Docstoc

MAKALAH PNEUMOTHORAK

Document Sample
MAKALAH PNEUMOTHORAK Powered By Docstoc
					                         MAKALAH
                     PNEUMOTHORAK


               Disusun sebagai acuan presentasi




                         Disusun oleh:
           1. Dewi robingah          (A01001395)
           2. Latifah Rostiana       (A01001399)
           3. Avita Arum Mawarni (A01001400)
           4. Heni Ardyagarini       (A01001415)
           5. Rian Yulianingsih      (A01001416)




           PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH
                         GOMBONG
                              2011
                                    BAB I

                             PENDAHULUAN




A. Latar Belakang
   pneumothorax mempengaruhi kira-kira 9,000 orang-orang setiap tahun di
   Amerika yang tidak mempunyai sejarah dari penyakit paru. Tipe dari
   pneumothorax ini adalah paling umum pada pria-pria yang berumur antara 20
   dan 40 tahun, terutama pada pria-pria yang tinggi dan kurus. Merokok telah
   ditunjukan meningkatkan risiko untuk spontaneous pneumothorax.
   Pada beberapa kejadian-kejadian, paru terus menerus membocorkan udara
   kedalam rongga dada dan berakibat pada penekanan dari struktur-struktur
   dada, termasuk pembuluh-pembuluh yang mengembalikan darah ke jantung.
   Ini dirujuk sebagai tension pneumothorax dan dapat menjadi fatal jika tidak
   segera dirawat.


B. Rumusan Masalah
   1. Apa pengertian pneumothorak?
   2. Apa epidemiologi dan etiologi pneumothorak?
   3. bagaimana patofisiologi pneumothorak?
   4. Apa manifestasi klinis pneumothorak?
   5. Apa komplikasi yang ditimbulkan setelah terjadi pneumothorak?
   6. Bagaimana penatalaksanaan penyakit pneumothorak?
   7. Bagaimana asuhan keperawatan pada pneumothorak?


C. Tujuan Penulisan
   Tujuan penulisan makalah ini agar pembaca selaku calon perawat yang
   profesional dapat tahu mengenai penyakit pneumothorak secara menyeluruh
   untuk dipraktekan secara profesional kelak.
D. Sistematika Penulisan
   Makalah ini di susun atas : BAB I : Pendahuluan yang berisi tentang latar
   belakang, rumusan masalah, tujuan,     sisitematika penulisan. BAB II      :
   Pembahasan yang berisi tentang pengertian pneumothorak, epidemiologi dan
   etiologi pneumothorak, patofisiologi pneumothorak, manifestasi klinis
   pneumothorak, komplikasi, penatalaksanaan, asuhan keperawatan pada
   pneumothorak. BAB III : Penutup yang tersusun atas kesimpulan dan saran.
                                   BAB II

                               PENBAHASAN




A. Pengertian
   Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam rongga pleura. Pneumotoraks
   banyak terjadi pada penderita umur dewasa (40 tahun ). Laki-laki lebih
   banyak dari pada perempuan.
   Pneumothorax adalah penumpukan dari udara yang bebas dalam dada diluar
   paru yang menyebabkan paru untuk mengempis.


B. Epidemiologi dan Etiologi
   Pneumotoraks lebih sering terjadi pada penderita dewasa yang berumur
   sekitar 40 tahun. Laki-laki lebih sering dari pada wanita . pneumotoraks
   sering dijumpai pada musim penyakit batuk.
   Pembagian pheumotoraks bermacam-macam tergantung dari sisi pembuatan
   klasifikasi tertentu. Dibawah ini beberapa pembagian pheumotoraks.

   1. Berdasarkan terjadinya
      a. Artifisial
          Pheumotoraks yang disebabkan tindakan tertentu atau memang
          disengaja untuk tujuan tertentu.

      b. Traumatik
          Pheumotoraks yang disebabkan oleh jejas mengenai dada.

      c. Spontan
          Pheumotoraks yang terjadi secara spontan tanpa didahului oleh
          kecelakaan atau trauma seringkali didapatkan pada penyekit dasar
          misalnya : Tuberkulosis paru yang prosesnya sudah lama, dengan
          multiple cavety, fibrosis, emfisema, TB milier.
   2. Berdasarkan lokalisasi
       a. Pheumotoraks parietalis
       b. Pheumotoraks medialis
       c. Pheumotoraks basalis
   3. Perbedaan derajat kolaps
       a. Pheumotoraks totalis
       b. Pheumotoraks parsialis
   4. Berdasarkan jenis fistel
       a. Pheumotoraks terbuka         → pada saat inspirasi tekanan menjadi
          negatif dan waktu ekspirasi tekanan menjadi positif
                             Pertama                    Kedua

