atau Pangeran
Seda Ing Rana. Belai dimakamkan di serambi Masjid Agung. (Q)

4. Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir,


Sultan Banten IV (1596-1651 M)



Abul Mafakhir dinobatkan sebagai sultan ketika berusia 5 Bulan, sehingga
untuk melaksanakan roda pemerintahan ditunjuklah Mangkubumi Jayanagara
sebagai wali. Mangkubumu Jayanagara adalah juga yang pernah menjadi
Mangkubumi bagi Maulana Muhammad, sehingga kesetiannya pada Kesultanan
Banten tidaklah diragukan lagi. Mangkubumi ini adalah seorang tua yang
lemah lembut dan luas pengalamannya pada bidang pemerintahan. Selain
Mangkubumi ditunjuk pula seorang wanita tua yang bijaksana sebagai pengasuh
Sultan, yang bernama Nyai Embun Rangkun. Mangkubumi Jayanagara mangkat,
setelah 6 Tahun (1602) menjadi Mangkubumi bagi Sultan Abul Mafakhir, dan
jabatan Mangkubumi diserahkan kepada adiknya. Namun pada tanggal 17
Nopember 1602 dia dipecat karena kelakuanya dinilai tidak baik. Karena
perpecahan dan irihati para pangeran, maka diputuskan untuk tidak mengangkat
mangkubumi baru, dan untuk perwalian sultan diserahkan kepada ibunda sultan
Nyai Gede Wanagiri.

Tidak lama kemudian ibunda sultan menikah dengan seorang bangsawan keluarga
istana. dan atas desakannya pula, suaminya ini diangkat sebagai mangkubumi.
Namun mangkubumi yang baru ini tidak memiliki wibawa, bahkan sering
menerima suap dari pedagang-pedagang asing. Sehingga banyak peraturan yang
tidak dapat diterapkan di Banten. Situasi ini menimbulkan rasa tidak puas
dari sebagian pejabat istana yang akhirnya menimbulkan kerusuhan dan
kekacauan. Bahkan diantara para pangeran pun terjadi perselisihan, sebagian
lebih condong kepada para pedagang dari Portugis, sedang yang lainnya lebih
condong ke Belanda. Sedangkan antara Belanda da Portugis saat itu sedang
bermusuhan. wajar bila pertentangan ini mengakibatkan banyak kekacauan.
 Pertentangan antar pangeran ini berlangsung berkepanjangan, sehingga pada
bulan Oktober 1604 terjadi peristiwa hebat, yang bermula dari tindakan
Pangeran Mandalika (Putera Maulana yusuf). Pangeran Mandalika menyita
perahu Jung dari Johor.Patih Mangkubumi meminta Pangeran Mandalika untuk
melepaskannya, namun perintah tersebut tidak dipatuhinya.

Untuk menjaga kalau-kalau pasukan kerajaan menyerang dirinya, maka Pangeran
Mandalika bergabung dengan pangeran-pangeran lainnya. Mereka membuat
pertahanan sendiri di luar kota. Makin lama kedudukan mereka makin kuat.
bahkan rakyatpun semakin simpati pada pasukan Pangeran Mandalika.
Pada bulan Juli 1605 datanglah Pangeran Jayakarta datang ke Banten untuk
menghadiri acara khitanan Sultan Muda. Pangeran Jayakarta datang dengan
membawa para pembesar kerajaan dan para pasukannya. Atas permintaan
Mangkubumi, Pangeran Jayakarta bersedia membantu menumpas para pemberontak.
Pangeran Jayakarta dengan dibantu pasukan dari Inggris dapat memukul mundur
para pemberontak. Tapi dengan diusirnya para pemberontak keadaan Banten,
bukannya semakin membaik malah semakin tegang. Puncak ketegangan terjadi
pada bulan Juli 1608.

Pada tanggal 23 Agustus 1608, Syahbandar dan sekretarisnya dibunuh oleh
perusuh. Tidak lama kemudian, yaitu pada tanggal 23 Oktober 1608, Patih
Mangkubumi dibunuhnya pula. Peristiwa inilah yang mempercepat terjadinya
kerusuhan di Banten yang dikenal dengan Peristiwa pailir. Selain peristiwa
Pailir , pada masa sultan Abul Mafakhir juga terjadi peristiwa Pagarage
atau Pacerebonan yang terjadi pada tahun 1650. Peristiwa ini terjadi
bermula dari kedatangan pasukan dari Cirebon yang akan menyerbu Banten.
Peristiwa pertempuran ini dimenangkan oleh pasukan dari Kesultanan banten.

Sultan Abul Mafakhir mempunyai putera : Pangeran Pekik (Sultan Abul Maa'li
Akhmad) yang wafat setelah peristiwa Pagarage (1650),makamnya terletak di
desa Kanari. Ratu Dewi, Ratu Mirah, Ratu Ayu, dan Pangeran Banten.

Sultan Abul Maa'li Akhmad (dari perkawinannya dengan Ratu Marta Kusumah
puteri Pangeran Jayakarta) memiliki putera : Ratu Kulon, Pangeran Surya,
Pangeran Arya Kulon, Pangeran Lor dan pangeran Raja. Dari perkawinannya
dengan Ratu Aminah (Ratu Wetan) Sultan memiliki putera: Pangeran Wetan,
Pangeran Kidul, Ratu Inten, dan Ratu Tinumpuk. Sedangkan dari isterinya
yang lain, sultan memiliki putera : Ratu Petenggak, Ratu Wijil, Ratu
Pusmita, Pangeran Arya Dipanegara (Tubagus Abdussalam/Pangeran
Raksanagara), Pangeran Arya Dikusuma(Tubagus Abdurahman/Pangeran
Singandaru)

Sultan Abul Mafakhir mangkat pada tanggal 10 Maret 1651. Jenazahnya
dimakamkan di Kanari, dekat makam puteranya (Abul Ma'ali Akhmad). Sebagai
penggantinya diangkatnya cucunya (Putera dari Abul Ma'ali Akhmad), yaitu
Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya Sebagai Sultan Banten V.


