kekuatan otot tungkai dan daya ledak by susnadi

VIEWS: 1,071 PAGES: 10

									                ARTIKEL ILMIAH


   HUBUNGAN KEKUATAN DAN DAYA LEDAK
    OTOT TUNGKAI TERHADAP KECEPATAN
      LARI SPRINT 100 METER PADA SISWA
            SMA N 1 SAROLANGUN




                     OLEH

        NAMA          : EDWRSYAH ARFI
        NIM           : A1D408115




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN
  FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
            UNIVERSITAS JAMBI
                  2012
                                                ABSTRAK


           Arfi, Edwarsyah. 2012 “Hubungan kekuatan dan daya ledak otot tungkai terhadap
                  kecepatan lari sprint 100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun”. Program Studi
                  Pendidikan Olahraga dan kesehatan, FKIP Universitas Jambi, Pembimbing (I)
                  Drs. Arsil, M.Pd (II) Muhammad Ali, S. Pd, M. pd

.

            Atletik adalah cabang olahraga yang tertua yang di lakukan manusia sejak zaman
    Yunani kuno sampai dewasa ini. Dalam mata pelajaran atletik yang di pelajari adalah gerakan
    dasar manusia di dalam kehidupan sehari-hari yaitu berjalan, berlari, melompat dan
    melempar dari semua nomor tersebut, mempunyai karekteristik gerak, peraturan serta teknik
    yang berbeda, Sprint adalah semua perlombaan lari dimana peserta lari dengan kecepatan
    penuh sepanjang jarak yang harus ditempuh, kekuatan otot adalah komponen yang sangat
    penting guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan, sedangkan Daya ledak adalah
    suatu kemampuan seorang atlet untuk mengatasi suatu hambatan dengan kecepatan kontraksi
    yang tinggi.

            Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan kekuatan dan daya ledak
    otot tungkai terhadap kecepatan lari sprint 100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun.

           Penelitian ini digolongkan pada jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan
    rancangan penelitian korelasional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode
    deskriptif dengan teknik survey.

           Berdasarkan uji Korelasional yang dilakukan terhadap hasil tes dengan uji
    Normalitas, uji Korelasi ganda. Dari Hasil uji normalitas didapat L hitung < L tabel yaitu
    pada kekuatan otot tungkai,daya ledak otot tungkai, kecepatan lari sprint 100 m, 0.1513,
    0.0987, 0.1031< 0. 242, hasil dari uji Korelasi diketahui r      = 0.1207. Kemudian data
                                                                    x1x2y
    tersebut diuji signifikansi korelasi dengan dibandingkan r           pada taraf signifikansi 5% =
                                                                 tabel
    0.632 yang berarti r           <r   . Dengan demikian dapat disimpulkan ada Hubungan positif
                           x1x2y    tabel
    dan signifikan antara kekuatan dan daya ledak otot tungkai terhadap kecepatan lari sprint 100
    m.

           Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat di
    simpulkan bahwa terdapat Hubungan kekuatan dan daya ledak otot tungkai terhadap
    kecepatan lari sprint 100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun.


    Kata kunci: Kekuatran Otot Tungkai, Daya Ledak Otot Tungkai,kecepatan Lari Sprint.
I. PENDAHULUAN