          Ekspirasi              +2       -        +2

          Inspirasi              -2                -2

       b. Pheumotoraks tertutup        → pada waktu terjadi gerakan pernapasan
          tekanan udara di kavum pleura tetap negatif
                              Pertama          Kedua

          Akspirasi              -4       →      -4

          Inspirasi              -12             -12

       c. Pheumotoraks ventil                  → waktu ekspirasi di rongga pleura
          tidak dapat keluar. Akibatnya tekanan dalam rongga pleura makin
          lama makin tinggi
                       Pertama         Kedua        Ketiga

          Ekspirasi     +12      →      +7     →    +10

          Inspirasi     -3              +3          +6

C. Patofisiologi
   menurut Macklio
   Alveol disangga oleh kapiler yang mempunyai dinding lemah dan mudah
   robek, apabila alveoli tersebut melebar dan tekanan didalam alveoli
   meningkat    maka     udara     masuk   dengan   mudah     menuju   kejaringan
   peribronkovarkuler gerakan nafas yang kuat, infeksi dan obstruksi
   endrobronkial merupakan beberapa factor presipitasi yang memudahkan
   terjadinya robekan selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat
   mengoyak jaringan fibrotik peri bronco vascular gerakan nafas yang kuat,
   infeksi dan obstruksi endobronkial merupakan beberapa factor presipitasi
   yang memudahkan terjadinya robekan selanjutnya udara yang terbebas dari
   alveoli dapat mengoyak jaringan fibrotik peri bronco vascular robekan pleura
   kearah yang berlawanan dengan tilus akan menimbulan pneumothoraks
   sedangkan    robekan     yang    mengarah   ke   tilus   dapat   menimbulakan
   pneumomediastinum dari medrastinum udara mencari jalan menuju atas, ke
   arah leher. Diantara organ – organ di mediastinum terdapat jaringan ikat yang
   longgar sehingga mudah di tembus oleh udara. Dari leher udara menyebar
   merata di bawah kulit leher dan dada yang akhirnya menimbulkan emfisema
   sub kutis. Emfisema sub kutis dapat meluas kearah perut hingga mencapai
   skretum.


D. Manifestasi Klisnis
   Keluhan : timbulnya mendadak, biasanya setelah mengangkat barang berat,
   habis batuk keras, kencing yang mengejan, penderita menjadi sesak yang
   makin lama makin berat.
   Keluhan utama : sesak, napas berat, bias disertai batuk-batuk. Nyeri dada
   dirasakan pada sisi sakit, terasanya berat (kemeng), terasa tertekan, terasa
   lebih nyeri pada gerakan respirasi.


E. Komplikasi
       Emfisema
       Hemathoraks
       Kardiogenik shock
       Kegagalan pernapasan


F. Penatalaksanaan
   Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks, derajat
   kolaps berat ringan gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi untuk
   melaksanakan pengobatan tersebut dapat dilakukan tindakan medis atau
   tindakan bedah.

  1. Tindakan medis
       Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur            tekanan intra pleural
       menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama di
       tujukan pada penderta pneumothoraks tertutup atau terbuka sedangkan
       untuk pneumothoraks ventil tindakan utama           yang harus dilakukan
       dekompresi terhadap tekanan intra plura yang tinggi tersebut yaitu dengan
       membuat hubungan dengan udara luar.
  2. Tindakan dekompresi
       Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :
       a) Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk kerongga pleura
           dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan
           berubah menjadi negatif karena udara yang positif di rongga pleura
           akan berubah menjadi negatif karena udara keluar melalui jarum
           tersebut.
       b) Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
          1. Dapat memakai infus set
          2. Jarum abbocath
          3. Pipa Water Sealed Drainage (WSD)
       Pipa khusus (thoraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan
       perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit (pean) pemasukan
       pipa plastik (thoraks kateter) dapat juga dilakukan me;lalui celah yang
       telah dibuat dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada garis aksila
       tengah atau pada garis aksila belakang. Selain itu dapat pula melalui sela
   iga ke 2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya ujung selang plastik
   didada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik di dada dan
   pipa kaca WSD di hubungkan melalui pipa plastik lainnya posisi ujung
   pipa kaca yang berada         di botol sebaiknya berada 2 cm dibawah
   permukkaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar
   melalui perbedaan tekanan tersebut.