Subject: SAJARAH BANTEN 4

5. Pangeran Surya / Pangeran Adipati Anom (Sultan Ageng Tirtayasa),
Sultan Banten V



Penobatan Pangeran Surya terjadi pada tanggal 10 Maret 1651. seperti
tanggal surat ucapan selamat Gubernur Kompeni Belanda Kepada Sultan. Untuk
memperlancar roda pemerintahan, sultan mengangkat beberapa orang untuk
membantu dirinya. Jabatan Patih Mangkubumi diserahkan kepada Pangeran
Mandura dengan wakilnya Tubagus Wiraatmaja, Sebagai Kadhi atau Hakim Agung
Negara diserahkan kepada Pangeran JayaSentika. Tapi Pangeran Jayasentika
tidak lama menjabat sebagai kadhi, beliau wafat dalam perjalanan menunaikan
ibadah haji, maka jabatan Kadhi diserahkan kepada Entol Kawista yang
kemudian dikenal dengan nama Faqih Najmudin. Faqih Najmudin adalah menantu
dari Sultan Abul Mafakhir yang menikah dengan Ratu Lor. Untuk mempermudah
pengawasan daerah kekuasaan, Sultan mengangkat beberapa Ponggawa atau
Nayaka. Mereka berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab Mangkubumi.
Selain itu Mangkubumi juga mengawasi keadaan para prajurit kerajaan.
Senjata-senjata di tambah. Rumah para Senoptai diatur sedemikian rupa, agar
mudah mengontrol para prajurit.

Dalam pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa kedatangan, seorang ulama sufi
dari Bugis bernama Syech Yusuf yang kemudian menikah dengan anak Sultan
Ageng selain itu Syech Yusuf diangkat menjadi seorang Mufti di Kesultanan
Banten beliau pula yang membantu dan memimpin perang melawan Belanda.

Pangeran Surya yang kemudian bergelar Pangeran Ratu Ing Banten adalah
seorang ahli strategi perang. Hal ini sudah dibuktikannya sejak beliau
menjadi putera mahkota. beliau lah yang mengatur strategi perang gerilya
saat menyerbu belanda di Batavia.

Seperti juga kakeknya, Pangeran Surya pun tidak melepaskan dari
Kekhalifahan Islam di Makkah. hubungan ini keharusan untuk memperkuat
kekuatan umat Islam dalam menentang segala macam kesewenangan. Dari dari
Kekhalifahan pulalah Pangeran mendapatkan gelar Sultan 'Abulfath
Abdulfattah. Dari hubungan ini Sultan mengharapkan bantuan dari Khalifah
untuk mengirimkan guru agama ke Banten.

Selain itu Sultan pun tidak setuju dengan pendudukan bangsa Asing atas
negaranya, dan untuk memperkuat pertahanan (terutama dari serbuan Belanda
di Batavia), sultan memperkuat pasukanya di Tangerang yang telah menjadi
benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Belanda. Dari
tangerang ini pulalah pada tahun 1652 Banten menyerbu Batavia. Melihat
situasi yang semakin memanas, pihak kompeni mengajukan usul perdamaian.
Namun sultan bertekad untuk menghapuskan para penjajah di bumi Nusantara,
sultan melihat berbagai kecurangan pada setiap perjanjian yang diajukan
oleh pihak Belanda, sehingga Sultan pun menolaknya. Pada tahun 1656 pasukan
Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang melakukan gerilya
besar-besaran. Perusakan dan sabotase yang dilakukan para prajurit Banten
banyak merugikan pihak Kompeni. Untuk menghadapi serangan Belanda yang
lebih besar, Sultan mempernaiki hubungan dengan Cirebon dana Mataram, bahkan
dari Inggris, Prancis dan Denmark, Sultan mendapat kemudahan memperoleh
senjata api untuk peperangan. Daerah kekuasaan Banten (Lampung, Bangka,
Solebar, Indragiri dan daerah lainnya) diminta mengirimkan prajuritnya
untuk bergabung dengan para prajurit yang berada di Surosowan. Rakyatpun
mendukung langkah Sultan untuk mengusir Penjajah. Mereka bertekad lebih
baik mati daripada berdamai dnegan penjajah. Sedangkan kompeni mempekuat
pasukkannya dengan prajurit-prajurit sewaan yang berasal dari Kalasi,
ternate, Bandan, kejawan, Melayu, Bali, Makasar dan Bugis.

Pada tanggal 29 April 1658 datang utusan Belanda ke Banten membawa surat
dari Gubernur Jendral Kompeni yang berisi rancangan perjanjian perdamaian,
namun Sultan kembali melihat kecurangan dibalik naskah perjanjian tersebut,
pihak kompeni hanya mengharapkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan
kepentingan rakyat Banten. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658 Sultan
mengirimkan utusan ke Batavia untuk melakukan perubahan perjanjian. Namun
perubahan dari Sultan di tiolak oleh Belanda. Kompeni hanya menginginkan
Banten membeli rempah-rempah dari Belanda dan itupun harus ditambah pajak.
Penolakan tersebut membuat Sultan sadar, bahwa tidaklah mungkin ada
persesuaian pendapat antara dua musuh yang saling berbeda kepentingan. Maka
pada tanggal 11 Mei 1658 Sultan mengirim surat balasan yang menyatakan
bahwa "BANTEN dan KOMPENI TIDAK AKAN MUNGKIN BISA BERDAMAI .

Maka terjadilah pertempuran hebat di darat dan di laut. Pertempuran ini
berlangsung tanpa henti sejak bulan Juli 1658 hingga tanggal 10 juli 1659.