    Perkembangan olahraga di Indonesia dewasa ini terasa semakin maju, hal ini tidak
terlepas dari peran serta masyarakat yang semakin sadar dan mengerti arti penting serta
fungsi olahraga itu sendiri. Di samping itu perhatian serta dukungan Pemerintah juga
menunjang perkembangan olahraga di Indonesia. Pada hakekatnya olahraga terdiri dari
banyak cabang, salah satu cabang olahraga yang saat inisudah berkembang adalah
olahraga atletik.
    kurikulum pendidikan jasmani SMA, sprint adalah salah satu materi yang di ajarkan
kepada siswa di sekolah. Untuk mandapatkan hasil yang maksimal pada lari sprint teknik
dan gerak sprint harus dipelajari dan di tingkatkan disamping itu kondisi fisik juga harus
diperhatikan karena pada olahraga perlombaan individu komponen inilah yang
terpenting. Pada sprint ada beberapa faktor kodisi fisik yang menentukan baik tidaknya
kecepatan sprint tersebut, diantaranya adalah kecepatan, kekuatan, dan daya ledak otot
tungkai.
    Berdasarkan hal tersebut, untuk mendapatkan kemampuan sprint yang baik pada
olahraga atletik maka perlu ditingkatkan kekuatan serta daya ledak ototya. Mencermati
hal di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada olahraga atletik lari jarak
pendek dengan judul “Hubungan kekuatan dan daya ledak otot tungkai terhadap
kecepatan lari sprint 100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun.


II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Hakekat Atletik

Istilah atletik berasal dari bahasa Yunani yaitu “Atletik” yang memiliki makna
bertanding atau berlomba. Istilah atletik yang digunakan di Indonesia saat ini diambil
dari bahasa inggris yaitu atletik yang berarti cabang olahraga yang meliputi jalan, lari,
lompat, dan lempar. Sementara di Amerika Serikat, istilah atletik berarti olahraga
pertandingan, dan istilah menyebut atletik adalah track and field. Carr, (2000: 3)
Cabang-cabang atletik terdiri dari:
1. Nomor Lari, terdiri dari:
- Lari cepat (sprint)
- Lari jarak menegah
- Lari jarak jauh
2. Lempar
- Lempar lembing
- Tolak peluru
- Lempar cakram
- Lempar martil


3. Lompat
    - Lompat tinggi
    - Lompat jauh
    - Lompat jangkit
    - Lompat galah
     Disamping itu terdapat, nomor perlombaan khusus, yaitu lari estafet, lari halang
     rintang, lari lintas alam, dan jalan cepat.( Gerry.2000: 2).

    2. Hakekat Lari Sprint

        Sprint adalah semua perlombaan lari dimana peserta lari dengan kecepatan penuh sepanjang
    jarak yang harus ditempuh, sampai dengan jarak 400 meter masih digolongkan dalam sprint.
    Kelangsungan gerak pada sprint, baik itu lari 50 meter, 100 meter maupun 200 meter secara
    teknik adalah sama. Kalau ada perbedaan hanyalah terletak pada penghematan penggunaan
    tenaga, karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus ditempuh
    makin membutuhkan keuletan atau daya tahan. Kelangsungan gerak sprint itu dibagi menjadi
    tiga. Muhajir, (2003: 26).

    3. Hakekat Kekuatan Otot

       Kekuatan otot menurut M. Sajoto (1995 : 99) adalah komponen kondisi fisik yang
    dapat ditingkatkan sampai batas sub maksimal, sesuai kebutuhan setiap cabang olahraga
    yang memerlukan. Faktor-faktor yang harus benar-benar diperhatikan secara matang
    melalui pembinaan secara dini serta memperhatikan beberapa aspek yang harus
    meningkatkan prestasi adalah struktur postur tubuh yang meliputi: (a) ukuran tinggi dan
    panjang tubuh, (b) ukuran besar, lebar, dan berat tubuh, (c) somato tipe (bentuk tubuh:
    endomorphy, mesomorphy, dan ectomorphy).

