Pengaruh layanan informasi bidang bimbingan pribadi terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMPN 1 Dawe Kudus

Document Sample
Pengaruh layanan informasi bidang bimbingan pribadi terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMPN 1 Dawe Kudus Powered By Docstoc
					PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN PRIBADI
  TERHADAP PEMAHAMAN POTENSI DIRI SISWA KELAS VIII
     SMP N 1 DAWE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2010/2011




                         Oleh
                    RONA BINHAM
                    NIM 2007 31 122




      PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
      FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
              UNIVERSITAS MURIA KUDUS
                         2011



                           i
ii
PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG BIMBINGAN PRIBADI
  TERHADAP PEMAHAMAN POTENSI DIRI SISWA KELAS VIII
     SMP N 1 DAWE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2010/2011




                            SKRIPSI
    Diajukan Kepada Universitas Muria Kudus Untuk Memenuhi
 Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
              Program Studi Bimbingan dan Konseling




                              Oleh
                         RONA BINHAM
                         NIM 2007 31 122




       PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
       FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                 UNIVERSITAS MURIA KUDUS
                              2011



                                iii
                         LEMBAR PERSETUJUAN



Skripsi oleh Rona Binham ini telah diperiksa dan setujui untuk diuji.



Kudus, Agustus 2011

Pembimbing I



Dr. Sukiman, M.Pd.
NIP. 19571207 198303 1 001


Pembimbing II



Drs. Zaenal Hasan
NIS. 061071302000003


Mengetahui,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dekan,



Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd

NIP. 19560619 198503 1 002




                                       iv
                         LEMBAR PENGESAHAN



Skripsi oleh Rona Binham (NIM 2007 31 122) ini telah dipertahankan didepan

Tim Penguji pada tanggal 13 Agustus 2011.



Tim Penguji



Dr. Sukiman, M.Pd                                       Ketua
NIP. 19571207 198303 1 001



Drs. Zaenal Hasan                                       Anggota
NIS. NIS. 061071302000003



Drs. Murtono, M.Pd                                      Anggota
NIP. 19661207 199203 1 003



Drs. Sabar Rutoto, M.Pd                                 Anggota
NIP. 19480602 198203 1 001



Mengetahui,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dekan,




Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd
NIP. 19560619 198503 1 002



                                        v
                    MOTTO DAN PERSEMBAHAN



MOTTO :

  Untuk bisa meraih kesuksesan dalam tugas yang sulit, kita harus melewati

  serangkaian kegagalan. Untuk bisa menemukan kesuksesan sejati dalam

  hidup, kita harus mampu mengabaikan kekhawatiran dalam menghadapi

  sebuah kegagalan (Peter S Temes).

  Melihat masa depan tidak semata-mata dengan mata kepala, namun juga

  dengan mata kepala dan mata hati (Raja Bambang Sutikno).




                               PERSEMBAHAN


                               1. Ayah     dan   Bundaku     tersayang   yang

                                  senantiasa memberikan semangat dan doa

                                  dalam penyelesaian skripsi.

                               2. Tanteku Lisa yang selalu mendukung dan

                                  memberikan semangat baik fisik maupun

                                  moril.

                               3. Kekasihku tercinta Sinta Hardiyanthi, yang

                                  selalu sabar dalam memberikan semangat

                                  dalam penyelesaian skripsi ini.


                                      vi
                              KATA PENGANTAR



          Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT atas segala Rahmat

dan Karunia-Nya karena penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

lancar.

          Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya

bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberi

bantuan yaitu:

1. Drs. Susilo Rahardjo, M. Pd, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

   Pendidikan Universitas Muria Kudus, yang memberikan petunjuk ijin

   penelitian dan memberikan kelancaran dalam penyusunan skripsi ini.

2. Drs. Sucipto, M. Pd. Kons, selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan

   Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus,

   yang telah menyetujui judul penelitian ini.

3. Dr. Sukiman, M. Pd, selaku pembimbing pertama dan Drs. Zaenal Hasan

   selaku pembimbing kedua yang telah memberi bimbingan, arahan dan

   petunjuk dengan sungguh-sungguh sehingga sekripsi ini dapat terselesaikan.

4. Dosen jurusan bimbingan dan konseling yang telah member bekal ilmu yang

   bermanfaat bagi penulis.

5. Syafiudin, S.Pd selaku kepala sekolah SMP N 1 Dawe Kudus, yang telah

   memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di SMP N 1

   Dawe Kudus.



                                       vii
6. Drs. Akhmad Rifa’i, Kons, selaku konselor di SMP N 1 Dawe Kudus yang

   telah banyak membantu dalam pelaksanaan penelitian di SMP N 1 Dawe

   Kudus.

7. Siswa dan siswi kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus tahun pelajaran 2010/2011

   yang dengan senang hati membantu penulis dalam mengisi skala psikologi

   dalam pengambilan data.

8. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah

   membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

       Penulis hanya dapat mengucapkan banyak terimakasih teriring doa semoga

amal baik yang telah diberikan mendapatkan balasan yang sesuai dari Alloh SWT.

Sebagai manusia biasa penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih

banyak kekurangan, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharap

kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini, semoga skripsi

ini meski sedikit dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.

                                                                 Kudus

                                                                 Penulis




                                     viii
                                 ABSTRAK

Rona Binham. 2011. Pengaruh Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi
     Terhadap Pemahaman Potensi Diri Siswa Kelas VIII SMP N 1 Dawe
     Kudus. Skripsi. Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu
     Pendidikan Universitas Muria Kudus. Pembimbing I Dr. Sukiman, M. Pd.
     Pembimbing II Drs. Zaenal Hasan.

Kata Kunci: Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi dan Pemahaman
     Potensi Diri

        Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Manusia diberi
kemampuan lebih dibanding makhluk lain. Kemampuan dan kesempurnaan yang
diberikan Tuhan kepada manusia tidak akan dapat berkembang secara optimal
tanpa adanya suatu kerja keras. Potensi yang ada pada diri perlu digali dan
dikembangkan menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Pemahaman potensi
diri adalah hal yang sangat penting, karena merupakan titik tolak pertama dalam
menuju pencapaian cita-cita. Khusus di SMP N 1 Dawe Kudus, berdasarkan hasil
wawancara dengan guru BK diperoleh informasi bahwa sampai saat ini belum
pernah diadakan satu kegiatan khusus dengan tujuan untuk memberikan
pemahaman kepada siswa tentang potensi diri. Berpijak dari hal ini layanan
informasi bidang bimbingan pribadi amat penting diberikan kepada siswa untuk
memberikan serangkaian data dan fakta tentang potensi diri untuk meningkatkan
pemahaman potensi diri. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah
adakah pengaruh Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi Terhadap
Pemahaman Potensi Diri Siswa Kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Tahun
Pelajaran 2010/2011.
        Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji secara empiris pemahaman
potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011
setelah mendapatkan layanan informasi bidang bimbingan pribadi. 2)
Mendeskripsikan pengaruh layananan informasi bidang bimbingan pribadi
terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Tahun
Pelajaran 2010/2011. Hipotesis penelitian adalah layanan informasi bidang
bimbingan pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman potensi
diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus tahun pelajaran 2010/2011.
        Penelitain ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperiment dengan
bentuk one group pretest-posttest design. Variabel dalam penelitian ini adalah
layanan informasi bidang bimbingan pribadi sebagai variabel independen dan
pemahaman potensi diri sebagai variabel dependen .Sedangkan subjek penelitian
dalam penelitian ini adalah 23 siswa dari 111 siswa yang memiliki pemahaman
potensi diri dalam kriteria sedang. Metode dan alat pengumpul data yang
digunakan adalah angket dengan bentuk skala psikologi. Tehnik analisis data
menggunakan uji t.
         Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil perolehan skor skala
pemahaman potensi diri yang diberikan kepada 23 siswa kelas VIII SMP N 1
Dawe Kudus, sebelum dan sesudah pemberian layanan informasi bidang


                                      ix
bimbingan pribadi menunjukkan adanya peningkatan, terbukti jumlah skor yang
diperoleh siswa sebelum layanan 1519 dengan rata-rata skor 66,043 meningkat
menjadi 1623 dengan rata-rata skor 70,565 setelah diberikan layanan. Sedangkan
berdasarkan hasil analisis skor skala pemahaman potensi diri, pemahaman potensi
diri 23 siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus sebelum mendapatkan layanan
informasi bidang bimbingan pribadi berada dalam kriteria sedang dan sesudah
mendapatkan layanan informasi bidang bimbingan pribadi pemahaman potensi
diri 23 siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus mengalami perubahan. 9 siswa
meningkat dan masuk dalam kriteria tinggi, 10 siswa tetap dan masih dalam
kriteria sedang, dan 4 lainnya menurun dan masuk dalam kriteria rendah.
Hipotesis penelitian yang menyatakan layanan informasi bidang bimbingan
pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman potensi diri siswa
kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus tidak teruji kebenarannya. Hal ini ditunjukkan
dari hasil thitung = 2,004 lebih kecil dari ttabel pada signifikansi 5% yaitu 2,075.
        Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa layanan
informasi bidang bimbingan pribadi berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap
pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus. Belum
terpenuhinya kriteria signifikansi hasil dalam penelitian ini disebabkan oleh
beberapa faktor. 1) Faktor peneliti terkait dengan pelaksanaan layanan informasi
bidang bimbingan pribadi yang belum maksimal, 2) Faktor waktu dan kuantitas
pelaksanaan layanan yang kurang tepat. 3) Faktor subjek penelitian terkait dengan
minat, motivasi dan daya tangkap siswa dalam megikuti layanan informasi bidang
bimbingan pribadi, 4) Faktor luar yang tidak terkontrol dalam penelitian ini,
seperti latar belakang kehidupan keluarga, lingkungan pergaulan, dan sarana dan
prasarana dalam pengembangan potensi. Saran yang bisa diberikan penulis
berdasarkan kesimpulan adalah 1) Kepada konselor, konselor sekolah sebaiknya
melaksanakan layanan informasi bidang bimbingan pribadi secara lebih menarik
dan terprogram supaya siswa lebih termotivasi dan mampu meningkatkan
pemahaman potensi diri yang mereka miliki, 2) Kepada siswa, siswa sebaiknya
meningkatkan minat, motivasinya dalam mengikuti kegiatan layanan informasi
bidang bimbingan pribadi yang diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman
potensi dirinya secara maksimal, 3) Peneliti selanjutnya, peneliti selanjutnya
sebaiknya menindakalanjuti penelitian ini dengan berpijak pada hasil/temuan yang
telah diperoleh dalam penelitian ini sehingga kedepannya layanan informasi
bidang bimbingan pribadi mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
pemahaman potensi diri siswa.




                                         x
                                               DAFTAR ISI



                                                                                                Halaman
HALAMAN SAMPUL ................................................................................ i
HALAMAN LOGO ..................................................................................... ii
HALAMAN JUDUL .................................................................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... iv
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ............................................................... vi
KATA PENGANTAR ................................................................................. vii
ABSTRAK ................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................ xi
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xvi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

          1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................. 1

          1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... 6

          1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 6

          1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................... 6

          1.5 Ruang Lingkup Penelitian .......................................................... 7

          1.6 Definisi Operasional ................................................................... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ....................................................................... 9

          2.1 Layanan Informasi ...................................................................... 9

               2.1.1      Pengertian Layanan Informasi ....................................... 9

               2.1.2      Tujuan Layanan Informasi ............................................. 10

               2.1.3      Alasan Penyelanggaraan Layanan Informasi ................. 11

               2.1.4      Jenis-jenis Informasi ...................................................... 12

               2.1.5      Metode Layanan Informasi ............................................ 15



                                                        xi
        2.2 Bimbingan Pribadi ...................................................................... 16

             2.2.1      Pengertian Bimbingan Pribadi ....................................... 16

             2.2.2      Tujuan Bimbingan Pribadi di Sekolah ........................... 17

             2.2.3      Ruang Lingkup Bimbingan Pribadi ............................... 17

        2.3 Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi .......................... 19

        2.4 Pemahaman Potensi Diri ............................................................ 20

             2.4.1      Pengertian Potensi Diri .................................................. 20

             2.4.2      Jenis-jenis Potensi yang Ada Pada Diri Manusia ........... 22

             2.4.3      Ciri-ciri Orang yang Memahami Potensi Dirinya .......... 25

             2.4.4      Mengembangkan Potensi Diri ........................................ 28

             2.4.5      Hambatan Dalam Pengembangan Potensi Diri .............. 29

        2.5 Penelitian yang relevan .............................................................. 30

        2.6 Kerangka Berfikir ....................................................................... 35

        2.7 Hipotesis ..................................................................................... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................... 37

        3.1 Rancangan Peneltian .................................................................. 37

        3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................... 39

        3.2 Subjek Penelitian ........................................................................ 40

        3.3 Metode dan Alat Pengumpul Data ............................................. 40

        3.4 Validitas dan Reliabelitas Instrumen ......................................... 44

             3.4.1 Validitas Instrumen ............................................................ 44

             3.4.1 Reliabelitas Instrumen ....................................................... 48

        3.5 Teknik Analisis Data .................................................................. 49



                                                      xii
BAB IV HASIL PENELITIAN ................................................................... 51

          4.1 Deskripsi Data ............................................................................ 51

          4.2 Analisis Data .............................................................................. 54

          4.3 Pengujian Hipotesis .................................................................... 55

BAB V PEMBAHASAN ............................................................................ 56

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 68

          5.1 Kesimpulan ................................................................................ 68

          5.2 Saran ........................................................................................... 69

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 70
LAMPIRAN ................................................................................................. 72




                                                         xiii
                                            DAFTAR TABEL



Tabel                                                                                           Halaman
3.1 Jadwal Penelitian .................................................................................... 39
3.2 Jadwal Pelaksanaan Layanan Informasi
    bidang bimbingan pribadi ...................................................................... 39
3.3 Penentuan Subjek Penelitian .................................................................. 40
3.4 Kisi –kisi Skala Pemahaman Potensi Diri
    Sebelum Uji Coba .................................................................................. 42
3.5 Kisi-kisi Skala Pemahaman Potensi Diri Valid ..................................... 46
3.6 Kriteria Penilaian Skala Pemahaman Potensi Diri ................................. 48
4.1 Hasil Perolehan Skor Skala Pemahaman Potensi Diri
    Sebelum dan Sesudah Pelaksanaan Layanan Informasi
    Bidang Bimbingan Pribadi ..................................................................... 51




                                                       xiv
                                 DAFTAR GAMBAR



Gambar                                                                      Halaman
3.1 Grafik Pemahaman Potensi Diri Sebelum
    Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi ...................................... 53
3.2 Grafik Pemahaman Potensi Diri Sesudah
    Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi ...................................... 54




                                             xv
                                         DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran                                                                                           Halaman
1. Skala Pemahaman Potensi Diri .............................................................. 73
2. Daftar Nama Responden Uji Coba Instrumen ...................................... 76
3. Tabulasi dan Butir Anabut Uji Coba Instrumen .................................... 77
4. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Pemahaman
    Potensi Diri ............................................................................................ 79
5. Daftar Nama Responden Penelitian ....................................................... 86
6. Tabulasi Skor Skala Pemahaman Potensi Diri Responden Penelitian .. 89
7. Daftar Nama Subjek Penelitian ............................................................... 92
8. Perhitungan Skor Pre-test ....................................................................... 93
9. Perhitungan Skor Post-test ..................................................................... 94
10. Perhitungan Uji t-test .............................................................................. 95
11. Satlan, Materi dan Laporan Pelaksanaan dan Evaluasi
    Satuan Layanan Bimbingan dan Konseling .......................................... 97
12. Pedoman Wawancara Siswa yang Memiliki Kriteria
    Pemahaman Potensi Diri Rendah ........................................................... 126
13. Kesan-Kesan Siswa ................................................................................ 130
14. Ijin Penelitian ......................................................................................... 135
15. Surat Keterangan Penelitian ................................................................... 136
16. Pernyataan Orisinalitas Skripsi ............................................................... 137
17. Riwayat Hidup ....................................................................................... 138




                                                        xvi
                                       BAB I

                                 PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah

          Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Manusia diberi

kemampuan lebih dibanding makhluk lain. Kelebihan dan keunggulan manusia

dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain dikarenakan, manusia dikarunia

hati nurani yang dapat membedakan hal yang benar dan hal yang salah, akal

pikiran (otak), kesempurnaan fisik sehingga mampu dikembangkan menjadi suatu

prestasi, dan manusia dikarunia juga sifat kebersamaan.

          Kemampuan dan kesempurnaan yang diberikan Tuhan kepada manusia

tidak akan dapat berkembang secara optimal tanpa adanya suatu kerja keras.