Selain di Tangerang, Sultan juga membuat kampung para prajurit di
Tirtayasa, bahkan akhirnya sultan pun menyuruh mendirikan istana di kampung
tersebut. Yang nantinya digunakan sebagai pusat kontrol kegiatan di
Tangerang dan Batavia disamping untuk tempat peristirahatan. Maka dengan
demikian Tirtayasa dijadikan penghubung antara Istana di Surosowan dengan
Benteng pertahanan di Tangerang. Hal ini akan mempersingat jalur komunikasi
sultan. Disamping jalan darat yang sudah ada, juga dibuat jalan laut yang
menghubungkan Surosowan-Tirtayasa-Tangerang. Maka dibuatlah saluran tembus
dari Pontang-Tanara-Sungai Untung Jawa menyusuri jalan darat - melalaui
sungai CIkande sampai pantai Pasiliyan. Saluran ini dibuat cukup besar,
hingga mampu dilewati kapal perang ukuran sedang. Saluran ini dibuat dari
tahun 1660 hingga sekitar tahun 1678. Selain di Tirtayasa Sultan pun
berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan didalam ibukota kerajaan.
Dengan bantuan beberapa ahli bangunan dari Portugis dan Belanda yang sudah
masuk Islam, diantaranya adalah Hendrik Lucasz Cardeel kemudian dikenal
dengan Pangeran Wiraguna diperbaikilah bangunan istana Surosowan. Benteng
istana diperkuat dengan diberi Bastion, disetiap penjuur mata angin dan
dilengkapi dengan 66 buah meriam yang diarahkan ke segala penjuru.

Demikian juga dengan sungai disekeliling benteng, Irigasi diperbaiki dan
diperluas jangkauannya, Sehingga areal sawah mendapat pengairan dengan
baik. Daerah yang tadinya kesulitan air menjadi subur. Padi dan tanaman
produksi lainnya sangat menunjang kemakmuran rakyat Banten. Produksi Merica
mecapai 3.375.000 pon pada tahun 1680-1780.

Ketika pasukan Sultan Ageng terdesak oleh Belanda mereka menyingkir ke
Tirtayasa kemudian dengan menyusuri sungai Ciujung ke selatan mereka sampai
di Sajira (Lebak). Dengan memakai tipu muslihat Belanda berhasil menangkap
Sultan Ageng kemudian dibawa ke Batavia dan beliau meninggal dalam tahanan
di Batavia. Sementara itu perjuangan dilanjutkan oleh Syech Yusuf beserta
anak-anak Sultan Ageng seperti P Purbaya, P Kulon, P Kidul, dll. Mereka
bergerak ke arah barat lebak dan menetap di Jasinga (Bogor), disini banyak
peniggalan laskar Banten. Dari Jasinga rombongan yang dipimpin Syech Yusuf,
mengitari gunung Salak ke daerah Jampang kemudian ke Padalarang dengan
tujuan Cirebon. Di Padalarang laskar Banten yang dipimpin Syech Yusuf
dicegat Belanda, terjadilah perang besar tapi Syech Yusuf dan rombongan
dapat meloloskan diri dengan mengitari Citarum ke selatan masuk ke hutan ,
Belanda tidak bias mengejar karena medan pegunungan yang sulit dilewati.
Syech Yusuf setelah sampai di Tasikmalaya melanjutkan ke Ciamis, di Ciamis
laskar Banten menetap cukup lama bahkan banyak diantara laskar Banten yang
menikah dan menjadi penduduk setempat menyiarkan agama Islam. Suatu saat
dating seorang berpakaikan Arab dan berbahasa melayu, orang itu sebetulnya
adalah seorang Belanda yang akan menangkap Syech Yusuf. Orang belanda itu
berpura-pura ingin berunding dengan Syech Yusuf tapi di dalam perjalanan
Syech Yusuf ditangkap beserta rombongannya kemudian dibawa ke Batavia dan
dibuang ke Srilanka selanjutnya ke Afrika Selatan dan wafat disana,
sementara sisa-sisa laskar Banten banyak menetap di daerah-daerah yang
pernah dilewatinya dan menyebarkan agama Islam seperti di Jasinga, Bogor,
Cianjur, Ciamis,
dll


Subject: SAJARAH BANTEN 5




Masa-masa Kehancuran Banten



Setelah ditangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa (14 Maret 1683 M), Sultan Ageng
Tirtayasa wafat pada tahun 1692. dengan restu kompeni diangkatlah Sultan
Haji sebagi Sultan Banten VI. Namun kedaulatan Kesultanan Banten sudahlah
tidak ada lagi. Apalagi dengan ditandatanganinya perjanjian antara kompeni
dengan Sultan Haji pada tanggal 17 April 1684 Perjanjian tersebut berisi
hal-hal yang merugikan kesultanan dan rakyat Banten. Sehingga lenyaplah
kejayaan dan kemajuan Banten, karena adanya monopoli dan penjajahan
Belanda.

Rakyat semakin menderita karena tingginya pajak yang harus mereka bayar.
Sehingga tidaklah mengherankan kalau pada saat itu banyak terjadi kerusuhan
dan pemberontakan, karena ketidakpuasan rakyat. Bahkan pernah terjadi
pembakaran hampir 2/3 bangunan-bangunan didalam kota. aaa

Untuk keperluan keamanan dan pertahanannya, pihak kompeni membangun benteng
disebelah utara dekat pasar Karangantu. Benteng tersebut diberinama
Speelwijk pada tahun 1682 dan kemudian disempurnakan pada tahun 1685.

Masa pemerintahan Sultan Haji dipenuhi dengan pemberontakan dan kekacauan
disegala bidang. Bahkan sebagian besar rakyat tidak mengakui dirinya
sebagai Sultan Banten. Sehingga kehidupan sultan selalu diliputi dengan
kegelisahan dan ketakutan Bagaimana pun juga sebagai manusia, ada rasa
sesal pada diri sultan atas perlakuan dirinya terhadp ayahya (Sultan Ageng
Tirtayasa) Tapi semuanya sudah terlanjur. Karena tekanan-tekanan itu
akhirnya beliau jatuh sakit hingga meninggalnya pada tahun 1687. Dari
permaisuri Sultan Haji mempunyai beberapa orang anak, diantaranya Pangeran
ratu dan PAngeran Adipati. Sedangakan menurut Babad Banten, Sultan Haji
memiliki 10 orang putera, yakni :