    4. Hakekat Kekuatan Otot Tungkai

       Daya ledak otot tungkai adalah suatu kemampuan otot tungkai untuk melakukan
    aktivitas secara cepat dan kuat untuk menghasilkan tenaga


5 Kerangka Berfikir


  Kekuatan Otot tungkai

                                                 Kecepatan lari sprint 100 m
  Daya ledak otot tungkai

                               Gambar 1, Bagan Kerangka konseptual

6. Hipotesis Penelitian
       Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat Hubungan kekuatan dan daya
ledak otot tungkai terhadap kecepatan lari sprint 100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun.
III. METEDOLOGI PNELITIAN

        Penelitian ini merupakan penelitian korelasional, yang hendak menyelidiki ada
 tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Secara grafis bentuk
 hubungan rancangan penelitian ini dapat di gambarkan sebagai berikut :

         Gambar 2. Rancangan penelitian yang dilakukan
                    X1
         S                      Y
                   X2
 Keterangan :
 S    = Sampel Penelitian
 X1 = kekuatan otot Tungkai
 X2 = Daya Ledak Otot truyngkai
 Y    = Kemampuan hasil sprint

     Variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Dalam penelitian ini terdiri dari dua
 variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas adalah variabl yang
 mempengaruhi atau sebagai penyebab salah satu dalam penelitian, sedang variabel terikat
 adalah variabel yang dipengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kekuatan otot
 tungkai dan daya ledak otot tungkai, dan variabel terikatnya adalah kemampuan hasil sprint
 100 m.

    Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA N 1 Sarolangun yang
 mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga atletik berjumlah 12 orang.

        sampel yang digunakan dalam peneitian ini menggunakan metode Total Sampel yaitu
 jumlah keseluruhan dari populasi yang berjumlah 12 orang yang mengikuti kegiatan
 ekstrakurikuler olahraga atletik.

        Instrument pada penelitian ini adalah tes yang berguna untuk mengumpulkan data
 kekuatan dan daya ledak otot tungkai sereta lari seprint 100 m.
        Instrument penelitian dalam penelitian ini sebagai berikut :
 1) Semua peserta tes melakukan tes kekuatan otot dengan tes (Vertical Jump).
 2) Tes daya ledak otot tungkai dengan standing broard jump tes,
 3) Tes kecepatan sprin 100 m.

          Teknik pengumpulan data merupakan cara atau ketentuan yang dilakukan dalam
 pelaksanaan tes untuk mengetahui ada atau tidakya hubungan daya ledak otot tungkai dan
 kekuatan otot tungkai terhadap kemampuan hasil sprint 100 m dalam permainan olahraga
 atletik sprint 100 m siswa SMA N 1 Sarolangun.
 Peleksanaan tes yaitu:

        Tes Kekuatan Otot tungkai (Vertical Jump)
     a. Tujuan
        Tes ini bertujuan untuk mengukur daya kekuatan eksplosif
     b. Alat dan Fasilitas
        1) Papan berskala centimeter, warna gelap, ukuran 30 x 150 cm, dipasang pada
        dinding yang rata atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka nol (0) pada papan tes
        adalah 150 cm.
       2) Serbuk kapur
       3) Alat penghapus papan tulis
       4) Alat tulis
    c. Petugas Tes
       Pengamat dan pencatat hasil




                                                          Gambar 3. berdiri Loncat Tegak
    d. Pelaksanaan Tes
    1) Sikap permulaan
         a) Terlebih dulu ujung jari peserta diolesi dengan serbuk kapur /
             magnesium karbonat
          b) Peserta berdiri tegak dekat dinding, kaki rapat, papan skala berada pada sisi
             kanan / kiri badan peserta. Angkat tangan yang dekat dinding lurus ke atas,
             telapak tangan ditempelkan pada papan skala hingga meninggalkan bekas jari
       2) Gerakan
         a) Peserta mengambil awalan dengan sikap menekukkan lutut dan kedua lengan
             diayun ke belakang




                             Gambar 4. cara Loncat Tegak
      Kemudian peserta meloncat setinggi mungkin sambil menepuk papan dengan tangan
      yang terdekat sehingga menimbulkan bekas.