Potensi     yang ada pada diri perlu digali dan dikembangkan menjadi sebuah

prestasi yang membanggakan. Potensi diri tidak akan terlihat tanpa adanya

prestasi. Potensi dapat diartikan sebagai kemampuan dasar dari sesuatu yang

masih terpendam didalamnya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu

kekuatan nyata dalam diri sesuatu tersebut. Dengan demikian potensi diri manusia

adalah kemampuan dasar yang dimiliki manusia yang masih terpendam didalam

dirinya yang menunggu untuk diwujudkan menjadi suatu manfaat nyata dalam

kehidupan diri manusia (Slamet Wiyono, 2006).

          Satu hal yang sudah terbukti dan sering dilihat dilingkungan sekitar kita

bahwa biasanya kesempatan sangat cepat diraih oleh orang-orang yang memahami

potensi dirinya secara baik. Berdasarkan hasil observasi dilapangan masih banyak



                                          1
                                                                               2




orang-orang yang kurang memahami potensi-potensi yang ada pada diri mereka

termasuk siswa-siswi yang belajar disuatu lembaga pendidikan. Hal ini tentunya

menjadi sebuah pekerjaan yang tidak mudah bagi tenaga pengajar dan guru

pembimbing untuk membantu peserta didik dalam memahami potensi yang

mereka miliki. Orang yang belum mengenali potensi dirinya sering kali merasa

ragu apakah diri mereka cocok menekuni satu bidang tertentu. Memahami potensi

diri menjadi sangat penting karena merupakan titik tolak pertama dalam menuju

pencapaian langkah cita-cita (Hery Wibowo, 2007).

       Setiap orang mempunyai potensi diri yang berbeda-beda. Ada yang

berpotensi pada hati nuraninya, ada yang berpotensi pada otaknya dan ada juga

yang berpotensi pada fisiknya. Sebelum potensi itu menjelma menjadi sebuah

prestasi, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengetahui apa potensi yang

sebenarnya menonjol pada diri sendiri. Untuk mengetahuinya dapat dilakukan

dengan tes. Misalnya Tes IQ (Intelegence Quotient), Tes EQ (Emotional

Quotient), Tes SQ (Spiritual Quotient), dan Tes Kebugaran Jasmani. Tes-tes

tersebut dirancang untuk mengetahui potensi dasar seseorang.

       Terkait dengan Tes-tes tersebut jika bisa dilakukan oleh setiap orang atau

lembaga pendidikan tentu hal tersebut akan sangat membantu seseorang atau

peserta didik dalam mengenaldan meningkatkan pemahaman potensi diri yang

mereka miliki. Kenyataan yang ada tidak semua orang atau lembaga pendidikan

mampu menyelenggarakan tes-tes semacam ini, kalaupun ada yang mampu

menyelenggarakan biasanya hanya dilakukan beberapa tes saja, jarang yang

dilakukan secara keseluruhan.
                                                                               3




       Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk

mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang cemerlang, pribadi yang mampu

mengembangkan potensinya dirinya secara optimal.Tetapi umumnya siswa-siswa

disekolah minim sekali memperoleh informasi tentang potensi diri, sehingga

mereka kurang memiliki pemahaman terhadap potensi diri yang mereka miliki.

       Kebanyakaan siswa beranggapan bahwa untuk mencapai sukses, seseorang

harus memiliki nilai akademik yang baik. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya

salah, tetapi kurang realistis jika melihat gejolak dan tantangan zaman ke depan.

Berbagai penelitian sudah menunjukkan bahwa untuk mencapai kesuksesan itu

tidak bisa ditentukan oleh satu potensi/kecerdasan saja, melainkan seseorang

harus hidup dengan menerapkan semua potensi yang Ia miliki. Sedikitnya ada

empat potensi yang sangat berpengaruh dalam kesuksesan hidup seseorang, tak

terkecuali siswa-siswi yang menuntut ilmu disuatu lembaga pendidikan. Dengan

pemahaman potensi diri yang baik siswa akan mudah menyelesaikan segala

permasalahan yang ada dan mampu mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang

diinginkan. Sebaliknya jika siswa kurang memiliki pemahaman potensi diri yang

baik, bisa berdampak pada terhambatnya pencapaian cita-cita dan tujuan hidup

yang diinginkan.

       Dari itulah peran konselor menjadi sangat vital. Konselordituntut mampu

menerapkan layanan bimbingan dan konseling untuk mensikapi keadaan tersebut,

sehingga peserta didik bisa mendapatkan informasi yang relevanuntuk

meningkatkanpemahaman potensi diri yang dimiliki.
                                                                               4




       Salah satu layanan bimbingan dan konseling yang bisa diterapkan untuk

membantu peserta didik dalam memahami potensi dirinya selain dengan teknik tes

adalah layanan informasibidang bimbingan pribadi. Layanan informasi bidang

bimbingan pribadi diadakan untuk membekali para siswa dengan pengetahuan

tentang data dan fakta di bidang pribadi yang menyangkut pemahaman akan

makna diri sebagai makhluk Tuhan dan pemahaman akan segala kelebihan dan

potensi diri demi tercapainya kualitas hidup yang lebih baik. Kaitannya dengan

pemahaman potensi diri siswa, layanan informasi bidang bimbingan pribadi

adalah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa

tentang potensi diri yang bisa dikembangkan untuk mencapai kualitas hidup yang

lebih baik.

       Khusus di SMP N 1 Dawe Kudus, berdasarkan hasil observasi dan

wawancara dengan guru BK diperoleh informasi bahwa sampai saat ini belum

pernah diadakan satu kegiatan khusus dengan tujuan untuk memberikan

pemahaman kepada siswa tentang potensi diri. Sedangkan layanan pemberian

informasi biasanya sangat terbatas pada literatur atau buku panduan yang dipakai

guru BK dan teknik yang sering dipakai adalah ceramah. Tidak ada yang salah

dengan teknik ceramah, tetapi hasil dari kegiatan pemberian informasi akan sangat

tergantung dari kepandaian seorang guru pembimbing dalam menyampaikan

materi tersebut, jika tidak atraktif dan membosankan maka besar kemungkinan

hasilnya juga kurang maksimal.

       Dari kenyataan yang dipaparkan diatas pada dasarnya layanan informasi

bimbingan dan konseling sudah diselenggarakan namun pelaksanannya masih
                                                                              5




belum sesuai dengan hakikat pelaksanaan layanan informasi pada umumnya.

Akibatnya peserta didik masih minim informasi khususnya tentang pemahaman

potensi diri. Tidak jarang juga peserta didik yang tidak mengetahui sama sekali

potensi yang dimiliki sehingga mereka tidak memilki tujuan dan cita-cita yang

jelas tentang masa depannya sendiri. Singkatnya pelaksanaan layanan informasi

tersebut belum dilaksanakan secara terarah, sistematis dan optimal sehingga

terlihat kurang efektif.

        Dari keterangan di atas jelas siswa membutuhkan informasi yang relevan

untuk meningkatkan pemahaman potensi diri yang mereka miliki.Salah satu

layanan yang bisa diberikan kepada siswa untuk memberikan pemahaman potensi

diri adalah layanan informasi bidang bimbingan pribadi. Dengan layanan

informasi siswa akan memperoleh berbagai macam data dan fakta tentang potensi

diri, yang bisa digunakan untuk meningkatkan pemahaman potensi diri. Sehingga

yang awalnya siswa memiliki pemahaman potensi diri yang kurang bisa

meningkat setelah mendapatkan layanan informasi bidang bimbingan

        Begitu pentingnya layanan informasi tentang potensi diri bagi peserta

didik di SMP N 1 Dawe Kudus, maka layanan informasi perlu diselenggarakan

secara terarah dan sistematis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tujuannya

adalah membantu peserta didik mengenali dan memahami potensi diri guna

pencapain prestasi yang optimal, lebih mampu mengatur dan merencanakan

kehidupannya sendiri, menjadi lebih baik dan sesuai dengan apa yang dicita-

citakan. Sehingga diharapkan peserta didik mampu menjalankan tugasnya secara

baik dan mendapatkan prestasi yang cemerlang disekolah maupun masyarakat.
                                                                              6




        Berdasarkan keterangan diatas terlihat bahwa upaya untuk memberikan

pemahaman potensi diri melalui layanan informasi bidang bimbingan pribadi

sangat menarik untuk diteliti. Sehingga dengan alasan inilah, peneliti mengambil

penelitian   tentang    “PENGARUH      LAYANAN        INFORMASI       BIDANG

BIMBINGAN PRIBADI TERHADAP PEMAHAMAN POTENSI DIRI KELAS

VIII SMP N 1 DAWE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2010/2011”.

1.2 Rumusan Masalah

        Adakah pengaruh Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi Terhadap

Pemahaman Potensi Diri Siswa Kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Tahun

Pelajaran 2010/2011?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1   Untuk mengkaji secara empiris pemahaman potensi diri siswa kelas VIII

        SMP N 1 Dawe Kudus tahun pelajaran 2010/2011 setelah mendapatkan

        layanan informasi bidang bimbingan pribadi.

1.3.2   Untuk mendeskripsikan pengaruh layananan informasi bidang bimbingan

        pribadi terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe

        Kudus tahun pelajaran 2010/2011.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1   Manfaat Teoritis

        Untuk memberikan sumbangan yang positif bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya berkaitan dengan pengembangan layanan informasi, dan

wujud dari sumbangan tersebut yaitu ditemukannya hasil-hasil penelitian baru
                                                                          7




tentang bimbingan dan konseling guna meningkatkan pelayanan bimbingan dan

konseling disekolah.

1.4.2   Manfaat Praktis

1. Bagi Siswa

        Siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus yang kurang memahami potensi

diri yang mereka miliki dapat meningkatkan pemahaman potensi dirinya melalui

layanan informasi bidang bimbingan pribadi.

2. Bagi Konselor

        Guru pembimbing dapat menerapkan layanan informasi bidang bimbingan

pribadi untuk membantu meningkatkan pemahaman potensi diri siswa sehingga

mereka dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

        Berdasarkan penelitian ini maka bahasan penelitian akan mengungkap

tentang pengaruh layanan informasi bidang bimbingan pribadi terhadap

pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus tahun pelajaran

2010/2011. Variabel dalam penelitian ini adalah layanan informasi bidang

bimbingan pribadi sebagai variabel bebas dan pemahaman potensi diri sebagai

variabel terikat.

1.6 Definisi Operasional

1.6.1   Pengaruh

        Pengaruh merupakan suatu daya yang dapat membentuk atau mengubah

sesuatu yang lain. Sehubungan dengan kegiatan penelitian, pengaruh merupakan

bentuk hubungan sebab akibat antar variabel.
                                                                           8




        Dalam penelitian ini yang di maksud pengaruh adalah daya yang timbul

dari layanan informasi bidang bimbingan pribadi sebagai suatu variabel yang

mempengaruhi atau menyebabkan meningkatnya pemahaman potensi diri siswa

kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus.

1.6.2   Layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi

        Layanan informasi bidang bimbingan pribadi adalah suatu kegiatan yang

dilakukan untuk membekali para siswa dengan pengetahuan tentang data dan

fakta dibidang pribadi yang menyangkut pemahaman akan makna diri sebagai

makhluk Tuhan dan pemahaman akan segala kelebihan dan potensi diri demi

tercapainya kualitas hidup yang lebih baik.

1.6.3   Pemahaman Potensi Diri

        Pemahaman potensi diri adalah suatu cara, proses, perbuatan yang

dilakukan individu dalam memahami kemampuan dasar yang dimilki yang

mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan jika didukung dengan latihan dan

sarana yang memadai.
                                    BAB II

                               KAJIAN PUSTAKA

2.1 Layanan Informasi

2.1.1 Pengertian Layanan Informasi

       Menurut Prayitno &Erman Amti (2004:259-260)layanan informasi adalah

kegiatan memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan

tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan,

atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan

demikian, layanan informasi itu pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi

pemahaman dalam bimbingan dan konseling.

       Menurut Budi Purwoko (2008:52)penyajian informasi dalam rangka

program   bimbingan    ialah   kegiatan       membantu   siswa   dalam   mengenali

lingkungannya, terutama tentang kesempatan-kesempatan yang ada didalamnya,

yang dapat dimanfaatkan siswa baik untuk masa kini maupun masa yang akan

datang. Penyajian informasi itu dimaksudkan untuk memberikan wawasan kepada

para siswa sehingga ia dapat menggunakan informasi itu baik untuk mencegah

atau mengatasi kesulitan yang dihadapinya, serta untuk merencanakan masa

depan. Perencanaan kehidupan ini mencakup, kehidupan dalam studinya, dalam

pekerjaannya, maupun dalam membina keluarga.

       SedangkanWinkel &Sri Hastuti (2006: 316-317) menjelaskan bahwa

layanan informasi adalah usaha untuk membekali para siswa dengan pengetahuan

tentang data dan fakta dibidang pendidikan sekolah, bidang pekerjaan dan bidang

perkembangan pribadi-sosial, supaya mereka dengan belajar tentang lingkungan



                                          9
                                                                           10




hidupnya lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.

Program bimbingan yang tidak memberikan layanan pemberian informasi akan

menghalangi peserta didik untuk berkembang lebih jauh, karena mereka

membutuhkan kesempatan untuk mempelajari data dan fakta yang dapat

mempengaruhi jalan hidupnya. Namun, mengingat luasnya informasi yang

tersedia dewasa ini, mereka harus mengetahui pula informasi manakah yang

relevan untuk mereka dan mana yang tidak relevan, serta informasi macam apa

yang menyangkut data dan fakta yang tidak berubah dan yang dapat berubah

dengan beredarnya roda waktu.

       Dari beberapa pengertian tentang layanan informasi diatas dapat diambil

kesimpulan bahwa layanan informasi adalah suatu kegiatan atau usaha untuk

membekali para siswa tentang berbagai macam pengetahuan supaya mereka

mampu mengambil keputusan secara tepat dalam kehidupannya.

2.1.2Tujuan Layanan Informasi

       Menurut Budi Purwoko (2008: 52)tujuan yang ingin dicapai dengan

penyajian informasi adalah sebagai berikut:

a. Para siswa dapat mengorientasikan dirinya kepada informasi yang
   diperolehnya terutama untuk kehidupannya, baik semasa masih sekolah
   maupun setelah menamatkan sekolah.
b. Para siswa mengetahui sumber-sumber informasi yang diperlukan.
c. Para siswa dapat menggunakan kegiatan kelompok sebagai sarana
   memperoleh informasi.
d. Para siswa dapat memilih dengan tepat kesempatan-kesempatan yang ada
   dalam lingkungannya sesuai dengan minat dan kemampuanya.
       Sementara Ifdil menjelaskan tujuan layanan informasi ada dua macam

yaitu secara umum dan khusus.Secara umum agar terkuasainya informasi tertentu

sedangkan secara khusus terkait dengan fungsi pemahaman (paham terhadap
                                                                             11




informasi yang diberikan) dan memanfaatkan informasi dalam penyelesaian

masalahnya. Layanan informasi menjadikan individu mandiri yaitu memahami

dan menerima diri dan lingkungan secara positif, objektif dan dinamis, mampu

mengambil keputusan, mampu mengarahkan diri sesuai dengan kebutuhannya

tersebut dan akhirnya dapatmengaktualisasikan dirinya (konselingindonesia.

com/2008).

       Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan layanan informasi

adalah supaya para siswa memperoleh informasi yang relevan dalam rangka

memilih dan mengambil keputusan secara tepat guna pencapaian pengembangan

diri secara optimal. Dalam penelitian ini tujuan dari layanan informasi adalah

membekali siswa dengan berbagai informasi tentang potensi diri sehingga siswa

mampu meningkatkan pemahaman potensi diri guna mencapai kualitas hidup

yang lebih baik.

2.1.3 Alasan Penyelenggaraan Layanan Informasi

       Menurut Prayitno & Erman Amti (2004: 260-261) ada tiga alasan utama

mengapa layanan informasi perlu diselenggarakan.