1. Pangeran Ratu (Sultan Abulfadl)

2. Pangeran Adipati (Sultan Muhammad Zainul Abidin)

3. Pangeran Muhammad thohir

4. Pangeran Fadhluddin

5. Pangeran Ja'farrudin

6. Pangeran Muhammad Alim

7. Ratu Rohimah

8. Ratu Hamimah

9. Pangeran Kesatrian

10. Ratu Mumbay (ratu Bombay)

Setelah wafatnya Sultan Haji, terjadilah perebutan kekuasaan diantara
puter-putera Sultan Haji. Setan Van Imhoff turun tangan masalah ini dapat
terselesaikan. Dengan diangkatnya Pangeran Ratu menjadi Sultan Banten VII
dengan gelar Sultan Abulfadhl Muhammad Yahya (1687-1690). Beliau ternyata
termasuk Sultan yang benci Belanda. Ditatanya kembali banten yang sudah
porak poranda itu. Namun baru tiga tahun, beliau jatuh sakit yang
mengakibtakan kematiannya. Jenazahnya dimakamkan disamping kanan makam
Sultan Hasanuddin di Pasarean.

karena Sultan Abul Fadhl tidak memiliki putera, maka kesultanan diserahkan
kepada adiknya Pangeran Adipati (1690-1733) dengan gelar Sultan Abul
Mahasin Muhammad Zainul Abidin atau Kang Sinuhun Ing Nagari Banten. Putera
Sultan yang sulung dibunuh orang, sehingga yang menggantikan posisinya
sebagai sultan Banten adalah putera keduanya yang kemudian bergelar
Pangeran Abulfathi Muhammad Shifa Zainul Arifin(1733-1747). Pada masa
pemerintahannya banyak terjadi pemberontakan oleh rakyat, karena
ketidakpuasan rakyat terhadap kompeni yang memberlakukan kerja rodi, tanam
paksa dan lainnya. Dalam pada itu dikeraton pun terjadi kekisruhan. Sultan
Zainul Arifin banyak dipengaruhi oleh isterinya (Ratu Syarifah fatimah).
Ratu begitu dekat dengan kompeni.

Sultan Zainul Arifin mengangkat Pangeran Gusti sebagai putera mahkota.
Penunjukan ini tidak disetujui oleh isterinya, Permaisuri menginginkan yang
menjadi putera mahkota adalah menantunya, yaitu Pangeran Syarif Abdullah.
Karena desakan oleh isterinya, sultan menyurun Pangeran Gusti pergi ke
Batavia. Tapi atas usulan Ratu Syarifah, Pangeran Gusti ditangkap dan
diasingkan ke Sailan oleh kompeni (1747). Sehingga diangkatlah Pangeran
Syarif Abdullah sebagai Putera mahkota, dengan persetujuan kompeni. Dan
atas fitnah isterinya pula, Sultan Zainul Arifin ditangkap kompeni karena
dianggap gila. Sebagai gantinya diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah
sebagai Sultan banten dengan gelar Pangeran Syarifuddin Ratu Wakil pada
tahun 1750. tapi yang berkuasa sebetulnya adalah Ratu Fatimah.

Melihat hal ini rakyat merasa telah dihina dan dikhianati, maka rakyat pun
melakukan perlawanan bersenjata. Dipimpin oleh Ki Topo dan Ratu Buang
mereka menyerbu Surosowan. Pertempuranpun terjadi begitu hebat. Melihat hal
ini Gubernur Jendral Kompeni Mossel segera memerintahkan menangkap Ratu
Syarifah dan Sultan Syarifudin. Kemudian Belanda mengangkat Pangeran Arya
Adi Santika sebagai sultan Banten dengan gelar Sultan Abul Ma'ali Muhammad
Wasi' Zainul Arifin Pada tahun 1752, dan Pangeran Gusti diangkat sebagi
putera mahkota. Enam bulan kemudian Sultan menyerahkan kekuasaannya kepada
putera mahkota, karena banyaknya perlawanan dari rakyat yang tidak suka
dengan perlakuan kompeni yang mendikte sultan. Pangeran Gusti diangkat
dengan gelar Sultan Abul Nasr Muhammad 'Arif Zainul Asiqin (1753-1773).
setelah sultan wafat maka kekuasan diserahkan kepada putranya dengan gelar
Sultan Abul Mafakhir Muhammada Aliudin (1773-1799). Karena tidak memiliki
putera maka setelah wafat Sultan Aliudin, kekuasaan dipegang oleh adiknya
yang bernama Pangeran Muhiddin dengan gelar Sultan Abul Fath Muhammad
Muhiddin Zainal Shalihin (1799-1801). Pada tahun 1801 sultan dibunuh oleh
Tubagus Ali Seorang putera Sultan Aliudin. namun Tubagus Ali pun wafat
ditangan pengawal sultan. Selanjutnya kesultanan dipegang oleh Sultan
Abulnasr Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802). Pada Tahun 1802
Kesultanan dipegang oleh Sultan Wakil Pangeran Natawijaya yang kemudian
pada tahun 1803 Putera Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliudin dengan gelar
Sultan Agiluddin atau Sultan Aliyuddin II (1803-1808). Sultan inilah yang
berselisih paham dengan Herman Wiliam Daendels. (Q)



PENGHANCURAN ISTANA SUROSOWAN



Pada abad ke-18 VOC sedang mengalami kemunduran, sehingga dibutuhkan banyak
dana untuk membiaya operasionalnya, banyak hutang yang ditanggung oleh VOC.
Sehingga VOC menerapkan sistem kerja paksa/kerja rodi (Kerja tanpa diberi
upah) di tanah jajahan. Ditanah Banten kerja rodi diawalai dengan membuat
pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon. untuk itu Daendlels memerintahkan
Sultan Banten (Sultan Aliyuddin II) untuk mengirimkan pekerja
sebanyak-banyaknya. Tapi karena daerahnya berawa-rawa, banyak pekerja yang
meninggal atau terserang penyakit malaria. Sehingga banyak diantara pekerja
yang kabur. Keadaan ini membuat Daedels murka dan menuduh Mangkubumi
Wargadiraja sebagai biang keladinya. Daendels meminta kepada Sultan untuk :

1. Mengirimkan 1000 pekerja rodi

2. Menyerahkan Patih Mangkubumi wargadiraja
3. Sultan harus memindahkan kesultanannya ke Anyer, karena di Surosowan
akan di bangun Benteng Belanda.