   Penghisapan terus – menerus (continous suction).

   Penghisapan dilakukan terus menerus apabila tekanan intra pleura tetap
   positif penghisapan ini dilakukan dengan memberi tekanan negatif sebesar
   sebesar 10 – 20 cm H2O dengan tujuan agar paru cepat mengembang dan
   segera terjadi perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parietalis.

   Pencabutan drain.

   Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekanan intra pleura sudah
   negatif kembali, drain drain dapat dicabut, sebelum dicabut drain di tutup
   dengan cara dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru tetap
   mengembang penuh, maka drain dicabut.




3. Tindakan bedah
   a) Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi duicari lubang
      yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.
   b) Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang
      menyebakan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan
      pengelupasan atau dekortisasi.
   c) dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau
      bila ada fistel dari paru yang rusak. Sehingga paru tersebut tidak
      berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.
   d) pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua
      pleura ditempat fistel.
Pengobatan tambahan

   1. Apabila terdapat proses lain di paru, maka pengobatan tambahan ditujukan
       terhadap penyebanya
       -   Tehadap proses tuber kulosis paru, diberi obat anti tuberculosis .
       -   Untuk mencegah obstipasi dan memperlancar defekasi, penderita
           diberi laksan ringan, dengan tujuan supaya saat defekasi, penderita
           tidak perlu mengejan terlalu keras.
   2. Istirahat total
   Penderita dilarang melakukan kerja keras (mengangkat barang) batuk, bersin
   terlalu keras, mengejan.
                        ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

A. Riwayat keperawatan
   Klien terdapat penyakit paru, bila ditemukan adanya iritan pada paru yang
   meningkat maka mungkin terdapat riwayat merokok. Penyakit yang sering
   ditemukan adalah pneumotoraks, hemotoraks, Pleural effusion atau empiema.
   Klien bias juga ditemukan adanya rwayat trauma dada yang mendadak yang
   memerlukan tindakan pembedahan.

B. Pemeriksaan
   Adanya respirasi ireguler, takhipnea, pergeseran mediastinum, ekspansi dada
   asimetris. Adanya ronchi atau rales, suara nafas yang menurun, yang
   menurun, perkursi dada redup menunjukan adanya pleural effusion Sering
   ditemui sianosis perifel atau sentral, takhikardia, hipotensi,dan nyeri dada
   pleural. Pad pemeriksaan Blood gas terdapat kelainan pada PaO2 yang
   menurun dan     PCO2 yang meningkat. Terdapat ketidak seimbangan cairan
   elektrolit yang ringan missal pada Na dan K.

C. Faktor perkembangan / psikososial
   Klien mengalami kecemasan, ketakutan terhadap nyeri, prosedur atau
   kematian, karena penyakit atau tindakan. Persepsi dan pengalaman lampau
   klien terhadap tindakan ini atau hospitalisasi akan mempengaruhi keadan
   psikososial klien.

D. Pengetahuan klien dan keluarga
   Pengkajian diarahkan pada pengertian klien tentang tindakan WSD, tanda atau
   gejala yang menimbulkan kondisi ini, tingkat pengetahuan, kesiapan dan
   kemauan untuk belajar.
DIAGNOSA DAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
DIAGNOSIS KEPERAWATAN I

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kekolaps – an paru, pergeseran
mediastinum.

Tujan : Klien memiliki pertukaran gas yang optimal selama terpasang WSD

Kriteria standar : Klien memiliki tanda – tanda vital dbn, RR20 – 30/ menit,
suhu 36,3 – 37,3 derajad/ menit, nadi 80 – 100 kali/ menit. Keutuhan WSD
terjaga, aliran (udara / cairan ) lancar, selang tidak ada obstruksi dan tidak
terjadimsianosispada klien.




INTERVENSI                                   RASIONAL
   1. Berikan pengertian tentang             Pengertian akan membawa pada
                                             motivasi untuk berperan aktif
                                             sehingga      tercipta     perawatan
                                             mandiri.
   2. prosedur tindakan WSD, kelancaran
                                             WSD yang obstruksi akan selalu
       dan akibatnya
                                             terkontrol    karena      klien    dan
   3. Periksa WSD lokasi insersi, selang
                                             keluarga kooperatif.
       drainage dan botol.
                                             Adanya kloting merupakan tanda
   4. Observasi tanda – tanda vital          penyumbatan              WSD      yang
                                             berakibat paru kolaps.