1) Membekali individu dengan berbagai macam pengetahuan tentang lingkungan
   yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan
   lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.
2) Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya “kemana dia ingin
   pergi”. Syarat dasar untuk dapat menentukan arah hidup adalah apabila ia
   mengetahui apa (informasi) yang harus dilakukan serta bagaimana bertindak
   secara kreatif dan dinamis berdasarkan atas informasi-informasi yang ada itu.
3) Setiap individu adalah unik.
       Sedangkan Winkel & Sri Hastuti (2006: 317) menjelaskan, ada tiga alasan

pokok mengapa layanan pemberian informasi merupakan usaha vital dalam

keseluruhan program bimbingan yang terencana dan terorganisasi.
                                                                                12




1) Siswa membutuhan informasi yang relevan sebagai masukan dalam
   mengambil ketentuan mengenai pendidikan lanjutan sebagai persiapan untuk
   memangku jabatan dimasyarakat.
2) Pengetahuan yang tepat dan benar membantu siswa untuk berfikir lebih
   rasional tentang perencanaan masa depan dan tuntutan penyesuaian diri dari
   pada mengikuti sembarang keinginan saja tanpa memperhitungkan kenyataan
   dalam lingkungan hidupnya.
3) Informasi yang sesuai dengan daya tangkapnya menyadarkan siswa akan hal-
   hal yang tetap dan stabil, serta hal-hal yang akan berubah dengan
   bertambahnya umur dan pengalaman.
         Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa alasan penyelenggaraan

layanan informasi adalah karena siswa membutuhkan informasi yang relevan

sebagai bekal dalam menghadapi berbagai macam dinamika kehidupan secara

positif dan rasional, baik sebagai pelajar maupun anggota masyarakat. Terkait

dengan     penelitian    ini,    ada   dua     alasan   penyelenggaraan   layanan

informasi.Pertama,      untuk    membuktikan    bahwa    layanan   informasi   bisa

meningkatkan pemahaman siswa terhadap potensi diri.Kedua, disadari atau tidak

siswa sangat membutuhkan informasi tentang pemahaman potensi diri sebagai

modal awal dalam menggapai cita-cita dan tujuan hidup yang mereka inginkan.

2.1.4    Jenis-jenis Informasi

         Menurut Prayitno &Erman Amti (2004:261-268)pada dasarnya jenis dan

jumlah informasi tidak terbatas. Namun, khusunya dalam rangka pelayanan

bimbingan dan konseling, hanya akan dibicarakan tiga jenis informasi, yaitu (a)

informasi pendidikan, (b) informasi pekerjaan, (c) informasi sosial budaya.

1) Informasi pendidikan

         Dalam bidang pendidikan banyak individu yang berstatus siswa atau calon

siswa yang dihadapkan pada kemungkinan timbulnya masalah atau kesulitan.

Diantara masalah atau kesulitan tersebut berhubungan dengan (a) pemilihan
                                                                                 13




program studi, (b) pemilihan sekolah fakultas dan jurusannya, (c) penyesuaian diri

dengan program studi, (d) penyesuaian diri dengan suasana belajar, dan (e) putus

sekolah. Mereka membutuhkan adanya keterangan atau informasi untuk dapat

membuat pilihan dan keputusan yang bijaksana.

2) Informasi jabatan

       Saat-saat transisi dari dunia pendidikan kedunia kerja sering merupakan

masa yang sangat sulit bagi banyak orang muda. Kesulitan itu terletak tidak saja

dalam mendapatkan jenis pekerjaan yang cocok, tetapi juga dalam penyesuaian

diri dengan suasana kerja yang baru dimasuki dan pengembangan diri selanjutnya.

3) Informasi sosial budaya

       Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian informasi sosial budaya yang

meliputi, macam-macam suku bangsa, adat istiadat, agama dan kepercayaan,

bahasa, potensi-potensi daerah dan kekhususan masyarakat atau daerah tertentu.

       Budi Purwoko (2008: 53) juga menjelaskan, jenis-jenis informasi yang

penting bagi para siswa waktu masih sekolah, misalnya informasi tentang:

1) Kondisi fisik sekolahnya, fasilitas yang tersedia, guru-gurunya, para
   karyawan, bagian administrasi, dan sebainya.
2) Informasi tentang program studi disekolahnya, yang bersumber dari kurikulum
   yang berlaku.
3) Informasi tentang cara belajar yang efisien, yang bersumber dari para
   pembimbingnya.
4) Informasi tentang usaha kesehatan sekolah yang bersumber dari doktor, para
   perawat kesehatan
       Sedangkan Winkel &Sri Hastuti (2006: 318) memberikan gambaran

bahwa data dan fakta yang disajikan kepada siswa sebagai informasi biasanya

dibedakan atas tiga tipe dasar, yaitu :
                                                                               14




1) Informasi tentang pendidikan sekolah yang mencakup semua data mengenai
   variasi program pendidikan sekolah dan pendidikan prajabatan dari berbagai
   jenis, mulai dari semua persyaratan penerimaan sampai dengan bekal yang
   dimiliki pada waktu tamat.
2) Informasi tentang dunia pekerjaan yang mencakup semua data mengenai jenis-
   jenis pekerjaan yang ada dimasyarakat, mengenai gradasi posisi dalam lingkup
   suatu jabatan, mengenai persyaratan tahap dan jenis pendidikan, mengenai
   sistem klasifikasi jabatan, dan mengenai prospek masa depan berkaitan
   dengan kebutuhan riil masyarakat akan/corak pekerjaan tertentu.
3) Informasi tentang proses perkembangan manusia muda serta pemahaman
   terhadap sesama manusia mencakup semua data dan fakta mengenai tahap-
   tahap perkembangan serta lingkungan hidup fisik dan psikologis, bersama
   dengan hubungan timbal balik antara perkembangan kepribadian dan
   pergaulan sosial diberbagai lingkungan masyarakat.
       Informasi tentang proses perkembangan manusia muda serta pemahaman

terhadap sesama manusia meliputi, pemahaman diri dan orang lain, pembinaan

jalinan hubungan yang sehat dengan teman sebaya, pendidikan seks, fase-fase

dalam kehidupan manusia dewasa, pemahaman dan penyesuain diri terhadap

kondisi dalam lingkungan keluarga dan perawatan kesehatan jasmani dan

penampilan diri (Winkel & Sri Hastuti, 2006).

       Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa materi layanan

informasi pada dasarnya tidak terbatas.Khusus dalam pelaksanaan bimbingan dan

konseling, layanan informasi yang diberikan kepada siswa dibedakan menjadi

empat tipe yaitu, informasi dalam bidang pribadi, sosial, belajar dan karier.Namun

demi tercapainya tujuan dari layanan informasi maka materi informasi sebaiknya

disesuaikan dengan tujuan dari pelaksanaan layanan informasi itu sendiri.

Kaitannya dengan penelitian ini maka materi layanan informasi yang akan

diberikan adalah    informasi tentang berbagai macam jenis potensi diri yang

dimiliki oleh siswa yang sangat mungkin untuk dikembangkan guna mencapai

prestasi dan kualitas hidup yang terbaik.
                                                                           15




2.1.5   Metode Layanan Informasi

        Menurut Prayitno &Erman Amti (2004: 269-271) Pemberian informasi

kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:

1) Ceramah
        Ceramah merupakan metode pemberian informasi yang paling sederhana,
mudah dan murah, dalam arti bahwa metode ini dapat dilakukan hampir oleh
setiap petugas bimbingan disekolah.
2) Diskusi
       Penyampaian informasi pada siswa dapat dilakukan melalui diskusi.
Diskusi semacam ini dapat diorganisasikan baik oleh siswa sendiri mapun oleh
konselor, atau guru.
3) Karya Wisata
        Dalam bidang konseling karyawisata mempunyai dua sumbangan pokok.
Pertama, membantu siswa belajar dengan menggunakan berbagai sumber yang
ada dalam masyarakat yang dapat menunjang perkembangan mereka. Kedua,
memungkinkan diperolehnya informasi yang dapat membantu pengembangan
sikap-sikap terhadap pendidikan, pekerjaan dan berbagai masalah dalam
masyarakat.
4) Buku panduan
       Buku-buku panduan (seperti buku panduan sekolah atau perguruan tinggi,
buku panduan kerja bagi karyawan) dapat membantu siswa dalam mendapatkan
informasi yang berguna.
5) Konferensi karier
       Selain melalui teknik-teknik yang diutarakan diatas, penyampaian
informasi kepada siswa dapat juga dilakukan melalui konferensi karier. Dalam
konferensi karier para nara sumber dari kelompok-kelompok usaha, jawatan atau
dinas lembaga pendidikan, dan lain-lain yang diundang, mengadakan penyajian
berbagai aspek program pendidikan dan latihan/pekerjaan yang diikuti oleh para
siswa.
        Sedangkan menurut Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang (1993:

82) menjelaskan bahwa teknik yang digunakan dalam layanan informasi adalah

sebagai berikut:
                                                                              16




1) Ceramah

2) Diskusi atau Tanya jawab

3) Bacaan buku, selebaran dan brosur

4) Gambar, slide, pemutaran film

5) Karyawisata

6) Melalui mata pelajaran tertentu

7) Melalui kelas khusus

8) Hari karier

9) Hari perguruan tinggi

10) Wawancara dalam rangka konseling

       Dari berbagai jenis metode yang digunakan dalam pemberian layanan

informasi maka dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah

ceramah, diskusi/tanya jawab dan audio visual.

2.2 Bimbingan Pribadi

2.2.1 Pengertian Bimbingan Pribadi

       Menurut Winkel &Sri Hastuti (2006: 118-119) bimbingan pribadi berarti

bimbingan dalam memahami keadaan batinnya sendiri dan mengatasi berbagai

pergumulan       dalam    batinnya   sendiri,   dalam   mengatur   diri   sendiri

dibidangkerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu

seksual dan sebagainya.

       Sedangkan Dewa Ketut Sukardi (1997: 23) menjelaskan bahwa bimbingan

pribadi berarti membantu siswa menemukan dan mengembangkan pribadi yang
                                                                            17




beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dan mandiri serta sehat jasmani

dan rohani.

        Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi adalah

bimbingan yang dilakukan untuk membantu konseli atau siswa dalam memahami

keadaan dirinya baik fisik maupun psikis, memahami akan makna diri sebagai

makhluk Tuhan serta pemahaman akan segala kelebihan dan potensi diri yang

dimiliki demi tercapainya kualitas hidup yang lebih baik.

2.2.2   Tujuan Bimbingan Pribadi di Sekolah

        Menurut Syamsu Yusuf & Achmad Juntika Nurihsan (2010: 11)

Bimbingan     pribadi    diarahkan   untuk    memantapkan    kepribadian   dan

mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah

dirinya. Bimbingan ini merupakan layanan yang mengarah pada pencapain pribadi

yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi serta ragam

permasalahan yang dialami oleh individu.

        Dari pendapat tersebut bimbingan pribadi bisa diarahkan juga untuk

membantu seseorang dalam memahami keadaan dirinya, baik kekurangan maupun

kelebihan atau potensi-potensi yang bisa dikembangkan untuk mencapai kualitas

hidup yang lebih baik.

2.2.3   Ruang Lingkup Bimbingan Pribadi

        Menurut Winkel & Sri Hastuti (2006: 118-119) bimbingan pribadi yang

diberikan dijenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi sebagian

disalurkan melalui bimbingan kelompok dan sebagian lagi melalui bimbingan

individual, serta mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
                                                                             18




1) Informasi tentang fase atau tahap perkembangan yang dilalui oleh siswa
   remaja dan mahasiswa, antara lain tentang konflik batin yang dapat timbul dan
   tentang tata cara bergaul yang baik. Termasuk disini apa yang disebut dengan
   sex education, yang tidak hanya mencakup penerangan seksual, tetapi pula
   corak pergaulan antara jenis kelamin.
2) Pengumpulan data yang relevan untuk mengenal keprbadian siswa, misalnya
   sifat-sifat yang tampak dalam tingkah laku, latar belakang keluarga dan
   keadaan kesehatan.

       Sedangkan Rahman secara lebih rinci menjelaskan ruang lingkup materi

bimbingan pribadi sebagai berikut:

1) Pemantapan sikap dan kepribadian yang agamis yang senantiasa mendekatkan
   diri kepada yang khaliq melalui peningkatan kualitas iman dan taqwa. Agama
   menjadi kendali utama dalam kehidupan manusia.
2) Pemahaman tentang kemampuan dan potensi diri serta pengembangannya
   secara optimal. Setiap manusia memiliki potensi yang luar biasa yang
   dikembangkan secara optimal dan hanya sedikit orang yang mau menyadari.
3) Pemahaman tentang bakat dan minat yang dimiliki serta penyalurannya.
   Setiap orang memiliki bakat dan minat, namun hal itu kurang mendapat
   perhatian sehingga penyaluran dan pengembangannya kurang optimal.
4) Pemahaman tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki serta bagaimana
   mengembangkannya. Setiap individu punya kelebihan, hal itu yang harus
   dijadikan sebagai fokus.
5) Pemahaman tentang kekurangan dan kelemahan yang dimiliki serta
   bagaimana mengatasinya. Memahami kekurangan diri mendorong seseorang
   untuk menyempurnakan diri.
6) Kemampuan mengambil keputusan serta mengarahkan diri sesuai dengan
   keputusan yang telah diambil. Keberanian mengambil keputusan secara cepat
   dan tepat perlu dilatih dan dikembangkan.
7) Perencanaan dan pelaksanaan hidup sehat, kreatif, dan produktif. Pola hidup
   dan pola pikir yang sehat akan menjadikan pribadi yang sehat dan
   berkualitas(http://abudaud2010.blogspot.com/2010).

       Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi ini memuat

pokok-pokok sebagai berikut:

1) pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam

   beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME merupakan usaha bantuan yang

   diberikan dalam hal pembenahan diri terkait dengan masalah kepercayaan diri

   dan keyakinan terhadap sang pencipta.
                                                                              19




2) Bimbingan pribadi diberikan guna memberikan pemahaman kepada

   siswa/klien terhadap kemampuan yang di milikinya serta potensi-potensi yang

   ada dalam dirinya untuk dikembangkan guna menjalankan hidup dan

   mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

2.3Layanan Informasi Bidang Bimbingan pribadi

       Dari paparan tentang layanan informasi dan bimbingan pribadi diatas

maka dalam penelitian ini akan digabungkan menjadi kegiatan layanan informasi

bidang bimbingan pribadi yang dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk

memberikan serangkain data dan fakta tentang pribadi siwa yang menyangkut

tentang pemahaman makna hidup dan kemampuan serta potensi-potensi yang ada

dalam diri siswa untuk dikembangkan guna mencapai kualitas hidup yang lebih

baik. Dalam penelitian ini informasi yang akan diberikan adalah tentang

pemahaman potensi diri.

       Pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan pribadi dalam penelitian

ini akan lebih difokuskan kepada proses,cara dan perbuatan siswa dalam

memahami berbagai macam potensi diri sebagai anugrah yang tidak ternilai

harganya dari Tuhan Yang Maha Esa. Pemahaman potensi diri menjadi hal yang

sangat penting karena merupakan titik tolak pertama dalam langkah menuju

pencapaian cita-cita.Teknik yang digunakan dalam layanan informasi bidang

bimbingan pribadi selain ceramah juga menggunakan audio visual dan diskusi.
                                                                          20




2.4 Pemahaman Potensi Diri

2.4.1 Pengertian Potensi Diri

       Udo Yamin Efendi Majdi (2007: 86) menjelaskan, kata potensi itu adalah

serapan dari bahasa Inggris: potencial. Artinya ada dua kata, yaitu, (1)

kesanggupan; tenaga (2) dan kekuatan; kemungkinan.Sedangkan menurut kamus

besar bahasa Indonesia, definisi potensi adalah kemampuan yang mempunyai

kemungkinan untuk dikembangkan, kekuatan, kesanggupan, daya.Intinya, secara

sederhana, potensi adalah sesuatu yang bisa kita kembangkan.Sedangkan diri

masih manurut Udo Yasmin Efendi Majdi (2007: 92) adalah akumulatif dari

pikiran kita.Jadi Potensi diri adalah kemampuan yang kita miliki yang bisa

dikembangkan.

       Menurut Slamet Wiyono (2006: 37) potensi dapat diartikan sebagai

kemampuan dasar dari sesuatu yang masih terpendam didalamnya yang

menunggu untuk diwujudkan menjadi sesuatu kekuatan nyata dalam diri sesuatu

tersebut. Dengan demikian potensi diri manusia adalah kemampuan dasar yang

dimiliki manusia yang masih terpendam didalam dirinya yang menunggu untuk

diwujudkan menjadi suatu manfaat nyata dalam kehidupan diri manusia. Apabila

pengertian potensi manusia dikaitkan dengan pencipta manusia, Alloh SWT, maka

potensi diri manusia dapat diberi pengertian sebagaikemampuan dasar manusia

yang telah diberikan Alloh SWT sejak dalam kandungan ibunya sampai pada saat

tertentu (akhir khayat), yang masih terpendam didalam dirinya, menunggu

diwujudkan menjadi sesuatu manfaat nyata dalam kehidupan diri manusia didunia

ini dan diakhirat nanti.
                                                                             21




       Menurut Endra K (2004: 6) potensi bisa disebut sebagai kekuatan, energi,

atau kemampuan yang terpendam yang dimiliki dan belum dimanfaatkan secara

optimal.Potensi diri yang dimaksud disini suatu kekuatan yang masih terpendam

yang berupa fisik, karakter, minat, bakat, kecerdasan dan nilai-nilai yang

terkandung dalam diri tetapi belum dimanfaatkan dan diolah.