Tes daya ledak otot tungkai

       Untuk mengambil data daya ledak otot tungkai dinamakan tes “ Standing Broad
Jump” menurut Arsil dalam buku Evaluasi Penjas dan Olahraga (2010) untuk mengukur
daya ledak otot tungkai kearah depan
                            Gambar 5. Tes Standing Broad Jump
Pelaksanaannya:
        Testee berdiri pada belakang garis batas papan tolakan, kedua kaki sejajar, dengan
lutut ditekuk sampai membentuk sudut lebih kurang 45 0, kedua lengan lurus kebelakang,
kemudian testee menolak kedepan dengan kedua kaki sekuat-kuatnya dan mendarat dengan
kedua kaki. Masing-masing testee diberikan tiga kali pengulangan.
Skor:
        Hasil lompatan testee diukur dari bekas pendaratan badan atau anggota badan yang
terdekat garis start sampai dengan garis start, kemudian nilai yang diperoleh testee adalah
jarak loncatan terjauh yang diperoleh dari ketiga loncatan.
Tabel 1. Standart Penilaian Daya Ledak Otot Tungkai
           Tingkat Kemampuan            Skor Dalam Cm Untuk Pria
           Sempurna                         >200 cm
           Sangat baik                  171-180 cm
           Baik (diatas rata-rata)      161-170 cm
           Sedang (rata-rata)           151-160 cm
           Kurang (dibawah rata-rata) 141-150 cm
           Sangat Kurang (jelek)        < 140 cm
       Sumber : Kondisi Fisik Dan Pengukurannya dalam (Hendri Irwandi 2010).
 Lari (Sprint) 100 meter.
        Tujuan dari tes ini adalah untuk mengukur kecepatan. Tes dilakukan pada lintasan
yang lurus, datar, rata, tidak licin dan berjarak 100 meter dan masih mempunyai lintasan
lanjutan.
   Pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
   a. Start dilakukan dengan start jongkok.
   b. Pada aba-aba ”Bersedia”, siswa berdiri dengan salah satu ujung jari kakinya sedekat
      mungkin denagn garis start.
   c. Pada aba-aba ”Siap”, siswa siap untuk berlari.
   d. Pada- aba-aba ”Ya”, siswa berlari secepat-cepatnya menempuh jarak 100 meter sampai
      melewati garis finish.
   e. Bersamaan dengan aba-aba ”Ya”, stopwatch dijalankan dengan dihentikan pada saat
      siswa mencapai garis finish.
   f. Hasil yang dicatat adalah waktu yang dicapai untuk menempuh jarak tersebut, waktu
      dicatat satu angka dibelakang koma.

                        Tabel 2. Norma Test Lari 100 meter Usia 13-15 tahun.
                                     Sumber: Gerry, (2000: 37)

             Jenis        Umur                        Nilai
                                      Jarak (S)                   Kriteria
            Kelamin      (tahun)
                                       s/d – 12        5        Sangat Baik
                                      12,1 – 13        4           Baik
            Laki-laki    15-17        13,1 – 14        3        Memuaskan
                                      14,1 -15         2          Cukup
                                          15,1        1          Kurang
Teknik Analisi Data
        Data dalam penelitian ini adalah angka-angka yaitu hasil tes Kekuatan otot tungkai
(x1), Daya tahan otot tungkai (x2), dan kemampuan sprint 100 m (y). Uji simultan dalam
penelitian ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dan terhadap secara
bersama-sama (serentak). Adapun langkah-langkah analisis yang digunakan adalah sebagai
berikut :

Korelasi Parsial
       Korelasi parsial digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen
dan dependen, dimana salah satu variabel independennya tetap/dikendalikan.
Rumus untuk korelasi parsial dapat dijelaskan sebagai berikut :


rx1xy =             ∑x1y
               √(∑x2)(∑y2)
Keterangan:
r = koefisien korelasi antara Y dan 1X
    yx1
r         = koefisien korelasi antara Y dan 2X
    yx2
r         = koefisien korelasi antara dan 1X2X
x1x2
Sugiono(2009:192)