                                             Hipertemi,                Takhikardi,
                                             Tackhipnea merupakan tanda –
   5. Observasi analisa Blood gas.
                                             tanda      ketidakoptimalan fungsi
                                             paru.
   6. Kaji karakteristik suara pernapasan,
                                             Ketidak        normalan           ABG
       sianosis terutama selama fase akut.
                                             menunjukan adanya gangguan
                                             pernapasan.
   7. Berikan posisi semi fowler (600-
       900)                                  Adanya      ronchi,    Rales     dan
                                             sianosis merupakan tanda – tanda
                                             ketidakefektifan               fungsi
                                             pernapasan
   8. Anjurkan klien untuk nafas yang
                                             Posisi       ini      menggerakan
       efektif
                                             abdominal jauh dari diafragma
                                             sehingga memberikan fasilitas
   9. Bila perlu berikan oksigen sesuai untk kontraksi dan ekspansi paru
       advis                                 maksimal.

                                             Nafas efektif akan melancarkan
                                             proses pertukaran gas.

                                             Pemberian oksigen menurunkan
                                             kerja otot – otot pernafasan dan
                                             memberikan         suplai tambahan
                                             oksigen.




Diagnosis keperawatan II

Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan insersi WSD

Tujuan : Klien bebas dari infeksi pada lokasi insersi selama pemasangan WSD.

Kriteria standart : Bebas dari tanda – tanda infeksi : Tidak ada kemerahan,
Purulent, Panas, dan nyeri yang meningkat serta fungsiolisa. Tanda – tanda vital
dalam batas normal.
INTERVENSI                                   RASIONAL
   1. Berikan pengertian dan motivasi Perawatan mandiri seperti menjaga
        tentang perawatan WSD
                                             luka dari hal yang septic tercipta bila
                                             klien      memiliki   pengertian    yang
   2. Kaji tanda – tanda infeksi             optimal

                                             Hipertemi,      kemerahan,      purulent,
   3. Monitor reukosit dan LED               menunjukan indikasi infeksi.

                                             Leukositosis      dan     LED       yang
   4. Dorongan       untuk    nutrisi   yang meningkat       menunjukan       indikasi
        optimal                              infeksi.

                                             Mempertahankan status nutrisi serta
   5. Berikan perawatan luka dengan mendukung system immune
        teknik aseptikdan anti septic
                                             Perawatan luka yang benar akan
                                             menimbulkan               pertumbuhan
   6. Bila perlu berikan AntiBiotik sesuai mikroorganisme
        advis.
                                             Mencegah          atau       membunuh
                                             pertumbuhan mikroorganisme




Diagnosis Keperawatan III

Devisit volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan dalam waktu
cepat

Tujuan : Klien akan mempertahankan keseimbangan cairan selama prosedur
tindakan WSD.

Kriteria Standart : Memiliki drainage output yang optimal, Turgor kulit spontan
tanda – tanda vital dalam batas normal, Mempertahankan HB, Hematokritdan
elektrolit alam batas normal. Orientasi adekuat dan klien dapat beristirahat dengan
nyaman.

INTERVENSI                                 RASIONAL
   1. Cacat drainage outpt setiap jam 40 – 100 ml cairan sangonius pada
       sampai delapan jam kemudian jam 8 post op adalah normal, tetapi
       4 – 8 jam]                          kalau   ada   peningkatan       mungkin
                                           menunjukan indikasi perdarahan.

   2. Observasi tanda – tanda defisit Hipotensi,         tachikardi,      tachipnea,
       volume cairan                       penurunan         kesadaran,       pucat
                                           diaporosis, gelisah merupakan tanda –
                                           tanda perdarahan      yang mengarah
                                           devisit volume cairan.

                                           Intake yang optimal akan kebutuhan
   3. Berikan intake yang optimal bila cairan       tubuh.     Cairan     parenteral
   perlu melalui parenteral                merupakan suplemen tambahan.




Diagnosis Keperawatan IV

Gangguan mobilitas fisik berhubngan dengan ketidak nyamanan sekunder
akibat pemasangan WSD.

Tujuan : Klien memiliki mobilitas fisik yang adekuat selama pemasangan WSD.