Permintaan itu tentu ditolak oleh sultan. Penolakan itu membuat murka
Daendels, maka dikirimnya pasukan dalam jumlah besar ke Banten dengan
dipimpin oleh Daendels sendiri. Sebagai peringatan kompeni mengutus
Komandeur Philip Pieter du Puy, namun dipintu gerbang istana utusan
tersebut dibunuh oleh rakyat Banten yang sudah benci kepada Belanda.
Tindakan ini dibalas oleh Daendels. Diserangnya Surosowan pada hari itu juga
21 Nopember 1808. Dengan penuh semangat rakyat Banten mempertahankan tanah
tercintanya. Namun Daendels dapat menguasai Surosowan. Sultan ditangkap lalu
dibuang ke Ambon. Sedangkan Mangkubumi dihukum pancung oleh kompeni.
Selanjutnya kompeni mengangkat Sultan Wakil Pangeran
Suramenggala(1808-1809) sebagai Sultan Banten. Namun sultan tidak memiliki
kuasa apa-apa. Dia hanya menjadi pegawai Belanda dengan gaji 15.000 real
setahun.

Tindakan kera Daendels membuat kebencian rakyat semakin memuncak. Banyak
terjadi perampokan kapal-kapal Belanda. Daendels mencuriga Sultan berada
dibalik segala kerusuhan. Oleh karena itu, bersama pasukannya Daendels
datang ke Banten. Sultan ditangkap dan dipenjarakan di Batavia, sedangkan
benteng dan istana Surosowan dihancurkan dan dibakar. Peristiwa tersebut
terjadi pada tahun (1809). Pada tahun itu pula mulai dilaksanakan proyek
pembuatan jalan dari Anyer sampai Panarukan, yang panjangnya kira-kira 1000
Km, proyek tersebut diselesaikan dalam tempo 1 tahun dengan banyak makan
beribu-ribu rakyat. Dan untuk melemahkan Banten, maka kompeni membagi
Banten kedalam tiga daerah, yang statusnya sama dengan kabupaten. Ketiga
daerah tersebut diawasi oleh seorang Landros. yang berkedudukan diserang.
Ketiga daerah tersebut adalah :

1. Banten Hulu dipimpin oleh Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813) putera
Sultan Muhyiddin Zainul Shalihin, dengan kedudukan di Caringin.

2. Banten Hilir

3. Anyer



SILSILAH SULTAN BANTEN

SYARIF
HIDAYATULLAH - SUNAN GUNUNG JATI Berputera :

1. Ratu Ayu Pembayun.
4. Maulana Hasanuddin
2. Pangeran Pasarean
5. Pangeran Bratakelana
3. Pangeran Jaya Lelana
6. Ratu Wianon
7. Pangeran Turusmi

PANGERAN HASANUDDIN - PANEMBAHAN
SUROSOWAN(1552-1570) Berputera :

1. Ratu Pembayu 8. Ratu Keben
2. Pangeran Yusuf 9. Ratu Terpenter
3. Pangeran Arya Japara 10. Ratu Biru
4. Pangeran Suniararas 11. Ratu Ayu Arsanengah
5. Pangeran Pajajara 12. Pangeran Pajajaran Wado
6. Pangeran Pringgalaya 13. Tumenggung Wilatikta
7. Pangeran Sabrang LorPangeran 14. Ratu Ayu Kamudarage
 15. Pangeran Sabrang Wetan

MAULANA
YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE(1570-1580) Berputra :

1. Pangeran Arya Upapati 8. Ratu Rangga

2. Pangeran Arya Adikara 9. Ratu Ayu Wiyos

3. Pangeran Arya Mandalika 10. Ratu Manis

4. Pangeran Arya Ranamanggala 11. Pangeran Manduraraja

5. Pangeran Arya Seminingrat 12. Pangeran widara

6. Ratu Demang 13. Ratu Belimbing

7. Ratu Pecatanda 14. Maulana Muhammad

MAULANA
MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN(1580-1596)Berputra :

1.
Pangeran Abdul Kadir

SULTAN
ABUL MAFAKHIR MAHMUD 'ABDUL KADIR KENARI(1596-1651)Berputra :

1. Sultan 'Abdul Maali Ahmad Kenari(Putra Mahkota) 19. Pangeran Arya
Wirasuta

2. Ratu Dewi 20. Ratu Gading20.

3. Ratu Ayu 21. Ratu Pandan

4. Pangeran Arya Banten 22. Pangeran Wirasmara

5. Ratu Mirah 23. Ratu Sandi
6. Pangeran Sudamanggala 24. Pangeran Arya Jayaningrat

7. Pangeran Ranamanggala 25. Ratu Citra

8. Ratu Belimbing 26. Pangeran Arya Adiwangsa

9. Ratu Gedong 27. Pangeran Arya Sutakusuma

10. Pangeran Arya Maduraja 28. Pangeran Arya Jayasantika

11. Pangeran Kidul 29. Ratu Hafsah

12. Ratu Dalem 30. Ratu Pojok

13. Ratu Lor 31. Ratu Pacar

14. Pangeran Seminingrat 32. Ratu Bangsal

15. Ratu Kidul 33. Ratu Salamah

16. Pangeran Arya Wiratmaka 34. Ratu Ratmala

17. Pangeran Arya Danuwangsa 35. Ratu Hasanah

18. Pangeran Arya Prabangsa 36. Ratu Husaerah

 37. Ratu Kelumpuk

 38. Ratu Jiput

 39. Ratu Wuragil

PUTRA
MAHKOTA SULTAN 'ABDUL MA'ALI AHMAD, Berputera:

1. Abul Fath Abdul Fattah 8. Pangeran Arya Kidul

2. Ratu Panenggak 9. Ratu Tinumpuk

3. Ratu Nengah 10. Ratu Inten

4. Pangeran Arya Elor 11. Pangeran Arya Dipanegara

5. Ratu Wijil 12. Pangeran Arya Ardikusuma

6. Ratu Puspita 13. Pangeran Arya Kulon

7. Pangeran Arya Ewaraja 14. Pangeran Arya Wetan

 15. Ratu Ayu Ingalengkadipura
SULTAN
AGENG TIRTAYASA -'ABUL FATH 'ABDUL FATTAH(1651-1672)Berputra :

1. Sultan Haji 16. Tubagus Muhammad 'Athif

2. Pangeran Arya 'abdul 'Alim 17. Tubagus Abdul

3. Pangeran Arya Ingayudadipura 18. Ratu Raja Mirah

4. Pangeran Arya Purbaya 19. Ratu Ayu

5. Pangeran Sugiri 20. Ratu Kidul

6. Tubagus Rajasuta 21. Ratu Marta

7. Tubagus Rajaputra 22. Ratu Adi

8. Tubagus Husaen 23. Ratu Ummu

9. Raden Mandaraka 24. Ratu Hadijah

10. Raden Saleh 25. Ratu Habibah

11. Raden Rum 26. Ratu Fatimah

12. Raden Mesir 27. Ratu Asyiqoh

13. Raden Muhammad 28. Ratu Nasibah

14. Raden Muhsin 29. Tubagus Kulon

15. Tubagus Wetan

SULTAN
ABU NASR ABDUL KAHHAR - SULTAN HAJI (1672-1687) Berputra :

1. Sultan Abdul Fadhl 6. Ratu Muhammad Alim

2. Sultan Abul Mahasin 7. Ratu Rohimah

3. Pangeran Muhammad Thahir 8. Ratu Hamimah

4. Pangeran Fadhludin 9. Pangeran Ksatrian

5. Pangeran Ja'farrudin 10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)

SULTAN
ABUDUL FADHL (1687-1690) Berputra :

- Tidak
Memiliki Putera
SULTAN
ABUL MAHASIN ZAINUL ABIDIN(1690-1733 ) Berputra :

1. Sultan Muhammad Syifa 31. Raden Putera

2. Sultan Muhammad Wasi' 32. Ratu Halimah

3. Pangeran Yusuf 33. Tubagus Sahib

4. Pangeran Muhammad Shaleh 34. Ratu Sa'idah

5. Ratu Samiyah 35. Ratu Satijah

6. Ratu Komariyah 36. Ratu 'Adawiyah

7. Pangeran Tumenggung 37. Tubagus Syarifuddin

8. Pangeran Ardikusuma 38. Ratu 'Afiyah Ratnaningrat

9. Pangeran Anom Mohammad Nuh 39. Tubagus Jamil

10. Ratu Fatimah Putra 40. Tubagus Sa'jan

11. Ratu Badriyah 41. Tubagus Haji

12. Pangeran Manduranagara 42. Ratu Thoyibah

13. Pangeran Jaya Sentika 43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat

14. Ratu Jabariyah 44. Pangeran Rajaningrat

15. Pangeran Abu Hassan 45. Tubagus Jahidi

16. Pangeran Dipati Banten 46. Tubagus Abdul Aziz

17. Pangeran Ariya 47. Pangeran Rajasantika

18. Raden Nasut 48. Tubagus Kalamudin

19. Raden Maksaruddin 49. Ratu SIti Sa'ban Kusumaningrat

20. Pangeran Dipakusuma 50. Tubagus Abunasir

21. Ratu Afifah 51. Raden Darmakusuma

22. Ratu Siti Adirah 52. Raden Hamid

23. Ratu Safiqoh 53. Ratu Sifah

24. Tubagus Wirakusuma 54. Ratu Minah
25. Tubagus Abdurrahman 55. Ratu 'Azizah

26. Tubagus Mahaim 56. Ratu Sehah

27. Raden Rauf 57. Ratu Suba/Ruba

28. Tubagus Abdul Jalal 58. Tubagus Muhammad Said (Pg. Natabaya)

29. Ratu Hayati

30. Ratu Muhibbah

SULTAN
MUHAMMAD SYIFA' ZAINUL ARIFIN (1733-1750) Berputra :

1.Sultan Muhammad 'Arif 7. Ratu Sa'diyah

2. Ratu Ayu 8. Ratu Halimah

3. Tubagus Hasannudin 9. Tubagus Abu Khaer

4. Raden Raja Pangeran Rajasantika 10. Ratu Hayati

5. Pangeran Muhammad Rajasantika 11. Tubagus Muhammad Shaleh

6. Ratu 'Afiyah


SULTAN SYARIFUDDIN ARTU WAKIL(1750-1752 )

- Tidak Berputera


SULTAN MUHAMMAD WASI' ZAINUL 'ALIMIN(1752-1753)

- Tidak Berputera

SULTAN
MUHAMMAD 'ARIF ZAINUL ASYIKIN(1753-1773) Berputra :

1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin 4. Pangeran Suralaya

2. Sultan Muhyiddin Zainusholiohin 5. Pangeran Suramanggala

3 . Pangeran Manggala

SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN(1773-1799) Berputra :

1. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin 5. Pangeran Musa
2. Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) 6. Pangeran Yali

3. Pangeran Darma 7. Pangeran Ahmad

4. Pangeran Muhammad Abbas

SULTAN
MUHYIDDIN ZAINUSHOLIHIN(1799-1801) Berputra :

1. Sultan Muhammad Shafiuddin

Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)

Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)

Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) (1803-1808)

Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)

Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)

Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

 GEGER CILEGON Peristiwa perlawanan yang mengesankan pada awal abad 19
adalah peristiwa Geger Cilegon, yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888.
Peristiwa tersebut dipimpin oleh para alim ulama. Diantaranya adalah : Haji
Abdul karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid. Sepulangnya
Haji Abdul Karim dari Makkah, beliau banyak mengajarkan tarekat di
kampungnya, Lempuyang. Selain itu beliau juga menanamkan nasionalisme kepada
para pemuda untuk melawan para penjajah yang kafir.