       Sedangkan Sri Habsari (2005: 2) menjelaskan, potensi diri adalah

kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental

dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang

dengan sarana yang baik. Sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri

proses fisik, perilaku dan psikologis yang dimiliki.

       Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa potensi diri adalah

kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang masih terpendam dan

mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan jika didukung dengan latihan

dan sarana yang memadai. Pemahaman potensi diri terdiri dari dua istilah yaitu,

pemahan dan potensi diri. Pemahaman menurut menurut kamus besar bahasa

Indonesia diartikan sebagai cara, proses, perbuatan dalam memahami atau

memahamkan.

       Jadi pemahaman potensi diri adalah suatu cara, proses, perbuatan yang

dilakukan individu dalam memahami kemampuan dasar yang mempunyai

kemungkinan untuk dikembangkan jika didukung dengan latihan dan sarana yang

memadai.
                                                                                    22




2.4.2     Jenis-Jenis Potensi Yang Ada Pada Diri Manusia

          Menurut Fuad Nashori (2003: 89) manusia memiliki beragam potensi

diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Potensi Berfikir
       Manusia memiliki potensi berfikir.Seringkali Alloh menyuruh manusia
untuk berfikir.Maka berfikir. Logikanya orang hanya disuruh berfikir karena ia
memiliki potensi berfikir. Maka, dapat dikatakan bahwa setiap manusia memiliki
potensi untuk belajar informasi-informasi baru, menghubungkan berbagai
informasi, serta menghasilkan pemikiran baru.
2) Potensi Emosi
       Potensi yang lain adalah potensi dalam bidang afeksi/emosi. Setiap
manusia memilki potensi cita rasa, yang dengannya manusia dapat memahami
orang lain, memahami suara alam, ingin mencintai dan dicintai, memperhatikan
dan diperhatikan, menghargai dan dihargai, cenderung kepada keindahan.
3) Potensi Fisik
       Adakalanya manusia memilki potensi yang luar biasa untuk membuat
gerakan fisik yang efektif dan efisien serta memiliki kekuatan fisik yang
tangguh.Orang yang berbakat dalam bidang fisik mampu mempelajari olah raga
dengan cepat dan selalu menunjukkan permainan yang baik.
4) Potensi Sosial
       Pemilik potensi sosial yang besar memiliki kapasitas menyesuaikan diri
dan mempengaruhi orang lain. Kemampuan menyesuaikan diri dan
mempengaruhi orang lain didasari kemampuan belajarnya, baik dalam dataran
pengetahuan maupun ketrampilan.

          Menurut Slamet Wiyono (2006:38) potensi diri manusia secara utuh

adalah keseluruhan badan atau tubuh manusia sebagai suatu sistem yang

sempurna dan paling sempurna bila dibandingkan dengan sistem makhluk ciptaan

Alloh lainya, seperti binatang, malaikat, jin, iblis dan setan. Apabila diidentifikasi,

potensi-potensi yang telah ada pada diri manusia adalah akal pikiran, hati dan

indera.

          Sedangkan menurut Hery Wibowo (2007: 1) minimal ada empat kategori

potensi yang terdapat dalam diri manusia sejak lahir yaitu, potensi otak, emosi,

fisik dan spiritual dan semua potensi ini dapat dikembangkan pada tingkat yang
                                                                                23




tidak terbatas. Ahli lain berpendapat bahwa manusia itu diciptakan dengan potensi

diri terbaik dibandingkan dengan makhluk Tuhan yang lain, ada empat macam

potensi yang dimiliki oleh manusia yaitu, potensi intelektual, emosional, spiritual

dan fisik (Udo Yamin Efendi Majdi, 2007).

       Dari beberapa pendapat di atas ada empat macam komponen potensi yang

akan dibahas dalam penelitian ini yaitu, potensi otak/intelektual, potensi

emosi/kecerdasan    emosi,    potensi    fisik/kecerdasan   fisik   serta   potensi

spiritual/kecerdasan spiritual. Masing-masing potensi akan akan dijabarkan

sebagai berikut:

1) Potensi Otak/intelektual

       Menurut Hery Wibowo (2007: 19) potensi yang terbesar manusia adalah

otak.Otak merupakan salah satu karunia paling hebat yang diberikan Tuhan.Otak

mengatur seluruh fungsi tubuh, mengendalikan seluruh perilaku dasar manusia

makan, bernafas, metabolisme tubuh dan lain-lain.

       Para ahli psikologi sepakat bahwa otak manusia adalah sumber kekuatan

dahsyat yang dimiliki oleh manusia.Mereka mengklasifikasikan otak menjadi dua

klasifikasi.Yaitu otak kiri dan otak kanan.Secara ringkas otak kiri berfungsi untuk

menghafal/mengingat, logika/berhitung, menganalisis, memutuskan dan bahasa,

sedangkan otak kanan berfungsi untuk melakukan aktifitas imajinasi/intuisi,

kreasi/kreatifitas, inovasi/seni (Slamet Wiyono, 2006).

2) Potensi Emosi

       Menurut Dwi Sunar P (2010: 129) kecerdasan emosional atau yang biasa

kita kenal dengan EQ adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai dan
                                                                             24




mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain disekitarnya. Dalam hal

ini emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.

       Daniel Goleman (dalam Dwi Sunar P, 2010: 14) menyatakan bahwa

kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan sisanya yang

80% ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional.

Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkut fungsi

pikiran, EQ mengangkut fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan

berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya dan bisa mengubah sesuatu

yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat.

3) Potensi Fisik

       Menurut Mulyaningtyas & Hadiyanto (2007: 90-91) Potensi fisik atau

kecerdasan fisik adalah masalah yang menyangkut kekuatan dan kebugaran otot

sekaligus kekuatan dan kebugaran otak dan mental.Orang yang seimbang fisik dan

mentalnya memiliki tubuh yang ideal serta otak yang cerdas.Kecerdasan fisik atau

PQ (physical Quotient) juga dianggap sebagai dasar dari elemen IQ (Intellegence

Quotient) dan EQ (Emotional Quotient).

4) Potensi Spiritual

       Danah Zohar penggagas istilah tehnis SQ(dalam Dwi Sunar P, 2010: 14)

mengatakan bahwa IQ bekerja untuk melihat keluar (mata pikiran), dan EQ

bekerja mengolah yang didalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient)

menunjuk pada kondisi “pusat diri”.

       Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan manusia yang paling tinggi. Pokok

dari SQ adalah kemampuan seseorang untuk memahami keberadaan Tuhan,
                                                                              25




memahami hakikat diri secara utuh, hakikat dibalik realitas, membedakan yang

benar dan yang salah serta kemampuan memaknai bahwa kehadiran kita entah

profesi atau status kita mampu membuat orang lain merasa dihargai dan

mempunyai penghargaan (Mulyaningtyas & Hadiyanto, 2007).

2.4.3   Ciri-Ciri Orang Yang Memahami Potensi Dirinya

        Di atas sudah dijelaskan tentang jenis-jenis potensi yang ada pada diri

seseorang.Pada dasarnya potensi yang dimiliki seseorang itu sedikitnya ada empat

macam yaitu potensi otak/kecerdasan intelektual, potensi emosi/kecerdasan emosi,

potensi fisik/kecerdasan fisik dan potensi spiritual/kecerdasan spiritual.

        Untuk memahami ciri atau karakter seseorang yang memahami potensi

dirinya secara menyeluruh bukanlah suatu hal yang mudah mengingat bahwa

potensi-potensi manusia itu memiliki ciri dan karakter sendiri-sendiri. Meskipun

setiap potensi manusia itu mempunyai ciri dan karakter sendiri-sendiri namun

semuanya saling mempengaruhi dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

        Manusia tidak boleh hanya mengagungkan salah satu Q (quotient) saja.

Manusia harus hidup dengan menerapkan 4Q secara simultaneous, balanced, and

proporsional untuk merajut kesuksesan dunia dan akhirat. Potensi-potensi tersebut

harus sama-sama diasah atau dicerahkan secara komprehensif agar manusia

menjadi cemerlang seutuhnya demi meraih kesuksesan sejati (Raja Bambang

Sutikno, 2010).

        Ciri orang yang memahami potensi dirinya bisa diukur atau dilihat dalam

sikap dan perilakunya sehari-hari dalam kehidupan keluarga, sekolah dan
                                                                               26




masyarakat. Menurut La Rose (dalam Sugiharso, dkk.,2009: 126-127)

menyebutkan bahwa orang yang berpotensi memiliki ciri-ciri:

1)   Suka belajar dan mau melihat kekurangan dirinya
2)   Memilki sikap yang luwes
3)   Berani melakukan perubahan secara total untuk perbaikan
4)   Tidak mau menyalahkan orang lain maupun keadaan\
5)   Memilki sikap yang tulus bukan kelicikan
6)   Memiliki rasa tanggung jawab
7)   Menerima kritik saran dari luar
8)   Berjiwa optimis dan tidak mudah putus asa.

        Ciri-ciri diatas sifatnya masih umum, artinya belum dipilah-pilah

berdasarkan ciri-ciri masing-masing potensi yang dimiliki oleh manusia. Adapun

ciri-ciri masing-masing potensi yang dimiliki oleh manusia adalah sebagi berikut:

1) Potensi otak/kecerdasan intelektual

        Ciri orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi yaitu, mampu

untuk bekerja secara abstrak, baik menggunakan ide-ide, simbol, hubungan logis,

maupun konsep-konsep secara teoristis, mampu untuk mengenali dan belajar

serta menggunakan abstraksi tersebut dan mampu untuk menyelesaikan masalah

termasuk masalah yang baru (Dwi Sunar P, 2010: 160).

2) Potensi emosi/kecerdasan emosi

        Kecerdasan emosi (EQ) menurut Daniel Golemen (dalam Dwi Sunar P,

2010: 161-162) meliputi lima dasar kecakapan emosi dan sosial berikut:

1) Kesadaran diri: Mengetahui apa yang dirasakan dan menggunakannya untuk
   memandau pengambilan keputusan, realistis, percaya diri, yakin akan
   kemampuan yang dimiliki.
2) Pengaturan diri: Mengelola emosi diri sedemikian rupa sehingga dapat
   bermanfaat positif terhadap pelaksanaan tugas, peka tetapi bukan perasa,
   sanggup menahan gejolak hatisebelum tercapinya suatu sasaran, mampu
   bangkit dari kegagalan dan bertahan dari tekanan emosi.
                                                                             27




3) Motivasi: Memilki hasrat yang kuat dan menggerakkannya serta menuntun
   dirinya sendiri dalam menuju sasaran, inisiatif dan efektif dalam bertindak,
   tidak mudah putus asa (kecewa atau prustasi).
4) Empati: Dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dapat memahami
   perspektif mereka, menumbuhkan hubungan yang harmonis didasarkan atas
   saling percaya serta mampu beradaptasi terhadap lingkungannya.
5) Ketrampilan sosial: Mampu mengendalikan emosi dengan baik dan berfikir
   jernih, baik ketika berhadapan dengan orang lain mampu cermat membaca
   situasi dan jaringan social, mampu berinteraksi dengan baik, mampu
   menggunakn ketrampilan-ketrampilan untuk mempengaruhi dan memimpin,
   menghormati pendapat orang lain, mampu menyelesaikan perselisihan,
   sanggup bekerjasama dan bekerja dalam tim.

3) Potensi Fisik/kecerdasan fisik

       Menurut Achmad Juntika Nurihsan (2005: 74) ciri-ciri yang menonjol dari

orang yang memiliki kecerdasan badaniah-kinestik yang tinggi adalah sebagai

berikut:

1) Memiliki daya kontrol tubuh yang luar biasa
2) Memiliki daya kontrol terhadap obyek
3) Mengetahui timing yang tepat
4) Mempunyai reflek yang sempurna dan sangat responsive dengan lingkungan
   fisik
5) Suka melakukan oleh raga fisik
6) Mahir dalam kerajinan tangan
7) Gampang mengingat apa yang dilakukan dan bukan apa yang dikatakan atau
   diamati

4) Potensi spiritual/kecerdasan spiritual

       Ian Marshal pengarang buku “spiritual Intelligence” (dalam Achmad

Juntika Nurihsan, 2005:76) menyebutkan bahwa orang yang memilki kecerdasan

spiritual tinggi itu adalah orang yang mampu berfikir realistis, mampu mengambil

pelajaran dari kegagalan, siap menanggung resiko dari apa yang dilakukannya,

dan konsisten antara apa yang dilakukan dengan apa yang dikatakan.
                                                                             28




2.4.4Mengembangkan Potensi Diri

       Menurut Marina Sulastiana dalam makalah yang disajikan di Diklat

Kepemimpinan Tingkat III Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral

Angkatan V mengungkapkan, sebelum seorang melakukan pengembangan diri

dalam rangka menggunakan dan mengoptimalisasi seluruh kemampuannya untuk

mencapai kinerja yang unggul, ada beberapa cara untuk mengetahui, menilai atau

mengukur     dengan     akurat     berbagi    kelebihan   dan     kelemahannya

(www.pdfssearch.com/23-04-2011). Adapun cara-caranya adalah sebagai berikut:

1) Introspeksi diri (pengukuran individual)

       Dalam cara ini, individu meluangkan waktu untuk mengevaluasi apa yang

telah dilakukannya, apa yang telah ia capai dan apa yang ia miliki sebagai suatu

kelebihan yang dapat mendukung dan apa yang ia miliki sebagai suatu

kekurangan yang menghambat tercapainya prestasi tinggi. Cara ini efektif bila

individu bersikap jujur, terbuka pada dirinya sendiri, mau dengan sungguh-

sungguh memperhatikan kata hati.

2) Feedback dari orang lain

       Dalam cara ini seseorang meminta masukan berupa informasi atau data

penilaian tentang dirinya dari orang lain. Masukan berupa umpan balik (feedback)

ini meliputi segala sesuatu tentang sikap dan perilaku seseorang yang tampak,

dipersepsi oleh orang lain yang bertemu, berinteraksi dengannya. Cara ini

bertujuan untuk membantu seseorang menelaah dan memperbaiki.
                                                                                  29




3) Tes Psikologi

        Tes Psikologi yang mengukur potensi psikologis individu dapat memberi

gambaran kekuatan dan kelemahan individu pada berbagai aspek psikologis

seperti kecerdasan/kemampuan intelektual (kemampuan analisa, logika berpikir,

berpikir kreatif, berpikir numerikal), potensi kerja (vitalitas, sumber energy kerja,

motivasi, ketahanan terhadap stress kerja), kemampuan sosiabilitas (stabilitas

emosi, kepekaan perasaan, kemampuan membina relasi sosial) dan potensi

kepemimpinan tingkah laku.

        Pengembangan potensi sebagai upaya untuk memaksimalkan seluruh

potensi yang positif dan meminimalkan seluruh kelemahan yang ada pada diri

manusiaakan berdampak pada kualitas hidup seseorang. Pada akhirnya seseorang

mampu bersikap sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk pribadi, social, dan

makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna diantara makhluk yang

lain.

        SelanjutnyaLa Rose (dalam Sugiharso, dkk., 2009: 126) menjelaskan

bahwa, pengembangan diri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:

1)   Bergaul dengan yang bukan satu profesi.
2)   Pilihlah teman yang bisa diajak diskusi.
3)   Bersikap dan berfikir posistif tentang sesama.
4)   Biasakan mengucapkan terimakasih.
5)   Biasakan mengatakan hal-hal yang menghargai orang lain.
6)   Biasakan berbicara aktif.

2.4.5   Hambatan Dalam Pengembangan Potensi Diri

        Dalam upaya pengembangan diri diperlukan suatu semangat dan kerja

keras. Tanpa semangat dan keras maka seseorang tidak akan mampu mengatasi
                                                                              30




segala hambatan yang menghadang dalam mencapai tujuan hidup yang dicita-

citakan.

       Menurut Sugiharso, dkk (2009: 127-128) hambatan-hambatan yang sering

muncul sebagai penghalang dalam pengembangan potensi diri adalah sebagai

berikut:

1) Hambatan yang berasal dari diri sendiri
        Hambatan yang lahir dari diri sendiri seseorang meliputi tidak adanya
tujuan yang jelas, adanya prasangka buruk, tidak mau mengenal diri sendiri, tidak
memiliki sikap yang sabar, adanya perasaan takut gagal, kurang motivasi diri dan
tertutup.
2) Hambatan dari luar diri sendiri
        Hambatan yang datangnya dari luar diri sendiri meliputi lingkungan
keluarga, lingkungan kerja, lingkungan bermain, budaya masyarakat, sistem
pendidikan, dan kualitas makanan yang dikonsumsi.