Kriteria Standart : Klien merasakan nyeri berkurang selama bernafas dan
bergerak, klien memiliki range of motion optimal sesuai dengan kemampuannya,
mobilitas fisik sehari – hari terpenuhi.
INTERVENSI                             RASIONAL
   1. Kaji ROM pada ekstrimitas Mengetahui tangda – tanda awal
      atas tempat insersi WSD          terjadinya kontraktur, sehingga bias
                                       dibatasi.

   2. Kaji    tingkat   nyeri   dan Nyeri yang meningkat akan membatasi
      pemenuhan aktifitas sehari – pergerakan sehingga mobilitas fisik
      hari                             sehari –hari mengalami gangguan.



   3. Dorong exercise ROM aktiif
                                       Mencegah stiffness dan kontraktur dari
      atau pasif ada lengan dan bahu
                                       kuangnya pemakaian lengan dan bahu
      dekat tempat insersi.
                                       dekat tempat insersi


   4. Dorong klien untuk exercise
      ekstrimitas bawah dan Bantu Mencegah stasis vena dan kelemahan
      ambulansi                        otot
   5. Berikan tindakan distraksi dan
      relaksasi



                                       Distraksi    dan    relaksasi   berfungsi
                                       memberikan         kenyamanan      untuk
                                       beraktifitas sehari – hari.




Diagnosis keperawatan V

Kurangnya pengetahuan         berhubungan dengan          keterbatasan informasi
terhadap prosedur tindakan WSD.

Tujuan : Klien mampu memverbalkan pengertian tentang prosedur tindakan WSD
sesuai kemampuan dan bahasa yang dimiliki.
Kriteria Standart : Klien mampu memverbalkan alasan tindakan WSD,mampu
mendemonstrasikan perawatan WSD minimal mampu kooperatif terhadap tindakan
yang dilakukan.

 INTEVENSI                                      RASIONALISASI
    1. Kaji keadaan fisik dan emosional Kondisi fisik tidak nyaman dan ketidak
        klien     saat     akan     dilakukan siapan mental merupakan factor utama
        tindakan         health     education adanya         halangan    penyampaian
        (penyuluhan)                            informasi.
    2. Berikan        pengertian      tentang
                                                Pengertian     membawa      perubahan
        prosedur tindakan WSD
                                                pengetahuan, sikapdan psikomator.
    3. Demonstrasikan              perawatan
        WSD       i   depan        klien   dan Demonstrasi merupakan suatu metode
        keluarganya.                            yang tepat dalam penyampaian suatu
                                                informasi sehingga mudah di pahami.




Evaluasi :

Klien akan mencapai re-ekspasi jaringan paru yang optimal dengan berbagai
masalah keperawatan yang dialami.
                                BAB III

                                PENUTUP




A. Kesimpulan
  Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam rongga pleura. Pneumotoraks
  banyak terjadi pada penderita umur dewasa (40 tahun ). Laki-laki lebih
  banyak dari pada perempuan.
  Pembagian pheumotoraks bermacam-macam tergantung dari sisi pembuatan
  klasifikasi tertentu.
  Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura, sehingga
  paru-paru bisa kembali mengembang.


B. Saran
  Sebagai calon perawat, penulis berharap pembaca dapat benar-benar paham
  tentang penyakit pneumothorak agar dapat memberi asuhan keperawatan
  yang komperhensif dan menjadi perawat yang profesional.
                            DAFTAR PUSTAKA



Caine, R,M. and Bufalino, P.M, Nursing Care Planing guides For adult
       William and Wilkins, 1987, USA

Purwadianto, A, dan Sampurna, B, Kedaruratan Medik : Pedoman
       Penatalaksanaan Praktis, Edisi revisi, Bina rupa Aksara, 2000, Jakarta

Wilson, S.F. and Thompson, J. M, Respiratori disorder ijn clinical nursing
       Series Mosbi year book Inc, 1997, USA

http://askep-ebook.blogspot.com/2008/06/askep-pneumothorax.html             (pada
       tanggal 22 desember 2011)

http://medicastore.com/penyakit/148/Kolaps_Paru-Paru_Pneumothorax.html
       (pada tanggal 22 desember 2011)

http://www.totalkesehatananda.com/pneumothorax.html      (pada    tanggal     22
       desember 2011)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:15
posted:4/8/2013
language:Unknown
pages:19