Sementara itu KH. Wasid yang pernah belajar pada Syekh Nawawi Al Bantani
mengajarkan ilmunya di pesantrenya di Beji-Bojonegara. Bersama teman
seperjuangannya yakni : Haji Abdurrahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji
Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qashir dan Haji Ismail, mereka menyebarkan
pokok-pokok ajaran Islam ke masyarakat. Pada saat itu Banten sedang
dihadapi bencana besar. Setelah meletusnya Gunung Karakatau pada tahun 1883
yang merenggut 20.000 juta jiwa lebih, disusul dengan berjangkitnya wabah
penyakit hewan (1885) pada saat itu masyarakat banyak yang percaya pada
tahayul dan perdukunan. Di desa Lebak Kelapa terdapat satu pohon besar yang
sangat dipercaya oleh masyarakat memiliki keramat. Berkali-kali H. Wasid
memperingati masyarakat. Namun bagi masyarakat yang tidak mengerti agama,
fatwanya itu tidak diindahkan. H. Wasid tidak dapat membiarkan kemusrikan
berada didepan matanya. Bersama beberapa muridnya, beliau menebang pohon
besar tersebut. Kejadian inilah yang menyebabkan beliau dibawa ke
pengadilan (18 Nopember 1887), belaiu didenda 7,50 gulden. Hukuman tersebut
menyinggung rasa keagamaan dan harga diri murid-murid dan para
pendukungnya. Selain itu, penyebab terjadinya persitiwa berdarah, Geger
Cilegon adalah dihancurkannya menara langgar di desa Jombang Wetan atas
perintah Asisten Residen Goebel. Goebel menganggap menara tersebut
mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara. Selain itu Goebel
juga melarangang Shalawat, Tarhim dan Adzan dilakukan dengan suara yang
keras. Kelakuan kompeni yang keterlaluan membuat rakyat melakukan
pemberontakan.

Pada tanggal 7 Juli 1888, diadakan pertemuan di rumahnya Haji Akhia di
Jombang Wetan. Pertemuan tersebut untuk mematangkan rencana pemberontakan.
Pada pertemuan tersebut hadir beberapa ulama dari berbagai daerah.
Diantaranya adalah : Haji Said (Jaha), Haji Sapiudin (Leuwibeureum), Haji
Madani (Ciora), Haji Halim (Cibeber), Haji Mahmud (Terate Udik), Haji Iskak
(Saneja), Haji Muhammad Arsad (Penghulu Kepala di Serang) dan Haji Tb Kusen
(Penghulu Cilegon). Pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan
umum. Dengan memekikan Takbir para ulama dan murid-muridnya menyerbu
beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois
Dumas - juru tulis Kantor Asisten residen - dibunuh oleh Haji Tubagus
Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels,
Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka adalah orang-orang yang tidak
disenangi oleh masyarakat.Cilegon dapat dikuasio oleh para pejuang "Geger
Cilegon". Tak lama kemudian datang 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin
oleh Bartlemy. Terjadi pertempuran habet antara para pejuang dengan serdadu
kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan. Haji
Wasid dihukum gantung. Sedangkan yang lainnya dihukum buang. Diantaranya
adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke
Bukittinggi Haji Arsyad thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton,
Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang,
Manado, Ambon dan lain-lain. (Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94
orang).

Subject: SAJARAH BANTEN 7 (SYECH MAULANA MANSYUR CIKADUEN /KI BUYUT
MANSYUR


 (SYECH MAULANA MANSYUR CIKADUEN /KI BUYUT MANSYUR)

Syech Maulana Mansyurudin kasohor nami Abu Nashr, Abdul Qohar, sareng
Sultan Haji, anjeuna putra Sultan Agung Tirtayasa Abdul Fattah.

Ceuk sakaol nalika taun 1651 M, Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fattah) liren
tina kasultanan, dipasrahkeun ka putrana nyaeta Maulana Mansurudin Sultan
katujuh Banten, kinten-kinten 2 taun janten Sultan teras angkat ka Mekah.
Kasultanan dipasrahkeun ka putrana nyaeta Sultan Abdul Fadli, nalika angkat
ka Mekah Syech Maulana Mansur dipasihan wasiat ku ramana nyaeta upami
angkat ka Mekkah ulah mampir ka tempat sejen kedah langsung ka Mekkah
lajeng ti Mekkah kedah langsung ka Banten.

Dina sajeroning lalampahan ka Mekkah Syech Mansur hilap ka wasiat sepuhna
anjeuna singgah heula ka pulau Majeki, di dieu anjeuna nikah sareng ratu
jin gaduh putra hiji.

Salami Maulana Mansyur di pulau Majeki, Sultan Adipati Ishaq di banten
kena rayuan Walanda nu antukna anjeuna janten diangkat sultan ku Walanda.
Nanging sultan Abdul Fattah teu nyatujuan kedah ngantosan Maulana Mansyur,
lajeng aya kakacauan nu ahirna dongkap kapal anu ngaku Maulana Mansyur
sarta nyandak barang-barang ti Mekkah, dongkapna Sultan palsu ti Palabuhan
Banten ka Surosowan karaton Banten tetep ngangken Sultan Haji Abu Nashri nu
ahirna jalmi-jalmi percanten, mung Sultan Ageng nu teu percanten, padahal
Sultan palsu the Raja Pendeta turunan Jin ti pulo Majeki. Sultan Agen
dipikahewa ku sarerea, lajeng aya peperangan antawis Sultan Ageng sareng
Sultan Haji palsu, nu ngabela Sultan Ageng nyaeta Tubagus Buang. Salajengna
kabar ayana perang ka Maulana Mansyur nu aya di pulo Majeki yen aya perang
ageing di Banten lajeng anjeuna emut kana wasiat sepuhna nu tos dilanggar,
anjeuna angkat ti pulo Majeki ka Mekkah nyuhunkeun dihampura tina sagala
dosa di Baitullah.

Saparantos kitu rupina tobat ti anjeuna ditampi ku Gusti Allah SWT sarta
dipasihan sababaraha elmu panemu sareng karomah. Anjeuna emut ka Banten
sareng izin ti Allah SWT anjeuna neuleum di sumur zam-zam lajeng muncul di
Cibulakan, Cimanuk bari nyandak kitab suci Al Qur #8217;an dipanangana
lajeng eta Qur #8217;an janten batu nu aya tulisan Qur #8217;an eta tempat
ayeuna katelahna #8220;Batu Qur #8217;an #8221; nu dikurilingan ku cai.