2.5 Kajian Penelitian Sebelumnya

       Layanan informasi merupakan salah satu layanan dalam bimbingan dan

konseling yang terbukti efektif sebagai perlakuan dalam sebuah penelitian.Hal itu

terbukti dari hasil penelitian Musdzalifah (2010) dengan Judul “Pengaruh

Layanan Informasi Bimbingan Karier Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Kelas 3M1

di SMK Wisudha Karya Kudus Tahun Pelajaran 2009/2010.Dari hasil penelitian

tersebut dikatakan bahwa pemberian layanan informasi dalam bimbingan karier

efektif terhadap kesiapan kerja secara psikologis pada siswa.

       Ada sedikit perbedaan antara penelitian sebelumnya tersebut dengan

penelitian ini. Perbedaannya terletak pada bidang layanan informasi dan aspek

yang akan dirubah. Dalam penelitian sebelumnya bidang layanan informasi

difokuskan dalam bidang bimbingan karier dan aspek yang ditingkatkan adalah

tentang kesiapan kerja di SMK Wisudha Karya Kudus, sedangkan dalam
                                                                              31




penelitian ini layanan informasi difokuskan dalam bidang bimbingan pribadi dan

aspek yang ditingkatkan adalah tentang pemahaman potensi diri di SMP N 1

Dawe Kudus.

       Dalam    penelitian   sebelumnya,   perlakuan   yang    dilakukan   untuk

meningkatkan kesiapan kerja adalah Layanan informasi bimbingan karier dan hal

tersebut terbukti efektif untuk meningkatkan kesiapan kerja siswa di SMA

Wisudha Karya Kudus. Sedangkan dalam penelitian ini perlakuannya dengan

menggunakan layanan informasi bidang bimbingan pribadi untuk meningkatkan

pemahaman potensi siswa di SMP N 1 Dawe Kudus.

       Ada persamaan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu,

sama-sama menggunakan layanan informasi sebagai perlakukan dalam penelitian.

Dari hal itulah penulis berkesimpulan bahwa layanan informasi bidang bimbingan

pribadi mampu untuk meningkatkan pemahaman potensi diri siswa kelas VIII di

SMP N 1 Dawe Kudus tahun pelajaran 2010/2011.

       Sedangkan terkait dengan penelitian tentang potensi diri, sebenarnya sudah

dilakukan seiring dengan berkembangnya zaman.Namun penelitian tersebut

ternyata masih belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh sebagaian besar

masyarakat maupun lembaga pendidikan. Sehingga apa yang menjadi kebutuhan

tentang pemahaman potensi diri belum bisa terpenuhi secara merata.

       Menemukan dan mengembangkan potensi diri adalah hal yang sangat

penting dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih

baik. Ada dua hal yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan hal tersebut,

pertama, menemukan potensi diri, kedua, tahu bagaimana cara mengembangkan
                                                                              32




potensi diri. Setiap kita memiliki hak untuk sukses dan siapapun memiliki peluang

yang sama dengan yang lain untuk berprestasi dan meraih kesuksesan. Tapi

pertanyaannya adalah kenapa banyak yang tidak sukses dan berprestasi?

       Menurut Endra K (2004: 21) sesungguhnya setiap orang dapat meraih

kesuksesan dan berprestasi jika dia dapat menemukan potensi yang dimiliki dan

mengembangkan potensi tersebut secara oktimal dengan karakter positif.

Mengasah kelebihan dan kemampuan yang ada dan meminimalisasi atau

menutupi kekurangannya adalah cara untuk mengoptimalkan potensi diri.

       Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, untuk menemukan karakter dan

pemahaman potensi diri bisa dilakukan melalui dua cara yaitu, tehnik tes dan non

tes. Teknik tes, kita sering mengenal istilah tes IQ, EQ dan SQ. Menurut Dwi

Sunar P (2010: 55) istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli

psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, LewisM. Terman dari

Universitas Stanford berusaha membekukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet

dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal

sebagai tes Stanford-Binet.

       Setelah bertahun-tahun IQ dijadikan standar untuk menggambarkan

psikologi manusia secara lengkap munculah konsep baru yang disebut sebagai

EQ. Kecerdasan Emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting

dengan kecerdasan intelektual (IQ), sehingga muncullah tes kecerdasan emosi.Tes

EQ disebut juga sebagai tes skala kematangan emosi, EQ disepakati sebagai salah

satu metode yang paling cocok untuk menakar peluang sukses seseorang. Didalam

kehidupan manusia seseorang yang cerdas, baik intelektual maupun secara emosi
                                                                                 33




belum menjamin ia dapat berinteraksi dengan dengan baik dan mencapai

kebahagiaan yang hakiki didunia sampai diakhirat nanti. Untuk melengkapi dua

kecerdasan tersebut muncullah konsep Spiritual Quotient (EQ).Untuk mengetahui

sejauh mana tingkat spiritualitas seseorang beberapa pakar mencoba membuat alat

ukur atau skala dimensi spiritual (Dwi Sunar P, 2010).

       Sedangkan untuk teknik non tes, ada dua penelitian yang telah

dikembangkan oleh ahli untuk mengenali/memprediksi potensi-potensi yang ada

pada diri seseorang yaitu, menggunakan analisis tulisan tangan dan pola sidik

jari.Menurut Mita Rosetta taufik seorang professional analisi tulisan tangan,

analisis tangan seperti juga sidik jari dan DNA yang merupakan sesuatu yang unik

dan berbeda disetiap orang.Seperti body language dan komunikasi non-verbal

lainnya yang dapat dipelajari, analisis tulisan tanganpun mudah dipelajari.

Seorang Handwriting Analyst yang terlatih akan mampu menginterpretasikan

banyak hal dalam diri seseorang dalam waktu yang sangat singkat, bahkan

langsung menemukan solusi dari permasalahan kita.

       Selanjutnya tentang tes pola sidik jari, menurut Widianto setiono & Ayah

Edi (2009: 1) “tes pola sidik jari bukanlah cara meramal-meramal atau palmistry,

tetapi ini adalah suatu metode berdasarkan dermatoglyphics.”Dari penelitian dan

bukti-bukti ilmiah juga ditemukan bahwa ada hubungan antara sidik jari dan

kualitas (potensi), sifat dan bakat yang dibawa seseorag sejak lahir. Tes pola sidik

jari ini dilakukan dengan cara scanning terhadap semua jari tangan dengan

memakai scanner, hasil scan kemuidan dianalisa, hasil analisa dimasukkan

kedalam perangkat lunak untuk dianalisa lebih lanjut berdasarkan temuan “neuro
                                                                                 34




science” terbaru dan dermatoglyphic. Tes pola sidik jari ini menggunakan sistem

digital sehingga prosesnya menjadi sangat mudah dan cepat (Setiono & Ayah Edi,

2009).

         Semua hasil penelitian tentang potensi diri diatas tentunya telah

memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi perkambangan ilmu

pengetahuan untuk menjawab semua permasalahan individu, masyarakat, instansi

pemerintah, swasta, maupun lembaga pendidikan tentang pemahaman potensi

diri.Namun karena berbagai hal, tidak semua orang ataupun lembaga bisa

merasakan manfaat dari hasil penelitian-penelitian tersebut.Bukti nyata yang ada

dilingkungan kita cukup menjawab bahwa masih banyak orang, lembaga

pemerintah, swasta, maupun pendidikan yang belum mampu menyelenggarakan

tes-tes psikologi.

         Bukan hanya untuk tes psiklogi saja, analisis tulisan tangan dan sidik jari

ternyata juga belum mampu memenuhi semua kebutuhan yang ada meskipun tadi

dikatakan bahwa tes ini sangat mudah dilakukan dan waktunyapun cukup

singkat.Hal ini dikarenakan minimnya ahli dalam bidang Handwriting Analyst dan

dermatoglyphicyang ada di wilayah kita. Tentunya ini menjadi sebuah PR yang

berat buat kita semua khususnya bagi konselor atau guru BK yang ada disuatu

sekolahan.Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk mengantarkan

seseorang menjadi pribadi yang cemerlang, pribadi yang mampu mengembangkan

potensinya secara optimal, karena disekolah seseorang dididik dengan berbagai

macam pengetahuan dengan sebuah harapan seseorang tersebut mampu mencapai

pengembangan diri secara optimal.
                                                                              35




       Dari itu diperlukan sebuah cara untuk memberikan pemahaman kepada

siswa tentang potensi-potensi yang dimilikinya. Salah satu cara yang bisa

dilakukan adalah melalui layanan informasi bidang bimbingan pribadi. Dengan

layanan informasi bidang bimbingan pribadi diharapkan setiap siswa memperoleh

data dan fakta tentang keadaan diri, khususnya tentang potensi diri yang mereka

mililki guna meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik.

2.6 Kerangka Berfikir

       Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat penting untuk

mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang cemerlang, pribadi yang mampu

mengembangkan potensinya secara optimal.Tetapi umumnya siswa-siswa

disekolah minim sekali memperoleh informasi tentang potensi diri, sehingga

mereka kurang memiliki pemahaman terhadap potensi diri yang mereka miliki.

       Kebanyakaan siswa beranggapan bahwa untuk mencapai sukses, seseorang

harus memiliki nilai akademik yang baik. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya

salah, tetapi kurang realistis jika melihat gejolak dan tantangan zaman ke depan.

Berbagai penelitian sudah menunjukkan bahwa untuk mencapai kesuksesan itu

tidak bisa ditentukan oleh satu potensi/kecerdasan saja, melainkan seseorang

harus hidup dengan menerapkan semua potensi yang Ia miliki. Sedikitnya ada

empat potensi yang sangat berpengaruh dalam kesuksesan hidup seseorang, tak

terkecuali siswa-siswi yang menuntut ilmu disuatu lembaga pendidikan. Dengan

pemahaman potensi diri yang baik siswa akan mudah menyelesaikan segala

permasalahan yang ada dan mampu mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang

diinginkan. Sebaliknya jika siswa kurang memiliki pemahaman potensi diri yang
                                                                            36




baik, bisa berdampak pada terhambatnya pencapaian cita-cita dan tujuan hidup

yang diinginkan.

       Dari keterangan di atas jelas siswa membutuhkan informasi yang

relevanuntuk meningkatkan pemahaman potensi diri yang mereka miliki.Salah

satu layanan yang bisa diberikan kepada siswa untuk memberikan pemahaman

potensi diri adalah layanan informasi bidang bimbingan pribadi. Dengan layanan

informasi siswa akan memperoleh berbagai macam data dan fakta tentang potensi

diri, yang bisa digunakan untuk meningkatkan pemahaman potensi diri. Sehingga

yang awalnya siswa memiliki pemahaman potensi diri yang kurang bisa

meningkat setelah mendapatkan layanan informasi bidang bimbingan pribadi.

2.7 Hipotesis

       Hipotesis dalam penelitian ini adalah layanan informasi bidang bimbingan

pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman potensi diri siswa

kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Tahun Pelajaran 2010/2011.
                                      BAB III

                           METODE PENELITIAN

       Metode penelitian sangat berpengaruh besar terhadap kualitas hasil

penelitian. Semakin tepat suatu metode penelitian maka akan semakin tepat data

penelitian yang diperlukan. Agar dapat menghasilkan penelitian yang baik,

seorang peneliti harus memiliki pemahaman yang luas dan tepat dalam memilih

metode penelitian.

3.1 Rancangan Penelitian

       Penelitian ini akan mengungkap pengaruh layanan informasi bidang

bimbingan pribadi terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1

Dawe Kudus tahun pelajaran 2010/2011dengan menggunakan rancangan quasi

eksperiment dengan bentuk one group pretest-posttest design.

       Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk

mengetahui ada tidaknya akibat dari “sesuatu” yang dikenakan pada subjek

selidik. Dengan kata lain penelitian eksperimen mencoba meneliti ada tidaknya

hubungan sebab akibat (Suharsimi Arikunto, 2005).

       Penelitian eksperimen dikelompokkan menjadi dua yaitu: eksperimen

murni (true experiment) dan eksperimen pura-pura (quasi experiment). Dalam

penelitian ini yang digunakan peneliti adalah eksperimen pura-pura (quasi

experiment), karena dalam penelitian ini tidak mengambil subjek penelitian secara

random dan hanya menggunakan kelompok eksperimen tanpa ada kelompok

banding (Suharsimi Arikunto, 2005).




                                        37
                                                                           38




       Sedangkan bentuk yang digunakan adalah bentuk one group pretest-

posttest design. Pengumpulan data dengan desain ini dilakukan dua kali yaitu

sebelum eksperimen disebut pre-test dan sesudah eksperimen disebut post-test.

Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat

membandingkan keadaan sebelum diberi perlakuan. Desain ini dapat digambarkan

sebagai berikut:

O1 X O2 (Sugiyono, 2011)

Keterangan :

O1= Nilai pretest

O2= Nilai postest

X = Layanan informasi bidang bimbingan pribadi.

       Penelitian ini memiliki dua variabel, yaitu variabel independen dan

variable dependen, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Variabel Independen

       Variabel ini sering disebut juga sebagai variable stimulus, predictor,

antecedent. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen (variabel

bebas) adalah layanan informasi bidang bimbingan pribadi (X).

2) Variabel Dependen

       Variabel dependen adalah variabel terikat yang keberadaannya tergantung

pada variabel lainnya (variabel independen). Dalam penelitian ini yang menjadi

variabel dependen adalah pemahaman potensi diri (Y).

       Adapun hubungan antara layanan informasi dengan pemahaman potensi

diri adalah hubungan kausal yaitu hubungan sebab akibat. Kegiatan layanan
                                                                                39




informasi bidang bimbingan pribadi adalah salah satu usaha untuk memberikan

pemahaman tentang berbagai macam potensi diri siswa yang perlu untuk

dikembangkan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

       Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah SMP N 1 Dawe Kudus.

Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan dengan prosedur kegiatan sebagai berikut:

                                    Tabel 3.1
                                 Jadwal Penelitian

No      Kegiatan Penelitian     April      Mei       Juni                   Juli
                               Minggu     Minggu    Minggu                Minggu
                              2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4                       1   2
1    Menyusun Proposal        X X
2    Menyusun       instrumen         X X
     penelitian
3    Uji coba instrumen dan               X X
     menganalisis data
4    Mengumpulkan data                        X X
5    Memberikan perlakuan                         X X X
6    Menyusun laporan                                      X              X     X


       Sedangkan pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan pribadi

sebanyak 7 (tujuh) kali pertemuan. Lama layanan informasi bidang bimbingan

pribadi 2 x 30 menit setiap pertemuan. Kegiatan dilaksanakan setelah kegiatan

belajar mengajar sehingga tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar.

                                Tabel 3.2
      Jadwal pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan pribadi

No   Pertemuan                Materi Bimbingan                  Alokasi waktu
1    1 Juni 2011              Pemahaman potensi diri            60 menit
2    4 Juni 2011              Potensi intektual                 60 menit
3    6 Juni 2011              Potensi emosi                     60 menit
4    11 Juni 2011             Potensi fisik                     60 menit
5    13Juni 2011              Potensi spiritual                 60 menit
6    15 Juni 2011             Manifestasi dari 4 potensi (4Q)   60 menit
7    16 Juni 2011             Mengembangkan potensi diri        60 menit
                                                                               40




3.3 Subjek Penelitian

          Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 88) subjek penelitian adalah benda hal

atau orang tempat data untuk variabel penelitian melekat, dan yang

dipermasalahkan.Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII

SMP N 1 Dawe Kudus yang memiliki pemahaman potensi diri rendah dan

sedang.Jumlah subjek penelitian yang digunakan adalah sebanyak 23 siswa dari

111 siswa, yang memiliki pemahaman potensi diri dalam kategori sedang.

                                   Tabel 3. 3
                           Penentuan subjek penelitian

No      Interval Kelas                Kriteria                  Frekuensi
1       97,6 – 120                    Sangat Tinggi             18
2       74,1 – 97,5                   Tinggi                    70
3       51,6 – 74                     Sedang                    23
4       30 – 51,5                     Rendah                    0
∑                                                               111


3.4 Metode dan Alat Pengumpul Data

          Menurut Suharsimi Arikunto (2005: 100-101) metode pengumpul data

adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data.

Sedangkan instrumen pengumpul data adalah             alat bantu yang dipilih dan

digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut

menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.Metode pengumpul data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan wawancara.