 Korelasi Ganda
       Korelasi ganda (multiple correlation) merupakan angka yang menunjukkan arah dan
kuatnya hubungan antara dua variabel secara bersama-sama atau lebih dengan variabel lain.
Rumus korelasi ganda dua variabel ditunjukkan pada rumus berikut :


rx1x2y=         √r yx + r rx – 2ryx ryx rx x
                    2
                        1
                            2
                                2
                                           2
                                               1   2   1 2
                                        1-r x1x2

Dimana :
R    = korelasi antara X dan X secara bersama –sama dengan variabel Y
     y.x1.x2                        1          2
r         = korelasi antara Y dan 1X
    yx1
r         = korelasi antara Y dan 2X
    yx2
r         = korelasi antara dan 1X2X
x1x2
Sugiono (2009:193)


    IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN

     Pada Bab ini akan dikemukakan hasil penelitian yang telah penulis lakukan dan
pembahasan terhadap hasil penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk:
mengetahui Hubungan kekuatan dan daya ledak otot tungkai terhadap kecepatan lari sprint
100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun
V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

        Berdasarkan uraian dan hipotesis yang diajukan maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan yang berarti antara kekuatan dan daya ledak otot tungkai terhadap lari
sprint 100 m pada siswa SMA N 1 Sarolangun.

2. Saran

       Dari kesimpulan yang dikemukankan maka dapat disarankan sebagai berikut :
a. Untuk mendukung kemampuan dalam melakukan gerakan olahraga dibutuhkan latihan
   kondisi fisik yang baik.
b. Bagi guru olahraga dalam melatih kemampuan lari sprint siswa hendaknya dapat lebih
   efektif dalam menerapkan latihan variasi lari. Namun demikian hal ini perlu dibuktikan
   melalui penelitian lebih lanjut dan dalam jangka waktu relative yang lebih lama.
c. Bagi peneliti yang hendak meneliti masalah ini lebih lanjut, agar kiranya dapat
   mempertimbangkan berbagai keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini, seperti
   jumlah sampel, jenis kelamin, dan lain-lain. Tujuannya adalah demi kemanfaatan hasil
   temuan yang diperoleh.
                                       DAFTAR PUSTAKA


Arikunto. Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Penerbit Rineka
       Cipta. Jakarta.

Bompa, 1983. Theory and metodology Training. Tesis. Universitas Negeri Semarang.

Bahagia.Yoyo (2008) Pembelajaran Atletik, DEPDIKNAS

Car A, Gerry. 2000. Atletik Untuk Sekolah. PT. Raja Grafindo Perkasa. Jakarta

Djumidar 2008. Dasar-dasar Atletik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Farentinos.1985. Dasar-dasar Kepelatihan (Terjemahan Dwiyowinoto), Semarang : IKIP
       Press

Janssen, 1983. Atletik Untuk Coach, Atlet, Guru Olahraga Dan Umum. Bandung : CV Pionir

Muhajir, (2003). Teori dan Praktik Pend. Jasmani, Yudistira :Bandung

Harsono. (1988). Coaching dan aspek-aspek psikologis dalam coaching. Jakarta : Akademia
      Persindo.

Sajoto, M. (1995). Peningkatan Dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga.
        Semarang : Dahara Prize.

Suharno HP, 1984. Ilmu Kepelatihan.IKIP Yogyakarta Press. Yogyakarta.

Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kwantitatif Dan Kwalitatif. ALFABETA.Bandung

Widiastuti. 2011. Tes Dan Pengukuran Olahraga. PT. Bumi Timur Jaya. Jakarta

Syaifudin , 1997. Dasar Olahraga. Jakarta : Inti Idayu Press

Saputra, Yuda. 2001. Pembelajaran Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan. Jakarta
       Dirjen Pendidikan Islam Agama RI

Winendra, Adi, Dkk. 2008, Seri Olahraga Atletik, Pustaka Insan Madani. Yogyakarta.

								
To top