Sadongkapna ka kampung Cikoromoy teras nikah ka Nyai Sarinten gaduh putra
namina Muhammad Sholih jujulukna Kyai Abu Sholih, salami di Cikoromoy
anjeuna ngajarkeun syareat Islam. Nyai Sarinten pupus teras dimakamkeun di
Pasarean Cikarayu Cimanuk. Syech Maulana Mansyur pindah ka Cikadueun bari
nyandak khadam Ki Jemah teras nikah ka Ratu Jamilah ti Caringin Labuan.
Dina hjiji waktos Syech Maulana Mansyur ngadangu soanten meong heras pisan,
barang ditingali sihoreng eta meong dijapit ku kima, eta meong meredih
menta tulung ka Syech Mansyur sangkan ditulungan, kumargi Syech Mansyur wali
sareng ngartos kana basa sato sapada harita eta meong tiasa dilepaskeun tina
kima. Saparantos kitu eta meong dibeat ku Syech Mansyur nu eusina kieu
#8220;Maneh meong ulah ngaganggu ka sakur anak turunan kami #8221;, eta
meong dikalungan surat Yasin dibehengna dipasihan nami si Pincang atanapi
Raden Langlang Buana, Ki Buyut Kalam. Eta Meong janten rajana meong di 6
tempat nyaeta Ujung Kulon ratuna Ki Maha Dewa, Gunung Inten ratuna Ki Bima
Laksana, Pakuwon Lumajang ratuna Raden Singa baruang, Majau ratuna Raden
putrid, Manitung Nyayat nu sirahna dicalikan ku Si Pincang. Syech Maulana
Mansyur pupus di Cikadueun, Pandeglang, Banten sarta dimakamkeun diditu taun
1672 M


Subject: SAJARAH BANTEN 8 (Syech Nawawi Al Bantani)


ULAMA SUNDA NU NGADUNIA

Syeikh Nawawi Al-Bantani nu kasohor disebat Sayyidu Ulama Hijaz (Pamingpin
Ulama di daerah Hijaz (Saudi Arabia) nyaeta urang Indonesia nu lahir di
Banten sareng turunan ti Maharaja Tatar Sunda Prabu Siliwangi. Anjeuna
seueur nyeepkeun waktosna kanggo ngajar sareng ngarang kitab dina widang
tafsir, hadits, nahu, sharaf jst.

Ampir sadaya ulama Indonesia murid anjeuna malihan aya murid-muridna nu
janten tokoh Nasional. Sanawis janten guru kanggo ulama Indonesia anjeuna
oge guru kanggo ulama di Singapura, Malaysia, Fatani (Thaland), jazirah
Arab, jst.

Kitab-kitab karangan anjeuna dugi ka ayeuna seueur janten bahan literature
pengajian ku Lembaga Pendidikan Islam di nagara sanes, contona di
Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Syech Nawawi Al-Bantani diwedalkeun dina taun 1813 M atanapi taun 1230 H di
desa Tanara Kacamatan Tirtayasa, Serang, Banten, anjeuna turunan ti Sultan
Maulana Hasanudin ti Syarif Hidayatullah ti Rara Santang ti Prabu
Siliwangi.

Dina yuswa anom keneh anjeuna guguru ka KH Shal Banten sareng KH Yusuf
Purwakarta lajeng dina yuswa 15 taun anjeuna neraskeun nyiar elmuna ka
Mekah Al Mukarommah sareng di ajar ka ulama sohor jaman harita sapertos
Syech Sayyid Ahmad Nahrawi, Syech Ahmad Dimyati, Syech Ahmad Zaeni Dahlan,
Sayyid Muhammad Hambal Al Hambali, Syech Khatib Sambas, Syech Abdul Ghani
Bima, Syech Yusuf Sambulawani. Saparantos 3 taun anjeuna mulih deui ka
Tanara saparantos apal Al Qur #8217;an sareng elmu sanesna sapertos mantic,
kalam , hadits, jsb. Anjeuna linggih di kampungna teu lami lajeng dina taun
1830 mulih deui ka Mekkah Dina taun 1870 anjeuna janten anjeuna ngawulang
di masjidil haram seueur murid-muridna nu dongkap ti Indonesia.

Murid-murid Syech Nawawi

 KH Kholil Bangkalan Madura, ulama ageng nu gaduh pangaruh di jawa Timur
sareng nu ngalahirkeun ulama-ulama besar



KH Hasyim As #8217; ari (Pendiri NU, akina Gus Dur), anjeuna nu
ngadirikeun pasantren Tebu Ireng di Jawa Timur, sareng Pahlawan Nasional.



 KH Asnawi Kudus Jawa Tengah, anjeuna ulama panutan nu pangaruhna sa pulo
Jawa sareng ngalahirkeun ulama-ulama ageing.



KH Asnawi Caringin Labuan Banten, ulama nu dugi ka ayeuna makamna sok
dijarahan ku sakurna jalami ti mana-mana.



KH Tb Bakri Sempur Purwakarta, anjeuna sohor disebat #8220;Ajengan
Sempur #8221; nu santri-santrina seueur janten ulama besar di Jawa Barat
KH Dawud Perak, Kuala Lumpur, Malaysia, ulama sohor di Kuala Lumpur
Malaysia.



Kitab-Kitab karangan Syech Nawawi Al-Bantani seueurna 115 kitab sadayana
disusun nganngo bahasa Arab fushah hal ieu anu nunjukeun yen anjeuna mahir
pisan dina bahasa Arab, ulama Timur Tengah nyalira salut dina karangan
kitab-na nu nganggu bahasa Arab nu sae (fushah), anapon kitab-kitab nu
dikarangna nyaeta :

Marah Labid (Tafsir Munir), Nihayatuzen, At _tauseh, As Simarul Yaniah,
Tanqihul Qaul, Nurudh dhalam, Fathul Majid, jrrd.

Syech Nawawi Al Bantani pupus dina kaping 25 syawal 1314 /1897 M di tempat
perkampungan Syech Ali Al Mukarammah Saudi Arabia dina yuswa 84 taun,
anjeuna dimakamkeun di pemakaman Ma #8217;la caket makam Siti Asmah puteri
Abu Bakar Shidiq sareng ulama ageing Syech Ibnu Hajar dugi ayeuna makam
anjeuna dijarahan para jamaah ti Indonesia, Singapura, Thaland, jrr.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5
posted:4/13/2013
language:Unknown
pages:23