3.4.1     Angket

          Angket adalah kumpulan dari pertanyaan yang diajukan secara tertulis

kepada seseorang dan cara menjawab juga dilakukan secara tertulis (Suharsimi

Arikunto, 2005). Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala
                                                                              41




psikologi yaitu data yang berkaitan dengan aspek atau atribut psikologi yaitu

pemahaman potensi diri. Alat pengumpul data yang berupa skala psikologi

merupakan instrumen pengumpul data yang menyediakan alternatif yang diajukan

berupa frekuansi seseorang dalam melakukan kegiatan (Suharsimi Arikunto,

2005). Jadi dalam penelitian ini metode dan alat pengumpulyang digunakan

adalah angket dengan bentuk skala psikologi.Pertanyaan-pertanyaan yang akan

diberikan adalah sesuai dengan kebutuhan penelitian yaitu pertanyaan tentang

pemahaman potensi diri siswa. Format respon yang digunakan dalam instrumen

yaitu terdiri dari empat pilihan yang menyatakan pemahaman potensi diri dari

selalu, sering, jarang dan tidak pernah. Penyusunan instrumen dimulai setelah

mendefinisikan variabel-variabel penelitian secara teoritis, kemudian menjabarkan

variabel ke indikator dan mendeskripsikannya dalam bentuk deskriptor.

Penjabaran ini akan membentuk kisi-kisi instrumen. Kisi-kisi dalam penelitian ini

dapat dilihat pada table 3. 4
                                                                                  42




                                     Tabel 3.4
              Kisi-kisi skala pemahaman potensi diri sebelum uji coba

   Aspek                Indikator                      Deskriptor              No
  potensi                                                                     Item
Potensi        1. mampu untuk bekerja           Mengumpulkan banyak          1
intelektual       secara abstrak baik            informasisebelum membuat
                  menggunakan ide-ide,           sebuah keputusan
                  simbol, hubungan              Menggunakan bukti-bukti
                  logis, maupun konsep-          untuk membuktikan atau       2
                  konsep secara teoristis        menyangkal sebuah
                                                 pendapat
                                                Memperoleh nilai rata-rata
                                                 yang tinggi dalam setiap     3
                                                 mata pelajaran.
                                                Belajar lebih dengan         4
                                                 mengamati daripada
               2. Mampu untuk                    melakukannya
                  mengenali dan belajar         menggunakan alasan yang
                  serta menggunakan              diterima akal untuk          5
                  abstraksi                      menanggapi sesuatu
                                                Bekerja dengan tenang
                                                 untuk membahas suatu         6
               3. Mampu untuk                    persoalan secara
                  menyelesaikan masalah          menyeluruh
                  termasuk masalah yang                                       7
                                                Banyak mempertimbangkan
                  baru                           untung dan rugi dalam
                                                 melakukan tindakan
Potensi        1. Kesadaran diri                Percaya diri dalam segala    8
Emosi                                            keadaan
                                                Memahami keadaan diri        9
                                                 dengan positif
               2. Pengaturan diri               Menahan emosi dan tidak      10
                                                 menggunakan amarah
                                                 dalam menghadapi masalah
                                                Mampu bangkit dari
                                                 kegagalan dalam hidup
                                                 maupun dalam belajar         11
               3. Motivasi                      Bersemangat tinggi dalam
                                                 menjalankan tugas-tugas
                                                 yang ada                     12
                                                Tidak mudah putus asa
                                                 (kecewa/frustasi)            13
                                                                       43




Aspek             Indikator                     Deskriptor             No
Potensi                                                               Item
          4. Empati                      Dapat merasakan apa yang    14
                                          dirasakan oleh orang lain
                                         Menumbuhkan hubungan
                                          yang harmonis didasarkan    15
                                          atas saling percaya
                                         Bisa berinteraksi dengan
          5. Ketrampilan sosial           baik dengan orang lain      16
                                         Menghormati pendapat
                                          orang lain
                                          Sanggup bekerjasama dalam 17
                                          tim
                                                                      18
Potensi   1. Memiliki daya kontrol       Mengerti dan hidup sesuai   19
 Fisik       tubuh yang luar biasa        standar kesehatan
                                         Menunjukkan kekuatan        20
                                          dalam bekerja yang
                                          membutuhkan gerakan otot
                                          kecil maupun otot utama
          2. Mempunyai reflek            Memegang, menyentuh,
             yang sempurna dan            atau bermain dengan apa     21
             sangat respon dengan         yang sedang dipelajari
             lingkungan fisik            Berorientasi fisik dan suka
                                          melakukan gerakan           22
          3. Suka melakukan oleh         Melakukan olah raga tiap
             raga fisik                   hari demi menjaga           23
                                          kesehatan
                                         Badan terasa tidak nyaman
                                          jika tidak melakukan olah   24
                                          raga
                                                                      25
                                         Mengerjakan sendiri tugas
          4. Mahir dalam kerajinan        pekerjaan tangan dari
             tangan                       sekolah
                                         Mengerjakan pekerjaan
                                                                      26
                                          tangan dengan cepat dan
                                          bagus
          5. Mudah mengingat apa
             yang dilakukan dan          Belajar melalui             27
                                          memanipulasi dan praktik
             bukan apa yang
             dikatakan atau diamati      Menghafal dengan            28
                                          caraberjalan dan melihat
                                                                                     44




Aspek              Indikator                       Deskriptor                      No
Potensi                                                                            Item
Potensi      1. Mampu berfikir                    Optimis tapi tidak menolak      29
Spiritual       realistis                          kenyataan, sehingga tetap
                                                   memperhitungkan kondisi
                                                   yang terburuk
                                                   dan siap menghadapinya.
                                                  Mensyukuri apa yang             30
                                                   dimilikinya
             1. Mampu mengambil                   Tidak mengulang kesalahan       31
                pelajaran dari                     yang pernah dilakukan
                kegagalan                         Menghindari masalah yang
                                                   bisa menghambat kemajuan        32
             2. Siap menanggung                   Bertanggung jawab atas
                resiko dari apa yang               tindakan yang dilakukan         33
                dilakukannya                      Berani menghadapi dan
                                                   menaklukkan setiap              34
                                                   tantangan yang menghadang
                                                                                   35
                                                  Tidak plin-plan dalam
             3. konsisten antara apa               mengambil sebuah
                yang dilakukan dengan              keputusan
                apa yang dikatakan.
                                                  Jujur dan dapat dipercaya
                                                                                   36
                                                   dalam segala keadaan
             4. Kualitas hidup yang               Mengharapkan ridho Tuhan
                                                   dalam menjalankan aktifitas
                diilhami oleh visi dan                                             37
                                                   sehari-hari
                nilai-nila
                                                  Yakin bahwa Tuhan selalu        38
                                                   memberikan yang terbaik
                                                   buat diri kita


3.5 Validitas dan Reliabelitas Instrumen

3.5.1   Validitas

        Menurut Sugiyono (2011: 121) “Valid berarti instrumen tersebut dapat

digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur”. Sedangkan validitas

adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan

mampumengukur apa yang akan diukur (Suharsimi Arikunto, 2005: 167).

Penelitian   ini    menggunakan   validitas       konstruk,   yaitu   konsep   validitas
                                                                                    45




yangberangkat dari konstruksi teoritik tentang variabel yang hendak diukur oleh

jenis alat ukur.Konstruksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemahaman

potensi diri.Pengukuran validitas dalam penelitian ini adalah menggunakan rumus

korelasi product moment. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :

                  N. xy  ( x. y)
rx, y 
          {N. x 2  ( x) 2 }.{N. y 2 .(  y) 2 }

Keterangan :

rxy       : Koefisien korelasi antara X dan Y.

ΣX        : Jumlah skor masing-masing item.

ΣY        : Jumlah skor seluruh item (total).

ΣXY : Jumlah skor antara XY.

N         : Jumlah subjek.

X2        : Kuadrat skor tiap item.

Y2        : Kuadrat dari skor total.         (Suharsimi Arikunto, 2005: 171)

          Berdasarkan hasil try out instrumen penelitian yang diujicobakan kepada

29 siswa kelas VIII C SMP N 1 Dawe Kudus, dapat diketahui bahwa dari 38 item

skala pemahaman potensi diri tesebut pada taraf kesalahan 5% dengan N =29

diperoleh nilai r    tabel   sebesar 0,367. Dari 38 item pernyataan tersebut terdapat 8

item yang tidak valid yaitu 6, 8, 9, 17,18, 19, 26 dan 28. Dari 8 item yang tidak

valid, 6 item diantaranya menyebar, artinya pada masing-masing indikator ada

yang mewakili, 2 item yang lain menyatu artinya, tidak mewakili satu indikator

pada aspek potensi emosi yaitu indikator kesadaran diri. Untuk item yang tidak
                                                                                46




valid dan satu indikator yang tidak terwakili tidak dipergunakan. Data

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.

                                     Tabel 3.5

                  Kisi-kisi skala pemahaman potensi diri valid

   Aspek              Indikator                      Deskriptor              No
  potensi                                                                   Item
Potensi       1. mampu untuk bekerja          Mengumpulkan banyak          1
intelektual      secara abstrak baik           informasisebelum membuat
                 menggunakan ide-ide,          sebuah keputusan
                 simbol, hubungan             Menggunakan bukti-bukti      2
                 logis, maupun konsep-         untuk membuktikan atau
                 konsep secara teoristis       menyangkal sebuah pendapat
                                              Memperoleh nilai rata-rata
                                               yang tinggi dalam setiap     3
                                               mata pelajaran.
              2. Mampu untuk                  Belajar lebih dengan
                 mengenali dan belajar         mengamati daripada           4
                 serta menggunakan             melakukannya
                 abstraksi                    menggunakan alasan yang
                                               diterima akal untuk          5
              3. Mampu untuk                   menanggapi sesuatu
                 menyelesaikan                Banyak mempertimbangkan
                 masalah termasuk              untung dan rugi dalam        6
                 masalah yang baru             melakukan tindakan

Potensi       1. Pengaturan diri              Menahan emosi dan tidak      7
Emosi                                          menggunakan amarah dalam
                                               menghadapi masalah
                                              Mampu bangkit dari
                                               kegagalan dalam hidup        8
                                               maupun dalam belajar
                                              Bersemangat tinggi dalam
              2. Motivasi                      menjalankan tugas-tugas      9
                                               yang ada
                                              Tidak mudah putus asa        10
                                               (kecewa/frustasi)
                                              Dapat merasakan apa yang
              3. Empati                        dirasakan oleh orang lain    11
                                              Menumbuhkan hubungan
                                               yang harmonis                12
                                               didasarkanatas saling
                                                                           47




Aspek                 Indikator             percaya                       No
Potensi                                               Deskriptor          Item
            4. Ketrampilan sosial          Bisa berinteraksi dengan      13
                                            baik dengan orang lain

Potensi     1. Memiliki daya kontrol       Menunjukkan kekuatan          14
Fisik          tubuh yang luar biasa        dalam bekerja yang
                                            membutuhkan gerakan otot
                                            kecil maupun otot utama
            2. Mempunyai reflek            Memegang, menyentuh, atau     15
               yang sempurna dan            bermain dengan apa yang
               sangat respon dengan         sedang dipelajari
               lingkungan fisik            Berorientasi fisik dan dan    16
                                            suka melakukan gerakan
            3. Suka melakukan oleh         Melakukan olah raga tiap      17
               raga fisik                   hari demi menjaga kesehatan
                                           Badan terasa tidak nyaman
                                            jika tidak melakukan olah     18
                                            raga
            4. Mahir dalam kerajinan       Mengerjakan sendiri tugas
               tangan                       pekerjaan tangan dari         19
                                            sekolah
            5. Mudah mengingat apa
                                           Belajar melalui
               yang dilakukan dan                                         20
                                            memanipulasi dan praktik
               bukan apa yang
               dikatakan atau diamati

Potensi     1. Mampu berfikir              Optimis tapi tidak menolak    21
Spiritual      realistis                    kenyataan, sehingga tetap
                                            memperhitungkan kondisi
                                            yang terburuk
                                            dan siap menghadapinya.
            2. Mampu mengambil             Mensyukuri apa yang           22
               pelajaran dari               dimilikinya
               kegagalan                   Tidak mengulang kesalahan
                                            yang pernah dilakukan         23
            3. Siap menanggung             Menghindari masalah yang
               resiko dari apa yang         bisa menghambat kemajuan      24
               dilakukannya                Bertanggung jawab atas
                                            tindakan yang dilakukan
                                           Berani menghadapi dan         25
            4. konsisten antara apa         menaklukkan setiap
               yang dilakukan               tantangan yang menghadang     26
               dengan apa yang
                                           Tidak plin-plan dalam
               dikatakan.                   mengambil sebuah keputusan    27
                                                                              48




Aspek                                                                        No
Potensi                 Indikator                       Deskriptor           Item
               5. Kualitas hidup yang         Jujur dan dapat dipercaya     28
                  diilhami oleh visi dan       dalam segala keadaan
                  nilai-nilai                 Mengharapkan ridho Tuhan
                                               dalam menjalankan aktifitas   29
                                               sehari-hari
                                              Yakin bahwa Tuhan selalu
                                               memberikan yang terbaik       30
                                               buat diri kita

          Dalam mendeskripsikan pemahaman potensi diri siswa yang memiliki
rentangan skor 1-4, dibuat interval kriteria pemahaman potensi diri sebagai
berikut:
Nilai maksimal 4x30 = 120
Nilai Minimal 1x30 = 30
Panjang kelas interval = (120-30)/4 = 90/4 =22,5
          Berdasarkan panjang kelas interval maka kategori tingkat pemahaman
potensi diri siswa dapat disusun sebagai berikut:
                                     Tabel 3.6
                 Kriteria penilaian skala pemahaman potensi diri

Interval                                   Kategori
97,6 – 120                                 Sangat Tinggi
74,1 – 97,5                                Tinggi
51,6 – 74                                  Sedang
30 – 51,5                                  Rendah


3.5.2     Reliabelitas

          Menurut Sugiyono (2011: 121) instrumen yang reliabel artinya,instrumen

yang digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan

menghasilkan data yang sama. Reliabelitas instrumen menggunakan teknik belah

dua ganjil genap.
                                                                                              49




Rumus Spearman-Brown, yaitu:

         2 Xr12 1
r11                2

        (1  r12 1 )
                    2




Keterangan              :

r11                     : reliabelitas instrumen

r ½½                    : sebagai indeks korelasi antara belahan instrumen.

          Berdasarkan hasil perhitungan uji coba instrumen, secara keseluruhan

diperoleh koefisien reliabelitas (r11 ) sebesar 0, 903. Pada taraf signifikasi 5%

dengan N = 29 diperoleh r11 > r           tabel   , dengan r       sebesar 0,367. Dengan demikian
                                                               tabel


dapat disimpulkan bahwa skala pemahaman potensi diri tersebut reliabel dan

dapat digunakan untuk pengambilan data penelitian.Data selengkapnya dapat

dilihat pada lampiran 4.

3.6 Teknik Analisis Data

          Menurut Sugiyono (2011: 147) kegiatan dalam analisis data adalah

mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data

berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variebel yang

diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab masalah, dan melakukan

perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.

          Untuk menganalisis data penelitian eksperimen dengan desain one group

pre test and post test digunakan rumus t-test (Suharsimi Arikunto, 2005: 395)




Rumus yang digunakan :
                                                                            50




               D
t
                  D 
                      2

      D   2
               
                 N
         N N  1
Keterangan :

t : Harga t untuk sample berkorelasi

D : (difference) perbedaan antara skor tes awal dengan tes akhir   untuk setiap
     individu

D : rerata dari nilai perbedaan (rerata dari D)

D2: kuadrat dari D

N : Banyaknya subyek
                                   BAB IV

                            HASIL PENELITIAN



4.1 Deskripsi Data

       Berdasarkan hasil Penyebaran angket pre-test yang dilaksanakan sebelum

pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan pribadi, dan pemberian post-

testsetelah layanan informasi bidang bimbingan pribadi terhadap siswa kelas VIII

SMP N 1 Dawe Kudus, diperoleh hasil sebagai berikut:

                               Tabel 4.1
Hasil Perolehan Skor Skala Pemahaman Potensi Diri Sebelum dan Sesudah
        Palaksanaan layanan Informasi Bidang Bimbingan Pribadi


   No            Sebelum            Kriteria           Sesudah         Kriteria
  Subjek
     1               71             Sedang               95            Tinggi
     2               73             Sedang               86            Tinggi
     3               73             Sedang               82            Tinggi
     4               62             Sedang               90            Tinggi
     4               74             Sedang               74            Sedang
     6               73             Sedang               92            Tinggi
     7               56             Sedang               44            Rendah
     8               69             Sedang               74            Sedang
     9               68             Sedang               71            Sedang
    10               59             Sedang               50            Rendah
    11               72             Sedang               83            Tinggi
    12               70             Sedang               68            Sedang
    13               62             Sedang               61            Sedang
    14               69             Sedang               79            Tinggi
    15               61             Sedang               49            Rendah
    16               65             Sedang               62            Sedang
    17               65             Sedang               80            Tinggi
    18               60             Sedang               62            Sedang
    19               63             Sedang               69            Sedang
    20               72             Sedang               69            Sedang
    21               60             Sedang               50            Rendah
    22               52             Sedang               57            Sedang


                                      51
                                                                             52




    No            Sebelum             Kriteria       Sesudah          Kriteria
  Subjek
    23              70                Sedang            76            Tinggi
 Jumlah            1519                                1623
 Rata-rata        66, 043                             70,565

       Dari hasil perolehan skor pemahaman potensi diri siswa sebelum dan

sesudah pemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi terhadap siswa

kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus telah memberikan kontribusi yang positif

terhadap pemahaman potensi diri siswa, hal tersebut diketahui dari jumlah skor

yang diperoleh siswa sebelum layanan 1519 dengan rata-rata skor 66,043

meningkat menjadi 1623 dengan rata-rata skor 70,565 setelah mendapatkan

layanan informasi bidang bimbingan pribadi.Data selengkapnya bisa dilihat dalam

lampiran 8 dan 9 halaman 93 dan 94.

       Berdasarkan hasil analisis skor skala psikologi sebelum pemberian

layananmenunjukkan bahwa pemahaman potensi diri dari ke-23 siswa berada

dalam kriteria sedang. Perolehan data tersebut dapat digambarkan dalam grafik

histrogram berikut:
                                                                              53




                               Grafik 4.1
  Pemahaman Potensi Diri Sebelum Layanan Informasi Bidang Bimbingan
                                Pribadi

              Pemahaman Potensi Diri Sebelum Layanan Informasi Bidang
                                Bimbingan Pribadi




             Jumlah Subjek
                                              23




              0
                                  0
                                                                 0
       97,6-120
                         74,1-97,5
                                          51,6-74
      Sangat Tinggi                                          30-51,5
                             Tinggi
                                          Sedang
                                                             Rendah




Data lengkap lihat pada lampiran 8 halaman 93.

       Sedangkan dari hasil analisis skor skala psikologi sebelum dan sesudah

pemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi, juga menunjukkan

adanya perubahan. Sebelum pemberian layanan informasi bidang bimbingan

pribadi tercatat 23 siswa memiliki pemahaman potensi diri dalam kriteria sedang,

setelah mendapatkan layanan informasi bidang bimbingan pribadi, ke-23 siswa

tersebut mengalami perubahan, 9 siswa meningkat dan masuk dalam kriteria

tinggi, 10 siswa tetap dan masih dalam kriteria sedang, dan 4 lainnya menurun dan

masuk dalam kriteria rendah. Perolehan data tersebut dapat digambarkan dalam

grafik histrogram berikut:
                                                                         54




                              Grafik 4.2
  Pemahaman Potensi Diri SesudahLayanan Informasi Bidang Bimbingan
                               Pribadi

              Pemahaman Potensi Diri Sesudah Layanan Informasi Bidang
                                BImbingan Pribadi




             Jumlah Subjek
                                 9            10




                                                                 4
              0


       97,6-120
                         74,1-97,5
                                          51,6-74
      Sangat Tinggi                                          30-51,5
                             Tinggi
                                          Sedang
                                                             Rendah




Data lengkap lihat lampiran 9 halaman 94.

       Melihat perbandingan skor skala psikologi yang disebarkan sebelum dan

sesudahpemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi menunjukkan

bahwa adanya peningkatan skor pemahaman potensi diri siswa. Namun jika

dilihat dari hasil analisis skor skala psikologisebelum dan sesudah layanan

infomasi bidang bimbingan pribadi, belum sepenuhnya mampu meningkatkan

pemahaman potensi diri dari masing-masing siswa.

4.2 Analisis Data

       Guna menguji kebenaran hipotesis penelitian yang berbunyi layanan

informasi bidang bimbingan pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap
                                                                                            55




pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Pelajaran

2010/2011 digunakan uji t-test.

          Melalui uji t-test akandiperoleh informasi tentang pengaruh layanan

informasi bidang bimbingan pribadi terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas

VIII SMP N 1 Dawe Kudus. Untuk mempermudah penghitungan uji t-test peneliti

menggunakan aplikasi komputer dengan menggunakan microsoft excel 2007.

Hasil perhitungan selengkapnya bisa dilihat pada lampiran 10 halaman 95.

          Berdasarkan hasil uji t-test diketahui bahwa nilai thitung sebesar 2,004.Hasil

tersebut kemudian dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikansi 5% dengan

derajat kebebasan (d.b.) 22 sebesar 2,075.Karena nilai thitung 2,004< ttabel 2,075.Hal

ini menunjukkan bahwa layanan informasi bidang bimbingan pribadi tidak

berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII

SMP N 1 dawe Kudus tahun pelajaran 2010/2011.

4.3 Pengujian Hipotesis

          Hasil analisis menggunakan statistik t- test menunjukkkan bahwa t             hitung =


2, 004sedangkan t            table 5%   = 2,075. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa t

hitung   <t   tabel 5%,   artinya hasil hitung lebih kecil dari ketentuan hasil tabel dengan

taraf signifikan 5 %. Jadi hipotesis penelitianyang berbunyi layanan informasi

bidang bimbingan pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman

potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus tahun pelajaran 2010 /

2011ditolak, karena tidak teruji kebenarannya.
                                        BAB V

                                  PEMBAHASAN



        Dari hasil perolehan skor skala psikologi pemahaman potensi diri yang

diberikan kepada 23 siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus,sebelum dan sesudah

pemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi menunjukkan adanya

peningkatan,terbukti jumlah skor yang diperoleh siswa sebelum layanan 1519

dengan rata-rata skor 66,043 meningkat menjadi 1623 dengan rata-rata skor

70,565 setelah diberikan layanan. Sedangkan dari hasil analisis skor skala

psikologi sebelum dan sesudah pemberian layanan informasi bidang bimbingan

pribadi, juga menunjukkanadanya perubahan. Sebelum pemberian layanan

informasi bidang bimbingan pribadi tercatat 23 siswa memiliki pemahaman

potensi diri dalam kriteria sedang, setelah mendapatkan layanan informasi bidang

bimbingan pribadi, ke-23 siswa tersebut mengalami perubahan, 9 siswa meningkat

dan masuk dalam kriteria tinggi, 10 siswa tetap dan masih dalam kriteria sedang,

dan 4 lainnya menurun dan masuk dalam kriteria rendah.

        Hipotesis penelitian yang menyatakan layanan informasi bidang

bimbingan pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman potensi

diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus tidakteruji kebenarannya. Hal ini

ditunjukkan dari hasil thitung = 2,004 lebih kecil dari ttabel pada signifikansi 5% yaitu

2,075.Hasil uji hipotesis ini menunjukkan bahwa layanan informasi bidang

bimbingan pribadi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemahaman

potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus.



                                           56
                                                                               57




       Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa meskipun dari hasil

perolehan skor sebelum dan sesudah pemberian layanan informasi bidang

bimbingan pribadi menunjukkan adanya peningkatan, namun peningkatan tersebut

belum memenuhi kriteria signifikansi suatu penelitian.

       Tidak    terujinya     hipotesis   dalam   penelitian    ini   tentu   ada

penyebabnya.Untuk mengetahui permasalahan tersebut ada beberapa hal yang

dilakukan oleh peneliti.Pertama,mengevaluasi pelaksanaan penelitian dan

metodologi penelitian Kedua,melakukan tanya jawab terhadap 4 siswa yang

masuk dalam kriteria rendah.Ketiga, memerintahkan semua siswa untuk

menuliskan kesan-kesan secara tertulis terhadap layanan informasi bidang

bimbingan pribadi yang diselenggarakan.

       Langkah pertama yang dilakukan peneliti untuk mengetahui penyebab

tidak terujinya hipotesis adalah dengan mengevalusi pelaksanaan layanan

informasi dan metodologi penelitian. Evalusi terhadap pelaksanaan layanan

informasi dilakukan dengan caramelihat dan menganalisis laporan pelaksanaan,

evalusi dan tindak lanjut satuan layanan pendukung bimbingan dan konseling.

Sedangkan evaluasi terhadap metodologi penelitian dilakukan dengan cara

mengkaji literatur tentang kelemahan dari jenis penelitian kuasi eksperimen

dengan bentuk one group pretest-postest design. Hasil dari evaluasi tersebut dapat

dijabarkan sebagai berikut:

       Dalam penelitian ini layanan informasi bidang bimbingan pribadi

dilaksanakan sebanyak 7x (tujuh kali) pertemuandengan materi yang berbeda pada

tiap pertemuan, dengan harapan siswa mampu menyerap berbagai macam
                                                                                  58




informasi tentang potensi diri guna meningkatkan pemahaman potensi diri yang

mereka miliki.Pada pertemuan pertama dan kedua, pelaksanaan layanan

informasi bidang bimbingan pribadi berjalan dengan lancar, peneliti bisa

menyampaikan materi secara penuh. Interaksi antara siswa dan peneliti juga

terjalin secara baik, sehingga kegiatan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

       Pada pertemuan ketiga dan keempat, kegiatan layanan informasi

mengalami beberapa kendala, pada pertemuan ketiga siswa mulai kurang disiplin

dalam mengikuti kegiatan layanan bimbingan, ada 11 siswa yang datang terlambat

saat mengikuti kegiatan layanan hal itu mengakibatkan siswa tersebut ketinggalan

bebarapa materi yang telah disampaikan. Selain kurang disiplin, partisipasi siswa

juga menurun itu terlihat dari kurangnya respon siswa dalam bertanya atau

menjawab pertanyaan dari peneliti terkait dengan materi yang disampaikan.

Selanjuntnya pada pertemuan keempat keadaannya tidak jauh berbeda dengan

pertemuan ketiga, hanya sebagian siswa yang memperhatikan saat kegiatan

layanan berlangsung, ada 5 siswa putra dan 2 siswa putri yang datang tidak tepat

waktu. Sebelum kegiatan diakhiri 2 siswa putri yang datang terlambat izin untuk

pulang lebih awal, alasannya mereka sudah ditunggu oleh teman, akibatnya siswa

yang lain juga ingin kegiatan segera diakhiri. Dari gambaran singkat pelaksanaan

layanan informasi bidang bimbingan pribadi pada pertemuan ketiga dan keempat

bisa disimpulkan bahwa pelaksanaan layanan pada pertemuan ini tidak berjalan

maksimal.

       Untuk mengantisipasi hal semacam ini pada pertemuan berikutnya,

peneliti berusaha memberikan sugesti kepada siswa, untuk tetap semangat
                                                                                59




mengikuti kegiatan layanan bimbingan.Sugesti tersebut ternyata ada hasilnya,

pada pertemuan kelima, sebagian besar siswa sudah mulai semangat lagi,

meskipun semangat mereka tidak seperti pada awal-awal pertemuan. Siswa sudah

disiplin dalam mengikuti kegiatan layanan, sebagian besar siswa juga

memperhatikan dengan baik apa yang disampaikan peneliti, meskipun siswa tidak

bertanya atau menjawab terhadap apa yang disampaikan peneliti.

       Pada pertemuan keenam, kegiatan layanan bimbingan kurang berjalan

secara maksimal, ada 6 siswa yang tidak hadir dalam kegiatan layanan bimbingan.

Setelah dikonfirmasi mereka beralasan ada kegiatan diluar yang tidak bisa

ditinggalkan. Partisipasi dan semangat siswa juga menurun dalam mengikuti

kegiatan layanan informasi bidang bimbingan pribadi, hal ini terlihat dari sebagian

siswa yang tidak respon terhadap apa yang disampaikan peneliti. Dari keadaan

tersebut peneliti menyadari bahwa metode yang digunakan peneliti mungkin

menjenuhkan bagi siswa.Langkah yang dilakukan peneliti untuk meningkatkan

semangat siswa yaitu dengan cerita motivasi. Hal tersebut ternyata bisa sedikit

merubah kepasifan siswa, siswa mulai merospon terhadap cerita yang

disampaikan oleh peneliti dengan bertanya bahkan siswa sering keli tertawa

terbahak-bahak mendengar apa yang disampaikan oleh peneliti, cerita yang

disampaikan peneliti setidaknya mampu menghidupakan suasana kelas menjadi

lebih aktif, sampai kegiatan diakhiri.

       Pertemuan      ketujuh,   dalam   pertemuan    ini   peneliti   benar-benar

mengupayakan pelaksanaan layanan bisa berjalan dengan baik dan maksimal.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini agak berbeda dengan pertemuan
                                                                               60




sebelum-sebelumnya, dengan melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, pihak

sekolah membolehkan peneliti untuk memakai ruang yang dialiri listrik dan

memakai LCD. Selain ceramah peneliti menggunakan audio visual (pemutaran

film motivasi) dalam memberikan layanan dan hasilnya keseriusan siswa dalam

mengikuti layanan bimbingan begitu besar.

       Dari keterangan singkat tentang proses pelaksanaan layanan informasi

bidang bimbingan pribadi di atas diketahui bahwa hanya tiga kali saja kegiatan

berjalan dengan baik dari tujuh kali pertemuan, yaitu pada pertemuan pertama,

kedua dan ketujuh. Ini membuktikan bahwa pelaksanaan layanan informasi tidak

berjalan sesuai dengan yang diharapkan.Peneliti sudah berupaya untuk

memotivasi siswa, namun motivasi yang diberikan oleh peneliti belum

sepenuhnya mampu memotivasi keseluruhan siswa yang mengikuti kegiatan

layanan informasi bidang bimbingan pribadi.Dari itulah,ada hal yang perlu

dievaluasi   dalam    pelaksanaan    layanan    infromasi       bidang   bimbingan

pribadi.Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan layanan informasi bidang

bimbingan pribadi, peneliti menyadari bahwa pelaksanaan layanan informasi

bidang bimbingan pribadi belum berjalan secara maksimal. Ada beberapa kendala

yang dialami peneliti dalam melaksanakan layanan informasi bidang bimbingan

pribadi, kendala-kendalanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Waktu pelaksanaan yang kurang tepat

       Layanan informasi bidang bimbingan pribadi dilakukan pada siang hari

setelah proses kegiatan belajar mengajar berakhir. Keputusan ini diambil dengan

berbagai pertimbangan.Pertama, tidak mengganggu proses kegiatan belajar
                                                                                61




mengajar, sesuai himbauan yang diberikan oleh pihak sekolah. Kedua, subjek

penelitian terdiri dari kelas yang berbeda, sehingga hanya setelah selesai kegiatan

belajar mengajar mereka bisa dikumpulkan dalam satu kelas.Penetapan waktu

pelaksanaan kegiatan pada siang hari ternyata banyak dikeluhkan oleh siswa,

karena sudah merasa kelelahan, sehingga siswa sulit untuk berkonsentrasi dalam

memahami materi yang telah disampaikan oleh peneliti.

2) Sarana dan prasarana yang kurang mendukung

       Terbatasnya sarana pendukung yang digunakan dalam memberikan

layanan informasi sangat berdampak pada minat siswa dalam mengikuti layanan

yang diberikan.Dalam penelitian ini sarana pendukung yang digunakan sangat

terbatas.Dari awal sampai berakhirnya pelaksanaan layanan informasi bidang

bimbingan pribadi, peneliti hanya menggunakan media seadanya, hanya satu kali

peneliti menggunakan LCD proyektor dalam pelaksanaan penelitian.

       Sedangkan dari hasil evaluasi terhadap metodologi penelitian, ada satu hal

yang menjadi catatan peneliti yaitu terkait dengan jenis eksperimen dan bentuk

yang digunakan, dari hasil evaluasi diketahui bahwa dengan menggunakan jenis

penelitian quasi eksperimantdengan bentukone group pretest-posttest design,

peneliti menyadari bahwa dengan menggunakan jenis penelitian quasi

eksperimantdengan bentukone group pretest-posttest design, peneliti, tidak bisa

mengontrol kondisi-kondisi yang ada disekitar subjek penelitian, sehingga

perubahan yang dialami subjek penelitian bisa saja dipengaruhi oleh faktor-faktor

luar yang tidak terkontrol (Suharsimi Arikunto, 2005).
                                                                          62




       Contoh faktor luar yang tidak terkontrol dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Latar belakang keluarga,

       Setiap siswa memiliki latar belakang keluarga yang berbeda.Dari

perbedaan latar belakang keluarga, besar kemungkinan siswa memiliki sikap dan

kebiasaan yang berbeda pula.Siswa yang hidup dalam lingkungan keluarga yang

harmonis dan mendukung penuh pengembangan bakat dan potensi diri, maka

siswa besar kemungkinan mudah mencapai pengambangan potensi diri secara

maksimal. Sebaliknya jika siswa hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak

harmonis dan kurang mendukung, maka besar kemungkinan siswa akan

mengalami kendala dalam meningkatkan potensi diri.

2. Lingkungan (pergaulan)

       Setiap siswa memilki kehidupan dan cara yang berbeda-beda dalam

bergaul. Setiap pergaulan akan berpengaruh pada cara berfikir dan perilaku

seorang siswa dalam menjalani kehidupan baik sebagai pelajar maupun anggota

masyarakat. Siswa yang tidak bisa mengikuti tuntutan lingkungan (pergaulan)

biasanya tidak akan diakui atau bahkan terisolir dalam pergaulan tersebut.

Lingkungan pergaulan ini memiliki peran yang sangat fundamental dalam

peningkatan pemahamn potensi diri. Lingkungan pergaulan yang kondusif akan

berpengaruh positif terhadap cara berfikir dan perilaku siswa, namun jika

lingkungan pergaulan tersebut tidak kondusif, maka besar kemungkinan akan

berdampak negatif pula pada cara berfikir dan perilaku siswa. Dalam rangka

peningkatan pemahaman potensi diri, siswa membutuhkan lingkungan pergaulan
                                                                               63




yang kondusif, sehingga siswa akan selalu termotivasi untuk menjadi lebih baik

dari waktu ke waktu.

3. Sarana Pendukung

       Setiap proses pengembangan diri selalu membutuhkan sarana pendukung

yang memadai. Banyak siswa yang berpotensi tapi mereka gagal dalam mencapai

prestasi, hanya dikarenakan sarana pendukung yang tidak memadai.Maka dari itu

untuk meningkatkan pemahaman potensi diri secara maksimal, harus pula

didukung oleh sarana yang memadai. Jika sarana yang dibutuhkan siswa tidak

memadai besar kemungkinan mereka akan mengalami hambatan dalam mencapai

pemahaman potensi diri yang maksimal.

       Langkah kedua yang dilakukan peneliti untuk mengetahui tidak terujinya

hipotesis adalah dengan melakukan wawancara kepada siswa yang memiliki

kriteria pemahaman potensi diri rendah.Berdasarkan hasil wawancara terhadap 4

siswa yang memilikipemahaman potensi diri dalam krireria rendah diperoleh

informasi bahwa masalah yang dialami siswa tersebut hampir sama yaitu mereka

merasa tidak bersemangat, malas, tidak berminat, dan tidak bisa konsentrasi.

Tidak banyak informasi yang diberikan oleh 4 siswa tersebut dalam wawancara

dengan peneliti, karena mereka masih sulit untuk terbuka dengan peneliti.

       Informasi yang sedikit tersebut tentu belum memuaskan peneliti untuk

mengetahui penyebab menurunnya skor 4 siswa tersebut. Untuk melengkapi data

tersebut,   selanjutnya   peneliti   melaksanakan   upaya   yang   ketiga   yaitu,

memerintahkan semua siswa untuk menuliskan kesan-kesannya secara tetulis dan

siswa tidak perlu menuliskan nama pada lembar kertasnya, tujuannya adalah
                                                                                64




supaya siswa bisa menuliskan kesannya tentang pelaksanaan layanan informsi

bidang bimbingan pribadi secara objektif tanpa takut dinilai oleh peneliti terhadap

kesan yang mereka sampaikan.

           Hanya 16 siswa yang menuliskan kesan-kesan dari 23 siswa yang

diperintahkan untuk menuliskan kesan-kesan.Dari hasil analisis terhadap kesan-

kesan yang ditulis oleh 16siswa, ada tiga hal yang dinyatakan oleh siswa.Pertama,

siswa memberikan kesan positif (6 siswa).Siswa menyatakan bahwa kegiatan ini

menarik, menyenangkan dan bermanfaat.Kedua, siswa memberikan kesan negatif

(1siswa).Siswa menyatakan bahwa kegiatan ini membosankan dan tidak

menarik.Ketiga, siswa memberikan kesan positif dan negatif( 6siswa). Kesan

positif,    siswa   menyatakan   bahwa   kegiatan   ini   bisa   memotivasi   diri,

menyenangkan, dan menambah wawasan.Kesan negatifnya, waktunya tidak tepat,

membosankan dan kebanyakan cerita.

           Dari keterangan di atas dapat dijelaskan bahwa pelaksanaan layanan

informasi bidang bimbingan pribadi terhadap siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe

Kudus memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan.Kekurangannya, (1)

Motivasi dan minat siswa yang berbeda-beda mengakibatkan ada siswa yang

memperhatikan materi yang disampaikan dengan sungguh-sungguh, namun ada

juga siswa yang tidak sungguh-sungguh dalam memperhatikan, malah mereka

mengganggu teman yang lain (2) Waktu pelaksanaanya kurang tepat yang

mengakibatkan siswa sulit berkonsentrasi. (3) katerbatasan sarana dan prasarana

pendukung untuk kegiatan layanan, yang awalnya setiap layanan akan

menggunakan LCD proyektor tidak bisa terlaksana secara baik, sehingga
                                                                              65




penggunaan LCD proyektor hanya dilakukan satu kali. Sehingga metode layanan

yang digunakan lebih banyak pada ceramah dan tanya jawab (4) Tidak semua

siswa menyukai materi yang disampaikan. (5) Membutuhkan upaya tindak lanjut

yang lebih terprogram dari segi metodologi dan pelaksanaan layanan.

       Meskipun memiliki banyak kekurangan, layanan informasi bidang

bimbingan pribadi terhadap siwa kelas VIII SMP N1 Dawe Kudus juga memiliki

manfaat atau kelebihan.Kelebihannya, (1) Mampumemberikan motivasi kepada

sebagian siswa untuk terus berusaha memaksimalkan potensi diri mereka, (2) Bisa

memberikan dasar keyakinan kepada siswa bahwa mereka mempunyai potensi

luar biasa yang menunggu untuk dikembangkan(3) Merupakan sarana yang bisa

digunakan untuk melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat.

       Pernyataan di atas, juga serupa dengan apa yang dinyatakan oleh Winkel

& Sri Hastuti, seorang ahli dan praktisi bimbingan dan konseling, bahwa:

Layanan informasi dalam pelayanan kelompok memang memiliki banyak
kelebihan sebagai salah satu layanan dalam bimbingan dan konseling.Namun
mereka juga tidak memungkiri bahwa layanan informasi yang diterapkan dalam
pelayanan kelompok juga memiliki banyak kekurangan. Kelebihan layanan
informasi yang diterapkan dalam pelayanan kelompok adalah dapat menciptakan
kesempatan bagi semua siswa untuk berinteraksi dengan tenaga bimbingan, yang
memungkinkan siswa lebih berikeinginan untuk membicarakan untuk
membicarakan perencanaan masa depan atau permasalah pribadi sosial secara
bersama-sama dan saling mendiskusikannya. Sedangkan kelemahan layanan
informasi dalam pelayanan kelompok adalah kebutuhan individu masing-masing
siswa akan informasi yang lebih spesifik tidak dapat dilayani, tingkat kedalaman
dan kelengkapan yang dibutuhkan siswa oleh masing-masing siswa tidak sama,
sehingga informasi yang disampaikan diselaraskan dengan kebutuhan rata-rata
dalam kelompok, dan tidak semua siswa akan sama-sama tertarik dan melibatkan
diri, karena daya tangkap, minat dan tingkat kedewasaan yang berbeda-beda
(Winkel & Sri Hastuti, 2004).

       Hasil dalam penelitian ini tentu masih jauh dari apa yang diharapkan, tapi

penelitian ini tetap memberikan kontribusi yang positif, khususnya di SMP N 1
                                                                               66




Dawe Kudus, dengan diadakannya penelitian ini bisa membantu siswa dalam

meningkatkan motivasi diri untuk selalu berusaha meningkatkan potensi diri.

Selain untuk siswa, hasil penelitian ini juga sangat bermanfaat untuk

pengembangan penelitian selanjutnya khususnya yang terkait dengan pemahaman

potensi diri. Maka dari itu penelitian semacam ini memerlukan sebuah tindak

lanjut supaya apa yang menjadi tujuan dari penelitian ini bisa berhasil.

       Wujud dari pemahaman potensi diri yang diharapkan adalah, siswa

mampu memahami potensi dirinya secara nyata yang diaplikasikan dalam

kehidupan    sehari-hari    baik   dilingkungan     sekolah,    keluarga   ataupun

masyarakat.Pemahaman itu bukan lagi pemahaman secara teori tetapi sudah pada

pemahaman praktis, sehingga teori tentang potensi diri yang diperolah melalui

layanan informasi bidang bimbingan pribadi mampu diaplikasikan secara baik

dalam tindakan nyata guna mencapai pencapaian prestasi yang diinginkan.

       Untuk mewujudkan hal di atas tentulah tidak mudah, seperti apa yang

disampaikan oleh Endra K bahwa, dalam rangka menemukan dan mengelola

potensi diri bukanlah suatu proses yang singkat, melainkan harus melalui

beberapa langkah, supaya seseorang mampu mengaktualisasikan diri secara

optimal. Endra K menyebut langkah-langkah tersebut sebagai Daur Aktualisasi

Potensi (DAP).Lebih lanjut Endra K mengatakan bahwa hal utama yang

terpenting dalam meningkatkan potensi diri adalah latihan dan praktek, artinya

seseorang harus berlatih untuk mengaplikasikan segala informasi yang didapat

kedalam tindakan nyata (Endra K, 2004).
                                                                                67




        Pernyataan serupa juga dikatakan oleh Sugiharso, dkk (2009: 127) bahwa

untuk mencapai suatu prestasi tidak semudah apa yang dibayangkan. Setiap usaha

yang di lakukan akan selalu mendapat hambatan. Dalam upaya pengembangan

diri diperlukan adanya usaha kerja keras.Tanpa adanya kemauan bekerja keras

seseorang tidak mampu mengatasi suatu hambatan yang menghadang untuk

kesuksesannya.Hambatan yang sering muncul dalam pengembangan potensi diri

adalah hambatan yang berasal dari diri sendiri dan hambatan yang berasal dari

luar diri sendiri.

        Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa layanan informasi

bidang bimbingan pribadi berpengaruh tetapi tidak signifikan terhadap

pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus.Belum

terpenuhinya kriteria signifikansi hasil penelitian dalam penelitian ini bisa

disebabkan oleh beberapa faktor. 1) faktor peneliti, terkait dengan pelaksanaan

layanan informasi bidang bimbingan pribadi yang belum maksimal. 2) Subjek

penelitian, terkait dengan minat, motivasi dan daya tangkap siswa dalam

mengikuti kegiatan layanan informasi bidang bimbingan pribadi. 3) Faktor luar

yang tidak terkontrol dalam penelitian ini, seperti latar belakang kehidupan

keluarga, lingkungan pergaulan, dan sarana dan prasarana dalam pengembangan

potensi. Dari sinilah penelitian ini perlu upaya tindak lanjut, sehingga kedepannya

layanan informasi bidang bimbingan pribadi dapat dijadikan salah satu tindakan

yang efektif untuk meningkatkan pemahaman potensi diri siswa.
                                       BAB VI

                           KESIMPULAN DAN SARAN



6.1 Kesimpulan

6.1.1   Berdasarkan hasil analisis skor skala pemahaman potensi diri sebelum

        layanan informasi bidang bimbingan pribadi, pemahaman potensi diri 23

        siswa masuk dalam kriteria sedang.

6.1.2   Berdasarkan hasil analisis skor skala pemahaman potensi diri sesudah

        pemberian layanan informasi bidang bimbingan pribadi, pemahaman

        potensi diri 9 siswa dalam kriteria tinggi, 10 siswa dalam kriteria sedang

        dan 4 siswa lainnya masuk dalam kriteria rendah.

6.1.3   Hasil analisis menggunakan statistik t- test diperoleh thitung = 2,004 <ttable 5%

        = 2,075. Maka hipotesis penelitian yang berbunyi layanan informasi

        bidang bimbingan pribadi berpengaruh secara signifikan terhadap

        pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1 Dawe Kudus Tahun

        Pelajaran 2010 / 2011 tidak diterima, karena tidak teruji kebenarannya.

6.1.4   Layanan informasi bidang bimbingan pribadi berpengaruh tetapi tidak

        signifikan terhadap pemahaman potensi diri siswa kelas VIII SMP N 1

        Dawe Kudus. Belum terpenuhinya kriteria signifikansi hasil dalam

        penelitian ini disebabkan oleh beberapa faktor. 1) Faktor peneliti terkait

        dengan pelaksanaan layanan informasi bidang bimbingan pribadi yang

        belum maksimal, 2) Faktor waktu dan kuantitas pelaksanaan layanan yang

        kurang tepat, 3) Faktor subjek penelitian terkait dengan minat, motivasi



                                           68
                                                                              69




        dan daya tangkap siswa dalam megikuti layanan informasi bidang

        bimbingan pribadi, 4) Faktor luar yang tidak terkontrol dalam penelitian

        ini, seperti latar belakang kehidupan keluarga, lingkungan pergaulan, dan

        sarana dan prasarana dalam pengembangan potensi.

6.2 Saran

6.2.1   Konselor

        Konselor sekolah sebaiknya melaksanakan layanan informasi bidang

bimbingan pribadi secara menarik dan terprogram, supaya siswa lebih termotivasi

dalam mengikuti kegiatan layanan informasi bidang bimbingan pribadi dan

mampu meningkatkan pemahaman potensi diri yang mereka miliki.

6.2.2   Siswa

        Siswa sebaiknya meningkatkan minat, motivasi dan partisipasinya dalam

mengikuti kegiatan layanan informasi bidang bimbingan pribadi               yang

diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman potensi dirinya secara

maksimal.

6.2.3   Peneliti selanjutnya

        Peneliti selanjutnya sebaiknya menindaklanjuti penelitian ini dengan

berbijak pada hasil/temuan yang telah diperoleh dalam penelitian ini, sehingga

kedepannya layanan informasi bidang bimbingan pribadi mampu memberikan

pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman potensi diri siswa.
                                                                               70




                             DAFTAR PUSTAKA




Arikunto, Suharsimi. (2005). Managemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Daud, Abu. (2010). Bimbingan pribadi.http//abudaud2010.blogspot.com (27 Mar.
      2011).

Habsari, Sri. (2005). Bimbingan & Konseling SMA kelas XI. Jakarta: Grasindo.

Hadiyanto, Yusup Purnomo & Renita Mulyaningtyas (2007).Bimbingan dan
      Konseling Untuk SMA dan MA kelas XI. Jakarta: Erlangga.

Ifdil. (2008). Layanan Informasi (L2).http://Konselingindonesia.com (26 Apr.
        2011).

Majdi, Udo Yamin Efendi. (2007). Quranic Quotient. Jakarta: Qultum Media.

Nashori, Fuad. (2003). Potensi-Potensi Manusia. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

Nurihsan, Achmad Juntika. (2005). Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling.
       Bandung: Refika Aditama.

Prayitno & Amti, Erman. (2004). Dasar-Dasar BK. Jakarta: Rineka Cipta.

Prihadhi, Endra K. (2004). My Potensi. Jakarta: Elek Media Komputindo.

Purwoko, Budi. (2008). Organisasi dan Managemen Bimbingan Konseling.
      Surabaya: Unesa University Press.

Setiono, Widianto & Edi, Ayah.(2009). Apakah Anda Ingin Menemukan Potensi
       Anak Anda Sejak Dini. Jakarta: Grasindo.

Sugiharso,   Sugiyono,   Gunawan      &     Karsono.(2009). Pendidikan
       Kewarganegaraan. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
       Nasional.

Sugiyono. (2011). Metode penelitian Kuantitatif dan R&D. Jakarta: Alfabeta.

Sulistiana, Marina. (2010). Pengembangan Potensi Diri.www.pdfssearch.com.
        diakses tanggal 23 Maret 2011.


Sukardi, Dewa Ketut. (2002). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan
       Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
                                                                           71




Sunar P, Dwi. (2010). Edisi Lengkap Tes IQ, EQ & SQ. Yogjakarta: FlashBooks.

Sutikno, Raja Bambang. (2010). The Power Of 4Q For HR And Company
       Development. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

……… (2011). http//kamusbahasaindonesia.org (15 Juli 2011).

Taufik, Mita Rosetta. (2010). Step By Step Menganalisis Karakter & Potensi
       Melalui Tulisan Tangan.Jakarta: PT Tangga Pustaka.

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang.(1993). Bimbingan Konseling
     Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press.

Winkel & Hastuti, Sri. (2006). Bimbingan Dan Konseling           Di Institusi
      Pendidikan. Yogjakarta: Media Abadi.

Wiyono, Slamet. (2006). Managemen Potensi Diri. Jakarta: PT Grasindo.

Wibowo, Hery. (2007). Fortune Favor the Ready. Bandung: OASE Mata Air
     Makna.

Yusuf, Syamsu & Nurihsan, Achmad Juntika.(2010). Landasan Bimbingan dan
       Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:0
posted:4/7/2013
language:Unknown
pages:87